Terima kasih.
Taehyung mendesah dan Jungkook mendongak dari kesibukannya menyetel kameranya yang sudah lama tidak digunakannya. Taehyung masih bersikeras menggunakan masker dan topinya agar tidak banyak wisatawan yang mengenalinya dan Jungkook hanya bisa mengangguk pasrah saat lelaki itu mengenakan maskernya tadi.
“Kenapa?” tanya Jungkook, mengerjap; mendadak mencemaskan kesehatan kekasihnya yang nampak lemas dan tidak bersemangat. “Capek? Mau balik ke kosan aja?”
Taehyung menatapnya dari balik kacamata yang digunakannya. “Maaf, ya?” katanya selembut sutera hingga Jungkook mengernyit oleh nada lembutnya. “Kita kayaknya berbuka di rumah, gapapa?”
Hati Jungkook mencelos. Kekecewaan kental menyeruak ke hatinya dan membuat tiap tarikannya terasa berat dan pahit. Tapi mau bagaimana lagi? Taehyung memang kembali untuk ayahnya—untuk bicara bersama beliau. Apa yang Jungkook harapkan? Dia menelan kekecewaannya bulat-bulat, mengabaikan rasanya yang pahit dan tersenyum lebar;
“Tapi habis itu kita kulineran malem lagi, oke? Gapapa kan? Jangan kenyang-kenyang makannya di rumah.”
Dan ekspresi Taehyung menyatakan segalanya; bagaimana Taehyung nampak sangat lega karena alih-alih merajuk, Jungkook datang dengan sebuah pemahaman sendiri dan siap membuat rencana cadangan yang akan membuat mereka berdua nyaman. Jungkook bersyukur dia menelan kekecewaannya dan memberikan solusi lain untuk acara mereka alih-alih merajuk sepanjang hari.
Dia hanya bisa bersama Taehyung dua hari; dia harus memanfaatkan masa-masa itu dengan baik. Tidak boleh merajuk; hanya akan membuang-buang waktu mereka yang berharga.
“Peluk-ciumnya nanti ya,” kata Taehyung menepuk dan meremas bahu Jungkook hangat lalu membiarkan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya lagi. “Kalo gitu sekarang,” dia melirik jam tangan. “Kita bisa di sini sejam. Kamu mau jalan ke mana?” tanyanya. “Jam segini belum ada pengamen jalanan, belum rame. Nanti malem baru asik.”
“Telusuri Malioboro aja kalo gitu,” Jungkook nyengir. “Nanti sampai di ujung kita balik lagi, olahraga sekalian.”
Taehyung mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, apa saja agar tidak meraih Jungkook dan memeluknya. Betapa pemuda itu sudah bersikap begitu dewasa, terbuka, adil dan komunikatif; membuat Taehyung begitu nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa embel-embel ningratnya yang menyulitkannya bernapas. Jungkook datang serupa matahari; menerangi seluruh kehidupan Taehyung dan Taehyung benar-benar berharap dia tidak segera tenggelam.
Taehyung bisa gila dalam kegelapan setelah sekian lama berada dalam limpahan cahaya matahari.
“Kamu kenapa suka sama Mas?” tanyanya tiba-tiba tanpa mengizinkan dirinya sendiri berpikir. Dan sejenak berdebar menanti jawabannya, dia menatap Jungkook yang sedang sibuk menyesuaikan layar kamera.
Jungkook berhenti dan mendongak dari kameranya. “Hah?” katanya dan Taehyung terkekeh kecil.
“Kenapa suka sama Mas kalo bukan karena ningratnya?”
Jungkook berpikir sejenak. “Kalo mau jujur, pandangan pertama yaa karena Mas ganteng? Terus waktu itu aku mikirnya Mas pangeran jadi kayak... keren banget gitu. Jujur aja ya,” dia terkekeh.
“Tapi kemudian aku menemukan banyak hal baru tentang Mas. Gak suka kuning telor, gak suka teh, baik, perhatian, penyayang; banyak kualitas-kualitas pribadi Mas yang ketutupan gelar ningrat. Orang-orang cenderung langsung fokus ke Raden Mas-nya daripada ke pribadi Mas sendiri sebagai manusia.
“Dan setelah lama sama Mas, baru aku bisa fokus di diri Mas sendiri. Aku gak mau bohong, peres gitu bilang kalo awal ketemu aku udah jatuh cinta sama pribadi Mas. Halah.” Jungkook tertawa lagi, mengarahkan kameranya ke jalanan. “Yang pertama kuliat jelas fisik. Jelas wajah. Dan itu wajar; gada salahnya. Namanya juga first impression—jelas fisik, gak mungkin yang lain. Orang ngobrol aja belum,”
Jungkook mendongak dan melemparkan senyuman sejuta watt-nya ke Taehyung yang balas tersenyum secara otomatis.
“Begitu ngobrol, dekat, saling kenal; baru aku sayang. Suka dan sayang itu kan beda level,” Jungkook mengarahkan kameranya ke Taehyung lalu menangkap ekspresi bahagia di wajahnya dengan sempurna. “Sekarang, jelek dan bagusnya Mas udah kuterima. Gak ada pikiran bahwa itu jelek atau bagus; di mataku semua itu Mas. Semua itu baik,”
Taehyung menatap bagaimana pemuda itu tersenyum cerah padanya dan bertanya-tanya; apakah dia sudah menyelamatkan suatu negara di kehidupan sebelumnya sehingga Tuhan berpkir bahwa dia berhak mendapatkan Jungkook sebagai kekasihnya?
Pemuda manis, apa adanya yang sebaik malaikat ini. Tidak pernah menjatuhkan Taehyung, tidak pernah menyalahkannya tiap kali ada masalah; selalu berusaha positif dan bekerja sama dengannya untuk mencari jalan keluar. Komunikatif, atraktif dan enerjik.
Apa pun hal baik yang dirinya di masa lalu telah lakukan sehingga Jungkook ditakdirkan untuknya sebagai imbalannya—Taehyung bersyukur. Dan berjanji akan bersikap baik sehingga dia akan mendapatkan Jungkook lagi di kehidupan setelah ini.
“Terima kasih,” kata Taehyung dan Jungkook tersenyum lebar.
“Kembali kasih.” balasnya ceria.