C'est un Secret 100


Bian menghabiskan red velvet cake pertamanya sementara di hadapannya, Bobby sedang mengecek sesuatu di tablet yang selalu dibawanya ke mana-mana karena isinya jadwal dan segala macam tetek-bengek keartisannya.

Tadi saat mereka memasuki Union dan Bobby melepas kacamata gelapnya, beberapa orang langsung mengenalinya dan Bian terpaksa mundur ke latar belakang untuk membiarkan orang-orang menyapa Bobby dan meminta swafoto bersama.

Dia bersedekap di sana, mengamati Bobby yang meladeni penggemarnya dengan sabar dan senyuman ramah terkembang di bibirnya. Memikirkan apakah Bobby pernah lelah menjalani hal semacam itu di hidupnya? Setelah Bobby dengan tegas namun ramah meminta mereka untuk menghormati waktu pribadinya bersama adiknya, barulah mereka mundur.

Sudah lama sejak Bian terakhir keluar dengan Bobby, reaksi semacam ini membuatnya jengah karena kembali harus beradaptasi karena dia ditemani artis kenamaan ibu kota.

“Kau pesanlah makanan.” Kata Bobby kemudian, meletakkan tablet-nya di meja dan memfokuskan diri pada Bian yang menyendok keik di hadapannya, menyuapnya senang.

“Aku sudah pesan saat kau terima telepon dari manajermu tadi, aku pesan filet mignon untuk diriku sendiri dan tidak yakin makanan aneh apa yang ingin kaumakan, jadi kuminta pelayan kembali nanti.” Sahutnya kalem menatap Bobby yang meraih buku menu di sisinya.

“Baiklah,” Bobby mengamati nama-nama makanan di menu dan melambaikan tangan, memanggil pelayan yang bergegas menghampirinya. “Tolong satu escargot.”

Bian mengernyit. “Kau memang benar-benar merusak selera makanku.” Gerutunya, meraih sampanye di sisi mejanya dan meneguknya sedikit, untuk membilas rasa krim yang lengket dan tebal di mulutnya.

“Apa?” Balas Bobby kalem, mengembalikan buku menu ke pelayan yang mundur untuk meneruskan pesanannya ke dapur. “Aku memang ingin makan itu, kenapa kau berisik sekali?”

Bian memutar bola matanya, dia memilih untuk kembali menggali ke dalam keiknya daripada menanggapi Bobby yang sekarang membenahi duduknya, menumpukan kedua sikunya di meja dan menatapnya.

“Jadi, apa yang dilakukan Antonio padamu?” Tanyanya.

Bian menandaskan isi piringnya, berpikir dia akan meminta satu potong keik lagi untuk menenangkan isi kepalanya yang bergemuruh sebelum menatap Bobby. “Bersikap bajingan seperti biasa,” dia menyingkirkan piringnya yang langsung dibereskan oleh pelayan.

“Dia tidak pernah tidak bersikap tidak sopan padaku.” Bian menggerutu, menyeka bibirya dengan serbet. “Dia selalu bicara dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling, menjawabku dengan bahasa kasar yang tidak seharusnya diucapkan di forum resmi—menginjak-injak posisiku sebagai ketua.

“Dia memang bajingan tengil, namun dia tidak bisa berharap semua orang akan maklum dengan sifatnya yang begitu. Dia benar-benar membuat kepalaku sakit.”

Bobby terkekeh.

“Jadi aku mengiriminya sepatah-dua patah kata tentang betapa sikapnya membuatku sebal dan berharap dia memahami maksudku.” Tambah Bian, melirik etalase kue dan Bobby menyadarinya.

“Ambil sepotong keik lagi.” Katanya melambai kalem dan Bian langsung tersenyum cerah, dia meminta pelayan membawakannya sepotong black forest.

“Dan menurutku,” mulai Bobby setelah Bian menerima sepotong keiknya lagi. “Dengan kau mengatakan dengan jelas apa yang kau tidak senangi tentangnya, itu sudah memposisikan dirimu dengan benar. Yah, berharap saja si Tengil ini belajar sesuatu.”

