Kuliah, Kerja, Nyantai / 46
cw // blood , open wounds , accident .
“Kalian yakin baik-baik saja?”
“Yakin.”
Taehyung mengangguk, sudah masuk ke dalam kepompong kantung tidurnya dengan Jeongguk di sisinya yang sudah merapatkan resleting kantung tidurnya hingga dagu—di dalamnya, dia sudah mengenakan selimut tipis dan juga bantal guling yang nyaman. Sekarang nampak seperti seekor ulat pohon pisang yang gendut di dalam kantung tidurnya.
“Baiklah,” Yoongi masih berdiri di depan pintu kamar lelaki, mengenakan sarung di atas tubuhnya. “Aku tidur, ya? Selamat tidur.” Katanya sebelum mematikan lampu utama ruang tengah dan menutup pintu.
Cahaya yang sekarang menyinari mereka hanyalah lampu dari kamar anak perempuan. Kamar mereka tidak memiliki plafon sehingga cahaya lampu yang mereka gunakan membias, cukup untuk menerangi Taehyung dan Jeongguk yang terbiasa tidur dengan lampu temaram.
Taehyung melepaskan kacamatanya, lalu menarik resleting kantung tidurnya hingga dagu lalu mendesah. “Kau oke?” Tanyanya pada Jeongguk yang berbaring di sisinya, masih menatap layar ponselnya.
“Oke.” Katanya lalu meletakkan ponselnya, menguap lebar tanpa repot-repot menutup mulutnya. “Kau mau mengisi daya ponselmu tidak?” Tanyanya, berbisik karena suasana yang begitu hening walaupun jam baru saja menunjukkan pukul sembilan malam.
Taehyung mengecek ponselnya, mengangguk. Dia mengulurkan benda itu ke Jeongguk yang menerimanya lalu mengisi dayanya di sisinya karena kabel rol ada di dekatnya. Taehyung juga tidak bisa tidur jika ponsel berada terlalu dekat dengan kepalanya, sinyal ponsel merusak kualitas tidurnya dan membuatnya terbangun dengan kepala nyeri.
“Besok kita ke pasar.” Kata Taehyung, mulai bergerak di kepompongnya—mencari posisi yang pas untuk terlelap. Dia mengenakan penutup kepalanya hingga ke hidung sementara di sisinya Jeongguk menguap lagi. “Bangunlah yang pagi.”
“Iya,” Jeongguk kembali menguap. “Gila, aku tidak pernah tidur di bawah jam sepuluh malam selama hidupku di Yogyakarta. Tempat ini membuatku mengantuk sepanjang waktu.”
“Bukan,” Taehyung memejamkan mata, tersenyum mendengar keluhan Jeongguk tentang makanan dan perut agungnya. “Karena kau makan mie dok-dok persis setelah makan malam. Kekenyangan.”
“Ah, iya. Benar.” Gumam Jeongguk, mulai mengantuk. “Kau belajar membuat mie dok-dok seenak itu dari mana? Kau diam-diam punya warmindo, ya?”
Taehyung tersenyum, ternyata senang mendengarkan kicauan mabuk Jeongguk yang mengantuk. Tadi sore, anak-anak perempuan memutuskan untuk memasak dengan meminjam sayuran dari Ibu Pondokan yang dengan senang hati memberikan mereka sepapan tempe dan seikat sawi hijau, mereka juga dipersilakan menggunakan dapur dengan seleluasa mungkin.
Kompor gas di sana tidak menggunakan elpiji, alih-alih mereka menggunakan biogas kotoran sapi yang ternyata membuat apinya lebih biru dan masakan lebih cepat matang. Jeongguk, Yoongi dan Yugyeom sangat kagum saat melihat apinya dan langsung mencari Bapak Pondokan untuk mengetahui cara kerjanya, pergi ke kandang sapi untuk melihat cara pembuatan biogasnya sementara Taehyung membantu para perempuan memasak.
“Menurutmu kita harus masak berapa gelas?” Tanya Momo yang bertugas di balik mesin penanak nasi dengan beras di sisinya.
“Kita punya dua monster,” kata Dahyun yang sedang menggoreng tempe yang sudah sebelumnya dimarinasi dengan bawang putih, lada, garam dan sedikit kaldu ayam; aroma bawang putih selalu membuat Taehyung lapar.
