C'est un Secret 309

cw // interaksi bian dan nia.


Bian menghela napas, bahunya basah kuyup karena dia mengenakan payung yang terlalu kecil untuk tubuhnya berlari ke pusat perbelanjaan terdekat yang sialnya berada di tengah Malioboro, persis.

Dia tidak bisa menemukan pakaian dalam perempuan di sekitar hotelnya tanpa membuat orang-orang menatapnya seolah dia seorang penjahat kelamin atau seseorang dengan kelainan imajinasi seksual tidak wajar setiap bertanya pada masyarakat di mana dia bisa membeli pakaian dalam perempuan.

Karena selain wajahnya terlalu muda untuk menjadi suaminya seseorang, Bian juga nampak gugup seperti pencuri yang tertangkap basah sehingga orang-orang mencurigainya. Begitu pula saat dia masuk ke toko pakaian dalam perempuan yang wangi menusuk di pusat perbelanjaan; merona saat dia melihat jejeran pakaian dalam yang digantung berjejer di sekitarnya.

Merona semakin hebat saat dia harus menemukan nomor yang benar untuk Antonio. Menebalkan wajahnya karena dia tidak sedang melakukan sesuatu yang salah, Bian membayar pakaian dalam itu lalu bergegas kembali ke hotel. Hanya memikirkan Antonio yang gemetaran di kepalanya untuk bisa mengabaikan tatapan semua orang yang menyaksikannya menerobos hujan dalam naungan payung kecil.

Dia tiba di hotel saat hujan masih lumayan deras, tidak mau membuang waktu sedikit pun meninggalkan Antonio yang sedang gemetar di kamar.

Sebelum berlari keluar, dia meminta Antonio untuk segera mandi air hangat. Dia belum sempat bertanya apa dan bagaimana karena begitu Antonio meneleponnya dia bergegas mengganti baju dan menghambur keluar menghampiri kamarnya.

Menemukan Antonio bersandar di pintu kamarnya dengan tubuh basah kuyup dan wajah sembab. Menangis tidak kunjung berhenti seraya menggumam gagap tentang hormon perempuan sial.

Bian mengangkat tangannya dan mengetuk daun pintu, “Nio?” Panggilnya. “Ini aku.”

Hening sejenak sebelum suara kunci terdengar dibuka dan pintu terkuak. Bian menahan napas saat melihat wajah asing yang menyambutnya. Wajah yang sangat berbeda dari apa yang otaknya cocokkan dengan nama Antonio di benaknya.

Dia cantik, Bian tidak bisa tidak mengapresiasi fisiknya. Dengan rambut panjang dan garis wajah tegas, dia bisa jadi model papan atas jika dia mau.

Matanya melancip seperti kucing dengan alis natural kecil yang sehitam arang. Bibirnya kecil dan tipis dengan bagian bawah yang lebih tebal. Hidungnya bangir seperti Nio, namun selebihnya mereka tidak terlalu mirip. Sekarang dia berdiri dengan tubuh gemetar dalam balutan pakaian Antonio yang kebesaran dan nampak kikuk.

Bian pun sama kikuknya.

Dia menyelipkan diri masuk lalu memberikan kantung plastik di tangannya. “Aku... Tidak tahu ukuran,” dia berdeham. “Bra-mu jadi aku mengambilkan ukuran asal saja. Semoga tidak... eh, kekecilan.”

Dia memalingkan wajah dari Antonio, merasa malu dan kikuk karena baru kali ini berhadapan langsung dengan wujud perempuan kekasihnya.

“Aku tidak risih padamu, ya?” Tambahnya kemudian, mengerahkan segala usahanya untuk menatap Antonio yang menerima kantung plastik di tangannya; mencoba untuk menenangkannya jika dia salah paham pada bahasa tubuh Bian barusan. “Aku hanya—”

“Stop.” Sela suara perempuan Antonio yang jauh lebih tinggi dari suara lelakinya.

