Kuliah, Kerja, Nyantai / 73


“Di mana mereka?”

Jeongguk menyelipkan satu lengannya ke dalam jaket berkendara seraya menunggu Taehyung yang sedang mengecek ponselnya; mencoba menghubungi temannya yang tersesat. Jeongguk menatap langit yang hari ini cukup cerah, bersyukur hujan belum turun sehingga mempersulit kegiatan mereka.

Mereka harus bergegas menemukan teman Taehyung sebelum hujan memperkeruh suasana, membatasi daya pandang mereka. Malam semakin larut dan membiarkan tiga orang tidur di dalam mobil di tengah hujan di antah-berantah mungkin sama sekali bukan ide bagus.

“Sepertinya dia di pertigaan tempat Dahyun kemarin jatuh.” Taehyung mendongak, membenahi kacamatanya lalu mengenakan jaket.

“Oh, tidak jauh.” Sahut Jeongguk, melirik langit berbintang sekali lagi; merasa cemas hujan akan turun kapan saja. “Ayo, cepat sebelum hujan.”

Taehyung mengangguk, menyelipkan ponsel di sakunya sebelum berjalan menaiki tanjakan menuju jalan besar.

Jeongguk menyalakan motornya lalu memasukkan gigi, dia mengendarai motornya menaiki tanjakan lalu berhenti di pinggir jalan besar. Taehyung mengenakan helmnya lalu naik ke boncengan belakang. Jeongguk melaju di atas motornya membelah jalanan yang sepi dan gelap.

Malam belum larut, tapi jalanan sudah mulai sepi karena mereka berada di desa dengan minim lampu di sepanjang jalan. Persawahan dan perbukitan adalah teman mereka dalam perjalanan dan Jeongguk setengah cemas jika mereka tidak bisa menemukan teman Taehyung dalam kegelapan. Hanya suara jangkrik dan suara motor Jeongguk-lah yang terdengar di jalanan.

Taehyung di belakangnya terdengar cemas. Siapa yang tidak? Mereka ada di tempat yang asing, dengan jaringan yang sulit di dapat, penerangan yang minim lalu teman-temannya sedang berada di tempat yang mereka sendiri tidak tahu; bagaimana Taehyung bisa menyelamatkannya? Dan tidak ada jaringan untuk menghubungi satu sama lain.

Jeongguk menambah kecepatan, berbelok di jalanan menuju jalan biasa yang mereka lewati untuk turun ke Klaten. Dan menemukan mereka, syukurlah. Taehyung mendesah keras saat mereka melihat pertigaan yang dimaksud. Ada sebuah mobil Jimni terparkir di sana, lampunya menyala dengan satu orang berdiri di luar; melambaikan ponselnya ke udara, mencari jaringan.

Jeongguk merasa seolah beban tak kasat mata diangkat dari bahunya; lega mereka menemukannya persis di tempat yang mereka duga. Dia membunyikan klaksonnya, memasang sein lalu menepi. Sinar dari lampu depannya membias ke wajah teman Taehyung yang langsung nampak lega saat Taehyung melompat turun.

“Kak!” Serunya, bergegas menghampirinya.

Dan di depan mata Jeongguk, mereka berpelukan.

APA-APAAN?!

Jeongguk nyaris oleng dari motornya saat orang itu membalas pelukan Taehyung hangat dan menepuk bahunya akrab. Jantungnya berdebar keras dan dia ingin menonjok seseorang saat ini juga—khususnya orang yang sekarang meletakkan tangannya dengan santai di bahu Taehyung.

“Puji Tuhan!” Seru pemuda itu, nampak sangat lega bertemu dengan Taehyung. Sangat lega hingga tidak juga menguraikan pelukannya bahkan setelah satu menit penuh—jangan salahkan Jeongguk karena dia menghitung.

Dia sedang menyentuh milik Jeongguk, maka dia berhak menetukan harga dari lamanya dia meletakkan tangannya di tubuh Taehyung.

“Puji Tuhan!” Sahut Taehyung, menguraikan pelukannya dan menyentuh dadanya sendiri lalu menengok ke dalam mobil. “Halo, Kak! Halo, Dok, maaf, ya, lokasinya susah dicari.” Katanya tersenyum ramah. “Kita ke pondokan dulu saja sebelum bicara, bagaimana?”

