C'est un Secret 175
⚠️TW // gender-switch JK , woman's body insecurity , woman's hate toward own body , identity crisis .
please kindly leave if you have issues with these stuffs. thankyou.
Nio sepertinya harus mandi kembang tujuh rupa untuk melepaskan semua kesialan yang menempel di badannya.
Sungguh.
Dia tadi hanya pergi untuk menjemur handuk, pekerjaan yang sama sekali tidak berbahaya. Dia menaiki tangga menuju ruang jemur ditemani suara hujan yang mengamuk di atas atap ruang jemur dan seember air kemudian menampar wajahnya.
“Astaga maafkan aku!” Seru orang itu dan Nio ingin sekali menghampirinya, meraih kerah bajunya lalu menonjok giginya hingga melesak ke tenggorokkannya.
Orang sinting pun tahu kau tidak seharusnya menyiramkan air bekas cucian ke atas! Dia seharusnya menyiramnya turun ke lantai ruang cuci, tapi tidak.
Dia memilih menyiramnya ke arah tanaman di sudut ruang cuci, di seberang pintu masuk.
Dan Nio memasuki ruang jemur di saat yang sama sekali salah.
Air beraroma pelembut pakaian yang legit menampar wajahnya dan menetes ke kakinya—rasanya sedingin es batu. Meleleh dari wajahnya turun ke seluruh tubuhnya seperti seekor ular yang melata di atas permukaan kulitnya yang dingin.
Dan nyawa Nio terasa lepas dari raganya.
Dia ada di kosan gebetannya dan dia sekarang tersiram air dingin. Kenapa hidup harus mengerjainya sedemikian rupa?
Dosa apa yang dilakukan Nio di kehidupan sebelumnya?
Maka dia kemudian berlari seperti sprinter, mengabaikan pemuda sialan yang menyiramnya dan membanting pintu kamar mandi hingga Arfabian yang sedang bersila di ranjangnya terlonjak kaget.
“Kak, maaf tolong rebuskan aku air!” Serunya dan mulai merasakan tubuhnya panas; kulitnya berdenyar dan kelenjar susunya mulai berdenyut lembut.
Dia tidak bisa menjadi perempuan sekarang! Tidak saat dia sedang bersama Arfabian!
Arfabian malah mengetuk pintunya, “Kau oke?!” Desaknya cemas dan Nio ingin menangis mendengar nada khawatir yang manis di suaranya yang seindah genta angin.
“Tidak!” Katanya gemetar dalam kamar mandi 1x1 yang dingin. “Tolong buatkan aku air panas, Kak. Tolong.” Katanya, nyaris merengek sekarang.
Jantungnya mulai berdebar, dia berusaha untuk mengeringkan tubuhnya sebisa mungkin dengan bagian pakaiannya yang kering namun terlambat—dia sudah merasakan tanda pertama yang vital dari perubahan fisiknya.
Dadanya.
Selalu dadanya yang pertama bereaksi; kelenjar susunya terasa berdenyar aneh, berdenyut geli dan mulai melembek. Dan itulah, dia hanya akan bisa diselamatkan air panas yang berlimpah dan lama.
“Oke, iya. Aku akan merebuskanmu air. Tenang, oke?” Kata Arfabian dari balik pintu, terdengar begitu cemas hingga Nio gemetar.
Jika dia tahu kondisi Nio, akankah dia tetap bicara dengan nada selembut itu? Secemas itu pada Nio?
Atau dia akan jijik pada Nio?
Nio mendadak mual, ketakutan pada dirinya sendiri. Dia memang selalu takut pada tubuh perempuannya, sekarang dia semakin takut.
Nyaris membencinya hingga tubuhnya gemetar oleh benci yang begitu beracun.
Dia duduk di atas mangkuk toilet yang ditutup dan gemetar. Merasakan panas yang menjalar dari ujung-ujung jemarinya—perlahan naik ke seluruh tubuhnya hingga dia merasa seperti dibakar hidup-hidup.
