Kuliah, Kerja, Nyantai / 35


Hal yang disadari Jeongguk hari ini adalah dia benci dibonceng dengan motor besar.

Punggungnya nyeri, terpapar angin karena Taehyung otomatis membungkuk saat mengendarai motornya dan jangan lupakan betapa trauma pantatnya yang agung karena duduk di jok yang tipis selama perjalanan pulang-pergi Yogyakarta-Gunung Kidul.

Benar kata orang, naik motor besar itu yang masuk angin bukan pengendaranya melainkan penumpangnya.

Itulah yang Jeongguk rasakan selama satu setengah jam dalam perjalanan, untung dia mengenakan helm full face sehingga setidaknya wajahnya sedikit terlindung dari angin jalanan sementara Taehyung membungkuk di depannya, mengendarai motornya dengan tangkas.

Mereka sekarang berhenti di kampus, semuanya memesan bakso Dab Supri sebelum berkumpul di panggung Realino hendak membicarakan hasil survei mereka hari ini. Mereka tadi sudah mengunjungi calon pondokan mereka diantar oleh Pak Dukuh.

Rumah pondokan mereka berada jauh di bawah jalan utama, menuruni jalan curam dari beton dengan pemandangan lepas ke lembah yang indah dengan tiga gunung yang mengintip. Rumahnya asri, sejuk karena bentuknya joglo dengan kandang sapi yang terletak di sebelah rumah. Tidak buruk, begitu pikir mereka.

Setidaknya mereka punya kamar mandi tertutup, itu saja sudah merupakan sebuah kemewahan untuk mereka.

Para perempuan senang saat melihat kamar mandinya walaupun lokasinya di luar rumah bapak pondokan mereka yang juga ketua RT 10. Di belakannya ada jurang yang memamerkan pemandangan Yogyakarta yang indah diapit oleh semak bambu gemerisik yang membuat Yugyeom, Taehyung dan Jeongguk langsung yakin mereka tidak akan sudi pergi ke kamar mandi malam-malam.

Ruang tidur mereka nyaman namun tempat untuk lelaki terlalu sempit sehingga Jeongguk dan Taehyung sepakat mereka akan tidur di ruang tengah saja dengan kantung tidur alih-alih berdesakan di kamar yang kecil. Bapak pondokan mereka mengatakan bahwa selama mereka menerima anak-anak KKN, kelompok merekalah kelompok pertama yang memiliki jumlah anak lelaki paling banyak.

“Biasanya maksimal hanya dua orang,” kata beliau saat anak-anak duduk di ruang tengah. Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom berebut onde-onde mekar besar yang luar biasa lezat yang disajikan calon ibu pondokan mereka seperti tiga bayi tuyul menyebalkan.

“Apa, sih, masalah kalian??” Yoongi melerai mereka jengkel sementara para perempuan menahan tawa, kemudian menyambar plastik terisi onde-onde dan membagnya sama rata untuk mereka. “Diam semuanya. Dengarkan orang tua sedang bicara.”

Ketiganya diam, dengan masing-masing sepotong onde-onde di mulut mereka—tenang setelah mendapatkan apa yang mereka mau seperti bayi yang mendapatkan dot terisi susu mereka.

Jeongguk pribadi tidak masalah, dia bisa tidur di mana saja selama dia punya bantal guling. Maka dia dan Taehyung tadi sudah berdiskusi akan mencari pinjaman kantung tidur untuk mereka gunakan selama KKN. Dahyun mengklaim kekasihnya yang anak gunung punya kantung tidur yang belum akan dipakai dan akan membawakannya.

“Jadi positif,” kata Yugyeom dengan Tzuyu di sisinya, siap mencatat hasil rapat mereka hari ini di Panggung Realino yang ramai oleh anak-anak UKM dan juga kelompok-kelompok KKN lain yang baru kembali survei lokasi.

Jeongguk sedang menyuap isi mangkuk mie ayam bakso keduanya bersama Taehyung yang juga kelaparan sementara teman-temannya bersiap mendegarkan. Makanan itu terasa seperti surga setelah berkendara jauh, Jeongguk menjejalkan makanan ke mulutnya seperti kesurupan.

“Kita akan menggunakan fermentasi pakan ternak sebagai proker utama kelompok.” Yugyeom mengangguk, membaca catatannya di buku tentang hasil diskusinya dengan bapak pondokan mengenai kemungkinan proker mereka.

Tadi mereka juga diajak keliling desa; diantar ke Masjid tempat anak-anak suka berkumpul jika ada les dari anak-anak KKN, Posyandu yang juga menjadi Paud dengan sepuluh siswa dan satu guru (anak perempuan tidak sabar untuk bertemu murid-murid itu), rumah-rumah para ketua RT lainnya dan juga salah satu daya tarik wisata mereka, Flying Fox Green Village.

