Ayah

“Dari mana, Mas?”

Taehyung menutup pintu mobilnya dan langsung bertemu wajah dengan ayahnya yang menunggu di depan pintu rumah dengan kain sarung dan sedang menyemprotkan air ke burung peliharaannya di dalam sangkar-sangkar tanam yang mengapit pintu masuk rumah mereka.

Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menelaah beberapa pemberitahuan tentang pekerjaan yang akan dikerjakannya setelah mandi, dia begitu lelah tapi bahagia. Besok dia akan masuk kantor sebagai orang baru yang segar oleh emosi dan rasa bahagia. Dia tersenyum saat beranjak ke depan pintu, ke arah ayahnya.

“Habis jalan sama teman, Ayah. Ayah sudah makan?” tanyanya meraih tangan lelaki paruh baya itu dan menyentuhkan punggung tangan ayahnya ke keningnya dengan penuh penghormatan. “Sudah mandi?”

Ayahnya menatapnya dengan wajah tak terbaca yang sudah akrab dengan Taehyung. Tatapan mata itu mengirimkan reaksi tidak nyaman ke dasar perutnya. Taehyung sudah terbiasa dengan tatapan itu, artinya hanya satu;

Taehyung baru saja melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan ayahnya.

Membuatnya bingung karena dua malam lalu dia sudah bicara dengan ayahnya tentang keputusannya untuk mengajukan pengunduran diri di Tim PR Jogja dan memutuskan untuk fokus di pabrik batik seperti apa yang diinginkan ayahnya. Dia juga sudah mulai terjun ke pabrik, menerima beberapa pekerjaan kecil yang diberikan ayahnya sebagai semacam inisiasi sebelum terjun menjadi kepala perusahaan.

Dia sudah menuruti ayahnya sejak kecil; apa pun yang beliau inginkan akan selalu dibawakan Taehyung ke mejanya. Semuanya kecuali dua hal; menikah dan sebelum dua hari ini, menjadi kepala pabrik. Taehyung tidak pernah memutuskan apa pun di dalam hidupnya seperti bagaimana dia memutuskan untuk menolak perjodohan ayahnya dan menolak tanggung jawab menjadi kepala pabrik.

Dia menikmati saat berada di sekitar wisatawan, menjelaskan tentang Jogja dan mengapa mereka harus kembali ke Jogja. Dia menyukai tantangan pekerjaannya dan ayahnya tidak bisa memahami itu. Dan Taehyung kini sudah menuruti keinginannya, menjadi pemilik pabrik.

Apa lagi salah Taehyung sekarang?

“Teman kamu yang mana?” tanya ayahnya, kali ini kembali menoleh ke peliharaannya dengan ketenangan yang membuat Taehyung mengkerut menjadi anak kecil lima tahun yang tertangkap sedang bermain alih-alih belajar.

Kekuatan dominasi ayahnya secara fisik dan emosi selalu membuat Taehyung lemah. Serangan yang selalu mengoyak mentalnya dengan cara paling tidak manusiawi. Dia sejenak teringat bagaimana ayah Jungkook tadi mengapresiasi pilihan anaknya, menghormati kebahagiaan Jungkook dan bahkan ikut berbahagia bersamanya.

Rasa iri yang menyeruak di hatinya tidak akan pernah membaik setelah ini.

Jutaan 'bagaimana jika' yang mulai membayangi kepalanya seperti ribuan lebah yang mendenging di telinganya; bagaimana jika orangtuanya adalah orangtua Jungkook? Bagaimana jika dia memiliki kehidupan normal sebagai orang biasa dan bukan keturunan ningrat? Bagaimana jika dia bisa memilih kemana dia ingin membawa hidupnya? Bagaimana jika dia bukan Raden Mas Taehyung? Bagaimana jika....

Bagaimana jika.... Bagaimana jika....

Namun sebuah 'bagaimana jika' akan tetap menjadi 'bagaimana jika'. Begitulah hidup, sayangnya, bekerja dalam keadilan. Maka Taehyung menghela napas dalam-dalam, menjaga pandangannya tetap ke dada ayahnya saat menjawab dengan suara yang tidak dikenali telinganya sendiri.

“Teman kuliah, Ayah.”

“Hm.” sahut ayahnya dingin. “Teman kuliahmu yang Jungkook itu?”

Jantung Taehyung mencelos hingga ke dasar perutnya. Ini pasti Taehwan. Entah sengaja atau tidak telah menceritakan tentang Jungkook pada ayahnya; mengingat siapa Taehwan, Taehyung yakin adiknya menceritakan Jungkook pada ayahnya karena Jungkook menyita perhatiannya dengan jurusan kuliahnya. Adiknya selalu dekat dengan ayahnya, tidak mendapatkan didikan setiran Taehyung karena dia adalah anak bungsu. Di punggung Taehyung-lah nama Pragowoaji sedang dipertaruhkan, bukan pada punggung adiknya.

