C'est un Secret 213
Bian menguap kecil, menatap layar ponselnya sedang berseluncur di halaman sosial medianya seraya menunggu Antonio.
Kemarin saat mereka mengobrol, Antonio bilang kontrakannya tidak jauh sama sekali hanya melewati jalan tikus rahasia sempit dan menyeberang jalan besar tapi kenapa dia lama? Bian melirik jam tangannya, baru pukul enam kurang sepuluh menit tapi Bian mulai anxious.
Dia biasa tiba di gereja pukul setengah tujuh tepat agar bisa mendapatkan tempat duduk yang diinginkannya dan dengan kemacetan biasanya, dia takut mereka akan terlambat dan Bian tidak memiliki kesempatan untuk memilih kursi kesukaannya—di depan, sehingga dia bisa melihat Romo yang memimpin Misa lebih jelas dan mendapat komuni pertama. Biasanya saingannya adalah para sesepuh yang ramah sekali padanya, beraroma lembut orang tua dan bedak bayi.
Bian baru saja akan mengirimkan pesan pada Antonio saat Honda CRV berhenti di depan kosannya. Dia mengerutkan alis, menunduk kembali akan mengirim pesan pada Antonio namun status ruang obrolannya berubah menjadi typing... sehingga Bian berhenti, menunggu.
Ayo, aku di depan.
Bian mengerutkan alis semakin dalam, mendongak dan beranjak dari kursinya. Tidak ada orang yang datang. Di gerbang yang setengah terbuka karena ibu kosnya sedang pergi pun tidak ada siapa-siapa.
Dia mengetik balasan: Masuk saja. Balasannya langsung tiba: Kita buru-buru, kan?
Maka Bian bangkit, menuruni tangga teras ke halaman parkir. Dia membuka gerbang kosan yang berdentang berisik, menoleh ke jalan—ke arah CRV yang tadi berhenti dan melihat Antonio berdiri di sisi mobil yang dikenali Bian sebagai mobil Danny.
Bian mengerjap bingung.
“Kau... Meminjam mobil Danny?” Tanyanya bingung. “Jika kau mau pakai mobil hari ini, kau, 'kan, bisa pakai mobilku.”
Antonio mengedikkan bahunya santai, “Tidak jadi kejutan, dong?” Dia menyugar rambutnya; nampak segar dengan ujung-ujung rambut masih sedikit basah terbalut kemeja slim-fit hijau hangat dan celana jins longgar, waits bag melintang di tubuhnya.
Tidak ingin berdebat karena Bian takut terlambat, dia bergegas mengunci pagar kosan dan menghampiri pintu penumpang. Antonio meluncur ke arahnya, berlari mengitari bagian depan mobil dan berhasil meraih pintu sedetik sebelum Bian dan membukakannya untuk Bian yang tertawa kecil.
“Are we living in Renaissance era or something?” Tanyanya geli namun tak ayal menyelipkan tubuhnya ke dalam mobil yang pekat beraroma seperti parfum dan sabun mandi Antonio—Bian menghirup napas dalam-dalam, mendesah senang.
“Never too late to be romantic,” sahut Antonio kalem, “Awas kakimu.” Tambahnya sebelum menutup pintu Bian dan berlari kembali melewati bagian depan mobil untuk ke pintu pengemudi.
Bagian dalam mobil Danny secara mengejutkan rapi dan bersih, mirip seperti penampilan Danny yang rapi dan selalu licin, harum. Aura seseorang yang tajir melintir menurut Jimmy. Aroma parfum mobil lembut yang tidak menusuk, interior yang tidak diutak-atik, jok lembut dan bersih. Tidak ada kotoran atau sisa-sisa bungkus makanan. Dia teringat mobilnya sendiri, malu.
Dia harus membereskannya nanti sebelum Antonio mendadak meminjam mobilnya untuk pergi dan menemukan permen dari tahun 2018 ada di dasbornya.
Pintu pengemudi terbuka, Antonio menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam mobil—membawa aroma parfumnya, keringat dan selapis aroma segar sabun mandi. Bian menghela napas—aroma keringat Antonio terasa akrab sekarang dan entah sejak kapan.
