Ikut?
Jungkook menutup pintu mobilnya dengan sebuah map di tangannya terisi setumpuk berkas lalu melambai ramah pada keamanan di dekat gerbang. Dia baru saja kembali dari SMA Taehwan yang adalah SMA Negeri favorit di Jogja, apa lagi yang diharapkan Jungkook? Untuk mengambil berkas-berkas ketentuan sidang pergantian nama Taehyung di Pengadilan Negeri.
Pagi tadi Taehyung sudah ke Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta sesuai alamat KTP-nya untuk menanyakan syarat-syaratnya dan kemudian, melawan kehendaknya sendiri, memutuskan untuk menelepon ibunya untuk meminta bantuan beliau menyiapkan berkas-berkas asli yang dibutuhkan karena saat dia kabur, Taehyung tidak sempat membawa akta kelahiran dan ijazah lainnya serta memohon ibunya berkenan menjadi saksi dalam perkaranya.
Jungkook menaiki tangga ke arah kamarnya, bersenandung ringan seraya berpikir mengapa Taehwan menolak bertemu kakaknya. Dari wajahnya yang sembab dan tidak sehat, mungkin dia menghabiskan malamnya untuk menangisi pertengkaran hebat semalam.
Lagi pula, prospek bertemu Taehwan juga sama tidak menariknya bagi Taehyung sehingga Jungkook menyerah; mungkin kakak-beradik itu butuh waktu untuk menenangkan diri masing-masing dan berangkat bertemu Taehwan sendirian. Jungkook tidak bisa menyalahkan siapa pun, semalam benar-benar mengerikan.
Taehyung tiba di kosan Jungkook dengan wajah merah padam dan mata sembab. Tidak kuasa melakukan apa pun namun Jungkook berhasil memaksanya makan, memintanya mandi dan sholat. Agar jiwanya terasa sedikit lebih tenang dan pemuda itu melakukannya dengan taat nyaris tanpa benar-benar menyadarinya. Setelah sholat yang jauh lebih lama dari biasanya, dia kemudian nampak jauh lebih baik.
Suaranya masih parau saat dia akhirnya makan sisa makanannya dengan sedikit lebih lahap dan memutuskan bahwa dia akan tidur lebih awal. Pagi ini, dia nampak sangat baik dan Jungkook bersyukur atas itu.
Dia mendesah saat berhenti di depan pintu, mendengar dari dalam sana suara Taehyung yang lembut sedang mengaji. Tersenyum, Jungkook membuka pintu dengan suara sekecil mungkin dan menyelipkan dirinya masuk ke ruangan.
Dia menunggu hingga Taehyung menyelesaikan kegiatannya dan mengusap wajah sebelum mengumumkan kedatangannya. “Surat-suratnya lengkap,” kata Jungkook dan Taehyung menoleh, nampak segar setelah mandi, sholat dan mengaji. “Aku sudah fotokopi juga, mau dibawa ke Pos Bantuan Hukum sekarang? Mumpung belum sore? Jadi kasusnya cepat masuk.”
Jungkook meletakkan map di atas meja. Dia akan datang sebagai salah satu saksi bersama Ibu Taehyung untuk menguatkan perkara penggantian nama yang dibawa Taehyung ke pengadilan. Alasannya sesederhana melepaskan gelar bangsawannya dan Jungkook yakin pengadilan akan mengabulkan permohonan perkara itu.
“Makasih, Sayang,” kata Taehyung berdiri dan membereskan sajadahnya, melipatnya dengan rapi lalu meletakkannya di ranjang Jungkook. “KTP Ibu juga sudah?”
Jungkook mengangguk, membuka map di meja dan membiarkan Taehyung mengeceknya sendiri. “KTP Mas, KTP-ku dan KTP Ibu sebagai saksi. Tapi punya Ibu aku balikin habis fotokopi tadi ke Taehwan biar dibawa pas sidang aja,” Jungkook membiarkan Taehyung bekerja mengeceknya dengan tenang. “Kartu Keluarga dan akta lahir Mas, asli dan fotokopian rangkap 5 semua. Tadi mampir ke kantor pos juga buat legalisir sekalian jalan, jadi tinggal masukin semuanya ke Posbakum,”
Taehyung mengangguk, memisahkan dokumen asli dan fotokopian lalu memasukkan semua berkas fotokopi ke dalam map lain. “Mas bawa sekarang aja, biar bisa segera maju.” Dia kemudian mendesah.
“Tapi nanti surat panggilannya Mas alamatkan ke kamu, gapapa? Katanya paling lambat satu minggu udah dipanggil. Jadi tar begitu panggilan sidang, baru Mas balik ke Jogja. Soalnya Mas dipanggil kerja mulai Senin, jadi Mas mau settle dulu di kosannya.
“Terus tar bikin surat kuasa bermaterai juga buat kamu ngurusin semua surat-surat yang namanya diganti ke Disdukcapil kali, ya?” Taehyung menatap dokumen-dokumen di tangannya dengan ketenangan seorang profesional.
“Ato tar abis sidang, begitu surat keterangan pengadilan selesai langsung ke Disdukcapil? Mas minta excuse apa, ya sehari....” sisanya adalah gumaman Taehyung yang merencanakan kehidupannya sendiri hingga Jungkook tersenyum kecil mengamatinya menggumam seraya merapikan berkas. “Ngurus keluarnya Mas dari KK yang ini juga ya....”
