eclairedelange

i write.

ps. excuse my javanese, i'm learning! sksks


Kesalahan utama Taehyung: hidup penuh dosa.

Karena dia tidak akan pernah terbiasa melihat bagaimana Jeongguk duduk di atas jok motornya yang diparkir, dengan satu kaki melintang di atas tangki motornya, mengenakan jaket berkendara, merokok santai dan sedang tertawa mendengarkan sesuatu yang diceritakan Yugyeom di hadapannya.

Satu kakinya yang terbalut Chuck Taylor pudar menjejak kuat di tanah, dia nampak rileks dan sangat menakjubkan. Nampak seperti segala hal yang Taehyung harus jauhi namun membuat sisi dirinya yang lain tergelitik; penasaran. Bagaimana jika dia membenamkan wajahnya ke leher Jeongguk? Bagaimana jika dia menarik rokok itu dari bibirnya, menggantinya dengan ciuman?

Jeongguk menyesap rokoknya, menyugar rambutnya dan menoleh; matanya berkilau. “Ini dia,” katanya kalem, tersenyum lebar. “Bintang kita akhirnya datang.”

Taehyung mendesah, “Maafkan aku, sungguh. Semalaman aku mengerjakan hal lain dan bangun terlambat.” Dia berlari kecil ke arah Jeongguk dan meletakkan helmnya di atas jok belakang motornya. “Makan siang nanti aku yang traktir.”

“Sudah seharusnya.” Jeongguk nyengir lalu menurunkan kakinya dan Taehyung membalas seringainya dengan hati terasa lebih hangat.

Mereka tidak bertemu selama seminggu dan hanya berkomunikasi lewat grup dan/atau pesan singkat di ruang obrolan mereka. Taehyung bersumpah Jeongguk nampak dua kali lebih bersinar dari kali terakhir mereka bertemu; Jeongguk yang mengendarai KLX-nya tanpa helm dengan celana pendek yang memamerkan pahanya yang aduhai dan kaus longgar, memasuki area kampus hanya untuk membawakan Taehyung kunci motornya.

Jangan lupakan ternyata Jeongguk punya tato di pahanya. Tato. Besar. Di. Pahanya. Menjalar dari pangkal hingga ke atas lututnya—yang tadi tersembunyi di balik celana jinsnya.

Taehyung masih suka bermimpi menyentuh otot keras pahanya. Dan terbangun dengan perasaan frustrasi—dia dan asetnya, mereka berdua frustrasi.

Teringat bagaimana rambutnya yang agak gondrong meriap di tengkuknya saat dia berhenti di depan petugas karcis yang menyapanya akrab. Jeongguk menyeka rambutnya dan terkekeh sebelum mengulurkan kunci pada Taehyung.

“Maaf terbawa.” Katanya tulus, tersenyum ramah—menyilaukan seperti senyuman Apollo. “Kuharap kau tidak menunggu terlalu lama?”

Taehyung menerima kunci yang dilemparkan Jeongguk yang berdiri dengan satu kaki menjejak tanah di atas motornya. “Tidak,” dia menoleh pada petugas parkir yang mengacungkan jempol. “They keep me entertained.”

Jeongguk tertawa serak, “Aku juga suka di sini tiap bolos kelas.” Tambahnya dan dia kemudian mengekor Taehyung saat meluncur di jalan Pringgodani menuju jalan pintas ke Selokan Mataram.

Taehyung selalu kembali ke Paingan lewat jalan belakang, karena Ring Road terlalu macet. Jeongguk mengklaksonnya saat dia berbelok di jalan Beo, di sebelah Indomaret dan Taehyung membalasnya. Dia terlihat luar biasa saat postur tegapnya mengendarai trail—nampak seperti model iklan rokok yang mengendarai kuda liar.

“Kita mampir ke kosan Mbak Momo dulu.” Kata Yugyeom saat meraih helmnya sendiri dan Momo menatap mereka dengan pandangan bersalah. “Dia lupa membawa helm.”

Taehyung mengangguk, mengenakan helmnya dan merapatkan resleting jaketnya sebelum mengenggam bahu Jeongguk, memanjat naik ke motornya. Bahu Jeongguk begitu bidang dan aroma parfumnya seketika menginvasi seluruh pernapasan Taehyun—meracuni paru-parunya yang malang.

“Kita boleh sarapan dulu tidak?” Tanya Tzuyu yang sudah mengenakan helm, dibonceng oleh Dahyun yang nampak tangguh di balik motornya—Taehyung merasa bersalah karena telah meragukan kemampuan gadis itu di balik kemudi.

“Soto Bathok Mbah Katro?” Tawar Yugyeom dan semuanya mengerang—membayangkan hangatnya kuah soto, harumnya bawang goreng dan nasi pulen yang akan mengembang, memberi volume di dalam lambung malang mereka.

“Kau sudah sarapan?” Tanya Jeongguk saat mereka sepakat tentang sarapan mereka di Sambisari nanti dan bersiap berangkat ke kosan Momo untuk mengambil helm.

“Menurutmu?” Tanya Taehyung, mendekatkan wajahnya ke bahu Jeongguk agar bisa bicara lebih jelas dan dengan gestur itu dia bisa mencium aroma tembakau pekat dari mulut Jeongguk—manis dan sungguh menggugah. “Aku bersyukur sempat mandi.”

Jeongguk tertawa, mereka berkendara saling mengikuti. Jeongguk paling belakang dan Yugyeom paling depan. Tujuannya agar tidak ada yang tertinggal, Jeongguk mengekor Dahyun yang sedang mengobrol seru dengan Tzuyu di atas motor sementara Yoongi menikmati waktu berkualitasnya sendirian dengan earbuds menyumpal salah satu telinganya.

“Kau pernah ke Soto Bathok?” Tanya Jeongguk lagi saat iring-iringan mereka membelok ke jalan besar setelah mengambil helm Momo yang berlari ke kamarnya dengan panik dan kembali nyaris sedetik kemudian lalu melompat ke atas jok motor Yugyeom sebelum hari beranjak siang.

“Tidak.” Taehyung terkekeh. “Aku tidak terlalu sering berjalan-jalan selama di Yogyakarta.” Tambahnya saat Jeongguk bergabung ke lalu lintas jalan raya Jogja-Solo yang ramai di depan Hotel Grand Mercure.

“Sayang sekali,” Jeongguk terkekeh, mengendarai motornya dengan sangat terampil menghindari mobil dan motor lainnya—Taehyung yakin itu didapatkannya karena sering berkendara Yogyakarta-Solo untuk pulang karena plat motornya plat Solo. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan lebih banyak di masa depan. Agar kau tidak terus menerus membantu Y menemukan X-nya.”

Taehyung tertawa, “Trims, eh?” Katanya.

“Kembali kasih,” dan Taehyung bisa mendengar senyuman lebar di bibir Jeongguk saat mengatakannya.


Soto Bathok Candi Sambisari tidak pernah tidak ramai.

Yugyeom memesan makanan untuk mereka semua sementara Yoongi memimpin mereka mencari tempat duduk. Jeongguk yang tidak tahan, minggir ke dekat tukang parkir dan memijam pematik—merokok dengan tukang parkir dan mengobrol akrab sementara teman-temannya memilih makanan dengan heboh bersama antrian yang semakin ramai.

Suasana tempat itu asri, dengan kolam air mancur di bagian tengahnya, sawah yang terisi pohon cabai yang melambai tertiup angin dan hawa sejuk yang berhembus. Kicauan burung terdengar samar ditingkahi suara-suara obrolan manusia dan aroma kuah soto yang hangat. Ini kali pertama Taehyung ke sini dan menyesal kenapa dia menghabiskan waktunya mendekam di kosan saja selama dia belajar di Yogyakarta.

“Mulutku sepat.” Katanya saat kembali dengan aroma rokok di tubuhnya dan berdeham, mengambil posisi di sebelah Taehyung. “Aku dipesakan apa?” Tanyanya pada Taehyung.

“Teh hangat.” Sahut Taehyung, puas saat melihat ekspresi kaget Jeongguk. “Tenggorokanmu layak mendapatkan sesuatu yang hangat setelah disiksa.”

Jeongguk memutar bola matanya, melepaskan sepatu dan menyandar di tiang balai yang mereka duduki. “Oke, Sayang.” Dia mengedip jenaka dan Taehyung merasa dirinya terbelah antara menonjok rahangnya atau menciumnya.

Salah satu dari itu pasti hanyalah serangan impulsif gila.

Mereka menghabiskan sarapan dengan mencoba mencari lokasi rumah dukuh yang akan mereka sambangi hari ini di peta digital. Yugyeom yang menerima rincian alamatnya dari grup khusus kormadus sendiri pun tidak yakin dengan alamatnya.

“Gampang,” kata Taehyung mengunyah potongan tempe garit yang terasa surgawi dengan Jeongguk yang menandaskan mangkuk soto keempatnya di sisinya. “Nanti kita gunakan Google Maps generasi lama.”

Momo mengerutkan alisnya, “Maksudnya?”

“Bertanya pada orang lokal. Tidak ada yang bisa mengalahkan itu.” Taehyung menjawab dengan nada superior yang membuat Jeongguk nyaris tersedak kuah soto dan mengumpat, 'Bodoh!' geli.

Mereka tertawa. “Benar, benar.” Yugyeom mengangguk di sela tawanya. “Aku juga ada nama lengkapnya jadi tidak masalah. Kita akan berhenti dan bertanya jika kita tersesat.”

Taehyung membayar sarapan mereka sebagai ganti karena membuat mereka menunggu sebelum keempat motor itu kembali melaju membelah jalanan menuju Klaten, mengambil jalan memotong ke desa Gedang Sari. Menurut Yugyeom, lebih dekat lewat Klaten daripada lewat Wonosari dan Taehyung setuju karena jalanannya jauh lebih lenggang daripada jalanan Wonosari yang dipenuhi truk-truk pengangkut batu dan pasir yang mengerikan.

Setangguh apa pun Dahyun, Taehyung tetap khawatir padanya apalagi jika dihadapkan dengan jalan berliku, tanjakan curam dan kendaraan-kendaraan beroda enam dan delapan.

Jalanan tidak terlalu ramai, Jeongguk mengisi keheningan dengan bernyanyi dan sesekali mengajak Taehyung mengobrol jika menemukan hal yang menarik. Mereka berhenti di pom bensin di depan bekas Bandara dan Momo membelikan mereka masing-masing sepotong donat sebagai permintaan maaf karena membuat mereka berputar ke kosnya dulu untuk mengambil helm.

Setelah melewati eks-Pabrik Gula, Yugyeom memasang sein dan ketiga motor di belakangnya mengikuti gerakannya. Dia menyeberang dan masuk ke jalan desa yang lebih sepi dan asri. Diapit persawahan yang damai dengan ujung padi yang gemerisik oleh angin, sapi-sapi yang mengunyah makanan di lapangan luas dan para penduduk desa yang berkegiatan.

Taehyung mendesah, senang karena dia meninggalkan semua kesumpekan perkotaan di belakang dan menghirup udara yang jauh lebih segar di sekitarnya. Mereka melewati rel kereta api, berbelok ke Pasar Klaten yang ramai sebelum meluncur ke jalanan yang lebih sempit dan sepi—persawahan membentang jauh hingga tak terhingga dengan perbukitan yang membingkai pemandangan langit yang biru permen.

Mereka melewati hutan kecil, sungai surut sebelum melewati sebuah pasar yang lebih kecil. Sudah tutup namun Yugyeom memberi tanda bahwa pasar itulah tempat mereka nantinya membeli bahan makanan selama KKN. Melewati sebuah sekolah, Taehyung mendongak ke arah bukit terjauh di hadapan mereka dan bersiul.

“Lihat!” Serunya pada Jeongguk yang meliriknya dari spion. Taehyung menunjuk jalanan kecil di ujung bukit yang nampak curam dan tinggi, “Bayangkan jika kau harus melewati jalanan itu setiap pulang bekerja. Mengerikan.”

Jeongguk mengangguk, “Menurutmu ada rumah di atas sana?” Tanyanya kemudian, menyadari betapa curamnya jalanan itu dan berada nyaris di puncak bukit tertinggi di sekitar sana.

“Jalannya nampak teraspal rapi, harusnya pasti ada. Ya, 'kan?” Balasnya, menatap jalan itu hingga pohon ketapang rimbun membuatnya terbenam.

Dan kemudian saat Jeongguk mengoper gigi, berbelok di depan Puskesmas Desa dan berbelok untuk menemukan jalan tanjakan yang nampak tidak berakhir, Taehyung sadar dia baru saja meramalkan takdir mereka sendiri. Karena jalan tanjakan itu adalah jalan tanjakan mungil di ujung bukit yang dilihat dan ditertawainya di bawah tadi.

“Ini semua karena kau,” Jeongguk tertawa saat dia memacu motornya dengan tangkas mendahului teman-temannya yang lain karena hanya motornyalah yang paling cocok di medan ekstrim ini dan jika dia memperlambat motornya, maka benda itu pasti bertingkah.

Maka Jeongguk melesat, menjadi yang paling terdepan disusul Dahyun yang sekali lagi membuat Taehyung kagum karena keterampilannya berkendara di medan yang ekstrim sementara dua teman mereka yang menggunakan motor bebek harus puas dengan berkendara zig-zag berusaha membuat motor mereka tetap bergerak di tengah tanjakan curam.

Di sekitar mereka ada persawahan dengan sistem terasering yang sekarang ditanami kacang. Dipayungi pohon-pohon jati pendek yang berdaun lebar, meniupkan aroma lembut yang menyenangkan. Pohon-pohon sengon beremerisik; pemandangannya begitu menakjubkan seolah mereka sedang menembus jalan ke dimensi lain—perjalan menuju negeri indah asri yang belum terjamah kapitalisme dan betonisasi. Dan Taehyung senang karena mereka memutuskan menggunakan motor Jeongguk yang paling tangguh sehingga dia merasa aman dan nyaman.

Taehyung menahan napasnya saat dia melewati tanjakan yang dilihatnya di bawah tadi dengan Jeongguk yang berkendara serius di depan, berusaha membuat motornya tidak berhenti mendadak di tanjakan yang nyaris 90 derajat. Pemandangan di bawahnya begitu menakjubkan; bentangan sawah, Merapi di kejauhan, ladang tebu dan jalan yang membentuk garis perak panjang yang nampak begitu mungil.

Selebihnya langit dan melulu langit yang biru serta sinar matahari yang terik. Taehyun senang, pemandangan yang didapatkannya sangat mendebarkan. Jeongguk kemudian mengumpat saat dia salah mengoper gigi motornya sehingga mereka sejenak tersendat dan Dahyun seketika menyusul mereka, wajahnya serius sekali saat berkendara; Tzuyu menoleh, nampak cemas namun detik berikutnya, Jeongguk berhasil mengendalikan motornya sebelum akhirnya meluncur hingga ke ujung tanjakan.

Jeongguk mengklakson Dahyun, memintanya menepi menunggu teman-teman mereka yang belum melewati tanjakan ekstrim itu. Dahyun mengangguk, memasang sein dan berhenti beberapa meter dari Jeongguk yang berhenti dan menoleh, bersama Taehyung; menunggu Yugyeom dan Yoongi.

Yugyeom muncul beberapa menit kemudian, mengklakson mereka dan berhenti di sisi Jeongguk. “Sepertinya ada masalah dengan motor Kak Yoong.” Katanya. “Berasap. Jadi dia berhenti di bawah sana, mengecek mesinnya.”

Dan Jeongguk langsung memutar motornya, seketika itu juga didorong oleh rasa tenggang rasa dengan Taehyung yang terkesirap kaget karena dia mendadak menjejakkan kakinya, memutar motor membentuk setengah lingkaran di jalanan begitu saja tanpa kesulitan dengan Taehyung masih duduk di belakang motornya.

Dia meluncur, mengecek motor Yoongi. Taehyung turun dari motor saat Jeongguk memarkir motornya di sisi jalan dan berlari menghampiri Yoongi yang sedang mengecek motornya; asap tipis dan aroma tengik kampas kopling yang terbakar meracuni udara mereka.

Taehyung mendekat sementara Jeongguk berjongkok di sisi motor Yoongi dan mengeceknya. “Sudah di servis belum?” Tanyanya pada Yoongi yang mengangguk.

“Busi dan akinya baru diganti kemarin.” Katanya serius, nampak sama cemasnya dengan Jeongguk tentang motornya. “Aku sudah mempersiapkannya untuk perjalanan KKN ini. Kurasa karena dia kaget pada medan ekstrim barusan. Tidak apa-apa, aku masih bisa melanjutkan; aku akan pelan-pelan.”

Kita,” koreksi Jeongguk tegas saat berdiri. “Kita akan pelan-pelan.” Dia menoleh pada Yugyeom yang mengangguk.

“Jangan begitu.” Kata Taehyung saat mereka menaiki motor kembali dan Jeongguk menyalakan mesinnya dengan starter kaki.

Jeongguk mengerjap, meliriknya dari spion—kebingungan. “Begitu... bagaimana?” Tanyanya, alisnya berkerut dan Taehyung tertawa.

“Jangan menggunakan nada itu padaku, nanti aku terengah di kakimu.” Katanya dan Jeongguk tertawa, terhibur saat dia menunggu Dahyun melaju duluan sebelum menyusulnya mengekor Yugyeom dengan Yoongi di belakang—bermotor dengan perlahan dan Taehyung bertugas mengawasinya.

“Bukannya bagus?” Sahut Jeongguk kemudian, mengoper gigi dengan suara 'tak!' khas rantai yang berpindah lalu melaju sedikit lebih kencang saat berbelok ke tanjakan lain. “Karena aku juga tidak keberatan terengah di kakimu, injak saja aku—tidak masalah.”

Taehyung tertawa, “Kita sungguh akan membicarakan ini di sini?”

“Yah, entahlah??” Sahut Jeongguk keras, setengah geli di sela suara gemuruh angin yang menampar wajah mereka dan Taehyung tertawa. “Siapa yang memulainya??”

“Baiklaaah!” Dendang Taehyung, “Maafkan aku!”

Jeongguk tertawa, “Dimaafkan.”


Mereka tersesat. Hore.

Taehyung turun dari motor Jeongguk dan mengerang karena pantatnya sama sekali tidak terasa seperti pantat lagi karena jok motor Jeongguk tidak dirancang untuk berboncengan. Dia meregangkan pantatnya sementara Yugyeom menghampiri seorang petani dan bertanya dalam bahasa Jawa halus tentang kediaman Pak Dukuh yang akan mereka datangi.

Petani itu mengangguk bersemangat, sangat senang bisa membantu saat dia mengarahkan Yugyeom ke jalan menuju rumah Pak Dukuh mereka. Ternyata mereka salah mengambil belokan di persimpangan tadi; mereka seharusnya berbelok ke kanan alih-alih ke kiri. Petani itu bahkan menawarkan diri untuk mengantar mereka dengan bersemangat.

Jeongguk berbalik di atas motornya, mendengarkan sementara Taehyung memijat pantatnya dengan lembut. Mengerang karena pantatnya terasa seperti roti yang disimpan di luar kulkas seharian; keras.

“Sudah kubilang,” Tzuyu terkekeh ceria, teredam oleh masker yang dikenakannya. “Benda itu merusak asetmu, Kak.”

Taehyung menepuk pantatnya, memasang raut tersinggung jenaka yang membuat Tzuyu semakin tertawa. “Asetku ini luar biasa kenyal, tidak akan mudah dirusak oleh jok keras mana pun.” Katanya menggoyangkan pantatnya seperti seekor bebek ke Tzuyu dan Dahyun yang tertawa di atas motornya masih mengenakan helm dan masker.

“Benarkah?” Tanya Jeongguk dan Taehyung mendengus. “Mana sini coba kupegang, aku harus mengetesnya sendiri agar percaya.”

“Jangan main-main denganku, Bung.” Sahut Taehyung geli namun tak ayal menerima rokok yang diserahkan Jeongguk yang terkekeh. “Aku tidak akan termakan trik murahanmu untuk menyentuh asetku.”

“Hati-hati abunya.” Kata Jeongguk saat mereka melanjutkan perjalanan, dia hanya sempat menyesap rokoknya sekali sebelum mengembalikannya ke Taehyung karena dia tidak mau berkendara sambi merokok—membahayakan pengguna jalan lain dengan abu dan bara api yang mungkin terbang dari rokoknya.

Mereka melewati jalan desa yang kecil dan sedikit licin, hanya muat dilewati satu motor dengan hutan bambu rimbun yang membuat Tzuyu dan Momo ketakutan juga satu kamar mandi yang hanya diberi dinding hingga bahu—membiarkan kepala pengguna nampak ke jalanan dan para perempuan langsung ngeri, takut membayangkan kamar mandi mereka nanti seperti itu.

Hawanya sangat sejuk—lembab dan membuat Taehyung sangat mengantuk. Jika nantinya mereka harus KKN dengan cuaca seperti ini selama 30 hari maka Taehyung akan dengan senang hati mengganti proker individualnya dengan tidur saja. Taehyung bahkan tidak sudi menyentuh air untuk membasuh tangan, apalagi mandi.

Mereka melewati jalan menanjak sempit yang syukurnya dibentuk bergerigi sehingga ban motor tidak mudah selip di atasnya sebelum akhirnya tiba di rumah besar dengan halaman berumput Jepang halus dengan tebing di bagian depannya. Ada garasi yang terisi poster-poster Posyandu dan peta wilayah di sana serta plakat nama “DUKUH” di atas pintunya.

Semua motor diparkir dan dimatikan, beberapa warga menoleh penasaran karena kedatangan mereka yan terlalu ramai di desa yang sepi—belum lagi motor Jeongguk yang nampak sangat mengintimidasi.

Badhe KKN, nggih, Mas?” Tanya seorang ibu di rumah sebelah dengan bayi di gendongannya. Mau KKN, ya, Mas?

Taehyung kemudian dibuat kaget saat Jeongguk yang berada di sisinya, menjawabnya dengan bahasa Jawa halus yang mendayu-dayu karena Yugyeom sedang mencoba menelepon Pak Dukuh. “Nggih, Ibu. Kulo badhe ketemu kalih Bapak Dukuh. Wonten ing griya mboten, nggih, Bu?” Iya, Ibu. Saya ingin bertemu Bapak Dukuh. Ada di rumah tidak, ya, Bu?

“Wow.” Bisik Taehyung ke telinga Jeongguk sementara si ibu menghampiri rumah Pak Dukuh, mencoba mengecek apakah dia ada dan menyampaikan bahwa ada tamu. “Kau benar-benar orang Solo, ya?”

Jeongguk menyerigai, meliriknya dan Taehyung menaikkan sebelah alisnya—menantang. “How does it sound?”

Hot, of course. So pipping hot. It's sizzlin'.”

Jeongguk mengerang, “You're gonna be the death of me one day, Taehyung.” Keluhnya dan Taehyung tertawa serak.


Fun fact:

Jalanan yang dilewatin anak-anak memang ada hahaha jalan menanjak dari Klaten (orang Klaten pasti tau tanjakan setelah Pasar Klaten ke Gunungkidul :'DD) ke Gunungkidul dan memang sangat curam—nyaris 90 derajat. Dan aku beneran ngomong gitu ke temenku, ngejek jalan itu dan ternyata kami harus lewat sana T-T Lalu aku dibuli seharian karena dianggep memberi kutukan T-T

Semua kejadian di AU ini benar terjadi kecuali sexual tension between taekook yaa hahaha beberapa aku modif juga agar sesuai cerita. Dahyun itu beneran ada, temenku memang setangguh itu motorannya aku kagum hahah dan motor Yoongi beneran berasap sampe kami semua berhenti di pinggir jalan, nunggu asepnya berhenti sksks

ire, x


Kesalahan nomor satu: Jeongguk lupa berdoa.

Maka saat dia mendorong pintu toilet lelaki di sudut gedung, berseberangan dengan kantin Sastra belakang yang menjadi tempat anak-anak merokok dan diam-diam menyelundupkan minuman keras, dia nyaris terpeleset dan mempermalukan dirinya sendiri.

Karena di urinal, ada Taehyung—atau dia pikir itu Taehyung dari foto buram di Twitter-nya yang mengenakan kemeja flanel hangat sewarna tanah sedang menurunkan resleting celananya untuk bersiap-siap membuang urin.

Jeongguk mengerjap. Oh, wow.

“Taehyung?” Tanyanya, mengingat wajah yang dilihatnya di profil Twitter Taehyung yang tadi diseluncurinya; berusaha mencari foto wajah Taehyung yang lebih jelas namun tidak menemukannya sama sekali.

Dia pemuda yang sungguh sangat menarik—rambutnya mengikal menggemaskan, menggunakan kacamata bergagang hitam yang jika digunakan orang lain pasti akan membuat mereka nampak membosankan; jenis lelaki yang akan dijauhi Jeongguk karena tidak ingin mendengarkan ocehan mereka tentang anime.