“Oh, ini pakaianmu kemarin.” Bian menyerahkan kantung yang sejak tadi dibawanya. “Kau buru-buru kemarin, aku lupa membungkus pakaianmu dan baru kusadari saat mengambil binatu semalam. Jadi mereka sudah harum dan bersih.”
Antonio menerima kantung kertas itu dan mengintip isinya. “Trims, Kak.” Dia tersenyum lalu meletakkan kantungnya di jok belakang mobil sebelum kembali memfokuskan diri ke roda kemudi.
“Ayo,” Antonio memasang sabuk pengamannya dan membenahi spion tengah mobil dan menyalakan mesinnya yang menderum lembut, dia melirik spion kanan dan memutar roda kemudi dengan lembut.
“Aku baru tahu kau bisa mengemudi,” Bian memulai saat mereka melewati jalanan kampung menuju jalan besar. “Aku pikir kau tidak bisa.”
“Bisa. Dipaksa Kak Jin saat aku SMA.” Antonio bersandar di kursinya, mengemudi dengan satu tangan. “Tapi aku lebih suka dengan sepeda motor, jalanan di Jakarta ini terlalu menyusahkan jika dilalui dengan mobil.”
Bian mengangguk, setuju. Dia harus berangkat sangat pagi jika ingin pergi ke mana-mana jika tidak mau terjebak kemacetan. Dan membayangkan bisa menggunakan motor, menyelip melewati kemacetan terasa sangat menyenangkan. Belum lagi keuntungan untuk melewati jalan pintas yang sempit. Namun Bian tidak bisa mengendarai motor, kata ayahnya terlalu berbahaya.
Mobil meluncur ke jalan besar dan Antonio merileks saat jalanan padat namun lancar, tidak seperti ketakutan Bian lalu-lintas di depan UKI Cawang hari itu tidak terlalu menyebalkan mereka bisa putar balik dengan lancar sebelum Antonio menginjak gas sedikit lebih dalam ke gereja.
“Aku tahu kau tidak suka terlambat.” Antonio tersenyum, mengemudi dengan tekun dan mulus—sedikit memacu kecepatan mobilnya di jalan saat jarum jam menunjukkan pukul enam lebih dua puluh menit.
“Danny membawakanmu mobil tadi?” Tanya Bian saat mereka mendekati gereja yang halaman parkirnya mulai ramai.
“Tidak, dia membawa motor Yoga semalam dan meninggalkan mobilnya untukku.” Antonio tersenyum lebar, “Aku sudah membayarnya dengan baik, kok. Tenang saja.”
Bian tersenyum saat mobil membelok ke halaman Gereja Santo Antonius Padua yang mulai ramai oleh para sepuh seperti dugaan Bian. Jarang sekali dia menemukan anak muda saat ibadah pagi maka teman mengobrolnya biasanya hanya para nenek dan kakek yang ramah dan hangat.
Ini pertama kalinya Bian datang ke gereja bersama seseorang setelah sejak sekian lama selalu sendirian karena Bobby dan Jimmy keduanya adalah Protestan.
“Padahal kau bisa bilang padaku ingin menggunakan mobil dan kita bisa pakai mobilku alih-alih mengerjai Danny, memaksanya pulang dengan motor.” Bian melepas sabuk pengamannya dan Antonio terkekeh.
“Memang itu salah satu tujuannya, mengerjai Danny.” Dia meraih tasnya, mengalungkannya di bahunya lalu mencabut kunci mobil. “Ayo turun.” Ajaknya dan membuka pintu bersamaan dengan Bian.
Dia menunggu Bian tiba di sisinya sebelum mengunci mobil dan mereka melangkah bersama ke dalam gereja yang mulai ramai. Bian bersyukur masih ada kursi yang kosong di baris kedua maka dia bergegas meraih buku teks Misa, mencelupkan jemarinya ke air terberkati di depan, membuat tanda salib sebelum meluncur ke dalam, matanya terpaku di kursi yang kosong.
