FLASHBACK: Raden Mas *Author's note: please listen to Marina's “About Love” while reading this part.
/I don't really know a lot about love.
“Ini putri teman ayah, Raden Ajeng...”
Taehyung berhenti mendengarkan bahkan sebelum ayahnya mulai bicara, dia mengangguk sopan pada perempuan yang dikenalkan padanya, menjabat tangannya singkat lalu berhenti memerhatikan. Bukan karena gadis itu tidak cantik, dia sangat cantik—jenis kecantikan yang begitu purba dan lembut; jenis kecantikan yang akan cocok untuk mengisi singgasana seorang Ratu. Lembut, mengayomi, sabar dan penuh tata-krama.
Nampak begitu... membosankan.
“Kamu ndak tertarik sama anak itu?” tanya ayahnya di meja makan, usia Taehyung sudah dua puluh satu tahun, mungkin karena itu mereka mulai merecokinya dengan jodoh dan pembicaraan tentang pernikahan seolah satu-satunya prestasi yang bisa dilakukan Taehyung dalam hidup untuk membanggakan mereka hanyalah menikah dan memiliki keturunan.
Khususnya anak laki-laki.
“Ndak, Ayah,” balasnya sopan, menatap piringnya dan mencoba menelan makanan yang sekarang terasa seperti buah simalakama. “Mungkin belum.” katanya kemudian. “Saya ingin kuliah dulu lalu ikut dalam pemerintahan, belum terpikirkan tentang jodoh.”
Darah biru mereka berasal dari keluarga jauh dari pihak Kanjeng Ratu yang saking jauhnya hingga tidak ada yang terlalu memerhatikan keluarga mereka sehingga akhirnya mereka lebih terkenal sebagai pengusaha batik tulis yang terkenal hingga mancanegara, tidak ada yang memerhatikan bahwa keluarga mereka terkait dengan keluarga royal manapun. Namun, Taehyung bergabung dengan tim PR Yogyakarta sejak remaja untuk mempromosikan Yogyakarta ke khalayak banyak.
Ayahnya menatapnya dan menghela napas menyerah untuk kesekian kalinya. “Ya sudah, terserah kamu saja.” katanya dan Taehyung menghela napas—pembicaraan tentang pernikahan setidaknya berhenti.
Sejenak.
* /Started in the strangest way, didn't see it coming
Ruangan kerja Tim PR terasa sunyi. Mereka sedang merancang beberapa acara yang nantinya akan diunggah ke linimasa akun sosial media Taehyung sebagai “Face of Yogyakarta”. Taehyung sudah duduk di mejanya seharian, sudah minum dua gelas kopi dan merasa sangat suntuk hingga akhirnya dia bangkit.
“Saya mau jalan-jalan dulu,” katanya kemudian sebelum beranjak keluar dan mengemudikan mobilnya menuju Kraton.
Entah mengapa, tiap kali dia mengunjungi tempat ini, dia bisa melepas penatnya yang selama ini menggantung. Dia akan menyapa beberapa wisatawan, mengobrol dengan mereka, menyarankan tempat-tempat lain untuk dikunjungi dan merasakan energi positif disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya.
Maka itulah yang dilakukannya sekarang.
Taehyung tersenyum, meluncur mulus melewati lorong panjang dan mengamati ledakan jumlah wisatawan di Kraton pada hari libur sebelum memulai perkuliahan. Senang menemukan alasan untuk kabur dari pekerjaan dan pembicaraan tentang masa depan yang membuatnya malas. Beberapa Abdi Dalem yang mengenalnya menghormat sopan padannya dan Taehyung melambai ramah.
Entah bagaimana, seorang wisatawan mengenalinya dan Taehyung mendesah, dia tidak terlalu suka saat ini terjadi. Warga Jogja asli selalu menghormati personal space-nya dan tidak mengerumuninya. Namun wisatawan luar tidak terlalu bisa melakukannya dan sedihnya lagi, malah pada merekalah Taehyung harus bersikap ramah dan tenang. Berusaha mempertahankan senyuman ramahnya saat beberapa orang mulai mengerumuninya seperti semut mengerubungi gula; dia mengangguk ramah dan menyalami beberapa orang dengan sibuk.