Itu pertama kalinya Bian mendengar suara perempuan Nio secara langsung dan merasakan tusukan rasa nyeri aneh di dadanya—teringat Nio yang sedang “terjebak” di tubuh di hadapannya, tidak bisa melakukan apa pun. Bian ingin memeluknya, menenangkan Nio tapi tidak yakin apakah sisi perempuan Nio bisa menerimanya.

“Jangan.” Katanya gemetar dan Bian seketika mundur darinya, takut telah melakukan atau mengatakan hal yang membuatnya tersinggung.

“Jangan mengasihaniku, jangan.” Katanya meremas kantung plastik basah di tangannya dengan lebih kuat hingga Bian sejenak hendak meraihnya, sebelum tangannya berhenti dan terjatuh kembali ke sisinya.

Jangan bicara padanya kecuali dia yang mengajakmu bicara. Dia... rapuh.

Bian menelan ludah, tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia ingin membantu, ingin memeluk Antonio dan menenangkannya. Membisikannya bahwa dia akan baik-baik saja dalam 12 jam.

Namun dia merasa mati rasa. Dia takut tindakannya akan mendorong Antonio semakin menjauhinya dan semakin takut padanya. Menatap Antonio dengan wujud perempuannya mungkin adalah pengalaman paling aneh seumur hidup Bian, namun dia calon dokter. Hal-hal luar biasa dan aneh adalah spesialisasinya, Bian sudah belajar untuk selalu mengontrol emosi yang terbit di wajahnya.

Dia terbiasa tetap tenang setiap kali menghadapi pasien, menghadapi OSCE. Dan sekarang, dia sedang memperlakukan Antonio sebagai salah satu pasiennya. Memikirkan ketenangan dan kebutuhannya sebagai pasien.

Seharusnya dia lebih serius saat blok Mental Illness kemarin, sehingga dia punya sedikit gambaran apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Tidak, aku tidak...” Bian mulai, lalu mendesah. Memutuskan untuk mengabaikannya saja. “Kau sudah mandi?” Tanyanya lembut.

Antonio mendongak, menatapnya dengan mata kucingnya yang galak—menyapukan tatapan curiga ke seluruh wajahnya, mencoba membaca ekspresinya.

Bian mencoba memasang wajah setenang dan setidak berbahaya mungkin—mencoba membuat Antonio nyaman.

Akhirnya Antonio mengangguk dan Bian menghembuskan napas yang entah sejak kapan ditahannya. “Sudah.” Katanya lembut lalu menatap plastik di tangannya. “Maaf.” Tambahnya, sekarang suaranya mulai terdengar lebih stabil dari sebelumnya.

Percaya diri mulai terbit di akhir kalimatnya dan Bian suka itu.

“Untuk?” Tanya Bian, sekarang mulai senang dan tenang karena Antonio akhirnya bicara padanya.

“Membuatmu keluar di tengah hujan deras untuk pakaian dalam.” Gumamnya, melirik pakaian Bian yang setengah kuyup. “Gantilah bajumu.” Dia menatap Bian yang balas menatapnya.

Emosi aneh menyeruak di dadanya, perasaan sayang aneh yang membuat Bian ingin sekali memeluk gadis asing di hadapannya. Membuatnya nyaman dan tidak ketakutan pada dirinya sendiri—setengah dirinya yang ingat Antonio bernapas di dalam sana, ingin membuat keduanya nyaman.

Bian merasa seperti memiliki adik perempuan, saudara yang selama ini diidam-idamkannya namun tidak kunjung juga diberikan. Adik yang ingin dilindunginya, ingin disayangi dan diberikannya perhatian. Aneh, bagaimana Bian bisa merasakan keterikatan seperti saudara ini detik pertama dia menatap Antonio dalam wujud perempuannya.

Mungkin karena dia sangat menyayangi Antonio dan dia seorang homoseksual. Serta fakta bahwa wajah Antonio saat menjadi perempuan sama sekali tidak seperti wajahnya saat menjadi lelaki—Bian seolah sedang menatap orang baru.