Dia membekap mulutnya agar tidak berteriak, mengigit telapak tangannya kuat-kuat hingga darah terbit dari sana namun dia mengabaikannya karena sakit di tubuhnya jauh lebih menyita.
Dia terkesirap dengan suara napas tajam, nyaris berteriak namun berhasil menjejalkan kepalan tangannya ke mulut—menahan teriakannya.
Dia memukul pahanya sendiri, mencoba menahan rasa panas yang membakar tubuhnya sekarang dengan perlahan seolah mereka sengaja memasak Nio dengan slow-cooker.
Arfabian terlalu lama, air hangatnya terlalu lama. Nio tidak akan selamat sekarang.
Jika dia mandi air hangat dalam tubuh perempuannya pun, butuh 12 jam untuk berubah menjadi lelaki dan dia tidak punya banyak waktu!
Bisakah tubuh perempuannya mengendarai motornya? Pulang ke Tangerang dini hari atau kapan pun hujan sialan ini berhenti?
Ulu hatinya terasa ditonjok dan Nio terkesirap keras. Dia terbatuk-batuk, tubuhnya melengkung turun dan liur menetes dari mulutnya sementara seluruh tubunya terasa lembek—membentuk diri menjadi perempuan.
Nio merasakan sentakan rasa marah, frustasi, benci dan kecewa yang berkecamuk di benaknya. Takut menyeruak di dalamnya seperti kabut tebal yang membuatnya menangis.
Dia takut, selalu takut kapan pun dia harus berhadapan dengan tubuh perempuannya.
Dia tidak mengenali lekukan itu, dia tidak mengenali organ-organnya sendiri; seperti dipaksa mengenakan pakaian yang Nio benci.
Dia tidak menyukainya sama sekali.
Dan sekarang terjebak di kosan Arfabian, dalam proses menjadi perempuan.
Nio mulai menangis—takut pada reaksi Arfabian saat menemukan seorang gadis telanjang di kamar mandinya. Lalu dia pasti akan memikirkan ke mana perginya Nio.
Tidak butuh orang jenius untuk menyatukan semua petunjuk itu.
Dia akan tahu Nio aneh, dengan kutukan sial yang tidak dipahaminya sama sekali asalnya dari mana.
Nio mulai gemetar—dia baru saja bahagia, namun hidup memutuskan untuk menyudahi kebahagiaan itu secepat kemunculannya.
Dia butuh menelepon Jin agar menjemputnya tapi ponselnya di luar dan dia tidak berani keluar dengan keadaan seperti ini.
Nio duduk setengah telanjang di kamar mandi Arfabian dan mual saat merasan dadanya terasa semakin berat dan tebal.
Dia tidak mau menunduk ke tubuhnya; merasakan sentakan rasa jijik yang terbit di dadanya bersama panas yang menyengat organ-organnya.
Dia merasa seperti lilin mainan yang dibentuk dengan tangan; diremas, dipukul dan dicabik-cabik.
Pululan vital ke jantungnya yang langsung melonjak—terbakar seolah diselimuti api dan Nio tidak tahan lagi.
Dia melepaskan tangannya dan berteriak—keras dan kuat, meraung seperti seekor singa yang terluka saat proses transformasinya mencapai titik final.
Dan rasa panasnya kemudian lenyap; tak berbekas sama sekali.
Di atas mangkuk toilet sekarang, Nio terduduk dengan rambut panjangnya yang lengket dan basah, payudara lembut yang berat dan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan liat dari tubuh sebelumnya.
“Bangsat.” Gumamnya, gemetar oleh emosi yang mustahil ditahannya.
“Bangsat!” Geramnya dan dia memukul dinding kamar mandi dan kulit buku tangannya robek, darah terbit dari sana dan seluruh hormonnya mendadak bergejolak—lebih kuat dan intens.
Sisi feminimnya bangkit dan dia menangis dengan suara perempuannya, terisak-isak. Takut, terjebak, frustasi, marah dan jijik.
Nio tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dan untuk memperburuk suasana, ketukan terdengar di pintu kamar mandi; kepalan tangan yang menghantam pintu.