Orang itu mengangguk, tersenyum ramah dengan lesung pipi yang tajam. “Tidak masalah.” Katanya lalu menepuk bahu Taehyung hangat sebelum kemudian memasuki kursi pengemudi, siap mengikuti mereka.

Taehyung berlari kembali ke Jeongguk yang masih menatap mereka dengan mata dipicingkan, tidak suka. “Ayo,” katanya pada Jeongguk.

“Itu pacarmu?” Tanyanya nyaris menggeram karena tidak bisa membuka mulutnya sendiri, saat mereka berbalik lalu meluncur kembali ke pondokan.

“Siapa?” Tanya Taehyung, kebingungan—beberapa kali menoleh ke belakang, untuk memastikan mobil Jimni itu mengikuti mereka di jalan berkelok-kelok menuju pondokan mereka. “Namjoon?” Tambahnya, lalu tertawa geli—sangat terhibur oleh konsep itu. “Bukan! Dia sahabatku sejak kecil. Tidak perlu khawatir.”

Jeongguk mendengus, tidak perlu khawatir apanya. Bagaimana bisa dia tidak khawatir saat orang itu bebas menyentuh Taehyung di tempat yang bahkan Jeongguk tidak bisa sentuh?

Dia memasukkan gigi, geram saat menambah kecepatan. Bagaimana dia bisa tenang dua malam ini dengan lelaki yang “sahabat Taehyung dan Jeongguk tidak perlu khawatir” berada di sekitar mereka, dengan tangan yang bebas menyentuh Taehyung?

“Pelan-pelan! Nanti mereka tertinggal.” Taehyung menepuk bahunya, memperingati Jeongguk yang memutar bola mata, sebal.

Peduli setan mereka tersesat, biarkan saja. Dia ingin berkata begitu tapi dia yakin Taehyung tidak akan mengapresiasi bahasanya. Maka dia sedikit memperlambat motornya; hanya karena Taehyung yang minta, dia tidak melakukannya demi Namjoon, kok. Saat mereka hampir tiba di pondokan, Taehyung menyentuh bahunya.

“Turunkan aku di atas, ya, aku akan menemani mereka turun.” Katanya dan Jeongguk mencibir, tahu Taehyung tidak akan bisa melihat wajahnya.

“Iya.” Katanya singkat, memasang wajah mengejek. Meniru kata-kata Taehyung tanpa suara dan dengan mimik mengejek demi memuaskan emosi kekanak-kanakannya sendiri.

Namun toh, dia tetap berhenti di atas tanjakan, membiarkan Taehyung turun dan melambai pada mobil di belakang mereka. Dia hanya mendengar Taehyung menyapa Namjoon dengan ceria sebelum menuruni jalan ke arah pondokan. Pintu depan masih terbuka dan ada Momo di pintu, menunggu mereka.

“Mereka di atas, ada tiga orang.” Katanya, mendadak merasa sangat bete.

Dia benar-benar sebal saat teringat bagaimana Namjoon terlihat cerdas, percaya diri dan nyaris bersinar karena ketampanannya. Menyentuh Taehyung dengan bebas dan nampak nyaris cocok dengan Taehyung.

Keduanya seperti sepasang ilmuan, membicarakan massa antimateri di waktu luang mereka. Membuat orang-orang terintimidasi karena kecerdasan mereka. Seperti pemeran utama di film science fiction, atau ilmuan terpintar di pusat penelitian rahasia di Jenewa. Hal-hal keren semacam itu.

Hal-hal yang selama ini membuat Jeongguk tidak percaya diri karena dia tidak punya kecerdasan seperti Taehyung yang bisa menyelesaikan soal Matematika rumit hanya sekali duduk sementara Jeongguk masih kesulitan memikirkan hasil perkalian sembilan dan enam.

Dia bertaruh Namjoon pasti tidak perlu kalkulator untuk tahu hasil dari sembilan kali enam.

Memikirkannya membuat Jeongguk semakin bete dan jika dia kesal, dia akan lapar. Maka dia sekarang lapar.

Momo menatapnya, mengerjap lalu tersenyum lebar; menyadari apa yang mungkin membuat Jeongguk kesal dan berwajah sepat seperti mangga muda. “Ada yang cemburu, nih.” Godanya dan Jeongguk mendelik padanya.

“Urus urusanmu sendiri.” Katanya, meletakkan helm di kursi dan melepaskan jaketnya sementara Momo terkekeh.