Dia tidak terlalu nyaman dengan perempuan, biasanya. Dia kikuk dan sedikit takut pada interaksi dengan perempuan, namun ada sesuatu pada diri Antonio yang membuatnya rileks dan nyaman. Keinginan untuk melindunginya terbit begitu saja tanpa bisa dicegah.

“Kau yakin sudah mandi air hangat cukup lama?” Tanya Bian saat Antonio akhirnya masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian dalamnya. Dia meraih sudut kausnya sendiri dan menariknya lepas dari kepalanya, kedinginan.

“Sudah.” Sahut Antonio dari dalam sana dengan suara menggema. “Aku sudah berdiri di bawah air panas setidaknya selama kau pergi tadi, sekitar 30-40 menit.” Dia kemudian membuka pintu kamar mandi, sekarang nampak lebih rileks karena sudah mengenakan pakaian dalam.

Dia menatap Bian yang menggenggam kaus setengah basah di tangannya dengan bertelanjang dada. “Kau tahu tidak,” katanya, merona. “Aku ini secara emosi, hormon dan fisik adalah perempuan. Walaupun aku tidak yakin apakah aku hetero atau biseks, karena aku tidak mau repot-repot mengetes orientasi seksual tubuh perempuanku. Jadi bisa tolong jangan memamerkan tubuhmu di depanku?”

Bian mengerjap, baru menyadari fakta itu. “Oh, maafkan aku!” Katanya, bergegas meraih kaus Antonio di tasnya dan mengenakannya sementara Antonio/Nia memalingkan wajah dengan sopan.

Selebihnya, Antonio/Nia nampak tenang—akhirnya. Dia sekarang duduk di kursi di sudut kamarnya dan menatap ke jendela yang dihajar oleh air hujan. Rambutnya diikat naik dengan rapi, memamerkan leher jenjang dan tulang rahangnya yang menakjubkan.

“Jadi,” Bian berdeham, menatap Antonio/Nia yang sedang duduk dengan kaki dinaikkan ke kursi, memeluk lututnya. “Kau kemari menyusulku?”

“Aku berniat memberimu kejutan dan jalan-jalan denganmu berdua sampai malam.” Keluhnya dengan nada suara persis seperti Antonio hingga Bian tertawa kecil. “Kata mereka duduk di angkringan hingga malam itu syahdu sekali, aku ingin mencobanya! Semua karena hujan sialan!”

Bian duduk di sisi ranjang Antonio. “Mau cerita bagaimana kau bisa kehujanan?” Tanyanya lembut, tanpa mendesak sama sekali—dia menatap Antonio/Nia yang balas menatapnya.

Mata kucingnya sangat mengintimidasi, Bian yang tidak pernah terlalu mudah bergaul dengan perempuan semakin merasa kikuk karena tatapan itu—dia nampak jauh lebih menyeramkan daripada Antonio. Mungkin karena secara insting dia merasa terancam sehingga dia memberikan perlindungan diri dengan bersikap getir sepanjang waktu.

Versi perempuan Antonio bisa membuat siapa saja takut padanya hanya dengan tatapan mata, sangat berbeda dengan versi lelakinya yang lebih ramah dan bersahaja.

“Aku sedang di Kraton.” Desahnya kemudian, menumpukan dagunya di lutut yang ditekuk, memandang jendela dengan sebal—merajuk. Bian menahan dirinya agar tidak tersenyum melihat ekspresi itu. “Sedang menikmati suasana saat hujan gerimis, aku langsung buru-buru berteduh di dekat sana dengan beberapa wisatawan lain. Aku tidak bodoh, aku mencoba menjauhkan diri dari masalah.”

Dia kemudian mengerang keras, “Mungkin karena dasarnya aku memang sial, seorang anak kecil terpeleset di depanku dan secara refleks, aku melempar diriku ke aspal, memeluk anak itu agar tidak menghantam beton dan membuat kepalanya bocor. Lalu begitulah. Hujan deras menyiram kami berdua.”