Bian baru sadar dia meninggalkan Antonio saat dia duduk setelah berlutut di depan altar dan menoleh, kehilangan Antonio yang sedang berjalan di lorong dengan buku doa di tangannya, nampak tenang dan nyaris berkilau. Antonio tersenyum padanya sebelum berlutut di depan altar, membentuk tanda salib dengan mata terpejam beberapa saat dan bangkit.
Dia menghampiri Bian dan duduk di sisinya, “Memang jika dibandingkan Tuhan, aku tidak ada apa-apanya, ya?”
Bian meringis. “Maafkan aku, berebut tempat duduk dengan para sepuh itu susah-susah gampang.” Dia menggeser duduknya sehingga Antonio bisa duduk dengan nyaman.
“Dimaafkan.” Antonio membuka tasnya dan mengeluarkan rosario dari dalam sana, mengalungkannya di lehernya lalu mencium salibnya serta memasukkannya ke dalam kemejanya.
Bian melakukan hal yang sama sebelum keduanya bersidiam, mempersiapkan diri untuk mengikuti ibadah. Bian senang saat menyadari Antonio memiliki kebiasaan ibadah yang sama dengannya sehingga dia tidak perlu merasa rikuh untuk menjelaskan bahwa begitu memasuki gereja, dia tidak mau mengobrol lagi.
Dia mengeluarkan Alkitab dari dalam tasnya dan menyadari Antonio sedang membuka Alkitab digital di ponselnya; membaca dengan khusyuk tidak memedulikan Bian sama sekali di sisinya. Dia pikir Antonio sedang mengirim pesan atau membuka sosial media, siapa tahu ternyata dia sedang membaca Alkitab—sama seperti Bian.
Hatinya menghangat, senang karena memiliki teman gereja pertama yang ternyata adalah teman yang tepat.
Tuhan Yesus, bisiknya saat ibadah dimulai dipimpin Romo di altar, menyadari sepenuhnya dia tidak akan bisa melarikan diri dari Antonio sekarang, dia tenggelam terlalu dalam.
Dan Bian tidak ingin diselamatkan.
“Kau ingin sarapan dulu?” Tanya Arfabian saat mereka akhirnya keluar dari gereja.
Karena mereka duduk di depan mereka terpaksa harus menunggu hingga jemaat di belakang membubarkan diri sebelum bisa keluar. Mereka duduk di depan altar, mengobrol sementara Romo dan anak-anak pelayanan membereskan diri. Suara percakapan rendah terdengar di sekitar mereka saat mereka mengobrol menunggu jemaat keluar dari gereja.
Nio senang. Ini pertama kalinya dia pergi ke gereja bukan dengan Jin atau sendirian dan dia senang karena saat dia mengenakan rosario di leher, dia menyadari Arfabian ternyata memiliki kebiasaan yang sama.
Dia senang pada fakta bahwa mereka adalah teman ibadah yang tepat dan cocok, Arfabian tidak mau diganggu setelah mengenakan rosario—tanda bahwa dia menyiapkan diri untuk ibadah. Sama seperti Nio yang sudah diajari untuk melakukan itu sejak masih kanak-kanak oleh ibunya.
Mereka fokus ke ibadah mereka, tidak mengobrol satu sama lain dan Arfabian bahkan mendengarkan khotbah dengan khusyuk sekali—tidak seperti Jin yang sibuk menolak panggilan yang masuk ke ponselnya atau teman gereja pertama Nio dulu yang sibuk berusaha mengajaknya mengobrol karena bosan.
Nio punya teman ibadah baru yang sangat cocok dengannya.
“Aku sudah sarapan,” Nio meraih kunci mobilnya, mengamati tempat parkir yang sedang ramai jemaat membubarkan diri dan meraih tangan Arfabian, mengajaknya menunggu sejenak.
“Sebentar, sedang ramai.” Nio menatap lapangan parkir, menemukan mobilnya terjebak di dalam dan mustahil keluar sebelum mobil dan motor lain pergi. Dia baru menyadari dia sedang menggenggam tangan Arfabian saat kakak tingkatnya itu berdeham kikuk.
“Maaf!” Serunya, bergegas melepaskan tangannya dan merasa wajahnya menghangat.
“Dimaafkan.” Sahut Arfabian lirih.
