eclairedelange

i write.


“Ban'hun!” Bangun!

Taehyung mengerang dan membuka matanya, mendapati Tzuyu sedang menggosok gigi dengan rambut digelung naik menjulang di hadapan mereka, menatap geli.

“Gem'as se'hali ha'ian ini,” Gemas sekali kalian ini, katanya mengeluarkan sikat giginya, noda busa pasta gigi menempel di ujung bibirnya. Dia tersenyum lebar, melirik tangan Taehyung yang berada dalam genggaman tangan Jeongguk yang masih mendengkur.

Taehyung mendenguskan senyuman, meraih kacamatanya dan mengenakannya. Barulah dia bisa melihat dengan jelas semua orang yang sudah bangun dan bersiap untuk kegiatan mereka hari ini.

“Bangun!” Tzuyu menendang kaki Jeongguk.

Entah mengapa semua anak KKN jauh lebih kasar pada Jeongguk dan bersikap lembut pada Taehyung. Mungkin karena Jeongguk suka sekali menendangi mereka tiap mereka tidur di tikar ruang tengah seperti seorang bajingan tulen. Maka mereka selalu membalasnya tiap kali ada kesempatan dan Jeongguk cukup santai untuk tidak merasa tersinggung pada lelucon apa pun yang digunakan teman-teman untuk menggodanya.

“Diam!” Erang Jeongguk, membuka matanya dan menghalau Tzuyu yang sekarang menggunakan kakinya untuk menginjak-injak betis Jeongguk. “Tzuyu!” Gertaknya dan Tzuyu tertawa dengan nada ceria.

“Cepat bangun!” Kata Tzuyu sekali lagi, menandak ceria pergi ke luar untuk membasuh pasta giginya.

Taehyung tersenyum, Jeongguk versus semua anak anggota KKN adalah sebuah aktivitas harian di pondokan. Dia melepaskan tangannya dari Jeongguk yang langsung membuka matanya, mengerutkan alis tidak suka dan Taehyung menyentil keningnya.

“Kita harus bersiap untuk program kerja, ayo.” Taehyung bangkit, meregangkan tubuhnya lalu membungkuk untuk membereskan kantung tidur dan bantal-bantal mereka.

Di sisi mereka, Namjoon dan Hoseok masih terlelap dengan sarung sebagai selimut sementara Seokjin sudah duduk menonton televisi—nampak segar setelah mandi.

“Pagi, Kak.” Sapa Taehyung ramah pada Seokjin yang menoleh dan tersenyum.

“Halo, pagi.” Sahut Seokjin sama ramahnya, seperti madu yang menetes. “Kalian menggemaskan sekali saat tidur.” Tambahnya nyengir dan Taehyung merona samar—selama ini mereka selalu bangun sebelum anak-anak lain sehingga tidak ada yang menyadari bahwa dia harus menggenggam tangan Jeongguk agar terlelap.

Seokjin kemudian memasang wajah serius dan Taehyung senang karena dia membiarkan pernyataan tentang cara tidur Taehyung lolos begitu saja. “Omong-omong, aku terbangun Subuh tadi dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini.”

Dia mengerling meja yang sekarang penuh botol-botol obat berukuran kecil dan jarum-jarum suntik yang berjejer siap digunakan. Dibagi menjadi 3 sesuai dengan dokter hewan yang bertanggung jawab hari itu.

“Yugyeom belum bangun, jadi kurasa aku bisa bertanya padamu?” Seokjin berdiri dan Taehyung mengekornya ke meja ruang tengah yang biasanya penuh gelas-gelas bekas minum mereka sebelum dibereskan mereka yang mendapat giliran mencuci piring setelah makan.

“Kita akan membagi diri menjadi tiga kelompok saja,” Seokjin mengangguk ke alat-alat yang dia siapkan.

“Ya, betul, Kak.” Sahut Taehyung, kemarin dia sudah berhasil meminta Heechul untuk datang membantu mereka. “Nanti akan ada seorang lagi yang membantu jadi kelompoknya tidak timpang. Kak Seokjin nanti akan bersamaku dan Tzuyu, Kak Namjoon bisa dengan Yugyeom, Jeongguk dan Dahyun. Lalu Kak Hoseok bisa dengan Yoongi, Momo dan Kak Heechul.”

Seokjin mengangguk-angguk, “Ada alasan kenapa hanya kita yang bertiga?” Tanyanya meringis. “Menurutku malah sebaiknya aku terjun ke wilayah yang lebih banyak ternaknya dibanding adik-adik tingkatku. Bagaimana?”

Taehyung sudah membicarakan ini dengan Bapak semalam, mereka membagi diri menjadi tiga kelompok dan kelompok Taehyung memang terjun ke RT yang lebih banyak ternaknya dengan medan yang lebih ekstrim.

“Kita memang ke medan yang ekstrim dan lebih banyak ternaknya, kok, Kak.” Dia tersenyum lebar. “Nanti Kakak akan dibonceng Bapak yang lebih hafal jalanannya karena bagian kita agak naik ke bukit sana,”

Seokjin bersiul, nampak bersemangat. “Kita akan berpetualang, ya, hari ini?” Katanya terkekeh serak lalu duduk di salah satu kursi, mulai membereskan alat-alatnya ke dalam tas berwarna hijau tentara. “Teman-temanmu juga akan diantar warga desa, 'kan? Supaya aman.”

Taehyung mengangguk. Jeongguk yang akrab sekali dengan Karang Taruna Desa sudah berhasil mengajak dua orang pemuda untuk mendampingi mereka berkeliling agar tidak tersesat sekaligus membonceng dokter hewan mereka hari ini.

“Sudah siap semua, Kak. Kita berangkat jam delapan pagi sebentar lagi.” Taehyung mengangguk dan Seokjin balas mengangguk, dia menyugar rambutnya memamerkan keningnya yang mulus dan tinggi—dia sangat menarik hingga Taehyung bertanya-tanya kenapa Yoongi tidak juga menanggapinya.

“Bersiap-siaplah,” Seokjin kemudian tersenyum. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Program kerja Taehyung dan Jeongguk maju sehari karena ternyata Seokjin punya operasi penting besok; dia tadi menyebutkan tentang anjing yang tertabrak dan harus segera ditindak. Dia meminta Taehyung mempertimbangkan untuk memajukan program kerjanya saja daripada memundurkannya dan Taehyung setuju.

Mereka bergiliran mandi dengan tertib, Jeongguk yang terakhir karena dia memilih untuk berguling di kasur saat semua orang bersiap-siap. Akhirnya saat Heechul tiba untuk membantu, mereka semua sudah siap untuk berangkat. Bapak mendampingi mereka saat para dokter hewan mulai memilah-milah alat mereka dan menggendong tas yang terisi obat dan jarum-jarum suntik sekali pakai.

“Dosisnya sudah saya atur sesuai kebutuhan,” kata Seokjin pada adik-adik tingkatnya. “Kalian sudah paham dosis untuk ukuran ternak, 'kan? Jadi seharusnya tidak masalah. Sudah tahu caranya menyuntik juga, 'kan?” Tambahnya setengah menggoda dan Namjoon serta Hoseok terkekeh mendengar gurauan itu.

“Baiklah, berarti semua oke.” Seokjin kemudian mengangguk pada Taehyung.

“Baiklah, terima kasih, Kak Seokjin.” Taehyung mengangguk lalu menatap teman-temannya yang sekarang sudah mengenakan jas almamater mereka, seragam resmi yang harus mereka gunakan tiap kali keluar dari pondokan untuk program kerja dengan kartu identitas yang menggantung di leher.

“Teman-teman, mohon bantuannya hari ini untuk prokerku dan Jeongguk.” Katanya sementara di sisinya, Jeongguk masih merokok bersikap seperti calon wakil presiden mendengarkan pasangannya berpidato. “Jika nanti proker berjalan dengan mulus Jeongguk akan mentraktir kita semua ayam lalapan di depan Pasar Wedi.”

Jeongguk tersedak asap rokoknya sendiri. “Hah?” Katanya namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, semua orang mengaminkannya.

“Asyik, terima kasih, Jeongguk!”

Jeongguk memicingkan matanya, melirik Taehyung yang balas menatapnya, tersenyum lebar. “Tenang, kubantu.” Katanya menepuk bahu Jeongguk hangat sebelum berpisah.

Semua perempuan dan dokter hewan naik ke atas, bersiap menunggu para pengendara motor yang akan membonceng mereka berkeliling desa untuk menyuntikkan vaksin dan vitamin untuk ternak warga desa.

Taehyung sudah tahu hari itu akan sangat melelahkan namun toh dia masih saja kaget saat harus menghadapi ternak. Seokjin di lain sisi, terlihat sangat tenang saat bertemu hewan yang menatapnya tidak suka, dia menepuk-nepuk bahunya, mengobrol dengan pemilik ternak yang berdiri di sisi hewan itu agar dia tidak mengamuk lalu Seokjin menyuntiknya begitu saja.

Taehyung yakin si sapi tidak sempat merasakan apa pun. Seokjin kemudian menepuk-nepuk bagian yang disuntik dan kembali menutup ujung jarum suntiknya sebelum berpamitan. Dia mengenakan kemeja tebal cokelat dan sepatu karet yang akan melindunginya dari kotoran hewan yang dihampirinya.

Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, Seokjin mendengarkan semua keluhan warga desa dan bangkan menerima beberapa pekerjaan dari mereka. Ada yang ternaknya sakit, ada yang akan melahirkan, dan macam-macam.

Matur nuwun, ya, Mas. Berguna sekali programnya.” Kata seorang petani saat Seokjin menghampiri kambingnya yang mengembik marah. Jelas tidak suka pada Seokjin yang datang menyembunyikan jarum suntik di balik lengan bawah kanannya.

“Tenang,” Seokjin terkekeh, mengulurkan tangan dan sedetik kemudian dia sudah selesai memberi vaksin kambing yang mengembik marah—semakin jengkel karena dia merasa baru saja ditipu. “Sudah, Jagoan.” Katanya.

Taehyung tersenyum mendengarnya. Mendengar betapa warga desa sangat mengapresiasi bantuan mereka membuatnya senang. Ternyata mereka datang ke desa ini tidak hanya menjadi tamu yang menyusahkan, mereka melakukan sesuatu yang membuat warga desa merasa tertolong. Hati nurani Taehyung merasa baru saja disuapi dengan nektar manis.

Medan yang mereka tempuh benar-benar mengerikan. Syukurlah hari itu Taehyung menggunakan motor Jeongguk karena Bapak memperingatinya tentang medan lokasi yang menjadi tanggung jawab Taehyung. Mereka melewati jalan becek berbatu, hutan bambu mengerikan yang membuat Tzuyu mengerang, tanjakan sempit yang curam, jalan kecil dengan jurang tinggi di sisinya, bahkan satu rumah yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Mereka memarkir motor mereka sekitar 1 kilometer dari rumah penduduk itu dan berjalan kaki, melewati jalanan kecil yang sudah diperhalus dengan campuran semen namun beberapa bagian sangat licin karena lumut tebal yang tumbuh subur. Mereka berjalan pelan-pelan, mempertimbangkan setiap langkah agar tidak terpeleset. Tzuyu berjalan di depan Taehyung agar dia bisa menangkapnya jika gadis itu terjatuh. Bapak dan Seokjin berjalan di depan, membicarakan ternak dengan akrab.

Taehyung melewati jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu orang, berbatu kapur tajam dengan pemandangan lepas kota yang sangat indah dikejauhan hingga mereka semua berhenti sejenak—menikmati pemandangan itu dan desau angin yang gemuruh. Rumah-rumah penduduk nampak seperti titik-titik putih di kejauhan, pandangan mereka lepas tanpa batas hingga ke garis horizon yang lenyap di kejauhan.

“Indah sekali,” bisik Tzuyu di sisinya, mengangkat ponsel dan mencoba mengabadikan pemandangan itu namun dia berdecak kecewa; kamera ponsel sekali pun tidak bisa menangkap keindahannya dengan sempurna.

Seokjin tertawa di sisinya, “Memang ada hal-hal yang sebaiknya dinikmati dengan mata telanjang alih-alih diabadikan dengan kamera, ya, 'kan?” Ujarnya tersenyum pada Tzuyu yang mendesah sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah warga itu.

Rumah terakhir mereka cukup sederhana, namun sudah berkeramik dan memiliki atap permanen. Bapak langsung menyapa tuan rumah yang mengantar mereka ke kandang sapinya. Seokjin langsung melakukan kebiasaannya yang sejak tadi diamati Taehyung; dia mendekat, menenangkan hewan yang ketakutan dengan tepukan sayang di bahunya lalu menyelipkan vaksinnya begitu saja. Lalu menepuknya sayang kembali.

Dia bekerja dengan sangat efisien, cepat dan tepat. Tidak membuang-buang waktu sama sekali. Mereka berhasil menyelesaikan semuanya dengan waktu lebih singkat sehingga Seokjin bisa membantu teman-teman mereka; mengambil beberapa rumah lagi di sekitar mereka untuk menghabiskan sisa vaksin di tasnya.

“Jadi, sudah berapa lama kau dan Jeongguk?” Tanyanya saat mereka berjalan kembali ke tempat motor mereka diparkir.

Taehyung mengerjap, tidak menyangka Seokjin akan menanyakan ini padanya. “Kami tidak pacaran.” Katanya tertawa kecil walaupun jantungnya berdebar—Seokjin tidak mengincar Jeongguk, 'kan?

Taehyung berhenti tertawa saat menyadarinya. Ketakutan merayap di punggungnya, seperti ratusan semut. Dia menyukai Yoongi, 'kan? Dia tidak bertanya pada Taehyung karena dia ingin mendekati Jeongguk, 'kan?

Mampus. Taehyung sepertinya salah menjawab. Kenapa dia tidak bilang saja bahwa dia dan Jeongguk sepasang kekasih bahagia yang langgeng dan akan menikah begitu mereka tamat kuliah? Kenapa dia harus bilang mereka tidak pacaran dan memberikan akses pada Seokjin jika dia memang berniat mendekati Jeongguk?

Bodoh. Taehyung bodoh!

“Oh, kalian tidak pacaran?” Tanyanya dengan tertarik dan Taehyung ingin menangis.

Habis sudah. Jika dia harus bersaing dengan dokter muda tampan dan menarik seperti Seokjin, dia mungkin harus mundur. Karena siapa saja yang berakal sehat tentu akan memilih Seokjin. Tampan dan mapan. Tidak perlu ditanyakan lagi.

Dia tertawa kecil, menggaruk tengkuknya. “Yah, begitulah.” Dia memutar otaknya, dia ingin memamerkan betapa mereka dekat tanpa benar-benar terdengar seperti pamer. Ingin menggambar garis tebal antara Seokjin dan dirinya jika mereka memang akan bersaing memperebutkan Jeongguk.

“Kami menunggu penarikan KKN agar tidak membuat suasana KKN keruh.”

Sempurna.

Dia terdengar santai namun juga teritorial. Memberi tahu Seokjin bahwa mereka memang sudah saling menyukai dan siap menjadi kekasih, hanya menunggu waktu yang tepat. Jadi sebaiknya Seokjin mundur dari arena karena Jeongguk milik Taehyung.

Walaupun lawannya dokter tampan dan mapan. Taehyung yakin dia punya sesuatu yang bisa membuat Jeongguk bertahan dengannya.

... 'Kan?

“Taktik yang bagus,” Seokjin mengangguk kalem. “Jika aku jadi kau, aku juga akan menunggu penarikan. Suasana pondokan bisa jadi agak kikuk jika kalian pacaran saat KKN. Memengaruhi penilaian antarindividu juga.”

Taehyung mengerjap. Hah?

“Lalu,” kata Seokjin, berdeham kikuk dan apakah Taehyung hanya berhalusinasi atau dokter muda itu nampak... merona? “Apakah kau tahu Yoongi sudah punya kekasih atau belum?”

OH!


Jeongguk menatapnya dengan mata memicing saat Taehyung tiba di pondokan, terakhir karena mereka menyelesaikan rumah-rumah terjauh membantu teman-teman mereka yang kewalahan.

“Sesuatu yang menarik terjadi saat proker?” Tanyanya sementara Taehyung melepaskan almamaternya yang terasa sangat bau keringat dan juga sepatunya. “Kau dan Seokjin?”

Alih-alih menjawab, Taehyung mengedikkan dagunya ke motor Jeongguk yang kotor karena cipratan lumpur. “Motormu kotor, maaf. Nanti akan kucuci,” katanya mendesah panjang duduk di kursi dan mengistirahatkan kakinya yang terasa lecet berjalan mengelilingi desa di atas bukit dengan medan ekstrim.

“Apa yang membuatmu tersenyum lebar?” Jeongguk berdiri di sisinya, bersidekap dengan kaus lusuh besar dan celana pendek favoritnya, nampak segar setelah mandi dan mencuci rambutnya.

Taehyung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menaikkan kacamatanya hingga ke kepala karena pangkal hidungnya terasa lelah sekali dan menatap Jeongguk yang nampak buram di matanya yang telanjang. “Penasaran, ya?” Godanya.

Jeongguk memutar bola matanya, jengkel. “Beri tahu saja,” keluhnya.

Taehyung terkekeh. “Aku ingin dicium, aku lelah. Kenapa aku diinterogasi seperti tersangka?” Rengeknya dan Jeongguk tertawa lirih, dia duduk di sisi Taehyung dan membiarkan pemuda itu bersandar di bahunya.

“Baumu seperti kandang kambing.”

“Wow. Trims, eh?”

Jeongguk tertawa, “Kembali kasih.”

Mereka bersidiam sementara di dalam anak-anak membersihkan diri. Sebentar lagi Taehyung dan Jeongguk harus memimpin evaluasi proker pertama mereka dan berterima kasih pada bantuan Namjoon serta menyelesaikan pembayaran. Tapi Taehyung lelah sekali.

“Kau yang pimpin evaluasi, ya?” Tanya Taehyung, memejamkan mata, menikmati aroma sabun Jeongguk yang sangat akrab dengannya setelah sekian hari tinggal di satu rumah.

“Oke,” Jeongguk mengangguk di sisinya. “Tapi beri tahu dulu apa leluconnya?”

Taehyung terkekeh, menegakkan tubuhnya. “Hanya Seokjin yang menyukai Yoongi. Ingin aku membantunya dengan memberikan nomor Yoongi untuknya tapi kukatakan padanya aku tidak bisa melakukan itu. Jika dia mau, dia harus memintanya pada Yoongi sendiri.”

Jeongguk tertawa serak, aroma tembakau menguar dari mulutnya dan Taehyung tidak sabar lagi hingga dia bisa mencium Jeongguk; merasakan betapa manis pekatnya rasa tembakau di rongga mulutnya.

“Aku pikir Seokjin menyukaimu.” Kata Jeongguk kemudian, menghela napas lega. “Aku memikirkannya sepanjang hari; bagaimana jika kau kemudian menyadari bahwa ternyata Seokjin jauh lebih memesona, tampan dan mapan. Dibanding aku atau begitulah, aku konyol sekali.”

Taehyung merona mendengarnya karena itulah yang persis dipirkannya tadi dan dia senang karena dia tidak merasakan ketakutan itu sendirian. Dia mendongak, menatap Jeongguk tanpa kacamatanya. Wajah Jeongguk samar-samar, seperti gambar yang diblur.

“Aku ingin sekali dicium, sekarang juga. Di sini.” Katanya berbisik, namun cukup keras untuk didengar mereka berdua dengan latar belakang suara berisik teman-temannya yang memasak dan berganti baju.

“Sungguh.” Tambahnya, tercekat—merasa sangat lega karena dia tidak ketakutan sendiri. Dia tidak merasa tidak percaya diri sendirian. Bahwa Jeongguk pun memiliki kekhawatirannya sendiri, kecemasan dan ketakutannya sendiri yang kebetulan sejalan dengan yang dipikirkan Taehyung.

Dan dia senang karena Jeongguk memilihnya, tetap memilihnya dibanding siapa pun.

Dia sungguh ingin menciumnya, dicium Jeongguk. Ingin memeluknya, ingin meremukkan tulang Jeongguk dalam pelukannya karena rasa lega yang membanjiri aliran darahnya sekarang membuatnya pening; kepalanya terasa begitu ringan hingga lepas dari lehernya.

Jeongguk tersenyum separuh, matanya menatap Taehyung sejenak lalu menyapukan tatapan hangat ke wajahnya—menatapnya seolah Taehyung adalah sebuah permata hilang dan langka yang baru ditemukan.

“Percayalah,” bisiknya serak dan dalam hingga Taehyung bergidik mendengar suaranya. “Kau tidak akan paham seberapa banyak yang kutahan saat ini. Agar tidak memelukmu, menciummu, menimangmu dalam pelukanku. Aku menderita sekali.”

Taehyung tertawa, matanya terasa panas karena kalimat Jeongguk terdengar jauh lebih indah dari kata cinta mana pun yang pernah didengarnya. “Kau jago bersilat lidah,” keluhnya.

“Kau lelah,” Jeongguk kemudian menempelkan telapak tangannya ke bibirnya, lalu membawa tangannya ke bibir Taehyung; memberikannya ciuman tidak langsung yang membuat Taehyung langsung tersenyum lebar. “Mandilah, lalu kita istirahat.”

Taehyung menatapnya, lama sekali hingga Jeongguk menaikkan alisnya, bertanya.

Kemudian Taehyung menempelkan telapak tangannya di bibirnya, lama dan dalam sebelum membawanya ke bibir Jeongguk. Menyampaikan ciumannya ke bibir Jeongguk yang meraih pergelangan tangannya dan mencium telapak tangannya, memejamkan matanya—mengambil semua ciuman itu utuh-utuh.

“Kau menggemaskan. Ada yang bilang padamu?” Katanya parau kemudian, masih menggenggam tangan Taehyung lembut.

“Ada.” Taehyung tersenyum lebar.

“Hm. Siapa?”

“Jeongguk. Anak Sastra Inggris. Kau kenal?”

“Tidak. Orangnya bagaimana?”

“Tinggi, tampan. Bertato. Keras kepala, seenaknya, berisik, makannya banyak, dan kentutnya bau. Kau tidak akan mau macam-macam dengannya.”

Jeongguk tertawa serak, “Kalau kau?”

“Aku malah ingin sekali dia macam-macam padaku.”

Jeongguk kembali tertawa serak dan Taehyung menimpali tawanya beberapa saat kemudian.

Langit Watugajah mulai merona menjadi jingga pudar, menghamparkan warna ungu gelap yang ditemani kerlip bintang. Mereka lelah sekali, rasanya seolah otot-otot mereka meleleh dari tulang karena seharian bekerja. Namun setidaknya, sekarang mereka sudah di rumah.

Satu program kerja selesai, masih ada tiga program kerja lagi.

Mereka harus bergegas.


“Ban'hun!” Bangun!

Taehyung mengerang dan membuka matanya, mendapati Tzuyu sedang menggosok gigi dengan rambut digelung naik menjulang di hadapan mereka, menatap geli.

“Gem'as se'hali ha'ian ini,” Gemas sekali kalian ini, katanya mengeluarkan sikat giginya, noda busa pasta gigi menempel di ujung bibirnya. Dia tersenyum lebar, melirik tangan Taehyung yang berada dalam genggaman tangan Jeongguk yang masih mendengkur.

Taehyung mendenguskan senyuman, meraih kacamatanya dan mengenakannya. Barulah dia bisa melihat dengan jelas semua orang yang sudah bangun dan bersiap untuk kegiatan mereka hari ini.

“Bangun!” Tzuyu menendang kaki Jeongguk.

Entah mengapa semua anak KKN jauh lebih kasar pada Jeongguk dan bersikap lembut pada Taehyung. Mungkin karena Jeongguk suka sekali menendangi mereka tiap mereka tidur di tikar ruang tengah seperti seorang bajingan tulen. Maka mereka selalu membalasnya tiap kali ada kesempatan dan Jeongguk cukup santai untuk tidak merasa tersinggung pada lelucon apa pun yang digunakan teman-teman untuk menggodanya.

“Diam!” Erang Jeongguk, membuka matanya dan menghalau Tzuyu yang sekarang menggunakan kakinya untuk menginjak-injak betis Jeongguk. “Tzuyu!” Gertaknya dan Tzuyu tertawa dengan nada ceria.

“Cepat bangun!” Kata Tzuyu sekali lagi, menandak ceria pergi ke luar untuk membasuh pasta giginya.

Taehyung tersenyum, Jeongguk versus semua anak anggota KKN adalah sebuah aktivitas harian di pondokan. Dia melepaskan tangannya dari Jeongguk yang langsung membuka matanya, mengerutkan alis tidak suka dan Taehyung menyentil keningnya.

“Kita harus bersiap untuk program kerja, ayo.” Taehyung bangkit, meregangkan tubuhnya lalu membungkuk untuk membereskan kantung tidur dan bantal-bantal mereka.

Di sisi mereka, Namjoon dan Hoseok masih terlelap dengan sarung sebagai selimut sementara Seokjin sudah duduk menonton televisi—nampak segar setelah mandi.

“Pagi, Kak.” Sapa Taehyung ramah pada Seokjin yang menoleh dan tersenyum.

“Halo, pagi.” Sahut Seokjin sama ramahnya, seperti madu yang menetes. “Kalian menggemaskan sekali saat tidur.” Tambahnya nyengir dan Taehyung merona samar—selama ini mereka selalu bangun sebelum anak-anak lain sehingga tidak ada yang menyadari bahwa dia harus menggenggam tangan Jeongguk agar terlelap.

Seokjin kemudian memasang wajah serius dan Taehyung senang karena dia membiarkan pernyataan tentang cara tidur Taehyung lolos begitu saja. “Omong-omong, aku terbangun Subuh tadi dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini.”

Dia mengerling meja yang sekarang penuh botol-botol obat berukuran kecil dan jarum-jarum suntik yang berjejer siap digunakan. Dibagi menjadi 3 sesuai dengan dokter hewan yang bertanggung jawab hari itu.

“Yugyeom belum bangun, jadi kurasa aku bisa bertanya padamu?” Seokjin berdiri dan Taehyung mengekornya ke meja ruang tengah yang biasanya penuh gelas-gelas bekas minum mereka sebelum dibereskan mereka yang mendapat giliran mencuci piring setelah makan.

“Kita akan membagi diri menjadi tiga kelompok saja,” Seokjin mengangguk ke alat-alat yang dia siapkan.

“Ya, betul, Kak.” Sahut Taehyung, kemarin dia sudah berhasil meminta Heechul untuk datang membantu mereka. “Nanti akan ada seorang lagi yang membantu jadi kelompoknya tidak timpang. Kak Seokjin nanti akan bersamaku dan Tzuyu, Kak Namjoon bisa dengan Yugyeom, Jeongguk dan Dahyun. Lalu Kak Hoseok bisa dengan Yoongi, Momo dan Kak Heechul.”

Seokjin mengangguk-angguk, “Ada alasan kenapa hanya kita yang bertiga?” Tanyanya meringis. “Menurutku malah sebaiknya aku terjun ke wilayah yang lebih banyak ternaknya dibanding adik-adik tingkatku. Bagaimana?”

Taehyung sudah membicarakan ini dengan Bapak semalam, mereka membagi diri menjadi tiga kelompok dan kelompok Taehyung memang terjun ke RT yang lebih banyak ternaknya dengan medan yang lebih ekstrim.

“Kita memang ke medan yang ekstrim dan lebih banyak ternaknya, kok, Kak.” Dia tersenyum lebar. “Nanti Kakak akan dibonceng Bapak yang lebih hafal jalanannya karena bagian kita agak naik ke bukit sana,”

Seokjin bersiul, nampak bersemangat. “Kita akan berpetualang, ya, hari ini?” Katanya terkekeh serak lalu duduk di salah satu kursi, mulai membereskan alat-alatnya ke dalam tas berwarna hijau tentara. “Teman-temanmu juga akan diantar warga desa, 'kan? Supaya aman.”

Taehyung mengangguk. Jeongguk yang akrab sekali dengan Karang Taruna Desa sudah berhasil mengajak dua orang pemuda untuk mendampingi mereka berkeliling agar tidak tersesat sekaligus membonceng dokter hewan mereka hari ini.

“Sudah siap semua, Kak. Kita berangkat jam delapan pagi sebentar lagi.” Taehyung mengangguk dan Seokjin balas mengangguk, dia menyugar rambutnya memamerkan keningnya yang mulus dan tinggi—dia sangat menarik hingga Taehyung bertanya-tanya kenapa Yoongi tidak juga menanggapinya.

“Bersiap-siaplah,” Seokjin kemudian tersenyum. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Program kerja Taehyung dan Jeongguk maju sehari karena ternyata Seokjin punya operasi penting besok; dia tadi menyebutkan tentang anjing yang tertabrak dan harus segera ditindak. Dia meminta Taehyung mempertimbangkan untuk memajukan program kerjanya saja daripada memundurkannya dan Taehyung setuju.

Mereka bergiliran mandi dengan tertib, Jeongguk yang terakhir karena dia memilih untuk berguling di kasur saat semua orang bersiap-siap. Akhirnya saat Heechul tiba untuk membantu, mereka semua sudah siap untuk berangkat. Bapak mendampingi mereka saat para dokter hewan mulai memilah-milah alat mereka dan menggendong tas yang terisi obat dan jarum-jarum suntik sekali pakai.

“Dosisnya sudah saya atur sesuai kebutuhan,” kata Seokjin pada adik-adik tingkatnya. “Kalian sudah paham dosis untuk ukuran ternak, 'kan? Jadi seharusnya tidak masalah. Sudah tahu caranya menyuntik juga, 'kan?” Tambahnya setengah menggoda dan Namjoon serta Hoseok terkekeh mendengar gurauan itu.

“Baiklah, berarti semua oke.” Seokjin kemudian mengangguk pada Taehyung.

