C'est un Secret 127


“Puas?”

Bobby menatap kedua adiknya yang sedang tertawa terbahak-bahak di sofa, bergulingan seperti kembar siam seraya menatap layar ponsel mereka—mengerjai Antonio, begitu kata mereka. Dia menunduk ke cucian piring di tangannya, tersenyum senang karena adik-adiknya senang.

“Puas!” Sahut Jimmy, cekikikan dengan ceria di sisi Bian yang tertawa tanpa suara.

Tadi saat Bobby sedang sibuk memanggang daging untuk makan malam mereka—perayaan kesuksesan FTV terakhir Bobby dan dia membiarkan adik-adiknya memilih makanan yang mereka inginkan. Bian ingin BBQ, maka Bobby menelepon restoran BBQ terenak dan meminta mereka mengirimkan menu terbaik mereka ke apartemennya.

Suasana makan sedang damai dan menyenangkan saat Jimmy tiba-tiba berseru heboh, “Bian, lihat Twitter!”

Dan kemudian keduanya sibuk berdiskusi heboh dan tertawa sambil menatap ponsel mereka, lalu Bian menoleh padanya. Bobby balas menatapnya, adiknya mengamati perlatan BBQ di atas meja lalu mengaturnya sedemikian rupa hingga nampak seolah hanya ada dua orang di meja, menyingkirkan piring Jimmy dari ruang tangkap kamera.

“Ayo, lanjutkan memanggang!” Desak Bian dan Bobby tertawa, tahu ke mana maksud dan tujuan Bian. Maka dia memasang posisi seolah sedang memasak dengan rileks dan Bian mengambil gambarnya.

Lalu keduanya merunduk ke atas ponsel Bian seperti dua penyihir yang sedang membuat ramuan rahasia untuk memikat seseorang. Bobby tertawa, kembali ke makanannya sementara kedua adiknya tertawa ceria.

“Berikan caption yang seru!” Jimmy berseru, tertawa tidak terkenali hingga Bobby takut mereka nantinya mabuk adrenalin.

Dan setelah puas, mereka bertukar high-five nyaring. Bian nampak cerah, wajahnya merona karena tertawa dan serangan adrenalin. Bobby senang melihatnya, senang melihat Bian yang nampak rileks dan nyaman.

Kapan terakhir kalinya adiknya bersikap rileks? Dia selalu mengerutkan alisnya, sibuk mengejar studinya dan menyelesaikan pendidikannya tepat waktu—sibuk dan selalu sibuk. Menjadi ketua panitia itu, menjadi asdos ini, ikut dalam penelitian dokter A, menjadi rekan penelitian dokter B, membantu dosen C dalam penelitian X; tidak pernah diam.

Sekarang dia duduk di hadapan Bobby, tertawa lepas dengan wajah merah padam dan Bobby bersyukur—setidaknya adiknya tidak akan terkena penyempitan pembuluh darah di usia muda karena terlalu serius.

“Dia langsung diam!” Kekeh Jimmy, kembali ke makanannya—tersengal setelah tertawa. Dia meraih sumpitnya, menjepit selembar daging dan menyuapnya. “Diam tidak berkutik!”

“Yah,” kata Bobby kalem, menambah daging ke atas pemanggang daging yang langsung mendesis karena minyak dari lemak dagingnya—aroma daging dan bawang putih panggang memenuhi ruang makan apartemen Bobby.

“Jika saingannya adalah aku, semua lelaki pasti akan diam.”

Bian memutar bola matanya, “Mulai deh.” Katanya dengan nada mencela yang geli. Dia meletakkan ponselnya dan meraih sumpitnya kembali, mulai makan dengan senyuman di bibirnya.

“Kau naksir Antonio.” Tandas Bobby kalem, membalik dagingnya di pemanggang.

Bian tersedak, “Hah, apa?!” Dia menyeka mulutnya dan Jimmy tertawa ceria, seperti gemerincing lonceng. “Aku tidak naksir Antonio.”