Namun Taehyung membuat kacamata itu nampak panas.

Mendadak Jeongguk merasa dia butuh Taehyung membantunya membidik arah urinnya agar tidak meleset.

Dia berdeham saat Taehyung melemparkan senyuman ramah, “Halo. Ya. Kau Jeongguk?” Balasnya ramah dan Jeongguk mendesah, suaranya begitu menggemaskan. Senyumnya begitu menggemaskan—segalanya menggemaskan.

Sekaligus, panas. Bagaimana Jeongguk harus menjelaskan ini dengan bahasa manusia yang sangat terbatas untuk menggambarkan keindahan yang jelas-jelas tidak berasal dari Bumi.

Dia seperti seekor beruang menggemaskan yang mendengkur tiap kali dipeluk namun menggeram saat teritorinya terganggu, menyerigai dan mengangkat cakarnya; siap menindih dadamu dan menghabisimu. Jeongguk langsung menghampiri urinal, membiarkan pintu di belakangnya tertutup sendiri lalu berdiri di sisi Taehyung—persis.

Selalu ada peraturan tidak tertulis antarlelaki; tidak boleh bersebelahan di urinal. Sangat tidak sopan dan tidak memberikan privasi dalam kegiatan membuang urin mereka yang sakral—mengeluarkan aset mereka di tempat umum adalah kegiatan sakral. Tapi Jeongguk ingin mengintip—mengintip apa saja yang bisa diintip dan Taehyung menyadari itu. Alih-alih bersikap geli seperti apa yang dipikir Jeongguk, dia terkekeh. Menurunkan resleting celananya dengan rileks seolah tidak terjadi apa pun.

“Kau berubah pikiran tentang dibantu membidik?” Godanya melirik Jeongguk yang mendenguskan tawa kecil.

“Aku tidak ingin mengagetkanmu.” Katanya tersenyum sopan dengan nada merendah yang mengundang tawa Taehyung.

Try me,” sahutnya.

Jeongguk suka selera humornya—oh, sangat menyukainya. Dia langsung paham lelaki ini akan jadi teman akrabnya di pondokan nanti. Mulai berpikir ternyata KKN tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Jika dia punya teman dengan otak sama miringnya dengannya, maka Jeongguk pasti akan keluar dari KKN dalam keadaan hidup dan utuh.

Dia sudah berpikir dia akan mendapatkan teman KKN serius, tipe orang rajin yang sulit diajak berteman. Malas jika harus mendengarkannya mengomel tentang program kerja atau laporan atau tetek-bengek lainnya. Dia ingin teman yang seru, teman yang akan membuat KKN-nya sangat berkesan.

Saat melihat jurusan Taehyung, dia sudah membayangkan lelaki serius yang pasti akan memberengut permanen seharian. Mungkin juga bau badan menyengat yang akan membuat Jeongguk almarhum karena harus tidur satu kamar dengannya.

Tidak, Tuhan menganugerahinya seorang lelaki sehat memesona dengan parfum maskulin lembut. Selera humor sehat dan senyuman mendebarkan. Dan aset yang aduhai—Jeongguk hanya mengintip sedikit, kok.

Jeongguk akan rajin beribadah mulai sekarang. Amin.

Mereka bersidiam saat menuntaskan urusan mereka sebelum menyiram urinal dan mencuci tangan di wastafel. Jeongguk jarang melakukannya, malas. Tapi dia ingin menciptakan kesan baik di hadapan Taehyung, maka dia mencuci tangannya sebelum mereka melangkah beriringan menuju K02 yang berada di seberang Taman Sastra.

Ruangan itu penuh, suara-suara ocehan menguar di udara. Pengeras suara dinyalakan, dosen pembimbing lapangan mereka sudah duduk di meja depan sedang menyalakan laptopnya untuk memulai presentasi membosankan tentang visi-misi dan tujuan KKN PPM Angkatan LV (55) yang sama sekali tidak dipedulikan Jeongguk.

“Kita duduk di mana?” Tanya Jeongguk saat mereka melihat ruang kelas yang penuh anak-anak

You tell me,” Taehyung mengedarkan padangan pada ruangan raksasa berlangit-langit tinggi, penuh jendela dengan kipas angin yang menyala meniupkan angin panas karena ruangan yang begitu penuh.

Jendela-jendela dibuka, membiarkan suara dan sinar matahari serta angin berhembus masuk. Mata-mata orang melirik ke dalam kelas, mengamati apa yang mereka lakukan. Pemandangan K02 langsung ke parkiran mobil dan parkiran motor, Jeongguk biasanya selalu mengantuk jika mendapatkan kelas ini—terlalu ramai.

“Ini, 'kan, wilayah kekuasaanmu.” Tambah Taehyung kemudian.

Jeongguk terkekeh, baru saja akan mengajaknya duduk di belakang dekat jendela saat seorang melambai bersemangat—di sayap kiri dekat jendela yang terbuka ke arah lorong.

“Kak Gguk!” Seru suara yang sudah akrab dengan telinga Jeongguk. “Di sini!”

Keduanya menoleh, dan Jeongguk menemukan adik tingkatnya—Tzuyu. Salah satu kenapa teman-teman straight-nya iri dengan kelompoknya. Tzuyu salah satu jajaran Bidadari Sanata Dharma yang selalu membuat anak-anak fakultas lain menyempatkan diri lewat di lorong Sastra Inggris demi melihat wajahnya. Dia aktif sebagai model dan pembawa acara.

“Aku tidak suka perempuan, duh.” Begitu kata Jeongguk tiap kali teman-temannya menyeutkan betapa beruntungnya dia bisa satu pondokan dengan Tzuyu. “Dan aku tidak akan mengambil gambar dalamannya untuk kalian berapa pun bayarannya.” Dia mendelik, marah. “Get your horny ass somewhere else, you disgusting dickhead!”

Bagi Jeongguk, Tzuyu anak manis yang sangat sopan. Hanya itu. Dia selalu menyapa kakak tingkatnya dengan sopan, selalu tersenyum ramah dan dia membantu Jeongguk menyelesaikan kelas Structure 4 yang diulangnya—maka satu-satunya hal yang membuatnya senang adalah karena dia bertemu wajah yang tidak asing di kelompoknya.

Jeongguk melambai, dia memberi tanda pada Taehyung untuk mengikutinya menaiki tangga di tengah ruangan ke arah dua meja yang disatukan sehingga semua orang duduk. Jeongguk menyapukan pandangan ke teman-teman kelompoknya dan berseru senang; tidak ada wajah serius yang menyebalkan.

Semuanya nampak menyenangkan!

“Hai!” Sapanya, menarik kursi kayu terdekat dan duduk di sisi Taehyung. “Jeongguk.” Katanya.

“Kalian sungguh pergi ke toilet bersama?” Tanya perempuan di sudut yang tidak dikenal Jeongguk namun Taehyung terkekeh.

“Ya, dan apa yang terjadi di toilet adalah rahasia kami, Mo.” Dia melemparkan kedipan pada Jeongguk yang langsung menyambutnya dengan jentikan jari nyaring dan mengaum genit dan mengatakan 'rraaw!'

“Menggelikan!” Seru lelaki mungil dengan mata rubah yang dikenali Jeongguk sebagai Yoongi, namun dia tertawa dan Jeongguk senang—dia punya selera humor walaupun wajahnya nampak seperti orang sembelit.

Oh, tidak ada yang homofobia juga ternyata. Syukurlah.

“Taehyung.” Kata Taehyung kemudian, setelah kehebohan masalah toilet reda. “Halo semuanya.”

Lalu pemuda berwajah imut dengan rambut sedikit terlalu panjang di bagian tengkuk mengangguk, “Yugyeom. Halo, Kak.”

Jeongguk dan Taehyung seketika menjentikkan jari mereka dengan heboh dan seolah sudah memiliki ikatan yang sangat erat, Yugyeom langsung berdiri membalasnya. Mereka mengeluarkan suara-suara aneh lalu berteriak, “Yoooo!” dengan heboh—beberapa anak menoleh ke arah mereka dengan alis berkerut, jijik.

Peduli setan. Jeongguk tidak punya waktu memikirkan orang-orang gengsi yang terlalu sibuk menjaga image mereka. Dia butuh lebih banyak orang seperti teman-teman KKN-nya di dunia.

“Apa-apaan!” Dahyun tertawa, tidak paham bagaimana bisa mereka yang belum pernah bertemu jadi seakrab itu—begitu saja.

“Mereka sama-sama sinting ternyata!” Momo menyeka rambutnya, menimpali tawa mereka dan Tzuyu bahkan tidak bisa bernapas karena tersengal tawanya sendiri.

Bahkan Yoongi, yang berwajah paling normal di kelompok itu tidak bisa tidak tertawa.

“Pak Kormadus,” sapa Jeongguk, berdiri dan membungkuk sopan, mengulurkan tangan tangannya dan tangan kirinya menyentuh sikunya—menyalami Yugyeom yang mengangguk sopan seperti Pak Lurah dan menerima jabatan tangan Jeongguk. “Sudah lama, Bapak? Maaf, Pak, saya terlambat. Tadi macet. Ada urusan di toilet juga.” Jeongguk nyengir, membungkuk-bungkuk menjilat.

Yugyeom mangut-mangut, menyalami Taehyung yang juga meniru gerakan Jeongguk. “Tidak apa-apa.” Katanya, membenahi kacamata imajiner di wajahnya. “Saya juga tadi kena macet. Memang Yogyakarta ini mulai penuh, ya?”

“Bisa tidak kalian biasa sedikit?” Tanya Yoongi, tersenyum lebar menatap ketiganya.

“Ya, maaf, jika kami memang luar biasa.” Taehyung mengibaskan tangannya dan Jeongguk langsung menjulurkan tangannya, Taehyung membalasnya dengan high-five.

Wow. Jeongguk semakin menyukai Taehyung.

“Begini lebih asyik.” Taehyung duduk, Yugyeom bertukar kursi dengan Tzuyu—duduk dekat dengan Jeongguk dan Taehyung yang sekarang resmi menjadi sahabat karibnya.

Pertemuan di mulai dengan penjelasan membosankan seperti yang diduga Jeongguk. Mereka bertujuh sibuk mengobrol, mengakrabkan diri dengan begitu natural. Taehyung mengobrol dengan Yoongi, para perempuan membicarakan benda-benda yang mereka bawa. Jeongguk sudah merasakan keakraban dan kekeluargaan mereka terasa hangat.

Dia suka sekali kelompoknya, dia mendengus senang.

“Kelompok 10 sudah duduk bersama, ya, saya lihat?” DPL mereka memanggil dari depan saat semua anak dibubarkan untuk bertemu kelompok mereka masing-masing; sibuk berseru mencari kelompoknya seperti kerumunan kambing.

“Sudah, Pak, lengkap!” Yugyeom melambai, teman-temannya mengacungkan jempol pada DPL mereka yang tertawa—menyadari ikatan keakraban yang sudah terjalin di kelompok itu.

“Kami sudah punya kormadus juga, Pak!” Tambah Taehyung dan Yugyeom mendesah keras, namun tidak protes.

“Tenang, nanti kita semua akan membantumu.” Yoongi menepuk bahunya akrab. “Tidak perlu takut, kami tidak akan melimpahkan semuanya padamu begitu saja. Itu hanya semacam formalitas, kita bekerja sama-sama.”

Yugyeom merileks di tempat duduknya. “Trims, Kak!” Katanya, tersenyum seperti seekor anak anjing menggemaskan.

DPL mereka mengangguk, “Silakan tulis nama, jurusan, dan nomor telepon kalian di selembar kertas, ya. Beri keterangan siapa kormadusnya lalu sekalian motor siapa saja yang akan dibawa untuk survei dan selama KKN. Nomor kendaraannya juga.”

Tzuyu langsung mengeluarkan buku catatan dari tasnya dengan sigap, juga sebatang pulpen. “Kita punya empat lelaki, jadi nanti ada satu orang yang berkendara sendiri, ya?” Tanyanya.

“Aku saja,” Yoongi mengangguk. “Kalian bisa memboceng perempuan-perempuan.” Dia menatap Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom yang mengangguk mengiyakan.

“Aku tidak mau dengan Kak Gguk,” Tzuyu langsung bergidik dan Jeongguk tertawa.

“Memangnya kenapa?” Tanya Momo, mendongak dari ponselnya.

“Motorku KLX, platnya AD 2445 AH.” Jeongguk tertawa saat melihat ekspresi semua perempuan yang langsung tidak mau dibonceng olehnya dengan alasan pantat sakit dan sulit memanjat naik. “Maaf, Ladies, aku harus terlihat keren.”

Taehyung terkekeh, “Sampah.” Katanya dan Jeongguk tertawa semakin keras.

“Aku akan bawa motor sendiri jika boleh?” Dahyun menatap semuanya, “Aku tidak apa-apa kok. Dan aku akan jadi yang sering pulang selama KKN karena ibuku sendirian di rumah jadi kurasa lebih baik aku bawa motorku sendiri. Aku bisa membonceng Tzuyu jika dia tidak mau dengan Jeongguk.”

Yugyeom mengerjap, “Aku tidak yakin. Kita tidak tahu medan ke lokasi pondokan. Kau yakin?”

Dahyun mendengus, jelas benci diremehkan karena jenis kelaminnya. “Yakin! Aku suka touring, berkendara ke Gunungkidul bukanlah hal paling menantang dalam hidupku. Motorku juga Vario 125, enak digunakan di jalanan menanjak.”

“Aku dengan Kak Yun!” Tzuyu langsung bersemangat.

Yugyeom melirik senior-senior lelakinya yang nampak belum setuju namun akhirnya sepakat karena para perempuan jelas tidak akan mau dibonceng motor Jeongguk yang jika dipikir akan sangat berguna di medan bagaimana pun. Setelah perdebatan alot, akhirnya diputuskan yang membawa motor adalah: 1) Dahyun-Tzuyu, 2) Jeongguk-Taehyung, 3) Yoongi, dan 4) Yugyeom-Momo.

Mereka mengakhiri pertemuan pertama dengan janji akan bertemu untuk membahas program kerja utama. Mereka harus menulis proposal pengajuan dana kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Kormadus, sekretaris (Tzuyu) dan bendahara (Dahyun) dipilih langsung saat itu juga. Kormadus dan bendahara akan bertanggung jawab mengambil uang makan mereka nantinya.

Yugyeom sempat mengajak mereka makan siang bersama yang langsung ditolak Momo dan Dahyun karena mereka ada kegiatan kelompok. Momo harus buru-buru kembali ke Paingan bertemu kelompoknya. Tzuyu juga memilih pulang dan Yoongi harus mengurus pembayaran UKT-nya yang tidak terverifikasi ke Gedung Pusat.

Menyisakan Yugyeom, Jeongguk dan Taehyung.

“Keberatan jika aku merokok?” Tanyanya pada kedua temannya yang berdiri di sekitarnya dan keduanya menggeleng.

“Silakan.” Taehyung mengangguk, mempersilakan sebelum kembali menunduk pada ponselnya dan Yugyeom juga mengangguk, tidak nampak keberatan sama sekali.

Jeongguk selalu minta izin jika akan merokok karena dia paham tidak semua orang tahan menghirup aroma rokok. Dia mengingatkan diri untuk bertanya pada para perempuan apakah mereka keberatan dengan rokok.

“Kau pulang?” Tanya Jeongguk kemudian, merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak rokok. Taehyung berdiri di sisinya, menatap layar ponselnya.

“Tidak,” katanya, menatap Jeongguk yang sekarang menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya dan menyalakannya dengan pematik. “Aku ingin cari makan siang. Kalian mau makan?”

Yugyeom mengangguk, “Kita makan apa? McD?” Tawarnya.

Jeongguk mengembuskan asap rokoknya, menawarkannya pada kedua temannya dan berpikir mereka akan langsung menolaknya, namun ternyata Taehyung meraih kotaknya; mengambil sebatang.

Jeongguk menatapnya. “Kau merokok, Bung?” Tanyanya, setengah geli dan setengah kaget—tidak menyangka sama sekali.

“Apa?” Tanya Taehyung, mengambil rokok Jeongguk dari mulutnya dan menyulut rokoknya dengan bara api rokok Jeongguk.

Wow. Itu seksi, pikir Jeongguk. Hal yang biasa saja, dia sering melakukannya dengan teman-temannya jika tidak ada pematik saat akan merokok. Namun ada sesuatu dari cara Taehyung meraih rokoknya, menempelkan baranya di rokoknya sendiri lalu menghisap rokoknya berkali-kali; agar bara menyala yang nampak tidak biasa sama sekali.

Asap berhamburan di wajahnya, sejenak mengaburkan pandangan Jeongguk sebelum Taehyung menghembuskan asap pertama rokoknya, mengembalikan rokok Jeongguk ke mulutnya; jemarinya menyentuh bibir Jeongguk. “Aku terlihat sealim itu, ya?” Tanyanya, menyukar rambutnya dan menaikkan sebelah alisnya—menggoda.

Jeongguk menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah, setengah menyerigai. “Tidak semenjak kau menawarkan diri untuk membantuku membidik asetku saat membuang urin.”

Taehyung tertawa, serak dan berat—suaranya membelai kulit Jeongguk dengan cara yang begitu aneh. “Kau akan menemukan banyak hal yang membuktikan betapa tidak alimnya aku nanti, satu bulan di bawah atap yang sama.”

Alis Jeongguk naik sebelah, tertarik. “Menarik.” Katanya sopan, menyesap rokoknya.

“Anu, Kak? Permisi?”

Keduanya mengerjap, menoleh ke Yugyeom yang meringis—terlupakan saat mereka berdua sibuk melemparkan mata pancing pada satu sama lain seperti dua ekor binatang buas.

“Makan siang?” Tanyanya, tersenyum lebar hingga Jeongguk ingin mengulurkan tangan dan mengacak rambutnya—anak manis, Yugyeom itu. “McD Ambarrukmo?”

“Maaf, maaf.” Kekehnya. “Ya. Boleh,” katanya memasukkan kotak rokoknya ke waist bag yang diselempangkannya melintang di dadanya. Dia menjentikkan abu rokoknya ke tempat sampah di sisinya. “Aku bisa membonceng salah satu dari kalian yang tidak buru-buru daripada kita ke sana dalam tiga motor.”

“Aku,” Taehyung nyengir. “Aku kosong seharian.”

Jeongguk menjentikkan jarinya dan Taehyung tertawa—mudah membuatnya tertawa, Jeongguk menyadarinya. Selama pertemuan tadi, dia tidak berhenti membuat semuanya tertawa dengan selera humornya. Yugyeom menimpalinya dengan sangat ceria seperti seekor anak anjing yang senang.

Kelompoknya terasa sangat akrab padahal mereka baru saja bertemu; terima kasih kepada Yugyeom dan Taehyung yang ternyata sangat cerewet—tidak seperti yang dibayangkan Jeongguk. Dahyun dan Momo pun syukurnya bukan tipe perempuan merepotkan yang manja—mereka terlihat tidak neko-neko dan bisa mengangkat galon mereka sendiri.

Jeongguk benar-benar harus lebih rajin ibadah sekarang karena dia yakin keberuntungan ini ada harganya.

Yugyeom tertawa. “Ayo, Kak. Aku lapar.” Katanya, memimpin para seniornya ke arah parkiran.

“Tidak perlu 'kak',” kata Jeongguk, merangkul Yugyeom hangat saat mereka menyeberangi jalan ke arah parkiran. “Jeongguk saja cukup.”

Taehyung mengekor mereka, tertawa. “Taehyung saja cukup.” Tambahnya. “Lagi pula aku tidak gila hormat. Panggil saja Taehyung, terdengar lebih akrab.”

“Kalau 'sayang', boleh tidak?” Kerling Jeongguk saat mereka melompati tanaman hias dan mendarat di lahan parkir yang diberi kanopi-kanopi rapi sementara Yugyeom merogoh sakunya mencari kunci dan karcis parkir.

“Boleh, dong.” Taehyung mengedipkan sebelah matanya, menjentikkan abu rokoknya dan Jeongguk tertawa. “Apa, sih, yang tidak untukmu?”

Jeongguk tertawa. KKN-nya akan jadi pengalaman yang luar biasa, dia bisa merasakannya.

“Tolong acara saling menggodanya dibuat lebih samar, ya, Kak. Jangan terang-terangan begitu.” Yugyeom mendesah di antara mereka dan Taehyung merangkulnya dari sisi lainnya—mereka berjalan di lorong sempit parkiran seperti bayi kembar siam.

“Kenapa memangnya? Kau punya pacar tidak, Yug?” Tanya Jeongguk, menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke pinggir, menjauh dari teman-temannya.

“Punya, lah. Jelas.”

“Wah, sial. Aku tidak.”

“Payah.” Sahut Taehyung terkekeh dari sisi Yugyeom satunya; tangan mereka tumpang tindih di bahu Yugyeom. “Wajah bajingan, motor keren, eh jomlo.” Godanya dan Yugyeom tertawa.

Jantung Jeongguk berhenti berdetak sejenak, “Oh, ya?” Katanya, berusaha sekuat tenaga agar nampak tenang walaupun dia panik. Apakah ini berarti... “Memangnya kau punya?” Tanyanya, berdebar—tolong, jangan. Jangan. Jangan...

“Tidak juga, sih.” Taehyung tertawa dan Yugyeom tertawa semakin keras, mengatakan sesuatu yang tidak didengar Jeongguk karena perasaan lega membanjiri seluruh tubuhnya; membuat telinganya berdenging.

Jeongguk menghembuskan napasnya, yang entah sejak kapan ditahannya. Jantungnya kembali berdebar dengan rileks. Syukurlah.

Syukurlah.


“Dia hanya tidur, tenanglah.”

Bian mengusap sisa air mata di sudut matanya, menatap Antonio yang terbaring di ranjangnya dengan napas teratur—tidur damai yang membuat hati Bian terasa kebas. Apakah sekarang dia tidur lelap tanpa mimpi?

Dia menolak melepaskan tangan Antonio sejak dia dibawa kembali pulang. Semuanya kacau balau saat perempuan itu menolak melepaskan Antonio namun ternyata Antonio cukup kuat untuk melepaskan diri. Bian tidak sudi mengingat prosesi itu sama sekali; mendengar raungan Antonio yang kesakitan sudah cukup untuk membuat tidurnya tidak nyenyak selama beberapa bulan.

Namun akhirnya saat pintu itu terbuka, Antonio dipapah sang ayah. Beraroma pekat menyan dan tubuhnya berasap tipis. Dan ayah keluarga itu tidak nampak sehat sama sekali sementara si anak bungsu merajuk. Dia anak yang manis; sehat dengan mata bulat dan rambut yang lembut. Bocah lelaki yang nantinya pasti tumbuh menjadi sosok yang sangat menarik.

Sayang sekali sejak dini dia sudah diklaim menjadi milik makhluk yang tidak diinginkannya. Lalu sang ayah memberikan Jin sebuah jimat, sesuatu yang harus Antonio gunakan sepanjang waktu agar perempuan itu tidak menemukannya lagi.

Jin menerimanya, sebuah mirah yang berkilauan—nyaris mengerikan karena warnanya semerah darah. Dia mengangguk, untuk saat ini mirah itu berada di kantung serut mungil yang dikalungkan di leher Antonio dengan tali kulit; bersemayam tepat di atas jantungnya. Kata sang ayah, mirah itu akan membuat Antonio tidak terlihat bagi si perempuan. Dan dia juga melarang Antonio lewat di depan rumahnya lagi.

“Berusahalah memutar.” Katanya serius, “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Usahakan mirah itu berada persis di atas jantungnya.” Dia melirik anak bungsunya yang sekarang menatap mereka dengan mata merah dan rahang mengencang—nampak sungguh dendam.

“Dia tidak akan melukai siapa pun lagi kali ini.” Sang ayah menjamin lalu menyalami Jin, memohon maaf sebesar-besarnya atas masalah yang telah dia timpakan pada Jin selama ini. “Saya sudah berusaha kuat mendiskusikan segalanya dan berhasil membuatnya setuju.” Dia mendesah, kelelahan. “Saya mohon maaf kepada Kak Jin dan Nio atas ketidaknyamanan ini. Jika saja kami tahu lebih awal.”

Bian menatap Jin, bertukar senyuman lega karena mereka memutuskan untuk percaya sisi hitam alih-alih terus mencoba mencari jawaban medisnya. Hosein menelepon saat mereka baru tiba, mengatakan dia baru saja mendarat di Soetta dan akan segera datang. Jin membiarkan teleponnya menyala dalam mode hands-free, membiarkan semua orang mendengarkan Hosein yang meminta maaf karena memaksa mereka semua menempuh jalur medis dan menolak mendengarkan Jin sejak awal.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu karena tidak percaya ilmu hitam.” Jin mendesah untuk kesekian juta kalinya pada Hosein. “Datanglah ke rumah, kita makan untuk merayakan kesembuhan Nio.”

