Kuliah, Kerja, Nyantai / 42


“Kita lakukan lima kali.”

Jeongguk mendesah, mulai merasa ini sangat kekanak-kanakan dan malas meladeni Taehyung dan keras kepalanya. “Sungguh?” Katanya dan Taehyung mengangguk.

Mereka berdiri di lapangan Realino Kampus 2 Universitas Sanata Dharma, dengan sekitar delapan bus yang sedang dipanaskan di sekitar mereka; siap mengangkut semua mahasiswa ke lokasi KKN masing-masing setelah upacara pelepasan yang dipimpin oleh rektor universitas dengan melepaskan beberapa ekor burung dara yang mengepak meninggalkan mereka, terbang ke langit.

“Bayangkan,” bisik Taehyung yang berdiri di depan Jeongguk, memundurkan punggungnya hingga mendekat ke Jeongguk saat mereka berbaris di depan panggung menyaksikan upacara pelepasan. “Burung dara itu terbiasa hidup dimanjakan. Diberi makan, dimandikan, dan di sayang sekarang harus mencari makan sendirian. Kasihan.”

Jeongguk mendongak, menatap burung dara yang sekarang turun terbang rendah hinggap di salah satu pohon perindang raksasa kampus mereka. “Bodoh,” dia melipat kakinya dan menyodok pantat Taehyung dengan lututnya hingga pemuda itu nyaris terjerembab menindih Yoongi di depannya.

“Dia pasti terbang kembali ke pemiliknya tahu.” Sahutnya lalu mengaduh keras tertahan hingga beberapa anak menoleh kaget saat Taehyung membalas tendangannya dengan menendang tulang kering Jeongguk. Kakinya terbalut Converse Chuck Taylor dengan sol yang terasa mengiris tulang kering Jeongguk yang masih berdenyut hingga sekarang.

“Mereka itu talent,” Yugyeom menjawab dari balik punggung Jeongguk. “Dipinjam untuk meramaikan hari ini. Lalu sekarang mereka terbang kembali ke pemiliknya. Kita semua ditipu.”

Jeongguk mengangguk serius. “Benar, 'kan, kataku.” Dia mengusap tulang keringnya yang berdenyut.

“Diam.” Desis Yoongi dan mereka bertiga langsung diam.

Lalu sekarang keduanya sedang sibuk memutuskan siapa yang akan mengendarai motor Jeongguk ke pondokan mereka. Yoongi, Yugyeom dan Dahyun berdiri di sekitar mereka, menunggu dengan tampang tidak habis pikir sementara Momo dan Tzuyu sudah masuk ke dalam bus, duduk manis mengawasi koper milik Dahyun dan sisa bawaan Yoongi dan memeluk helm mereka masing-masing.

“Kalian sungguh harus melakukannya, ya?” Tanya Yoongi, bersedekap.

Jeongguk mengedikkan bahunya, “Kau saja yang bawa, sudahlah.” Kata Jeongguk mengalah, memberikan kunci motornya ke Taehyung yang tersenyum lebar. “Kau memang setan kecil menyebalkan.”

Taehyung menjentikkan jarinya. “Aku tidak kecil.” Katanya lalu mengedip hingga Jeongguk tertawa, “Setidaknya di tempat yang khusus aku tidak kecil.”

Mereka kemudian bergegas menuju motor mereka. Motor Yugyeom sudah ditinggal di pondokan kemarin saat mereka menurunkan barang-barang untuk menghindari terlalu banyak motor yang berkonvoi di jalan. Dengan Momo dan Tzuyu di bus, jika mereka tetap membawa motor akan ada tiga motor kosong yang berkonvoi di jalan—Taehyung tidak suka konsep itu maka dia menyarankan Yugyeom meninggalkan motornya di pondokan terlebih dahulu. Dia dibonceng Dahyun hari ini, dengan motor Dahyun. Sehingga total motor yang berangkat di kelompok mereka ada tiga motor.

“Kalian mau sarapan?” Tanya Dahyun setelah bus-bus mulai berangkat meninggalkan selapis asap hitam tebal beraroma pekat solar dan mereka semua bersiap untuk menyusul busnya, bertemu di kelurahan lokasi KKN masing-masing untuk upacara penerimaan mahasiswa. “Aku punya rekomendasi soto lezat. Tempenya luar biasa.”

“Kita sebenarnya makan soto bukan untuk sotonya,” Yoongi terkekeh saat mengenakan helmnya. “Kalian sadar tidak kemarin di Soto Bathok kita semua makan tempe saja tiga puluh lima ribu??”

