Rencana
Jungkook menghela napas dalam-dalam sementara mereka melaju membelah jalanan menuju rumah Taehyung. Baru beberapa hari, tapi Jungkook merasa dia sudah begitu lama tidak menyusuri jalanan Prawirotaman yang penuh dengan wisatawan asing dan bar-bar yang berpenerangan lampu-lampu mungil bercahaya kuning keemasan.
Cahaya lampu, aroma masakan Italia dan juga cengkrama mereka terdengar begitu akrab di telinga Jungkook ditingkahi suara-suara menjelang Maghrib dari masjid sekitar.
Taehyung meraih tangannya, meremasnya lembut. “Gapapa, tenang aja. Ayah gak apa-apa.” katanya menenangkan Jungkook yang sesungguhnya sama sekali tidak mengkhawatirkan ayah Taehyung. Dia malah mengkhawatirkan reaksi Taehyung terhadap ayahnya.
Jungkook sudah belajar mengendalikan emosinya dengan baik; sudah belajar bahwa dia tidak bisa mengubah siapa pun maka dia harus mengontrol bagaimana dia bersikap atas sikap orang itu. Bagaimana dia bereaksi terhadap emosi negatif orang di sekitarnya. Tapi dia tidak yakin Taehyung tahu caranya mengingat bagaimana dia memandang ayahnya begitu tinggi melebihi dirinya sendiri—hal paling berharga bagi Taehyung.
“Gapapa, aku gak takut sama Ayah.” Jungkook tersenyum, membalikkan telapak tangannya sehingga tangan Taehyung kini dalam genggamannya, meremasnya singkat sebelum melepaskannya untuk memasukkan perseneling. “Aku cuma takut Mas bakal sedih lagi, nangis lagi. Watching you crying is a literal hell for me.”
Taehyung menoleh sejenak lalu kembali menatap jalanan, tersenyum kecil. “Terima kasih,” bisiknya lembut. “Terima kasih sudah menemukan Mas dan menyelamatkan Mas.”
“I didn't save you,” balas Jungkook tersenyum. “You saved yourself. Only you can save yourself—no one can save you. Not even me. Hanya karena Mas berusaha untuk bangkit dari lubang itulah Mas selamat. Kalo aku cuma teriak-teriak, narik Mas buat bangkit tapi Mas sendiri gak mau bangkit; nihil. Mas akan tetep di dalam lubang. So, please appreciate yourself. You've done so much and I'm so proud of you.”
Taehyung nyaris menangis; belum pernah dalam hidupnya selama dua puluh lima tahun seseorang menyatakan padanya betapa bangganya ia pada pencapaian Taehyung; hal seremeh untuk bangkit dan bicara pada ayahnya, memperjuangkan haknya. Hal yang tidak besar—tidak sebesar prestasinya menjadi PR Yogyakarta yang dikenal semua orang.
Tidak.
Jungkook mengapresiasi bahkan tiap tarikan napasnya, tiap detak jantungnya; seolah Taehyung adalah orang yang sangat berharga. Layak mendapatkan kehidupan yang sekarang dimilikinya. Orang yang hebat.
Taehyung sangat mengapresiasi itu. Prestasi kecil yang tidak pernah dirasakannya bagaimana dia tetap bertahan hidup adalah semua anugerah bagi sebagian orang; bagaimana dia tetap bernapas, jantungnya tetap berdetak, adalah sebuah hadiah bagi orang lain. Bagi Taehyung sendiri sebagai manusia. Dia mungkin tidak pernah memikirkan itu, tapi sekarang dengan Jungkook di sisinya—dia faham. Betapa berharganya hidup ini, tidak hanya bagi Jungkook tapi bagi Taehyung sendiri.
Dia ingin tetap hidup, ingin tetap menjadi dirinya sendiri. Mengejar hal-hal yang belum pernah dicobanya dan ingin terus bersama Jungkook. Tidak ada—tidak ada yang bisa menghalangi Taehyung dari dirinya sendiri.
Mobilnya membelok ke rumah Taehyung yang menyala, ada dua mobil lain di halaman yang sejenak membuat Taehyung berpikir tapi kemudian mengabaikannya. Mungkin klien Ayah, begitu pikirnya. Dia memarkir mobilnya, menarik rem tangan dan baru saja akan bicara saat adzan berkumandang. Dia terlambat pulang tapi lalu kenapa? Ayahnya bisa marah sesukanya, Taehyung tidak peduli.
“Ah, udah adzan!” seru Jungkook, meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral. “Dibatalin dulu, cepet.” katanya mengangsurkan botol itu ke arah Taehyung yang menepis tangannya dengan lembut dan meraih tengkuknya dengan telapak tangannya yang hangat.