“Ya, yaa!” Dendang Jimmy ceria. “Aku juga tidak naksir Kak Jun.” Tambahnya meniru nada Bian dengan begitu persis dan Bobby tertawa.

Bian menoleh ke arahnya, memicingkan mata. “Tega-teganya kau berkhianat.” Katanya dan Jimmy tertawa, menyuap makanannya dengan ceria.

“Jika kau memang tidak tertarik seharusnya kau tidak repot-repot membalas cuitan cari perhatiannya hingga sefokus itu.” Bobby mengerling adiknya yang sekarang mendelik padanya.

I want to give him the taste of his own medicine.” Bian meraih sepotong daging yang mendesis dari pemanggang dan menyuapnya dengan nasi hangat pulen kesukaannya.

“Nah,” Jimmy nyengir, meraih sehelai selada dan mengunyahnya dengan suara renyah yang basah. “Kau masih punya dendam padanya. Berarti kau masih peduli padanya. Walaupun tidak suka—”

“Belum suka,” koreksi Bobby kalem.

Jimmy menjentikkan jarinya. “Belum suka,” koreksinya setuju. “Setidaknya kau peduli padanya.”

Bian menatapnya. “Jadi sekarang kau mendukung Antonio?”

“Tidak juga? Kita belum tahu maksudnya dibalik tindakannya,” Sahut Jimmy kalem, mengedikkan bahu. “Tapi bukan berarti aku juga memintamu untuk terjun percaya begitu saja seperti terakhir kalinya.

“Inilah saatnya kita mencari tahu seberapa seriusnya dia denganmu. Jangan jadikan ini mudah untuknya, Bian. Kau sudah pernah memberikannya kemudahan dan dia menyia-nyiakannya.”

“Betul.” Bobby mengangguk, menambahkan beberapa bawang putih ke atas pemanggang—aromanya langsung menyeruak di udara dan membuat Bian menghela napas dalam-dalam, aromanya harum dan menggugah selera.

“Kau masih bisa menggunakan namaku.” Bobby tersenyum pada daging-daging yang sedang dipanggangnya dengan tekun seolah itu bukan apa-apa. “Aku jago akting, kok. Aku bisa mengantar-jemputmu, membuatkanmu makan siang, model foto di Twitter.... Apa saja.”

Jimmy tertawa dan Bian mendengus, “Aku tidak suka Antonio, oke.”

“Iya, iya, percaya kok!” Dendang Jimmy, menatap Bobby yang menaikkan sebelah aslinya lalu mengedipkan sebelah matanya—keduanya bertukar senyuman lebar sementara Bian mengunyah makanannya setengah gusar.

Lalu setelah makan, Bobby mengizinkan keduanya makan masing-masing satu pint Baskin Robins yang sengaja dibelinya untuk mereka sore tadi sebelum hujan deras, meminta mereka menginap saja di apatemennya dan berangkat kuliah dari sini karena hujan belum juga reda.

Mereka sedang sibuk menertawai cuitan seseorang yang Jimmy sebut sebagai Hutagalung tentang Antonio, lalu Bian berseru kaget, nyaris menjatuhkan ponselnya.

“Ada apa, sih, kalian ini?” Bobby menegur mereka seraya meniriskan cucian piring setelah mereka makan—Bobby kalah hompimpah jadi dia yang harus membereskan piringnya.

“Antonio mengirim pesan!” Jimmy tertawa, berguling menjauh dari tangan Bian yang hendak menyambarnya. “Lalu Bian gugup!”

Bobby tertawa, mengelap tangannya. “Sudah kukatakan padamu, kau itu memang tertarik padanya.”

'Cause I knew you were trouble when you walked in.” Dendang Jimmy lalu berteriak saat Bian menyambar pinggangnya dan menggelitikinya dengan liar. “Biaan!” Teriaknya liar, tertawa terbahak-bahak, menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Bian di pinggangnya.

“Hei, hei, nanti aku ditegur tetangga!” Tegur Bobby, meraih pint es krimnya sendiri dan sendok.

