The Royal Palace

“Kenapa sih anjir kita harus ke sini?”

Mingyu menurunkan kacamata hitamnya. “Ya, karena gue belum pernah ke sini?” katanya lalu menghampiri loket tiket dan membayar untuk dua orang; berjengit kaget saat ibu-ibu loket tiket meneriakkan jumlah tiketnya lewat TOA.

Mau tidak mau, Jungkook terkekeh.

Mereka memasuki Kraton dan Jungkook menghela napas. “Gue gasuka ke sini,” gerutunya sementara Mingyu asik memoto sekitarnya dengan ponselnya. Melihat sahabatnya menikmati waktu jalan-jalannya, dia akhirnya menyerah dan menemaninya.

“Ya, terserah? Gue suka, kok.” balas Mingyu hingga Jungkook yakin dia bisa saja melempas sepatunya dan melempar kepala Mingyu dengan itu jika saja dia tidak begitu sayang pada Mingyu.

Saat memasuki gerbang utama menuju bagian dalam, Jungkook tidak tahan untuk tidak menoleh ke rumah kediaman para keluarga dan terkesirap saat melihat seseorang yang berdiri di halaman dengan tiga wartawan mengelilinginya dengan alat perekam suara.

Mata mereka bertemu.

Taehyung mengulaskan senyuman ramahnya yang begitu cerah hingga Jungkook ingin meminjam kacamata hitam Mingyu karenannya. Dia melambaikan tangannya dan menggerakkannya, meminta Jungkook menunggu di tempatnya sementara dia menerima serentetan pertanyaan dari wartawan di hadapannya.

Jungkook mengabaikannya, dia menarik Mingyu menjauh dengan jantung berdebar. Tidak ingin menoleh dan mengabaikan Mingyu yang menyerukan protes karena gambarnya goyang karena kaget.

“Apa, sih?” tanya Mingyu membuka kacamata hitamnya. “Lo liat setan apa gimana?”

Jungkook membuka suaranya untuk bicara saat suara lain menyela mereka dengan setengah terengah-engah.

“Dek, kok kabur sih?”

Sial. Cepat sekali dia mengejar Jungkook.

Jungkook tidak ingin menoleh, sama sekali tidak. Dia ingin kabur. Menjauh dari aroma parfum yang akrab ini, suara halus itu, aura pemimpinnya yang menenangkan; bagaimana dia memegang kendali atas seluruh akal sehat Jungkook....

“Oh halo,” Mingyu mengulurkan tangan. “Mingyu.” katanya ramah. “Saya sahabatnya Jungkook dari Jakarta. Mas ini?” tanyanya.

Jungkook merasakan Taehyung membalas jabatan tangan Mingyu dengan ramah. “Halo, saya Taehyung. Temannya Jungkook. Njenengan sahabatnya to? Datang kapan?”

Mingyu nyengir. “Baru kemarin, ini minta diajak jalan-jalan mumpung ke Jogja. Mas ini... pangeran itu, ya? Yang Twitter-nya sering di-mention Jungkook?”

Jungkook ingin melempar Mingyu dengan sepatunya.

“Iya, itu saya. Tapi sebenarnya bukan.... pangeran juga sih, tapi mudahnya begitu.” balas Taehyung dengan keramahan ala kaum ningratnya yang sempat membuat Jungkook meleleh dan terombang-ambing pesonanya. Sebelum dia akhirnya tersadar bahwa Taehyung ramah pada semua orang.

Dia sama sekali tidak istimewa.

“Dek,” Taehyung sekarang menoleh ke arahnya. “Kenapa kok ndak bales chatnya?”

Mingyu berdeham berisik lalu menyingkir dengan perlahan. Jungkook ingin sekali menyorokkan pemuda itu ke dalam sumur di depannya. Taehyung berdiri di depannya, beraroma lembut batik tulis apak yang anehnya tercium seperti rumah, sejumput sandalwood kering dan wewangian khas barang-barang antik yang membuat Jungkook mabuk.

“Ngambek, Mas,” kata Mingyu dan Jungkook mendelik padanya, Mingyu meringis lalu bersiul-siul menjauh. Bajingan sial, kutuk Jungkook dalam hati.

“Hah?” Kebingungan Taehyung terasa begitu murni dan tulus hingga Jungkook merasa hatinya teremas-remas. “Kamu ngambek kenapa? Mas ada salah, po?”

Jungkook memejamkan matanya lalu bicara tanpa menatap Taehyung. “Elo gak punya apa gitu yang harus diurus? Kenapa nyariin gue? Star syndrome lo bingung karna gak ada lagi yang clingy nanya-nanyain elo apa gimana? Emang hidup gue isinya cuma clingy nanyain elo dimana lagi apa 24/7 padahal ditanggepin aja engga? Dih.”

Dan saat melihat ekspresi Mingyu di hadapannya, Jungkook tahu kalimatnya sangat salah. Kemudian, Jungkook melakukan hal paling konyol dan memalukan yang pasti akan disesalinya seumur hidup dengan berbalik dan kabur.

Mengabaikan panggilan Taehyung dan Mingyu.