Taehyung-lah yang harus meneruskan usaha mereka. Taehyung yang harus menjaga kehormatan keluarga mereka.

Taehyung.

Dan selalu Taehyung.

Adiknya adalah burung bebas yang disayangi dan diperlakukan dengan penuh kelembutan. Mendapatkan segala pilihan yang diinginkannya, menjadi bebas dan dirinya sendiri. Tidak ada kecaman atas setiap emosi yang dirasakannya, tidak ada kecaman atas pilihan-pilihannya.

Adiknya adalah seseorang yang selalu Taehyung harapkan dirinya sendiri menjadi.

“Iya, Ayah.” sahutnya kemudian, masih berusaha untuk menjaga nada suaranya.

Ayahnya menatapnya lalu meletakkan alat siramnya dan melangkah masuk. Taehyung mengikutinya dengan taat, menanti hingga ayahnya duduk di sofa dan berdiri di hadapannya dengan pandangan ke arah karpet. Sebagian kecil dirinya yang berusia muda, yang selalu ketakutan pada ayahnya, muncul membesar di kepalanya dan mencengkram otaknya dengan rasa trauma yang menyesakkan.

Taehyung... takut. Selalu takut jika ini tentang ayahnya.

“Kamu sama Jungkook ini, berteman?”

“Iya, Ayah.”

“Seberapa dekat?”

“Cukup dekat, Ayah.”

“Siapa dia?”

Taehyung menelan gumpalan pahit di kerongkongannya sebelum menjawab dengan suara kecil. “Teman kuliah, Ayah.”

“Kamu tau maksud pertanyaan Ayah, Mas.”

Tahu, Taehyung tahu tapi dia menolak memahaminya. Menolak menjawabnya. Dia tidak mau, dia tidak mau, dia tidak mau! Taehyung ingin berteriak marah saat ini juga, dia tidak suka rahasianya diusik, tapi dia akhirnya menjawab dengan suara gemetar halus, “Orang Jakarta, Ayah. Maba UGM jurusan Hukum, Taehwan suka ngobrol sama dia.”

“Dan?”

Taehyung tidak bisa berkilah sama sekali. “Dia Kristen.”

“Oh. Dan?”

“Kami bersahabat.”

“Bersahabat tapi berdua di dalam ruang kerja dengan pintu dikunci? Jawab Ayah, kalian ngapain?”

Ulu hati Taehyung terasa seperti ditonjok dan dia membungkuk beberapa senti merespon rasa sakit tak kasat mata itu, mulutnya terbuka dan dia bernapas melalui mulutnya; berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang berdentam dengan gila. Taehwan.

TAEHWAN!

Dia lupa untuk memberitahu adiknya, dia lupa. Dia lalai. Dia begitu bodoh. Dia ceroboh dan sekarang dia telah menghancurkan semua strateginya untuk merahasiakan hubungan mereka karena akhirnya, ayahnya tahu.

Ayahnya tahu. Dia pasti tahu.

“Jawab Ayah, Taehyung.”

Taehyung memejamkan matanya. “Ayah...” katanya, mencicit seperti seekor tikus yang ketakutan. Dia ingin kabur, ingin berlindung di balik sesuatu. Dia tidak mau menghadapi amarah ayahnya. Sama sekali tidak.

Tapi hal yang bisa membuatnya menghindari amarah itu adalah hal yang tidak diinginkannya.

“Akhiri.”

Gamblang, dingin dan nyaris melumpuhkan bagaimana kata itu menghantam kepala Taehyung dengan kekuatannya dan rasa nyeri yang membuat otaknya kesemutan seketika itu juga. Dia mendongak dengan mulut terbuka, menatap ayahnya yang berwajah murka.

“Apa?”

“Ayah tau. Ayah tau.” Ayahnya nampak kesakitan, dia menyentuh ulu hatinya dengan tangannya. Begitu kesakitan dan menderita, panik dan bingung. “Akhiri. Sebelum jadi parah. Itu bisa diobati. Ayah akan cari caranya. Kamu bisa sembuh, gapapa. Gak bakal ada yang tau, kita rahasiakan.”

”... Apa?” bisik Taehyung. “Apa? Apa kata Ayah? Apa?” Dia merasa seperti robot rusak, mengulang kata itu berkali-kali tanpa suara hanya karena otaknya terasa membeku oleh rasa amarah dan sakit hati mendengar kalimat ayahnya.

Ayahnya menganggapnya sakit, ayahnya menganggapnya tidak normal, ayahnya menganggapnya sampah. Menganggap perasaannya pada Jungkook adalah tidak normal, adalah dosa, adalah kesalahan. Taehyung pening. Ayahnya. Ayahnya. Lelaki yang selalu Taehyung jadikan panduan, jadikan pegangan arah; ayahnya....

“Saya sayang Jungkook.”

