C'est un Secret 115


“Baiklah, ada pertanyaan?”

Satu ruangan diam, berbisik-bisik dengan suara rendah sementara di depan mimbar Bian berdiri menatap semua wajah satu per satu dan sengaja melewati satu wajah yang duduk di sudut belakang, menatapnya dengan tatapan predator yang membuat perutnya mulas.

Dia berusaha keras mengabaikan Antonio sepanjang rapat, sejenak merasa dia seharusnya membiarkan saja Antonio tidak hadir di rapat. Karena kali terakhir pemuda itu tidak hadir, Bian memimpin rapat dengan sangat lancar dan tenang.

Antonio hadir untuk merusak konsentrasi dan fokusnya, Bian benci kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Jika tidak ada,” kata Bian kemudian, kembali ke mejanya dan mulai membereskan barang-barangnya. “Silakan untuk para koordinator untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan divisi-divisinya.”

Bian memasuki mimbar, langsung mengobrol dengan wakil, sekretaris dan bendaharanya mengenai pengajuan proposal pengadaan dana dan sebagainya. Mereka baru mengajukan proposal mereka ke Fakultas dua hari lalu dan belum ada info kapan dananya akan cair sementara inisiasi universitas sudah mulai berjalan, waktu mereka bisa jadi sangat tipis tergantung cairnya dana.

Divisi-divisi mulai membelah diri—membentuk lingkaran-lingkaran di dalam ruangan untuk membahas progres kinerja mereka masing-masing. Suara obrolan mereka riuh-rendah, ada yang tertawa dan ada yang bicara dengan serius. Obrolan malas mereka menggantung rendah di ruangan, membuat Bian merasa hangat dan tenang.

Bian menyapukan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan sekilas, mengawasi situasi ruangan saat matanya dan Antonio bertemu. Tidak sampai lima detik, tapi efeknya berhasil membuat Bian sejenak goyah.

Bagaimana bisa anak itu nampak begitu mengintimidasi? Dingin dan angkuh? Lalu berubah menjadi tengil dan menyebalkan di detik pertama dia membuka mulutnya?

Bian tidak bisa tidak mengapresiasi bentuk wajahnya yang tegas, garis rahangnya yang tajam, matanya yang indah dan bibirnya yang membentuk garis tipis—tidak senang akan sesuatu.

Dan Bian terserang impuls gila sesaat yang memusingkan, dia ingin menyenangkannya, menghapus garis tipis itu dari bibirnya.

Bian langsung mengerjapkan matanya dan mengalihkan pandangan, merasakan sentakan rasa jengkel dan sebal serta muak yang membuatnya merinding. Dia melirik sekali lagi, menyadari Antonio masih menatapnya.

“Apa lagi masalah anak itu sekarang.” Gerutunya di bawah napasnya sebelum memalingkan wajah sepenuhnya, memfokuskan seluruh perhatiannya pada sekretarisnya yang sedang membicarakan surat izin para mahasiswa.

Bian membubarkan rapat pukul enam sore, di luar hujan mulai turun dan semakin deras sehingga banyak anak-anak yang memutuskan untuk tetap di ruangan—termasuk Antonio dan Yoga yang duduk di kursi pojok ruangan dengan koordinator mereka, bermain game bersama.

“Oke.” Bian membereskan barang-barangnya. “Nanti jika fakultas menghubungiku, aku akan segera menghubungimu.” Katanya pada bendaharanya yang mengangguk, membereskan nota-nota sementara yang mereka kumpulkan untuk persiapan.

“Kau akan pulang sekarang, Yan?” Tanya wakilnya, melirik jendela yang sekarang menampilkan langit kelabu gelap dengan titik-titik air raksasa yang menghajar permukaannya.

Bian mendesah, sebal. “Sepertinya akan kutunggu hingga sedikit reda saja.” Dia melirik jam tangannya. Dia ada janji untuk ke apartemen Bobby malam ini dengan Jimmy, menonton Netflix dan makan tapi sepertinya harus ditunda.

Dia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan mengetikkan pesan untuk Bobby: Aku terjebak hujan di kampus, sepertinya akan agak terlambat. Kau oke? Lalu menekan tombol kirim.

Dia menatap layar ponselnya, menunggu jawaban Bobby yang belum daring saat tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel dari sudut ruangan. Seluruh ruangan menoleh, terkesirap bersamaan dengan suara seragam karena nada deringnya keras sekali dan melihat Antonio nyaris melempar ponselnya karena kaget sendiri oleh deringnya.

“Angkat, angkat.” Goda beberapa orang dan tertawa karena baru sembuh dari kekagetan mereka atas deringnya.

“Maaf!” Seru Antonio terkekeh.

Antonio bergegas mencabut pengisi daya ponselnya, membawa benda itu keluar dari kelas seraya mengangkatnya terburu-buru namun Bian sempat mendengar sapaannya sebelum pintu ruangan mengayun tertutup.

