Bubrah note: percakapan dalam bahasa formal berarti dilakukan dalam bahasa Jawa.

“Taehyung,” kata ayahnya ramah, melambai ringan ke arah lelaki paruh baya ramah di hadapannya yang tersenyum lebar pada Taehyung dan Jungkook. Tersenyum lebar dan superior, mengirimkan sensasi menggelegak aneh penuh kemarahan di dasar perut Jungkook.

“Kemari, Nak, kenalkan. Ini teman ayah dan calon istrimu. Menunggu kamu datang, Ayah sudah menentukan tanggal pernikahannya. Ayo, kemari.”

Taehyung diam selama satu menit penuh sebelum akhirnya untuk pertama kalinya selama mengenal Jungkook dan bahkan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup Taehyung selama dua puluh lima tahun yang dipenuhi norma kesopanan dan kesantunan, dia mengatakan:

“Asu.”

Lirih namun jernih dan penuh racun. Efeknya begitu luar biasa karena kata itu membungkam satu ruangan. Ayah Taehyung nampak seperti baru saja terkena penyempitan pembunuh darah, tidak jauh berbeda dengan temannya yang sekarang berdiri, terlalu kaget untuk bahkan bereaksi apa pun. Seluruh ruangan diam, semuanya menatap Taehyung yang berdiri di sisi Jungkook nampak begitu murka dan sakit hati.

Ayahnya menatapnya dengan alis berkerut tidak setuju. Aura mendominasinya mengirimkan getar ke tangan Taehyung namun pemuda itu bergeming. “Minta maaf,” katanya mendesis dengan nada suara sama beracunnya dengan Taehyung, dia nampak marah dan tidak terima. “Katakan kamu menyesal.”

Taehyung menatap ayahnya lurus tepat di matanya dan Jungkook tahu dari ekspresi wajah ayahnya, itu pertama kalinya Taehyung berdiri sama tinggi dengan ayahnya. “Tidak.” balasnya dingin. “Ayah yang minta maaf pada saya.”

“Apa—?!”

“Ayah minta maaf. Pada saya.”

Ayahnya nampak seperti akan menampar Taehyung namun masih memiliki sisa harga diri untuk menahan tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya. “Kenapa—” geramnya dan Taehyung kembali memotongnya.

“Karena telah merampas semua hak saya sebagai manusia. Menentukan perjodohan yang bahkan Ayah belum bicarakan dengan saya dan tidak menghormati pilihan saya.”

Dan untuk menambah amarah ayahnya, Taehyung meraih tangan Jungkook dan meremasnya. Tangan Taehyung terasa dingin dan keras hingga Jungkook terkesirap oleh genggaman itu. “Saya sudah memilih dengan siapa saya akan menghabiskan waktu. Dan Ayah sebaiknya mulai belajar menghormati itu.”

Ayahnya tertawa, serak dan mengejek. “Kamu cuma lagi kesemsem aja, nanti juga ilang. Sekarang kamu lagi gak bisa mikir jernih, kamu dipengaruhi dia. Dicuci otaknya. Nanti kamu akan berterima kasih sama Ayah.” katanya lalu mendelik pada Taehyung. “Ayo, bersikap yang baik dan beradab.” Dia mendesis. “Sebelum Ayah marah, Taehyung.”

Ancaman, Jungkook mendengar ancaman itu. Kental sekali dan dia juga bisa merasakan bagaimana nada itu mengirimkan getaran di tangan Taehyung namun dia bergeming. Dia tetap menatap ayahnya dengan dendam dan amarah berkobar di matanya.

“Tidak. Saya tidak mau lagi.” Taehyung kemudian mengalihkan pandangan pada teman ayahnya yang sekarang berdiri. “Maafkan saya,” katanya dengan ketenangan seorang biksu bahkan dengan tangannya yang dingin dan berkeringat di telapak tangan Jungkook. “Saya tidak akan bisa jadi suami yang baik untuk anak Bapak karena saya seorang homoseksual. Dan dia ini pacar saya, Gabriel Jungkook Sandjaya Hirmansyah.” Dia meraih Jungkook mendekat dengan aura posesif dan kebanggaan yang membuat Jungkook sejenak terenyuh.

