eclairedelange

i write.


“Hei. Maaf lama.”

Bian menghampiri Antonio yang duduk di ruang tamu dengan kaus hitam longgar dan jaket bermotornya yang disampirkan di sandaran lengan kursinya.

Dia bersandar dalam di kursinya, kakinya terbuka dan diluruskan di lantai; mengklaim wilayahnya seperti seekor singa.

Masih terasa begitu janggal bagaimana Antonio datang ke kosannya, tersenyum lebar dan sekarang duduk di salah satu kursi jelek ruang tamu kosannya.

Dia nampak terlalu indah untuk duduk di atas kursi reyot jelek itu dan Bian harus bernapas dari mulutnya agar aroma parfum Antonio yang lembut tidak merusak kepalanya.

Dia mendapati pemuda itu sedang mengunyah martabak dan sejenak tersengat rasa bersalah karena meninggalkannya sendirian. Antonio mendongak, menatapnya dan panik mencari-cari.

Bian meletakkan sebungkus tisu ukuran travel di meja dan Antonio menerimanya dengan senang.

“Kau tidak suka galonnya?” Tanya Antonio di luar dugaan Bian seraya melirik galon yang berdiri di meja sebelah mereka.

“Tidak, tidak. Bukan begitu.” Bian memijat pelipisnya, bagaimana caranya menjelaskan ini?

“Aku hanya berniat menggodamu tapi kau menangkap semuanya secara literal, benar-benar, deh.” Katanya kemudian, menatap galon di hadapan mereka.

Antonio mengedikkan bahunya, “Demi kau, hujan badai pun akan kuterjang.”

Bian menatapnya, mendenguskan tawa kecil. “Gih. Coba sekarang.” Tantangnya.

Antonio menggeleng, dia melirik langit yang bergemuruh. “Maaf, sedang gerimis.” Katanya.

Bian tertawa, “Benar-benar!” dan Antonio tersenyum lebar.

Dia meraih selembar tisu lalu meraih sepotong martabak, menyuapnya—membiarkan rasa mentega hangat dan meises yang meleleh karena panasnya adonan martabak meledak di dalam mulutnya.

“Apakah kosanku jauh dari tempatmu?” Tanyanya setelah mereka bersidiam sejenak—kikuk.

“Tidak, kok.” Antonio meraih sepotong martabak lagi dan menyuapnya. “Sebenarnya ada jalan tikus. Dari depan mini market sana, tembusannya di SD. Lalu beberapa meter lagi kontrakanku.”

Bian menoleh. “Sungguh?” Tanyanya, kaget.

Antonio tertawa. “Aku sering beli sarapan di pecel depan sana.”

“Aku juga!”

“Lihat, 'kan? Jodoh memang tidak ke mana-mana.”

“Menyebalkan.” Bian tertawa, menyuap habis martabaknya dengan senang. Merasa hatinya sedikit hangat karena duduk di teras, suara adzan mulai berkumandang dan Antonio di sisinya.

“Kau tahu,” kata Antonio kemudian.

Bian mendongak, “Ya?”

Antonio menatapnya, menyapukan tatapan ke seluruh wajahnya dan membuat jantung Bian berdebar.

“Kau nampak jauh lebih menyenangkan lagi setelah tertawa.” Dia mendesah, memasang wajah tidak habis pikir yang begitu menggemaskan hingga Bian ingin sekali mencubit wajahnya.

“Kau sama sekali tidak membantuku, Kak.” Keluhnya.

“Sekarang aku makin mencintaimu. Bagaimana, dong?”


Nio menatap Arfabian yang menatapnya dengan mata membulat kaget yang membuat hatinya terasa diremas-remas.

Dia tidak bohong.

Melihat Arfabian tertawa karenanya dan bersamanya terasa begitu menakjubkan hingga dia pikir dia sedang bermimpi.

Dia begitu indah, langsing—Tuhan pasti sedang tertawa saat menciptakannya karena dia terlahir dengan begitu sempurnanya hingga Nio merasa mendapatkannya pastilah anugerah dalam hidup ini.

Nio mendesah, teringat betapa berengseknya dia beberapa waktu lalu sempat ingin mempermainkan pemuda ini.

Dia nampak begitu tulus sekarang tanpa topeng ketegasan dan amarah: nyaris telanjang. Seperti kuncup lotus yang merekah bersama terbitnya matahari pagi.

Soft, delicate and mesmerizing.

Nio ingin menyentuhnya, membelai permukaan kulitnya untuk merasakan teksturnya—untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arfabian nyata. Bukan embun pagi yang akan menguap saat matahari beranjak semakin tinggi.

“Kau pintar bicara.” Kata Arfabian kemudian setelah mengendalikan dirinya, Nio bisa melihat rona samar di telinganya.

“Tidak.” Katanya, jantungnya berdebar. Bagaimana mungkin manusia seindah ini nyata?

“Aku bicara apa adanya. Kau benar-benar membuatku semakin menyukaimu sekarang.” Dia memijat tangannya sendiri, gugup.

There's no turning back for me, I've fallen too deep. Good for me because I have no plan to escape from you.”

Dia menoleh, menatap Arfabian langsung ke matanya yang bening—seperti batu onyx yang baru dipoles; berkilau dan mengilap.

Nio kemudian berdeham, mendadak merasa begitu gugup padahal dia selama ini tidak pernah gugup.

“Aku... Boleh minta sesuatu?” Tanyanya.

Alis kiri Arfabian naik, “Apa?” Tanyanya lirih.

Nio tahu tidak hanya dia yang sedang gugup sekarang.

Nio menunduk, menatap tangan Arfabian yang beristirahat di pahanya menggenggam tisu yang tadi digunakannya untuk makan.

Dia mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menengadah ke atas, “Boleh aku menggenggam tanganmu?”


Jika neraka adalah manusia, maka Antonio Abhirama-lah orangnya.

Dia adalah perangkap yang sempurna—menggoda setiap makhluk untuk dengan senang hati melompat ke dalam jebakannya, dengan senang hati melukai diri mereka berkali-kali demi mendapatkan perhatiannya.

Dengan senang hati tenggelam, tidak ingin menyelamatkan diri.

Apakah Bian salah satunya?

Dia sudah pernah terjun ke dalam lubang itu, mendapati dirinya disengat rasa sakit dan berhasil memanjat naik hanya untuk mendapati jebakan yang sama dilambaikan ke depan wajahnya.

Dan kali ini jebakan itu yang melangkah ke arahnya, menggodanya untuk terjun.

Haruskah Bian terjun lagi?

Bian menatap tangan yang berada di hadapannya, terbuka seperti kelopak mawar yang lepas dari tangkainya—menunggu tangannya diletakkan di atasnya.

Tangan Antonio nampak hangat, kuku-kukunya membulat dan pendek. Ada kapalan di beberapa bagiannya tapi itu malah membuat Bian semakin penasaran untuk meletakkan tangannya di sana—merasakan hangat dan kasarnya tangan itu di tangannya.

“Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman tapi...” Antonio menambahkan, “Kau nampak begitu indah hingga aku ingin menggenggammu.

“Meyakinkan diriku sendiri bahwa kau itu nyata; bukan sejenis peri yang akan lenyap begitu aku menyentuhmu terlalu keras.”

Hati Bian berdesir, “Kau sungguh bajingan bermulut besar.” Katanya, jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging.

“Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan tentangmu, kok. Tanpa berniat menjadi bajingan sama sekali.” Antonio tersenyum dan Bian langsung membalas senyumannya.

Smile looks great on you.” Antonio mendadak merendahkan suaranya hingga bulu kuduk Bian meremang karenanya.

You should wear them more often.” Tambahnya, telapak tangannya yang melayang di hadapan Bian bergerak.

“Aku tidak boleh menggenggam tanganmu, ya?” Tanyanya lembut dan lirih, memberikan Bian ekspresi anak anjing menggemaskan itu lagi.

Bian menggertakkan rahangnya, tidak kuat oleh serangan itu sebelum akhirnya mengulurkan tangannya; menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Antonio dan meremasnya.

Antonio seketika meraihnya hingga Bian terkesirap, menangkup telapak tangan Bian dengan kedua telapak tangannya; hangat dan intim.

Seluruh sarafnya langsung merileks; meleleh seperti mentega dan meises yang digunakan di dalam martabak tadi. Hangat genggaman tangan Antonio membuatnya lemah.

“Ya Tuhan.” Bisik Antonio dalam napasnya, nyaris tidak terdengar tapi toh, Bian mendengarnya juga dan jantungnya terasa mencelos mendengarnya.