Bian tersenyum simpul; toh ternyata Jin juga memiliki sisi kekanak-kanakan persis Antonio.

“Mimpi padang rumput itu menjadi penanda bahwa beliau tertarik padanya.” Kata sang ayah saat Bian bertanya. “Dan burung kakak tua itu sebuah pilihan, jika dia menyentuhnya maka beliau akan menemukan jalan masuk ke dalam tubuhnya. Setiap calon inang mendapatkan mimpi itu dan mereka harus menyentuhnya, harus menerima jika beliau menggunakan tubuh mereka. Jika saat itu Antonio tidak menyentuhnya dan pergi dari sana, mungkin dia tidak akan mengalami ini.

“Seharusnya begitu dia menyentuh burung kakak tua itu, padang rumput gersang itu akan berubah menjadi subur. Begitu indah hingga dia tidak akan mau pergi dari sana; itu ilusi yang digunakan beliau untuk menahan inangnya.”

Bian bergidik, tidak menyangka hal sesederhana mimpi ternyata dapat menjadi sebuah awal dari huru-hara. Pematik kejadian yang jauh lebih serius lagi. Dia akan mengingatnya; jika dia bermimpi ada dua burung kakak tua, dia akan berbalik lalu kabur dari sana.

Dan semuanya berakhir damai.

Romo Herry memberkati sebuah kalung perak yang nantinya akan digunakan sebagai kalung untuk mirah yang didapatkan Antonio. Dia juga memberikan air yang sudah diberkati untuk diminum Bian serta Jin, memberkati rumah serta kamar Antonio—semuanya demi mencegah perempuan itu kembali. Dia meminta Jin membeli salib untuk diletakkan di kamar Antonio, juga memberikannya sebuah rosario baru.

“Jiwanya sudah berlubang karena sempat dihuni makhluk sekuat itu, jadi dia akan lebih lemah pada roh-roh halus.” Romo Herry memperingatkan dan Jin mengangguk, dia akan menambahkan berkat pada kalung perak yang nantinya akan melindungi Antonio.

Mirah di kantung kulit itu terasa berdenyut hingga Bian begitu ngeri saat menerimanya dari Jin yang memintanya mengalungkan benda itu ke Antonio. Dan kekasihnya mendesah saat benda itu menempel di jantungnya, membuat organ itu berdetak sedikit lebih hangat dari biasanya.

Bian mengamati Antonio beberapa menit setelah mirah itu berdenyut di atas jantungnya dan senang saat menyadari kekasihnya tidur semakin lelap dan tenang.

“Hidupnya berdebar, lebih kuat sekarang.” Romo Herry mengangguk. “Sudah selesai.” Dia mendesah, menepuk bahu Bian hangat dan sayang. Dia tersenyum ramah. “Semuanya sudah selesai.”

Sekarang Antonio hanya tidur, nyenyak sekali—kelelahan sementara Jin mengatakan Hosein akan tiba beberapa jam lagi dan dia akan mengantar Romo Herry kembali ke Bandung.

“Aku akan kembali beberapa jam lagi, Hosein sudah naik taksi. Tidak akan lama lagi.” Jin meremas bahunya, menatap adiknya yang lelap dengan pandangan takzim yang aneh. “Puji Tuhan, semuanya selesai.”

Bian tertawa, serak. “Puji Tuhan.” Balasnya. Senang semuanya sudah berakhir. “Dia bisa mandi air dingin, 'kan, sekarang?” Tanyanya bergurau saat Jin beranjak, kakak Antonio terkekeh.

“Sesering apa pun yang dia inginkan.” Jin meraih kunci mobil. “Aku akan sekalian membeli salib baru untuk kamar Nio, juga memesan liontin untuk mirahnya juga bandul salib yang akan dikenakan bersama mirah itu. Aku tidak mau adikku mondar-mandir dengan kalung tali kulit seperti Tarzan begitu.” Dia menatap Antonio yang terbaring di ranjang.

“Jaga dia sebentar, ya, Bian? Aku melepaskan King, dia akan masuk sebentar lagi. King akan memberi tahumu jika ada yang datang.”

Bian mengangguk, “Hati-hati, Kak!”

Rumah kemudian hening setelah mobil Jin melaju pergi dan Romo Herry melambai hangat padanya. Semuanya selesai, semuanya damai. Keluarga itu dengan tulus meminta maaf atas kejadian yang terjadi dan Bian senang karena mereka tidak memutuskan bahwa mereka akan memenuhi kemauan junjungan mereka seperti apa yang ditakutkannya.

Mungkin fakta bahwa Antonio sama sekali tidak mau dan terus melawan selama dua tahun inimenjadi salah satu faktor kenapa mereka memutuskan untuk melepaskan Antonio dari jeratannya. Mungkin menawarkan penggantinya atau apa karena setahu Bian, makhluk-makhluk seperti perempuan itu tidak akan puas jika tidak mendapatkan gantinya.

Tapi itu bukan lagi urusan Bian apa yang digunakan keluarga itu untuk menukar Antonio dari cengkeraman si perempuan sinting. Itu konsekuensi mereka karena tidak bisa 'mendidik' junjungan mereka bahwa tidak baik mengambil apa yang bukan miliknya.

Bian membelai wajah kekasihnya yang hangat, mendengarkan deru napas lembutnya saat King mendengus memasuki ruangan. Dia mengendus udara sebelum mendengking lirih dan menghampiri Antonio, berbaring di kaki ranjang dengan dagu ditumpukan di lantai—menatap Antonio. Nampaknya sekarang menyadari bahwa Antonio sudah tidak lagi 'ketempelan' hal aneh.

“Kau rindu dia, ya?” Bian terkekeh, membelai King dengan tangannya dan menepuk-nepuk mulutnya dengan sayang. “Dia sekarang sudah sehat.” Dia tersenyum lebar, senang Antonio akhirnya selamat.

“BIAN! NIO?!”

Bian terkekeh, “Here, Kak!” Dia menoleh ke pintu dan menemukan Hosein dengan pakaian rapi menenteng kantung plastik yang beraroma tajam makanan—Bian mendesah, dia nyaris bisa membunuh siapa saja demi sepotong ayam goreng tepung sekarang.

“Hei,” sapa Hosein nampak panik, dia meletakkan kantung plastik di meja makan seraya melepaskan syalnya, beranjak ke kamar Antonio. “Oh, my poor baby,” desahnya menyingkirkan King yang menggonggong marah dari sisi Bian lalu berlutut di sana, menepuk lutut Antonio dan meremasnya.

“Apa yang mereka lakukan?” Tanyanya terengah, matanya tidak lepas dari wajah Antonio yang terlelap—nyenyak sekali hingga Bian takut dia pingsan kelelahan. “Mereka menyakiti bayiku??” Desaknya.

“Tidak juga,” Bian menjawab lalu meringis saat teringat teriakan dan tangisan Antonio selama prosesinya—tapi Hosein tidak perlu tahu, dia pasti akan panik atau menelepon pusat nuklir Rusia untuk mengebom rumah itu. “Dia sudah baik-baik saja sekarang. Dia memberikan Nio jimat untuk menangkalnya, juga meminta Kak Jin menambah salib di kamar Nio,”

Hosein menatap Antonio dengan penuh kasih, nyaris merasakan langsung sakit yang dirasakan Antonio. “Kau sudah makan, Sayang?” Tanyanya pada Bian. “Makanlah sesuatu. Aku membelikanmu Burger King, kuharap kau suka?”

Bian mengangguk, dia nyaris mati karena kelaparan. Maka dia bangkit, menatap Antonio sekali lagi sebelum beranjak ke meja makan. Membongkar kantung plastik dan meraih sebuah Whooper dari dalam sana saat Hosein menggiring King keluar dari kamar Antonio dan menutup pintunya.

“Kita biarkan dia tidur.” Dia mendesah, melepaskan long coat-nya lalu mendudukkan dirinya di sofa. “Syukurlah aku bisa mendapatkan tiket terakhir penerbangan ke Jakarta.”

Bian membenamkan giginya ke roti empuk makanannya dan mengigitnya, nyaris menangis saat rasa makanan meledak di dalam mulutnya. Dia mendesah, menyuap lebih banyak lagi hingga Hosein terkekeh.

“Ada banyak.” Katanya berdiri, mengeluarkan lebih banyak makanan yang membuat Bian mendesah senang. “Makanlah yang banyak, jika kau mau makanan lain pesan saja. Aku yang bayar.” Dia mengusap rambut Bian sayang. “Kau sudah berjuang hari ini.”

Bian nyaris tidak menyadari makanannya saat dia menjejalkan burger kedua ke mulutnya, mengunyah dengan cepat seperti kesetanan sementara Hosein menyeduh teh setelah perjalanan jauh yang terburu-buru. Perutnya berdendang ceria, menyanyikan lagu bahagia saat makanan memenuhi rongga lambungnya. Bian meraih sepotong ayam; masih merasa cukup lapar untuk makan, sudah akan menyuapnya saat suara erangan terdengar.

Dia berhenti makan, Hosein langsung berlari dari dapur ke kamar Antonio. Dia menyentakkan pintunya terbuka. “Hei,” sapanya lembut—nada paling lembut yang pernah Bian dengar. “Kau lapar, Sayang?”

“Kak Hose?”

Bian meletakkan ayamnya, bergegas mengelap tangannya saat mendengar suara Antonio yang lemah dan parau.

“Bian?”

“Hadir, hadir!” Bian menyambar tisu handuk di sisi wastafel dan menghambur ke kamar Antonio sambil mengelap mulutnya. Dia meluncur masuk, melihat kekasihnya sedang menatapnya. “Aku sedang makan, maaf. Kau mau makan?”

Antonio menggeleng, “Tidak lapar.” Katanya lalu bersendawa kecil. “Aku lelah sekali.” Dia mendesah panjang.

Hosein duduk di kaki ranjang, memijat kakinya sayang. “Kau mau kubuatkan teh? Susu?” Tawarnya. “Kakakmu sedang ke Bandung, mengantar Romo Herry lalu membeli beberapa hal untuk kamarmu.”

Antonio mengangguk, “Aku bebas?” Tanyanya pada Bian yang duduk di sisinya. Antonio membawa kepalanya berbaring di pangkuan Bian, menyusupkan kepalanya di sana dengan nyaman. “Aku bebas, 'kan?”

Bian tertawa kecil, “Bagaimana jika kau yang beri tahu aku.” Dia tersenyum saat kekasihnya mendongak, menatapnya penuh kasih hingga jika saja tidak ada Hosein di sana, Bian pasti merunduk dan menciumnya—begitu bahagia.

“Tidurmu nyenyak?”

Antonio tersenyum, meraih tangan Bian dan mengecup denyut nadinya dengan intim hingga Bian merona; tidak berani melirik Hosein. “Tidak pernah senyenyak itu selama dua tahun.”

Cukup.

Itu cukup bagi Bian; semuanya selamat.

*

cw // Indonesian dark arts practice , fear , trauma .


Bian menatap Antonio yang sekarang duduk di kursi penumpang, dia tidak mengizinkan Antonio mengemudi hari ini dalam perjalanan mereka pulang ke BSD. Antonio nampak lelah, pucat dan kisut karena tidak tidur semalaman; dia mengeluh lambungnya nyeri maka Bian menghentikannya minum kopi.

Antonio sejak tadi makan roti secuil-secuil seperti seekor burung dan minum air putih, berusaha keras mempertahankan matanya tetap terbuka. Dia bersandar di kursi mobil yang diturunkan, menutupi matanya yang terasa pedas sementara musik mengalun dari audio mobil Bian yang lembut.

“Kau ingin makan?” Tanya Bian saat melihat logo McDonals di kejauhan. “Es krim atau apa? Kita bisa mampir ke McD.” Dia melirik Antonio yang mengerang.

“Tidak, tidak.” Keluhnya, “Lambungku terasa mengerikan.” Dia berdeguk dan Bian meringis, sejak tadi Antonio muntah asam lambung; terlalu tegang dan takut karena Bian menunjukkan padanya tentang pesan Jin yang menemukan “rumah” asli perempuan itu.

Bian tidak ingin membayangkan bagaimana sekarang rasanya di dalam kepala Antonio.

Dari penjelasan via telepon buru-buru Jin, ternyata pemilik aslinya hanya empat rumah dari rumah Jin. Tetangga mereka yang sering menyapa King tiap kali Antonio membawa King lari pagi bersamanya. Mereka ramah, selalu ramah pada keluarga mereka. Jin tidak pernah curiga walaupun tiap pulang dia selalu mencium aroma menyan, tapi dia mengedikkan bahu; paham tidak semua orang punya kepercayaan yang sama dengannya.

Lagi pula kepala lingkungan mereka orang Hindu Bali, mereka sering menyalakan berpuluh-puluh dupa tiap hari raya dan Jin sudah terbiasa dengan aroma itu.

King tidak berpikiran sama. Anjing itu suka menyalak di depan rumah itu, menggeram tiap kali pemiliknya menyapa Antonio yang sedang lari pagi. King membenci mereka dan sejak saat itulah Jin akhirnya mendapat teguran tentang anjingnya lalu berhenti mengajaknya jalan-jalan.

Sejak Antonio berubah menjadi perempuan, King lebih sering menyalak padanya. Gusar jika Antonio mendekat, Jin pikir itu karena Antonio sudah tidak pernah mengajaknya jalan-jalan lagi dan King sentimen karenanya.

Seharusnya aku tahu,” kata Jin di seberang sana dan Bian bisa mendengar rasa frustasinya karena selama nyaris tiga tahun berjuang, jawabannya ternyata ada di bawah hidung mereka.

“Sekarang pertanyaannya hanyalah apakah mereka sengaja mengirim perempuan ini kepada Nio, atau...?” Tanya Bian, mendongak dan menemukan Antonio melangkah ke arahnya dengan tampang seperti zombi.

Romo Herry merasakan kekuatan yang sama berdenyut di rumah itu, kekuatan yang sama dengan yang berdenyut di tubuh Antonio—namun lebih lemah, nyaris pudar. Namun tetap berdenyut di sana. Dugaan mereka, mungkin mereka sengaja mengirimnya karena King yang menyebalkan. Namun konsep ini membuat Jin begitu murka.

Mereka membuat adikku menderita selama ini hanya karena anjing bodoh?! Aku akan merontokkan gigi mereka dengan kepalan tanganku!”

Konsep yang lainnyalah konsep yang sekarang mereka terima.

Bian mengemudi dengan tenang, berusaha menjaga kepalanya tetap tenang sementara Antonio di sisinya mengerang terus-menerus karena ketakutan. Bian tidak yakin apakah dia mengerang karena kurang tidur, takut atau karena sedang disiksa di kepalanya sendiri.

“Dia membencimu.” Antonio tercekat setelah memuntahkan asam lambung pertamanya di hall hingga semua mahasiswa kaget. “Dia sangat membencimu. Dia marah, dia marah.” Katanya pada Bian yang merinding—teringat bagaimana 'Nia' mengatakan padanya beberapa bulan lalu.

Aku suka kau.

Teringat kilatan superior di matanya; mengancam dan membuat perut Bian melilit.

Dia tiba-tiba saja terhuyung, nyaris terjerembab di lantai jika Bian tidak meluncur ke arahnya untuk menangkapnya. Dia berdeguk lalu muntah di kaki Bian, gemetar dan kebingungan. Antonio tidak tidur semalaman, ketakutan dan sekarang sedang dicekam teror perempuan sinting di kepalanya.

Bian merasakan tikaman rasa nyeri di dadanya karena tahu bahwa dia yang menyebabkan kemurkaan perempuan itu kali ini. Dia sudah berusaha melakukannya diam-diam, tapi cara itu tidak berakhir baik. Antonio salah paham dan dia akhirnya terpaksa memberi tahu Antonio, terpaksa membuatnya menjalani siksaan batin ini.

“Antonio? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?” Tanya salah satu dosen mereka yang kebetulan lewat. “Bawa dia ke UGD, Arfabian. Apakah dia punya tukak lambung?” Tanyanya dengan lembut menekan ulu hati Antonio dengan tangannya dan Antonio merespons sentuhannya dengan erangan keras.

Bian pening. Dia ingin muntah juga, seperti Antonio. “Tidak, Dok. Dia akan saya bawa ke rumahnya, dia butuh dirawat di rumah.”

Dosen mereka menatapnya seolah Bian sudah sinting tapi akhirnya Bian berhasil meloloskan diri. Dibantu Yoga dan Danny, mereka membawa Antonio ke mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang sebelum Bian menginjak gas bergegas berangkat ke BSD.

Bian meraih tangan Antonio, meremasnya. “Kami akan menyelamatkanmu hari ini.”

Antonio mengerang sebagai jawabannya, berdeguk dan bersendawa. Kelihatan begitu mengerikan hingga Bian yakin dia tidak akan bisa melupakan hari ini selamanya. Dia juga ketakutan. Jika konsep pertama yang benar, maka mudah bagi mereka untuk melepaskan perempuan ini. Mereka hanya perlu minta maaf, menyelesaikannya secara baik-baik dan meminta perempuan ini diambil.

Namun masalahnya, jika ternyata perempuan ini ada di tubuh Antonio karena konsep kedua; maka sepertinya akan sulit sekali.

Bian mencengkeram roda kemudi dengan lebih kuat, hingga buku-buku jemarinya memutih dan menginjak gas lebih dalam lagi—mobilnya menggeram merespons injakannya dan melesat di jalanan menuju rumah.


Wait, what?”

Saat Bian tiba, Jin sedang menerima telepon Hosein yang panik. Mencoba mencari tiket penerbangan dadakan ke Indonesia namun tidak berhasil. Bian bisa mendengar dengung suaranya yang panik dari ponsel Jin, terenyuh pada bagaimana Hosein sangat peduli pada Nio nyaris seperti adiknya sendiri. Jin memintanya menunggu sementara Bian bergegas membantu Antonio menuruni mobil.

Jin menjauh, mengatakan sesuatu dengan nada tegang pada Hosein di seberang sana; terlalu pelan untuk didengar Bian.

Romo Herry bangkit dari teras, membantu Bian memapah Antonio dan mendudukannya di teras. Antonio bernapas dari mulutnya, nampak sama sekali tidak sehat. Romo Herry mengusap keningnya, menatap Bian dengan tatapan yang sama sekali tidak diapresiasi Bian.

“Dia terus melemah.” Katanya, menyentuh denyut nadi Antonio. “Sepertinya dia sedang tersiksa di dalam sana, terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar. Bisakah kau bicara dengannya?”

Bian menggeleng, menggenggam tangan Antonio erat-erat dan meremasnya. “Sejak tadi jawabannya hanya erangan dan igauan.” Bian merasa takut—bagaimana jika larangannya agar Antonio tidak minum kopi malah membuat semuanya semakin runyam?

“Tangannya dingin sekali.” Romo meremas tangannya lalu menoleh ke Jin yang mematikan sambungan, menghampiri mereka dengan rahang kencang dan wajah pucat pasi. “Kita ke sana sekarang?” Tanyanya.

Jin mengangguk, menatap adiknya dengan tatapan yang begitu mengerikan oleh luka. Dia berdiri di sana, tidak berani mendekat dengan tatapan yang koyak oleh rasa sakit. Bahunya turun, rikuh dan rapuh. Bibir bawahnya gemetar saat dia bertanya.

“Haruskah saya menghubungi kepala lingkungan, Romo?” Tanyanya.

Romo Herry mengangguk, “Menurut saya memang sebaiknya begitu.” Dia kemudian berdiri dan Jin langsung membantu Bian memapah adiknya.

“Seharusnya aku mengajak Yoga atau Danny,” kata Bian saat mereka menyeret Antonio ke rumah yang dimaksud.

Bian tidak pernah mengamati rumah itu tiap berkunjung ke rumah Antonio. Rumah sederhana dengan tembok putih, gerbang tinggi dan tanaman hias di halamannya. Nampak seperti rumah normal di lingkungan Jin; tidak ada yang sangat menyolok dari rumah itu. Ada sebuah mobil terparkir di garasinya dan saat mereka tiba, pemilik rumah baru saja membuka pintu. Anak pertama mereka, lelaki sehat yang nampak benar-benar kaget.

“Oh, astaga!” Serunya langsung berlari ke gerbang dan membukanya dengan panik. “Ada apa dengan Nio, Kak?” Tanyanya.

Bian melirik Jin yang balas meliriknya; sepertinya konsep kedua semakin terasa benar saat ini. Karena dia nampak benar-benar kaget dan kebingungan saat membantu Bian membawa Antonio ke teras, mendudukannya di salah satu kursi rotan. Antonio mengerang di setiap sentuhan atau setiap benda padat yang mengenai tubuhnya; Bian tidak ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi di dalam kepala Antonio sekarang.

“Ayah!” Serunya, “Ada Kak Jin di sini!”

Ayahnya bergegas keluar dengan wajah kebingungan, dia tersenyum canggung. “Oh, halo, Kak Jin. Ada apa, ya?” Sapanya lalu menunduk, menyadari Antonio yang mengerang seperti seekor binatang di terasnya. “Astaga! Kau butuh bantuan membawa Nio ke rumah sakit?? Dia kenapa??”

Romo Herry lalu melambaikan tangan, tersenyum sangat menyejukkan hingga Bian ingin menangis. “Tidak, Bapak. Kami tidak perlu ke rumah sakit,” katanya tenang lalu melirik Jin yang mengangguk—dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan adiknya.

“Kami ke sini karena ingin,” dia kemudian berhenti dan menyadari banyak tetangga mulai mengintip mereka dengan penasaran karena Antonio terlalu banyak mengerang.

Romo Herry berdeham, “Bagaimana jika kita bicarakan di dalam saja?” Tawarnya dan sang ayah mengerjap, sejenak kebingungan sebelum menyadari tetangga yang berdatangan.

“Oh, mari, Romo. Silakan, silakan.” Dia bergegas mempersilakan semuanya masuk ke dalam dan menutup pintu—menghalangi semua orang untuk melihat dan mencari tahu.

Jin bergegas pergi memanggi kepala lingkungan mereka sementara Antonio gemetar di sofa, berdeguk-deguk dan di mata Bian dia nampak seperti seekor binatang yang sudah terkena racun, siap mati kapan saja. Saat mereka duduk, sisa keluarga bergabung; istri dan putra bungsunya yang pendiam, meringkuk di sisi ibunya seperti janin yang kedinginan. Matanya menatap Antonio, menatap Bian lalu menatap Romo Herry.

Kilat di bola matanya menyadarkan Bian, jika mereka memang di sini karena konsep kedua maka anak inilah yang seharusnya menjadi inangnya.

Sang ayah nampak rikuh sekarang, mulai menyadari apa yang mungkin Romo Herry ingin katakan. Dia duduk di ujung sofa, nampak ketakutan melirik Antonio yang kesakitan.

“Jadi,” katanya parau. “Apa yang bisa saya bantu, Romo?”

Romo Herry tersenyum, “Kami datang ingin meminta Anda untuk mengambil perempuan ini dari tubuh Antonio.”

“Perempuan...?” Ulang sang ayah, mengerjap kebingungan saat dia berusaha memproses informasi itu lalu terkesirap keras; menoleh panik ke anak bungsunya yang menyerigai. “Bagaimana...?!”

“Jika menurut kata-kata Antonio,” Bian angkat suara dan sang ayah menoleh ke arahnya, nampak benar-benar panik dan ketakutan sekarang. “Dia bermimpi didatangi perempuan ini sekali lalu kemudian serangkaian mimpi aneh yang sama sebelum dia berubah menjadi perempuan.”

Keluarga itu terkesirap dan Bian positif.

Perempuan itu seharusnya tinggal di tubuh anak bungsunya, seperti sebuah ilmu hitam yang diwariskan turun-temurun namun entah bagaimana dia kabur dan memilih untuk tinggal di tubuh Antonio. Romo Herry juga menjelaskan, biasanya jika tubuh manusia akan digunakan sebagai 'media' untuk tinggalnya makhluk asing, mereka akan dilatih—diberikan semacam 'ajian' agar kuat menampung kekuatan itu.

Dan Antonio yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk itu, kewalahan.

Ayah itu menatap anak bungsunya, nampak ketakutan dan Bian tidak menyalahkannya. Dia pasti kaget karena ternyata junjungannya yang terhormat selama ini tidak tinggal di tubuh yang semestinya.

“Bisakah Anda membantu anak ini?” Tanya Romo Herry kemudian, lembut sekali hingga Bian terenyuh mendengarnya. “Dia sudah begitu tersiksa selama dua tahun berusaha melaksanakan tanggung jawab yang bukan kapasistasnya.”

