Kuliah, Kerja, Nyantai / 50
Setelahnya, Dahyun menjadi tidak terlalu aktif lagi karena lukanya persis di atas lutut, membuatnya kesulitan berjalan dan menekuk kaki.
Kekasihnya datang sore kemarin setelah dia dan Taehyung kembali ke pondokan membawakan kasa serta obat merah tambahan. Dia juga membawakan teman-teman kelompok makanan sebagai tanda terima kasih karena telah menjaga Dahyun. Dia membawa Ayam Goreng Tojoyo yang membuat anak-anak bersorak kegirangan, makan dengan ceria ditemani tumis daun pepaya buatan Ibu yang sama sekali tidak pahit.
Pagi ini, suasana mendung berkabut. Semuanya duduk di ruang tengah, masih belum menemukan kegiatan karena PAUD baru akan memulai kegiatannya besok. Jeongguk berbaring di ruang tengah, menguap lebar seraya menonton televisi yang gambarnya gerimis.
“PAUD belum mulai, ya?” Tanya Momo, bosan di tempatnya dengan sebuah novel di tangannya sejak tadi sudah berguling ke sana kemari mencoba membunuh waktu namun tidak kunjung menemukan kegiatan yang cukup menyenangkan.
Yugyeom menggeleng. Semalam saat mereka makan ayam goreng dari kekasih Dahyun sudah bertanya pada Ibu tentang PAUD dan Bapak menjawab bahwa PAUD akan mulai dua hari lagi maka mereka kemudian tidak memiliki agenda apa pun lagi hari ini selain mengisi kalender program kerja mereka.
Mereka memutuskan untuk memulai les dengan anak-anak desa besok sekalian memulai PAUD. Mereka membagi diri; Yugyeom, Tzuyu dan Jeongguk akan membantu dengan pekerjaan rumah bahasa Inggris, Taehyung dengan Matematika, Momo dengan pengetahuan sosial dan sisanya menyesuaikan.
“Kita tidak punya anak yang paham IPA, ya?” Tanya Dahyun saat mereka membagi tugas; menyadari bahwa Ilmu Pengetahuan Alam mungkin akan jadi kesulitan terbesar anak-anak di sekolah selain Matematika.
“Aku paham Kimia dan Fisika, tapi Biologi tidak terlalu.” Taehyung mengangguk. “Lagi pula, sesulit apa, sih, Kimia dan Fisika SMP dan SMA? Aku yakin bisa menyelesaikannya dengan logika sederhana.”
“Otakmu bekerja seperti scientific calculator, ya?” Puji Yoongi dan semuanya tertawa.
Taehyung mengetuk otaknya, “Ini aset.” Katanya kalem.
“Bisa di sini atau di Masjid.” Kata Bapak mendengar mereka diskusi sambil merokok di sudut ruang tamu; rokok kretek yang aromanya manis pekat tembakau. “Mungkin di Masjid saja biar lebih leluasa, anak-anak juga lebih dekat ke sana.”
Yugyeom mengangguk. “Bisa, Pak. Boleh.”
“Ada papan juga di sana, jadi enak.” Tambah Bapak, menghisap rokoknya khidmat.
Mereka sepakat, akan membawa anak-anak ke Masjid saja untuk belajar bersama. Membantu mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka dan mempersiapkan materi yang akan mereka pelajari keesokan harinya di sekolah.
“Jadi di Masjid, ya?” Tanya Bapak kemudian, merapikan sarungnya setelah merokok. “Nanti Bapak infokan ke anak-anak supaya datang ke Masjid.”
Yugyeom mengangguk. “Siap, Pak. Terima kasih banyak!”
Dan pagi itu, tanah pondokan becek karena semalam hujan deras menghajar Gunung Kidul, begitu deras hingga Diwud tidur di kaki Jeongguk semalaman—menggigil ketakutan pada suara gemuruh dan cahaya kilat. Sekarang, dia sudah memiliki ikatan yang kuat dengan Jeongguk—selalu menghampirinya dan tidur di sisinya, menjilat tangan Jeongguk tiap kali dia menggaruk telinganya.