“Halo, Nia? Aku sedang di kampus, hujan. Ada apa?”

Aku katanya, pikir Bian mencibir dalam hati dan kembali menunduk ke ponselnya, menunggu balasan Bobby.

Dia menunduk ke ponselnya, berjalan-jalan ke sosial medianya untuk membunuh waktu namun dengan telinga siaga ke pintu depan. Suara Antonio dikalahkan oleh deru hujan yang semakin deras sehingga Bian secara tidak sadar dan didorong oleh rasa penasaran, akhirnya bangkit, mendekat ke pintu dengan kedok mengisi daya ponselnya.

Dia bersandar di dinding, melirik ke pintu yang terkuak dan melihat Antonio menempelkan ponsel ke telinganya nampak rikuh. Alisnya berkerut dan wajahnya terlihat... marah.

Bian mengerjap, Uh-oh.

Apakah mereka bertengkar?

Dia melirik lagi, mengamati saat Antonio membuka mulut—mengatakan sesuatu sementara tangannya bergerak-gerak di hadapannya, nampak jengkel. Dan gestur itu mengirimkan sentakan rasa nyaman ke hati Bian, membuatnya berdersir.

Mereka ribut, Bian positif tentang itu.

Namun Antonio terlalu jauh dan hujan terlalu deras untuk Bian bisa mendengarkan apa yang mereka ributkan. Dia menunduk ke ponselnya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyumannya.

Mereka bertengkar.

Bian tersenyum lebar.


Yoga mungkin seorang badut, tapi dia tidak bodoh.

Dia melirik Arfabian yang tersenyum lebar ke ponselnya sementara di tangannya ponselnya menyala dengan Nio tersambung dalam panggilan suara Whatsapp. Ide sinting Nio, tentu saja.

Dia terlalu malu untuk minta tolong pada Nia sehingga mereka akhirnya membuat rencana. Yoga akan meneleponnya, membiarkannya tersambung dan Nio akan berakting seperti orang bodoh di luar sana. Menggunakan semua kebodohannya untuk bersikap seolah-olah dia sedang bertengkar dengan kekasihnya.

“Mudah,” klaim Nio tadi dan nampak sangat positif dengan rencananya. “Hanya tinggal marah-marah, 'kan? Aku anggap saja itu Kak Jin.”

Jadi Yoga memutuskan untuk bersikap seperti kata-kata mutiara andalannya, “Orang waras mengalah saja.” Maka dia membiarkan Nio dan Danny membahas rencana gila mereka.

Mereka membicarakan ini saat mengikuti kelas lewat grup Whatsapp mereka. Danny yang memang pada dasarnya suka drama percintaan picisan, mendukung sepenuhnya. Lalu tugas Yoga-lah untuk mengecek reaksi Arfabian sementara Nio mengerahkan kemampuan aktingnya.

Dia membawa ponselnya mendekat ke bibirnya, mendengarkan dengung suara Nio dan hujan yang sayup-sayup karena dia merendahkan volume panggilan dan berbisik ke receiver, “Dia termakan dramamu. Lanjutkan sedikit lagi.”

Apa maksudmu aku tidak pernah memberi kabar? Aku selalu melakukannya!” Kata Nio di seberang sana, ditingkahi suara hujan dan Yoga memutar bola matanya, sebal. “Kau tidak pernah menghargai semua usahaku, sibuk dengan dirimu sendiri!”

Get lost, Dickhead.” Kutuknya jengkel.

Sayang, dengarkan aku.” Kata Nio di seberang sana, lembut dan membujuk. Yoga nyaris saja bangkit, menghambur keluar lalu menonjok wajah Nio di tempat.

“Iya, iya, kau meyakinkan sekali.” Bisik Yoga sebal lalu mematikan sambungan, membiarkan Nio melakukan improvisasi sendiri.

Dia melirik Arfabian yang sekarang menatap ke celah pintu, yang sengaja dilakukan Nio dengan sangat ahli dan terkalkulasi sempurna sehingga nampak seolah dia tidak berniat meninggalkan celah untuk diintip.

Dan kemudian, Arfabian bergegas memalingkan wajah tepat sedetik sebelum Nio memasuki ruangan dengan wajah gusar yang Yoga akui nampak sangat natural. Sepertinya Nio harus ikut casting sebagai pemain film.

Mereka seharusnya bisa saja langsung jadian dan hidup bahagia selama-lamanya jika saja mereka berdua tidak terlalu gengsi untuk mengakuinya, tidak terlalu keras kepala dengan emosi masing-masing.

Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat Yoga, jadi dia diam.

Namun sedetik setelah dia memunggungi Arfabian, wajahnya berubah seketika; menjadi ceria dengan senyuman dikulum. Dia menaik-naikkan kedua alisnya, melirik bagian belakang punggungnya dan Yoga melirik ke sana—mendapati Arfabian sedang menatap Nio sebelum kembali menunduk ke ponselnya.