“Kau ingin sarapan?” Tanya Nio kemudian, melepaskan rosario dari lehernya dan menyimpannya kembali. “Sebelum kita membeli cilok yang kauinginkan.”
Arfabian terkekeh. “Ini terlalu pagi untuk pergi ke mana pun, ya?” Tanyanya, mendongak ke langit.
Nio menggeleng. “Tidak terlalu pagi untuk cilok,” tandasnya sebelum menoleh ke mobil mereka, menyadari sekarang dia bisa keluar. “Ayo, sebelum terlalu siang.”
Arfabian mengerutkan alis. “Tidak perlu buru-buru, penjual cilok di depan SD dekat kosku juga buka.” Katanya, menyusul Nio yang melangkah ke mobil; menekan tombol buka kunci dan mobil Danny merespons dengan suara dan kelip lampu.
“Katamu cilok di Jakarta tidak enak,” Nio menutup pintu di sisinya dan menoleh, mengamati Arfabian yang menyelipkan tubuhnya ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengamannya, mengarahkan penyejuk ke wajahnya.
“Yah, memang. Tidak ada yang seenak cilok bumbu kacang di Bandung.” Arfabian mengedikkan bahu.
“Nah,” Nio menyalakan mesin mobil dan menurunkan rem tangan, mulai memutar mobilnya dengan perlahan—berdebar karena dia akan melemparkan bomnya ke arah Arfabian yang masih menyejukkan wajahnya di penyejuk.
Dia berharap dia bisa menyenangkan Arfabian dengan memberikan pemuda itu apa yang diinginkannya walaupun Danny mengatainya sinting tadi pagi dan Yoga terbahak-bahak.
“Jika besok dia ingin rumah di Mars??” Tanya Danny yang berbaring di atas kasur gulung di depan televisi bertelanjang dada setelah mandi.
“Jika bisa, akan kuberikan.” Sahut Nio kalem lalu mengaduh saat sebuah bantal dilemparkan ke wajahnya.
“Kau benar-benar sinting!” Yoga terbahak-bahak, Dalkyum menyalak ceria mendengar suara tawanya—seolah ikut tertawa bersamanya.
“Apa yang sedang kau buktikan?” Tanya Danny kemudian dan Nio menghembuskan napas keras.
“Tentu saja bahwa aku serius padanya, tidak lagi bermain-main seperti kemarin.” Nio menjawab tegas dan kedua temannya mencibir. Mereka memang selalu suportif tentang pilihan Nio, tidak heran.
Danny menginap di kontrakan mereka semalam karena mereka tiba terlalu malam dan Danny mengantuk, tidak kuat mengemudi pulang sehingga Nio bisa mencuri kunci mobil dan STNK-nya lalu kabur menjemput Arfabian sebelum dia bangun.
Dia mengabaikan grup sejak tadi, sekarang Danny pasti sedang mengumpat dan mengatainya dengan bahasa Medan-nya.
Peduli setan, Nio akan mengurus Danny nanti sepulangnya pergi dengan Arfabian yang sekarang mendongak menatapnya dengan mata jernihnya yang seindah rusa, berkilau oleh cahaya matahari.
“Jika aku mau melakukan begitu banyak hal bahkan yang nampak mustahil sekali pun, aku berharap dia bisa melihat betapa seriusnya aku.”
“Maka dari itu,” dia menurunkan jendela, menyerahkan selembar uang pada tukang parkir yang membantunya di jalan dan membelok—meluncur mulus di jalanan Jakarta, ke arah jalan bebas hambatan.
Dia menghela napas, mengulaskan senyuman terbaiknya ke Arfabian sebelum melanjutkan, “Kita akan ke Bandung.”
Author's note:
Mohon maaf jika terdapat perbedaan cara ibadah karakter di AU saya dengan reader sekalian, saya menulis apa yang saya lihat saat ikut menyusup ke gereja beribadah dengan teman Katolik saya (for science of course hehe)—mungkin itu cuma kebiasaan mereka secara personal saja.
Tapi cara ibadah ini sangat menarik karena beda dari teman-teman Katolik saya yang lain, maka saya putuskan untuk adopsi sebagai karakter Arfabian dan Antonio.
Thank you!
ire, x