Bapak kemudian datang, membawa cangkul dan ember. Berdiri di depan pintu utama menatap semua anak KKN yang berbaring di ruang tengah, di atas tikar; bermalas-malasan. “Ayo.” Katanya kemudian.
Yugyeom mendongak, “Mau ke mana, Pak?” Tanyanya, namun langsung duduk tegak siap menerima perintah.
“Tidak ada pekerjaan, 'kan? Ayo, gotong royong. Ada tanah longsor di jalan ke arah Green Village.” Dia meletakkan tiga cangkul di teras rumah dan dua ember, mengepit rokok kretek di bibirnya.
Jeongguk melompat berdiri, meregangkan tubuhnya lalu beranjak dengan semangat membara karena sejak tadi paling berisik mengeluh tidak punya kegiatan. Tadi pagi dia sudah bangun lalu mengenakan sepatu lari dan berkeliling desa, berlari dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek, earbuds menyumpal salah satu telinganya.
Dia kembali dan menemukan Taehyung sedang merokok di kursi depan dengan segelas Energen di tangannya. Dia mandi dan membereskan diri, namun belum juga puas dengan kegiatannya. Dia gatal, ingin terus dinamis. Maka saat Bapak memberikannya cangkul dan pekerjaan kasar yang membutuhkan otot, Jeongguk sangat bersemangat.
Dia meraih cangkul pertama. “Aku lebih suka bergerak daripada berbaring tidak punya kegiatan seperti pemuda madesu.”
Dia menatap Taehyung yang tersenyum separo, “Ayo, Tae!” Katanya, meraih cangkul lainnya dan menyerahkannya pada Taehyung yang kini bangkit, melepas kacamatanya.
Dia mengelapnya dengan sudut kausnya sebelum kembali mengenakannya lalu menerima cangkulnya.
“Baiklah, baiklah, Jagoan.” Taehyung menerima cangkulnya sebelum kemudian mereka semua berangkat bersama Bapak menuju lokasi gotong royong.
Dahyun dan Momo di pondokan, bertanggung jawab untuk masak dan menanak beras sehingga saat pulang, mereka bisa langsung makan. Mereka berjalan kaki, melewati jalan besar yang bagian kirinya merupakan pemandangan lepas ke lembah hijau yang cantik dan kota Yogyakarta yang nampak mungil di kejauhan; ada tiga gunung yang nampak dari sini.
Jeongguk bersiul, mendendangkan nada-nada ceria yang membuat semuanya ikut bernyanyi; termasuk Taehyung yang berjalan di sisinya. Jeongguk meliriknya, mengamati bagaimana dia tertawa dan bernyanyi bersam Yoongi dan Yugyeom, mengamati bagaimana caranya tersenyum, bagaimana dia bicara; semuanya nampak sangat memesona.
Dia bisa saja hanya mengenakan kaus lusuh dan celana pendek, namun dia bisa mengalahkan Apollo sekali pun dalam kontes peragaaan busana. Dia memiliki tubuh langsing yang sempurna, tungkai jenjang dan lengan yang kurus. Dan Taehyung selalu memiliki kemampuan untuk membuat suasana kondusif, dia memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.
Jangan lupakan bagaimana saat dia kemarin khawatir dengan keadaan Dahyun, merasa bersalah karena melupakan para perempuan di belakang mereka lalu dengan suara serak beratnya yang aduhai berkata keras, “Kita turun ke Klaten, ada K24 di sana. Aku antar.”
Jeongguk gemetar. Ingin Taehyung menggunakan nada itu padanya, memberi tahu Jeongguk apa yang harus dilakukannya, bagaimana cara membuatnya senang. Menatap Jeongguk dengan tatapan khawatir itu, membisikkan kekhawatirannya di kulit Jeongguk; suaranya yang berat, tatapan matanya yang dalam....
“Jangan melamun jorok.”
Jeongguk mengerjap, menoleh dan mendapati Taehyung sedang terkekeh serak saat mereka berbelok ke pertigaan pertama dan menanjak menuju lokasi longsor. Di sisi mereka ada sawah hijau yang sedang tumbuh, subur dan gemerisik oleh angin pagi.
