eclairedelange

i write.


“Kau yakin tidak apa-apa?”

Jeongguk mengerang, berbaring telungkup di kasurnya saat Yugyeom menyentuh punggungnya yang sekarang berdenyut-denyut. Tidak jauh berbeda dengannya, Taehyung juga sedang berbaring di kasurnya—mengerang. Pagi tadi saat mereka bangun, seluruh tulang Jeongguk terasa ngilu dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengerang.

Bedanya, saat beranjak siang, Taehyung sudah mulai merasa tubuhnya jauh lebih baik kecuali bagian kanan tubuhnya yang terasa sakit dan kram, sulit digerakkan sehingga dia melangkah tertatih-tatih dengan kaki kirinya sementara kaki kanannya ngilu.

Jeongguk belum bisa bangkit karena seluruh tubuhnya terasa ngilu. Seolah daging meleleh dari belulangnya yang sekarang digerus oleh rasa sakit. Sebelum berangkat ke PAUD, Taehyung meninggalkan air di sisi kepalanya.

“Minum air, oke?” Katanya sebelum mengecup telapak tangannya dan menempelkan ciuman itu di kening Jeongguk yang mengerang. Dia menyisir rambut Jeongguk dengan jemarinya sementara pemuda di bawahnya memejamkan mata, menikmati sentuhannya yang terasa sangat menyejukkan dibanding sakit yang menyerang tubuhnya.

“Aku akan kembali sebelum kau merindukanku.” Taehyung kemudian menumpukan tangan kirinya di dinding dan mencoba berdiri tanpa menggunakan kaki kanannya yang ngilu—Yugyeom bergegas menghampirinya, membantunya berdiri.

Yoongi akan tiba nanti, dia mengambil jatah turun menginapnya dan sudah berjanji akan membawakan obat yang mungkin dibutuhkan Jeongguk. Juga membawakan semua makanan yang diinginkan teman-temannya. Khususnya pesanan Yugyeom: durian.

“Durian!” Seru Momo setuju, nampak sangat menyukai ide itu. “Dan petai! Tolong beli petai, aku ingin sekali!”

Dahyun langsung balas mengerang, “Petai!” Timpalnya heboh.

Dan walaupun Jeongguk benci petai, tapi Taehyung nampak mengantisipasi makanan bau itu juga. Maka dia diam, apa saja agar Taehyung senang dan selama mereka menyiram urin mereka baik-baik setelah makan.

Jeongguk mendesah saat pintu depan ditutup, teman-temannya menuju PAUD—seminggu lagi mereka akan mengakhiri masa KKN mereka di Desa Watugajah. Jumat nanti mereka akan melaksanakan evaluasi terakhir di pondokan terakhir, pondokan Jaehyun yang sekarang jadi lumayan akrab dengan Taehyung tiap mereka bertemu di evaluasi. Ternyata bersikap menyebalkan membuat Jaehyun akrab dengan Taehyung.

Besok mereka akan melaksanakan program kerja terakhir mereka, pemasangan papan penunjuk jalan yang sudah dibuat oleh ketua RT 07.

Jeongguk takut dia mungkin tidak bisa membantu teman-temannya karena ngilu di sekujur tubuhnya. Dahyun di sisi lain sudah mulai bisa menekuk kakinya karena luka di lututnya sekarang sudah berwarna merah muda sehat—dia sudah bergerak dengan lebih leluasa, agak menyesalkan karena menghabiskan waktu KKN-nya dengan terpincang-pincang.

Taehyung yakin ngilunya akan hilang sebentar lagi dan Jeongguk mau tidak mau percaya padanya—begitu saja.

Tidak bisa melakukan apa pun, Jeongguk memutuskan untuk bermain game di ponselnya—menghabiskan waktu sementara teman-temannya sibuk di PAUD. Dia baru saja menyelesaikan lima level di Candy Crush Jelly Saga saat suara motor Yoongi terdengar.

Dia menjulurkan lehernya, melihat Yoongi memarkir motor lalu membawa kantung-kantung plastik yang terisi makanan masuk. Dia mendorong pintu dengan sikunya dan langsung menatap Jeongguk yang terbaring menyedihkan di kasurnya. Dia nampak geli karena Jeongguk yang biasanya begitu dinamis dan susah diminta diam, sekarang terbaring di kasurnya.

“Kasihan.” Katanya terkekeh serak lalu meletakkan semua makanan di atas meja. “Kau sudah makan? Aku membawakan kalian Olive.” Tambahnya seraya melepas sarung tangan, masker dan jaket berkendaranya.

Jeongguk mendesah, meletakkan ponselnya. “Aku mau makan.” Sahutnya saat berusaha mendorong tubuhnya untuk duduk dan Yoongi langsung bergegas menghampirinya, membantunya mendudukkan diri di kasurnya.

“Ya, Tuhan!” Keluh Jeongguk saat dia akhirnya berhasil duduk, kelelahan hanya karena melakukan hal sesederhana itu. Yoongi berdiri di sisinya, dengan telapak tangan menempel di punggung atas Jeongguk, bersiaga jika dia oleng tidak kuat duduk.

“Kau yakin tidak perlu ke dokter?” Tanya Yoongi kemudian setelah yakin Jeongguk bisa duduk tegak sendirian. “Puskesmas?”

Jeongguk berusaha melemaskan otot lehernya, perlahan hingga terdengar suara keretak lembut. Dia kemudian berusaha menegakkan punggungnya, menggeram saat rasa sakit menyerang ototnya sebelum akhirnya menyerah.

“Tidak, tidak.” Katanya kemudian lalu menerima gelas plastik terisi minuman yang disodorkan Yoongi. “Mungkin hanya syok karena benturan kemarin. Seharusnya besok sudah lebih baik.”

Dia menyesap minumannya, mendongak saat Yoongi datang membawakannya segelas es batu untuk minumannya. Yoongi kemudian membantunya membuka makan siang di pangkuannya sebelum Jeongguk makan.

“Kau membelikan mereka petai?” Tanyanya dengan tulang ayam di bibirnya, sedang digerogoti dengan khidmat karena sumsumnya terasa sangat lezat.

Yoongi mengangguk, “Semua pesanan. Lengkap.” Dia membongkar tasnya yang nampak penuh. Menarik keluar seikat petai yang membuat Jeongguk tertawa geli.

Dia membawa benda itu ke dapur, meletakkannya di meja makan untuk diurus para penggemarnya nanti sebelum melangkah keluar dan membawa dua buah durian berukuran sedang, meletakannya di sudut ruangan. Aromanya langsung membuat Jeongguk mendesah.

“Benar-benar matang, ya?” Tanyanya, menggerogoti tulang ayamnya seraya menatap Yoongi yang melepaskan celana jinsnya sehingga dia menggunakan celana pendek dalamannya di pondokan.

“Aku memilihkan yang paling matang.” Tambahnya seraya melangkah ke kamar, menggantung pakaiannya di balik pintu. “Agar kita bisa langsung makan malam ini.”

“Aromanya membuatku senang,” desah Jeongguk menyuap nasinya—sesakit apa pun dia, makanan tidak akan pernah gagal membuatnya bersemangat. “Tidak sabar untuk segera membelahnya.”

