eclairedelange

i write.

cw // interaksi bian dan nia.


Bian menghela napas, bahunya basah kuyup karena dia mengenakan payung yang terlalu kecil untuk tubuhnya berlari ke pusat perbelanjaan terdekat yang sialnya berada di tengah Malioboro, persis.

Dia tidak bisa menemukan pakaian dalam perempuan di sekitar hotelnya tanpa membuat orang-orang menatapnya seolah dia seorang penjahat kelamin atau seseorang dengan kelainan imajinasi seksual tidak wajar setiap bertanya pada masyarakat di mana dia bisa membeli pakaian dalam perempuan.

Karena selain wajahnya terlalu muda untuk menjadi suaminya seseorang, Bian juga nampak gugup seperti pencuri yang tertangkap basah sehingga orang-orang mencurigainya. Begitu pula saat dia masuk ke toko pakaian dalam perempuan yang wangi menusuk di pusat perbelanjaan; merona saat dia melihat jejeran pakaian dalam yang digantung berjejer di sekitarnya.

Merona semakin hebat saat dia harus menemukan nomor yang benar untuk Antonio. Menebalkan wajahnya karena dia tidak sedang melakukan sesuatu yang salah, Bian membayar pakaian dalam itu lalu bergegas kembali ke hotel. Hanya memikirkan Antonio yang gemetaran di kepalanya untuk bisa mengabaikan tatapan semua orang yang menyaksikannya menerobos hujan dalam naungan payung kecil.

Dia tiba di hotel saat hujan masih lumayan deras, tidak mau membuang waktu sedikit pun meninggalkan Antonio yang sedang gemetar di kamar.

Sebelum berlari keluar, dia meminta Antonio untuk segera mandi air hangat. Dia belum sempat bertanya apa dan bagaimana karena begitu Antonio meneleponnya dia bergegas mengganti baju dan menghambur keluar menghampiri kamarnya.

Menemukan Antonio bersandar di pintu kamarnya dengan tubuh basah kuyup dan wajah sembab. Menangis tidak kunjung berhenti seraya menggumam gagap tentang hormon perempuan sial.

Bian mengangkat tangannya dan mengetuk daun pintu, “Nio?” Panggilnya. “Ini aku.”

Hening sejenak sebelum suara kunci terdengar dibuka dan pintu terkuak. Bian menahan napas saat melihat wajah asing yang menyambutnya. Wajah yang sangat berbeda dari apa yang otaknya cocokkan dengan nama Antonio di benaknya.

Dia cantik, Bian tidak bisa tidak mengapresiasi fisiknya. Dengan rambut panjang dan garis wajah tegas, dia bisa jadi model papan atas jika dia mau.

Matanya melancip seperti kucing dengan alis natural kecil yang sehitam arang. Bibirnya kecil dan tipis dengan bagian bawah yang lebih tebal. Hidungnya bangir seperti Nio, namun selebihnya mereka tidak terlalu mirip. Sekarang dia berdiri dengan tubuh gemetar dalam balutan pakaian Antonio yang kebesaran dan nampak kikuk.

Bian pun sama kikuknya.

Dia menyelipkan diri masuk lalu memberikan kantung plastik di tangannya. “Aku... Tidak tahu ukuran,” dia berdeham. “Bra-mu jadi aku mengambilkan ukuran asal saja. Semoga tidak... eh, kekecilan.”

Dia memalingkan wajah dari Antonio, merasa malu dan kikuk karena baru kali ini berhadapan langsung dengan wujud perempuan kekasihnya.

“Aku tidak risih padamu, ya?” Tambahnya kemudian, mengerahkan segala usahanya untuk menatap Antonio yang menerima kantung plastik di tangannya; mencoba untuk menenangkannya jika dia salah paham pada bahasa tubuh Bian barusan. “Aku hanya—”

“Stop.” Sela suara perempuan Antonio yang jauh lebih tinggi dari suara lelakinya.

Itu pertama kalinya Bian mendengar suara perempuan Nio secara langsung dan merasakan tusukan rasa nyeri aneh di dadanya—teringat Nio yang sedang “terjebak” di tubuh di hadapannya, tidak bisa melakukan apa pun. Bian ingin memeluknya, menenangkan Nio tapi tidak yakin apakah sisi perempuan Nio bisa menerimanya.

“Jangan.” Katanya gemetar dan Bian seketika mundur darinya, takut telah melakukan atau mengatakan hal yang membuatnya tersinggung.

“Jangan mengasihaniku, jangan.” Katanya meremas kantung plastik basah di tangannya dengan lebih kuat hingga Bian sejenak hendak meraihnya, sebelum tangannya berhenti dan terjatuh kembali ke sisinya.

Jangan bicara padanya kecuali dia yang mengajakmu bicara. Dia... rapuh.

Bian menelan ludah, tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia ingin membantu, ingin memeluk Antonio dan menenangkannya. Membisikannya bahwa dia akan baik-baik saja dalam 12 jam.

Namun dia merasa mati rasa. Dia takut tindakannya akan mendorong Antonio semakin menjauhinya dan semakin takut padanya. Menatap Antonio dengan wujud perempuannya mungkin adalah pengalaman paling aneh seumur hidup Bian, namun dia calon dokter. Hal-hal luar biasa dan aneh adalah spesialisasinya, Bian sudah belajar untuk selalu mengontrol emosi yang terbit di wajahnya.

Dia terbiasa tetap tenang setiap kali menghadapi pasien, menghadapi OSCE. Dan sekarang, dia sedang memperlakukan Antonio sebagai salah satu pasiennya. Memikirkan ketenangan dan kebutuhannya sebagai pasien.

Seharusnya dia lebih serius saat blok Mental Illness kemarin, sehingga dia punya sedikit gambaran apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Tidak, aku tidak...” Bian mulai, lalu mendesah. Memutuskan untuk mengabaikannya saja. “Kau sudah mandi?” Tanyanya lembut.

Antonio mendongak, menatapnya dengan mata kucingnya yang galak—menyapukan tatapan curiga ke seluruh wajahnya, mencoba membaca ekspresinya.

Bian mencoba memasang wajah setenang dan setidak berbahaya mungkin—mencoba membuat Antonio nyaman.

Akhirnya Antonio mengangguk dan Bian menghembuskan napas yang entah sejak kapan ditahannya. “Sudah.” Katanya lembut lalu menatap plastik di tangannya. “Maaf.” Tambahnya, sekarang suaranya mulai terdengar lebih stabil dari sebelumnya.

Percaya diri mulai terbit di akhir kalimatnya dan Bian suka itu.

“Untuk?” Tanya Bian, sekarang mulai senang dan tenang karena Antonio akhirnya bicara padanya.

“Membuatmu keluar di tengah hujan deras untuk pakaian dalam.” Gumamnya, melirik pakaian Bian yang setengah kuyup. “Gantilah bajumu.” Dia menatap Bian yang balas menatapnya.

Emosi aneh menyeruak di dadanya, perasaan sayang aneh yang membuat Bian ingin sekali memeluk gadis asing di hadapannya. Membuatnya nyaman dan tidak ketakutan pada dirinya sendiri—setengah dirinya yang ingat Antonio bernapas di dalam sana, ingin membuat keduanya nyaman.

Bian merasa seperti memiliki adik perempuan, saudara yang selama ini diidam-idamkannya namun tidak kunjung juga diberikan. Adik yang ingin dilindunginya, ingin disayangi dan diberikannya perhatian. Aneh, bagaimana Bian bisa merasakan keterikatan seperti saudara ini detik pertama dia menatap Antonio dalam wujud perempuannya.

Mungkin karena dia sangat menyayangi Antonio dan dia seorang homoseksual. Serta fakta bahwa wajah Antonio saat menjadi perempuan sama sekali tidak seperti wajahnya saat menjadi lelaki—Bian seolah sedang menatap orang baru.

Dia tidak terlalu nyaman dengan perempuan, biasanya. Dia kikuk dan sedikit takut pada interaksi dengan perempuan, namun ada sesuatu pada diri Antonio yang membuatnya rileks dan nyaman. Keinginan untuk melindunginya terbit begitu saja tanpa bisa dicegah.

“Kau yakin sudah mandi air hangat cukup lama?” Tanya Bian saat Antonio akhirnya masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian dalamnya. Dia meraih sudut kausnya sendiri dan menariknya lepas dari kepalanya, kedinginan.

“Sudah.” Sahut Antonio dari dalam sana dengan suara menggema. “Aku sudah berdiri di bawah air panas setidaknya selama kau pergi tadi, sekitar 30-40 menit.” Dia kemudian membuka pintu kamar mandi, sekarang nampak lebih rileks karena sudah mengenakan pakaian dalam.

Dia menatap Bian yang menggenggam kaus setengah basah di tangannya dengan bertelanjang dada. “Kau tahu tidak,” katanya, merona. “Aku ini secara emosi, hormon dan fisik adalah perempuan. Walaupun aku tidak yakin apakah aku hetero atau biseks, karena aku tidak mau repot-repot mengetes orientasi seksual tubuh perempuanku. Jadi bisa tolong jangan memamerkan tubuhmu di depanku?”

Bian mengerjap, baru menyadari fakta itu. “Oh, maafkan aku!” Katanya, bergegas meraih kaus Antonio di tasnya dan mengenakannya sementara Antonio/Nia memalingkan wajah dengan sopan.

Selebihnya, Antonio/Nia nampak tenang—akhirnya. Dia sekarang duduk di kursi di sudut kamarnya dan menatap ke jendela yang dihajar oleh air hujan. Rambutnya diikat naik dengan rapi, memamerkan leher jenjang dan tulang rahangnya yang menakjubkan.

“Jadi,” Bian berdeham, menatap Antonio/Nia yang sedang duduk dengan kaki dinaikkan ke kursi, memeluk lututnya. “Kau kemari menyusulku?”

“Aku berniat memberimu kejutan dan jalan-jalan denganmu berdua sampai malam.” Keluhnya dengan nada suara persis seperti Antonio hingga Bian tertawa kecil. “Kata mereka duduk di angkringan hingga malam itu syahdu sekali, aku ingin mencobanya! Semua karena hujan sialan!”

Bian duduk di sisi ranjang Antonio. “Mau cerita bagaimana kau bisa kehujanan?” Tanyanya lembut, tanpa mendesak sama sekali—dia menatap Antonio/Nia yang balas menatapnya.

Mata kucingnya sangat mengintimidasi, Bian yang tidak pernah terlalu mudah bergaul dengan perempuan semakin merasa kikuk karena tatapan itu—dia nampak jauh lebih menyeramkan daripada Antonio. Mungkin karena secara insting dia merasa terancam sehingga dia memberikan perlindungan diri dengan bersikap getir sepanjang waktu.

Versi perempuan Antonio bisa membuat siapa saja takut padanya hanya dengan tatapan mata, sangat berbeda dengan versi lelakinya yang lebih ramah dan bersahaja.

“Aku sedang di Kraton.” Desahnya kemudian, menumpukan dagunya di lutut yang ditekuk, memandang jendela dengan sebal—merajuk. Bian menahan dirinya agar tidak tersenyum melihat ekspresi itu. “Sedang menikmati suasana saat hujan gerimis, aku langsung buru-buru berteduh di dekat sana dengan beberapa wisatawan lain. Aku tidak bodoh, aku mencoba menjauhkan diri dari masalah.”

Dia kemudian mengerang keras, “Mungkin karena dasarnya aku memang sial, seorang anak kecil terpeleset di depanku dan secara refleks, aku melempar diriku ke aspal, memeluk anak itu agar tidak menghantam beton dan membuat kepalanya bocor. Lalu begitulah. Hujan deras menyiram kami berdua.”

Bian menatapnya, ngeri. “Lalu?” Desaknya takut. Bagaimana dia menghadapi perubahannya?

“Jika yang kau maksud adalah caraku berubah,” Antonio/Nia menatapnya dengan mata kucingnya yang tajam lagi. “Aku kabur ke toilet Kraton yang baunya tidak akan kuapresiasi sama sekali, menjejalkan jaketku sendiri ke mulut agar tidak berteriak hingga aku berubah sebelum kembali ke hotel di bawah hujan seperti seorang pemeran telenovela.” Sahutnya, menyeka anak rambutnya dengan gerakan seanggun kucing lalu merajuk kembali.

Bian teringat hari saat dia bertemu Hosein pertama kalinya, dia memberi tahu Bian tentang emosi Antonio saat dia menjadi perempuan.

“Dia sukar disenangkan. Merajuk dan bersikap sangat angkuh—sama sekali tidak seperti Antonio yang kaukenal. Terkadang dingin dan nampak tidak punya hati. Berjarak. Kami yakin dia adalah orang lain, kepribadian baru yang tidak kami kenali.”

“Tapi dia membawa ingatan Antonio?” Tanya Bian, melirik Antonio yang sedang memanggang dengan setusuk sate di mulutnya.

“Ya, kurang-lebih.” Hosein mengangguk. “Inilah yang membuat kami kebingungan selama ini karena selain dia berubah kelamin, dia juga menjadi manusia baru dengan ingatan Antonio. Kami berusaha membuatnya bicara pada terapis, dugaan sementara alter ego atau DID, tapi dia menolak. Tidak sudi bertemu terapis—setidaknya begitu kata versi perempuannya.”

“Kata... Versi lelakinya?” Tanya Bian.

“Nio seperti...” Hosein menggaruk pelipisnya, “Tunduk pada versi perempuannya ini. Tunduk pada emosi perempuannya secara sadar atau tidak dari beberapa tes yang dilakukan dokter dan psikiater. Terkadang nampak seperti, versi perempuannya memegang kendali atas pembuatan keputusan.”

Bian mengerutkan alis, bingung pada penjelasan Hosein. Tidak menyangka bahwa hal berganti kelamin karena air dingin ini menjadi sekompleks ceria fiksi ilmiah.

“Dia menamani versi perempuannya Boss Babe bukan tanpa alasan atau hanya untuk gurauan semata, katakanlah begitu.” Hosein menusuk daging ke tusuk sate di tangannya dengan serius. “Nio... takut pada versi perempuannya.”

Bian mengangguk, yang ini dia tahu. “Ya, kupikir itu karena dia... tidak suka menjadi perempuan?”

Hosein menggeleng. “Nio takut, secara harfiah pada kepribadian perempuannya.” Hosein melirik Antonio yang berdiri di sisi pemanggang dengan kakaknya, bosan dan santai.

“Tes-tesnya menunjukkan bahwa dia bersikap pasif dan inferior pada kepribadian perempuannya, tunduk—begitulah bahasa kasarnya.” Lanjut Hosein. “Maka, kami sangat membutuhkan bantuanmu untuk membujuknya pergi ke psikater—versi lelakinya. Karena suara Nio versi lelaki yang akan sangat dibutuhkan dokter untuk melakukan tindakan lebih lanjut.”

“Aku pikir... Dia tidak mau ke psikiater karena dia malu pada kondisinya yang menjadi perempuan? Tidak terjelaskan oleh medis?” Tanya Bian, mulai pucat.

“Kontrol ekspresimu.” Desis Hosein, “Nanti dia curiga.” Dia melirik Antonio dan Bian bergegas mengontrol emosinya, menekan ketakutan serta rasa bingungnya dari permukaan.

“Kami dan para dokter serta terapisnya percaya, dia tidak malu pada kondisinya.” Hosein berbisik semakin lirih. “Dia takut pada versi perempuannya. Jika versi perempuannya tidak mau, maka Nio tidak akan melakukannya. Makanya dia sangat takut saat dia berubah menjadi perempuan dan Jin akan bersikap sangat overprotektif padanya—secara natural, saat dia dalam wujud perempuan.”

“Dia punya satu terapis profesional yang siap dihubungi kapan saja, yang terbaik di kelasnya,” Hosein memulai lagi. “Dan dia sudah memegang semua data medis Nio; segalanya bahkan hingga berapa lama dan suhu tertinggi-terendah Nio saat berubah menjadi jenis kelamin yang berlawanan—untuk apa dia malu?”

Bian mengerjap, menatap onggokan daging di baskom di hadapannya dan merasa mual. Jika apa yang dikatakan Hosein benar, maka semua cerita Antonio padanya selama ini mungkin tidak sepenuhnya benar.

“Jika kau sempat mengobrol dengan versi perempuannya,” tambah Hosein dengan serius hingga Bian mundur sedikit karena Hosein tidak pernah memasang wajah seserius itu. “Kau akan memahami maksudku. Dia bukan Antonio, tetapi juga Antonio.

“Perlakukan dia dengan sopan, jika kau harus bertemu versi perempuannya.” Hosein mengangguk serius. “Karena jika versi perempuannya tersinggung, maka Nio akan menjadi korbannya.” Lalu dia mendesah.

“Sudahkah kukatakan padamu bahwa versi perempuannya itu nyaris mustahil disenangkan?”

“Setidaknya,” kata Bian di masa sekarang, menatap Antonio/Nia yang duduk di hadapannya. “Kau sudah mandi air hangat. Kau akan berubah dalam dua belas jam, 'kan?” Dia melirik jam dinding di kamar, menghitung dalam diam.

“Besok pukul 7 pagi, semuanya akan baik-baik saja.” Dia tersenyum lembut, “Tiketmu besok pukul 8 pagi, 'kan?”

Antonio/Nia menatapnya dari balik bulu matanya yang panjang dan Bian bergidik—apakah ini hanya sugest dari kata-kata Hosein atau memang tatapan itu selalu membuatnya bergidik?

Hal berubah kelamin ini, sejak dia memahami fakta-fakta medisnya, terasa tidak lagi lucu—memang Bian tidak pernah menganggapnya lucu, namun sekarang dia tahu dia harus lebih serius lagi menanggapi ini dan lebih serius lagi tentang menjaga Antonio dari air dingin.

“Aku suka kau.” Kata Antonio/Nia kemudian dan Bian mengerjap—apakah hanya perasaan Bian saja atau sosok itu baru saja memosisikan dirinya bukan sebagai Antonio?

Sejenak sosok di depannya termangu lalu mengerjap. “Tentu saja aku suka. Kau, 'kan, kekasihku.” Dia tersenyum, memamerkan gigi taringnya yang gingsul dan Bian menyadari bahwa sosok itu bukan Antonio. “Maksudku, saat aku lelaki.”

Bian tersenyum. “Yep.” Sahutnya, berusaha tenang walaupun jantungnya bertalu-talu, teringat pesan Jin sebelum dia pergi tadi.

Beri tahu aku jika apa pun yang aneh terjadi, semuanya penting saat dia jadi perempuan.

“Kau mau makan?” Tanya Bian kemudian, mengalihkan pembicaraan ke hal yang akan disukai Antonio, makanan. “Karena hujan, kita tidak bisa berjalan-jalan ke mana pun, jadi sebaiknya kita pesan sesuatu. In room dining saja.” Tambahnya meraih buku menu.

“Ya, boleh.” Sahut Antonio/Nia, mengangguk menatap hujan yang membuatnya gusar. “Kau mau makan apa? Aku ikut.”

Bian menatap buku menu, “Kau mau sop iga? Atau nasi goreng?”

Antonio/Nia nampak berpikir sejenak. “Mereka punya burger dan kentang? Seharusnya ada. Aku mau itu saja dengan jus apel.” Dia beranjak ke sisi Bian, menunduk ke menu bersamanya.

“Baiklah,” Bian mengangguk, menemukan menu yang dimaksud Antonio/Nia. “Kau mau ini?” Tanyanya.

Antonio/Nia mengangguk. “Dengan ekstra keju.” Tambahnya sebelum berguling di ranjang, meraih ponselnya—sekarang sudah nampak nyaman dengan tubuhnya sendiri yang disadari Bian butuh sekitar satu jam.

“Ekstra bacon?” Tawar Bian saat meraih gagang telepon di nakas dan Antonio/Nia mendongak dari ponselnya, berpikir.

“Boleh.” Dia tersenyum lebar dan menular dengan cepat, Bian membalas senyumannya seketika itu juga.

Apa pun yang dikatakan Hosein, Antonio versi perempuan jelas memiliki satu kesamaan dengan versi lelakinya. Begitu menggemaskan dan selalu punya tempat khusus di hati Bian—begitu saja.

Mereka menghabiskan hari itu dengan mengobrol. Bian duduk di kaki ranjang dengan Antonio/Nia berbaring beberapa meter darinya—merasa terlalu kikuk berbaring berdekatan karena jenis kelamin mereka berlawanan sekarang. Antonio dalam versi perempuannya masih sangat banyak bicara, namun dengan emosi yang jauh lebih meledak-ledak dan cepat terganggu.