“Siapa yang melamun jorok??” Tanyanya, tidak terima dan sedikit merona karena tertangkap basah oleh objek lamunan joroknya.
“Mulutmu terbuka dan kau memasang wajah keenakan begitu, orang bodoh juga tahu kau sedang melamunkan hal jorok.” Taehyung memanggul cangkul di bahunya.
“Aku membayangkanmu.” Katanya lugas dan Taehyung mengerjap; entah karena cahaya atau Jeongguk yang belum sepenuhnya sadar dari kantuk, dia menangkap selapis warna merah muda di permukaan wajah Taehyung.
Dia menaikkan kacamatanya, terkekeh serak dan parau—oh, suara itu. “Jadi kau bukan melamun jorok?”
Jantung Jeongguk berdebar kuat, sekali. “Jorok, kok.”
Taehyung mengerjap, menoleh ke arahnya, bibirnya terbuka dengan cara yang begitu menakjubkan hingga insting pertama Jeongguk adalah meraihnya dan menciumnya—begitu kuat hingga dia merengek.
“Jorok?” Ulangnya; masih berusaha memahami obrolan mereka.
“Yap.”
“Dan... aku?”
“Yap.”
Jeongguk was shooting in the dark.
Taehyung kemudian mendengus, tertawa serak. “Sinting.” Katanya, geli dan Jeongguk tidak bisa menebak apakah dia senang karena Jeongguk membayangkan hal jorok tentangnya atau malah tersinggung.
Tapi dia tidak mengayunkan cangkulnya ke kepala Jeongguk, jadi sepertinya dia tidak tersinggung.
... Ya, 'kan?
Dia tidak sempat menggodanya lagi karena mereka tiba di lokasi gotong royong. Langsung berpencar, membantu para bapak dan pemuda untuk menyendok tanah longsor yang menghalangi jalanan dan membuangnya ke jurang di sisi jalan.
“Wah, ayo-ayo. Dibantu.” Sapa seorang bapak yang senang melihat anak KKN datang membantu mereka bekerja. “Ayo, bantu gemburkan tanahnya dan buang ke sana, ya? Hati-hati dengan cangkulnya, itu tajam.”
Mereka menggunakan ember-ember hitam juga gerobak pasir roda tiga untuk memindahkan tanah yang longsor dari tebing yang mengapit jalan agak rusak ke Green Village. Jeongguk langsung turun membantu para bapak menggemburkan tanah basah dengan cangkulnya; memamerkan lengan atasnya yang berotot, juga tulang punggungnya yang kuat dan terlatih.
Dia mengisi ember-ember serta gerobak pasir dengan gundukan tanah yang beraroma basah sehabis hujan yang langsung ditindak oleh pemuda yang membuang isinya ke jurang.
Bekerja sembari mengobrol dengan warga membuat Jeongguk rileks, dia akrab dengan beberapa pemuda Karang Taruna, bertukar pematik dan merokok bersama seraya menikmati teh pekat yang disajikan para ibu di sekitar tempat bekerja bersama setoples rambak.
“Teh mereka luar biasa,” bisik Tzuyu, menuang segelas teh lagi ke dalam gelasnya; teh itu harum melati segar, manis, kental, dan hangat. Sangat cocok dinikmati setelah sepagian membungkuk membereskan tanah.
“Mereka menggunakan teh daun sepertinya,” Yoongi mendecap, merasakan teh itu di ujung lidahnya dan mendesah saat rasa pahit tertinggal di rongga mulutnya; rasa pahit yang menyegarkan.
“Aku ingin tehnya,” Tzuyu meneguk tehnya, seperti meneguk air mineral.
“Hati-hati nanti kau sembelit.” Taehyung terkekeh sebelum bangkit dan bergabung bersama Jeongguk setelah menyelesaikan bagiannya, meminta rokok Jeongguk dan mereka mengobrol akrab tentang kegiatan desa yang bisa mereka bantu untuk membuat tenaga mereka berguna.
