C'est un Secret 305


Nio berhenti di pintu masuk Stasiun Pasar Senen yang mulai sunyi karena dia mengambil kereta terakhir agar tiba agak siang di Yogyakarta.

Setelah berterima kasih dan mengembalikan helmnya pada pengemudi ojek daring yang mengantarnya dari kontrakan, Nio langsung melangkah masuk menuju mesin pencetak tiket.

Dia membenahi tasnya sebelum mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik serentetan kode booking ke mesin di hadapannya lalu menunggu hingga tiketnya tercetak sebelum menarik KTP-nya lalu melangkah menuju pintu masuk.

Dia mengantri di belakang ibu-ibu muda dengan anak yang masih kecil yang nampak kerepotan dengan kardus-kardusnya.

“Ibu,” sapanya ramah. “Saya boleh bantu bawakan kardusnya?” Tawarnya melirik bawaan si ibu dan fakta bahwa dia masih harus menggendong anaknya dalam kondisi hamil.

“Why can't everybody slow down in having kiddies?” Nio berpikir tentang risiko memiliki anak dengan jarak berdekatan baik secara finansial maupun secara kesehatan bagi sang ibu saat si ibu nampak curiga padanya sebelum langsung menolak tawaran baiknya.

Nio mengangguk, mundur dari sekitarnya agar tidak nampak mengancam sebelum akhirnya mengeluarkan earbuds lalu mendengarkan musik.

Jika dia merasa tidak perlu dibantu, kenapa Nio harus merasa repot? Memutuskan bahwa itu bukan urusannya walaupun dia seorang calon dokter.

Dia tadi pamit pada Arfabian dia akan sibuk mengerjakan tugas dan meminta kedua sahabatnya untuk bekerja sama. Keduanya sepakat dengan bermain game daring tanpa Nio.

Pengumuman berbunyi dan Nio bergegas menyiapkan tiket dan kartu pengenalnya. Petugas mengecek tiketnya dan mempersilakannya naik ke peron.

Nio mengangguk, berterima kasih dengan sopan sebelum melangkah panjang dan cepat ke arah peron tempatnya menunggu dengan kuapan kecil di bibirnya.

Dia lelah sekali, tapi pikiran bahwa dia akan bertemu Arfabian dalam delapan jam membuatnya senang saat dia memasuki gerbong kereta dan menyamankan diri.

Syukurlah Nio mendapatkan tempat duduk di pinggir jendela tanpa rekan perjalanan sehingga dia bisa bebas meluruskan kakinya dan tidur.

Sayang? Sudah tidur?

Nio tersenyum saat nama Arfabian muncul di layarnya, dia membalas pesannya:

Hei, Baby Darling, aku sedang mengerjakan tugasku. Kau istirahat saja besok hari yang melelahkan.

Jawabannya tiba seketika itu juga: Kau tidak suka bicara denganku?

Nio terkekeh kecil, menggigit bibir bawahnya saat mengetik: Tentu saja aku suka, Bodoh. Tapi aku tidak suka membuatmu begadang padahal kau punya jadwal yang padat besok. Kita bisa bicara lagi besok setelah acara, oke?

Aku benci kau.

Aku juga mencintaimu.

Setidaknya beri aku swafoto :(

Sayang, aku benar-benar harus kembali mengerjakan tugas.

Bajingan bangsat.

Nio tertawa terhibur hingga penumpang di seberangnya menoleh dengan wajah mengerut, heran. Nio menyelipkan ponselnya kembali ke saku sebelum merapatkan hoodie-nya.

Dia juga menyewa bantal dan selimut untuk digunakannya tidur karena penyejuk udara kereta malam tidak pernah berbaik hati padanya.

Setelah menggunakan selimut hingga dagu, earbuds menyumpal telinganya dengan lagu kesukaannya dan kereta perlahan mulai melaju; Nio memejamkan mata.

Terlelap begitu saja.


Hal pertama yang Nio sadari saat dia terbangun kemudian adalah kereta sedang berhenti.

Dia meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidur dalam kondisi terduduk lalu mengusap wajahnya yang terasa kaku.

Dia mengintip ke luar jendela, terlalu gelap untuk melihat keadaan sekitar. Dia melepas earbuds-nya lalu mengecek ponselnya; pukul 5 dini hari.

Nio menguap lebar tanpa repot menutup mulutnya saat mengisi daya ponselnya. Dia kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Dia membasuh wajahnya yang terasa bengkak dan aneh, merasa masih sangat mengantuk sebelum terseok-seok kembali ke kursinya dan menggeliat di atasnya.

Sebentar lagi tiba di Yogyakarta, pikirnya menyadari bahwa dia tertidur nyaris sepanjang perjalanan dan senang karena dia melakukannya.

Perjalanan kereta malam tidak pernah menyenangkan karena tidak ada yang bisa disaksikan dari jendela.