“Baiklah, terima kasih, Kak Seokjin.” Taehyung mengangguk lalu menatap teman-temannya yang sekarang sudah mengenakan jas almamater mereka, seragam resmi yang harus mereka gunakan tiap kali keluar dari pondokan untuk program kerja dengan kartu identitas yang menggantung di leher.

“Teman-teman, mohon bantuannya hari ini untuk prokerku dan Jeongguk.” Katanya sementara di sisinya, Jeongguk masih merokok bersikap seperti calon wakil presiden mendengarkan pasangannya berpidato. “Jika nanti proker berjalan dengan mulus Jeongguk akan mentraktir kita semua ayam lalapan di depan Pasar Wedi.”

Jeongguk tersedak asap rokoknya sendiri. “Hah?” Katanya namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, semua orang mengaminkannya.

“Asyik, terima kasih, Jeongguk!”

Jeongguk memicingkan matanya, melirik Taehyung yang balas menatapnya, tersenyum lebar. “Tenang, kubantu.” Katanya menepuk bahu Jeongguk hangat sebelum berpisah.

Semua perempuan dan dokter hewan naik ke atas, bersiap menunggu para pengendara motor yang akan membonceng mereka berkeliling desa untuk menyuntikkan vaksin dan vitamin untuk ternak warga desa.

Taehyung sudah tahu hari itu akan sangat melelahkan namun toh dia masih saja kaget saat harus menghadapi ternak. Seokjin di lain sisi, terlihat sangat tenang saat bertemu hewan yang menatapnya tidak suka, dia menepuk-nepuk bahunya, mengobrol dengan pemilik ternak yang berdiri di sisi hewan itu agar dia tidak mengamuk lalu Seokjin menyuntiknya begitu saja.

Taehyung yakin si sapi tidak sempat merasakan apa pun. Seokjin kemudian menepuk-nepuk bagian yang disuntik dan kembali menutup ujung jarum suntiknya sebelum berpamitan. Dia mengenakan kemeja tebal cokelat dan sepatu karet yang akan melindunginya dari kotoran hewan yang dihampirinya.

Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, Seokjin mendengarkan semua keluhan warga desa dan bangkan menerima beberapa pekerjaan dari mereka. Ada yang ternaknya sakit, ada yang akan melahirkan, dan macam-macam.

Matur nuwun, ya, Mas. Berguna sekali programnya.” Kata seorang petani saat Seokjin menghampiri kambingnya yang mengembik marah. Jelas tidak suka pada Seokjin yang datang menyembunyikan jarum suntik di balik lengan bawah kanannya.

“Tenang,” Seokjin terkekeh, mengulurkan tangan dan sedetik kemudian dia sudah selesai memberi vaksin kambing yang mengembik marah—semakin jengkel karena dia merasa baru saja ditipu. “Sudah, Jagoan.” Katanya.

Taehyung tersenyum mendengarnya. Mendengar betapa warga desa sangat mengapresiasi bantuan mereka membuatnya senang. Ternyata mereka datang ke desa ini tidak hanya menjadi tamu yang menyusahkan, mereka melakukan sesuatu yang membuat warga desa merasa tertolong. Hati nurani Taehyung merasa baru saja disuapi dengan nektar manis.

Medan yang mereka tempuh benar-benar mengerikan. Syukurlah hari itu Taehyung menggunakan motor Jeongguk karena Bapak memperingatinya tentang medan lokasi yang menjadi tanggung jawab Taehyung. Mereka melewati jalan becek berbatu, hutan bambu mengerikan yang membuat Tzuyu mengerang, tanjakan sempit yang curam, jalan kecil dengan jurang tinggi di sisinya, bahkan satu rumah yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Mereka memarkir motor mereka sekitar 1 kilometer dari rumah penduduk itu dan berjalan kaki, melewati jalanan kecil yang sudah diperhalus dengan campuran semen namun beberapa bagian sangat licin karena lumut tebal yang tumbuh subur. Mereka berjalan pelan-pelan, mempertimbangkan setiap langkah agar tidak terpeleset. Tzuyu berjalan di depan Taehyung agar dia bisa menangkapnya jika gadis itu terjatuh. Bapak dan Seokjin berjalan di depan, membicarakan ternak dengan akrab.

Taehyung melewati jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu orang, berbatu kapur tajam dengan pemandangan lepas kota yang sangat indah dikejauhan hingga mereka semua berhenti sejenak—menikmati pemandangan itu dan desau angin yang gemuruh. Rumah-rumah penduduk nampak seperti titik-titik putih di kejauhan, pandangan mereka lepas tanpa batas hingga ke garis horizon yang lenyap di kejauhan.

“Indah sekali,” bisik Tzuyu di sisinya, mengangkat ponsel dan mencoba mengabadikan pemandangan itu namun dia berdecak kecewa; kamera ponsel sekali pun tidak bisa menangkap keindahannya dengan sempurna.

Seokjin tertawa di sisinya, “Memang ada hal-hal yang sebaiknya dinikmati dengan mata telanjang alih-alih diabadikan dengan kamera, ya, 'kan?” Ujarnya tersenyum pada Tzuyu yang mendesah sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah warga itu.

Rumah terakhir mereka cukup sederhana, namun sudah berkeramik dan memiliki atap permanen. Bapak langsung menyapa tuan rumah yang mengantar mereka ke kandang sapinya. Seokjin langsung melakukan kebiasaannya yang sejak tadi diamati Taehyung; dia mendekat, menenangkan hewan yang ketakutan dengan tepukan sayang di bahunya lalu menyelipkan vaksinnya begitu saja. Lalu menepuknya sayang kembali.

Dia bekerja dengan sangat efisien, cepat dan tepat. Tidak membuang-buang waktu sama sekali. Mereka berhasil menyelesaikan semuanya dengan waktu lebih singkat sehingga Seokjin bisa membantu teman-teman mereka; mengambil beberapa rumah lagi di sekitar mereka untuk menghabiskan sisa vaksin di tasnya.

“Jadi, sudah berapa lama kau dan Jeongguk?” Tanyanya saat mereka berjalan kembali ke tempat motor mereka diparkir.

Taehyung mengerjap, tidak menyangka Seokjin akan menanyakan ini padanya. “Kami tidak pacaran.” Katanya tertawa kecil walaupun jantungnya berdebar—Seokjin tidak mengincar Jeongguk, 'kan?

Taehyung berhenti tertawa saat menyadarinya. Ketakutan merayap di punggungnya, seperti ratusan semut. Dia menyukai Yoongi, 'kan? Dia tidak bertanya pada Taehyung karena dia ingin mendekati Jeongguk, 'kan?

Mampus. Taehyung sepertinya salah menjawab. Kenapa dia tidak bilang saja bahwa dia dan Jeongguk sepasang kekasih bahagia yang langgeng dan akan menikah begitu mereka tamat kuliah? Kenapa dia harus bilang mereka tidak pacaran dan memberikan akses pada Seokjin jika dia memang berniat mendekati Jeongguk?

Bodoh. Taehyung bodoh!

“Oh, kalian tidak pacaran?” Tanyanya dengan tertarik dan Taehyung ingin menangis.

Habis sudah. Jika dia harus bersaing dengan dokter muda tampan dan menarik seperti Seokjin, dia mungkin harus mundur. Karena siapa saja yang berakal sehat tentu akan memilih Seokjin. Tampan dan mapan. Tidak perlu ditanyakan lagi.

Dia tertawa kecil, menggaruk tengkuknya. “Yah, begitulah.” Dia memutar otaknya, dia ingin memamerkan betapa mereka dekat tanpa benar-benar terdengar seperti pamer. Ingin menggambar garis tebal antara Seokjin dan dirinya jika mereka memang akan bersaing memperebutkan Jeongguk.

“Kami menunggu penarikan KKN agar tidak membuat suasana KKN keruh.”

Sempurna.

Dia terdengar santai namun juga teritorial. Memberi tahu Seokjin bahwa mereka memang sudah saling menyukai dan siap menjadi kekasih, hanya menunggu waktu yang tepat. Jadi sebaiknya Seokjin mundur dari arena karena Jeongguk milik Taehyung.

Walaupun lawannya dokter tampan dan mapan. Taehyung yakin dia punya sesuatu yang bisa membuat Jeongguk bertahan dengannya.

... 'Kan?

“Taktik yang bagus,” Seokjin mengangguk kalem. “Jika aku jadi kau, aku juga akan menunggu penarikan. Suasana pondokan bisa jadi agak kikuk jika kalian pacaran saat KKN. Memengaruhi penilaian antarindividu juga.”

Taehyung mengerjap. Hah?

“Lalu,” kata Seokjin, berdeham kikuk dan apakah Taehyung hanya berhalusinasi atau dokter muda itu nampak... merona? “Apakah kau tahu Yoongi sudah punya kekasih atau belum?”

OH!


Jeongguk menatapnya dengan mata memicing saat Taehyung tiba di pondokan, terakhir karena mereka menyelesaikan rumah-rumah terjauh membantu teman-teman mereka yang kewalahan.

“Sesuatu yang menarik terjadi saat proker?” Tanyanya sementara Taehyung melepaskan almamaternya yang terasa sangat bau keringat dan juga sepatunya. “Kau dan Seokjin?”

Alih-alih menjawab, Taehyung mengedikkan dagunya ke motor Jeongguk yang kotor karena cipratan lumpur. “Motormu kotor, maaf. Nanti akan kucuci,” katanya mendesah panjang duduk di kursi dan mengistirahatkan kakinya yang terasa lecet berjalan mengelilingi desa di atas bukit dengan medan ekstrim.

“Apa yang membuatmu tersenyum lebar?” Jeongguk berdiri di sisinya, bersidekap dengan kaus lusuh besar dan celana pendek favoritnya, nampak segar setelah mandi dan mencuci rambutnya.

Taehyung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menaikkan kacamatanya hingga ke kepala karena pangkal hidungnya terasa lelah sekali dan menatap Jeongguk yang nampak buram di matanya yang telanjang. “Penasaran, ya?” Godanya.

Jeongguk memutar bola matanya, jengkel. “Beri tahu saja,” keluhnya.

Taehyung terkekeh. “Aku ingin dicium, aku lelah. Kenapa aku diinterogasi seperti tersangka?” Rengeknya dan Jeongguk tertawa lirih, dia duduk di sisi Taehyung dan membiarkan pemuda itu bersandar di bahunya.

“Baumu seperti kandang kambing.”

“Wow. Trims, eh?”

Jeongguk tertawa, “Kembali kasih.”

Mereka bersidiam sementara di dalam anak-anak membersihkan diri. Sebentar lagi Taehyung dan Jeongguk harus memimpin evaluasi proker pertama mereka dan berterima kasih pada bantuan Namjoon serta menyelesaikan pembayaran. Tapi Taehyung lelah sekali.

“Kau yang pimpin evaluasi, ya?” Tanya Taehyung, memejamkan mata, menikmati aroma sabun Jeongguk yang sangat akrab dengannya setelah sekian hari tinggal di satu rumah.

“Oke,” Jeongguk mengangguk di sisinya. “Tapi beri tahu dulu apa leluconnya?”

Taehyung terkekeh, menegakkan tubuhnya. “Hanya Seokjin yang menyukai Yoongi. Ingin aku membantunya dengan memberikan nomor Yoongi untuknya tapi kukatakan padanya aku tidak bisa melakukan itu. Jika dia mau, dia harus memintanya pada Yoongi sendiri.”

Jeongguk tertawa serak, aroma tembakau menguar dari mulutnya dan Taehyung tidak sabar lagi hingga dia bisa mencium Jeongguk; merasakan betapa manis pekatnya rasa tembakau di rongga mulutnya.

“Aku pikir Seokjin menyukaimu.” Kata Jeongguk kemudian, menghela napas lega. “Aku memikirkannya sepanjang hari; bagaimana jika kau kemudian menyadari bahwa ternyata Seokjin jauh lebih memesona, tampan dan mapan. Dibanding aku atau begitulah, aku konyol sekali.”

Taehyung merona mendengarnya karena itulah yang persis dipirkannya tadi dan dia senang karena dia tidak merasakan ketakutan itu sendirian. Dia mendongak, menatap Jeongguk tanpa kacamatanya. Wajah Jeongguk samar-samar, seperti gambar yang diblur.

“Aku ingin sekali dicium, sekarang juga. Di sini.” Katanya berbisik, namun cukup keras untuk didengar mereka berdua dengan latar belakang suara berisik teman-temannya yang memasak dan berganti baju.

“Sungguh.” Tambahnya, tercekat—merasa sangat lega karena dia tidak ketakutan sendiri. Dia tidak merasa tidak percaya diri sendirian. Bahwa Jeongguk pun memiliki kekhawatirannya sendiri, kecemasan dan ketakutannya sendiri yang kebetulan sejalan dengan yang dipikirkan Taehyung.

Dan dia senang karena Jeongguk memilihnya, tetap memilihnya dibanding siapa pun.

Dia sungguh ingin menciumnya, dicium Jeongguk. Ingin memeluknya, ingin meremukkan tulang Jeongguk dalam pelukannya karena rasa lega yang membanjiri aliran darahnya sekarang membuatnya pening; kepalanya terasa begitu ringan hingga lepas dari lehernya.

Jeongguk tersenyum separuh, matanya menatap Taehyung sejenak lalu menyapukan tatapan hangat ke wajahnya—menatapnya seolah Taehyung adalah sebuah permata hilang dan langka yang baru ditemukan.

“Percayalah,” bisiknya serak dan dalam hingga Taehyung bergidik mendengar suaranya. “Kau tidak akan paham seberapa banyak yang kutahan saat ini. Agar tidak memelukmu, menciummu, menimangmu dalam pelukanku. Aku menderita sekali.”

Taehyung tertawa, matanya terasa panas karena kalimat Jeongguk terdengar jauh lebih indah dari kata cinta mana pun yang pernah didengarnya. “Kau jago bersilat lidah,” keluhnya.

“Kau lelah,” Jeongguk kemudian menempelkan telapak tangannya ke bibirnya, lalu membawa tangannya ke bibir Taehyung; memberikannya ciuman tidak langsung yang membuat Taehyung seketika tersenyum lebar. “Mandilah, lalu kita istirahat.”

Taehyung menatapnya, lama sekali hingga Jeongguk menaikkan alisnya, bertanya.

Kemudian Taehyung menempelkan telapak tangannya di bibirnya, lama dan dalam sebelum membawanya ke bibir Jeongguk. Menyampaikan ciumannya ke bibir Jeongguk yang meraih pergelangan tangannya dan mencium telapak tangannya, memejamkan matanya—mengambil semua ciuman itu utuh-utuh.

“Kau menggemaskan. Ada yang bilang padamu?” Katanya parau kemudian, masih menggenggam tangan Taehyung lembut.

“Ada.” Taehyung tersenyum lebar.

“Hm. Siapa?”

“Jeongguk. Anak Sastra Inggris. Kau kenal?”

“Tidak. Orangnya bagaimana?”

“Tinggi, tampan. Bertato. Keras kepala, seenaknya, berisik, makannya banyak, dan kentutnya bau. Kau tidak akan mau macam-macam dengannya.”

Jeongguk tertawa serak, “Kalau kau?”

“Aku malah ingin sekali dia macam-macam padaku.”

Jeongguk kembali tertawa serak dan Taehyung menimpali tawanya beberapa saat kemudian.

Langit Watugajah mulai merona menjadi jingga pudar, menghamparkan warna ungu gelap yang ditemani kerlip bintang. Mereka lelah sekali, rasanya seolah otot-otot mereka meleleh dari tulang karena seharian bekerja. Namun setidaknya, sekarang mereka sudah di rumah.

Satu program kerja selesai, masih ada tiga program kerja lagi.

Mereka harus bergegas.


“Di mana mereka?”

Jeongguk menyelipkan satu lengannya ke dalam jaket berkendara seraya menunggu Taehyung yang sedang mengecek ponselnya; mencoba menghubungi temannya yang tersesat. Jeongguk menatap langit yang hari ini cukup cerah, bersyukur hujan belum turun sehingga mempersulit kegiatan mereka.

Mereka harus bergegas menemukan teman Taehyung sebelum hujan memperkeruh suasana, membatasi daya pandang mereka. Malam semakin larut dan membiarkan tiga orang tidur di dalam mobil di tengah hujan di antah-berantah mungkin sama sekali bukan ide bagus.

“Sepertinya dia di pertigaan tempat Dahyun kemarin jatuh.” Taehyung mendongak, membenahi kacamatanya lalu mengenakan jaket.

“Oh, tidak jauh.” Sahut Jeongguk, melirik langit berbintang sekali lagi; merasa cemas hujan akan turun kapan saja. “Ayo, cepat sebelum hujan.”

Taehyung mengangguk, menyelipkan ponsel di sakunya sebelum berjalan menaiki tanjakan menuju jalan besar.

Jeongguk menyalakan motornya lalu memasukkan gigi, dia mengendarai motornya menaiki tanjakan lalu berhenti di pinggir jalan besar. Taehyung mengenakan helmnya lalu naik ke boncengan belakang. Jeongguk melaju di atas motornya membelah jalanan yang sepi dan gelap.

Malam belum larut, tapi jalanan sudah mulai sepi karena mereka berada di desa dengan minim lampu di sepanjang jalan. Persawahan dan perbukitan adalah teman mereka dalam perjalanan dan Jeongguk setengah cemas jika mereka tidak bisa menemukan teman Taehyung dalam kegelapan. Hanya suara jangkrik dan suara motor Jeongguk-lah yang terdengar di jalanan.

Taehyung di belakangnya terdengar cemas. Siapa yang tidak? Mereka ada di tempat yang asing, dengan jaringan yang sulit di dapat, penerangan yang minim lalu teman-temannya sedang berada di tempat yang mereka sendiri tidak tahu; bagaimana Taehyung bisa menyelamatkannya? Dan tidak ada jaringan untuk menghubungi satu sama lain.

Jeongguk menambah kecepatan, berbelok di jalanan menuju jalan biasa yang mereka lewati untuk turun ke Klaten. Dan menemukan mereka, syukurlah. Taehyung mendesah keras saat mereka melihat pertigaan yang dimaksud. Ada sebuah mobil Jimni terparkir di sana, lampunya menyala dengan satu orang berdiri di luar; melambaikan ponselnya ke udara, mencari jaringan.

Jeongguk merasa seolah beban tak kasat mata diangkat dari bahunya; lega mereka menemukannya persis di tempat yang mereka duga. Dia membunyikan klaksonnya, memasang sein lalu menepi. Sinar dari lampu depannya membias ke wajah teman Taehyung yang langsung nampak lega saat Taehyung melompat turun.

“Kak!” Serunya, bergegas menghampirinya.

Dan di depan mata Jeongguk, mereka berpelukan.

APA-APAAN?!

Jeongguk nyaris oleng dari motornya saat orang itu membalas pelukan Taehyung hangat dan menepuk bahunya akrab. Jantungnya berdebar keras dan dia ingin menonjok seseorang saat ini juga—khususnya orang yang sekarang meletakkan tangannya dengan santai di bahu Taehyung.

“Puji Tuhan!” Seru pemuda itu, nampak sangat lega bertemu dengan Taehyung. Sangat lega hingga tidak juga menguraikan pelukannya bahkan setelah satu menit penuh—jangan salahkan Jeongguk karena dia menghitung.

Dia sedang menyentuh milik Jeongguk, maka dia berhak menetukan harga dari lamanya dia meletakkan tangannya di tubuh Taehyung.

“Puji Tuhan!” Sahut Taehyung, menguraikan pelukannya dan menyentuh dadanya sendiri lalu menengok ke dalam mobil. “Halo, Kak! Halo, Dok, maaf, ya, lokasinya susah dicari.” Katanya tersenyum ramah. “Kita ke pondokan dulu saja sebelum bicara, bagaimana?”

Orang itu mengangguk, tersenyum ramah dengan lesung pipi yang tajam. “Tidak masalah.” Katanya lalu menepuk bahu Taehyung hangat sebelum kemudian memasuki kursi pengemudi, siap mengikuti mereka.

Taehyung berlari kembali ke Jeongguk yang masih menatap mereka dengan mata dipicingkan, tidak suka. “Ayo,” katanya pada Jeongguk.

“Itu pacarmu?” Tanyanya nyaris menggeram karena tidak bisa membuka mulutnya sendiri, saat mereka berbalik lalu meluncur kembali ke pondokan.

“Siapa?” Tanya Taehyung, kebingungan—beberapa kali menoleh ke belakang, untuk memastikan mobil Jimni itu mengikuti mereka di jalan berkelok-kelok menuju pondokan mereka. “Namjoon?” Tambahnya, lalu tertawa geli—sangat terhibur oleh konsep itu. “Bukan! Dia sahabatku sejak kecil. Tidak perlu khawatir.”

Jeongguk mendengus, tidak perlu khawatir apanya. Bagaimana bisa dia tidak khawatir saat orang itu bebas menyentuh Taehyung di tempat yang bahkan Jeongguk tidak bisa sentuh?

Dia memasukkan gigi, geram saat menambah kecepatan. Bagaimana dia bisa tenang dua malam ini dengan lelaki yang “sahabat Taehyung dan Jeongguk tidak perlu khawatir” berada di sekitar mereka, dengan tangan yang bebas menyentuh Taehyung?

“Pelan-pelan! Nanti mereka tertinggal.” Taehyung menepuk bahunya, memperingati Jeongguk yang memutar bola mata, sebal.

Peduli setan mereka tersesat, biarkan saja. Dia ingin berkata begitu tapi dia yakin Taehyung tidak akan mengapresiasi bahasanya. Maka dia sedikit memperlambat motornya; hanya karena Taehyung yang minta, dia tidak melakukannya demi Namjoon, kok. Saat mereka hampir tiba di pondokan, Taehyung menyentuh bahunya.

“Turunkan aku di atas, ya, aku akan menemani mereka turun.” Katanya dan Jeongguk mencibir, tahu Taehyung tidak akan bisa melihat wajahnya.

“Iya.” Katanya singkat, memasang wajah mengejek. Meniru kata-kata Taehyung tanpa suara dan dengan mimik mengejek demi memuaskan emosi kekanak-kanakannya sendiri.

Namun toh, dia tetap berhenti di atas tanjakan, membiarkan Taehyung turun dan melambai pada mobil di belakang mereka. Dia hanya mendengar Taehyung menyapa Namjoon dengan ceria sebelum menuruni jalan ke arah pondokan. Pintu depan masih terbuka dan ada Momo di pintu, menunggu mereka.

“Mereka di atas, ada tiga orang.” Katanya, mendadak merasa sangat bete.

Dia benar-benar sebal saat teringat bagaimana Namjoon terlihat cerdas, percaya diri dan nyaris bersinar karena ketampanannya. Menyentuh Taehyung dengan bebas dan nampak nyaris cocok dengan Taehyung.

Keduanya seperti sepasang ilmuan, membicarakan massa antimateri di waktu luang mereka. Membuat orang-orang terintimidasi karena kecerdasan mereka. Seperti pemeran utama di film science fiction, atau ilmuan terpintar di pusat penelitian rahasia di Jenewa. Hal-hal keren semacam itu.

Hal-hal yang selama ini membuat Jeongguk tidak percaya diri karena dia tidak punya kecerdasan seperti Taehyung yang bisa menyelesaikan soal Matematika rumit hanya sekali duduk sementara Jeongguk masih kesulitan memikirkan hasil perkalian sembilan dan enam.

Dia bertaruh Namjoon pasti tidak perlu kalkulator untuk tahu hasil dari sembilan kali enam.

Memikirkannya membuat Jeongguk semakin bete dan jika dia kesal, dia akan lapar. Maka dia sekarang lapar.

Momo menatapnya, mengerjap lalu tersenyum lebar; menyadari apa yang mungkin membuat Jeongguk kesal dan berwajah sepat seperti mangga muda. “Ada yang cemburu, nih.” Godanya dan Jeongguk mendelik padanya.

“Urus urusanmu sendiri.” Katanya, meletakkan helm di kursi dan melepaskan jaketnya sementara Momo terkekeh.

“Baiklah, baiklah. Tidak perlu sewot begitu,” Momo berdendang menggoda lalu berteriak ceria saat Jeongguk memasang kuda-kuda hendak melemparnya dengan sandal. Momo berlari ke dapur seraya tertawa tinggi, mempersiapkan makan malam mereka.

Hari ini, Yugyeom ingin nasi goreng dan mereka sepakat memasak nasi goreng gila resep dari Dahyun dengan banyak sosis, bakso, dan sayuran. Semua lelaki dikerahkan untuk mengiris-iris kubis dan wortel untuk isian nasi goreng mereka yang hari ini lebih banyak karena mereka punya tujuh lelaki untuk diberi makan.

Tadi sebelum Taehyung berseru panik karena teman-temannya tersesat, para perempuan sedang menuang nasi ke atas wajan terbesar Ibu. Mencampur bumbu nasi goreng dengan nasi. Sekarang aromanya sangat menggugah selera dan Jeongguk ingin makan banyak.

Oh, ya. Sangat banyak!

“Apa yang terjadi padamu? Siapa yang membunuh kucingmu?” Tanya Yoongi saat Jeongguk memasuki ruangan dengan wajah sepat seperti penderita wasir. Dia sedang duduk di sudut, di atas kasur lipat dan perlengkapan tidurnya dan Taehyung bermain gitar.

Di sisinya Yugyeom sedang menonton televisi dengan segelas wedang uwuh di tangannya. Oleh-oleh dari kekasih Momo, Heechul yang tadi siang datang menjenguk kekasihnya. Dia membawakan mereka banyak makanan berdaya simpan lama, dua bungkus besar wedang uwuh karena Momo menceritakan betapa sukanya Yugyeom, Yoongi dan Jeongguk pada minuman itu lalu membawa Momo pergi jalan-jalan sebentar.

Itulah kenapa Momo nampak seperti baru saja mendapat durian runtuh. Seharian tersenyum seperti gadis kasmaran—dia memang kasmaran dan Jeongguk sedang kesal.

“Tidak ada.” Sahut Jeongguk ketus lalu menendang kaki Yugyeom yang berbaring telungkup di tikar.

Pemuda itu mengaduh keras. “Hei!” Yugyeom mendelik, “Aku tidak tahu apa-apa, kenapa aku yang kena?!” Serunya, bangkit dan memberengut ke arah Jeongguk yang meraih gitar lain di sana—gitar yang dipinjam mereka dari anak sulung lelaki Bapak.

Yoongi menatapnya, menilai ekspresi Jeongguk saat dia mulai memainkan gitarnya. Nada-nada random yang muncul di kepalanya, nampak sangat kesal hingga nyaris menggelikan. Yoongi menatap Yugyeom yang menyesap minumannya, mendesah karena hangat yang didapatkannya dari jahe bakarnya. Dia baru saja membuka mulut untuk bertanya saat suara obrolan terdengar dari luar.

Dahyun baru saja keluar dari dapur, hendak mengabari mereka bahwa makan malam sudah siap. Mendengar suara itu, dia memutar haluan melangkah ke pintu depan dan tersenyum. “Oh, halo!” Sapanya ramah pada tamu mereka. “Kalian teman-teman Taehyung, ya?”

Jeongguk memetik nada G sumbang dengan keras lalu meletakkan kembali gitarnya. Merasa kekesalan yang bercokol di hatinya mulai tidak masuk akal sama sekali. Yugyeom melirik dari balik gelas wedang uwuh-nya, melirik Yoongi yang langsung menyadari alasan Jeongguk nampak seperti penderita wasir.

“Halo,” kata sebuah suara empuk yang ramah, suara Namjoon. Selain wajahnya yang menenangkan, pembawaannya yang rapi, suaranya juga sekelas penyanyi internasional. “Maaf menganggu kalian malam-malam.”

Jeongguk tidak suka.

“Apa yang dilakukan teman Taehyung padamu?” Tanya Yoongi, merendahkan suaranya dan memainkan nada cerdas di gitarnya, rileks. Membuat pertanyaannya nampak tidak peduli. “Menyurukkan sikat gigi ke pantatmu?”

“Tidak ada.” Sahut Jeongguk, ketus.

“Bung, kau terdengar seperti orang sembelit, kau tahu, 'kan?”

Jeongguk mengedikkan bahu. Yugyeom tersenyum lebar pada minumannya seolah benda itu baru saja membisikkannya lelucon yang sangat bagus untuk menyamarkan tawanya karena tingkah Jeongguk.

Yoongi mendesah dan menoleh saat tiga orang memasuki ruangan dengan tas besar di bahu mereka. Pemimpinnya berwajah menarik, lesung pipinya sangat indah dan dua di belakangnya juga sama indahnya. Satu orang nampak lebih tua dan senior, dia lebih rapi dan cerdas dengan pakaian yang diseterika rapi.

“Saya Namjoon dan ini teman-teman saya, Hoseok dan Dokter Seokjin.” Dia memperkenalkan teman-temannya di depan pintu saat Tzuyu dan Momo mengintip dari dapur. Saat disebutkan namanya, mereka melambai ramah. Meletakkan tas-tas peralatan dokter hewan mereka di lantai dengan suara denting tube obat.

“Jangan panggil aku 'dokter',” keluh lelaki yang dikenalkan terakhir, Seokjin dan teman-temannya tertawa.

“Dia ini,” Namjoon menepuk bahu Seokjin, yang nampak paling rapi dan cerdas dengan akrab. “Baru menjalani sumpah dokternya sebulan lalu jadi ilmunya masih sangat segar.” Dia tertawa kecil. “Dia yang akan bertanggung jawab sepenuhnya tentang obat dan dosisnya.”

Yoongi tersenyum kecil, paham apa yang membuat Jeongguk jengkel. Dia bangkit dan menghampiri mereka bertiga, menatap Seokjin yang menyadari kehadirannya. Mereka bertatapan, lebih dari semenit.

“Halo,” dia mengulurkan tangan dan mengulaskan senyuman ramahnya yang jarang sekali digunakannya hingga Dahyun berdeham berisik. “Yoongi.”

