Sidang

Mereka berhenti di halaman parkir Pengadilan Tinggi Kota Yogyakarta dan Jungkook langsung melihat ibu Taehyung berdiri di selasar gedung bersama Taehwan, berpakaian rapi. Ibu Taehyung nampak awet muda dan sehat, terbalut celana jeans dan blouse putih yang menarik.

Jungkook menarik rem tangan, setelah tadi mereka bersikukuh siapa yang mengemudi karena pesawat Taehyung mendarat pukul tujuh pagi dan sidang dimulai pukul delapan pagi sehingga pemuda itu otomatis tiba dalam keadaan jetlag dan lelah. Jungkook memenangkan pertandingan suit mereka dan akhirnya mengemudikan mobil ke pengadilan, jelas tidak tega membiarkan kekasihnya yang teler mengemudi.

Mereka keluar dari mobil dan Taehyung nampak sejenak gelisah karena kehadiran Taehwan dan ibunya; ini pertemuan pertama mereka setelah sekian hari dan Jungkook bisa melihat dari bahasa tubuh Taehwan bahwa hal ini sama tidak menyenangkannya untuk dia.

“Assalamualaikum, Ibu,” Taehyung menghampiri ibunya dan menempelkan punggung tangan ibunya di keningnya, dia memejamkan mata lalu meraih ibunya dalam pelukannya. “Masyallah,” bisiknya lalu tersenyum dengan mata masih terpejam. “Ibu sehat?”

Ibunya membalas pelukan Taehyung, sama eratnya dan sama rindunya. “Sehat, Mas. Gimana kerjaan Mas?”

Melepaskan pelukannya, Taehyung meraih tangan ibunya dan menggenggamnya (terus begitu hingga selesai sidang) dengan erat, “Alhamdulillah lancar, Ibu. Kerjaan Mas gak beda sama kerjaan kemarin jadi enak,” dia lalu menatap adiknya. “Dek,” katanya.

Hening sejenak, Jungkook menatap mereka bertiga ragu-ragu lalu akhirnya mendesah lega saat Taehwan meluncur ke pelukan Taehyung dan pemuda itu tertawa. Mereka bertiga berpelukan erat, seperti keluarga lama yang dipisahkan. Jungkook berdiri beberapa meter dari mereka, enggan merusak momen bahagia itu.

“Hei,” kata Taehyung lembut, menatapnya dengan tatapan seolah Jungkook adalah dewa yang sedang dipujanya. “Ayo sini,”

Jungkook tersenyum dan mengangguk, menghampiri keluarga itu. “Halo, Tante,” katanya mengikuti Taehyung dengan menyalimi tangan ibunya yang beraroma kuat bumbu masak dan sedikit kasar. “Saya Jungkook.”

Ibu Taehyung tersenyum. “Maaf, ya,” katanya dengan logat Jogja yang bahkan lebih kental dan tebal dari Taehyung. “Ketemunya dalam momen seperti ini, Tante belum sempat kenal kamu juga sebelum ini,”

Jungkook nyengir, “Gak apa-apa Tante,” katanya. “Sekarang kan udah kenal, hehe.”

Sidang berlangsung dengan lancar, tidak ada hal yang menyulitkan. Hakim membaca berkas-berkasnya, bertanya apa alasan Taehyung ingin mengganti namanya; pada bagian ini Taehyung menjelaskan keinginannya untuk melepaskan gelar bangsawannya dan diiringi oleh dukungan penuh sang Ibu. Tidak ada bahasan tentang ayah Taehyung, hanya bagaimana Taehyung merasa ingin melepaskan diri dari kebangsawanannya dan dia merasa itu haknya sepenuhnya untuk melakukan itu dengan restu penuh ibunya.

Hakim sejenak menimbang-nimbang lalu meminta para saksi dan Taehyung untuk menunggu, sidang keputusannya akan dibacakan jam dua siang. Tidak memiliki tujuan, karena sedang bulan puasa sehingga Jungkook tidak yakin ke mana mereka harus pergi, mereka akhirnya hanya duduk di balai-balai kecil di sudut halaman pengadilan dan mengobrol.

