Kuliah, Kerja, Nyantai / 11


Kesalahan nomor satu: Jeongguk lupa berdoa.

Maka saat dia mendorong pintu toilet lelaki di sudut gedung, berseberangan dengan kantin Sastra belakang yang menjadi tempat anak-anak merokok dan diam-diam menyelundupkan minuman keras, dia nyaris terpeleset dan mempermalukan dirinya sendiri.

Karena di urinal, ada Taehyung—atau dia pikir itu Taehyung dari foto buram di Twitter-nya yang mengenakan kemeja flanel hangat sewarna tanah sedang menurunkan resleting celananya untuk bersiap-siap membuang urin.

Jeongguk mengerjap. Oh, wow.

“Taehyung?” Tanyanya, mengingat wajah yang dilihatnya di profil Twitter Taehyung yang tadi diseluncurinya; berusaha mencari foto wajah Taehyung yang lebih jelas namun tidak menemukannya sama sekali.

Dia pemuda yang sungguh sangat menarik—rambutnya mengikal menggemaskan, menggunakan kacamata bergagang hitam yang jika digunakan orang lain pasti akan membuat mereka nampak membosankan; jenis lelaki yang akan dijauhi Jeongguk karena tidak ingin mendengarkan ocehan mereka tentang anime.

Namun Taehyung membuat kacamata itu nampak panas.

Mendadak Jeongguk merasa dia butuh Taehyung membantunya membidik arah urinnya agar tidak meleset.

Dia berdeham saat Taehyung melemparkan senyuman ramah, “Halo. Ya. Kau Jeongguk?” Balasnya ramah dan Jeongguk mendesah, suaranya begitu menggemaskan. Senyumnya begitu menggemaskan—segalanya menggemaskan.

Sekaligus, panas. Bagaimana Jeongguk harus menjelaskan ini dengan bahasa manusia yang sangat terbatas untuk menggambarkan keindahan yang jelas-jelas tidak berasal dari Bumi.

Dia seperti seekor beruang menggemaskan yang mendengkur tiap kali dipeluk namun menggeram saat teritorinya terganggu, menyerigai dan mengangkat cakarnya; siap menindih dadamu dan menghabisimu. Jeongguk langsung menghampiri urinal, membiarkan pintu di belakangnya tertutup sendiri lalu berdiri di sisi Taehyung—persis.

Selalu ada peraturan tidak tertulis antarlelaki; tidak boleh bersebelahan di urinal. Sangat tidak sopan dan tidak memberikan privasi dalam kegiatan membuang urin mereka yang sakral—mengeluarkan aset mereka di tempat umum adalah kegiatan sakral. Tapi Jeongguk ingin mengintip—mengintip apa saja yang bisa diintip dan Taehyung menyadari itu. Alih-alih bersikap geli seperti apa yang dipikir Jeongguk, dia terkekeh. Menurunkan resleting celananya dengan rileks seolah tidak terjadi apa pun.

“Kau berubah pikiran tentang dibantu membidik?” Godanya melirik Jeongguk yang mendenguskan tawa kecil.

“Aku tidak ingin mengagetkanmu.” Katanya tersenyum sopan dengan nada merendah yang mengundang tawa Taehyung.

Try me,” sahutnya.

Jeongguk suka selera humornya—oh, sangat menyukainya. Dia langsung paham lelaki ini akan jadi teman akrabnya di pondokan nanti. Mulai berpikir ternyata KKN tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Jika dia punya teman dengan otak sama miringnya dengannya, maka Jeongguk pasti akan keluar dari KKN dalam keadaan hidup dan utuh.

Dia sudah berpikir dia akan mendapatkan teman KKN serius, tipe orang rajin yang sulit diajak berteman. Malas jika harus mendengarkannya mengomel tentang program kerja atau laporan atau tetek-bengek lainnya. Dia ingin teman yang seru, teman yang akan membuat KKN-nya sangat berkesan.