Great.” Kata Antonio, meremas tangannya dan tersenyum. “Kau tidak lenyap. Puji Tuhan.”

Bian tertawa, gugup dan gemetar. “Memang tidak, Bajingan.” Katanya. “Aku ini benda padat.”

Antonio menatapnya dengan pandangan tersihir yang membuat hati Bian nyeri karena senang. “Kau indah sekali.” Katanya lalu mengerjap.

“Maaf.” Katanya, merona tipis dan Bian ingin sekali meraihnya; mencubit hidungnya. “Kedengaran creepy, ya?”

Bian menggeleng lemah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Seharusnya dia tidak meminta Antonio datang karena dia benar-benar tidak sehat untuk mentalnya.

“Tidak.” Bian menggaruk tengkuknya dengan tangannya yang bebas. “Aku tidak pernah dipuji siapa pun selain Jimmy jadi aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya merespons pujian.”

Antonio menatapnya dengan matanya yang tajam dan jernih, seperti seekor elang bondol liar yang menguasai langit—dia nampak berani, eksotis, paham bahwa dia berkuasa.

“Aku akan menghujanimu dengan pujian.” Katanya kemudian membuat Bian menahan napasnya.

“Kau hanya boleh mendengar pujian karena kau layak mendapatkan pujian untuk apa pun yang kaulakukan, bahkan bernapas. Bodoh sekali mereka yang tidak pernah memujimu; kau punya banyak hal untuk diapresiasi.”

Bian tertawa kering, sekarang ingin menangis karena kekuatan kata-kata Antonio membuatnya takut.

Jika suatu hari nanti lelaki ini memutuskan untuk berhenti, apa yang tersisa untuk Bian?

Dia akan hancur lebur. Dan dia tidak yakin dia bisa merangkak bangkit dari lubang itu—dari Antonio.

Matanya panas dan sebelum dia sempat menahannya, setitik air mata meloloskan diri.

Antonio terkesirap.


Nio menatap ngeri air mata yang meluncur di pipi Arfabian—apa yang dikatakannya tadi??

Apa yang membuat Arfabian sedih??

“Kak?” Panggilnya, meremas tangan Arfabian lebih erat lagi dan pemuda di hadapannya tertawa kaget seraya bergegas menyeka air matanya.

“Apakah ada kata-kataku yang salah?” Desaknya lembut.

“Tidak, tidak.” Arfabian tertawa parau. “Ini hanya...” Dia kesulitan mencari kata-kata sebelum mendesah, “Lupakan saja. Maafkan aku.”

Nio menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Dia menyusap punggung tangan Arfabian dalam genggamannya, berusaha membuatnya nyaman.

“Kau ingin sendirian? Aku bisa pulang.”

Arfabian menatapnya. “Tidak, jangan!” Katanya seketika lalu merona karena keceplosan dan Nio tertawa kecil.

“Baik, aku akan tinggal lebih lama.” Dia tersenyum pada Arfabian yang menyeka air matanya. “Tidak perlu menangis dan merajuk.”

Arfabian memutar bola matanya, berdecak sebal dan Nio tertawa. “Siapa yang merajuk dan menangis karenamu?”

“Tuhan Yesus tidak suka pembohong, Kak.”

“Kenapa bawa-bawa Tuhan Yesus??”

Nio tertawa dan beberapa detik kemudian, tawa Arfabian menimpali tawanya.

Hangat, walaupun hujan rintik-rintik mulai turun. Tangan dalam genggaman Nio membuatnya hangat dan berani, senyuman Arfabian membuatnya tenang dan rileks.

Dia merasa aman dan tenang walaupun hujan mulai turun. Dia tidak pernah merasa begitu tenang dan nyaman dengan air hujan yang merebes; tidak pernah merasa aman di dalam suara riuh hujan yang selama ini menerornya dengan ketakutan.

Arfabian menahannya di bumi, membuatnya tenang.

Nio tahu dia harus menjadikan Arfabian miliknya, apa pun yang terjadi.

Dia tidak akan melepaskannya karena dia tahu lelaki seperti Arfabian tidak akan melangkah ke hidupnya dua kali; lelaki seperti Arfabian hanya ada satu untuk setiap Antonio.

Dan Arfabian ini adalah miliknya.

*


“Puas?”

Bobby menatap kedua adiknya yang sedang tertawa terbahak-bahak di sofa, bergulingan seperti kembar siam seraya menatap layar ponsel mereka—mengerjai Antonio, begitu kata mereka. Dia menunduk ke cucian piring di tangannya, tersenyum senang karena adik-adiknya senang.

“Puas!” Sahut Jimmy, cekikikan dengan ceria di sisi Bian yang tertawa tanpa suara.

Tadi saat Bobby sedang sibuk memanggang daging untuk makan malam mereka—perayaan kesuksesan FTV terakhir Bobby dan dia membiarkan adik-adiknya memilih makanan yang mereka inginkan. Bian ingin BBQ, maka Bobby menelepon restoran BBQ terenak dan meminta mereka mengirimkan menu terbaik mereka ke apartemennya.

Suasana makan sedang damai dan menyenangkan saat Jimmy tiba-tiba berseru heboh, “Bian, lihat Twitter!”

Dan kemudian keduanya sibuk berdiskusi heboh dan tertawa sambil menatap ponsel mereka, lalu Bian menoleh padanya. Bobby balas menatapnya, adiknya mengamati perlatan BBQ di atas meja lalu mengaturnya sedemikian rupa hingga nampak seolah hanya ada dua orang di meja, menyingkirkan piring Jimmy dari ruang tangkap kamera.

“Ayo, lanjutkan memanggang!” Desak Bian dan Bobby tertawa, tahu ke mana maksud dan tujuan Bian. Maka dia memasang posisi seolah sedang memasak dengan rileks dan Bian mengambil gambarnya.

Lalu keduanya merunduk ke atas ponsel Bian seperti dua penyihir yang sedang membuat ramuan rahasia untuk memikat seseorang. Bobby tertawa, kembali ke makanannya sementara kedua adiknya tertawa ceria.

“Berikan caption yang seru!” Jimmy berseru, tertawa tidak terkenali hingga Bobby takut mereka nantinya mabuk adrenalin.

Dan setelah puas, mereka bertukar high-five nyaring. Bian nampak cerah, wajahnya merona karena tertawa dan serangan adrenalin. Bobby senang melihatnya, senang melihat Bian yang nampak rileks dan nyaman.

Kapan terakhir kalinya adiknya bersikap rileks? Dia selalu mengerutkan alisnya, sibuk mengejar studinya dan menyelesaikan pendidikannya tepat waktu—sibuk dan selalu sibuk. Menjadi ketua panitia itu, menjadi asdos ini, ikut dalam penelitian dokter A, menjadi rekan penelitian dokter B, membantu dosen C dalam penelitian X; tidak pernah diam.

Sekarang dia duduk di hadapan Bobby, tertawa lepas dengan wajah merah padam dan Bobby bersyukur—setidaknya adiknya tidak akan terkena penyempitan pembuluh darah di usia muda karena terlalu serius.

“Dia langsung diam!” Kekeh Jimmy, kembali ke makanannya—tersengal setelah tertawa. Dia meraih sumpitnya, menjepit selembar daging dan menyuapnya. “Diam tidak berkutik!”

“Yah,” kata Bobby kalem, menambah daging ke atas pemanggang daging yang langsung mendesis karena minyak dari lemak dagingnya—aroma daging dan bawang putih panggang memenuhi ruang makan apartemen Bobby.

“Jika saingannya adalah aku, semua lelaki pasti akan diam.”

Bian memutar bola matanya, “Mulai deh.” Katanya dengan nada mencela yang geli. Dia meletakkan ponselnya dan meraih sumpitnya kembali, mulai makan dengan senyuman di bibirnya.

“Kau naksir Antonio.” Tandas Bobby kalem, membalik dagingnya di pemanggang.

Bian tersedak, “Hah, apa?!” Dia menyeka mulutnya dan Jimmy tertawa ceria, seperti gemerincing lonceng. “Aku tidak naksir Antonio.”

“Ya, yaa!” Dendang Jimmy ceria. “Aku juga tidak naksir Kak Jun.” Tambahnya meniru nada Bian dengan begitu persis dan Bobby tertawa.

Bian menoleh ke arahnya, memicingkan mata. “Tega-teganya kau berkhianat.” Katanya dan Jimmy tertawa, menyuap makanannya dengan ceria.