“Beliau merupakan Raden Mas Taehyung BP, salah satu anggota kerajaan...”
Taehyung mendesah jengkel dalam hati, kenapa dia harus diperkenalkannya dengan pengeras suara? Dan dia bahkan bukan anggota kerajaan, dia hanya salah satu personil tim PR kota ini dan hanya didaulat sebagai wajah Yogyakarta untuk memperkenalkan daerah-daerah wisata. Dia mengangkat wajahnya, sejenak suntuk oleh kerumunan manusia saat mereka beradu pandang—atau setidaknya, melalui lensa kameranya yang sedang diarahkan pada Taehyung.
Lelaki itu memegang kamera, nampak sedang mengamati kerumunan yang mengerubunginya dari balik lensa. Wajahnya ramah dan menarik, manis dan menggemaskan, dia memiliki jenis senyum yang begitu tulus, terbuka dan polos hingga Taehyung tersentuh; dia baru saja akan menghampirinya saat kerumunan lain menghampirinya dan dia nyaris saja terjungkal olehnya.
Dan dia kehilangan lelaki itu.
Dia memanggil beberapa Abdi Dalem yang seketika itu juga membantunya untuk membubarkan massa, Taehyung mengucapkan terima kasih dan meminta kerjasama mereka untuk tidak mengerubunginya. Dia melirik ke balik kerumunan, tidak menemukan wajah itu lagi.
Merasa frustasi sampai akhirnya kerumunan membubarkan diri dan dia langsung berlari kecil menjauhi tempat itu. Ke mana? Ke mana lelaki itu?
* /Think about the time it took for our paths to cross; I was found and lost
Ketemu.
Taehyung berhenti di pintu ganda museum koleksi batik tulis para Ratu, salah satu ruang favoritnya di tempat ini dan menemukan pemuda itu sedang mengarahkan kameranya ke koleksi-koleksi rapuh di hadapannya walaupun sudah jelas ada sebuah tanda di depannya yang menyatakan bahwa di sana dilarang mengambil gambar.
Mengatur napasnya yang terengah-engah setelah mengitari Kraton berusaha menemukan tas besar, kaus hitam kebesaran dan leather jeans pemuda itu sebelum akhirnya dia menemukannya di tempat terakhir yang terletak di pojok Kraton; dia tidak menyangka tempat ini menarik perhatian pemuda itu.
Dia menghela napas lalu menghampirinya, berharap keringatnya tidak mengacaukan aroma parfumnya dan berkata lembut saat berada di sisinya, cukup dalam jangkauan dengarnya; “Mas, mohon maaf, dilarang mengambil gambar njih, di sini.”
Pemuda itu menoleh dan Taehyung menahan napasnya; tatapan matanya yang sejernih rusa, bibirnya yang terkuak kaget, tangannya yang menggantung kikuk di udara dengan kamera yang menyala serta semburat kemerahan yang terbit di wajahnya karena ditegur membuat Taehyung merasa gemas.
Untuk pertama kali di hidupnya, dia menemukan seseorang yang mengundang hatinya untuk tersenyum dan berdesir oleh emosi yang menyejukkan.
“Panjenengan tau siapa saya, to?” sahutnya dan pemuda itu masih menatapnya; tidak sama sekali berusaha untuk menyembunyikan keterpesonaannya pada pembawaan Taehyung. “Tapi saya bukan pangeran,”
Jantung pemuda itu berdebar; perasaan aneh ini membuatnya kebingungan.
”... Masa calon suami sendiri gak tahu?”
