Pulang

Sudah jam dua siang, tapi Taehyung belum juga mengirimi Jungkook pesan apa pun. Apakah interview-nya memang selama itu? Jungkook melirik jam tangannya dan mendesah, ini sudah jam 3 sore di Bali dan seharusnya Taehyung pasti sholat. Dia tidak pernah melewatkan sholat dimana pun dia berada; bahkan saat mereka berdua bertamasya ke Kaliurang, dia akan mampir ke masjid atau musholla yang mereka lewati untuk sholat.

Jungkook mulai merasa uring-uringan; tidak hanya karena pesan aneh Taehwan tapi juga karena dia cemas sesuatu terjadi pada Taehyung.

“Yug, mau main ke kosku gak?” katanya saat sedang membereskan buku siap-siap untuk pulang setelah dosen membubarkan kelas mereka. “Ayo, main Overwatch,”

Yugi menoleh dengan alis naik keheranan oleh permintaan Jungkook yang tidak seperti biasanya. “Tumben?” katanya. “Emange kenapa? Biasane juga arep istirahat kamu, gak suka digangguin?”

Sejenak bimbang, Jungkook memutuskan untuk jujur. Dia menceritakan semua kejadian yang terjadi semalam dan juga pesan dari Taehwan, dia takut terjadi sesuatu padanya dan bagaimana Taehyung belum juga mengabarinya setelah seharian. Mendengarkan dengan tenang dan tekun, Yugi akhirnya setuju. Mereka berdua pulang ke kosan Jungkook.

“Tapi menurutku, yo, Jek,” kata Yugi di dalam mobil menuju kosan Jungkook yang sebenarnya searah dengan kosan Yugi hanya saja berbeda gang. “Kalo pun bapaknya Mas Tae muncul, aku kok ndak yakin dia bakal marah-marah, ya? Maksudku, nek nginget cerita Taehwan tentang sayange si bapak sama Mas Tae, loh, ya?”

Jungkook memijat pelipisnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menggenggam kemudi dengan kuat. “Gak faham deh,” katanya lemah. “Aku gak berani ngarep apa-apa, gak berani mikir apa-apa. Semoga sampe kos gak ada yang aneh-aneh aja aku udah seneng,”

“Amin.” timpal Yugi dengan tulus. “Tenang, ada aku, Jek. Kamu ndak sendirian. Kalo aneh-aneh, tinggal telepon polisi.” Dia menepuk bahu Jungkook hangat. “Terus Mas Tae masih gak ada kabar?”

“Masih, astaga.” Jungkook menghela napas setengah frustasi. Sekarang sudah pukul dua lebih dan masih belum ada kabar dari Taehyung. “Emang kalo interview kerja selama itu, ya?”

“Yo ndak tau, Jek, belom pernah ikut interview.” balas Yugi tidak membantu sama sekali dengan ekspresi bersalah yang kental padahal itu sama sekali bukan salahnya. “Tapi, tenangno pikirmu, sik. Kalo panik gak nyelesain apa-apa, Mas Tae pasti aman kok.”

Jungkook memasang sein dan membelok ke gang kosannya, membunyikan klakson dengan lembut sebagai tanda untuk satpam membukakan pintu untuknya memasuki parkiran lalu menunggu hingga gerbang terbuka sepenuhnya dan menurunkan jendelanya; menyapa ramah satpam kos yang biasa membukakan gerbang untuknya.

“Mari, Pak,” katanya ceria.

“Kosanmu ki mewah banget, ya? Sebulannya berapa bayarnya?” tanya Yugi mengamati gedung kosan Jungkook yang menjulang tiga lantai lengkap dengan ruang tamu, ruang belajar bersama, kamar mandi dalam dan WIFI. “Tapi aku gak kepingin banget tau sih, nanti engap aku.”

Terkekeh, Jungkook menjawab, “Gak tau, yang bayar Mama.” Dia memarkir mobilnya di garasi dengan hati yang terasa agak ringan; tidak ada siapa pun yang menunggu di kosnya jadi mungkin itu hanya pikirannya yang paranoid. Taehwan mungkin hanya bertanya biasa tanpa niat apa pun dan Jungkook telah menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan hal yang tidak penting.

Dia tersenyum lalu menyebutkan puji syukur pada Tuhan sebelum melepas sabuk pengamannya.

“Ayo, turun.” ajaknya pada Yugi yang bergegas melepas sabuk pengaman dan membuka pintu di sisinya untuk keluar.

Jungkook mengunci mobilnya, menyampirkan tas di bahunya dan melangkah ke gedung kosan. Melambai ramah pada satpam yang mengangguk padanya. “Mau gofut gak, Yug? Sekalian puasa udah batal,” kekehnya mengeluarkan ponsel dan mengecek apakah Taehyung sudah mengabarinya atau belum; nihil. “PHD? Ato Domino yang baru di Godean itu?”

Namun Yugi tidak menjawab dan berhenti di sisinya, Jungkook ikut berhenti lalu menoleh ke arahnya. Sejenak kebingungan oleh ekspresi Yugi lalu mendadak pemahaman melintas di kepalanya. Hatinya mencelos hingga ke dasar perutnya dan entah apakah mitos yang menyatakan semakin lama durasi pertemanan maka akan semakin menguatkan peluang keduanya berkomunikasi via telepati itu benar atau tidak, tapi saat mereka bertemu mata Jungkook tahu.

Dia tahu.

Sial. Dia terlalu cepat merasa tenang.

Dia belum sempat mempersiapkan hatinya sama sekali, saat suara berat khas pria paruh baya dengan otoritas besar menyela diskusi telepatinya dengan Yugi. Suara keresak pakaian dan sofa ruang tamu kosan mengikuti suara itu dan juga suara sepatu kulit yang menyentuh lantai.

Bodoh, Jungkook. Bodoh, bodoh! Dia seharusnya mengabari Taehyung tentang kedatangan dan pesan Taehwan secepatnya alih-alih bersikap sok berani dengan menghadapinya sendirian karena dia sama sekali tidak siap menghadapi ini.

Apa yang harus dilakukannya?!

“Jungkook?”

Tuhan Yesus.