“Mas,”
“Dalem?”
Jungkook duduk di ranjangnya, mengamati Taehyung yang membereskan dan mengklip berkas-berkasnya. “Mas.... gak nyesel?”
Taehyung berhenti. “Maksudnya?”
Jungkook mengendikkan bahunya ringan, menunduk saat dia melanjutkan. “Nyesel karena udah keluar dari rumah dan memutuskan untuk keluar dari keluarga ningrat? Maksudnya, isn't it too much? Mas terlalu banyak berkorban.” Dia bergegas menambahkan. “Bukannya aku geer kalo Mas ngelakuin ini biar bisa sama-sama aku, tapi tetep aja. Terlepas dari itu, Mas bener-bener..... nekat?”
Taehyung diam sejenak lalu menghela napas. “Sebenernya bukan buat kamu,” katanya menoleh dan tersenyum lembut. “Tapi karena kamu,” tambahnya. Meletakkan berkas-berkasnya lalu menghampiri Jungkook dan duduk di sisinya.
“Menurut Mas hidup jadi bangsawan itu monotun. Mas kerja, Mas ketemu orang-orang, bersosialisasi, menjadi public figur; bahagia, iya. Cuma ada sesuatu yang terasa kosong. Mas gak tau jawabannya apa. Tiap kali Mas pulang, selalu ada yang kurang. Ruang gerak rasanya terbatas banget, sesek.
“Belum lagi perjodohan-perjodohan, standar hidup.... Perjodohan kemarin itu bukan yang pertama, kok.” Taehyung terkekeh serak saat Jungkook menatapnya ngeri. “Mas udah dijodohin sejak usia 19 tahun, oke?” tambahnya dan Jungkook memberikannya tatapan ngeri lain yang membuat Taehyung tertawa kecil.
“Saking seringnya sampe Mas sendiri lupa berapa kali.” Dia mengendikkan bahu, melepas pecinya dan melipatnya. “Tapi Mas selalu berhasil menghindar. Tapi rasanya lama-lama Mas capek, muak banget. Apa itu prestasi paling membanggakan di mata Ayah? Mas menikah dan punya anak? Mas pengen lebih tapi hidup sebagai bangsawan gak bisa ngasih kebebasan itu buat Mas.
“Jadi,” Taehyung menatap Jungkook lekat-lekat. “Pas ketemu kamu, pas liat bagaimana kamu menyikapi hidup, bagaimana kamu mengatur hidupmu sendiri; Mas terinspirasi. Haruskah? Maksudnya, perlukah Mas pergi dari rumah itu? Pergi dari cengkraman Ayah? Jadi sedikit lebih bebas eksplor hidup?
“Dan puncaknya, kata-kata Ayah tentang kamu, tentang Mas dan kita bikin Mas ngerasa, 'ya, Mas harus pergi dari sini'.” Dia memejamkan mata dan memegang pecinya sedikit lebih kuat. Jungkook hendak meraih tangannya, namun urung. “Dan akhirnya keputusan Mas bulat untuk keluar. Mas gak mau hidup di bawah bayang ningrat keluarga Ayah lagi, capek. Mas ingin jadi diri sendiri dan syukurnya, Mas punya rekan seperti kamu.”
Jungkook menatapnya dan tersenyum. “Emang gak takut suatu hari kita putus gitu? Terus gimana kalo gitu?”
“Gak.” sahut Taehyung tegas, tidak ada keraguan sama sekali di suaranya. “Mas yakinkan kamu, gak bakal ada yang bisa mencintai kamu seperti Mas mencintai kamu. Saking bahagianya kamu sama Mas, kamu gak bakal sempet mikir buat cari orang lain. Percaya, deh.”
“Kamu pacar pertama Mas setelah dua puluh lima taun, kamu pikir Mas bakal lepasin kamu gitu aja?”
Cheesy, pikir Jungkook geli sejenak. Namun bagaimana tekad dan kasih yang berkobar di mata Taehyung, membuat mata Jungkook terasa panas, sehingga dia menyamarkannya dengan terkekeh serak. Pemuda ini serius dan Jungkook lemah oleh tekadnya. “Oke, deal. To be fair karena Mas juga pacar pertamaku,” katanya tersenyum lebar. “Mari bekerja sama,”
Tersenyum lembut, Taehyung mengangguk. “Mari.”
“Berarti besok Jumat Mas balik ke Bali?” tanyanya.
Taehyung mengangguk, “Kenapa?”
Jungkook berpikir sejenak sebelum akhirnya nyengir. “Ikut, ya?”
Sekarang Taehyung menoleh dengan alis berkerut, “Lha? Kuliahmu?”
“Ada jatah bolos ini, cuma sehari, kan? Nanti Minggu malem aku balik Jogja.” Jungkook setengah merajuk. “Boleh, ya? Aku bantu-bantu Mas beli isi kos ato apa gitu? Ya?”
Taehyung menatapnya, sejenak ragu sebelum akhirnya tersenyum kecil. “Oke, jangan lupa izin Mama dan Papah,”
“Yes!”