Suara minyak yang mendesis saat bertemu sisa air yang menempel di permukaan tempe yang digoreng membuat Taehyung tenang. Dapurnya tidak mewah, lantainya tanah dengan satu tungku kayu bakar dan tempat penyimpanan kayu di sudut yang mengarah ke kandang sapi dan kambing. Dindingnya dari ayaman bambu, Ibu lebih suka memasak dengan tungku daripada kompor gas. Biasanya memang hanya digunakan oleh anak-anak KKN.
“Masa pertumbuhan.” Taehyung mengangguk serius, membersihkan sawi hijau di genggamannya sementara Tzuyu sedang mengiris-iris bawang dan cabai untuk menumis sayuran dengan tekun.
Mereka makan bersama untuk pertama kalinya malam itu, duduk di dekat meja makan dengan setoples besar rambak yang dibelikan Ibu. Taehyung sudah lama tidak makan bersama banyak orang seperti ini, biasanya dia hanya akan makan sendirian di kamarnya atau sesekali dengan Jimin. Namun sejak keduanya sibuk mengejar skripsi, mereka jarang bertemu walaupun berada di kosan yang sama apalagi fakta bahwa mereka berbeda jurusan.
Setelah makan, semuanya bergiliran mandi dan Jeongguk mengeluh dia lapar. Dahyun memberikannya dua bungkus mie instan yang langsung disulap Taehyung menjadi mie dok-dok paling kental dan lezat yang pernah Jeongguk makan. Mereka menghabiskan mienya berdua dengan Yugyeom yang mengganggu, meminta satu-dua suap hingga Jeongguk menyikutnya tidak ikhlas.
Malam itu Yugyeom membagi jadwal belanja ke pasar dan membawa pakaian ke binatu di pasar di bawah tanjakan Clongop. Besok yang bertugas adalah Dahyun, Momo, Taehyung dan Jeongguk.
“Besok Paud belum mulai,” kata Bapak dengan sarung duduk di salah satu kursi tamu mengamati mereka semua melakukan evaluasi dan persiapan keesokan hari. “Jadi kalian bisa jalan-jalan dulu. Santai saja. Jangan terlalu memikirkan proker.”
Selepas Maghrib, hujan deras mengguyur Gunung Kidul. Masih terus mengguyur hingga mereka memutuskan untuk tidur karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Jeongguk yang pertama menggelar kasur mereka, masuk ke dalam kantung tidur dan mulai menguap setelah merokok dengan Taehyung di depan, menikmati hujan.
Seolah memberikan sinyal, akhirnya perlahan semua anak pamit untuk memasuki kamar tidur. Para perempuan mulai mencuci wajah, menggunakan banyak rangkaian skin care yang beraroma harum lembut; bersiap-siap tidur.
“Selamat malam, Jeongguk.” Taehyung menguap, memeluk bantal gulingnya dan mulai membiarkan ketidaksadaran membelainya; dia lelah sekali setelah membawa motor dari Yogyakarta ke Gunung Kidul.
“Malam, Taehyung. Tidur nyenyak.”
“Kau juga.”
Ternyata mereka tidak perlu dibangunkan siapa-siapa.
Taehyung langsung bangun begitu saja pukul setengah tujuh pagi karena ibu pondokan sudah mulai bekerja di dapur sejak subuh. Membuka pintu depan dengan perlahan takut menganggu dia dan Jeongguk lalu mulai menjerang air minum, menanak beras dan pergi ke ladang—mengobrol dengan tetangga yang tinggal di bawah mereka.
Suara cicit burung terdengar semarak dan riuh, orang-orang sudah mulai berkegiatan dan Taehyung mengerang. Dia mengusap wajahnya, menguap lalu duduk—membiarkan kantung tidur jatuh dari kepalanya dan menoleh, mendapati Jeongguk masih terlelap.
Kantung tidurnya terbuka setengah, tangannya tergeletak beberapa senti dari Taehyung, keluar dari kantung tidurnya dan wajahnya nampak damai. Dia tidak mengenakan kaus saat tidur, membuat dadanya terpapar udara yang lumayan dingin. Penasaran bagaimana bisa Jeongguk yang semalam tidur dengan kantung tidur tertutup rapat bisa berakhir seperti ini. Taehyung menguap, meraih tangannya dan meletakkannya di dadanya lalu menaikkan resleting kantung tidurnya.
“Pagi, Kak Tae!”
