Kuliah, Kerja, Nyantai / 24
ps. excuse my javanese, i'm learning! sksks
Kesalahan utama Taehyung: hidup penuh dosa.
Karena dia tidak akan pernah terbiasa melihat bagaimana Jeongguk duduk di atas jok motornya yang diparkir, dengan satu kaki melintang di atas tangki motornya, mengenakan jaket berkendara, merokok santai dan sedang tertawa mendengarkan sesuatu yang diceritakan Yugyeom di hadapannya.
Satu kakinya yang terbalut Chuck Taylor pudar menjejak kuat di tanah, dia nampak rileks dan sangat menakjubkan. Nampak seperti segala hal yang Taehyung harus jauhi namun membuat sisi dirinya yang lain tergelitik; penasaran. Bagaimana jika dia membenamkan wajahnya ke leher Jeongguk? Bagaimana jika dia menarik rokok itu dari bibirnya, menggantinya dengan ciuman?
Jeongguk menyesap rokoknya, menyugar rambutnya dan menoleh; matanya berkilau. “Ini dia,” katanya kalem, tersenyum lebar. “Bintang kita akhirnya datang.”
Taehyung mendesah, “Maafkan aku, sungguh. Semalaman aku mengerjakan hal lain dan bangun terlambat.” Dia berlari kecil ke arah Jeongguk dan meletakkan helmnya di atas jok belakang motornya. “Makan siang nanti aku yang traktir.”
“Sudah seharusnya.” Jeongguk nyengir lalu menurunkan kakinya dan Taehyung membalas seringainya dengan hati terasa lebih hangat.
Mereka tidak bertemu selama seminggu dan hanya berkomunikasi lewat grup dan/atau pesan singkat di ruang obrolan mereka. Taehyung bersumpah Jeongguk nampak dua kali lebih bersinar dari kali terakhir mereka bertemu; Jeongguk yang mengendarai KLX-nya tanpa helm dengan celana pendek yang memamerkan pahanya yang aduhai dan kaus longgar, memasuki area kampus hanya untuk membawakan Taehyung kunci motornya.
Jangan lupakan ternyata Jeongguk punya tato di pahanya. Tato. Besar. Di. Pahanya. Menjalar dari pangkal hingga ke atas lututnya—yang tadi tersembunyi di balik celana jinsnya.
Taehyung masih suka bermimpi menyentuh otot keras pahanya. Dan terbangun dengan perasaan frustrasi—dia dan asetnya, mereka berdua frustrasi.
Teringat bagaimana rambutnya yang agak gondrong meriap di tengkuknya saat dia berhenti di depan petugas karcis yang menyapanya akrab. Jeongguk menyeka rambutnya dan terkekeh sebelum mengulurkan kunci pada Taehyung.
“Maaf terbawa.” Katanya tulus, tersenyum ramah—menyilaukan seperti senyuman Apollo. “Kuharap kau tidak menunggu terlalu lama?”
Taehyung menerima kunci yang dilemparkan Jeongguk yang berdiri dengan satu kaki menjejak tanah di atas motornya. “Tidak,” dia menoleh pada petugas parkir yang mengacungkan jempol. “They keep me entertained.”
Jeongguk tertawa serak, “Aku juga suka di sini tiap bolos kelas.” Tambahnya dan dia kemudian mengekor Taehyung saat meluncur di jalan Pringgodani menuju jalan pintas ke Selokan Mataram.
Taehyung selalu kembali ke Paingan lewat jalan belakang, karena Ring Road terlalu macet. Jeongguk mengklaksonnya saat dia berbelok di jalan Beo, di sebelah Indomaret dan Taehyung membalasnya. Dia terlihat luar biasa saat postur tegapnya mengendarai trail—nampak seperti model iklan rokok yang mengendarai kuda liar.
“Kita mampir ke kosan Mbak Momo dulu.” Kata Yugyeom saat meraih helmnya sendiri dan Momo menatap mereka dengan pandangan bersalah. “Dia lupa membawa helm.”