Bian melepaskan Jimmy yang langsung melenting menjauh darinya, duduk di sofa terjauh darinya—terengah-engah karena tertawa, menyeka rambutnya yang berantakan.

“Memangnya apa kata Antonio?” Tanya Bobby, duduk di sofa di sisi Bian dan mulai membuka tutup es krimnya, menyendok dan menyuapnya—membiarkan es krim meleleh di lidahnya.

Bian menatap ponselnya, “Hanya “Kak Bi, malam?” saja. Tidak ada yang istimewa kok.”

“Kak Bi.” Ulang Bobby sopan, menyendok es krimnya dengan khidmat; mengerling adiknya penuh godaan dan Bian memutar bola matanya jengkel. “Aku baru dengar itu.”

“Memang,” Jimmy menyambarnya, terkekeh saat melihat ekspresi Bian. “Hanya dia yang memanggil Bian dengan Bi selain aku. Dan Kak, kau tahu tidak?” Tambahnya pada Bobby yang menatapnya.

“Mulai, deh!” Seru Bian dan Jimmy mengabaikannya.

“Kau ingat red relvet Union tempo hari, tidak?” Desaknya ceria.

Alis Bobby terangkat, dia mengangguk. “Selusin itu, 'kan? Aku ingat. Kenapa?” Tanyanya.

“Itu dari Antonio.”

Bobby berhenti menyuap makanannya, “Sungguh?? Kau tahu dari mana?”

“Malamnya setelah Bian membuat cuitan tentang berterima kasih untuk kuenya, Antonio juga membuat cuitan: “Syukurlah jika ternyata suka”.” Jimmy nyengir, superior karena tahu segalanya. “Dia berkilah dengan menambahkan, bahwa itu tentang makanan anjing sih, tapi aku tahu. Begitu saja.”

“Aku tidak terima begitu saja, argumenmu tidak valid.” Cibir Bian dan Jimmy mengedikkan bahunya, “Biasakan, ya!” Sahut Jimmy.

“Wow.” Bobby melirik adiknya yang melempar ponselnya ke sofa, mengabaikan Antonio. “Setelah kau memarahinya habis-habisan di Whatsapp itu, ya?”

“Yep.” Bian menyugar rambutnya, meraih es krimnya dan kembali makan. “Mungkin dia merasa bersalah atas tingkah berengseknya padaku. Bagus, 'kan?” Dia menjejalkan sesuap es krim ke mulutnya, menyesapnya agar dia tidak mengucapkan hal-hal aneh pada kedua temannya.

Menceritakan sepenuhnya pada mereka tentang bagaimana Bian sebenarnya lebih dari tertarik pada Antonio yang tengil, menyebalkan dan pantang menyerah ternyata membawa untung dan rugi.

Keuntungannya, dia bisa bicara dengan bebas kepada kedua sahabatnya tanpa tedeng aling-aling namun di sisi lain, mereka jadi gemar sekali menggodanya tiap kali Antonio bernapas terlalu dekat dengannya—yang mana adalah sering.

Bian sedang mempertimbangkan seberapa banyak rasa suka dan rasa jengkelnya pada Antonio, memutuskan bahwa jengkelnya jauh lebih banyak. Keinginannya untuk membuat Antonio merasakan apa yang dirasakan Bian.

Dia tidak akan membuat ini mudah untuk Antonio, lihat saja.

Bajingan congkak itu harus diberi pelajaran jika berani bermain api dengan Theodorus Arfabian.

“Lalu akan kau balas apa pesannya barusan?” Tanya Bobby, melirik ponsel Bian yang tergeletak di atas sofa.

“Memangnya kenapa juga aku harus membalasnya?” Bian mengedikkan bahunya, menunduk ke es krimnya dan menyuap lagi. “Tidak harus, 'kan?”

Jimmy tersenyum lebar. “That's my bish!” Dia mengulum sendoknya agar kedua tangannya bisa bebas bertepuk tangan dengan semangat.

