C'est un Secret 200
Nio mengerang, dia melepaskan ponselnya dan membiarkan benda itu terguling ke ranjang saat rasa dingin mencengkeram paru-parunya—meremasnya, membuatnya beku dan mustahil terkembang untuk menghirup napas.
Nio membuka mulutnya, bernapas dari sana karena cuping hidungnya terasa perih oleh suhu dingin yang datang dari dalam tubuhnya sendiri; membuat tiap tarikan napas terasa melukai saluran pernapasannya.
Seluruh tubuhnya mengerut merespons rasa dingin yang menjalar dari jantungnya—mekar seperti sekuntum bunga, menjalar ke seluruh dirinya melata seperti semak belukar. Membelit tiap organnya, mengencangkan belitannya hingga Nio terkesirap.
Rambutnya mengubur wajahnya dan membuatnya sulit melihat namun dia mengabaikannya—hatinya senang karena ini berarti dia akan kembali menjadi lelaki, maka dia menangguhkannya.
Dia terengah, dadanya terasa mengerut dan mengecil. Dia memegangnya, menekan ulu hatinya kuat-kuat saat napasnya perlahan mulai semakin dan semakin memendek karena dingin yang membekukan paru-parunya.
Jemari dan bibirnya mulai membiru, Nio terengah-engah.
Dia lupa mematikan penyejuk ruangan yang semakin membuatnya merasa akan mati; dia membuka mulutnya yang mengigil, nyaris menggigit putus ujung lidahnya saat dia berusaha memanggil Jin yang berada di ruang tamu.
“K-kakh!” Adalah satu-satunya hal yang bisa diucapkannya, menggigil hebat dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Namun Jin yang sudah sering menemaninya, paham.
Nio mendengar kakaknya langsung bangkit dan berlari ke kamarnya, menyentakkan pintu kamarnya terbuka dan bergegas meraih remote penyejuk ruangan—menaikkan suhunya, berharap angin panas itu akan membantunya sebelum meluncur ke sisi adiknya dan meraih tangannya yang sedingin es.
“You're almost there.” Bisik Jin di sela-sela keretak bunga es yang terdengar mendenging di telinga Nio—dia tidak bisa memfokuskan diri pada apa pun karena seluruh badannya sedang dicabik-cabik suhu dingin yang membunuh.
Jin meremas telapak tangannya, memijatnya lembut dan menghembuskan napas hangat ke sana—berusaha membantu namun dia tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk adiknya yang terbaring di ranjang dengan bibir membiru, nyaris seperti mayat.
Tubuh Nio berasap tipis, seperti sepotong es yang meleleh dalam suhu ruangan; mencair perlahan namun dalam kasus Nio, hidupnya yang sedang mencair.
Dan Jin memejamkan mata—ini puncak prosesnya dan setelah dua tahun, dia tidak juga terbiasa melihatnya. Nio terkesirap keras saat tubuhnya terlonjak, nadinya kemudian berhenti selama setengah detik; seperti kematian sesaat yang vital sebelum denyutnya menguat dan terpacu keras.
Jin selalu takut suatu hari nanti, jantung Nio berhenti dan tidak berdebar kembali dalam proses perubahan dirinya karena suhu yang ditanggung tubuhnua begitu ekstrim.
Dia takut, sungguh.
Nio terbaring di ranjang, wajahnya seputih mayat saat nadinya mulai semakin cepat dan menggila di genggaman Jin. Rambutnya menyusut, dadanya perlahan lenyap saat nadinya berdebar kacau-balau—Jin bahkan bisa mendengar suara jantungnya yang keras memukul rusuknya.
Nio terkesirap keras seperti suara udara kosong yang terhisap keras, dadanya melonjak dan dia mendarat di ranjang dengan suara gedebuk lembut.
Tubuhnya sudah kembali menjadi lelaki, berasap tipis saat rona terbit di wajahnya dengan perlahan seperti debu cahaya.
Jin menatapnya, bernapas dengan perlahan hingga bibir adiknya kembali memerah dan dia mengerang keras. Bajunya basah dan dia masih mengenakan pakaian dalam perempuannya, Nio bangkit dan memijat kepalanya yang terasa nyeri, dia mendecap.
Tangannya melepas kait bra yang digunakannya lalu melepasnya, tidak suka rasa aneh tercekik karena menggunakan bra. Dia mengerang, memejamkan mata saat kepalanya berdentam-dentam. Namun lega, karena dia sudah kembali normal.