“Baiklah, baiklah. Tidak perlu sewot begitu,” Momo berdendang menggoda lalu berteriak ceria saat Jeongguk memasang kuda-kuda hendak melemparnya dengan sandal. Momo berlari ke dapur seraya tertawa tinggi, mempersiapkan makan malam mereka.

Hari ini, Yugyeom ingin nasi goreng dan mereka sepakat memasak nasi goreng gila resep dari Dahyun dengan banyak sosis, bakso, dan sayuran. Semua lelaki dikerahkan untuk mengiris-iris kubis dan wortel untuk isian nasi goreng mereka yang hari ini lebih banyak karena mereka punya tujuh lelaki untuk diberi makan.

Tadi sebelum Taehyung berseru panik karena teman-temannya tersesat, para perempuan sedang menuang nasi ke atas wajan terbesar Ibu. Mencampur bumbu nasi goreng dengan nasi. Sekarang aromanya sangat menggugah selera dan Jeongguk ingin makan banyak.

Oh, ya. Sangat banyak!

“Apa yang terjadi padamu? Siapa yang membunuh kucingmu?” Tanya Yoongi saat Jeongguk memasuki ruangan dengan wajah sepat seperti penderita wasir. Dia sedang duduk di sudut, di atas kasur lipat dan perlengkapan tidurnya dan Taehyung bermain gitar.

Di sisinya Yugyeom sedang menonton televisi dengan segelas wedang uwuh di tangannya. Oleh-oleh dari kekasih Momo, Heechul yang tadi siang datang menjenguk kekasihnya. Dia membawakan mereka banyak makanan berdaya simpan lama, dua bungkus besar wedang uwuh karena Momo menceritakan betapa sukanya Yugyeom, Yoongi dan Jeongguk pada minuman itu lalu membawa Momo pergi jalan-jalan sebentar.

Itulah kenapa Momo nampak seperti baru saja mendapat durian runtuh. Seharian tersenyum seperti gadis kasmaran—dia memang kasmaran dan Jeongguk sedang kesal.

“Tidak ada.” Sahut Jeongguk ketus lalu menendang kaki Yugyeom yang berbaring telungkup di tikar.

Pemuda itu mengaduh keras. “Hei!” Yugyeom mendelik, “Aku tidak tahu apa-apa, kenapa aku yang kena?!” Serunya, bangkit dan memberengut ke arah Jeongguk yang meraih gitar lain di sana—gitar yang dipinjam mereka dari anak sulung lelaki Bapak.

Yoongi menatapnya, menilai ekspresi Jeongguk saat dia mulai memainkan gitarnya. Nada-nada random yang muncul di kepalanya, nampak sangat kesal hingga nyaris menggelikan. Yoongi menatap Yugyeom yang menyesap minumannya, mendesah karena hangat yang didapatkannya dari jahe bakarnya. Dia baru saja membuka mulut untuk bertanya saat suara obrolan terdengar dari luar.

Dahyun baru saja keluar dari dapur, hendak mengabari mereka bahwa makan malam sudah siap. Mendengar suara itu, dia memutar haluan melangkah ke pintu depan dan tersenyum. “Oh, halo!” Sapanya ramah pada tamu mereka. “Kalian teman-teman Taehyung, ya?”

Jeongguk memetik nada G sumbang dengan keras lalu meletakkan kembali gitarnya. Merasa kekesalan yang bercokol di hatinya mulai tidak masuk akal sama sekali. Yugyeom melirik dari balik gelas wedang uwuh-nya, melirik Yoongi yang langsung menyadari alasan Jeongguk nampak seperti penderita wasir.

“Halo,” kata sebuah suara empuk yang ramah, suara Namjoon. Selain wajahnya yang menenangkan, pembawaannya yang rapi, suaranya juga sekelas penyanyi internasional. “Maaf menganggu kalian malam-malam.”

Jeongguk tidak suka.

“Apa yang dilakukan teman Taehyung padamu?” Tanya Yoongi, merendahkan suaranya dan memainkan nada cerdas di gitarnya, rileks. Membuat pertanyaannya nampak tidak peduli. “Menyurukkan sikat gigi ke pantatmu?”

“Tidak ada.” Sahut Jeongguk, ketus.

“Bung, kau terdengar seperti orang sembelit, kau tahu, 'kan?”