Seokjin menatapnya sejenak lalu menyunggingkan senyuman menyilaukan dan menjabat tangannya, “Halo, Yoongi.”


“Kau cemburu pada Namjoon.”

Jeongguk tersedak makanannya. “Siapa?!” Tanyanya mendesis pada Yoongi yang menyuap makanannya dengan kalem di sisinya.

Untuk pertama kalinya selama mereka tinggal bersama di bawah satu atap, Taehyung tidak duduk di sisi Jeongguk saat makan malam. Dia duduk di sisi Namjoon dan teman-temannya, mengobrol akrab sambil makan. Selain Seokjin yang sejak tadi berusaha mengajak Yoongi bicara namun lelaki itu hanya menanggapi sekenanya.

“Semua makhluk yang beracun biasanya nampak sangat berkilauan.” Katanya saat Dahyun menggodanya kenapa tidak menanggapi Seokjin yang jelas-jelas sangat tertarik padanya.

“Kataku, kau ini banyak bacot,” sahut Jeongguk lalu mengaduh saat Yoongi menendang pantatnya.

Taehyung sekarang sedang tertawa dengan Namjoon, entah karena apa sembari mengobrol tentang hal-hal teknis mengenai jadwal mereka besok.

Jeongguk tidak sebal kok, Jeongguk biasa saja. Biasa sekali. Sangat biasa. Tidak cemburu. Tidak sebal. Tidak jengkel.

Jeongguk sangat amat biasa sekali.

“Kau cemburu pada Namjoon.” Ulang Yoongi sabar seolah sedang memberi tahu anak TK kenapa manusia bisa bernapas dan Yugyeom di sisinya terkekeh, menikmati makanannya sambil bermain game di ponselnya.

“Tidak menyalahkanmu, kok. Dia kelihatan cerdas. Seperti ilmuan,” Yoongi melirik Jeongguk yang menyuap makanannya seperti kesetanan—jengkel.

Emosinya terpampang nyata di wajahnya dan semua anak kelompok mereka sekarang sedang mengulum senyum melihat betapa hebohnya Jeongguk memamerkan ketidaksukaannya dan betapa hanya Taehyung yang tidak menyadarinya.

“Mereka cocok sekali, 'kan?” Tambah Yoongi kalem dan Dahyun tertawa kecil, duduk di atas kursi terdekat dengan mereka dengan kaki di luruskan, dia masih belum bisa duduk di bawah dengan kaki ditekuk—kesulitan untuk bangun.

“Kau ingin kupukul, ya?” Sahut Jeongguk seketika itu juga dan Yoongi tertawa.

Got you.” Katanya kalem dan Jeongguk nyaris melempar piringnya ke wajah Yoongi yang terkekeh-kekeh ceria seraya menghabiskan makanannya.

Setelah makan malam, Hoseok kemudian mengeluarkan laptopnya. “Ayo, kita nonton film horor!” Katanya ceria, menyalakannya dan meletakkan benda itu di atas tikar, menyiapkannya untuk maraton yang nyaman.

Mendengar kata “film horor” dan melihat ekspresi wajah Momo yang langsung berubah membuat mereka semua mundur. Yugyeom berdeham, menyadari bahwa dialah yang bertanggung jawab untuk bicara atas nama kelompoknya kepada tamu mereka yang sekarang memilih film horor di laptopnya.

“Mas, maaf,” katanya kikuk sementara Jeongguk mengangguk menyemangati. “Sebaiknya tidak usah, ya? Film horor maksudnya, takut mengganggu...” Dia melirik Momo yang wajahnya pucat. “Beberapa pihak.”

“Omong kosong,” Hoseok tertawa santai dan Seokjin ikut tertawa bersamanya. “Apa intinya KKN jika tidak menonton film horor? Santai saja!” Katanya ceria lalu mulai menyalakan filmnya. “Lagi pula ini bukan horor, lebih ke thriller, kok!” Hiburnya.

Momo langsung berdiri, “Aku tidak ikut, ya?” Pamitnya tersenyum ramah lalu bergegas ke kamar diikuti Tzuyu yang sekarang sangat dekat dengan Momo. Hanya Dahyun yang tinggal karena masih menghubungi kekasihnya—rutin setiap malam di singgasana agung dengan sinyal XL terkuat.

“Aduh,” bisik Yugyeom ke Jeongguk yang meringis sementara suara efek suara film horor mulai terdengar.

Film IT Chapter 2. Jeongguk sudah menonton film itu, tentu saja. Memang tidak horor, namun tetap saja dengan efek suara yang menegangkan dan seram seperti itu, belum lagi ekspresi Momo yang sangat tidak setuju—mereka benar-benar seharusnya tidak melakukan itu.

Tidak ada anak kelompok 10 yang ikut menonton kecuali Taehyung yang harus menemani mereka. Anak-anak perempuan pamit tidur awal, Yoongi dan Yugyeom juga setelah empat puluh menit menonton filmnya. Jeongguk akhirnya memutuskan untuk tidur, masuk ke dalam kantung tidurnya—tidak berani mempertaruhkan keberanian yang harus digunakannya nanti pukul dua pagi.

Akhirnya, hanya Namjoon, Hoseok dan Seokjin yang menonton film itu hingga selesai. Lalu bahkan melanjutkannya dengan film horor lain, tertawa-tawa rendah menghibur diri mereka, merasa seperti rumah sendiri. Taehyung bergabung dengan Jeongguk beberapa saat kemudian. Jeongguk membuka matanya saat Taehyung mendesah memasuki kantung tidurnya.

“Kau sebal, ya, hari ini?” Tanyanya berbisik sementara ketiga temannya menonton film horor lain dengan semangat—mengatakan sesuatu tentang betapa payahnya mereka karena takut menonton film hantu.

“Sebal apa?” Tanya Jeongguk, merasakan wajahnya memanas karena ketahuan bersikap kekanakan sepanjang sisa hari hanya karena Namjoon memeluk Taehyung dan berpenampilan seperti calon presiden.

Taehyung mengulurkan tangan dan Jeongguk langsung meraihnya. Dia menyelipkan jemarinya ke tangan Jeongguk, menggenggamnya hangat dan erat; hangatnya genggaman itu menjalar perlahan dari telapak tangan Jeongguk hingga sekujur tubuhnya, khususnya bagian hati.

“Jangan marah-marah,” katanya lembut, berbisik; menatap Jeongguk dengan tatapannya yang teduh, setengah menggelap. Tatapan yang langsung mengirimkan tikaman ke hati Jeongguk.

Membuatnya lemah, sangat lemah.

Jeongguk merinding—nyaris mengerang karena nada itu. Bagaimana suaranya merambat di atas kulit Jeongguk seperti laba-laba dengan kaki berbulunya, melecutkan perasaan sayang aneh yang membuatnya gelisah. Dia ingin Taehyung terus membujuknya dengan nada suara itu, membuainya, memanjakannya, memberikannya kasih sayang dan perhatian.

“Aku tidak marah.” Dia berhasil membuat dirinya sendiri bicara, tercekat dan Taehyung mengusap punggung tangannya dengan ibu jari; gerakan ke kanan dan ke kiri, lembut dan hangat.

Taehyung menatapnya, “Kau marah.” Bisiknya dengan suara itu lagi; suara serak velvety lembut, sedikit mendesak dan menegur dengan aura dominasi yang membuat seluruh tubuh Jeongguk berdenyar nikmat.

Dia suka suara itu.

“Bilang kau sayang padaku dengan suara itu,” bisik Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerjap.

Dia tersenyum separuh mendengarnya. “Oh,” bisiknya dan Jeongguk mendesah, dia bisa saja orgasme sekarang. “Kau suka itu?”

Jeongguk gemetar. “Ya, tolong.” Bisiknya dan Taehyung merunduk, mendekatkan wajah mereka hingga mata Jeongguk nyaris juling berusaha tetap menatap matanya.

Dia menarik napas dan Jeongguk nyaris mendesah karenanya.

“Aku sayang sekali padamu,” bisiknya; napasnya berhembus ke wajah Jeongguk, membelai bibir dan ujung hidungnya. Aromanya segar karena Taehyung baru menggosok giginya dan berkumur.

Taehyung menyapukan tatapan sayang ke wajah Jeongguk, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh pipinya dan mengusap dagu Jeongguk yang kasar karena belum bercukur. “Tidak perlu cemburu, oke?”

Jika Taehyung memintanya melompat ke jurang, berjalan di bara api atau bahkan membakar dirinya sendiri dengan nada itu, Jeongguk pasti akan melakukannya.

Taehyung seperti sebuah zat narkotika yang dikirim langsung dari Neraka untuk menyiksa Jeongguk dalam candu yang membingungkan. Dia membuat Jeongguk lemah, mabuk, dan terlena. Sentuhannya, suaranya, senyumannya....

Jeongguk tidak akan pernah bisa berhenti mereguk keindahannya, terus-menerus merasa haus dan lapar akan keberadaan Taehyung. Ingin terus menggenggamnya dekat ke jantungnya yang berdebar.

Seluruh tubuh Jeongguk terasa panas, merinding dan berdenyar nikmat. Jika Taehyung terus melakukannya, dia akan mendapatkan masalah serius dengan asetnya yang menderita di bawah sana.

“Cukup, cukup.” Katanya, terengah seperti seorang sprinter setelah berlari. “Jangan menyiksa asetku, oke?” Tambahnya dan Taehyung tertawa tanpa suara; indah sekali bagaimana wajahnya mengerut merespons ledakan emosi itu, membuatnya nyaris nampak bersinar.

Seperti seorang peri.

“Kau akan jadi alasan kematianku suatu hari nanti, Taehyung. Dan kau tahu itu,” keluhnya saat Taehyung berbaring di sisinya—teman-temannya membereskan laptop mereka, mengantuk karena hujan mulai turun rintik-rintik di luar sana.

Lampu di matikan dan Taehyung mendesah di sisinya, memejamkan matanya dengan senyuman lebar di bibirnya. Jeongguk meremas tangannya lebih erat, Taehyung membalasnya.

“Bagaimana jika menjadi alasan untuk multiple orgasm saja? Terdengar lebih menyenangkan daripada kematian, 'kan?” Dia mengedipkan sebelah matanya dan Jeongguk kembali mengerang.

“Kau setan kecil!” Desisnya dan Taehyung tertawa, sekali lagi tanpa suara.

“Tidurlah,” tambah Taehyung kemudian dengan suara mengantuknya yang membuat Jeongguk mendesah lega. “Jangan mencemaskan Namjoon, kami teman baik. Percayalah. Jika aku memang suka padanya, kami tidak akan tetap berteman hingga hari ini.”

“Tae?”

“Ya?”

“Aku juga sayang sekali padamu.”

Taehyung membuka sebelah matanya, tersenyum lebar; wajahnya merona samar di bawah cahaya yang remang-remang. Warnanya membuat perut Jeongguk terasa ditonjok. “Sungguh?” Bisiknya ceria.

Jeongguk mengangguk, jantungnya berdebar kacau balau di balik tulang rusuknya. Dia sangat menyayangi Taehyung dan itu adalah fakta mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

“Tidak pernah seyakin ini dalam hidupku.”

ps. boleh sambil dengerin Mirror-nya Justin Timberlake, mood-nya cocok :')


Taehyung langsung membuka matanya saat mendengar suara erangan itu.

Dia bergegas bangkit, menoleh ke kantung tidur di sisinya sementara di luar sana hujan deras menghajar atap pondokan mereka. Hujan selalu turun setiap malam sebelum mereka tidur dan untuk beberapa anak seperti Taehyung, hal itu merupakan sebuah kemewahan karena dia bisa tidur dengan sangat nyenyak dengan suara hujan.

“Jeongguk?” Bisiknya, menyentuh kantung tidur Jeongguk dan menyingkap tutup kepalanya, menemukan Jeongguk menggigil. “Ya Tuhan,” bisiknya terkesirap. “Ada apa denganmu?” Dia menempelkan punggung tangannya ke kening Jeongguk dan mendesah saat menyadari suhu tubuhnya.

“Kau demam.” Bisiknya lalu meraih baju yang dilipat Jeongguk di sisi kepalanya sebelum tidur. Tadi sebelum tidur, persis setelah makan, dia sudah mulai bersin-bersin, hidungnya mulai memerah namun dia merasa sehat-sehat saja; paling hanya karena cuaca yang agak dingin katanya, maka dia minum segelas wedang uwuh lalu tidur lebih awal.

Sekarang badannya panas sekali.

“Tidak enak,” erangnya, bergerak di kantung tidur dan Taehyung mendesah.

“Tentu saja tidak.” Dia bergegas bangkit, menuju kamar lelaki dan meraih sweternya—mungkin akan kesempitan untuk Jeongguk tapi lebih baik daripada kaus tipisnya. Dia berusaha membuat sedikit mungkin suara saat masuk ke kamar agar tidak membangunkan Yoongi dan Yugyeom, namun ternyata Yoongi menyadarinya.

Yoongi terbangun, mendongak dengan wajah mengantuk. “Tae? Ada apa?” Tanyanya menguap dan menggaruk kepalanya, di sisinya Yugyeom terlelap seperti seekor panda.

“Jeongguk sakit.” Katanya, membongkar tasnya mencari sweternya yang cukup tebal untuk digunakan Jeongguk. “Apakah kalian bawa parasetamol?” Tanyanya.

Yoongi menggeleng. “Obat-obatan di kamar anak perempuan.” Katanya lalu bangkit. “Jeongguk tidur di dalam saja, di sana dingin.” Dia mengekor Taehyung keluar kamar, mendekati Jeongguk yang terengah namun menggigil di atas kantung tidurnya.

Taehyung berjongkok, mengangkangi perutnya lalu menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Jeongguk; menariknya duduk dengan lembut dan perlahan. Mendengus saat merasakan bobot tubuh Jeongguk di kedua lengannya. Yoongi bergegas menghampirinya, membantu Taehyung menahan Jeongguk tetap tegak saat dia membantu Jeongguk mengenakan kaus dan sweter Taehyung yang agak terlalu ketat di badannya, membungkus tubuhnya seperti lontong.

“Pusing,” keluh Jeongguk, membersit keras dan terdengar sangat tersiksa dengan hidungnya yang mampet. Dia mengistirahatkan keningnya di bahu Taehyung saat pemuda itu membenahi tempat tidurnya; memasukkan selimutnya sendiri ke dalam kantung Jeongguk agar dia lebih hangat.

“Tae,”

Taehyung mendesah, bayi besar ini memang. “Ya?” Tanyanya lembut, lalu perlahan membaringkan Jeongguk lagi di kantung tidurnya. Suhu tubuh Jeongguk yang menempel di bahunya terasa membakar, Taehyung merasakan sentakan rasa cemas dan panik di dasar perutnya.

Apakah Jeongguk sakit parah?

“Aku ingin kencing.” Desahnya, sangat terganggu pada fakta itu dan Taehyung melirik jam dinding—merinding saat menyadari jarum panjang baru saja berhenti di angka 12.

Pukul dua pagi, tepat.

Dia selalu menyadari Jeongguk bangkit dari sisinya setiap pukul dua pagi sejak belakangan ini dan pergi ke kamar mandi. Satu-dua kali, terasa normal namun ini sudah lima hari penuh Jeongguk terbangun tepat pukul dua pagi untuk buang air kecil. Selalu di jam yang persis sama.

“Kau kencing di botol saja bagaimana?” Tanya Yoongi, parau karena mengantuk dan Taehyung tertawa tanpa suara. Turun dari atas Jeongguk dan duduk di sisinya, mengusap rambut dari keningnya.

“Menjijikkan.” Keluh Jeongguk dengan suara paraunya, dia menggigil di dalam kantung tidurnya. “Aku benar-benar harus kencing,” tambahnya. “Aku pernah menahannya dan sakit sekali rasanya.”

Taehyung mendongak ke Yoongi yang mengedikkan bahu. Akhirnya Taehyung kembali meraih Jeongguk, membantunya berdiri dan memapahnya ke kamar mandi ditemani Yoongi yang membukakan pintu untuk mereka. Di luar hujan mulai mereda, setidaknya tidak lagi mengamuk dengan suara gemuruh. Dia membantu Jeongguk hingga di depan kamar mandi.

“Kau bisa sendiri?” Tanyanya dan Jeongguk mengangguk saat melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi, berpegangan sepenuhnya di dinding di sisinya. “Pintu tidak kututup, ya?” Katanya lalu memunggungi pintu yang terbuka, menatap ke halaman pondokan mereka.

Daun bambu di sisi kamar mandi bergemerisik oleh tiupan angin dan Yoongi berdeham. “Aku tidak suka di sini,” katanya dan Taehyung mau tidak mau setuju.

Ada sesuatu tentang kamar mandi pondokan yang membuat mereka tidak nyaman. Khususnya para lelaki. Momo mengiyakan saat mereka duduk bersama di ruang tengah, mengobrol tentang itu. Namun gadis itu menolak menjelaskan lebih lanjut dan Yugyeom secara harfiah berteriak heboh menahannya menceritakan semuanya.

“Jangan, Mbak, jangan!” Jika dia bisa, dia pasti sudah berlutut di kaki Momo agar gadis itu tidak menceritakan apa pun tentang sisi pondokan yang itu.

Dan Taehyung sendiri juga merasakan beberapa hal di tempat tidurnya dengan Jeongguk. Sebenarnya secara Jawa, kata Dahyun, tidak baik untuk tidur di depan pintu masuk utama—posisi tidur Jeongguk yang persis lurus dengan pintu masuk utama. Namun tidak ada pilihan lain lagi karena kamar lelaki terlalu sempit untuk mereka berempat. Dan Momo nampak tidak setuju saat Taehyung bilang dia akan menggeser tempat tidur lebih dekat ke pintu samping.

Demi menghormati Yugyeom yang nyalinya hanya sebesar kacang hijau, Taehyung urung bertanya kenapa pada Momo.

“Jeongguk selalu bangun pukul dua pagi untuk buang air kecil.” Kata Taehyung menatap Yoongi yang mengerutkan alis, tentu tidak menyukai sama sekali informasi itu. Di dalam, Jeongguk mulai menyiram urinnya, gemuruh air mengucur menjadi hiburan mereka selain rintik hujan.

“Selalu, tidak bisa tidak.”

Yoongi menggaruk pelipisnya. “Kau sudah bertanya pada Momo?” Katanya seolah Momo adalah semacam dukun-nya kelompok mereka.

Taehyung terkekeh, “Dan menakuti si Bayi?” Dia mengerling kamar lelaki dan Yoongi tertawa serak.

Diwud melongok dari dalam ruangan; mencari tahu apa yang dilakukan mereka malam-malam di depan kamar mandi, ekornya mengibas saat menyadari aroma Jeongguk di sekitar sana.

Jeongguk kemudian keluar, mengerang dan nyaris ambruk ke pelukan Taehyung saat dia menuruni tangga dari kamar mandi. Taehyung langsung kembali memapahnya, merasakan suhu tubuhnya yang terus naik sementara dia gemetar. Yoongi terpaksa membangunkan anak perempuan. Momo yang pertama bangun, dia bergegas keluar dengan rambut kusut membawa kotak obat mereka yang akhirnya diletakkan di meja televisi agar bisa diakses siapa saja.

Momo membuka satu buah parasetamol untuk Jeongguk yang menggigil sementara Taehyung menyeduhkannya teh dengan air sisa termos yang sudah nyaris hangat-hangat kuku—sisa semalam tapi lebih baik daripada tidak. Dia membawakan segelas air putih hangat dan teh ke ruang depan. Berlutut di sisi Jeongguk dan membantunya minum obat.

“Kau mau tidur di dalam?” Tanyanya, mengusap rambut Jeongguk di keningnya dan Momo mengulum senyuman, memalingkan wajah dari momen intim itu. “Di sini dingin.”

Jeongguk menggeleng, membersit. “Aku di sini saja.” Dia mengangguk. “Sudah minum obat. Tidak akan k'napa-k'napa.” Katanya lalu kembali berbaring di kantung tidurnya.

“Kau yakin?” Tanya Yoongi yang berdiri beberapa meter darinya. “Cukup untuk bertiga, kok.”

Jeongguk menggeleng, kali ini tegas dan keras kepala. “Membiarkan Taehyung tidur sendirian di sini? Yang benar saja.” Dia memalingkan wajah, menolak untuk berdebat dan Yoongi memutar bola matanya.

Taehyung terkekeh. Teman-temannya bangkit lalu kembali tidur setelah Taehyung meyakinkan mereka sebaiknya mengikuti mau Jeongguk saja. Dia masih bersila di sisi Jeongguk yang memejamkan mata, nampak gelisah karena suhu tubuhnya—menyentuh kening Jeongguk yang langsung meraih tangannya dan menggenggamnya ke atas jantungnya yang berdebar lebih kuat karena demam.

“Kau yakin ingin tidur di sini?” Tanyanya lembut, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka rambut Jeongguk dan merasakan suhu tubuhnya dengan permukaan tangannya. “Dingin, lho.”

Jeongguk mengerang dan Taehyung terkekeh, dia tidak suka didebat. Taehyung paham namun dia suka mengisenginya agar terus mengomel. Taehyung akhirnya masuk ke kantung tidurnya setelah menariknya lebih dekat ke Jeongguk yang tersenyum—senang.

“Ayo, tidur.” Katanya. “Besok demammu akan lebih baik.” Dia mengusap rambut Jeongguk lembut lalu mendendangkan lagu lembut agar pemuda itu rileks dan tertidur di bawah pengaruh obatnya.


Demamnya tidak membaik.

Mereka terpaksa meninggalkan Jeongguk di pondokan, tidur di dalam kantung tidurnya di kamar lelaki dengan semangkuk sup di sudut ruangan untuk makan jika dia lapar. Ibu berjanji akan mengeceknya setiap saat selama mereka berkegiatan di PAUD.

Taehyung tidak bisa fokus. Dia memikirkan Jeongguk yang pagi tadi menggigil di bawah kantung tidurnya, sama sekali tidak membaik dengan vertigo ringan yang membuatnya mengerang keras dan juga hidungnya yang tidak berfungsi. Dia bernapas melalui mulutnya yang gemuruh.

Hari itu di PAUD, hari imunisasi. Mereka semua diminta membantu guru PAUD dan juga orang tua anak-anak untuk mengkondisikan para siswa yang ketakutan pada jarum suntik. Mutia sebagai yang paling berani, preman cilik didikan Jeongguk menjadi yang pertama maju menerima jarumnya. Nampak puas, tersenyum lebar pada perawat yang menyelesaikan imunisasinya.

“Pintar!” Perawat tersenyum, memberikannya sebuah biskuit yang diterimanya dengan sorakan ceria.

Mendapati dia mendapatkan makanan setelah imunisasi, perlahan anak-anak mendekat. Della, Dilla, Bagas... Mereka mulai berani, ada yang menangis ada yang berteriak saat jarum ditusukkan ke tangan mereka namun setelahnya mereka duduk di ruang kelas, makan biskuit cokelat dengan ceria bersama-sama.

Taehyung melirik jam tangannya, sejam lagi PAUD selesai namun dia sudah ingin pulang. Mengecek keadaan Jeongguk yang saat mereka meninggalkannya tadi sama sekali tidak membaik.

“Kau mau pulang saja?” Tanya Yoongi, memahami Taehyung yang nampak sangat gelisah—duduk dekat dengan pintu masuk dan siap melenting keluar kapan saja ada kesempatan.

“Sekalian belikan saja obat,” Yugyeom mengangguk. “Jika flu aku biasa minum Tremenza, benda itu ampuh. Dia akan sembuh dalam sehari.

“Pulang saja, tidak apa-apa.” Kata Dahyun di sisinya, duduk dengan kaki diluruskan ke arah luar karena tidak ada tempat untuk kakinya di dalam. “Bawa saja motorku.”

Taehyung menaikkan kacamatanya lalu akhirnya mengangguk, menggumamkan permisi dia kemudian setengah berlari keluar dari PAUD. Menuruni jalan berbatu ke jalan utama, dia kemudian berlari ke pondokan yang berada seratus meter dari PAUD. Dia memilih jalan pintas, melewati jalan becek berbatu dengan hutan bambu yang lebat yang langsung tembus ke depan kandang hewan Bapak.

Dia melepas jaket almamaternya yang gerah lalu melepas sepatunya di depan pintu yang terbuka lebar. Langsung menghambur ke kamar lelaki, membukanya dan menemukan Jeongguk masih terlelap dalam kantung tidurnya.

“Hei,” sapanya, terengah-engah berlutut di sisinya. Menyentuh keningnya dan menyadari suhunya masih tinggi. Dia mulai gelisah. Jeongguk sehat, tidak pernah kehujanan selama dia di sini lalu kenapa dia bisa sakit?

Apakah karena tidur di ruang tengah menemani Taehyung? Dia merasakan sentakan rasa bersalah jika memang itu penyebabnya. Taehyung meletakkan almamaternya di sisi kaki Jeongguk yang membuka sebelah matanya, menatapnya mengantuk lalu berbatuk serak.

“Sudah pulang?” Tanyanya parau dan Taehyung meringis, suaranya seperti monster rawa.

“Aku akan turun ke Klaten, membelikanmu obat. Ada makanan yang kauinginkan?” Dia mengulurkan tangan, membelai keningnya dengan lembut lalu tidak bisa menahan dirinya sendiri, dia mencondongkan tubuhnya; mengecup kening Jeongguk.

Bibirnya menyentuh kulit Jeongguk dan kulit sensitif itu merasakan suhu tubuhnya dengan lebih ekstrim lagi hingga Taehyung meringis lalu menegakan tubuhnya, menatap Jeongguk yang menatapnya—kaget.

“Wow.” Katanya lalu merona dan Taehyung juga merasakan wajahnya merona karena tidak bisa menahan dirinya sendiri. “Itu termasuk mesum di pondokan, tidak? Aku belum bekerja, aku tidak bisa menafkahimu jika kita menikah.”

Taehyung tertawa, jantungnya berdebar. Jeongguk yang mabuk adalah kesukaannya. “Tidak, kurasa? Apakah kita akan dibawa ke Balai Desa untuk dinikahkan?”

“Cium sekali lagi kalau begitu, kita tes.” Bisik Jeongguk, setengah merengek dan Taehyung terkekeh geli, menyentil kening Jeongguk yang mengerang.

“Kurasa kita sebaiknya tidak menguji pemilik tempat ini.” Sahutnya dan Jeongguk mengerang. Taehyung terkekeh, membelai wajahnya sayang lalu berdiri. “Aku pergi ke Klaten sebentar, oke? Kau mau kubawakan sesuatu?”

Jeongguk menatapnya, tersenyum lembut dan Taehyung merasa jauh lebih baik setelah melihat senyumannya. “Bakso? Boleh?”

Taehyung mengangguk, meraih jaketnya yang digantung di balik pintu. “Mie ayam?” Tawarnya, tersenyum lebar dan Jeongguk mengangguk—dia senang setidaknya nafsu makan Jeongguk masih normal. “Bilang pada semuanya jangan masak hari ini, kita makan bakso saja.”

Lalu Taehyung keluar dari pondokan, meraih helm Jeongguk dan mengenakannya. Dia menaiki motor Jeongguk, memutarnya di halaman lalu menyalakan mesinnya dengan menggunakan kick starter. Motor meraung saat dinyalakan, dia memasukkan gigi lalu mengendarainya. Butuh sekitar dua puluh menit bagi Taehyung untuk tiba di Klaten, di depan Pasar Klaten yang mulai sepi.

Dia berkendara melewati perempatan besar, menemukan K24, apotek yang dicarinya lalu berhenti di sana. Melepas helmnya, dia kemudian masuk.

“Pak, saya mau beli Imboost, Tremenza dan Parasetamol.” Katanya, merogoh dompetnya di saku belakang jinsnya.

“Baik, itu saja?” Sahut apoteker di belakang etalase, membungkuk untuk meraih satu strip obat. Dia meletakkan obat di atas etalase. “Imboost-nya berapa biji?”

Taehyung mengamati obat di tangannya dan menatap apoteker. Dia butuh vitamin jika dia harus tidur di luar ruangan terus seperti itu. “Empat saja.” Katanya, meletakkan kembali obat di atas etalase dan membayar totalnya.

Dia menaiki kembali motornya, mengenakan helm lalu memutar ke arah kedatangannya tadi. Berhenti di mini market, membeli susu dan juga vitamin C langsung minum untuk Jeongguk. Dia menjejalkan semua belanjaannya di waist bag yang digunakannya sebelum berhenti di penjual bakso di sebelah mini market—membeli tujuh porsi bakso dan tiga porsi mie ayam.

Saat dia kembali ke pondokan, semua orang menunggunya untuk makan bersama. Jeongguk duduk bersandar di dinding terbalut kantung tidur dan sweter Taehyung, nampak sedikit lebih sehat saat Taehyung menyerahkan makanan pada Momo yang langsung menyiapkannya untuk dimakan bersama.

“Kau enakan?” Tanyanya pada Jeongguk, melepas helm dan jaketnya; menyampirkan keduanya di lengan kursi tamu.

Jeongguk mengangguk, “Lapar.” Katanya dan Taehyung terkekeh, ingin memeluknya begitu erat dan meremukkan tulang Jeongguk dalam pelukannya sekarang.

“Siap, Jagoan. Kita makan.” Katanya lalu meluncur ke dapur, membantu Momo dan Tzuyu yang menyiapkan makanan mereka lalu dibantu Yoongi, Dahyun dan Yugyeom membawanya ke ruang tengah untuk dinikmati bersama.

Jeongguk makan dengan lahap, Taehyung senang saat melihatnya menghabiskan isi mangkuk mie ayamnya dan masih lanjut menghabiskan baksonya. Syukurlah jika dia makan banyak, maka dia akan lebih cepat sembuh. Taehyung lalu memberikannya sebutir Tremenza untuk diminum.

