C'est un Secret 090
Nio bergidik, “Menggelikan.” Gerutunya, melempar ponselnya ke sisi sofa yang didudukinya, mengabaikan permintaan Danny dan Yoga sebelum kembali menatap layar televisi di hadapannya.
Nio selalu risih jika dia harus mengambil gambar wajahnya sendiri saat menjadi perempuan. Maka sebisa mungkin dia menghindarinya.
Sudah dua tahun dia menjadi perempuan begini, namun dia tidak juga merasa fasih dengan tubuhnya sendiri. Dia selalu mandi dengan mata tertutup, terburu-buru saat membasuh dirinya—menghindari menyentuh bagian-bagian tertentu berlama-lama.
Memasang menstrual cup terasa jauh lebih mengerikan, namun dia sudah mulai terbiasa dengan bagian itu karena mau tidak mau dia harus melakukannya. Memasukkan jemarinya ke dalam sana terasa begitu mengerikan hingga kali pertama dia melakukannya, Nio sibuk menyebutkan semua nama binatang alih-alih memasang cup-nya hingga Jin harus menggedor pintunya.
Dia takut pada tubuhnya sendiri dan itu membuatnya lelah.
Jin sedang bekerja di meja makan dengan semangkuk rice bowl di sisinya, selalu melakukannya tiap kali di rumah. Bekerja di meja makan mereka sambil makan, sekali dia menumpahkan minumannya ke Mac-nya dan Nio tertawa hingga terguling ke karpet.
“Siapa yang menggelikan?” Tanya Jin tanpa mendongak dari pekerjaannya, menaikkan kacamata bergagang tipisnya dari hidung dengan jari tengahnya. “Kau? Memang selalu.”
Nio mendengus, mengabaikan kakaknya. Dia menatap series yang sedang ditontonnya di televisi dan tidak bisa menahan diri tidak memikirkan foto yang diunggah Arfabian beberapa menit lalu.
Boss daddy katanya. Menggelikan.
Nio melipat kakinya, menumpukan dagunya di atas lututnya yang terlipat di dadanya dan mengerutkan alisnya; berpikir. Dia tidak pernah melihat lelaki itu di sekitaran kampus, Arfabian juga tidak menyantumkan nama akun sosial medianya untuk Nio selidiki.
Anak rambut luruh ke sisi wajahnya, menempel di pipinya dan Nio menyekanya ke balik telinganya. Merasa risih dengan tubuhnya sendiri sementara di layar televisi, pemain sedang berbicara dan Nio mengabaikannya.
“Itu Starbucks dari Danny jika tidak akan kauminum, masukkan saja ke kulkas.” Kata Jin, masih tidak mendongak dari layarnya. “Nanti basi.”
Nio meraih botol di meja dan membuka tutupnya, meneguknya langsung dari bibir botol dan membuat Jin berdecak keras. Nio mengabaikannya dan memilih menyerah pada seluruh emosi kekanakan aneh yang meledak di dalam dirinya. Dia merasa jauh lebih sensitif, meledak-ledak dan mengalami perubahan suasana hati yang mengerikan cepatnya.
Hal sesederhana foto lelaki asing di laman utama sosial medianya sudah cukup membuat Nio uring-uringan hingga kepalanya sakit.
Lagi pula kenapa dia harus jengkel jika Arfabian memutuskan untuk pergi dengan temannya? Makan malam dan membubuhkan emoji hati mungil di ujung cuitannya?
Itu, 'kan, bukan urusan Nio sama sekali.
Emoji hati mungil.
“Menjijikkan!” Seru Nio dalam hentakan tatrum hormonal perempuannya hingga Jin tersentak kaget dan menoleh.
“Kau kenapa, sih?!” Tanyanya, mulai jengkel karena adiknya selalu bertingkah aneh-aneh tiap kali menjadi perempuan. “Apa yang dilakukan si prettyhandsome kali ini?”
Nio menoleh ke arahnya, mengerutkan alisnya. “Kenapa dia?” Dia balas bertanya dengan nada tajam dan terganggu. “Memangnya siapa yang bilang ini karena dia?”
“Aku tidak bilang ini karena dia? Aku hanya bertanya?”