Yoongi terkekeh, menyugar rambutnya. Sekarang sudah mengganti bajunya menjadi kaus tipis yang nyaman dan nampak lelah setelah perjalanan dari Yogyakarta. Dia meraih kotak makanannya sendiri lalu duduk di sisi Jeongguk, makan dengan khidmat.

“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Seokjin?” Tanya Jeongguk kalem, menyesap tulang rusuk ayam di tangannya; mencari lemak-lemak tipis disela-selanya yang teras sedap.

“Kau makan tulang itu sudah sepuluh menit,” gerutu Yoongi menatapnya seolah Jeongguk sudah sinting karena dia melepaskan semua daging dari tulangnya dan menggerogoti tulangnya sebelum makan dengan daging ayamnya. “Menjijikkan.”

Jeongguk membiarkan tulangnya menggantung di bibirnya, “Aku sangat mengapresiasi usahamu untuk mengalihkan pembicaraan, tapi tidak.” Dia menyesap tulangnya, “Jadi, kalian sudah jadian belum?”

Yoongi mendesah keras, mulai membuka kotak ayam gorengnya hingga menjadi lembar yang memudahkannya untuk makan. Dia bangkit, mencuci tangannya ke dapur sebelum kembali dan menemukan Jeongguk masih menggerogoti tulangnya dengan kalem.

“Yah, sebenarnya,” katanya kemudian dan Jeongguk menaikkan kedua alisnya—tidak menyangka Yoongi akan menceritakan satu-dua hal mengenai hubungannya dengan Seokjin. “Dia sudah mengajakku pacaran. Atau setidaknya, pergi keluar berdua saja—berkencan, makan malam, dan hal-hal begitu.”

Jeongguk menyesap tulangnya dengan suara keras hingga Yoongi mengernyit sebal. “Lalu? Apa yang membuatmu tidak nyaman?” Tanyanya saat—akhirnya, meletakkan tulangnya yang bersih ke sisi tempat makan.

Yoongi mengedikkan sebelah bahunya, mulai menyuap ayamnya. “Entahlah.” Katanya kemudian dengan suara kecil hingga Jeongguk menoleh.

“Kau bisa cerita jika mau? Maksudku, aku tahu mulutku ini sampah sekali tapi aku tidak akan melakukan apa pun pada rahasiamu.” Dia tersenyum, menunduk kembali lalu mulai makan.

“Entahlah, Gguk,” katanya kemudian, mulai makan bersama Jeongguk. “Dia nampak terlalu.... bersinar? Bagaimana kau menyebutkannya? Seolah dia tidak serius padamu, dia nampak terlalu jauh untuk diraih? Maksudku, apa yang dilakukan seorang dokter hewan muda dengan mahasiswa tingkat akhir?”

Jeongguk berhenti mengunyah, menatap Yoongi yang sekarang memelototi potongan ayam salut tepungnya seolah benda itu sudah melakukan hal yang sangat jahat padanya.

“Aku mungkin akan bertanya-tanya juga,” sahut Jeongguk kemudian dan Yoongi mendesah keras, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang membuat rasa percaya dirinya semakin rusak namun Jeongguk menyelanya, “Tapi apakah itu kemudian adil bagi Seokjin?”

Yoongi tidak jadi menjawab, raut wajahnya mengerut—ekspresi rubah yang selalu dipasangnya jika dia merasa bingung atau terganggu. “Maksudmu?”

Jeongguk mengedikkan bahunya kalem, “Apakah itu adil bagi perasaan Seokjin yang sudah memilihmu dan kau malah sibuk dengan dirimu sendiri?” Tambahnya kemudian menyuap makanannya. “Aku tidak menyalahkan perasaan takutmu, seperti mungkin saja Seokjin suatu hari nanti berubah pikiran atau apa, tapi menurutku kenapa tidak hidup di hari ini saja?

“Dia merasa yakin padamu, maka yakinlah padanya. Percayalah. Kau juga suka padanya, 'kan? Menurutku itu cukup. Rengkuh saja perasaan itu selama masih berkobar, hangatkan dirimu di sana. Buat dirimu nyaman, temukan hal-hal menarik tentang diri kalian masing-masing; beri dia kesempatan untuk membuatmu percaya bahwa seseorang sepertimu layak mendapatkan perhatiannya.”

Yoongi menatapnya, bibirnya terbuka. “Wow.” Katanya kemudian dan Jeongguk nyengir. “Apakah ayamnya beracun?”

“Tidak, Sob.” Jeongguk mengangguk serius. “Memangnya menurutmu apa lagi alasan lelaki seserius Taehyung mau padaku?”

“Entahlah. Seks?”

“Itu juga, sih.”

Yoongi tertawa dan Jeongguk tersenyum lebar, senang setidaknya Yoongi tertawa. “Yah, kurasa kau benar.” Katanya. “Aku memikirkan ini sepanjang hari—ketakutan jika suatu hari dia mungkin bosan padaku.”

“Kau tidak hidup di masa sekarang,” Jeongguk menyuap nasi pulennya, mengunyahnya sebelum menjawab. “Mencemaskan hal yang belum terjadi sama sekali.”

Yoongi meringis, “Benar lagi.” Dia mulai menyuap makanannya. “Kurasa aku juga sudah menyakitinya karena ketakutanku sendiri.”

“Tidak ada yang menyalahkanmu, kok.” Jeongguk tersenyum hangat, menyemangati. “Kau merasa takut, itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutanmu itu menguasai segala aspek dalam hidupmu. Jangan sampai dia memanipulasimu dengan bayangan bahwa kau tidak layak bahagia.”

“Aku pikir kau tidak punya otak.”

“Trims. Kau bukan orang pertama yang bilang begitu.”

Yoongi tertawa, nampak jauh lebih rileks sekarang—bahunya naik dan Jeongguk suka itu.

“Mulailah menghargainya sedikit, jika kau masih takut—kau selalu bisa membicarakannya pada Seokjin. Dia mungkin malah akan membantumu, membuatmu yakin. Komunikasi itu penting, menghindari drama yang tidak perlu.” Tambah Jeongguk menandaskan nasi di kotaknya dan mendesah.

Yoongi menatap makanannya, memikirkan prospek komunikasi yang ditawarkan Jeongguk padanya. “Kau benar,” katanya kemudian, mendesah berat. “Lagi.”

“Hubungan tidak akan berjalan jika tidak ada komunikasi.” Jeongguk mengedikkan bahu. “Menurutku malah itulah kenapa manusia diberikan bahasa dan kecerdasan itu, 'kan? Untuk bicara jika ada hal yang tidak disukainya atau disukainya.”

“Kau pernah bertengkar dengan Taehyung?” Tanya Yoongi kemudian setelah mereka bersidiam beberapa saat.

“Saat dia cemburu pada Jaehyun, kurasa? Selebihnya hal-hal yang tidak terlalu serius.” Jeongguk terkekeh, “Tapi kemudian aku menjelaskan dia siapa dan bahkan memintanya untuk bicara langsung pada Jaehyun tentang hubungan kami, dia percaya dan aku menghargai rasa percaya itu.”