Jeongguk mengedikkan bahu. Yugyeom tersenyum lebar pada minumannya seolah benda itu baru saja membisikkannya lelucon yang sangat bagus untuk menyamarkan tawanya karena tingkah Jeongguk.

Yoongi mendesah dan menoleh saat tiga orang memasuki ruangan dengan tas besar di bahu mereka. Pemimpinnya berwajah menarik, lesung pipinya sangat indah dan dua di belakangnya juga sama indahnya. Satu orang nampak lebih tua dan senior, dia lebih rapi dan cerdas dengan pakaian yang diseterika rapi.

“Saya Namjoon dan ini teman-teman saya, Hoseok dan Dokter Seokjin.” Dia memperkenalkan teman-temannya di depan pintu saat Tzuyu dan Momo mengintip dari dapur. Saat disebutkan namanya, mereka melambai ramah. Meletakkan tas-tas peralatan dokter hewan mereka di lantai dengan suara denting tube obat.

“Jangan panggil aku 'dokter',” keluh lelaki yang dikenalkan terakhir, Seokjin dan teman-temannya tertawa.

“Dia ini,” Namjoon menepuk bahu Seokjin, yang nampak paling rapi dan cerdas dengan akrab. “Baru menjalani sumpah dokternya sebulan lalu jadi ilmunya masih sangat segar.” Dia tertawa kecil. “Dia yang akan bertanggung jawab sepenuhnya tentang obat dan dosisnya.”

Yoongi tersenyum kecil, paham apa yang membuat Jeongguk jengkel. Dia bangkit dan menghampiri mereka bertiga, menatap Seokjin yang menyadari kehadirannya. Mereka bertatapan, lebih dari semenit.

“Halo,” dia mengulurkan tangan dan mengulaskan senyuman ramahnya yang jarang sekali digunakannya hingga Dahyun berdeham berisik. “Yoongi.”

Seokjin menatapnya sejenak lalu menyunggingkan senyuman menyilaukan dan menjabat tangannya, “Halo, Yoongi.”


“Kau cemburu pada Namjoon.”

Jeongguk tersedak makanannya. “Siapa?!” Tanyanya mendesis pada Yoongi yang menyuap makanannya dengan kalem di sisinya.

Untuk pertama kalinya selama mereka tinggal bersama di bawah satu atap, Taehyung tidak duduk di sisi Jeongguk saat makan malam. Dia duduk di sisi Namjoon dan teman-temannya, mengobrol akrab sambil makan. Selain Seokjin yang sejak tadi berusaha mengajak Yoongi bicara namun lelaki itu hanya menanggapi sekenanya.

“Semua makhluk yang beracun biasanya nampak sangat berkilauan.” Katanya saat Dahyun menggodanya kenapa tidak menanggapi Seokjin yang jelas-jelas sangat tertarik padanya.

“Kataku, kau ini banyak bacot,” sahut Jeongguk lalu mengaduh saat Yoongi menendang pantatnya.

Taehyung sekarang sedang tertawa dengan Namjoon, entah karena apa sembari mengobrol tentang hal-hal teknis mengenai jadwal mereka besok.

Jeongguk tidak sebal kok, Jeongguk biasa saja. Biasa sekali. Sangat biasa. Tidak cemburu. Tidak sebal. Tidak jengkel.

Jeongguk sangat amat biasa sekali.

“Kau cemburu pada Namjoon.” Ulang Yoongi sabar seolah sedang memberi tahu anak TK kenapa manusia bisa bernapas dan Yugyeom di sisinya terkekeh, menikmati makanannya sambil bermain game di ponselnya.

“Tidak menyalahkanmu, kok. Dia kelihatan cerdas. Seperti ilmuan,” Yoongi melirik Jeongguk yang menyuap makanannya seperti kesetanan—jengkel.

Emosinya terpampang nyata di wajahnya dan semua anak kelompok mereka sekarang sedang mengulum senyum melihat betapa hebohnya Jeongguk memamerkan ketidaksukaannya dan betapa hanya Taehyung yang tidak menyadarinya.

“Mereka cocok sekali, 'kan?” Tambah Yoongi kalem dan Dahyun tertawa kecil, duduk di atas kursi terdekat dengan mereka dengan kaki di luruskan, dia masih belum bisa duduk di bawah dengan kaki ditekuk—kesulitan untuk bangun.

“Kau ingin kupukul, ya?” Sahut Jeongguk seketika itu juga dan Yoongi tertawa.

