C'est un Secret 168
“Hei. Maaf lama.”
Bian menghampiri Antonio yang duduk di ruang tamu dengan kaus hitam longgar dan jaket bermotornya yang disampirkan di sandaran lengan kursinya.
Dia bersandar dalam di kursinya, kakinya terbuka dan diluruskan di lantai; mengklaim wilayahnya seperti seekor singa.
Masih terasa begitu janggal bagaimana Antonio datang ke kosannya, tersenyum lebar dan sekarang duduk di salah satu kursi jelek ruang tamu kosannya.
Dia nampak terlalu indah untuk duduk di atas kursi reyot jelek itu dan Bian harus bernapas dari mulutnya agar aroma parfum Antonio yang lembut tidak merusak kepalanya.
Dia mendapati pemuda itu sedang mengunyah martabak dan sejenak tersengat rasa bersalah karena meninggalkannya sendirian. Antonio mendongak, menatapnya dan panik mencari-cari.
Bian meletakkan sebungkus tisu ukuran travel di meja dan Antonio menerimanya dengan senang.
“Kau tidak suka galonnya?” Tanya Antonio di luar dugaan Bian seraya melirik galon yang berdiri di meja sebelah mereka.
“Tidak, tidak. Bukan begitu.” Bian memijat pelipisnya, bagaimana caranya menjelaskan ini?
“Aku hanya berniat menggodamu tapi kau menangkap semuanya secara literal, benar-benar, deh.” Katanya kemudian, menatap galon di hadapan mereka.
Antonio mengedikkan bahunya, “Demi kau, hujan badai pun akan kuterjang.”
Bian menatapnya, mendenguskan tawa kecil. “Gih. Coba sekarang.” Tantangnya.
Antonio menggeleng, dia melirik langit yang bergemuruh. “Maaf, sedang gerimis.” Katanya.
Bian tertawa, “Benar-benar!” dan Antonio tersenyum lebar.
Dia meraih selembar tisu lalu meraih sepotong martabak, menyuapnya—membiarkan rasa mentega hangat dan meises yang meleleh karena panasnya adonan martabak meledak di dalam mulutnya.
“Apakah kosanku jauh dari tempatmu?” Tanyanya setelah mereka bersidiam sejenak—kikuk.
“Tidak, kok.” Antonio meraih sepotong martabak lagi dan menyuapnya. “Sebenarnya ada jalan tikus. Dari depan mini market sana, tembusannya di SD. Lalu beberapa meter lagi kontrakanku.”
Bian menoleh. “Sungguh?” Tanyanya, kaget.
Antonio tertawa. “Aku sering beli sarapan di pecel depan sana.”
“Aku juga!”
“Lihat, 'kan? Jodoh memang tidak ke mana-mana.”
“Menyebalkan.” Bian tertawa, menyuap habis martabaknya dengan senang. Merasa hatinya sedikit hangat karena duduk di teras, suara adzan mulai berkumandang dan Antonio di sisinya.
“Kau tahu,” kata Antonio kemudian.
Bian mendongak, “Ya?”
Antonio menatapnya, menyapukan tatapan ke seluruh wajahnya dan membuat jantung Bian berdebar.
“Kau nampak jauh lebih menyenangkan lagi setelah tertawa.” Dia mendesah, memasang wajah tidak habis pikir yang begitu menggemaskan hingga Bian ingin sekali mencubit wajahnya.
“Kau sama sekali tidak membantuku, Kak.” Keluhnya.
“Sekarang aku makin mencintaimu. Bagaimana, dong?”
Nio menatap Arfabian yang menatapnya dengan mata membulat kaget yang membuat hatinya terasa diremas-remas.
Dia tidak bohong.
Melihat Arfabian tertawa karenanya dan bersamanya terasa begitu menakjubkan hingga dia pikir dia sedang bermimpi.
Dia begitu indah, langsing—Tuhan pasti sedang tertawa saat menciptakannya karena dia terlahir dengan begitu sempurnanya hingga Nio merasa mendapatkannya pastilah anugerah dalam hidup ini.
Nio mendesah, teringat betapa berengseknya dia beberapa waktu lalu sempat ingin mempermainkan pemuda ini.
Dia nampak begitu tulus sekarang tanpa topeng ketegasan dan amarah: nyaris telanjang. Seperti kuncup lotus yang merekah bersama terbitnya matahari pagi.