Taehyung mengangguk, mengenakan helmnya dan merapatkan resleting jaketnya sebelum mengenggam bahu Jeongguk, memanjat naik ke motornya. Bahu Jeongguk begitu bidang dan aroma parfumnya seketika menginvasi seluruh pernapasan Taehyun—meracuni paru-parunya yang malang.
“Kita boleh sarapan dulu tidak?” Tanya Tzuyu yang sudah mengenakan helm, dibonceng oleh Dahyun yang nampak tangguh di balik motornya—Taehyung merasa bersalah karena telah meragukan kemampuan gadis itu di balik kemudi.
“Soto Bathok Mbah Katro?” Tawar Yugyeom dan semuanya mengerang—membayangkan hangatnya kuah soto, harumnya bawang goreng dan nasi pulen yang akan mengembang, memberi volume di dalam lambung malang mereka.
“Kau sudah sarapan?” Tanya Jeongguk saat mereka sepakat tentang sarapan mereka di Sambisari nanti dan bersiap berangkat ke kosan Momo untuk mengambil helm.
“Menurutmu?” Tanya Taehyung, mendekatkan wajahnya ke bahu Jeongguk agar bisa bicara lebih jelas dan dengan gestur itu dia bisa mencium aroma tembakau pekat dari mulut Jeongguk—manis dan sungguh menggugah. “Aku bersyukur sempat mandi.”
Jeongguk tertawa, mereka berkendara saling mengikuti. Jeongguk paling belakang dan Yugyeom paling depan. Tujuannya agar tidak ada yang tertinggal, Jeongguk mengekor Dahyun yang sedang mengobrol seru dengan Tzuyu di atas motor sementara Yoongi menikmati waktu berkualitasnya sendirian dengan earbuds menyumpal salah satu telinganya.
“Kau pernah ke Soto Bathok?” Tanya Jeongguk lagi saat iring-iringan mereka membelok ke jalan besar setelah mengambil helm Momo yang berlari ke kamarnya dengan panik dan kembali nyaris sedetik kemudian lalu melompat ke atas jok motor Yugyeom sebelum hari beranjak siang.
“Tidak.” Taehyung terkekeh. “Aku tidak terlalu sering berjalan-jalan selama di Yogyakarta.” Tambahnya saat Jeongguk bergabung ke lalu lintas jalan raya Jogja-Solo yang ramai di depan Hotel Grand Mercure.
“Sayang sekali,” Jeongguk terkekeh, mengendarai motornya dengan sangat terampil menghindari mobil dan motor lainnya—Taehyung yakin itu didapatkannya karena sering berkendara Yogyakarta-Solo untuk pulang karena plat motornya plat Solo. “Aku akan mengajakmu jalan-jalan lebih banyak di masa depan. Agar kau tidak terus menerus membantu Y menemukan X-nya.”
Taehyung tertawa, “Trims, eh?” Katanya.
“Kembali kasih,” dan Taehyung bisa mendengar senyuman lebar di bibir Jeongguk saat mengatakannya.
Soto Bathok Candi Sambisari tidak pernah tidak ramai.
Yugyeom memesan makanan untuk mereka semua sementara Yoongi memimpin mereka mencari tempat duduk. Jeongguk yang tidak tahan, minggir ke dekat tukang parkir dan memijam pematik—merokok dengan tukang parkir dan mengobrol akrab sementara teman-temannya memilih makanan dengan heboh bersama antrian yang semakin ramai.
Suasana tempat itu asri, dengan kolam air mancur di bagian tengahnya, sawah yang terisi pohon cabai yang melambai tertiup angin dan hawa sejuk yang berhembus. Kicauan burung terdengar samar ditingkahi suara-suara obrolan manusia dan aroma kuah soto yang hangat. Ini kali pertama Taehyung ke sini dan menyesal kenapa dia menghabiskan waktunya mendekam di kosan saja selama dia belajar di Yogyakarta.
“Mulutku sepat.” Katanya saat kembali dengan aroma rokok di tubuhnya dan berdeham, mengambil posisi di sebelah Taehyung. “Aku dipesakan apa?” Tanyanya pada Taehyung.