“Kasirnya kaget saat aku menyebutkannya.” Dahyun tertawa saat naik ke motor dengan Yugyeom.

“Jeongguk.” Taehyung menaiki motor Jeongguk, menyalakan mesinnya sementara Jeongguk naik ke kursi penumpang. “Dia yang makan paling banyak.” Taehyung meraih kick starter dan mengengkolnya hingga mesin menyala.

“Kita makan siang apa hari ini?” Tanya Jeongguk saat akhirnya mereka berangkat, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Taehyung walaupun Taehyung sudah bilang dia tidak suka itu, seperti tukang ojek. “Aku lapar.”

“Kita akan sarapan nanti di Kalasan.” Taehyung memutar bola matanya, geli mendengar keluhan lapar Jeongguk nyaris setiap saat. “Kau tidak bawa roti?”

“Tidak. Tidak suka roti, manis. Dan makanan manis membuatku semakin lapar.” Jeongguk mendesah, terdengar sangat sedih karena tidak bisa makan. “Nanti aku akan makan yang banyak.”

“Ya. Kau tenggak saja kuah sotonya langsung dari kendinya.” Sahut Taehyung, geli pada nafsu makan Jeongguk yang jika semakin diberi makan alih-alih kenyang dia malah semakin lapar. “Aku tidak akan melarangmu. Malah akan kuabadikan untuk kenangan pribadi.”

Mereka berkendara dengan santai, tidak terburu-buru dan malah membiarkan bus-bus Sanata Dharma mendahului mereka begitu saja karena mereka tahu dengan kekuatan jalan pintas, mereka akan tiba lebih dulu. Dahyun kemudian memberi tanda semuanya untuk berhenti di Soto & Ayam Goreng Mekar Jaya di wilayah Cupuwatu, Kalasan.

“Soto campur atau pisah?” Tanya Dahyun begitu Taehyung memarkir motornya di halaman parkir dan Jeongguk langsung melompat turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti.

“Campur.” Kata Jeongguk, “Dengan ekstra nasi.” Tambahnya, melepaskan helm dan mendesah. “Aku kelaparan.” Keluhnya saat bergegas masuk menghampiri Yoongi dan Yugyeom yang sudah duduk di meja makan mengunyah kerupuk rambak.

“Taehyung?” Tanya Dahyun.

“Campur.” Taehyung mengangguk, menarik kunci dari lubang starter lalu turun. “Mereka punya tempe?” Tanyanya tertarik, mengekor Dahyun yang memesan makanan. “Aku mau.”

Dahyun menambahkan pesanan itu. “Haruskah kita membelikan Momo dan Tzuyu?” Tanyanya kemudian, menoleh menatap Taehyung yang berdiri di sebelahnya, menghirup aroma lezat gurih kaldu soto dari kendi-kendi di depan mereka.

Taehyung lapar. Sangat lapar dan membayangkan semangkuk soto membuatnya semakin kelaparan. Dia butuh makan, Jeongguk benar. Dia bisa mati jika tidak makan.

“Pesankan saja. Dipisah, mereka belum makan. Jadi kita nanti hanya akan makan malam.” Taehyung mengangguk, menelan ludah karena tergoda aroma harumnya bawang goreng dan seledri yang dicincang. “Pesankan bungkus empat. Aku dan Jeongguk satu untuk makan siang.”

Dahyun mendengus geli, “Kalian makan seperti monster.” Komentarnya. “Kita harus menanak ekstra beras untuk kalian.”

“Masa pertumbuhan.” Taehyung nyengir sebelum beranjak ke meja mereka, menemukan Jeongguk berdiri beberapa meter dari mereka—mengamati ponsel dengan sebatang rokok di tangannya.

Taehyung langsung menyusulnya, merogoh waist bag-nya sendiri mengeluarkan sekotak Marlboro Ice Burst dan meraih sebatang. Jeongguk menyadari kedatangannya, mendongak dari ponselnya dan menyerahkan rokoknya ke Taehyung.

Taehyung batal meraih pematiknya, meraih rokok Jeongguk dan menyalakan rokoknya dengan bara api rokok Jeongguk. “Pacarmu, ya?” Tanyanya kalem; berusaha melakukannya dengan sehalus mungkin.

Alis Jeongguk naik sebelah, menerima rokoknya kembali. “Oh. Kau mengirimiku pesan?” Balasanya.