Yoga mengacungkan jempolnya dan Nio tersenyum lebar.

“Kau mengerikan.” Bisik Yoga saat Nio mendudukkan diri di sisinya.

Nio tersenyum senang. “Aku jago masalah seperti ini.” Dia mendengus bangga.

“Apa?”

“Akting dan berbohong. Itu bakat seorang anak bungsu, berpura-pura sehingga kakak mereka yang dimarahi.”

“Oh. Kak Yan harus siap-siap.”

“Aku akan berbohong tentang apa saja tapi bukan perasaanku pada Kak Bian.”

Yoga mulai positif tentang keinginannya menonjok wajah Nio, sungguh.


Bian membereskan barang-barangnya, hujan berubah menjadi rintik-rintik dan dia harus bergegas karena Jimmy ternyata sudah tiba lebih dulu di apartemen Bobby dengan ojek daring, tidak tahan menunggu Bian sendirian di Perpustakaan.

Bian menyandang tasnya bersamaan dengan segelintir anak-anak yang masih bertahan di ruangan itu karena pulang menggunakan motor, termasuk Antonio dan Yoga.

“Ayo pulang.” Ajak Bian ramah pada beberapa anak yang mulai berdiri.

“Akhirnya.” Keluh seorang dan bergegas meluncur ke pintu, tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. “Trims, Kak Yan! Ketemu besok!”

Bian melambai. “Hati-hati di jalan.” Katanya ramah lalu menoleh, mendapati Antonio berdiri di sisi pintu menunggu Yoga yang sedang membereskan barang-barangnya.

Bian mau tidak mau harus melewati ruang di sebelah Antonio. Dia menghela napas, menyiapkan diri (untuk apa dia menyiapkan diri? Dia tidak tahu) untuk melewati Antonio yang bermuka masam dan sepat seolah sedang mengunyah belimbing.

“Permisi.” Kata Bian pada Antonio.

Antonio menatapnya sebelum bergeser. “Maaf.” Katanya pelan dengan suara parau yang membuat Bian melirik, melihat wajahnya yang masam dari dekat.

Dan itu sebuah kesalahan karena seketika itu juga Bian menjadi bersimpati dengannya karena dia nampak begitu menggemaskan—seperti seekor anjing yang ekornya terkulai, memohon untuk diadopsi.

Dan Bian suka anak anjing.

Dia berhenti, membuka mulut untuk mengatakan sesuatu sebelum kembali diam. “Trims.” Katanya, bergegas berlalu dari sana—menahan dirinya sendiri agar tidak mengatakan apa pun pada Antonio.

Dia tidak akan bersikap mudah sekarang, apalagi pada Antonio. Dia tahu seluruh dirinya menginginkan pemuda itu dan dia juga sudah pernah membuka dirinya begitu lebar, membiarkan Antonio memasuki hidupnya—memporak porandakannya.

Bian tidak akan membiarkan hal itu terjadi dua kali.

“Kak?”

Dia mengerjap, berhenti dan mengenggam kunci mobilnya lebih kuat lagi. Dia menoleh, mendapati Antonio menatapnya dengan tatapan seperti anak anjing yang terluka—matanya sayu, wajahnya mengerut sedih dan Bian ingin sekali menggendongnya, menimang-nimangnya sayang.

Dia mengepalkan kedua tangannya, melawan dirinya sendiri. “Ya?” Tanyanya, menahan napas.

Antonio tersenyum kecil, senyuman yang tidak menyentuh matanya sama sekali dan entah kenapa, Bian merasakan ketulusan yang tidak pernah dilihatnya pada wajah Antonio, menyeruak di permukaan wajahnya.

Sejenak Bian merasa simpati, apakah pertengkarannya tadi dengan kekasihnya begitu hebat hingga dia nampak sesedih itu?

“Hati-hati di jalan, pasti macet dan banjir.” Dia tersenyum, melambai kecil.

Bian mengerjap, kaget. Tidak menduga kata-kata itu muncul dari Antonio.

“Oh.” Katanya. “Ya, oke. Trims.” Sahutnya. “Kau juga.” Lalu dia melambai dan berbalik, bergegas menjauh dari jangkauan Antonio sebelum dia mulai sinting.

Dia mempercepat langkahnya ke lift, dia harus menjauh dari Antonio sekarang sebelum dia benar-benar kehilangan akal sehatnya dan melemparkan diri ke dalam pelukan singa buas yang siap mencabik-cabiknya kapan saja.

Arfabian, kau harus benar-benar mengontrol dirimu sendiri, pikirnya jengkel, memasuki lift dan menekan tombol Ground.

Dia butuh ditampar atau ditonjok, mana saja yang akan menyadarkannya dari kungkungan kabut memabukkan kehadiran Antonio yang suka tidak suka, ternyata masih memiliki kuasa sepenuhnya atas dirinya.

*