Bobby terkekeh setelah hening sejenak, “Karena entah bagaimana, rasa-rasanya tipe manusia seperti Antonio ini tidak akan mau mendengarkan jika dirinya sendiri tidak ingin.”


“Yog,”

“Apa?”

Nio menatap ponselnya dengan serius sementara di ruang tamu, Yoga sedang belajar dengan Dalkyum melingkar di pangkuannya, mendengkur lembut. Televisi menayangkan acara talk show yang tidak diperhatikan sama sekali, diputar dalam volume sayup-sayup hanya untuk menemani mereka belajar.

Kontrakan mereka berada di gang sempit yang ramai, jadi suara-suara otomatis masuk ke dalam kontrakan mereka yang hanya terdiri atas dua kamar, satu kamar mandi, dapur kecil dan ruang cuci piring sempit di depan kamar mandi.

Motor Nio dan Yoga biasanya diparkir di lapangan, beberapa meter dari kontrakan mereka karena tidak ada lahan sama sekali untuk parkir di depan rumah mereka yang adalah jalan kampung yang hanya muat untuk satu motor tanpa papasan.

Orang tua Yoga menambahkan penyejuk ruangan dan Jin menambahkan water heater demi kepentingan Nio, menjadikan kontrakan yang nyaris kumuh itu, nampak layak ditinggali setelah diisi dengan barang-barang. Mereka punya kulkas kecil, mesin cuci, penyejuk ruangan dan water heater di kontrakan kecil itu—layak untuk hidup dua manusia pemalas.

“Jika seseorang marah padamu—” Mulai Nio perlahan, menatap layar ponselnya dengan serius—entah mencermati apa.

“Belikan sesuatu yang dia sukai.” Sahut Yoga seketika tanpa menoleh, masih sibuk memberikan warna pada jurnal yang dicetaknya barusan karena dia tidak suka membaca jurnal di layar laptopnya.

Easy.” Tambahnya kalem.

Nio mengerutkan alis. “Aku belum bilang apa pun.”

“Aku tahu.” Yoga terkekeh, menggaruk telinga Dalkyum yang mendengkur senang karena dimanja. “Kau dimarah Kak Yan, 'kan? Itu, 'kan, kenapa tadi saat aku mandi kau berseru 'WAH!' seperti baru saja menang lotere? Dan sekarang merasa bersalah?”

Nio mengerutkan alisnya semakin dalam, tidak menyukai cara Yoga mengetahui masalahnya dengan begitu mudah. “Tidak begitu.” Dia menggaruk telinganya lalu mengedikkan bahunya kalem.

“Yah, mungkin aku keterlaluan padanya—”

“Kau memang keterlaluan, bukan mungkin lagi.” Sela Yoga sebal, mengetik sesuatu di layar laptopnya, dengan jurnal yang dicorat-coret terhampar di sisinya.

Nio berguling telentang di kasurnya, menatap layar ponselnya dengan lekat. “Hmm... Begitu, ya?” Gumamnya lalu mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. “Haruskah aku minta maaf?” Tanyanya.

Yoga mengerang kecil. “Wah, tidak tahu, ya.” Gerutunya. “Menurutmu bagaimana?” Balasnya, menoleh ke kamar Nio yang terbuka—Nio berbaring dengan kepala melewati pinggir kasur, rambutnya membentuk air terjun ke lantai di bawahnya.

“Aku, 'kan, hanya iseng padanya karena reaksinya lucu tiap kali aku menggodanya.” Nio masih berusaha membela diri dan Yoga menyadari bicara dengan Nio sungguh membuang-buang waktunya karena dia bodoh dan berkepala batu.

“Kau tahu, tidak?” Yoga akhirnya memutar duduknya menghadap Nio, masih menggaruki belakang telinga Dalkyum yang mendengkur nyaman di pangkuannya. “Untuk ukuran manusia setengil ini, kau itu bodoh.”

“Tidak perlu repot-repot, Kak Jin selalu mengingatkanku tentang ini.”