Tentang suasana rumah setelah Taehyung pergi, tentang keadaan ayahnya yang sekarang semakin sering marah-marah dan sulit diajak bicara. Sudah seminggu ibunya tidak tidur bersama ayahnya karena tidak kuat menghadapi mood swing-nya yang tidak masuk akal. Selama itu juga, Taehyung tidak melepaskan tangan ibunya. Dia memijatnya, menggenggamnya erat, menciuminya; nampak begitu rindu dan sayang.

Jungkook dan Taehwan duduk agak jauh, berdua saja.

“Makasih ya Kak Jung,”

“Buat?”

Taehwan menatap sepatunya. “Buat semua kebaikan Kak ke keluargaku,” dia tersenyum. “Kami deket banget sama Ibuk,” katanya melirik Taehyung yang sekarang sedang mendengarkan cerita ibunya sambil memijat kakinya.

“Pas hari pertama Mas gak ada di rumah, Ibuk nangis. Kangen. Gak ada yang ngerecokin, gak ada yang pulang buka sepatu berisik terus minta dibuatin wedang uwuh...”

Jungkook tersenyum. “Terus Ayah?”

Taehwan mendesah berat. “Bad mood terus,” desahnya. “Habis Kak dan Mas pergi, temen Ayah itu pulang dengan keadaan masih syok. Sepenangkepanku, anaknya itu naksir Mas Tae, anak UGM FISIPOL juga tapi gak pernah ditanggepin jadi dia pro sama perjodohan itu.” Dia terkekeh. “Kak harus liat mukanya pas pulang karena perjodohannya batal dan Mas Tae ternyata homo, kasian banget.”

Jungkook tersenyum simpul, menikmati tawa Taehwan yang lepas. “Tanggepan Ayah?”

“Ya ngamuk,” Taehwan mengendikkan bahu. “Nyalahin Kak Jung,sih garis besarnya,” dia melemparkan tatapan meminta maaf pada Jungkook yang tersenyum memaafkan.

“Tapi gak ada yang dengerin. Ibuk itu sayang banget sama Mas, jadi menurutku mau Mas nikah sama alien tanpa jenis kelamin pun Ibuk pasti ngerestuin.” Taehwan tersenyum kecil, memainkan sebatang ranting di tangannya.

“Kadang aku suka iri,” katanya lambat-lambat. “Mas itu keren banget. Pinter, berbakat, berwibawa, ganteng... Kayak semuanya dibawa Mas. Ibuk dan Ayah sayang banget sama Mas; apa-apa pasti Mas, semuanya pasti Mas. Kadang aku ngerasa kayak... bayangan?” dia memainkan kedua kakinya. “Kalo aja aku cewek, mungkin Ayah bakal sayang aku,”

“Gak boleh mikir gitu ayo. Mas itu sayang kok sama kamu,” kata Jungkook lembut. “Sayang banget. Kamu gak usah sedih. Jadikan itu sebagai bahan bakarmu untuk sukses. Mas Tae mungkin bisa mencapai sekian, maka kamu bisa melampaui Mas. Jangan dipake untuk sedih, jadikan penyemangat, ya? Kamu bisa kok jadi seperti bahkan lebih dari Mas. Percaya, deh,”

Taehwan menatapnya sejenak lalu tersenyum. “Iya,” katanya. “Aku mau belajar yang bener. Aku mau jadi PNS. Aku mau jadi lebih dari Mas Tae,”

Mimpi yang rasional sekali, tapi Jungkook menghargainya. Siapa yang tidak mau jaminan kesejahteraan hingga meninggal? “Ayah juga sayang kamu kok,” kata Jungkook meremas bahunya akrab. “Sekarang cuma lagi kecewa sama pilihan Mas Tae, nanti juga terbiasa. Nanti juga keadaan bakal lebih baik.

“Tolong jangan berhenti berpengharapan, ya?” bisik Jungkook lalu menyandarkan kepalanya ke kepala Taehwan; menghirup aroma matahari di rambutnya dan merasakan kasih sayang yang melimpah pada Taehwan.

Berjarak sangat jauh dengan kakak lelakinya membuat Jungkook asing dengan keberadaan saudara. Saat dia mulai membutuhkan sosok kakak, kakak lelakinya sudah bekerja sebagai akuntan di Swiss dan bertemu dengannya nyaris mustahil; Jungkook hanya memiliki kehadiran kakaknya lewat barang-barang mahal yang dikirim lewat ekspedisi dan videocall.