Dia jengkel nyaris pada segala hal hingga Bian geli. Kentang gorengnya yang kering, kejunya yang terlalu meleleh, suhu yang terlalu dingin, bra yang kebesaran (Bian sudah minta maaf dan Antonio/Nia akhirnya merasa dia sebaiknya membawa bra tiap kali bepergian), dan segala macam hal sementara di luar sana hujan semakin deras mengamuk.

“Kau tidak tidur denganku?”

Bian merona, “Tentu saja tidak.” Katanya dengan nada 'tentu saja' yang absolut saat dia mengenakan sepatunya untuk kembali ke kamarnya. “Kau perempuan.”

Antonio/Nia berjengit tidak suka. “Aku lelaki.” Tandasnya.

Bian memutar bola mata, “Dramatis sekali.” Dia menoleh, menatap Antonio/Nia yang berdiri di hadapannya dalam postur tubuhnya yang langsing dan tinggi. “Aku akan mengunjungimu lagi besok, oke? Istirahatlah. Mandi air hangat lagi sebelum tidur, siapa tahu bisa mempercepat perubahannya.”

Antonio/Nia mendesah panjang, menggaruk kepalanya dan mengangguk. “Baiklah.” Dia menatap Bian. “Kurasa ini berarti aku juga tidak dapat ciuman?”

Bian mengerjap. “Tidak, maaf.” Katanya bersalah. “Aku... tidak bisa. Maksudku, aku tidak memandangmu sebagai kekasihku sama sekali sekarang.” Dia menatap langsung ke mata kucing Antonio/Nia, mencoba mengabaikan tatapan mengintimidasinya yang mendominasi.

“Tidak masalah,” Antonio/Nia tersenyum. “Aku paham.” Dia kemudian mengantar Bian ke pintu, membukakannya. “Sampai ketemu besok pagi dalam wujud lelakiku, Kak Bi.”

Bian membalas senyumannya. “Tidur nyenyak, Niyo.” Aku mencintaimu, dia ingin menambahkan namun terasa sangat salah saat memandang wajah perempuan Antonio.

Maka dia tidak mengatakannya, sekali saja.

Antonio/Nia menyadari kekikukkannya dan memutuskan untuk menyelamatkan Bian dengan mengatakan, “Trims, Kak!”

Lalu menutup pintu kamarnya.


Author's Lament:

What. Have. I. Done. Bye.


Nio berhenti di pintu masuk Stasiun Pasar Senen yang mulai sunyi karena dia mengambil kereta terakhir agar tiba agak siang di Yogyakarta.

Setelah berterima kasih dan mengembalikan helmnya pada pengemudi ojek daring yang mengantarnya dari kontrakan, Nio langsung melangkah masuk menuju mesin pencetak tiket.

Dia membenahi tasnya sebelum mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik serentetan kode booking ke mesin di hadapannya lalu menunggu hingga tiketnya tercetak sebelum menarik KTP-nya lalu melangkah menuju pintu masuk.

Dia mengantri di belakang ibu-ibu muda dengan anak yang masih kecil yang nampak kerepotan dengan kardus-kardusnya.

“Ibu,” sapanya ramah. “Saya boleh bantu bawakan kardusnya?” Tawarnya melirik bawaan si ibu dan fakta bahwa dia masih harus menggendong anaknya dalam kondisi hamil.

“Why can't everybody slow down in having kiddies?” Nio berpikir tentang risiko memiliki anak dengan jarak berdekatan baik secara finansial maupun secara kesehatan bagi sang ibu saat si ibu nampak curiga padanya sebelum langsung menolak tawaran baiknya.

Nio mengangguk, mundur dari sekitarnya agar tidak nampak mengancam sebelum akhirnya mengeluarkan earbuds lalu mendengarkan musik.

Jika dia merasa tidak perlu dibantu, kenapa Nio harus merasa repot? Memutuskan bahwa itu bukan urusannya walaupun dia seorang calon dokter.

Dia tadi pamit pada Arfabian dia akan sibuk mengerjakan tugas dan meminta kedua sahabatnya untuk bekerja sama. Keduanya sepakat dengan bermain game daring tanpa Nio.

Pengumuman berbunyi dan Nio bergegas menyiapkan tiket dan kartu pengenalnya. Petugas mengecek tiketnya dan mempersilakannya naik ke peron.

Nio mengangguk, berterima kasih dengan sopan sebelum melangkah panjang dan cepat ke arah peron tempatnya menunggu dengan kuapan kecil di bibirnya.

Dia lelah sekali, tapi pikiran bahwa dia akan bertemu Arfabian dalam delapan jam membuatnya senang saat dia memasuki gerbong kereta dan menyamankan diri.

Syukurlah Nio mendapatkan tempat duduk di pinggir jendela tanpa rekan perjalanan sehingga dia bisa bebas meluruskan kakinya dan tidur.

Sayang? Sudah tidur?

Nio tersenyum saat nama Arfabian muncul di layarnya, dia membalas pesannya:

Hei, Baby Darling, aku sedang mengerjakan tugasku. Kau istirahat saja besok hari yang melelahkan.

Jawabannya tiba seketika itu juga: Kau tidak suka bicara denganku?

Nio terkekeh kecil, menggigit bibir bawahnya saat mengetik: Tentu saja aku suka, Bodoh. Tapi aku tidak suka membuatmu begadang padahal kau punya jadwal yang padat besok. Kita bisa bicara lagi besok setelah acara, oke?

Aku benci kau.

Aku juga mencintaimu.

Setidaknya beri aku swafoto :(

Sayang, aku benar-benar harus kembali mengerjakan tugas.

Bajingan bangsat.

Nio tertawa terhibur hingga penumpang di seberangnya menoleh dengan wajah mengerut, heran. Nio menyelipkan ponselnya kembali ke saku sebelum merapatkan hoodie-nya.

Dia juga menyewa bantal dan selimut untuk digunakannya tidur karena penyejuk udara kereta malam tidak pernah berbaik hati padanya.

Setelah menggunakan selimut hingga dagu, earbuds menyumpal telinganya dengan lagu kesukaannya dan kereta perlahan mulai melaju; Nio memejamkan mata.

Terlelap begitu saja.


Hal pertama yang Nio sadari saat dia terbangun kemudian adalah kereta sedang berhenti.

Dia meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidur dalam kondisi terduduk lalu mengusap wajahnya yang terasa kaku.

Dia mengintip ke luar jendela, terlalu gelap untuk melihat keadaan sekitar. Dia melepas earbuds-nya lalu mengecek ponselnya; pukul 5 dini hari.

Nio menguap lebar tanpa repot menutup mulutnya saat mengisi daya ponselnya. Dia kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Dia membasuh wajahnya yang terasa bengkak dan aneh, merasa masih sangat mengantuk sebelum terseok-seok kembali ke kursinya dan menggeliat di atasnya.

Sebentar lagi tiba di Yogyakarta, pikirnya menyadari bahwa dia tertidur nyaris sepanjang perjalanan dan senang karena dia melakukannya.

Perjalanan kereta malam tidak pernah menyenangkan karena tidak ada yang bisa disaksikan dari jendela.

Nio tidak bohong saat dia bilang dia harus mengerjakan tugas. Karena sudah bangun, dia mengeluarkan Mac-nya dan mulai membaca jurnal yang akan digunakannya untuk presentasi di kelas Senin karena tidak ada yang bisa dilakukannya di dalam kereta yang hening.

Saat kereta akhirnya berhenti di Stasiun Wates, Nio membeli segelas kopi dan makanan kereta yang isinya begitu sedikit hingga dia yakin dia baru saja membeli porsi anak-anak.

Makanan habis dalam lima menit dalam tiga suapan raksasa Nio yang sama sekali tidak puas dengan sarapannya.

Ponselnya berdenting, nama Arfabian muncul di layar.

Kau sudah bangun? Aku akan kelas hari ini lalu jam 11 akan berangkat ke Merapi. Aku akan menghubungimu jika sempat, oke?

Nio langsung mengetikkan balasan: Oke. Kabari aku jika sudah di hotel.

Siap. Jangan lupa sarapan. Kau lari hari ini?

Sedang akan. Nio melirik ke luar jendela, melihat semburat jingga mulai terbit di kejauhan lalu menambahkan, Sedang menyiapkan Dalkyum.

Have a great day ahead, Babe♡

Nio tersenyum lebar, You too, Dear. See you very soon!

Can't wait!!!

Nio kembali menyimpan ponselnya, menyandarkan kepalanya ke kursi lalu menguap. Dia bisa tidur sedikit lagi sebelum tiba di Yogyakarta.

Maka dia memejamkan mata dan terlelap kembali.


Hari ini menyenangkan!

Bian menghembuskan napas lega setelah bloknya diselesaikan dengan kunjungan ke Merapi yang disertai dengan karya wisata sederhana.

Mereka berkendara ke Museum Mini Sisa Hartaku dan berfoto bersama menikmati suasana teduh dan menyenangkan Merapi yang menjulang kokoh di belakang mereka.

Bian mengamati semua barang-barang di balik meja displai dan membayangkan kengerian yang terjadi ketika Merapi terakhir kali meletus di tahun 2010.

Banyak benda-benda solid yang meleleh karena sapuan lahar panas dan uapnya. Rangka sepeda motor, belulang hewan ternak yang tidak sempat terselamatkan, jam dinding, panci, pemutar kaset, piring-piring, gelas....

Semuanya meleleh, bengkok rusak oleh hawa panas dan lahar. Menyisakan kenangan bagi semua orang yang pernah terjebak dalam huru-hara itu demi menyelamatkan diri. Bahkan rumah yang digunakan sebagai museum itu pun adalah satu-satunya rumah yang selamat dari terjangan lahar.

“Mengerikan, ya?” Bisik Jimmy di sisinya saat mereka tiba di bagian peralatan rumah yang bengkok dan juga kompor.

Bian mengangguk. “Bayangkan kengeriannya.” Tambah Bian mengeluarkan ponsel dan mengabadikannya.

Tidak ada sinyal di sini dan dia sudah mulai merindukan kekasihnya. Menatap layar depan ponselnya yang adalah foto Antonio yang diam-diam diambilnya saat kekasihnya terlelap setelah seks pertama mereka, Bian mendesah.

Siapa sangka berjauhan ternyata menyiksanya sedemikian rupa.

Dia menyelipkan ponselnya di saku celananya sebelum kemali memfokuskan diri pada penjelasan pemandu wisata mereka.

Mereka berhenti untuk makam siang di Raminten yang sejalur dengan Merapi. Suasananya syahdu dan menenangkan dengan gemericik air dan gamelan Jawa yang diputar sayup-sayup.

Bian menyukai tempat itu dan berharap jika saja dia datang dengan Antonio untuk menikmati suasana ini berdua saja.

Dia mengecek ponselnya, menyadari ada beberapa pesan dari Antonio yang baru masuk karena dia baru mendapat sinyal stabil.

Kau di mana? Sudah makan siang? Sayang? Bian? :( Arfabian Sayang????

Bian terkekeh kecil, menyentuh bagian kosong di bawah layar untuk mulai mengetik, menanti sesaat hingga keyboad-nya muncul lalu membalasnya:

Hai, Sayaaang! Maaf aku baru dapat sinyal kembali. Aku sedang makan siang.

Bian menyentuh tombol kamera di bagian obrolan Whatsapp-nya lalu mengangkat ponselnya, mengambil gambar tempat makannya lalu mengirimkannya ke Antonio.

Tempatnya bagus sekali. Wish you were here :(

Balasan Antonio langsung datang: Tempatnya bagus! Kau sudah mencatat namanya? Siapa tahu kita kembali ke Jogja bersama suatu hari nanti.

Bian tersenyum lebar, menggigit bagian dalam pipinya saat membalas: Sudah! Senang sekali mendengar bahwa kita mungkin datang kembali ke sini bersama.

Antonio membalas: Aku akan membawamu ke mana saja kau ingin.

Bian tersenyum lebar.

“Asyiknya yang sedang kasmaran.”

Bian mendongak dan tertawa. “Tidak boleh dengki.” Katanya pada ketua kelas mereka yang mencebik.

“Kau dengan Antonio itu, ya?” Tanya temannya di ujung, tertarik. “Si Abhirama yang kakaknya pengusaha itu?”

Bian mengangguk, sedikit tidak nyaman pada fakta pribadi yang tersebar tentang Antonio tapi menilik betapa terkenalnya dia di sekitar kampus, Bian tidak kaget lagi.

“Aku benar-benar tidak membayangkan Antonio akan jadi dengan Bian.” Sahut kawannya yang lain dan beberapa tertawa.

Jimmy terkekeh. “Memang benar-benar di luar dugaan, 'kan?”

Bian memutar bola matanya, “Memang apa yang salah?”

“Entahlah,” sahut ketua kelasnya. “Kau dan Antonio seperti datang dari dunia yang berbeda. Nyaris berlawanan. Dia tipe anak yang tidak nampak serius dengan studinya sedangkan kau terobsesi dengan studimu sendiri.”

Bian tertawa kecil, “Bukankah bagus? Aku bisa memberikan efek baik padanya, 'kan?”

“Menilik dari tingkat keaktifannya di kelas yang kupegang,” sahut teman Bian yang adalah asdos aktif blok yang sedang dijalani Antonio.

“Kurasa ya.” Dia tertawa. “Dia jadi sedikit lebih serius dengan studinya belakangan ini. Mengumpulkan laporan tepat waktu, aktif saat presentasi.”

Bian mengangguk rendah hati, melakukan gestur menghormat seperti seorang artis setelah melakukan penampilan dan teman-temannya tertawa. “Kaulihat, 'kan?”

“Bagaimana rasanya berpacaran dengan Antonio, Yan?” Tanya temannya yang lain dan Bian mendesah.

“Memangnya aku harus merasa bagaimana?” Balasnya.

“Menyenangkan? Atau menyebalkan?” Tambah temannya yang lain, mendesaknya.

“Jika menyebalkan,” sahut Bian diplomatis. “Aku tentu sudah mengakhiri hubungannya.” Dan dia berhasil membungkam temannya.

“Dia tidak asyik.” Keluh yang lain. “Tidak akan membocorkan rahasia perusahaan.”

“Tentu saja tidak.” Bian memutar bola matanya. “Orang bodoh pun tahu untuk tidak membocorkan rahasia perusahaan pada pesaingnya.”

Makan siang berjalan mulus dan menyenangkan, dosen mereka menutup acara hari itu dengan memberikan pidato singkat sebelum nanti mereka akan mendapatkan evaluasi setibanya di hotel sebelum mendapatkan jam bebas.

Di perjalanan kembali ke hotel, hujan deras turun mengguyur Yogyakarta. Begitu deras hingga jarak pandang menjadi pendek.

Perut Bian mengejang. Sejak kejadian Antonio, dia selalu paranoid mengenai hujan walaupun dia tahu Antonio sekarang mungkin sedang tidur di kontrakan kekenyangan makan bakso tikus.

Namun tetap saja, menatap air hujan yang menghajar jendela bus mereka membuat Bian merasa takut.

Berharap di Jakarta tidak hujan atau setidaknya, Antonio tidak sedang di lua rumah.

Dia mengetikkan pesan pada Antonio:

Di Jogja sedang hujan deras. Di Jakarta bagaimana? Kau di kontrakan, 'kan?

Antonio tidak sedang daring, maka Bian menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama sebelum menyimpan benda itu di tasnya dan memejamkan mata—dia lelah, matanya panas.

Jadi dia memanfaatkan perjalanan kembali ke hotel untuk tidur sejenak.


“Kau sudah selesai dengan kamar mandi?”

Bian mengangguk, mengusap kepalanya dengan handuk. “Silakan mandi.” Katanya pada Jimmy yang langsung melompat dan berdendang ke kamar mandi.

Mereka tiba di hotel dan langsung berlari masuk ke dalam. Karena hujan yang terlalu deras, tubuh Bian setengah kuyup sehingga dia langsung mandi dan tidak sempat mengecek ponselnya sama sekali.

Dia sekarang duduk di ranjang, meraih ponselnya yang syukurnya aman lalu mengecek pesan.

Nihil. Antonio belum membalas pesannya, Bian tersenyum. Mungkin kekasihnya sedang terlelap dan lupa mengecek ponselnya.

Dia baru berbalik untuk meraih pengering rambut saat ponselnya berdering.

Nama Siput Gila ♡ menyala di layar dan dia bergegas mengangkatnya.

“Hai!” Sapanya ceria mengalahkan suara hujan deras di luar sana. “Kau baru bangun tidur, ya?”

Dan suara yang menjawab panggilannya, bukan suara Antonio.

Jantung Bian langsung mencelos, jatuh ke lantai saat mendengarnya. Lalu berdebar begitu kencang hingga telinganya berdenging.

Sial, pikirnya gemetar.

Kak, tolong aku...”

Itu Nia.

*


Baby?”

“Hm?”

I love you.”

Nio merasakan senyuman Arfabian di lekukan lengannya sebelum pemuda itu mengecupnya dan mendongak, tersenyum.

I love you too.” Balasnya dengan suara lembut, serak dan dalam hingga Nio mengecup keningnya sayang.

Mereka berbaring di ranjang Nio, dengan Dalkyum bergelung di ujung kasur karena Yoga baru saja keluar dengan kekasihnya, Bram, memberikan waktu untuk Nio dan Arfabian sendirian di rumah.

Pukul tujuh nanti, Nio harus mengantar Arfabian kembali ke kampus karena mereka akan berangkat dengan bus ke Stasiun Pasar Senen untuk perjalanan ke Yogyakarta sebagai bagian dari blok Disaster Management.

Sementara menunggu waktu, Arfabian sudah membawa barang-barangnya ke kontrakan dan memutuskan dia akan menghabiskan sisa waktunya untuk dimanjakan sebelum berpisah.

Clingy,” Nio menjentikkan jarinya di dagu Arfabian yang langsung meraih wajahnya dan menciumnya.

Sekarang kekasihnya berbaring di dadanya, nampak senang dan nyaman dalam pelukannya. Senyuman bodoh tidak pernah meninggalkan wajahnya dan Nio senang karena dialah alasan Arfabian tersenyum.

Kakinya membelit kaki Nio dan digerakkan lembut sesuai dengan napasnya yang selembut napas kucing.

“Sayang Nio,” Arfabian mengerang lalu memeluknya semakin erat hingga Nio terkekeh.

“Apa yang tadi kau makan, Sayang? Mungkin ada sesuatu di dalamnya yang meracunimu.” Nio membelai rambutnya, setengah geli

“Ini bukan karena makanan,” Arfabian menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Nio, mendesah senang. “Ini karena aku mencintaimu.”

“Kau benar-benar,” Nio memeluknya, mengecup puncak kepalanya sayang. “What did I do to deserve you?”

Arfabian mendongak, “Cium aku.”

Nio tidak membuang-buang waktu, dia menangkup pipi Arfabian dengan satu tangan sebelum mencium bibirnya—hangat dan dalam hingga Arfabian lumer dalam genggamannya, melenguh kecil.

Tangannya bergerak di lehernya, merasakan denyut nadinya yang membuat Nio merasa kuat dan begitu hidup. Merasakan hidup Arfabian di telapak tangannya membuatnya merasa hidup.

Tidak akan ada yang tidak bisa dihadapinya selama hidup Arfabian berdenyut di bawah telapak tangannya.

Arfabian akan menjaganya tetap waras.

Nio sejenak memikirkan perjalanan ke Singapura akhir tahun ini dan sama sekali tidak menyukai prospek itu. Dia selalu benci tiap kali dia harus berangkat ke sana, bertemu dokter-dokter yang menatapnya seolah dia binatang di kebun binatang; terkurung dan dijadikan bahan tontonan.

Dia akan diminta untuk mandi air dingin dan ditelanjangi. Ditonton saat tubuhnya berubah sementara Nio berjuang bertahan hidup dalam himpitan rasa panas dan dingin tiap dia berubah.

Dia sudah melakukan itu selama dua tahun, yang didapatkannya hanyalah trauma dan ketakutan pada tubuh perempuannya sendiri.

Bukan kesembuhan seperti apa yang semuanya harapkan.

Efeknya, selama dua puluh empat jam penuh bahkan terkadang lebih, Nio tidak mau bertemu siapa pun bahkan kakaknya sendiri. Dia akan mengunci diri di kamar tamu apartemen Hosein, berteriak tiap kali seseorang mengetuk kamarnya untuk membawakan makanan.