Taehyung berhenti, rokok menggantung di sudut bibirnya—menunggu untuk dinikmati sementara dia mengerjap. “Hah?”

“Oh, tidak, ya?”

Alis Taehyung mengerut, “Tentu saja tidak. Kita sedang bersebelahan.”

“Ya sudah,” Jeongguk mengedikkan bahunya kalem. “Berarti pacarku tidak mengirim pesan.”

Taehyung mengerjap lalu sedetik kemudian pemahaman melintas di kepalanya dan dia terkekeh, mulai menghisap rokoknya. “Kau pintar bersilat lidah.” Komentarnya sopan, menjentikkan abu rokoknya ke tanah.

“Aku juga pinta bersilat lidah secara harfiah.”

Taehyung meliriknya, mendapati Jeongguk sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Dia menyerigai. “Sulit memutuskan jika belum merasakannya sendiri.”

Jeongguk tertawa, asap rokok menyembur dari mulutnya; menciptakan kabut tipis di wajahnya sebelum angin menghapusnya dan mata mereka bertemu. “Percayalah,” katanya, menghisap rokoknya dalam-dalam. “I'd be more than delighted to show you.”

“Hei, Penghuni Neraka!” Seru Dahyun dari belakang mereka. “Ayo, makan!”

Keduanya mengerjap, menoleh bersamaan dan menemukan Dahyun berkacak pinggang di depan meja mereka dengan makanan tersaji di hadapannya. Mangkuk-mangkuk soto yang harum dengan asap tipis menguar di atasnya, piring nasi dan tempe goreng kecokelatan yang nampak sangat lezat. Keduanya bergegas menghisap sisa rokok mereka lalu menginjak puntungnya sebelum membuangnya ke tempat sampah.

Mereka makan dengan tenang, Jeongguk sibuk memindahkan isi piring ke mulutnya seperti bayi yang baru pertama kali makan MPASI. Mendesah panjang saat suapan pertama karena betapa lezatnya makanan itu terasa setelah sejak tadi menahan lapar. Mereka sedang bersantai, mengunyah kerupuk setelah menghabiskan makanan seraya menunggu soto untuk Momo dan Tzuyu dibungkus saat keduanya mengirimkan pesan di grup.

Kalian di mana?? Kami sudah dekat Balai Desa! Cepat nanti terlambat!

Modar!” Seru Yugyeom yang langsung mengawali kepanikan mereka. Semuanya bergegas menandaskan makanan yang tersisa. Jeongguk masih sempat menyambar dua potong tempe yang tersisa di piring, menjejalkan satu ke mulut Taehyung yang tersedak kaget.

“Sayang jika tidak dimakan!” Katanya, “Sudah dibayar!”

“Kau bajingan!” Taehyung mengayunkan kakinya, menendang pantat Jeongguk yang mengaduh geli namun tak ayal menerima tempenya. Mengunyahnya dengan ringkas sementara Yugyeom tertawa histeris yang muncul karena ledakan adrenalin mendadak.

“Sarapan, Bos!” Seru anak KKN lain yang lewat di depan mereka—mengenakan seragam dan almamater Sanata Dharma yang sama. “Awas terlambat!”

“Yoi, Bos!” Balas Jeongguk dan mereka tertawa, mengklakson mereka sebelum lenyap tertelan lalu lintas.

Jeongguk menandaskan suapan terakhirnya, bergegas menyambar tasnya dan melenting ke motornya. Dahyun bergegas menghampiri kasir, membayar makanan mereka dan merongrong pelayan untuk bergegas memberikan soto sisanya sebelum semuanya dengan tawa histeris langsung meluncur ke jalan raya, mengejar ketertinggalan mereka.

“Kau kelamaan makan!” Taehyung tertawa, mengoper gigi dan menyelip di lalu lintas Kalasan yang ramai lancar.

“Kau juga sibuk makan tempe garit!” Balas Jeongguk memukul helmnya hingga Taehyung tertawa keras.

Syukurnya, mereka tiba di Balai Desa persis saat DPL mereka datang. Mereka memarkir motor, berlari ke arah kursi-kursi dengan Momo dan Tzuyu yang nampak jengkel namun juga geli.

“Diam.” Jeongguk mendudukkan dirinya di kursi sebelah Momo yang sudah membuka mulutnya untuk mengomel. “Kami membelikan kalian soto.”

“Kalian sarapan??” Desis Tzuyu, terkhianati. Menatap mereka dengan wajah terluka yang sangat dramatis hingga Jeongguk menjulurkan tangan dan menarik ikat rambutnya lepas untuk membuatnya jengkel. “Sungguh??”

