Kuliah, Kerja, Nyantai / 64
cw // kinda scary , unedited .
Jeongguk terbangun karena hujan deras mengguyur pondokan.
Dia mengerjap, beradaptasi dengan cahaya yang minim dan mengulurkan tangan secara naluriah, mencari dan menemukan tangan Taehyung di kegelapan lalu mengaitkan jemari mereka. Dia menguap tertahan, sudah akan kembali tidur karena cuaca yang dingin saat dia merasa ingin buang air kecil.
Kandung kemihnya yang kurang ajar menjerit, tidak sudi diabaikan. Terasa nyaris nyeri dan membuatnya kesulitan tidur.
Jeongguk mendesah keras, akhirnya duduk dan menguap lebar. Kantung tidur jatuh teronggok di pangkuannya dan dingin langsung mengigit tubuhnya yang terbuka, dia tidak suka tidur dengan pakaian, gerah. Namun cuaca membuatnya meraih pakaian dan mengenakannya, dia bangkit, mendudukkan dirinya di atas kasur lipat.
“Kak Gguk? Kak Tae?”
Jeongguk menoleh, mendengar pintu kamar perempuan terbuka—menemukan Tzuyu menatapnya dalam balutan baju tidurnya. “Oh, hei.” Katanya serak, “Kau tidak bisa tidur?”
Tzuyu menggeleng, keluar dari kamar. “Kakak mau mengantarku ke kamar mandi tidak?” Tanyanya.
Jeongguk melirik jam dinding di atas televisi, pukul dua pagi tepat. Dia menoleh ke Taehyung yang masih terlelap, wajahnya tertutup sepenuhnya dengan kantung tidur, bibirnya terkuak sedikit dan dia mendengkur halus; suara dengkuran yang membuat siapa saja mengantuk. Namun tangan kirinya keluar dari resleting, terkulai di atas tikar—mereka semalam terlelap dengan jemari bertautan setelah mengobrol berbisik-bisik hingga mengantuk.
“Ayo. Kuantar.” Jeongguk berdiri, merapikan kausnya lalu mengangguk pada Tzuyu yang bergegas mengikutinya. Jeongguk mengenakan sandal jepitnya lalu melangkah di lantai tanah menuju dapur, jalan tembusan ke arah kamar mandi yang berada di luar rumah.
Hujan deras mendera atap dengan suara gemuruh, Jeongguk membuka pintu kayu yang diselot dan membiarkan Diwud masuk dan berteduh di dalam lalu menaungi kepala Tzuyu saat gadis itu berlari ke kamar mandi; dia menutup pintu kamar mandi dan Jeongguk berteduh di bawah atap dapur, menguap dan kedinginan terkena rembesan air hujan.
Kambing-kambing Bapak mengembik sesekali, mungkin terbangun karena suara hujan dan dinginnya cuaca karena hujan ini. Begitu derasnya hingga semuanya nampak putih.
Sudah dua hari ini Jeongguk selalu terbangun pukul dua pagi karena ingin buang air kecil. Mungkin karena kebiasaannya minum segelas air putih sebelum tidur agar perut bagian kirinya tidak nyeri. Maka semalam dia sengaja tidak minum air segelas penuh sebelum tidur—malas jika harus bangun dini hari pergi ke kamar mandi. Namun nihil, dia tetap terbangun.
Dia mendengar suara air yang mengucur saat Tzuyu buang air kecil lalu menunggunya dengan terkantuk-kantuk hingga Tzuyu membuka pintu, nampak sangat lega melihat Jeongguk masih di sana, menantinya. Jeongguk membantu Tzuyu ke pintu dengan aman.
“Kau tidak perlu menungguku, tidak apa-apa.” Katanya, melambaikan tangan pada Tzuyu yang mengangguk dan bergegs pergi dari sana—takut berlama-lama di luar.
Jeongguk masuk ke kamar mandi, menguncinya lalu buang air kecil seraya menguap keras. Dia menyiramnya, lalu keluar. Tidak merasakan apa pun walaupun anak-anak sering mengatakan jika mereka tidak suka kamar mandi. Momo nampak tahu sesuatu namun Yugyeom melarangnya mengatakan apa pun hingga setidaknya mereka kembali dari KKN.
“Jangan merusak kesenangan kita di sini.” Katanya serius dan semua anak setuju.