Dengan kerja sama yang solid, tanah longsor berhasil diatasi sebelum jam makan siang dan mereka kembali dengan keadaan lelah, kotor oleh tanah dan bau keringat. Para lelaki langsung mencuci kakinya di PAH dan Tzuyu membantu para perempuan di dapur, menyiapkan makan siang.
“Aduh, boyokku.” Keluh Yugyeom saat mereka bergilir mencuci kaki di air kran yang dingin menggigit.
“Kau kurang bergerak,” cela Jeongguk, bergerak di tempatnya—senang karena tubuhnya mendapatkan tempaan aktivitas fisik yang membuatnya rileks dan kencang.
“Hanya karena badanmu sekelas binaragawan, bukan berarti semua orang harus begitu.” Yoongi mengibaskan air di tangannya ke wajah Jeongguk yang tertawa ceria.
“Aku lapar, aku ingin makan yang banyak.” Yugyeom mengeluh, membelai perutnya dengan sayang saat mereka bergerak ke dalam rumah; menghirup aroma bawang putih dan lada yang digunakan para perempuan untuk merendam tempe sebelum digoreng.
“Siang ini apa yang bisa kita lakukan?” Tanya Yoongi, menyusulnya dan meninggalkan Jeongguk serta Taehyung di PAH. Bersama kambing Bapak yang mengembik berisik, minta perhatian Jeongguk.
“Taehyung,” Jeongguk berdeham saat giliran Taehyung membersihkan lumpur di kakinya.
Dia menoleh sejenak, “Ya?” Sahutnya sebelum kembali mencuci kakinya; air gemericik dan menyiprat ke arah Jeongguk saat Taehyung menangkat kakinya, menggulung celananya dan membersihkan lumpur dari sana.
Jeongguk tidak bisa tidak mengamati bagaimana kaki jenjang Taehyung dan rambut di permukaannya. Dia nampak sangat lembut dan juga maskulin di saat yang bersamaan. Entah bagaimana tubuh dan ekspresi wajahnya meneriakkan hal yang berlawanan sama sekali. Jika Jeongguk fokus pada dirinya yang mengintimidasi, Taehyung bisa memiliki keduanya; bisa menjadi lembut dan mengintimidasi kapan pun dia ingin.
Mengaturnya seperti menyalakan lampu; menyala, mati, menyala, dan mati.
Rimbun bambu di belakang kamar mandi bergemerisik oleh angin pagi. Cahaya matahari mulai mengintip dari langit yang kelabu dan kambing-kambing Bapak mengembik—menyadari kehadiran Jeongguk yang suka memberikan mereka cemilan sebelum waktu makan siang, berharap dia akan melakukannya lagi.
Jeongguk menatapnya sejenak, mendadak merasa gugup padahal selama ini dia dikenal sebagai bajingannya Sastra Inggris. Jeongguk tidak pernah takut, tidak pernah gugup; dia selalu mengangkat dagunya ke atas, menatap semua orang seolah mereka tidak ada apa-apanya, petantang-petenteng pada semua orang.
Namun Taehyung, pemuda yang baru dikenalnya selama sebulan ini berhasil membuat hatinya kelimpungan. Kebingungan pada perasaan baru aneh yang sangat asing di hatinya—dia mungkin jatuh cinta.
Pada tawa Taehyung, pada senyumannya, pada hangatnya, pada sikap kepemimpinan dan sikap bertanggung jawabnya, pada kebaikannya, pada ketulusannya dan tentu saja, pada selera humornya yang sangat sehat.
“Kau mau kutemani pipis?” Tanyanya terkekeh geli, mengusap betisnya yang kotor oleh lumpur—membersihkannya hingga air yang larut di kakinya berwarna kecokelatan. “Mau kubantu pegangi?”
Jeongguk bergidik, membayangkan jika Taehyung benar-benar membantunya buang air kecil dan asetnya yang malang menderita di bawah sana karenanya.
“Melamun jorok lagi?” Taehyung tertawa lalu mematikan kran air. “Ayo, kita makan.”