Maka biasanya, Jin akan memastikan Nio terlelap sebelum membuka pintu dengan kunci cadangan dan menyelipkan nampan makanan ke dalam kamarnya.

Nio memeluk Arfabian, bergidik saat bayangan wajah-wajah dokter di balik masker hijau dan penutup kepala dan merunduk ke arahnya berkelebat di kepalanya.

Napas dan aroma tubuh Arfabian membuatnya tenang, menjaganya tetap di permukaan bumi—maka dia menyusupkan wajahnya di rambut kekasihnya, menghirup aromanya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma Arfabian.

“Kau sudah siap berangkat?” Tanyanya saat alarm ponsel Arfabian menjerit memisahkan mereka dan kekasihnya nampak sangat jengkel karenanya.

“Tidak, sama sekali.” Arfabian bersungut-sungut saat dia mengenakan hoodie Nio di atas kausnya sementara Nio membantunya menyiapkan tasnya.

“Sepertinya kemarin aku yang merajuk karena akan ditinggal, kenapa sekarang kau yang merajuk?” Nio meraih Arfabian ke dalam dekapannya dan mengecup pelipisnya sayang.

Arfabian membalas pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu Nio. “Aku tidak ingin berjauhan. Aku ingin selalu ada di sekitarmu.” Gumamnya teredam.

“Kau hanya akan pergi sebentar lalu kembali padaku.” Nio mengecup puncak kepalanya sayang lalu mengusapnya lembut dan hangat.

“Kau akan meneleponku tiap malam?”

“Janji.”

Arfabian tersenyum lebar. “Aku sudah merindukanmu.” Keluhnya.

Nio menguraikan pelukan mereka, meraih ransel kekasihnya dan menyampirkan talinya di bahunya. “Ayo, Sayang. Nanti terlambat.”

Arfabian menghampirinya, mengecup bibirnya. Nio meraih tengkuknya, memperdalam ciuman mereka. Arfabian mengalungkan kedua lengannya di leher Nio.

“Sayang,” bisik Nio mengecup sudut bibir Arfabian dengan geli. “Ayo.”

Arfabian mendesah, sebal namun toh akhirnya menurut. Nio mengunci kontrakan lalu mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir motor Nio.

Arfabian membuka pagar parkiran sementara Nio menghampiri motornya dan mengeluarkannya dari sana. Nio mendorong motornya mundur, membiarkannya meluncur menuruni jalan landai ke aspal lalu menyalakan mesinnya sebelum Arfabian naik ke jok belakang.

“Kau siap?” Tanyanya, melirik Arfabian dari spion kanannya.

Arfabian mendesah, “Tidak perlu bertanya.” Sahutnya setengah mengeluh dan Nio tertawa.

Motornya menderum lembut saat dia memasukkan persneling lalu menjalankan motornya melewati jalanan kampung yang padat menuju kampus mereka.

Saat mereka tiba di lapangan parkir, sudah ada satu bus ukuran besar yang menunggu dengan mesin menyala sementara teman-teman Arfabian berkumpul di dekat sana bersama dua orang dosen pendamping.

Nio berhenti beberapa meter dan membiarkan Arfabian turun dari jok belakang, nampak malas.

Nio tertawa terhibur oleh ekspresi kekasihnya, menjentikkan jarinya di dagu kekasihnya. “Hanya sebentar, kok.” Hiburnya dan Arfabian mendesah.

“Kau akan kembali sebelum kau sempat merindukanku.” Tambahnya.

Dia berdiri di motornya, kedua kakinya menjejak tanah dengan kuat sementara kekasihnya berdiri beberapa meter darinya dengan ransel di bahu kanannya. Mengenakan hoodie Nio yang belum dicuci karena Arfabian mengklaim dia butuh aroma tubuh Nio menempel padanya selama perjalanan kereta dari Jakarta ke Yogyakarta.

“Sana,” Nio melambai ke teman-teman Arfabian yang menunggu dan dosen pendamping mereka mulai mengabsen kehadiran mereka. “Mereka sudah menunggumu.”

Arfabian mendesah, “Sampai ketemu Minggu sore?” Tanyanya akhirnya karena menyadari dia tidak bisa lagi menunda-nunda.

“Sampai ketemu Minggu sore, Sayang.” Balas Nio, meraih tangannya dan meremasnya hangat.

“Hati-hati di jalan dan jaga dirimu, ya?” Tambahnya, mengecup buku jemari Arfabian.

“Kau juga.” Balas Arfabian tersenyum kecil karena perlakuan Nio. “Jangan sampai kehujanan.”

Nio tetawa, “Baik, Yang Mulia.” Dan Arfabian tersenyum lebar.

Dia kemudian menyaksikan kekasihnya berlari ke arah rombongan yang menyambutnya. Beberapa anak menyadari kehadirannya dan melambai, Nio membalas lambaiannya dengan ramah. Merapatkan leather jacket-nya karena cuaca yang agak dingin.

Arfabian mengusirnya, memberi tanda pada langit yang mendung dan Nio mengangguk, memberi gestur dengan tangannya dia akan pergi sebentar lagi.

Namun dia tetap di sana hingga dia melihat kekasihnya bergabung dengan Jimmy, diabsensi dan menaiki bus yang menyala. Menyaksikan kekasihnya di dalam bus, tertawa dengan teman-temannya dan duduk di sisi jendela dengan Jimmy.

Terus di sana hingga bus bergerak meninggalkan UKI menuju Stasiun Pasar Senen.

Dia baru mengenakan kembali helmnya setelah halaman UKI kosong, menyalakan kembali motornya dan pulang.

Dia harus mengemas barang-barangnya untuk perjalanannya sendiri ke Yogyakarta besok malam.

*

ps. unedited. sorry. im tired x


“Halo, Arfabian! Akhirnya aku bertemu denganmu.”

Bian mendongak dan melihat dua orang memasuki rumah. Menyadari salah satunya adalah Hosein, orang yang mereka nantikan mendarat karena penerbangannya ditunda dari Singapura.

Bian melirik Antonio yang berbaring di sofa dengan kaki dinaikkan ke dinding, mengunyah cemilan dan mengabaikan sepenuhnya orang-orang di sekitarnya. Sebelumnya, Bian duduk di lantai, kepala bersandar di dada Antonio dan disuapi cemilan.

Semenit sebelum Jin dan Hosein datang dengan banyak belanjaan yang beraroma seperti daging dalam kantung-kantung belanja yang dijinjing Jin. Hosein nampak seperti terakhir kali Bian melihatnya di IKEA; rapi, menarik dan dandy.

Dia membawa koper kecil dan kantung belanja sebelum menghampiri Bian dengan senyuman lebar berbentuk hati yang menular. Bian membalas senyumannya dengan sama hangatnya, berdiri dari posisinya di dada Antonio lalu menyalami Hosein yang mengubah jabat tangan mereka menjadi pelukan hangat.

Dia beraroma seperti parfum mahal dan pengharum kabin pesawat.

“Penerbangannya menyenangkan?” Tanya Bian sopan setelah Hosein menguraikan pelukan mereka.

“Seperti biasa.” Hosein tersenyum lebar, “Kau sudah makan siang?” Tanyanya dengan logat Singapura kental yang membuat Bian tersenyum.

“Tentu saja belum. Tujuannya, 'kan, itu.” Antonio yang menjawab, mendongak dari posisinya di sofa—yang berpotensi membuat lehernya terkilir.

“Baiklah, Jagoan.” Jin menjawab. “Bantu aku siapkan pemanggang di luar sementara aku membereskan dagingnya dan Hosein membersihkan diri.” Dia berkacak pinggang di sisi meja makan, dengan kantung belanja penuh yang terbuka.

Bian memukul kaki Antonio, “Ayo!” Serunya dan Antonio bersungut-sungut saat akhirnya berdiri lalu menyusul Bian ke halaman belakang rumah mereka.

Di halaman, tadi pagi Antonio sudah mengeluarkan pemanggang mereka dan mencuci debu dari permukaannya sementara Bian menjemur potongan-potongan kayu yang lembab karena terlalu lama disimpan.

Mereka juga punya sekantung arang yang siap digunakan. Antonio dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan longgarnya (serta belum mandi sejak baru bangun), beranjak untuk menyusun alat panggang mereka dan Bian di belakangnya membereskan potongan-potongan kayu yang ternyata masih terlalu lembab untuk digunakan.

“Nyoy, kayunya masih basah.” Bian melambaikan sepotong kayu ke arah Antonio yang menguap lebar; rambutnya mencuat-cuat seperti burung kakak tua.

“Ya sudah, kita pakai arang saja.” Antonio mengedikkan dagunya ke kantung arang di dekatnya.

Bian membiarkan kayu-kayu itu tetap di halaman sebelum menghampiri plastik arang dan membuat bulldog Jin menggonggong senang—berpikir Bian akan mengajaknya bermain.

Bian terkekeh, “Setelah ini kita jalan-jalan, oke?” Katanya, mengulurkan tangan ke dalam kandang anjing itu lalu menepuk hidungnya.

Antonio mengamatinya. “Jika bukan kau, tangannya pasti sudah putus dicaplok.” Dia terkekeh saat Bian membiarkan telapak tangannya dijilati dengan penuh semangat.

“Dia bahkan tidak suka padaku.” Gerutu Antonio dan Buan terkekeh.

“Dia baik, kok.” Bian menatap bulldog Jin yang terengah dengan lidah terjulur. “Dia kesepian dan kebosanan di dalam sana.”

Antonio memasang pemanggang dan menuang sebungkus arang ke dalam mangkuknya. “Kami pernah membiarkannya berkeliaran dan berakhir ditegur Pak RT karena dia menggonggongi semua orang. Jadi Kak Jin mengurungnya.”

Seolah paham sedang dibicarakan, bulldog itu mendengking lirih—menatap Bian dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.

Semenjak Bian tiba semalam, King, bulldog Jin sudah sangat menyukainya. Bian hanya mendapatkan gonggongan sambutan sekitar 2 menit sebelum buntutnya mengibas ceria dan Bian dibebaskan untuk menyentuhnya.

“King suka padamu??” Jin berseru kaget saat tiba membawa mangkuk makanan anjingnya yang terisi nasi dan cincangan kepala dan hati ayam—kesukaan King.

Bian yang berjongkok di depan kandang King tersenyum lebar. “Kurasa begitu. Ya.” Sahutnya, senang.

“Dia bahkan tidak suka Nio.” Kata Jin geli saat tiba di sisinya, meletakkan mangkuk di kaki Bian.

“Sungguh?” Bian mendongak, tertawa lirih karena informasi itu. Dia melirik makanan di kakinya. “Apa yang Kakak berikan?”

Jin berjongkok di sisinya, “Cincangan hati dan kepala ayam dengan sedikit sawi hijau. Juga kaldu rebusannya.” Dia mendorong mangkuk berat itu ke Bian. “Coba beri makan dia.”

Bian menatap King yang duduk dengan ceria di kandangnya, lidahnya terjulur dan mengibaskan ekor buntungnya dengan ceria—menyalak senang.

“Dia tidak akan menggigit siapa pun yang sudah dijilati tangannya; itu tanda dia menerimamu.” Jin menyemangati. “Itu berarti kau teman.”

Akhirnya Bian meraih mangkuk itu, menyelipkannya ke pintu kandang yang dibuka.

King menyalak, berterima kasih sebelum membenamkan wajahnya ke mangkuk—makan dengan rakus.

Bian akhirnya meminta izin pada Jin untuk memberangus King dan mengajaknya jalan-jalan nanti sore. Jin tidak melihat hal yang salah dengan itu sehingga mengizinkannya.

“Nanti kita jalan-jalan, oke?” Bian mengulurkan tangan dan menepuk pipi King yang terengah lalu menjilat tangannya.

Don't forget to wash your hand before touching the food, Arfabian.”

Bian menoleh, menemukan Hosein menghampiri mereka dengan nampan penuh daging yang nampak lezat; ada potongan bawang bombay merah, bawang putih, paprika, wortel dan lain-lain.

Dia tertawa, bangkit dari posisinya dan mencuci tangannya di kran yang ada di sudut kandang—biasa digunakan Jin untuk memasang selang memandikan King di hari liburnya.

“Kau suka daging?” Tanya Hosein dengan bahasa Inggris aneh yang awalnya sulit dipahami Bian namun lama kelamaan dia menyadari pola kalimatnya dan memahaminya.

“Suka.” Bian membantunya menjejerkan makanan di atas meja kecil sementara Antonio meniup bara arang mereka agar menyala.

“Nio suka sekali.” Hosein mengeluarkan tusuk sate dan Bian mulai menusuk potongan daging dengan bawang dan paprika untuk dipanggang.

Jin keluar dengan bumbu bakar mereka. “Apinya sudah siap?” Tanyanya pada Antonio yang menguap lebar, namun bara berkobar di hadapannya.

“Sudah.” Sahutnya lalu membiarkan api meredup sebelum memasang penutup panggangan.

Bian membantu Hosein membawa daging di dalam baskom-baskom besar yang semalam dimarinasi Bian dan Jin mendekat untuk dipanggang bersana. Jin mengeluarkan beberapa botol bir, membuka tutupnya dan menyerahkannya pada masing-masing orang di sekitarnya.

Bian senang dengan aroma daging dipanggang, tawa dan obrolan ramah di sekitarnya, bir dingin dan cuaca cerah; dia merasa bahagia dan hangat.

Antonio menatapnya, meneguk birnya sebelum tersenyum. “Kau senang?”

Bian membalik daging yang mendesis di pemanggang sementara Jin dan Hosein membawa kentang-kentang mini panggang yang dengan bumbu Italia sebagai teman makan mereka.

“Senang sekali.” Bian membalas senyuman lebar Antonio yang menjulurkan tangan lalu menepuk puncak kepalanya sayang.

Antonio meraih setangkai BBQ skewer yang matang dan mulai mengunyahnya, menawarkan sisanya pada Bian yang menerimanya; dia menggigit daging dengan gigi depannya lalu menariknya lepas dari tusuk sate sebelum mengunyahnya.

Membiarkan jus alami daging dan bumbu yang meresap meleleh di lidahnya. Dia mendecap-decap, senang.

“Bumbunya lezat, Kak. Kita berhasil!” Puji Bian tulus, menerima daging lain yang diangsurkan Antonio ke mulutnya.

“Trims kepada Youtube.” Sahut Jin tertawa serak, meneguk birnya dan Bian balas tertawa karena mereka semalaman menonton video bumbu marinasi daging seperti dua penyihir yang akan membuat ramuan cinta.

Antonio membuka mulutnya saat Bian membuka mulutnya, meniru gerakannya dengan menggemaskan dan tersenyum senang hingga pipinya naik saat Bian menerima makanan darinya.

Bian mendapati hal itu membuatnya tersentuh dan senang. Dia mengunyah daging dari Antonio sementara pemuda itu kembali ke pemanggang.

Dia bersiul senang seraya meneguk birnya. Dia nampak rileks dengan satu tangan mengenggam botol bir dan tangan lainnya membolak-balik daging di pemanggang. Aroma daging lezat menempel di tubuh mereka; baju, kulit dan rambut.

Hosein banyak bicara tentang pekerjaannya. Lalu bagaimana dia bertemu dengan Jin saat menggunakan jasa kantor Jin untuk salah satu proyeknya di Indonesia lalu memutuskan untuk berkencan.

Dia juga menceritakan (dengan berbisik) bagaimana dia mengetahui keadaan Antonio dan usaha-usaha apa saja yang sudah mereka lakukan untuk menyembuhkan Antonio.

“Memangnya,” mulai Bian perlahan dan berusaha menahan suaranya rendah saat bertanya. “Apa yang mereka lakukan pada Nio di Singapura?”

Hosein menghela napasnya lalu menatap Bian dengan tatapan sedih yang membuat Bian bergidik. “You have no idea.” Dia melirik Antonio. “I feel bad he has to go through that shits over and over again.”

“Itulah kenapa,” Hosein menepuk bahu Bian akrab dan meremasnya hangat. “Nio membutuhkanmu di sana.”

Bian menatap Hosein lalu melirik Antonio yang sedang menjejalkan dua potong kentang ke mulutnya—mengunyah seperti seekor tupai dengan pipi menggelembung.

“Baiklah.” Katanya, setengah takut pada apa yang menantinya di Singapura.

“Tenang saja,” Hosein tersenyum—menguatkan. “That shall pass. He'll be all fine again.”

Bian mengangguk sebelum bergegas membawa daging ke Antonio yang memanggilnya.

Bian merasa dia sebentar lagi harus mengecek kolesterolnya karena banyak sekali daging yang dimakannya sambil memanggang bersama Antonio yang tidak berhenti menyuapinya makanan.

Akhirnya mereka berempat duduk di teras, kekenyangan dengan sisa daging yang akan dimasak keesokan harinya.

“Kak kau ingin bermain game tidak?” Tanya Antonio, membaringkan kepalanya di pangkuan Bian yang sedang meneguk entah botol birnya yang keberapa.

“Aku tidak suka game,” gerutu Bian mulai sedikit mabuk karena birnya. “Aku tidak suka kalah.”

Hosein tertawa. “Cute,” komentarnya lalu bersendawa kecil dan Bian tertawa.

“Satu game saja.” Desak Antonio, dengan keras kepala dan Bian terkekeh kecil. “Oke? Ya?? Please??”

Bian menandaskan isi botolnya. “Baiklah, Anak Nakal. Satu game.” Dia mendesah kekenyangan. “Sepertinya aku tidak bisa membawa King jalan-jalan—perutku penuh.”

Antonio bangkit dari pangkuannya, mengabaikan keluhan Bian tentang perutnya lalu berlari ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa amplop di tangannya.

Hosein mengamati dengan tertarik sementara Jin pergi menerima telepon penting dari kliennya. Hosein duduk beberapa meter dari mereka, masih meneguk birnya dengan tenang—belum nampak mabuk.

Antonio menjejerkan keenam amplop itu di depan Bian dan tersenyum lebar. “Baiklah.” Katanya.

Bian menatap amplop-amplop di hadapannya dengan bingung. “Isinya uang?”

Antonio memutar bola matanya sebal, “Tentu saja bukan, Bodoh.” Katanya dan Bian tertawa serak, dia lalu berdecak. “Ayo, pilih satu amplop.”

Dia membentuk amplop menjadi kipas di tangannya, membiarkan Bian memilih salah satu amplop—yang mana saja.

Bian menatap amplop putih yang sama persis di hadapannya lalu menunjuk asal. “Ini.” Katanya, meneguk birnya.

Antonio meraih amplop itu dan menyingkirkannya. “Baiklah. Aku akan menyimpan amplop ini untukku.” Katanya, sekarang nampak bersemangat.

Is this kind of cheap magic you learn on Youtube, Nio?” Tanya Hosein dari jauh, tertawa terhibur.

Shut up, Kak!” Kata Nio dan Hosein terbahak serak.

“Oke,” Bian tersenyum lebar—seberapa banyak alkohol dan seberapa banyak kebahagiaan murni karena berada di sekitar Antonio berperan pada perasaan penuh adrenalin bodoh ini?

“Lalu apa yang harus kulakukan pada amplop lainnya?” Tanyanya.

Antonio tersenyum lebar—seperti anak kecil yang terlalu bersemangat hingga hati Bian tersengat rasa sayang yang begitu hebat.

Dia mengeluarkan 2 post-it dari amplop lain lalu menempelkannya di lantai di depan Bian dengan jarak satu post-it dari satu sama lain dengan nomor di atasnya:

1. Hey, Gorgeous :)

Dan,

3. But,

Dia kemudian menatap Bian yang mengerahkan sisa kewarasannya karena terlalu banyak minum untuk memprosesnya.

“Di dalamnya ada beberapa post-it.” Dia melambaikan amplop di tangannya pada Bian. “Tugasmu adalah untuk menjejerkan mereka sesuai dengan nomor yang tertera di atasnya untuk melengkapi dua post-it ini.

“Amplop terakhir harusnya menjadi kata terakhir.” Dia meletakkan amplop yang dipegangnya di atas kepalanya.

Bian terlalu mabuk untuk merasa gugup atau apa. Dia meraih amplop pertama, membukanya dan menemukan angka 4.

Jantungnya berdebar; apakah ini seperti yang dipikirkannya?

Dia kemudian membongkar semua amplop dengan penasaran sementara Antonio menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya—gugup.

Hosein sekarang mendekat, penasaran sambil meneguk birnya. Berdiri beberapa meter di belakang Bian, mengintip apa yang adik-adiknya kerjakan.