Nio menyipitkan matanya dengan sebal, “Jangan bersilat lidah denganku.” Gerutunya, membuang wajah dan menatap layar televisi.
Hari ini terasa sangat menyebalkan. Dimulai dengan dirinya yang terjebak dalam tubuh perempuan hingga dua hari ke depan, hormon perempuannya yang bergolak saat menstruasi, perasaan tidak nyaman karena harus membuang isi menstrual cup setiap lima jam sekali lalu sekarang ditambah Arfabian bertingkah.
Kenapa dia tidak bisa diam saja, sih? Kenapa dia harus terus mencobai Nio?
“Siapa yang mencobaimu?” Tanya Jin, sekarang meraih mangkuknya dan mulai makan—bersandar di kursinya, menikmati waktu istirahatnya.
Nio mengerutkan alis, sebal karena dia mungkin baru saja mengumumkan isi kepalanya keras-keras sehingga Jin mendengarnya.
“Kak.”
“Hm?”
“Jika kau sebal karena seseorang, apakah itu berarti kau menyukainya?”
Jin menatapnya, sesendok makanan berhenti beberapa senti dari mulutnya yang terbuka. Dia menyuapnya, mengunyah dengan perlahan sengaja mengulur-ulur waktu hingga Nio semakin jengkel sebelum menjawab.
“Jika kau sebal, ya berarti kau tidak suka padanya.” Jin mengedikkan bahunya ringan. “Bagaimana logikanya jika orang itu membuatmu sebal berarti kau menyukainya?”
Nio mengerutkan alis. “Menurut Danny dan Yoga begitu.”
“Itu, 'kan, hatimu. Kenapa kau membiarkan mereka memberi tahumu apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kau rasakan?” Sahut Jin, memiringkan mangkuknya untuk menyendok remah-remah sisa makanan di dasar mangkuk.
“Daripada itu,” Jin meletakkan mangkuk kosongnya di meja yang berdenting lalu bersendawa kecil. “Kau sudah mandi air hangat hari ini?”
Nio mendesah, “Sudah. Begitu pula kemarin dan kemarinnya.” Dia menyisir rambut panjangnya dengan jemari—merasakan halus helai-helai tebalnya dengan jemarinya. “Tapi tidak ada yang terjadi.”
Jin menatapnya, nampak berempati. “Kapan seharusnya menstruasimu selesai?”
“Dua hari lagi.” Nio menghela napas keras, merasa pening.
Dengan bantuan Jin yang bicara dengan pihak kampus, Nio bisa mengkuti perkuliahan secara daring. Mendapatkan materi-materi dikirimkan ke surelnya oleh dosen-dosennya dan dia bersyukur atas itu, bersumpah dia tidak akan sudi berubah jadi perempuan lagi di minggu menstruasinya.
Jin melangkah ke arahnya, duduk di sisinya dan memeluk adiknya yang bersandar ke pelukannya. “Maaf,” bisiknya lirih di puncak kepala Nio yang mulai merasa matanya panas oleh air mata bodoh lainnya.
Nio bukan lelaki yang mudah menangis, dia selalu kuat dan menyebalkan. Congkak dan berisik. Namun tiap kali dia menjadi perempuan, emosi-emosi lain luruh di dalam dirinya dan mengubahnya menjadi pribadi baru yang sama sekali asing dengannya. Membuatnya kebingungan.
“Maaf aku belum bisa melakukan apa pun untuk membantumu sembuh.” Jin mendesah, memejamkan mata di atas kepala adiknya. Dia tidak suka melihat adiknya begini, dia selalu merasa terbebani tiap kali Nio berdiri di hadapannya dalam wujud perempuannya.
Dia melihat dan merasakan bagaimana adiknya merasa kikuk, tidak nyaman dan asing pada tubuhnya sendiri setiap kali menjadi perempuan. Dia benci melihatnya, dia tidak suka. Nio seolah kehilangan percaya dirinya, meringkuk takut dan kebingungan—seperti seekor binatang yang berada di cangkang yang salah.