Sang ayah terkesirap lagi, “Dua tahun?” Ulangnya, kebingungan. “Tapi dia di sini, dia di rumah....” Dia terdengar linglung lalu menatap Antonio yang gemetaran. “Apakah dia berubah menjadi perempuan saat terkena air dingin?”

Bian mengerjap, “Ya.” Katanya.

“Panas ketika menjadi perempuan dan dingin saat kembali menjadi lelaki?”

”... Ya.”

“Astaga!”


Saat Jin kembali dengan kepala lingkungan, adiknya sedang dipapah menuju ruangan lain di belakang rumah.

Kepala lingkungan mereka memilih menjauh dari masalah dan duduk di sofa, menanti dengan tenang sementara Jin bergegas berlari mengejar rombongan itu. Mereka memasuki ruangan kecil, sebuah kamar yang membuat Antonio mendadak begitu ketakutan. Dia berhenti, menolak memasuki ruangan itu dengan histeris—tiap erangan, tiap rengekan dan tiap isakan Antonio meremas hati Bian dengan cara yang tidak manusiawi.

Bian menyadari bahwa kamar itulah 'kamar pengantin' yang selalu diceritakan Antonio di dalam mimpinya. Ruangan itu tidak terlalu mengerikan, tidak seperti yang dibayangkan Bian kecuali aroma bunga sedap malam yang begitu pekat dan menyesakkan. Ada ranjang di tengahnya, dengan nampan terisi banyak sesajen yang membuat Bian mual. Ruangan itu ditata dengan apik, rapi dan nyaris megah—berlawanan dengan keseluruhan konsep rumah itu.

Antonio menempel pada Bian, menolak memasuki ruangan itu; menangis liar dan menggeleng histeris.

“Jangan, tidak. Aku tidak mau.” Isaknya, mencengkeram kaus Bian dengan jemarinya dan Bian nyaris menangis bersamanya—dia yakin Antonio tidak mau, tapi tidak ada jalan lain. “Bian, jangan. Tolong. Jangan.” Isaknya, memelas sedemikian rupa hingga Bian akhirnya meledak dalam tangis.

“Nio,” isaknya, “Nio, Nio. Kau harus masuk.” Mohonnya, tercekat oleh nyeri di hatinya sendiri. “Jika kau tidak masuk dia tidak akan keluar.”

Antonio menangis, semakin kuat dan semakin menyayat hati hingga Jin akhirnya mundur dari sana. Tidak sanggup menatap dan mendengar tangisan adiknya. Dia terhuyung, dibantu oleh anak sulung keluarga itu untuk duduk di salah satu kursi meja makan.

Sang ayah meraih tangan Antonio, “Tidak akan ada yang disakiti.” Katanya, namun terdengar tegang. “Saya hanya akan bicara padanya, memohonnya kembali.”

Bian memejamkan mata saat dia melepaskan tangan Antonio dari pakaiannya, melepaskan cengkeraman kekasihnya yang melolong liar—sama sekali tidak terdengar seperti manusia sekarang. Antonio terus mencoba menariknya, tidak mau memasuki ruangan itu bersama sang ayah dan anak bungsunya, berusaha melepaskan perempuan itu dari tubuhnya.

Dia tidak mau bertanya jika sang ayah nantinya gagal “memohonnya” kembali, apa yang akan terjadi?

Bian berusaha keras, menarik tangan Antonio yang dingin lepas darinya. “Maafkan aku, Nio! Maafkan aku!” Isaknya, melepaskan tangan Antonio dari tubuhnya.

“Tidak mau, tidakmautidakmau!” Isak Antonio, menggeleng histeris pada kekasihnya berusaha meminta bantuan yang Bian tahu tidak bisa diberikannya.

Saat dia berhasil melepaskannya, sang ayah langsung menarik Antonio ke dalam kamar dan Bian terjatuh di lantai. Terisak liar saat mendengar teriakan Antonio sebelum pintu dibanting menutup dengan suara debum lembut. Bian menangis, hatinya terasa diremas-remas, dicengkeram tangan tak kasat mata dan diremukkan dengan cara paling tidak manusiawi.

Dia masih bisa mendengar teriakan Antonio yang teredam dari dalam sana, menangis memanggil Bian dan kakaknya, namun mereka tidak bisa melakukan apa pun. Antonio harus di dalam sana agar dia selamat.

“Kami, tidak menyangka beliau di sana selama ini.” Kata sang istri dalam rangkulan anak lelaki sulungnya. “Anak bungsu kami yang seharusnya menampungnya nampak baik-baik saja.”

Romo Herry menatapnya, “Tidak sulit menerka motifnya,” katanya tenang sementara di belakang sana Antonio meraung-raung. “Dia mungkin melihat Antonio dan memutuskan dia menginginkan anak itu.”

Sang istri meremas tangan anaknya, nampak pucat pasi. “Saya...” bisiknya lemah, “Saya tidak pernah menyukai ini.” Gumamnya dan Bian menatapnya dari balik air mata yang memudarkan pandangannya. “Tapi, ini... warisan.” Dia terisak, “Kami mau tidak mau harus menerimanya.”

Selamat datang di Indonesia, pikir Bian getir. Saat warisan tidak hanya uang, namun juga makhluk merepotkan yang harus mereka urus sepanjang hidup mereka.

Jin yang terduduk lemas di meja makan sama sekali tidak berkomentar, wajahnya pucat pasi. Cadaver yang selalu Bian tatap saat praktikum nampak jauh lebih segar daripada Jin sekarang. Dia mengerang, bernapas dari mulutnya sementara teriakan Antonio masih terdengar dari dalam sana.

Kemudian, suasana tenang. Teriakan Antonio dari dalam sana berhenti, tidak ada yang bersuara; semuanya menatap pintu yang tertutup dengan tegang dan Bian nyaris berpikir Antonio sudah selamat saat dia mendengarnya.

Suara itu begitu halus, mendayu-dayu namun di saat yang bersamaan terdengar begitu mengerikan. Dia bicara, dia mengatakan sesuatu dengan cara yang begitu berkuas namun juga terdengar merajuk.

“Dia milikku.” Begitu katanya, berkali-kali dan suaranya berubah-ubah antara perempuan dan lelaki; suaranya dan suara Antonio. “Aku akan membawanya bersamaku.”

Jantung Bian mencelos, jika sang ayah tidak berhasil membujuknya pulang maka selesailah sudah. Antonio akan terjebak selamanya di sana, menjadi inang makhluk yang tidak diinginkannya dan pada akhirnya akan kalah.

“Nio harus memenangkan pertarungan terakhir ini.” Kata Romo Herry, terdengar cemas saat suara teriakan dari dalam sana semakin mengerikan. “Jika dia menang, maka dia selamat.” Dia mengembangkan telapak tangannya di hadapannya, ujung-ujung jemarinya gemetar. “Kekuatan perempuan itu besar sekali.”

Bian menatap pintu, air matanya meleleh kembali. Bisakah? Bisakah Nio mengalahkannya lagi—sekali ini saja seperti yang selalu dilakukannya? Dia meremas tangannya, tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk dari semuanya.

Terisak lagi saat teringat Yoga dan Danny yang menatap sahabat mereka dengan cemas, mengancam Antonio yang kesakitan untuk kembali dengan BigBox atau mereka berhenti berteman. Bian tidak ingin menjadi orang yang mengabari mereka tentang....

Tentang Antonio.

*

tw // provocative heterosexual scene , sexual assault , homophobic , manipulation , dominatrix , degrading .


“Wah, bagaimana, dong? Kekasihmu tahu aku di sini, ya?”

Antonio menelan ludahnya, berusaha keras agar tidak mengintip. Perempuan itu sedang berbaring nyaman di ranjangnya, separo telanjang dan benar-benar mengabaikan bagaimana Antonio berdiri di sudut ruangan, tegak dan memejamkan mata—tidak ingin melihat tubuhnya sama sekali.

Rambutnya dijalin membentuk mahkota yang tebal dan indah di kepalanya, dengan bebungaan liar disematkan di setiap helainya. Dia nampak begitu megah dan indah jika saja Antonio menyukai perempuan. Serta tidak takut padanya. Dia hanya mengenakan secarik kain sutera tipis di atas tubuhnya, memamerkan dengan pongah betapa indahnya dia di sana—terbaring santai, wajahnya merona senang dengan ujung hidung kemerahan.

“Lalu apa katanya tentang Romo?” Tanyanya, nyaris berdendang. “Menggemaskan sekali, mereka ingin mengusirku, ya? Lucu, mereka pikir mereka bisa melawanku.”

Dia berguling, menelungkup sehingga sekarang Antonio bisa menatapnya dengan lebih nyaman. Antonio berada di kamar pengantin itu, namun kali ini tidak ada aroma bunga sedap malam dan lilin-lilin sialan itu. Hanya ada jendela yang terbuka, aroma lembut mawar yang merekah dan langit yang berwarna merah jambu.

Dia menyesal terlelap, seharusnya dia tahu suasana hati perempuan ini pasti sangat buruk setelah kata-kata Arfabian tadi dan seharusnya dia tidak tidur malam ini.

Bajingan.

“Menurutmu, Antonio,” dengkurnya, menelengkan wajahnya ke satu sisi sehingga anak rambutnya luruh ke pipinya, menumpukan dagunya di telapak tangannya. “Mereka akan berhasil, tidak? Sementara aku di sini, menggenggammu begitu erat di tanganku.”

Dia mengayunkan lengannya, menarik Antonio yang seketika terangkat dari kakinya, melayang ke arah ranjang dan tersungkur di lantai dengan suara gedebuk keras, di bawah kakinya. Antonio mengerang, tubuhnya nyeri karena terbentur lantai namun sebelum dia sempat memikirkan sakitnya, tubuhnya ditarik kekuatan tak kasat mata—dipaksa bersimpuh dengan kedua tangan terikat ke belakang.

Perempuan itu berguling lagi sementara Antonio mendesis, menahan nyeri yang menyerang tempurung lututnya. Dia menurunkan kakinya, mengalungkan tungkainya ke bahu Antonio dan menariknya mendekat—terlalu dekat hingga Antonio nyaris muntah.

Tangannya yang lentik menyusup ke rambut Antonio, meremasnya lalu menjambaknya hingga Antonio mengaduh kaget; dia memaksa Antonio mendongak sebelum merunduk dan mengecup sudut bibirnya.

“Kau sulit sekali ditundukkan,” geramnya lirih di bibir Antonio yang sedikit lagi yakin dia akan meludahkan asam lambung ke wajah perempuan itu. “Aku sudah di sini tiga tahun, berusaha membawamu bersamaku tapi kau terus saja melawan seperti binatang.” Dia menarik rambut Antonio semakin kuat hingga kulit kepala Antonio nyeri.

“Ikutlah bersamaku,” dengkurnya lagi, setelah murkanya lenyap. Dia kembali berubah menjadi rubah betina manipulatif yang menyebalkan. “Kau tidak akan perlu memikirkan hal-hal remeh seperti ini, Antonio. Aku akan membuatmu sangat berkuasa dan bahagia.”

Dia selalu di sana setiap kali Antonio berusaha membawa dirinya ke psikiater, ingin memberi tahu psikiaternya tentang perempuan gila di kepalanya. Setiap dia memikirkannya, malam itu dia akan terjebak dalam mimpi ilusi tanpa akhir yang membuatnya kelelahan; diputar-putar di ruangan tanpa ujung, terjatuh dari langit yang begitu tinggi.

Tidak jarang perempuan itu sendiri yang mendatanginya, seperti seorang dominatrix, memaksanya tunduk dengan cambuk. Menyiksa Antonio agar dia melupakan saja tentang psikiater, merahasiakannya atau dia akan membunuh Antonio saat itu juga. Karena dia bisa, dia mampu. Dia tidak pernah main-main jika dia ingin menyiksa Antonio.

Dia bisa jadi begitu manis dan begitu mengerikan, tergantung suasana hatinya.

Jika dia marah, Antonio akan terserang vertigo parah yang membuatnya muntah-muntah karena murkanya sama sekali tidak manusiawi. Dia akan membuat Antonio demam dan sakit sepanjang minggu hanya karena dia ingin—maka Antonio kemudian belajar untuk menyenangkannya.

Agar dia bisa hidup dengan tenang.

“Kau melemah,” perempuan itu menyerigai, membelai leher Antonio dengan tangannya yang bebas. “Aku bisa merasakan hidupmu menyerah dalam genggamanku, sebentar lagi kau tidak akan bisa merebut hidupmu dariku.” Dia mengecup bagian belakang telinga Antonio yang berdeguk jijik.

“Aku akan membawamu bersamaku, kita akan hidup bahagia selama-lamanya,” dia mendengkur senang, memeluk Antonio hingga wajahnya terbenam di payudaranya yang selembut mentega.

Antonio berdeguk.

“Jangan muntah di payudaraku, Bangsat.” Kata perempuan itu, menjambak rambutnya dan menarik Antonio menjauh dari tubuhnya, nampak gusar dengan rahang mengencang dan alis berkerut.

“Maafkan aku,” bisik Antonio lemah, dia tidak ingin menghadapi kemarahannya sekarang—dia terlalu lelah, dia ingin tidur dengan tenang malam ini. Namun Arfabian yang membahas tentang rencananya memisahkan perempuan ini dari Antonio membuat suasana hatinya buruk.

Antonio sudah merasakannya sejak dia membaca pesan Arfabian; merasakan gelegak murkanya yang seperti kaldu mendidih. Antonio bergidik, terserang serangkaian batuk mengerikan yang membuat kedua sahabatnya panik. Memaksanya minum air hangat dan menelan obat batuk. Namun dia tahu tidak akan ada obat yang bisa menyembuhkannya kecuali dia bersikap manis bak anak anjing di kaki perempuan itu.

“Bagaimana bisa lelaki setampan dirimu malah menjadi...,” dia mengernyit, jijik. “Homseksual.” Dia bergidik, “Sangat menyedihkan. Kau kehilangan banyak kesenangan.” Dia meraih tangan Antonio, meletakannya di salah satu payudaranya dan meremas benda itu dengan tangan Antonio di bawah tangannya.

Dia mendesah senang dan Antonio harus menelan asam lambung yang menyeruak ke mulutnya, menelannya dengan susah payah agar tidak menyinggung perasaannya dan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Tidakkah kau menginginkan ini?” Tanyanya, menatap Antonio dari balik bulu matanya yang panjang dan tebal. “Katakan, Antonio. Maka aku akan mengembalikanmu.”

Antonio berdeguk, ingin menangis dan mati saja hingga di titik ini. “Tidak.” Katanya, tidak bisa sama sekali mengabaikan identitasnya yang menjerit menolak segalanya—jijik dengan sentuhan perempuan itu di tubuhnya.

Dia ingin berguling menjauh, ingin berlari dari sini. Jika saja mereka semua tahu apa yang Antonio harus hadapi jika mereka tidak sopan pada sisi perempuannya...

Jika saja....

Tapi dia yakin Hosein paham sesuatu. Setiap kali Antonio menjadi perempuan, dia selalu menyenangkannya. Dia selalu bersikap lembut dan sayang pada Antonio, selalu membisikkannya bahwa Antonio harus menerima sisi itu agar perjalanannya lebih ringan. Mungkin jika Antonio tidak melawan terlalu keras, kutukan itu akan hilang.

Hosein selalu begitu lembut dan pengertian, begitu hangat dan menenangkan. Dia membuat Antonio merasa sedikit lebih tenang setiap kali harus berhadapan dengan perempuan itu. Dia selalu memberikan suntikan semangat dan rasa positif di pembuluh darah Antonio—membuatnya kuat untuk melawan perempuan itu dalam perebutan benak mereka.

Dia selalu senang tiap kali Hosein berkunjung ke rumah; kehangatan, kelembutan dan kasih sayangnya membuat Antonio nyaman. Seperti seekor anak ayam yang dierami ibunya.

Perempuan itu selalu tertawa mendengarnya, tinggi melengking memekakkan telinga. “Menggemaskan!” Katanya, mengayunkan kakinya ceria—matanya berbinar terhibur. “Katanya kau harus menerimaku, Antonio. Bagaimana menurutmu?”

Menurut Antonio?

Dia ingin menyarangkan tendangannya ke wajah perempuan itu.

Jawaban Antonio membuatnya jengkel, dia menjambak rambut Antonio dengan keras dan pemuda itu meraung kaget saat kepalanya dipaksa mendongak. Wajah perempuan itu begitu dekat dengan wajahnya, deru napasnya yang beraroma lembut vanila.

“Jawab seperti apa yang kuinginkan, Antonio, atau aku akan menahanmu di sini seperti kali terakhir.” Dia menatap Antonio yang memejamkan mata, tidak berani menatapnya karena ketakutan menjalar di tulang punggungnya—membuatnya gemetar.

Dia pernah terjebak di dimensi ini nyaris selama satu hari penuh. Yoga mengklaim dia tidur seperti orang mati—12 jam penuh dalam tidur yang begitu lelap hingga Yoga menyelamatkannya dengan menamparnya keras-keras karena cemas. Hari itu dia mentraktir Yoga makan daging sepuasnya, karena telah menyelamatkannya.

Jika Yoga tidak melakukannya, Antonio pasti tidak akan selamat.

“Tidak.” Kata Antonio sekali lagi, kali ini lebih tegas—mengerahkan sisa kekuatannya untuk melawan. Dia berusaha menarik tangannya lepas dari genggaman perempuan itu.

Dia menyentakkan genggaman tangan mereka dan berhasil membebaskan diri. Sudah bangkit akan berlari saat perempuan itu mengayunkan tangannya. Kekuatan tidak kasat mata mencengkeram pergelangan kakinya dan menarik Antonio hingga dia terjerembab dan dagunya menghantam lantai.

Dia meraung kesakitan; berharap dengan nyaris frustasi Yoga mendengarnya.

Dia mencengkeram karpet dengan jarinya saat kakinya ditarik, perempuan itu memaksanya mendekat kali ini menggeram seperti binatang liar dan Antonio tidak mau menghadapi kemurkaannya hari ini. Antonio menangis, terisak-isak ketakutan sementara dia mulai berteriak.

Dia terus meraung, berusaha menahan dirinya agar tidak ditarik ke pelukan perempuan itu sebelum kemudian sebuah bogem mentah disarangkan ke rahangnya.

“Tidaaaak!!!” Seru perempuan itu, meraung seperti seekor singa betina yang terluka, berusaha meraih Antonio agar kembali ke genggamannya namun terlambat; Antonio sudah terbebas dari belenggu alam bawah sadarnya.

Dia terkesirap keras, seolah baru saja dilempar dari ketinggian dan mendarat di kasurnya. Matanya menyesuaikan diri dalam gelap, melihat Yoga dengan kaus kutang dan celana bokser mentapnya ngeri. Rahang bawahnya berdenyut mengerikan dan dia merasakan darah terbit di rongga mulutnya—namun rasa sakit itu membuatnya senang.

Dia selamat. Dia selamat dari perempuan itu.

“Nio?” Panggilnya lembut. “Kau sudah bangun?”

Nio gemetar, dia membekap wajahnya dan mulai menangis—ketakutan mengguncang otak kecilnya membuatnya benar-benar trauma.

Dia selamat...

Yoga mendesah, dia duduk disisi Nio dan merengkuhnya dalam pelukannya yang beraroma seperti sampo Dalkyum yang mendengking di sisi mereka, ikut menangis. Yoga membiarkan Nio menangis di pelukannya—dia selalu melakukannya. Dia selalu menyelamatkan Nio dari mimpi buruknya; selalu mendengar tiap suara erangan keras Nio karena dia light sleeper, terbiasa memenuhi kebutuhan anjingnya.

Dia selalu berlari ke kamar Nio, mendapati temannya sedang bergerak-gerak gelisah, menangis dan berteriak tertahan dalam tidurnya. Dia mengguncangkan tubuh Nio, menariknya bangun hingga akhirnya dia berbisik maaf sebelum menampar wajah temannya dengan keras.

Hingga dia paham satu-satunya cara untuk membuat Nio bangun adalah dengan menampar atau menonjoknya.

“Maaf tentang tonjokannya,” gumamnya. “Sudah lama sejak terakhir kali aku harus memukulmu agar bangun dari mimpi burukmu. Kenapa sekarang dia kembali?” Tanyanya dalam kegelapan dan Nio benar-benar tidak ingin membicarakannya.

“Yoga,” kata Nio, tercekat dengan suara parau yang mengerikan. “Tolong,” dia tercekat. “Tolong sambungkan aku dengan Kak Bi. Aku... tidak sanggup lagi.”

*

tw // horror , appearance of 'Nia' , sexual tension , sex attempt .


enjoy your polling's result.


Ada masa ketika Antonio memimpikan perempuan ini.

Tidak banyak yang tersisa di pagi ketika dia terbangun kecuali perasaan teror dan takut yang membuat tulang punggungnya gemetar. Dia akan terduduk diam di ranjangnya, peluh membasahi kausnya dan merasa disorientasi. Masa-masa saat dia memimpikan perempuan ini terjadi jauh sebelum dia terkena kutukan menjadi perempuan.

Pertama kali bertemu perempuan ini, dia terbangun di sebuah padang rumput luas dengan bebungaan cantik berwarna kuning telor menyala yang mengedip ramah padanya, dengan rerumputan kering yang tinggi gemeresak serta jalan setapak kecil. Ada pohon-pohon meranggas di sekitarnya, membentuk jemari-jemari panjang di langit biru permen dengan awan merah jambu.

Itulah pertama kalinya dia menyadari bahwa dia sedang bermimpi.

Dia melangkah di jalan setapak itu, setiap bunga merunduk padanya; berayun seolah menyapanya dan Antonio tidak bisa tidak takut pada luasnya padang rumput itu. Dia bertelanjang kaki, mengenakan celana longgar kanvas putih yang menyapu tanah saat dia berjalan.

Lalu dia berhenti, di ujung jalan ada sebuah pohon mungil dengan dua kakak tua jambul kuning di atasnya. Berdekut-dekut, mata hitam cerdas mereka menatap Antonio seolah bertanya apa yang dibutuhkannya di sini. Dia melangkah mendekat, menjulurkan tangan hendak menyentuh kakak tua yang nampak jinak itu.

Kakak tua itu mendongak, menatap matanya dengan bola matanya yang gelap dan ujung jemari Antonio menyentuh kepalanya yang lembut. Bulunya begitu halus dan licin, kepala burung itu menyundul tangannya—berdekut meminta Antonio membelainya.

Tepat saat telapak tangannya terkembang dan menyentuh kepalanya, tiba-tiba saja burung itu terlepas dari pohonnya—seperti sekuntum bunga yang tersenggol, putus dari tangkainya. Dia kemudian jatuh begitu saja, terguling ke tanah—mati.

Antonio terkesirap, dia mundur selangkah—jantungnya berdebar saat menatap burung yang mati di tanah. Berubah menjadi boneka burung yang mati, matanya terpejam. Dia menoleh ke saudara si Burung yang menatapnya—tenang, dingin dan membuatnya merasa terancam.

“Wah, wah.”

Antonio menoleh saat suara itu datang dari balik tubuhnya. Dia menoleh ke ujung jalan setapak tempatnya muncul tadi. Sekarang di jalanan itu sudah tumbuh semak hydrangea yang begitu rimbun—ungu, biru pucat, hijau dan putih. Bunga-bungannya gendut dan semarak, nyaris sebesar kepala Antonio. Semuanya gemeresak, tertiup angin tak kasat mata.

Di sana berdiri seorang perempuan, dalam balutan gaun berbahan tile yang jatuh di tubuhnya seperti air terjun.

Ada sulur tanaman yang membelit tubuhnya, membentuk pinggangnya, membentuk payudaranya—menjadi seperti aksen gaun yang indah. Bunga-bunga mungil berwarna merah muda menyolok merekah di beberapa tempat. Seolah perempuan itu adalah Bumi dengan pepohonan di tubuhnya.

Rambutnya gelap, lurus panjang hingga nyaris menyapu tanah di kakinya. Dijalin dengan rapi, diselipkan bebungaan yang indah membentuk mahkota. Ada seekor burung pipit di kepalanya, nampak tenang dan damai berkicau ceria.

“Kau membunuh peliharaanku, ya?” Tanya perempuan itu, kali ini mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu.

Bola matanya tidak seperti mata mana pun yang pernah ditatap Antonio. Warnanya lembut, seperti kelopak mawar. Berkilau seperti embun pagi. Begitu besar dan menggemaskan. Dagunya runcing dengan bibir mungil sewarna koral. Dia indah sekali, Antonio tidak pernah bertemu perempuan seindah ini dalam hidupnya.