Yoongi menatap makanannya, memikirkan banyak perspektif baru setelah Jeongguk bicara. “Kau ternyata tidak seburuk itu,” katanya kemudian—memberikan senyuman kucingnya yang menggemaskan pada Jeongguk yang balas tersenyum lebar.

“Nah, sekarang tolong bantu ambilkan aku nasi, Yoon.” Jeongguk meringis dan Yoongi memutar bola matanya.

“Baru saja semenit lalu kupikir kau ini keren,” dia beranjak dan melangkah ke dapur sementara Jeongguk terkekeh di tempatnya. “Trims, Yoon!” Serunya pada Yoongi yang menggerutu.

Dia kembali dengan sepiring nasi hangat yang diterima Jeongguk dengan penuh syukur. Menyingkirkan topik tentang Seokjin saat teman-teman mereka datang dengan riuh langsung menyerbu makan siang yang dibawakan Yoongi sementara Taehyung tiba terakhir dengan Yugyeom yang membimbingnya.

“Lihat dirimu,” goda Jeongguk dan Taehyung mendelik padanya, duduk di sisinya dengan kaki diluruskan dan mendesah kelelahan. “Lelah, ya?”

Taehyung mengangguk, tidak mengatakan apa pun saat menandaskan isi gelas minuman Jeongguk—dia beraroma pekat matahari dan udara, membuat Jeongguk menghirup napas dalam-dalam, memetakan aroma itu di otaknya.

“Kau membelikanku pisau cukur tidak, Yoon?” Tanyanya kemudian, mengusap dagunya yang kasar dan Jeongguk terkekeh, dia mengulurkan tangan—ikut membelai jenggot-jenggot baru di sana, meraskan teksturnya yang seperti lidah kucing.

“Ada, di tasku.” Yoongi mengangguk, menelan kunyahan terakhirnya lalu membereskan makanannya sementara para perempuan berseru senang menemukan petai di dapur.

“Kak Tae!” Tzuyu melongok dari dapur, “Mau petai goreng tidak?”

Taehyung mendesah panjang, “Ya! Tolong!”

Tzuyu terkekeh, “Oke!” Serunya lalu beranjak kembali ke dapur dan Yugyeom menyusul mereka dengan minuman di tangannya.

“Tolong siram urinmu dengan baik setelah ini,” gerutu Jeongguk menyelesaikan makanannya dan Taehyung terkekeh. “Nih,” dia meraih kulit ayamnya—bagian yang tidak disukainya dan mengulurkannya ke Taehyung yang langsung membuka mulutnya, menerima bagian terbaik dari ayam goreng itu.

“Kau tidak suka petai?” Tanya Taehyung, mengunyah kulit ayamnya dan meraih remahan tepung ayam yang rontok di sekitar tempat makan Jeongguk. “Dan kulit ayam?”

“Ya,” sahut Jeongguk menatapnya. “Semua bagian terbaik dunia kuberikan padamu.” Dia mengecup telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi Taehyung yang terkekeh.

“Terbaik hanya karena kau tidak suka,” dia nyengir mengusap minyak di pipinya karena mulut Jeongguk penuh minyak setelah makan ayam.

Jeongguk nyengir. “Setidaknya aku memberikan hal-hal yang lezat, 'kan?” Dia melipat kotak ayam gorengnya, membungkus tulangnya dengan rapi agar Diwud tidak memakannya dan tersedak.

Dia meraih kotak ayam Taehyung yang berada di dekatnya, menggerang saat gerakan sederhana itu menyakiti punggungnya kemudian membantu Taehyung membuka kotaknya sementara para perempuan datang membawa piring terisi petai goreng.

Jeongguk duduk di sana, menerima semangkuk air bersih untuk cuci tangan dari Yoongi karena dia belum bisa bangkit menonton Taehyung makan dan sesekali menerima suapan daging ayam yang disuapkan Taehyung padanya. Jeongguk mengamati bagaimana Taehyung nampak senang sekali dengan makanan sesederhana petai goreng sehingga dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memijat tengkuk Taehyung yang sedang makan.

Mereka kemudian terlalu kenyang untuk membelah durian mereka sehingga semuanya memutuskan untuk berbaring—bermalas-malasan karena sebentar lagi penarikan dan program kerja mereka sudah hampir habis.

“Ayo mengisi buku harian KKN,” Momo datang membawa setumpuk buku putih yang membuat semuanya mengerang keras—mereka belum mengisinya sejak dua minggu lalu.

Tzuyu yang masih makan mendongak, “Contek saja punyaku. Aku mengisinya tiap malam, kok.” Katanya seperti seorang malaikat dan semuanya bergegas membuka buku Tzuyu, menyalin isinya beramai-ramai.

“Oh, iya,” Dahyun kemudian bicara seraya menulis, teman-temannya membungkuk di sekitarnya—menyalin isi buku harian Tzuyu yang masih menikmati makan siangnya. “Kita akan membuat perpisahan, 'kan? Memanggang ayam atau ikan maksudku?”

Yugyeom mendongak, sejenak baru menyadari itu. “Benar juga,” katanya kemudian.

“Uang aman, kok. Masih ada cukup untuk membeli ayam kurasa, kita makannya hemat.” Dahyun menambahkan dan Yugyeom mengangguk-angguk.

“Bagaimana?” Tanyanya ke teman-temannya.

“Tidak masalah untukku,” sahut Taehyung dengan Jeongguk yang bersandar di bahunya, nampak nyaman seperti bayi yang kenyang dan terkantuk-kantuk. “Bukankah itu hal yang biasa dilakukan?”

Yugyeom mengangguk, “Benar juga, sih. Nanti aku bicarakan dengan Ibu dan Bapak.” Katanya sebelum kembali menulis.

“Kita panggang ayam saja, nanti kita turun ke Pasar Wedi karena pasar di bawah pasti tidak ada ayam yang cukup.” Yoongi menjawab tanpa mendongak. “Sekitar sepuluh ekor mungkin cukup? Jeongguk bisa mengundang Sobat Sebat-nya.”

Jeongguk mengacungkan jempolnya, masih sibuk mengisi buku hariannya. “Tidak masalah,” katanya menoleh ke buku Taehyung, menyalin apa yang ditulis Taehyung. “Mereka juga mau membantu.”

“Kira-kira besok tubuhmu sudah enakan belum, Gguk?” Tanya Yugyeom kemudian.

“Kuharap begitu,” keluh Jeongguk, mencoba menegakkan punggungnya yang nyeri. Menyadari dengan kesal sakit itu benar-benar menyiksanya. “Kita akan ke rumah Pak RT07, ya? Mengerjakan proker terakhir?”

Yugyeom mengangguk, kembali menulis di buku hariannya. “Jika kau tidak bisa bermotor, mungkin kau tinggal di pondokan saja? Taehyung bisa dengan Yoongi.”

“Tidak, tidak,” tukas Jeongguk kemudian, “Aku besok akan lebih baik tenang saja. Ini hanya memar otot karena kaget saja.”