Dia mendongak, menemukan Tzuyu dalam balutan piyama membawa handuk dan tas terisi alat mandinya, sudah menguncir rambutnya siap mandi. “Pagi, Tzu.” Dia tersenyum, menguap lalu meraih kacamatanya—mengenakannya sebelum bisa melihat wajah Tzuyu dengan jelas. “Siapa yang mandi?”
“Tidak ada.” Katanya, “Aku yang akan pakai. Kak Tae mau pakai dulu?”
Taehyung menggeleng. “Gampang. Aku bisa pipis di mana saja.” Dia melambai, mempersilakan Tzuyu untuk menggunakan kamar mandinya duluan.
Mendengar suaranya, Jeongguk mengerang. “Tae?”
Lucu bagaimana mendengar nama Taehyung menjadi hal pertama yang dikatakan Jeongguk saat membuka mata membuat Taehyung senang. Suara mengantuknya yang parau terdengar begitu mendebarkan di permukaan kulit Taehyung.
“Ya?” Dia menoleh, menyadari Jeongguk sudah membuka matanya; ada gurat di pipinya, garis kain karena menempel di kantung tidur. Dia menguap lebar, mendesah keras dan menggaruk rambutnya.
“Kau bicara dengan siapa?” Tanyanya, bangkit duduk—membiarkan kantung tidur jatuh teronggok di pangkuannya. Bagian atas tubuhnya yang telanjang seolah bersinar mengalahkan matahari sendiri. Dia menyugar rambutnya, mengumpulkannya lalu mengikat setengah dan membiarkan sisanya di atas tengkuknya.
Tato di dadanya benar-benar membuat Taehyung pening.
“Tzuyu. Dia akan mandi duluan.” Taehyung bangkit dari kantung tidurnya, lalu merapikannya. Dia menggulungnya, melipatnya rapi lalu meregangkan tubuhnya.
Jeongguk menguap, nampak linglung karena baru bangun dan meregangkan tubuhnya mengikuti Taehyung sebelum meraih kausnya. Dia mengenakannya, membersit dan bangkit, membereskan kantung tidurnya juga sebelum beranjak ke dapur untuk minum air putih.
“Kau akan mandi sebelum ke pasar?” Tanya Taehyung saat lewat di depan dapur, hendak ke kamar mandi.
“Tidak,” Jeongguk menuang segelas air lagi lalu meneguknya habis. “Nanti saja setelah pulang dari pasar.” Dia kemudian mengekor Taehyung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya di penampungan air di sisi kamar mandi yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.
Taehyung memasuki kamar mandi dengan bak raksasa dan toilet kecil yang terpisahkan dinding. Dia hanya mandi dengan kilat, ingin membuat setiap otot dan sarafnya bangun sebelum berkegiatan; airnya mengigit tulangnya dan dia bersin sekali saat hawa dingin membuatnya mendadak pilek. Saat dia keluar, sudah ada Momo di sana di depan pintu, tampak menahan buang air kecil dengan gelisah.
“Aku harus buang air kecil, minggir!” Keluhnya dan Taehyung terkekeh, dia menyampirkan handuk di bahunya dan bergegas minggir belum sempat mengenakan kausnya dan masih berdiri bertelanjang dada—merasakan suhu daerah daratan tinggi mengigit kulitnya yang terpapar udara.
“Baiklah, tidak perlu menyalak.” Kata Taehyung saat pintu kamar mandi dibanting menutup. Dia berdiri di dekat PAH (Penampungan Air Hujan) dan mengibaskan kausnya, akan mengenakannya saat suara menyelanya.
“Oh, wow. Apakah aku boleh izin melakukan cat-calling? Hormonku yang salah, bukan kau. Tenang saja. Jebloskan saja aku ke penjara.”
Taehyung mendesah geli, menoleh ke arah suara dan menemukan Jeongguk sedang mengulurkan setangkai rumput gajah ke arah kambing Bapak yang mengembik protes karena Jeongguk berhenti memberinya makan.
“Apa yang kaulakukan di sana?” Tanyanya, mengusap rambutnya dengan handuk dan membersihkan telinganya dari sisa air. “Kau tidak mandi?” Tanyanya, mengamati kaus dan celana training lusuh Jeongguk—dia nampak nyaman, seperti boneka kesayangan yang hangat.
“Tidak, nanti aku ganteng.” Katanya, melempar dua tangkai rumput lagi ke dalam tempat makan para kambing sebelum menghampiri Taehyung yang sekarang mengenakan kausnya dan mendesah, senang karena sudah mandi.