Saat melihat jurusan Taehyung, dia sudah membayangkan lelaki serius yang pasti akan memberengut permanen seharian. Mungkin juga bau badan menyengat yang akan membuat Jeongguk almarhum karena harus tidur satu kamar dengannya.

Tidak, Tuhan menganugerahinya seorang lelaki sehat memesona dengan parfum maskulin lembut. Selera humor sehat dan senyuman mendebarkan. Dan aset yang aduhai—Jeongguk hanya mengintip sedikit, kok.

Jeongguk akan rajin beribadah mulai sekarang. Amin.

Mereka bersidiam saat menuntaskan urusan mereka sebelum menyiram urinal dan mencuci tangan di wastafel. Jeongguk jarang melakukannya, malas. Tapi dia ingin menciptakan kesan baik di hadapan Taehyung, maka dia mencuci tangannya sebelum mereka melangkah beriringan menuju K02 yang berada di seberang Taman Sastra.

Ruangan itu penuh, suara-suara ocehan menguar di udara. Pengeras suara dinyalakan, dosen pembimbing lapangan mereka sudah duduk di meja depan sedang menyalakan laptopnya untuk memulai presentasi membosankan tentang visi-misi dan tujuan KKN PPM Angkatan LV (55) yang sama sekali tidak dipedulikan Jeongguk.

“Kita duduk di mana?” Tanya Jeongguk saat mereka melihat ruang kelas yang penuh anak-anak

You tell me,” Taehyung mengedarkan padangan pada ruangan raksasa berlangit-langit tinggi, penuh jendela dengan kipas angin yang menyala meniupkan angin panas karena ruangan yang begitu penuh.

Jendela-jendela dibuka, membiarkan suara dan sinar matahari serta angin berhembus masuk. Mata-mata orang melirik ke dalam kelas, mengamati apa yang mereka lakukan. Pemandangan K02 langsung ke parkiran mobil dan parkiran motor, Jeongguk biasanya selalu mengantuk jika mendapatkan kelas ini—terlalu ramai.

“Ini, 'kan, wilayah kekuasaanmu.” Tambah Taehyung kemudian.

Jeongguk terkekeh, baru saja akan mengajaknya duduk di belakang dekat jendela saat seorang melambai bersemangat—di sayap kiri dekat jendela yang terbuka ke arah lorong.

“Kak Gguk!” Seru suara yang sudah akrab dengan telinga Jeongguk. “Di sini!”

Keduanya menoleh, dan Jeongguk menemukan adik tingkatnya—Tzuyu. Salah satu kenapa teman-teman straight-nya iri dengan kelompoknya. Tzuyu salah satu jajaran Bidadari Sanata Dharma yang selalu membuat anak-anak fakultas lain menyempatkan diri lewat di lorong Sastra Inggris demi melihat wajahnya. Dia aktif sebagai model dan pembawa acara.

“Aku tidak suka perempuan, duh.” Begitu kata Jeongguk tiap kali teman-temannya menyeutkan betapa beruntungnya dia bisa satu pondokan dengan Tzuyu. “Dan aku tidak akan mengambil gambar dalamannya untuk kalian berapa pun bayarannya.” Dia mendelik, marah. “Get your horny ass somewhere else, you disgusting dickhead!”

Bagi Jeongguk, Tzuyu anak manis yang sangat sopan. Hanya itu. Dia selalu menyapa kakak tingkatnya dengan sopan, selalu tersenyum ramah dan dia membantu Jeongguk menyelesaikan kelas Structure 4 yang diulangnya—maka satu-satunya hal yang membuatnya senang adalah karena dia bertemu wajah yang tidak asing di kelompoknya.

Jeongguk melambai, dia memberi tanda pada Taehyung untuk mengikutinya menaiki tangga di tengah ruangan ke arah dua meja yang disatukan sehingga semua orang duduk. Jeongguk menyapukan pandangan ke teman-teman kelompoknya dan berseru senang; tidak ada wajah serius yang menyebalkan.