Got you.” Katanya kalem dan Jeongguk nyaris melempar piringnya ke wajah Yoongi yang terkekeh-kekeh ceria seraya menghabiskan makanannya.

Setelah makan malam, Hoseok kemudian mengeluarkan laptopnya. “Ayo, kita nonton film horor!” Katanya ceria, menyalakannya dan meletakkan benda itu di atas tikar, menyiapkannya untuk maraton yang nyaman.

Mendengar kata “film horor” dan melihat ekspresi wajah Momo yang langsung berubah membuat mereka semua mundur. Yugyeom berdeham, menyadari bahwa dialah yang bertanggung jawab untuk bicara atas nama kelompoknya kepada tamu mereka yang sekarang memilih film horor di laptopnya.

“Mas, maaf,” katanya kikuk sementara Jeongguk mengangguk menyemangati. “Sebaiknya tidak usah, ya? Film horor maksudnya, takut mengganggu...” Dia melirik Momo yang wajahnya pucat. “Beberapa pihak.”

“Omong kosong,” Hoseok tertawa santai dan Seokjin ikut tertawa bersamanya. “Apa intinya KKN jika tidak menonton film horor? Santai saja!” Katanya ceria lalu mulai menyalakan filmnya. “Lagi pula ini bukan horor, lebih ke thriller, kok!” Hiburnya.

Momo langsung berdiri, “Aku tidak ikut, ya?” Pamitnya tersenyum ramah lalu bergegas ke kamar diikuti Tzuyu yang sekarang sangat dekat dengan Momo. Hanya Dahyun yang tinggal karena masih menghubungi kekasihnya—rutin setiap malam di singgasana agung dengan sinyal XL terkuat.

“Aduh,” bisik Yugyeom ke Jeongguk yang meringis sementara suara efek suara film horor mulai terdengar.

Film IT Chapter 2. Jeongguk sudah menonton film itu, tentu saja. Memang tidak horor, namun tetap saja dengan efek suara yang menegangkan dan seram seperti itu, belum lagi ekspresi Momo yang sangat tidak setuju—mereka benar-benar seharusnya tidak melakukan itu.

Tidak ada anak kelompok 10 yang ikut menonton kecuali Taehyung yang harus menemani mereka. Anak-anak perempuan pamit tidur awal, Yoongi dan Yugyeom juga setelah empat puluh menit menonton filmnya. Jeongguk akhirnya memutuskan untuk tidur, masuk ke dalam kantung tidurnya—tidak berani mempertaruhkan keberanian yang harus digunakannya nanti pukul dua pagi.

Akhirnya, hanya Namjoon, Hoseok dan Seokjin yang menonton film itu hingga selesai. Lalu bahkan melanjutkannya dengan film horor lain, tertawa-tawa rendah menghibur diri mereka, merasa seperti rumah sendiri. Taehyung bergabung dengan Jeongguk beberapa saat kemudian. Jeongguk membuka matanya saat Taehyung mendesah memasuki kantung tidurnya.

“Kau sebal, ya, hari ini?” Tanyanya berbisik sementara ketiga temannya menonton film horor lain dengan semangat—mengatakan sesuatu tentang betapa payahnya mereka karena takut menonton film hantu.

“Sebal apa?” Tanya Jeongguk, merasakan wajahnya memanas karena ketahuan bersikap kekanakan sepanjang sisa hari hanya karena Namjoon memeluk Taehyung dan berpenampilan seperti calon presiden.

Taehyung mengulurkan tangan dan Jeongguk langsung meraihnya. Dia menyelipkan jemarinya ke tangan Jeongguk, menggenggamnya hangat dan erat; hangatnya genggaman itu menjalar perlahan dari telapak tangan Jeongguk hingga sekujur tubuhnya, khususnya bagian hati.

“Jangan marah-marah,” katanya lembut, berbisik; menatap Jeongguk dengan tatapannya yang teduh, setengah menggelap. Tatapan yang langsung mengirimkan tikaman ke hati Jeongguk.

Membuatnya lemah, sangat lemah.

Jeongguk merinding—nyaris mengerang karena nada itu. Bagaimana suaranya merambat di atas kulit Jeongguk seperti laba-laba dengan kaki berbulunya, melecutkan perasaan sayang aneh yang membuatnya gelisah. Dia ingin Taehyung terus membujuknya dengan nada suara itu, membuainya, memanjakannya, memberikannya kasih sayang dan perhatian.