Jeongguk menurut, meminumnya lalu mendesah. Dia kembali ke kamar untuk berbaring karena kepalanya terasa berdentam-dentam. Taehyung menemaninya hingga terlelap sebelum bergabung dengan teman-temannya merencanakan prokernya dan Jeongguk, vaksin ternak.

“Aku sudah menghubungi temanku, Namjoon namanya. Dia berjanji akan membawa dua temannya untuk membantu kita,” Taehyung mengangguk—Namjoon salah satu teman SMA-nya yang sekarang sedang semester akhir di Faktultas Kedokteran Hewan UGM, dia dengan senang hati membantu program kerja Taehyung dan mengatakan padanya bahwa biaya bukan masalah.

“Dia juga punya teman yang sudah lulus dan punya izin praktik. Dia yang akan mengatur dosis vaksin ternaknya berhubung mereka yang lain belum memiliki izin untuk melakukannya,” Taehyung menambahkan dan teman-temannya mengangguk.

“Jadi kita akan eksekusi dua hari lagi sesuai kalender, ya?” Yugyeom berdiri di sisi kalender KKN mereka, menunjuk tanggal yang Taehyung tulisi dengan proker Taehyung.

Taehyung mengangguk, “Besok mereka akan datang menginap di sini sekalian melihat medannya dan mempersiapkan alat-alat. Aku akan menghubungi Namjoon lagi tentang pengaturannya.

“Aku juga akan pinjam bantal pada Ibu untuk mereka tidur di depan sini nanti. Katanya tidak masalah, KKN mereka dulu lebih mengerikan dari kita di sini.” Taehyung meringis dan teman-temannya mengangguk—mengiyakan.

“Berarti kita harus masak lebih banyak, ya?” Momo menambahkan, mulai memikirkan tentang pasar karena jika mereka akan menanggung tiga lelaki lagi maka mereka sebaiknya menambah bahan baku makanan. “Kita akan kedatangan tiga orang lagi, 'kan?”

Taehyung mengangguk, “Betul.” Katanya. “Tolong, ya, Teman-teman.” Katanya lalu melirik pintu kamar lelaki. “Tapi aku juga cemas Jeongguk belum cukup sehat untuk mengerjakan program kerja kita.”

Yugyeom menggeleng, “Dia sudah minum Tremenza, 'kan? Besok pasti sudah lebih baik kok.”

Dan Yugyeom salah total.

Karena Jeongguk kemudian resmi invalid seharian penuh. Dia tidur dan terus tidur seharian. Sejak setelah makan bahkan hingga mereka semua berangkat ke Masjid untuk les dengan anak-anak, Taehyung mendapatinya masih terlelap begitu nyenyaknya hingga dia tidak tega membangunkannya.

Dia baru bangun pukul sembilan malam hanya untuk muntah-muntah.

Semuanya kacau balau. Dia bangun, terseok-seok ke pintu dan hanya sempat mengatakan, “Tae?” dengan suara seraknya sebelum berdeguk keras.

Taehyung langsung berdiri, melenting ke arahnya dan menyambar tubuh Jeongguk persis sebelum dia menghantam tanah. Muntahan pertama lolos dari mulutnya dan dia gemetar, Taehyung ingin menangis bersamanya saat merasakan betapa lemahnya Jeongguk.

Semuanya langsung membantu Taehyung menyeret Jeongguk ke kamar mandi, mengkondisikan muntahannya namun mereka baru saja keluar dari pintu samping saat Jeongguk mengerang keras.

“Tidak, tidak.” Katanya lalu berdeguk keras dan muntah ke kaki Taehyung yang sama sekali tidak berjengit karenanya. Dia memijat tengkuk Jeongguk, membisikkan kata-kata menenangkan agar dia memuntahkan saja semuanya.

Dari sela-sela muntahannya yang dibantu Taehyung, dia mengatakan sesuatu tentang jantung berdebar dan vertigo mengerikan. Mimpi buruk yang tidak berhenti dan kelelahan, ototnya nyeri semua. Dan dia menangis saat berdeguk-deguk memuntahkan semua makanannya dalam pelukan Taehyung yang berusaha menahan bobot tubuhnya yang nyaris dua kali tubuh Taehyung dalam pelukannya. Dia menyandarkan Jeongguk ke bahunya, merangkulnya dan meletakkan satu tangannya di dada Jeongguk.

Yoongi ada di sisi satunya, paham Taehyung tidak akan bisa menahan bobot Jeongguk sendirian sementara Momo bergegas membuatkannya teh panas yang hambar untuk membuat perutnya lebih enak.

Kesimpulannya, Tremenza tidak bekerja dengan ampuh pada semua orang. Khususnya Jeongguk yang sepertinya tidak bisa menerima obat dengan dosis tinggi. Taehyung membantu mengganti bajunya saat Jeongguk teler, mengelap bekas muntahan yang mengotori tubuhnya lalu mencuci pakaiannya agar tidak berbau.

“Maaf, Tae.” Yugyeom berdiri di sisinya, nampak sangat bersalah saat mengamatinya membilas pakaian Jeongguk dan membereskan sisa muntahan yang berceceran di depan kamar mandi dan di depan kamar lelaki dibantu oleh Tzuyu.

“Tidak apa-apa.” Taehyung tersenyum, mengibaskan baju yang sudah diperasnya. “Kau juga tidak tahu, 'kan?” Katanya lalu membawa ember ke teras samping rumah untuk menjemurnya dengan Yugyeom mengekornya seperti anak anjing menggemaskan.

Dia meras bersalah, seolah baru saja meracuni Jeongguk dengan obat yang ternyata tidak cocok dengan sistem tubuh Jeongguk.

“Dia vertigo,” Taehyung menggantung baju Jeongguk di gantungan baju dan menyelipkannya di salah satu rangka atap pondokan. “Muntah akan membuatnya lebih baik. Tenanglah, tidak ada yang meninggal.”

Malam itu Taehyung berbaring di ruang tengah sendirian, membiarkan Jeongguk tidur di kamar bersama Yoongi karena takut membuat sakitnya semakin parah jika dia tidur di luar lagi, terpapar dingin. Dia merasa sangat kesepian tanpa suara dengkur Jeongguk yang biasanya menemani tidurnya, suara napas beratnya yang terasa seperti nina-bobo yang menyenangkan.

Dia mendesah, memijat pangkal hidungnya lalu meletakkan kacamatanya di sisi kepalanya. Lalu mengenakan tudung kepala kantung tidurnya, menarik resletingnya naik hingga membungkusnya dengan nyaman; berharap besok Jeongguk sudah lebih baik.

Karena dia merindukan Jeongguk yang ceria dan berisik. Hatinya tidak bisa lagi menangguhkan nyeri aneh saat dia melihat Jeongguk mengerang kesakitan, memuntahkan makanannya dan menangis karena sakit kepalanya yang mengerikan. Dia terus mengeluh, terus merengek pada Taehyung untuk mengenyahkan sakitnya—dan Taehyung tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

Taehyung menghela napas, menyingkirkan suara erangan Jeongguk ke sudut kepalanya dan mulai lelap di tengah suara rintik hujan yang mulai turun; seperti biasa.

Dia terbangun beberapa jam kemudian, menyadari seseorang menggenggam tangannya dan tersenyum. Jeongguk memutuskan untuk tidur di sisinya, entah sejak kapan dan dia mendesah, memang tidak bisa mencegah Jeongguk melakukan hal-hal yang diinginkannya. Maka dia akan membiarkannya saja. Jeongguk bergelung di kantung tidurnya yang berada persis di sisinya, tidak ada jarak sama sekali.

Clingy baby, pikir Taehyung geli, namun hatinya berdesir—hangat oleh kasih dan sayang.

Dia berguling, menatap Jeongguk yang lelap dengan senyuman kecil di wajahnya. Siapa sangka, Elang yang mampir ke dahannya hari itu ternyata betah dan tinggal bersamanya—sehari, tiga hari, dan mungkin juga, selamanya.

“Cepat sembuh, ya,” bisiknya pada wajah lelap Jeongguk di hadapannya, walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan mendengarnya karena dengkurannya menandakan betapa lelapnya dia tidur. “Aku rindu sekali padamu, padahal baru satu hari.”

Lalu dia mengaitkan kelingking mereka sebelum tersenyum dan kembali memejamkan matanya, terlelap.

cw // kinda scary , unedited .


Jeongguk terbangun karena hujan deras mengguyur pondokan.

Dia mengerjap, beradaptasi dengan cahaya yang minim dan mengulurkan tangan secara naluriah, mencari dan menemukan tangan Taehyung di kegelapan lalu mengaitkan jemari mereka. Dia menguap tertahan, sudah akan kembali tidur karena cuaca yang dingin saat dia merasa ingin buang air kecil.

Kandung kemihnya yang kurang ajar menjerit, tidak sudi diabaikan. Terasa nyaris nyeri dan membuatnya kesulitan tidur.

Jeongguk mendesah keras, akhirnya duduk dan menguap lebar. Kantung tidur jatuh teronggok di pangkuannya dan dingin langsung mengigit tubuhnya yang terbuka, dia tidak suka tidur dengan pakaian, gerah. Namun cuaca membuatnya meraih pakaian dan mengenakannya, dia bangkit, mendudukkan dirinya di atas kasur lipat.

“Kak Gguk? Kak Tae?”

Jeongguk menoleh, mendengar pintu kamar perempuan terbuka—menemukan Tzuyu menatapnya dalam balutan baju tidurnya. “Oh, hei.” Katanya serak, “Kau tidak bisa tidur?”

Tzuyu menggeleng, keluar dari kamar. “Kakak mau mengantarku ke kamar mandi tidak?” Tanyanya.

Jeongguk melirik jam dinding di atas televisi, pukul dua pagi tepat. Dia menoleh ke Taehyung yang masih terlelap, wajahnya tertutup sepenuhnya dengan kantung tidur, bibirnya terkuak sedikit dan dia mendengkur halus; suara dengkuran yang membuat siapa saja mengantuk. Namun tangan kirinya keluar dari resleting, terkulai di atas tikar—mereka semalam terlelap dengan jemari bertautan setelah mengobrol berbisik-bisik hingga mengantuk.

“Ayo. Kuantar.” Jeongguk berdiri, merapikan kausnya lalu mengangguk pada Tzuyu yang bergegas mengikutinya. Jeongguk mengenakan sandal jepitnya lalu melangkah di lantai tanah menuju dapur, jalan tembusan ke arah kamar mandi yang berada di luar rumah.

Hujan deras mendera atap dengan suara gemuruh, Jeongguk membuka pintu kayu yang diselot dan membiarkan Diwud masuk dan berteduh di dalam lalu menaungi kepala Tzuyu saat gadis itu berlari ke kamar mandi; dia menutup pintu kamar mandi dan Jeongguk berteduh di bawah atap dapur, menguap dan kedinginan terkena rembesan air hujan.

Kambing-kambing Bapak mengembik sesekali, mungkin terbangun karena suara hujan dan dinginnya cuaca karena hujan ini. Begitu derasnya hingga semuanya nampak putih.

Sudah dua hari ini Jeongguk selalu terbangun pukul dua pagi karena ingin buang air kecil. Mungkin karena kebiasaannya minum segelas air putih sebelum tidur agar perut bagian kirinya tidak nyeri. Maka semalam dia sengaja tidak minum air segelas penuh sebelum tidur—malas jika harus bangun dini hari pergi ke kamar mandi. Namun nihil, dia tetap terbangun.

Dia mendengar suara air yang mengucur saat Tzuyu buang air kecil lalu menunggunya dengan terkantuk-kantuk hingga Tzuyu membuka pintu, nampak sangat lega melihat Jeongguk masih di sana, menantinya. Jeongguk membantu Tzuyu ke pintu dengan aman.

“Kau tidak perlu menungguku, tidak apa-apa.” Katanya, melambaikan tangan pada Tzuyu yang mengangguk dan bergegs pergi dari sana—takut berlama-lama di luar.

Jeongguk masuk ke kamar mandi, menguncinya lalu buang air kecil seraya menguap keras. Dia menyiramnya, lalu keluar. Tidak merasakan apa pun walaupun anak-anak sering mengatakan jika mereka tidak suka kamar mandi. Momo nampak tahu sesuatu namun Yugyeom melarangnya mengatakan apa pun hingga setidaknya mereka kembali dari KKN.

“Jangan merusak kesenangan kita di sini.” Katanya serius dan semua anak setuju.

Jeongguk mengunci pintu, memanggil Diwud yang langsung mengekornya ke ruang tengah dan tidur di kakinya saat Jeongguk bergelung kembali ke dalam kantung tidurnya—sangat mengantuk hingga matanya perih. Dia meraih tangan Taehyung yang merasakan dingin tangannya dan terbangun.

“Maaf,” bisiknya serak dan geli saat Taehyung membuka matanya, seperti seekor bayi kucing yang baru membuka mata setelah dilahirkan. “Aku membangunkanmu, ya?” Bisiknya.

Taehyung menghela napas berat, tersenyum kecil. “Kau dari toilet lagi?” Tanyanya, mengusap tutup kepala kantung tidurnya hingga mata mereka bertemu di tengah keremangan.

“Iya,” Jeongguk menatapnya, mendesah senang saat Taehyung membelai punggung tangannya dengan ibu jari. Diwud mendengus di kakinya dan kembali lelap diiringi suara hujan yang deras. “Kembalilah tidur.” Bisiknya.

Taehyung mengangguk, “Selamat tidur, Gguk.” Bisiknya parau, kembali mengenakan tudung kepalanya dan Jeongguk menirunya.

“Selamat tidur, Tae.” Bisiknya serak.

Mereka kembali terlelap dengan cepat ditemani suara hujan. Lalu beberapa detik kemudian (atau mungkin begitu karena dia kebingungan dengan konsep waktu), Jeongguk berada diambang kesadaran dan tidak sadar saat dia mendengar suara motor menuruni jalan masuk pondokan. Motor berhenti, suaranya cukup keras ditingkahi suara hujan deras. Diwud di kakinya tidak bereaksi, namun kemudian terdengar gedoran di pintu depan.

Sekali.

Dua kali.

Namun Jeongguk tidak bisa memutuskan apakah dia sedang bermimpi atau tidak, dia mengerutkan alisnya; berusaha melawan selubung ketidaksadaran yang membungkusnya seperti embrio. Membuat semua suara terdengar teredam, seperti berada di dalam jeli yang membuatnya tidak leluasa bergerak. Gedoran terdengar lagi, kali ini mendesak.

Jeongguk ingin berteriak, “Ya? Siapa?” Namun tidak ada suara yang keluar. Dia mengamati ruangan; tidak yakin apakah dia sedang terkena sleep paralysis atau tidak. Lalu terdengar suara langkah kaki terseret mengitari rumah, ke arah pintu belakang.

Sejenak dia cemas, apakah dia sudah mengunci pintu belakang? Dan senang karena dia merasa dia sudah menyelotnya kembali. Apakah itu anak perempuan Bapak?

Anak tengah Bapak, Irma, bekerja di Klaten dan dia sering pulang malam. Dijemput Bapak di bawah tanjakan Clongop karena dia tidak berani pulang sendiri. Mendengar seseorang pulang pukul sebelas atau dua belas malam sudah menjadi rutinitas bagi Jeongguk yang adalah light sleeper.

Dia sering mendengar Irma pulang, melewati tempat tidurnya seraya berbisik pada Bapak yang mengekornya, membawa aroma jalanan yang pekat oleh asap kendaraan. Kadang bahkan membisikkan maaf saat Jeongguk membuka matanya.

“Maaf, Mas. Membangunkan, ya?” Katanya tiap kali Jeongguk terbangun karena kedatangannya dan Jeongguk tersenyum, menggeleng dan kembali tidur.

Namun dia ingat dia tadi terbangun pukul dua pagi, tidak mungkin Irma. Karena jika hujan deras, dia pasti akan menginap di rumah bibinya di Klaten. Terlalu bahaya untuk pulang dengan medan seekstrim itu dalam derasnya hujan. Maka Jeongguk yang setengah sadar mulai bertanya-tanya, siapa yang bertamu?

Dia tidak mendengar adzan Subuh, maka jelas bukan waktu bertamu yang layak.

Suara gedoran kini terdengar dari pintu belakang; sekali, tiga kali. Cukup keras walaupun suara hujan nyaris membuatnya tuli. Namun sekali lagi tidak ada yang bereaksi. Bahkan Diwud yang tertidur di kakinya. Maka Jeongguk memutuskan bahwa dia hanya bermimpi dan kembali tidur tepat saat dia mendengar suara terseok-seok mengitari rumah menuju pintu samping di sisi Taehyung.

Jeongguk berusaha menunggu, mendengarkan gedorannya namun dia terlalu mengantuk dan akhirnya terlelap begitu saja; tidak mengetahui bagaimana nasib Penggedor Misterius itu setelahnya.


“Sungguh??”

Jeongguk mengangguk, menggaruk kepalanya dan menyesap Energen yang barusan diseduhkan Yugyeom untuk mereka bertiga. Semua teman KKN-nya menatap Jeongguk, berhenti berkegiatan saat dia menceritakan kejadian semalam. Momo berhenti di tengah jalan menuju kamar mandi dengan kantung terisi produk perawatan wajahnya yang seabrek.

Tzuyu yang duduk di kursi mengerang mendengar kejadian malam itu, nampak paling takut karena kejadiannya setelah dia terbangun. “Persis setelah aku pipis??” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk lagi, “Aku tidak yakin itu jam berapa tapi aku mendengarnya menggedor pintu depan lalu pintu belakang dan melangkah ke pintu samping,” dia mengerling pintu samping yang terbuka; memberikan mereka pemandangan ke jemuran yang terisi pakaian dalam mereka semua.

“Tapi aku ketiduran kemudian, tidak yakin apa yang terjadi padanya.” Jeongguk menggaruk telinga Diwud yang berbaring di kakinya, “Diwud bahkan tidak menggonggong. Padahal gedorannya lumayan keras, belum lagi suara motornya.”

“Mbak Irma?” Tanya Yugyeom, seperti yang diduga Jeongguk semalam; dia nampak paling ngeri. Bersyukur tidak terbangun sama sekali dan tidak memiliki kasus ingin buang air kecil setiap pukul dua pagi seperti Jeongguk.

“Itu pukul dua pagi,” tukas Jeongguk. “Jika memang dia, kenapa dia harus menggedor pintu depan? Mana mungkin dia tidak memiliki kunci pintu belakang?”

“Mbak Irma shift pagi kemarin, sudah di rumah pukul tiga sore. Aku bertemu dengannya saat pulang.” Sahut Dahyun, terseok-seok dari dapur dengan satu kaki yang invalid karena lukanya masih sangat basah, dia membawa gelas terisi Energen.

“Lihat,” Jeongguk menatap Yugyeom yang sekarang menatapnya ngeri. “Bukan, 'kan.” Dia menyesap sarapannya lagi; mereka sedang bersiap-siap menuju PAUD untuk menemani anak-anak belajar hari ini.

Mereka akan membuat prakarya hari ini dengan guru mereka. Kemarin Dahyun menghadiahi mereka meja lipat baru dan juga lilin permainan (program kerjanya) yang membuat mereka senang sekali. Dahyun juga membelikan krayon-krayon baru yang langsung digunakan anak-anak saat itu juga, bahkan menolak untuk ditinggalkan di sekolah.

“Bagaimana bisa kau tidak takut?” Tanya Taehyung di sisinya, sedang merapikan rambutnya dengan sedikit gel rambut. Kacamatanya tergeletak di dekat kakinya.

Jeongguk mengedikkan bahunya, “Aku penakut, sungguh. Hanya saja tadi malam aku benar-benar tidak bereaksi sama sekali. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar mendengarnya atau hanya mimpi.”

Dan setelahnya, dia bertemu Ibu yang sedang menyiangi rumput hasil menyabitnya hari itu untuk diberikan ke ternaknya dalam perjalanan menuju PAUD dan memutuskan untuk bertanya, membiarkan teman-temannya mendahuluinya.

Jeongguk butuh jawaban.

Dia membantu Ibu seraya bertanya, “Ibu, semalam ada tamu, ya?”

Ibu mendongak, nampak heran. “Tamu?” Ulangnya. “Siapa, ya?”

Jeongguk mengangguk, memisahkan rumput gajah dan benalu yang bisa membuat ternak sakit perut. “Semalam, mungkin pukul dua atau tiga pagi, saya dengar ada yang datang. Dengan motor, menggedor-gedor pintu.”

Ibu mengerutkan alis, menyeka keringat dengan sarung tangannya yang kotor; membuat segaris noda di atas alisnya. “Tidak, Ibu tidak dengar siapa pun yang datang. Ibu pasti bangun jika ada yang menggedor pintu.”

Jeongguk mengerutkan alis, seharian bertanya-tanya apakah dia bermimpi atau tidak semalam. Dia menyelesaikan bantuannya untuk Ibu yang berterima kasih lalu melangkah ke PAUD, menyusul teman-temannya. Dia tiba saat anak-anak sedang duduk di kelas dan berdoa bersama.

Langsung mendudukkan diri di sisi Taehyung yang membenahi kacamatanya, nampak segar dan harum setelah mandi. “Hai.” Katanya berbisik sementara guru PAUD mengajak mereka bernyanyi.

“Hai. Apa yang menahanmu?” Balas Taehyung tanpa menoleh, dia bertepuk tangan mengikuti irama lagu.

“Aku bertanya pada Ibu tentang tamu semalam tapi katanya tidak ada.” Jeongguk menjawab dan Yugyeom yang duduk di sisinya melirik ngeri, mulai ketakutan—tidak sulit membuatnya takut, sungguh.

“Mungkin kau mimpi?” Sahut Taehyung, menaikkan kacamatanya.

Jeongguk mengerutkan alisnya, dia yakin dia mendengar suara itu jelas sekali. Suara motor yang mendekat, suara gedoran itu—berkali-kali, tidak hanya sekali. Dia bahkan mendengar suara langkah kakinya di tengah hujan. Bagaimana mungkin dia hanya bermimpi?

“Jangan dipikirkan,” bisik Taehyung saat anak-anak mulai berpencar untuk membuat prakarya dan teman-teman mereka mulai memilih anak untuk ditemani. “Mungkin hanya imajinasimu saja. Karena suara hujan.”

Jeongguk mengerutkan alis, suara gedoran itu terlalu nyata untuk bisa jadi sebuah imajinasi karena suara hujan. Jeongguk menolak menerima bahwa dia berimajinasi. Dia bahkan masih bisa mendengar gedorannya jika memfokuskan diri pada kenangan semalam. Belum lagi suara motor bebeknya, rodanya yang menggerus tanah berbatu yang berkeretak.

Salah satu anak kecil perempuan tomboy yang sangat menyukai Jeongguk, Mutia datang membawa bukunya; nyengir memamerkan giginya yang busuk di bagian depan. Duduk di hadapan Jeongguk dan meletakkan buku serta krayonnya.

“Kak, ayo!” Katanya ceria.

Jeongguk terkekeh, mengusap rambutnya yang dicukur pixie dan beraroma pekat sampo bayi yang lembut. Senang melihat senyumannya yang lebar walaupun giginya keropos karena dia suka sekali makan permen.

“Ayo,” katanya kemudian sementara di sisinya, Taehyung menemani anak kecil gendut berpipi bulat, Dila yang sangat mengagumi kacamata Taehyung. “Kau ingin menggambar apa?” Tanyanya, merunduk ke buku yang dibuka Mutia di hadapannya.

“Kak Gguk bisa gambar kucing?” Tanyanya, mendongak menatap Jeongguk dengan matanya yang besar dan berkilauan.

Jeongguk mengangguk, “Tentu.” Katanya meraih pensil Mutia. “Kau ingin Kakak gambarkan kucing?”

Mutia mengangguk, menggunakan punggung tangannya untuk mengusap ingusnya yang meleleh dan Jeongguk terkekeh. Taehyung mendengarnya, merogoh saku jas almamaternya dan mengeluarkan tisu kemasan yang diterima Jeongguk.

“Ayo, sini.” Katanya menarik selembar tisu, “Buang ingusnya dulu.” Dia mengulurkan tangannya ke Mutia yang membawa wajahnya mendekat. Jeongguk meletakkan satu tangan di belakang kepala Mutia lalu menempelkan dua jari yang terbalut tisu di hidungnya. “Ayo, buang.”

Mutia membersit, keras dan panjang. Jeongguk terkekeh, mengelap hidungnya lalu membersihkannya sebelum melempar tisu bekas itu ke tong sampah di sudut ruangan.

“Enakan?” Tanyanya.

Mutia mengangguk, memberikannya senyuman lebar dengan gigi busuk itu lagi hingga Jeongguk seketika melupakan kejadian semalam.

Mungkin dia hanya mimpi.

Ya, mimpi.


Note.

Sungguh terjadi pada saya :“) Termasuk terbangun tiap jam 2 pagi dari awal KKN sampai penarikan. Nanti semuanya akan terjawab di akhir KKN itu apa, yaa, Momo yang bakal kasih tau :“)

Berhubungan dengan pintu samping weeee-ooo weeee-ooooo terus ada satu adegan horor lagi nanti, tapi gak kejadian sama kami. Nanti di beberapa chapter di depan.

loves, ire x


Jeongguk bosan!

“Taehyung, jalan-jalan, yuk.”

Taehyung mendongak dari buku harian KKN yang sedang diisinya bersama Momo seharian karena mereka sudah tidak mengisinya sekitar seminggu. Tidak mau jika harus mengisi semuanya sekaligus dalam satu hari di masa penarikan nanti.

Jeongguk sedang berbaring di atas kasur lipat mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu, dekat dengan pintu samping—kebosanan. Dia tadi pagi berlari jauh sekali hingga ke desa sebelah lalu kembali dengan tampang puas dan keringat yang aromanya luar biasa menjijikkan.

Dia mandi lalu ikut ke PAUD, akhirnya ada dua anak yang mau berteman dengan Jeongguk karena dia suka mengangkat anak-anak ke bahunya, memutar mereka seperti sedang menaiki pesawat—anak-anak lelaki mulai suka padanya dan bertanya tetang tato dan rambutnya. Jeongguk bahkan mengizinkan mereka menguncir rambutnya dengan pita merah jambu agar mereka senang.

Dia duduk di sana, tenang saat anak-anak menyibak rambutnya dan menguncirnya sehingga para ibu bisa dengan lega menyuapi mereka makan siangnya. Jeongguk senang bisa membantu, nampak sejinak burung merpati saat berada di sekitar anak-anak yang terkikik-kikik menguncir rambutnya.

“Jalan ke mana?” Tanya Taehyung, memberikan buku hariannya ke Momo yang akan mencontek isinya.

“Naik motor, yuk.” Jeongguk melompat bangkit, meraih jaketnya dan mengenakannya. Dia meraih kunci motor Dahyun. “Dahyun, pinjam motor!” Katanya lalu bergegas keluar dan mau tidak mau, Taehyung menyusulnya.

“Apakah ada yang ingin kalian beli?” Tanya Taehyung saat mengenakan jaketnya ke Momo dan Dahyun yang bersantai di ruang tengah sementara Yoongi dan Yugyeom sedang membantu Bapak di kandang sapi, membereskan Biogas.

“Tidak.” Sahut Momo, masih berkutat dengan buku harian KKN-nya.

“Gorengan, dong.” Dahyun mendongak dari ponselnya, bermain bubble popper sejak tadi. “Nanti jam empat anak-anak datang, jangan terlambat, ya? Ketemu di Masjid.”

“Oke.” Taehyung menyelipkan dompet ke saku celana pendeknya dan keluar, mendapati Jeongguk sudah menunggu di jalan besar. “Kau sungguh tidak sabaran,” katanya seraya mendaki jalan tanjakan pondokan lalu naik ke boncengan belakang.

Dia meletakkan tangannya di bahu Jeongguk namun pemuda itu meraih tangannya, meletakkannya di pangkuan Jeongguk dan Taehyung tertawa serak. “Ayo, kita mau ke mana?”

Jeongguk mengendarai motornya, perlahan. “Entahlah, ke mana saja jalan ini membawa kita.”

Mereka menelusuri jalan desa yang mulus dan hanya cukup untuk satu mobil, diapit persawahan dan lembah hijau yang cantik. Pohon-pohon bunga Desember yang masih berbunga sisa akhir tahun kemarin, gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan bebungaan yang segar karena kombinasi suhu dingin serta sinar matahari. Taehyung membiarkan rambutnya tersibak angin, begitu juga rambut Jeongguk yang mengemudi di hadapannya.

Mereka melintasi jalan turunan, kantor balai desa tetangga, sebuah palang menuju tempat wisata yang mereka tandai jika mereka memiliki waktu luang dan ingin bertamasya. Lalu mereka memasuki wilayah desa tetangga. Melihat banyak papan-papan jingga norak Pondokan KKN USD yang sama terpasang di beberapa tempat.

“Kau mau es krim?” Tanya Jeongguk saat mereka melewati toko kelontong kecil dan Taehyung menggeleng, “Nanti saja ketika kita kembali. Sekalian membelikan yang lain.”

Mereka kembali melaju, membelah jalanan. Melewati sungai dan beberapa anak yang sedang bermain air dan menikmati hamparan sawah hijau yang baru ditanami; permukaannya beriak saat angin berhembus dan Taehyung mendesah.

“Suasananya enak.” Katanya, mendekatkan wajahnya ke bahu Jeongguk yang tertawa—napasnya beraroma pekat tembakau dan Taehyung ingin sekali menciumnya; menghirup aroma itu dalam-dalam, menjelajah mulutnya dengan lidahnya.

Lalu tiba-tiba saja seseorang membunyikan klakson kepada mereka. Keduanya mengerjap, kaget karena pengendara itu tersenyum ramah pada mereka. Taehyung menoleh, membaca tulisan di gerobaknya “Bakso Bakar”.

“Penjual bakso bakar.” Kata Taehyung pada Jeongguk yang mengintip dari kaca spion depannya.