Semuanya nampak menyenangkan!

“Hai!” Sapanya, menarik kursi kayu terdekat dan duduk di sisi Taehyung. “Jeongguk.” Katanya.

“Kalian sungguh pergi ke toilet bersama?” Tanya perempuan di sudut yang tidak dikenal Jeongguk namun Taehyung terkekeh.

“Ya, dan apa yang terjadi di toilet adalah rahasia kami, Mo.” Dia melemparkan kedipan pada Jeongguk yang langsung menyambutnya dengan jentikan jari nyaring dan mengaum genit dan mengatakan 'rraaw!'

“Menggelikan!” Seru lelaki mungil dengan mata rubah yang dikenali Jeongguk sebagai Yoongi, namun dia tertawa dan Jeongguk senang—dia punya selera humor walaupun wajahnya nampak seperti orang sembelit.

Oh, tidak ada yang homofobia juga ternyata. Syukurlah.

“Taehyung.” Kata Taehyung kemudian, setelah kehebohan masalah toilet reda. “Halo semuanya.”

Lalu pemuda berwajah imut dengan rambut sedikit terlalu panjang di bagian tengkuk mengangguk, “Yugyeom. Halo, Kak.”

Jeongguk dan Taehyung seketika menjentikkan jari mereka dengan heboh dan seolah sudah memiliki ikatan yang sangat erat, Yugyeom langsung berdiri membalasnya. Mereka mengeluarkan suara-suara aneh lalu berteriak, “Yoooo!” dengan heboh—beberapa anak menoleh ke arah mereka dengan alis berkerut, jijik.

Peduli setan. Jeongguk tidak punya waktu memikirkan orang-orang gengsi yang terlalu sibuk menjaga image mereka. Dia butuh lebih banyak orang seperti teman-teman KKN-nya di dunia.

“Apa-apaan!” Dahyun tertawa, tidak paham bagaimana bisa mereka yang belum pernah bertemu jadi seakrab itu—begitu saja.

“Mereka sama-sama sinting ternyata!” Momo menyeka rambutnya, menimpali tawa mereka dan Tzuyu bahkan tidak bisa bernapas karena tersengal tawanya sendiri.

Bahkan Yoongi, yang berwajah paling normal di kelompok itu tidak bisa tidak tertawa.

“Pak Kormadus,” sapa Jeongguk, berdiri dan membungkuk sopan, mengulurkan tangan tangannya dan tangan kirinya menyentuh sikunya—menyalami Yugyeom yang mengangguk sopan seperti Pak Lurah dan menerima jabatan tangan Jeongguk. “Sudah lama, Bapak? Maaf, Pak, saya terlambat. Tadi macet. Ada urusan di toilet juga.” Jeongguk nyengir, membungkuk-bungkuk menjilat.

Yugyeom mangut-mangut, menyalami Taehyung yang juga meniru gerakan Jeongguk. “Tidak apa-apa.” Katanya, membenahi kacamata imajiner di wajahnya. “Saya juga tadi kena macet. Memang Yogyakarta ini mulai penuh, ya?”

“Bisa tidak kalian biasa sedikit?” Tanya Yoongi, tersenyum lebar menatap ketiganya.

“Ya, maaf, jika kami memang luar biasa.” Taehyung mengibaskan tangannya dan Jeongguk langsung menjulurkan tangannya, Taehyung membalasnya dengan high-five.

Wow. Jeongguk semakin menyukai Taehyung.

“Begini lebih asyik.” Taehyung duduk, Yugyeom bertukar kursi dengan Tzuyu—duduk dekat dengan Jeongguk dan Taehyung yang sekarang resmi menjadi sahabat karibnya.

Pertemuan di mulai dengan penjelasan membosankan seperti yang diduga Jeongguk. Mereka bertujuh sibuk mengobrol, mengakrabkan diri dengan begitu natural. Taehyung mengobrol dengan Yoongi, para perempuan membicarakan benda-benda yang mereka bawa. Jeongguk sudah merasakan keakraban dan kekeluargaan mereka terasa hangat.