“Aku tidak marah.” Dia berhasil membuat dirinya sendiri bicara, tercekat dan Taehyung mengusap punggung tangannya dengan ibu jari; gerakan ke kanan dan ke kiri, lembut dan hangat.

Taehyung menatapnya, “Kau marah.” Bisiknya dengan suara itu lagi; suara serak velvety lembut, sedikit mendesak dan menegur dengan aura dominasi yang membuat seluruh tubuh Jeongguk berdenyar nikmat.

Dia suka suara itu.

“Bilang kau sayang padaku dengan suara itu,” bisik Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerjap.

Dia tersenyum separuh mendengarnya. “Oh,” bisiknya dan Jeongguk mendesah, dia bisa saja orgasme sekarang. “Kau suka itu?”

Jeongguk gemetar. “Ya, tolong.” Bisiknya dan Taehyung merunduk, mendekatkan wajah mereka hingga mata Jeongguk nyaris juling berusaha tetap menatap matanya.

Dia menarik napas dan Jeongguk nyaris mendesah karenanya.

“Aku sayang sekali padamu,” bisiknya; napasnya berhembus ke wajah Jeongguk, membelai bibir dan ujung hidungnya. Aromanya segar karena Taehyung baru menggosok giginya dan berkumur.

Taehyung menyapukan tatapan sayang ke wajah Jeongguk, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh pipinya dan mengusap dagu Jeongguk yang kasar karena belum bercukur. “Tidak perlu cemburu, oke?”

Jika Taehyung memintanya melompat ke jurang, berjalan di bara api atau bahkan membakar dirinya sendiri dengan nada itu, Jeongguk pasti akan melakukannya.

Taehyung seperti sebuah zat narkotika yang dikirim langsung dari Neraka untuk menyiksa Jeongguk dalam candu yang membingungkan. Dia membuat Jeongguk lemah, mabuk, dan terlena. Sentuhannya, suaranya, senyumannya....

Jeongguk tidak akan pernah bisa berhenti mereguk keindahannya, terus-menerus merasa haus dan lapar akan keberadaan Taehyung. Ingin terus menggenggamnya dekat ke jantungnya yang berdebar.

Seluruh tubuh Jeongguk terasa panas, merinding dan berdenyar nikmat. Jika Taehyung terus melakukannya, dia akan mendapatkan masalah serius dengan asetnya yang menderita di bawah sana.

“Cukup, cukup.” Katanya, terengah seperti seorang sprinter setelah berlari. “Jangan menyiksa asetku, oke?” Tambahnya dan Taehyung tertawa tanpa suara; indah sekali bagaimana wajahnya mengerut merespons ledakan emosi itu, membuatnya nyaris nampak bersinar.

Seperti seorang peri.

“Kau akan jadi alasan kematianku suatu hari nanti, Taehyung. Dan kau tahu itu,” keluhnya saat Taehyung berbaring di sisinya—teman-temannya membereskan laptop mereka, mengantuk karena hujan mulai turun rintik-rintik di luar sana.

Lampu di matikan dan Taehyung mendesah di sisinya, memejamkan matanya dengan senyuman lebar di bibirnya. Jeongguk meremas tangannya lebih erat, Taehyung membalasnya.

“Bagaimana jika menjadi alasan untuk multiple orgasm saja? Terdengar lebih menyenangkan daripada kematian, 'kan?” Dia mengedipkan sebelah matanya dan Jeongguk kembali mengerang.

“Kau setan kecil!” Desisnya dan Taehyung tertawa, sekali lagi tanpa suara.

“Tidurlah,” tambah Taehyung kemudian dengan suara mengantuknya yang membuat Jeongguk mendesah lega. “Jangan mencemaskan Namjoon, kami teman baik. Percayalah. Jika aku memang suka padanya, kami tidak akan tetap berteman hingga hari ini.”

“Tae?”

“Ya?”

“Aku juga sayang sekali padamu.”

Taehyung membuka sebelah matanya, tersenyum lebar; wajahnya merona samar di bawah cahaya yang remang-remang. Warnanya membuat perut Jeongguk terasa ditonjok. “Sungguh?” Bisiknya ceria.

Jeongguk mengangguk, jantungnya berdebar kacau balau di balik tulang rusuknya. Dia sangat menyayangi Taehyung dan itu adalah fakta mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

“Tidak pernah seyakin ini dalam hidupku.”