“STOP!”

Sekarang ayahnya meraung dan berdiri, nampak berusaha bernapas melalui mulutnya. Wajahnya berkerut oleh emosi dan rasa sakit, nampak begitu tersiksa hingga Taehyung terpukul mundur oleh rasa takut kanak-kanaknya telah melukai ayahnya sebegitu rupa.

“Ayah gak mau dengar. Oke? Ayah gak mau dengar. Putus sekarang juga, tinggalkan dia. Kita cari cara nyembuhin kamu. Ayah gak mau dengar apa-apa lagi, kalo kamu masih sayang Ayah, turuti mau ayah.”

Begitu, pikir Taehyung hampa dan kosong.

Selalu begitu. Kartu AS yang dikeluarkan ayahnya tiap kali Taehyung mendebatnya; jika Taehyung sayang ayahnya maka Taehyung harus menurut. Jika Taehyung sayang, jika Taehyung sayang....

Taehyung muak.

“Kalo gak mau?” balasnya kemudian, dingin dan mengejutkan dirinya sendiri karena berani menatap ayahnya langsung dengan keberanian anyar yang tidak dikenalinya.

Ayahnya balas menatapnya. Mereka berpandangan sejenak sebelum ayahnya menghela napas.

“Maka kamu tidak diterima lagi di sini. Selesai. Buat Ayah kamu mati.”

Taehyung berbatuk, menyamarkan isak tangisny sendiri lalu menelan tangisannya dalam-dalam. Membiarkan amarah dan dendam bergumul naik memenuhi kerongkongannya, terasa seperti asam lambung dan siap dimuntahkan. “Baik.” balasnya tenang. Ajaib bagaimana dia masih berhasil mengendalikan suaranya bahkan saat amarah terasa begitu pahit di mulutnya.

“Baik, saya pergi. Semoga Ayah selalu bahagia.”

Lalu mereka bertatapan, ayah Taehyung memejamkan mata dan kembali duduk. Dan Taehyung menggunakan waktu itu untuk beranjak ke kamarnya sendiri, mengemas bajunya di dalam ransel dan menyambar semua surat-surat kendaraan dan ijazahnya karena mobilnya adalah miliknya; itu tabungannya sendiri ayahnya tidak punya sepeserpun andil di dalamnya.

Saat dia keluar kamar, adiknya berdiri di depan pintu kamarnya. Nampak begitu rapuh dan wajah memerah akibat tangis.

“Mas, maaf...” bisiknya. “Aku... ndak tau....”

Taehyung memejamkan matanya, perih luka di hatinya terasa nyata. Emosinya, hatinya, seluruh dirinya terasa koyak. Dia ingin marah, ingin mengamuk. Ingin menendang atau memukul sesuatu. Ingin melampiaskan rasa amarah ini pada sesuatu; menonjok ayahnya akan terasa seperti kemewahan dan moralnya sendiri tidak mengizinkannya jadi dia harus melampiaskannya pada hal lain. Dia begitu murka. Dia benar-benar marah hingga kata 'marah' itu sendiri terasa begitu remeh untuk emosinya sekarang.

“Gapapa, Mas gak marah, kok, Mas tau kamu ndak sengaja.” Dia berhasil menjawab lalu menepuk kepala adiknya lembut sementara amarah liar mulai bergolak di perutnya dan membuatnya mual. Dia menahannya. “Mas tinggal sebentar, ya? Sik rajin belajarnya. Nanti Mas balik, gak tau kapan. Kontak Mas terus,”

Dan itulah terakhir kalinya Taehyung berada di rumahnya, dia tidak menatap ayahnya yang duduk di sofa. Hanya merasakan tatapan ibunya di tubuhnya saat dia berlalu melewati mereka. Dia bisa mendengar adiknya kembali menangis, dia seharusnya mengajari adiknya untuk menahan tangisnya tapi kemudian teringat bahwa inklusivitas emosi itu hanya dimiliki oleh adiknya; Taehyung-lah yang harus belajar keras mengontrol emosinya.

Kepalanya berdentam-dentam saat dia menuruni tangga, dia merasakan pandangannya yang kabur oleh emosi dan begitu asing dengan perasaan itu. “Assalamualaikum.” katanya dingin pada ibunya, hanya ibunya lalu pergi dari sana.

Walaupun dia tidak yakin ibunya tidak berpandangan sama dengan ayahnya tentang hubungannya bersama Jungkook. Mau apa lagi? Mereka dijodohkan bahkan saat baru lahir dan langsung jatuh cinta saat dikenalkan. Mereka tidak mengenal perasaan yang Taehyung rasakan.

Melempar tasnya ke dalam mobil dan melaju dengan amarah yang bergumul di dasar perutnya seperti binatang buas ke satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya setiap saat dan setiap waktu, tempat dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus dikoreksi dan merasa nyaman atas itu;

Jungkook.