“Teh hangat.” Sahut Taehyung, puas saat melihat ekspresi kaget Jeongguk. “Tenggorokanmu layak mendapatkan sesuatu yang hangat setelah disiksa.”
Jeongguk memutar bola matanya, melepaskan sepatu dan menyandar di tiang balai yang mereka duduki. “Oke, Sayang.” Dia mengedip jenaka dan Taehyung merasa dirinya terbelah antara menonjok rahangnya atau menciumnya.
Salah satu dari itu pasti hanyalah serangan impulsif gila.
Mereka menghabiskan sarapan dengan mencoba mencari lokasi rumah dukuh yang akan mereka sambangi hari ini di peta digital. Yugyeom yang menerima rincian alamatnya dari grup khusus kormadus sendiri pun tidak yakin dengan alamatnya.
“Gampang,” kata Taehyung mengunyah potongan tempe garit yang terasa surgawi dengan Jeongguk yang menandaskan mangkuk soto keempatnya di sisinya. “Nanti kita gunakan Google Maps generasi lama.”
Momo mengerutkan alisnya, “Maksudnya?”
“Bertanya pada orang lokal. Tidak ada yang bisa mengalahkan itu.” Taehyung menjawab dengan nada superior yang membuat Jeongguk nyaris tersedak kuah soto dan mengumpat, 'Bodoh!' geli.
Mereka tertawa. “Benar, benar.” Yugyeom mengangguk di sela tawanya. “Aku juga ada nama lengkapnya jadi tidak masalah. Kita akan berhenti dan bertanya jika kita tersesat.”
Taehyung membayar sarapan mereka sebagai ganti karena membuat mereka menunggu sebelum keempat motor itu kembali melaju membelah jalanan menuju Klaten, mengambil jalan memotong ke desa Gedang Sari. Menurut Yugyeom, lebih dekat lewat Klaten daripada lewat Wonosari dan Taehyung setuju karena jalanannya jauh lebih lenggang daripada jalanan Wonosari yang dipenuhi truk-truk pengangkut batu dan pasir yang mengerikan.
Setangguh apa pun Dahyun, Taehyung tetap khawatir padanya apalagi jika dihadapkan dengan jalan berliku, tanjakan curam dan kendaraan-kendaraan beroda enam dan delapan.
Jalanan tidak terlalu ramai, Jeongguk mengisi keheningan dengan bernyanyi dan sesekali mengajak Taehyung mengobrol jika menemukan hal yang menarik. Mereka berhenti di pom bensin di depan bekas Bandara dan Momo membelikan mereka masing-masing sepotong donat sebagai permintaan maaf karena membuat mereka berputar ke kosnya dulu untuk mengambil helm.
Setelah melewati eks-Pabrik Gula, Yugyeom memasang sein dan ketiga motor di belakangnya mengikuti gerakannya. Dia menyeberang dan masuk ke jalan desa yang lebih sepi dan asri. Diapit persawahan yang damai dengan ujung padi yang gemerisik oleh angin, sapi-sapi yang mengunyah makanan di lapangan luas dan para penduduk desa yang berkegiatan.
Taehyung mendesah, senang karena dia meninggalkan semua kesumpekan perkotaan di belakang dan menghirup udara yang jauh lebih segar di sekitarnya. Mereka melewati rel kereta api, berbelok ke Pasar Klaten yang ramai sebelum meluncur ke jalanan yang lebih sempit dan sepi—persawahan membentang jauh hingga tak terhingga dengan perbukitan yang membingkai pemandangan langit yang biru permen.
Mereka melewati hutan kecil, sungai surut sebelum melewati sebuah pasar yang lebih kecil. Sudah tutup namun Yugyeom memberi tanda bahwa pasar itulah tempat mereka nantinya membeli bahan makanan selama KKN. Melewati sebuah sekolah, Taehyung mendongak ke arah bukit terjauh di hadapan mereka dan bersiul.
“Lihat!” Serunya pada Jeongguk yang meliriknya dari spion. Taehyung menunjuk jalanan kecil di ujung bukit yang nampak curam dan tinggi, “Bayangkan jika kau harus melewati jalanan itu setiap pulang bekerja. Mengerikan.”