Belum lagi banjir bah emosi yang membingungkan. Dia menangis, dia makan makanan manis begitu banyak, dia marah-marah dan dia sendiri lelah dengan ledakan tatrum itu.
Mereka sudah berusaha, menyelidiki apa penyebabnya. Mencatat secara runtut kejadian hari itu, dua tahun lalu hari pertama Nio menjadi perempuan namun tidak ada yang aneh sama sekali. Dia hanya kehujanan lalu demam, lalu dia berubah menjadi perempuan.
Hingga sekarang.
Nio menepuk tangan kakaknya yang memeluknya. “Bukan salahmu.” Kata Nio, berusaha keras menahan air matanya karena dia lelah sekali menangis, lelah dengan ledakan emosinya sendiri.
Dia ingin istirahat.
Semua orang terasa begitu menyebalkan hari ini.
“Kau ingin makan keluar?” Ajak Jin kemudian dan Nio menggeleng, dia tidak ingin bertemu siapa-siapa lagi setelah pertemuan mengejutkannya dengan Arfabian sore tadi.
Dia ingin tidur saja, melupakan segalanya. Berharap dia bangun keesokan harinya, sudah dalam fisik lelaki yang sangat dirindukannya.
“Aku ingin istirahat saja.” Kata Nio kemudian, melepaskan diri dari pelukan Jin yang mendesah berat.
“Baiklah.” Katanya lembut, mengusap kepala adiknya sayang. “Jika kau lapar, ada makanan di kulkas yang bisa kau hangatkan sendiri, oke? Ada cokelat dan es krim juga jika kau tiba-tiba ingin makanan manis.”
Nio mengangguk, merasa lelah. “Oke.” Katanya, berdiri dan melangkah ke kamarnya sendiri di sudut ruangan. “Selamat malam, Kak Jin.” Pamitnya sebelum menutup pintu.
“Malam, Nio.” Balas Jin ke pintu yang tertutup, meraih remote televisi dan mematikannya. Mengusap wajahnya, mendesah keras. Merasa gagal menjadi seorang kakak, merasa gagal menjaga adik satu-satunya.
Semenjak dia berubah menjadi perempuan, Nio berhenti berkencan.
Jin selalu ingat deretan lelaki yang dikenalkan Nio padanya selama ini. Sering datang ke rumah membawakannya parsel buah atau makanan sebagai sesajen atau dijemput Nio untuk datang ke rumah berkenalan dengannya. Selalu menjawab dia sedang makan malam atau keluar dengan kekasihnya tiap kali Jin menghubunginya, sebuah rutinitas.
Namun setelah hari itu, Nio berhenti.
Dia berubah menjadi lebih tertutup, tidak membiarkan terlalu banyak orang memasuki kehidupannya. Hanya Danny, Yoga, Jin dan Hosein. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi yang dikenalkannya ke Jin sebagai teman.
Dia menutup semua akses ke dirinya, yang dipahami Jin sebagai mekanisme pertahanan diri karena keadaannya yang aneh dan tidak wajar. Dia bahkan menolak memberi tahu siapa pun tentang kutukannya.
Hosein tahu hanya karena dia berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Dia tiba di rumah Jin saat Nio baru saja berteriak di proses final perubahan fisiknya, berlari ke kamar hanya untuk mendapati gadis setengah telanjang terduduk di ranjang, menangis.
Jin terlambat menyembunyikan Nio, maka mereka terpaksa menceritakan semuanya pada Hosein yang ternyata menyikapi hal itu dengan sangat positif. Dia bahkan membawa Nio ke Singapore, mencarikannya dokter terbaik yang nyatanya sama bingungnya dengan dokter Indonesia mengenai keadaan Nio.
Sekarang mereka memfokuskan diri pada pengobatan alternatif yang ekstrim dan membuat Nio mengerutkan wajah karena takut—namun pilihan apa yang mereka miliki?
Jika kedokteran konvensional sudah menyerah dengan keadaan Nio, maka jalur tidak wajar harus ditempuh.
Jin setengah bersyukur bahwa Nio adalah anak yang sangat keras kepala, dia bisa menghadapi kutukan ini dengan begitu kuat. Dia tidak mengizinkan siapa pun bahkan dirinya sendiri untuk merusaknya. Dia menghadapinya dengan lumayan tenang—dalam kondisi fisik lelaki atau perempuan.