“Aku tidak sengaja.” Sahutnya, merasakan kekuatan yang begitu besar untuk berlutut di tanah, menundukkan kepalanya dan menyenangkan perempuan ini. Memujinya, membuatnya tersenyum.... Memastikan dia bahagia dan senang.

Selalu senang.

Memuji Antonio karena dia bersikap baik. Menepuk kepalanya seperti seekor anjing dan melemparkannya cemilan—imbalan karena telah berbuat baik. Antonio nyaris ingin mengibaskan ekornya, terengah di kakinya.

Mata itu menatapnya, bibirnya terkembang. “Karena kau indah sekali,” katanya seperti sedang menyanyi. “Maka aku akan memaafkanmu.” Tambahnya, membenahi selendang sutera tembus pandang di bahunya yang terbuka—pucat seperti porselen.

Dia melangkah, nyaris meluncur ke arah Antonio. Kakinya yang mungil, bergerak serupa dia sedang menari. Menandak ke arahnya seperti seekor rusa betina dan Antonio menyadari dirinya tidak bisa bergerak—dia menatap wajah itu, merasakan kekuatan besar menekan perutnya, memaksanya tunduk.

Memaksanya patuh.

Tangannya terjulur, menyentuh wajahnya dengan lembut. Telunjuknya membelai garis rahang Antonio dengan lembut dan dia mendengkur—senang. Dan menyadari itu, Antonio merasa senang karena telah menyenangkan perempuan itu.

“Oh, kau tampan sekali.” Bisiknya, mencondongkan wajahnya ke Antonio dan menghirup aromanya dengan mata terpejam.

Antonio memejamkan matanya, membiarkan semerbak harum bebungaan tidak nyata itu memenuhi cuping hidungnya. Membuat otaknya macet dan dia gemetar seperti mesin cuci rusak. Tangan berjari kurus itu membelai wajahnya, matanya menatap wajah Antonio dengan kagum—puas pada dirinya sendiri.

“Kau milikku.” Dengkurnya, seperti seekor kucing yang kenyang.

“Milikku.”


Dan ada masa ketika Antonio terbangun dengan kelopak bunga di dadanya.

Setiap dia mendapati kelopak mawar itu di dadanya, malam itu dia pasti akan bermimpi dia berada di sebuah kamar pengantin. Setelah sekali mengalami mimpi itu, setiap kali dia menemukan kelopak bunga—dia tidak akan tidur.

Dia takut. Takut pada harum bunga sedap malam yang memenuhi kamar itu. Takut pada lilin-lilin yang apinya bergoyang karena angin, takut menghadapi siapa yang mungkin menginginkannya di ranjang.

Dia seorang homoseksual dan hubungan apa pun yang diinginkan perempuan di kepalanya ini tidak akan pernah terjadi. Setiap kali menyadari dia sedang bermimpi, Antonio akan menampar pipinya sendiri—berteriak sekencang-kencangnya hingga Yoga akhirnya membangunkannya.

Menyelamatkannya.

Dia takut, sangat takut. Namun dia tidak pernah menceritakan ini pada Jin. Dia takut pada apa yang perempuan itu mungkin bisa lakukan ke kakaknya.

“Antonio,” bisik perempuan itu di mimpi berikutnya, menjulurkan kakinya yang telanjang ke bagian paha dalam Antonio yang nyaris menangis karena ketakutan. Jemarinya yang mungil membelai bagian tubuhnya dengan lembut.

“Ini rahasia, ya?” Katanya lembut, seperti madu yang menetes. “Aku dan kau adalah rahasia. Aku tidak suka berbagi.” Dia menggerakkan kakinya memutar di selangkangan Antonio dan pemuda itu nyaris tersedak tangisnya sendiri.

“Kau paham..., 'kan?” Dia berdekut, seperti merpati sebelum kemudian tiba-tiba tersenyum lebar—menyerigai memamerkan giginya yang rapi mungil seperti biji mentimun dan menginjak selangkangannya.

Antonio meraung.

Kemudian, Yoga menemukannya menangis, memohon ampun dengan pakaian basah kuyup dan wajah pucat pasi. Terpaksa harus menamparnya agar terbangun. Antonio bilang, dia hanya terkena sleep paralysis, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maka Yoga pergi, meninggalkan Antonio yang gemetar ketakutan.

Selangkangannya berdenyut, seperti seseorang baru saja menginjaknya.

Maka Antonio menenggak kopi, mengerjakan tugasnya dan menolak tidur. Selalu berusaha terjaga sekuat tenaga tiap kali kelopak mawar itu muncul; lama kelamaan, kelopak mawar itu berhenti. Mimpi-mimpi tentang perempuan itu berhenti, Antonio mulai melanjutkan hidupnya dengan tenang kembali.

Lalu dua minggu kemudian, dia kehujanan dan secara ajaib berubah menjadi perempuan.


Ada pula masa ketika perempuan itu berbicara di benaknya.

Ada masanya juga ketika dia muncul, mengambil alih benak Antonio begitu saja. Tidak lama, karena Antonio yang terbelenggu akan terus berteriak di kepalanya—memaksa perempuan itu mengembalikan kepalanya.

Tiap kali dia berubah menjadi perempuan, dia selalu berhasil merebut kuasa atas benaknya pada dua detik berharga hidupnya. Saat jantungnya melompat dan mendadak berhenti. Dia akan mendorong perempuan itu menjauh darinya, ke rantai yang otomatis mengikat salah seorang yang kalah dalam perebutan benak itu.

Dia terus berusaha mengabaikannya, berharap suatu hari nanti perempuan itu akan bosan padanya dan pergi. Namun, tidak. Dia mendekam di sana, semakin hari semakin menakutkan. Semakin kuat dan semakin mustahil diabaikan. Dia akan terus berkomentar tentang segala macam hal di kehidupan Antonio.

Sekali, dia berhasil membuat Antonio bermimpi basah—membuatnya orgasme di ranjangnya namun terbangun dengan perasaan lelah dan sangat ketakutan. Perempuan di kepalanya tertawa, senang pada apa yang dilakukannya. Suara tawanya mengirimkan teror ke kepala Antonio—membuatnya gemetaran.

“Aku suka namanya. Nia.” Dengkur perempuan itu hari pertama mereka bertemu Hosein yang bersikeras memanggilnya Nia.

“Jangan beri aku nama.” Katanya tegas pada semua orang, mengabaikan cemooh perempuan itu di kepalanya. “Aku tidak suka tubuh ini. Aku benci tubuh ini.”

Antonio menangis saat pertama kali dia harus menyentuh tubuh itu saat mandi. Menangis saat dia pertama kali harus menggunakan mens cup. Dia membenci tubuh itu dan sangat takut tiap kali perempuan itu mendesah senang saat Antonio menyentuh tubuhnya.

Dia ketakutan, dan lebih banyak lagi; dia jijik. Dia jijik pada perempuan ini karena begitu menginginkannya sedangkan Antonio tidak menginginkan apa pun yang diinginkannya.

Akhirnya, dia selalu menggunakan sikat mandi tiap kali dia harus mandi dalam tubuh perempuannya. Memejamkan mata, mempercepat mandinya agar perempuan itu tidak mendesah, tidak bicara dan tidak melakukan apa pun.

Hingga dia bertemu Arfabian.

“Aku suka kau.” Kata perempuan itu, mendengkur senang.

Antonio bergegas menyambar kakinya, membuatnya terjatuh tersungkur di tanah. Berteriak gusar, membuat seluruh dunia Antonio bergemuruh karena kemurkaannya dan melemparnya ke rantai yang langsung membelitnya—mengabaikan raungannya sebelum bergegas menambahkan.

“Jangan Arfabian!” Ludahnya pada perempuan itu. “Cukup aku, jangan ambil kekasihku.” Geramnya.

“Yah,” kata perempuan itu kemudian, terengah setelah melampiaskan rasa frustasinya. “Aku selalu bisa mengambil alih kepalamu setiap kalian bercinta.”

Dia menyerigai pongah, tahu bahwa dia berkuasa dan Antonio benci itu.

Antonio ingin menendang wajahnya, ingin merusak wajah itu. Namun tiap kali menatapnya, dia hanya merasakan kekuatan inferor. Kekuatan yang memaksanya untuk berlutut di kakinya, menyenangkan perempuan itu.

Dia tahu ada sesuatu yang salah dengan perempuan ini. Namun dia terlalu takut untuk melawan.

“Tentu saja aku menyukaimu,” katanya dengan jantung berdebar. “Kau, 'kan, kekasihku.”

Lalu saat Arfabian mengatakan ada “sesuatu” yang tinggal di sana, di dalam kepalanya bersamanya—membuatnya berubah menjadi perempuan saat terkena air. Bukan, bukan berubah.

Perempuan itu mewujud.

Dan setiap kali melakukannya, Antonio merasakan dirinya melemah. Sudah nyaris tiga tahun lamanya dia berusaha melawan perempuan ini memperebutkan benak dan kepalanya. Sudah terlalu lama, Antonio sudah tiba di titik di mana seluruh tubuhnya begitu ngilu. Dia selalu lelah, selalu lemah. Sementara perempuan itu semakin kuat dan semakin berkuasa.

Satu hal yang bisa dilakukannya, hanyalah dengan menghindari air dingin. Dia tidak mau perempuan itu merebut benaknya kembali. Dia tidak mau kembali ke Singapura, menyaksikan semua orang mengamatinya berubah menjadi perempuan. Dia tidak mau berubah menjadi perempuan.

Sama sekali.

Karena dia selalu takut, suatu hari nanti, ketika jantungnya berhenti berdetak selama dua detik di bawah tekanan suhu dingin yang teramat sangat, Antonio gagal merebut benaknya.


“Mungkin aku sudah meminta sesuatu yang tidak seharusnya.”

Bobby menatap Arfabian yang sekarang meringkuk di sudut sofanya, dengan ponco membalut tubuhnya—gemetar sejak dia tiba di apartemennya. Bobby merebuskannya chocolat chaud dengan banyak rempah dan marshmallow berbentuk unicorn kesukaan Arfabian.

Unicorn mungil itu bergoyang di atas gelas saat Arfabian menggoyangkannya, mengaduknya agar bubuk kokoa yang mengendap di dasar gelas naik ke atas. Televisi menayangkan acara National Geographic Wild—ada jerapah yang sedang makan dengan khidmat.

Arfabian yang memilihnya, dia terlalu mual menonton manusia lain berinteraksi. Dia hanya ingin melihat binatang yang menggemaskan.

“Beri dia waktu,” Bobby meraih gelasnya sendiri, menyesap minumanya yang kental dan hangat—membentuk jalur panas di lehernya sebelum mendarat di dasar perutnya dengan lembut, bergolak. “Dia pasti syok karena kau menanyakan hal yang..., dia benci, jika mengutip ceritamu.”

Arfabian menelan ludahnya, nampak linglung—menatap kosong ke layar televisi. “Ya. Aku meminta sesuatu yang sangat dibencinya. Tapi hanya karena aku ingin menyelamatkannya.”

Bobby menaikkan kakinya ke sofa, melipatnya ke dada. “Bian,” katanya lembut. “Tidak semua orang yang terjebak di dalam sumur bergegas menyambar tambang yang dilempar ke arahnya. Tidak peduli seberapa kuatnya kau berteriak bahwa kau hanya berusaha menyelamatkannya, banyak orang yang tidak sadar mereka sedang terjebak.

“Mereka tidak sadar mereka sedang butuh dibantu; kadang berpikir jika mereka layak di sana, karena sesuatu jahat yang mereka lakukan—memilih tidak melakukan apa-apa.

“Atau mereka sadar mereka butuh dibantu, namun ada hal lain yang menahan mereka dari meraih tali tambang itu dan membiarkanmu menarik mereka. Selalu ada alasan kenapa manusia melakukan sesuatu—suka atau tidak, menyenangkan atau tidak.”

Arfabian menunduk ke gelasnya, menatap unicorn-nya yang sekarang mulai meleleh, wajah kuda mungil itu peyot saat suhu panas membuatnya larut.

“Beri kekasihmu waktu, beri dia ruang untuk menyadari dia butuh dibantu. Biar dia mempertimbangkan apakah dia cukup percaya padamu untuk menariknya naik dari sumur itu.” Bobby mengulurkan tangan, meremas bahunya sayang.

“Kalian akan baik-baik saja.” Dia tersenyum, menepuk bahu Arfabian, meremasnya hangat.

Arfabian tidak bisa mengatakan padanya bahwa waktu mereka sangat sedikit, 'kan?

“Saya tidak yakin sekuat apa,” kata Romo Herry hari itu melalui telepon dengan Arfabian duduk di teras belakang yang hening ditemani gemerisik dedaunan bonsai ayahnya. “Tapi saya yakin dia semakin menguat. Saat saya menjabat tangan Antonio, ada dua denyut kehidupan; yang satu berdebar begitu kuat. Segar dan bersih, sangat hidup. Sementara satunya lemah, mengepak seperti sayap burung yang terluka; terengah-engah berusaha bertahan.

“Saya takut, yang lemah itu adalah hidup Antonio.”

Arfabian menelan ludah, tubuhnya bergidik kedinginan hingga Bobby bergegas meraih pengatur pendingin ruangan dan menaikkan suhunya untuk Arfabian.

“Lebih baik?” Tanyanya, bergegas bangkit dan memberikannya selimut lain yang langsung disampirkannya di tubuh Arfabian tanpa paham bahwa getaran yang dirasakan Arfabian bukan karena suhu.

“Tidak sulit menebak apa yang diinginkannya dari Antonio,” tambah Romo Herry dengan kekhawatiran nyata di nada bicaranya. “Dan sepertinya Antonio cukup berkemauan keras dengan terus-menerus menolaknya. Namun saya juga yakin, sepandai-pandainya tupai melompat dia pasti akan jatuh.”

“Kita sepertinya tidak punya banyak waktu, Arfabian. Sebelum Antonio kalah dalam pertarungan itu dan menjadi miliknya, sepenuhnya.”

Arfabian meledak dalam tangis, begitu saja. Hingga Bobby terkesirap dan bergegas meletakkan gelasnya, meraih gelas Arfabian dan memeluknya. Menyandarkan Arfabian di dadanya, menenangkannya dengan kata-kata yang sama sekali tidak bisa didengarnya.

Arfabian tidak bisa kehilangan Antonio—sama sekali tidak.

*

cw // broken heart , betrayal .


Nio menatap kekasihnya yang nampak kikuk dan rikuh saat ini. Dia baru saja tiba di kosannya, membawa dua boks martabak telur seperti apa yang kekasihnya minta tadi melalui obrolan. Aroma telur, daun bawang dan minyak sekarang memenuhi kamar Arfabian. Nio juga sudah menuang kuah karinya di atas mangkuk, sudah makan tiga potong karena dia kelaparan.

Dia datang ke sini setelah menyelesaikan kelas praktikum tambahan, dia punya laporan untuk ditulis dan juga jurnal untuk dibaca. Dia harus presentasi besok, tapi kekasihnya bilang dia punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Maka Nio menyisihkan waktu, memberikannya sedikit waktu.

Apa saja agar Arfabian bahagia.

Meletakkan kekasihnya di atas dirinya sendiri, berpikir jika tanpa Arfabian hidup ini mungkin berakhir. Pemuda itu menggenggamnya, menahannya tetap waras. Membuatnya tetap hidup.

Dia bisa meremukkan Nio jika dia mau, menggerus kehidupan keluar dari tubuh Nio kapan saja.

Arfabian mengenakan sweter di atas piyama kremnya yang nampak hangat dan lembut. Di luar gemuruh langit terdengar dan Nio mendesah, syukurlah dia membawa jas hujannya hari ini. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang, Arfabian berbaring di sana nampak kikuk.

“Ada apa?” Tanyanya, meraih kaki Arfabian dan meletakkannya di pangkuannya, memijatnya lembut. “Kau sedang takut.” Katanya saat merasakan kaki Arfabian yang dingin. “Takut pada apa?” Tanyanya lembut, membelai tungkai langsing Arfabian dengan tangannya dari balik kain piyamanya yang lembut.

Arfabian menatapnya, dari balik bulu matanya yang panjang dan lurus membuat hati Nio terasa diremas-remas. Apakah dia melakukan hal yang salah? Dia meremas jemari kaki Arfabian lembut.

“Oke.” Katanya, berdeham. “Kau membuatku gugup. Ada apa?” Tanyanya lagi, kali ini mendesak dengan lembut. “Jika ada yang ingin kauminta dariku, katakan saja. Aku akan berusaha melakukan sesuatu untuk memberikanmu itu.”

Arfabian menatapnya, wajahnya berkerut-kerut dan Nio semakin merasa hatinya diremas-remas. Berusaha menerka-nerka apa yang Arfabian sedang berusaha katakan padanya; dia nyaris memohon agar Arfabian mengatakannya saja, seburuk apa pun itu daripada dia harus menderita seperti ini.

Dia membalas tatapan Arfabian, mereka bersidiam. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka sementara suara rintik halus hujan mulai terdengar menghajar atap kanopi parkiran kosan Arfabian.

Beberapa anak kos berteriak, saling mengingatkan akan hujan dan mengingatkan yang lain untuk mengangkat cucian mereka. Suara langkah kaki terdengar berisik dari atas dan dari lorong di depan pintu kamar Arfabian yang tertutup—teman-teman kosnya berhamburan mengangkat jemuran.

“Cucianmu?” Tanya Nio lembut dan Arfabian menggeleng. Nio menganggukk, mereka kembali diam sementara di luar sana anak-anak kosan mulai membereskan cucian mereka, mengobrol riuh di lorong depan kamar Arfabian sebelum suasana kembali tenang.

Nio mendesah, “Sayang, jika kau diam, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Dia mengerang frustasi sementara Arfabian di depannya masih nampak rikuh dan kikuk. “Aku tidak akan marah. Apakah kesalahanku? Apakah karena sesuatu yang kukatakan? Kulakukan?” Dia meraih tangan Arfabian, meremasnya hangat—mengecup buku-buku jemarinya.

Arfabian menggeleng, mendesah dia kemudian meraih tangan Nio—menarik kekasihnya agar berbaring di sisinya. Nio merangkak naik, berbaring di sisinya dan memeluknya erat dan hangat. Arfabian mendengkur seperti seekor kucing dalam pelukannya, meringkuk nyaman.

“Aku...” Bisiknya teredam di dada Nio, jantung Nio berdebar—menanti dengan penasaran. Dia membelai punggung kekasihnya dengan lembut, dengan telapak tangannya yang hangat. “Aku ingin minta tolong padamu.”

Napas Nio meringan mendengarnya, bahunya merileks. “Minta tolong apa?” Tanyanya lembut, lega ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkannya.

Arfabian menatapnya, matanya nampak terluka dan kini Nio semakin kebingungan. Perutnya melilit dan dia mual, apakah Arfabian akan...

“Kau ingin putus?” Tanyanya kemudian, suaranya seperti sebuah gelas yang retak lalu pecah—dia bahkan tidak mengenali suaranya sendiri saat dia mengatakannya. Sakit yang beracun menyebar di atas permukaan jantung dan hatinya, membuatnya berdenyut dan panas oleh rasa perih.

Seperti saat asam lambungnya naik; membakar jalur napasnya dengan cara yang begitu mengerikan. Membuat ulu hatinya panas dan tidak nyaman.

“Tidak!” Arfabian bergegas menyelamatkannya, mendorong Nio menjauh sehingga dia bisa menatap matanya dan Nio merasa seember air dingin baru saja disiramkan ke tubuhnya, membuatnya tenang dan lega walaupun sudah nyaris tiga tahun dia tidak pernah merasakan air dingin. “Tidak, tidak! Kenapa kau berpikir seperti itu??”

Nio mengerang, “Kau bersikap diam dan aneh seperti ini sejak aku datang. Malah aneh jika aku tidak berpikir seperti itu, kau tahu.” Dia memijat pelipisnya, nampak stres karena baru saja berpikir Arfabian mungkin akan mengakhiri hubungan mereka.

“Tidak, tidak...” Arfabian menelan ludah, nampak kebingungan dan setiap detiknya saat Arfabian kebingungan mengirimkan tikaman rasa nyeri ke hati Nio. “Aku ingin memintamu melakukan hal yang mungkin akan benar-benar menyakitimu.”

“Sayang,” Nio berbisik di rambutnya. “Satu-satunya hal yang mungkin menyakitiku hanya kehilanganmu. Apakah hal yang akan kauminta ini berarti aku akan kehilanganmu?”

“Tidak, tidak! Tentu saja tidak!” Arfabian seketika menjawab dan Nio mendesah, tenang.

“Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Dia tersenyum lembut. “Go on, Darling, ask away.” Dia mengecup puncak kepala Arfabian, membenamkan wajahnya di helaian rambut Arfabian—menghirup aroma samponya yang menakjubkan.

Arfabian meremas pakaiannya, menempelkan telapak tangannya di dada Nio—tepat di atas jantungnya yang selama ini telah melalui banyak penderitaan setiap kali Nio harus berubah menjadi perempuan. Dicekik rasa panas, diremas rasa dingin; Nio benar-benar harus lebih banyak melakukan kardio jika ingin jantungnya tetap sehat setelah segalanya.

“Apakah...” Arfabian memulai, pelan dan gemetar.

Nio mengangguk, “Ya?” Tanyanya lembut, mendesak halus agar Arfabian melanjutkan kalimatnya. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Arfabian menghela napas, “Bolehkah kau berubah menjadi perempuan akhir pekan ini?”


Dia melakukannya!

Bian nyaris saja menjatuhkan diri ke lantai dan mengerang keras, betapa hebatnya rasa tegang dan takut yang ditahannya hanya untuk mengucapkan itu dan bagaimana ekspresi Antonio saat Bian berusaha mengumpulkan niat dan keberaniannya sejak tadi.

Kekasihnya tidak sabaran. Antonio bukan lelaki pemarah, dia tenang. Mungkin berisik, tapi amarah bukanlah emosi yang sering disaksikan Bian di wajahnya. Dia lebih banyak tertawa, menggoda, merajuk, dan bersikap menyebalkan.

Jantung Antonio di bawah telapak tangannya berdebar, keras dan menggetarkan permukaan tulang rusuknya. Bian mulai ketakutan, ratusan laba-laba terasa merayap di punggungnya—membuatnya bergidik ngeri. Apakah dia baru saja melewati batas?

Namun menurutnya, cara ini jauh lebih manusiawi daripada menjebak Antonio di air dingin, memaksanya berubah menjadi perempuan di luar keinginannya sendiri. Bian tidak mau melakukannya, dia tidak mau memaksa Antonio—menjebaknya dengan licik sehingga dia menjadi perempuan demi keuntungannya dan Jin.

Dia ingin Antonio menerima permintaannya, berubah menjadi perempuan atas keinginannya sendiri sehingga Bian bisa mengajak “Nia” bicara tanpa mengorbankan Antonio karenanya. Namun, sekarang, setelah dia mengatakannya dengan keras di depan Antonio—dia mulai merasa ini mungkin tidak akan berakhir baik.

Kak Jin benar, dia seharusnya menjebak Antonio saja. Jahat, namun aman dan mungkin juga bisa menghindarkan Bian dari drama-drama yang tidak perlu. Namun dia bukan Jin, dia bukan para dokter yang membuat Antonio ketakutan. Dia tidak mau mennggunakan cara sekotor itu.

Maka dia mungkin harus siap dengan segala risikonya.

Dia tidak mau menatap Antonio, memeluknya erat dan mendengarkan deru napasnya setelah dia bertanya.

Antonio tidak mengatakan apa pun. Setidaknya hingga lima menit kemudian, mereka berbaring di ranjang dengan gemuruh hujan terdengar dari luar sana. Menghajar atap kanopi dengan suara berisik, memekakkan telinga.

Bian menunggu, dan terus menunggu hingga Antonio menjawab. Namun tidak memiliki keberanian untuk bertanya ulang: 'Apakah kau mendengar apa yang kukatakan? Bagaimana menurutmu?'

Bian takut.

Dia baru saja meminta sesuatu yang sangat dibenci Antonio, sesuatu yang Antonio selalu hindari mati-matian; sesuatu yang tumbuh serupa benalu liar di hatinya, membelit hatinya seperti seekor ular, mencekiknya.

Bian baru saja meminta sesuatu yang mustahil. Sesuatu yang menyakiti kekasihnya, mungkin lebih dari sakit yang ditangguhkan Antonio saat dia kehilangan Bian.

“Bian,” kata pemuda itu akhirnya, serak dan pekat oleh kekecewaan.

Saat itulah Bian tahu, dia baru saja melakukan kesalahan.

Antonio melepaskan pelukannya, menarik kedua tangannya dari tubuh Bian yang langsung mengigil saat hangatkan tubuh Antonio tidak lagi memeluknya. Pemuda itu menarik dirinya menjauh dari Bian, yang tak kuasa mendongak—tak kuasa menatap matanya, tak memiliki keberanian untuk melihat emosi apa yang mungkin terpancar di bola mata Antonio saat ini.