“Airnya dingin tidak?” Tanyanya.
“Tentu saja dingin.” Taehyung melangkah masuk dan Jeongguk mengekor. “Itu air tadah hujan, ditampung di PAH itu.” Taehyung mengerling penampungan air hujan besar di sisi kamar mandi, terbuat dari beton berbentuk bulat tinggi.
Karena kesulitan air di Gunung Kidul, para warga memiliki PAH (Penampungan Air Hujan) besar untuk setiap beberapa rumah yang nantinya dialirkan dengan pipa-pipa PDAM sebagai pengganti PDAM yang kesulitan menjangkau Gunung Kidul karena medan yang ekstrim. Taehyung bersyukur mereka masih memiliki kamar mandi yang layak dan air yang berlimpah, tidak ingin membayangkan apa yang mungkin dihadapi kelompok-kelompok lain karena di setiap KKN, kamar mandi merupakan sebuah kemewahan.
“Dinding beton membuat airnya semakin dingin,” Taehyung menggerakkan lehernya, merilekskan lehernya dan saat dia tiba di ruang tengah, Dahyun sedang menyalakan motornya. Siap berangkat ke pasar.
Yugyeom masih duduk di kursi tamu dengan segelas Energen vanila panas di tangannya, tatapannya menerawang terkantuk-kantuk. Taehyung terkekeh, mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya sayang saat lewat menuju jemuran.
“Bangun,” godanya dan Yugyeom tersenyum lebar. “Tidurmu nyenyak?”
“Sangat nyenyak,” Yugyeom menguap, menyesap sarapannya dengan senang. “Kau sudah mandi jam segini?” Tanyanya, seolah Taehyung baru saja mengumumkan dia akan meledakkan negara dengan bom nuklir.
“Enak.” Taehyung mengangguk, “Segar. Cobalah.” Dia lalu kembali masuk lewat pintu samping rumah joglo pondokan mereka dan meraih jaketnya yang tergantung di sisi pintu. “Ayo, Gguk.” Serunya ke dalam rumah, berpikir Jeongguk masih berada di dalam.
“Aku di luar!” Seru Jeongguk dan Taehyung bergegas keluar dan mendapati pemuda itu sedang memanaskan motor dengan sebatang rokok di bibirnya. “Tolong jaketku.”
Taehyung kembali masuk, meraih jaket Jeongguk dan menyerahkan benda itu ke Jeongguk yang mengenakannya saat Momo tiba dengan jaket dan mereka siap berangkat ke pasar.
“Sudah bawa uangnya?” Tanya Taehyung dan Momo mengangguk, menepuk dompet kecil di tangannya yang terisi uang makan serta uang proker mereka. “Baiklah.” Dia menatap Jeongguk yang masih merokok dengan kalem. “Aku atau kau?”
“Aku saja.” Dia mematikan rokoknya lalu menyelipkan puntung rokok itu ke sakunya lalu menaiki motornya. Mengenakan helmnya, dia lalu menaikkan dongkrak motornya lalu menyalakan mesinnya.
Taehyung mengaitkan helmnya, membiarkan Dahyun menaiki tanjakan menuju jalan besar terlebih dahulu. Karena jalan akses menuju pondokan mereka dari jalan besar begitu ekstrim, dengan jurang lumayan tinggi di sisinya; mereka yang dibonceng biasanya akan berjalan kaki naik ke atas dan menunggu di sisi jalan besar untuk mengurangi risiko mereka terpeleset dan terguling.
Mereka menyusuri jalanan kemarin, menuruni tanjakan Clongop sebelum tiba ke pasar terdekat beberapa kilometer dari Puskesmas. Pasar tumpah yang ramai oleh warga yang berbelanja; suasananya riuh-rendah oleh obrolan, aroma khas pasar dan hawa dingin yang belum mau lenyap. Mereka parkir di sisi jalan dan Momo serta Dahyun langsung bergegas berbelanja.
Taehyung mengekor mereka, jika ada yang harus dibantu sementara Jeongguk menunggu di tempat parkir—sudah menghampiri penjual kue pukis yang sedang memanggang makanan dengan aroma semerbak.
Penjual yang pertama mereka datangi, tentu saja penjual sayuran yang langsung menyadari bahwa mereka anak-anak KKN. “Kita perlu beli sayuran,” Momo mulai memilih sayuran di hadapan mereka.