Bian menatapnya, ngeri. “Lalu?” Desaknya takut. Bagaimana dia menghadapi perubahannya?

“Jika yang kau maksud adalah caraku berubah,” Antonio/Nia menatapnya dengan mata kucingnya yang tajam lagi. “Aku kabur ke toilet Kraton yang baunya tidak akan kuapresiasi sama sekali, menjejalkan jaketku sendiri ke mulut agar tidak berteriak hingga aku berubah sebelum kembali ke hotel di bawah hujan seperti seorang pemeran telenovela.” Sahutnya, menyeka anak rambutnya dengan gerakan seanggun kucing lalu merajuk kembali.

Bian teringat hari saat dia bertemu Hosein pertama kalinya, dia memberi tahu Bian tentang emosi Antonio saat dia menjadi perempuan.

“Dia sukar disenangkan. Merajuk dan bersikap sangat angkuh—sama sekali tidak seperti Antonio yang kaukenal. Terkadang dingin dan nampak tidak punya hati. Berjarak. Kami yakin dia adalah orang lain, kepribadian baru yang tidak kami kenali.”

“Tapi dia membawa ingatan Antonio?” Tanya Bian, melirik Antonio yang sedang memanggang dengan setusuk sate di mulutnya.

“Ya, kurang-lebih.” Hosein mengangguk. “Inilah yang membuat kami kebingungan selama ini karena selain dia berubah kelamin, dia juga menjadi manusia baru dengan ingatan Antonio. Kami berusaha membuatnya bicara pada terapis, dugaan sementara alter ego atau DID, tapi dia menolak. Tidak sudi bertemu terapis—setidaknya begitu kata versi perempuannya.”

“Kata... Versi lelakinya?” Tanya Bian.

“Nio seperti...” Hosein menggaruk pelipisnya, “Tunduk pada versi perempuannya ini. Tunduk pada emosi perempuannya secara sadar atau tidak dari beberapa tes yang dilakukan dokter dan psikiater. Terkadang nampak seperti, versi perempuannya memegang kendali atas pembuatan keputusan.”

Bian mengerutkan alis, bingung pada penjelasan Hosein. Tidak menyangka bahwa hal berganti kelamin karena air dingin ini menjadi sekompleks ceria fiksi ilmiah.

“Dia menamani versi perempuannya Boss Babe bukan tanpa alasan atau hanya untuk gurauan semata, katakanlah begitu.” Hosein menusuk daging ke tusuk sate di tangannya dengan serius. “Nio... takut pada versi perempuannya.”

Bian mengangguk, yang ini dia tahu. “Ya, kupikir itu karena dia... tidak suka menjadi perempuan?”

Hosein menggeleng. “Nio takut, secara harfiah pada kepribadian perempuannya.” Hosein melirik Antonio yang berdiri di sisi pemanggang dengan kakaknya, bosan dan santai.

“Tes-tesnya menunjukkan bahwa dia bersikap pasif dan inferior pada kepribadian perempuannya, tunduk—begitulah bahasa kasarnya.” Lanjut Hosein. “Maka, kami sangat membutuhkan bantuanmu untuk membujuknya pergi ke psikater—versi lelakinya. Karena suara Nio versi lelaki yang akan sangat dibutuhkan dokter untuk melakukan tindakan lebih lanjut.”

“Aku pikir... Dia tidak mau ke psikiater karena dia malu pada kondisinya yang menjadi perempuan? Tidak terjelaskan oleh medis?” Tanya Bian, mulai pucat.

“Kontrol ekspresimu.” Desis Hosein, “Nanti dia curiga.” Dia melirik Antonio dan Bian bergegas mengontrol emosinya, menekan ketakutan serta rasa bingungnya dari permukaan.

