Pembicaraan 2

“Agaknya, Mas jatuh cinta sama kamu.”

Jungkook yakin dia baru saja bermimpi. Dia diam, tidak berani bergerak, tidak berani bernapas. Takut dia akan terbangun dan menertawai ini sebagai mimpi yang menyedihkan. Namun cara Taehyung mengucapkannya, begitu tenang dan jelas. Tegas seperti pembawaannya.

“Agaknya,” ulang Jungkook tanpa sadar dan Taehyung berdeham.

“Oh, iya, maaf.” katanya, kikuk.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan ini mengenal Taehyung, akhirnya Jungkook berkesempatan mendengarkan emosi lain selain ketenangan tidak manusiawinya. Dia nampak kikuk dan rikuh, telinganya memerah dan dia menggaruk tengkuknya; gestur gugup yang membuat Jungkook gemas.

“Sebenarnya setelah... Mas mampir ke kosmu, akhirnya Mas memutuskan untuk berpikir dulu. Mas gak mau kalo ternyata Mas hanya impulsif atau apa dan jatuhnya malah mengejek orientasi seksualmu...” Dia menalan ludah dengan keras. “Maksudnya..., sejak kamu datang ke kehidupan Mas, rasanya.... berbeda? Kamu jujur tentang dirimu sendiri, gak malu tentang pandangan orang lain; jadi dirimu sendiri dan hal itu bukan sesuatu yang Mas sering rasakan.

“Sebagai keluarga berdarah biru dan diserahi tugas sebagai tim PR, Mas selalu ngerasa ada sebuah image diri yang harus Mas jaga, tapi kamu....” Tangannya terkepal di atas lututnya sebelum kemudian meraih tangan Jungkook dan meremasnya dengan lembut. “Kamu kayak ngajarin Mas gimana caranya menjadi diri sendiri, menerima bahwa kamu berbeda, ya hal itu gak masalah. Kamu berbeda dan kamu oke atas itu. Mas bener-bener salut....

“Kalo kamu tersinggung masalah ciuman itu, Mas minta maaf. Mungkin seharusnya gak... nyium duluan tapi... ndak tau? Mas selalu gak faham kenapa tiap di dekatmu, Mas ngerasa bisa jadi manusia yang normal, sebagai Taehyung yang bukan anggota Kraton yang harus selalu ramah dan baik hati.

“Mungkin karena kamu selalu menerima orang-orang sebagaimana mereka sebenarnya tanpa menilai, tanpa nge-judge mereka, selalu merengkuh perbedaan mereka dan selalu ramah.... Kamu ndak pernah terlalu meninggikan Mas, kamu selalu menganggap Mas setara denganmu....

“Mas nyaman. Nyaman banget sampe Mas ngerasa Mas gak normal? Tapi kemudian, pas Mas nyadar bahwa kamu.... gay, Mas ngerasa; apakah aku juga? Ketertarikan yang Mas rasain ini apa? Apa sama dengan yang kamu rasain? Mas berpikir terus sampe akhirnya Mas berpikir,

“You only live once. Jadi..., Mas ajak kamu ketemu dan jelaskan semuanya.”

“Mas, tau gak cintaku ke Mas sebesar apa?”

Taehyung mengerjap, sejenak kebingungan sebelum terkekeh—menyadari bagaimana self-defense mechanism Jungkook bekerja saat dia kikuk dan malu. “Ndak tau, emang sebesar apa?” tanyanya, masih dengan tangan Jungkook dalam genggamannya, membelai punggung tangannya dengan lembut.

Sekarang setelah semuanya dibicarakan, Taehyung merasa hatinya begitu lega. Lapang dan damai, setelah akhirnya dia menyerah pada perasaannya sendiri bahwa dia memang jatuh cinta pada pemuda cerewet dari Jakarta yang sejak awal pertemuan selalu membuat Taehyung tertawa oleh tingkahnya, bagaimana dia selalu berusaha menjadi dirinya sendiri, bagaimana dia mengajak Taehyung untuk menerima segala kekurangannya....

Hal yang sama sekali tidak familiar dalam kehidupannya sebagai seorang anggota kerajaan.

Jungkook mengajarinya tentang emosi, tentang bagaimana menjadi manusia yang manusiawi. Tentang bagaimana berhenti bersikap menjadi robot dan menikmati hidup, tentang bagaimana untuk tidak takut bersikap seperti apa yang Taehyung inginkan.

Tentang bagaimana mencintai dengan ketulusan walaupun dianggap tidak wajar, tentang bagaimana cinta selalu memiliki bentuk yang tidak terduga.

Tentang diri Taehyung sendiri. Tentang kehidupan. Tentang Jungkook.

Dan tentang mereka berdua.

“Sebesar daun kelor.”

Taehyung mengernyit, bingung. “Lha? Kecil banget dong?” katanya agak kecewa namun lelaki di hadapannya, yang semanis gula jawa, tersenyum lebar.

“Tapi, kan, banyak.”

Dan untuk pertama kalinya dalam satu minggu, dan mungkin selama hidupnya, Taehyung tertawa terbahak-bahak—lepas dan bebas. Tidak peduli lagi pada aturan dan tata krama sebelum kemudian menatap Jungkook yang menatapnya dengan mata berbinarnya. Taehyung membawa tangan Jungkook ke wajahnya lalu mencium bagian dalam telapak tangan Jungkook dengan lembut dan intim hingga Jungkook merona hingga ke telinganya.

“Cinta Mas ke kamu, tau gak sekuat apa?” tanyanya kemudian, masih di telapak tangan Jungkook.

“Apa? Kalo krinj, aku gak approve.”

“Segel sosis.”

Jungkook tertawa geli sekaligus miris oleh selera humor Taehyung yang sekarang resmi rusak semenjak dekat dengannya. “Oke. Agak krinj tapi aku approve, karena itu kan, segel terkuat di dunia.”

Tidak bisa menahan dirinya sendiri, Taehyung mendesah lalu menunduk dan mencium Jungkook; kali ini lebih lembut dan lebih dalam, mengekspresikan cinta unik mereka yang mungkin tidak akan diterima semua orang. Mungkin akan dihina, dianggap menjijikkan dan dikucilkan. Perjalanan mereka akan berat—berat sekali. Taehyung tahu itu, dengan status sosialnya dan agama mereka dan bumi dimana mereka berdiri; ini akan jadi sebuah perjalanan panjang yang berat.

Tapi tidak masalah, selama Jungkook menerimanya—maka Taehyung akan baik-baik saja. Mereka akan menghadapi ini bersama.