“Aku mau bakso bakar!” Jeongguk berseru, langsung menepi dan Taehyung tertawa, seperti anak kecil yang mudah dialihkan perhatiannya.

“Apa kejutannya? Kau memang ingin makan apa saja.” Sahutnya geli. “Bagaimana jika kita telusuri jalan ini sampai habis dulu, lalu kita beli baksonya sambil kembali ke pondokan?”

Jeongguk berpikir sejenak, “Baiklah. Ayo.” Jeongguk kemudian kembali melaju, menghabiskan jalan yang mereka telusuri; mencari tahu di mana ujungnya.

Taehyung mendesah, merasakan debaran di jantungnya; merasakan hangat yang menyeruak di atas permukaan dadanya. Rasa hangat karena dia ternyata sangat menyukai Jeongguk yang ini—yang seenaknya, yang lucu, yang menarik, yang tidak bisa diatur, yang selengekan dan petantang-petenteng.

Dia suka kebebasan yang dijanjikan Jeongguk; bagaimana dia nampak sangat rileks menjalani hidupnya. Tidak memiliki beban, seperti seekor elang yang berkoak di langit yang luas; mengumumkan betapa dia sangat bebas dengan dirinya sendiri sementara Taehyung adalah sebatang pohon yang tumbuh di hutan, ada namun tidak disadari. Karena di sekitarnya, ada jutaan pohon lain.

Satu pohon tidak akan membuat perbedaan yang signifikan; seperti menyembunyikan hijau di atas warna hijau.

Lalu dia merasa sangat senang ketika seekor elang terbang cukup rendah ke dahannya, beristirahat di sana dan merasa nyaman. Mengajaknya mengobrol, menemaninya, menemukan hal menarik dari dirinya—memilihnya alih-alih jutaan pohon lain untuk dihinggapi, mengistirahatkan sayapnya yang megah.

Jeongguk nampak sarat kebebasan, dia nampak seperti petualangan. Eksotis, binatang liar yang menarik dan Taehyung, sebatang pohon di tengah hutan, merasa sangat beruntung karena elang itu meliriknya. Memutuskan dia jauh lebih menarik dari pepohonan lain yang mungkin lebih tinggi, lebih rimbun dan lebih luar biasa darinya.

“Tidak,” tiba-tiba saja Jeongguk menjawab dan Taehyung mengerjap, apakah dia baru saja menyuarakan isi kepalanya?

“Hah?” Tanyanya.

“Terkadang Elang itu juga iri pada si Pohon karena bisa dicintai begitu banyak orang. Bisa meneduhkan, bisa melindungi begitu banyak binatang. Tidak ditakuti dan dihindari hanya karena dia terbang dan berkoak, tidak ditakuti karena sayapnya yang lebar dan paruhnya yang tajam, mengancam. Predator.” Katanya dan Taehyung berdesir mendengarnya.

“Tidakkah kau berpikir kadang si Elang juga kesepian terbang di atas sana sendirian? Tidak bisa berteman karena semua binatang takut padanya? Lalu tiba-tiba dia mendarat, hinggap di sebatang pohon yang menyambutnya dengan ramah?” Jeongguk melirik dari spion, tersenyum hangat. “Sudah yakin akan diusir atau mendengar binatang lain mendesis, menjauhinya seolah si Elang akan membawa bencana hebat.”

Teringat bagaimana terlukanya Jeongguk saat anak-anak menjerit menjauhinya di PAUD pada hari pertama, Taehyung tersenyum. Jeongguk memiliki kesulitan dalam berteman; dia kikuk, walaupun nampak sangat percaya diri, Taehyung tahu dia kadang merasa kikuk. Takut tidak diterima, takut pembawaannya yang nyentrik dan berbeda akan membuatnya sulit berteman.

Taehyung mengaitkan jarinya di atas perut Jeongguk yang tertawa serak.

“Si Elang merasa sangat asing dengan perasaan diterima itu, hangatnya persahabatan yang ditawarkan si Pohon. Teduhnya ranting dan dedaunannya, bagaimana dia menerima si Elang untuk tinggal berlindung di bawah naungannya. Si Elang tidak pernah merasa senyaman itu seumur hidupnya, tidak pernah merasa senyaman itu. Untuk pertama kalinya,”

Dia menatap Taehyung lalu mendenguskan senyuman lebar, menatap ke jalan di hadapan mereka. “Si Elang merasa dia tidak lagi sendirian.”

“Apakah sekarang si Elang senang?” Tanya Taehyung terkekeh, melepaskan pelukannya sebelum orang-orang menyadari mereka.

“Tergantung,” kata Jeongguk, hangat dan Taehyung mendesah. “Apakah si Pohon juga senang?”

Taehyung tersenyum lebar, tatapan mata mereka bersirobok di spion; cukup untuk melecutkan perasaan penuh cinta yang hangat di dalam perut Taehyung yang terasa bergemuruh. “Senang.” Katanya. “Si Pohon senang karena si Elang memutuskan mampir dan menjadi sahabatnya. Dia akan menerima si Elang kapan saja dia lelah dan butuh tempat untuk pulang.”

“Maka, ya.” Jeongguk meraih tangan Taehyung dan meremasnya. “Si Elang senang—bahagia, bahkan.”

“Baiklah,” Taehyung nyengir dan Jeongguk langsung membalas senyumannya, begitu saja. “Ayo beli bakso bakar.”

Jeongguk tertawa. “Kau benar-benar menggemaskan!”

“Katakan itu pada dirimu sendiri.”

“Memangnya,” kata Jeongguk saat mereka menyusuri jalan mereka, mengikuti jalur sungai di sisi mereka. “Si Pohon tidak takut saat pertama kali Elang mendarat di dahannya?”

Taehyung tersenyum simpul, bisa mendengar gugup dan kikuknya Jeongguk saat menanyakan itu. “Tidak,” katanya ringan, mengedikkan bahunya. “Si Pohon malah senang karena si Elang memutuskan untuk memilihnya alih-alih pohon lain karena, kau tahu, si Elang indah sekali. Dia gagah, dia keren, dinamis dan menguasai langit. Si Pohon ingin mendengar ceritanya, ingin tahu bagaimana rasanya jadi dinamis; berpindah ke sana kemari karena dia tetap di tempatnya, diam dan statis.”

“Tidak merasa terancam dengan kuku-kuku tajam dan paruh runcingnya?”

“Tidak.”

“Sama sekali?”

“Sama sekali. Karena si Pohon paham, jika dia harus menguasai langit dia pasti harus nampak sekeren mungkin, 'kan?”

Jeongguk tertawa, “Wow. Aku suka Pohon ini. Dia keren.”

Jantung Taehyung berdebar. “Ya?”

“Ya.” Dia mengangguk, menelusuri jalan perlahan—mengulur waktu agar mereka bisa lebih lama bersama. “Karena si Elang terbiasa ditakuti, terbiasa tidak diterima di kelompok mana pun, terbiasa diasingkan karena dia menyeramkan. Bayangkan betapa senangnya dia saat si Pohon menerimanya begitu saja.”

“Syukurlah si Pohon tidak menilai dari penampilannya, ya?”

“Ya.” Jeongguk mendesah senang, “Syukurlah.”

Mereka berhenti di ujung jalan, yang adalah bendungan. Di hadapan mereka, jalan aspal berhenti menjadi jalan tanah dengan rerumputan liar. Di sisi mereka ada bentangan sawah yang hijau, ada SD yang berdiri beberapa meter dari jalan aspal, ada perbukitan di kejauhan membingkai persawahan yang asri. Di sisi mereka ada pohon-pohon jati rindang dan Jeongguk memarkir motornya, duduk di pos siskamling yang ada di dekat mereka.

Taehyung menirunya. Duduk di sisinya, mengamati pemandangan di hadapan mereka dan langit yang keemasan oleh sinar matahari sore. Angin berhembus, membelai ujung hidung Taehyung dan dia memejamkan mata.

Jeongguk berbaring di sisinya, menggunakan kedua tanannya yang terlipat sebagai bantal. “Aku suka di sini.” Katanya dan Taehyung mengangguk. “Tempatnya sejuk dan nyaman, jauh dari keramaian. Tidak ada pesan-pesan mengganggu, kita bisa... hidup di masa sekarang. Benar-benar berhenti dan menikmati setiap harinya, tidak dikejar-kejar apa pun.”

“Setuju.” Taehyung tertawa, suara air sungai di bawah mereka gemuruh. “Aku jadi punya banyak waktu untuk memikirkan diriku sendiri, pilihan-pilihanku, merefleksikan emosiku setiap harinya. Nyaris seperti meditasi.”

Perspective changing.”

“Ya.” Taehyung terkekeh. Begitulah yang dirasakannya selama beberapa hari ini lokasi KKN; tenang dan damai. Mereka hanya fokus menyelesaikan satu hari, tidak dikejar-kejar apa pun. Kesulitan sinyal nyatanya membuat mereka jadi lebih dekat satu sama lain, mengobrol dan bercanda—tidak sibuk dengan ponsel masing-masing.

Mereka selalu menghabiskan malam mereka dengan menyeduh wedang uwuh dan makan cemilan dari Ibu—nanti malam, mereka dapat sukun goreng. Hasil kebun Ibu. Membicarakan rencana esok hari dan bertukar cerita. Taehyung selalu suka tiap mereka duduk bersama di ruang tengah, bercerita hingga mengantuk.

Jeongguk meregangkan tubuhnya, menguap dan nampak sangat nyaman di sana; berbaring di atas balai yang keras menikmati waktunya. Petani-petani yang baru pulang menyapa mereka saat lewat dan Taehyung balas menyapanya dengan ramah.

“Kau percaya kebetulan?” Tanya Jeongguk kemudian, menegakkan tubuhnya duduk di sisi Taehyung, menggoyangkan kakinya.

“Tidak.” Taehyung terkekeh. “Menurutku Semesta tidak mungkin semalas itu. Semua hal yang terjadi pasti ada tujuannya, entah untuk saat ini atau di masa yang akan datang. Tidak ada yang kebetulan.”

“Jeongguk?”

“Ya?”

Taehyung meletakkan tangannya di atas balai, telapak tangannya menghadap ke atas. “Boleh pegang tanganmu, tidak?”

Jeongguk tersenyum lebar, hatinya meledak oleh perasaan senang karena pertanyaan sesederhana itu lalu mengangguk. “Tentu.” Dia meletakkan tangannya di dalam genggaman tangan Taehyung yang langsung meremasnya hangat.

Lalu Taehyung mengaitkan kelingking mereka berdua dengan erat dan menikmati pemandangan di hadapan mereka. Hingga akhirnya Taehyung mengingatkannya untuk kembali karena mereka harus bersiap mengajari anak-anak pekerjaan rumah.

Jeongguk mengerang, “Bakso bakar?”

“Iya, iya.” Taehyung terkekeh dan Jeongguk bangkit, mengangkat tangannya ke udara, meregangkan tulang punggungnya yang bergemeretak lembut merespon gerakannya.

Kausnya terangkat dan itulah saat di mana Taehyung menyadari tempat tato ketiga Jeongguk.

Gambar permanen itu mengintip, mengedip padanya dan Taehyung merasa seperti baru saja ditembak tepat di kepalanya. Limbung sejenak dan mengerjap, geli dan nyaris histeris. Dia berdeham, tidak menyangka bahwa ternyata lokasinya di sana. Dan ternyata gambarnya adalah burung elang yang kedua sayapnya terentang, tidak terlalu besar, mungkin hanya seukuran dua jari tapi lokasinya cukup membuat Taehyung gemetar.

“Aku suka tato ketigamu.” Pujinya kalem walaunpun kepalanya pening—ada alarm yang berdering nyaring di sana, nyaris panik karena mengetahui lokasi tato ketiganya.

Dia berdiri di sisi Jeongguk yang mengerjap—sejenak bingung sebelum tersenyum lebar hingga kerutan muncul di pangkal hidungnya dan matanya membentuk sepasang bulan sabit mungil.

“Oh?” Katanya, terhibur. “Kau menemukannya?”

Taehyung melirik tempatnya, yang sekarang kembali tertutup kaus. “Yah, begitulah.” Katanya menatap Jeongguk, alisnya naik sebelah dan Jeongguk menyerigai padanya. “Aku suka.” Dia mengangguk-angguk serius dan Jeongguk tertawa.

“Aku tidak menyangka gambarnya elang? Maksudku... Bagaimana bisa??” Tanyanya, tertawa teringat perumpamaan yang mereka gunakan tadi—Taehyung hanya memilih binatang liar yang dipikirkannya akan sangat cocok untuk Jeongguk.

Dan bum! Dia punya tato binatang itu tersembunyi di balik kausnya.

“Kebetulan?” Jeongguk menaikkan sebelah alisnya.

Taehyung menggeleng, tertawa. “Tidak. Kau memang cocok dengan binatang itu.”

“Kau boleh menyentuhnya jika mau.” Sahut Jeongguk kalem. Wajah Taehyung seketika merona dan Jeongguk tertawa. “Oh, lihat dirimu! Mudah sekali digoda!”

“Kau bajingan sial.” Taehyung tertawa saat mengekornya ke motor, memutuskan untuk menggodanya sedikit. “Mungkin nanti aku akan menciumnya, menjilatnya. Bagaimana menurutmu?”

Sekarang, wajah Jeongguk yang merona—hingga ke telinganya dan Taehyung mendengus puas. Berhasil membalaskan dendamnya. “Oh, eh.” Dia berdeham, menaiki motornya dan menelan ludah. “Tentu.” Katanya, menggaruk pelipisnya, gugup. “Jika kau.... eh, mau.”

Taehyung menaiki joknya, “Tentu saja mau.” Dia tersenyum lebar, menyadari rona merah di telinga Jeongguk walaupun dia juga merasakan wajahnya sendiri panas karena melemparkan godaan itu.

“Bakso bakar saja, aku ingin bakso bakar.” Jeongguk mengangguk, menyalakan mesin motor. “Nanti,” dia tercekat. “Masalah, eh, menjilat tato bisa kita bicarakan nanti.”

Taehyung merona. “Kau bedebah sial.” Dia menoyor bahu Jeongguk yang tertawa keras.

“Kau yang mulai!”

“Kau yang punya tato di sana!”

“Lho? Terserah aku, dong??? Tatoku tidak bersalah!”

“Salahmu!”

“Salahmu!”

“Diam atau kucium!”

“Ayo, cepat sekarang!”

Jeongguk tertawa dan Taehyung menimpalinya; begitu saja, natural saja. Seolah mereka sudah berteman sejak mereka lahir alih-alih baru beberapa waktu. Bergerak sinkron seperti Bulan yang mengorbit di sekitar Bumi; begitu saja.

Tidak perlu banyak dipikirkan.


“Kalian dari mana??” Tanya Yoongi saat mereka memasuki rumah dari pintu depan setelah memarkir motor Dahyun.

Jeongguk menyerahkan sekantung bakso bakar hangat yang langsung diterima para perempuan yang menyambutnya ceria. “Jalan-jalan dan beli bakso bakar, di depan Puskesmas di desa sebelah.”

Yugyeom membuka plastiknya, menemukan puluhan tusuk bakso bakar yang hangat lalu meraihnya. Menyuapnya dan mendesah karena ledakan rasa lezat bumbu bakarnya, “Wow!”

Dia langsung membagikannya dengan semangat sementara Taehyung menuang air putih di meja dan meneguknya. Dia dan Jeongguk masing-masing menghabiskan tiga puluh ribu untuk membeli bakso tusuk yang sebatangnya seharga dua ribu rupiah, duduk di depan Puskesmas dan mengobrol dengan penjualnya yang ramah.

“Aku akan mandi dulu, kita berangkat ke Masjid jam empat, 'kan?” Jeongguk keluar dari pintu samping yang mengarah ke jemuran, meraih handuknya yang dijemur di sana.

“Ya.” Taehyung duduk di singgasana sinyal, mengirim pesan untuk temannya dengan setangkai bakso bakar di tangannya. “Cepatlah, aku juga ingin mandi.”

Jeongguk mengerlingnya. “Bareng saja bagaimana?”

Momo mengerang, disusul Dahyun dan Tzuyu yang sedang menyuap bakso mereka. “MENJIJIKKAN!”

Tusuk bakso bakar dilempar ke arahnya dan Jeongguk tertawa, berlari menghindari serangan teman-temannya yang anarkis. “Itukah balasan kalian setelah aku membelikan kalian bakso bakar?? Benar-benar, deh!”

“Simpan semua kemesumanmu untuk dirimu sendiri!” Seru Yoongi, nyaris melempar Jeongguk dengan gitarnya.

“Ya, nanti akan kusampaikan ke Jimin kau punya kasus hati.” Jeongguk mengedip genit. “Kubantu juga untuk mendekatinya karena kau ini kelihatannya payah sekali—Baiklah, BAIK! Aku diam!” Lalu berlari heboh seraya tertawa menjauhi Yoongi yang sudah akan beranjak, ingin menonjoknya.

EAAA!” Serunya dari dapur.

Yugyeom terbahak-bahak. Mereka kemudian berangkat ke Masjid setelah Jeongguk dan Taehyung membersihkan diri, bertemu anak-anak yang sudah menunggu mereka di Masjid. Momo membuka kuncinya, mempersilakan anak-anak masuk dan mulai riuh meminta bantuan kakak-kakak mereka untuk mengajari mereka pekerjaan rumah.

“Kau tahu tidak,” Jeongguk berbisik pada Taehyung yang sedang mengajari sepuluh anak mengerjakan PR Matematika mereka. “Anak itu naksir Yoongi.”

Taehyung mendongak dari papan yang digunakannya untuk menjelaskan persamaan akar sederhana, “Hah? Siapa?” Balasnya.

“Dia,” Jeongguk menggunakan matanya untuk melirik anak perempuan di sudut yang duduk di dekat Yoongi yang sedang bermain gitar. “Dia selalu menanyakan Yoongi padaku: 'Mas Yoongi di mana, Kak? Mas Yoongi bagaimana, Kak?'”

Taehyung tertawa tanpa suara. “Sungguh??”

“Sungguh!” Jeongguk kemudian teralihkan sejenak oleh anak yang dibantunya mengerjakan tugas Bahasa Inggris sebelum kembali ke Taehyung. “Dia memanggil Yoongi 'Mas' sementara memanggil kita semua 'Kak'.”

“Anak itu namanya Desi, bukan?”

Jeongguk mengedikkan bahu. “Tidak tahu,” katanya terkekeh. “Tapi dia punya kasus hati pada Yoongi.”

“Memang, Kak!”

Mereka berdua menoleh pada murid yang sedang diajari Jeongguk, Siti yang setau Jeongguk sering berjalan bergandengan tangan dengan Desi. Mereka bersahabat, duduk sebangku di sekolah dan bertetangga. Bertetangga di sini rumah mereka berjarak setidaknya 1 kilometer, jarak terdekat antarrumah di wilayah KKN mereka. Rumah Desi ada di atas bukit tidak jauh dari Masjid sementara rumah Siti ada di belakang Masjid, menuruni jalan curam berbatu dan melewati hutan bambu yang mengerikan.

“Apanya yang memang?” Tanya Taehyung.

Siti melirik Desi lalu memelankan suaranya hingga Jeongguk serta Taehyung mendekat untuk mendengarkan. “Dia naksir Kak Yoongi. Katanya keren, bisa main gitar. Cool orangnya.”

Jeongguk tersedak, lalu terbatuk-batuk keras yang terdengar seperti tawa hingga semua orang menoleh ke arahnya. “Maaf, maaf!” Katanya dan Yoongi menatapnya dingin, dengan mata rubahnya; seolah tahu sedang dibicarakan.

“Hanya,” dia berdeham dan Taehyung mendelik, memperingatinya.

Tapi Jeongguk adalah Jeongguk.

“Aku baru menyadari kalau Yoongi itu keren sekali,” dia mengedip genit dan Yoongi nyaris melempar gitar di tangannya ke kepala Jeongguk.

Yugyeom yang otaknya memang sangat terkoneksi dengan otak Jeongguk menyambarnya. “Oooh!” Serunya, tertawa liar dan Jeongguk membalasnya. “Memang Mas Yoongi keren sekali!”

“Kalian kenapa, sih?” Yoongi menatap keduanya, nampak seperti penderita wasir.

“Kami memujimu!” Balas Jeongguk, defensif namun dengan kekehan liar di bibirnya. “Mas Yoongi keren, tidak, Teman-teman?”

“Keren!” Balas semuanya dan Desi di sisi Yoongi menjawab paling semangat, mengangguk-angguk hingga hijabnya nyaris terlepas dari kepalanya. Dan Yoongi menatapnya, matanya menyipit; jelas akan membuat perhitungan dengan Jeongguk nanti—setelah ini.

Jeongguk terkekeh lalu bertukar high-five dengan Siti di hadapannya yang tertawa ceria. “Kita berhasil!” Katanya dan Siti mengangguk, “Kak Gguk keren!”

“Kau keturunan iblis,” Taehyung tertawa.

Setelahnya, mereka semua beristirahat karena penjual siomai lewat di depan Masjid. Mereka langsung keluar, bermain bola dan membeli siomay. Duduk di pinggir jalan, menikmati siomay sementara para lelaki bermain bola dengan anak-anak di jalanan.

“Awas motor!” Sesekali, salah seorang dari mereka berseru dan permainan terpaksa dihentikan, motor dibiarkan lewat sebelum permainan kembali dilanjutkan.

Jeongguk menjadi penyerang bersama Taehyung. Mereka tadi membagi diri menjadi kelompok tujuh-tujuh lalu suit, yang kalah harus membuka baju mereka untuk menandakan diri sebagai tim lawan.

Dan sialnya, tim Jeongguk kalah.

Dia bermain dengan telanjang dada, ketiga tatonya terpapar udara karena dia mengenakan celana pendek—wajah singa di pahanya mengintip tiap kali dia berlari. Mata serigala di dadanya yang dibuat sehidup mungkin balas menatap siapa saja yang mengamati tatonya.

Anak-anak berseru heboh saat dia membuka pakaiannya, mengamati tatonya dengan tertarik. Menyentuhnya dan bertanya berisik apakah membuatnya sakit? Berapa lama Jeongguk membuatnya? Bisa dihapus tidak?

“Sakit,” katanya serius, mengangguk menakut-nakuti mereka. “Tidak bisa dihapus juga. Jadi jika kalian ingin, pertimbangkan baik-baik, ya?” Katanya pada anak-anak yang terpesona di sekitarnya.

Dia melirik Taehyung yang sedang berdiri di depan gawangnya sendiri, mengepit bola di bawah ketiaknya. Dia tersenyum, menyemangati Jeongguk karena mendapatkan perhatian karena cakar dan paruhnya yang mengintimidasi.

“Wow.” Kata Momo serius, duduk di pinggir jalan dengan seplastik siomai yang dibaginya dengan anak-anak. “Tato ketigamu...” Dia berdeham, mengangguk segan pada Taehyung yang tertawa.

“Menarik.” Dahyun mengangguk-angguk, duduk di pohon mangga di depan Masjid—satu-satunya tempat di mana dia bisa duduk dengan kaki diluruskan. “Apakah sakit membuat tato di sana?”

Jeongguk menyentuh tato ketiganya, yang berada di punggung—titik tepat di seberang pusarnya. Beberapa senti di atas tulang ekor dan garis celananya, menggaruknya. “Tidak.” Katanya mengedikkan bahu. “Yah, sebenarnya semuanya sakit.” Tambahnya meringis, “Tapi yang paling sakit ada di pahaku.”

Dia mengangkat kakinya, membiarkan semua orang melihat tato di pahanya. “Ini mengerikan.” Dia bergidik, tidak ingin lagi mengalami kesakitan semacam itu dalam hidupnya.

“Jadi,” dia berkacak pinggang pada semua anak di sekitarnya. “Jangan bertato!”

Semuanya tertawa dan menjawab serentak, “Siap, Kak Gguk!”

Sebelum akhirnya memulai permainan hingga sore menjelang dan permainan dimenangkan oleh tim Taehyung. Jeongguk membelikan anak-anak masing-masing sebungkus simoai sebelum melambai pada semuanya yang harus pulang, bersiap-siap untuk Maghrib.

“Terima kasih, Kak Gguk!” Seru mereka saat pulang, melambai ceria pada anak-anak KKN yang balas melambai.

“Sama-sama!” Balas Jeongguk. “Sampai ketemu besok di sini, ya! Jangan lupa bawa bolanya lagi, Ilham!”

Ilham tertawa, “Siap, Kak! Besok kita harus menang!”

“Tentu saja!” Sahut Jeongguk, nyengir. “Kita permalukan Kak Tae!”

“Harus!” Balas anak-anak rekan se-tim Jeongguk semangat, bersorak heboh bertengkar dengan rekan se-tim Taehyung yang berada di sekitarnya.

Jeongguk meraih kausnya yang teronggok di jalan, mengenakannya kembali dan menatap Taehyung yang balas menatapnya. “Ayo pulang.” Katanya, nyengir.

“Aku lapar!” Keluh Yugyeom saat mereka turun untuk mengambil motor mereka dan Jeongguk merangkulnya, “Aku bisa makan satu kilo nasi untukku sendiri.” Sahut Jeongguk, mendesah keras karena perutnya benar-benar lapar.

“Kau bisa saja memakan kursi yang diberi garam, aku tidak kaget.” Sahut Yoongi.

Jeongguk mengerang genit, “Yah, baiklah, Mas Yoongi yang keren.”

Semuanya tertawa.

“Siapa, sih, yang naksir Yoongi??” Tanya Tzuyu dari atas, menunggu anak-anak lelaki membawa motor naik.

“Desi!” Taehyung tertawa. “Tidakkah kau lihat caranya mengamati Yoongi? Mas Yoongi begini, Mas Yoongi begitu.” Dia tertawa.

Jeongguk menyalakan motornya yang meraung. “Ya ampun, Mas Yoongi keren!”

“Bicara sekali lagi, Gguk, kujejalkan kepalan tanganku ke mulutmu!”

“Aw, takut!”


Setelahnya, Dahyun menjadi tidak terlalu aktif lagi karena lukanya persis di atas lutut, membuatnya kesulitan berjalan dan menekuk kaki.

Kekasihnya datang sore kemarin setelah dia dan Taehyung kembali ke pondokan membawakan kasa serta obat merah tambahan. Dia juga membawakan teman-teman kelompok makanan sebagai tanda terima kasih karena telah menjaga Dahyun. Dia membawa Ayam Goreng Tojoyo yang membuat anak-anak bersorak kegirangan, makan dengan ceria ditemani tumis daun pepaya buatan Ibu yang sama sekali tidak pahit.

Pagi ini, suasana mendung berkabut. Semuanya duduk di ruang tengah, masih belum menemukan kegiatan karena PAUD baru akan memulai kegiatannya besok. Jeongguk berbaring di ruang tengah, menguap lebar seraya menonton televisi yang gambarnya gerimis.

“PAUD belum mulai, ya?” Tanya Momo, bosan di tempatnya dengan sebuah novel di tangannya sejak tadi sudah berguling ke sana kemari mencoba membunuh waktu namun tidak kunjung menemukan kegiatan yang cukup menyenangkan.

Yugyeom menggeleng. Semalam saat mereka makan ayam goreng dari kekasih Dahyun sudah bertanya pada Ibu tentang PAUD dan Bapak menjawab bahwa PAUD akan mulai dua hari lagi maka mereka kemudian tidak memiliki agenda apa pun lagi hari ini selain mengisi kalender program kerja mereka.

Mereka memutuskan untuk memulai les dengan anak-anak desa besok sekalian memulai PAUD. Mereka membagi diri; Yugyeom, Tzuyu dan Jeongguk akan membantu dengan pekerjaan rumah bahasa Inggris, Taehyung dengan Matematika, Momo dengan pengetahuan sosial dan sisanya menyesuaikan.

“Kita tidak punya anak yang paham IPA, ya?” Tanya Dahyun saat mereka membagi tugas; menyadari bahwa Ilmu Pengetahuan Alam mungkin akan jadi kesulitan terbesar anak-anak di sekolah selain Matematika.

“Aku paham Kimia dan Fisika, tapi Biologi tidak terlalu.” Taehyung mengangguk. “Lagi pula, sesulit apa, sih, Kimia dan Fisika SMP dan SMA? Aku yakin bisa menyelesaikannya dengan logika sederhana.”

“Otakmu bekerja seperti scientific calculator, ya?” Puji Yoongi dan semuanya tertawa.

Taehyung mengetuk otaknya, “Ini aset.” Katanya kalem.

“Bisa di sini atau di Masjid.” Kata Bapak mendengar mereka diskusi sambil merokok di sudut ruang tamu; rokok kretek yang aromanya manis pekat tembakau. “Mungkin di Masjid saja biar lebih leluasa, anak-anak juga lebih dekat ke sana.”

Yugyeom mengangguk. “Bisa, Pak. Boleh.”

“Ada papan juga di sana, jadi enak.” Tambah Bapak, menghisap rokoknya khidmat.

Mereka sepakat, akan membawa anak-anak ke Masjid saja untuk belajar bersama. Membantu mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan mempersiapkan materi yang akan mereka pelajari keesokan harinya di sekolah.

“Jadi di Masjid, ya?” Tanya Bapak kemudian, merapikan sarungnya setelah merokok. “Nanti Bapak infokan ke anak-anak supaya datang ke Masjid.”

Yugyeom mengangguk. “Siap, Pak. Terima kasih banyak!”

Dan pagi itu, tanah pondokan becek karena semalam hujan deras menghajar Gunung Kidul, begitu deras hingga Diwud tidur di kaki Jeongguk semalaman—menggigil ketakutan pada suara gemuruh dan cahaya kilat. Sekarang, dia sudah memiliki ikatan yang kuat dengan Jeongguk—selalu menghampirinya dan tidur di sisinya, menjilat tangan Jeongguk tiap kali dia menggaruk telinganya.

