Kuliah, Kerja, Nyantai / 74
“Ban'hun!” Bangun!
Taehyung mengerang dan membuka matanya, mendapati Tzuyu sedang menggosok gigi dengan rambut digelung naik menjulang di hadapan mereka, menatap geli.
“Gem'as se'hali ha'ian ini,” Gemas sekali kalian ini, katanya mengeluarkan sikat giginya, noda busa pasta gigi menempel di ujung bibirnya. Dia tersenyum lebar, melirik tangan Taehyung yang berada dalam genggaman tangan Jeongguk yang masih mendengkur.
Taehyung mendenguskan senyuman, meraih kacamatanya dan mengenakannya. Barulah dia bisa melihat dengan jelas semua orang yang sudah bangun dan bersiap untuk kegiatan mereka hari ini.
“Bangun!” Tzuyu menendang kaki Jeongguk.
Entah mengapa semua anak KKN jauh lebih kasar pada Jeongguk dan bersikap lembut pada Taehyung. Mungkin karena Jeongguk suka sekali menendangi mereka tiap mereka tidur di tikar ruang tengah seperti seorang bajingan tulen. Maka mereka selalu membalasnya tiap kali ada kesempatan dan Jeongguk cukup santai untuk tidak merasa tersinggung pada lelucon apa pun yang digunakan teman-teman untuk menggodanya.
“Diam!” Erang Jeongguk, membuka matanya dan menghalau Tzuyu yang sekarang menggunakan kakinya untuk menginjak-injak betis Jeongguk. “Tzuyu!” Gertaknya dan Tzuyu tertawa dengan nada ceria.
“Cepat bangun!” Kata Tzuyu sekali lagi, menandak ceria pergi ke luar untuk membasuh pasta giginya.
Taehyung tersenyum, Jeongguk versus semua anak anggota KKN adalah sebuah aktivitas harian di pondokan. Dia melepaskan tangannya dari Jeongguk yang langsung membuka matanya, mengerutkan alis tidak suka dan Taehyung menyentil keningnya.
“Kita harus bersiap untuk program kerja, ayo.” Taehyung bangkit, meregangkan tubuhnya lalu membungkuk untuk membereskan kantung tidur dan bantal-bantal mereka.
Di sisi mereka, Namjoon dan Hoseok masih terlelap dengan sarung sebagai selimut sementara Seokjin sudah duduk menonton televisi—nampak segar setelah mandi.
“Pagi, Kak.” Sapa Taehyung ramah pada Seokjin yang menoleh dan tersenyum.
“Halo, pagi.” Sahut Seokjin sama ramahnya, seperti madu yang menetes. “Kalian menggemaskan sekali saat tidur.” Tambahnya nyengir dan Taehyung merona samar—selama ini mereka selalu bangun sebelum anak-anak lain sehingga tidak ada yang menyadari bahwa dia harus menggenggam tangan Jeongguk agar terlelap.
Seokjin kemudian memasang wajah serius dan Taehyung senang karena dia membiarkan pernyataan tentang cara tidur Taehyung lolos begitu saja. “Omong-omong, aku terbangun Subuh tadi dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini.”
Dia mengerling meja yang sekarang penuh botol-botol obat berukuran kecil dan jarum-jarum suntik yang berjejer siap digunakan. Dibagi menjadi 3 sesuai dengan dokter hewan yang bertanggung jawab hari itu.
“Yugyeom belum bangun, jadi kurasa aku bisa bertanya padamu?” Seokjin berdiri dan Taehyung mengekornya ke meja ruang tengah yang biasanya penuh gelas-gelas bekas minum mereka sebelum dibereskan mereka yang mendapat giliran mencuci piring setelah makan.
“Kita akan membagi diri menjadi tiga kelompok saja,” Seokjin mengangguk ke alat-alat yang dia siapkan.