Bian menyadari isi post-it yang ada di dalam amplop itu dan menyadari apa yang sedang dilakukan Antonio.

Begitu pula Hosein.

“Oh.” Katanya serak, geli. “No. Sorry. I'm intruding.” Hosein terkekeh lalu berbalik dan menjauh.

Good luck, Boy!” Dia melambaikan jempolnya.

Get lost, Kak!” Balas Antonio dan Hosein terbahak-bahak.

Bian mengulum senyuman lebarnya dan di hadapannya, Antonio sedang tersenyum lebat penuh semangat. Dia meraih semua post-it di sekitarnya lalu mulai menyusunnya:

1. Hey, Gorgeous :)

Dia menempelkan post-it dengan nomor 2 di sebelahnya:

2. I know this probably not my best try.

3. But,

4. I want you to know that you make me so happy everyday, effortlessly.

Bian mulai tersenyum lebar, hingga pipinya nyeri dan hatinya berdebar begitu kuat.

Seharusnya dia tahu Antonio tidak akan hanya membawanya ke restoran mewah dan mengajaknya pacaran begitu saja.

Seperti orang-orang kebanyakan. Ini Antonio Abhirama, dia tidak akan suka jadi seperti orang kebanyakan.

Dia pasti melakukan sesuatu namun Bian tidak tahu hal itu akan semenggemaskan ini.

5. And you light up my whole life, you cheer me up when I'm down. You pick me up when I'm on my knees.

6. The light of my life, the sun in my sky, the rainbow after the rain, the everything I've ever wished for,

Bian tertawa, mulai gemetar oleh adrenalin dan betapa menggemaskannya cara yang dipilih Antonio untuk meresmikan hubungan mereka.

“Kau siap?” Tanya Antonio, mengulum senyuman superiornya yang begitu mendebarkan.

Bian mulai pening oleh adrenalin dan rasa kebahagiaan sinting yang nyaris membuat kepalanya lepas dari lehernya.

“Ya. Bring it on!” Katanya terlalu bersemangat.

Antonio mengeluarkan amplop yang tadi dipilih Bian asal-asalan dan membuka isinya. Bian tersenyum lebar, sekarang rahang dan geliginya sakit karena digertakkan menahan gemas.

Dia meletakkan post-it terakhir di sisi nomor 6:

7. Would you be my boyfriend?♡

*

cw// mild anxiety and self-blaming.


“Yan, pacarmu sudah datang.”

Bian mendongak dari ponselnya dan melihat Antonio melangkah dari ujung lorong sedang menyapa beberapa teman kuliahnya dengan senyuman ramah di bibirnya—nampak rapi dan hangat dalam balutan kemeja gelap dan rambut yang disisir naik, memamerkan keningnya yang tinggi.

Dia sedang menoleh ke temannya, memperlihatkan garis rahangnya yang tajam dan figur wajahnya yang mendebarkan.

Bian tersenyum kecil, membereskan buku dan MacBook Air-nya. Di sisi tasnya ada kontainer makanan, terisi dua lunch box yang dikirimkan Bobby untuknya tadi, menjaga makanannya tetap hangat.

Antonio akhirnya menyudahi obrolannya dengan teman kuliahnya lalu menoleh ke Bian; detik mata mereka bertemu, senyuman Antonio merekah seperti kuncup mawar yang gendut dan indah.

Dia berlari kecil di lorong ke arah Bian, nyaris seperti anak kecil yang terlalu bersemangat bertemu teman mainnya.

Antonio langsung mengambil kontainer makanan dari tangan Bian. “Hai!” Sapanya ceria, aroma parfum maskulinnya lembut—seperti cokelat pahit yang memabukkan.

“Hai.” Balas Bian, masih merasa asing dengan fakta bahwa Antonio benar-benar menghampirinya untuk menjemputnya pulang.

Dia nampak santai, seperti Antonio biasanya. Tersenyum pada teman-teman Bian dan bertukar tos akrab pada beberapa teman Bian yang dikenalnya di kepanitiaan—dia nampak akrab, social butterfly.

“Bagaimana jika hari ini kita main di kontrakan? Dengam Dalkyum?” Tanyanya saat mereka berada di dalam lift, turun untuk pulang.

Langit Jakarta mendung; gelap dan kelabu sementara suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Bian sejenak ngeri, apakah Antonio membawa jas hujan atau payung?

Namun lelaki di sisinya sedang membawa kontainer makan mereka seraya bersiul santai. Rileks dan tenang walaupun langit bergemuruh.

“Sebentar lagi hujan.” Kata Bian, mencoba mengingatkan Antonio jika ternyata pemuda itu belum menyadari ancaman yang sedang mengintainya.

Antonio mendongak ke langit, mengangguk. “Makanya kita akan pergi ke kontrakan saja. Tidak masalah, 'kan?” Antonio menoleh, “Jika kau tetap ingin ke GI kita bisa ambil mobilmu dulu.”

Bian lekas menggeleng; dia ingin istirahat sebelum bertemu dokter dan membahas penelitian. Malam nanti dia harus begadang mengerjakan revisiannya. Jadi bersantai di kontrakan dan bermain dengan anjing peliharaan Yoga terdengar jauh lebih menyenangkan.

“Kita ke kontrakan saja. Makan siang dan bersantai.” Sahut Bian saat mereka menuruni tangga gedung kuliah menuju parkiran motor.

“Setuju.” Antonio menghampiri motornya, menyerahkan kontainer makan siang mereka ke Bian sebelum menaiki motornya dan memakai helmnya. “Yoga pergi dengan Bram jadi akan kembali nanti malam setelah aku menurunkanmu di kosan.”

“Baiklah.” Sahut Bian, mengatur posisi tas dan bawaannya sebelum naik ke motor Antonio.

“Ayo, sebelum hujan.” Katanya ceria lalu memutar kunci dan menyalakan mesinnya yang menderum lembut.

Bian menaiki jok belakang, tidak memakai helm karena Antonio tidak punya helm lain dan mereka tadi berangkat melewati jalan tikus yang dimaksud Antonio.

Jalannya tidak terlalu mengesankan kecuali karena jalan yang terlalu sempit, kaki Bian tersangkut pada ember yang diletakkan di depan rumah warga entah untuk apa dengan suara berisik. Antonio tidak menyadarinya karena itu terjadi tidak lebih dari 1 menit—terlalu cepat untuk disadari sensoris manusia.

Dia berusaha melepaskan ember dari kakinya,hingga motor bergoyang dan barulah Antonio menyadarinya nyaris frustasi namun benda itu tidak mau lepas dan terseret beberapa meter dari lokasi awal dengan pemiliknya yang berlari mengejar mereka.

“Embernya nyangkut!” Seru Bian nyaris merengek lalu akhirnya berhasil melepaskannya yang langsung diraih oleh pemiliknya yang nampak setengah marah dan setengah geli.

“Maaf, Pak!” Seru Bian, meringis sementara Antonio tertawa terbahak-bahak.

Antonio memacu motornya ke jalan sisi kampusnya yang rusak dan berkerikil, perlahan menghindari genangan air yang ada di jalan-jalan yang berlubang sementara dia bernyanyi ceria.

Bian di belakang, melindungi MacBook dan makan siang mereka dengan angin yang meniup rambutnya hingga berhamburan—udara terasa lembab dan tidak nyaman sebelum hujan.

“Kau tahu apa menu makan siang kita hari ini?” Tanya Antonio, mengendarai motornya dengan terampil menghindari jalan-jalan berlubang.

“Kurasa chicken katsu dengan saus teriyaki. Kau suka?” Balas Bian, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya melewati bahu Antonio agar pemuda itu bisa mendengarnya lebih baik.

“Aku suka apa saja yang gratis.” Antonio tertawa, mereka membelok ke jalan belakang Universitas Kristen Indonesia.

Melewati makam besar di sisi jalan dan rumah-rumah warga yang menempel dekat. Bian mengamati jalannya—menemukan bahwa tempat ini lengkap juga. Ada toko kelontong, ada warteg kecil yang ramai, ada warung dan ada tenda Chinese food.

Mereka membelok di depan SD dan Antonio berhenti, motornya tidak bisa diparkir di depan rumah kontrakan karena jalannya sempit maka warga memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong jadi tempat parkir sewaan.

Motor Antonio meluncur masuk, suara mesinnya menggema di bawah atap besi dan ruangan yang memantulkan suara. Antonio berhenti, Bian turun dari jok motornya dan menyingkir untuk memberikan ruang Antonio memarkir motornya.

Mesin dimatikan dan Antonio mengunci motornya sebelum melepas helmnya; mengibaskan rambutnya yang menempel di kepalanya karena helm dan menyugarnya. Dia turun dari motornya, mencabut kuncinya dan kemudian memasukkan lengannya ke helm full face itu hingga benda itu beristirahat di lekukan lengannya.

Dia mengulurkan tangannya yang kosong ke Bian. “Mana kubawa sisanya.” Katanya.

Bian menggeleng. “Aku bisa.” Katanya tersenyum. “Mulai gerimis, apakah tidak apa-apa?”

“Baiklah.” Antonio membalas senyumannya. “Ayo. Tidak apa-apa, jika kita bisa tiba dengan cepat lalu aku mandi semuanya aman. Tapi, kita tetap gunakan payung.”

Bian mengangguk, merogoh tasnya dan mengeluarkan payung sementara Antonio di depannya melangkah mendahuluinya.

Antonio baru menjejakkan kakinya di luar atap parkiran saat tiba-tiba saja hujan deras turun—begitu saja tanpa aba-aba. Semua orang yang tadi bersantai di jalanan berseru kaget dan bergegas membereskan diri lalu masuk ke dalam rumah.

Antonio berdiri di bawah hujan, kaget dan bingung. Tidak sempat menyelamatkan dirinya sama sekali. “Berengsek.” Seru Antonio marah, sedetik dia sudah basah kuyup oleh hujan deras dan Bian merinding.

“Kau bawa payung?” Tanyanya, sekarang terdengar getir dan penuh amarah hingga Bian bergidik takut oleh nada asing itu. “Cepat gunakan aku harus berlari sekarang.”

Bian mengangguk, bergegas mengeluarkan payungnya dan mengembangkannya. Antonio langsung berlari, nyaris meninggalkan Bian yang tergopoh-gopoh mengejarnya di bawah hujan deras. Dia mendengar Antonio terserang serentetan batuk keras yang terdengar menyiksa; kakinya goyah saat dia berusaha lari dan napasnya tersengal.

Bian merasakan tusukan rasa bersalah di hatinya. Jika saja dia tidak merepotkan Antonio hari ini dia mungkin tidak akan kehujanan. Baru minggu lalu dia berubah, sekarang dia menjadi perempuan lagi.

Musim hujan jelas adalah musuh abadi Antonio.

Bian berusaha mengejarnya hingga mereka tiba di depan pintu kontrakan Antonio. Pemuda itu menyelipkan kunci, terbatuk-batuk keras dan sesak napas sementara Bian berusaha memayunginya dan memayungi dirinya sendiri di bawah hujan yang begitu deras. Antonio mendorong pintu terbuka.

Tidak memedulikan Bian sama sekali atau bahkan anjing mungil hitam yang menyalak ceria saat dia pulang lalu mundur dan mendengking takut saat melihat ekspresinya, Antonio langsung melepaskan pakaiannya.

Di hadapan Bian yang berdiri kikuk di depan pintu sementara di luar sana, hujan badai mengamuk. Bian menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara apa pun menyaksikan Antonio melepas semua pakaiannya dan membiarkannya teronggok di lantai—menciptakan genangan air.

“Buat dirimu nyaman.” Kata Antonio dengan suata serak yang tercekik, “Aku—” Dia kehabisan napas, “Aku harus mandi.”

Dia kemudian terhuyung ke kamar mandi dengan celana basah dan membuat seluruh ruangan becek. Dia terbatuk-batuk, menyandarkan tubuh di kusen pintu kamar mandi, Bian melangkah mencoba membantunya namun Antonio mendorong tubuhnya sendiri berdiri dengan goyah sebelum membawa dirinya masuk dan membanting pintunya menutup dan menyalakan air.

Bian berdiri kikuk. Anjing kecil yang diduga Bian adalah Dalkyum, mendengking lirih. Dia bersyukur Yoga tidak ada di kontrakan saat kesialan ini terjadi.

Bian meletakkan bawaannya di lantai, meraih lap kaki yang diletakkan di depan pintu dan mengelap tetesan air. Dia meraih kaus Antonio yang basah dan meletakkannya di ember cucian sementara suara kucuran air terdengar dari kamar mandi.

Apakah dia terlambat? Apakah Antonio akan berubah menjadi perempuan lagi?

Bian menghampiri jemuran kecil mereka, melihat handuk biru dengan tulisan Nio di bagian tagnya.

Dia meraih handuk itu dan menggantungnya di pintu, mengangkat tangannya untuk mengetuknya dan memberitahu Antonio saat suara raungan terdengar: keras dan penuh kesakitan.

Bian terlonjak kaget, langsung menggedor pintu dan berusaha menyentakkannya terbuka namun benda itu terkunci. Bian mengumpat keras sementara dari dalam terdengar suara Antonio yang berdeguk-deguk, menahan sakit dan menahan jeritannya.

“Nio!” Serunya, menghantamkan kepalan tangannya dengan keras mengalahkan deru hujan yang menghajar atap kontrakan Antonio. “Buka pintunya, tolong!”

Hati Bian terasa nyeri, dia bersandar di pintu tidak bisa melakukan apa pun sementara suara Antonio terdengar dari dalam sana. Dia merasa bersalah, dia merasa segalanya terjadi karena dirinya. Jika saja mereka lebih cepat pulang, seandainya saja Bian menahan Antonio untuk tidak keluar dari ruangan parkir dengan alasan apa pun sehingga dia tidak kehujanan.

Semua ini tidak akan terjadi.

Rasa benci aneh mulai terbit di hatinya namun dia berusaha menepisnya, dia yakin Antonio sedang membutuhkan bantuannya. Dia menghambur ke kamar Antonio—atau dia pikir begitu karena aromanya persis seperti aroma tubuh Antonio dan membuka lemarinya.

Dia menarik laci dalam terbuka dan menemukan pakaian dalam perempuan yang sejenak membuatnya risih dan kikuk. Haruskah dia melakukannya? Atau membiarkan Antonio sendiri saja? Dia belum pernah melihat pakaian dalam perempuan lain selain milik ibunya seumur hidupnya, dan dia anak satu-satunya.

Dia mengulurkan tangan, meraih bra dan celana dalam katun yang lembut. Sangat berbeda dengan pakaian dalamnya sendiri dan merasa sangat berdosa karena melakukannya. Dia meraih kaus pertama Antonio yang ditemukannya dan membungkus pakaian dalam itu di sana agar dia tidak perlu melihatnya.

Di kamar mandi, Antonio hening.

Bian menghampiri kamar mandi, mengetuknya. “Nio? Kau oke?”

“Ya.” Sahut suara Antonio dan Bian menahan napas—jantungnya melonjak hingga membuatnya mual. “Aku tidak apa-apa. Air panasnya tepat waktu,” dia terdengar parau.

Pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba dan handuk yang diletakkan Bian di gagang pintu terjatuh. Bian refleks menunduk, meraih handuk itu sebelum mendongak dan berpandangan langsung pada Antonio dengan tubuh atas yang basah hanya dalam balutan celana dalamnya.

Rambutnya menempel ke keningnya, wajahnya merah padam karena suhu dan uap panas menguar dari kamar mandi mereka yang nampak aneh karena begitu sederhana namun dengan pemanas air dipasang di bagian jendela atasnya—benda itu nampak terlalu mewah dengan keseluruhan konsep kamar mandinya.

Dan dia masih lelaki.

“Oh.” Bian langsung mundur selangkah dari tubuh Antonio yang memancarkan kehangatan yang membuatnya bergidik karena perbedaan suhu antara Antonio dan keseluruhan ruangan. “Kau tidak jadi perempuan?” Tanyanya, gugup karena berhadapan dengan tubuh setengah telanjang (atau nyaris telanjang?) Antonio.

“Ya.” Antonio menerima handuk dari Bian dan mengenakannya di kepala, nampak lega namun juga siaga. “Tapi dadaku agak lembek,” dia menyentuh dadanya sendiri—merasakan massanya dengan telapak tangan dan gerakan itu membuat Bian kikuk.

“Aku takut malam ini aku mendadak berubah atau apa, jadi kurasa aku akan pulang ke Tangerang saja.” Dia membersit, “Aku akan menelepon Kak Jin.”

”... Kosku.” Bisik Bian mencicit tanpa bisa menahan diri.

Antonio mendongak, menatap Bian yang mengerjap—kaget sendiri pada kata-katanya barusan. “Maaf, Kak, apa?” Tanyanya parau, dengan setengah bagian handuk menutupi wajahnya.

“Kosanku... bebas.” Katanya lagi, mengedikkan bahu berusaha nampak tidak peduli walaupun jantungnya berdebar kacau balau. “Daripada kau berkendara jauh ke Tangerang dalam kondisi seperti ini, kau bisa... menginap di kosanku saja.”

Mereka berpandangan, Antonio nampak kaget dan kebingungan sementara Bian ingin mendadak ada sebuah lubang besar di hadapannya lalu melompat ke sana sehingga dia tidak akan bertemu Antonio lagi selamanya.

“Memangnya.... kau tidak risih? Jika terbangun tengah malam menemukan gadis tidur di kamarmu?”

Bian menatapnya, menggeleng. “Akan terasa seperti sleep over yang biasa dilakukan kakak sepupu perempuanku yang sangat dekat denganku. Aku terbiasa tidur dengannya dan menemaninya belanja serta segala macam.” Dia menggaruk tengkuknya.

“Tapi tetap saja pakaian dalam perempuan bukan sesuatu yang pernah kusentuh sama sekali, maaf.” Dia mengulurkan gumpalan pakaian Antonio yang digunakannya untuk membungkus pakaian dalamnya.

Antonio menerimanya, membukanya dan menemukan pakaian dalam perempuannya di sana sebelum mendongak ke Bian. “Aku juga punya kisah lucu tentang mens cup jika kau ingin membuat sleep over party denganku.” Dia tersenyum separo namun di matanya ada kilau luka—Bian tahu krisis identitasnya pasti sangat menganggu sekarang.

“Dan aku jelas tidak bisa di rumah,” dia mendesah. “Yoga belum tahu. Faktanya, tidak ada yang tahu selain kau, Kak Jin dan Kak Hosein.” Dia menatap Bian, matanya berkilau oleh permohonan yang membuat hati Bian terasa diremas-remas.

“Aku bodoh sekali dan sial, sangat sial.” Keluhnya, menatap jendela—ke arah hujan yang mengamuk. “Bagaimana bisa kita tidak menyadari hujannya?” Dia mengelap tubuhnya dengan handuk di hadapan Bian yang merona hingga ke batas rambutnya.

Lalu Antonio melangkah keluar dari kamar mandi, Bian menelan ludah dan berdiri di sana sementara Antonio masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. “Aku akan berganti baju sebentar, kau duduklah atau makan sesuatu kau kelihatan seperti akan pingsan.” kata Antonio dari dalam.

Apakah dia benar-benar sebodoh itu hingga tidak menyadari apa yang baru saja dilakukannya pada Bian?

Tidakkah dia menyadari bahwa “nampak seperti akan pingsan” Bian itu karena dia terlalu kaget melihat betapa santainya Antonio menelanjangi diri di hadapannya?

Bian menatap Dalkyum yang berbaring di atas perutnya di ambang pintu kamar Yoga, dagunya diletakkan di lantai dan dia nampak seperti sepotong ayam bakar; matanya berkilau dan dia mendengking lirih.

“Majikanmu aneh.” Bisik Bian pada anjing itu dan Dalkyum mendengking keras sekali seolah setuju dengannya. “Paling aneh, ya.” Tambah Bian, menyentuh dadanya sendiri yang berdebar keras.

Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan ingatan tubuh nyaris telanjang Antonio yang basah oleh air hangat di kepalanya—mendengung seperti sekumpulan lebah dan menyengat otaknya berkali-kali hingga dia pening.

“Berengsek.” Bisiknya di bawah napasnya, memijat pelipisnya.

*


“Trims, Nio.”

Nio tersenyum, menyandarkan lengannya di roda kemudi sementara Arfabian membereskan barang-barangnya di kursi penumpang.

