Kedatangan

Jungkook berdiri di depan pintu kedatangan Bandara Internasional Adisutjipto dengan senyuman lebar ear-to-ear andalannya hingga keamanan yang berdiri di dekat pintu kedatangan menatapnya dengan tatapan aneh dan curiga. Di tangannya ada segelas Americano dingin dengan dolce sauce yang dibelinya dari gerai Starbucks di hadapannya. Niatnya untuk Taehyung tapi begitu selesai membayar, dia baru ingat bahwa Taehyung sedang puasa. Jadi, dia memilih meminumnya sendiri saja.

Merasa bodoh dan tidak sopan karena terus-terusan melupakan fakta bahwa teman-teman muslimnya sedang menjalankan ibadah puasa.

Dia menatap televisi yang menayangkan jam kedatangan dan tersenyum semakin lebar. Pesawat dari Denpasar sudah mendarat dan dia tinggal menunggu penumpang datang ke terminal kedatangan. Dia menjulurkan tubuh atasnya melewati pagar pembatas, menanti penampakan Taehyung yang tidak mungkin tidak dilihatnya.

“Mas, maaf, mundur sedikit, njih, Mas.”

Jungkook menatap petugas keamanan yang baru saja memintanya mundur dengan sebal lalu menurutinya dengan mundur. Namun kepalanya tetap melongok ke dalam terminal kedatangan Adisutjipto yang kecil dan sempit; menanti dan dia menemukannya. Petugas keamanan yang menyerah akhirnya mendesah dan membiarkan Jungkook.

Jungkook melihat Taehyung yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan tangan yang setengah basah setelah dicuci dan langsung melambaikan tangannya dengan semangat ke arahnya. Taehyung menggunakan masker dan topi yang dipadankan dengan luaran formal santai yang cocok sekali melekat di tubuhnya yang langsing dan ramping. Dia memakai tas selempang di bahunya dan balas melambai ke Jungkook dan memberi tanda bahwa dia harus menunggu tasnya di ban berjalan.

Jungkook mengangguk, terlalu bersemangat hingga kepalanya terasa pusing oleh gerakan itu. Dia menanti dengan sabar, tanpa melepaskan pandangan dari Taehyung yang tersenyum padanya; mengamati bagaimana dia tidak sabar untuk memeluk Taehyung, seolah jika dia tidak menatap Taehyung pemuda itu akan lenyap menjadi uap air.

Kaki Jungkook bergerak-gerak, tidak betah menanti sama sekali. Maka ketika Taehyung akhirnya menjulurkan tubuh meraih tali tas ranselnya dari ban berjalan dan mengeluarkan boarding pass-nya untuk menyocokkan nomor seri bagasinya dan tiketnya, Jungkook bergerak dari balik pagar besi yang digunakannya untuk bersandar sejak tadi ke bagian depan lorong.

Taehyung terkekeh lalu bergegas menyampirkan tasnya di bahunya yang kosong dan menghampiri Jungkook; tanpa aba-aba dia menjulurkan lengannya dan sudah akan merengkuh Jungkook dalam pelukan yang kemudian secara drastis berubah menjadi uluran tangan. Jungkook dengan tangan terkembang siap menerima pelukannya, terbatuk-batuk, berdeham keras lalu meraih jabatan tangannya.

“Selamat datang, Pak Bupati,” katanya menahan tawa dan Taehyung menatapnya dengan tatapan merana. “Sabar, ya? Bentar lagi buka,” kekehnya setengah berbisik pada Taehyung yang nampak merana.

“Ya Allah, Mas kangen banget,” bisiknya lalu melepaskan tangan mereka yang bertautan. “Ayo,” ajaknya. “Kamu udah makan? Mau beli makan?”

Jungkook menatapnya dengan wajah terpana, masih tidak menyangka bahwa akhirnya Taehyung berdiri lagi di hadapannya in flesh dan nyengir. “Siap, aku tadi udah makan gausah lah nanti aja pas buka beli bareng,” balasnya. “Tadi aku beli ini niatnya buat Mas,” dia memperlihatkan kopi di tangannya lalu mendesah, “Lupa Mas puasa, buatku ya? Nanti buka aku beliin lagi.”

“Gampanglah kopi nanti bisa beli online ini, kamu minum aja. Makasih ya, niatnya,” kata Taehyung dari balik masker lalu melemparkan senyuman lebar dan eye-smile-nya yang menyilaukan ke Jungkook. “Ya sudah kalo gitu. Ayo pulang,” katanya tersenyum tulus seraya melangkah ke arah pintu keluar menuju tempat parkir. “Kamu bawa mobil Mas, kan?”