Mereka sempat mampir ke sana tapi tidak naik flying fox-nya karena tidak membawa uang tunai untuk membayar dan memutuskan puas hanya dengan befoto-foto dan menikmati semilir angin. Pemandangan lembah hijau dan juga berburu murbei hitam yang ditanam sebagai perindang di sekitar sana.

“PUNYAKU!” Jeongguk menyambar murbei terbesar yang ditemukannya di pohon di belakang balai tempat mereka bersantai dan harus mengerahkan kelincahannya untuk berlari dari kejaran Momo, Tzuyu dan Dahyun yang merasa melihat buah itu pertama.

Jeongguk benar-benar meladeni mereka berlari menaiki tebing-tebing alami yang dibentuk seraya tertawa mengejek—tahu dia lebih unggul dalam hal ini, mengalahkan merek karena dia memanjat seperti seekor monyet yang cerdas dengan kakinya yang panjang.

Mereka kembali ke Yogyakarta dan memutuskan untuk menyelesaikan diskusi hari itu juga sehingga proposal bisa segera dinaikkan ke LPPM. Bapak pondokan mereka menyambut positif ide mereka tentang pakan ternak, mengiyakan saat Yugyeom menyinggung masalah kesulitan pakan saat musim kemarau.

Gunung Kidul terkenal sebagai tempat yang gersang dan kesulitan air karena terletak di wilayah geografis yang tinggi dikelilingi perbukitan gersang dengan musim panas yang jauh lebih panas dari wilayah Yogyakarta mana pun dan musim hujan yang lebih pendek. Saat mereka KKN nanti di bulan Februari, musim seharusnya hujan namun saat mereka berkunjung panasnya bukan main.

“Mungkin kita bisa mulai mengumpulkan hal-hal apa saja yang mungkin kita butuhkan?” Yugyeom kemudian mengamati catatannya. “Besok aku dan Kak Yoong akan survei harga drum plastik biru untuk fermentasinya.”

“Aku semalam menghubungi temanku,” kata Taehyung di sisi Jeongguk yang masih menjejalkan mie ayam ke mulutnya dengan khidmat, berpikir apakah dia harus memesan bakso lagi karena dia merasa sangat lapar.

“Dia jurusan Kedokteran Hewan dan dia bilang dia paham sedikit-banyak tentang pakan fermentasi ini. Jadi mungkin nanti akan kutanya lebih banyak dengannya dan dia juga bersedia datang ke pondokan kita saat eksekusi proker utama untuk membantu, kau tahu, tentang komposisi dan sebagainya.”

Yugyeom mendesah, menatap Taehyung seolah dia adalah seorang malaikat. Jeongguk setuju, karena dia memang malaikat. Malaikat tampan tangguh dengan selera humor sehat dan aset yang aduhai. Dia menundukkan tanjakan Clongop dengan sangat tangkas—tanpa kejadian salah oper gigi seperti yang dialami Jeongguk.

“Jika bisa begitu, akan sangat membantu.” Yugyeom mengangguk, senang dan tenang karena setidaknya mereka akan dibantu seorang ahli.

Mereka kemudian mengumpulkan proker-proker individu yang akan dimasukkan ke dalam proposal oleh Tzuyu. Dahyun dan Momo akan bertanggung jawab untuk Posyandu dan Paud dengan program makanan bergizi. Tzuyu untuk Perpustakaan Mini di Masjid desa. Yugyeom dengan papan nama penunjuk arah yang sudah mulai usang. Yoongi dengan les anak-anak, membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah. Taehyung dan Jeongguk bergabung untuk melaksanakan proker pemeriksaan kesehatan ternak.

Jeongguk juga yang bertanggung jawab setiap ada kegiatan Karang Taruna desa; bertugas mencari tahu jika ada gotong royong atau berita lelayu di sekitar desa.

Semua setuju dengan tugas masing-masing lalu mulai membicarakan barang-barang yang akan mereka bawa karena tidak ada kasur sama sekali.

“Aku punya kasur lipat di rumah,” Dahyun mengangguk dan Momo menambahkan, “Kasurku di kos bisa dibawa jika mau.”

“Kasurku juga bisa jika tidak keberatan menjemput ke Paingan,” sahut Taehyung, “Kasur busa yang tidak terlalu berat jika di bawa. Bisa digunakan satu di kamar perempuan dan satu di kamar lelaki.”

“Aku akan membawa kasur gulung juga,” Yugyeom menambahkan. “Untuk kalian berdua tidur di ruang tamu.”

“Oke, tidak masalah. Aku hanya perlu bantal guling.” Jeongguk menandaskan isi mangkuknya lalu mendesah, “Menurutmu, aku harus beli bakso tidak?” Tanyanya pada Taehyung yang sedang mengingat-ingat benda apa lagi di kosannya yang bisa dibawa.

“Kau sudah makan mie ayam bakso dua mangkuk.” Kata Taehyung,menatapnya geli dan setengah gemas. “Nanti perutmu meledak, oke?”