“Ya, betul, Kak.” Sahut Taehyung, kemarin dia sudah berhasil meminta Heechul untuk datang membantu mereka. “Nanti akan ada seorang lagi yang membantu jadi kelompoknya tidak timpang. Kak Seokjin nanti akan bersamaku dan Tzuyu, Kak Namjoon bisa dengan Yugyeom, Jeongguk dan Dahyun. Lalu Kak Hoseok bisa dengan Yoongi, Momo dan Kak Heechul.”
Seokjin mengangguk-angguk, “Ada alasan kenapa hanya kita yang bertiga?” Tanyanya meringis. “Menurutku malah sebaiknya aku terjun ke wilayah yang lebih banyak ternaknya dibanding adik-adik tingkatku. Bagaimana?”
Taehyung sudah membicarakan ini dengan Bapak semalam, mereka membagi diri menjadi tiga kelompok dan kelompok Taehyung memang terjun ke RT yang lebih banyak ternaknya dengan medan yang lebih ekstrim.
“Kita memang ke medan yang ekstrim dan lebih banyak ternaknya, kok, Kak.” Dia tersenyum lebar. “Nanti Kakak akan dibonceng Bapak yang lebih hafal jalanannya karena bagian kita agak naik ke bukit sana,”
Seokjin bersiul, nampak bersemangat. “Kita akan berpetualang, ya, hari ini?” Katanya terkekeh serak lalu duduk di salah satu kursi, mulai membereskan alat-alatnya ke dalam tas berwarna hijau tentara. “Teman-temanmu juga akan diantar warga desa, 'kan? Supaya aman.”
Taehyung mengangguk. Jeongguk yang akrab sekali dengan Karang Taruna Desa sudah berhasil mengajak dua orang pemuda untuk mendampingi mereka berkeliling agar tidak tersesat sekaligus membonceng dokter hewan mereka hari ini.
“Sudah siap semua, Kak. Kita berangkat jam delapan pagi sebentar lagi.” Taehyung mengangguk dan Seokjin balas mengangguk, dia menyugar rambutnya memamerkan keningnya yang mulus dan tinggi—dia sangat menarik hingga Taehyung bertanya-tanya kenapa Yoongi tidak juga menanggapinya.
“Bersiap-siaplah,” Seokjin kemudian tersenyum. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Program kerja Taehyung dan Jeongguk maju sehari karena ternyata Seokjin punya operasi penting besok; dia tadi menyebutkan tentang anjing yang tertabrak dan harus segera ditindak. Dia meminta Taehyung mempertimbangkan untuk memajukan program kerjanya saja daripada memundurkannya dan Taehyung setuju.
Mereka bergiliran mandi dengan tertib, Jeongguk yang terakhir karena dia memilih untuk berguling di kasur saat semua orang bersiap-siap. Akhirnya saat Heechul tiba untuk membantu, mereka semua sudah siap untuk berangkat. Bapak mendampingi mereka saat para dokter hewan mulai memilah-milah alat mereka dan menggendong tas yang terisi obat dan jarum-jarum suntik sekali pakai.
“Dosisnya sudah saya atur sesuai kebutuhan,” kata Seokjin pada adik-adik tingkatnya. “Kalian sudah paham dosis untuk ukuran ternak, 'kan? Jadi seharusnya tidak masalah. Sudah tahu caranya menyuntik juga, 'kan?” Tambahnya setengah menggoda dan Namjoon serta Hoseok terkekeh mendengar gurauan itu.
“Baiklah, berarti semua oke.” Seokjin kemudian mengangguk pada Taehyung.
“Baiklah, terima kasih, Kak Seokjin.” Taehyung mengangguk lalu menatap teman-temannya yang sekarang sudah mengenakan jas almamater mereka, seragam resmi yang harus mereka gunakan tiap kali keluar dari pondokan untuk program kerja dengan kartu identitas yang menggantung di leher.