Dalam waktu yang berbeda dan dengan orang yang berbeda, Taehyung mungkin akan marah mendengarnya namun cara lelaki itu menatapnya dengan begitu terpesona dan terpesona serta bagaimana bibirnya terkuak penuh rasa kagum membuat reaksi Taehyung adalah tawa.
“Mas, lo tau gak persamaan gue sama rakyat lo?”
Taehyung menatapnya, masih tersenyum dengan hati berdesir dengan cara yang sama sekali tidak dikenali seluruh sistemnya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak biasa namun terasa menenangkan dan benar.
Sebenarnya secara teknis Taehyung tidak memiliki rakyat, dia bukan raja, bukan juga pangeran yang mewarisi tahta, tapi dia menjawab, “Apa?” tanyanya lembut.
“Sama-sama butuh dibimbing ke arah yang lebih baik.”
* /Now I'm all caught up in the highs and the lows; it's a shock to my system
Taehyung mengaitkan jam tangannya dan melangkah panjang-panjang menuju gerbang Kraton yang ditutup, dia mendorong pintu gandanya yang tertutup dan menemukannya. Dia berada di Kraton untuk rapat dengan beberapa orang hingga terlalu malam dan memutuskan untuk ikut shalat bersama sebelum pergi menemui Jungkook.
Lelaki itu berjongkok di depan gerbang, sedang menunduk ke tanah seperti anak taman kanak-kanak yang menanti jemputan orangtuanya dalam balutan celana baggy besar, hoodie dan bucket hat. Taehyung terkekeh saat melihatnya lalu menoleh pada Abdi Dalem, memberi pesan untuk mengunci pintunya karena dia akan pulang lewat belakang lalu menghampiri pemuda yang sekarang bersila di tanah.
“Maaf ya, Dek, aku ndak tau kamu bakal langsung mangkat habis WA,” katanya dan pemuda itu mendongak; dia nampak begitu menggemaskan di bawah temaramnya lampu Kraton dan senyuman lebarnya membuat Taehyung terguncang.
Apakah aneh jika Taehyung memeluknya sekarang?
“Ayo, makan,” ajaknya dan mereka berjalan menyusuri jalanan yang sekarang kosong menuju Alun-alun yang penuh dengan pengunjung dan wisatawan. Beberapa orang menyapa Taehyung ramah dan pemuda itu mengamatinya; masih dengan kekaguman gamblang di wajahnya.
Tidakkah dia bisa bersikap sedikit kalem? Subtle?
Taehyung menghampirinya setelah memesan makanan dan sebelum dia sempat membenahi tempat duduknya, pemuda di sisinya mendongak: “Mas, kalo pangeran berarti gak bisa nikah sama orang biasa, dong?”
“Ya bolehlah,” sahut Taehyung, bersumpah jantungnya baru saja berhenti berdetak selama satu detik yang terasa lama. Apa maksud pertanyaan ini? “Kanjeng Ratu aja nikahnya sama orang biasa. Kenapa?” Lagi pula Taehyung bukan pangeran.
Jawabannya bukanlah sesuatu yang dibayangkan Taehyung.
“Berarti elo nikah sama gue boleh dong?”
Dan jawaban Taehyung juga bukanlah sesuatu yang dibayangkan Taehyung sendiri akan diucapkannya.
“Lho kita kan sama-sama cowok, masa nikah, sih, Dek?”
Dan Taehyung menyadarinya dengan begitu terlambat bahwa itu adalah jawaban yang salah.
* /I don't wanna run away so I stay
Tidak ada notifikasi dari aplikasi Whatsapp-nya. Dan sudah tiga hari.
Taehyung meletakkan ponselnya di meja dan mendesah; di layar laptop ada Bab 4 skripsinya sedang terbuka, dia sudah berusaha mengerjakannya sejak pagi tadi namun tidak berhasil melakukan apa pun. Otaknya macet, dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Tidak ingin makan, tidak ingin jalan-jalan; Taehyung kehilangan segala minatnya pada hal-hal yang selama ini membuat hidupnya menarik dan membuatnya bersemangat.