“Aku tidak tahu apa alasannya,” kata pemuda itu, menuruni ranjang Bian yang masih berbaring di sana, menyamping—tidak ingin melihat sama sekali saat Antonio memutuskan untuk melangkah keluar, pergi dari sana. “Aku juga sungguh, tidak mau tahu.” Katanya gemetar.

“Tapi,” dia terdengar begitu terluka, kecewa dan terkhianati—Bian merasa seseorang baru saja menyurukkan besi panas ke tenggorokannya, membuatnya kering dan tercekat.

“Apakah kau paham apa yang baru saja kauminta dariku?” Tanyanya, gemetar. Bian mendengar emosinya, mendengar sakit hati yang menetes dari kalimatnya. Dia menyakiti Antonio. “Apa yang membuatmu berbeda dengan semua bajingan di Singapura itu jika begini, Bian? Sungguh?”

Bian bernapas dari mulutnya, hatinya panas. Satu titik di balik jantung dan hatinya, terbakar racun. Rasanya begitu menyesakkan hingga paru-parunya mengerut, berusaha mengirimkan oksigen ke otaknya yang berdenyut.

“Aku punya... rencana.” Kata Bian gemetar, masih tidak berani menatap Antonio. “Aku butuh... bicara,” dia menelan ludah, menelan isak tangisnya. “Dengan sisi perempuanmu.”

Antonio mendengus. Bian mendengarnya bangkit dari ranjang yang berderit, bergerak di kamarnya dan mengenakan jaket berkendaranya dengan suara gemerisik lembut.

“Kau memang tidak ada bedanya dengan semua dokter sialan itu, Arfabian.” Katanya, sekarang dingin—nada yang sama sekali tidak pernah Bian dengar lahir dari bibir Antonio. “Kau membuktikan betapa salahnya aku selama ini menilaimu.”

Bian tidak ingin menoleh, tidak mau menoleh. Tidak ingin menyaksikan saat Antonio melangkah keluar dari kamarya, dan mungkin juga hidupnya.

“Itulah yang mereka katakan padaku, Bian.” Kata Antonio, membuka pintu kamar Bian dan membuat hawa dingin serta suara hujan terdengar semakin deras. “Mereka bilang mereka ingin bicara dengan sisi perempuanku. Mereka memaksaku mandi air dingin, berubah di hadapan mereka telanjang.

“Aku memberi tahumu segalanya, memberi tahumu betapa takutnya aku tentang proses itu bukan untuk mendengarmu meminta hal yang sama, Arfabian.” Kekecewaan terdengar kental di suaranya dan Bian tidak bisa menyalahkannya, dia juga kecewa pada dirinya sendiri.

Dia pikir rencana ini yang teraman, meminta Antonio. Membicarakan apa yang mereka butuhkan, mencari jalan tengahnya—sebagaimana mereka selalu menyelesaikan masalah mereka.

Namun sepertinya masalah ini tidak bisa diperlakukan dengan metode yang sama.

“Apakah kau ingin pertunjukan?” Tanya Antonio, sarkasme terdengar menyakitkan; mengiris jantung Bian dengan cara yang tak terbayangkan. “Kau ingin melihatku berubah menjadi perempuan untuk memuaskan hasrat medismu? Membuatku merasa seperti kelinci percobaan juga?”

Antonio tertawa, kecewa dan sakit hati. Bian mengerutkan keningnya, memejamkan matanya kuat-kuat; berharap suara tawa itu tidak bercokol di belakang kepalanya, menghantuinya setelah ini.

“Aku pikir kau berbeda.” Katanya kemudian. “Aku pikir kau berbeda dari Kak Jin, Kak Hosein dan semua dokter itu.” Dia kemudian melangkah keluar, “Ternyata aku yang terlalu naif.”

Pintu kamar Bian tertutup.

Suara hujan semakin deras, Bian bangkit—panik. Takut Antonio akan terjebak hujan jika dia pulang sekarang. Dia membawa kakinya yang kebas berlari ke pintu, menyentakkannya terbuka dan melihat Antonio mengenakan jas hujan.

“Nio,” katanya gemetar. “Hujan.” Jangan pergi sekarang, biarkan aku bicara dulu. Kumohon. Dia ingin berkata, ingin menahan Antonio—mendesaknya untuk diam dan mendengarkan.

Namun tidak ada yang keluar dari bibirnya. Suara tawa kecewa Antonio menggema di rongga kepalanya; melumpuhkannya. Dia tidak akan bisa mengenyahkan suara tawa itu dari kepalanya, tidak sebelum Antonio memaafkannya.

Antonio menatapnya, dingin—dingin sekali, seperti bilah es menusuk jantung Bian yang sekarang babak belur oleh emosi. “Oh, ya.” Kata Antonio, sudah mengenakan jas hujannya, duduk di atas motornya. “Kupikir kau senang saat aku berubah menjadi perempuan sehingga kau bisa,” dia membuat tanda kutip dengan kedua tangannya, wajahnya penuh cemooh. “'Bicara' dengan sisi perempuanku.”

“Nio,” mohonnya lagi, meletakkan satu tangan di dadanya; menekan rasa sakit yang menyeruak di sana seperti rasa kebas menggeranyam saat sikunya terantuk meja—rasa sakit yang mengganggu. “Aku harus menjelaskan sesuatu.”

Antonio mengenakan helmnya, tidak sudi mendengarkan apa pun. “Simpan penjelasanmu untuk kapan-kapan, Bian.” Katanya, memutar kunci motornya dan mulai memutar benda itu keluar dari tempat parkir.

“Karena sekarang, aku tidak ingin mendengarkan apa pun. Sudah cukup.” Dia kemudian menyalakan mesin motornya, berderum lembut sebelum dia memasukkan gigi dan meluncur keluar—di tengah hujan deras.

Bian terkesirap, seolah jantungnya baru saja direnggut paksa dari dadanya. Dicabut dengan kasar hingga hidup tidak lagi berdenyut di tubuhnya.

Selesai?

Selesai sudah semuanya?

Begitu saja?

*

Inspired by The Chocolate Rose by Laura Florand and Amaury Guichon's magnificent “Rose” <3


“Dia sudah datang,”

Taehyung mendongak, akhirnya menegakkan tubuhnya setelah seharian menunduk mengerjakan kreasi terbarunya di cold section sekolah pastry-nya yang sekarang sudah memiliki 250 siswa didikan baru yang sedang mengamatinya bekerja dengan desah kagum dan tatapan terpana, mencatat setiap ilmu baru yang diberikan Taehyung pada mereka.

Beberapa anak—khususnya perempuan, nampak tekun memerhatikan tiap gerakan Taehyung dalam balutan seragam mereka yang rapi dan bersih. Kepala mereka terbalut dengan rapi, nampak sangat cerdas dalam seragam sekolah pastry yang dirintis Taehyung sejak dua tahun lalu.

Taehyung sendiri yang mendesain seragamnya dan menyukai bagaimana pakaian itu memeluk tubuh setiap siswanya dengan sangat sempurna—pas dan membuat mereka leluasa bergerak. Bahannya juga lebih ringan, dengan satu kantung pulpen mungil di bagian lengan kiri atas mereka agar mudah diambil kapan saja mereka butuh.

Dia meregangkan tubuhnya, mendesah saat merasakan nyeri di punggungnya lalu mengerjapkan matanya yang lelah karena sejak tadi menatap detail kecil dan bekerja membungkuk demi menyusun kelopak mawar yang dibuatnya dengan cokelat leleh.

Salah satu kreasi terbaiknya: Rose.

Dibentuk dari lelehan cokelat yang dibentuk satu per satu menyerupai lekukan kelopak mawar tropis yang gendut dan merekah indah seperti dewi Aprhodite. Tiap lekukannya berbeda, memiliki guratnya sendiri karena sungguh tidak ada mawar yang sama persis satu sama lainnya. Dan Taehyung berusaha mengadaptasi keindahan itu dengan tangannya sendiri. Dia melelehkan cokelat, mengukir permukaannya, melekukkannya, membiarkannya beku sebelum dengan perlahan—menggunakan pinset; menyusun kelopak demi kelopak hingga menjadi sebuah mawar.

Lalu dia menaburkan bubuk di atasnya, memberi aksen gurat-gurat klorofil di permukaannya yang lembut lalu menyelesaikannya dengan setetes air yang terbuat dari simple syrup yang berkilauan.

Prosesnya panjang dan melelahkan, namun saat mendengar desah terpesona semua muridnya, Kim Taehyung merasa segala kelelahan dan perih di matanya akibat terlalu lama fokus pada benda yang terlalu dekat terbayarkan. Dia menatap mawar yang merekah di meja, kini sepenuhnya kokoh setelah terpapar suhu lemari es.

Di dalamnya ada raspberry compote dengan cacahan buah yang menjadi 'bom' yang melumer saat dipotong, memberikan sensasi meledak saat digigit. Tapi dia tidak pernah tega membelah Rose; benda itu terlalu indah dan lembut, dia ingin selalu memandanginya.

Namun toh akhirnya makanan memiliki masa simpannya sendiri dan Taehyung selalu senang membiarkan salah satu stafnya atau dulu, fotografernya untuk mencicipinya.

Taehyung meraih lap yang tersampir di karet celananya dan mengelap tangannya. “Ya, itu dia. Terima kasih.” Katanya mengakhiri demo masaknya hari itu dan menoleh ke rekan kerjanya, Namjoon yang berdiri di sudut ruangan, mengamatinya memberi demo hari itu.

“Dan siapa dia yang kau maksud?” Tanya Taehyung sementara kelasnya membubarkan diri di sekitarnya dengan dengung rendah serupa lebah mendiskusikan beberapa resep yang Taehyung eksekusi hari itu.

Sejak pagi, dia sudah mengajari mereka membuat classic croissant karena pastry chef mana yang tidak bisa mengerjakan croissant? Lalu mengajari mereka membuat kreasi-kreasi Taehyung lainnya: Lemon taco, Mon-blanc dan Tropical Baba. Hingga akhirnya, pamungkas Taehyung yakni Rose.

Semua merasa puas dengan kelas hari itu karena tidak setiap hari Taehyung bisa memberikan demo di sekolah. Dia punya patiserrie yang harus diurus setiap harinya juga undangan untuk mengisi kelas di sekolah-sekolah pastry lain di luar negeri.

Ton nouveau photographe.” Your new photographer, Namjoon menjawab dengan nada tentu saja yang seketika membuat Taehyung teringat kepedihannya dua hari lalu saat fotografer favoritnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena menerima tawaran dari National Geographic.

Taehyung tidak paham—sungguh tidak akan pernah paham. Apa asyiknya tenggelam dalam lumpur yang becek dan menjijikkan, menunggu hewan eksotis lewat jika kau bisa bekerja di ruangan berpendingin mengabadikan kreasi-kreasi cantik mungil Taehyung?

Jika itu Taehyung, dia akan memilih untuk mengambil gambar kue-kue menggemaskan daripada tenggelam dalam lumpur seharian—atau bahkan berhari-hari demi apa? Demi sebuah gambar humming bird.

Jauh lebih menyenangkan bekerja di tempat yang terang dan bersih, 'kan? Setidaknya kau bisa mandi setiap hari. Tapi tidak ada yang bertanya mengenai pendapat Taehyung, maka dia diam dan melepaskan fotografernya dengan tidak ikhlas—berharap dia terkena kutu air abadi saat bekerja di minggu pertama karena meninggalkannya.

Namun dia beruntung karena kemudian ada penawaran dari fotografer lepas yang mendengar berita kehilangannya. Taehyung sudah membaca curriculum vitae-nya dan meminta pemuda itu datang ke sekolah hari ini untuk dites kemampuannya.

Mengambil gambar makanan tidaklah sulit; butuh lampu terang dan foto yang menunjukkan betapa megahnya makanan itu. Mungkin itulah yang membuat fotografernya lelah karena ketidakbebasannya dalam berekspresi dan menganggap menunggu seminggu demi foto humming bird atau gajah mungkin lebih menantang.

“Ah, ya. Dia.” Katanya, bergerak keluar dari dapur dengan kemeja chef kebanggaannya—diberi bordiran namanya di bagian kanan di bawah bendera Prancis mungil, terkancing rapat dan rapi bergemerisik. “Di mana dia?” Tanyanya.

“Minta dia menunggu sebentar.” Kata Taehyung, berhenti di kamar mandi dan mendorong pintunya terbuka. Dia mencuci tangannya, pergi ke urinal untuk buang air kecil yang ditahannya sejak sesi Rose dimulai.

Dia kemudian merapikan penampilannya, mengecek noda di kemejanya dan mencuci tangannya. Dia memastikan rambutnya yang dicukur rapi masih tetap sesuai dengan apa yang diinginkannya sebelum mendorong pintu keluar. Safety shoes-nya mengetuk lantai lorong sekolah menuju ruangannya.

Pintunya terkuak dan dia mendorongnya, sudut matanya menangkap sepasang kaki yang duduk di sofa di seberang meja kerjanya—yang sejujurnya jarang digunakan tapi mereka bersikeras Taehyung harus memiliki satu ruangan di sana maka Taehyung mengiyakan daripada dia harus menyulut Perang Troya hanya karena ruangan.

“Halo.” Katanya tanpa mendongak, memunggungi tamunya yang bangkit dengan suara berderit per sofa yang merenggang untuk menutup pintunya sebelum menoleh ke sofa.

“Oh.” Katanya sopan saat akhirnya berhadapan dengan fotografernya yang sekarang berdiri di depan sofa.

Dia tidak nampak sedikit pun seperti foto yang dilampirkannya di CV.

Mungkin karena foto itu menggunakan seragam sekolah dan mungkin belum pernah diperbaharui sejak 10 tahun lalu.

Nampak luar biasa menakjubkan dengan kaus lengan panjang yang membalut tubuh bidang yang ketatnya. Di sisi sofa ada sebuah ransel dan satu tas kamera yang nampak berat dan besar, bekerja beberapa tahun dengan fotografernya membuat Taehyung paham pemuda itu datang dengan amunisi lengkap karena Taehyung menyebut tentang “tes kemampuan”.

Dia bahkan membawa tripodnya, walaupun sebenarnya Taehyung punya banyak. Dia juga punya lampu dan mini studio-nya sendiri untuk mengabadikan setiap kreasi barunya yang menakjubkan.

Pemuda itu tampan—sangat tampan dengan wajah tajam dan lancip. Rambutnya disisir rapi, beberapa anak rambut menjuntai di keningnya yang tinggi. Ada bekas luka kecil di pipinya. Alisnya tebal, bibirnya tipis berlekuk dan berwarna merah muda. Taehyung mengapresiasi warna bibirnya karena itu berarti dia bukan perokok. Matanya menatap langsung ke mata Taehyung dengan level kepercayaan diri yang memuaskan—Taehyung sudah sangat menyukainya.

Apalagi saat pemuda itu melangkah lebar ke arahnya dengan tangan terjulur, nampak hangat dan terbuka. “Halo, Chef.” Katanya serak—suaranya mendebarkan.

Taehyung yakin pemuda itu bisa berdiri di sisinya untuk merekam kegiatannya mencampur cokelat dan membuat semua pastry-nya meleleh begitu saja hanya dengan bernapas. Membuat tiap butir jagung meletup menjadi popcorn jika dia mau. Dia melirik tangan kanannya yang dihiasi tato sebelum menjabatnya—hangat dan kuat, sekali.

Dia suka jabatan tangan itu.

“Halo.” Balas Taehyung, berdebar. Seperti saat dia men-temper cokelat di atas mejanya; menuangnya, meratakannya, kembali menuangnya demi mendapatkan temperatur yang diinginkannya sehingga nantinya lemak-lemak kokoa dalam cokelat itu tidak menggumpal membentuk bintik-bintik putih yang membuatnya nampak seperti panu.

Pemuda ini membuatnya meleleh, seperti sepotong cokelat yang dipanaskan di atas air mendidih. Dia tersenyum, senyumannya berkilau seperti matahari terik puncak musim panas. Matanya yang gelap menyapu wajah Taehyung dengan cara yang begitu tak terelakkan, membuat dasar perut Taehyung bergemuruh.

Vous est... Jeongguk, oui?” You're Jeongguk, right?

Pemuda itu, Jeongguk, mengangguk. “Oui, je suis.” Yes, I am.

Uh-oh.

Bahasa Prancis-nya seperti bisa ular—mematikan dan menyerang langsung ke jantung Taehyung yang berkerut sebelum mendobrak rusuknya dengan kuat hingga dia sejenak terkesirap kecil.

“Ah, ya. Comment allez-vous?.” Katanya kemudian, menurunkan tangannya dan melambaikan tangan mempersilakan Jeongguk duduk kembali di sofa yang berderit sebelum bergabung dengannya di kursi terjauh—takut dia akan meleleh oleh pesona pemuda itu. How do you do?

Jeongguk mengangguk, sopan sekaligus congkak pada saat yang bersamaan. “Comment allez-vouz,” sahutnya ringan dengan suara 'ng' sengau yang mendebarkan.

Taehyung melirik tasnya, “Saya melihat Anda datang dengan amunisi lengkap.” Komentarnya sopan, menyilangkan kakinya di sofa sementara Jeongguk di seberangnya melakukan hal yang sama—nampak nyaman.

“Saya selalu siap sedia.” Sahutnya dengan suaranya yang mendebarkan, melecutkan api menggelisahkan ke dasar perut Taehyung yang malang. Membuatnya berkeringat; seperti lapisan cokelat di atas permukaan eclair yang baru dikeluarkan dari kulkas.

Great,” Taehyung tersenyum. “Jadi, saya bisa meminta Anda untuk mempersipakan alat-alat di mini studio sementara saya menyiapkan makanan yang akan Anda ambil gambarnya?” Tanyanya.

Jeongguk menatapnya, sejenak takjub. “Oh, à présent?” Now?

Ouais.” Sahut Taehyung lugas, “Kita tidak boleh membuang-buang waktu, 'kan? Lagi pula itulah alasanmu dipanggil kemari hari ini, Jeongguk.”

“Ya,” sahut Jeongguk menatap langsung ke matanya, membuat kuduk Taehyung meremang dan dia harus mengepalkan kedua tangannya agar tidak beranjak dan menjulurkan tubuh ke arah Jeongguk untuk menghirup aromanya.

Bertaruh, pemuda itu pasti tercium seperti cokelat Tahiti terbaik; kaya, pekat dan pahit namun serupa candu. Dia pasti beraroma seperti rempah-rempah eksotis; kayu manis, cengkeh... Rempah yang selalu Taehyung gerus dan campurkan ke chocolat chaud-nya di hari paling dingin di musim dingin.

Taehyung ingin membenamkan geliginya di lehernya, merasakan teksturnya yang pasti selembut mascarpone vanilla whipped cream yang meleleh di mulut dan meninggalkan jejak berlemak di setiap sudut mulutnya—mustahil dilenyapkan. Rasa manis memabukkan yang akan membuat lidahnya mencari-cari dengan panik dan merindu begitu decap terakhir lenyap.

Atau fresh red berries compote yang asam dan manis, meletup-letup seperti jutaan kembang api mungil di lidah. Meninggalkan kesan yang jauh lebih hebat di permukaan lidahnya karena rasa asam yang mendebarkan. Ada potongan buah di dalamnya, menambahkan tekstur renyah dan ledakan rasa asam-manis baru yang tidak terduga sama sekali.

Dia pasti terasa seperti dessert terlezat di dunia.

Oh, tidak. In fact, he looks like the whole 5 course meal himself.

”... Chef?”

Taehyung mengerjap, merona karena dia pasti sedang melongo karena otaknya tidak berada di tempat yang benar sama sekali. Dia berdeham, menyingkirkan pikiran tentang vanilla whipped cream dan cokelat Tahiti dari kepalanya sebelum menatap Jeongguk.

Fokus pada satu percakapan, Taehyung, rutuknya di kepalanya sendiri.

Pardon,” katanya, berdeham kikuk. “Sejenak saya memikirkan resep baru tadi. Anda mengatakan apa barusan?” Tanyanya, mengulaskan senyuman terbaik yang dimilikinya pada fotografer di hadapannya.

Matanya berkilat dan Taehyung tidak menyukai kilatan itu—tidak karena kilatan itu membuat dasar perutnya menggeram. Membangunkan sisi binatangnya yang sekarang mengaum, meronta dalam cengkraman rantai yang menahannya. Jeongguk menjilat bibirnya, dengan gerakan yang mungkin biasa saja namun di mata Taehyung nampak sensual.

Sudut bibirnya tertarik perlahan, memamerkan separo giginya seperti seekor macan kumbang yang menemukan mangsanya. “Kataku,” katanya dan Taehyung mengerjap pada fakta dia berhenti menggunakan bahasa formal* pada Taehyung.

“Aku tidak menyangka bahwa Chef Kim Taehyung ternyata sungguh sepanas apa yang mereka katakan.” Bola matanya bergerak, menyapukan tatapan tidak sopan ke seluruh tubuh Taehyung yang berdenyar. “Tapi, sungguh kau nampak... jauh lebih menakjubkan dari semua kreasimu.”

Taehyung tidak akan pernah bisa melenyapnya bagaimana kata “tu—kamu” yang lolos dari bibir Jeongguk hari itu.

Tu katanya, bukan lagi vous.

Dan dia juga tentu tidak akan melupakan bagaimana dia menarik kerah baju Jeongguk dan menciumnya di sana—di ruang kerjanya, untuk mencari tahu apakah pemuda itu terasa seperti mascarpone vanilla whipped cream, cokelat Tahiti atau fresh red berries compote.

Jeongguk tidak terasa seperti apa pun yang berasal dari dunia saat lidahnya menyelip ke dalam mulutnya, membelai geliginya dengan lembut hingga Taehyung gemetar. Tangannya meraih pinggulnya, meluncur turun ke pantatnya dan meremasnya hingga Taehyung melenguh kecil—seperti seekor sapi.

Dia seperti chaud yang kental, berempah dan hangat. Menetes turun melalui tenggorokan Taehyung, melukis jalur tak terlupakan yang pahit, manis dan juga hangat. Mendarat di dasar perutnya dengan gelombang kecil, sebelum memancarkan kehangatan ke seluruh perutnya.

Dia kecanduan.

“Oh.” Desah Jeongguk saat bibir mereka berpisah, suaranya serak dan berat—penuh oleh keinginan yang tidak perlu banyak penjelasan karena Taehyung paham. “Aku bisa saja menghabisimu di sini,” bisiknya membelai lengan Taehyung dengan punggung tangannya, mendengkur senang saat menyaksikan rambut halus Taehyung meremang.

“Membukamu perlahan, seperti bagaimana kau menyusun setiap kelopak Rose yang berkilauan. Satu, per satu.” Bisiknya, napasnya membelai telinga Taehyung dengan cara yang begitu mendebarkan. “Hingga aku menguak intinya, menjulurkan lidahku ke sana dan menyecapmu.”

Dia menjilat cuping telinga Taehyung, “Tapi tidak.” Katanya kemudian, tersenyum di kulit Taehyung, membenamkan wajahnya ke cerukan leher Taehyung yang lembut dan harum.

“Kita harus mengambil gambar makanan.” Dia tersenyum lebar dan Taehyung tidak tahan ingin menonjok wajah congkaknya jika saja dia tidak begitu tampan dan Taehyung takut dia akan melukai tangannya sendiri saat mencoba menyakitinya.

Rahangnya setajam batu karang.

“Baiklah,” bisik Taehyung, menatap bibir Jeongguk sebelum mencondongkan tubuhnya dan mengecup sudutnya dengan lembut—menjilatnya hingga Jeongguk gemetar. “Mungkin aku akan membiarkanmu membukaku perlahan, satu per satu...” Bisiknya dan tersenyum puas saat Jeongguk gemetar seperti sepotong mesin rusak.

“Lalu mungkin juga membiarkanmu menyecapku.” Dia tersenyum, tangannya bergerak turun lalu menyentuh bagian tubuh Jeongguk yang berkedut, terkekeh terhibur. “Karena sepertinya kau punya masalah di bawah sini, petit choux.”

“Tapi, seperti yang kaukatakan barusan,” Taehyung menegakkan tubuhnya, melicinkan seragamnya dan tersenyum cemerlang pada Jeongguk yang pucat pasi. “Kita harus bekerja.”

Alisnya naik sebelah, menggoda dan tersenyum senang melihat betapa frustasinya Jeongguk sekarang berdiri di hadapannya dengan satu bagian tubuhnya merengek.

“Bukankah begitu,” dia berdeham. “Monsieur Jeon?”

