C'est un Secret 371
tw // provocative heterosexual scene , sexual assault , homophobic , manipulation , dominatrix , degrading .
“Wah, bagaimana, dong? Kekasihmu tahu aku di sini, ya?”
Antonio menelan ludahnya, berusaha keras agar tidak mengintip. Perempuan itu sedang berbaring nyaman di ranjangnya, separo telanjang dan benar-benar mengabaikan bagaimana Antonio berdiri di sudut ruangan, tegak dan memejamkan mata—tidak ingin melihat tubuhnya sama sekali.
Rambutnya dijalin membentuk mahkota yang tebal dan indah di kepalanya, dengan bebungaan liar disematkan di setiap helainya. Dia nampak begitu megah dan indah jika saja Antonio menyukai perempuan. Serta tidak takut padanya. Dia hanya mengenakan secarik kain sutera tipis di atas tubuhnya, memamerkan dengan pongah betapa indahnya dia di sana—terbaring santai, wajahnya merona senang dengan ujung hidung kemerahan.
“Lalu apa katanya tentang Romo?” Tanyanya, nyaris berdendang. “Menggemaskan sekali, mereka ingin mengusirku, ya? Lucu, mereka pikir mereka bisa melawanku.”
Dia berguling, menelungkup sehingga sekarang Antonio bisa menatapnya dengan lebih nyaman. Antonio berada di kamar pengantin itu, namun kali ini tidak ada aroma bunga sedap malam dan lilin-lilin sialan itu. Hanya ada jendela yang terbuka, aroma lembut mawar yang merekah dan langit yang berwarna merah jambu.
Dia menyesal terlelap, seharusnya dia tahu suasana hati perempuan ini pasti sangat buruk setelah kata-kata Arfabian tadi dan seharusnya dia tidak tidur malam ini.
Bajingan.
“Menurutmu, Antonio,” dengkurnya, menelengkan wajahnya ke satu sisi sehingga anak rambutnya luruh ke pipinya, menumpukan dagunya di telapak tangannya. “Mereka akan berhasil, tidak? Sementara aku di sini, menggenggammu begitu erat di tanganku.”
Dia mengayunkan lengannya, menarik Antonio yang seketika terangkat dari kakinya, melayang ke arah ranjang dan tersungkur di lantai dengan suara gedebuk keras, di bawah kakinya. Antonio mengerang, tubuhnya nyeri karena terbentur lantai namun sebelum dia sempat memikirkan sakitnya, tubuhnya ditarik kekuatan tak kasat mata—dipaksa bersimpuh dengan kedua tangan terikat ke belakang.
Perempuan itu berguling lagi sementara Antonio mendesis, menahan nyeri yang menyerang tempurung lututnya. Dia menurunkan kakinya, mengalungkan tungkainya ke bahu Antonio dan menariknya mendekat—terlalu dekat hingga Antonio nyaris muntah.
Tangannya yang lentik menyusup ke rambut Antonio, meremasnya lalu menjambaknya hingga Antonio mengaduh kaget; dia memaksa Antonio mendongak sebelum merunduk dan mengecup sudut bibirnya.
“Kau sulit sekali ditundukkan,” geramnya lirih di bibir Antonio yang sedikit lagi yakin dia akan meludahkan asam lambung ke wajah perempuan itu. “Aku sudah di sini tiga tahun, berusaha membawamu bersamaku tapi kau terus saja melawan seperti binatang.” Dia menarik rambut Antonio semakin kuat hingga kulit kepala Antonio nyeri.
“Ikutlah bersamaku,” dengkurnya lagi, setelah murkanya lenyap. Dia kembali berubah menjadi rubah betina manipulatif yang menyebalkan. “Kau tidak akan perlu memikirkan hal-hal remeh seperti ini, Antonio. Aku akan membuatmu sangat berkuasa dan bahagia.”
Dia selalu di sana setiap kali Antonio berusaha membawa dirinya ke psikiater, ingin memberi tahu psikiaternya tentang perempuan gila di kepalanya. Setiap dia memikirkannya, malam itu dia akan terjebak dalam mimpi ilusi tanpa akhir yang membuatnya kelelahan; diputar-putar di ruangan tanpa ujung, terjatuh dari langit yang begitu tinggi.
Tidak jarang perempuan itu sendiri yang mendatanginya, seperti seorang dominatrix, memaksanya tunduk dengan cambuk. Menyiksa Antonio agar dia melupakan saja tentang psikiater, merahasiakannya atau dia akan membunuh Antonio saat itu juga. Karena dia bisa, dia mampu. Dia tidak pernah main-main jika dia ingin menyiksa Antonio.