Bapak kemudian datang, membawa cangkul dan ember. Berdiri di depan pintu utama menatap semua anak KKN yang berbaring di ruang tengah, di atas tikar; bermalas-malasan. “Ayo.” Katanya kemudian.

Yugyeom mendongak, “Mau ke mana, Pak?” Tanyanya, namun langsung duduk tegak siap menerima perintah.

“Tidak ada pekerjaan, 'kan? Ayo, gotong royong. Ada tanah longsor di jalan ke arah Green Village.” Dia meletakkan tiga cangkul di teras rumah dan dua ember, mengepit rokok kretek di bibirnya.

Jeongguk melompat berdiri, meregangkan tubuhnya lalu beranjak dengan semangat membara karena sejak tadi paling berisik mengeluh tidak punya kegiatan. Tadi pagi dia sudah bangun lalu mengenakan sepatu lari dan berkeliling desa, berlari dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek, earbuds menyumpal salah satu telinganya.

Dia kembali dan menemukan Taehyung sedang merokok di kursi depan dengan segelas Energen di tangannya. Dia mandi dan membereskan diri, namun belum juga puas dengan kegiatannya. Dia gatal, ingin terus dinamis. Maka saat Bapak memberikannya cangkul dan pekerjaan kasar yang membutuhkan otot, Jeongguk sangat bersemangat.

Dia meraih cangkul pertama. “Aku lebih suka bergerak daripada berbaring tidak punya kegiatan seperti pemuda madesu.”

Dia menatap Taehyung yang tersenyum separo, “Ayo, Tae!” Katanya, meraih cangkul lainnya dan menyerahkannya pada Taehyung yang kini bangkit, melepas kacamatanya.

Dia mengelapnya dengan sudut kausnya sebelum kembali mengenakannya lalu menerima cangkulnya.

“Baiklah, baiklah, Jagoan.” Taehyung menerima cangkulnya sebelum kemudian mereka semua berangkat bersama Bapak menuju lokasi gotong royong.

Dahyun dan Momo di pondokan, bertanggung jawab untuk masak dan menanak beras sehingga saat pulang, mereka bisa langsung makan. Mereka berjalan kaki, melewati jalan besar yang bagian kirinya merupakan pemandangan lepas ke lembah hijau yang cantik dan kota Yogyakarta yang nampak mungil di kejauhan; ada tiga gunung yang nampak dari sini.

Jeongguk bersiul, mendendangkan nada-nada ceria yang membuat semuanya ikut bernyanyi; termasuk Taehyung yang berjalan di sisinya. Jeongguk meliriknya, mengamati bagaimana dia tertawa dan bernyanyi bersam Yoongi dan Yugyeom, mengamati bagaimana caranya tersenyum, bagaimana dia bicara; semuanya nampak sangat memesona.

Dia bisa saja hanya mengenakan kaus lusuh dan celana pendek, namun dia bisa mengalahkan Apollo sekali pun dalam kontes peragaaan busana. Dia memiliki tubuh langsing yang sempurna, tungkai jenjang dan lengan yang kurus. Dan Taehyung selalu memiliki kemampuan untuk membuat suasana kondusif, dia memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.

Jangan lupakan bagaimana saat dia kemarin khawatir dengan keadaan Dahyun, merasa bersalah karena melupakan para perempuan di belakang mereka lalu dengan suara serak beratnya yang aduhai berkata keras, “Kita turun ke Klaten, ada K24 di sana. Aku antar.”

Jeongguk gemetar. Ingin Taehyung menggunakan nada itu padanya, memberi tahu Jeongguk apa yang harus dilakukannya, bagaimana cara membuatnya senang. Menatap Jeongguk dengan tatapan khawatir itu, membisikkan kekhawatirannya di kulit Jeongguk; suaranya yang berat, tatapan matanya yang dalam....

“Jangan melamun jorok.”

Jeongguk mengerjap, menoleh dan mendapati Taehyung sedang terkekeh serak saat mereka berbelok ke pertigaan pertama dan menanjak menuju lokasi longsor. Di sisi mereka ada sawah hijau yang sedang tumbuh, subur dan gemerisik oleh angin pagi.

“Siapa yang melamun jorok??” Tanyanya, tidak terima dan sedikit merona karena tertangkap basah oleh objek lamunan joroknya.

“Mulutmu terbuka dan kau memasang wajah keenakan begitu, orang bodoh juga tahu kau sedang melamunkan hal jorok.” Taehyung memanggul cangkul di bahunya.

“Aku membayangkanmu.” Katanya lugas dan Taehyung mengerjap; entah karena cahaya atau Jeongguk yang belum sepenuhnya sadar dari kantuk, dia menangkap selapis warna merah muda di permukaan wajah Taehyung.

Dia menaikkan kacamatanya, terkekeh serak dan parau—oh, suara itu. “Jadi kau bukan melamun jorok?”

Jantung Jeongguk berdebar kuat, sekali. “Jorok, kok.”

Taehyung mengerjap, menoleh ke arahnya, bibirnya terbuka dengan cara yang begitu menakjubkan hingga insting pertama Jeongguk adalah meraihnya dan menciumnya—begitu kuat hingga dia merengek.

“Jorok?” Ulangnya; masih berusaha memahami obrolan mereka.

“Yap.”

“Dan... aku?”

“Yap.”

Jeongguk was shooting in the dark.

Taehyung kemudian mendengus, tertawa serak. “Sinting.” Katanya, geli dan Jeongguk tidak bisa menebak apakah dia senang karena Jeongguk membayangkan hal jorok tentangnya atau malah tersinggung.

Tapi dia tidak mengayunkan cangkulnya ke kepala Jeongguk, jadi sepertinya dia tidak tersinggung.

... Ya, 'kan?

Dia tidak sempat menggodanya lagi karena mereka tiba di lokasi gotong royong. Langsung berpencar, membantu para bapak dan pemuda untuk menyendok tanah longsor yang menghalangi jalanan dan membuangnya ke jurang di sisi jalan.

“Wah, ayo-ayo. Dibantu.” Sapa seorang bapak yang senang melihat anak KKN datang membantu mereka bekerja. “Ayo, bantu gemburkan tanahnya dan buang ke sana, ya? Hati-hati dengan cangkulnya, itu tajam.”

Mereka menggunakan ember-ember hitam juga gerobak pasir roda tiga untuk memindahkan tanah yang longsor dari tebing yang mengapit jalan agak rusak ke Green Village. Jeongguk langsung turun membantu para bapak menggemburkan tanah basah dengan cangkulnya; memamerkan lengan atasnya yang berotot, juga tulang punggungnya yang kuat dan terlatih.

Dia mengisi ember-ember serta gerobak pasir dengan gundukan tanah yang beraroma basah sehabis hujan yang langsung ditindak oleh pemuda yang membuang isinya ke jurang.

Bekerja sembari mengobrol dengan warga membuat Jeongguk rileks, dia akrab dengan beberapa pemuda Karang Taruna, bertukar pematik dan merokok bersama seraya menikmati teh pekat yang disajikan para ibu di sekitar tempat bekerja bersama setoples rambak.

“Teh mereka luar biasa,” bisik Tzuyu, menuang segelas teh lagi ke dalam gelasnya; teh itu harum melati segar, manis, kental, dan hangat. Sangat cocok dinikmati setelah sepagian membungkuk membereskan tanah.

“Mereka menggunakan teh daun sepertinya,” Yoongi mendecap, merasakan teh itu di ujung lidahnya dan mendesah saat rasa pahit tertinggal di rongga mulutnya; rasa pahit yang menyegarkan.

“Aku ingin tehnya,” Tzuyu meneguk tehnya, seperti meneguk air mineral.

“Hati-hati nanti kau sembelit.” Taehyung terkekeh sebelum bangkit dan bergabung bersama Jeongguk setelah menyelesaikan bagiannya, meminta rokok Jeongguk dan mereka mengobrol akrab tentang kegiatan desa yang bisa mereka bantu untuk membuat tenaga mereka berguna.

Dengan kerja sama yang solid, tanah longsor berhasil diatasi sebelum jam makan siang dan mereka kembali dengan keadaan lelah, kotor oleh tanah dan bau keringat. Para lelaki langsung mencuci kakinya di PAH dan Tzuyu membantu para perempuan di dapur, menyiapkan makan siang.

“Aduh, boyokku.” Keluh Yugyeom saat mereka bergilir mencuci kaki di air kran yang dingin menggigit.

“Kau kurang bergerak,” cela Jeongguk, bergerak di tempatnya—senang karena tubuhnya mendapatkan tempaan aktivitas fisik yang membuatnya rileks dan kencang.

“Hanya karena badanmu sekelas binaragawan, bukan berarti semua orang harus begitu.” Yoongi mengibaskan air di tangannya ke wajah Jeongguk yang tertawa ceria.

“Aku lapar, aku ingin makan yang banyak.” Yugyeom mengeluh, membelai perutnya dengan sayang saat mereka bergerak ke dalam rumah; menghirup aroma bawang putih dan lada yang digunakan para perempuan untuk merendam tempe sebelum digoreng.

“Siang ini apa yang bisa kita lakukan?” Tanya Yoongi, menyusulnya dan meninggalkan Jeongguk serta Taehyung di PAH. Bersama kambing Bapak yang mengembik berisik, minta perhatian Jeongguk.

“Taehyung,” Jeongguk berdeham saat giliran Taehyung membersihkan lumpur di kakinya.

Dia menoleh sejenak, “Ya?” Sahutnya sebelum kembali mencuci kakinya; air gemericik dan menyiprat ke arah Jeongguk saat Taehyung menangkat kakinya, menggulung celananya dan membersihkan lumpur dari sana.

Jeongguk tidak bisa tidak mengamati bagaimana kaki jenjang Taehyung dan rambut di permukaannya. Dia nampak sangat lembut dan juga maskulin di saat yang bersamaan. Entah bagaimana tubuh dan ekspresi wajahnya meneriakkan hal yang berlawanan sama sekali. Jika Jeongguk fokus pada dirinya yang mengintimidasi, Taehyung bisa memiliki keduanya; bisa menjadi lembut dan mengintimidasi kapan pun dia ingin.

Mengaturnya seperti menyalakan lampu; menyala, mati, menyala, dan mati.

Rimbun bambu di belakang kamar mandi bergemerisik oleh angin pagi. Cahaya matahari mulai mengintip dari langit yang kelabu dan kambing-kambing Bapak mengembik—menyadari kehadiran Jeongguk yang suka memberikan mereka cemilan sebelum waktu makan siang, berharap dia akan melakukannya lagi.

Jeongguk menatapnya sejenak, mendadak merasa gugup padahal selama ini dia dikenal sebagai bajingannya Sastra Inggris. Jeongguk tidak pernah takut, tidak pernah gugup; dia selalu mengangkat dagunya ke atas, menatap semua orang seolah mereka tidak ada apa-apanya, petantang-petenteng pada semua orang.

Namun Taehyung, pemuda yang baru dikenalnya selama sebulan ini berhasil membuat hatinya kelimpungan. Kebingungan pada perasaan baru aneh yang sangat asing di hatinya—dia mungkin jatuh cinta.

Pada tawa Taehyung, pada senyumannya, pada hangatnya, pada sikap kepemimpinan dan sikap bertanggung jawabnya, pada kebaikannya, pada ketulusannya dan tentu saja, pada selera humornya yang sangat sehat.

“Kau mau kutemani pipis?” Tanyanya terkekeh geli, mengusap betisnya yang kotor oleh lumpur—membersihkannya hingga air yang larut di kakinya berwarna kecokelatan. “Mau kubantu pegangi?”

Jeongguk bergidik, membayangkan jika Taehyung benar-benar membantunya buang air kecil dan asetnya yang malang menderita di bawah sana karenanya.

“Melamun jorok lagi?” Taehyung tertawa lalu mematikan kran air. “Ayo, kita makan.”

Jeongguk mendesah, tidak memiliki keberanian mengatakannya sama sekali. Dia menatap Taehyung yang melangkah masuk, tidak menoleh lagi setelah mengibaskan tangannya yang basah, mengenyahkan tetes-tetes air dari sana dan bergabung dengan anak perempuan di dapur.

“Aku tertarik padamu dan aku tidak sedang bercanda.”

Itulah yang ingin dikatakannya tapi mulut bodohnya tidak mau bekerja sama, dia takut. Takut pada penolakan karena lelaki setampan, sepintar dan seistimewa Taehyung pasti memiliki selera lelaki yang lebih dari sekadar lelaki bertato selengekan yang selalu bergurau di berbagai macam kesempatan, membuat banyolan dari hal-hal paling serius sekali pun.

“Yah, mau bagaimana lagi, Mbing.” Dia meraih sepotong rumput gajah lalu mengulurkannya pada anak kambing Bapak yang menatapnya dengan mata bulatnya yang dibingkai bulu mata lentik, permukaannya indah berkilauan. “Aku pengecut.”

“Mbeeek!”

“Iya, iya. Aku tahu. Aku bodoh.”

“Mbeeek!”

“Terima kasih, kau memang paling memahamiku, Mbing. Bagaimana jika kuberikan saja kau nama? Bagaimana dengan Pulgoso?”

“Mbeek?”

“Oh, kau suka Pulgoso? Oke. Sekarang namamu Pulgoso.”

“Mbeeek!”

“Yep. Kembali kasih, Pulgoso.”


“Siapa??”

Jeongguk mendongak, “Pulgoso.” Katanya mantap sementara semua teman sekelompoknya menatapnya dengan geli. “Namanya Pulgoso.” Dia menepuk anak kambing Bapak yang sekarang diikat pada tambang di dekat kandang, dikeluarkan agar bisa bergerak lincah dan makan dari setumpuk rumput yang diletakkan Bapak di dekat sana.

“Dia suka nama itu, ya, 'kan, Pulgoso?” Tambahnya saat teman-temannya menatapnya dengan tatapan mencela yang menyebalkan.

“Mbeek!”

“Tuh.” Jeongguk tersenyum lebar, puas atas jawaban Pulgoso.

Taehyung tertawa, “Kau demam, ya?”

Jeongguk berdecak, “Hanya karena pilihan temanku tidak seperti standar kalian, bukan berarti aku layak mendapat kecaman.” Dia kemudian melangkah mendahului teman-temannya, menyusup di bawah lengkung semak bambu, jalan pintas menuju jalan besar ke arah PAUD.

“Ngambek, deh.” Yoongi terkekeh dan para perempuan menggeleng.

“Siapa sangka Kak Gguk yang begitu, ternyata begitu.” Tzuyu tertawa ceria sambil menggandeng Dahyun yang menumpukan setengah bobot tubuhnya pada tubuh langsing Tzuyu saat berusaha melangkah di tanah becek yang berbatu.

“Memangnya dia begitu bagaimana?” Tanya Taehyung geli.

“Dia terkenal nakal,” Tzuyu meringis dan Dahyun tertawa mendengar pemilihan katanya. “Jenis orang yang tidak akan kaudekati sebagai teman. Tapi saat aku harus satu kelompok dengannya di kelas yang diulangnya, ternyata dia sangat ramah. Selera humornya sehat dan sangat baik padaku.”

“Aku dengar itu!” Seru Jeongguk dari kejauhan.

“Aku sedang memujimu!” Balas Tzuyu dan Jeongguk melambaikan jari tengahnya.

Hari itu, pagi PAUD sudah dibuka kembali. Ada delapan anak sekarang dan satu guru, para perempuan tidak sabar ingin bertemu para siswa manis. Mereka bahkan membawa permen cokelat untuk digunakan sebagai umpan agar para anak mau mendekati mereka.

“Dia demam.” Yoongi mengangguk serius dan Taehyung tertawa sementara Jeongguk membenamkan kedua tangannya ke saku jaket almamaternya dan memimpin mereka ke arah PAUD yang hanya beberapa meter dari pondokan.

Tidak besar, hanya ruang tamunya seseorang yang diberi sekat. Luasnya hanya 3x10 ubin, dilapisi karpet hijau yang sudah mulai gundul dengan poster-poster nama-nama buah sebagai pengenalan alfabet untuk anak-anak. Saat mereka tiba, anak-anak sedang membentuk lingkaran untuk bernyanyi sebelum kelas.

Hal yang mereka lakukan salah adalah membiarkan Jeongguk yang pertama memasuki ruangan.

Melihat lelaki jangkung, berotot panjang dan halus, rambut gondrong yang dikuncir memasuki ruangan, reaksi mereka langsung mundur; satu anak bahkan berteriak kaget dan Jeongguk langsung berhenti, mundur dari pintu depan. Senyumannya pudar, sama takutnya dengan anak-anak yang takut melihatnya.

Yugyeom terbahak-bahak, bergegas maju dan menyapa anak-anak; dia punya senyman lebar yang menular. Pembawaan semanis kembang gula yang langsung membuat semuanya rileks. Dia menandak-nandak, seperti seekor kelinci menggemaskan yang langsung menarik minat anak-anak.

“Halo!” Sapanya dengan suara tinggi yang ramah, bahkan pada rubah dingin seperti Yoongi saja mereka lebih hangat daripada menyambut preman seperti Jeongguk. “Nama Kakak Yugyeom, itu Kak Jeongguk. Tidak galak kok, agak seram tapi tidak gigit.”

Taehyung berdiri di sisi Jeongguk yang nampak terluka karena anak-anak takut padanya. Dia menepuk bahunya hangat lalu meremasnya, mengirimkan tikaman rasa gugup ke dasar perut Jeongguk.

Sejak dia memutuskan dia akan mendekati Taehyung dengan lebih serius, tiap batang rokok yang mereka bagi, tiap sentuhan, tiap pandangan terasa jauh lebih mendebarkan. Membuat Jeongguk nyaris limbung karena kekuatan sentuhan itu padanya.

“Tidak usah sedih,” hiburnya tertawa serak. “Mereka hanya kaget. Sebentar lagi mereka akan menyadari betapa menggemaskannya dirimu dan menyukaimu. Percayalah.”

Jeongguk pernah dipuji dengan begitu banyak kata sifat dan 'menggemaskan' jelas bukan salah satunya. Dia terbiasa dipuji tampan, seksi, binatang buas, menarik, mengintimidasi, liar, dan sebagainya. Tapi 'menggemaskan'?

Itu baru.

Dan Taehyung memang selalu bisa membuat hal-hal sederhana tentang dirinya menjadi begitu baru dan mendebarkan. Dia menoleh, menatap lelaki yang balas menatapnya dari balik lensanya.

Taehyung menaikkan kacamatanya; tersenyum lebar menyemangati Jeongguk.

Dia begitu manis, menenangkan, pintar, baik, hangat, dan segala hal yang belum pernah dicicipi Jeongguk dalam hidupnya. Dia ingin menggenggam Taehyung, ingin memeluknya dekat ke hatinya agar benda itu tetap hangat selama berdetak demi namanya.

“Dan kau?” Balasnya tanpa benar-benar berpikir sementara teman-temannya ikut berbaris dalam lingkaran, bergandengan tangan dengan anak-anak untuk ikut bernyanyi “Selamat Pagi, Ibu Guru” yang ceria sambil berputar.

Mereka berdansa di ruang tamu, menari sambil tertawa sementara anak-anak mulai berani menggenggam tangan para mahasiswa KKN, menikmati euforia yang mereka bawa. Khusunya Yugyeom dan Tzuyu yang nampak sangat natural bersama anak-anak. Yoongi mendapatkan gitar pinjaman dan mengiringi lagu pagi mereka dengan senyuman lebar di bibirnya, bahkan Dahyun yang berdiri dengan tumpuan satu kakinya yang sehat.

Suasana menjadi ceria dengan suara anak-anak, ibu guru mereka dan teman-teman KKN mereka.

Taehyung menerjap, “Apa?” Tanyanya, kebingungan.

Jeongguk menelan ludahnya, “Kapan kau akan menyukaiku?”

cw // blood , open wounds , accident .


“Kalian yakin baik-baik saja?”

“Yakin.”

Taehyung mengangguk, sudah masuk ke dalam kepompong kantung tidurnya dengan Jeongguk di sisinya yang sudah merapatkan resleting kantung tidurnya hingga dagu—di dalamnya, dia sudah mengenakan selimut tipis dan juga bantal guling yang nyaman. Sekarang nampak seperti seekor ulat pohon pisang yang gendut di dalam kantung tidurnya.

“Baiklah,” Yoongi masih berdiri di depan pintu kamar lelaki, mengenakan sarung di atas tubuhnya. “Aku tidur, ya? Selamat tidur.” Katanya sebelum mematikan lampu utama ruang tengah dan menutup pintu.

Cahaya yang sekarang menyinari mereka hanyalah lampu dari kamar anak perempuan. Kamar mereka tidak memiliki plafon sehingga cahaya lampu yang mereka gunakan membias, cukup untuk menerangi Taehyung dan Jeongguk yang terbiasa tidur dengan lampu temaram.

Taehyung melepaskan kacamatanya, lalu menarik resleting kantung tidurnya hingga dagu lalu mendesah. “Kau oke?” Tanyanya pada Jeongguk yang berbaring di sisinya, masih menatap layar ponselnya.

“Oke.” Katanya lalu meletakkan ponselnya, menguap lebar tanpa repot-repot menutup mulutnya. “Kau mau mengisi daya ponselmu tidak?” Tanyanya, berbisik karena suasana yang begitu hening walaupun jam baru saja menunjukkan pukul sembilan malam.

Taehyung mengecek ponselnya, mengangguk. Dia mengulurkan benda itu ke Jeongguk yang menerimanya lalu mengisi dayanya di sisinya karena kabel rol ada di dekatnya. Taehyung juga tidak bisa tidur jika ponsel berada terlalu dekat dengan kepalanya, sinyal ponsel merusak kualitas tidurnya dan membuatnya terbangun dengan kepala nyeri.

“Besok kita ke pasar.” Kata Taehyung, mulai bergerak di kepompongnya—mencari posisi yang pas untuk terlelap. Dia mengenakan penutup kepalanya hingga ke hidung sementara di sisinya Jeongguk menguap lagi. “Bangunlah yang pagi.”

“Iya,” Jeongguk kembali menguap. “Gila, aku tidak pernah tidur di bawah jam sepuluh malam selama hidupku di Yogyakarta. Tempat ini membuatku mengantuk sepanjang waktu.”

“Bukan,” Taehyung memejamkan mata, tersenyum mendengar keluhan Jeongguk tentang makanan dan perut agungnya. “Karena kau makan mie dok-dok persis setelah makan malam. Kekenyangan.”

“Ah, iya. Benar.” Gumam Jeongguk, mulai mengantuk. “Kau belajar membuat mie dok-dok seenak itu dari mana? Kau diam-diam punya warmindo, ya?”

Taehyung tersenyum, ternyata senang mendengarkan kicauan mabuk Jeongguk yang mengantuk. Tadi sore, anak-anak perempuan memutuskan untuk memasak dengan meminjam sayuran dari Ibu Pondokan yang dengan senang hati memberikan mereka sepapan tempe dan seikat sawi hijau, mereka juga dipersilakan menggunakan dapur dengan seleluasa mungkin.

Kompor gas di sana tidak menggunakan elpiji, alih-alih mereka menggunakan biogas kotoran sapi yang ternyata membuat apinya lebih biru dan masakan lebih cepat matang. Jeongguk, Yoongi dan Yugyeom sangat kagum saat melihat apinya dan langsung mencari Bapak Pondokan untuk mengetahui cara kerjanya, pergi ke kandang sapi untuk melihat cara pembuatan biogasnya sementara Taehyung membantu para perempuan memasak.

“Menurutmu kita harus masak berapa gelas?” Tanya Momo yang bertugas di balik mesin penanak nasi dengan beras di sisinya.

“Kita punya dua monster,” kata Dahyun yang sedang menggoreng tempe yang sudah sebelumnya dimarinasi dengan bawang putih, lada, garam dan sedikit kaldu ayam; aroma bawang putih selalu membuat Taehyung lapar.

Suara minyak yang mendesis saat bertemu sisa air yang menempel di permukaan tempe yang digoreng membuat Taehyung tenang. Dapurnya tidak mewah, lantainya tanah dengan satu tungku kayu bakar dan tempat penyimpanan kayu di sudut yang mengarah ke kandang sapi dan kambing. Dindingnya dari ayaman bambu, Ibu lebih suka memasak dengan tungku daripada kompor gas. Biasanya memang hanya digunakan oleh anak-anak KKN.

“Masa pertumbuhan.” Taehyung mengangguk serius, membersihkan sawi hijau di genggamannya sementara Tzuyu sedang mengiris-iris bawang dan cabai untuk menumis sayuran dengan tekun.

Mereka makan bersama untuk pertama kalinya malam itu, duduk di dekat meja makan dengan setoples besar rambak yang dibelikan Ibu. Taehyung sudah lama tidak makan bersama banyak orang seperti ini, biasanya dia hanya akan makan sendirian di kamarnya atau sesekali dengan Jimin. Namun sejak keduanya sibuk mengejar skripsi, mereka jarang bertemu walaupun berada di kosan yang sama apalagi fakta bahwa mereka berbeda jurusan.

Setelah makan, semuanya bergiliran mandi dan Jeongguk mengeluh dia lapar. Dahyun memberikannya dua bungkus mie instan yang langsung disulap Taehyung menjadi mie dok-dok paling kental dan lezat yang pernah Jeongguk makan. Mereka menghabiskan mienya berdua dengan Yugyeom yang mengganggu, meminta satu-dua suap hingga Jeongguk menyikutnya tidak ikhlas.

Malam itu Yugyeom membagi jadwal belanja ke pasar dan membawa pakaian ke binatu di pasar di bawah tanjakan Clongop. Besok yang bertugas adalah Dahyun, Momo, Taehyung dan Jeongguk.

“Besok Paud belum mulai,” kata Bapak dengan sarung duduk di salah satu kursi tamu mengamati mereka semua melakukan evaluasi dan persiapan keesokan hari. “Jadi kalian bisa jalan-jalan dulu. Santai saja. Jangan terlalu memikirkan proker.”

Selepas Maghrib, hujan deras mengguyur Gunung Kidul. Masih terus mengguyur hingga mereka memutuskan untuk tidur karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Jeongguk yang pertama menggelar kasur mereka, masuk ke dalam kantung tidur dan mulai menguap setelah merokok dengan Taehyung di depan, menikmati hujan.

Seolah memberikan sinyal, akhirnya perlahan semua anak pamit untuk memasuki kamar tidur. Para perempuan mulai mencuci wajah, menggunakan banyak rangkaian skin care yang beraroma harum lembut; bersiap-siap tidur.

“Selamat malam, Jeongguk.” Taehyung menguap, memeluk bantal gulingnya dan mulai membiarkan ketidaksadaran membelainya; dia lelah sekali setelah membawa motor dari Yogyakarta ke Gunung Kidul.

“Malam, Taehyung. Tidur nyenyak.”

“Kau juga.”


Ternyata mereka tidak perlu dibangunkan siapa-siapa.

Taehyung langsung bangun begitu saja pukul setengah tujuh pagi karena ibu pondokan sudah mulai bekerja di dapur sejak subuh. Membuka pintu depan dengan perlahan takut menganggu dia dan Jeongguk lalu mulai menjerang air minum, menanak beras dan pergi ke ladang—mengobrol dengan tetangga yang tinggal di bawah mereka.

Suara cicit burung terdengar semarak dan riuh, orang-orang sudah mulai berkegiatan dan Taehyung mengerang. Dia mengusap wajahnya, menguap lalu duduk—membiarkan kantung tidur jatuh dari kepalanya dan menoleh, mendapati Jeongguk masih terlelap.

Kantung tidurnya terbuka setengah, tangannya tergeletak beberapa senti dari Taehyung, keluar dari kantung tidurnya dan wajahnya nampak damai. Dia tidak mengenakan kaus saat tidur, membuat dadanya terpapar udara yang lumayan dingin. Penasaran bagaimana bisa Jeongguk yang semalam tidur dengan kantung tidur tertutup rapat bisa berakhir seperti ini. Taehyung menguap, meraih tangannya dan meletakkannya di dadanya lalu menaikkan resleting kantung tidurnya.

“Pagi, Kak Tae!”

Dia mendongak, menemukan Tzuyu dalam balutan piyama membawa handuk dan tas terisi alat mandinya, sudah menguncir rambutnya siap mandi. “Pagi, Tzu.” Dia tersenyum, menguap lalu meraih kacamatanya—mengenakannya sebelum bisa melihat wajah Tzuyu dengan jelas. “Siapa yang mandi?”

“Tidak ada.” Katanya, “Aku yang akan pakai. Kak Tae mau pakai dulu?”

Taehyung menggeleng. “Gampang. Aku bisa pipis di mana saja.” Dia melambai, mempersilakan Tzuyu untuk menggunakan kamar mandinya duluan.

Mendengar suaranya, Jeongguk mengerang. “Tae?”

Lucu bagaimana mendengar nama Taehyung menjadi hal pertama yang dikatakan Jeongguk saat membuka mata membuat Taehyung senang. Suara mengantuknya yang parau terdengar begitu mendebarkan di permukaan kulit Taehyung.

“Ya?” Dia menoleh, menyadari Jeongguk sudah membuka matanya; ada gurat di pipinya, garis kain karena menempel di kantung tidur. Dia menguap lebar, mendesah keras dan menggaruk rambutnya.

“Kau bicara dengan siapa?” Tanyanya, bangkit duduk—membiarkan kantung tidur jatuh teronggok di pangkuannya. Bagian atas tubuhnya yang telanjang seolah bersinar mengalahkan matahari sendiri. Dia menyugar rambutnya, mengumpulkannya lalu mengikat setengah dan membiarkan sisanya di atas tengkuknya.

Tato di dadanya benar-benar membuat Taehyung pening.

“Tzuyu. Dia akan mandi duluan.” Taehyung bangkit dari kantung tidurnya, lalu merapikannya. Dia menggulungnya, melipatnya rapi lalu meregangkan tubuhnya.