Ada banyak sayuran di meja di hadapan mereka, semua nampak segar dan hijau cerah. Sekarung kentang di kaki Taehyung, wortel-wortel jingga yang gendut, mentimun, brokoli dan kembang kol; untuk ukuran pasar yang tidak terlalu besar, tempat ini sangat lengkap. Penjual itu bahkan punya seplastik sayuran campur lengkap dengan bumbu sop yang tinggal masak.
“Sayuran tahan lama,” Taehyung mengangguk sementara para gadis mulai memisahkan sayuran yang akan mereka beli; beberapa ikat kangkung, sawi hijau, kacang panjang dan sawi putih. “Jangan terlalu banyak, mungkin untuk 2-3 hari saja agar tidak busuk dan mubazir.” Dia meraih dua bungkus bakso mentah dan menambahkannya ke keranjang belanja yang diserahkan penjual.
Mereka setidaknya butuh daging, 'kan?
Mereka setuju. Kemudian berpindah ke toko kelontong membeli beras dan juga sebungkus besar kerupuk rambak yang menjadi cemilan kesukaan anak-anak. Mereka membeli sebungkus tahu putih yang segar, tempe daun yang per bijinya hanya seharga 250 rupiah, cabai, bawang putih-merah, garam, minyak, dan serenceng penyedap rasa.
“Berapa, Bu?” Tanya Taehyung kaget dengan dua tempe di tangannya dan penjual tempe yang sudah separuh baya itu tertawa geli, menepuk tangannya.
“Dua ratus lima puluh rupiah per biji, Le.” Katanya dengan senyuman di bibirnya. “Anak KKN, ya?” Tambahnya saat membungkus tempe mereka dalam kantung plastik.
“Iya, Bu.” Taehyung tersenyum, “Kami di Watugajah.” Tambahnya sebelum berterima kasih lalu berpamitan dari sana.
Jeongguk bersandar di jembatan, mengunyah pukis dan merokok saat melihat Taehyung datang dengan tangan penuh belanjaan, diikuti Momo dan Dahyun yang sedang mengingat-ingat apa lagi yang harus mereka beli. Dia bergegas menyelipkan rokok di bibirnya dan membantu Momo serta Dahyun dengan belanjaannya, mereka mengaitkan beberapa plastik di bagasi depan motor Dahyun.
“Aa?” Taehyung melirik pukis di tangan Jeongguk dan pemuda itu terkekeh, dia meraih sepotong yang hangat lalu menjejalkannya ke mulut Taehyung. “Oh, enak!” Katanya, meletakkan kantung plastik terisi beras di kakinya dan mengunyah pukisnya. “Beli lagi, Gguk! Cepat!” Tambahnya dan Jeongguk menurut, seperti seekor anak anjing.
“Menurutmu kita beli daging tidak?” Tanya Momo kemudian setelah Jeongguk berlari ke penjual kue pukis yang tadi dibelinya.
Taehyung mengunyah sisa pukis Jeongguk. “Menurutku tidak usah dulu.” Katanya, “Kita hemat uang makan. Jika misalnya beberapa hari sebelum penarikan kita ada sisa, baru kita beli yang mahal-mahal. Atau setidaknya sekali dalam seminggu, bagaimana?”
Dahyun mengangguk, “Benar. Kita harus menghemat uangnya untuk tiga puluh hari.”
“Belum lagi evaluasi pertemuan dengan DPL yang bergilir dari satu pondokan ke pondokan lain, kita butuh uang untuk membeli cemilan dan lain-lain.” Tambah Taehyung persis saat Jeongguk kembali dengan seplastik pukis baru yang beraroma tajam mentega dan harum pandan.
Dia membuka plastiknya, menawarkannya ke teman-temannya yang langsung meraih masing-masing sebuah. Mereka akhirnya menyudahi belanja pagi itu dan kembali ke pondokan. Taehyung diboncengn Jeongguk membawa beberapa plastik belanjaan, terlalu sibuk mengamati belanjaan dan menanggapi Jeongguk yang nampaknya sedang dalam suasana hati yang baik hingga lupa bahwa ada anak perempuan di belakang mereka.
“Mana Dahyun?” Tanya Yugyeom saat mereka kembali dan Taehyung langsung membawa belanjaannya ke dapur, mulai membereskannya dibantu Jeongguk dan Yoongi serta Tzuyu.