“Kami dan para dokter serta terapisnya percaya, dia tidak malu pada kondisinya.” Hosein berbisik semakin lirih. “Dia takut pada versi perempuannya. Jika versi perempuannya tidak mau, maka Nio tidak akan melakukannya. Makanya dia sangat takut saat dia berubah menjadi perempuan dan Jin akan bersikap sangat overprotektif padanya—secara natural, saat dia dalam wujud perempuan.”

“Dia punya satu terapis profesional yang siap dihubungi kapan saja, yang terbaik di kelasnya,” Hosein memulai lagi. “Dan dia sudah memegang semua data medis Nio; segalanya bahkan hingga berapa lama dan suhu tertinggi-terendah Nio saat berubah menjadi jenis kelamin yang berlawanan—untuk apa dia malu?”

Bian mengerjap, menatap onggokan daging di baskom di hadapannya dan merasa mual. Jika apa yang dikatakan Hosein benar, maka semua cerita Antonio padanya selama ini mungkin tidak sepenuhnya benar.

“Jika kau sempat mengobrol dengan versi perempuannya,” tambah Hosein dengan serius hingga Bian mundur sedikit karena Hosein tidak pernah memasang wajah seserius itu. “Kau akan memahami maksudku. Dia bukan Antonio, tetapi juga Antonio.

“Perlakukan dia dengan sopan, jika kau harus bertemu versi perempuannya.” Hosein mengangguk serius. “Karena jika versi perempuannya tersinggung, maka Nio akan menjadi korbannya.” Lalu dia mendesah.

“Sudahkah kukatakan padamu bahwa versi perempuannya itu nyaris mustahil disenangkan?”

“Setidaknya,” kata Bian di masa sekarang, menatap Antonio/Nia yang duduk di hadapannya. “Kau sudah mandi air hangat. Kau akan berubah dalam dua belas jam, 'kan?” Dia melirik jam dinding di kamar, menghitung dalam diam.

“Besok pukul 7 pagi, semuanya akan baik-baik saja.” Dia tersenyum lembut, “Tiketmu besok pukul 8 pagi, 'kan?”

Antonio/Nia menatapnya dari balik bulu matanya yang panjang dan Bian bergidik—apakah ini hanya sugest dari kata-kata Hosein atau memang tatapan itu selalu membuatnya bergidik?

Hal berubah kelamin ini, sejak dia memahami fakta-fakta medisnya, terasa tidak lagi lucu—memang Bian tidak pernah menganggapnya lucu, namun sekarang dia tahu dia harus lebih serius lagi menanggapi ini dan lebih serius lagi tentang menjaga Antonio dari air dingin.

“Aku suka kau.” Kata Antonio/Nia kemudian dan Bian mengerjap—apakah hanya perasaan Bian saja atau sosok itu baru saja memosisikan dirinya bukan sebagai Antonio?

Sejenak sosok di depannya termangu lalu mengerjap. “Tentu saja aku suka. Kau, 'kan, kekasihku.” Dia tersenyum, memamerkan gigi taringnya yang gingsul dan Bian menyadari bahwa sosok itu bukan Antonio. “Maksudku, saat aku lelaki.”

Bian tersenyum. “Yep.” Sahutnya, berusaha tenang walaupun jantungnya bertalu-talu, teringat pesan Jin sebelum dia pergi tadi.

Beri tahu aku jika apa pun yang aneh terjadi, semuanya penting saat dia jadi perempuan.

“Kau mau makan?” Tanya Bian kemudian, mengalihkan pembicaraan ke hal yang akan disukai Antonio, makanan. “Karena hujan, kita tidak bisa berjalan-jalan ke mana pun, jadi sebaiknya kita pesan sesuatu. In room dining saja.” Tambahnya meraih buku menu.

“Ya, boleh.” Sahut Antonio/Nia, mengangguk menatap hujan yang membuatnya gusar. “Kau mau makan apa? Aku ikut.”

Bian menatap buku menu, “Kau mau sop iga? Atau nasi goreng?”

