Bali D-1
Jungkook baru saja mengganti bajunya setelah mandi saat dari jendela kamarnya, dia melihat Taehyung sedang duduk di teras rumah. Rumah kawan Taehyung sangat kental dengan model Bali terletak di kawasan Sanur; terdiri atas satu rumah induk dan beberapa bangunan-bangunan lain yang terpisah. Kamar mandinya ada di bangunan yang terpisah, dapurnya pun terpisah sehingga menyiptakan ruangan yang cukup luas untuk halaman.
Ada dua pohon kamboja besar yang meneduhkan halaman. Bunga-bunganya berguguran di halaman dan menghamparkan aroma lembut yang khas Bali. Orangtua kawan Taehyung begitu ramah pada mereka dan langsung menawari mereka makan yang diiyakan Jungkook karena dia begitu lapar dan tidak sahur seperti Taehyung.
Setelahnya mereka dipersilakan untuk beristirahat di salah satu bangunan yang ternyata adalah satu kamar lengkap dengan jendela dan teras kecil dekat dengan satu pohon kenanga yang aromanya begitu menenangkan. Jungkook suka di sini. Dia baru saja bangun dari tidur siangnya yang lama dan panjang untuk mandi sementara Taehyung memeriksa isi emailnya; entah melakukan apa, mungkin menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa kemarin.
Jungkook menempati satu kamar di sudut rumah dengan Taehyung, sementara sekarang Taehyung sedang duduk di teras kecil kamar mereka, menatap halaman tanah yang terisi sisa-sisa sesaji umat Hindu yang berantakan dirusak ayam-ayam peliharaan keluarga yang berdeguk-deguk lucu tiap kali Jungkook memanggilnya.
Bergegas menggantung handuknya di jemuran kecil di depan kamar, Jungkook kemudian meraih sesuatu dari tasnya dan menghampiri Taehyung. Aroma sabun mandinya membuat Taehyung menoleh dan tersenyum kecil.
“Udah mandi?” katanya kembali menatap langit yang mulai gelap dan berwarna jingga. Kawan Taehyung sedang bekerja, shift sore sehingga mereka memiliki waktu untuk mengobrol berdua dulu.
Rencananya besok Taehyung akan mengajak Jungkook ke kosannya dan menentukan kira-kira mereka butuh apa saja sebelum Taehyung bekerja besok Senin.
“Udah,” Jungkook tersenyum lebar. “Mas lagi mikirin apa?”
Taehyung mendesah. “Yah... Kadang rasanya berat kalo ninggal rumah yang udah lama ditempatin, kan?” Dia menatap Jungkook lalu tersenyum kecil sebelum kembali menatap langit. “Mas sudah tinggal di sana bertahun-tahun, aneh rasanya sekarang kalo diinget-inget Mas udah gak punya rumah buat pulang.”
“Gak.” kata Jungkook menggeleng. “Mas tetep akan pulang ke rumah itu kok, anggep aja Mas lagi merantau ini kayak aku ke Jogja,” tambahnya meraih tangan Taehyung dan meremasnya hangat. “Mas masih bagian keluarga itu. Gak ada orangtua yang tega ngusir anaknya sendiri dan aku yakin pas Ayah udah tenang, beliau pasti bisa diajak bicara.”
Taehyung mendenguskan tawa. “Kamu gak tau Ayah,” katanya menatap tangan mereka yang bertautan. “Ayah itu kolot.” katanya dengan nada yang mengenang jauh seolah ayahnya sudah mati. “Gak suka kalo harga dirinya tercoreng, too prideful. Dia gak suka hal yang gak sesuai dengan kehendak dan standarnya.” Taehyung menyusupkan jemarinya ke tangan Jungkook.
“Dan Mas secara harfiah udah ngerusak semuanya, kan?” Taehyung mengendikkan bahu. “Mas ragu Ayah bakal melunak dalam waktu dekat tapi Alhamdulillah Ibu masih mau disusahin buat surat-surat itu,” lalu diam sejenak hingga dia berbisik, “Menurutmu dosa gak...?”
Jungkook menatapnya. “Apanya?”
Taehyung menghela napas dalam-dalam. “Ngelawan orangtua?” katanya. “Menurutmu Mas dosa, gak?”
“Karena apa? Karena memperjuangkan hak Mas sebagai manusia yang selama ini diinjak-injak oleh Ayah dengan tameng “sayang” dan “balas budi”?”
Taehyung terenyak dan Jungkook sejenak mengutuki mulutnya yang tidak tahu diri dan tidak sensitif tentang hal-hal semacam ini, dia bergegas merevisi bahasanya, “Maksudku,” katanya menghela napas.
“Mas selama ini sudah 'dijajah' secara emosional. Ancaman-ancaman yang dipake Ayah buat bikin Mas nurut itu gak bener. Iya, aku tau dia orang yang besarin Mas, ngurus Mas dari bayi; tapi menurutku fakta itu gak valid buat digunakan sebagai ancaman hanya supaya Mas ngelakuin apa yang dia mau.”
“Dan, gak,” Jungkook menggeleng tegas. “Menurutku Mas gak dosa atau durhaka. Mas sedang memperjuangkan kebahagiaan Mas. Ayah juga bertahan dengan konsep beliau tentang bahagia Mas. Kalian cuma lagi punya dua konsep yang berbeda tentang kebahagiaan Mas sendiri.
“Aku yakin masih ada cara lain untuk Mas dan orangtua ngerasa sama-sama bahagia. Kalian cuma perlu bicara. Tapi Ayah gak pernah mau kerja sama,” tambah Jungkook.
Taehyung menatapnya. Dan Jungkook tersenyum lebar padanya, menyemangati dan meremas bahunya hangat.