“Yap,” Jungkook mengeluarkan kunci mobil Taehyung dan mengambil alih tas ransel Taehyung dari bahunya. “Gapapa Mas yang nyetir?”

“Gapapa lah, lagian Mas udah lama gak bawa mobil,” dia mengangkat tangannya saat mereka menuruni lantai berjalan dan mengusap rambut Jungkook sayang lalu meringis saat melihat poster A3 wajahnya masih dipasang di titik kedatangan. “Kenapa belum dicabut, sih?” gerutunya dan Jungkook bergegas mengeluarkan ponsel, memoto poster itu.

“Dulu pas aku lewat sini baru sampe Jogja aku gak kenal itu siapa, sekarang aku kenal jadi harus difoto,” katanya saat Taehyung membuka mulut untuk protes. “Diem, gausah protes.”

Taehyung menyerah dengan senyuman di bibirnya. Mereka berjalan melewati lorong dan satu lagi lantai berjalan menuju eskalator, menyeberangi halte Transjog sampai tiba di lapangan parkir bandara. Taehyung langsung mengenali sedannya dan memimpin jalan ke arah mobilnya, dia menekan tombol unlock dan mobilnya berbunyi merespon perintah itu.

“Astaga kangennya,” kata Taehyung saat akhirnya duduk di dalam mobil dan melepas topi serta maskernya, dia melepas kancing luarnnya dan mengibaskan rambutnya yang agak basah di bagian ujung-ujungnya dengan lega. Mengarahkan pendingin kabin ke wajahnya seraya menyetel ulang tempat duduk pengemudi yang diatur Jungkook sebelumnya.

Jungkook di sisinya melempar tas Taehyung ke kursi belakang dan menyalakan radio mobil dengan satu tangan sementara tangan lainnya memasang sabuk pengaman. “Kita mau jalan-jalan dulu, gak? Mas nginep di kosku, gak? Ato mau pulang ke rumah?”

“Hei,” kata Taehyung dan Jungkook mendongak, lalu Taehyung menjulurkan tangannya ke tengkuk Jungkook dan nyaris menciumnya jika saja dia tidak teringat sesuatu dan mundur mendadak, nyaris terantuk bagian atas mobilnya sendiri serta berseru tertahan. “Astaghfirullah,” katanya melepaskan Jungkook yang tertawa ceria karena kejadian barusan. “Puasa, Taehyung, puasa. Astaghfirullah, Astaghfirullah...” bisiknya dengan mata terpejam dan menakupkan kedua tangannya ke wajah; nampak sangat menyesal hingga Jungkook terenyuh.

Jungkook masih tertawa saat menjawab, “Bukan salahku, loh, ya?? Aku gak ngapa-ngapain,” Dia nyengir, menghadiahi Taehyung yang lelah dan kurang tidur dengan senyuman lebar serta kerut lucu di pangkal hidungnya.

Taehyung menepuk kepalanya sayang sekali lagi dan mendesah. “Kangen banget gimana, dong?” katanya setengah merengek hingga Jungkook kembali terkekeh.

“Sabar,” balas Jungkook mendelik penuh canda. “Sekarang ke kosku, kan?” tanyanya ceria.

“Ya, Mas mau ganti sama mandi, terus ayo kita ngabuburit ke Malioboro.” balas Taehyung memasang sabuk pengaman dan melepas rem tangan kemudian menyalakan mobilnya yang berderum lembut.

“Yay!” seru Jungkook saat mobil melaju. Pelukan dan ciumannya bisa nanti, setelah berbuka, pikirnya saat menatap Taehyung yang sedang mengemudi dengan serius. Yang penting sekarang, Taehyung di sini bersamanya.

“Mas,”

“Ya?”

“I love you.”

Tersenyum, “I love you more.”

“I love you most!”

“Jangan bikin Mas batal puasa nyium kamu, ya?”

“Lah loh kok?? Aku gak ngapa-ngapain????”

“Kamu gemes.”

“Ya maap?? Bakat alami sedari lahir,”

Taehyung tertawa tinggi dan Jungkook memejamkan mata—berpikir bahwa dia rela mengorbankan apa saja hanya agar dia bisa mendengarkan Taehyung tertawa seceria ini selamanya.

Apa saja.