“Kami sudah membelikan kalian, oke?” Dahyun tertawa geli, masih terserang histeria karena mereka melaju seperti kesetanan karena terlalu lama bersantai di warung soto, terlalu menikmati waktu.

Taehyung di sebelah Jeongguk melambaikan kantung plastik hangat terisi soto. “Aman. Nanti tinggal dihangatkan. Ada tempe juga.”

Momo menatap mereka, matanya terpicing—masih merasa tidak terima namun akhirnya diam saat Kepala Desa datang dan memulai acara yang membuat Jeongguk mengantuk di kursinya. Dia bertukar tempat dengan Taehyung, berharap bisa menahan kantuknya namun angin semilir dan suasana panas serta perut yang kenyang membuatnya semakin mengantuk.

“Ah, aku ngantuk.” Keluhnya, membelai perut buncitnya dengan sayang menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kayu yang digunakannya.

“Berhenti merengek seperti bayi.” Sahut Taehyung, menepuk perutnya keras hingga Jeongguk mengaduh.

“Mereka akan melakukan upacara penangkapan burung dara tidak sebagai simbolis menerima kita?” Tanya Yugyeom serius dan Yoongi sudah nyaris melepas sepatunya, menggunakan solnya untuk menampar Yugyeom.

Jeongguk menjentikkan jarinya, memasang ekspresi kaget jenaka saat menatap Yugyeom yang langsung berkata, 'benar, 'kan???' “Kenapa tidak terpikirkan, ya?? Keren!” Dia mengulurkan tangan, bertukar high five dengan Yugyeom.

Acara penerimaan hanyalah penyerahan map kosong dan jabat tangan antara Kepala Desa dan Dosen Pembimbing Lapangan mereka. Lalu mereka diberikan arahan untuk bersikap baik dan sebagainya sebelum dipersilakan berangkat ke pondokan masing-masing.

Lalu ketujuhnya diam saat menyadari sesuatu saat menatap tiga motor yang terparkir di hadapan mereka.

”.... Lalu aku dengan siapa!?” Tanya Tzuyu, mengerang keras saat menyadari semua orang menaiki motornya dan dia tidak memiliki teman; dia nampak jengkel namun juga geli—sepertinya tidak pernah ada yang benar-benar tersinggung di kelompok mereka tentang apa pun. “Motornya cuma tiga!”

“Aku lupa kelompok kita ganjil!” Yugyeom mulai tertawa dan semuanya ikut tertawa karena mereka benar-benar melupakan ini. Dahyun menepuk Tzuyu sayang dan meminta maaf. “Kau tunggu di sini sebentar, ya? Aku akan mengantar Mbak Momo ke pondokan lalu menjemputmu turun.” Katanya.

“Tidak, tidak.” Jeongguk langsung turun dari motornya, menggeleng—tidak suka konsep meninggalkan perempuan sendirian di Balai Desa yang mulai sepi. “Kau naiklah dengan Taehyung. Aku akan menunggu di sini. Tidak apa-apa, 'kan, sesekali naik KLX?”

Tzuyu menatapnya sejenak lalu mengangguk, “Maaf, ya, Kak.” Katanya, mengenakan helmnya yang tadi dibawanya di bus. Dia kemudian memanjat naik ke motor Jeongguk, memegang bahu Taehyung.

“Tidak apa-apa, santai saja.” Jeongguk melambai santai. “Nanti jemput aku, ya?” Katanya pada Taehyung yang mengangguk. Dia menyalakan sebatang rokok, melambai saat teman-temannya beranjak berlalu dari Balai Desa menuju pondokan mereka.

Dan dia masih merokok saat Taehyung kembali untuk menjemputnya, bermain game di ponselnya berjongkok di depan toilet kantor Balai Desa. Taehyung tertawa dan berhenti di depannya.

“Ayo,” ajaknya, tersenyum lebar.

Jeongguk mendongak, rokok menggantung di bibirnya dan dia mendesah. “Aku harus makan.” Katanya, mematikan rokoknya lalu membuang puntungnya ke tong sampah toilet di belakangnya. “Aku kelaparan. Aku akan mati sebentar lagi.”

“Berhenti bersikap dramatis,” Taehyung menurunkan standar motornya dan mempersilakan Jeongguk mengendarainya karena dia lelah. Jeongguk menaiki motornya, mengengkolnya hingga menyala sebelum mengenakan helmnya.