Dia suka sekali kelompoknya, dia mendengus senang.

“Kelompok 10 sudah duduk bersama, ya, saya lihat?” DPL mereka memanggil dari depan saat semua anak dibubarkan untuk bertemu kelompok mereka masing-masing; sibuk berseru mencari kelompoknya seperti kerumunan kambing.

“Sudah, Pak, lengkap!” Yugyeom melambai, teman-temannya mengacungkan jempol pada DPL mereka yang tertawa—menyadari ikatan keakraban yang sudah terjalin di kelompok itu.

“Kami sudah punya kormadus juga, Pak!” Tambah Taehyung dan Yugyeom mendesah keras, namun tidak protes.

“Tenang, nanti kita semua akan membantumu.” Yoongi menepuk bahunya akrab. “Tidak perlu takut, kami tidak akan melimpahkan semuanya padamu begitu saja. Itu hanya semacam formalitas, kita bekerja sama-sama.”

Yugyeom merileks di tempat duduknya. “Trims, Kak!” Katanya, tersenyum seperti seekor anak anjing menggemaskan.

DPL mereka mengangguk, “Silakan tulis nama, jurusan, dan nomor telepon kalian di selembar kertas, ya. Beri keterangan siapa kormadusnya lalu sekalian motor siapa saja yang akan dibawa untuk survei dan selama KKN. Nomor kendaraannya juga.”

Tzuyu langsung mengeluarkan buku catatan dari tasnya dengan sigap, juga sebatang pulpen. “Kita punya empat lelaki, jadi nanti ada satu orang yang berkendara sendiri, ya?” Tanyanya.

“Aku saja,” Yoongi mengangguk. “Kalian bisa memboceng perempuan-perempuan.” Dia menatap Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom yang mengangguk mengiyakan.

“Aku tidak mau dengan Kak Gguk,” Tzuyu langsung bergidik dan Jeongguk tertawa.

“Memangnya kenapa?” Tanya Momo, mendongak dari ponselnya.

“Motorku KLX, platnya AD 2445 AH.” Jeongguk tertawa saat melihat ekspresi semua perempuan yang langsung tidak mau dibonceng olehnya dengan alasan pantat sakit dan sulit memanjat naik. “Maaf, Ladies, aku harus terlihat keren.”

Taehyung terkekeh, “Sampah.” Katanya dan Jeongguk tertawa semakin keras.

“Aku akan bawa motor sendiri jika boleh?” Dahyun menatap semuanya, “Aku tidak apa-apa kok. Dan aku akan jadi yang sering pulang selama KKN karena ibuku sendirian di rumah jadi kurasa lebih baik aku bawa motorku sendiri. Aku bisa membonceng Tzuyu jika dia tidak mau dengan Jeongguk.”

Yugyeom mengerjap, “Aku tidak yakin. Kita tidak tahu medan ke lokasi pondokan. Kau yakin?”

Dahyun mendengus, jelas benci diremehkan karena jenis kelaminnya. “Yakin! Aku suka touring, berkendara ke Gunungkidul bukanlah hal paling menantang dalam hidupku. Motorku juga Vario 125, enak digunakan di jalanan menanjak.”

“Aku dengan Kak Yun!” Tzuyu langsung bersemangat.

Yugyeom melirik senior-senior lelakinya yang nampak belum setuju namun akhirnya sepakat karena para perempuan jelas tidak akan mau dibonceng motor Jeongguk yang jika dipikir akan sangat berguna di medan bagaimana pun. Setelah perdebatan alot, akhirnya diputuskan yang membawa motor adalah: 1) Dahyun-Tzuyu, 2) Jeongguk-Taehyung, 3) Yoongi, dan 4) Yugyeom-Momo.