“Teman-teman, mohon bantuannya hari ini untuk prokerku dan Jeongguk.” Katanya sementara di sisinya, Jeongguk masih merokok bersikap seperti calon wakil presiden mendengarkan pasangannya berpidato. “Jika nanti proker berjalan dengan mulus Jeongguk akan mentraktir kita semua ayam lalapan di depan Pasar Wedi.”
Jeongguk tersedak asap rokoknya sendiri. “Hah?” Katanya namun sebelum dia sempat mengatakan apa pun, semua orang mengaminkannya.
“Asyik, terima kasih, Jeongguk!”
Jeongguk memicingkan matanya, melirik Taehyung yang balas menatapnya, tersenyum lebar. “Tenang, kubantu.” Katanya menepuk bahu Jeongguk hangat sebelum berpisah.
Semua perempuan dan dokter hewan naik ke atas, bersiap menunggu para pengendara motor yang akan membonceng mereka berkeliling desa untuk menyuntikkan vaksin dan vitamin untuk ternak warga desa.
Taehyung sudah tahu hari itu akan sangat melelahkan namun toh dia masih saja kaget saat harus menghadapi ternak. Seokjin di lain sisi, terlihat sangat tenang saat bertemu hewan yang menatapnya tidak suka, dia menepuk-nepuk bahunya, mengobrol dengan pemilik ternak yang berdiri di sisi hewan itu agar dia tidak mengamuk lalu Seokjin menyuntiknya begitu saja.
Taehyung yakin si sapi tidak sempat merasakan apa pun. Seokjin kemudian menepuk-nepuk bagian yang disuntik dan kembali menutup ujung jarum suntiknya sebelum berpamitan. Dia mengenakan kemeja tebal cokelat dan sepatu karet yang akan melindunginya dari kotoran hewan yang dihampirinya.
Mereka berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, Seokjin mendengarkan semua keluhan warga desa dan bangkan menerima beberapa pekerjaan dari mereka. Ada yang ternaknya sakit, ada yang akan melahirkan, dan macam-macam.
“Matur nuwun, ya, Mas. Berguna sekali programnya.” Kata seorang petani saat Seokjin menghampiri kambingnya yang mengembik marah. Jelas tidak suka pada Seokjin yang datang menyembunyikan jarum suntik di balik lengan bawah kanannya.
“Tenang,” Seokjin terkekeh, mengulurkan tangan dan sedetik kemudian dia sudah selesai memberi vaksin kambing yang mengembik marah—semakin jengkel karena dia merasa baru saja ditipu. “Sudah, Jagoan.” Katanya.
Taehyung tersenyum mendengarnya. Mendengar betapa warga desa sangat mengapresiasi bantuan mereka membuatnya senang. Ternyata mereka datang ke desa ini tidak hanya menjadi tamu yang menyusahkan, mereka melakukan sesuatu yang membuat warga desa merasa tertolong. Hati nurani Taehyung merasa baru saja disuapi dengan nektar manis.
Medan yang mereka tempuh benar-benar mengerikan. Syukurlah hari itu Taehyung menggunakan motor Jeongguk karena Bapak memperingatinya tentang medan lokasi yang menjadi tanggung jawab Taehyung. Mereka melewati jalan becek berbatu, hutan bambu mengerikan yang membuat Tzuyu mengerang, tanjakan sempit yang curam, jalan kecil dengan jurang tinggi di sisinya, bahkan satu rumah yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Mereka memarkir motor mereka sekitar 1 kilometer dari rumah penduduk itu dan berjalan kaki, melewati jalanan kecil yang sudah diperhalus dengan campuran semen namun beberapa bagian sangat licin karena lumut tebal yang tumbuh subur. Mereka berjalan pelan-pelan, mempertimbangkan setiap langkah agar tidak terpeleset. Tzuyu berjalan di depan Taehyung agar dia bisa menangkapnya jika gadis itu terjatuh. Bapak dan Seokjin berjalan di depan, membicarakan ternak dengan akrab.