Jeongguk menguap, nampak linglung karena baru bangun dan meregangkan tubuhnya mengikuti Taehyung sebelum meraih kausnya. Dia mengenakannya, membersit dan bangkit, membereskan kantung tidurnya juga sebelum beranjak ke dapur untuk minum air putih.

“Kau akan mandi sebelum ke pasar?” Tanya Taehyung saat lewat di depan dapur, hendak ke kamar mandi.

“Tidak,” Jeongguk menuang segelas air lagi lalu meneguknya habis. “Nanti saja setelah pulang dari pasar.” Dia kemudian mengekor Taehyung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya di penampungan air di sisi kamar mandi yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.

Taehyung memasuki kamar mandi dengan bak raksasa dan toilet kecil yang terpisahkan dinding. Dia hanya mandi dengan kilat, ingin membuat setiap otot dan sarafnya bangun sebelum berkegiatan; airnya mengigit tulangnya dan dia bersin sekali saat hawa dingin membuatnya mendadak pilek. Saat dia keluar, sudah ada Momo di sana di depan pintu, tampak menahan buang air kecil dengan gelisah.

“Aku harus buang air kecil, minggir!” Keluhnya dan Taehyung terkekeh, dia menyampirkan handuk di bahunya dan bergegas minggir belum sempat mengenakan kausnya dan masih berdiri bertelanjang dada—merasakan suhu daerah daratan tinggi mengigit kulitnya yang terpapar udara.

“Baiklah, tidak perlu menyalak.” Kata Taehyung saat pintu kamar mandi dibanting menutup. Dia berdiri di dekat PAH (Penampungan Air Hujan) dan mengibaskan kausnya, akan mengenakannya saat suara menyelanya.

“Oh, wow. Apakah aku boleh izin melakukan cat-calling? Hormonku yang salah, bukan kau. Tenang saja. Jebloskan saja aku ke penjara.”

Taehyung mendesah geli, menoleh ke arah suara dan menemukan Jeongguk sedang mengulurkan setangkai rumput gajah ke arah kambing Bapak yang mengembik protes karena Jeongguk berhenti memberinya makan.

“Apa yang kaulakukan di sana?” Tanyanya, mengusap rambutnya dengan handuk dan membersihkan telinganya dari sisa air. “Kau tidak mandi?” Tanyanya, mengamati kaus dan celana training lusuh Jeongguk—dia nampak nyaman, seperti boneka kesayangan yang hangat.

“Tidak, nanti aku ganteng.” Katanya, melempar dua tangkai rumput lagi ke dalam tempat makan para kambing sebelum menghampiri Taehyung yang sekarang mengenakan kausnya dan mendesah, senang karena sudah mandi.

“Airnya dingin tidak?” Tanyanya.

“Tentu saja dingin.” Taehyung melangkah masuk dan Jeongguk mengekor. “Itu air tadah hujan, ditampung di PAH itu.” Taehyung mengerling penampungan air hujan besar di sisi kamar mandi, terbuat dari beton berbentuk bulat tinggi.

Karena kesulitan air di Gunung Kidul, para warga memiliki PAH (Penampungan Air Hujan) besar untuk setiap beberapa rumah yang nantinya dialirkan dengan pipa-pipa PDAM sebagai pengganti PDAM yang kesulitan menjangkau Gunung Kidul karena medan yang ekstrim. Taehyung bersyukur mereka masih memiliki kamar mandi yang layak dan air yang berlimpah, tidak ingin membayangkan apa yang mungkin dihadapi kelompok-kelompok lain karena di setiap KKN, kamar mandi merupakan sebuah kemewahan.

“Dinding beton membuat airnya semakin dingin,” Taehyung menggerakkan lehernya, merilekskan lehernya dan saat dia tiba di ruang tengah, Dahyun sedang menyalakan motornya. Siap berangkat ke pasar.

Yugyeom masih duduk di kursi tamu dengan segelas Energen vanila panas di tangannya, tatapannya menerawang terkantuk-kantuk. Taehyung terkekeh, mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya sayang saat lewat menuju jemuran.

“Bangun,” godanya dan Yugyeom tersenyum lebar. “Tidurmu nyenyak?”

“Sangat nyenyak,” Yugyeom menguap, menyesap sarapannya dengan senang. “Kau sudah mandi jam segini?” Tanyanya, seolah Taehyung baru saja mengumumkan dia akan meledakkan negara dengan bom nuklir.

“Enak.” Taehyung mengangguk, “Segar. Cobalah.” Dia lalu kembali masuk lewat pintu samping rumah joglo pondokan mereka dan meraih jaketnya yang tergantung di sisi pintu. “Ayo, Gguk.” Serunya ke dalam rumah, berpikir Jeongguk masih berada di dalam.

“Aku di luar!” Seru Jeongguk dan Taehyung bergegas keluar dan mendapati pemuda itu sedang memanaskan motor dengan sebatang rokok di bibirnya. “Tolong jaketku.”

Taehyung kembali masuk, meraih jaket Jeongguk dan menyerahkan benda itu ke Jeongguk yang mengenakannya saat Momo tiba dengan jaket dan mereka siap berangkat ke pasar.

“Sudah bawa uangnya?” Tanya Taehyung dan Momo mengangguk, menepuk dompet kecil di tangannya yang terisi uang makan serta uang proker mereka. “Baiklah.” Dia menatap Jeongguk yang masih merokok dengan kalem. “Aku atau kau?”

“Aku saja.” Dia mematikan rokoknya lalu menyelipkan puntung rokok itu ke sakunya lalu menaiki motornya. Mengenakan helmnya, dia lalu menaikkan dongkrak motornya lalu menyalakan mesinnya.

Taehyung mengaitkan helmnya, membiarkan Dahyun menaiki tanjakan menuju jalan besar terlebih dahulu. Karena jalan akses menuju pondokan mereka dari jalan besar begitu ekstrim, dengan jurang lumayan tinggi di sisinya; mereka yang dibonceng biasanya akan berjalan kaki naik ke atas dan menunggu di sisi jalan besar untuk mengurangi risiko mereka terpeleset dan terguling.

Mereka menyusuri jalanan kemarin, menuruni tanjakan Clongop sebelum tiba ke pasar terdekat beberapa kilometer dari Puskesmas. Pasar tumpah yang ramai oleh warga yang berbelanja; suasananya riuh-rendah oleh obrolan, aroma khas pasar dan hawa dingin yang belum mau lenyap. Mereka parkir di sisi jalan dan Momo serta Dahyun langsung bergegas berbelanja.

Taehyung mengekor mereka, jika ada yang harus dibantu sementara Jeongguk menunggu di tempat parkir—sudah menghampiri penjual kue pukis yang sedang memanggang makanan dengan aroma semerbak.

Penjual yang pertama mereka datangi, tentu saja penjual sayuran yang langsung menyadari bahwa mereka anak-anak KKN. “Kita perlu beli sayuran,” Momo mulai memilih sayuran di hadapan mereka.

Ada banyak sayuran di meja di hadapan mereka, semua nampak segar dan hijau cerah. Sekarung kentang di kaki Taehyung, wortel-wortel jingga yang gendut, mentimun, brokoli dan kembang kol; untuk ukuran pasar yang tidak terlalu besar, tempat ini sangat lengkap. Penjual itu bahkan punya seplastik sayuran campur lengkap dengan bumbu sop yang tinggal masak.

“Sayuran tahan lama,” Taehyung mengangguk sementara para gadis mulai memisahkan sayuran yang akan mereka beli; beberapa ikat kangkung, sawi hijau, kacang panjang dan sawi putih. “Jangan terlalu banyak, mungkin untuk 2-3 hari saja agar tidak busuk dan mubazir.” Dia meraih dua bungkus bakso mentah dan menambahkannya ke keranjang belanja yang diserahkan penjual.

Mereka setidaknya butuh daging, 'kan?

Mereka setuju. Kemudian berpindah ke toko kelontong membeli beras dan juga sebungkus besar kerupuk rambak yang menjadi cemilan kesukaan anak-anak. Mereka membeli sebungkus tahu putih yang segar, tempe daun yang per bijinya hanya seharga 250 rupiah, cabai, bawang putih-merah, garam, minyak, dan serenceng penyedap rasa.

“Berapa, Bu?” Tanya Taehyung kaget dengan dua tempe di tangannya dan penjual tempe yang sudah separuh baya itu tertawa geli, menepuk tangannya.

“Dua ratus lima puluh rupiah per biji, Le.” Katanya dengan senyuman di bibirnya. “Anak KKN, ya?” Tambahnya saat membungkus tempe mereka dalam kantung plastik.

“Iya, Bu.” Taehyung tersenyum, “Kami di Watugajah.” Tambahnya sebelum berterima kasih lalu berpamitan dari sana.

Jeongguk bersandar di jembatan, mengunyah pukis dan merokok saat melihat Taehyung datang dengan tangan penuh belanjaan, diikuti Momo dan Dahyun yang sedang mengingat-ingat apa lagi yang harus mereka beli. Dia bergegas menyelipkan rokok di bibirnya dan membantu Momo serta Dahyun dengan belanjaannya, mereka mengaitkan beberapa plastik di bagasi depan motor Dahyun.

“Aa?” Taehyung melirik pukis di tangan Jeongguk dan pemuda itu terkekeh, dia meraih sepotong yang hangat lalu menjejalkannya ke mulut Taehyung. “Oh, enak!” Katanya, meletakkan kantung plastik terisi beras di kakinya dan mengunyah pukisnya. “Beli lagi, Gguk! Cepat!” Tambahnya dan Jeongguk menurut, seperti seekor anak anjing.

“Menurutmu kita beli daging tidak?” Tanya Momo kemudian setelah Jeongguk berlari ke penjual kue pukis yang tadi dibelinya.

Taehyung mengunyah sisa pukis Jeongguk. “Menurutku tidak usah dulu.” Katanya, “Kita hemat uang makan. Jika misalnya beberapa hari sebelum penarikan kita ada sisa, baru kita beli yang mahal-mahal. Atau setidaknya sekali dalam seminggu, bagaimana?”

Dahyun mengangguk, “Benar. Kita harus menghemat uangnya untuk tiga puluh hari.”

“Belum lagi evaluasi pertemuan dengan DPL yang bergilir dari satu pondokan ke pondokan lain, kita butuh uang untuk membeli cemilan dan lain-lain.” Tambah Taehyung persis saat Jeongguk kembali dengan seplastik pukis baru yang beraroma tajam mentega dan harum pandan.

Dia membuka plastiknya, menawarkannya ke teman-temannya yang langsung meraih masing-masing sebuah. Mereka akhirnya menyudahi belanja pagi itu dan kembali ke pondokan. Taehyung diboncengn Jeongguk membawa beberapa plastik belanjaan, terlalu sibuk mengamati belanjaan dan menanggapi Jeongguk yang nampaknya sedang dalam suasana hati yang baik hingga lupa bahwa ada anak perempuan di belakang mereka.

“Mana Dahyun?” Tanya Yugyeom saat mereka kembali dan Taehyung langsung membawa belanjaannya ke dapur, mulai membereskannya dibantu Jeongguk dan Yoongi serta Tzuyu.

“Tadi di belakang kami,” kata Jeongguk, kalem mulai menyalakan sebatang rokok. “Mungkin sebentar lagi tiba.”

Sayur-mayur dimasukkan ke kulkas Ibu di belakang, ditata rapi oleh Tzuyu. Dia meninggalkan sebuah sawi putih dan sekantung tahu di meja makan untuk dimasak hari ini sebagai lauk makan siang mereka. Beras disimpan di dekat penanak nasi dengan seliter minyak dan bumbu masak.

“Pagi ini karena belum ada kegiatan kita sebaiknya membicarakan tentang proker,” Yoongi menyarankan saat Jeongguk membawa handuknya ke kamar mandi. Dia meraih kalender KKN yang diberikan universitas. “Menuliskan tanggalnya di sini agar kita punya tenggat waktu yang jelas, tidak keteteran.”

Yugyeom menangguk, dia menghampiri Yoongi yang duduk di lantai dan mengamati kalender bersama Taehyung yang masih mengunyah pukis yang dibelikan Jeongguk tadi. Mereka bersila di ruang tengah, di atas tikar anyaman milik Ibu yang digelar untuk mereka di atas lantai tanah.

Baru saja akan mulai membicarakan proker dengan Tzuyu yang datang dari dapur karena cemas kenapa teman-temannya belum kembali saat motor Dahyun terdengar datang lalu disusul suara Momo yang berteriak sekuat tenaga:

“Jeongguk! Taehyung!”

Semuanya mendongak, kaget sebelum bergegas bangkit dan menghambur ke luar dengan panik hanya untuk menemukan Momo yang sedang membantu Dahyun turun dari motornya. Dahyun meringis, dahinya ternoda lumpur, begitu pula separuh tubuh bagian kanannya.

“Lho, kenapa, Mbak?!” Tanya Yugyeom panik dan kebingungan, menghampiri mereka dengan kaget. “Jatuh di mana??”

“Kami jatuh!” Momo mengeluh, mendudukkan Dahyun di kursi depan—lututnya lecet, bekas lukanya lumayan besar hingga tulangnya mengintip dari balik kotoran dan darah yang merembes dari kakinya. “Dan kami pikir Jeongguk akan menyadari kami hilang dan berbalik mengecek kami, tapi ternyata tidak.”

“Maaf!” Jeongguk nampak sangat bersalah, membantu Momo mendudukkan Dahyun di kursi dan meluruskan kakinya dengan perlahan. Tzuyu bergegas berlari ke dapur, mengambil air. “Aku sungguh tidak tahu, maaf!”

“Aku benar-benar tidak menyadarinya.” Taehyung berlutut di kaki Dahyun, menerima sebaskom air dari Tzuyu dan langsung membantu Dahyun mencuci kakinya yang terluka. “Maafkan aku, maaf.”

Ada bekas luka di siku, lutut dan tulang kering Dahyun. Mereka terpeleset tanah yang menggumpal di sisi jalan karena hujan deras semalam, terpelanting di aspal dengan Dahyun tertindih motornya sendiri. Dia mendarat di aspal di atas tubuh bagian kanannya yang sekarang nyeri dan penuh dengan lumpur.

“Lho, kenapa?” Tanya Ibu yang baru pulang dari sawah, membawa sabit dan daun pepaya. “Ini jatuh di mana?” Tanyanya, bergegas menghampiri anak-anak yang membantu Dahyun membersihkan luka di lututnya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Kata Dahyun meringis saat Taehyung mencuci lukanya dengan lembut. “Tolong SMS pacarku minta untuk bawakan obat.”

“Aku bawa obat.” Tzuyu mengangguk lalu bergegas menghambur ke dalam pondokan, keluar membawa kantung kecil terisi Rivanol, kain kasa dan obat merah. Dia menyerahkannya pada Taehyung yang dengan cekatan membersihkan luka Dahyun.

“Maafkan aku, ya?” Kata Taehyung, membasahi kasa dengan Rivanol.

“Tidak, tidak. Tidak apa-apa.” Kata Dahyun, meringis saat Jeongguk membantunya meluruskan kaki—menyebabkan lukanya yang sensitif tertarik oleh gerakan itu.

Tzuyu menuang air ke atas lukanya, berusaha membersihkannya tanpa menyentuhnya. Jeongguk menggunakan kasa untuk mencoba menyingkirkan gumpalan-gumpalan lumpur yang paling menganggu; segaris kotoran nampak di dekat pusat lukanya dan Taehyung membawa kasa terisi obatnya mendekat.

Taehyung merunduk ke lututnya, meniup permukaan luka Dahyun seraya membersihkannya dengan kasa yang basah oleh obat. Berharap tiupan itu bisa mengurangi sakitnya.

Dahyun mendesis saat permukaan kasa menempel di lukanya. Taehyung dengan perlahan berusaha membersihkan sisa lumpur di dalam lukanya, menggunakan segulung kasa sebelum yakin luka itu sudah bersih dan membubuhkan obat merah di atasnya.

“Mungkin kau harus turun ke Klaten saja.” Taehyung berdiri, menyadari mereka mungkin membutuhkan bantuan ahli untuk menangani luka Dahyun. “Aku antar. Ada K24 di bawah, kita akan minta lukamu dibersihkan di sana saja.”

“Puskesmas di bawah buka,” Ibu menjawab. “Bawa ke sana saja, lebih dekat kok.”

Taehyung mengangguk lalu menyambar jaket dan helm, meraih kunci motor Dahyun dan menaikinya. Yugyeom membantu Dahyun bangun, membimbingnya ke motor dan membantunya memanjat naik. Biasanya mereka akan meminta perempuan naik dulu berjalan kaki karena menaiki tanjakan pondokan sangat ekstrim, namun Taehyung tidak bisa membiarkan Dahyun berjalan naik dengan kaki terluka.

“Aku turun dulu, ya.” Taehyung menangguk ke teman-temannya. “Pegangan, sungguh. Kau bisa terguling.” Katanya pada Dahyun yang akhirnya mendesah berat dan menyerah, memeluk pinggangnya. “Tidak akan ada yang marah, tenang saja.” Tambahnya bergurau.

Dahyun tertawa saat Taehyung mengendarai motor dengan perlahan menaiki tanjakan pondokan menuju jalan besar, “Nanti akan kubelikan Jeongguk makanan, sesajen agar dia tidak marah.” Guraunya lalu mendesis saat tidak sengaja menggerakkan kakinya yang terluka.

Taehyung mengerjap saat motor tiba di puncak dan mereka meluncur di jalan besar. Apakah Jeongguk marah hanya karena Dahyun memeluk pinggangnya dalam kondisi darurat seperti ini?

“Tidak perlu,” Taehyung tertawa kering, merasakan perih aneh di hatinya saat dia memaksa dirinya sendiri mengatakan ini. “Dia tidak akan cemburu. Memangnya aku siapa?”

Dahyun memutar bola matanya dan memukul bahu Taehyung gusar; dari semua perempuan yang menjadi anggota kelompok mereka, Taehyung selalu lebih nyaman dengan Dahyun karena dia sangat... boyish. Dia santai, tidak neko-neko, dan praktis. Juga tangkas dan cekatan, nyaris seperti sedang bicara dengan teman lelakinya.

“Kau buta, ya?” Katanya kemudian, mendesis saat angin membuat lukanya ngilu. Dia mengaduh dulu selama beberapa saat hingga Taehyung menurunkan kecepatan motornya sebelum menambahkan, “Kau tidak lihat caranya menatapmu?? Cara kalian berdua saling menatap? Tidakkah kau menyadari sesuatu? Sungguh? Sama sekali??”

Dan itulah yang dipikirkan Taehyung saat dia berdiri di sisi Dahyun, menemaninya saat perawat Puskesmas membersihkan lukanya dengan alkohol lalu membebatnya dengan lebih layak.

Kau tidak lihat caranya menatapmu?

Kau buta, ya?

“Jika selesai KKN kalian tidak jadian, baru aku akan sangat kaget.” Tambah Dahyun lagi saat mereka berhenti di Puskesmas. “Sangat kaget hingga kurasa aku bisa saja menonjok kalian karena berani-beraninya tidak jadian.”

Taehyung menatap langit di atas kepalanya, sejenak merasa seperti beban tak kasat mata diangkat sedikit dari bahunya—bisakah dia berharap?

Mungkin... sedikit saja?


PS.

Dear beloved eclairs, This is your Chef speaking, we're about to enter the anxiety and insecurity zone ahead with a little to a lot turbulence. Please fasten your seat-belt and make yourself comfortable.

Thank you! ire, x


“Kita lakukan lima kali.”

Jeongguk mendesah, mulai merasa ini sangat kekanak-kanakan dan malas meladeni Taehyung dan keras kepalanya. “Sungguh?” Katanya dan Taehyung mengangguk.

Mereka berdiri di lapangan Realino Kampus 2 Universitas Sanata Dharma, dengan sekitar delapan bus yang sedang dipanaskan di sekitar mereka; siap mengangkut semua mahasiswa ke lokasi KKN masing-masing setelah upacara pelepasan yang dipimpin oleh rektor universitas dengan melepaskan beberapa ekor burung dara yang mengepak meninggalkan mereka, terbang ke langit.

“Bayangkan,” bisik Taehyung yang berdiri di depan Jeongguk, memundurkan punggungnya hingga mendekat ke Jeongguk saat mereka berbaris di depan panggung menyaksikan upacara pelepasan. “Burung dara itu terbiasa hidup dimanjakan. Diberi makan, dimandikan, dan di sayang sekarang harus mencari makan sendirian. Kasihan.”

Jeongguk mendongak, menatap burung dara yang sekarang turun terbang rendah hinggap di salah satu pohon perindang raksasa kampus mereka. “Bodoh,” dia melipat kakinya dan menyodok pantat Taehyung dengan lututnya hingga pemuda itu nyaris terjerembab menindih Yoongi di depannya.

“Dia pasti terbang kembali ke pemiliknya tahu.” Sahutnya lalu mengaduh keras tertahan hingga beberapa anak menoleh kaget saat Taehyung membalas tendangannya dengan menendang tulang kering Jeongguk. Kakinya terbalut Converse Chuck Taylor dengan sol yang terasa mengiris tulang kering Jeongguk yang masih berdenyut hingga sekarang.

“Mereka itu talent,” Yugyeom menjawab dari balik punggung Jeongguk. “Dipinjam untuk meramaikan hari ini. Lalu sekarang mereka terbang kembali ke pemiliknya. Kita semua ditipu.”

Jeongguk mengangguk serius. “Benar, 'kan, kataku.” Dia mengusap tulang keringnya yang berdenyut.

“Diam.” Desis Yoongi dan mereka bertiga langsung diam.

Lalu sekarang keduanya sedang sibuk memutuskan siapa yang akan mengendarai motor Jeongguk ke pondokan mereka. Yoongi, Yugyeom dan Dahyun berdiri di sekitar mereka, menunggu dengan tampang tidak habis pikir sementara Momo dan Tzuyu sudah masuk ke dalam bus, duduk manis mengawasi koper milik Dahyun dan sisa bawaan Yoongi dan memeluk helm mereka masing-masing.

“Kalian sungguh harus melakukannya, ya?” Tanya Yoongi, bersedekap.

Jeongguk mengedikkan bahunya, “Kau saja yang bawa, sudahlah.” Kata Jeongguk mengalah, memberikan kunci motornya ke Taehyung yang tersenyum lebar. “Kau memang setan kecil menyebalkan.”

Taehyung menjentikkan jarinya. “Aku tidak kecil.” Katanya lalu mengedip hingga Jeongguk tertawa, “Setidaknya di tempat yang khusus aku tidak kecil.”

Mereka kemudian bergegas menuju motor mereka. Motor Yugyeom sudah ditinggal di pondokan kemarin saat mereka menurunkan barang-barang untuk menghindari terlalu banyak motor yang berkonvoi di jalan. Dengan Momo dan Tzuyu di bus, jika mereka tetap membawa motor akan ada tiga motor kosong yang berkonvoi di jalan—Taehyung tidak suka konsep itu maka dia menyarankan Yugyeom meninggalkan motornya di pondokan terlebih dahulu. Dia dibonceng Dahyun hari ini, dengan motor Dahyun. Sehingga total motor yang berangkat di kelompok mereka ada tiga motor.

“Kalian mau sarapan?” Tanya Dahyun setelah bus-bus mulai berangkat meninggalkan selapis asap hitam tebal beraroma pekat solar dan mereka semua bersiap untuk menyusul busnya, bertemu di kelurahan lokasi KKN masing-masing untuk upacara penerimaan mahasiswa. “Aku punya rekomendasi soto lezat. Tempenya luar biasa.”

“Kita sebenarnya makan soto bukan untuk sotonya,” Yoongi terkekeh saat mengenakan helmnya. “Kalian sadar tidak kemarin di Soto Bathok kita semua makan tempe saja tiga puluh lima ribu??”

“Kasirnya kaget saat aku menyebutkannya.” Dahyun tertawa saat naik ke motor dengan Yugyeom.

“Jeongguk.” Taehyung menaiki motor Jeongguk, menyalakan mesinnya sementara Jeongguk naik ke kursi penumpang. “Dia yang makan paling banyak.” Taehyung meraih kick starter dan mengengkolnya hingga mesin menyala.

“Kita makan siang apa hari ini?” Tanya Jeongguk saat akhirnya mereka berangkat, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Taehyung walaupun Taehyung sudah bilang dia tidak suka itu, seperti tukang ojek. “Aku lapar.”

“Kita akan sarapan nanti di Kalasan.” Taehyung memutar bola matanya, geli mendengar keluhan lapar Jeongguk nyaris setiap saat. “Kau tidak bawa roti?”

“Tidak. Tidak suka roti, manis. Dan makanan manis membuatku semakin lapar.” Jeongguk mendesah, terdengar sangat sedih karena tidak bisa makan. “Nanti aku akan makan yang banyak.”

“Ya. Kau tenggak saja kuah sotonya langsung dari kendinya.” Sahut Taehyung, geli pada nafsu makan Jeongguk yang jika semakin diberi makan alih-alih kenyang dia malah semakin lapar. “Aku tidak akan melarangmu. Malah akan kuabadikan untuk kenangan pribadi.”

Mereka berkendara dengan santai, tidak terburu-buru dan malah membiarkan bus-bus Sanata Dharma mendahului mereka begitu saja karena mereka tahu dengan kekuatan jalan pintas, mereka akan tiba lebih dulu. Dahyun kemudian memberi tanda semuanya untuk berhenti di Soto & Ayam Goreng Mekar Jaya di wilayah Cupuwatu, Kalasan.

“Soto campur atau pisah?” Tanya Dahyun begitu Taehyung memarkir motornya di halaman parkir dan Jeongguk langsung melompat turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti.

“Campur.” Kata Jeongguk, “Dengan ekstra nasi.” Tambahnya, melepaskan helm dan mendesah. “Aku kelaparan.” Keluhnya saat bergegas masuk menghampiri Yoongi dan Yugyeom yang sudah duduk di meja makan mengunyah kerupuk rambak.

“Taehyung?” Tanya Dahyun.

“Campur.” Taehyung mengangguk, menarik kunci dari lubang starter lalu turun. “Mereka punya tempe?” Tanyanya tertarik, mengekor Dahyun yang memesan makanan. “Aku mau.”

Dahyun menambahkan pesanan itu. “Haruskah kita membelikan Momo dan Tzuyu?” Tanyanya kemudian, menoleh menatap Taehyung yang berdiri di sebelahnya, menghirup aroma lezat gurih kaldu soto dari kendi-kendi di depan mereka.

Taehyung lapar. Sangat lapar dan membayangkan semangkuk soto membuatnya semakin kelaparan. Dia butuh makan, Jeongguk benar. Dia bisa mati jika tidak makan.

“Pesankan saja. Dipisah, mereka belum makan. Jadi kita nanti hanya akan makan malam.” Taehyung mengangguk, menelan ludah karena tergoda aroma harumnya bawang goreng dan seledri yang dicincang. “Pesankan bungkus empat. Aku dan Jeongguk satu untuk makan siang.”

Dahyun mendengus geli, “Kalian makan seperti monster.” Komentarnya. “Kita harus menanak ekstra beras untuk kalian.”

“Masa pertumbuhan.” Taehyung nyengir sebelum beranjak ke meja mereka, menemukan Jeongguk berdiri beberapa meter dari mereka—mengamati ponsel dengan sebatang rokok di tangannya.

Taehyung langsung menyusulnya, merogoh waist bag-nya sendiri mengeluarkan sekotak Marlboro Ice Burst dan meraih sebatang. Jeongguk menyadari kedatangannya, mendongak dari ponselnya dan menyerahkan rokoknya ke Taehyung.

Taehyung batal meraih pematiknya, meraih rokok Jeongguk dan menyalakan rokoknya dengan bara api rokok Jeongguk. “Pacarmu, ya?” Tanyanya kalem; berusaha melakukannya dengan sehalus mungkin.

Alis Jeongguk naik sebelah, menerima rokoknya kembali. “Oh. Kau mengirimiku pesan?” Balasanya.

Taehyung berhenti, rokok menggantung di sudut bibirnya—menunggu untuk dinikmati sementara dia mengerjap. “Hah?”

“Oh, tidak, ya?”

Alis Taehyung mengerut, “Tentu saja tidak. Kita sedang bersebelahan.”

“Ya sudah,” Jeongguk mengedikkan bahunya kalem. “Berarti pacarku tidak mengirim pesan.”

Taehyung mengerjap lalu sedetik kemudian pemahaman melintas di kepalanya dan dia terkekeh, mulai menghisap rokoknya. “Kau pintar bersilat lidah.” Komentarnya sopan, menjentikkan abu rokoknya ke tanah.

“Aku juga pinta bersilat lidah secara harfiah.”

Taehyung meliriknya, mendapati Jeongguk sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Dia menyerigai. “Sulit memutuskan jika belum merasakannya sendiri.”

Jeongguk tertawa, asap rokok menyembur dari mulutnya; menciptakan kabut tipis di wajahnya sebelum angin menghapusnya dan mata mereka bertemu. “Percayalah,” katanya, menghisap rokoknya dalam-dalam. “I'd be more than delighted to show you.”

“Hei, Penghuni Neraka!” Seru Dahyun dari belakang mereka. “Ayo, makan!”

Keduanya mengerjap, menoleh bersamaan dan menemukan Dahyun berkacak pinggang di depan meja mereka dengan makanan tersaji di hadapannya. Mangkuk-mangkuk soto yang harum dengan asap tipis menguar di atasnya, piring nasi dan tempe goreng kecokelatan yang nampak sangat lezat. Keduanya bergegas menghisap sisa rokok mereka lalu menginjak puntungnya sebelum membuangnya ke tempat sampah.