Sesiangan itu dihabiskan Jeongguk dan Taehyung untuk berbaring—mengistirahatkan tubuh mereka yang nyeri seraya bermain Candy Crush Jelly Saga sementara teman-temannya bermalas-malasan. Memar di punggung Jeongguk sekarang berwarna hijau kebiruan, sakit jika disentuh namun tidak ada tanda pendarahan dalam yang berarti.

Dia sudah berjanji jika besok sakitnya masih terasa tidak tertahankan, Jeongguk harus turun ke Puskesmas.

“Setelah penarikan,” kata Jeongguk dengan suara rendah sehingga hanya Taehyung yang mendengarnya.

“Hm?” Tanya Taehyung, fokus mengalahkan musuh di game-nya.

“Kau masih akan bertemu denganku, tidak?”

Taehyung mengerjap, lalu menoleh pada Jeongguk yang meringis. “Pertanyaan macam apa itu?” Dia memicingkan matanya dan Jeongguk menjilat bibirnya, bersalah.

“Yah? Mungkin saja setelah penarikan kita tidak punya spark lagi sehingga kau—”

Taehyung menghentikannya bicara dengan mencubit bibirnya, keras sekali hingga Jeongguk mengerang keras, berusaha menarik tangannya lepas dari bibirnya. “Kau berisik.” Katanya melepaskan tangannya dan Jeongguk mengusap bibirnya yang sakit.

“Tentu saja aku akan bertemu denganmu, Bodoh.” Gerutunya kemudian hingga Jeongguk tersenyum lebar. “Malah aku akan dengan senang hati terus mengajakmu pergi, aku tidak akan mau berjauhan denganmu.”

“Oh,” Jeongguk mengusap kepala Taehyung. “Bayiku,” dia terkekeh senang dan Taehyung mendenguskan senyuman lebar. “Aku tidak akan berjauhan darimu. Ikat saja aku di pinggangmu.”

Taehyung terkekeh, “Bagaimana jika setiap Jumat malam, kita saling menginap? Antara kau di kosanku atau aku di kosanmu?”

“Aku suka itu.” Jeongguk mengangguk, “Setiap Jumat jika tidak ada kegiatan besoknya, bagaimana? Aku tidak mau membuatmu lelah.”

Taehyung menyerigai. “Lelah kenapa?” Tanyanya.

Jeongguk mengerlingnya. “Entahlah. Menurutmu apa?”

Taehyung menggerakan lidahnya sensual hingga Jeongguk bergidik nikmat, membayangkan lidah itu di bagian tubuhnya yang lain. Membayangkan Taehyung membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya dan dia bisa menjambak Taehyung kapan pun dia butuh pemuda itu memeluk tubuhnya lebih dalam lagi....

”... Melamun jorok.”

Jeongguk mengusap wajahnya berat dan Taehyung terkekeh. “Menyerah. Kau terlalu menggoda sehingga isi kepalaku semuanya melibatkanmu dan ranjang,”

Taehyung tertawa, “Kau bajingan bangsat.”

“Bajingan bangsat yang siap membenamkan wajahnya di antara kedua kakimu dan membuatmu mendesah nikmat, ya. Itu aku.”


Hari ini mereka tidak memiliki agenda apa-apa kecuali bertamu ke rumah ketua RT 07 untuk mendiskusikan masalah pembuatan papan nama perangkat desa baru yang mereka anggarkan sebagai program kerja.

Rumah ketua RT 07 berada persis sebelum turunan ke arah Masjid yang mereka gunakan sebagai tempat belajar bersama anak-anak. Memasuki jalan rusak berbatu yang becek dan licin dengan rimbun bambu di kanan kirinya.

Jeongguk mengendarai motornya dengan perlahan, membiarkan semua teman-temannya dengan motor bebek dan matic untuk mendahuluinya melewati kubangan lumpur lumayan dalam. Di bawah mereka ada sungai kecil yang airnya lumayan deras, dengan kucuran air deras yang tersumbat ranting pepohonan; memberikan suasana yang sangat menyenangkan dengan suara hewan, suara gemericik air, dan gemerisik dedaunan.

Di sekitar mereka hening, hanya ada suara serangga dan cicadas seperti musim panas di dalam komik-komik Jepang. Hawanya sejuk, sinar matahari yang redup tidak bisa menembus celah dedaunan yang lebat di atas mereka—gemerisik menggoyangkan titik-titik air sisa hujan semalam ke bawah. Suaranya gemuruh saat angin menerpa sela batang bambu di sekitar mereka.

“Kau mungkin mau turun saja?” Tanya Jeongguk sementara Momo mengendarai motor Dahyun perlahan melewati kubangan itu, berhati-hati agar air tidak menyiprati Yugyeom yang berada persis di belakangnya. “Air mungkin menyiprati punggungmu karena ban motorku.”

Taehyung menaikkan kacamatanya, menoleh ke belakang dan menyadari kata-kata Jeongguk mungkin benar. “Yah, kau benar.” Katanya lalu melompat turun dari motor, berjalan ke pinggir.

Jeongguk menatapnya, menumpukan lengannya di kepala motornya; menatapnya dengan keterpesonaan yang membuat Taehyung merona. Dia ingin memeluk Jeongguk, ingin menimangnya, ingin menciumnya...

“Kau cantik sekali,” katanya dan Taehyung memutar bola matanya. “Ada yang pernah bilang padamu, tidak?”

“Hal yang akan dikatakan buaya pada sasarannya.” Sahut Taehyung kemudian terkekeh dan Jeongguk tersenyum lebar.

“Bisa diperdebatkan, karena kau memang indah.” Katanya kemudian bersiap, dia menegakkan tubuhnya dan motornya karena Yugyeom sudah melewati setengah jalan becek itu.

Taehyung mencibir geli lalu berjalan di pinggir, mencari tanah yang tidak becek untuk dijejak dengan sandal gunungnya sementara Jeongguk bersiap-siap untuk lewat. Karena motornya memang dirancang untuk medan ekstrim dan kubangan, dia melewati tanah itu dengan lancar—hanya terkena cipratan lumpur di kakinya yang terbalut celana pendek selutut.

Dia meluncur mulus, tiba di ujung kubangan sementara Taehyung masih berusaha mencari tanah untuk dijejak. Dia melompat ke batu di tengah kubangan sebelum melompat ke seberang—namun dia salah memperhitungkan lompatannya karena kemudian, kakinya meleset dari tanah padat dan melesak ke dalam lumpur, dia mengerang keras. Syukurnya berhasil menahan dirinya sendiri agar tidak mengumpat.

Jeongguk langsung menoleh, panik takut sesuatu terjadi padanya lalu mendenguskan tawa keras saat melihat Taehyung sedang mengibaskan kakinya dari lumpur.

Yugyeom yang menoleh juga, ikut tertawa setelah menyadari mereka tidak apa-apa. “Hitung-hitung sambutan selamat datang, Tae!” Katanya ceria. “Nanti dicuci di rumah Pak RT.”

Taehyung mengerang, dia melangkah dengan satu kaki yang basah oleh lumpur hingga ke betis. Tangannya menarik celananya agar tidak terkena lumpur di kakinya dan Jeongguk tertawa.