Lucu bagaimana Taehyung menunggu pesan dari pemuda itu, menunggu pesan-pesan tidak pentingnya yang selalu menghibur Taehyung. Dia juga tidak muncul di fakultas Taehyung seperti hari itu.
Jawabannya beberapa hari silam tentulah teramat salah.
Taehyung mengerang, merasa bodoh karena terus menunggu tanpa melakukan apa pun, dia meraih ponselnya. Membuka ruang obrolannya dengan pemuda itu lalu menghela napas.
Haruskah dia meneleponnya? Atau itu akan jadi terlalu agresif?
Akhirnya Taehyung mengetik beberapa kata lalu mengirimkannya, namun balasan yang didapatkannya sama sekali bukan dari nomor yang diinginkannya. Itu orang lain.
“Saya Mingyu, sahabatnya. Bagaimana jika besok, saya ajak dia ke Kraton, ketemu kami di sana, jadi kalian bisa bicara?”
* /But you're in my head, you're in my blood And it feels so good, it hurts so much
Taehyung melayangkan tendangan ke dinding tidak bersalah di hadapannya dengan frustasi, berharap tidak ada seorang pun yang menyadari suara benturan teredamnya dan bagaimana noda sepatu mengotori dinding itu. Di sisinya, sahabat pemuda itu berdiri dan dengan sopan mengalihkan pandangan darinya. Taehyung menyugar rambutnya, berusaha kuat mengendalikan rasa frustasi yang menggelegak di lambungnya terasa seperti asam lambung yang sepat, bergulung-gulung naik ke rongga mulutnya.
Kakinya berdenyut, namun dikalahkan oleh denyutan di kepala dan hatinya. Dia kemudian mendesah keras, mengangkat kepalanya lalu berusaha mempertahankan senyuman di bibirnya saat berkata: “Ayo, tak antarkan balik ke kosnya,” katanya dengan getaran amarah di sudut bibirnya.
Mingyu balas menatapnya, nampak menilai ekspresinya dengan sopan. “Yakin gapapa, Mas?” tanyanya. “Kalo emang mau istirahat dulu gapapa, saya naik ojol aja.”
Taehyung menggeleng. “Ndak papa, ayo tak antar.” katanya lalu mengangguk agar Mingyu mengikutinya ke dalam rumah lalu ke garasi dan mengeluarkan mobilnya. Mereka bersidiam selama perjalanan sampai akhirnya Taehyung berkata, “Maaf, saya ndak tau alamat kosnya?”
Mingyu terkekeh kikuk, “Saya juga sih, Mas, bentar tak tanyain,” dia mengetik pesan pada pemuda itu selama beberapa lama sampai akhirnya dia sudah mengeset peta daring yang mengarahkan mereka ke kosannya. “Mas, maaf.” kata Mingyu kemudian, dari ekspresinya Taehyung tahu apa yang akan dikatakannya.
Dan Taehyung tidak menyukainya.
Cengkraman Taehyung di roda kemudi mengencang dan dia berusaha kuat mempertahankan ketenangannya di permukaan saat menjawab, “Ya?” dengan nada paling kering yang pernah digunakannya.
“Katanya... Mas gak boleh ikut datang,”
Taehyung rasanya ingin memukul sesuatu.
“Oke, gak apa-apa, yang penting kamu pulang.”
Hening sejenak.
“Mas, saya boleh minta nomor WA?”
“Untuk?”
“Saya punya ide.”
* /My head gets messy when I try to hide The things I love about you in my mind
“Ngapain lo ke sini?”
Taehyung menghela napas, mengerahkan seluruh pengendalian dirinya yang rapuh dan menatap pemuda di hadapannya; dalam balutan pakaian rumahan dan wajahnya yang sembab, fakta itu mengirimkan tusukan ke ulu hati Taehyung bahwa dia mungkin saja adalah penyebabnya.