Jeongguk mengangguk, “Menurutmu ada rumah di atas sana?” Tanyanya kemudian, menyadari betapa curamnya jalanan itu dan berada nyaris di puncak bukit tertinggi di sekitar sana.
“Jalannya nampak teraspal rapi, harusnya pasti ada. Ya, 'kan?” Balasnya, menatap jalan itu hingga pohon ketapang rimbun membuatnya terbenam.
Dan kemudian saat Jeongguk mengoper gigi, berbelok di depan Puskesmas Desa dan berbelok untuk menemukan jalan tanjakan yang nampak tidak berakhir, Taehyung sadar dia baru saja meramalkan takdir mereka sendiri. Karena jalan tanjakan itu adalah jalan tanjakan mungil di ujung bukit yang dilihat dan ditertawainya di bawah tadi.
“Ini semua karena kau,” Jeongguk tertawa saat dia memacu motornya dengan tangkas mendahului teman-temannya yang lain karena hanya motornyalah yang paling cocok di medan ekstrim ini dan jika dia memperlambat motornya, maka benda itu pasti bertingkah.
Maka Jeongguk melesat, menjadi yang paling terdepan disusul Dahyun yang sekali lagi membuat Taehyung kagum karena keterampilannya berkendara di medan yang ekstrim sementara dua teman mereka yang menggunakan motor bebek harus puas dengan berkendara zig-zag berusaha membuat motor mereka tetap bergerak di tengah tanjakan curam.
Di sekitar mereka ada persawahan dengan sistem terasering yang sekarang ditanami kacang. Dipayungi pohon-pohon jati pendek yang berdaun lebar, meniupkan aroma lembut yang menyenangkan. Pohon-pohon sengon beremerisik; pemandangannya begitu menakjubkan seolah mereka sedang menembus jalan ke dimensi lain—perjalan menuju negeri indah asri yang belum terjamah kapitalisme dan betonisasi. Dan Taehyung senang karena mereka memutuskan menggunakan motor Jeongguk yang paling tangguh sehingga dia merasa aman dan nyaman.
Taehyung menahan napasnya saat dia melewati tanjakan yang dilihatnya di bawah tadi dengan Jeongguk yang berkendara serius di depan, berusaha membuat motornya tidak berhenti mendadak di tanjakan yang nyaris 90 derajat. Pemandangan di bawahnya begitu menakjubkan; bentangan sawah, Merapi di kejauhan, ladang tebu dan jalan yang membentuk garis perak panjang yang nampak begitu mungil.
Selebihnya langit dan melulu langit yang biru serta sinar matahari yang terik. Taehyun senang, pemandangan yang didapatkannya sangat mendebarkan. Jeongguk kemudian mengumpat saat dia salah mengoper gigi motornya sehingga mereka sejenak tersendat dan Dahyun seketika menyusul mereka, wajahnya serius sekali saat berkendara; Tzuyu menoleh, nampak cemas namun detik berikutnya, Jeongguk berhasil mengendalikan motornya sebelum akhirnya meluncur hingga ke ujung tanjakan.
Jeongguk mengklakson Dahyun, memintanya menepi menunggu teman-teman mereka yang belum melewati tanjakan ekstrim itu. Dahyun mengangguk, memasang sein dan berhenti beberapa meter dari Jeongguk yang berhenti dan menoleh, bersama Taehyung; menunggu Yugyeom dan Yoongi.
Yugyeom muncul beberapa menit kemudian, mengklakson mereka dan berhenti di sisi Jeongguk. “Sepertinya ada masalah dengan motor Kak Yoong.” Katanya. “Berasap. Jadi dia berhenti di bawah sana, mengecek mesinnya.”
Dan Jeongguk langsung memutar motornya, seketika itu juga didorong oleh rasa tenggang rasa dengan Taehyung yang terkesirap kaget karena dia mendadak menjejakkan kakinya, memutar motor membentuk setengah lingkaran di jalanan begitu saja tanpa kesulitan dengan Taehyung masih duduk di belakang motornya.