“Jika kau memang tidak tertarik seharusnya kau tidak repot-repot membalas cuitan cari perhatiannya hingga sefokus itu.” Bobby mengerling adiknya yang sekarang mendelik padanya.

I want to give him the taste of his own medicine.” Bian meraih sepotong daging yang mendesis dari pemanggang dan menyuapnya dengan nasi hangat pulen kesukaannya.

“Nah,” Jimmy nyengir, meraih sehelai selada dan mengunyahnya dengan suara renyah yang basah. “Kau masih punya dendam padanya. Berarti kau masih peduli padanya. Walaupun tidak suka—”

“Belum suka,” koreksi Bobby kalem.

Jimmy menjentikkan jarinya. “Belum suka,” koreksinya setuju. “Setidaknya kau peduli padanya.”

Bian menatapnya. “Jadi sekarang kau mendukung Antonio?”

“Tidak juga? Kita belum tahu maksudnya dibalik tindakannya,” Sahut Jimmy kalem, mengedikkan bahu. “Tapi bukan berarti aku juga memintamu untuk terjun percaya begitu saja seperti terakhir kalinya.

“Inilah saatnya kita mencari tahu seberapa seriusnya dia denganmu. Jangan jadikan ini mudah untuknya, Bian. Kau sudah pernah memberikannya kemudahan dan dia menyia-nyiakannya.”

“Betul.” Bobby mengangguk, menambahkan beberapa bawang putih ke atas pemanggang—aromanya langsung menyeruak di udara dan membuat Bian menghela napas dalam-dalam, aromanya harum dan menggugah selera.

“Kau masih bisa menggunakan namaku.” Bobby tersenyum pada daging-daging yang sedang dipanggangnya dengan tekun seolah itu bukan apa-apa. “Aku jago akting, kok. Aku bisa mengantar-jemputmu, membuatkanmu makan siang, model foto di Twitter.... Apa saja.”

Jimmy tertawa dan Bian mendengus, “Aku tidak suka Antonio, oke.”

“Iya, iya, percaya kok!” Dendang Jimmy, menatap Bobby yang menaikkan sebelah aslinya lalu mengedipkan sebelah matanya—keduanya bertukar senyuman lebar sementara Bian mengunyah makanannya setengah gusar.

Lalu setelah makan, Bobby mengizinkan keduanya makan masing-masing satu pint Baskin Robins yang sengaja dibelinya untuk mereka sore tadi sebelum hujan deras, meminta mereka menginap saja di apatemennya dan berangkat kuliah dari sini karena hujan belum juga reda.

Mereka sedang sibuk menertawai cuitan seseorang yang Jimmy sebut sebagai Hutagalung tentang Antonio, lalu Bian berseru kaget, nyaris menjatuhkan ponselnya.

“Ada apa, sih, kalian ini?” Bobby menegur mereka seraya meniriskan cucian piring setelah mereka makan—Bobby kalah hompimpah jadi dia yang harus membereskan piringnya.

“Antonio mengirim pesan!” Jimmy tertawa, berguling menjauh dari tangan Bian yang hendak menyambarnya. “Lalu Bian gugup!”

Bobby tertawa, mengelap tangannya. “Sudah kukatakan padamu, kau itu memang tertarik padanya.”

'Cause I knew you were trouble when you walked in.” Dendang Jimmy lalu berteriak saat Bian menyambar pinggangnya dan menggelitikinya dengan liar. “Biaan!” Teriaknya liar, tertawa terbahak-bahak, menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Bian di pinggangnya.

“Hei, hei, nanti aku ditegur tetangga!” Tegur Bobby, meraih pint es krimnya sendiri dan sendok.

Bian melepaskan Jimmy yang langsung melenting menjauh darinya, duduk di sofa terjauh darinya—terengah-engah karena tertawa, menyeka rambutnya yang berantakan.

“Memangnya apa kata Antonio?” Tanya Bobby, duduk di sofa di sisi Bian dan mulai membuka tutup es krimnya, menyendok dan menyuapnya—membiarkan es krim meleleh di lidahnya.

Bian menatap ponselnya, “Hanya “Kak Bi, malam?” saja. Tidak ada yang istimewa kok.”

“Kak Bi.” Ulang Bobby sopan, menyendok es krimnya dengan khidmat; mengerling adiknya penuh godaan dan Bian memutar bola matanya jengkel. “Aku baru dengar itu.”

“Memang,” Jimmy menyambarnya, terkekeh saat melihat ekspresi Bian. “Hanya dia yang memanggil Bian dengan Bi selain aku. Dan Kak, kau tahu tidak?” Tambahnya pada Bobby yang menatapnya.

“Mulai, deh!” Seru Bian dan Jimmy mengabaikannya.

“Kau ingat red relvet Union tempo hari, tidak?” Desaknya ceria.

Alis Bobby terangkat, dia mengangguk. “Selusin itu, 'kan? Aku ingat. Kenapa?” Tanyanya.

“Itu dari Antonio.”

Bobby berhenti menyuap makanannya, “Sungguh?? Kau tahu dari mana?”

“Malamnya setelah Bian membuat cuitan tentang berterima kasih untuk kuenya, Antonio juga membuat cuitan: “Syukurlah jika ternyata suka”.” Jimmy nyengir, superior karena tahu segalanya. “Dia berkilah dengan menambahkan, bahwa itu tentang makanan anjing sih, tapi aku tahu. Begitu saja.”

“Aku tidak terima begitu saja, argumenmu tidak valid.” Cibir Bian dan Jimmy mengedikkan bahunya, “Biasakan, ya!” Sahut Jimmy.

“Wow.” Bobby melirik adiknya yang melempar ponselnya ke sofa, mengabaikan Antonio. “Setelah kau memarahinya habis-habisan di Whatsapp itu, ya?”

“Yep.” Bian menyugar rambutnya, meraih es krimnya dan kembali makan. “Mungkin dia merasa bersalah atas tingkah berengseknya padaku. Bagus, 'kan?” Dia menjejalkan sesuap es krim ke mulutnya, menyesapnya agar dia tidak mengucapkan hal-hal aneh pada kedua temannya.

Menceritakan sepenuhnya pada mereka tentang bagaimana Bian sebenarnya lebih dari tertarik pada Antonio yang tengil, menyebalkan dan pantang menyerah ternyata membawa untung dan rugi.

Keuntungannya, dia bisa bicara dengan bebas kepada kedua sahabatnya tanpa tedeng aling-aling namun di sisi lain, mereka jadi gemar sekali menggodanya tiap kali Antonio bernapas terlalu dekat dengannya—yang mana adalah sering.

Bian sedang mempertimbangkan seberapa banyak rasa suka dan rasa jengkelnya pada Antonio, memutuskan bahwa jengkelnya jauh lebih banyak. Keinginannya untuk membuat Antonio merasakan apa yang dirasakan Bian.

Dia tidak akan membuat ini mudah untuk Antonio, lihat saja.

Bajingan congkak itu harus diberi pelajaran jika berani bermain api dengan Theodorus Arfabian.

“Lalu akan kau balas apa pesannya barusan?” Tanya Bobby, melirik ponsel Bian yang tergeletak di atas sofa.

“Memangnya kenapa juga aku harus membalasnya?” Bian mengedikkan bahunya, menunduk ke es krimnya dan menyuap lagi. “Tidak harus, 'kan?”

Jimmy tersenyum lebar. “That's my bish!” Dia mengulum sendoknya agar kedua tangannya bisa bebas bertepuk tangan dengan semangat.

“Tidak menyesal?” Tanya Bobby, melirik adiknya yang sibuk menjejalkan suapan demi suapan es krim ke mulutnya.

Bian menggeleng, tegas. “Aku akan sangat menyesal jika aku jatuh ke dalam permainannya dengan begitu mudah untuk kedua kalinya.” Katanya, “A donkey won't fall into the same trap twice.”

Bobby tersenyum, menambahkan dalam hati bagaimana kecenderungan manusia yang berakal dengan senang hati melompat ke dalam lubang yang sama berkali-kali, berharap akan mendapatkan hasil berbeda di percobaan berikutnya.

Selalu dan selalu begitu. Apalagi jika lubang itu diberi nama cinta.

Akal sehebat apa pun akan kalah olehnya.


“Dia tidak membalasnya?”

Nio menatap ponselnya, berusaha membakar benda itu dengan tatapannya sementara di hadapannya, Yoga berguling di depan televisi dengan Dalkyum bergelung di perutnya.