Jeongguk mendesah, tidak memiliki keberanian mengatakannya sama sekali. Dia menatap Taehyung yang melangkah masuk, tidak menoleh lagi setelah mengibaskan tangannya yang basah, mengenyahkan tetes-tetes air dari sana dan bergabung dengan anak perempuan di dapur.
“Aku tertarik padamu dan aku tidak sedang bercanda.”
Itulah yang ingin dikatakannya tapi mulut bodohnya tidak mau bekerja sama, dia takut. Takut pada penolakan karena lelaki setampan, sepintar dan seistimewa Taehyung pasti memiliki selera lelaki yang lebih dari sekadar lelaki bertato selengekan yang selalu bergurau di berbagai macam kesempatan, membuat banyolan dari hal-hal paling serius sekali pun.
“Yah, mau bagaimana lagi, Mbing.” Dia meraih sepotong rumput gajah lalu mengulurkannya pada anak kambing Bapak yang menatapnya dengan mata bulatnya yang dibingkai bulu mata lentik, permukaannya indah berkilauan. “Aku pengecut.”
“Mbeeek!”
“Iya, iya. Aku tahu. Aku bodoh.”
“Mbeeek!”
“Terima kasih, kau memang paling memahamiku, Mbing. Bagaimana jika kuberikan saja kau nama? Bagaimana dengan Pulgoso?”
“Mbeek?”
“Oh, kau suka Pulgoso? Oke. Sekarang namamu Pulgoso.”
“Mbeeek!”
“Yep. Kembali kasih, Pulgoso.”
“Siapa??”
Jeongguk mendongak, “Pulgoso.” Katanya mantap sementara semua teman sekelompoknya menatapnya dengan geli. “Namanya Pulgoso.” Dia menepuk anak kambing Bapak yang sekarang diikat pada tambang di dekat kandang, dikeluarkan agar bisa bergerak lincah dan makan dari setumpuk rumput yang diletakkan Bapak di dekat sana.
“Dia suka nama itu, ya, 'kan, Pulgoso?” Tambahnya saat teman-temannya menatapnya dengan tatapan mencela yang menyebalkan.
“Mbeek!”
“Tuh.” Jeongguk tersenyum lebar, puas atas jawaban Pulgoso.
Taehyung tertawa, “Kau demam, ya?”
Jeongguk berdecak, “Hanya karena pilihan temanku tidak seperti standar kalian, bukan berarti aku layak mendapat kecaman.” Dia kemudian melangkah mendahului teman-temannya, menyusup di bawah lengkung semak bambu, jalan pintas menuju jalan besar ke arah PAUD.
“Ngambek, deh.” Yoongi terkekeh dan para perempuan menggeleng.
“Siapa sangka Kak Gguk yang begitu, ternyata begitu.” Tzuyu tertawa ceria sambil menggandeng Dahyun yang menumpukan setengah bobot tubuhnya pada tubuh langsing Tzuyu saat berusaha melangkah di tanah becek yang berbatu.
“Memangnya dia begitu bagaimana?” Tanya Taehyung geli.
“Dia terkenal nakal,” Tzuyu meringis dan Dahyun tertawa mendengar pemilihan katanya. “Jenis orang yang tidak akan kaudekati sebagai teman. Tapi saat aku harus satu kelompok dengannya di kelas yang diulangnya, ternyata dia sangat ramah. Selera humornya sehat dan sangat baik padaku.”
“Aku dengar itu!” Seru Jeongguk dari kejauhan.
“Aku sedang memujimu!” Balas Tzuyu dan Jeongguk melambaikan jari tengahnya.
Hari itu, pagi PAUD sudah dibuka kembali. Ada delapan anak sekarang dan satu guru, para perempuan tidak sabar ingin bertemu para siswa manis. Mereka bahkan membawa permen cokelat untuk digunakan sebagai umpan agar para anak mau mendekati mereka.
“Dia demam.” Yoongi mengangguk serius dan Taehyung tertawa sementara Jeongguk membenamkan kedua tangannya ke saku jaket almamaternya dan memimpin mereka ke arah PAUD yang hanya beberapa meter dari pondokan.