Nio tidak bohong saat dia bilang dia harus mengerjakan tugas. Karena sudah bangun, dia mengeluarkan Mac-nya dan mulai membaca jurnal yang akan digunakannya untuk presentasi di kelas Senin karena tidak ada yang bisa dilakukannya di dalam kereta yang hening.

Saat kereta akhirnya berhenti di Stasiun Wates, Nio membeli segelas kopi dan makanan kereta yang isinya begitu sedikit hingga dia yakin dia baru saja membeli porsi anak-anak.

Makanan habis dalam lima menit dalam tiga suapan raksasa Nio yang sama sekali tidak puas dengan sarapannya.

Ponselnya berdenting, nama Arfabian muncul di layar.

Kau sudah bangun? Aku akan kelas hari ini lalu jam 11 akan berangkat ke Merapi. Aku akan menghubungimu jika sempat, oke?

Nio langsung mengetikkan balasan: Oke. Kabari aku jika sudah di hotel.

Siap. Jangan lupa sarapan. Kau lari hari ini?

Sedang akan. Nio melirik ke luar jendela, melihat semburat jingga mulai terbit di kejauhan lalu menambahkan, Sedang menyiapkan Dalkyum.

Have a great day ahead, Babe♡

Nio tersenyum lebar, You too, Dear. See you very soon!

Can't wait!!!

Nio kembali menyimpan ponselnya, menyandarkan kepalanya ke kursi lalu menguap. Dia bisa tidur sedikit lagi sebelum tiba di Yogyakarta.

Maka dia memejamkan mata dan terlelap kembali.


Hari ini menyenangkan!

Bian menghembuskan napas lega setelah bloknya diselesaikan dengan kunjungan ke Merapi yang disertai dengan karya wisata sederhana.

Mereka berkendara ke Museum Mini Sisa Hartaku dan berfoto bersama menikmati suasana teduh dan menyenangkan Merapi yang menjulang kokoh di belakang mereka.

Bian mengamati semua barang-barang di balik meja displai dan membayangkan kengerian yang terjadi ketika Merapi terakhir kali meletus di tahun 2010.

Banyak benda-benda solid yang meleleh karena sapuan lahar panas dan uapnya. Rangka sepeda motor, belulang hewan ternak yang tidak sempat terselamatkan, jam dinding, panci, pemutar kaset, piring-piring, gelas....

Semuanya meleleh, bengkok rusak oleh hawa panas dan lahar. Menyisakan kenangan bagi semua orang yang pernah terjebak dalam huru-hara itu demi menyelamatkan diri. Bahkan rumah yang digunakan sebagai museum itu pun adalah satu-satunya rumah yang selamat dari terjangan lahar.

“Mengerikan, ya?” Bisik Jimmy di sisinya saat mereka tiba di bagian peralatan rumah yang bengkok dan juga kompor.

Bian mengangguk. “Bayangkan kengeriannya.” Tambah Bian mengeluarkan ponsel dan mengabadikannya.

Tidak ada sinyal di sini dan dia sudah mulai merindukan kekasihnya. Menatap layar depan ponselnya yang adalah foto Antonio yang diam-diam diambilnya saat kekasihnya terlelap setelah seks pertama mereka, Bian mendesah.

Siapa sangka berjauhan ternyata menyiksanya sedemikian rupa.

Dia menyelipkan ponselnya di saku celananya sebelum kemali memfokuskan diri pada penjelasan pemandu wisata mereka.

Mereka berhenti untuk makam siang di Raminten yang sejalur dengan Merapi. Suasananya syahdu dan menenangkan dengan gemericik air dan gamelan Jawa yang diputar sayup-sayup.

Bian menyukai tempat itu dan berharap jika saja dia datang dengan Antonio untuk menikmati suasana ini berdua saja.

Dia mengecek ponselnya, menyadari ada beberapa pesan dari Antonio yang baru masuk karena dia baru mendapat sinyal stabil.

Kau di mana? Sudah makan siang? Sayang? Bian? :( Arfabian Sayang????

Bian terkekeh kecil, menyentuh bagian kosong di bawah layar untuk mulai mengetik, menanti sesaat hingga keyboad-nya muncul lalu membalasnya:

Hai, Sayaaang! Maaf aku baru dapat sinyal kembali. Aku sedang makan siang.

Bian menyentuh tombol kamera di bagian obrolan Whatsapp-nya lalu mengangkat ponselnya, mengambil gambar tempat makannya lalu mengirimkannya ke Antonio.

Tempatnya bagus sekali. Wish you were here :(

Balasan Antonio langsung datang: Tempatnya bagus! Kau sudah mencatat namanya? Siapa tahu kita kembali ke Jogja bersama suatu hari nanti.

Bian tersenyum lebar, menggigit bagian dalam pipinya saat membalas: Sudah! Senang sekali mendengar bahwa kita mungkin datang kembali ke sini bersama.

Antonio membalas: Aku akan membawamu ke mana saja kau ingin.

Bian tersenyum lebar.

“Asyiknya yang sedang kasmaran.”