Nio melemaskan lehernya yang berkeretak lalu mendesah, “Trims, Kak.” Katanya parau ke Jin yang mengulurkan gelas air di meja kamar Nio.
Nio meraihnya, meneguk isinya hingga tandas sebelum menghela napas dalam-dalam. Tangannya menyentuh badannya sendiri lalu mendesah lega, wajahnya tenang dan rileks.
“Kau lapar?” Tanya Jin kemudian saat adiknya sudah tenang.
“Nanti saja.” Sahut Nio ceria lalu meraih ponselnya yang tadi tergeletak di ranjang lalu berbalik menelungkup di ranjangnya.
“Sana keluar, aku akan menelepon Kak Bian.” Dia menekan nomor Arfabian di ponselnya.
“Setidaknya ganti dulu pakaianmu.” Gerutu Jin, “Kau masih mengenakan pakaian dalam perempuan, memangnya tidak sempit?”
Nio mendesah, jika dipikir-pikir benar juga. Maka dia akhirnya bangkit, melepas kausnya yang agak sempit di bagian bahu sementara Jin bangkit dan keluar dari kamarnya, sedikit lega karena setiaknya di proses saat ini Nio selamat.
Itulah kenapa Jin bersikap sangat tiran mengenai air dingin pada Nio—ketakutan menggelayutinya tentang proses kutukan aneh adiknya. Namun dia tidak pernah memberi tahu siapa pun.
Dia menoleh ke adiknya yang sedang memilih baju sebelum menutup pintunya, memberi adiknya privasi.
Nio berdendang ceria saat tubuh lelakinya yang kuat terasa di genggamannya—dia melepas celana pendek longgarnya dan celana dalam perempuan yang mencekik Putra Mahkotanya.
Merasa nyaman setelah kembali ke tubuhnya, dia menatap turun—mengapresiasi bagaimana tubuhnya sendiri nampak di matanya.
Dia sudah kembali normal—atau setidaknya, normal dalam standarnya.
Nio meraih pakaian dalam dan mengenakannya, meraih celana pendek dan kaus tanpa lengan dari lemari. Dia mengenakan pakaiannya lalu menurunkan suhu penyejuk lagi sebelum beranjak keluar, meraih setoples makanan sebelum menekan tombol panggil pada nomor Arfabian.
Panggilan disambungkan.
Diangkat.
“Halo?”
Bian menatap langsung ke Antonio yang tersenyum dengan toples makanan di tangannya, rambutnya mencuat-cuat seperti burung kakak tua dan dia mengenakan kaus tanpa lengan gelap dan sibuk menjejalkan makanan ke mulutnya.
“Hai.” Sapanya, bangkit dari posisi berbaring dan bersandar di kepala ranjang—merasa sedikit gugup karena tidak menyangka Antonio akan melakukan panggilan video.
Dia tadi langsung bergegas mengangkatnya tanpa benar-benar memerhatikan penampilannya. Dia hanya mengenakan kaus longgar putih dan bokser—cuaca dingin sekali sehingga dia mematikan penyejuk dan menggunakan selimut, sedang menonton Netflix saat ponselnya berdering.
“Maaf, aku berantakan.” Katanya setengah mengeluh, menyugar rambutnya berusaha merapikannya namun di seberang sana Antonio yang sedang mengunyah cemilan tersenyum.
“Kau nampak oke seperti biasa,” pujinya tulus dan Bian mendesah—Antonio selalu melemparkan pujian begitu saja tanpa benar-benar memikirkan apa efeknya pada orang lain.
“Kau bermulut manis.” Sahut Bian, kembali berbaring di ranjangnya.
Antonio tersenyum, “Sudah makan kuenya?”
Bian melirik kotak kue yang sekarang bertengger di meja belajarnya, dia baru memakannya sepotong tadi karena terlanjur kenyang oleh makan siangnya.
“Sudah.” Sahutnya. “Kau sudah baikan?”
Antonio meletakkan toplesnya di pangkuan, menyugar rambutnya dan menjejalkan segenggam makanan lagi ke mulutnya—dia mengunyah dengan berisik, menatap melewati kamera saat melakukannya dan Bian mendapati gestur itu sangat natural dan intim. Seolah mereka sudah kenal begitu lama.