Tidak besar, hanya ruang tamunya seseorang yang diberi sekat. Luasnya hanya 3x10 ubin, dilapisi karpet hijau yang sudah mulai gundul dengan poster-poster nama-nama buah sebagai pengenalan alfabet untuk anak-anak. Saat mereka tiba, anak-anak sedang membentuk lingkaran untuk bernyanyi sebelum kelas.
Hal yang mereka lakukan salah adalah membiarkan Jeongguk yang pertama memasuki ruangan.
Melihat lelaki jangkung, berotot panjang dan halus, rambut gondrong yang dikuncir memasuki ruangan, reaksi mereka langsung mundur; satu anak bahkan berteriak kaget dan Jeongguk langsung berhenti, mundur dari pintu depan. Senyumannya pudar, sama takutnya dengan anak-anak yang takut melihatnya.
Yugyeom terbahak-bahak, bergegas maju dan menyapa anak-anak; dia punya senyman lebar yang menular. Pembawaan semanis kembang gula yang langsung membuat semuanya rileks. Dia menandak-nandak, seperti seekor kelinci menggemaskan yang langsung menarik minat anak-anak.
“Halo!” Sapanya dengan suara tinggi yang ramah, bahkan pada rubah dingin seperti Yoongi saja mereka lebih hangat daripada menyambut preman seperti Jeongguk. “Nama Kakak Yugyeom, itu Kak Jeongguk. Tidak galak kok, agak seram tapi tidak gigit.”
Taehyung berdiri di sisi Jeongguk yang nampak terluka karena anak-anak takut padanya. Dia menepuk bahunya hangat lalu meremasnya, mengirimkan tikaman rasa gugup ke dasar perut Jeongguk.
Sejak dia memutuskan dia akan mendekati Taehyung dengan lebih serius, tiap batang rokok yang mereka bagi, tiap sentuhan, tiap pandangan terasa jauh lebih mendebarkan. Membuat Jeongguk nyaris limbung karena kekuatan sentuhan itu padanya.
“Tidak usah sedih,” hiburnya tertawa serak. “Mereka hanya kaget. Sebentar lagi mereka akan menyadari betapa menggemaskannya dirimu dan menyukaimu. Percayalah.”
Jeongguk pernah dipuji dengan begitu banyak kata sifat dan 'menggemaskan' jelas bukan salah satunya. Dia terbiasa dipuji tampan, seksi, binatang buas, menarik, mengintimidasi, liar, dan sebagainya. Tapi 'menggemaskan'?
Itu baru.
Dan Taehyung memang selalu bisa membuat hal-hal sederhana tentang dirinya menjadi begitu baru dan mendebarkan. Dia menoleh, menatap lelaki yang balas menatapnya dari balik lensanya.
Taehyung menaikkan kacamatanya; tersenyum lebar menyemangati Jeongguk.
Dia begitu manis, menenangkan, pintar, baik, hangat, dan segala hal yang belum pernah dicicipi Jeongguk dalam hidupnya. Dia ingin menggenggam Taehyung, ingin memeluknya dekat ke hatinya agar benda itu tetap hangat selama berdetak demi namanya.
“Dan kau?” Balasnya tanpa benar-benar berpikir sementara teman-temannya ikut berbaris dalam lingkaran, bergandengan tangan dengan anak-anak untuk ikut bernyanyi “Selamat Pagi, Ibu Guru” yang ceria sambil berputar.
Mereka berdansa di ruang tamu, menari sambil tertawa sementara anak-anak mulai berani menggenggam tangan para mahasiswa KKN, menikmati euforia yang mereka bawa. Khusunya Yugyeom dan Tzuyu yang nampak sangat natural bersama anak-anak. Yoongi mendapatkan gitar pinjaman dan mengiringi lagu pagi mereka dengan senyuman lebar di bibirnya, bahkan Dahyun yang berdiri dengan tumpuan satu kakinya yang sehat.
Suasana menjadi ceria dengan suara anak-anak, ibu guru mereka dan teman-teman KKN mereka.
Taehyung menerjap, “Apa?” Tanyanya, kebingungan.
Jeongguk menelan ludahnya, “Kapan kau akan menyukaiku?”