Taehyung melewati jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu orang, berbatu kapur tajam dengan pemandangan lepas kota yang sangat indah dikejauhan hingga mereka semua berhenti sejenak—menikmati pemandangan itu dan desau angin yang gemuruh. Rumah-rumah penduduk nampak seperti titik-titik putih di kejauhan, pandangan mereka lepas tanpa batas hingga ke garis horizon yang lenyap di kejauhan.
“Indah sekali,” bisik Tzuyu di sisinya, mengangkat ponsel dan mencoba mengabadikan pemandangan itu namun dia berdecak kecewa; kamera ponsel sekali pun tidak bisa menangkap keindahannya dengan sempurna.
Seokjin tertawa di sisinya, “Memang ada hal-hal yang sebaiknya dinikmati dengan mata telanjang alih-alih diabadikan dengan kamera, ya, 'kan?” Ujarnya tersenyum pada Tzuyu yang mendesah sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah warga itu.
Rumah terakhir mereka cukup sederhana, namun sudah berkeramik dan memiliki atap permanen. Bapak langsung menyapa tuan rumah yang mengantar mereka ke kandang sapinya. Seokjin langsung melakukan kebiasaannya yang sejak tadi diamati Taehyung; dia mendekat, menenangkan hewan yang ketakutan dengan tepukan sayang di bahunya lalu menyelipkan vaksinnya begitu saja. Lalu menepuknya sayang kembali.
Dia bekerja dengan sangat efisien, cepat dan tepat. Tidak membuang-buang waktu sama sekali. Mereka berhasil menyelesaikan semuanya dengan waktu lebih singkat sehingga Seokjin bisa membantu teman-teman mereka; mengambil beberapa rumah lagi di sekitar mereka untuk menghabiskan sisa vaksin di tasnya.
“Jadi, sudah berapa lama kau dan Jeongguk?” Tanyanya saat mereka berjalan kembali ke tempat motor mereka diparkir.
Taehyung mengerjap, tidak menyangka Seokjin akan menanyakan ini padanya. “Kami tidak pacaran.” Katanya tertawa kecil walaupun jantungnya berdebar—Seokjin tidak mengincar Jeongguk, 'kan?
Taehyung berhenti tertawa saat menyadarinya. Ketakutan merayap di punggungnya, seperti ratusan semut. Dia menyukai Yoongi, 'kan? Dia tidak bertanya pada Taehyung karena dia ingin mendekati Jeongguk, 'kan?
Mampus. Taehyung sepertinya salah menjawab. Kenapa dia tidak bilang saja bahwa dia dan Jeongguk sepasang kekasih bahagia yang langgeng dan akan menikah begitu mereka tamat kuliah? Kenapa dia harus bilang mereka tidak pacaran dan memberikan akses pada Seokjin jika dia memang berniat mendekati Jeongguk?
Bodoh. Taehyung bodoh!
“Oh, kalian tidak pacaran?” Tanyanya dengan tertarik dan Taehyung ingin menangis.
Habis sudah. Jika dia harus bersaing dengan dokter muda tampan dan menarik seperti Seokjin, dia mungkin harus mundur. Karena siapa saja yang berakal sehat tentu akan memilih Seokjin. Tampan dan mapan. Tidak perlu ditanyakan lagi.
Dia tertawa kecil, menggaruk tengkuknya. “Yah, begitulah.” Dia memutar otaknya, dia ingin memamerkan betapa mereka dekat tanpa benar-benar terdengar seperti pamer. Ingin menggambar garis tebal antara Seokjin dan dirinya jika mereka memang akan bersaing memperebutkan Jeongguk.
“Kami menunggu penarikan KKN agar tidak membuat suasana KKN keruh.”
Sempurna.
Dia terdengar santai namun juga teritorial. Memberi tahu Seokjin bahwa mereka memang sudah saling menyukai dan siap menjadi kekasih, hanya menunggu waktu yang tepat. Jadi sebaiknya Seokjin mundur dari arena karena Jeongguk milik Taehyung.