“Nio?? Kau oke?!”
Itu Arfabian.
Bian berlari ke kamarnya, nyaris terpeleset karena air dan membuat kepalanya membentur lantai. Namun dia berhasil menahan dirinya dengan mencengkeram kusen pintu kamarnya yang setengah terbuka.
Dia tiba di kamarnya tepat saat suara teriakan Antonio berakhir, suaranya begitu terluka dan kesakitan hingga hati Bian terasa nyeri sebelum kemudian hening.
Lalu terdengar suara kepalan tangan yang menghantam dinding dengan suara gedebuk daging bertemu permukaan keras dan umpatan samar yang tidak didengarnya hingga Bian berjengit mendengarnya.
Dia bergegas menghampiri pintu kamar mandi dan menghantamkan kepalan tangannya ke pintu, mendesak.
“Nio?! Kau oke?!”
Tidak ada jawaban.
“Nio?!” Seru Bian semakin panik, dia meraih pegangan pintu dan mencoba menariknya terbuka namun Antonio menguncinya.
“Nio?? Kau pingsan?? Nio, jawab aku!” Desaknya, memukul daun pintu seraya mencoba menyentakkannya terbuka.
“Aku akan teleponkan ambulan dan mencari kunci duplikat kamar mandi ini!” Serunya ke dalam kamar dan sebelum dia berbalik, sebuah suata terdengar.
Dan itu sama sekali bukan suara Antonio.
“Tolong,” katanya lirih seperti sedang menahan tangis; menyayat hati hingga Bian berhenti, bergidik karena suara itu.
Hantu?!
“Kak Bi, tolong air hangatnya.” Bisik suara itu lagi.
Bian terkesirap.
Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya “Kak Bi” dan suara yang datang dari dalam kamar mandi jelas bukan suara orang itu.
“S-siapa kau?!” Seru Bian, panik dan mundur hingga ke pintu kamarnya; gemetar.
Apakah Bian sedang dikerjai? Jika ya, dia akan menonjok wajah Antonio yang congkak itu lalu meludahinya karena berani melakukannya.
“Nio, aku bersumpah jika kau mempermainkanku—!” Mulainya dengan suara tinggi oleh rasa takut dan histeris yang memusingkan.
“Kak.” Sela suara itu lagi—suara perempuan yang lembut dan berat oleh tangis serta emosi. “Tolong air hangatnya...”
Bian menahan napasnya, apakah ini seperti yang dipikirkannya...?
“Nio?” Bisiknya gemetar, mungkinkah? Mungkinkah...?
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Hujan di luar semakin deras disertai gemuruh dan kilatan petir yang membuat ruangan sejenak terang sebelum kembali redup.
Suaranya begitu riuh mengantam atap kosan dan atap garasi yang terbuat dari plastik; gemuruh dan nyaring.
Namun denging di telinga Bian tidak ada hubungannya dengan suara hujan.
Bian merasakan jantungnya menonjok tulang rusuknya, membuatnya gemetar dan mual oleh rasa takut.
Rasa cemas bergumul di dasar perutnya, meracuni semua organnya hingga mulutnya terasa pahit dan getir oleh asam lambung.
Mungkinkah....?
“Nio?” Ulangnya, “Jawab aku atau kupanggilkan ambulan...” Tambahnya dengan suara gemetar; haruskah dia menelepon ambulan?
Seseorang berlari ke arah kamarnya dan dia menoleh, menemukan Jimmy datang dalam balutan piyamanya yang lembut dan jubah sutera tidurnya.
“Nio kenapa?!” Desaknya, nampak cemas. Dia melongok ke kamar Bian yang kosong.
Dia berhenti dan mengerjap.
“Nio?” Panggilnya, bingung karena kamar Bian kosong dan hening hanya ada suara televisi sayup-sayup.
“Dia ke mana?” Dia nampak sangat bingung dan sejujurnya, Bian juga sama bingungnya.
Dia ingin tertawa, histeris dan berteriak karena tidak paham apa yang terjadi sama sekali!
Siapa yang ada di dalam kamar mandinya?!