Tadi mereka juga mampir ke apartemen Bobby untuk menitipkan makanan yang dibeli Arfabian untuknya. Nio sebenarnya ingin bertemu muka, ingin berkenalan secara langsung namun saat Arfabian meneleponnya, panggilannya dialihkan dan Bobby mengiriminya pesan bahwa dia sedang ada Zoom meeting sehingga mereka menitipkan makanan di keamanan sebelum pulang.

Mereka tidak terlalu mengeksplor Bandung kemarin, hanya makan dan beristirahat. Berkeliling dengan mobil sementara Afrabian memberi tahu Nio semua tempat kenangan masa kecilnya di sana—sekolahnya, tempat nongkrong-nya dan juga jajanan-jajanan kesukaannya.

Tempat-tempat wisata penuh, Nio yang hanya ingin lewat di Jalan Braga pun harus mengurungkan niatnya. Jadi mereka menjauhi pusat-pusat keramaian, mengemudi perlahan di pinggiran Bandung menikmati suasana.

“Kembali kasih.” Sahut Nio ceria, “Sudah semuanya?”

Arfabian mengangguk, meraih bunga yang tadi dibelikan Nio saat mereka melewati toko bunga di jalan. Dia langsung berhenti dan turun tanpa mengatakan apa pun pada Arfabian kembali dengan dua puluh tangkai mawar dengan wajah merona.

“Aku tadi mencari bunga freesia tapi mereka tidak punya,” katanya dan Arfabian menerima bunganya dengan wajah bingung. “Aku juga tidak tahu apakah kau suka bunga atau tidak, tapi aku ingin membelikan sesuatu yang indah dan harum.”

Arfabian tertawa kecil. “Aku tidak terlalu suka bunga, tapi tidak apa-apa.” Dia memeluk bunganya di dada, nampak begitu indah hingga hati Nio nyeri bagaimana dua puluh mawar itu membuat Arfabian nampak jauh lebih menakjubkan.

Dia seperti peri—tidak nyata. Nio selalu meraih tangannya, meremasnya lembut hanya agar dia yakin Arfabian tidak akan lenyap dari hadapannya.

“Kenapa freesia?” Tanya Arfabian saat Nio menyelipkan dirinya masuk ke kursi pengemudi setelah membeli bunganya. Arfabian memangku buketnya—Nio hanya membungkusnya dengan kertas cokelat dan pita, tidak mengizinkan florist-nya untuk memberikan ornamen-ornamen lain.

Nio menggaruk pelipisnya, menaikkan kacamata hitamnya sebelum berdeham. “Karena freesia adalah bahasa bunga untuk 'percaya'.” Dia menatap Arfabian yang mengerjap, kaget.

“Aku ingin kau 'percaya'. Aku ingin kita saling 'percaya'.” Dia menginjak gas dengan lembut, bergabung kembali dengan lalu lintas sementara aroma semerbak lembut mawar menghambur di udara kabin mobil.

“Walaupun benda itu begitu mahal setelah aku merusaknya, aku ingin kau percaya bahwa aku tidak akan melakukan hal yang sama dua kali.” Nio melirik Arfabian yang sekarang menunduk menatap bunga di pangkuannya.

Bukan hal terbaik yang pernah dilakukan Nio. Dia berdebat dalam hati sepanjang perjalanan tentang haruskah dia membelikan Arfabian bunga? Atau benda itu nampak terlalu feminim untuknya?

Namun dia lega, Arfabian mengapresiasi tindakannya.

“Tidak ada tenggat waktu!” Nio bergegas menambahkan saat suasana di dalam mobil berubah menjadi tidak enak. “Aku akan terus berusaha memperbaikinya, kau boleh berusaha untuk percaya padaku lagi—tidak peduli berapa lama, aku akan menantinya.”

Arfabian menatapnya, mengerjap. “Jika kau akhirnya bosan?”

Nio mengedikkan bahu, “Aku tidak akan berhenti berusaha sampai aku mendapatkan apa yang kuinginkan, Kak.” Dia kemudian berhenti di depan lampu merah yang panas sebelum mengulurkan tangan dan meraih tangan Arfabian yang hangat.

“Jangan berpikir serendah itu tentangku.” Dia tersenyum. “Aku ini blak-blakan, aku akan mengatakan padamu apa yang aku sukai dan tidak kusukai begitu saja. Kau tidak perlu banyak menebakku.”

Arfabian diam dan Nio memutuskan untuk berhenti mendesaknya. Mereka kembali meluncur di jalanan Bandung—bernostalgia tentang masa kecil dan remaja Arfabian.

“Kau mau mampir?” Tanya Arfabian di masa sekarang.

Nio menatapnya, “Kau ingin aku mampir?”

Arfabian membalas tatapannya. “Mungkin.”

“Aku tidak terima mungkin: ya atau tidak, Kak.”

Arfabian tersenyum. “Baiklah. Ya.” Dia menjawab lebih tegas. “Aku ingin kau mampir sebentar.”

Nio terkekeh, “Oke.” Dia kemudian mematikan mesin mobil Danny, menarik rem tangannya dan melepas sabuk pengamannya—mereka tiba di Jakarta kembali sebelum malam terbit.

Arfabian ada bimbingan besok pagi dan Nio tidak ingin membuatnya kelelahan sehingga mereka kembali lebih awal ke Jakarta setelah Nio berhasil membuat Arfabian berjanji akan mengajaknya berjalan-jalan di Bandung suatu hari nanti.

Nio mengunci mobilnya sebelum mengikuti Arfabian ke dalam kosan. Arfabian membawa bunganya di satu tangan dan tangannya yang lain membuka kunci kosannya, dia mempersilakan Nio memasuki kamarnya.

Nio melepas sepatu dan kaus kakinya sebelum memasuki kamar Arfabian yang rapi dan beraroma lembut seperti aroma tubuhnya. Nio mendudukkan diri di lantai yang dilapisi karpet lembut sementara Arfabian meraih gelas tinggi, mengisinya dengan air untuk meletakkan bungannya.

Nio mengamati saat Arfabian meletakkan gelas itu di meja belajarnya, menempel ke dinding agar tidak terguling karena berat bunga yang dibawanya. Kemudian Arfabian pamit ke dalam kamar mandi, keluar dengan mengenakan pakaian rumah dengan wajah basah dan air yang menetes dari ujung-ujung rambutnya.

Dia nampak luar biasa.

Nio menepuk tempat kosong di sisinya saat Arfabian mengeringkan wajah dan tangannya. Arfabian duduk di sisinya, mendesah saat meluruskan kakinya. Ujung jemari kaki mereka bersentuhan.

“Kau lelah?” Tanya Nio lembut.

“Lumayan.” Arfabian terkekeh lirih. “Tapi aku senang karena bisa makan cilok kesukaanku.” Dia menoleh, tersenyum pada Nio yang hatinya terasa diremas-remas melihat senyumannya.

“Jadi, terima kasih.” Tambahnya, tersenyum semakin lebar hingga pipinya nampak begitu menggemaskan dan kerut-kerut serupa kipas terbit di sudut matanya.

Dia nampak sangat menyenangkan; seperti secangkir cokelat pekat di musim hujan, seperti aroma rumput basah yang baru dipotong, seperti sinar matahari setelah hujan, seperti seekor anak anjing yang menyalak ceria, seperti kuncup bunga yang merekah. Arfabian adalah segala hal kenyamanan di dunia ini; segala hal yang Nio sukai. Mendesah berat, dia tidak sudi lagi menahannya. Maka dia mengulurkan tangannya untuk meraih tengkuk Arfabian.

Dia menyentuh Arfabian dengan lembut, seolah sedang menyentuh kelopak lotus yang rapuh di tangannya, takut akan meremukkan Arfabian dalam sentuhannya. Mereka berpandangan dan jantung Nio berdebar—begitu kuat sehingga dia malu Arfabian mungkin mendengarnya.

“Kau indah sekali,” bisik Nio lembut. “Aku boleh menciummu?”

Arfabian bisa saja menonjok Nio sekarang, dia sudah siap. Namun alih-alih, pemuda itu mengangguk, perlahan dan kikuk dengan rona merah muda di wajahnya lalu memejamkan matanya.

Maka Nio merunduk, melabuhkan bibirnya di bibir Arfabian yang terkuak.


Bian tidak pernah dicium.

Dan jelas belum pernah dicium seperti bagaimana Antonio menciumnya—bibirnya terasa lembut dan basah di bibirnya, menempel sempurna seolah diciptakan untuk satu sama lain.

Aroma Antonio begitu melekat di tubuhnya setelah seharian bersama—menempel di setiap serat pakaiannya dan di telapak tangannya. Sekarang dengan wajahnya menempel di wajah Bian, aromanya jauh lebih menakjubkan. Mengisi otak dan paru-parunya penuh-penuh hingga dia sejenak pusing.

Lidah Antonio membelai bibir bawahnya, Bian meresponsnya dengan membuka mulutnya sehingga lidahnya menyelip masuk. Lembut dan begitu penuh perhatian; jemari Antonio di tengkuknya terasa hangat dan memanas. Dia menyentuh Bian dengan begitu lembut—selalu penuh kehati-hatian seolah Bian adalah benda pecah-belah yang harus diperlakukan dengan perhatian ekstra.

Diistimewakan secara emosi terasa asing bagi Bian. Dia belum pernah diperlakuan secara halus dan lembut, dikasihi dan disayangi seolah dia adalah benda paling berharga selain dari keluarganya. Antonio adalah segala hal asing yang menakjubkan bagi Bian.

Hal-hal eksotis yang Bian ingin terjuni. Dia nampak lembut, nyaman sekaligus mendebarkan. Sikapnya di sekitar Bian, caranya bicara, bagaimana dia selalu membuat Bian tertawa begitu saja tanpa benar-benar berusaha, bagaimana dia dengan keras kepalanya tetap berada di sisi Bian tidak peduli apa pun yang Bian lakukan untuk mengusirnya.

“Kau segala hal yang kusukai di dunia ini.” Bisik Antonio parau saat bibir mereka berpisah, menempelkan keningnya di kening Bian dan napasnya menderu, membelai wajah Bian dengan lembut.

Dia ingin mengatakan hal yang sama, namun terlalu takut untuk melakukannya. Takut jika dia membuka dirinya, dia akan terjebak dan tenggelam terus. Dia memilih diam, membiarkan Antonio mengecup setiap inci wajahnya dengan pemujaan yang membuat hatinya berdesir.

Antonio mencium pipinya, pelipisnya, keningnya, kelopak matanya, ujung hidungnya, puncak kepalanya—dia mendaratkan ciuman di semua tempat. Menyentuh Bian dengan jemarinya yang hangat.

“Aku sayang sekali padamu,” bisiknya, berbaring di sisi Bian dengan satu tangannya menjadi bantalan kepala Bian dan tangan lainnya memeluk pinggangnya hangat.

Bian tersenyum. “Aku juga.” Bisiknya.

“Aku boleh pulang sekarang?” Tanya Antonio dan tertawa saat Bian mengeratkan pelukannya, melarangnya pergi.

Mereka berbaring di ranjang, bersisian menonton televisi sejak tadi setelah menyelesaikan ciuman mereka. Antonio duduk bersandar di kepala ranjang dengan Bian bersandar di bahunya sebelum mereka akhirnya berbaring berdampingan—aroma tubuh Antonio memenuhi paru-paru Bian, membuatnya mabuk.

Bian ingin di posisi ini lebih lama lagi, merasakan kedua lengan Antonio di tubuhnya dan napasnya di rambutnya. Dia ingin memiliki Antonio untuk dirinya sendiri tanpa rasa takut yang mencengkeram bagian belakang kepalanya tiap kali dia memikirkannya.

Tiap kali dia memikirkan betapa dia sangat menyukai Antonio. Takut yang membuatnya terserang vertigo ringan. Takut jika suatu hari dia membuka dirinya dan membiarkan Antonio masuk, pemuda itu akan meninggalkannya, begitu saja.

Tangan Antonio membelai bagian lengan atasnya dengan lembut—naik turun dan membentuk pola-pola melingkar yang menenangkan seraya berdendang lembut di bawah napasnya, membuat Bian mengantuk.

“Kau mengantuk,” Antonio terkekeh serak. “Istirahatlah, aku tidak akan ke mana-mana besok pagi. Aku akan datang lagi.”

Tadi Danny menelepon Antonio, mengatakan bahwa mobilnya ditinggal saja di Bian karena dia akan kembali bersama Will dan membawanya sendiri. Jadi Antonio akan pulang dengan motornya. Bian sudah meletakkan helm Antonio di sisi pintu, kapan pun dia siap pulang.

Bian yang tidak ingin melepaskannya.

Bian ingin hari ini tidak berakhir, dia ingin Antonio tetap bersamanya dan bahkan mengulang hari ini lagi dari awal. Dia takut besok jika dia terbangun, Antonio sudah berubah menjadi dingin dan berjarak lagi.

“Bagaimana jika besok aku menjemputmu ke kampus?” Tanyanya di rambut Bian, menghirup aromanya dengan intim hingga seluruh tubuh Bian berdenyar nikmat.

“Boleh.” Sahutnya, merasa bersalah karena telah mengambil begitu banyak hari ini dari Antonio—memonopolinya untuk keegoisan Bian sendiri.

“Baiklah. Jam berapa?”

“Delapan.”

“Aku akan di sini pukul tujuh jadi kita bisa sarapan dulu.”

Bian tersenyum di dada Antonio. “'Ke.” Katanya.

Antonio mendesah, mengecup puncak kepalanya lagi. “Apa yang harus kulakukan padamu.” Gumamnya dengan nada lemah yang menggemaskan hingga hati Bian menghangat.

“Kak,”

“Hmm?”

“Jadilah pacarku.”

Jantung Bian mencelos sebelum berdebar dengan suara keras, mendobrak rusuknya hingga dia terkesirap menahan sakit tidak nyata yang diciptakan jantungnya.

“Tidak,” katanya kering—tangannya dingin oleh rasa takut dan insecure yang nyata; merambat seperti seekor laba-laba berbulu di punggungnya, meninggalkan jejak-jejak sedingin es yang mengigit. “Belum.”

Antonio mendesah, mengeratkan pelukannya. “Apa yang membuatnya berat, Kak?” Tanyanya.

Bian tidak mau menjelaskan. Dia tidak ingin membiarkan Antonio mengupasnya seperti sepotong pisang ranum—menelanjangi emosinya hanya untuk mendapati lelaki itu pergi darinya.

“Nanti aku ceritakan, suatu hari.” Bisik Bian, “Sekarang, belum.”

Antonio mengangguk, “Baiklah.” Gumamnya, memeluk Bian lebih dekat ke hatinya sehingga Bian bisa mendengar detak jantungnya yang kacau, kaget karena Antonio sama gugupnya dengannya.

“Maaf, aku gugup.” Bisik pemuda itu dan Bian memejamkan mata—mendengarkan detak kacau itu dan meresapinya. “Kau membuatku gugup.”

“Maaf.” Bisik Bian dan Antonio tertawa.

“Tidak, tidak. Kau membuatku gugup di bagian yang terasa menyenangkan.” Dia membelai rambut Bian lembut.

“Tidak,” sela Bian; sedikit gemetar karena rasa takut yang menjalar di punggungnya; membuat jalur-jalur dingin mungil seperti sungai. Membuatnya gemetar hingga Antonio sontak memeluknya lebih erat, berpikir dia kedinginan. “Maaf karena membuatmu membuang-buang waktu.”

Antonio mengerutkan alisnya, dia mendorong Bian di pelukannya dengan lembut berusaha menatap wajahnya namun Bian menghindarinya maka Antonio kembali memeluknya, kali ini jauh lebih hangat dan mendebarkan.

“Jangan.” Katanya, sedikit tegas. “Jangan pernah sekali pun berpikir aku sedang membuang-buang waktuku bersamamu. Aku sedang memberikanmu hadiah—sesuatu yang tidak mungkin kuminta kembali. Aku memberikanmu waktuku, kau tidak pernah membuatku merasa aku sedang membuang-buang waktu.

“Aku sedang berusaha membuatmu percaya padaku, tolong izinkan aku.”

*


Bian menguap kecil, menatap layar ponselnya sedang berseluncur di halaman sosial medianya seraya menunggu Antonio.

Kemarin saat mereka mengobrol, Antonio bilang kontrakannya tidak jauh sama sekali hanya melewati jalan tikus rahasia sempit dan menyeberang jalan besar tapi kenapa dia lama? Bian melirik jam tangannya, baru pukul enam kurang sepuluh menit tapi Bian mulai anxious.

Dia biasa tiba di gereja pukul setengah tujuh tepat agar bisa mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya dan dengan kemacetan biasanya, dia takut mereka akan terlambat dan Bian tidak memiliki kesempatan untuk memilih kursi kesukaannya—di depan, sehingga dia bisa melihat Romo yang memimpin Misa lebih jelas dan mendapat komuni pertama. Biasanya saingannya adalah para sesepuh yang ramah sekali padanya, beraroma lembut orang tua dan bedak bayi.

Bian baru saja akan mengirimkan pesan pada Antonio saat Honda CRV berhenti di depan kosannya. Dia mengerutkan alis, menunduk kembali akan mengirim pesan pada Antonio namun status ruang obrolannya berubah menjadi typing... sehingga Bian berhenti, menunggu.

Ayo, aku di depan.

Bian mengerutkan alis semakin dalam, mendongak dan beranjak dari kursinya. Tidak ada orang yang datang. Di gerbang yang setengah terbuka karena ibu kosnya sedang pergi pun tidak ada siapa-siapa.

Dia mengetik balasan: Masuk saja. Balasannya langsung tiba: Kita buru-buru, kan?

Maka Bian bangkit, menuruni tangga teras ke halaman parkir. Dia membuka gerbang kosan yang berdentang berisik, menoleh ke jalan—ke arah CRV yang tadi berhenti dan melihat Antonio berdiri di sisi mobil yang dikenali Bian sebagai mobil Danny.

Bian mengerjap bingung.

“Kau... Meminjam mobil Danny?” Tanyanya bingung. “Jika kau mau pakai mobil hari ini, kau, 'kan, bisa pakai mobilku.”

Antonio mengedikkan bahunya santai, “Tidak jadi kejutan, dong?” Dia menyugar rambutnya; nampak segar dengan ujung-ujung rambut masih sedikit basah terbalut kemeja slim-fit hijau hangat dan celana jins longgar, waits bag melintang di tubuhnya.

Tidak ingin berdebat karena Bian takut terlambat, dia bergegas mengunci pagar kosan dan menghampiri pintu penumpang. Antonio meluncur ke arahnya, berlari mengitari bagian depan mobil dan berhasil meraih pintu sedetik sebelum Bian dan membukakannya untuk Bian yang tertawa kecil.

Are we living in Renaissance era or something?” Tanyanya geli namun tak ayal menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil yang pekat beraroma seperti parfum dan sabun mandi Antonio—Bian menghirup napas dalam-dalam, mendesah senang.

Never too late to be romantic,” sahut Antonio kalem, “Awas kakimu.” Tambahnya sebelum menutup pintu Bian dan berlari kembali melewati bagian depan mobil untuk ke pintu pengemudi.

Bagian dalam mobil Danny secara mengejutkan rapi dan bersih, mirip seperti penampilan Danny yang rapi dan selalu licin, harum. Aura seseorang yang tajir melintir menurut Jimmy. Aroma parfum mobil lembut yang tidak menusuk, interior yang tidak diutak-atik, jok lembut dan bersih. Tidak ada kotoran atau sisa-sisa bungkus makanan. Dia teringat mobilnya sendiri, malu.

Dia harus membereskannya nanti sebelum Antonio mendadak meminjam mobilnya untuk pergi dan menemukan permen dari tahun 2018 ada di dasbornya.

Pintu pengemudi terbuka, Antonio menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam mobil—membawa aroma parfumnya, keringat dan selapis aroma segar sabun mandi. Bian menghela napas—aroma keringat Antonio terasa akrab sekarang dan entah sejak kapan.

“Oh, ini pakaianmu kemarin.” Bian menyerahkan kantung yang sejak tadi dibawanya. “Kau buru-buru kemarin, aku lupa membungkus pakaianmu dan baru kusadari saat mengambil binatu semalam. Jadi mereka sudah harum dan bersih.”

Antonio menerima kantung kertas itu dan mengintip isinya. “Trims, Kak.” Dia tersenyum lalu meletakkan kantungnya di jok belakang mobil sebelum kembali memfokuskan diri ke roda kemudi.