Ada kentang goreng yang terbuka di sisi mereka, hadiah dari Danny yang tadi membelikan mereka terlalu banyak makanan untuk dimakan dua orang. Makanan-makanan yang tidak habis disimpan Yoga di dalam lemari es, besok bisa dihangatkan.

Gelas-gelas soda ukuran besar berkondensasi, sudah habis karena sejak tadi diminum Nio yang kepanasan menunggu jawaban dari Arfabian yang nyatanya tetap tidak membalas pesannya bahkan setelah lepas setengah dua belas malam.

Nio sudah melakukan banyak hal seraya menunggu—menyelesaikan tugasnya, menyisir bulu-bulu Dalkyum, bermain game daring dan macam-macam; apa saja agar tidak menatap ponselnya dengan sangat menyedihkan menunggu balasan dari Arfabian.

Namun balasannya tidak kunjung datang juga.

“Sudahlah, ayo tidur.” Yoga menguap, bangkit dan menggendong Dalkyum ke kamarnya; merasa sudah tidak ada gunanya menunggu.

Yoga sudah sempat menghabiskan waktu dengan menelepon Bram—jadwal rutin sebelum tidur selama dua jam dan Nio belum juga mendapatkan balasan pesannya sama sekali. Dia keluar dari kamar setelah mematikan sambungan, melihat Nio bersila di lantai dengan satu burger dijejalkan ke mulutnya—merajuk.

Yoga tahu dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, Nio tidak suka itu.

Dia berhenti di depan pintu kamarnya, menatap Nio yang masih berbaring di ruang tengah dengan mata menempel di ponselnya yang sejak beberapa jam tadi tidak bergeming sama sekali.

Keras kepala sekali, pikirnya setengah geli.

“Nyo,” desahnya, bersandar di kusen pintu kamarnya. “Tidurlah, kita coba lagi besok.”

Nio menatap ponselnya yang diam. “Dia benci padaku, ya?” Tanyanya.

Yoga mengedikkan bahu, “Aku tidak bisa menjawab pertanyaan tentang perasaan seseorang, itu hanya Kak Yan yang tahu.” Dia menguap tertahan dan Dalkyum menggeliat di pelukannya.

“Kau bisa coba lagi besok.” Tambahnya, menyemangati Nio. “Jangan putus asa dulu. Kau sudah pernah mendekatinya dengan mudah dulu dan kau menyia-nyiakannya, jadi sekarang kau harus berjuang lebih lagi.”

Nio bergeming, menatap Yoga dengan alis berkerut—nampak berpikir. “Lebih lagi, ya?” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.

Yoga mengabaikannya, “Aku tidur duluan, oke? Jangan lupa kau punya kelas pagi besok.” Dia masuk ke kamarnya, mematikan lampunya. “'Malam, Nyo.”

”'Malam, Yoga.” Sahut Nio, berpikir keras seraya menatap layar ponselnya.

Mungkin dia punya sesuatu yang bisa dilakukan...

*


“Baiklah, ada pertanyaan?”

Satu ruangan diam, berbisik-bisik dengan suara rendah sementara di depan mimbar Bian berdiri menatap semua wajah satu per satu dan sengaja melewati satu wajah yang duduk di sudut belakang, menatapnya dengan tatapan predator yang membuat perutnya mulas.

Dia berusaha keras mengabaikan Antonio sepanjang rapat, sejenak merasa dia seharusnya membiarkan saja Antonio tidak hadir di rapat. Karena kali terakhir pemuda itu tidak hadir, Bian memimpin rapat dengan sangat lancar dan tenang.

Antonio hadir untuk merusak konsentrasi dan fokusnya, Bian benci kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Jika tidak ada,” kata Bian kemudian, kembali ke mejanya dan mulai membereskan barang-barangnya. “Silakan untuk para koordinator untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan divisi-divisinya.”

Bian memasuki mimbar, langsung mengobrol dengan wakil, sekretaris dan bendaharanya mengenai pengajuan proposal pengadaan dana dan sebagainya. Mereka baru mengajukan proposal mereka ke Fakultas dua hari lalu dan belum ada info kapan dananya akan cair sementara inisiasi universitas sudah mulai berjalan, waktu mereka bisa jadi sangat tipis tergantung cairnya dana.

Divisi-divisi mulai membelah diri—membentuk lingkaran-lingkaran di dalam ruangan untuk membahas progres kinerja mereka masing-masing. Suara obrolan mereka riuh-rendah, ada yang tertawa dan ada yang bicara dengan serius. Obrolan malas mereka menggantung rendah di ruangan, membuat Bian merasa hangat dan tenang.

Bian menyapukan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan sekilas, mengawasi situasi ruangan saat matanya dan Antonio bertemu. Tidak sampai lima detik, tapi efeknya berhasil membuat Bian sejenak goyah.

Bagaimana bisa anak itu nampak begitu mengintimidasi? Dingin dan angkuh? Lalu berubah menjadi tengil dan menyebalkan di detik pertama dia membuka mulutnya?

Bian tidak bisa tidak mengapresiasi bentuk wajahnya yang tegas, garis rahangnya yang tajam, matanya yang indah dan bibirnya yang membentuk garis tipis—tidak senang akan sesuatu.

Dan Bian terserang impuls gila sesaat yang memusingkan, dia ingin menyenangkannya, menghapus garis tipis itu dari bibirnya.

Bian langsung mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangan, merasakan sentakan rasa jengkel dan sebal serta muak yang membuatnya merinding. Dia melirik sekali lagi, menyadari Antonio masih menatapnya.

“Apa lagi masalah anak itu sekarang.” Gerutunya di bawah napasnya sebelum memalingkan wajah sepenuhnya, memfokuskan seluruh perhatiannya pada sekretarisnya yang sedang membicarakan surat izin para mahasiswa.

Bian membubarkan rapat pukul enam sore, di luar hujan mulai turun dan semakin deras sehingga banyak anak-anak yang memutuskan untuk tetap di ruangan—termasuk Antonio dan Yoga yang duduk di kursi pojok ruangan dengan koordinator mereka, bermain game bersama.

“Oke.” Bian membereskan barang-barangnya. “Nanti jika fakultas menghubungiku, aku akan segera menghubungimu.” Katanya pada bendaharanya yang mengangguk, membereskan nota-nota sementara yang mereka kumpulkan untuk persiapan.

“Kau akan pulang sekarang, Yan?” Tanya wakilnya, melirik jendela yang sekarang menampilkan langit kelabu gelap dengan titik-titik air raksasa yang menghajar permukaannya.

Bian mendesah, sebal. “Sepertinya akan kutunggu hingga sedikit reda saja.” Dia melirik jam tangannya. Dia ada janji untuk ke apartemen Bobby malam ini dengan Jimmy, menonton Netflix dan makan tapi sepertinya harus ditunda.

Dia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan mengetikkan pesan untuk Bobby: Aku terjebak hujan di kampus, sepertinya akan agak terlambat. Kau oke? Lalu menekan tombol kirim.

Dia menatap layar ponselnya, menunggu jawaban Bobby yang belum daring saat tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel dari sudut ruangan. Seluruh ruangan menoleh, terkesirap bersamaan dengan suara seragam karena nada deringnya keras sekali dan melihat Antonio nyaris melempar ponselnya karena kaget sendiri oleh deringnya.

“Angkat, angkat.” Goda beberapa orang dan tertawa karena baru sembuh dari kekagetan mereka atas deringnya.

“Maaf!” Seru Antonio terkekeh.

Antonio bergegas mencabut pengisi daya ponselnya, membawa benda itu keluar dari kelas seraya mengangkatnya terburu-buru namun Bian sempat mendengar sapaannya sebelum pintu ruangan mengayun tertutup.

“Halo, Nia? Aku sedang di kampus, hujan. Ada apa?”

Aku katanya, pikir Bian mencibir dalam hati dan kembali menunduk ke ponselnya, menunggu balasan Bobby.

Dia menunduk ke ponselnya, berjalan-jalan ke sosial medianya untuk membunuh waktu namun dengan telinga siaga ke pintu depan. Suara Antonio dikalahkan oleh deru hujan yang semakin deras sehingga Bian secara tidak sadar dan didorong oleh rasa penasaran, akhirnya bangkit, mendekat ke pintu dengan kedok mengisi daya ponselnya.

Dia bersandar di dinding, melirik ke pintu yang terkuak dan melihat Antonio menempelkan ponsel ke telinganya nampak rikuh. Alisnya berkerut dan wajahnya terlihat... marah.

Bian mengerjap, Uh-oh.