Bodoh, bodoh sekali Taehyung.
“Gapapa,” katanya tenang walaupun dia bisa merasakan getaran di ujung kalimatnya dan bagaimana rasa bersalah membuat ludahnya terasa pahit dan lambungnya bergolak dengan cara tidak manusiawi. “Tak pikir kamu sakit....” Dia meletakkan plastik buah di lantai dan menatap pemuda itu.
“Mas sudah tau,” katanya kemudian dan mengamati reaksi pemuda di hadapannya. “Memangnya cowok normal bakal ngegombalin cowok lain dan terus-terusan bilang temennya itu, apa? Ganteng banget sampe bikin pusing?”
Taehyung kemudian membiarkan hatinya yang berbicara, memohon pengampunan memohon pemuda itu untuk mengembalikan kehidupan normal mereka, memaafkannya, kembali menjadi temannya. Memohon untuk diberikan kesempatan, memohon... Memohonnya kembali, kembali pada Taehyung karena selama ini tanpanya, Taehyung merasa kacau dan kehilangan kendali.
Apa yang terjadi padanya? Taehyung tidak tahu. Namun dia selalu berharap pemuda itu ada di sisinya, tersenyum padanya, tertawa bersamanya, membagi suka dan dukanya, mengandalkan Taehyung dan hanya Taehyung. Meletakkan bahagianya di tangan Taehyung sehingga Taehyung bisa memberikannya seluruh dunia; apa saja agar dia tetap tersenyum, tetap menatap Taehyung dengan matanya yang berbinar dan senyumannya yang cerah.
Apa saja, apa saja agar dia tetap bahagia.
Taehyung mungkin sudah gila, tapi dia sama sekali tidak keberatan menjadi gila jika kewarasan berarti dia tidak bisa memiliki pemuda ini, memiliki Jungkook.
Dan saat pemuda itu melenting ke arahnya seperti busur panah yang dilepaskan, Taehyung menyambutnya ke dalam pelukannya. Punggungnya yang menghantam pintu tidak lagi terasa sakit saat beban tubuh Jungkook ada di dalam kedua lengannya. Bagaimana tubuhnya menempel dengan tubuh Taehyung dengan tepat seolah tiap lekukan tubuhnya dipahat untuk memenuhi lekukan tubuh Taehyung sendiri; mereka menyatu dalam pelukan yang terasa begitu intim dan hangat.
Taehyung merasa dirinya utuh; sesempurna apa yang mungkin tidak bisa dibayangkannya selama ini.
“Astaghfirullah,” bisiknya gemetar dengan tubuh Jungkook di pelukannya, terasa sempurna, hangat dan berdenyut oleh kehidupan. Rasa cinta membanjiri seluruh sistemnya; membuatnya nyaris muntah. Dia membenamkan wajahnya di rambut Jungkook, menghirup aromanya dalam-dalam dan berbisik, “Aku mencintaimu, aku mencintaimu....”
Walaupun dia tahu Jungkook tidak akan mendengarnya.
Lalu saat pemuda itu menguraikan pelukan mereka dan menatapnya, Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menakupkan kedua tangannya di wajah Jungkook yang hangat lalu menciumnya.
Ledakan adrenalin membuncah di dalam tubuhnya, Taehyung merasa pusing. Bibir Jungkook membelai bibirnya dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya sama sekali. Taehyung ingin terus menciumnya, membelai seluruh tubuhnya, membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum, mencintainya dengan cara paling sempurna hingga Jungkook tidak akan pernah dicintai oleh orang lain sehebat cara Taehyung mencintainya.
* /I don't really know a lot about love
“GKI Gejayan, Mas tau?”
Taehyung mengangguk sementara dia meraih kunci mobilnya. “Ini Mas udah mau berangkat, kamu yakin dia di dalam?”