Jeongguk mengunci pintu, memanggil Diwud yang langsung mengekornya ke ruang tengah dan tidur di kakinya saat Jeongguk bergelung kembali ke dalam kantung tidurnya—sangat mengantuk hingga matanya perih. Dia meraih tangan Taehyung yang merasakan dingin tangannya dan terbangun.
“Maaf,” bisiknya serak dan geli saat Taehyung membuka matanya, seperti seekor bayi kucing yang baru membuka mata setelah dilahirkan. “Aku membangunkanmu, ya?” Bisiknya.
Taehyung menghela napas berat, tersenyum kecil. “Kau dari toilet lagi?” Tanyanya, mengusap tutup kepala kantung tidurnya hingga mata mereka bertemu di tengah keremangan.
“Iya,” Jeongguk menatapnya, mendesah senang saat Taehyung membelai punggung tangannya dengan ibu jari. Diwud mendengus di kakinya dan kembali lelap diiringi suara hujan yang deras. “Kembalilah tidur.” Bisiknya.
Taehyung mengangguk, “Selamat tidur, Gguk.” Bisiknya parau, kembali mengenakan tudung kepalanya dan Jeongguk menirunya.
“Selamat tidur, Tae.” Bisiknya serak.
Mereka kembali terlelap dengan cepat ditemani suara hujan. Lalu beberapa detik kemudian (atau mungkin begitu karena dia kebingungan dengan konsep waktu), Jeongguk berada diambang kesadaran dan tidak sadar saat dia mendengar suara motor menuruni jalan masuk pondokan. Motor berhenti, suaranya cukup keras ditingkahi suara hujan deras. Diwud di kakinya tidak bereaksi, namun kemudian terdengar gedoran di pintu depan.
Sekali.
Dua kali.
Namun Jeongguk tidak bisa memutuskan apakah dia sedang bermimpi atau tidak, dia mengerutkan alisnya; berusaha melawan selubung ketidaksadaran yang membungkusnya seperti embrio. Membuat semua suara terdengar teredam, seperti berada di dalam jeli yang membuatnya tidak leluasa bergerak. Gedoran terdengar lagi, kali ini mendesak.
Jeongguk ingin berteriak, “Ya? Siapa?” Namun tidak ada suara yang keluar. Dia mengamati ruangan; tidak yakin apakah dia sedang terkena sleep paralysis atau tidak. Lalu terdengar suara langkah kaki terseret mengitari rumah, ke arah pintu belakang.
Sejenak dia cemas, apakah dia sudah mengunci pintu belakang? Dan senang karena dia merasa dia sudah menyelotnya kembali. Apakah itu anak perempuan Bapak?
Anak tengah Bapak, Irma, bekerja di Klaten dan dia sering pulang malam. Dijemput Bapak di bawah tanjakan Clongop karena dia tidak berani pulang sendiri. Mendengar seseorang pulang pukul sebelas atau dua belas malam sudah menjadi rutinitas bagi Jeongguk yang adalah light sleeper.
Dia sering mendengar Irma pulang, melewati tempat tidurnya seraya berbisik pada Bapak yang mengekornya, membawa aroma jalanan yang pekat oleh asap kendaraan. Kadang bahkan membisikkan maaf saat Jeongguk membuka matanya.
“Maaf, Mas. Membangunkan, ya?” Katanya tiap kali Jeongguk terbangun karena kedatangannya dan Jeongguk tersenyum, menggeleng dan kembali tidur.
Namun dia ingat dia tadi terbangun pukul dua pagi, tidak mungkin Irma. Karena jika hujan deras, dia pasti akan menginap di rumah bibinya di Klaten. Terlalu bahaya untuk pulang dengan medan seekstrim itu dalam derasnya hujan. Maka Jeongguk yang setengah sadar mulai bertanya-tanya, siapa yang bertamu?
Dia tidak mendengar adzan Subuh, maka jelas bukan waktu bertamu yang layak.
Suara gedoran kini terdengar dari pintu belakang; sekali, tiga kali. Cukup keras walaupun suara hujan nyaris membuatnya tuli. Namun sekali lagi tidak ada yang bereaksi. Bahkan Diwud yang tertidur di kakinya. Maka Jeongguk memutuskan bahwa dia hanya bermimpi dan kembali tidur tepat saat dia mendengar suara terseok-seok mengitari rumah menuju pintu samping di sisi Taehyung.
Jeongguk berusaha menunggu, mendengarkan gedorannya namun dia terlalu mengantuk dan akhirnya terlelap begitu saja; tidak mengetahui bagaimana nasib Penggedor Misterius itu setelahnya.