“Tidak menyesal?” Tanya Bobby, melirik adiknya yang sibuk menjejalkan suapan demi suapan es krim ke mulutnya.

Bian menggeleng, tegas. “Aku akan sangat menyesal jika aku jatuh ke dalam permainannya dengan begitu mudah untuk kedua kalinya.” Katanya, “A donkey won't fall into the same trap twice.”

Bobby tersenyum, menambahkan dalam hati bagaimana kecenderungan manusia yang berakal dengan senang hati melompat ke dalam lubang yang sama berkali-kali, berharap akan mendapatkan hasil berbeda di percobaan berikutnya.

Selalu dan selalu begitu. Apalagi jika lubang itu diberi nama cinta.

Akal sehebat apa pun akan kalah olehnya.


“Dia tidak membalasnya?”

Nio menatap ponselnya, berusaha membakar benda itu dengan tatapannya sementara di hadapannya, Yoga berguling di depan televisi dengan Dalkyum bergelung di perutnya.

Ada kentang goreng yang terbuka di sisi mereka, hadiah dari Danny yang tadi membelikan mereka terlalu banyak makanan untuk dimakan dua orang. Makanan-makanan yang tidak habis disimpan Yoga di dalam lemari es, besok bisa dihangatkan.

Gelas-gelas soda ukuran besar berkondensasi, sudah habis karena sejak tadi diminum Nio yang kepanasan menunggu jawaban dari Arfabian yang nyatanya tetap tidak membalas pesannya bahkan setelah lepas setengah dua belas malam.

Nio sudah melakukan banyak hal seraya menunggu—menyelesaikan tugasnya, menyisir bulu-bulu Dalkyum, bermain game daring dan macam-macam; apa saja agar tidak menatap ponselnya dengan sangat menyedihkan menunggu balasan dari Arfabian.

Namun balasannya tidak kunjung datang juga.

“Sudahlah, ayo tidur.” Yoga menguap, bangkit dan menggendong Dalkyum ke kamarnya; merasa sudah tidak ada gunanya menunggu.

Yoga sudah sempat menghabiskan waktu dengan menelepon Bram—jadwal rutin sebelum tidur selama dua jam dan Nio belum juga mendapatkan balasan pesannya sama sekali. Dia keluar dari kamar setelah mematikan sambungan, melihat Nio bersila di lantai dengan satu burger dijejalkan ke mulutnya—merajuk.

Yoga tahu dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, Nio tidak suka itu.

Dia berhenti di depan pintu kamarnya, menatap Nio yang masih berbaring di ruang tengah dengan mata menempel di ponselnya yang sejak beberapa jam tadi tidak bergeming sama sekali.

Keras kepala sekali, pikirnya setengah geli.

“Nyo,” desahnya, bersandar di kusen pintu kamarnya. “Tidurlah, kita coba lagi besok.”

Nio menatap ponselnya yang diam. “Dia benci padaku, ya?” Tanyanya.

Yoga mengedikkan bahu, “Aku tidak bisa menjawab pertanyaan tentang perasaan seseorang, itu hanya Kak Yan yang tahu.” Dia menguap tertahan dan Dalkyum menggeliat di pelukannya.

“Kau bisa coba lagi besok.” Tambahnya, menyemangati Nio. “Jangan putus asa dulu. Kau sudah pernah mendekatinya dengan mudah dulu dan kau menyia-nyiakannya, jadi sekarang kau harus berjuang lebih lagi.”

Nio bergeming, menatap Yoga dengan alis berkerut—nampak berpikir. “Lebih lagi, ya?” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.

Yoga mengabaikannya, “Aku tidur duluan, oke? Jangan lupa kau punya kelas pagi besok.” Dia masuk ke kamarnya, mematikan lampunya. “'Malam, Nyo.”

”'Malam, Yoga.” Sahut Nio, berpikir keras seraya menatap layar ponselnya.

Mungkin dia punya sesuatu yang bisa dilakukan...

*