Taehyung tidak mengizinkan siapa pun bicara selama dia bicara, dengan kemampuan persuasinya dia berhasil membungkam satu ruangan dalam nada suaranya yang jernih, keras dan tegas. Mereka semua terlalu syok untuk bisa menanggapi apa yang baru saja dikatakan Taehyung.

“Saya tidak menyatakan persetujuan apa pun pada perjodohan ini dan saya merasa saya berhak penuh sebagai pemuda berusia di atas 21 tahun dengan hak asasi, untuk menolaknya. Secara hukum saya dinyatakan sudah dewasa untuk menentukan sendiri apa yang saya inginkan tanpa wali. Jika Bapak memiliki keberatan, maka itu semua adalah urusan Bapak dengan Ayah saya.”

Dia menatap perempuan manis yang duduk di sisi ayahnya, sekarang mendongak dengan bibir terkuak kaget dalam balutan pakaian Jawa-nya yang manis. Jika Jungkook mau berpikir sejenak, perempuan itu sangat cantik. Jenis kecantikan eksotis tanah Jawa; magis dan mengundang tapi sayangnya di mata Taehyung hal itu luput sama sekali.

“Maaf,” katanya juga pada perempuan itu. “Saya tidak tahu apakah kamu pro atau kontra pada perjodohan ini, apa pun itu saya tidak bisa jadi suamimu. Kamu berhak menentukan sendiri siapa teman hidupmu nanti.”

Lalu dia menoleh ke ayahnya; lurus ke matanya tanpa berkedip sedikit pun. “Sekarang berhenti menganggu saya, berhenti ikut campur dalam kehidupan saya. Apa pun yang saya lakukan itu bukan urusan Ayah lagi.” katanya tenang walaupun denyut nadi di tangannya yang mengenggam Jungkook terasa begitu liar.

“Jika menurut Ayah saya sudah mati, maka anggaplah saya mati. Tenang saja,” tambahnya. “Besok saya akan ke Kantor Catatan Sipil, nama pemberian Ayah akan saya lepaskan. Silakan hapus saya dari kartu keluarga. Saya hanya akan membawa barang-barang yang saya beli sendiri dari hasil keringat saya; semua pemberian Ayah yang hanya nama dan identitas, akan saya kembalikan.”

Dan hal terakhir yang didengar Jungkook saat Taehyung berbalik dan menariknya pulang adalah teriakan ancaman dari ayah Taehyung dengan suara dalamnya yang otoriter:

“Kamu akan menyesal! Kamu akan pulang ke rumah ini membawa malu dan aib! Dan Ayah tidak akan menerima kamu kembali! Kita lihat siapa yang lebih berkuasa saat itu.”

“Karepmu.” balas Taehyung dan Jungkook berjengit oleh nada itu.

Mereka sudah berada di sisi mobil saat ayah Taehyung melangkah keluar diikuti oleh istrinya yang berusaha menahannya, nampaknya belum puas karena Taehyung tidak meladeni ledakan emosinya sesuai dengan yang diinginkannya jadi dia mengangkat tangannya, ,menyerang hal paling berharga bagi anaknya selain dirinya sendiri dengan menunjuk langsung ke Jungkook.

“Kamu!” seru ayah Taehyung penuh racun dan amarah. “Kamu bajingan tidak tahu diri! Datang ke rumah saya, meracuni anak saya dan membuatnya terpengaruh jadi sama seperti kamu! Kotor dan menjijikkan! Orang homo seperti kamu tidak pantas menginjakkan kaki di rumah saya! Orang homo sepertimu—”

Dan itulah puncaknya, Taehyung berbalik secara mendadak hingga Jungkook tidak sempat menahannya sama sekali dan menghampiri ayahnya dalam tiga langkah besar lalu menyarangkan satu pukulan mentah ke rahang ayahnya. Suara gedebuk keras daging bertemu daging membuat Jungkook mual. Taehyung berdiri tegak dengan tangan masih terancung ke udara saat ayahnya terkesirap kaget oleh pukulannya.