Persis seperti siang tadi, hanya saja sekarang Taehyung tidak terkesirap kaget. Dia membenamkan bibirnya yang terasa selembut mentega ke bibir Jungkook yang terkuak. Sisa-sisa puasanya hari itu; bibir kering dan napasnya yang beraroma asam lambung membuat Jungkook tersenyum. Manusiawi, sangat manusiawi. Beginilah dia mencintai Taehyung—tidak ada hal buruk, hanya ada hal yang harus diterima dan dimaklumi.
Dia meraih tengkuk Taehyung dan memperdalam ciuman mereka. Rindu dan kasih sayang menyeruak ke dalam ciuman itu, membanjiri mereka dengan perasaan tak terhingga yang menyesakkan. Baik Jungkook dan Taehyung belum pernah merasakan cinta sehebat ini, kasih sekuat ini; perasaan berani menghadapi apa pun demi kasih mereka, demi orang yang mereka cintai.
Jungkook selalu merasa kisah-kisah romantis terlalu membesar-besarkan arti cinta, terlalu mendramatisasi keadaan. Tidak ada cinta semeledak-ledak Romeo dan Juliet; tidak masuk akal. Namun sekarang, saat dia meleleh dalam rengkuhan dan ciuman Taehyung yang terasa seindah mimpi, Jungkook akhirnya tersadar.
Tidak ada cinta yang terlalu didramatisasi, memang begitulah cinta saat berada di pelukan orang yang tepat.
Taehyung menarik diri, terengah dan tersenyum. “Udah,” katanya parau. Suaranya beberapa tingkat lebih rendah dan mengirimkan sensasi berdenyar aneh ke seluruh tubuh Jungkook dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Mas udah batalin puasanya,” dia meraih botol air di tangan Jungkook lalu meneguknya.
“Ayo masuk,” katanya, meletakkan botol di pintu lalu membuka pintu. Dia menanti dengan sabar di sisi pintu hingga Jungkook ada di sisinya, menjulurkan tangan dan menggenggamnya erat—hangat dan intim. Memabukkan.
Mereka melangkahi halaman menuju pintu ganda yang terbuka, ada suara tawa dan aroma masakan yang menguar dari celah yang terbuka. Hangat dan penuh kekeluargaan. Terlalu ramai untuk keluarga Taehyung saja sehingga Jungkook sejenak merasa, mereka pasti punya tamu, menilik dari jumlah mobil yang terparkir di halaman.
“Siap?” bisik Taehyung di sisinya sebelum melangkah ke dalam cahaya.
“Siap.” balas Jungkook, meremas tangan Taehyung dan mengizinkan Taehyung menariknya ke dalam kungkungan hangat ruangn keluarga rumah Taehyung yang berlangit-langit tinggi.
Wajah pertama yang dilihat Jungkook adalah Taehwan yang duduk di sofa dengan batik dan celana pullover, setengah geli bagaimana dia menyambut kakaknya dengan formal dan sudah akan menyapanya dengan ceria saat dia menyadari ada yang salah. Tangannya lepas dari genggaman Taehyung saat dia menangkap ekspresi wajah Taehwan yang nampak seperti menahan rasa sakit yang sangat; bersalah? Kecewa? Sedih?
Di sana, di ruang keluarga Taehyung, ada dua keluarga. Di hadapan ayah Taehyung yang mengenakan setelan batik rapi, ada satu keluarga lagi. Ayah, ibu, satu anak lelaki dan anak perempuan yang duduk menunduk dengan kebaya sopan dan rambut disanggul longgar. Anak rambutnya menjuntai menutupi setengah wajahnya hingga Jungkook tidak bisa melihat wajahnya dengan benar. Jungkook mendadak mual, dia nampaknya faham apa yang sedang terjadi dan merasa bodoh karena berpikir ayah Taehyung semudah itu dikalahkan oleh anak ingusan seperti Jungkook.
Sebelum dia sempat mencerna apa pun dan bahkan menoleh pada Taehyung yang membeku di sisinya, nyaris tidak bernapas entah oleh rasa amarah, sedih atau dikhianati—mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam saat ayah Taehyung berdiri dengan senyuman lebar di bibirnya lalu berkata;
“Taehyung,” katanya ramah, melambai ringan ke arah lelaki paruh baya ramah di hadapannya yang tersenyum lebar pada Taehyung dan Jungkook. “Kemari, Nak, kenalkan. Ini teman ayah dan calon istrimu. Menunggu kamu datang, Ayah sudah menentukan tanggal pernikahannya. Ayo, kemari.”
Dunia Jungkook terasa runtuh dari langit-langit dan berserak di kakinya.