Mereka makan dengan tenang, Jeongguk sibuk memindahkan isi piring ke mulutnya seperti bayi yang baru pertama kali makan MPASI. Mendesah panjang saat suapan pertama karena betapa lezatnya makanan itu terasa setelah sejak tadi menahan lapar. Mereka sedang bersantai, mengunyah kerupuk setelah menghabiskan makanan seraya menunggu soto untuk Momo dan Tzuyu dibungkus saat keduanya mengirimkan pesan di grup.

Kalian di mana?? Kami sudah dekat Balai Desa! Cepat nanti terlambat!

Modar!” Seru Yugyeom yang langsung mengawali kepanikan mereka. Semuanya bergegas menandaskan makanan yang tersisa. Jeongguk masih sempat menyambar dua potong tempe yang tersisa di piring, menjejalkan satu ke mulut Taehyung yang tersedak kaget.

“Sayang jika tidak dimakan!” Katanya, “Sudah dibayar!”

“Kau bajingan!” Taehyung mengayunkan kakinya, menendang pantat Jeongguk yang mengaduh geli namun tak ayal menerima tempenya. Mengunyahnya dengan ringkas sementara Yugyeom tertawa histeris yang muncul karena ledakan adrenalin mendadak.

“Sarapan, Bos!” Seru anak KKN lain yang lewat di depan mereka—mengenakan seragam dan almamater Sanata Dharma yang sama. “Awas terlambat!”

“Yoi, Bos!” Balas Jeongguk dan mereka tertawa, mengklakson mereka sebelum lenyap tertelan lalu lintas.

Jeongguk menandaskan suapan terakhirnya, bergegas menyambar tasnya dan melenting ke motornya. Dahyun bergegas menghampiri kasir, membayar makanan mereka dan merongrong pelayan untuk bergegas memberikan soto sisanya sebelum semuanya dengan tawa histeris langsung meluncur ke jalan raya, mengejar ketertinggalan mereka.

“Kau kelamaan makan!” Taehyung tertawa, mengoper gigi dan menyelip di lalu lintas Kalasan yang ramai lancar.

“Kau juga sibuk makan tempe garit!” Balas Jeongguk memukul helmnya hingga Taehyung tertawa keras.

Syukurnya, mereka tiba di Balai Desa persis saat DPL mereka datang. Mereka memarkir motor, berlari ke arah kursi-kursi dengan Momo dan Tzuyu yang nampak jengkel namun juga geli.

“Diam.” Jeongguk mendudukkan dirinya di kursi sebelah Momo yang sudah membuka mulutnya untuk mengomel. “Kami membelikan kalian soto.”

“Kalian sarapan??” Desis Tzuyu, terkhianati. Menatap mereka dengan wajah terluka yang sangat dramatis hingga Jeongguk menjulurkan tangan dan menarik ikat rambutnya lepas untuk membuatnya jengkel. “Sungguh??”

“Kami sudah membelikan kalian, oke?” Dahyun tertawa geli, masih terserang histeria karena mereka melaju seperti kesetanan karena terlalu lama bersantai di warung soto, terlalu menikmati waktu.

Taehyung di sebelah Jeongguk melambaikan kantung plastik hangat terisi soto. “Aman. Nanti tinggal dihangatkan. Ada tempe juga.”

Momo menatap mereka, matanya terpicing—masih merasa tidak terima namun akhirnya diam saat Kepala Desa datang dan memulai acara yang membuat Jeongguk mengantuk di kursinya. Dia bertukar tempat dengan Taehyung, berharap bisa menahan kantuknya namun angin semilir dan suasana panas serta perut yang kenyang membuatnya semakin mengantuk.

“Ah, aku ngantuk.” Keluhnya, membelai perut buncitnya dengan sayang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kayu yang digunakannya.

“Berhenti merengek seperti bayi.” Sahut Taehyung, menepuk perutnya keras hingga Jeongguk mengaduh.

“Mereka akan melakukan upacara penangkapan burung dara tidak sebagai simbolis menerima kita?” Tanya Yugyeom serius dan Yoongi sudah nyaris melepas sepatunya, menggunakan solnya untuk menampar Yugyeom.

Jeongguk menjentikkan jarinya, memasang ekspresi kaget jenaka saat menatap Yugyeom yang langsung berkata, 'benar, 'kan???' “Kenapa tidak terpikirkan, ya?? Keren!” Dia mengulurkan tangan, bertukar high five dengan Yugyeom.

Acara penerimaan hanyalah penyerahan map kosong dan jabat tangan antara Kepala Desa dan Dosen Pembimbing Lapangan mereka. Lalu mereka diberikan arahan untuk bersikap baik dan sebagainya sebelum dipersilakan berangkat ke pondokan masing-masing.

Lalu ketujuhnya diam saat menyadari sesuatu saat menatap tiga motor yang terparkir di hadapan mereka.

”.... Lalu aku dengan siapa!?” Tanya Tzuyu, mengerang keras saat menyadari semua orang menaiki motornya dan dia tidak memiliki teman; dia nampak jengkel namun juga geli—sepertinya tidak pernah ada yang benar-benar tersinggung di kelompok mereka tentang apa pun. “Motornya cuma tiga!”

“Aku lupa kelompok kita ganjil!” Yugyeom mulai tertawa dan semuanya ikut tertawa karena mereka benar-benar melupakan ini. Dahyun menepuk Tzuyu sayang dan meminta maaf. “Kau tunggu di sini sebentar, ya? Aku akan mengantar Mbak Momo ke pondokan lalu menjemputmu turun.” Katanya.

“Tidak, tidak.” Jeongguk langsung turun dari motornya, menggeleng—tidak suka konsep meninggalkan perempuan sendirian di Balai Desa yang mulai sepi. “Kau naiklah dengan Taehyung. Aku akan menunggu di sini. Tidak apa-apa, 'kan, sesekali naik KLX?”

Tzuyu menatapnya sejenak lalu mengangguk, “Maaf, ya, Kak.” Katanya, mengenakan helmnya yang tadi dibawanya di bus. Dia kemudian memanjat naik ke motor Jeongguk, memegang bahu Taehyung.

“Tidak apa-apa, santai saja.” Jeongguk melambai santai. “Nanti jemput aku, ya?” Katanya pada Taehyung yang mengangguk. Dia menyalakan sebatang rokok, melambai saat teman-temannya beranjak berlalu dari Balai Desa menuju pondokan mereka.

Dan dia masih merokok saat Taehyung kembali untuk menjemputnya, bermain game di ponselnya berjongkok di depan toilet kantor Balai Desa. Taehyung tertawa dan berhenti di depannya.

“Ayo,” ajaknya, tersenyum lebar.

Jeongguk mendongak, rokok menggantung di bibirnya dan dia mendesah. “Aku harus makan.” Katanya, mematikan rokoknya lalu membuang puntungnya ke tong sampah toilet di belakangnya. “Aku kelaparan. Aku akan mati sebentar lagi.”

“Berhenti bersikap dramatis,” Taehyung menurunkan standar motornya dan mempersilakan Jeongguk mengendarainya karena dia lelah. Jeongguk menaiki motornya, mengengkolnya hingga menyala sebelum mengenakan helmnya.

“Tzuyu sedang menghangatkan sotomu saat aku berangkat, kau bisa langsung makan.” Taehyung naik ke jok belakang.

“Anak manis dia itu,” Jeongguk berkata kemudian; entah kenapa ingin menjelaskan tindakannya tadi kepada Taehyung. “Terlalu terkenal dan terlalu cantik hingga dia kerepotan sendiri. Dia banyak membantuku semester kemarin mengejar ketertinggalanku di kelas dan nampaknya sangat senang memiliki teman yang berteman dengannya bukan karena tampang atau status sosialnya, jadi aku sangat menghargai bantuannya.”

Jeongguk mendengar senyuman Taehyung saat dia melaju membelah jalanan menuju pondokan mereka, menuju tanjakan Clongop yang legendaris. “Dan kenapa kau menjelaskannya padaku?” Tanyanya.

Jeongguk berdeham, “Entahlah?” Katanya, hatinya berdebar. “Aku tidak ingin kau salah paham tentang kebaikanku padanya atau apa.”

“Bung,” Taehyung tertawa ceria, menepuk bahu Jeongguk akrab dan hangat. “Butuh lebih banyak dari sekadar mengalah dari perempuan karena motor kurang untuk membuatku cemburu, Jeongguk. Kupikir kau sudah tahu itu.”

Jeongguk menyerigai. “Semakin hari,” katanya mengoper gigi, bersiap untuk menundukkan tanjakan tidak berakhir Clongop. “Kau semakin membuatku terpesona karena tingkat toleransi dan kesantaianmu menghadapi banyak hal.”

“Aku pernah dekat dengan seorang top dom dan aku sungguh tidak mau mendapatkan hal merepotkan seperti itu lagi dalam hidupku. Santai saja denganku. Dan aku juga suka Tzuyu, anak manis dan sopan.”

Jeongguk menyerigai saat dia menatap jalan di hadapannya. “Kau mau membahas preferensi seks di sini, sekarang?” Godanya saat mereka menanjak di tanjakan terakhir dan yang tertinggi.

“Aku hanya bilang.”

“Baiklah. Aku hanya bertanya, kok. Tidak perlu defensif.” Jeongguk kemudian mengoper giginya lagi begitu tanjakan selesai. “Jadi, kau top atau bottom?”

“Sungguh, Jeongguk??”

“Hei! Aku hanya tanya!”

“Tidak benar-benar peduli,” sahut Taehyung kemudian terkekeh, mengendikkan bahu saat mereka meluncur di jalanan menuju pondokan mereka yang asri. Hawa sejuk meniup wajah Taehyung dan membuatnya mendesah senang. “Atas bawah sama saja, yang penting nikmat.”

Jeongguk tertawa, keras sekali hingga Taehyung akhirnya menimpali tawanya. Motor meluncur, melewati lembah dan bukit sebelum Jeongguk berbelok ke kiri di pertigaan pertama dan mengklakson teman KKN mereka yang mengenakan almamater sama, berdiri di depan pondokan mereka—sedang membereskan barang bawaan.

“Setuju.” Katanya, menolehkan wajahnya hingga sudut matanya menangkap wajah Taehyung. “Atas bawah penting enak pokokmen.”

Mereka memasuki jalanan rindang yang nyaris tidak tertembus sinar matahari karena rimbunnya pepohonan saat akhirnya mereka melihatnya; jalan turunan curam dengan papan nama 'Ketua RT 10 dan Ketua Kelompok Tani' dan penanda berwarna jingga norak dengan tulisan, 'Pondokan KKN USD' yang dipasang Yugyeom kemarin sebagai penanda lokasi mereka sehingga nantinya pihak universitas bisa menemukan pondokan mereka dengan mudah.

Jeongguk memelankan motornya.

Jeongguk serius tentang bagaimana semakin hari, dia semakin menemukan hal menarik di diri Taehyung yang entah bagaimana sinkron dengan hal yang disukainya. Taehyung tidak berhenti membuatnya terkejut dengan cara yang menyenangkan. Semakin membuatnya yakin dia akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan Taehyung setelah KKN dan cukup lama hingga seumur hidup.

Motor menuruni tanjakan curam yang berlumut sementara anjing bapak pondokan mereka, Diwud yang berwarna putih-cokelat menggonggong mereka ceria; sudah berkenalan saat kunjungan mereka terakhir. Di halaman sudah terparkir motor mereka semua. Pintu utama dibuka dan Taehyung melihat teman-temannya sedang membereskan barang-barang bawaan mereka, menata tempat itu agar nyaman ditinggali untuk satu bulan lamanya.

Jeongguk mematikan motornya, Taehyung turun dari motor dan melepas sepatunya. “Kami kembali.” Katanya dan Tzuyu melongok dari kamar perempuan.

“Kak Gguk, aku sudah hangatkan sotonya.” Katanya, nampak bersalah karena Jeongguk harus menunggu di Balai Desa demi dirinya. “Makanlah!”

“Santai. Trims, Tzu.” Jeongguk melambai, meletakkan helmnya dan Taehyung di kursi depan dan melepas sepatunya. Dia menyugar rambutnya, berdeham serak—hal yang disadari Taehyung selalu dilakukannya sebagai efek merokok.

Dia kemudian melangkah menuju kamar lelaki dan membuka pintunya, mendapati Yugyeom dan Yoongi sedang berbaring di kasur—kelelahan. “Minggir! Aku mau berganti baju.” Katanya, menendang kaki Yugyeom yang balas menendangnya.

Taehyung berdiri di depan pintu, menyadari ruangan itu terlalu sempit untuk empat orang lelaki. Maka dia mengalah, pergi ke ruang utama dan melepaskan almamaternya yang terasa panas menyesakkan lalu melepas celana jinsnya. Di dalamnya, dia mengenakan celana pendek sejuk yang terasa begitu menyegarkan. Di sana sudah ada satu kasur gulung tipis dari ibu pondokan dan dua kantung tidur, yang akan dirinya dan Jeongguk gunakan malam ini.

“Gguk,” katanya saat meraih celananya dan akan menjemurnya di penjemuran di samping rumah. “Kau mau makan tidak?”

Dan Taehyung memilih waktu yang salah untuk menoleh karena Jeongguk sedang berdiri di depan pintu kamar lelaki, menarik kausnya lepas dari atas kepalanya. Rambutnya meluruh di tengkuk dan dahinya, berantakan.

Taehyung menahan napasnya.

“Makan,” katanya mengangguk, menggaruk tengkuknya dengan kaus di tangannya. “Bolehkah jika aku minta nasi dari Ibu?” Tambahnya, berbalik ke kamar untuk meraih kaus di tasnya.

Dia mengenakan celana pendek yang sejuk dan sekarang berdiri di sana bertelanjang dada. Bukan perutnya yang agak buncit yang membuat Taehyung terpana, tapi karena ada tato di dadanya, tempat di atas ulu hatinya seukuran telapak tangan.

Tato di atas paha atasnya mengintip dari balik garis celana pendeknya dan sekarang dia juga memamerkan tato di dadanya. Taehyung mulai tidak yakin apakah otaknya masih berfungsi setelah ini. Dan apakah KKN mereka akan berakhir dalam damai atau dalam kekacauan—kekacauan yang disukai Taehyung, tentu saja.

Dia berdeham, setelah berhasil mengalihkan pandangan dari tato yang tergambar permanen di atas kulit Jeongguk yang putih, kini kemerahan karena panas.

“Kau punya berapa tato?” Tanyanya sopan, memalingkan wajah saat Jeongguk memasukkan kepalanya ke kaus, takut Tuhan akan mencatatnya sebagai dosa jika dia menatap lebih lama lagi.

“Tiga.” Katanya, menyugar rambutnya—tersenyum lebar, nampak sangat senang karena Taehyung bertanya. “Kau mau tahu yang ketiga di mana, tidak?”

MAU! “Tidak, terima kasih.” Sahutnya kalem, walaupun jantungnya melonjak ceria seperti seekor kelinci; tidak sabar untuk tahu di mana tato ketiga Jeongguk bersembunyi. “Keberatan jika aku mencarinya tahu keberadaannya sendiri?” Dia menaikkan sebelah alisnya, tersenyum separo.

“Oh, sama sekali tidak.” Jeongguk menyodok bagian dalam pipinya, tertantang. “Aku akan mempersilakanmu menemukannya. Gunakan waktumu sebaik mungkin, kita punya tiga puluh hari.”

Taehyung mendengus, “Lebih dari cukup.”

“Berhenti mengumbar sexual tension!” Seru Yoongi dari dalam kamar, berdecak keras dan Yugyeom tertawa. “Pergilah makan atau beri makan sapi Bapak, sana. Buat diri kalian berguna!”

Jeongguk dan Taehyung tertawa.

KKN mereka resmi dimulai hari ini.


Hal yang disadari Jeongguk hari ini adalah dia benci dibonceng dengan motor besar.

Punggungnya nyeri, terpapar angin karena Taehyung otomatis membungkuk saat mengendarai motornya dan jangan lupakan betapa trauma pantatnya yang agung karena duduk di jok yang tipis selama perjalanan pulang-pergi Yogyakarta-Gunung Kidul.

Benar kata orang, naik motor besar itu yang masuk angin bukan pengendaranya melainkan penumpangnya.

Itulah yang Jeongguk rasakan selama satu setengah jam dalam perjalanan, untung dia mengenakan helm full face sehingga setidaknya wajahnya sedikit terlindung dari angin jalanan sementara Taehyung membungkuk di depannya, mengendarai motornya dengan tangkas.

Mereka sekarang berhenti di kampus, semuanya memesan bakso Dab Supri sebelum berkumpul di panggung Realino hendak membicarakan hasil survei mereka hari ini. Mereka tadi sudah mengunjungi calon pondokan mereka diantar oleh Pak Dukuh.

Rumah pondokan mereka berada jauh di bawah jalan utama, menuruni jalan curam dari beton dengan pemandangan lepas ke lembah yang indah dengan tiga gunung yang mengintip. Rumahnya asri, sejuk karena bentuknya joglo dengan kandang sapi yang terletak di sebelah rumah. Tidak buruk, begitu pikir mereka.

Setidaknya mereka punya kamar mandi tertutup, itu saja sudah merupakan sebuah kemewahan untuk mereka.

Para perempuan senang saat melihat kamar mandinya walaupun lokasinya di luar rumah bapak pondokan mereka yang juga ketua RT 10. Di belakannya ada jurang yang memamerkan pemandangan Yogyakarta yang indah diapit oleh semak bambu gemerisik yang membuat Yugyeom, Taehyung dan Jeongguk langsung yakin mereka tidak akan sudi pergi ke kamar mandi malam-malam.

Ruang tidur mereka nyaman namun tempat untuk lelaki terlalu sempit sehingga Jeongguk dan Taehyung sepakat mereka akan tidur di ruang tengah saja dengan kantung tidur alih-alih berdesakan di kamar yang kecil. Bapak pondokan mereka mengatakan bahwa selama mereka menerima anak-anak KKN, kelompok merekalah kelompok pertama yang memiliki jumlah anak lelaki paling banyak.

“Biasanya maksimal hanya dua orang,” kata beliau saat anak-anak duduk di ruang tengah. Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom berebut onde-onde mekar besar yang luar biasa lezat yang disajikan calon ibu pondokan mereka seperti tiga bayi tuyul menyebalkan.

“Apa, sih, masalah kalian??” Yoongi melerai mereka jengkel sementara para perempuan menahan tawa, kemudian menyambar plastik terisi onde-onde dan membagnya sama rata untuk mereka. “Diam semuanya. Dengarkan orang tua sedang bicara.”

Ketiganya diam, dengan masing-masing sepotong onde-onde di mulut mereka—tenang setelah mendapatkan apa yang mereka mau seperti bayi yang mendapatkan dot terisi susu mereka.

Jeongguk pribadi tidak masalah, dia bisa tidur di mana saja selama dia punya bantal guling. Maka dia dan Taehyung tadi sudah berdiskusi akan mencari pinjaman kantung tidur untuk mereka gunakan selama KKN. Dahyun mengklaim kekasihnya yang anak gunung punya kantung tidur yang belum akan dipakai dan akan membawakannya.

“Jadi positif,” kata Yugyeom dengan Tzuyu di sisinya, siap mencatat hasil rapat mereka hari ini di Panggung Realino yang ramai oleh anak-anak UKM dan juga kelompok-kelompok KKN lain yang baru kembali survei lokasi.

Jeongguk sedang menyuap isi mangkuk mie ayam bakso keduanya bersama Taehyung yang juga kelaparan sementara teman-temannya bersiap mendegarkan. Makanan itu terasa seperti surga setelah berkendara jauh, Jeongguk menjejalkan makanan ke mulutnya seperti kesurupan.

“Kita akan menggunakan fermentasi pakan ternak sebagai proker utama kelompok.” Yugyeom mengangguk, membaca catatannya di buku tentang hasil diskusinya dengan bapak pondokan mengenai kemungkinan proker mereka.

Tadi mereka juga diajak keliling desa; diantar ke Masjid tempat anak-anak suka berkumpul jika ada les dari anak-anak KKN, Posyandu yang juga menjadi Paud dengan sepuluh siswa dan satu guru (anak perempuan tidak sabar untuk bertemu murid-murid itu), rumah-rumah para ketua RT lainnya dan juga salah satu daya tarik wisata mereka, Flying Fox Green Village.

Mereka sempat mampir ke sana tapi tidak naik flying fox-nya karena tidak membawa uang tunai untuk membayar dan memutuskan puas hanya dengan befoto-foto dan menikmati semilir angin. Pemandangan lembah hijau dan juga berburu murbei hitam yang ditanam sebagai perindang di sekitar sana.

“PUNYAKU!” Jeongguk menyambar murbei terbesar yang ditemukannya di pohon di belakang balai tempat mereka bersantai dan harus mengerahkan kelincahannya untuk berlari dari kejaran Momo, Tzuyu dan Dahyun yang merasa melihat buah itu pertama.

Jeongguk benar-benar meladeni mereka berlari menaiki tebing-tebing alami yang dibentuk seraya tertawa mengejek—tahu dia lebih unggul dalam hal ini, mengalahkan merek karena dia memanjat seperti seekor monyet yang cerdas dengan kakinya yang panjang.

Mereka kembali ke Yogyakarta dan memutuskan untuk menyelesaikan diskusi hari itu juga sehingga proposal bisa segera dinaikkan ke LPPM. Bapak pondokan mereka menyambut positif ide mereka tentang pakan ternak, mengiyakan saat Yugyeom menyinggung masalah kesulitan pakan saat musim kemarau.

Gunung Kidul terkenal sebagai tempat yang gersang dan kesulitan air karena terletak di wilayah geografis yang tinggi dikelilingi perbukitan gersang dengan musim panas yang jauh lebih panas dari wilayah Yogyakarta mana pun dan musim hujan yang lebih pendek. Saat mereka KKN nanti di bulan Februari, musim seharusnya hujan namun saat mereka berkunjung panasnya bukan main.

“Mungkin kita bisa mulai mengumpulkan hal-hal apa saja yang mungkin kita butuhkan?” Yugyeom kemudian mengamati catatannya. “Besok aku dan Kak Yoong akan survei harga drum plastik biru untuk fermentasinya.”

“Aku semalam menghubungi temanku,” kata Taehyung di sisi Jeongguk yang masih menjejalkan mie ayam ke mulutnya dengan khidmat, berpikir apakah dia harus memesan bakso lagi karena dia merasa sangat lapar.

“Dia jurusan Kedokteran Hewan dan dia bilang dia paham sedikit-banyak tentang pakan fermentasi ini. Jadi mungkin nanti akan kutanya lebih banyak dengannya dan dia juga bersedia datang ke pondokan kita saat eksekusi proker utama untuk membantu, kau tahu, tentang komposisi dan sebagainya.”

Yugyeom mendesah, menatap Taehyung seolah dia adalah seorang malaikat. Jeongguk setuju, karena dia memang malaikat. Malaikat tampan tangguh dengan selera humor sehat dan aset yang aduhai. Dia menundukkan tanjakan Clongop dengan sangat tangkas—tanpa kejadian salah oper gigi seperti yang dialami Jeongguk.

“Jika bisa begitu, akan sangat membantu.” Yugyeom mengangguk, senang dan tenang karena setidaknya mereka akan dibantu seorang ahli.

Mereka kemudian mengumpulkan proker-proker individu yang akan dimasukkan ke dalam proposal oleh Tzuyu. Dahyun dan Momo akan bertanggung jawab untuk Posyandu dan Paud dengan program makanan bergizi. Tzuyu untuk Perpustakaan Mini di Masjid desa. Yugyeom dengan papan nama penunjuk arah yang sudah mulai usang. Yoongi dengan les anak-anak, membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah. Taehyung dan Jeongguk bergabung untuk melaksanakan proker pemeriksaan kesehatan ternak.

Jeongguk juga yang bertanggung jawab setiap ada kegiatan Karang Taruna desa; bertugas mencari tahu jika ada gotong royong atau berita lelayu di sekitar desa.

Semua setuju dengan tugas masing-masing lalu mulai membicarakan barang-barang yang akan mereka bawa karena tidak ada kasur sama sekali.

“Aku punya kasur lipat di rumah,” Dahyun mengangguk dan Momo menambahkan, “Kasurku di kos bisa dibawa jika mau.”

“Kasurku juga bisa jika tidak keberatan menjemput ke Paingan,” sahut Taehyung, “Kasur busa yang tidak terlalu berat jika di bawa. Bisa digunakan satu di kamar perempuan dan satu di kamar lelaki.”

“Aku akan membawa kasur gulung juga,” Yugyeom menambahkan. “Untuk kalian berdua tidur di ruang tamu.”

“Oke, tidak masalah. Aku hanya perlu bantal guling.” Jeongguk menandaskan isi mangkuknya lalu mendesah, “Menurutmu, aku harus beli bakso tidak?” Tanyanya pada Taehyung yang sedang mengingat-ingat benda apa lagi di kosannya yang bisa dibawa.

“Kau sudah makan mie ayam bakso dua mangkuk.” Kata Taehyung,menatapnya geli dan setengah gemas. “Nanti perutmu meledak, oke?”

Jeongguk mendesah, bersandar di tangannya dan menepuk perutnya yang membuncit di balik kausnya—kekenyangan tapi mulutnya bosan. Dia ingin mengunyah sesuatu. “Kita bawa kipas angin tidak?” Tanyanya kemudian.

Yugyeom menatapnya. “Mungkin satu jika dibutuhkan. Dan kabel rol, itu paling penting!” Tambahnya dan Tzuyu bergegas mencatatnya.

“Lampu darurat?” Tanya Dahyun dan Yugyeom menjentikkan jarinya, Tzuyu dengan tekun mencatat semuanya.

“Kabel rol aku ada dua, akan kubawa keduanya.” Jeongguk bersendawa, kekenyangan. Akhirnya melupakan tentang memesan bakso. “Juga lampu darurat, kipas angin dan magic jar jika diperlukan.”

“Kosanmu dihuni keluarga dengan satu anak, ya?” Tanya Yoongi kemudian dan semuanya terkekeh. “Lengkap sekali. Apakah kau juga kebetulan punya kulkas dua pintu? Air-fryer? Kompor listrik?”

Jeongguk melempar sedotannya ke arah Yoongi yang menghindarinya dengan gesit. “Sialan kau,” dia terkekeh.

“Ember mencuci juga jangan lupa siapa tahu kita akan mencuci. Baju-baju sebaiknya dibawa ke binatu saja tapi pakaian dalam tetap harus dicuci sendiri, 'kan? Gantungan baju dan juga jemuran jamur?” Tambah Momo yang langsung diiyakan semua orang.

Alat-alat rumah tangga dicatat oleh Tzuyu berikut siapa yang akan membawanya. Keberangkatan mereka minggu depan, menilai banyaknya bawaan mereka semua sepakat akan menyewa jasa angkut saja dengan membayarnya secara patungan.

“Ada kendaraan dari kampus tapi aku tidak yakin akan muat.” Kata Yugyeom kemudian. “Kita akan membawa kasur busa, empat drum plastik biru besar untuk proker dan belum lagi barang-barang lain jadi sebaiknya kita menyewa saja daripada berebut dengan kelompok lain. Nanti mungkin yang kita masukkan bus kampus hanya tas-tas berisi benda penting kita saja.”

Semuanya setuju. Barang-barang akan dibawa ke kosan Momo karena mereka akan membawa kasur busanya. Sehari sebelum keberangkatan, Yugyeom dan Yoongi berangkat bersama jasa angkut untuk menurunkan barang-barang mereka di pondokan termasuk koper-koper terisi pakaian mereka sehingga keesokan harinya mereka berangkat dengan lebih leluasa dengan motor.

“Kalian semangat KKN, tidak?” Tanya Jeongguk kemudian, karena dia tidak sabar menantikan hidup bersama teman-temannya yang asyik dan sangat menghibur. Tidak sabar berbagi hari dan malam bersama mereka, dia akan membawa Uno Stacko miliknya serta Monopoli sehingga mereka bisa menghabiskan waktu luang dengan berkualitas.

“Sejujurnya?” Sahut Dahyun di sisinya, “Awalnya aku skeptis. Aku takut teman-temanku tidak asyik dan membosankan.” Semuanya seketika tertawa, mengangguk-angguk setuju. “Lalu ternyata aku mendapatkan satu penjahat kelamin yang tergabung dalam trio idiot dan teman-teman yang sangat menyenangkan.”

Mata Jeongguk memicing dengan tatapan tidak suka yang jenaka, dia mendengar Taehyung tertawa di sisinya—suara yang sangat indah. “Siapa maksudmu penjahat kelamin?”

Dahyun memutar bola matanya, Tzuyu tertawa ceria bersama Momo. “Menurutmu?” Dia menoleh malas ke Jeongguk yang berbaring di panggung, mengusap-usap perutnya yang buncit kekenyangan.

“Aku hanya jadi penjahat kelamin untuk Taehyung, kok. Tenang saja, Ladies, pakaian dalam kalian aman dariku.” Dia mengedipkan sebelah matanya lalu mengaduh keras saat Taehyung memukul perutnya. “Jangan begitu! Aku mau muntah!” Serunya tidak terima.

“KKN kita akan baik-baik saja,” Yoongi kemudian berkata setelah tawa mereka semua reda. “Kita punya satu sama lain dan kita sangat solid, berusahalah menghindari masalah. Mari membuat KKN kita menyenangkan alih-alih beban yang menyusahkan, karena dengan begitu kita akan menikmati setiap harinya.”

Jeongguk menyerigai, dia tahu KKN ini akan luar biasa. Dia suka teman-teman kelompoknya dan sungguh, takut membayangkan harga yang harus diberikannya karena mendapatkan mereka sebagai teman satu kelompoknya.

Perempuan-perempuan tangguh yang tidak kenal takut, teman-teman dengan selera humor yang satu frekuensi dengannya; Jeongguk puas.

Tidak sabar hingga minggu depan, hingga mereka tinggal di satu atap yang sama dan berbagi kenangan.