Bali D-2 ps. careful it may break your heart.
Jungkook sedang berbaring di ranjang, bermain game saat Taheyung keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan aroma sabun yang menyenangkan, menyeruak mengisi seluruh ruangan kosan. Menghirupnya dalam-dalam, Jungkook menjeda permainannya dan menoleh ke Taehyung yang sedang membersit dan menggantung handuknya di jemuran.
“Mas?”
“Dalem?”
Jungkook tersenyum lebar, “Udah buka, kan? Mau peluk, boleh?”
Taehyung terkekeh lalu mengenakan kausnya dan menghampiri Jungkook yang duduk di ranjang dengan kedua tangan dibentangkan; Taehyung meraihnya ke dalam pelukannya dan Jungkook mendesah panjang.
Pelukan Taehyung selalu terasa menenangkan dan melegakan, seperti opium yang disuntikkan ke dalam aliran darah membuat Jungkook seketika merasa damai dan tenang. Dia mengaitkan kedua tangannya di punggung Taehyung hingga lelaki di pelukannya terkekeh oleh gerakan itu.
Taehyung mengecup puncak kepalanya lalu menggeliat. “Bentar, sik bener dulu. Pinggang Mas sakit,” katanya geli lalu Jungkook melepaskan pelukannya dan membiarkan Taehyung berbaring di ranjang sebelum menyusup ke pelukannya.
Bersandar di dada Taehyung yang dingin dan harum sabun membuat Jungkook tersenyum. “Mas,”
“Dalem, sayang?”
“I love you.”
Taehyung tertawa lembut. “I love you too,” katanya. “Makasih hari ini udah nemenin Mas mondar-mandir dan beresin kosan, ya? Tiket buat besok malem udah beli? Kita jadi gak bisa main-main ya? Mas juga gak tau mana-mana di sini,”
Jungkook menggeleng di dada Taehyung. “Gapapa, aku lebih suka deket-deket Mas aja, gak kemana-mana juga seneng,” dia nyengir. “Mainnya besok-besok aja kalo Mas udah hafal tempat, biar gak kecapekan juga hari pertama kerja,”
Taehyung mengecup puncak kepalanya. Jungkook meremang oleh sentuhan itu. Ini pertama kalinya mereka berada di ruangan yang tertutup tanpa siapa pun yang mungkin menganggu mereka, pertama kalinya berpelukan tanpa perasaan berat dan resah seperti yang selalu mereka rasakan di kosan Jungkook.
Pertama kalinya....
Jungkook mengerjap lalu menelan ludah sebelum membulatkan tekadnya dan mendongak. Taehyung sedang menyandarkan kepalanya di dinding di belakangnya, matanya terpejam dan dia bersenandung lirih. Merasa malu, Jungkook urung melakukan apa pun dan akhirnya kembali menunduk dan menyusupkan wajahnya di dada Taehyung.
'Mas gak pernah sama sekali berpikiran seperti itu tentang kamu,' kata Taehyung kemarin di bandara saat mereka menunggu taksi dan kalimat itu membuat Jungkook merona.
Dia pun tidak. Dia tidak pernah membayangkan akan... membiarkan Taehyung menyentuhnya sedemikian rupa karena menurutnya, hubungan mereka sekarang sudah sangat sempurna tanpa apa pun. Tapi kalimat Mingyu kemarin membuatnya menyadari hal itu. Dia mengutuk sahabatnya ke neraka jahanam.
Sudah entah berapa kali mereka berbaring bersebelahan di ranjang dan sama sekali tidak memikirkan itu?
Tapi saat teringat ciuman mereka di mobil hari mereka berkunjung ke Kopi Klotok, bagian dasar perut Jungkook terasa geli. Bagaimana Taehyung mendesah dan mengerang; suaranya membuat Jungkook nyaris gila. Dia tidak bisa melakukan ini. Bagaimana jika Taehyung tidak suka? Bagaimana jika dia menolak? Bagaimana jika hanya Jungkook yang berpikiran tidak sopan? Sementara Taehyung sudah jelas tentang pendiriannya sendiri?
”... Apa?”
Jungkook membuka matanya, “Hah?” tanyanya serak, mendongak menatap Taehyung yang menatapnya geli. “Apa?”
“Kamu mikirin apa? Mas ajak ngobrol diem?”