Walaupun lawannya dokter tampan dan mapan. Taehyung yakin dia punya sesuatu yang bisa membuat Jeongguk bertahan dengannya.
... 'Kan?
“Taktik yang bagus,” Seokjin mengangguk kalem. “Jika aku jadi kau, aku juga akan menunggu penarikan. Suasana pondokan bisa jadi agak kikuk jika kalian pacaran saat KKN. Memengaruhi penilaian antarindividu juga.”
Taehyung mengerjap. Hah?
“Lalu,” kata Seokjin, berdeham kikuk dan apakah Taehyung hanya berhalusinasi atau dokter muda itu nampak... merona? “Apakah kau tahu Yoongi sudah punya kekasih atau belum?”
OH!
Jeongguk menatapnya dengan mata memicing saat Taehyung tiba di pondokan, terakhir karena mereka menyelesaikan rumah-rumah terjauh membantu teman-teman mereka yang kewalahan.
“Sesuatu yang menarik terjadi saat proker?” Tanyanya sementara Taehyung melepaskan almamaternya yang terasa sangat bau keringat dan juga sepatunya. “Kau dan Seokjin?”
Alih-alih menjawab, Taehyung mengedikkan dagunya ke motor Jeongguk yang kotor karena cipratan lumpur. “Motormu kotor, maaf. Nanti akan kucuci,” katanya mendesah panjang duduk di kursi dan mengistirahatkan kakinya yang terasa lecet berjalan mengelilingi desa di atas bukit dengan medan ekstrim.
“Apa yang membuatmu tersenyum lebar?” Jeongguk berdiri di sisinya, bersidekap dengan kaus lusuh besar dan celana pendek favoritnya, nampak segar setelah mandi dan mencuci rambutnya.
Taehyung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menaikkan kacamatanya hingga ke kepala karena pangkal hidungnya terasa lelah sekali dan menatap Jeongguk yang nampak buram di matanya yang telanjang. “Penasaran, ya?” Godanya.
Jeongguk memutar bola matanya, jengkel. “Beri tahu saja,” keluhnya.
Taehyung terkekeh. “Aku ingin dicium, aku lelah. Kenapa aku diinterogasi seperti tersangka?” Rengeknya dan Jeongguk tertawa lirih, dia duduk di sisi Taehyung dan membiarkan pemuda itu bersandar di bahunya.
“Baumu seperti kandang kambing.”
“Wow. Trims, eh?”
Jeongguk tertawa, “Kembali kasih.”
Mereka bersidiam sementara di dalam anak-anak membersihkan diri. Sebentar lagi Taehyung dan Jeongguk harus memimpin evaluasi proker pertama mereka dan berterima kasih pada bantuan Namjoon serta menyelesaikan pembayaran. Tapi Taehyung lelah sekali.
“Kau yang pimpin evaluasi, ya?” Tanya Taehyung, memejamkan mata, menikmati aroma sabun Jeongguk yang sangat akrab dengannya setelah sekian hari tinggal di satu rumah.
“Oke,” Jeongguk mengangguk di sisinya. “Tapi beri tahu dulu apa leluconnya?”
Taehyung terkekeh, menegakkan tubuhnya. “Hanya Seokjin yang menyukai Yoongi. Ingin aku membantunya dengan memberikan nomor Yoongi untuknya tapi kukatakan padanya aku tidak bisa melakukan itu. Jika dia mau, dia harus memintanya pada Yoongi sendiri.”
Jeongguk tertawa serak, aroma tembakau menguar dari mulutnya dan Taehyung tidak sabar lagi hingga dia bisa mencium Jeongguk; merasakan betapa manis pekatnya rasa tembakau di rongga mulutnya.
“Aku pikir Seokjin menyukaimu.” Kata Jeongguk kemudian, menghela napas lega. “Aku memikirkannya sepanjang hari; bagaimana jika kau kemudian menyadari bahwa ternyata Seokjin jauh lebih memesona, tampan dan mapan. Dibanding aku atau begitulah, aku konyol sekali.”