“Itu konsep yang jelas gak masuk di kepala Mas sekarang,” kata Jungkook tersenyum kecil. “Aku juga gak bisa menerima konsep itu pada awalnya. Tapi setelah kupikir-pikir lagi; benar juga. Aku kan manusia, sama manusianya dengan mereka. Kenapa aku gak bisa berbahagia sesuai dengan pilihanku seperti mereka? Kenapa kalo mereka gagal, aku yang harus berhasil padahal ketertarikanku gak sama dengan mereka?
“Kenapa kalo mereka diperlakukan A dan mereka tidak suka itu, aku juga harus ngerasain perlakuan A itu? Rasanya seperti obyek balas dendam gak, sih?” Jungkook tersenyum kecil. “Maksudnya, mereka gak suka kalo disuruh belajar sama ortu mereka misalnya. Terus kenapa mereka juga harus maksa kita belajar? Biar ngerasain apa yang mereka rasain? Loh, kok gitu??
Aneh aja buatku konsep kayak gitu. Sekarang setelah aku tau apa yang salah dari cara orangtuaku mendidikku, itulah saatnya aku memutus rantainya dan menghindari melakukan kesalahan itu pada anakku kelak,”
“Tapi aku juga gak marah sama Papah atau Mama,” Jungkook nyengir. “Mereka keliru, wajar. Gak ada sekolah buat jadi orangtua, mereka juga sama clueless-nya dengan aku di dunia ini. Jadi sama-sama belajar, aja. Aku kasih tau mereka apa yang aku tau tentang kemauanku dan mereka kasih tau aku apa yang mereka mau. Cari jalan tengahnya,”
“Gapapa, this is just a bad day, not a bad life.” tambahnya meremas tangan Taehyung hangat. “Dulu aku pikir juga kayak hidupku berakhir pas Papah marah karena aku homoseksual. Aku juga kabur, sama kayak Mas. Rasanya kek... semuanya berakhir. Aku gak punya rumah, aku dibuang. Tapi toh kemudian akhirnya Papah melunak dan akhirnya kami baikan. Papah terima aku apa adanya aku,”
“It takes time.” Jungkook menepuk tangannya. “For both you and Ayah to understand that sometime you have different perspectives and that's totally fine. Inget, a smooth ocean never made a skilled sailor,”
Taehyung terdiam, mencerna kata-kata Jungkook dalam keheningan menanti adzan Maghrib yang lebih malam di Bali. Merogoh sakunya, Jungkook mengeluarkan rokok. “Mau?” tawarnya. “Ini cadangan khusus kalo aku mumet. Aku jarang ngerokok, tapi menuruku ini hari spesial untuk bersikap tidak bertanggung jawab.”
Taehyung menatap rokok di tangan Jungkook dan menggeleng. “Kayaknya engga,” sahutnya dan tersenyum. “Kamu aja, silakan.”
Jungkook mengangguk dan meraih sebatang. “Gak usah takut pandangan orang gimana lagi, loh, ya,” dia mematik rokoknya dan menghirupnya ringan. “Mas udah bukan public figure.” tambahnya nyengir. “Gak usah takut aku juga, aku anaknya selo. Mau merokok, silakan. Aku gak suka ngelarang-larang. Mas udah gede, aku yakin Mas tau risiko dari pilihan-pilihan Mas sendiri.”
“What did I do in the past to even deserve you as a present?”
Jungkook terbatuk oleh asap rokoknya. “Hah?” tanyanya menoleh kaget.
Taehyung tersenyum. “Mas juga gak suka ngelarang-larang,” dia menyentuh tangan Jungkook. “Kalo kamu mau ngerokok, silakan. Mas yakin kamu udah tau risikonya.”
Jungkook nyengir. “That's my boyfriend.”
“Mas gak ngerokok karena gak kuat asapnya aja sih sebenernya,”
Jungkook tersedak lagi, lalu bergegas mematikan rokoknya dan memandang Taehyung yang terkekeh serak dengan tatapan sebal. “Bilang dong!” katanya tidak terima dan Taehyung tertawa lepas. “Aku kan gatau,” keluhnya. “Maaf, ya?”
Setidaknya, Taehyung bisa tertawa. Jungkook tersenyum, menatap bagaimana kekasihnya yang dua hari ini nampak begitu kelelahan dan pucat sekarang terlihat begitu lepas dan hidup. Dalam tawa lepas pertamanya dan Jungkook akan berusaha lebih kuat lagi untuk mempertahankan tawa itu di wajahnya.
Adzan berkumandang dengan suara sayup-sayup dan Taehyung mendesahkan rasa syukurnya tapi tidak merasa ingin memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Jadi dia menatap Jungkook dan mengeratkan genggaman tangannya.
Jungkook menatapnya, “Kuambilin cemilan yang dibeli tadi, ya?” katanya berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar, keluar kembali dengan kantung belanja mini market yang berkeresak. Dia mengeluarkan sebotol air dan memberikannya pada Taehyung.
Membisikkan doa berbuka, Taehyung kemudian meminum airnya dan mendesah penuh syukur. Lalu meletakkan botol air mineralnya. “Tadi kamu bilang mau ngehindarin kesalahan ortumu ke anakmu?”
“Ehm-hm,” balas Jungkook sibuk mencoba membuka kemasan camilan di tangannya. “Kenapa?”
Taehyung menggeleng. “Cuma kepo,” katanya setenang samudera. “Suatu hari nanti di masa depan, pas kehidupan udah stabil dan tenang,” dia menghela napas, menatap Jungkook yang sekarang sibuk memindahkan isi kemasan camilan ke mulutnya yang bergerak berisik seperti mesin penghancur.
“Mau adopsi anak bareng Mas gak?”