Namun nyatanya, fotografer itu tidak menyerah begitu saja pada tekanan yang diberikan Taehyung karena dia tersenyum cerah. “Bien sur, Monsieur Kim.” Of course, Sahutnya.

Mereka bertatapan dan Taehyung yakin mereka akan menghabisi satu sama lain di ranjang nanti, beberapa jam lagi. Karena sekarang mereka punya bisnis yang harus diselesaikan.

I'd be glad to welcome you in my apartment later,” kata Jeongguk saat dia membuka pintu, mempersilakan Taehyung untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan menuju studio.

“Oh, j'attends pour ça.” I'm waiting for it, Sahutnya ringan, sebelum mengangguk profesional dan tersenyum saat melihat Jeon Jeongguk menyambut permainannya dengan sangat natural.

“Mari ikut saya.”


*Dalam bahasa Prancis ada dua jenis bahasa: formal dan informal.

Dan yang membedakan keduanya hanya terletak pada penggunaan kata 'kamu': formal menggunakan “vous” dan informal menggunakan “tu”.

Jika baru pertama kali bertemu dengan orang lain, mereka akan menggunakan “vous” seperti “Comment allez-vous?” dan “Vous est Jeongguk, oui?” yang bentuk informalnya: “Tu es Jeongguk, oui?”

Namun jika sudah akrab, bisa menggunakan “tu” seperti Namjoon tadi: “ton (possessive form of 'tu') noveau photographe” yang bentuk formalnya adalah “vouz (possessive form of 'vous') noveau photographe”.

Merci beaucoup et bonsoir! lv, ire xx

cw // hurt and comfort.


Bian gugup.

Dan ini pertama kalinya semenjak dia terjun menjadi seorang mahasiswa Kedokteran, dia merasa begitu. Tidak ada satu pun hal yang bisa membuatnya gugup selama ini—bahkan tidak ujian OSCE. Dia selalu tahu dia bisa menyelesaikannya karena dia mampu.

Namun menghadapi hal yang diluar kekuasaannya—reaksi Antonio terhadap bantuannya hari ini, jelas adalah sesuatu yang sama sekali baru baginya. Dan dia tidak suka saat dia tidak bisa mengendalikan keadaan, dia ingin selalu memegang kontrol atas sesuatu.

Dia duduk dengan gelisah di jok penumpang mobilnya sementara Antonio mengemudi dengan cekatan di sisinya dalam balutan sweter tipis hijau gelap dan celana pendek. Dia hanya mengenakan sandal jepit hari ini, gayanya santai dan menyenangkan.

Bian suka ketika Antonio mengenakan pakaian kasual yang rapi saat menjemputnya, namun melihat Antonio mengenakan pakaian yang nyaman dan cenderung cuek membuatnya nampak jauh lebih memesona.

Bian suka.

Rambutnya disisir naik dan dia mengenakan kacamata hitam, mendesah saat terjebak macet di pintu masuk tol. Bian bisa saja menikmati perjalanan mereka kali ini karena dia akhirnya pulang setelah beberapa bulan ini disibukkan dengan kegiatan kuliah dan skripsinya, namun jika dia teringat pesan dengan Romo Herry di ponselnya, perutnya seketika melilit.

Apakah cara ini akan berhasil?

Bian tidak pernah terlalu memikirkan dunia gelap Indonesia. Dia hanya paham dunia itu ada dan bergerak, berdenyut seperti seekor binatang liar yang siap dilepaskan kapan pun seseorang membenci orang lain hingga tidak lagi senang melihatnya senang.

Dan sebagai calon dokter, dia terbiasa dengan hal-hal yang bisa dijelaskan; ilmu pengetahuan yang mempermudah pemahaman manusia.

Namun dia tidak pernah mengesampingkan sisi-sisi gelap itu. Paham bahwa sehebat apa pun manusia mencoba memahami Semesta, akan selalu ada sisi-sisi yang tidak mereka bisa jelaskan. Sisi-sisi yang lebih kuat dari manusia. Maka Bian merasa tidak ada salahnya untuk percaya, toh tidak akan menyakiti siapa pun.

”... Kau ingin berhenti di pom bensin?”

Bian mengerjap, menatap Antonio yang sekarang meliriknya seraya mengemudi di jalan bebas hambatan yang lancar. “Apa?” Tanyanya, bingung pada arah pembicaraan Antonio—sial, apakah dia tadi bertanya pada Bian? Dia tidak mendengarnya.

“Kau kelihatan seperti sedang menahan buang air besar.” Katanya kalem lalu mengaduh keras saat tangan Bian yang beracun dan cepat seperti ular menyambar perutnya, mencubitnya pedas. “What was the reason?!” Keluhnya, menyambar tangan Bian dan menjauhkannya dari perutnya.

“Kau menyebalkan.” Gerutu Bian, menyadari sepenuhnya betapa tegangnya dia dan itu tidak baik karena Antonio jelas akan curiga jika dia menyembunyikan sesuatu—haruskah dia mengatakannya saja pada Antonio?

Dia teringat kembali pesan Romo dalam obrolan mereka, Jangan membuatnya marah, ya.

Bian menelan ludahnya sulit, bagaimana jika dia malah marah karena Bian melakukan hal ini tanpa sepengetahuannya? Dia menatap jalanan, mengabaikan Antonio yang sedang meliriknya menunggu jawaban dan berharap dia bisa melakukan yang terbaik.

“Tidak,” katanya kemudian, membalik tangannya sehingga telapak tangan Antonio berada dalam genggamannya. “Aku hanya gugup akan mengenalkanmu pada Yeontan.”

Antonio mengerjap, kebingungan. “Yeontan.” Ulang Antonio kalem, lalu berdeham. “Bukan orang tuamu?”

Bian nyengir, senang karena Antonio memecahkan ketegangan dirinya dengan begitu mudah—bagaimana hidupnya setelah ini tanpa badut pesta Antonio Abhirama ini? Dia yang selalu bisa membuat Bian tenang begitu saja tanpa dia benar-benar berusaha.

“Mereka akan menyukaimu, tentu saja. Tapi Yeontan ini agak... pemilih. Jika dia menyukaimu, maka aku akan menjadikanmu suamiku. Jika dia tidak menyukaimu maka kita tidak bisa lagi bersama.”

Antonio menaikkan kacamatanya, menatap Bian dengan raut wajah jenaka yang membuat Bian tertawa. “Jodohmu ditentukan oleh anjing pomeranian berusia dua tahun.” Ulangnya perlahan, mencerna ucapan Bian barusan. “Baiklah. Yeontan akan menyukaiku, kita akan mampir memberikannya Royal Canin.”

Bian mendesah panjang, tersenyum lebar hingga pipinya nyeri. Merasa hatinya begitu penuh cinta saat dia menyelipkan jemarinya ke jemari Antonio dan membiarkan pemuda itu membawa tangannya ke bibirnya, mengecup bagian dalam pergelangan tangannya dengan intim—membuat tubuhnya berdenyar seperti ledakan kembang api.

“Aku cinta sekali padamu.” Katanya saat Antonio menempelkan punggung tangannya di pipinya yang lembut dan sedikit kasar karena janggut tipis yang mulai tumbuh. Dia menciumi punggung tangan Bian seraya mengemudi, di bawah batas kecepatan di pinggir sehingga mereka bisa menikmati perjalanan.

“Tidak sebesar cintaku padamu.” Balas Antonio lugas, tersenyum separo dan Bian membalas senyumannya dengan ceria. Merasakan jantungnya berdebar antara dia tegang karena akan mempertemukan Antonio dengan Romo Herry atau karena dia sangat mencintai Antonio hingga dia merasa sesak.

“Jika aku boleh... tahu?” Bian menatap Antonio yang mengemudi dengan rileks, masih menempelkan tangan Bian ke pipinya. “Apa saja yang mereka lakukan padamu, kau tahu, di Singapura? Dan bagaimana bisa kau akhirnya di bawa ke sana?”

Antonio sejenak tegang, raut wajahnya berubah dan Bian sejenak merasa takut dia sudah melemparkan pertanyaan yang sensitif pada Antonio. Namun kemudian, pemuda itu mendesah lalu meliriknya—senyuman yang terulas di wajahnya kemudian, sarat oleh rasa lelah yang menggelayut begitu berat.

Bian nyaris bisa merasakan lelah dan frustasinya Antonio dengan keadaannya sekarang. Dia mulai merasakan suntikan rasa optimis hal yang dilakukannya ini benar—dia sedang berusaha menyelamatkan Antonio, dia melakukan hal yang benar. Dan merahasiakannya, entah mengapa terasa benar.

Reaksi Antonio terhadap pertolongan terlalu negatif hingga Bian takut. Dia juga telah meminta Romo Herry untuk bersikap tidak mencurigakan karena Antonio agak terlalu tempramental jika dihadapkan dengan 'kondisi'-nya.

Dan Romo Herry nampaknya sudah mulai menemukan satu-dua hal titik terang mengenai Antonio hingga beliau tidak sabar untuk segera bertemu dengan Antonio.

“Mereka hanya...,” Antonio berhenti sejenak, ragu-ragu sebelum mendesah. Nampak berusaha keras saat melakukannya, dia bicara seolah ada segenggam pasir di dalam mulutnya.

“Memintaku mandi air dingin lalu membiarkanku di sana, berubah menjadi perempuan di bawah tatapan mereka. Tanpa pakaian.” Dia berhenti dan Bian merasakan tangannya mulai dingin dan berkeritngat. “Mereka... Mengobservasi perubahan fisikku, begitu katanya.”

Bian terkesirap, keras dan tajam. Bagaimana mungkin mereka tega melakukan itu pada manusia? Dia menatap Antonio, rahang pemuda itu mengencang dan genggamannya pada tangan Bian semakin erat—nampak melawan trauma dan rasa takutnya dengan begitu hebat.

Mereka praktisi kesehatan, tidakkah mereka setidaknya memahami apa yang dirasakan pasien mereka terhadap tindakan itu? Tidakkah mereka mempertimbangkan efeknya secara psikologis?

Jika Antonio mengalami hal itu selama dua tahun secara terus-menerus, nyaris secara berkala, maka tidak heran jika dia menjadi begitu takut pada tubuh perempuannya, membenci sisi perempuannya yang seolah menjadi pemicu untuk segala trauma dan ketakutannya selama ini.

Dia di sana, telanjang dan ditatap oleh mata-mata penasaran yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar tikus percobaan untuk disuntikkan bermacam-macam obat baru dan menunggu reaksinya.

“Bagaimana...” Bian menelan ludah, tidak yakin bagaimana harus membahasakan pertanyaannya. “Bagaimana Kak Jin... membiarkan itu terjadi?”

Antonio nampak tersiksa, seolah seseorang baru saja menyurukkan besi panas ke tenggorokannya dan Bian langsung menggenggam tangannya erat-erat, menenangkannya. “Kami... tidak punya pilihan lagi.” Dia mengedikkan bahu.

“Kak Hosein berusaha semampunya. Kak Jin juga berusaha. Untuk saat ini, itulah yang terasa sangat benar. Kak Hosein sendiri yang pertama kali menyambar kerah dokter itu lalu menonjok rahangnya saat dia tahu apa yang mereka lakukan padaku, tapi...” Antonio menghela napas dalam-dalam, nampak berusaha kuat untuk tidak berteriak atau berguling ketakutan.

“Akhirnya, kami kembali ke sana. Berharap sesuatu akan muncul dan terus berharap.” Antonio menatap jalanan, kosong dan bibir bawahnya gemetar. “Akhirnya aku berhenti berharap.”

Bian meremas tangannya, “Sayang.” Bisiknya lirih, tidak bisa mengatakannya dengan benar tapi dia merasakan sakit yang dirasakan Antonio, seolah dia berdiri di sana, di sisi Antonio menatap mata-mata dibalik masker dan penutup kepala hijau, mengamatinya seperti mengamati preparat bawang di bawah mikroskop.

“Aku tidak terlalu antusias tentang berangkat ke Singapura,” kata Antonio saat mobil mereka meluncur keluar dari jalan bebas hambatan, menuju rumah Bian sekarang. “Tapi, entahlah. Kak Jin masih berusaha, aku tidak ingin mengecewakannya.”

“Kak Hosein saat pertama kali mengetahui bahwa aku bisa berubah wujud, langsung datang dengan ide itu. Membawaku ke pusat kesehatan terbaik, mengusahakan segalanya yang dia bisa.” Antonio mengenggam roda kemudi dengan lebih erat hingga buku-buku jemarinya memutih.

“Orang baik, Kak Hosein itu.” Dia tersenyum sayang. “Dia langsung menggelontorkan uangnya demi menolongku, melakukan apa saja demi kami sejak dulu. Sejak dia pertama kenal dengan Kak Jin. Dia sayang padaku seperti adiknya sendiri, menyayangi sosok lelaki dan perempuanku sama rata.

“Hal yang bahkan aku dan Kak Jin tidak bisa lakukan,” Antonio melirik Bian yang terpana di sisinya, mendengarkan cerita itu. “Tidak, kami tidak bisa mencintai sisi perempuanku. Kami menganggapnya kutukan, tamu tidak diundang. Tapi Kak Hosein memelukku, menyayangiku dalam wujud perempuanku—membuatku merasa aman dan nyaman.”

Dia berhenti sejenak, menatap jalanan dan Bian ikut terdiam. Tidak yakin pada apa yang harus dikatakannya untuk menghibur Antonio selain mengenggam tangannya lebih erat lagi; membantunya saat memasukkan persneling.

Kau akan sembuh, Nio. Tenanglah, kau pasti sembuh,” Antonio tersenyum sendu, matanya menerawang. “Begitu katanya tiap aku dan Kak Jin mulai putus asa dengan semua hal yang kami usahakan. Aku iri pada optimismenya, tidak pernah menyerah selelah apa pun, segagal apa pun kami. Memberikanku dokter terbaik, psikiater terbaik, tidak memedulikan berapa banyak biayanya...”

Antonio berhenti lagi, mendesah. “Aku ingin membahagiakan mereka, Kak Jin dan Kak Hosein.” Dia tersenyum lemah, “Makanya, aku tetap berangkat ke Singapura walaupun aku tidak yakin pada hasilnya sama sekali. Aku tidak tega merusak optimisme Kak Hosein.”

Bian menatapnya lalu berdeham, haruskah? “Nio?”

“Ya?”

Bian menelan ludah, menelan gumpalan berduri yang menyangkut di tenggorokannya. “Pernahkah kau...” Dia memulai perlahan, Antonio di sisinya menunggu dengan sabar. “Berpikir sekali saja, bahwa... Kau sedang 'dikerjai' seseorang?”

Antonio menoleh sejenak sebelum kembali menatap jalanan, tertawa kering; suaranya begitu menyayat hati hingga Bian menyesal dia telah menanyakannya. “Pernah, tentu saja!” Katanya nyaris terlalu histeris dan gemetar. “Aku sudah memberi tahu itu pada Kak Jin tapi Kak Hosein tidak terlalu memercayainya.”

Antonio mengedikkan bahu, “Yah, kau berhadapan dengan warga non-Indonesia, tentu saja dia tidak percaya. Kau harus lihat wajahnya saat aku membahas potensi itu.” Dia terkekeh serak.

”'Kita coba segalanya,' kata Kak Hosein saat itu, 'segala yang kita bisa sebelum kita melihat opsi itu, oke?'” Antonio memasang sein, menyalip salah satu mobil di depannya. “Dia masih ingin berjuang di ranah medis, aku tidak bisa menyalahkannya. Dan aku sudah lelah sekali mendebat siapa pun.”

Bian menatapnya, semakin yakin tentang apa yang sedang dilakukannya sekarang. Dia meremas tangan Antonio, ingin menimangnya dan ingin memeluknya. Jika bisa, dia ingin sekali menggantikan Antonio; ingin menangguhkan beban langit di bahunya, mengambil alih ketakutan dan trauma itu dari Antonio hingga dia bisa sejenak bernapas lega.

“Aku,” Antonio kemudian menambahkan, “Sudah pasrah jika memang aku harus hidup selamanya dengan sisi perempuanku.” Dia mengulaskan senyuman tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya.

“Dan kuharap,” dia menoleh ke Bian sejenak sebelum kembali menatap jalanan dan mengecup tangannya sekali lagi—bibir Antonio terasa kering. “Kau juga siap menoleransi kehadirannya tiap kali muncul, jika pada akhirnya aku terjebak dalam kondisi ini selamanya. Karena optimisme Kak Hosein pun suatu hari nanti akan habis, 'kan?”

Bian menatapnya, jutaan emosi meledak di dalam tubuhnya. Dia takut untuk Antonio, dia sedih untuk Antonio, dia tegang untuk Antonio—seolah ada benang tebal yang menjalin hatinya dan Antonio, membuatnya merasakan segala yang dirasakan Antonio begitu saja.

“Aku akan selalu menoleransinya.” Katanya tersenyum, menatap Antonio lembut. “Sama seperti aku menoleransi tingkah tengilmu.” Dia mengulurkan tangan, mengusap bagian belakang kepala Antonio dengan sayang. “Tenang saja.”

Antonio tersenyum lebar, menggemaskan seperti anak kecil hingga hati Bian terasa diremas-remas. “Trims, Sayang?”

My pleasure, Sayang.” Balasnya.

Dia yakin dia sedang melakukan hal yang benar. Dia sedang menyelamatkan Antonio.


“Astaga! Halo, Romo! Tumben?”

Romo Herry sudah tiba.

Bian menghela napas dan menahannya, menggertakkan rahangnya saat mendengar suara ceria ibunya menyambut tamu yang memasuki rumah mereka seraya melirik Antonio yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menggasak macaroni schotel buatan ibu Bian.

Seperti dugaannya, kedua orang tuanya langsung menyukai Antonio begitu saja. Pembawaannya yang ceria, sopan dan menarik jelas akan memikat orang tua mana pun dengan mudah. Dia juga melemparkan guyonan-guyonan yang membuat ayah Bian, manusia tanpa sel humor, tertawa serak. Dia langsung memamerkan koleksi bonsainya pada Antonio, tanda bahwa dia menyukai orang itu karena ayahnya jarang memamerkan apa pun.

Menghabiskan sesiangan di kebun, membantu ayah Bian berkebun, Antonio nampak rileks dan senang. Dia tidak terlihat seperti sedang terpaksa mengakrabkan diri dengan orang tua Bian, dia terlihat seperti dia memang menyukai kedua orang tua Bian. Dia membantu ayah Bian memotong kawat-kawat tanaman yang digunakan untuk membentuk batang bonsai, menyiangi daun-daun muda bonsainya agar tidak tumbuh besar.

Ayah Bian mendengus, bangga atas pilihan anaknya.

Dan Bian mendesah lega.

Lalu setelah membantu di kebun, Antonio mendapatkan camilan beraneka rupa dari ibunya yang sibuk berkelotakan di dapur. Membuat makanan dan camilan, seperti yang bisa dilakukannya tiap kali Bian pulang hanya saja kali ini melipatgandakannya.

Dan itulah yang sedang dimakan Antonio sekarang saat ibunya membuka pintu, menemukan Romo Herry yang tersenyum lebar di pintu—nampak menenangkan, menyenangkan dan hangat seperti yang diingat Bian di masa kecilnya saat pelayanan.

“Halo, Eliza. Maaf menganggu sore-sore,” sapanya ramah dengan suara beratnya yang empuk. “Saya kebetulan lewat dan mampir.” Dia mengerling Bian yang mengangguk sekilas, melirik Antonio yang menatap Romo itu tertarik.

“Kemarin saya bicara dengan Dito, mengingat anak-anak pelayanan dan teringat Bian dan Bobby.” Tambahnya saat kemudian duduk di sofa, ditemani ibu Bian yang masih kebingungan kenapa Romo mereka memutuskan mampir tanpa informasi apa pun.

“Lama tidak bertemu anak-anak. Lalu saya memutuskan untuk mampir saja. Kebetulan Bian di rumah ternyata.”

Ibu Bian masih belum menerima alasan Romo, nampak dari wajahnya namun setidaknya dia tidak menyuarakannya. Dia tersenyum lebar, tapi toh, senang Romo mereka memutuskan untuk mampir. “Ya, kebetulan Bian di rumah, Romo. Sebentar saya panggilkan Bian dan suami saya.”

Romo Herry mengangguk, bersandar nyaman di sofa. “Terima kasih, Eliza.” Dia tersenyum ramah lalu mendongak saat Bian bergegas muncul dari ruang tengah begitu ibunya beranjak ke belakang, menjemput ayahnya.

“Romo, apa kabar?” Sapanya ceria lalu menyalami Romo di hadapannya dengan penuh kasih sebelum duduk, melirik Antonio lagi sebelum merendahkan suaranya. “Romo ingin bicara dengan Nio?” Tanyanya.

Romo Herry melirik Antonio yang sedang menonton televisi, masih sibuk makan dan sudah merasa seperti rumahnya sendiri. Yeontan bahkan langsung melompat ke pangkuannya kapan pun Antonio duduk dan bergelung nyaman di sana, mengklaim Antonio sebagai miliknya.

“Jika dia berkenan?” Balas Romo tenang, senyuman ramah dan hangatnya tidak pernah luntur dari bibirnya; Bian selalu suka dan ingat senyuman ini, menghiasi sepanjang masa kecilnya.

Bian mengangguk sebelum kembali ke ruang tengah. “Ayo,” katanya ceria, walaupun jantungnya terasa menonjok tenggorokannya karena takut. “Romo ingin bertemu denganmu.”

Antonio mendongak, kaget. “Kenapa?” Tanyanya, kebingungan karena tamu keluarga Bian ingin bertemu dengannya dan Bian harus mengerahkan kekuatannya berbohong demi meyakinkan Antonio.

“Karena menurut Romo dosamu banyak, jadi harus diajak berdiskusi.” Sahut Bian dan yakin dari ekspresi yang terbit di wajah Antonio, jika saja mereka tidak di rumah orang tuanya, pemuda itu akan menggendongnya lalu membantingnya di ranjang karena berani menggunakan nada itu padanya.

Namun dia mengencangkan rahangnya, tersenyum terhibur. “Baiklah.” Dia kemudian berdiri, merapikan pakaiannya dan meletakkan mangkuk makanannya di meja. “Walau sebenarnya semua dosaku dimulai saat aku jatuh cinta padamu, tapi tidak apa-apa.” Dia nyengir dan Bian merona, tersenyum lebar.

Mereka kemudian beranjak ke ruang tamu. Romo Herry langsung tersenyum hangat dan ramah, berdiri untuk menerima salam dari Antonio yang bisa sangat memesona jika dia mau. Dia duduk di kursi terdekat dengan Romo, tersenyum hangat.

Bian berdebar, takut pada apa yang akan dilakukan Romo pada Antonio. Apakah dia akan menyemburkan air suci? Mengayunkan rosario padanya? Atau mengacungkan salib pada Antonio seperti apa yang mereka lakukan di film-film horor?

Namun ternyata, mereka hanya mengobrol biasa. Romo menanyakan studi mereka, mendengarkan cerita Bian tentang skripsinya seraya menikmati secangkir teh yang dibuatkan ibunya. Dia juga menanyakan kesehatan Antonio dengan mulus, bertanya tentang studinya dan sudah berapa lama dia mengenal Bian.

Apakah dia suka di Bandung? Punya berapa saudara? Orang tuanya sehat? Makanan apa yang Antonio sukai? Kakak Antonio sehat?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mencairkan ketegangan di tulang punggung Bian, membuatnya berakhir rileks di sofanya, memeluk bantal dan tertawa bersama Romo, ibunya, dan Antonio yang langsung nyaman pada Romo mereka yang memang sangat meneduhkan.

Ternyata kunjungan itu hanya seperti kunjungan hangat seorang pemuka agama ke rumah jemaatnya, bertanya kabar dan menolak makan malam bersama saat akhirnya dia berdiri dan pamit pulang.

Dia melirik Bian, mengerlingnya dan Bian mengangguk. Dia paham akan ada sesuatu yang didiskusikan Romo dengannya, maka dia menemani ibunya mengantar Romo ke gerbang. Mendirikan sepedanya yang terparkir di sisi mobil Bian. Serangan nostalgia membuat Bian tersenyum, dia selalu ingat dibonceng sepeda ini setiap pulang ibadah atau sekolah Minggu; bernyanyi lagu gereja dengan Romo Herry sepanjang perjalanan.

Kadang, dia duduk di depan dan Bobby di belakang. Berteriak nyaring menyanyikan lagu bersama Romo yang tertawa serak. Bian merindukan masa kecil itu, saat segalanya sesederhana tidur siang dan makan malam. Sesederhana proyek prakarya yang dikumpul besok dan baru diingat Bian pukul delapan malam.

“Mari, Eliza. Bian. Nio. Saya pamit dulu.” Dia tersenyum. “Sampai ketemu di ibadah besok.” Dia menuntun sepedanya keluar dari gerbang dan Bian bergegas menyusulnya, menemaninya.