Bian mendongak dan tertawa. “Tidak boleh dengki.” Katanya pada ketua kelas mereka yang mencebik.

“Kau dengan Antonio itu, ya?” Tanya temannya di ujung, tertarik. “Si Abhirama yang kakaknya pengusaha itu?”

Bian mengangguk, sedikit tidak nyaman pada fakta pribadi yang tersebar tentang Antonio tapi menilik betapa terkenalnya dia di sekitar kampus, Bian tidak kaget lagi.

“Aku benar-benar tidak membayangkan Antonio akan jadi dengan Bian.” Sahut kawannya yang lain dan beberapa tertawa.

Jimmy terkekeh. “Memang benar-benar di luar dugaan, 'kan?”

Bian memutar bola matanya, “Memang apa yang salah?”

“Entahlah,” sahut ketua kelasnya. “Kau dan Antonio seperti datang dari dunia yang berbeda. Nyaris berlawanan. Dia tipe anak yang tidak nampak serius dengan studinya sedangkan kau terobsesi dengan studimu sendiri.”

Bian tertawa kecil, “Bukankah bagus? Aku bisa memberikan efek baik padanya, 'kan?”

“Menilik dari tingkat keaktifannya di kelas yang kupegang,” sahut teman Bian yang adalah asdos aktif blok yang sedang dijalani Antonio.

“Kurasa ya.” Dia tertawa. “Dia jadi sedikit lebih serius dengan studinya belakangan ini. Mengumpulkan laporan tepat waktu, aktif saat presentasi.”

Bian mengangguk rendah hati, melakukan gestur menghormat seperti seorang artis setelah melakukan penampilan dan teman-temannya tertawa. “Kaulihat, 'kan?”

“Bagaimana rasanya berpacaran dengan Antonio, Yan?” Tanya temannya yang lain dan Bian mendesah.

“Memangnya aku harus merasa bagaimana?” Balasnya.

“Menyenangkan? Atau menyebalkan?” Tambah temannya yang lain, mendesaknya.

“Jika menyebalkan,” sahut Bian diplomatis. “Aku tentu sudah mengakhiri hubungannya.” Dan dia berhasil membungkam temannya.

“Dia tidak asyik.” Keluh yang lain. “Tidak akan membocorkan rahasia perusahaan.”

“Tentu saja tidak.” Bian memutar bola matanya. “Orang bodoh pun tahu untuk tidak membocorkan rahasia perusahaan pada pesaingnya.”

Makan siang berjalan mulus dan menyenangkan, dosen mereka menutup acara hari itu dengan memberikan pidato singkat sebelum nanti mereka akan mendapatkan evaluasi setibanya di hotel sebelum mendapatkan jam bebas.

Di perjalanan kembali ke hotel, hujan deras turun mengguyur Yogyakarta. Begitu deras hingga jarak pandang menjadi pendek.

Perut Bian mengejang. Sejak kejadian Antonio, dia selalu paranoid mengenai hujan walaupun dia tahu Antonio sekarang mungkin sedang tidur di kontrakan kekenyangan makan bakso tikus.

Namun tetap saja, menatap air hujan yang menghajar jendela bus mereka membuat Bian merasa takut.

Berharap di Jakarta tidak hujan atau setidaknya, Antonio tidak sedang di lua rumah.

Dia mengetikkan pesan pada Antonio:

Di Jogja sedang hujan deras. Di Jakarta bagaimana? Kau di kontrakan, 'kan?

Antonio tidak sedang daring, maka Bian menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama sebelum menyimpan benda itu di tasnya dan memejamkan mata—dia lelah, matanya panas.

Jadi dia memanfaatkan perjalanan kembali ke hotel untuk tidur sejenak.


“Kau sudah selesai dengan kamar mandi?”

Bian mengangguk, mengusap kepalanya dengan handuk. “Silakan mandi.” Katanya pada Jimmy yang langsung melompat dan berdendang ke kamar mandi.

Mereka tiba di hotel dan langsung berlari masuk ke dalam. Karena hujan yang terlalu deras, tubuh Bian setengah kuyup sehingga dia langsung mandi dan tidak sempat mengecek ponselnya sama sekali.

Dia sekarang duduk di ranjang, meraih ponselnya yang syukurnya aman lalu mengecek pesan.

Nihil. Antonio belum membalas pesannya, Bian tersenyum. Mungkin kekasihnya sedang terlelap dan lupa mengecek ponselnya.

Dia baru berbalik untuk meraih pengering rambut saat ponselnya berdering.

Nama Siput Gila ♡ menyala di layar dan dia bergegas mengangkatnya.

“Hai!” Sapanya ceria mengalahkan suara hujan deras di luar sana. “Kau baru bangun tidur, ya?”

Dan suara yang menjawab panggilannya, bukan suara Antonio.

Jantung Bian langsung mencelos, jatuh ke lantai saat mendengarnya. Lalu berdebar begitu kencang hingga telinganya berdenging.

Sial, pikirnya gemetar.

Kak, tolong aku...”

Itu Nia.

*