Antonio nampak sangat rileks dalam interaksi mereka dan sejenak Bian merasa iri pada betapa mudahnya Antonio menuangkan rasa percayanya pada Bian, nyaris membuatnya merasa jahat karena telah bersikap hati-hati padanya.
Namun apa yang bisa Bian lakukan? Sikap Antonio tempo waktu cukup untuk membuatnya ciut dan mundur—bahkan sekarang pun saat pemuda itu menceritakan tentang kakaknya dan kekasihnya, Hosein yang adalah orang Singapura, Bian masih merasa harus menggambar garis tebal di antara mereka.
Jangan percaya padanya, begitu hatinya berbisik tiap kali dia memandang Antonio yang sekarang berbaring di ranjangnya—menatap langsung ke matanya melalui piksel-piksel panggilan video mereka.
”... Tidak ada yang tahu kenapa,” Antonio menggaruk pelipisnya. “Aku pulang ke Tangerang kehujanan biasa, lalu tiba-tiba saja terserang demam tinggi hingga Kak Jin takut aku akan mulai kejang-kejang.
“Dia sudah siap menggendongku ke mobil dan melarikanku ke rumah sakit, sedang meraih dompet dan kunci mobilnya saat dia kembali ke kamar dan aku sudah menjadi perempuan.
“Kami berdua kebingungan sekali hari itu. Kau tidak tahu rasanya,” Antonio menerawang dan Bian mengamati bentuk wajahnya yang indah serta anak rambut yang luruh ke keningnya.
“Itu pertama kalinya aku menangis sesegukan nyaris sepanjang hari. Hormon perempuan begitu mengerikan; kau tidak bisa benar-benar merasa bahagia atau utuh. Selalu ada hal-hal yang mengganggumu, membuatmu merasa jengkel dan itu sangat melelahkan.
“Aku sekarang tidak lagi penasaran kenapa perempuan begitu gemar mempersulit sesuatu karena, kau tahu, perasaan mereka kompleks sekali—memusingkan. Bahkan aku pun merasa seperti dijebloskan ke dalam labirin dan tidak tahu arah.
“Seperti pusaran udara yang tidak ada habisnya.” Nio bergidik, “Dan semua menjadi berkali-kali lipat saat kau menstruasi.”
Bian mengerjap. “Kau mengalaminya juga?” Tanyanya, setengah kaget pada fakta betapa sempurnanya perubahan tubuh Antonio hanya dalam sekian puluh menit—otak logis Bian yang mengantarkannya masuk jurusan kedokteran sekarang termangu kebingungan.
“Ya.” Antonio mengangguk. “Jika aku sial terkena air dingin saat minggu menstruasi, maka aku terjebak dalam tubuhku hingga periodenya selesai. Seperti saat kau menabrakku di parkiran.”
Bian mengerjap. “Kau benar-benar berdarah?” Tanyanya lalu menutup mulutnya dengan suara keras, “Maaf jika tidak sopan dan membuatmu tidak nyaman.”
Antonio menatapnya sejenak, hening dan dalam hingga Bian merasa gugup di bawah tatapan matanya.
“Aku sudah melewati banyak pertanyaan semacam ini.” Dia menyugar rambutnya, menerawang jauh melewati ponselnya.
“Kak Jin berusaha menyembuhkanku; kami pergi ke berbagai macam rumah sakit dan berbagai macam dokter bahkan Kak Hosi juga ikut membawaku ke Singapura.
“Pertanyaan semacam itu sudah sering kujawab. Menjadi semacam spesimen penelitian di bawah cahaya lampu dan orang-orang menunduk ke arahmu; sedikit membuatmu klaustrofobia, 'kan.”
Matanya kembali menemukan mata Bian dan dia mengulaskan senyuman ringannya.
“Maafkan aku,” bisik Bian, menekuk kakinya dan menatap Antonio—sekarang bersimpati sepenuhnya.
“Dimaafkan.” Antonio tersenyum padanya, tulus dan hangat. “Untuk pertanyaanmu tadi, ya. Aku mengalami pendarahan normal seperti perempuan sepertinya aku memang punya rahim. Tidak ada dokter yang benar-benar paham apa yang terjadi padaku.”
“Jadi untuk beberapa saat, aku dan Kak Jin menyerah. Sekarang aku sedang berusaha... entahlah, menerima sisi diriku yang lain.