“MAS!” seru ibunya dengan tatapan syok, menangkap ayahnya yang terhuyung mundur dan menahan putra pertamanya agar tidak menghabisi ayahnya sendiri dalam kemarahan. “Mas, sudah!”

“Sekali lagi Ayah bicara tidak sopan ke Jungkook....,” geramnya melalui rahangnya yang terkatup rapat, bahunya naik-turun dan wajahnya merah padam. Amarah menggelegak di dalam dirinya dan Jungkook yakin dia tidak akan pernah ingin membuat keributan dengan Taehyung yang ini. “Sekali lagi.....”

“Kamu pergi saja, ya? Pergi. Jangan pulang dulu untuk sementara.” kata ibunya, menatap anaknya dengan kepedihan nyata di matanya lalu perempuan paruh baya itu menoleh ke Jungkook yang berjengit kaget oleh tatapan itu. “Ya? Tolong.”

“Tolong.” katanya lirih dan Jungkook mengangguk. Dia baru saja akan melangkah saat ayah Taehyung memutuskan bahwa itu saatnya dia meledakkan bom emosional lain pada Taehyung yang sudah gemetar menahan amarahnya.

“Kalo Ayah bicara ke anak bangsat ini memangnya kenapa? Kamu mau pukul Ayah lagi? Kamu lupa siapa yang membesarkan kamu? Siapa yang membiayai sekolah kamu? Ngurus kamu sampai umur segini? Bukannya berterima kasih, apa yang udah kamu kasih ke Ayah sebagai balasan? Jawab!

“Kamu cuma bikin malu keluarga ini; kamu dengar?! KAMU CUMA BIKIN MALU! Kamu cacat! Kamu gak normal! Kamu aneh! Ayah gak sudi punya anak seperti kamu! Najis!”

Dalam satu detik; begitu banyak yang terjadi dalam mode cepat hingga otak Jungkook nyeri berusaha memprosesnya. Ibu Taehyung menjerit liar dan Jungkook harus melompati kap sedan Taehyung dalam usahanya untuk meluncur meraih Taehyung yang sudah mengejang akan menyarangkan satu pukulan lagi ke ayahnya.

Dia berlari ke arah Taehyung dan langsung meraihnya serta mengunci kedua lengan Taehyung dengan lengannya, menyeret pemuda itu mundur. Bersyukur bahwa tubuh Jungkook lebih kuat secara fisik dari tubuh langsing dan lentur Taehyung.

“LEPAS!” seru Taehyung dengan suara parau yang sama sekali tidak dikenali Jungkook. Memberontak liar dalam pegangan Jungkook berusaha untuk menghampiri ayahnya yang berdiri pongah di depan pintu dengan satu tangan di rahangnya dan istrinya yang menangis di sisinya. Keluarga calon jodoh Taehyung berdiri beberapa meter di baliknya, menatap drama keluarga itu dengan takjub.

“Mas udah!” seru Jungkook meningkahi suara jeritan dan tangisan ibu Taehyung melindungi suaminya dari amukan putra sulungnya yang jika saja dia mau berpikir, disebabkan oleh suaminya sendiri. Jungkook sama sekali tidak bersimpati. “Mas, sudah! Jangan ngelakuin hal-hal yang bakal Mas seselin nanti!”

“Bawa pergi Jungkook, tolong!” seru ibu Taehyung berusaha menahan ayah Taehyung agar tidak menghampiri anaknya dan Jungkook selama dua detik penuh terkejut dan tertegun bagaimana ibu Taehyung tahu dan mengucapkan namanya dengan nada penuh permohonan.