Dia hanya akan berubah jadi uring-uringan dan menyebalkan jika dia sedang sial, berubah menjadi perempuan saat minggu menstrasinya—maka dari itu Jin dan Nio selalu bekerja sama, menghindari minggu itu.
Jika saja yang terkena kutukan aneh ini orang lain selain Nio yang tidak kuat menjalaninya, mungkin hasilnya akan lain. Namun Nio berhasil, menyembunyikannya dengan begitu rapi dan apik. Tidak ada yang curiga sama sekali.
Jin menatap pintu yang tertutup, berharap dia bisa melakukan sesuatu—apa saja agar Nio kembali menjadi normal.
Sebelum mereka tidak sengaja tersandung dan menghancurkan segalanya, sebelum kedua orang tua mereka tahu.
“Jadi, bagaimana kabarmu?”
Bian mendongak dari makanannya, menatap Bobby yang duduk di hadapannya. Sudah lama sekali sejak dia bertemu kakak tingkatnya di SMA ini.
Mereka selalu memiliki hubungan yang baik dan akrab, nyaris seperti kakak lelaki kandung Bian. Bobby selalu mengutamakannya di atas segalanya, bahkan pekerjaannya. Selalu bersikap baik dan manis di hadapannya, memanjakan Bian sebagai adiknya.
Bobby selalu adalah zona nyaman Bian, tempatnya mencari perlindungan dan ketenangan. Dia selalu menamengi dirinya dari orang luar, namun hanya dengan Bobby-lah dia melepaskan segala atributnya, menyerah.
“Baik.” Bian menyuap makanannya dengan lahap, senang dia memiliki Bobby malam ini untuk menemaninya setelah sesorean tadi merasa jengkel karena dia harus bertemu langsung dengan kekasih Antonio.
Gadis yang luar biasa menarik, tubuh sintal berisi yang seksi dan menakjubkan. Jika Antonio seorang heteroseksual, maka tidak ada yang bisa dilakukan Bian untuk berusaha membuatnya menyukai Bian.
Memikirkannya membuat Bian kembali sebal.
“Apakah ada hal yang menganggumu belakangan ini?” Tanya Bobby, mengamati perubahan ekspresi Bian yang tidak sulit disadari karena Bian seperti buku yang terbuka di hadapannya.
“Yah, ada.” Bian akhirnya mengedikkan bahu.
Kemudian mulai menceritakan segalanya tentang Antonio—melalui tiap kata yang diucapkannya, setiap emosi yang dilepaskannya, Bian merasa jauh lebih ringan dan lebih baik. Menceritakan isi hati dan kepalanya ternyata membuatnya jauh lebih tenang.
Dia bahkan memberi tahu Bobby mengenai perasaannya sendiri; dia yang sempat merasa berdesir tiap kali bertemu pandang dengan Antonio, tiap kali Antonio bicara dengan manis padanya dan bahkan tiap kali mendengar nama Antonio diucapkan di sekitarnya.
Bian yang asing oleh perasaan disayangi dan dipuja, mendapati bahwa perhatian Antonio berikan padanya terasa seperti hembusan angin sejuk di tengah padang gurun dan dia terjebak.
Namun tidak lagi.
Bian sudah bangkit, dia berdiri di atas kakinya sendiri dan menolak untuk tunduk lagi pada Antonio. Dia bisa saja bersikap manis dan memesona, tapi Bian bersumpah dia tidak akan terjebak lagi dalam permainan sialnya.
“Dia kedengarannya menyukaimu?” Bobby menanggapi setelah Bian menarik napas, selesai menceritakan pertemuannya dengan kekasih Antonio. “Dia sedang berusaha mencari perhatianmu dengan cara yang sesuai dengan umurnya—kekanakan.”
“Tapi, dia punya pacar, Kak.” Tukas Bian, menyendok makanannya lagi—menjejalkan makanan ke mulutnya sebelum dia mengatakan hal yang akan disesalinya.
Bobby menatapnya. “Lalu kenapa? Pacar, 'kan, bisa putus.” Guraunya.