“Ayo,” Antonio memasang sabuk pengamannya dan membenahi spion tengah mobil dan menyalakan mesinnya yang menderum lembut, dia melirik spion kanan dan memutar roda kemudi dengan lembut.

“Aku baru tahu kau bisa mengemudi,” Bian memulai saat mereka melewati jalanan kampung menuju jalan besar. “Aku pikir kau tidak bisa.”

“Bisa. Dipaksa Kak Jin saat aku SMA.” Antonio bersandar di kursinya, mengemudi dengan satu tangan. “Tapi aku lebih suka dengan sepeda motor, jalanan di Jakarta ini terlalu menyusahkan jika dilalui dengan mobil.”

Bian mengangguk, setuju. Dia harus berangkat sangat pagi jika ingin pergi ke mana-mana jika tidak mau terjebak kemacetan. Dan membayangkan bisa menggunakan motor, menyelip melewati kemacetan terasa sangat menyenangkan. Belum lagi keuntungan untuk melewati jalan pintas yang sempit. Namun Bian tidak bisa mengendarai motor, kata ayahnya terlalu berbahaya.

Mobil meluncur ke jalan besar dan Antonio merileks saat jalanan padat namun lancar, tidak seperti ketakutan Bian lalu-lintas di depan UKI Cawang hari itu tidak terlalu menyebalkan mereka bisa putar balik dengan lancar sebelum Antonio menginjak gas sedikit lebih dalam ke gereja.

“Aku tahu kau tidak suka terlambat.” Antonio tersenyum, mengemudi dengan tekun dan mulus—sedikit memacu kecepatan mobilnya di jalan saat jarum jam menunjukkan pukul enam lebih dua puluh menit.

“Danny membawakanmu mobil tadi?” Tanya Bian saat mereka mendekati gereja yang halaman parkirnya mulai ramai.

“Tidak, dia membawa motor Yoga semalam dan meninggalkan mobilnya untukku.” Antonio tersenyum lebar, “Aku sudah membayarnya dengan baik, kok. Tenang saja.”

Bian tersenyum saat mobil membelok ke halaman Gereja Santo Antonius Padua yang mulai ramai oleh para sepuh seperti dugaan Bian. Jarang sekali dia menemukan anak muda saat ibadah pagi maka teman mengobrolnya biasanya hanya para nenek dan kakek yang ramah dan hangat.

Ini pertama kalinya Bian datang ke gereja bersama seseorang setelah sejak sekian lama selalu sendirian karena Bobby dan Jimmy keduanya adalah Protestan.

“Padahal kau bisa bilang padaku ingin menggunakan mobil dan kita bisa pakai mobilku alih-alih mengerjai Danny, memaksanya pulang dengan motor.” Bian melepas sabuk pengamannya dan Antonio terkekeh.

“Memang itu salah satu tujuannya, mengerjai Danny.” Dia meraih tasnya, mengalungkannya di bahunya lalu mencabut kunci mobil. “Ayo turun.” Ajaknya dan membuka pintu bersamaan dengan Bian.

Dia menunggu Bian tiba di sisinya sebelum mengunci mobil dan mereka melangkah bersama ke dalam gereja yang mulai ramai. Bian bersyukur masih ada kursi yang kosong di baris kedua maka dia bergegas meraih buku teks Misa, mencelupkan jemarinya ke air terberkati di depan, membuat tanda salib sebelum meluncur ke dalam, matanya terpaku di kursi yang kosong.

Bian baru sadar dia meninggalkan Antonio saat dia duduk setelah berlutut di depan altar dan menoleh, kehilangan Antonio yang sedang berjalan di lorong dengan buku doa di tangannya, nampak tenang dan nyaris berkilau. Antonio tersenyum padanya sebelum berlutut di depan altar, membentuk tanda salib dengan mata terpejam beberapa saat dan bangkit.

Dia menghampiri Bian dan duduk di sisinya, “Memang jika dibandingkan Tuhan, aku tidak ada apa-apanya, ya?”

Bian meringis. “Maafkan aku, berebut tempat duduk dengan para sepuh itu susah-susah gampang.” Dia menggeser duduknya sehingga Antonio bisa duduk dengan nyaman.

“Dimaafkan.” Antonio membuka tasnya dan mengeluarkan rosario dari dalam sana, mengalungkannya di lehernya lalu mencium salibnya serta memasukkannya ke dalam kemejanya.

Bian melakukan hal yang sama sebelum keduanya bersidiam, mempersiapkan diri untuk mengikuti ibadah. Bian senang saat menyadari Antonio memiliki kebiasaan ibadah yang sama dengannya sehingga dia tidak perlu merasa rikuh untuk menjelaskan bahwa begitu memasuki gereja, dia tidak mau mengobrol lagi.

Dia mengeluarkan Alkitab dari dalam tasnya dan menyadari Antonio sedang membuka Alkitab digital di ponselnya; membaca dengan khusyuk tidak memedulikan Bian sama sekali di sisinya. Dia pikir Antonio sedang mengirim pesan atau membuka sosial media, siapa tahu ternyata dia sedang membaca Alkitab—sama seperti Bian.

Hatinya menghangat, senang karena memiliki teman gereja pertama yang ternyata adalah teman yang tepat.

Tuhan Yesus, bisiknya saat ibadah dimulai dipimpin Romo di altar, menyadari sepenuhnya dia tidak akan bisa melarikan diri dari Antonio sekarang, dia tenggelam terlalu dalam.

Dan Bian tidak ingin diselamatkan.


“Kau ingin sarapan dulu?” Tanya Arfabian saat mereka akhirnya keluar dari gereja.

Karena mereka duduk di depan mereka terpaksa harus menunggu hingga jemaat di belakang membubarkan diri sebelum bisa keluar. Mereka duduk di depan altar, mengobrol sementara Romo dan anak-anak pelayanan membereskan diri. Suara percakapan rendah terdengar di sekitar mereka saat mereka mengobrol menunggu jemaat keluar dari gereja.

Nio senang. Ini pertama kalinya dia pergi ke gereja bukan dengan Jin atau sendirian dan dia senang karena saat dia mengenakan rosario di leher, dia menyadari Arfabian ternyata memiliki kebiasaan yang sama.

Dia senang pada fakta bahwa mereka adalah teman ibadah yang tepat dan cocok, Arfabian tidak mau diganggu setelah mengenakan rosario—tanda bahwa dia menyiapkan diri untuk ibadah. Sama seperti Nio yang sudah diajari untuk melakukan itu sejak masih kanak-kanak oleh ibunya.

Mereka fokus ke ibadah mereka, tidak mengobrol satu sama lain dan Arfabian bahkan mendengarkan khotbah dengan khusyuk sekali—tidak seperti Jin yang sibuk menolak panggilan yang masuk ke ponselnya atau teman gereja pertama Nio dulu yang sibuk berusaha mengajaknya mengobrol karena bosan.

Nio punya teman ibadah baru yang sangat cocok dengannya.

“Aku sudah sarapan,” Nio meraih kunci mobilnya, mengamati tempat parkir yang sedang ramai jemaat membubarkan diri dan meraih tangan Arfabian, mengajaknya menunggu sejenak.

“Sebentar, sedang ramai.” Nio menatap lapangan parkir, menemukan mobilnya terjebak di dalam dan mustahil keluar sebelum mobil dan motor lain pergi. Dia baru menyadari dia sedang menggenggam tangan Arfabian saat kakak tingkatnya itu berdeham kikuk.

“Maaf!” Serunya, bergegas melepaskan tangannya dan merasa wajahnya menghangat.

“Dimaafkan.” Sahut Arfabian lirih.

“Kau ingin sarapan?” Tanya Nio kemudian, melepaskan rosario dari lehernya dan menyimpannya kembali. “Sebelum kita membeli cilok yang kauinginkan.”

Arfabian terkekeh. “Ini terlalu pagi untuk pergi ke mana pun, ya?” Tanyanya, mendongak ke langit.

Nio menggeleng. “Tidak terlalu pagi untuk cilok,” tandasnya sebelum menoleh ke mobil mereka, menyadari sekarang dia bisa keluar. “Ayo, sebelum terlalu siang.”

Arfabian mengerutkan alis. “Tidak perlu buru-buru, penjual cilok di depan SD dekat kosku juga buka.” Katanya, menyusul Nio yang melangkah ke mobil; menekan tombol buka kunci dan mobil Danny merespons dengan suara dan kelip lampu.

“Katamu cilok di Jakarta tidak enak,” Nio menutup pintu di sisinya dan menoleh, mengamati Arfabian yang menyelipkan tubuhnya ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengamannya, mengarahkan penyejuk ke wajahnya.

“Yah, memang. Tidak ada yang seenak cilok bumbu kacang di Bandung.” Arfabian mengedikkan bahu.

“Nah,” Nio menyalakan mesin mobil dan menurunkan rem tangan, mulai memutar mobilnya dengan perlahan—berdebar karena dia akan melemparkan bomnya ke arah Arfabian yang masih menyejukkan wajahnya di penyejuk.

Dia berharap dia bisa menyenangkan Arfabian dengan memberikan pemuda itu apa yang diinginkannya walaupun Danny mengatainya sinting tadi pagi dan Yoga terbahak-bahak.

“Jika besok dia ingin rumah di Mars??” Tanya Danny yang berbaring di atas kasur gulung di depan televisi bertelanjang dada setelah mandi.

“Jika bisa, akan kuberikan.” Sahut Nio kalem lalu mengaduh saat sebuah bantal dilemparkan ke wajahnya.

“Kau benar-benar sinting!” Yoga terbahak-bahak, Dalkyum menyalak ceria mendengar suara tawanya—seolah ikut tertawa bersamanya.

“Apa yang sedang kau buktikan?” Tanya Danny kemudian dan Nio menghembuskan napas keras.

“Tentu saja bahwa aku serius padanya, tidak lagi bermain-main seperti kemarin.” Nio menjawab tegas dan kedua temannya mencibir. Mereka memang selalu suportif tentang pilihan Nio, tidak heran.

Danny menginap di kontrakan mereka semalam karena mereka tiba terlalu malam dan Danny mengantuk, tidak kuat mengemudi pulang sehingga Nio bisa mencuri kunci mobil dan STNK-nya lalu kabur menjemput Arfabian sebelum dia bangun.

Dia mengabaikan grup sejak tadi, sekarang Danny pasti sedang mengumpat dan mengatainya dengan bahasa Medan-nya.

Peduli setan, Nio akan mengurus Danny nanti sepulangnya pergi dengan Arfabian yang sekarang mendongak menatapnya dengan mata jernihnya yang seindah rusa, berkilau oleh cahaya matahari.

“Jika aku mau melakukan begitu banyak hal bahkan yang nampak mustahil sekali pun, aku berharap dia bisa melihat betapa seriusnya aku.”

“Maka dari itu,” dia menurunkan jendela, menyerahkan selembar uang pada tukang parkir yang membantunya di jalan dan membelok—meluncur mulus di jalanan Jakarta, ke arah jalan bebas hambatan.

Dia menghela napas, mengulaskan senyuman terbaiknya ke Arfabian sebelum melanjutkan, “Kita akan ke Bandung.”


Author's note:

Mohon maaf jika terdapat perbedaan cara ibadah karakter di AU saya dengan reader sekalian, saya menulis apa yang saya lihat saat ikut menyusup ke gereja beribadah dengan teman Katolik saya (for science of course hehe)—mungkin itu cuma kebiasaan mereka secara personal saja.

Tapi cara ibadah ini sangat menarik karena beda dari teman-teman Katolik saya yang lain, maka saya putuskan untuk adopsi sebagai karakter Arfabian dan Antonio.

Thank you!

ire, x


Nio mengerang, dia melepaskan ponselnya dan membiarkan benda itu terguling ke ranjang saat rasa dingin mencengkeram paru-parunya—meremasnya, membuatnya beku dan mustahil terkembang untuk menghirup napas.

Nio membuka mulutnya, bernapas dari sana karena cuping hidungnya terasa perih oleh suhu dingin yang datang dari dalam tubuhnya sendiri; membuat tiap tarikan napas terasa melukai saluran pernapasannya.

Seluruh tubuhnya mengerut merespons rasa dingin yang menjalar dari jantungnya—mekar seperti sekuntum bunga, menjalar ke seluruh dirinya melata seperti semak belukar. Membelit tiap organnya, mengencangkan belitannya hingga Nio terkesirap.

Rambutnya mengubur wajahnya dan membuatnya sulit melihat namun dia mengabaikannya—hatinya senang karena ini berarti dia akan kembali menjadi lelaki, maka dia menangguhkannya.

Dia terengah, dadanya terasa mengerut dan mengecil. Dia memegangnya, menekan ulu hatinya kuat-kuat saat napasnya perlahan mulai semakin dan semakin memendek karena dingin yang membekukan paru-parunya.

Jemari dan bibirnya mulai membiru, Nio terengah-engah.

Dia lupa mematikan penyejuk ruangan yang semakin membuatnya merasa akan mati; dia membuka mulutnya yang mengigil, nyaris menggigit putus ujung lidahnya saat dia berusaha memanggil Jin yang berada di ruang tamu.

“K-kakh!” Adalah satu-satunya hal yang bisa diucapkannya, menggigil hebat dan tidak bisa bergerak sama sekali.

Namun Jin yang sudah sering menemaninya, paham.

Nio mendengar kakaknya langsung bangkit dan berlari ke kamarnya, menyentakkan pintu kamarnya terbuka dan bergegas meraih remote penyejuk ruangan—menaikkan suhunya, berharap angin panas itu akan membantunya sebelum meluncur ke sisi adiknya dan meraih tangannya yang sedingin es.

You're almost there.” Bisik Jin di sela-sela keretak bunga es yang terdengar mendenging di telinga Nio—dia tidak bisa memfokuskan diri pada apa pun karena seluruh badannya sedang dicabik-cabik suhu dingin yang membunuh.

Jin meremas telapak tangannya, memijatnya lembut dan menghembuskan napas hangat ke sana—berusaha membantu namun dia tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk adiknya yang terbaring di ranjang dengan bibir membiru, nyaris seperti mayat.

Tubuh Nio berasap tipis, seperti sepotong es yang meleleh dalam suhu ruangan; mencair perlahan namun dalam kasus Nio, hidupnya yang sedang mencair.

Dan Jin memejamkan mata—ini puncak prosesnya dan setelah dua tahun, dia tidak juga terbiasa melihatnya. Nio terkesirap keras saat tubuhnya terlonjak, nadinya kemudian berhenti selama setengah detik; seperti kematian sesaat yang vital sebelum denyutnya menguat dan terpacu keras.

Jin selalu takut suatu hari nanti, jantung Nio berhenti dan tidak berdebar kembali dalam proses perubahan dirinya karena suhu yang ditanggung tubuhnua begitu ekstrim.

Dia takut, sungguh.

Nio terbaring di ranjang, wajahnya seputih mayat saat nadinya mulai semakin cepat dan menggila di genggaman Jin. Rambutnya menyusut, dadanya perlahan lenyap saat nadinya berdebar kacau-balau—Jin bahkan bisa mendengar suara jantungnya yang keras memukul rusuknya.

Nio terkesirap keras seperti suara udara kosong yang terhisap keras, dadanya melonjak dan dia mendarat di ranjang dengan suara gedebuk lembut.

Tubuhnya sudah kembali menjadi lelaki, berasap tipis saat rona terbit di wajahnya dengan perlahan seperti debu cahaya.

Jin menatapnya, bernapas dengan perlahan hingga bibir adiknya kembali memerah dan dia mengerang keras. Bajunya basah dan dia masih mengenakan pakaian dalam perempuannya, Nio bangkit dan memijat kepalanya yang terasa nyeri, dia mendecap.

Tangannya melepas kait bra yang digunakannya lalu melepasnya, tidak suka rasa aneh tercekik karena menggunakan bra. Dia mengerang, memejamkan mata saat kepalanya berdentam-dentam. Namun lega, karena dia sudah kembali normal.

Nio melemaskan lehernya yang berkeretak lalu mendesah, “Trims, Kak.” Katanya parau ke Jin yang mengulurkan gelas air di meja kamar Nio.

Nio meraihnya, meneguk isinya hingga tandas sebelum menghela napas dalam-dalam. Tangannya menyentuh badannya sendiri lalu mendesah lega, wajahnya tenang dan rileks.

“Kau lapar?” Tanya Jin kemudian saat adiknya sudah tenang.

“Nanti saja.” Sahut Nio ceria lalu meraih ponselnya yang tadi tergeletak di ranjang lalu berbalik menelungkup di ranjangnya.

“Sana keluar, aku akan menelepon Kak Bian.” Dia menekan nomor Arfabian di ponselnya.

“Setidaknya ganti dulu pakaianmu.” Gerutu Jin, “Kau masih mengenakan pakaian dalam perempuan, memangnya tidak sempit?”

Nio mendesah, jika dipikir-pikir benar juga. Maka dia akhirnya bangkit, melepas kausnya yang agak sempit di bagian bahu sementara Jin bangkit dan keluar dari kamarnya, sedikit lega karena setiaknya di proses saat ini Nio selamat.

Itulah kenapa Jin bersikap sangat tiran mengenai air dingin pada Nio—ketakutan menggelayutinya tentang proses kutukan aneh adiknya. Namun dia tidak pernah memberi tahu siapa pun.

Dia menoleh ke adiknya yang sedang memilih baju sebelum menutup pintunya, memberi adiknya privasi.

Nio berdendang ceria saat tubuh lelakinya yang kuat terasa di genggamannya—dia melepas celana pendek longgarnya dan celana dalam perempuan yang mencekik Putra Mahkotanya.

Merasa nyaman setelah kembali ke tubuhnya, dia menatap turun—mengapresiasi bagaimana tubuhnya sendiri nampak di matanya.

Dia sudah kembali normal—atau setidaknya, normal dalam standarnya.

Nio meraih pakaian dalam dan mengenakannya, meraih celana pendek dan kaus tanpa lengan dari lemari. Dia mengenakan pakaiannya lalu menurunkan suhu penyejuk lagi sebelum beranjak keluar, meraih setoples makanan sebelum menekan tombol panggil pada nomor Arfabian.

Panggilan disambungkan.

Diangkat.


Halo?”

Bian menatap langsung ke Antonio yang tersenyum dengan toples makanan di tangannya, rambutnya mencuat-cuat seperti burung kakak tua dan dia mengenakan kaus tanpa lengan gelap dan sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.

“Hai.” Sapanya, bangkit dari posisi berbaring dan bersandar di kepala ranjang—merasa sedikit gugup karena tidak menyangka Antonio akan melakukan panggilan video.

Dia tadi langsung bergegas mengangkatnya tanpa benar-benar memerhatikan penampilannya. Dia hanya mengenakan kaus longgar putih dan bokser—cuaca dingin sekali sehingga dia mematikan penyejuk dan menggunakan selimut, sedang menonton Netflix saat ponselnya berdering.

“Maaf, aku berantakan.” Katanya setengah mengeluh, menyugar rambutnya berusaha merapikannya namun di seberang sana Antonio yang sedang mengunyah cemilan tersenyum.

Kau nampak oke seperti biasa,” pujinya tulus dan Bian mendesah—Antonio selalu melemparkan pujian begitu saja tanpa benar-benar memikirkan apa efeknya pada orang lain.

“Kau bermulut manis.” Sahut Bian, kembali berbaring di ranjangnya.

Antonio tersenyum, “Sudah makan kuenya?”

Bian melirik kotak kue yang sekarang bertengger di meja belajarnya, dia baru memakannya sepotong tadi karena terlanjur kenyang oleh makan siangnya.

“Sudah.” Sahutnya. “Kau sudah baikan?”

Antonio meletakkan toplesnya di pangkuan, menyugar rambutnya dan menjejalkan segenggam makanan lagi ke mulutnya—dia mengunyah dengan berisik, menatap melewati kamera saat melakukannya dan Bian mendapati gestur itu sangat natural dan intim. Seolah mereka sudah kenal begitu lama.

Antonio nampak sangat rileks dalam interaksi mereka dan sejenak Bian merasa iri pada betapa mudahnya Antonio menuangkan rasa percayanya pada Bian, nyaris membuatnya merasa jahat karena telah bersikap hati-hati padanya.

Namun apa yang bisa Bian lakukan? Sikap Antonio tempo waktu cukup untuk membuatnya ciut dan mundur—bahkan sekarang pun saat pemuda itu menceritakan tentang kakaknya dan kekasihnya, Hosein yang adalah orang Singapura, Bian masih merasa harus menggambar garis tebal di antara mereka.