Dia bisa jadi begitu manis dan begitu mengerikan, tergantung suasana hatinya.
Jika dia marah, Antonio akan terserang vertigo parah yang membuatnya muntah-muntah karena murkanya sama sekali tidak manusiawi. Dia akan membuat Antonio demam dan sakit sepanjang minggu hanya karena dia ingin—maka Antonio kemudian belajar untuk menyenangkannya.
Agar dia bisa hidup dengan tenang.
“Kau melemah,” perempuan itu menyerigai, membelai leher Antonio dengan tangannya yang bebas. “Aku bisa merasakan hidupmu menyerah dalam genggamanku, sebentar lagi kau tidak akan bisa merebut hidupmu dariku.” Dia mengecup bagian belakang telinga Antonio yang berdeguk jijik.
“Aku akan membawamu bersamaku, kita akan hidup bahagia selama-lamanya,” dia mendengkur senang, memeluk Antonio hingga wajahnya terbenam di payudaranya yang selembut mentega.
Antonio berdeguk.
“Jangan muntah di payudaraku, Bangsat.” Kata perempuan itu, menjambak rambutnya dan menarik Antonio menjauh dari tubuhnya, nampak gusar dengan rahang mengencang dan alis berkerut.
“Maafkan aku,” bisik Antonio lemah, dia tidak ingin menghadapi kemarahannya sekarang—dia terlalu lelah, dia ingin tidur dengan tenang malam ini. Namun Arfabian yang membahas tentang rencananya memisahkan perempuan ini dari Antonio membuat suasana hatinya buruk.
Antonio sudah merasakannya sejak dia membaca pesan Arfabian; merasakan gelegak murkanya yang seperti kaldu mendidih. Antonio bergidik, terserang serangkaian batuk mengerikan yang membuat kedua sahabatnya panik. Memaksanya minum air hangat dan menelan obat batuk. Namun dia tahu tidak akan ada obat yang bisa menyembuhkannya kecuali dia bersikap manis bak anak anjing di kaki perempuan itu.
“Bagaimana bisa lelaki setampan dirimu malah menjadi...,” dia mengernyit, jijik. “Homseksual.” Dia bergidik, “Sangat menyedihkan. Kau kehilangan banyak kesenangan.” Dia meraih tangan Antonio, meletakannya di salah satu payudaranya dan meremas benda itu dengan tangan Antonio di bawah tangannya.
Dia mendesah senang dan Antonio harus menelan asam lambung yang menyeruak ke mulutnya, menelannya dengan susah payah agar tidak menyinggung perasaannya dan mengakhiri hidupnya sendiri.
“Tidakkah kau menginginkan ini?” Tanyanya, menatap Antonio dari balik bulu matanya yang panjang dan tebal. “Katakan, Antonio. Maka aku akan mengembalikanmu.”
Antonio berdeguk, ingin menangis dan mati saja hingga di titik ini. “Tidak.” Katanya, tidak bisa sama sekali mengabaikan identitasnya yang menjerit menolak segalanya—jijik dengan sentuhan perempuan itu di tubuhnya.
Dia ingin berguling menjauh, ingin berlari dari sini. Jika saja mereka semua tahu apa yang Antonio harus hadapi jika mereka tidak sopan pada sisi perempuannya...
Jika saja....
Tapi dia yakin Hosein paham sesuatu. Setiap kali Antonio menjadi perempuan, dia selalu menyenangkannya. Dia selalu bersikap lembut dan sayang pada Antonio, selalu membisikkannya bahwa Antonio harus menerima sisi itu agar perjalanannya lebih ringan. Mungkin jika Antonio tidak melawan terlalu keras, kutukan itu akan hilang.
Hosein selalu begitu lembut dan pengertian, begitu hangat dan menenangkan. Dia membuat Antonio merasa sedikit lebih tenang setiap kali harus berhadapan dengan perempuan itu. Dia selalu memberikan suntikan semangat dan rasa positif di pembuluh darah Antonio—membuatnya kuat untuk melawan perempuan itu dalam perebutan benak mereka.
Dia selalu senang tiap kali Hosein berkunjung ke rumah; kehangatan, kelembutan dan kasih sayangnya membuat Antonio nyaman. Seperti seekor anak ayam yang dierami ibunya.
Perempuan itu selalu tertawa mendengarnya, tinggi melengking memekakkan telinga. “Menggemaskan!” Katanya, mengayunkan kakinya ceria—matanya berbinar terhibur. “Katanya kau harus menerimaku, Antonio. Bagaimana menurutmu?”
Menurut Antonio?