Soft, delicate and mesmerizing.
Nio ingin menyentuhnya, membelai permukaan kulitnya untuk merasakan teksturnya—untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arfabian nyata. Bukan embun pagi yang akan menguap saat matahari beranjak semakin tinggi.
“Kau pintar bicara.” Kata Arfabian kemudian setelah mengendalikan dirinya, Nio bisa melihat rona samar di telinganya.
“Tidak.” Katanya, jantungnya berdebar. Bagaimana mungkin manusia seindah ini nyata?
“Aku bicara apa adanya. Kau benar-benar membuatku semakin menyukaimu sekarang.” Dia memijat tangannya sendiri, gugup.
“There's no turning back for me, I've fallen too deep. Good for me because I have no plan to escape from you.”
Dia menoleh, menatap Arfabian langsung ke matanya yang bening—seperti batu onyx yang baru dipoles; berkilau dan mengilap.
Nio kemudian berdeham, mendadak merasa begitu gugup padahal dia selama ini tidak pernah gugup.
“Aku... Boleh minta sesuatu?” Tanyanya.
Alis kiri Arfabian naik, “Apa?” Tanyanya lirih.
Nio tahu tidak hanya dia yang sedang gugup sekarang.
Nio menunduk, menatap tangan Arfabian yang beristirahat di pahanya menggenggam tisu yang tadi digunakannya untuk makan.
Dia mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menengadah ke atas, “Boleh aku menggenggam tanganmu?”
Jika neraka adalah manusia, maka Antonio Abhirama-lah orangnya.
Dia adalah perangkap yang sempurna—menggoda setiap makhluk untuk dengan senang hati melompat ke dalam jebakannya, dengan senang hati melukai diri mereka berkali-kali demi mendapatkan perhatiannya.
Dengan senang hati tenggelam, tidak ingin menyelamatkan diri.
Apakah Bian salah satunya?
Dia sudah pernah terjun ke dalam lubang itu, mendapati dirinya disengat rasa sakit dan berhasil memanjat naik hanya untuk mendapati jebakan yang sama dilambaikan ke depan wajahnya.
Dan kali ini jebakan itu yang melangkah ke arahnya, menggodanya untuk terjun.
Haruskah Bian terjun lagi?
Bian menatap tangan yang berada di hadapannya, terbuka seperti kelopak mawar yang lepas dari tangkainya—menunggu tangannya diletakkan di atasnya.
Tangan Antonio nampak hangat, kuku-kukunya membulat dan pendek. Ada kapalan di beberapa bagiannya tapi itu malah membuat Bian semakin penasaran untuk meletakkan tangannya di sana—merasakan hangat dan kasarnya tangan itu di tangannya.
“Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman tapi...” Antonio menambahkan, “Kau nampak begitu indah hingga aku ingin menggenggammu.
“Meyakinkan diriku sendiri bahwa kau itu nyata; bukan sejenis peri yang akan lenyap begitu aku menyentuhmu terlalu keras.”
Hati Bian berdesir, “Kau sungguh bajingan bermulut besar.” Katanya, jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging.
“Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan tentangmu, kok. Tanpa berniat menjadi bajingan sama sekali.” Antonio tersenyum dan Bian langsung membalas senyumannya.
“Smile looks great on you.” Antonio mendadak merendahkan suaranya hingga bulu kuduk Bian meremang karenanya.
“You should wear them more often.” Tambahnya, telapak tangannya yang melayang di hadapan Bian bergerak.
“Aku tidak boleh menggenggam tanganmu, ya?” Tanyanya lembut dan lirih, memberikan Bian ekspresi anak anjing menggemaskan itu lagi.
Bian menggertakkan rahangnya, tidak kuat oleh serangan itu sebelum akhirnya mengulurkan tangannya; menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Antonio dan meremasnya.
Antonio seketika meraihnya hingga Bian terkesirap, menangkup telapak tangan Bian dengan kedua telapak tangannya; hangat dan intim.
Seluruh sarafnya langsung merileks; meleleh seperti mentega dan meises yang digunakan di dalam martabak tadi. Hangat genggaman tangan Antonio membuatnya lemah.
“Ya Tuhan.” Bisik Antonio dalam napasnya, nyaris tidak terdengar tapi toh, Bian mendengarnya juga dan jantungnya terasa mencelos mendengarnya.