“Sungguh??”
Jeongguk mengangguk, menggaruk kepalanya dan menyesap Energen yang barusan diseduhkan Yugyeom untuk mereka bertiga. Semua teman KKN-nya menatap Jeongguk, berhenti berkegiatan saat dia menceritakan kejadian semalam. Momo berhenti di tengah jalan menuju kamar mandi dengan kantung terisi produk perawatan wajahnya yang seabrek.
Tzuyu yang duduk di kursi mengerang mendengar kejadian malam itu, nampak paling takut karena kejadiannya setelah dia terbangun. “Persis setelah aku pipis??” Tanyanya.
Jeongguk mengangguk lagi, “Aku tidak yakin itu jam berapa tapi aku mendengarnya menggedor pintu depan lalu pintu belakang dan melangkah ke pintu samping,” dia mengerling pintu samping yang terbuka; memberikan mereka pemandangan ke jemuran yang terisi pakaian dalam mereka semua.
“Tapi aku ketiduran kemudian, tidak yakin apa yang terjadi padanya.” Jeongguk menggaruk telinga Diwud yang berbaring di kakinya, “Diwud bahkan tidak menggonggong. Padahal gedorannya lumayan keras, belum lagi suara motornya.”
“Mbak Irma?” Tanya Yugyeom, seperti yang diduga Jeongguk semalam; dia nampak paling ngeri. Bersyukur tidak terbangun sama sekali dan tidak memiliki kasus ingin buang air kecil setiap pukul dua pagi seperti Jeongguk.
“Itu pukul dua pagi,” tukas Jeongguk. “Jika memang dia, kenapa dia harus menggedor pintu depan? Mana mungkin dia tidak memiliki kunci pintu belakang?”
“Mbak Irma shift pagi kemarin, sudah di rumah pukul tiga sore. Aku bertemu dengannya saat pulang.” Sahut Dahyun, terseok-seok dari dapur dengan satu kaki yang invalid karena lukanya masih sangat basah, dia membawa gelas terisi Energen.
“Lihat,” Jeongguk menatap Yugyeom yang sekarang menatapnya ngeri. “Bukan, 'kan.” Dia menyesap sarapannya lagi; mereka sedang bersiap-siap menuju PAUD untuk menemani anak-anak belajar hari ini.
Mereka akan membuat prakarya hari ini dengan guru mereka. Kemarin Dahyun menghadiahi mereka meja lipat baru dan juga lilin permainan (program kerjanya) yang membuat mereka senang sekali. Dahyun juga membelikan krayon-krayon baru yang langsung digunakan anak-anak saat itu juga, bahkan menolak untuk ditinggalkan di sekolah.
“Bagaimana bisa kau tidak takut?” Tanya Taehyung di sisinya, sedang merapikan rambutnya dengan sedikit gel rambut. Kacamatanya tergeletak di dekat kakinya.
Jeongguk mengedikkan bahunya, “Aku penakut, sungguh. Hanya saja tadi malam aku benar-benar tidak bereaksi sama sekali. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar mendengarnya atau hanya mimpi.”
Dan setelahnya, dia bertemu Ibu yang sedang menyiangi rumput hasil menyabitnya hari itu untuk diberikan ke ternaknya dalam perjalanan menuju PAUD dan memutuskan untuk bertanya, membiarkan teman-temannya mendahuluinya.
Jeongguk butuh jawaban.
Dia membantu Ibu seraya bertanya, “Ibu, semalam ada tamu, ya?”
Ibu mendongak, nampak heran. “Tamu?” Ulangnya. “Siapa, ya?”
Jeongguk mengangguk, memisahkan rumput gajah dan benalu yang bisa membuat ternak sakit perut. “Semalam, mungkin pukul dua atau tiga pagi, saya dengar ada yang datang. Dengan motor, menggedor-gedor pintu.”
Ibu mengerutkan alis, menyeka keringat dengan sarung tangannya yang kotor; membuat segaris noda di atas alisnya. “Tidak, Ibu tidak dengar siapa pun yang datang. Ibu pasti bangun jika ada yang menggedor pintu.”
Jeongguk mengerutkan alis, seharian bertanya-tanya apakah dia bermimpi atau tidak semalam. Dia menyelesaikan bantuannya untuk Ibu yang berterima kasih lalu melangkah ke PAUD, menyusul teman-temannya. Dia tiba saat anak-anak sedang duduk di kelas dan berdoa bersama.