“Dia anak gereja Mas, gak bakal pernah telat kalo kebaktian. Dia udah di gereja,”
Taehyung menggenggam erat kuncinya dan meluncur ke garasi. Jantungnya berdebar dengan cara yang tidak familar sama sekali; begitu banyak hal tidak familiar terjadi pada tubuh Taehyung semenjak dia mengenal Jungkook. Terasa aneh namun nyaman. Taehyung menikmati reaksi-reaksi itu.
“Mas di perjalanan, tolong pastikan dia tetap di sana sampe ketemu Mas, oke?”
“Siap, Mas.”
Taehyung membanting pintu sedannya menutup dengan telepon genggam masih menempel di telinganya, “Mingyu?”
“Ya, Mas?”
“Terima kasih.”
Kekehan serak, “Anytime, Mas.”
* /But you're in my head, you're in my blood And it feels so good, it hurts so much
Taehyung mengucapkan pamit ke pendeta yang diajaknya bicara karena dia memiliki janji dengan orang lain. Dia tiba di gereja tepat sebelum kebaktian dimulai dan disambut oleh pendeta yang kebingungan karena seseorang yang mengaku sebagai Tim PR Kraton meminta izin untuk mengikuti ibadah Paskah mereka.
Namun Taehyung berhasil meyakinkan mereka bahwa ini berbeda dan akhirnya Taehyung berhasil masuk dan duduk di kursi paling depan. Dia menemukan Jungkook detik pertama dia memasuki ruangan; wajahnya, matanya dan bibirnya tidak pernah meninggalkan kepala Taehyung sehingga saat dia menyapukan pandangannya ke ruangan yang besar itu, dia langsung menemukannya.
Menatap ke arahnya dengan ekspresi syok yang menggemaskan.
Taehyung mungkin sudah gila bagaimana dia merasakan perasaan yang seharusnya dirasakannya pada perempuan, ke pemuda manis yang menjungkir-balikkan dunia normalnya. Menjadikan normal sesuatu yang membosankan, menjadikan adrenalin adalah candu yang membuat Taehyung terus dan terus kembali padanya.
Taehyung mungkin sudah gila. Tapi dia tidak membutuhkan kewarasannya sama sekali.
“Ayo sarapan,” katanya pada Jungkook yang mendongak padanya; tatapan matanya membuat hati Taehyung terasa diremas-remas; dia begitu mencintai pemuda ini hingga dia siap menghadang peluru sekali pun.
Dia siap melemparkan dirinya ke api dan membiarkan Jungkook menyaksikannya terbakar menjadi abu jika itu bisa membuatnya bahagia. Taehyung tidak peduli lagi pada apa pun; status sosialnya, agamanya—karena Jungkook telah mengajarinya bagaimana menjadi manusia.
Menjadi Taehyung yang sebenarnya, bukan status sosialnya dan bukan juga agamanya.
Jungkook tertawa geli, Taehyung menatapnya seperti orang buta yang baru menatap matahari untuk pertama kalinya. “Oke. Agak krinj tapi aku approve, karena itu kan, segel terkuat di dunia.”
Tidak bisa menahan dirinya sendiri, Taehyung mendesah lalu menunduk dan mencium Jungkook; kali ini lebih lembut dan lebih dalam, mengekspresikan cinta unik mereka yang mungkin tidak akan diterima semua orang. Mungkin akan dihina, dianggap menjijikkan dan dikucilkan. Perjalanan mereka akan berat—berat sekali. Taehyung tahu itu, dengan status sosialnya dan agama mereka dan bumi dimana mereka berdiri; ini akan jadi sebuah perjalanan panjang yang berat.
Tapi tidak masalah, selama Jungkook menerimanya—maka Taehyung akan baik-baik saja. Mereka akan menghadapi ini bersama.
Untuk sekarang, untuk detik ini; Taehyung bahagia. Jauh lebih bahagia dari kebahagiaan mana pun yang pernah dirasakannya selama dia hidup.
Dan semuanya sesederhana mencintai Jungkook.
*