Antonio/Nia nampak berpikir sejenak. “Mereka punya burger dan kentang? Seharusnya ada. Aku mau itu saja dengan jus apel.” Dia beranjak ke sisi Bian, menunduk ke menu bersamanya.

“Baiklah,” Bian mengangguk, menemukan menu yang dimaksud Antonio/Nia. “Kau mau ini?” Tanyanya.

Antonio/Nia mengangguk. “Dengan ekstra keju.” Tambahnya sebelum berguling di ranjang, meraih ponselnya—sekarang sudah nampak nyaman dengan tubuhnya sendiri yang disadari Bian butuh sekitar satu jam.

“Ekstra bacon?” Tawar Bian saat meraih gagang telepon di nakas dan Antonio/Nia mendongak dari ponselnya, berpikir.

“Boleh.” Dia tersenyum lebar dan menular dengan cepat, Bian membalas senyumannya seketika itu juga.

Apa pun yang dikatakan Hosein, Antonio versi perempuan jelas memiliki satu kesamaan dengan versi lelakinya. Begitu menggemaskan dan selalu punya tempat khusus di hati Bian—begitu saja.

Mereka menghabiskan hari itu dengan mengobrol. Bian duduk di kaki ranjang dengan Antonio/Nia berbaring beberapa meter darinya—merasa terlalu kikuk berbaring berdekatan karena jenis kelamin mereka berlawanan sekarang. Antonio dalam versi perempuannya masih sangat banyak bicara, namun dengan emosi yang jauh lebih meledak-ledak dan cepat terganggu.

Dia jengkel nyaris pada segala hal hingga Bian geli. Kentang gorengnya yang kering, kejunya yang terlalu meleleh, suhu yang terlalu dingin, bra yang kebesaran (Bian sudah minta maaf dan Antonio/Nia akhirnya merasa dia sebaiknya membawa bra tiap kali bepergian), dan segala macam hal sementara di luar sana hujan semakin deras mengamuk.

“Kau tidak tidur denganku?”

Bian merona, “Tentu saja tidak.” Katanya dengan nada 'tentu saja' yang absolut saat dia mengenakan sepatunya untuk kembali ke kamarnya. “Kau perempuan.”

Antonio/Nia berjengit tidak suka. “Aku lelaki.” Tandasnya.

Bian memutar bola mata, “Dramatis sekali.” Dia menoleh, menatap Antonio/Nia yang berdiri di hadapannya dalam postur tubuhnya yang langsing dan tinggi. “Aku akan mengunjungimu lagi besok, oke? Istirahatlah. Mandi air hangat lagi sebelum tidur, siapa tahu bisa mempercepat perubahannya.”

Antonio/Nia mendesah panjang, menggaruk kepalanya dan mengangguk. “Baiklah.” Dia menatap Bian. “Kurasa ini berarti aku juga tidak dapat ciuman?”

Bian mengerjap. “Tidak, maaf.” Katanya bersalah. “Aku... tidak bisa. Maksudku, aku tidak memandangmu sebagai kekasihku sama sekali sekarang.” Dia menatap langsung ke mata kucing Antonio/Nia, mencoba mengabaikan tatapan mengintimidasinya yang mendominasi.

“Tidak masalah,” Antonio/Nia tersenyum. “Aku paham.” Dia kemudian mengantar Bian ke pintu, membukakannya. “Sampai ketemu besok pagi dalam wujud lelakiku, Kak Bi.”

Bian membalas senyumannya. “Tidur nyenyak, Niyo.” Aku mencintaimu, dia ingin menambahkan namun terasa sangat salah saat memandang wajah perempuan Antonio.

Maka dia tidak mengatakannya, sekali saja.

Antonio/Nia menyadari kekikukkannya dan memutuskan untuk menyelamatkan Bian dengan mengatakan, “Trims, Kak!”

Lalu menutup pintu kamarnya.


Author's Lament:

What. Have. I. Done. Bye.