Jungkook menggeleng, “Gapapa,” katanya melirik bibir Taehyung yang terkuak dan merasa malu karena telah berpikiran begitu kotor. “Gapapa, gapapa!” katanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Berhenti, Jungkook!' serunya pada otaknya sendiri yang sekarang mengerang karena tidak diberi apa yang diinginkannya.
Taehyung menatapnya lalu terkekeh serak. Ragu-ragu sedetik lalu, “Kamu.... sadar, gak?”
“Apa?” tanya Jungkook masih merasa pening oleh jalan pikirannya sendiri yang tidak sopan.
“Ini pertama kalinya kita di satu ranjang tanpa ngerasa sedih atau kacau? Dengan pintu kekunci? Gak ada yang kenal kita di sini....” katanya lalu seolah menyadari kata-katanya sendiri, Taehyung menelan ludah gugup. “Maksudnya—!” tambahnya setengah panik. “Kalo kamu gak mau, gapapa, maksudnya gimana ya, itu.... Mas bilang Mas gak mikir kayak gitu, iya tapi maksudnya—”
Muak oleh celotehan mabuk Taehyung, Jungkook akhirnya memberanikan diri untuk merangkuh tengkuk Taehyung, meraih pipinya dan mengunci wajah Taehyung sebelum menciumnya dengan keras hingga keduanya mendesah. Menakjubkan bagaimana ciuman itu mengirimkan perasaan aneh ke dasar perut Jungkook, membuat setiap inci kulitnya berdenyar penuh kenikmatan. Dia merinding dan merasa haus.
Mengeratkan pelukannya, dia memperdalam ciumannya dan merasakan tangan Taehyung di tengkuknya, membelai tubuhnya dengan gerakan lembut terus turun hingga ke pinggangnya. Jungkook mengejang; sentuhan itu mengirimkan aliran listrik aneh yang membuatnya mendesah.
“Astaghfirullah, Jungkook....” bisik Taehyung serak dan parau, lima kali lebih seksi saat Jungkook melepaskan ciuman mereka untuk bernapas. Namun, sebelum Jungkook berhasil menarik napas, Taehyung meraihnya kembali dan menariknya berguling hingga menimpanya di ranjang.
Tubuh mereka bertemu dengan cara yang mendebarkan; Jungkook terkejut bagaimana bagian-bagian tubuhnya bereaksi terhadap bagian tubuh Taehyung dan merasa malu karena begitu menikmatinya. Taehyung kembali menciumnya semakin dalam, dan semakin dalam. Membelai tubuhnya dengan lembut dan ragu-ragu, malu untuk menjelajah lebih jauh.
Menggemaskan sekaligus membuat Jungkook frustasi.
”... Mas gak... yakin?” sengalnya saat ciuman mereka berhenti; mereka berdua tersengal dan kamar terasa begitu panas saat tubuh mereka bertautan di ranjang. “Mas gak tau... caranya?”
Jungkook terkekeh parau. “Mas pikir aku tau?” balasnya tersengal. Wajahnya merah padam, rambutnya menjuntai di keningnya, matanya yang biasanya bersinar penuh keceriaan sekarang redup dan sayu—begitu menggoda dan membuat Jungkook nampak sepuluh kali lebih indah dan tampan dari biasanya hingga Taehyung mengerang.
“Ikuti insting aja,” kata Jungkook terengah saat ciuman Taehyung menggelincir ke lehernya, membelai kulitnya dan denyut pembuluh darahnya dengan ciuman sehalus sayap kupu-kupu. Dia merasa seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan, menggelepar-gelepar menyedihkan. “Ikuti... insting....”
Dan saat Taehyung menariknya hingga berbaring di ranjang dan menaunginya dengan wajah merah padam yang begitu tampan hingga Jungkook bisa saja menangis karenanya, Jungkook faham bahwa mereka tidak perlu bicara. Tubuh mereka tahu apa yang mereka butuhkan. Mereka hanya perlu membiarkannya terjadi sesuai dengan apa yang tubuh mereka inginkan.
Taehyung membelai wajah Jungkook dengan punggung tangannya, Jungkook terpejam. Menikmati sensasi memabukkan itu seperti kucing yang mabuk catnip, mulutnya terbuka sebagai reaksi atas kurangnya aliran oksigen yang masuk ke otak karena hidung bodohnya tidak menghirup cukup banyak untuk mecerna semuanya.
Setelah bisikan menyerah lain yang sangat seksi, Taehyung kembali menciumnya dan itulah saat dimana otak Jungkook berhenti berfungsi dan seluruh insting binatangnya mengambil alih segalanya....