Mereka mengakhiri pertemuan pertama dengan janji akan bertemu untuk membahas program kerja utama. Mereka harus menulis proposal pengajuan dana kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Kormadus, sekretaris (Tzuyu) dan bendahara (Dahyun) dipilih langsung saat itu juga. Kormadus dan bendahara akan bertanggung jawab mengambil uang makan mereka nantinya.

Yugyeom sempat mengajak mereka makan siang bersama yang langsung ditolak Momo dan Dahyun karena mereka ada kegiatan kelompok. Momo harus buru-buru kembali ke Paingan bertemu kelompoknya. Tzuyu juga memilih pulang dan Yoongi harus mengurus pembayaran UKT-nya yang tidak terverifikasi ke Gedung Pusat.

Menyisakan Yugyeom, Jeongguk dan Taehyung.

“Keberatan jika aku merokok?” Tanyanya pada kedua temannya yang berdiri di sekitarnya dan keduanya menggeleng.

“Silakan.” Taehyung mengangguk, mempersilakan sebelum kembali menunduk pada ponselnya dan Yugyeom juga mengangguk, tidak nampak keberatan sama sekali.

Jeongguk selalu minta izin jika akan merokok karena dia paham tidak semua orang tahan menghirup aroma rokok. Dia mengingatkan diri untuk bertanya pada para perempuan apakah mereka keberatan dengan rokok.

“Kau pulang?” Tanya Jeongguk kemudian, merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak rokok. Taehyung berdiri di sisinya, menatap layar ponselnya.

“Tidak,” katanya, menatap Jeongguk yang sekarang menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya dan menyalakannya dengan pematik. “Aku ingin cari makan siang. Kalian mau makan?”

Yugyeom mengangguk, “Kita makan apa? McD?” Tawarnya.

Jeongguk mengembuskan asap rokoknya, menawarkannya pada kedua temannya dan berpikir mereka akan langsung menolaknya, namun ternyata Taehyung meraih kotaknya; mengambil sebatang.

Jeongguk menatapnya. “Kau merokok, Bung?” Tanyanya, setengah geli dan setengah kaget—tidak menyangka sama sekali.

“Apa?” Tanya Taehyung, mengambil rokok Jeongguk dari mulutnya dan menyulut rokoknya dengan bara api rokok Jeongguk.

Wow. Itu seksi, pikir Jeongguk. Hal yang biasa saja, dia sering melakukannya dengan teman-temannya jika tidak ada pematik saat akan merokok. Namun ada sesuatu dari cara Taehyung meraih rokoknya, menempelkan baranya di rokoknya sendiri lalu menghisap rokoknya berkali-kali; agar bara menyala yang nampak tidak biasa sama sekali.

Asap berhamburan di wajahnya, sejenak mengaburkan pandangan Jeongguk sebelum Taehyung menghembuskan asap pertama rokoknya, mengembalikan rokok Jeongguk ke mulutnya; jemarinya menyentuh bibir Jeongguk. “Aku terlihat sealim itu, ya?” Tanyanya, menyukar rambutnya dan menaikkan sebelah alisnya—menggoda.

Jeongguk menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah, setengah menyerigai. “Tidak semenjak kau menawarkan diri untuk membantuku membidik asetku saat membuang urin.”

Taehyung tertawa, serak dan berat—suaranya membelai kulit Jeongguk dengan cara yang begitu aneh. “Kau akan menemukan banyak hal yang membuktikan betapa tidak alimnya aku nanti, satu bulan di bawah atap yang sama.”

Alis Jeongguk naik sebelah, tertarik. “Menarik.” Katanya sopan, menyesap rokoknya.

“Anu, Kak? Permisi?”

Keduanya mengerjap, menoleh ke Yugyeom yang meringis—terlupakan saat mereka berdua sibuk melemparkan mata pancing pada satu sama lain seperti dua ekor binatang buas.

“Makan siang?” Tanyanya, tersenyum lebar hingga Jeongguk ingin mengulurkan tangan dan mengacak rambutnya—anak manis, Yugyeom itu. “McD Ambarrukmo?”