Taehyung merona mendengarnya karena itulah yang persis dipirkannya tadi dan dia senang karena dia tidak merasakan ketakutan itu sendirian. Dia mendongak, menatap Jeongguk tanpa kacamatanya. Wajah Jeongguk samar-samar, seperti gambar yang diblur.
“Aku ingin sekali dicium, sekarang juga. Di sini.” Katanya berbisik, namun cukup keras untuk didengar mereka berdua dengan latar belakang suara berisik teman-temannya yang memasak dan berganti baju.
“Sungguh.” Tambahnya, tercekat—merasa sangat lega karena dia tidak ketakutan sendiri. Dia tidak merasa tidak percaya diri sendirian. Bahwa Jeongguk pun memiliki kekhawatirannya sendiri, kecemasan dan ketakutannya sendiri yang kebetulan sejalan dengan yang dipikirkan Taehyung.
Dan dia senang karena Jeongguk memilihnya, tetap memilihnya dibanding siapa pun.
Dia sungguh ingin menciumnya, dicium Jeongguk. Ingin memeluknya, ingin meremukkan tulang Jeongguk dalam pelukannya karena rasa lega yang membanjiri aliran darahnya sekarang membuatnya pening; kepalanya terasa begitu ringan hingga lepas dari lehernya.
Jeongguk tersenyum separuh, matanya menatap Taehyung sejenak lalu menyapukan tatapan hangat ke wajahnya—menatapnya seolah Taehyung adalah sebuah permata hilang dan langka yang baru ditemukan.
“Percayalah,” bisiknya serak dan dalam hingga Taehyung bergidik mendengar suaranya. “Kau tidak akan paham seberapa banyak yang kutahan saat ini. Agar tidak memelukmu, menciummu, menimangmu dalam pelukanku. Aku menderita sekali.”
Taehyung tertawa, matanya terasa panas karena kalimat Jeongguk terdengar jauh lebih indah dari kata cinta mana pun yang pernah didengarnya. “Kau jago bersilat lidah,” keluhnya.
“Kau lelah,” Jeongguk kemudian menempelkan telapak tangannya ke bibirnya, lalu membawa tangannya ke bibir Taehyung; memberikannya ciuman tidak langsung yang membuat Taehyung seketika tersenyum lebar. “Mandilah, lalu kita istirahat.”
Taehyung menatapnya, lama sekali hingga Jeongguk menaikkan alisnya, bertanya.
Kemudian Taehyung menempelkan telapak tangannya di bibirnya, lama dan dalam sebelum membawanya ke bibir Jeongguk. Menyampaikan ciumannya ke bibir Jeongguk yang meraih pergelangan tangannya dan mencium telapak tangannya, memejamkan matanya—mengambil semua ciuman itu utuh-utuh.
“Kau menggemaskan. Ada yang bilang padamu?” Katanya parau kemudian, masih menggenggam tangan Taehyung lembut.
“Ada.” Taehyung tersenyum lebar.
“Hm. Siapa?”
“Jeongguk. Anak Sastra Inggris. Kau kenal?”
“Tidak. Orangnya bagaimana?”
“Tinggi, tampan. Bertato. Keras kepala, seenaknya, berisik, makannya banyak, dan kentutnya bau. Kau tidak akan mau macam-macam dengannya.”
Jeongguk tertawa serak, “Kalau kau?”
“Aku malah ingin sekali dia macam-macam padaku.”
Jeongguk kembali tertawa serak dan Taehyung menimpali tawanya beberapa saat kemudian.
Langit Watugajah mulai merona menjadi jingga pudar, menghamparkan warna ungu gelap yang ditemani kerlip bintang. Mereka lelah sekali, rasanya seolah otot-otot mereka meleleh dari tulang karena seharian bekerja. Namun setidaknya, sekarang mereka sudah di rumah.
Satu program kerja selesai, masih ada tiga program kerja lagi.
Mereka harus bergegas.