“Great.” Kata Antonio, meremas tangannya dan tersenyum. “Kau tidak lenyap. Puji Tuhan.”
Bian tertawa, gugup dan gemetar. “Memang tidak, Bajingan.” Katanya. “Aku ini benda padat.”
Antonio menatapnya dengan pandangan tersihir yang membuat hati Bian nyeri karena senang. “Kau indah sekali.” Katanya lalu mengerjap.
“Maaf.” Katanya, merona tipis dan Bian ingin sekali meraihnya; mencubit hidungnya. “Kedengaran creepy, ya?”
Bian menggeleng lemah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Seharusnya dia tidak meminta Antonio datang karena dia benar-benar tidak sehat untuk mentalnya.
“Tidak.” Bian menggaruk tengkuknya dengan tangannya yang bebas. “Aku tidak pernah dipuji siapa pun selain Jimmy jadi aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya merespons pujian.”
Antonio menatapnya dengan matanya yang tajam dan jernih, seperti seekor elang bondol liar yang menguasai langit—dia nampak berani, eksotis, paham bahwa dia berkuasa.
“Aku akan menghujanimu dengan pujian.” Katanya kemudian membuat Bian menahan napasnya.
“Kau hanya boleh mendengar pujian karena kau layak mendapatkan pujian untuk apa pun yang kaulakukan, bahkan bernapas. Bodoh sekali mereka yang tidak pernah memujimu; kau punya banyak hal untuk diapresiasi.”
Bian tertawa kering, sekarang ingin menangis karena kekuatan kata-kata Antonio membuatnya takut.
Jika suatu hari nanti lelaki ini memutuskan untuk berhenti, apa yang tersisa untuk Bian?
Dia akan hancur lebur. Dan dia tidak yakin dia bisa merangkak bangkit dari lubang itu—dari Antonio.
Matanya panas dan sebelum dia sempat menahannya, setitik air mata meloloskan diri.
Antonio terkesirap.
Nio menatap ngeri air mata yang meluncur di pipi Arfabian—apa yang dikatakannya tadi??
Apa yang membuat Arfabian sedih??
“Kak?” Panggilnya, meremas tangan Arfabian lebih erat lagi dan pemuda di hadapannya tertawa kaget seraya bergegas menyeka air matanya.
“Apakah ada kata-kataku yang salah?” Desaknya lembut.
“Tidak, tidak.” Arfabian tertawa parau. “Ini hanya...” Dia kesulitan mencari kata-kata sebelum mendesah, “Lupakan saja. Maafkan aku.”
Nio menggeleng. “Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Dia menyusap punggung tangan Arfabian dalam genggamannya, berusaha membuatnya nyaman.
“Kau ingin sendirian? Aku bisa pulang.”
Arfabian menatapnya. “Tidak, jangan!” Katanya seketika lalu merona karena keceplosan dan Nio tertawa kecil.
“Baik, aku akan tinggal lebih lama.” Dia tersenyum pada Arfabian yang menyeka air matanya. “Tidak perlu menangis dan merajuk.”
Arfabian memutar bola matanya, berdecak sebal dan Nio tertawa. “Siapa yang merajuk dan menangis karenamu?”
“Tuhan Yesus tidak suka pembohong, Kak.”
“Kenapa bawa-bawa Tuhan Yesus??”
Nio tertawa dan beberapa detik kemudian, tawa Arfabian menimpali tawanya.
Hangat, walaupun hujan rintik-rintik mulai turun. Tangan dalam genggaman Nio membuatnya hangat dan berani, senyuman Arfabian membuatnya tenang dan rileks.
Dia merasa aman dan tenang walaupun hujan mulai turun. Dia tidak pernah merasa begitu tenang dan nyaman dengan air hujan yang merebes; tidak pernah merasa aman di dalam suara riuh hujan yang selama ini menerornya dengan ketakutan.
Arfabian menahannya di bumi, membuatnya tenang.
Nio tahu dia harus menjadikan Arfabian miliknya, apa pun yang terjadi.
Dia tidak akan melepaskannya karena dia tahu lelaki seperti Arfabian tidak akan melangkah ke hidupnya dua kali; lelaki seperti Arfabian hanya ada satu untuk setiap Antonio.
Dan Arfabian ini adalah miliknya.
*