“Wah, syukurlah. Tapi nampaknya kau sama sekali tidak menyadarinya, ya?” Balas Yoga kalem.

Nio memicingkan matanya, sebal. “Lalu inti dari pembicaraanmu adalah...?”

“Kau itu naksir Kak Yan,” tandas Yoga tanpa basa-basi dan nada suaranya membuat Dalkyum membuka sebelah matanya, melirik pemiliknya yang sedang mengomel.

“Dan kau tidak tahu caranya menarik perhatiannya. Bakatmu itu hanya tengil, lalu kemudian itulah yang kaugunakan untuk menarik perhatianya dengan sangat salah. Kau paham tidak, sih?”

Nio mengerutkan alisnya. “Memangnya siapa yang naksir?”

Yoga mendengus, memang buang-buang waktu bicara dengan kepala batu seperti Nio. “Terserah, deh.”

“Oh, ya.” Yoga kembali menoleh ke Nio yang mengutak-atik ponselnya dengan serius. “Jika kau penasaran,”

“Apa?” Tanya Nio tanpa menoleh.

“Pacar Kak Yan itu artis.”

Nio menoleh, “Hah?” Tanyanya, kaget.

“Yep.” Yoga meraih ponselnya, mengetik sesuatu lalu mengulurkan ponselnya ke arah Nio—layarnya menghadap ke Nio agar dia bisa melihat hasil pencariannya. “Bobby Anggara, dia sering main FTV. Film pertamanya dengan Michelle Ziudith kemarin.”

Nio bergegas bangkit, merangkak dari kasur ke arah Yoga dan meraih ponselnya. Mengamati foto-foto yang ada di laman mesin pencarian yang digunakan Yoga, wajah-wajah Bobby membalas tatapannya. Dalam pakaian formal, dalam pakaian semi-formal, semuanya nampak menawan khas seorang figur publik.

Dia nampak sempurna; baik, ramah dan pasti kaya karena pendapatannya. Dia juga seorang artis, dia punya nama dan popularitas. Mata Nio memicing, menatap wajah Bobby yang tersenyum di layar—berharap dapat mengirimkan santet padanya melalui tatapan itu.

“Kataku?” Yoga menambahkan, tersenyum lebar dan Nio benci sekali senyuman Yoga itu.

“Jika kau memang naksir Kak Yan, sainganmu berat, Nio.”


Bian mendorong kursi di belakangnya dengan bagian belakang lututnya, berdiri setelah kenyang makan.

Meja mereka akan diisi tamu lain pukul sembilan dan sejak tadi pelayan sudah melirik mereka dengan gundah, jadi Bobby meminta Bian mempercepat makannya dan pindah saja ke tempat lain untuk mengobrol jika Bian masih ingin.

“Kau mau pergi ke mana lagi? Pulang?” Tanya Bobby saat pelayan tiba di hadapannya dengan buku tagihan gelap dan boks terisi sepotong red velvet pesanan Jimmy.

“Kau mau ke Starbucks?” Tanya Bian kemudian, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya—menyadari ini masih cukup awal.

Bobby melirik angka tagihannya, merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Menyelipkan salah satu kartu kreditnya ke sana sebelum menutupnya kembali.

Bian meregangkan tubuhnya, menunggu Bobby yang sedang membereskan barang-barangnya.

Bobby menerima kembali kartu kreditnya yang dikembalikan oleh pelayan tadi dan berdiri, menyusul Bian yang sekarang mengenakan kembali sweter tipisnya di atas pakaiannya. Bobby meraih sweternya sendiri yang disampirkan di sandaran kursi, menyampirkannya di lekukan lengannya.

Bian meraih boks kue milik Jimmy dan menimangnya sayang, dia akan menjaga kue itu untuk Jimmy agar tiba tanpa cacat ke kosan.

Hujan mengguyur Jakarta sejak pagi dan membuat kemacetan di mana-mana, genangan air di badan-badan jalan dan hawa yang dingin menggigit tulang maka Bian memilih untuk menggunakan selapis pakaian lagi. Bobby sendiri juga yang memintanya, berjaga-jaga jika hujan tiba-tiba kembali mendera dan suhu mendingin.