“Nanti saya akan obrolkan di Whatsapp saja, ya, Bian? Takut dia dengar.” Katanya dengan suara rendah.

Bian mengangguk, lalu melambai ceria pada Romo yang mengayuh sepedanya dengan penuh semangat walaupun sudah mulai menua. Setelah Romo dan sepedanya lenyap di ujung jalan, Bian bergegas masuk ke rumah menemukan Antonio sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam—memotong bawang dan cabai.

Bian tertawa. “Apa yang kaulakukan?” Tanyanya, membungkuk dan menerima Yeontan yang melompat ke gendongannya lalu menimangnya ceria.

“Memasak, tentu saja.” Antonio memutar bola matanya. “Begini, begini, Kak Jin mengajariku memasak.” Dia mendengus bangga, memotong sayuran dengan lincah sementara ibunya mulai memasak. “Kau harus mencicipi masakanku.”

Bian bersandar di konter, “Baiklah, Chef.” Dia nyengir, mendudukkan Yeontan di konter. “Impress me.”

“Bian,” tegur ibunya. “Apa yang Mami katakan kemarin tentang binatang di konter?” Dia mengayunkan sendok sopnya dan Bian bergegas menurunkan Yeontan yang menyalak ceria.

Dengan aroma lada yang hangat di udara, obrolan akrab Antonio dengan ibunya, suara televisi dan ayahnya, Bian merasa senang. Dia senang melihat Antonio nampak rileks berada di sekitar keluarganya, memikat dengan sangat natural seperti binatang jinak yang mengundang.

Dia sesekali melemparkan senyuman pada Bian yang menunggu di meja makan, menyadari dapur terlalu penuh jika dia bergabung dan mengedipkan matanya. Hati Bian bergetar, dia tidak sabar ingin menghubungi Romo tapi dia tahu jika dia sibuk dengan ponselnya sekarang, Antonio pasti akan curiga karena mereka terbiasa saling terbuka tentang siapa yang mereka kirimi pesan.

Bukan sebuah paksaan, lebih kepada Antonio yang memulainya. Dia membiarkan Bian menatap layar ponsel saat dia mengirim pesan sehingga hal itu menjadi kebiasaan. Antonio tidak pernah memaksa untuk melihat ponsel Bian saat dia mengirim pesan, namun Bian tidak menemukan hal yang harus dirahasiakannya dari Antonio sehingga dia secara naluriah membiarkan Antonio menatap layarnya.

Biasanya hanya satu-dua detik sebelum dia mengalihkan pandangan, memberi privasi. Mungkin karena Bian sedang melakukan hal di luar keinginan Antonio, memunculkan reaksi tegang dan takut di tubuhnya. Dia akan mengirim pesan ke Romo nanti, setelah Antonio terlelap saja.

Sekarang, dia akan menikmati waktu berkualitasnya dengan kedua orang tuanya yang terpesona pada keramahan dan keceriaan Antonio.

“Kau suka padanya, ya?” Bian berbisik, menggaruk bagian belakang telinga Yeontan yang mendengking ceria, menyalak sekali dan mengibaskan ekornya semangat—ingin melompat untuk mencari Antonio dan membelit kakinya.

Bian terkekeh, menyusupkan wajahnya ke bulu panjang tebal Yeontan dan tersenyum, menghirup aroma akrab samponya. “Aku juga.” Bisiknya, takjub pada betapa benarnya kata-kata itu terasa di bibirnya.

“Aku juga suka sekali pada Antonio.”

*

cw // pertama kali Nio berubah—trauma, fear, terror.


Ada masanya ketika Jin pikir adiknya hanya demam karena pulang ke Tangerang dalam guyuran hujan dari Jakarta Timur.

Masa ketika dia jengkel karena adiknya bersikap sok jagoan dengan tidak mengenakan jas hujan selama perjalanan sehingga dia tiba dalam keadaan basah kuyup.

“Sudah kubilang, selalu simpan jas hujan di tasmu.” Gerutunya saat Nio memarkir motornya di garasi, langsung melepaskan tasnya yang diselamatkan Jin dan membuka pakaiannya di garasi karena kakaknya tidak sudi mengepel tetesan airnya.

“Hujannya setelah aku masuk kompleks BSD, oke?” Balas Nio tidak terima. Dia melepaskan jaket berkendaranya, lalu kausnya. Jin mengambilkannya ember sementara di luar sana, hujan terus mengamuk semakin deras.

“Aku tidak tahu hujan akan turun, jadi aku meninggalkan jas hujan di kontrakan tadi. Di Cawang cerah.” Dia membersit, air menetes dari ujung pakaiannya dan Jin melarangnya masuk ke rumah sebelum melepas pakaiannya.

King menyalak ke arah Nio, meminta perhatiannya namun Nio mengabaikannya. Anjing itu meletakkan kakinya di jeruji kandangnya, menggaruk-garuknya berisik. Dia melemparkan pakaiannya yang sudah diperas dari air hujan ke ember yang diserahkan Jin, dia membersitkan air dari hidungnya, menyeka rambut yang menempel di keningnya karena basah.

“Kurasa aku harus segera mandi,” katanya menggigil, “Aku merasa tidak enak badan.” Nio berdeham, nampak sama sekali tidak nyaman dengan tubuhnya dan Jin mengangguk, dia langsung membiarkan adiknya dalam balutan bokser serta kaus dalam untuk bergegas ke kamar mandi ruang tamu.

“Air hangatnya mati di sana,” seru Jin saat mengurus pakaian basah adiknya. “Kau sebaiknya mandi di kamar mandiku atau kamar mandi di kamarmu.” Katanya memasukkan pakaian ke mesin cuci.

“Oke!” Seru Nio dari kamar mandi, terdengar kedinginan. “Tidak masalah. Air hangat hanya akan membuatku merasa semakin kedinginan.” Tukasnya dan Jin memutar bola matanya.

“Terserah.” Balasnya pada adiknya yang membanting pintu kamar mandi lalu menyusulnya, terdengar suara kucuran rain shower kamar mandi. “Itu, 'kan, badanmu.”

Jin menyalakan mesin cuci, mengaturnya agar mencuci lalu mengeringkan pakaian Nio sebelum meraih tasnya yang teronggok di lantai. Dompet dan uang Nio basah semua, maka Jin menjejerkan semua isinya di atas meja agar cepat kering. Ponselnya yang terbungkus Ziploc selamat dengan banyak sekali notifikasi di layarnya, yang teratas grup adiknya dengan teman-teman kuliahnya, Yoga dan Danny.

Jin membawa ponselnya masuk setelah menjemur tas Nio yang basah di ruang cuci. Meletakkan benda itu di kasur adiknya sementara Nio mandi di kamar mandi. Jin beranjak ke dapur, hendak membuatkan adiknya secangkir cokelat panas berempah yang akan membuatnya lebih baik.

Jin meraih kabinet teratas dapurnya, mengeluarkan bubuk kakao harum yang dibawakan Hosein pada kunjungan terakhirnya sebelum mencampurnya di dalam mug porselen putih yang tebal. Dia akan membubuhkan marshmallow juga di atasnya karena adiknya menyukainya.

Dia sedang menunggu air mendidih dengan terkantuk-kantuk, bersandar di jendela di sisi kompor yang menyala menatap air hujan yang tercurah ke tanah dengan derasnya. Memikirkan dia harus tidur siang setelah ini karena cuaca yang dingin dan menyenangkan saat adiknya berseru dari kamar mandi.

“Kak!”

“Ya?” Sahut Jin malas, menatap gelembung-gelembung yang mulai terbit di permukaan air panasnya. “Kenapa lagi? Mandi saja jangan lama-lama nanti kau demam.”

Alih-alih menjawab, Nio berteriak.

Suaranya begitu keras dan penuh kesakitan, nyaris seperti binatang liar yang terluka. Jin terkesirap, langsung mematikan kompor sebelum berlari ke kamar mandi tamu. Dia nyaris terpeleset di depan pintu kamar mandi namun berhasil menyambar kusen pintu untuk menyeimbangkan tubuhnya. Teriakan Nio terdengar semakin nyaring dan panjang, napasnya tercekat dan dia terdengar sangat kesakitan.

“Panas, Kak!” Raung Nio, nyaris tidak bisa didengar Jin karena giginya gemeletuk berusaha menahan sakit. Dia terengah, kembali meraung sebelum terdengar suara gedebuk daging menghantam lantai yang membuat jantung Jin mencelos, jatuh ke tanah.

“Nio!” Dia menghantamkan kepalan tangannya ke pintu, adiknya mengerang keras—erangannya tidak terdengar seperti manusia sama sekali di telinganya. Bulu kuduknya meremang mendengarnya, yakin suara teriakan itu akan terus menghantuinya hingga kapan pun.

Akhirnya dia mengerahkan seluruh keberaniannya untuk menyentakkan pintu kamar mandi terbuka.

Melihat adiknya sudah terbaring di lantai, terengah-engah. Wajahnya merah padam, mulutnya terbuka dengan liur menetes dari sudutnya. Tidak nampak seperti manusia sama sekali dengan keadaan sekacau itu. Jin takut, namun juga cemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya sama sekali.

“NIO!” Dia langsung meraih adiknya, yang terbaring terengah-engah di lantai kamar mandi, telanjang dan air dingin masih menyala menyirami tubuhnya. Jin menyambar kran dan mematikan air itu sebelum berjongkok di sisi adiknya, terkesirap keras saat panas tubuh Nio membakar telapak tangannya.

“Apa yang—!” Dia menatap tubuh adiknya kaget, Nio menggigil di lantai—tidak bisa berteriak karena sesak napas dengan tubuh panas nyaris melebihi demam tertinggi yang pernah Jin rasakan.

“Panas, Kak, panas....” Adiknya menggigil dan mulai menangis, tersedak liur dan isakannya sendiri. Tubuhnya berguncang semakin hebat hingga Jin akhirnya membuang sisa logikanya yang kebingungan karena kondisi adiknya lalu menyambar tubuhnya, mengabaikan air yang menyiramnya dan panas tubuh adiknya.

Tidak mungkin seseorang yang kehujanan akan langsung demam setinggi ini.

Jin bukan dokter tapi dia tahu tubuh manusia tidak akan pernah bisa menerima perubahan suhu ekstrim baik dingin atau panas. Tubuh Nio di pelukannya terasa begitu panas hingga dia heran bagaimana adiknya tidak kejang-kejang karena suhu tubuhnya, dia memapah Nio keluar dari kamar mandi.

Dia membaringkan adiknya di sofa lalu mengeringkan tubuh Nio, mengabaikan air yang terserap bantalan sofa. Jin akan mengurus sofa basah itu nanti, sekarang adiknya yang gemetaran seperti binatang yang terkena tembakan tepat ke perutnya lebih membutuhkannya. Dia menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuh adiknya yang gemetar.

Dia meraih pakaian adiknya, memakaikannya dengan ala kadarnya. Piyama longgar yang akan membuat adiknya lebih nyaman daripada telanjang sebelum menyampirkan selimut ke atas tubuh adiknya yang menggigil; menggumamkan 'panas' dan 'sakit' nyaris seperti orang kesurupan.

Hujan masih mengamuk dengan ganasnya di luar sana sementara adik Jin sedang berusaha mempertahankan kehidupannya dengan panas yang membakarnya, membuat organ-organnya terasa meleleh karena direbus hawa panas tubuhnya sendiri.

“Nio?” Tanyanya perlahan, “Nio, kau dengar aku?” Tanyanya lagi menyentuh kening adiknya dan mengumpat pelan saat suhu tubuh adiknya menyengat telapak tangannya.

“Aku akan teleponkan ambulans...” Jin berhenti bicara, suaranya perlahan menghilang saat dia menyadari rambut adiknya tumbuh memanjang begitu saja...

Apa yang terjadi...

“N-Nio...” Dia mundur dari adiknya, kebingungan dan kaget saat perlahan tubuh adiknya mulai menggeliat, membentuk diri menjadi hal lain yang membuat perut Jin mengejang mual.

Rambutnya memanjang, kakinya semakin langsing dan tubuhnya mulai perlahan mengubah proporsinya menjadi tubuh lain yang berlekuk. Garis wajah Nio berubah, memanjang dan tulang pipinya meninggi—semakin tegas dan tajam. Jin mundur semakin jauh dari adiknya yang menggigil karena panas tubuhnya, mengerang keras dan mengeluarkan suara-suara yang tidak dipahami Jin.

Dia menyaksikan sendiri adiknya berubah menjadi perempuan di hadapannya, di bawah selimut yang digunakannya untuk menutupi tubuh adiknya yang panas membara. Dia menelan ludah, otaknya nyeri saat berusaha mengejar apa yang terjadi di hadapannya; berusaha menemukan penjelasan yang masuk ke akal sehatnya namun gagal.

Nio kemudian terkesirap keras dan melonjak, punggungnya terangkat saat dia berteriak keras. Meraung seperti seekor binatang yang terkena tembakan peluru panas sebelum dia mendarat lagi di sofa, tubuhnya berasap tipis.

Dan sekarang, Nio bukan lagi Nio.

Karena di sofa sekarang, terbaring sesosok perempuan dengan rambut panjang kepirangan yang berantakan di bantalan sofa. Tulang selangkanya tinggi, tubuhnya langsing dan nampak sintal bahkan di bawah selimut yang digunakannya.

Dia masih berdiri beberapa meter dari adiknya, mata nyalang karena kaget dan jantung berdebar begitu kuatnya. Semuanya hening selain suara hujan deras dan King yang menyalak, mendengar teriakan Nio sehingga dia memohon untuk diizinkan melihat majikannya.

Otak Jin terasa ngilu oleh rasa sakit. Adiknya berubah menjadi perempuan, pikir kepalanya panik dan kebingungan. Adiknya berubah menjadi perempuan!

Jin ingin muntah, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Dia sedang berusaha memahami kejadian barusan; bagaimana tubuh adiknya menyusut dari tubuh lelaki yang bidang dan berisi menjadi tubuh perempuan yang lembut dan langsing saat adiknya mendesah panjang—menghembuskan napas panjang.

Jin seharusnya memperingatkan Nio tentang teror dan kengerian yang akan dihadapinya beberapa detik lagi namun dia masih belum sembuh dari teror dan kengeriannya sendiri menyaksikan adiknya berubah menjadi perempuan dengan mata kepalanya sendiri.

Mata Nio bergerak sebelum dia mengerang dan menyeka kepalanya, “Bangsat.” Erang adiknya, serak dan parau. “Apa yang—”

Nio berhenti bicara. Tangannya menyentuh rambutnya, menyadari betapa panjang rambutnya. Dia juga pasti menyadari suaranya sendiri yang sekarang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Napas Nio memburu, sosok di sofa yang Jin tidak yakini sebagai adiknya sekarang meliriknya.

Bibirnya membuka namun dia tidak mau bicara, dia menatap kakaknya yang membisu dengan nyalang. Jemarinya masih di kepalanya, merasakan rambutnya yang panjang dengan perlahan. Napas Nio memburu, begitu pula jantung Jin yang sekarang menonjok rusuknya hingga membuatnya nyeri.

“Kak...” Bisik Nio dengan suara barunya yang pecah. Dia gemetar, mulutnya terbuka dan bagian bawahnya gemetar saat dia menyadari apa yang terjadi. Tangannya langsung menyentuh dadanya sendiri, menemukan payudaranya.

“Oh.” Katanya, air mata mulai luruh dari matanya dan Jin merasakan tikaman belati tidak kasat mata ke hatinya; merasakan pinggiran tajamnya menggerus hatinya dan membuatnya berdenyut oleh rasa perih.

Namun dia tidak bisa bergerak, dia menatap adiknya yang sekarang menyadari tubuhnya sendiri adalah tubuh perempuan. Otaknya macet; bagaimana tubuh adiknya mengerut lalu mengembang kembali menjadi tubuh yang jauh lebih lembut dan feminim masih terbayang jelas di kepalanya, menancap menjadi trauma kengeriannya sendiri.

APA YANG TERJADI PADA NIO?!

“KAK!” Seru Nio dengan suara pecah, lalu berteriak panjang dan mengerikan.


”... Sayang? Sayang!”

Jin mengerjap, tersentak terbangun dan menemukan Hosein menatapnya dengan raut wajah kebingungan. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya, memeluknya dengan lembut dan membelai bahunya.

Jin mendesah panjang, mengusap wajahnya—menyadari dia baru saja bermimpi tentang kengerian hari pertama dia menyadari Nio bisa berubah menjadi perempuan. Bayangan bagaimana tubuh Nio berubah menjadi perempuan hingga detik ini masih selalu menghantui tidur-tidur lelah Jin, merayap di kepalanya dan mencengkeramnya.

“Kau oke?” Tanyanya lembut, kamar mereka masih gelap namun di luar sana, King mulai berisik terbangun oleh suara-suara motor yang lewat. Mungkin ini sekitar dini hari.

“Ini pukul berapa?” Tanya Jin parau, merasa seperti baru saja dihajar seseorang setelah terbangun dari mimpi buruknya sendiri. Dia merasakan punggungnya yang gemetar oleh trauma, seperti disiram oleh air dingin dan membuatnya menggigil—dia harus mengenyahkan teriakan Nio dari kepalanya sebelum suara itu membuatnya benar-benar sinting.

Hosein berbalik, melirik jam meja di nakas dengan desahan mengantuk dan menatapnya kembali. “Baru pukul 3 pagi, kau mau tidur kembali?” Tanyanya membelai rambut Jin hangat dengan jemarinya.

“Mimpi buruk.” Keluh Jin memejamkan mata, kembali berbaring dan membenamkan kepalanya di bantal yang lembut dan harum—berusaha mengenyahkan suara teriakan penuh teror Nio yang menggema di rongga kepalanya. Memantul di tiap sudut kepalanya, menusuk otaknya kembali.

Dia mengernyit, tidak menyukai cara kenangan itu menikam otaknya dan membuatnya ngilu. Hosein memijat pelipisnya, aroma tubuh kekasihnya membuat Jin rileks dan tenang. Dia menggenggam pergelangan tangan Hosein di kepalanya dan mendesah panjang.

“Kau kelelahan.” Bisik Hosein lembut, “Kau terlalu banyak bekerja hari ini dan juga masalah Nio. Kau harus memikirkannya satu per satu.” Dia mengecup kening Jin, kemudian menyandarkan keningnya sendiri di sana.

“Kau benar.” Kata Jin parau, seluruh tubuhnya terasa sakit sekali dan lelah. Dia bahkan tidak ingin berpikir sama sekali. Dia ingin memejamkan mata dan terlelap dan tidak bangun-bangun, dia ingin beristirahat sebentar dari segala hal yang merongrongnya belakangan ini.

Pekerjaannya, masalah Nio, hidupnya sendiri, kedua orang tuanya....

Jin lelah dan penat, dia butuh kabur dari keadaan ini. Ingin membebaskan diri dari kepalanya sendiri. Ingin sejenak mematikan otaknya sehingga dia tidak harus berpikir.

“Kembalilah tidur, ya?” Hosein memeluknya, merengkuhnya ke dalam pelukannya yang hangat dan membuainya dengan lembut.

Jin meleleh dalam pelukan kekasihnya, meringkuk dan menyusupkan kepalanya ke leher Hosein yang membisikkan lagu lembut ke telinganya. Membelai punggungnya dengan lembut, membentuk pola menenangkan yang akhirnya membuat seluruh saraf Jin melemas dan rileks.

Hingga dia tertidur.


”... Yo?! NIO!”

Nio langsung melompat, terduduk dari posisi tidurnya dengan begitu tiba-tiba hingga sejenak segalanya gelap karena otaknya tidak sempat mengejar refleks sarafnya. Dia mengerjap, terengah-engah terduduk di ranjangnya. Dia langsung menyentuh tubuhnya dengan panik, mencari payudaranya dan tersedak ludahnya sendiri saat menyadari dia masih dalam tubuh lelakinya.

Dia gemetar oleh rasa lega karena dia hanya bermimpi.

Mimpi itu nyata sekali, mimpi saat pertama kali dia menjadi perempuan. Wajah Jin yang menatapnya seolah Nio adalah makhluk dari dunia lain dengan enam tangan dan lima mata di wajahnya; wajah Jin yang pias dan nyaris ketakutan. Lalu teriakannya sendiri saat menyadari bahwa dirinya berubah menjadi perempuan.

“Hei, hei, hei!” Arfabian yang berbaring di sisinya langsung memeluknya saat Nio runtuh dalam ketakutan dan teror yang mencengkeram kepalanya; meremasnya, menancapkan kuku-kukuknya ke otak Nio yang ngilu.

Pintu menjeblak terbuka, “Apa? Ada apa?!” Yoga menghampiri kamarnya, terdengar panik pasti terbangun karena teriakan Nio dan kehebohan di kamarnya.

“Nio mimpi buruk,” kata Arfabian padanya, membelai rambut Nio dalam pelukannya.

Aroma Arfabian membuat Nio tenang—aroma keringatnya, suaranya yang setengah mengantuk, pembawaannya yang menenangkan... Nio melumer dalam pelukannya, menggenggam tangan Arfabian di bahunya dan memejamkan mata, bernapas dari mulutnya.

Dalkyum mendengking di pangkuannya, menyundulkan kepalanya yang mungil ke perut Nio, mencoba menghiburnya dengan menggemaskan. Arfabian melingkarkan kedua lengannya di bahu Nio, meraihnya ke pelukannya.

“Sayang, sayang.” Bisik Arfabian di telinganya. “Kau hanya mimpi buruk, ya? Tenang. Apa pun yang kaumimpikan, itu tidak nyata. Itu hanya mimpi.”

Ironis sekali.

Kenyataan bahwa apa yang baru saja dimimpikan Nio adalah awal mula dari semua kegilaan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Dia tidak pernah memimpikan ingatan itu lagi selama ini, kenapa sekarang dia mendadak mengingatnya? Warna-warna dalam mimpinya terasa begitu tajam dan nyata, sakit dan panasnya bahkan jauh lebih mengerikan dari apa yang dirasakan Nio biasanya.

Dia menggigil, tulang ekornya nyeri saat merespons getaran tubuhnya. Dia nyaris yakin dia sedang kembali ke masa itu alih-alih bermimpi karena semua rasa sakit dan panasnya begitu nyata, membuat saraf dan otaknya kebingungan karena betapa intens semuanya terasa.

Dia memeluk Arfabian semakin erat, berusaha mencari perlindungan. Membenamkan wajahnya di rambutnya dan menghirup aromanya dalam-dalam, berusaha mengenyahkan wajah Jin yang takut dari kepalanya.

“Ssshh...” Bisik Arfabian menenangkan, “Tidak apa-apa, kau baik-baik saja.” Katanya lembut lalu Nio merasakan dia menoleh dan mengatakan ke Yoga yang berdiri di pintu kamarnya. “Tidak apa-apa, tidur saja kembali.” Sebelum kembali ke Nio yang gemetaran.

Nio mendengar langkah kaki Yoga, suara gelas yang diambil dan kucuran air dari dispenser mereka sebelum Yoga kembali melangkah ke arah kamar mereka. “Aku membawakannya air.” Kata Yoga kemudian setelah hening beberapa saat, memasuki kamarnya dan denting gelas yang diletakkan di meja belajarnya. “Dan obat pusing.”

Nio merasakan senyuman Arfabian. “Trims, Yoga.” Katanya lalu Yoga memanggil anjingnya yang mendengking ke arah Nio, ingin menghiburnya. Tidak mau meninggalkan pangkuannya, menatap Nio dengan mata bulatnya yang cemas.

“Ayo, Boy, tidak ada yang bisa kaulakukan untuk Nio sekarang.” Yoga membujuknya dan Nio merasakan Dalkyum bergerak dari pangkuannya, perlahan dengan suara dengkingan menggemaskan ke arah Yoga yang langsung menggendongnya.

Nio mendengar pintu kamarnya ditutup, Arfabian perlahan dan dengan sangat lembut membimbingnya kembali berbaring. Meletakkan bantal di punggungnya lalu memeluknya, membelai punggungnya sayang dan menggumamkan lagu menenangkan yang membuat Nio rileks.

“Tidurlah,” bisik Arfabian di pelipisnya, mendayu-dayu dan menghipnotis otak Nio yang terasa kram. “Jangan diingat lagi. Kita pikirkan hal-hal menyenangkan, ya?”

Nio gemetar, dia memeluk Arfabian semakin erat dan berusaha melawan pikirannya sendiri yang mulai membuat otaknya ngilu. Berusaha menyingkirkan semua bayangan tentang hari itu dari kepalanya.

“Besok, semuanya akan baik-baik saja.” Bisik Arfabian lagi, “Aku berjanji.”

Dan Nio percaya.

*