“Tzuyu sedang menghangatkan sotomu saat aku berangkat, kau bisa langsung makan.” Taehyung naik ke jok belakang.

“Anak manis dia itu,” Jeongguk berkata kemudian; entah kenapa ingin menjelaskan tindakannya tadi kepada Taehyung. “Terlalu terkenal dan terlalu cantik hingga dia kerepotan sendiri. Dia banyak membantuku semester kemarin mengejar ketertinggalanku di kelas dan nampaknya sangat senang memiliki teman yang berteman dengannya bukan karena tampang atau status sosialnya, jadi aku sangat menghargai bantuannya.”

Jeongguk mendengar senyuman Taehyung saat dia melaju membelah jalanan menuju pondokan mereka, menuju tanjakan Clongop yang legendaris. “Dan kenapa kau menjelaskannya padaku?” Tanyanya.

Jeongguk berdeham, “Entahlah?” Katanya, hatinya berdebar. “Aku tidak ingin kau salah paham tentang kebaikanku padanya atau apa.”

“Bung,” Taehyung tertawa ceria, menepuk bahu Jeongguk akrab dan hangat. “Butuh lebih banyak dari sekadar mengalah dari perempuan karena motor kurang untuk membuatku cemburu, Jeongguk. Kupikir kau sudah tahu itu.”

Jeongguk menyerigai. “Semakin hari,” katanya mengoper gigi, bersiap untuk menundukkan tanjakan tidak berakhir Clongop. “Kau semakin membuatku terpesona karena tingkat toleransi dan kesantaianmu menghadapi banyak hal.”

“Aku pernah dekat dengan seorang top dom dan aku sungguh tidak mau mendapatkan hal merepotkan seperti itu lagi dalam hidupku. Santai saja denganku. Dan aku juga suka Tzuyu, anak manis dan sopan.”

Jeongguk menyerigai saat dia menatap jalan di hadapannya. “Kau mau membahas preferensi seks di sini, sekarang?” Godanya saat mereka menanjak di tanjakan terakhir dan yang tertinggi.

“Aku hanya bilang.”

“Baiklah. Aku hanya bertanya, kok. Tidak perlu defensif.” Jeongguk kemudian mengoper giginya lagi begitu tanjakan selesai. “Jadi, kau top atau bottom?”

“Sungguh, Jeongguk??”

“Hei! Aku hanya tanya!”

“Tidak benar-benar peduli,” sahut Taehyung kemudian terkekeh, mengendikkan bahu saat mereka meluncur di jalanan menuju pondokan mereka yang asri. Hawa sejuk meniup wajah Taehyung dan membuatnya mendesah senang. “Atas bawah sama saja, yang penting nikmat.”

Jeongguk tertawa, keras sekali hingga Taehyung akhirnya menimpali tawanya. Motor meluncur, melewati lembah dan bukit sebelum Jeongguk berbelok ke kiri di pertigaan pertama dan mengklakson teman KKN mereka yang mengenakan almamater sama, berdiri di depan pondokan mereka—sedang membereskan barang bawaan.

“Setuju.” Katanya, menolehkan wajahnya hingga sudut matanya menangkap wajah Taehyung. “Atas bawah penting enak pokokmen.”

Mereka memasuki jalanan rindang yang nyaris tidak tertembus sinar matahari karena rimbunnya pepohonan saat akhirnya mereka melihatnya; jalan turunan curam dengan papan nama 'Ketua RT 10 dan Ketua Kelompok Tani' dan penanda berwarna jingga norak dengan tulisan, 'Pondokan KKN USD' yang dipasang Yugyeom kemarin sebagai penanda lokasi mereka sehingga nantinya pihak universitas bisa menemukan pondokan mereka dengan mudah.

Jeongguk memelankan motornya.

Jeongguk serius tentang bagaimana semakin hari, dia semakin menemukan hal menarik di diri Taehyung yang entah bagaimana sinkron dengan hal yang disukainya. Taehyung tidak berhenti membuatnya terkejut dengan cara yang menyenangkan. Semakin membuatnya yakin dia akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan Taehyung setelah KKN dan cukup lama hingga seumur hidup.

Motor menuruni tanjakan curam yang berlumut sementara anjing bapak pondokan mereka, Diwud yang berwarna putih-cokelat menggonggong mereka ceria; sudah berkenalan saat kunjungan mereka terakhir. Di halaman sudah terparkir motor mereka semua. Pintu utama dibuka dan Taehyung melihat teman-temannya sedang membereskan barang-barang bawaan mereka, menata tempat itu agar nyaman ditinggali untuk satu bulan lamanya.