Dia meluncur, mengecek motor Yoongi. Taehyung turun dari motor saat Jeongguk memarkir motornya di sisi jalan dan berlari menghampiri Yoongi yang sedang mengecek motornya; asap tipis dan aroma tengik kampas kopling yang terbakar meracuni udara mereka.
Taehyung mendekat sementara Jeongguk berjongkok di sisi motor Yoongi dan mengeceknya. “Sudah di servis belum?” Tanyanya pada Yoongi yang mengangguk.
“Busi dan akinya baru diganti kemarin.” Katanya serius, nampak sama cemasnya dengan Jeongguk tentang motornya. “Aku sudah mempersiapkannya untuk perjalanan KKN ini. Kurasa karena dia kaget pada medan ekstrim barusan. Tidak apa-apa, aku masih bisa melanjutkan; aku akan pelan-pelan.”
“Kita,” koreksi Jeongguk tegas saat berdiri. “Kita akan pelan-pelan.” Dia menoleh pada Yugyeom yang mengangguk.
“Jangan begitu.” Kata Taehyung saat mereka menaiki motor kembali dan Jeongguk menyalakan mesinnya dengan starter kaki.
Jeongguk mengerjap, meliriknya dari spion—kebingungan. “Begitu... bagaimana?” Tanyanya, alisnya berkerut dan Taehyung tertawa.
“Jangan menggunakan nada itu padaku, nanti aku terengah di kakimu.” Katanya dan Jeongguk tertawa, terhibur saat dia menunggu Dahyun melaju duluan sebelum menyusulnya mengekor Yugyeom dengan Yoongi di belakang—bermotor dengan perlahan dan Taehyung bertugas mengawasinya.
“Bukannya bagus?” Sahut Jeongguk kemudian, mengoper gigi dengan suara 'tak!' khas rantai yang berpindah lalu melaju sedikit lebih kencang saat berbelok ke tanjakan lain. “Karena aku juga tidak keberatan terengah di kakimu, injak saja aku—tidak masalah.”
Taehyung tertawa, “Kita sungguh akan membicarakan ini di sini?”
“Yah, entahlah??” Sahut Jeongguk keras, setengah geli di sela suara gemuruh angin yang menampar wajah mereka dan Taehyung tertawa. “Siapa yang memulainya??”
“Baiklaaah!” Dendang Taehyung, “Maafkan aku!”
Jeongguk tertawa, “Dimaafkan.”
Mereka tersesat. Hore.
Taehyung turun dari motor Jeongguk dan mengerang karena pantatnya sama sekali tidak terasa seperti pantat lagi karena jok motor Jeongguk tidak dirancang untuk berboncengan. Dia meregangkan pantatnya sementara Yugyeom menghampiri seorang petani dan bertanya dalam bahasa Jawa halus tentang kediaman Pak Dukuh yang akan mereka datangi.
Petani itu mengangguk bersemangat, sangat senang bisa membantu saat dia mengarahkan Yugyeom ke jalan menuju rumah Pak Dukuh mereka. Ternyata mereka salah mengambil belokan di persimpangan tadi; mereka seharusnya berbelok ke kanan alih-alih ke kiri. Petani itu bahkan menawarkan diri untuk mengantar mereka dengan bersemangat.
Jeongguk berbalik di atas motornya, mendengarkan sementara Taehyung memijat pantatnya dengan lembut. Mengerang karena pantatnya terasa seperti roti yang disimpan di luar kulkas seharian; keras.
“Sudah kubilang,” Tzuyu terkekeh ceria, teredam oleh masker yang dikenakannya. “Benda itu merusak asetmu, Kak.”
Taehyung menepuk pantatnya, memasang raut tersinggung jenaka yang membuat Tzuyu semakin tertawa. “Asetku ini luar biasa kenyal, tidak akan mudah dirusak oleh jok keras mana pun.” Katanya menggoyangkan pantatnya seperti seekor bebek ke Tzuyu dan Dahyun yang tertawa di atas motornya masih mengenakan helm dan masker.
“Benarkah?” Tanya Jeongguk dan Taehyung mendengus. “Mana sini coba kupegang, aku harus mengetesnya sendiri agar percaya.”