Apakah mereka bertengkar?

Dia melirik lagi, mengamati saat Antonio membuka mulut—mengatakan sesuatu sementara tangannya bergerak-gerak di hadapannya, nampak jengkel. Dan gestur itu mengirimkan sentakan rasa nyaman ke hati Bian, membuatnya berdersir.

Mereka ribut, Bian positif tentang itu.

Namun Antonio terlalu jauh dan hujan terlalu deras untuk Bian bisa mendengarkan apa yang mereka ributkan. Dia menunduk ke ponselnya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyumannya.

Mereka bertengkar.

Bian tersenyum lebar.


Yoga mungkin seorang badut, tapi dia tidak bodoh.

Dia melirik Arfabian yang tersenyum lebar ke ponselnya sementara di tangannya ponselnya menyala dengan Nio tersambung dalam panggilan suara Whatsapp. Ide sinting Nio, tentu saja.

Dia terlalu malu untuk minta tolong pada Nia sehingga mereka akhirnya membuat rencana. Yoga akan meneleponnya, membiarkannya tersambung dan Nio akan berakting seperti orang bodoh di luar sana. Menggunakan semua kebodohannya untuk bersikap seolah-olah dia sedang bertengkar dengan kekasihnya.

“Mudah,” klaim Nio tadi dan nampak sangat positif dengan rencananya. “Hanya tinggal marah-marah, 'kan? Aku anggap saja itu Kak Jin.”

Jadi Yoga memutuskan untuk bersikap seperti kata-kata mutiara andalannya, “Orang waras mengalah saja.” Maka dia membiarkan Nio dan Danny membahas rencana gila mereka.

Mereka membicarakan ini saat mengikuti kelas lewat grup Whatsapp mereka. Danny yang memang pada dasarnya suka drama percintaan picisan, mendukung sepenuhnya. Lalu tugas Yoga-lah untuk mengecek reaksi Arfabian sementara Nio mengerahkan kemampuan aktingnya.

Dia membawa ponselnya mendekat ke bibirnya, mendengarkan dengung suara Nio dan hujan yang sayup-sayup karena dia merendahkan volume panggilan dan berbisik ke receiver, “Dia termakan dramamu. Lanjutkan sedikit lagi.”

Apa maksudmu aku tidak pernah memberi kabar? Aku selalu melakukannya!” Kata Nio di seberang sana, ditingkahi suara hujan dan Yoga memutar bola matanya, sebal. “Kau tidak pernah menghargai semua usahaku, sibuk dengan dirimu sendiri!”

Get lost, Dickhead.” Kutuknya jengkel.

Sayang, dengarkan aku.” Kata Nio di seberang sana, lembut dan membujuk. Yoga nyaris saja bangkit, menghambur keluar lalu menonjok wajah Nio di tempat.

“Iya, iya, kau meyakinkan sekali.” Bisik Yoga sebal lalu mematikan sambungan, membiarkan Nio melakukan improvisasi sendiri.

Dia melirik Arfabian yang sekarang menatap ke celah pintu, yang sengaja dilakukan Nio dengan sangat ahli dan terkalkulasi sempurna sehingga nampak seolah dia tidak berniat meninggalkan celah untuk diintip.

Dan kemudian, Arfabian bergegas memalingkan wajah tepat sedetik sebelum Nio memasuki ruangan dengan wajah gusar yang Yoga akui nampak sangat natural. Sepertinya Nio harus ikut casting sebagai pemain film.

Mereka seharusnya bisa saja langsung jadian dan hidup bahagia selama-lamanya jika saja mereka berdua tidak terlalu gengsi untuk mengakuinya, tidak terlalu keras kepala dengan emosi masing-masing.

Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat Yoga, jadi dia diam.

Namun sedetik setelah dia memunggungi Arfabian, wajahnya berubah seketika; menjadi ceria dengan senyuman dikulum. Dia menaik-naikkan kedua alisnya, melirik bagian belakang punggungnya dan Yoga melirik ke sana—mendapati Arfabian sedang menatap Nio sebelum kembali menunduk ke ponselnya.

Yoga mengacungkan jempolnya dan Nio tersenyum lebar.

“Kau mengerikan.” Bisik Yoga saat Nio mendudukkan diri di sisinya.

Nio tersenyum senang. “Aku jago masalah seperti ini.” Dia mendengus bangga.

“Apa?”

“Akting dan berbohong. Itu bakat seorang anak bungsu, berpura-pura sehingga kakak mereka yang dimarahi.”

“Oh. Kak Yan harus siap-siap.”

“Aku akan berbohong tentang apa saja tapi bukan perasaanku pada Kak Bian.”

Yoga mulai positif tentang keinginannya menonjok wajah Nio, sungguh.


Bian membereskan barang-barangnya, hujan berubah menjadi rintik-rintik dan dia harus bergegas karena Jimmy ternyata sudah tiba lebih dulu di apartemen Bobby dengan ojek daring, tidak tahan menunggu Bian sendirian di Perpustakaan.

Bian menyandang tasnya bersamaan dengan segelintir anak-anak yang masih bertahan di ruangan itu karena pulang menggunakan motor, termasuk Antonio dan Yoga.

“Ayo pulang.” Ajak Bian ramah pada beberapa anak yang mulai berdiri.

“Akhirnya.” Keluh seorang dan bergegas meluncur ke pintu, tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. “Trims, Kak Yan! Ketemu besok!”

Bian melambai. “Hati-hati di jalan.” Katanya ramah lalu menoleh, mendapati Antonio berdiri di sisi pintu menunggu Yoga yang sedang membereskan barang-barangnya.

Bian mau tidak mau harus melewati ruang di sebelah Antonio. Dia menghela napas, menyiapkan diri (untuk apa dia menyiapkan diri? Dia tidak tahu) untuk melewati Antonio yang bermuka masam dan sepat seolah sedang mengunyah belimbing.

“Permisi.” Kata Bian pada Antonio.

Antonio menatapnya sebelum bergeser. “Maaf.” Katanya pelan dengan suara parau yang membuat Bian melirik, melihat wajahnya yang masam dari dekat.

Dan itu sebuah kesalahan karena seketika itu juga Bian menjadi bersimpati dengannya karena dia nampak begitu menggemaskan—seperti seekor anjing yang ekornya terkulai, memohon untuk diadopsi.

Dan Bian suka anak anjing.

Dia berhenti, membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum kembali diam. “Trims.” Katanya, bergegas berlalu dari sana—menahan dirinya sendiri agar tidak mengatakan apa pun pada Antonio.

Dia tidak akan bersikap mudah sekarang, apalagi pada Antonio. Dia tahu seluruh dirinya menginginkan pemuda itu dan dia juga sudah pernah membuka dirinya begitu lebar, membiarkan Antonio memasuki hidupnya—memporak porandakannya.

Bian tidak akan membiarkan hal itu terjadi dua kali.

“Kak?”

Dia mengerjap, berhenti dan mengenggam kunci mobilnya lebih kuat lagi. Dia menoleh, mendapati Antonio menatapnya dengan tatapan seperti anak anjing yang terluka—matanya sayu, wajahnya mengerut sedih dan Bian ingin sekali menggendongnya, menimang-nimangnya sayang.

Dia mengepalkan kedua tangannya, melawan dirinya sendiri. “Ya?” Tanyanya, menahan napas.

Antonio tersenyum kecil, senyuman yang tidak menyentuh matanya sama sekali dan entah kenapa, Bian merasakan ketulusan yang tidak pernah dilihatnya pada wajah Antonio, menyeruak di permukaan wajahnya.

Sejenak Bian merasa simpati, apakah pertengkarannya tadi dengan kekasihnya begitu hebat hingga dia nampak sesedih itu?

“Hati-hati di jalan, pasti macet dan banjir.” Dia tersenyum, melambai kecil.

Bian mengerjap, kaget. Tidak menduga kata-kata itu muncul dari Antonio.

“Oh.” Katanya. “Ya, oke. Trims.” Sahutnya. “Kau juga.” Lalu dia melambai dan berbalik, bergegas menjauh dari jangkauan Antonio sebelum dia mulai sinting.

Dia mempercepat langkahnya ke lift, dia harus menjauh dari Antonio sekarang sebelum dia benar-benar kehilangan akal sehatnya dan melemparkan diri ke dalam pelukan singa buas yang siap mencabik-cabiknya kapan saja.

Arfabian, kau harus benar-benar mengontrol dirimu sendiri, pikirnya jengkel, memasuki lift dan menekan tombol Ground.