“Oh, kasihan sekali, Sayangku.” Katanya lalu mengaduh saat Taehyung menempeleng helmnya hingga mengeluarkan suara 'duk!' keras.

Taehyung naik ke jok belakang, kedua tangannya di bahu Jeongguk dan kakinya yang basah oleh lumpur diluruskan. “Jalan,” gerutunya dan Jeongguk tertawa.

“Ada apa denganmu? Kenapa jadi jengkel?” Tanyanya saat motor bergerak menembus hutan bambu ke arah rumah ketua RT 7 yang masih sekitar satu hingga dua kilometer dari jalan besar.

“Kakiku basah.” Sahut Taehyung dan Jeongguk kembali tertawa, benar-benar terhibur dengan omelan Taehyung. “Untung saja aku tidak terjerembab di sana tadi.”

“Nanti kita cuci, kau tidak akan mati hanya karena kakimu mencelus di lumpur,” Jeongguk meliriknya dari spion dan Taehyung tersenyum lebar.

Mereka tiba di rumah ketua RT 07, satu-satunya pengerajin kayu di desa itu. Dia memiliki rumah produksi dan banyak sisa serutan kayu menumpuk di halamannya. Taehyung langsung mengampiri kran air dan mencuci kakinya sementara Momo dan Tzuyu menemukan hal menarik dengan sapi yang diikat di pinggir jalan, tidur santai sambil memamahbiak.

Yugyeom bicara dengan Pak RT mengenai program mereka dan mencari tahu kira-kira berapa yang mereka harus bayarkan sementara teman-temannya dengan tidak suportifnya pergi ke kebun srikaya Pak RT yang sedang berbuah.

“Kau pernah makan srikaya?” Tanya Taehyung saat mengulurkan tangan, memijit buah srikaya terendah dan tersenyum puas saat menyadari buah itu sudah matang. Dia memutarnya lembut hingga lepas dari tangkainya.

Istri Pak RT mengizinkan mereka memetik sesuka mereka, ada lima pohon dan semuanya sedang berbuah ranum-ranum nyaris sebesar kepalan tangan. Mereka memetik lima buah dan menikmatinya dengan berbagi satu buah berdua karena tidak ingin menghabiskan isi kebun orang.

Jeongguk menggeleng saat Taehyung berdiri di depannya, membelah buah itu menjad dua dan menyerahkan separuh kepada Jeongguk yang menerimanya. Dia mengamati daging buah berwarna putih dan bermata banyak itu.

“Kau makan saja, jangan telan bijinya.” Kata Taehyung, dia menyuap buahnya lalu mengeluarkan biji-biji hitamnya ke tangannya—mengunyah daging buahnya lalu menelannya. “Begitu.” Lalu dia mendesah, “Ini manis.”

Jeongguk mengamati buah di tangannya lalu mencontoh apa yang dilakukan Taehyung. Lalu memasang wajah terkejut karena rasanya ternyata enak—legit dan lembut. Dia membuang biji di dalam mulutnya dan tersenyum senang.

Taehyung nyengir, “Enak, 'kan?” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk, melanjutkan makannya dengan diam—kapan pun dia mendapatkan makanan lezat untuk dirinya sendiri. Beberapa meter setelah kebun, ada jalan menurun yang lumayan terjal dan kata anak Pak RT yang kebetulan salah satu siswa mereka setiap memberi bimbingan belajar, di bawah sana ada rumah juga.

Jeongguk mundur, “Aku tidak membayangkan tinggal di bawah sana,” katanya, menyelipkan kedua tangannya ke saku celana pendeknya—setiap dia berjalan mata singa di pahanya mengintip. “Saat hujan deras air pasti turun ke sana seperti air terjun.”

“Ada apa di bawah sana, Ilham?” Tanya Yoongi kemudian, meladeni anak lelaki itu bermain sepak bola. “Maksudku di ujung jalan?”

Ilham memainkan bola, mengopernya dengan kaki ke Yoongi yang menerimanya—mereka bermain bola dengan lincah di halaman sementara semua anak KKN makan buah srikaya.

“Sungai,” sahut Ilham kemudian, berhenti memainkan bolanya—menginjak bola itu di bawah kakinya. “Sungai deras.”

“Mereka semua tinggal di medan yang ekstrim.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk terkekeh, setuju.

Perjalanan pulang mereka ternyata lebih menegangkan dari perjalanan ke rumah ketua RT tadi. Jeongguk akhirnya tidak mengizinkan Taehyung turun di tanah becek itu, berkendara perlahan agar air tidak menciprati bagian belakang pakaian Taehyung. Namun saat mereka melewati tanjakan berbatu seratus meter dari jalan utama, Yugyeom salah memasukkan gigi motornya.

Itulah awal bencananya. Yugyeom yang berhenti mendadak, membuat Jeongguk juga harus mendadak berhenti. Jeongguk kaget, tidak sempat mengembalikan gigi motornya ke netral dan terlanjur memuntir gasnya sehingga motor menggeram dan melonjak kaget.Dia menyentakkan stang motornya, menghindari Yugyeom yang berhenti di depannya—motornya meraung keras.

Semua anak berteriak kaget saat ban depan Jeongguk selip dan motor oleng.

“Jeongguk!” Seru Taehyung saat menyadari mereka akan jatuh dan Jeongguk berusaha menjejakkan kakinya ke tanah, agar motor tidak terguling. Namun terlambat, kakinya mencelus ke tanah becek dan dia kehilangan keseimbangannya.

Dia mendengar Taehyung terkesirap keras sebelum keduanya jatuh ke tanah becek, Taehyung beruntung dia sempat menutupi wajahnya dengan lengan sehingga dia mendarat dengan tangan kanannya di tanah dan motor menimpa tubuh mereka berdua dengan suara keras. Jeongguk berhasil menolehkan wajahnya sehingga helm full face-nya tidak mencederai wajahnya saat terantuk ke tanah. Keduanya berbaring di tanah yang becek. Jeongguk merasakan air mulai merembes ke pakaiannya.

“Tae! Gguk!”

Teman-temannya bergegas memarkir motor mereka, berlari turun menghampiri (kecuali Dahyun) untuk membantu mereka. Jeongguk menghela napas, menoleh ke Taehyung yang masih menutup wajahnya. Yugyeom dan Yoongi melompati tanah becek dengan lincah, menghampiri mereka untuk membantu mereka berdiri.

“Tae?” Panggilnya serak, hatinya mencelos—takut terjadi sesuatu pada Taehyung atau melukainya. “Maafkan aku. Apakah kau—”

Dan untuk mengejutkan semuanya, Taehyung tertawa—terbahak-bahak hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru. Jeongguk mengerjap dan semua anak yang baru saja merunduk untuk mengangkat motor Jeongguk diam.

“Punggungku sakit!” Rengek Taehyung, namun tersengal akibat tawa. Dia kemudian menurunkan tangannya, kacamataya ternoda lumpur—begitu juga wajah dan pakaiannya. Dia mengulurkan tangan lalu menoyor kepala Jeongguk, yang masih termangu karena tawanya.

“Apa, sih, masalahmu?!” Tawanya.