“Berusaha untuk tidak... terlalu membencinya.” Antonio menggaruk tengkuknya, kikuk.
Bian menatapnya, sudah menduga emosi semacam itu akan muncul. Sejak dulu Bian selalu tertarik pada tubuh perempuan—dalam hal medis. Bagaimana organ mereka yang jauh lebih rapuh dan kompleks dari lelaki, belum lagi keajaiban rahim mereka dengan kehamilan.
Ajaib bagaimana perempuan yang selalu dianggap lemah, menjadi korban ketidakadilan prejudis masyarakat karena identitas yang bahkan tidak mereka pilih bisa menampung kehidupan baru—membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah.
Maka setengah dirinya merasa sangat tertarik tentang bagaimana Antonio sebagai lelaki sehat menyikapi perubahan tubuhnya.
“Ya.” Bian menyemangatinya lembut. “Mungkin setelah kau... menerimanya, semua akan terasa lebih ringan secara mental.”
Antonio menatapnya, senyuman bermain di sudut bibirnya. “Kau selalu membuat orang lain nyaman dengan caramu berbicara.” Bisiknya lembut dan Bian sejenak diam, terbuai suara serak Antonio.
“Kau membuat orang-orang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.” Antonio melanjutkan sebelum menambahkan,
“Semoga kau juga merasa sangat nyaman dengan dirimu sendiri sebelum membantu orang lain, Dok.”
Arfabian terdiam di seberang sana dan Nio tersenyum, tahu bahwa Arfabian pasti juga memiliki masalah yang sama tentang self-acceptance.
“Mungkin kita bisa saling membantu?” Nio berguling di ranjang, menikmati waktunya tersambung dengan Arfabian di seberang sana.
Dia suka mengamati bagaimana wajahnya bersemburat merah jambu tiap kali dia malu, telinganya memerah dan suara tawanya yang bergemerincing seperti gelang kaki penari.
Arfabian begitu indah dan menggemaskan hingga hati Nio hangat hanya dengan mengamatinya.
“Mungkin,” sahut Arfabian pelan dan tersenyum kecil. “Tapi masalahku tidak sebesar masalahmu.”
Nio mengedikkan bahunya, “Tidak ada masalah yang lebih besar atau lebih kecil, lebih berat atau ringan karena jika itu mengganggumu maka itu sebuah masalah.” Dia tersenyum lebar.
Arfabian menatapnya, sejenak takjub sebelum senyuman kecil terbit di bibirnya, dia merona tipis dan Nio ingin sekali mengecup rona itu; menggenggam Arfabian di telapak tangannya dan memujanya.
“Kau memang bermulut manis,” keluh Arfabian dan Nio tersenyum lebar, sebelum sempat menjawabnya suara seruan terdengar disertai suara gedebuk-gedebuk pintu mobik ditutup dan suara gemerisik kantung plastik.
“NYOOOO!”
Nio mendesah dan memutar bola matanya, “Kak, maaf aku harus—”
Pintu menjeblak terbuka dan Danny berdiri di sana, dengan dua kantung BigBox Pizza Hut di kedua tangannya.
Nio terlambat, Pasukan Huru-Hara sudah menginvasi ruang personalnya sekarang.
“Wah!” Serunya. “Kau sedang menelepon siapa??” Dia bergegas menghampiri Nio dan Nio langsung menahannya dengan menempelkan telapak tangannya di dada Danny, mendorongnya menjauh dari jangkauan layar ponsel.
“Hai, Kak Yan!” Serunya bersemangat.
“Waaaa!” Yoga tiba dengan plastik Indomaret yang berat di tangannya. “Hai, Kak Yan! Kalian sedang pacaran, yaaaa??”
Dia mendekat dan Nio terpaksa menggunakan kakinya untuk menendang Yoga menjauh darinya. Suasana kacau-balau dan Nio bergegas menatap Arfabian yang tertawa di seberang sana.
“Dah, Kak! Aku Whatsapp lagi nanti!” Lalu mematikan sambungan sebelum Arfabian sempat menjawab, dia melempar ponselnya ke ranjang dan berdiri; punya urusan serius dengan kedua temannya.
“Dasar binatang!” Serunya pada kedua temannya yang terbahak-bahak seperti dua babon liar.
“Kids, keep it down!” Seru Jin dari ruangan sebelah.
*