Dia butuh ditampar atau ditonjok, mana saja yang akan menyadarkannya dari kungkungan kabut memabukkan kehadiran Antonio yang suka tidak suka, ternyata masih memiliki kuasa sepenuhnya atas dirinya.

*


Bian menghabiskan red velvet cake pertamanya sementara di hadapannya, Bobby sedang mengecek sesuatu di tablet yang selalu dibawanya ke mana-mana karena isinya jadwal dan segala macam tetek-bengek keartisannya.

Tadi saat mereka memasuki Union dan Bobby melepas kacamata gelapnya, beberapa orang langsung mengenalinya dan Bian terpaksa mundur ke latar belakang untuk membiarkan orang-orang menyapa Bobby dan meminta swafoto bersama.

Dia bersedekap di sana, mengamati Bobby yang meladeni penggemarnya dengan sabar dan senyuman ramah terkembang di bibirnya. Memikirkan apakah Bobby pernah lelah menjalani hal semacam itu di hidupnya? Setelah Bobby dengan tegas namun ramah meminta mereka untuk menghormati waktu pribadinya bersama adiknya, barulah mereka mundur.

Sudah lama sejak Bian terakhir keluar dengan Bobby, reaksi semacam ini membuatnya jengah karena kembali harus beradaptasi karena dia ditemani artis kenamaan ibu kota.

“Kau pesanlah makanan.” Kata Bobby kemudian, meletakkan tablet-nya di meja dan memfokuskan diri pada Bian yang menyendok keik di hadapannya, menyuapnya senang.

“Aku sudah pesan saat kau terima telepon dari manajermu tadi, aku pesan filet mignon untuk diriku sendiri dan tidak yakin makanan aneh apa yang ingin kaumakan, jadi kuminta pelayan kembali nanti.” Sahutnya kalem menatap Bobby yang meraih buku menu di sisinya.

“Baiklah,” Bobby mengamati nama-nama makanan di menu dan melambaikan tangan, memanggil pelayan yang bergegas menghampirinya. “Tolong satu escargot.”

Bian mengernyit. “Kau memang benar-benar merusak selera makanku.” Gerutunya, meraih sampanye di sisi mejanya dan meneguknya sedikit, untuk membilas rasa krim yang lengket dan tebal di mulutnya.

“Apa?” Balas Bobby kalem, mengembalikan buku menu ke pelayan yang mundur untuk meneruskan pesanannya ke dapur. “Aku memang ingin makan itu, kenapa kau berisik sekali?”

Bian memutar bola matanya, dia memilih untuk kembali menggali ke dalam keiknya daripada menanggapi Bobby yang sekarang membenahi duduknya, menumpukan kedua sikunya di meja dan menatapnya.

“Jadi, apa yang dilakukan Antonio padamu?” Tanyanya.

Bian menandaskan isi piringnya, berpikir dia akan meminta satu potong keik lagi untuk menenangkan isi kepalanya yang bergemuruh sebelum menatap Bobby. “Bersikap bajingan seperti biasa,” dia menyingkirkan piringnya yang langsung dibereskan oleh pelayan.

“Dia tidak pernah tidak bersikap tidak sopan padaku.” Bian menggerutu, menyeka bibirya dengan serbet. “Dia selalu bicara dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling, menjawabku dengan bahasa kasar yang tidak seharusnya diucapkan di forum resmi—menginjak-injak posisiku sebagai ketua.

“Dia memang bajingan tengil, namun dia tidak bisa berharap semua orang akan maklum dengan sifatnya yang begitu. Dia benar-benar membuat kepalaku sakit.”

Bobby terkekeh.

“Jadi aku mengiriminya sepatah-dua patah kata tentang betapa sikapnya membuatku sebal dan berharap dia memahami maksudku.” Tambah Bian, melirik etalase kue dan Bobby menyadarinya.

“Ambil sepotong keik lagi.” Katanya melambai kalem dan Bian langsung tersenyum cerah, dia meminta pelayan membawakannya sepotong black forest.

“Dan menurutku,” mulai Bobby setelah Bian menerima sepotong keiknya lagi. “Dengan kau mengatakan dengan jelas apa yang kau tidak senangi tentangnya, itu sudah memposisikan dirimu dengan benar. Yah, berharap saja si Tengil ini belajar sesuatu.”

Bobby terkekeh setelah hening sejenak, “Karena entah bagaimana, rasa-rasanya tipe manusia seperti Antonio ini tidak akan mau mendengarkan jika dirinya sendiri tidak ingin.”


“Yog,”

“Apa?”

Nio menatap ponselnya dengan serius sementara di ruang tamu, Yoga sedang belajar dengan Dalkyum melingkar di pangkuannya, mendengkur lembut. Televisi menayangkan acara talk show yang tidak diperhatikan sama sekali, diputar dalam volume sayup-sayup hanya untuk menemani mereka belajar.

Kontrakan mereka berada di gang sempit yang ramai, jadi suara-suara otomatis masuk ke dalam kontrakan mereka yang hanya terdiri atas dua kamar, satu kamar mandi, dapur kecil dan ruang cuci piring sempit di depan kamar mandi.

Motor Nio dan Yoga biasanya diparkir di lapangan, beberapa meter dari kontrakan mereka karena tidak ada lahan sama sekali untuk parkir di depan rumah mereka yang adalah jalan kampung yang hanya muat untuk satu motor tanpa papasan.

Orang tua Yoga menambahkan penyejuk ruangan dan Jin menambahkan water heater demi kepentingan Nio, menjadikan kontrakan yang nyaris kumuh itu, nampak layak ditinggali setelah diisi dengan barang-barang. Mereka punya kulkas kecil, mesin cuci, penyejuk ruangan dan water heater di kontrakan kecil itu—layak untuk hidup dua manusia pemalas.

“Jika seseorang marah padamu—” Mulai Nio perlahan, menatap layar ponselnya dengan serius—entah mencermati apa.

“Belikan sesuatu yang dia sukai.” Sahut Yoga seketika tanpa menoleh, masih sibuk memberikan warna pada jurnal yang dicetaknya barusan karena dia tidak suka membaca jurnal di layar laptopnya.

Easy.” Tambahnya kalem.

Nio mengerutkan alis. “Aku belum bilang apa pun.”

“Aku tahu.” Yoga terkekeh, menggaruk telinga Dalkyum yang mendengkur senang karena dimanja. “Kau dimarah Kak Yan, 'kan? Itu, 'kan, kenapa tadi saat aku mandi kau berseru 'WAH!' seperti baru saja menang lotere? Dan sekarang merasa bersalah?”

Nio mengerutkan alisnya semakin dalam, tidak menyukai cara Yoga mengetahui masalahnya dengan begitu mudah. “Tidak begitu.” Dia menggaruk telinganya lalu mengedikkan bahunya kalem.

“Yah, mungkin aku keterlaluan padanya—”

“Kau memang keterlaluan, bukan mungkin lagi.” Sela Yoga sebal, mengetik sesuatu di layar laptopnya, dengan jurnal yang dicorat-coret terhampar di sisinya.

Nio berguling telentang di kasurnya, menatap layar ponselnya dengan lekat. “Hmm... Begitu, ya?” Gumamnya lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. “Haruskah aku minta maaf?” Tanyanya.

Yoga mengerang kecil. “Wah, tidak tahu, ya.” Gerutunya. “Menurutmu bagaimana?” Balasnya, menoleh ke kamar Nio yang terbuka—Nio berbaring dengan kepala melewati pinggir kasur, rambutnya membentuk air terjun ke lantai di bawahnya.

“Aku, 'kan, hanya iseng padanya karena reaksinya lucu tiap kali aku menggodanya.” Nio masih berusaha membela diri dan Yoga menyadari bicara dengan Nio sungguh membuang-buang waktunya karena dia bodoh dan berkepala batu.

“Kau tahu, tidak?” Yoga akhirnya memutar duduknya menghadap Nio, masih menggaruki belakang telinga Dalkyum yang mendengkur nyaman di pangkuannya. “Untuk ukuran manusia setengil ini, kau itu bodoh.”

“Tidak perlu repot-repot, Kak Jin selalu mengingatkanku tentang ini.”

“Wah, syukurlah. Tapi nampaknya kau sama sekali tidak menyadarinya, ya?” Balas Yoga kalem.

Nio memicingkan matanya, sebal. “Lalu inti dari pembicaraanmu adalah...?”

“Kau itu naksir Kak Yan,” tandas Yoga tanpa basa-basi dan nada suaranya membuat Dalkyum membuka sebelah matanya, melirik pemiliknya yang sedang mengomel.