Dia ingin menyarangkan tendangannya ke wajah perempuan itu.
Jawaban Antonio membuatnya jengkel, dia menjambak rambut Antonio dengan keras dan pemuda itu meraung kaget saat kepalanya dipaksa mendongak. Wajah perempuan itu begitu dekat dengan wajahnya, deru napasnya yang beraroma lembut vanila.
“Jawab seperti apa yang kuinginkan, Antonio, atau aku akan menahanmu di sini seperti kali terakhir.” Dia menatap Antonio yang memejamkan mata, tidak berani menatapnya karena ketakutan menjalar di tulang punggungnya—membuatnya gemetar.
Dia pernah terjebak di dimensi ini nyaris selama satu hari penuh. Yoga mengklaim dia tidur seperti orang mati—12 jam penuh dalam tidur yang begitu lelap hingga Yoga menyelamatkannya dengan menamparnya keras-keras karena cemas. Hari itu dia mentraktir Yoga makan daging sepuasnya, karena telah menyelamatkannya.
Jika Yoga tidak melakukannya, Antonio pasti tidak akan selamat.
“Tidak.” Kata Antonio sekali lagi, kali ini lebih tegas—mengerahkan sisa kekuatannya untuk melawan. Dia berusaha menarik tangannya lepas dari genggaman perempuan itu.
Dia menyentakkan genggaman tangan mereka dan berhasil membebaskan diri. Sudah bangkit akan berlari saat perempuan itu mengayunkan tangannya. Kekuatan tidak kasat mata mencengkeram pergelangan kakinya dan menarik Antonio hingga dia terjerembab dan dagunya menghantam lantai.
Dia meraung kesakitan; berharap dengan nyaris frustasi Yoga mendengarnya.
Dia mencengkeram karpet dengan jarinya saat kakinya ditarik, perempuan itu memaksanya mendekat kali ini menggeram seperti binatang liar dan Antonio tidak mau menghadapi kemurkaannya hari ini. Antonio menangis, terisak-isak ketakutan sementara dia mulai berteriak.
Dia terus meraung, berusaha menahan dirinya agar tidak ditarik ke pelukan perempuan itu sebelum kemudian sebuah bogem mentah disarangkan ke rahangnya.
“Tidaaaak!!!” Seru perempuan itu, meraung seperti seekor singa betina yang terluka, berusaha meraih Antonio agar kembali ke genggamannya namun terlambat; Antonio sudah terbebas dari belenggu alam bawah sadarnya.
Dia terkesirap keras, seolah baru saja dilempar dari ketinggian dan mendarat di kasurnya. Matanya menyesuaikan diri dalam gelap, melihat Yoga dengan kaus kutang dan celana bokser mentapnya ngeri. Rahang bawahnya berdenyut mengerikan dan dia merasakan darah terbit di rongga mulutnya—namun rasa sakit itu membuatnya senang.
Dia selamat. Dia selamat dari perempuan itu.
“Nio?” Panggilnya lembut. “Kau sudah bangun?”
Nio gemetar, dia membekap wajahnya dan mulai menangis—ketakutan mengguncang otak kecilnya membuatnya benar-benar trauma.
Dia selamat...
Yoga mendesah, dia duduk disisi Nio dan merengkuhnya dalam pelukannya yang beraroma seperti sampo Dalkyum yang mendengking di sisi mereka, ikut menangis. Yoga membiarkan Nio menangis di pelukannya—dia selalu melakukannya. Dia selalu menyelamatkan Nio dari mimpi buruknya; selalu mendengar tiap suara erangan keras Nio karena dia light sleeper, terbiasa memenuhi kebutuhan anjingnya.
Dia selalu berlari ke kamar Nio, mendapati temannya sedang bergerak-gerak gelisah, menangis dan berteriak tertahan dalam tidurnya. Dia mengguncangkan tubuh Nio, menariknya bangun hingga akhirnya dia berbisik maaf sebelum menampar wajah temannya dengan keras.
Hingga dia paham satu-satunya cara untuk membuat Nio bangun adalah dengan menampar atau menonjoknya.
“Maaf tentang tonjokannya,” gumamnya. “Sudah lama sejak terakhir kali aku harus memukulmu agar bangun dari mimpi burukmu. Kenapa sekarang dia kembali?” Tanyanya dalam kegelapan dan Nio benar-benar tidak ingin membicarakannya.
“Yoga,” kata Nio, tercekat dengan suara parau yang mengerikan. “Tolong,” dia tercekat. “Tolong sambungkan aku dengan Kak Bi. Aku... tidak sanggup lagi.”
*