Jeongguk sejenak kebingungan sebelum akhirnya tertawa—keduanya histeris karena adrenalin yang menyembur seperti gunung meletus saat mereka berusaha menjejak tanah agar tidak jatuh, namun akhirnya terguling seperti dua ekor kuda nil ke dalam lumpur basah yang sekarang merembes ke pakaian dalam keduanya.

“Sinting!” Gerutu Yoongi namun tak ayal tertawa saat dia mendirikan motor Jeongguk dan mengembalikan giginya menjadi netral sebelum mematikan mesinnya. “Bisa-bisanya kalian tertawa! Ayo, bangun dari sana!”

Yugyeom tertawa, tinggi dan bersalah saat dia membantu Taehyung berdiri dan Momo serta Tzuyu membantu Jeongguk berdiri. Keduanya nampak mengerikan, setengah pakaian mereka kotor oleh lumpur. Wajah Taehyung setengahnya adalah lumpur, lensa kanan kacamatanya tertutup sepenuhnya oleh lumpur. Namun keduanya tertawa, tersenyum lebar.

Hari itu, saat Jeongguk menatap Taehyung yang tertawa dengan wajah separuh ternoda lumpur—dia tahu, Taehyung tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Dia akan selalu jadi bagian hidup Jeongguk, tidak peduli bagaimana dan kenapa.

Jeongguk akan menggenggam Taehyung begitu erat di jantungnya agar pemuda itu tahu, dialah yang membuat jantungnya belakangan ini berdetak dengan jauh lebih bersemangat.

Dia jatuh cinta pada Taehyung, itu jelas. Namun jatuh begitu dalam hingga dia tidak sudi diselamatkan, adalah hal baru.


“Lho?? Kenapa ini? Jatuh di mana??”

Jeongguk tertawa dan Taehyung turun dari jok motornya, tersenyum lebar pada Ibu yang kaget karena mereka pulang dalam keadaan kotor oleh lumpur.

“Jatuh di jalan ke rumah Pak RT 07, Bu.” Sahut Yugyeom, membantu Jeongguk memarkir motornya yang baret dan kotor oleh lumpur; dia nampak bersalah karena dialah keduanya jadi jatuh. “Saya salah memasukkan gigi dan Jeongguk jadi korbannya.”

Ibu tertawa kecil, agak tegang namun wajahnya sarat dengan kekhawatiran saat menghampiri Jeongguk dan Taehyung, mengecek luka. “Tapi tidak kenapa-kenapa?” Tanyanya menyentuh Jeongguk—keduanya adalah anak kesayangan Ibu karena tidak pernah absen mengekor Ibu ke sawah atau ke kebun untuk membantunya.

“Tidak, Bu.” Sahut Jeongguk, tertawa. “Hanya lecet sedikit,” dia menunjukkan sikunya yang sedikit terluka sekarang tertutup lumpur yang mulai mengering.

Ibu menyentuh sikunya dan mendesah, “Sana, cuci dulu terus diobati, cepat.”

Keduanya bergegas ke PAH, mencuci kaki, tangan dan wajah mereka dengan air. Membilasnya berkali-kali sebelum Jeongguk mengambilkan handuk Taehyung yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi. Dia menyempatkan diri mengganti bajunya dulu, membawa pakaian kotornya ke belakang untuk dicuci seraya membawakan handuk Taehyung.

Dia mengentuk pintu kamar mandi, “Handukmu!” Serunya.

Terdengar suara air mengucur dari dalam, suara air yang diguyurkan ke badan sebelum suara menggema Taehyung, “Sebentar!”

Jeongguk meraih ember mencuci Ibu, meletakkan pakaiannya di sana dan mulai menuang deterjen ke dalamnya setelah menyampirkan handuk Taehyung di bahunya. Dia baru membuka kran, mengisi embernya dengan air saat pintu kamar mandi terbuka.

“Handukku, Gguk!”

Jeongguk menoleh, mendapati Taehyung mengintip dari pintu yang terkuak kecil. “Don't be shy,” katanya meraih handuk di bahunya. “Buka sedikit lagi. Aku tidak bisa melihat apa pun.”

Ndasmu!” Sahut Taehyung, tak ayal tertawa dan mengulurkan tangannya. “Mana handukku!”

Jeongguk tertawa, mengulurkan handuknya yang langsung disambar Taehyung sebelum dia membanting pintunya kembali tertutup. “Kau tidak perlu membantingnya begitu!” Seru Jeongguk geli pada Taehyung yang tertawa dari dalam kamar mandi.

Setelah mereka berdua mandi, barulah Jeongguk merasakan sakit di tubuhnya. Dia mengerang, menarik kausnya naik dan meminta Taehyung mengecek punggungnya hanya untuk menemukan memar samar dan luka kecil di cerukan punggungnya, dua jengkal di bawah garis lehernya.

“Kita ke dokter?” Tanya Yugyeom saat Taehyung menekan tempat itu perlahan untuk mengecek sakitnya dan Jeongguk meringis. “Mungkin terbentur saat jatuh tadi?”

“Tidak, tidak.” Kata Jeongguk kemudian, dia kembali mengenakan kausnya dan mengizinkan Tzuyu kembali mengobati lukanya di lengan dan juga lututnya—tergores bagian motornya. “Tidak apa-apa, kurasa.”

“Jika besok memarnya semakin mengerikan, kau tidak boleh mendebat kami.” Sahut Yoongi yang mengobati luka Taehyung.

“Baik, baik.” Desahnya panjang saat Tzuyu membubuhkan obat merah ke lukanya yang langsung terasa nyeri.

Namun sakit yang mendera mereka pun tidak mengentikan keduanya untuk ikut berangkat ke air terjun bersama Ibu dan Irma, anak kedua Ibu. Mereka berangkat dari pondokan, menuruni tanjakan Clongop lalu mengambil jalan lurus di depan Puskesmas yang mereka biasa dilewati.

“Kau yakin punggungmu oke?” Tanya Taehyung yang berkendara karena cideranya tidak separah Jeongguk—setidaknya tulang keringnya aman.

“Oke, kok.” Sahut Jeongguk di belakangnya, tidak terlalu memikirkan luka-luka di tubuhnya. “Belum sakit, sih. Mungkin besok.” Tambahnya lalu mengedikkan bahunya kalem. “Kau juga terluka. Jangan lupa.”

Taehyung mengangguk saat mengoper gigi motor Jeongguk yang menggeram di bawah kakinya, “Tidak terlalu sakit. Aku hanya punya lecet di siku dan lutut.” Dia menggerakkan kakinya sedikit, sudah diobati Yoongi tadi.

Mereka menelusuri jalan desa yang sepi dan rindang. Anak-anak bermain di pinggir jalan dan menyapa mereka saat lewat. Lalu menelusuri jalan yang diapit oleh sungai yang airnya tidak terlalu deras. Irma di depan memimpin mereka dengan motornya, nampak hafal dengan jalanan desa di hadapannya.

Kemudian motor berhenti di sebuah bangunan kecil dengan dua kamar mandi dan satu meja retribusi. Mereka parkir di sana. Taehyung membiarkan Jeongguk turun dulu sebelum menaikkan motornya ke tempat parkir dan mematikan mesinnya. Mereka membayar retribusi yang hanya lima ribu per kepala sebelum menuruni jalan ke arah air terjun.