“Dan kau tidak tahu caranya menarik perhatiannya. Bakatmu itu hanya tengil, lalu kemudian itulah yang kaugunakan untuk menarik perhatianya dengan sangat salah. Kau paham tidak, sih?”

Nio mengerutkan alisnya. “Memangnya siapa yang naksir?”

Yoga mendengus, memang buang-buang waktu bicara dengan kepala batu seperti Nio. “Terserah, deh.”

“Oh, ya.” Yoga kembali menoleh ke Nio yang mengutak-atik ponselnya dengan serius. “Jika kau penasaran,”

“Apa?” Tanya Nio tanpa menoleh.

“Pacar Kak Yan itu artis.”

Nio menoleh, “Hah?” Tanyanya, kaget.

“Yep.” Yoga meraih ponselnya, mengetik sesuatu lalu mengulurkan ponselnya ke arah Nio—layarnya menghadap ke Nio agar dia bisa melihat hasil pencariannya. “Bobby Anggara, dia sering main FTV. Film pertamanya dengan Michelle Ziudith kemarin.”

Nio bergegas bangkit, merangkak dari kasur ke arah Yoga dan meraih ponselnya. Mengamati foto-foto yang ada di laman mesin pencarian yang digunakan Yoga, wajah-wajah Bobby membalas tatapannya. Dalam pakaian formal, dalam pakaian semi-formal, semuanya nampak menawan khas seorang figur publik.

Dia nampak sempurna; baik, ramah dan pasti kaya karena pendapatannya. Dia juga seorang artis, dia punya nama dan popularitas. Mata Nio memicing, menatap wajah Bobby yang tersenyum di layar—berharap dapat mengirimkan santet padanya melalui tatapan itu.

“Kataku?” Yoga menambahkan, tersenyum lebar dan Nio benci sekali senyuman Yoga itu.

“Jika kau memang naksir Kak Yan, sainganmu berat, Nio.”


Bian mendorong kursi di belakangnya dengan bagian belakang lututnya, berdiri setelah kenyang makan.

Meja mereka akan diisi tamu lain pukul sembilan dan sejak tadi pelayan sudah melirik mereka dengan gundah, jadi Bobby meminta Bian mempercepat makannya dan pindah saja ke tempat lain untuk mengobrol jika Bian masih ingin.

“Kau mau pergi ke mana lagi? Pulang?” Tanya Bobby saat pelayan tiba di hadapannya dengan buku tagihan gelap dan boks terisi sepotong red velvet pesanan Jimmy.

“Kau mau ke Starbucks?” Tanya Bian kemudian, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya—menyadari ini masih cukup awal.

Bobby melirik angka tagihannya, merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Menyelipkan salah satu kartu kreditnya ke sana sebelum menutupnya kembali.

Bian meregangkan tubuhnya, menunggu Bobby yang sedang membereskan barang-barangnya.

Bobby menerima kembali kartu kreditnya yang dikembalikan oleh pelayan tadi dan berdiri, menyusul Bian yang sekarang mengenakan kembali sweter tipisnya di atas pakaiannya. Bobby meraih sweternya sendiri yang disampirkan di sandaran kursi, menyampirkannya di lekukan lengannya.

Bian meraih boks kue milik Jimmy dan menimangnya sayang, dia akan menjaga kue itu untuk Jimmy agar tiba tanpa cacat ke kosan.

Hujan mengguyur Jakarta sejak pagi dan membuat kemacetan di mana-mana, genangan air di badan-badan jalan dan hawa yang dingin menggigit tulang maka Bian memilih untuk menggunakan selapis pakaian lagi. Bobby sendiri juga yang memintanya, berjaga-jaga jika hujan tiba-tiba kembali mendera dan suhu mendingin.

Dia menyugar rambutnya, menyisirnya agar tidak berantakan setelah mengenakan sweter. Bobby memimpinnya keluar dari restoran namun saat mereka melewati kasir, seseorang menahan Bian.

“Maaf, permisi. Kak Theodorus Arfabian?”

Bian berhenti, menoleh kaget ke pelayan yang menghampirinya dengan boks di tangannya. “Ya?” Tanyanya, bingung kenapa pelayan itu bisa tahu namanya.

Bobby langsung berdiri di dekatnya, setengah bahunya melindungi Bian secara naluriah, melirik pengenal di dada pelayan itu dan mengingat namanya. “Ya, Mbak?” Tanyanya dengan ramah, tersenyum.

Pelayan itu menatap keduanya. “Ini, ada pesanan dari tamu.” Dia mengulurkan boks kue yang dilihat Bian terisi red velvet bulat dengan cream cheese melimpah di atasnya. “Untuk Kak Arfabian.”

Bobby menatap boks itu lalu menatap Bian yang balas menatapnya. “Dari siapa, ya, Mbak?” Tanyanya, dengan nada semanis madu yang menetes.

Pelayan itu sejenak kikuk dan Bian menyadari gestur itu. “Maaf, Kak, beliau tidak berkenan disebutkan namanya.” Katanya mengangguk sopan, terjebak antara menjaga kerahasiaan pelanggan dan menyenangkan pelanggan lainnya.

Bobby menerima boks itu dan menyerahkannya pada Bian yang menerimanya, mendecap senang mendapatkan selusin red velvet. “Tapi kuenya tidak disentuh siapa pun selain karyawan Union, ya, Mbak sebelumnya?” Tanya Bobby ramah dan pelayan itu sejenak nampak kaget karena pertanyaannya.

“Iya, Kak.” Katanya tenang, senang tidak lagi diapaksa untuk menyebutkan identitas pengirimnya. “Pelanggan itu menelepon kami dan membayar via transfer. Staf kami yang mengemas kuenya.”

Bobby sekarang nampak rileks. “Baiklah, terima kasih banyak, Mbak.” Dia tersenyum ramah sebelum menempelkan telapak tangannya di punggung Bian, membimbingnya pergi.

Dia mengenakan kacamata gelapnya lagi dan tersenyum dalam hati, Bobby tahu siapa yang memberikan kue itu dan dia seratus persen yakin apa motifnya.

“Rezeki.” Dendang Bian, menenteng boks kue dengan ceria. “Aku akan memberikan setengah pada Jimmy.” Dia menatap bola-bola red velvet di boks dengan senang.

“Kau tidak penasaran siapa yang memberikannya?” Tanya Bobby saat mereka melangkah di lorong pusat perbelanjaan menuju kedai kopi.

Bian mengedikkan bahunya ringan, “Aku terbiasa menerima hal-hal semacam ini di kampus. Mungkin salah satu penggemarku.” Dia bersiul senang dan Bobby di sisinya terkekeh. “Dan aku tidak mau menolak rezeki.”

“Aku yang artis dan kau yang punya penggemar?”

“Bukan salahku jika aku lebih tampan darimu.”

“Baik, Yang Mulia. Kau mau dipesankan apa?”

Signature hot chocolate dengan liquid whip cream.”

Bian mungkin tidak perlu tahu nama siapa yang menyala di kepala Bobby seperti lampu neon watt tinggi sekarang. Dia mendorong pintu Starbucks terbuka, mempersilakan Bian memasuki gerai terlebih dahulu sebelum menutupnya.

Dia melangkah ke kasir, merogoh sakunya mengeluarkan dompet untuk memesan minuman mereka sementara Bian mulai mencari tempat duduk. Bobby melirik adiknya yang duduk di sudut, meletakkan kuenya dengan lembut di meja nampak senang dan tersenyum geli.

“Cinta muda-mudi,” katanya lirih sebelum menoleh ke kasir yang menyapanya. “Oh, halo! Ya, bisakah saya memesan...”

*


Nio bergidik, “Menggelikan.” Gerutunya, melempar ponselnya ke sisi sofa yang didudukinya, mengabaikan permintaan Danny dan Yoga sebelum kembali menatap layar televisi di hadapannya.

Nio selalu risih jika dia harus mengambil gambar wajahnya sendiri saat menjadi perempuan. Maka sebisa mungkin dia menghindarinya.

Sudah dua tahun dia menjadi perempuan begini, namun dia tidak juga merasa fasih dengan tubuhnya sendiri. Dia selalu mandi dengan mata tertutup, terburu-buru saat membasuh dirinya—menghindari menyentuh bagian-bagian tertentu berlama-lama.