Jeongguk mendesah, bersandar di tangannya dan menepuk perutnya yang membuncit di balik kausnya—kekenyangan tapi mulutnya bosan. Dia ingin mengunyah sesuatu. “Kita bawa kipas angin tidak?” Tanyanya kemudian.

Yugyeom menatapnya. “Mungkin satu jika dibutuhkan. Dan kabel rol, itu paling penting!” Tambahnya dan Tzuyu bergegas mencatatnya.

“Lampu darurat?” Tanya Dahyun dan Yugyeom menjentikkan jarinya, Tzuyu dengan tekun mencatat semuanya.

“Kabel rol aku ada dua, akan kubawa keduanya.” Jeongguk bersendawa, kekenyangan. Akhirnya melupakan tentang memesan bakso. “Juga lampu darurat, kipas angin dan magic jar jika diperlukan.”

“Kosanmu dihuni keluarga dengan satu anak, ya?” Tanya Yoongi kemudian dan semuanya terkekeh. “Lengkap sekali. Apakah kau juga kebetulan punya kulkas dua pintu? Air-fryer? Kompor listrik?”

Jeongguk melempar sedotannya ke arah Yoongi yang menghindarinya dengan gesit. “Sialan kau,” dia terkekeh.

“Ember mencuci juga jangan lupa siapa tahu kita akan mencuci. Baju-baju sebaiknya dibawa ke binatu saja tapi pakaian dalam tetap harus dicuci sendiri, 'kan? Gantungan baju dan juga jemuran jamur?” Tambah Momo yang langsung diiyakan semua orang.

Alat-alat rumah tangga dicatat oleh Tzuyu berikut siapa yang akan membawanya. Keberangkatan mereka minggu depan, menilai banyaknya bawaan mereka semua sepakat akan menyewa jasa angkut saja dengan membayarnya secara patungan.

“Ada kendaraan dari kampus tapi aku tidak yakin akan muat.” Kata Yugyeom kemudian. “Kita akan membawa kasur busa, empat drum plastik biru besar untuk proker dan belum lagi barang-barang lain jadi sebaiknya kita menyewa saja daripada berebut dengan kelompok lain. Nanti mungkin yang kita masukkan bus kampus hanya tas-tas berisi benda penting kita saja.”

Semuanya setuju. Barang-barang akan dibawa ke kosan Momo karena mereka akan membawa kasur busanya. Sehari sebelum keberangkatan, Yugyeom dan Yoongi berangkat bersama jasa angkut untuk menurunkan barang-barang mereka di pondokan termasuk koper-koper terisi pakaian mereka sehingga keesokan harinya mereka berangkat dengan lebih leluasa dengan motor.

“Kalian semangat KKN, tidak?” Tanya Jeongguk kemudian, karena dia tidak sabar menantikan hidup bersama teman-temannya yang asyik dan sangat menghibur. Tidak sabar berbagi hari dan malam bersama mereka, dia akan membawa Uno Stacko miliknya serta Monopoli sehingga mereka bisa menghabiskan waktu luang dengan berkualitas.

“Sejujurnya?” Sahut Dahyun di sisinya, “Awalnya aku skeptis. Aku takut teman-temanku tidak asyik dan membosankan.” Semuanya seketika tertawa, mengangguk-angguk setuju. “Lalu ternyata aku mendapatkan satu penjahat kelamin yang tergabung dalam trio idiot dan teman-teman yang sangat menyenangkan.”

Mata Jeongguk memicing dengan tatapan tidak suka yang jenaka, dia mendengar Taehyung tertawa di sisinya—suara yang sangat indah. “Siapa maksudmu penjahat kelamin?”

Dahyun memutar bola matanya, Tzuyu tertawa ceria bersama Momo. “Menurutmu?” Dia menoleh malas ke Jeongguk yang berbaring di panggung, mengusap-usap perutnya yang buncit kekenyangan.

“Aku hanya jadi penjahat kelamin untuk Taehyung, kok. Tenang saja, Ladies, pakaian dalam kalian aman dariku.” Dia mengedipkan sebelah matanya lalu mengaduh keras saat Taehyung memukul perutnya. “Jangan begitu! Aku mau muntah!” Serunya tidak terima.

“KKN kita akan baik-baik saja,” Yoongi kemudian berkata setelah tawa mereka semua reda. “Kita punya satu sama lain dan kita sangat solid, berusahalah menghindari masalah. Mari membuat KKN kita menyenangkan alih-alih beban yang menyusahkan, karena dengan begitu kita akan menikmati setiap harinya.”

Jeongguk menyerigai, dia tahu KKN ini akan luar biasa. Dia suka teman-teman kelompoknya dan sungguh, takut membayangkan harga yang harus diberikannya karena mendapatkan mereka sebagai teman satu kelompoknya.

Perempuan-perempuan tangguh yang tidak kenal takut, teman-teman dengan selera humor yang satu frekuensi dengannya; Jeongguk puas.

Tidak sabar hingga minggu depan, hingga mereka tinggal di satu atap yang sama dan berbagi kenangan.