Memeluk Taehwan terasa seperti kemewahan. Adik kecil yang tidak dimiliki Jungkook.

“Ayo, denger keputusan.”

Jungkook dan Taehwan mendongak, bertemu pandang dengan Taehyung yang tersenyum lembut pada mereka berdua. Jungkook dan Taehwan bergegas bangkit dan menyusul mereka menuju ruang sidang lagi.

Tidak banyak, hakim mengabulkan permintaan Taehyung dan memberikan surat keterangan pengubahan nama hasil keputusan sidang di Pengadilan Tinggi yang nantinya akan digunakan untuk mengurus surat-surat resmi lainnya termasuk akta lahir, KTP, SIM dan Ijazah.

Membawa surat keputusan itu keluar, Taehyung mendesah lega. “Berarti harus kamu yang ngurus ya, Dek?” katanya pada Jungkook setelah berpisah dengan ibu dan Taehwan karena mereka harus di rumah untuk berbuka dan takut ayah curiga dan tahu mereka kemana.

“Mau sekarang juga gapapa sih, Mas,” kata Jungkook tersenyum di kursi pengemudi, siap kembali. “Belum terlalu sore juga. Aku baca di Google kalo udah bawa surat keputusan cepet kok,” Dia melirik ke spion tengah saat mundur untuk keluar dari gedung pengadilan.

“Ya udah kita ke Disdukcapil dulu deh sekalian biar Mas gak izin-izin lagi,” kata Taehyung dan Jungkook mengangguk, “Siap, Kak. Sesuai titik, ya?” sahutnya dan Taehyung tertawa.

Ajaib bagaimana hubungan seks telah menjadikan hubungan mereka jadi jauh lebih akrab; seolah ada ikatan batin yang kuat. Mereka terasa begitu intim dan menyenangkan. Jungkook merasa jauh lebih nyaman berada di sekitar Taehyung. Merasa damai dan akrab seolah Taehyung sudah berada di hidupnya selama bertahun-tahun, alih-alih beberapa bulan.

“Btw,” kata Jungkook saat mengemudi menuju Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. “Siapa nama barunya?” dia melirik Taehyung yang bersandar di kursinya dengan nyaman. “Jadi pake nama dariku?”

Taehyung tersenyum lebar, “Jadi,” katanya. “Semua nama aku lepas karena itu semua gelar bangsawan. Raden Mas itu gelar, Bawono Pragowoaji itu nama keluarga, ya akhirnya cuma sisa Taehyung aja dan dengan nama-nama dari kamu, jadinya,”

Dia mengeluarkan surat keputusan di map dan memamerkannya seperti anak kecil yang memamerkan piagam lomba tarik tambangnya ke Jungkook yang tertawa kecil oleh tingkahnya,

“Ardiman Taehyung Ajiwira.” cengirnya lalu mendesah panjang. “Rasanya seperti lahir kembali. Rasanya lebih ringan. Mas udah bukan bangsawan lagi....”

“Selamat, Mantan Bangsawan,” Jungkook tertawa saat memasang sein untuk membelok. “Berarti sekarang aman, yaa, mau buat skandal?” Dia mengerling Taehyung penuh godaan.

Satu lagi efek seks, mereka jadi lebih mudah melemparkan guyonan dan tidak ada yang tersinggung. Guyonan-guyonan nakal yang membuat mereka tertawa intim, bertukar pandangan penuh arti dan senyuman kecil adalah hal-hal baru yang memercikkan api luar biasa ke hubungan mereka. Jungkook begitu asing dengan perasaan nyaman sehebat ini.

Taehyung meliriknya dengan kerlingan yang sama, “Aman buat post foto bareng di Twitter,”

Jungkook tertawa lepas. “Dari semua hal yang orang biasa bisa lakukan, Mas pengen post foto berdua di Twitter.” dia tersengal, “Oke, siap, Raden Mas,” katanya lalu berpura-pura terkejut.

“Eh maaf,” katanya jahil. “Mas Ardiman Taehyung Ajiwira.” dia menyecap nama baru itu di lidahnya dan menyukai bagaimana nama itu terasa begitu sederhana dan kuat. Dia tersenyum lebar, “Selamat datang di kasta sosial terendah.”