Jeongguk mematikan motornya, Taehyung turun dari motor dan melepas sepatunya. “Kami kembali.” Katanya dan Tzuyu melongok dari kamar perempuan.

“Kak Gguk, aku sudah hangatkan sotonya.” Katanya, nampak bersalah karena Jeongguk harus menunggu di Balai Desa demi dirinya. “Makanlah!”

“Santai. Trims, Tzu.” Jeongguk melambai, meletakkan helmnya dan Taehyung di kursi depan dan melepas sepatunya. Dia menyugar rambutnya, berdeham serak—hal yang disadari Taehyung selalu dilakukannya sebagai efek merokok.

Dia kemudian melangkah menuju kamar lelaki dan membuka pintunya, mendapati Yugyeom dan Yoongi sedang berbaring di kasur—kelelahan. “Minggir! Aku mau berganti baju.” Katanya, menendang kaki Yugyeom yang balas menendangnya.

Taehyung berdiri di depan pintu, menyadari ruangan itu terlalu sempit untuk empat orang lelaki. Maka dia mengalah, pergi ke ruang utama dan melepaskan almamaternya yang terasa panas menyesakkan lalu melepas celana jinsnya. Di dalamnya, dia mengenakan celana pendek sejuk yang terasa begitu menyegarkan. Di sana sudah ada satu kasur gulung tipis dari ibu pondokan dan dua kantung tidur, yang akan dirinya dan Jeongguk gunakan malam ini.

“Gguk,” katanya saat meraih celananya dan akan menjemurnya di penjemuran di samping rumah. “Kau mau makan tidak?”

Dan Taehyung memilih waktu yang salah untuk menoleh karena Jeongguk sedang berdiri di depan pintu kamar lelaki, menarik kausnya lepas dari atas kepalanya. Rambutnya meluruh di tengkuk dan dahinya, berantakan.

Taehyung menahan napasnya.

“Makan,” katanya mengangguk, menggaruk tengkuknya dengan kaus di tangannya. “Bolehkah jika aku minta nasi dari Ibu?” Tambahnya, berbalik ke kamar untuk meraih kaus di tasnya.

Dia mengenakan celana pendek yang sejuk dan sekarang berdiri di sana bertelanjang dada. Bukan perutnya yang agak buncit yang membuat Taehyung terpana, tapi karena ada tato di dadanya, tempat di atas ulu hatinya seukuran telapak tangan.

Tato di atas paha atasnya mengintip dari balik garis celana pendeknya dan sekarang dia juga memamerkan tato di dadanya. Taehyung mulai tidak yakin apakah otaknya masih berfungsi setelah ini. Dan apakah KKN mereka akan berakhir dalam damai atau dalam kekacauan—kekacauan yang disukai Taehyung, tentu saja.

Dia berdeham, setelah berhasil mengalihkan pandangan dari tato yang tergambar permanen di atas kulit Jeongguk yang putih, kini kemerahan karena panas.

“Kau punya berapa tato?” Tanyanya sopan, memalingkan wajah saat Jeongguk memasukkan kepalanya ke kaus, takut Tuhan akan mencatatnya sebagai dosa jika dia menatap lebih lama lagi.

“Tiga.” Katanya, menyugar rambutnya—tersenyum lebar, nampak sangat senang karena Taehyung bertanya. “Kau mau tahu yang ketiga di mana, tidak?”

MAU! “Tidak, terima kasih.” Sahutnya kalem, walaupun jantungnya melonjak ceria seperti seekor kelinci; tidak sabar untuk tahu di mana tato ketiga Jeongguk bersembunyi. “Keberatan jika aku mencarinya tahu keberadaannya sendiri?” Dia menaikkan sebelah alisnya, tersenyum separo.

“Oh, sama sekali tidak.” Jeongguk menyodok bagian dalam pipinya, tertantang. “Aku akan mempersilakanmu menemukannya. Gunakan waktumu sebaik mungkin, kita punya tiga puluh hari.”

Taehyung mendengus, “Lebih dari cukup.”

“Berhenti mengumbar sexual tension!” Seru Yoongi dari dalam kamar, berdecak keras dan Yugyeom tertawa. “Pergilah makan atau beri makan sapi Bapak, sana. Buat diri kalian berguna!”

Jeongguk dan Taehyung tertawa.

KKN mereka resmi dimulai hari ini.