“Airnya tidak terlalu deras,” kata penjaganya saat mereka mulai berangkat. “Tapi tetap hati-hati, ya, nanti terbawa arus. Jangan melompat ke sungai, airnya tidak sedalam itu untuk menyelam.”

Mereka mengangguk sebelum para lelaki mendahului turun sebelum membantu para perempuan menuruni jalan buatan yang lumayan curam. Dahyun yang lukanya mulai mengering dibantu oleh Momo menuruni tangga-tangga lebar menuju aliran sungai yang terdengar deras.

Air terjun itu diapit dua tebing, membentuk ceruk kecil yang sebagai tempat air tumpah ke sungai di bawahnya—seperti berada di canyon kecil. Air terjunnya mengintip dari celah tebing dengan air yang nampak dalam di sekitarnya.

Melihat air, tentu saja membuat semua lelaki bergegas melepas celana dan kausnya—hanya mengenakan celana bokser mereka sebelum Jeongguk jadi yang pertama menceburkan diri ke air yang ternyata lebih dalam dari yang dipikirkannya, menyentuh dadanya. Dia berenang seperti seekor berang-berang saat Yugyeom, Yoongi dan Taehyung bergabung sementara para perempuan puas duduk di pinggir dengan kaki dicelupkan ke air.

Cuaca di sekitar air terjun cerah, langit biru membentang di atas mereka dengan gumpalan awan-awan besar dan pepohonan rindang menaungi mereka di sungai. Airnya jernih, tidak ada sampah yang hanyut di airnya—dedaunan pun tidak terlalu banyak. Hanya ada mereka di sana, memiliki seluruh sungai untuk diri mereka sendiri.

Jeongguk berenang ke arah cerukan air terjun, menyadari arusnya yang lumayan kuat lalu berbalik. “Deras!” Serunya pada Yugyeom yang sudah berenang mengekornya—mereka akhirnya puas hanya berenang-renang di sekitar sana.

Jeongguk mengambang di permukaan air, mengamati saat Taehyung beranjak naik. Mengusap rambutnya ke belakang lalu menepuk-nepuk telinganya sambil memiringkan kepalanya agar air keluar dari sana sebelum tertawa pada Yugyeom yang mengatakan sesuatu. Tubuhnya lentur, dengan otot-otot panjang yang langsing—membuatnya nampak sangat indah.

Dia punya S-line yang ajaibnya sangat menakjubkan dengan pantat yang indah dan pinggang yang kecil. Dadanya bidang, bersih sementara lengannya dipenuhi dengan bulu halus yang membuat Jeongguk geli. Celana boksernya menempel di pahanya yang padat, menonjolkan bagian-bagian menarik yang membuat Jeongguk mendengkur senang.

Taehyung menyelipkan tangannya ke karet celananya, menariknya lebih tinggi ke pinggangnya seraya bicara dengan Yugyeom—Jeongguk bahkan tidak repot mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena sibuk mengamati Taehyung.

Dia belum bercukur, jenggot tipis menghiasi dagunya dan dia nampak terganggu sekali dengan jenggot itu. Dia berbalik, hendak kembali menceburkan diri ke air saat menyadari Jeongguk sedang menatapnya.

“Apa?” Tanyanya tanpa suara.

Jeongguk menggeleng, menyapukan tatapan kagum ke tubuhnya yang langsung menjawab pertanyaan Taehyung sebelum berenang ke arah tepi dan mengulurkan tangan, Taehyung menariknya naik.

Taehyung tidak akan pernah terbiasa melihat Jeongguk dengan tubuh basah kuyup, rambut yang menempel ke kening dan tengkuknya saat dia bangkit keluar dari air. Dia mengusap wajahnya, menyeka rambutnya ke belakang lalu membersit—mengeluarkan air dari telinganya. Celana boksernya menempel di pahanya yang berotot, tato serigala di ulu hatinya menatap Taehyung saat dia berdiri menghadap Taehyung.

Dia tinggi, jangkung—seperti manekin yang memamerkan koleksi celana renang. Dengan tato di tubuhnya dan aura petualangan eksotis dan erotis yang menetes dari tubuhnya. Taehyung menaikkan sebelah alisnya, menggoda saat mata mereka bertemu dan Jeongguk terkekeh.

“Kau indah,” puji Jeongguk dengan suara rendah.

“Kau juga.” Balas Taehyung seketika itu juga, menyentuh pinggang ramping Jeongguk dengan telapak tangannya yang besar dan dingin setelah berenang di air terjun.

Mereka menghabiskan hari bermain air hingga menjelang sore di sana, kembali ke pondokan pukul lima sore untuk mandi dan mulai memasak untuk makan siang. Jeongguk belum merasakan sakit di tubuhnya sama sekali, persis Taehyung—semuanya terasa baik-baik saja.

Hingga keesokan harinya.

ps. unedited, im tired. sowwy xx


“Aku lari dulu!”

Taehyung menguap, melambai saat Jeongguk mulai beranjak keluar dan berlari kecil naik ke jalan besar. Dia meraih kacamatanya yang tergeletak beberapa meter dari kantung tidurnya, mengenakannya sebelum semua nampak jelas. Dia menguap sekali lagi, mendapati Yugyeom keluar dari dapur dengan rambut awut-awutan dan tengah mengaduk gelas terisi Energen.

“Pagi, Tae.”

Taehyung terkekeh, melipat kantung tidurnya. “Pagi, Yugyeom. Tidurmu nyenyak?”

Yugyeom duduk di kursi, melipat kakinya hingga lututnya berada di dadanya—matanya menerawang setengah mengantuk seraya menyesap sarapannya yang panas. “Nyenyak,” katanya parau.

Taehyung menoleh, “Bangun dulu.” Godanya sebelum meregangkan tubuh dan beranjak ke kamar mandi. Pagi itu suasana berkabut karena hujan semalam, dinginnya menggigit kulitnya.

Dia berhenti di depan kamar mandi karena seseorang sedang di dalam lalu meregangkan tubuhnya. Menguap keras dan menggaruk kepalanya yang terasa gatal, menyelipkan tangannya ke dalam kaus untuk menggaruk badannya. Dia ingin buang air kecil.

Di kandang, Pulgoso menatapnya lalu mengembik berharap Taehyung akan memberikannya setangkai rumput gajah yang terikat di bawah kandangnya. Taehyung tertawa kecil, menggeleng.

“Tidak, aku bukan Jeongguk.” Katanya lalu pintu kamar mandi terbuka, Dahyun tertatih-tatih keluar dan Taehyung bergegas mengulurkan tangan membantunya menuruni undakan dari pintu kamar mandi ke tanah. “Hati-hati,” gumamnya.

“Trims, Tae.” Dahyun tersenyum, membawa handuk dan tas alat mandinya beranjak kembali ke dalam rumah dan Taehyung memasuki kamar mandi.