“Tadi di belakang kami,” kata Jeongguk, kalem mulai menyalakan sebatang rokok. “Mungkin sebentar lagi tiba.”
Sayur-mayur dimasukkan ke kulkas Ibu di belakang, ditata rapi oleh Tzuyu. Dia meninggalkan sebuah sawi putih dan sekantung tahu di meja makan untuk dimasak hari ini sebagai lauk makan siang mereka. Beras disimpan di dekat penanak nasi dengan seliter minyak dan bumbu masak.
“Pagi ini karena belum ada kegiatan kita sebaiknya membicarakan tentang proker,” Yoongi menyarankan saat Jeongguk membawa handuknya ke kamar mandi. Dia meraih kalender KKN yang diberikan universitas. “Menuliskan tanggalnya di sini agar kita punya tenggat waktu yang jelas, tidak keteteran.”
Yugyeom menangguk, dia menghampiri Yoongi yang duduk di lantai dan mengamati kalender bersama Taehyung yang masih mengunyah pukis yang dibelikan Jeongguk tadi. Mereka bersila di ruang tengah, di atas tikar anyaman milik Ibu yang digelar untuk mereka di atas lantai tanah.
Baru saja akan mulai membicarakan proker dengan Tzuyu yang datang dari dapur karena cemas kenapa teman-temannya belum kembali saat motor Dahyun terdengar datang lalu disusul suara Momo yang berteriak sekuat tenaga:
“Jeongguk! Taehyung!”
Semuanya mendongak, kaget sebelum bergegas bangkit dan menghambur ke luar dengan panik hanya untuk menemukan Momo yang sedang membantu Dahyun turun dari motornya. Dahyun meringis, dahinya ternoda lumpur, begitu pula separuh tubuh bagian kanannya.
“Lho, kenapa, Mbak?!” Tanya Yugyeom panik dan kebingungan, menghampiri mereka dengan kaget. “Jatuh di mana??”
“Kami jatuh!” Momo mengeluh, mendudukkan Dahyun di kursi depan—lututnya lecet, bekas lukanya lumayan besar hingga tulangnya mengintip dari balik kotoran dan darah yang merembes dari kakinya. “Dan kami pikir Jeongguk akan menyadari kami hilang dan berbalik mengecek kami, tapi ternyata tidak.”
“Maaf!” Jeongguk nampak sangat bersalah, membantu Momo mendudukkan Dahyun di kursi dan meluruskan kakinya dengan perlahan. Tzuyu bergegas berlari ke dapur, mengambil air. “Aku sungguh tidak tahu, maaf!”
“Aku benar-benar tidak menyadarinya.” Taehyung berlutut di kaki Dahyun, menerima sebaskom air dari Tzuyu dan langsung membantu Dahyun mencuci kakinya yang terluka. “Maafkan aku, maaf.”
Ada bekas luka di siku, lutut dan tulang kering Dahyun. Mereka terpeleset tanah yang menggumpal di sisi jalan karena hujan deras semalam, terpelanting di aspal dengan Dahyun tertindih motornya sendiri. Dia mendarat di aspal di atas tubuh bagian kanannya yang sekarang nyeri dan penuh dengan lumpur.
“Lho, kenapa?” Tanya Ibu yang baru pulang dari sawah, membawa sabit dan daun pepaya. “Ini jatuh di mana?” Tanyanya, bergegas menghampiri anak-anak yang membantu Dahyun membersihkan luka di lututnya.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Kata Dahyun meringis saat Taehyung mencuci lukanya dengan lembut. “Tolong SMS pacarku minta untuk bawakan obat.”
“Aku bawa obat.” Tzuyu mengangguk lalu bergegas menghambur ke dalam pondokan, keluar membawa kantung kecil terisi Rivanol, kain kasa dan obat merah. Dia menyerahkannya pada Taehyung yang dengan cekatan membersihkan luka Dahyun.
“Maafkan aku, ya?” Kata Taehyung, membasahi kasa dengan Rivanol.
“Tidak, tidak. Tidak apa-apa.” Kata Dahyun, meringis saat Jeongguk membantunya meluruskan kaki—menyebabkan lukanya yang sensitif tertarik oleh gerakan itu.