“Maaf, maaf.” Kekehnya. “Ya. Boleh,” katanya memasukkan kotak rokoknya ke waist bag yang diselempangkannya melintang di dadanya. Dia menjentikkan abu rokoknya ke tempat sampah di sisinya. “Aku bisa membonceng salah satu dari kalian yang tidak buru-buru daripada kita ke sana dalam tiga motor.”

“Aku,” Taehyung nyengir. “Aku kosong seharian.”

Jeongguk menjentikkan jarinya dan Taehyung tertawa—mudah membuatnya tertawa, Jeongguk menyadarinya. Selama pertemuan tadi, dia tidak berhenti membuat semuanya tertawa dengan selera humornya. Yugyeom menimpalinya dengan sangat ceria seperti seekor anak anjing yang senang.

Kelompoknya terasa sangat akrab padahal mereka baru saja bertemu; terima kasih kepada Yugyeom dan Taehyung yang ternyata sangat cerewet—tidak seperti yang dibayangkan Jeongguk. Dahyun dan Momo pun syukurnya bukan tipe perempuan merepotkan yang manja—mereka terlihat tidak neko-neko dan bisa mengangkat galon mereka sendiri.

Jeongguk benar-benar harus lebih rajin ibadah sekarang karena dia yakin keberuntungan ini ada harganya.

Yugyeom tertawa. “Ayo, Kak. Aku lapar.” Katanya, memimpin para seniornya ke arah parkiran.

“Tidak perlu 'kak',” kata Jeongguk, merangkul Yugyeom hangat saat mereka menyeberangi jalan ke arah parkiran. “Jeongguk saja cukup.”

Taehyung mengekor mereka, tertawa. “Taehyung saja cukup.” Tambahnya. “Lagi pula aku tidak gila hormat. Panggil saja Taehyung, terdengar lebih akrab.”

“Kalau 'sayang', boleh tidak?” Kerling Jeongguk saat mereka melompati tanaman hias dan mendarat di lahan parkir yang diberi kanopi-kanopi rapi sementara Yugyeom merogoh sakunya mencari kunci dan karcis parkir.

“Boleh, dong.” Taehyung mengedipkan sebelah matanya, menjentikkan abu rokoknya dan Jeongguk tertawa. “Apa, sih, yang tidak untukmu?”

Jeongguk tertawa. KKN-nya akan jadi pengalaman yang luar biasa, dia bisa merasakannya.

“Tolong acara saling menggodanya dibuat lebih samar, ya, Kak. Jangan terang-terangan begitu.” Yugyeom mendesah di antara mereka dan Taehyung merangkulnya dari sisi lainnya—mereka berjalan di lorong sempit parkiran seperti bayi kembar siam.

“Kenapa memangnya? Kau punya pacar tidak, Yug?” Tanya Jeongguk, menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke pinggir, menjauh dari teman-temannya.

“Punya, lah. Jelas.”

“Wah, sial. Aku tidak.”

“Payah.” Sahut Taehyung terkekeh dari sisi Yugyeom satunya; tangan mereka tumpang tindih di bahu Yugyeom. “Wajah bajingan, motor keren, eh jomlo.” Godanya dan Yugyeom tertawa.

Jantung Jeongguk berhenti berdetak sejenak, “Oh, ya?” Katanya, berusaha sekuat tenaga agar nampak tenang walaupun dia panik. Apakah ini berarti... “Memangnya kau punya?” Tanyanya, berdebar—tolong, jangan. Jangan. Jangan...

“Tidak juga, sih.” Taehyung tertawa dan Yugyeom tertawa semakin keras, mengatakan sesuatu yang tidak didengar Jeongguk karena perasaan lega membanjiri seluruh tubuhnya; membuat telinganya berdenging.

Jeongguk menghembuskan napasnya, yang entah sejak kapan ditahannya. Jantungnya kembali berdebar dengan rileks. Syukurlah.

Syukurlah.