Jangan percaya padanya, begitu hatinya berbisik tiap kali dia memandang Antonio yang sekarang berbaring di ranjangnya—menatap langsung ke matanya melalui piksel-piksel panggilan video mereka.

”... Tidak ada yang tahu kenapa,” Antonio menggaruk pelipisnya. “Aku pulang ke Tangerang kehujanan biasa, lalu tiba-tiba saja terserang demam tinggi hingga Kak Jin takut aku akan mulai kejang-kejang.

“Dia sudah siap menggendongku ke mobil dan melarikanku ke rumah sakit, sedang meraih dompet dan kunci mobilnya saat dia kembali ke kamar dan aku sudah menjadi perempuan.

“Kami berdua kebingungan sekali hari itu. Kau tidak tahu rasanya,” Antonio menerawang dan Bian mengamati bentuk wajahnya yang indah serta anak rambut yang luruh ke keningnya.

“Itu pertama kalinya aku menangis sesegukan nyaris sepanjang hari. Hormon perempuan begitu mengerikan; kau tidak bisa benar-benar merasa bahagia atau utuh. Selalu ada hal-hal yang mengganggumu, membuatmu merasa jengkel dan itu sangat melelahkan.

“Aku sekarang tidak lagi penasaran kenapa perempuan begitu gemar mempersulit sesuatu karena, kau tahu, perasaan mereka kompleks sekali—memusingkan. Bahkan aku pun merasa seperti dijebloskan ke dalam labirin dan tidak tahu arah.

“Seperti pusaran udara yang tidak ada habisnya.” Nio bergidik, “Dan semua menjadi berkali-kali lipat saat kau menstruasi.”

Bian mengerjap. “Kau mengalaminya juga?” Tanyanya, setengah kaget pada fakta betapa sempurnanya perubahan tubuh Antonio hanya dalam sekian puluh menit—otak logis Bian yang mengantarkannya masuk jurusan kedokteran sekarang termangu kebingungan.

“Ya.” Antonio mengangguk. “Jika aku sial terkena air dingin saat minggu menstruasi, maka aku terjebak dalam tubuhku hingga periodenya selesai. Seperti saat kau menabrakku di parkiran.”

Bian mengerjap. “Kau benar-benar berdarah?” Tanyanya lalu menutup mulutnya dengan suara keras, “Maaf jika tidak sopan dan membuatmu tidak nyaman.”

Antonio menatapnya sejenak, hening dan dalam hingga Bian merasa gugup di bawah tatapan matanya.

“Aku sudah melewati banyak pertanyaan semacam ini.” Dia menyugar rambutnya, menerawang jauh melewati ponselnya.

“Kak Jin berusaha menyembuhkanku; kami pergi ke berbagai macam rumah sakit dan berbagai macam dokter bahkan Kak Hosi juga ikut membawaku ke Singapura.

“Pertanyaan semacam itu sudah sering kujawab. Menjadi semacam spesimen penelitian di bawah cahaya lampu dan orang-orang menunduk ke arahmu; sedikit membuatmu klaustrofobia, 'kan.”

Matanya kembali menemukan mata Bian dan dia mengulaskan senyuman ringannya.

“Maafkan aku,” bisik Bian, menekuk kakinya dan menatap Antonio—sekarang bersimpati sepenuhnya.

“Dimaafkan.” Antonio tersenyum padanya, tulus dan hangat. “Untuk pertanyaanmu tadi, ya. Aku mengalami pendarahan normal seperti perempuan sepertinya aku memang punya rahim. Tidak ada dokter yang benar-benar paham apa yang terjadi padaku.”

“Jadi untuk beberapa saat, aku dan Kak Jin menyerah. Sekarang aku sedang berusaha... entahlah, menerima sisi diriku yang lain.

“Berusaha untuk tidak... terlalu membencinya.” Antonio menggaruk tengkuknya, kikuk.

Bian menatapnya, sudah menduga emosi semacam itu akan muncul. Sejak dulu Bian selalu tertarik pada tubuh perempuan—dalam hal medis. Bagaimana organ mereka yang jauh lebih rapuh dan kompleks dari lelaki, belum lagi keajaiban rahim mereka dengan kehamilan.

Ajaib bagaimana perempuan yang selalu dianggap lemah, menjadi korban ketidakadilan prejudis masyarakat karena identitas yang bahkan tidak mereka pilih bisa menampung kehidupan baru—membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah.

Maka setengah dirinya merasa sangat tertarik tentang bagaimana Antonio sebagai lelaki sehat menyikapi perubahan tubuhnya.

“Ya.” Bian menyemangatinya lembut. “Mungkin setelah kau... menerimanya, semua akan terasa lebih ringan secara mental.”

Antonio menatapnya, senyuman bermain di sudut bibirnya. “Kau selalu membuat orang lain nyaman dengan caramu berbicara.” Bisiknya lembut dan Bian sejenak diam, terbuai suara serak Antonio.

“Kau membuat orang-orang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.” Antonio melanjutkan sebelum menambahkan,

“Semoga kau juga merasa sangat nyaman dengan dirimu sendiri sebelum membantu orang lain, Dok.”


Arfabian terdiam di seberang sana dan Nio tersenyum, tahu bahwa Arfabian pasti juga memiliki masalah yang sama tentang self-acceptance.

“Mungkin kita bisa saling membantu?” Nio berguling di ranjang, menikmati waktunya tersambung dengan Arfabian di seberang sana.

Dia suka mengamati bagaimana wajahnya bersemburat merah jambu tiap kali dia malu, telinganya memerah dan suara tawanya yang bergemerincing seperti gelang kaki penari.

Arfabian begitu indah dan menggemaskan hingga hati Nio hangat hanya dengan mengamatinya.

Mungkin,” sahut Arfabian pelan dan tersenyum kecil. “Tapi masalahku tidak sebesar masalahmu.”

Nio mengedikkan bahunya, “Tidak ada masalah yang lebih besar atau lebih kecil, lebih berat atau ringan karena jika itu mengganggumu maka itu sebuah masalah.” Dia tersenyum lebar.

Arfabian menatapnya, sejenak takjub sebelum senyuman kecil terbit di bibirnya, dia merona tipis dan Nio ingin sekali mengecup rona itu; menggenggam Arfabian di telapak tangannya dan memujanya.

“Kau memang bermulut manis,” keluh Arfabian dan Nio tersenyum lebar, sebelum sempat menjawabnya suara seruan terdengar disertai suara gedebuk-gedebuk pintu mobik ditutup dan suara gemerisik kantung plastik.

“NYOOOO!”

Nio mendesah dan memutar bola matanya, “Kak, maaf aku harus—”

Pintu menjeblak terbuka dan Danny berdiri di sana, dengan dua kantung BigBox Pizza Hut di kedua tangannya.

Nio terlambat, Pasukan Huru-Hara sudah menginvasi ruang personalnya sekarang.

“Wah!” Serunya. “Kau sedang menelepon siapa??” Dia bergegas menghampiri Nio dan Nio langsung menahannya dengan menempelkan telapak tangannya di dada Danny, mendorongnya menjauh dari jangkauan layar ponsel.

“Hai, Kak Yan!” Serunya bersemangat.

“Waaaa!” Yoga tiba dengan plastik Indomaret yang berat di tangannya. “Hai, Kak Yan! Kalian sedang pacaran, yaaaa??”

Dia mendekat dan Nio terpaksa menggunakan kakinya untuk menendang Yoga menjauh darinya. Suasana kacau-balau dan Nio bergegas menatap Arfabian yang tertawa di seberang sana.

“Dah, Kak! Aku Whatsapp lagi nanti!” Lalu mematikan sambungan sebelum Arfabian sempat menjawab, dia melempar ponselnya ke ranjang dan berdiri; punya urusan serius dengan kedua temannya.

“Dasar binatang!” Serunya pada kedua temannya yang terbahak-bahak seperti dua babon liar.

Kids, keep it down!” Seru Jin dari ruangan sebelah.

*


tw // insecurity , woman's hatred towards her own body , gender-switch JK , crisis identity .

unedited sorry im tired x


Bian meletakkan hoodie-nya yang baru saja diambil dari binatu di gagang pintu, menggantungnya di sana dan menatap pintu yang tertutup—kebingungan.

Setengah hatinya cemas karena Antonio mengurung diri di kamar mandi hanya dengan kaus tipis yang diberikan Bian tadi dan karena dia tidak punya pakaian dalam perempuan, dia tidak bisa memberikan apa yang mungkin sangat dibutuhkan Antonio sekarang.

Namun setengah hatinya yang lain merasa takut. Bingung, penasaran dan takut, sangat takut entah mengapa. Dia menatap pintu yang tertutup, berusaha mencerna segalanya yang terjadi.

Antonio tersiram air dingin dan sekarang dia (sepertinya) berubah menjadi perempuan serta mengurung dirinya di dalam kamar mandi; Bian tidak yakin pada situasi apa dia sesungguhnya sedang terjebak.

Antonio benar-benar berubah menjadi perempuan... begitu saja? Hanya karena tersiram air dingin?

Bian mengerjap, jawaban salah satu dosennya tadi membuatnya mengernyit. Secara medis hal itu sangat tidak mungkin terjadi kecuali kecenderungan bayi lahir dengan kelamin yang belum terbentuk sempurna sehingga pada pertumbuhannya baik vagina maupun penisnya berubah—lebih sering klitoris vagina yang tumbuh menjadi penis.

Itu butuh bertahun-tahun selama masa tumbuh kembang anak—menciptakan banyak sekali emosi-emosi kompleks tentang krisis identitas dan penyesuaian diri pada jenis kelamin barunya, kehidupan baru dan segalanya.

Namun berubah menjadi perempuan utuh yang sempurna dalam hitungan jam?

Bian bahkan tidak meninggalkan Antonio lebih dari satu jam—empat puluh menit maksimal. Secara medis, hal itu sangat tidak mungkin terjadi. Bian sebagai seorang yang sangat penuh logika dan tidak percaya sedikit pun pada hal-hal mistis, tidak bisa menerima ini.

Akal sehatnya menolak.

Dia bergidik, membayangkan kebingungan dan rasa frustasi Antonio. Mentalnya yang koyak karena perubahan yang begitu hebat dalam waktu yang sangat cepat—berubah-ubah, setiap dia terkena air dingin. Belum lagi lelah fisiknya karena menerima perubahan hormon.

Dia mengerutkan alisnya; bagaimana mungkin...?

Kau sedang membicarakan film, ya, Arfabian?

Seandainya saja ini memang film atau cerita fiksi, Bian akan tertawa terbahak-bahak. Berhenti membaca karena tidak masuk akal; dia bukan penggemar fantasi tanpa landasan teori yang kuat. Lelaki yang berubah menjadi perempuan karena air dingin jelas bukan seleranya.

Namun sekarang hal ini terjadi begitu saja di dunianya dan kepada lelaki yang baru saja mungkin akan diciumnya di ranjang.

“Aku menggantung hoodie di pintu.” Katanya lirih ke pintu yang tertutup lalu mundur, berbalik ke ranjang dan menyusup ke dalam selimutnya karena hujan deras tidak juga berhenti dan dia kedinginan.

Dalam hati dia merasa sedih karena dia berpikir dia bisa pergi ke suatu tempat dengan Antonio besok Sabtu pagi, jalan-jalan menikmati waktu berdua karena Bian yakin mereka sudah memasuki tahap pendekatan sekarang.

Tapi mungkin rencana itu harus ditunda.

Bian menunduk, menatap jemarinya dan mulai merobek-robek kulit arinya yang mengelupas tanpa benar-benar menyadari kegiatannya dengan isi kepala melanglang buana; kosong.

Di luar hujan semakin deras dan Bian sejenak cemas dengan keadaan kakak Antonio yang mengemudi dari Tangerang ke Jakarta Timur demi adiknya di tengah hujan. Bian menatap pintu lagi, merasa terbelah oleh emosinya sendiri.

Dia ingin menolong walaupun akal sehatnya sedang meneriakinya bahwa ini tidak wajar. Ini tidak seharusnya terjadi dan ini sinting. Namun hati nuraninya, bagian terbesar dari tubuhnya yang membuatnya mendedikasikan diri menjadi seorang dokter, bergetar.

Dia ingin membantu Antonio.

Antonio butuh dukungan emosional, dia harus bertemu profesional. Bian mengernyit—Antonio seorang homoseksual, bagaimana perasaannya setiap kali terjebak dalam tubuh perempuan? Bian sungguh tidak bisa membayangkannya.

Dia butuh seseorang untuk menenangkannya, mengembalikan rasa percaya dirinya pada identitasnya, pada gender yang dipilihnya tanpa terpengaruh perubahan fatal setiap kali dia terkena air dingin.

Ponselnya berbunyi dan Bian terlompat kaget, dia bergegas menyambar ponselnya dan melihat nama Jin berkedip di layarnya. Dia mengangkat telepon itu.

“Halo, Kak?”

Saya di depan, apakah ini tempat yang benar?”

Bian bergegas bangkit, meraih sweternya dan mengenakannya sebelum menyentakkan pintu terbuka. Dia menatap melewati garasi, berusaha menembus derasnya hujan yang membuat semuanya nampak putih. Mata Bian melihat bagian atap mobil berwarna gelap.

Mobil saya Honda Civic.” Kata Jin dari seberang sana dan Bian mengeluarkan kunci gerbangnya, berlari di bawah kanopi garasi kosan menghampiri gerbang.

Dia menyelipkan kunci ke dalam gembok dan memutarnya terbuka sebelum menarik pintu, dia melongok dan menemukan Honda Civic yang dimaksud terparkir beberapa meter dari gerbang, nyaris memblokade jalan masuk.

“Kak, maaf. Nio tidak mau keluar jadi Kakak harus menjemputnya ke dalam.” Kata Bian mengalahkan deru hujan ke ponselnya.

Ya, saya turun menjemputnya.” Balas Jin dari seberang dan mematikan ponselnya.

Bian menunggu di bawah kanopi sementara Jin bersiap turun. Dia melihat sosok gelap di dalam mobil melompati bagian pembatas kursi menuju pintu penumpang, meraih payung dan membuka pintunya. Lampu menyala, Bian bisa melihat bagian sisi kakak Antonio sebelum payung dibuka dan dia bergegas keluar.

Dia lelaki indah—bersaing ketat dengan Antonio. Tubuhnya langsing dan liat, tinggi, kurus. Rambutnya acak-acakan dan dia hanya mengenakan kaus tipis dengan celana training kumal—nampak benar-benar terburu-buru untuk menjemput adiknya.

“Maaf, ya, Arfabian.” Dia tiba di sisi Bian, menguarkan aroma lembut sisa parfum maskulin yang menyengat. “Saya merepotkan malam-malam.”

Dia menutup payungnya lalu menepis tetes-tetes air dari pakaiannya sebelum tersenyum pada Bian dan mengulurkan tangan.

“Tidak masalah, Kak.” Bian menjawab dengan hangat.

“Saya Jin.” Katanya, dengan level percaya diri yang nyari secemerlang Antonio.

Mereka mirip sekali dan sekilas nampak seperti sepasang anak kembar, hanya saja Jin punya gurat wajah dewasa di kening dan pipinya.

“Halo, Kak. Saya Bian.” Bian menyalami tangannya yang lembab dan dingin sebelum kemudian mengajaknya masuk.

“Saya akan tunggu di ruang tamu sampai Kak Jin pulang.” Kata Bian sopan, mempersilakan Jin memasuki kamarnya.

Jin menatapnya, terenyuh. “Terima kasih karena sudah menghormati ruang personal Antonio walaupun saya yakin kau pasti sangat penasaran dan kebingungan sekarang.”

Bian bisa saja berbohong dia sudah sering melihat hal-hal aneh hingga lelaki sehat yang berubah jadi perempuan karena air dingin adalah hal sepele tapi tidak.

Dia memang penasaran dan kebingungan.

Namun dia yakin kondisi psikologi Antonio pasti sangat rapuh sekarang. Maka sebagai orang asing, Bian memilih mundur.

“Tidak apa-apa, Kak. Saya paham.” Dia tersenyum tenang, menganggap hal ini adalah salah satu kasus yang mungkin akan dihadapinya nanti setelah menjadi dokter—mengabdikan diri pada orang banyak.

Bian selalu mengandalkan ketenangannya yang luar biasa dalam menghadapi kasus.

Jin menatapnya, “Saya masuk, ya?” Izinnya dan Bian mengangguk.

“Silakan, Kak.”

Jin bergegas memasuki kamar Bian dan menutup pintunya hingga tersisa satu celah kecil sementara Bian beranjak ke ruang tamu, duduk di kursi yang tadi diduduki Antonio—menunggu.


“Nio? Ini aku.”

Nio mendongak, wajahnya lembab dan terasa bengkak—kelelahan menangis karena takut dan frustasi.

Dia duduk di atas kloset sejak tadi dengan pakaian lelaki yang menempel kasar di tubuh perempuannya yang terlalu halus—berdenyut perih. Menangis tiap kali Arfabian mengajaknya bicara atau mengirimkannya pesan.

Sekarang Arfabian sudah tahu rahasia terbesar dalam hidupnya dan Nio tahu, mereka berakhir bahkan sebelum semuanya dimulai.

Dia aneh. Dia tidak normal.

Arfabian pasti akan menjauhinya, menjauh dari masalah seperti seorang pemuda pintar.

Dan Antonio adalah masalahnya dan Arfabian akan menghindarinya—menghindari Nio.

Pikiran itu menikam otak dan hatinya sedemikian rupa hingga dia mencengkeram dadanya sendiri—berusaha menjinakkan sakit yang meraung ke arahnya seperti binatang liar.

“Kak?” Bisiknya pecah, merasa begitu lemah hingga sisi lelakinya marah atas kelemahan itu—membelah tubuhnya dan membuatnya pusing karena terlalu banyak emosi yang berkecamuk di dalam sana.

“Ya, ini aku.” Ketukan terdengar di pintunya, lembut. “Maaf, lama. Aku terjebak macet.”

Terdengar suara keresak dan Nio bangkit, terhuyung berdiri lemah di atas kakinya yang gemetar dalam balutan kaus Bian yang menggantung di tubuhnya—terlalu tipis untuk suhu kamar mandi yang dingin dan dadanya terasa geli karena menggantung bebas.

“Aku membawakamu pakaian dalam.” Kata Jin lembut dan Nio meraih kenop pintu, membuka kuncinya.

Wajah Jin muncul di celah pintu, tersenyum. Mengulurkan kantung kertas terisi pakaian dalam perempuannya.

Dia tidak pernah merasa sebahagia ini saat menatap wajah kakaknya—saat sekali lagi, diselamatkan kakaknya dari kondisi tidak terduga.

“Berganti pakaianlah.” Bujuknya lembut hingga air mata Nio kembali terbit—emosi perempuan yang terlalu sensitif ini membuatnya jengah.

“Lalu, ayo kita pulang.” Tambah Jin, mengulurkan tangan dan menepuk rambut adiknya yang kusut masai dengan lembut.

“Kau aman, ada aku.”

Air mata yang luruh kemudian di wajah Nio tidak lagi dipahaminya berasal dari mana—tubuh perempuannya?

Atau tubuh lelakinya?

Karena Jin tiba menyelamatkannya?

Atau duka karena hubungannya dengan Arfabian yang layu sebelum mekar?


Bian membuka matanya kaget saat pintu kamar terbuka. Dia sedang berbaring di kursi, menyandarkan punggungnya dalam-dalam, mencoba menenangkan otaknya yang riuh.

Dia menoleh dan menemukan Jin berdiri melindungi sosok di belakang tubuhnya yang meringkuk seperti janin yang kedinginan; bersembunyi sepenuhnya dari tatapan Bian, menghindar.

Bian menyadari tubuh langsing di belakang Jin mengenakan hoodie-nya dan senang karena dia bisa melakukan sesuatu untuk membuat Antonio nyaman.

“Bian, terima kasih, ya? Saya pulang dulu.”

Bian bergegas berdiri, menghampiri mereka dan mengangguk. “Baik, Kak. Terima kasih kembali.” Sahutnya sopan.

Dia menahan dirinya sendiri agar tidak melongok ke balik bahu bidang Jin, mengintip wajah yang tersembunyi di balik hoodie-nya.

Dia berusaha membuat Antonio nyaman.

“Saya tidak perlu diantar. Kau istirahatlah.” Tambah Jin,menatap Bian penuh makna dan dia menangkap maksudnya.

Antonio jelas tidak ingin ada orang yang menatapnya seperti seekor binatang di dalam kandang kebun binatang—dipelototi sebagai hiburan yang menarik.