Dia menyugar rambutnya, menyisirnya agar tidak berantakan setelah mengenakan sweter. Bobby memimpinnya keluar dari restoran namun saat mereka melewati kasir, seseorang menahan Bian.

“Maaf, permisi. Kak Theodorus Arfabian?”

Bian berhenti, menoleh kaget ke pelayan yang menghampirinya dengan boks di tangannya. “Ya?” Tanyanya, bingung kenapa pelayan itu bisa tahu namanya.

Bobby langsung berdiri di dekatnya, setengah bahunya melindungi Bian secara naluriah, melirik pengenal di dada pelayan itu dan mengingat namanya. “Ya, Mbak?” Tanyanya dengan ramah, tersenyum.

Pelayan itu menatap keduanya. “Ini, ada pesanan dari tamu.” Dia mengulurkan boks kue yang dilihat Bian terisi red velvet bulat dengan cream cheese melimpah di atasnya. “Untuk Kak Arfabian.”

Bobby menatap boks itu lalu menatap Bian yang balas menatapnya. “Dari siapa, ya, Mbak?” Tanyanya, dengan nada semanis madu yang menetes.

Pelayan itu sejenak kikuk dan Bian menyadari gestur itu. “Maaf, Kak, beliau tidak berkenan disebutkan namanya.” Katanya mengangguk sopan, terjebak antara menjaga kerahasiaan pelanggan dan menyenangkan pelanggan lainnya.

Bobby menerima boks itu dan menyerahkannya pada Bian yang menerimanya, mendecap senang mendapatkan selusin red velvet. “Tapi kuenya tidak disentuh siapa pun selain karyawan Union, ya, Mbak sebelumnya?” Tanya Bobby ramah dan pelayan itu sejenak nampak kaget karena pertanyaannya.

“Iya, Kak.” Katanya tenang, senang tidak lagi diapaksa untuk menyebutkan identitas pengirimnya. “Pelanggan itu menelepon kami dan membayar via transfer. Staf kami yang mengemas kuenya.”

Bobby sekarang nampak rileks. “Baiklah, terima kasih banyak, Mbak.” Dia tersenyum ramah sebelum menempelkan telapak tangannya di punggung Bian, membimbingnya pergi.

Dia mengenakan kacamata gelapnya lagi dan tersenyum dalam hati, Bobby tahu siapa yang memberikan kue itu dan dia seratus persen yakin apa motifnya.

“Rezeki.” Dendang Bian, menenteng boks kue dengan ceria. “Aku akan memberikan setengah pada Jimmy.” Dia menatap bola-bola red velvet di boks dengan senang.

“Kau tidak penasaran siapa yang memberikannya?” Tanya Bobby saat mereka melangkah di lorong pusat perbelanjaan menuju kedai kopi.

Bian mengedikkan bahunya ringan, “Aku terbiasa menerima hal-hal semacam ini di kampus. Mungkin salah satu penggemarku.” Dia bersiul senang dan Bobby di sisinya terkekeh. “Dan aku tidak mau menolak rezeki.”

“Aku yang artis dan kau yang punya penggemar?”

“Bukan salahku jika aku lebih tampan darimu.”

“Baik, Yang Mulia. Kau mau dipesankan apa?”

Signature hot chocolate dengan liquid whip cream.”

Bian mungkin tidak perlu tahu nama siapa yang menyala di kepala Bobby seperti lampu neon watt tinggi sekarang. Dia mendorong pintu Starbucks terbuka, mempersilakan Bian memasuki gerai terlebih dahulu sebelum menutupnya.

Dia melangkah ke kasir, merogoh sakunya mengeluarkan dompet untuk memesan minuman mereka sementara Bian mulai mencari tempat duduk. Bobby melirik adiknya yang duduk di sudut, meletakkan kuenya dengan lembut di meja nampak senang dan tersenyum geli.

“Cinta muda-mudi,” katanya lirih sebelum menoleh ke kasir yang menyapanya. “Oh, halo! Ya, bisakah saya memesan...”

*