“Jangan main-main denganku, Bung.” Sahut Taehyung geli namun tak ayal menerima rokok yang diserahkan Jeongguk yang terkekeh. “Aku tidak akan termakan trik murahanmu untuk menyentuh asetku.”
“Hati-hati abunya.” Kata Jeongguk saat mereka melanjutkan perjalanan, dia hanya sempat menyesap rokoknya sekali sebelum mengembalikannya ke Taehyung karena dia tidak mau berkendara sambi merokok—membahayakan pengguna jalan lain dengan abu dan bara api yang mungkin terbang dari rokoknya.
Mereka melewati jalan desa yang kecil dan sedikit licin, hanya muat dilewati satu motor dengan hutan bambu rimbun yang membuat Tzuyu dan Momo ketakutan juga satu kamar mandi yang hanya diberi dinding hingga bahu—membiarkan kepala pengguna nampak ke jalanan dan para perempuan langsung ngeri, takut membayangkan kamar mandi mereka nanti seperti itu.
Hawanya sangat sejuk—lembab dan membuat Taehyung sangat mengantuk. Jika nantinya mereka harus KKN dengan cuaca seperti ini selama 30 hari maka Taehyung akan dengan senang hati mengganti proker individualnya dengan tidur saja. Taehyung bahkan tidak sudi menyentuh air untuk membasuh tangan, apalagi mandi.
Mereka melewati jalan menanjak sempit yang syukurnya dibentuk bergerigi sehingga ban motor tidak mudah selip di atasnya sebelum akhirnya tiba di rumah besar dengan halaman berumput Jepang halus dengan tebing di bagian depannya. Ada garasi yang terisi poster-poster Posyandu dan peta wilayah di sana serta plakat nama “DUKUH” di atas pintunya.
Semua motor diparkir dan dimatikan, beberapa warga menoleh penasaran karena kedatangan mereka yan terlalu ramai di desa yang sepi—belum lagi motor Jeongguk yang nampak sangat mengintimidasi.
“Badhe KKN, nggih, Mas?” Tanya seorang ibu di rumah sebelah dengan bayi di gendongannya. Mau KKN, ya, Mas?
Taehyung kemudian dibuat kaget saat Jeongguk yang berada di sisinya, menjawabnya dengan bahasa Jawa halus yang mendayu-dayu karena Yugyeom sedang mencoba menelepon Pak Dukuh. “Nggih, Ibu. Kulo badhe ketemu kalih Bapak Dukuh. Wonten ing griya mboten, nggih, Bu?” Iya, Ibu. Saya ingin bertemu Bapak Dukuh. Ada di rumah tidak, ya, Bu?
“Wow.” Bisik Taehyung ke telinga Jeongguk sementara si ibu menghampiri rumah Pak Dukuh, mencoba mengecek apakah dia ada dan menyampaikan bahwa ada tamu. “Kau benar-benar orang Solo, ya?”
Jeongguk menyerigai, meliriknya dan Taehyung menaikkan sebelah alisnya—menantang. “How does it sound?”
“Hot, of course. So pipping hot. It's sizzlin'.”
Jeongguk mengerang, “You're gonna be the death of me one day, Taehyung.” Keluhnya dan Taehyung tertawa serak.
Fun fact:
Jalanan yang dilewatin anak-anak memang ada hahaha jalan menanjak dari Klaten (orang Klaten pasti tau tanjakan setelah Pasar Klaten ke Gunungkidul :'DD) ke Gunungkidul dan memang sangat curam—nyaris 90 derajat. Dan aku beneran ngomong gitu ke temenku, ngejek jalan itu dan ternyata kami harus lewat sana T-T Lalu aku dibuli seharian karena dianggep memberi kutukan T-T
Semua kejadian di AU ini benar terjadi kecuali sexual tension between taekook yaa hahaha beberapa aku modif juga agar sesuai cerita. Dahyun itu beneran ada, temenku memang setangguh itu motorannya aku kagum hahah dan motor Yoongi beneran berasap sampe kami semua berhenti di pinggir jalan, nunggu asepnya berhenti sksks
ire, x