“Hati-hati di jalan, Kak Jin.” Katanya kering; sedih, tersentuh dan bingung.

Jin mengangguk dan tersenyum ramah lalu menggunakan tubuhnya sendiri untuk menutupi seluruh bagian atas tubuh Antonio, membimbingnya ke mobil.

Dia membuka payungnya, membiarkan tubuh mungil langsing di sisinya untuk berlari kecil terlebih dulu ke mobil dan Bian memalingkan wajah.

Satu kilasan betis jenjang yang langsing dan putih serta rambut panjang yang kusut lolos dari sela-sela tudung hoodie sudah cukup bagi Bian untuk tahu bahwa Antonio benar-benar berubah menjadi perempuan.

Bian berbaring di ranjangnya malam itu, menatap nyalang langit-langit kamarnya ditemani suara badai yang bergemuruh.

Mencoba mencerna kejadian hari ini....

*


⚠️TW // gender-switch JK , woman's body insecurity , woman's hate toward own body , identity crisis .

please kindly leave if you have issues with these stuffs. thankyou.


Nio sepertinya harus mandi kembang tujuh rupa untuk melepaskan semua kesialan yang menempel di badannya.

Sungguh.

Dia tadi hanya pergi untuk menjemur handuk, pekerjaan yang sama sekali tidak berbahaya. Dia menaiki tangga menuju ruang jemur ditemani suara hujan yang mengamuk di atas atap ruang jemur dan seember air kemudian menampar wajahnya.

“Astaga maafkan aku!” Seru orang itu dan Nio ingin sekali menghampirinya, meraih kerah bajunya lalu menonjok giginya hingga melesak ke tenggorokkannya.

Orang sinting pun tahu kau tidak seharusnya menyiramkan air bekas cucian ke atas! Dia seharusnya menyiramnya turun ke lantai ruang cuci, tapi tidak.

Dia memilih menyiramnya ke arah tanaman di sudut ruang cuci, di seberang pintu masuk.

Dan Nio memasuki ruang jemur di saat yang sama sekali salah.

Air beraroma pelembut pakaian yang legit menampar wajahnya dan menetes ke kakinya—rasanya sedingin es batu. Meleleh dari wajahnya turun ke seluruh tubuhnya seperti seekor ular yang melata di atas permukaan kulitnya yang dingin.

Dan nyawa Nio terasa lepas dari raganya.

Dia ada di kosan gebetannya dan dia sekarang tersiram air dingin. Kenapa hidup harus mengerjainya sedemikian rupa?

Dosa apa yang dilakukan Nio di kehidupan sebelumnya?

Maka dia kemudian berlari seperti sprinter, mengabaikan pemuda sialan yang menyiramnya dan membanting pintu kamar mandi hingga Arfabian yang sedang bersila di ranjangnya terlonjak kaget.

“Kak, maaf tolong rebuskan aku air!” Serunya dan mulai merasakan tubuhnya panas; kulitnya berdenyar dan kelenjar susunya mulai berdenyut lembut.

Dia tidak bisa menjadi perempuan sekarang! Tidak saat dia sedang bersama Arfabian!

Arfabian malah mengetuk pintunya, “Kau oke?!” Desaknya cemas dan Nio ingin menangis mendengar nada khawatir yang manis di suaranya yang seindah genta angin.

“Tidak!” Katanya gemetar dalam kamar mandi 1x1 yang dingin. “Tolong buatkan aku air panas, Kak. Tolong.” Katanya, nyaris merengek sekarang.

Jantungnya mulai berdebar, dia berusaha untuk mengeringkan tubuhnya sebisa mungkin dengan bagian pakaiannya yang kering namun terlambat—dia sudah merasakan tanda pertama yang vital dari perubahan fisiknya.

Dadanya.

Selalu dadanya yang pertama bereaksi; kelenjar susunya terasa berdenyar aneh, berdenyut geli dan mulai melembek. Dan itulah, dia hanya akan bisa diselamatkan air panas yang berlimpah dan lama.

“Oke, iya. Aku akan merebuskanmu air. Tenang, oke?” Kata Arfabian dari balik pintu, terdengar begitu cemas hingga Nio gemetar.

Jika dia tahu kondisi Nio, akankah dia tetap bicara dengan nada selembut itu? Secemas itu pada Nio?

Atau dia akan jijik pada Nio?

Nio mendadak mual, ketakutan pada dirinya sendiri. Dia memang selalu takut pada tubuh perempuannya, sekarang dia semakin takut.

Nyaris membencinya hingga tubuhnya gemetar oleh benci yang begitu beracun.

Dia duduk di atas mangkuk toilet yang ditutup dan gemetar. Merasakan panas yang menjalar dari ujung-ujung jemarinya—perlahan naik ke seluruh tubuhnya hingga dia merasa seperti dibakar hidup-hidup.

Dia membekap mulutnya agar tidak berteriak, mengigit telapak tangannya kuat-kuat hingga darah terbit dari sana namun dia mengabaikannya karena sakit di tubuhnya jauh lebih menyita.

Dia terkesirap dengan suara napas tajam, nyaris berteriak namun berhasil menjejalkan kepalan tangannya ke mulut—menahan teriakannya.

Dia memukul pahanya sendiri, mencoba menahan rasa panas yang membakar tubuhnya sekarang dengan perlahan seolah mereka sengaja memasak Nio dengan slow-cooker.

Arfabian terlalu lama, air hangatnya terlalu lama. Nio tidak akan selamat sekarang.

Jika dia mandi air hangat dalam tubuh perempuannya pun, butuh 12 jam untuk berubah menjadi lelaki dan dia tidak punya banyak waktu!

Bisakah tubuh perempuannya mengendarai motornya? Pulang ke Tangerang dini hari atau kapan pun hujan sialan ini berhenti?

Ulu hatinya terasa ditonjok dan Nio terkesirap keras. Dia terbatuk-batuk, tubuhnya melengkung turun dan liur menetes dari mulutnya sementara seluruh tubunya terasa lembek—membentuk diri menjadi perempuan.

Nio merasakan sentakan rasa marah, frustasi, benci dan kecewa yang berkecamuk di benaknya. Takut menyeruak di dalamnya seperti kabut tebal yang membuatnya menangis.

Dia takut, selalu takut kapan pun dia harus berhadapan dengan tubuh perempuannya.

Dia tidak mengenali lekukan itu, dia tidak mengenali organ-organnya sendiri; seperti dipaksa mengenakan pakaian yang Nio benci.

Dia tidak menyukainya sama sekali.

Dan sekarang terjebak di kosan Arfabian, dalam proses menjadi perempuan.

Nio mulai menangis—takut pada reaksi Arfabian saat menemukan seorang gadis telanjang di kamar mandinya. Lalu dia pasti akan memikirkan ke mana perginya Nio.

Tidak butuh orang jenius untuk menyatukan semua petunjuk itu.

Dia akan tahu Nio aneh, dengan kutukan sial yang tidak dipahaminya sama sekali asalnya dari mana.

Nio mulai gemetar—dia baru saja bahagia, namun hidup memutuskan untuk menyudahi kebahagiaan itu secepat kemunculannya.

Dia butuh menelepon Jin agar menjemputnya tapi ponselnya di luar dan dia tidak berani keluar dengan keadaan seperti ini.

Nio duduk setengah telanjang di kamar mandi Arfabian dan mual saat merasan dadanya terasa semakin berat dan tebal.

Dia tidak mau menunduk ke tubuhnya; merasakan sentakan rasa jijik yang terbit di dadanya bersama panas yang menyengat organ-organnya.

Dia merasa seperti lilin mainan yang dibentuk dengan tangan; diremas, dipukul dan dicabik-cabik.

Pululan vital ke jantungnya yang langsung melonjak—terbakar seolah diselimuti api dan Nio tidak tahan lagi.

Dia melepaskan tangannya dan berteriak—keras dan kuat, meraung seperti seekor singa yang terluka saat proses transformasinya mencapai titik final.

Dan rasa panasnya kemudian lenyap; tak berbekas sama sekali.

Di atas mangkuk toilet sekarang, Nio terduduk dengan rambut panjangnya yang lengket dan basah, payudara lembut yang berat dan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan liat dari tubuh sebelumnya.

“Bangsat.” Gumamnya, gemetar oleh emosi yang mustahil ditahannya.

“Bangsat!” Geramnya dan dia memukul dinding kamar mandi dan kulit buku tangannya robek, darah terbit dari sana dan seluruh hormonnya mendadak bergejolak—lebih kuat dan intens.

Sisi feminimnya bangkit dan dia menangis dengan suara perempuannya, terisak-isak. Takut, terjebak, frustasi, marah dan jijik.

Nio tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Dan untuk memperburuk suasana, ketukan terdengar di pintu kamar mandi; kepalan tangan yang menghantam pintu.

“Nio?? Kau oke?!”

Itu Arfabian.


Bian berlari ke kamarnya, nyaris terpeleset karena air dan membuat kepalanya membentur lantai. Namun dia berhasil menahan dirinya dengan mencengkeram kusen pintu kamarnya yang setengah terbuka.

Dia tiba di kamarnya tepat saat suara teriakan Antonio berakhir, suaranya begitu terluka dan kesakitan hingga hati Bian terasa nyeri sebelum kemudian hening.

Lalu terdengar suara kepalan tangan yang menghantam dinding dengan suara gedebuk daging bertemu permukaan keras dan umpatan samar yang tidak didengarnya hingga Bian berjengit mendengarnya.

Dia bergegas menghampiri pintu kamar mandi dan menghantamkan kepalan tangannya ke pintu, mendesak.

“Nio?! Kau oke?!”

Tidak ada jawaban.

“Nio?!” Seru Bian semakin panik, dia meraih pegangan pintu dan mencoba menariknya terbuka namun Antonio menguncinya.

“Nio?? Kau pingsan?? Nio, jawab aku!” Desaknya, memukul daun pintu seraya mencoba menyentakkannya terbuka.

“Aku akan teleponkan ambulan dan mencari kunci duplikat kamar mandi ini!” Serunya ke dalam kamar dan sebelum dia berbalik, sebuah suata terdengar.

Dan itu sama sekali bukan suara Antonio.

“Tolong,” katanya lirih seperti sedang menahan tangis; menyayat hati hingga Bian berhenti, bergidik karena suara itu.

Hantu?!

“Kak Bi, tolong air hangatnya.” Bisik suara itu lagi.

Bian terkesirap.

Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya “Kak Bi” dan suara yang datang dari dalam kamar mandi jelas bukan suara orang itu.

“S-siapa kau?!” Seru Bian, panik dan mundur hingga ke pintu kamarnya; gemetar.

Apakah Bian sedang dikerjai? Jika ya, dia akan menonjok wajah Antonio yang congkak itu lalu meludahinya karena berani melakukannya.

“Nio, aku bersumpah jika kau mempermainkanku—!” Mulainya dengan suara tinggi oleh rasa takut dan histeris yang memusingkan.

“Kak.” Sela suara itu lagi—suara perempuan yang lembut dan berat oleh tangis serta emosi. “Tolong air hangatnya...”

Bian menahan napasnya, apakah ini seperti yang dipikirkannya...?

“Nio?” Bisiknya gemetar, mungkinkah? Mungkinkah...?

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Hujan di luar semakin deras disertai gemuruh dan kilatan petir yang membuat ruangan sejenak terang sebelum kembali redup.

Suaranya begitu riuh mengantam atap kosan dan atap garasi yang terbuat dari plastik; gemuruh dan nyaring.

Namun denging di telinga Bian tidak ada hubungannya dengan suara hujan.

Bian merasakan jantungnya menonjok tulang rusuknya, membuatnya gemetar dan mual oleh rasa takut.

Rasa cemas bergumul di dasar perutnya, meracuni semua organnya hingga mulutnya terasa pahit dan getir oleh asam lambung.

Mungkinkah....?

“Nio?” Ulangnya, “Jawab aku atau kupanggilkan ambulan...” Tambahnya dengan suara gemetar; haruskah dia menelepon ambulan?

Seseorang berlari ke arah kamarnya dan dia menoleh, menemukan Jimmy datang dalam balutan piyamanya yang lembut dan jubah sutera tidurnya.

“Nio kenapa?!” Desaknya, nampak cemas. Dia melongok ke kamar Bian yang kosong.

Dia berhenti dan mengerjap.

“Nio?” Panggilnya, bingung karena kamar Bian kosong dan hening hanya ada suara televisi sayup-sayup.

“Dia ke mana?” Dia nampak sangat bingung dan sejujurnya, Bian juga sama bingungnya.

Dia ingin tertawa, histeris dan berteriak karena tidak paham apa yang terjadi sama sekali!

Siapa yang ada di dalam kamar mandinya?!

“Aku bersumpah suara teriakannya keras sekali. Apakah dia terpeleset?” Desak Jimmy lagi, memasuki kamar Bian yang beraroma tajam tahu dan sambal karena mereka sedang menonton televisi sambil mengunyah cemilan saat bencana terjadi.

Bian melirik kamar mandi; dia tidak bodoh, dia tahu apa yang sedang terjadi.

Dia sepertinya tahu apa yang sedang terjadi.

Teringat hari ketika dia menabrak Antonio dan pemuda itu langsung melarikan diri darinya tanpa repot-repot mengambil payungnya.

Sedang ada pacarku.

Padahal saat itu hujan deras, bagaimana cara pacarnya datang? Jika jalan ke arah kontrakan Antonio tidak bisa dilalui mobil...?

“Dia pulang ke rumah kakaknya.”

“Aku bertemu pacar Antonio di IKEA dengan kakak dan kekasih kakak Antonio—mereka terlihat sangat akrab.”

Bian menelan ludah. Bagaimana...?

Bagaimana jika... perempuan itu adalah Antonio? Itu menjelaskan segalanya—segala hal aneh dan fakta-fakta yang hilang dari keanehan hari itu.

Dan Antonio yang absen selama seminggu, sakit katanya. Namun tidak boleh dijenguk oleh siapa pun.

Foto-foto gadis yang katanya pacar Antonio namun para sahabatnya pun tidak mengenalnya sama sekali.

Tapi, bagaimana.... Kenapa....?

”... Bian?”

Bian mengerjap, kembali ke masa kini dan menatap Jimmy yang menatapnya dengan alis berkerut.

Dia bergegas memikirkan alibi, “Nio ternyata menemukan kecoa di kamar mandiku dan sudah membereskannya. Bersikap dramatis dan segalanya.

“Sekarang dia sedang mandi dan... yah,” dia mengedikkan bahu berusaha nampak tenang.

“Kurasa tidak perlu ambulan.” Dia menambahkan tawa gugup di ujung kalimatnya dan Jimmy menatapnya—curiga.

“Dia baik-baik saja kok!” Tambah Bian, bergegas memperbaiki aktingnya.

Firasatnya mengatakan dia harus memgusir Jimmy dari kamarnya, segera.

“Kau mau mengintipnya berganti baju, ya?” Tambahnya memicingkan mata dan Jimmy mendengus.

“Tidak tertarik, trims.” Katanya, jebakan Bian berhasil.

“Nio? Kau oke?” Seru Bian ke kamar mandi, berharap siapa saja yang ada di dalam sana menangkap kodenya: ini untuknya, untuk menyelamatkannya.

“Hm!” Balas suara dari dalam sana; masih terlalu feminim, namun dia berhasil membuat suaranya lebih berat.

Tidak mirip suara Antonio, tentu. Tapi setidaknya lebih baik dari suara lembut tadi.

Dan syukurlah karena dia menangkap kode Bian karena kemudian, orang di dalam menyalakan air bak dengan keras, menyiram lantai dengan berisik seolah sedang mandi.

Jimmy mengerutkan alis mendengar suara itu. “Dia tidak apa-apa mandi dengan air dingin?” Tanya Jimmy berbisik ke Bian.

“Aku sudah memberikannya air panas tadi. Tenang saja.” Bian tersenyum walaupun jantungnya berdebar hingga nyeri. “Dia baik-baik saja. Kau kembalilah ke kamarmu. Kau pasti lelah setelah pergi dengan Kak Jun.”

Jimmy menatapnya, sejenak ragu namun kemudian mendesah. “Baiklah.” Dia nampak mengantuk.

Bian tahu energi Jimmy tidak pernah banyak dan tidak akan pernah tidur di atas jam 10 malam.

“Besok-besok jangan buat keributan, ya, Nio!” Serunya gemas pada kamar mandi yang berisik sebelum akhirnya menyerah dan pergi dari kamar Bian.

“Ketemu besok, Bian!” Katanya ceria dan Bian melambai ceria, mempertahankan senyuman lebar di bibitnya hingga Jimmy memunggunginya.

Bian menghela napas keras, dia lemas saat menatap Jimmy menaiki tangga ke kamarnya lalu menoleh ke kamar mandi yang masih berisik.

“Dia sudah pergi.” Katanya perlahan, “Jangan buang-buang air.”

Dan suara di kamar mandi seketika berhenti.

Bian menelan ludah, dia pergi ke dapur dan mengecek airnya yang ternyata sudah mendidih nyaris menyusut. Dia terlalu panik hingga dia lupa mematikan kompornya.

Dia mematikan kompornya, menggunakan lap membawa panci air ke kamarnya dengan perlahan karena air di genggamannya panas sekali hingga wajahnya terasa lembab oleh uap panas.

Dia mengaitkan kakinya di daun pintu dan menariknya tertutup sebelum membawa panci ke depan kamar mandi dan mengetuknya dengan siku.

“Nio?” Panggilnya ragu, jantungnya berdebar karena bingung namun dia merasa dia sebaiknya membantu pemuda itu dulu sebelum bertanya karena suaranya nampak begitu penuh ketakutan.

“Aku punya air panasnya, benda ini panas sekali. Kau harus membawanya dengan dua tangan: kau ingin mengambilnya sendiri atau... kuantarkan masuk?” Tanyanya, ragu-ragu menambahkan opsi kedua.

“Letakkan saja di depan pintu,” suara lembut itu terdengar dan Bian bergidik—suara itu halus sekali, lembut dan nyaris cantik.

Dan itu jelas sekali suara perempuan.

“Tolong...” Bisiknya lagi gemetar dan ketakutan hingga Bian menahan napasnya. “Berbaliklah. Aku... tidak mau kau melihatku.”

Bian mengerjap. “Baiklah.” Katanya gugup.

Perlahan, dia meletakkan panci di atas keset di depan kamar mandinya dan lap tangannya.

“Benda ini panas sekali, oke? Hati-hati.” Ingatnya lalu mundur dari depan pintu dan berbalik—melawan keinginannya sendiri yang ingin menunggu pintu terbuka karena penasaran.

Dia memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—mengerahkan seluruh pengendalian dirinya untuk melawan dirinya sendiri.

“Oke. Silakan ambil airnya.” Katanya, “Sebelum dingin.”

Hening sejenak, lalu terdengar suara kunci yang terbuka. Seluruh tubuh Bian menegang dan dia bernapas liar dengan mulutnya; seluruh tubuhnya menjerit ingin dia menoleh namun dia melawannya.

Takut dan penasaran berkecamuk di kepalanya, saling menyakiti hingga kepalanya pening.

Pintu terbuka dengan perlahan.

Lucu bagaimana di tengah suara hujan yang begitu deras pun dia masih bisa mendengar derit engsel pintu kamar mandinya sendiri.

Terdengar gemerisik suara, Bian bisa mendengar suara panci yang diangkat dan desis kecil perempuan yang kaget karena panci yang begitu panas sebelum pintu kembali menutup dan dikunci ganda dari dalam.

Bian menghembuskan napasnya, seolah baru saja melakukan lari maraton tanpa pemanasan dan bahunya merileks sebelum dia menoleh ke pintu yang kini sudah kembali tertutup.

Dia diam sejenak, menelan ludah lalu memberanikan dirinya untuk bicara;

“Kau tahu kau berhutang penjelasan padaku, 'kan...,” dia ragu sejenak lalu menambahkan, “Nio?”

Hening di dalam kamar mandi sebelum suara air dikucurkan kembali terdengar dan kini Nio atau siapa pun dia, mandi dengan air hangat dari Bian.

Sementara Bian duduk di ranjangnya; pening.

Apa yang sebenarnya terjadi?!

*

Author's Note:

Dimohon untuk tidak meromantisasi hubungan Nia dan Bian demi kenyamanan bersama.

Serta tolong, perhatikan bahasa yang digunakan pada komentar-komentar kalian, yaa! 🤗💜

Trims!

ire, x