Dia menatap perempuan paruh baya yang sedang menangis itu lalu menoleh ke Taehwan yang gemetar saat dia mengangguk meminta Jungkook membawa kakaknya pergi. Maka Jungkook mengangguk, mengucapkan salam perpisahan samar lalu menarik Taehyung ke mobil. Taehyung berhenti di sisi sedan, Jungkook menahan tubuhnya takut dia akan kembali meledak namun Taehyung menggeleng.

Dia menghela napas dalam-dalam lalu mengangguk, menyatakan bahwa dia sudah cukup tenang. Namun, Jungkook tetap menunggu hingga Taehyung masuk ke kursi pengemudi dan memakai sabuk pengamannya sebelum dia sendiri berlari kecil mengitari mobil dan memasuki sisi penumpang.

Mobil menderum marah saat Taehyung menginjak gas, memasukkan perseneling lalu meluncur mulus pergi dari rumah itu tanpa menoleh. Sekian ratus meter dari rumah, Taehyung mulai menangis tanpa suara.

Mengerikan bagaimana air mata Taehyung mengirimkan tusukan-tusukan nyeri melumpuhkan ke hati Jungkook. Pemuda itu terus menginjak gas, nyaris seperti robot sementara air mata meleleh di pipinya. Jungkook menyentuh roda kemudi lalu meremas tangannya, dia menjulurkan tangan dan menyetel lampu sein ke kiri lalu menyentuh paha Taehyung lembut.

“Ayo menepi,” bisiknya lembut. “Menepi sebentar, ya? Nanti nabrak, Mas.”

Dan Taehyung menyerah, dia membiarkan mobil meluncur ke sisi kiri jalan dan berhenti total di bawah lampu jalan yang temaram. Tangannya meluncur turun dari roda kemudi dan dia mulai menangis dengan suara menyayat hati.

Di sisi jendela Jungkook lalu-lintas tetap bising, kota menggeliat karena panggilan adzan Maghrib; orang-orang menikmati kemerdekaan mereka setelah menyelesaikan satu hari puasa lagi. Bercengkrama menikmati segelas minuman, menikmati kudapan manis; berkumpul bersama keluarga mereka yang hangat, menyukuri nikmat hidup yang masih bisa mereka nikmati bersama.

Namun di sisi Jungkook yang lainnya, seorang anak manusia sedang menangis. Entah menangisi kebebasannya yang didapatkan dengan cara agresif atau menangisi fakta bahwa dia baru saja melepaskan keluarganya; melangkahkan kaki keluar dari kedua orang yang membesarkannya.

Dari rumah yang selalu menantinya untuk pulang. Adik lelakinya dan seluruh identitas yang dipercayainya sebagai dirinya selama dua puluh lima tahun. Dia sendirian, tercabik-cabik.

Raden Mas Taehyung Bawono Pragowoaji baru saja keluar dari medan pertempuran dengan babak-belur; batinnya, emosinya, hatinya dan jiwanya terkoyak oleh kejadian barusan. Dia baru saja kehilangan identitasnya, jati dirinya dan segalanya.

Jungkook mencondongkan tubuhnya melewati pembatas dan memeluk Taehyung yang terisak-isak liar. Seluruh hidupnya baru saja pecah berantakan seperti mangkuk kaca antik yang selama ini dipajangnya, dipolesnya hingga mengilap. Benda itu jatuh ke lantai, remuk oleh ayahnya sendiri.

“Ssshh.... Gapapa, gapapa,” bisik Jungkook di rambutnya sementara di dadanya, Taehyung terisak-isak menyakitkan. “Gapapa, dilepaskan. Dilepaskan. Jangan lupa bernapas,” bisiknya memejamkan mata; membiarkan tubuhnya menyerap semua rasa sakit yang dirasakan Taehyung.

“Mas. Aku di sini. Mas gak sendirian, oke?” Jungkook mengecup puncak kepalanya dan memejamkan matanya. Berusaha menahan sakit di hatinya sendiri karena Taehyung membutuhkannya.

“Gapapa.... You're fine and you're going to be fine; I got your back.”