Bian tertawa, tidak paham dari mana ledakan emosi itu berasal. “Ngawur!” Katanya dan Bobby menimpali tawanya dengan ringan. “Sekarang aku tidak akan memedulikannya sama sekali,” Bian menambahkan.
“Dia bisa saja bersikap berengsek dan bajingan ke semua orang, tapi tidak padaku.” Bian mengerutkan alisnya, tidak suka merasa diinjak-injak dan benci karena dia sempat membiarkan Antonio masuk ke dalam hatinya hanya untuk mengacaukannya.
“Aku tidak akan memberikan sedetik pun waktuku untuknya lagi.” Bian menusuk potongan kentang di makanannya dengan sedikit terlalu keras hingga ujung garpunya menghantam permukaan piring dengan suara nyaring.
“Sudah cukup dia memasuki hatiku dan mengobrak-abrik isinya,” dia menatap potongan kentang di piringnya dengan penuh dendam seolah itu adalah Antonio. “Tidak lagi, tidak akan lagi.”
Bobby menatap Bian yang menunduk ke piringnya, menyadari emosi adiknya yang sekarang meluap. Menyadari bagaimana dia merasa jengkel karena sempat mengendurkan perlindungan dirinya dan membiarkan seseorang memasuki kehidupannya—seseorang yang salah.
Dan dia berharap, Bian tidak terlalu keras pada dirinya sendiri kali ini setelah membiarkan satu orang yang salah memasuki kehidupannya.
“Jika dia kemudian suatu hari nanti serius,” tambah Bian dan Bobby mendenguskan senyuman kecil—sudah menduga kata-kata ini.
Karena dia mengenal Arfabian dengan begitu baik, bahkan jauh lebih baik dari cara Bian mengenal dirinya sendiri.
Dia tahu—dia selalu tahu Bian sebenarnya menyimpan rasa pada Antonio (ingatkan Bobby untuk mencari akun sosial medianya setelah ini), dia berharap Antonio berubah pikiran tentangnya, tentang perasaannya dan tentang mereka. Berharap Antonio serius tentang menyukainya.
Selalu menjadi Bian sang hopeless romantic yang menolak mengakuinya, keras kepala menghindari perasaannya sendiri.
“Dia harus berusaha sangat keras untuk membuatku membuka hati.”
Bobby menahan dirinya sendiri agar tidak berkomentar mendengar kata-kata yang diucapkan Bian. Dia tidak akan menjadi perusak pesta dengan memberi tahu Bian bahwa dia baru saja mengumumkan perasaannya sendiri.
Dia hanya akan jadi penonton, mengamati kedua anak-anak ini berebut mainan dan memisahkan mereka saat mulai tidak terkenali. Bobby bisa melakukannya.
“Dan selama menunggu,” Bobby menambahkan, merasa dia punya waktu luang untuk membantu adiknya bermain—mungkin memercikkan sedikit bensin ke bara api yang berasap di hadapannya. “Kau bisa memberdayakanku.”
Bian menatapnya, menaikkan sebelah alisnya dan mengulaskan senyuman separonya yang menyilaukan. “Ya.” Katanya senang, “Ya!”
Bobby tertawa. Dia punya banyak waktu luang sebelum kembali mulai kembali bekerja, jadwal syutingnya selanjutnya setidaknya dua bulan lagi sebelum dia harus meninggalkan Jakarta.
“Baiklah, ayo makan.” Bobby menambahkan. “Kau mau pesan lagi?”
Bian mengangguk, “Aku boleh pesan main course lagi?”
“Tentu.” Bobby mempersilakan, membiarkan Bian melambai memanggil pelayan yang bergegas menghampiri mereka dengan menu dan note untuk mencatat pesanan mereka. “Tolong, sekalian dessert untukku.”
Jadi, dia punya waktu untuk mencari tahu apakah Antonio akan berubah pikiran tentang Bian atau tidak.
Perasaan Bobby kuat sekali bahwa keduanya sedang bersikap sama-sama angkuh tentang hal ini. Dan dia yakin keduanya punya alasan yang cukup kuat untuk bersikap sama-sama kekanakan.
*