“Aku bersumpah suara teriakannya keras sekali. Apakah dia terpeleset?” Desak Jimmy lagi, memasuki kamar Bian yang beraroma tajam tahu dan sambal karena mereka sedang menonton televisi sambil mengunyah cemilan saat bencana terjadi.
Bian melirik kamar mandi; dia tidak bodoh, dia tahu apa yang sedang terjadi.
Dia sepertinya tahu apa yang sedang terjadi.
Teringat hari ketika dia menabrak Antonio dan pemuda itu langsung melarikan diri darinya tanpa repot-repot mengambil payungnya.
Sedang ada pacarku.
Padahal saat itu hujan deras, bagaimana cara pacarnya datang? Jika jalan ke arah kontrakan Antonio tidak bisa dilalui mobil...?
“Dia pulang ke rumah kakaknya.”
“Aku bertemu pacar Antonio di IKEA dengan kakak dan kekasih kakak Antonio—mereka terlihat sangat akrab.”
Bian menelan ludah. Bagaimana...?
Bagaimana jika... perempuan itu adalah Antonio? Itu menjelaskan segalanya—segala hal aneh dan fakta-fakta yang hilang dari keanehan hari itu.
Dan Antonio yang absen selama seminggu, sakit katanya. Namun tidak boleh dijenguk oleh siapa pun.
Foto-foto gadis yang katanya pacar Antonio namun para sahabatnya pun tidak mengenalnya sama sekali.
Tapi, bagaimana.... Kenapa....?
”... Bian?”
Bian mengerjap, kembali ke masa kini dan menatap Jimmy yang menatapnya dengan alis berkerut.
Dia bergegas memikirkan alibi, “Nio ternyata menemukan kecoa di kamar mandiku dan sudah membereskannya. Bersikap dramatis dan segalanya.
“Sekarang dia sedang mandi dan... yah,” dia mengedikkan bahu berusaha nampak tenang.
“Kurasa tidak perlu ambulan.” Dia menambahkan tawa gugup di ujung kalimatnya dan Jimmy menatapnya—curiga.
“Dia baik-baik saja kok!” Tambah Bian, bergegas memperbaiki aktingnya.
Firasatnya mengatakan dia harus memgusir Jimmy dari kamarnya, segera.
“Kau mau mengintipnya berganti baju, ya?” Tambahnya memicingkan mata dan Jimmy mendengus.
“Tidak tertarik, trims.” Katanya, jebakan Bian berhasil.
“Nio? Kau oke?” Seru Bian ke kamar mandi, berharap siapa saja yang ada di dalam sana menangkap kodenya: ini untuknya, untuk menyelamatkannya.
“Hm!” Balas suara dari dalam sana; masih terlalu feminim, namun dia berhasil membuat suaranya lebih berat.
Tidak mirip suara Antonio, tentu. Tapi setidaknya lebih baik dari suara lembut tadi.
Dan syukurlah karena dia menangkap kode Bian karena kemudian, orang di dalam menyalakan air bak dengan keras, menyiram lantai dengan berisik seolah sedang mandi.
Jimmy mengerutkan alis mendengar suara itu. “Dia tidak apa-apa mandi dengan air dingin?” Tanya Jimmy berbisik ke Bian.
“Aku sudah memberikannya air panas tadi. Tenang saja.” Bian tersenyum walaupun jantungnya berdebar hingga nyeri. “Dia baik-baik saja. Kau kembalilah ke kamarmu. Kau pasti lelah setelah pergi dengan Kak Jun.”
Jimmy menatapnya, sejenak ragu namun kemudian mendesah. “Baiklah.” Dia nampak mengantuk.
Bian tahu energi Jimmy tidak pernah banyak dan tidak akan pernah tidur di atas jam 10 malam.
“Besok-besok jangan buat keributan, ya, Nio!” Serunya gemas pada kamar mandi yang berisik sebelum akhirnya menyerah dan pergi dari kamar Bian.
“Ketemu besok, Bian!” Katanya ceria dan Bian melambai ceria, mempertahankan senyuman lebar di bibitnya hingga Jimmy memunggunginya.