Langsung mendudukkan diri di sisi Taehyung yang membenahi kacamatanya, nampak segar dan harum setelah mandi. “Hai.” Katanya berbisik sementara guru PAUD mengajak mereka bernyanyi.
“Hai. Apa yang menahanmu?” Balas Taehyung tanpa menoleh, dia bertepuk tangan mengikuti irama lagu.
“Aku bertanya pada Ibu tentang tamu semalam tapi katanya tidak ada.” Jeongguk menjawab dan Yugyeom yang duduk di sisinya melirik ngeri, mulai ketakutan—tidak sulit membuatnya takut, sungguh.
“Mungkin kau mimpi?” Sahut Taehyung, menaikkan kacamatanya.
Jeongguk mengerutkan alisnya, dia yakin dia mendengar suara itu jelas sekali. Suara motor yang mendekat, suara gedoran itu—berkali-kali, tidak hanya sekali. Dia bahkan mendengar suara langkah kakinya di tengah hujan. Bagaimana mungkin dia hanya bermimpi?
“Jangan dipikirkan,” bisik Taehyung saat anak-anak mulai berpencar untuk membuat prakarya dan teman-teman mereka mulai memilih anak untuk ditemani. “Mungkin hanya imajinasimu saja. Karena suara hujan.”
Jeongguk mengerutkan alis, suara gedoran itu terlalu nyata untuk bisa jadi sebuah imajinasi karena suara hujan. Jeongguk menolak menerima bahwa dia berimajinasi. Dia bahkan masih bisa mendengar gedorannya jika memfokuskan diri pada kenangan semalam. Belum lagi suara motor bebeknya, rodanya yang menggerus tanah berbatu yang berkeretak.
Salah satu anak kecil perempuan tomboy yang sangat menyukai Jeongguk, Mutia datang membawa bukunya; nyengir memamerkan giginya yang busuk di bagian depan. Duduk di hadapan Jeongguk dan meletakkan buku serta krayonnya.
“Kak, ayo!” Katanya ceria.
Jeongguk terkekeh, mengusap rambutnya yang dicukur pixie dan beraroma pekat sampo bayi yang lembut. Senang melihat senyumannya yang lebar walaupun giginya keropos karena dia suka sekali makan permen.
“Ayo,” katanya kemudian sementara di sisinya, Taehyung menemani anak kecil gendut berpipi bulat, Dila yang sangat mengagumi kacamata Taehyung. “Kau ingin menggambar apa?” Tanyanya, merunduk ke buku yang dibuka Mutia di hadapannya.
“Kak Gguk bisa gambar kucing?” Tanyanya, mendongak menatap Jeongguk dengan matanya yang besar dan berkilauan.
Jeongguk mengangguk, “Tentu.” Katanya meraih pensil Mutia. “Kau ingin Kakak gambarkan kucing?”
Mutia mengangguk, menggunakan punggung tangannya untuk mengusap ingusnya yang meleleh dan Jeongguk terkekeh. Taehyung mendengarnya, merogoh saku jas almamaternya dan mengeluarkan tisu kemasan yang diterima Jeongguk.
“Ayo, sini.” Katanya menarik selembar tisu, “Buang ingusnya dulu.” Dia mengulurkan tangannya ke Mutia yang membawa wajahnya mendekat. Jeongguk meletakkan satu tangan di belakang kepala Mutia lalu menempelkan dua jari yang terbalut tisu di hidungnya. “Ayo, buang.”
Mutia membersit, keras dan panjang. Jeongguk terkekeh, mengelap hidungnya lalu membersihkannya sebelum melempar tisu bekas itu ke tong sampah di sudut ruangan.
“Enakan?” Tanyanya.
Mutia mengangguk, memberikannya senyuman lebar dengan gigi busuk itu lagi hingga Jeongguk seketika melupakan kejadian semalam.
Mungkin dia hanya mimpi.
Ya, mimpi.
Note.
Sungguh terjadi pada saya :“) Termasuk terbangun tiap jam 2 pagi dari awal KKN sampai penarikan. Nanti semuanya akan terjawab di akhir KKN itu apa, yaa, Momo yang bakal kasih tau :“)
Berhubungan dengan pintu samping weeee-ooo weeee-ooooo terus ada satu adegan horor lagi nanti, tapi gak kejadian sama kami. Nanti di beberapa chapter di depan.
loves, ire x