Memasang menstrual cup terasa jauh lebih mengerikan, namun dia sudah mulai terbiasa dengan bagian itu karena mau tidak mau dia harus melakukannya. Memasukkan jemarinya ke dalam sana terasa begitu mengerikan hingga kali pertama dia melakukannya, Nio sibuk menyebutkan semua nama binatang alih-alih memasang cup-nya hingga Jin harus menggedor pintunya.

Dia takut pada tubuhnya sendiri dan itu membuatnya lelah.

Jin sedang bekerja di meja makan dengan semangkuk rice bowl di sisinya, selalu melakukannya tiap kali di rumah. Bekerja di meja makan mereka sambil makan, sekali dia menumpahkan minumannya ke Mac-nya dan Nio tertawa hingga terguling ke karpet.

“Siapa yang menggelikan?” Tanya Jin tanpa mendongak dari pekerjaannya, menaikkan kacamata bergagang tipisnya dari hidung dengan jari tengahnya. “Kau? Memang selalu.”

Nio mendengus, mengabaikan kakaknya. Dia menatap series yang sedang ditontonnya di televisi dan tidak bisa menahan diri tidak memikirkan foto yang diunggah Arfabian beberapa menit lalu.

Boss daddy katanya. Menggelikan.

Nio melipat kakinya, menumpukan dagunya di atas lututnya yang terlipat di dadanya dan mengerutkan alisnya; berpikir. Dia tidak pernah melihat lelaki itu di sekitaran kampus, Arfabian juga tidak menyantumkan nama akun sosial medianya untuk Nio selidiki.

Anak rambut luruh ke sisi wajahnya, menempel di pipinya dan Nio menyekanya ke balik telinganya. Merasa risih dengan tubuhnya sendiri sementara di layar televisi, pemain sedang berbicara dan Nio mengabaikannya.

“Itu Starbucks dari Danny jika tidak akan kauminum, masukkan saja ke kulkas.” Kata Jin, masih tidak mendongak dari layarnya. “Nanti basi.”

Nio meraih botol di meja dan membuka tutupnya, meneguknya langsung dari bibir botol dan membuat Jin berdecak keras. Nio mengabaikannya dan memilih menyerah pada seluruh emosi kekanakan aneh yang meledak di dalam dirinya. Dia merasa jauh lebih sensitif, meledak-ledak dan mengalami perubahan suasana hati yang mengerikan cepatnya.

Hal sesederhana foto lelaki asing di laman utama sosial medianya sudah cukup membuat Nio uring-uringan hingga kepalanya sakit.

Lagi pula kenapa dia harus jengkel jika Arfabian memutuskan untuk pergi dengan temannya? Makan malam dan membubuhkan emoji hati mungil di ujung cuitannya?

Itu, 'kan, bukan urusan Nio sama sekali.

Emoji hati mungil.

“Menjijikkan!” Seru Nio dalam hentakan tatrum hormonal perempuannya hingga Jin tersentak kaget dan menoleh.

“Kau kenapa, sih?!” Tanyanya, mulai jengkel karena adiknya selalu bertingkah aneh-aneh tiap kali menjadi perempuan. “Apa yang dilakukan si prettyhandsome kali ini?”

Nio menoleh ke arahnya, mengerutkan alisnya. “Kenapa dia?” Dia balas bertanya dengan nada tajam dan terganggu. “Memangnya siapa yang bilang ini karena dia?”

“Aku tidak bilang ini karena dia? Aku hanya bertanya?”

Nio menyipitkan matanya dengan sebal, “Jangan bersilat lidah denganku.” Gerutunya, membuang wajah dan menatap layar televisi.

Hari ini terasa sangat menyebalkan. Dimulai dengan dirinya yang terjebak dalam tubuh perempuan hingga dua hari ke depan, hormon perempuannya yang bergolak saat menstruasi, perasaan tidak nyaman karena harus membuang isi menstrual cup setiap lima jam sekali lalu sekarang ditambah Arfabian bertingkah.

Kenapa dia tidak bisa diam saja, sih? Kenapa dia harus terus mencobai Nio?

“Siapa yang mencobaimu?” Tanya Jin, sekarang meraih mangkuknya dan mulai makan—bersandar di kursinya, menikmati waktu istirahatnya.

Nio mengerutkan alis, sebal karena dia mungkin baru saja mengumumkan isi kepalanya keras-keras sehingga Jin mendengarnya.

“Kak.”

“Hm?”

“Jika kau sebal karena seseorang, apakah itu berarti kau menyukainya?”

Jin menatapnya, sesendok makanan berhenti beberapa senti dari mulutnya yang terbuka. Dia menyuapnya, mengunyah dengan perlahan sengaja mengulur-ulur waktu hingga Nio semakin jengkel sebelum menjawab.

“Jika kau sebal, ya berarti kau tidak suka padanya.” Jin mengedikkan bahunya ringan. “Bagaimana logikanya jika orang itu membuatmu sebal berarti kau menyukainya?”

Nio mengerutkan alis. “Menurut Danny dan Yoga begitu.”

“Itu, 'kan, hatimu. Kenapa kau membiarkan mereka memberi tahumu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kau rasakan?” Sahut Jin, memiringkan mangkuknya untuk menyendok remah-remah sisa makanan di dasar mangkuk.

“Daripada itu,” Jin meletakkan mangkuk kosongnya di meja yang berdenting lalu bersendawa kecil. “Kau sudah mandi air hangat hari ini?”

Nio mendesah, “Sudah. Begitu pula kemarin dan kemarinnya.” Dia menyisir rambut panjangnya dengan jemari—merasakan halus helai-helai tebalnya dengan jemarinya. “Tapi tidak ada yang terjadi.”

Jin menatapnya, nampak berempati. “Kapan seharusnya menstruasimu selesai?”

“Dua hari lagi.” Nio menghela napas keras, merasa pening.

Dengan bantuan Jin yang bicara dengan pihak kampus, Nio bisa mengkuti perkuliahan secara daring. Mendapatkan materi-materi dikirimkan ke surelnya oleh dosen-dosennya dan dia bersyukur atas itu, bersumpah dia tidak akan sudi berubah jadi perempuan lagi di minggu menstruasinya.

Jin melangkah ke arahnya, duduk di sisinya dan memeluk adiknya yang bersandar ke pelukannya. “Maaf,” bisiknya lirih di puncak kepala Nio yang mulai merasa matanya panas oleh air mata bodoh lainnya.

Nio bukan lelaki yang mudah menangis, dia selalu kuat dan menyebalkan. Congkak dan berisik. Namun tiap kali dia menjadi perempuan, emosi-emosi lain luruh di dalam dirinya dan mengubahnya menjadi pribadi baru yang sama sekali asing dengannya. Membuatnya kebingungan.

“Maaf aku belum bisa melakukan apa pun untuk membantumu sembuh.” Jin mendesah, memejamkan mata di atas kepala adiknya. Dia tidak suka melihat adiknya begini, dia selalu merasa terbebani tiap kali Nio berdiri di hadapannya dalam wujud perempuannya.

Dia melihat dan merasakan bagaimana adiknya merasa kikuk, tidak nyaman dan asing pada tubuhnya sendiri setiap kali menjadi perempuan. Dia benci melihatnya, dia tidak suka. Nio seolah kehilangan percaya dirinya, meringkuk takut dan kebingungan—seperti seekor binatang yang berada di cangkang yang salah.

Belum lagi banjir bah emosi yang membingungkan. Dia menangis, dia makan makanan manis begitu banyak, dia marah-marah dan dia sendiri lelah dengan ledakan tatrum itu.

Mereka sudah berusaha, menyelidiki apa penyebabnya. Mencatat secara runtut kejadian hari itu, dua tahun lalu hari pertama Nio menjadi perempuan namun tidak ada yang aneh sama sekali. Dia hanya kehujanan lalu demam, lalu dia berubah menjadi perempuan.

Hingga sekarang.

Nio menepuk tangan kakaknya yang memeluknya. “Bukan salahmu.” Kata Nio, berusaha keras menahan air matanya karena dia lelah sekali menangis, lelah dengan ledakan emosinya sendiri.

Dia ingin istirahat.

Semua orang terasa begitu menyebalkan hari ini.

“Kau ingin makan keluar?” Ajak Jin kemudian dan Nio menggeleng, dia tidak ingin bertemu siapa-siapa lagi setelah pertemuan mengejutkannya dengan Arfabian sore tadi.

Dia ingin tidur saja, melupakan segalanya. Berharap dia bangun keesokan harinya, sudah dalam fisik lelaki yang sangat dirindukannya.

“Aku ingin istirahat saja