Bian menghela napas keras, dia lemas saat menatap Jimmy menaiki tangga ke kamarnya lalu menoleh ke kamar mandi yang masih berisik.
“Dia sudah pergi.” Katanya perlahan, “Jangan buang-buang air.”
Dan suara di kamar mandi seketika berhenti.
Bian menelan ludah, dia pergi ke dapur dan mengecek airnya yang ternyata sudah mendidih nyaris menyusut. Dia terlalu panik hingga dia lupa mematikan kompornya.
Dia mematikan kompornya, menggunakan lap membawa panci air ke kamarnya dengan perlahan karena air di genggamannya panas sekali hingga wajahnya terasa lembab oleh uap panas.
Dia mengaitkan kakinya di daun pintu dan menariknya tertutup sebelum membawa panci ke depan kamar mandi dan mengetuknya dengan siku.
“Nio?” Panggilnya ragu, jantungnya berdebar karena bingung namun dia merasa dia sebaiknya membantu pemuda itu dulu sebelum bertanya karena suaranya nampak begitu penuh ketakutan.
“Aku punya air panasnya, benda ini panas sekali. Kau harus membawanya dengan dua tangan: kau ingin mengambilnya sendiri atau... kuantarkan masuk?” Tanyanya, ragu-ragu menambahkan opsi kedua.
“Letakkan saja di depan pintu,” suara lembut itu terdengar dan Bian bergidik—suara itu halus sekali, lembut dan nyaris cantik.
Dan itu jelas sekali suara perempuan.
“Tolong...” Bisiknya lagi gemetar dan ketakutan hingga Bian menahan napasnya. “Berbaliklah. Aku... tidak mau kau melihatku.”
Bian mengerjap. “Baiklah.” Katanya gugup.
Perlahan, dia meletakkan panci di atas keset di depan kamar mandinya dan lap tangannya.
“Benda ini panas sekali, oke? Hati-hati.” Ingatnya lalu mundur dari depan pintu dan berbalik—melawan keinginannya sendiri yang ingin menunggu pintu terbuka karena penasaran.
Dia memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—mengerahkan seluruh pengendalian dirinya untuk melawan dirinya sendiri.
“Oke. Silakan ambil airnya.” Katanya, “Sebelum dingin.”
Hening sejenak, lalu terdengar suara kunci yang terbuka. Seluruh tubuh Bian menegang dan dia bernapas liar dengan mulutnya; seluruh tubuhnya menjerit ingin dia menoleh namun dia melawannya.
Takut dan penasaran berkecamuk di kepalanya, saling menyakiti hingga kepalanya pening.
Pintu terbuka dengan perlahan.
Lucu bagaimana di tengah suara hujan yang begitu deras pun dia masih bisa mendengar derit engsel pintu kamar mandinya sendiri.
Terdengar gemerisik suara, Bian bisa mendengar suara panci yang diangkat dan desis kecil perempuan yang kaget karena panci yang begitu panas sebelum pintu kembali menutup dan dikunci ganda dari dalam.
Bian menghembuskan napasnya, seolah baru saja melakukan lari maraton tanpa pemanasan dan bahunya merileks sebelum dia menoleh ke pintu yang kini sudah kembali tertutup.
Dia diam sejenak, menelan ludah lalu memberanikan dirinya untuk bicara;
“Kau tahu kau berhutang penjelasan padaku, 'kan...,” dia ragu sejenak lalu menambahkan, “Nio?”
Hening di dalam kamar mandi sebelum suara air dikucurkan kembali terdengar dan kini Nio atau siapa pun dia, mandi dengan air hangat dari Bian.
Sementara Bian duduk di ranjangnya; pening.
Apa yang sebenarnya terjadi?!
*
Author's Note:
Dimohon untuk tidak meromantisasi hubungan Nia dan Bian demi kenyamanan bersama.
Serta tolong, perhatikan bahasa yang digunakan pada komentar-komentar kalian, yaa! 🤗💜
Trims!
ire, x