Tzuyu menuang air ke atas lukanya, berusaha membersihkannya tanpa menyentuhnya. Jeongguk menggunakan kasa untuk mencoba menyingkirkan gumpalan-gumpalan lumpur yang paling menganggu; segaris kotoran nampak di dekat pusat lukanya dan Taehyung membawa kasa terisi obatnya mendekat.
Taehyung merunduk ke lututnya, meniup permukaan luka Dahyun seraya membersihkannya dengan kasa yang basah oleh obat. Berharap tiupan itu bisa mengurangi sakitnya.
Dahyun mendesis saat permukaan kasa menempel di lukanya. Taehyung dengan perlahan berusaha membersihkan sisa lumpur di dalam lukanya, menggunakan segulung kasa sebelum yakin luka itu sudah bersih dan membubuhkan obat merah di atasnya.
“Mungkin kau harus turun ke Klaten saja.” Taehyung berdiri, menyadari mereka mungkin membutuhkan bantuan ahli untuk menangani luka Dahyun. “Aku antar. Ada K24 di bawah, kita akan minta lukamu dibersihkan di sana saja.”
“Puskesmas di bawah buka,” Ibu menjawab. “Bawa ke sana saja, lebih dekat kok.”
Taehyung mengangguk lalu menyambar jaket dan helm, meraih kunci motor Dahyun dan menaikinya. Yugyeom membantu Dahyun bangun, membimbingnya ke motor dan membantunya memanjat naik. Biasanya mereka akan meminta perempuan naik dulu berjalan kaki karena menaiki tanjakan pondokan sangat ekstrim, namun Taehyung tidak bisa membiarkan Dahyun berjalan naik dengan kaki terluka.
“Aku turun dulu, ya.” Taehyung menangguk ke teman-temannya. “Pegangan, sungguh. Kau bisa terguling.” Katanya pada Dahyun yang akhirnya mendesah berat dan menyerah, memeluk pinggangnya. “Tidak akan ada yang marah, tenang saja.” Tambahnya bergurau.
Dahyun tertawa saat Taehyung mengendarai motor dengan perlahan menaiki tanjakan pondokan menuju jalan besar, “Nanti akan kubelikan Jeongguk makanan, sesajen agar dia tidak marah.” Guraunya lalu mendesis saat tidak sengaja menggerakkan kakinya yang terluka.
Taehyung mengerjap saat motor tiba di puncak dan mereka meluncur di jalan besar. Apakah Jeongguk marah hanya karena Dahyun memeluk pinggangnya dalam kondisi darurat seperti ini?
“Tidak perlu,” Taehyung tertawa kering, merasakan perih aneh di hatinya saat dia memaksa dirinya sendiri mengatakan ini. “Dia tidak akan cemburu. Memangnya aku siapa?”
Dahyun memutar bola matanya dan memukul bahu Taehyung gusar; dari semua perempuan yang menjadi anggota kelompok mereka, Taehyung selalu lebih nyaman dengan Dahyun karena dia sangat... boyish. Dia santai, tidak neko-neko, dan praktis. Juga tangkas dan cekatan, nyaris seperti sedang bicara dengan teman lelakinya.
“Kau buta, ya?” Katanya kemudian, mendesis saat angin membuat lukanya ngilu. Dia mengaduh dulu selama beberapa saat hingga Taehyung menurunkan kecepatan motornya sebelum menambahkan, “Kau tidak lihat caranya menatapmu?? Cara kalian berdua saling menatap? Tidakkah kau menyadari sesuatu? Sungguh? Sama sekali??”
Dan itulah yang dipikirkan Taehyung saat dia berdiri di sisi Dahyun, menemaninya saat perawat Puskesmas membersihkan lukanya dengan alkohol lalu membebatnya dengan lebih layak.
Kau tidak lihat caranya menatapmu?
Kau buta, ya?
“Jika selesai KKN kalian tidak jadian, baru aku akan sangat kaget.” Tambah Dahyun lagi saat mereka berhenti di Puskesmas. “Sangat kaget hingga kurasa aku bisa saja menonjok kalian karena berani-beraninya tidak jadian.”
Taehyung menatap langit di atas kepalanya, sejenak merasa seperti beban tak kasat mata diangkat sedikit dari bahunya—bisakah dia berharap?
Mungkin... sedikit saja?
PS.
Dear beloved eclairs, This is your Chef speaking, we're about to enter the anxiety and insecurity zone ahead with a little to a lot turbulence. Please fasten your seat-belt and make yourself comfortable.
Thank you! ire, x