Dia buang air kecil lalu mencuci wajahnya, menyugar rambutnya yang setengah basah sebelum menyiram kakinya dengan air yang sedingin es sebelum mengerang karena suhunya yang membuat tulangnya ngilu. Dia bergegas keluar, melangkah dengan sandal yang berisik karena basah ke arah jemuran di samping rumah untuk mengelap wajahnya.

Dia menoleh ke tanjakan arah pondokan, melihat Tzuyu sedang duduk di sana dengan ponsel menempel ke telinganya. Rambutnya diikat dengan jepit, membentu gelung longgar di atas kepalanya—beberapa anak rambut luruh dari ikatannya dan wajahnya masih mengantuk. Dia mengenakan kaus KKN dan celana pendek.

Taehyung mengelap tangannya, memutuskan untuk bergabung dengan Tzuyu. Dia masuk ke dalam pondokan, meraih kotak rokoknya dan Jeongguk (mereka berbagi karena membeli Marlboro di sini sulit sekali) serta pematiknya lalu beranjak naik.

Dia sengaja bergerak perlahan, memberikan waktu untuk Tzuyu menyudahi panggilannya. Namun detik berikutnya ketika dia mendongak, gadis itu sedang menakupkan telapak tangannya di wajahnya—bahunya terguncang.

Astaga!

“Tzu??” Taehyung bergegas berlari menaiki jalan yang agak rusak itu dan duduk di sisinya, menyingkirkan ponsel Tzuyu dari sana—mengamankannya. “Hei, hei, kau oke?” Tanyanya lembut.

Tzuyu masih terisak, suaranya lirih namun cukup untuk membuat Taehyung ngilu. Dia menepuk bahu Tzuyu lembut, dua kali karena merasa tidak sopan jika dia tiba-tiba memeluknya. Walaupun dia tidak suka perempuan, bukan berarti dia bisa seenaknya menyentuh perempuan tanpa izin.

“Kau mau kupanggilkan Momo atau Dahyun?” Tawarnya.

Tzuyu menggeleng, dia mengangkat wajahnya—menyeka air mata dan anak rambut yang menempel di wajahnya karena air mata. Wajah, hidung, dan matanya merah padam karena tangis.

Taehyung menatapnya, menunggunya hingga tenang sementara dia menyeka air matanya dengan lengan bajunya yang sekarang basah. “Kau mau cerita?” Tanyanya. “Aku bisa mendengarkan, kok.”

Tzuyu menoleh, menatapnya sejenak sebelum membersit. Taehyung tertawa, dia merogoh sakunya selalu memiliki tisu di sana karena dia punya sinus—dingin membuatnya pilek. Dia mengeluarkan selembar dan memberikannya pada Tzuyu yang menerimanya dengan penuh syukur.

Dia membersit keras ke tisu, “Maaf.” Katanya sengau lalu meremas tisunya hingga menjadi bola. “Aku hanya bertengkar dengan kekasihku,” katanya kemudian perlahan, menatap ke tiga siluet gunung yang nampak di hadapan mereka kapan pun cuaca pondokan cukup cerah.

“Apakah kalian sering bertengkar?” Tanyanya lagi, lembut dan tidak mendesak. Dia ingin Tzuyu nyaman mencurahkan perasaannya.

Tzuyu mengangguk, menunduk menatap tisu di tangannya. “Tapi belakangan ini alasannya semakin aneh-aneh saja.” Keluhnya, mulai gemetar lagi menahan tangis. “Dia tahu aku sedang KKN, dia juga sedang KKN. Pondokannya di desa sebelah, tapi dia selalu marah-marah jika aku terlambat membalas pesannya. Aku sudah jelaskan jika di pondokan ini susah sinyal. Bukan salahku, 'kan, jika di pondokannya ada sinyal dan di pondokan kita tidak?”

“Bukan, jelas bukan.” Sahut Taehyung tenang.

Tzuyu membersit lagi ke tisu yang sudah kumal di tangannya. Taehyung mengulurkan kemasan tisunya dan Tzuyu menerimanya dengan penuh syukur. “Katanya dia akan main besok Minggu,” dia membersit lagi hingga Taehyung tersenyum kecil. “Ingin mengecek teman-teman sepondokanku. Curiga aku selingkuh.”

Taehyung menghela napas. “Kenapa kau masih bertahan dengan lelaki seperti ini?” Tanyanya kemudian. “Dari ceritamu, sepertinya sudah tidak ada lagi hal baik dalam dirinya. Dia posesif, penuh curiga, pemarah.” Dia menatap Tzuyu yang sedang mengeringkan air matanya. “Tidakkah kau... lelah?”

Tzuyu menelan ludahnya, menatap tisu di tangannya dan mendongak—nampak merah padam karena tangisannya. “Karena Kak Tae mengatakannya,” dia kemudian menyeka hidungnya kembali. “Aku lelah. Lelah sekali.” Bisiknya.

“Lalu apa yang kauharapkan?” Tanya Taehyung lagi. “Sudah coba membicarakan dengannya tentang ini? Memberi tahunya betapa lelahnya kau dengan sikapnya?”

Tzuyu mengangguk, “Dia bilang maaf lalu berjanji akan berubah. Lalu dia memang berubah dua hari sebelum kembali bersikap menyebalkan.” Dia menyeka hidungnya. “Katanya aku berharga, sulit didapatkan maka dia harus menjagaku baik-baik.”

Taehyung tertawa, tidak sengaja melakukannya namun dia tetap membiarkan tawa itu lepas hingga Tzuyu mendongak—kaget. “Dia sedang insecure pada dirinya sendiri dan menproyeksikan emosi itu padamu.” Katanya kemudian setelah tawanya reda. “Apakah kau akan pergi darinya? Berselingkuh darinya jika dia tidak bersikap seperti ini?”

Tzuyu diam, menatap Taehyung.

“Sama seperti merokok,” Taehyung melambaikan kotak rokoknya di hadapan Tzuyu. “Aku tidak pernah melarang kekasihku merokok, malah membiarkannya. Aku tidak pernah bicara apa-apa tentang Jeongguk yang merokok seperti orang kesetanan. Bukan karena aku tidak sayang padanya. Tapi karena aku tahu dia sudah dewasa,”

Dia membalik kotak itu, menunjukkan pada Tzuyu gambar mengerikan yang digunakan produsen rokok untuk mengancam orang-orang. “Mereka sudah memberikan gambaran masa depan jika Jeongguk terus merokok tapi apa yang dilakukannya? Apa yang kami lakukan?”

Tzuyu sejenak diam. “Tetap merokok?” Sahutnya, perlahan.

“Ya.” Taehyung tersenyum. “Aku hanya bisa mengingatkannya agar tidak terlalu sering. Melarang itu akan membuat pasanganmu merasa tidak nyaman. Lalu dia akan melakukan hal yang dilarang itu diam-diam. Artinya, akan ada kebohongan kecil. Dan kebohongan-kebohongan kecil, secara konstan dan berkelanjutan akan membutuhkan kebohongan-kebohongan besar untuk menutupinya.

“Percayalah,” Taehyung menaikkan kacamatanya. “Perselingkuhan itu dimulai karena satu, ketidaknyamanan pasangan dengan pasangannya yang sekarang atau dua, karena dia memang bajingan. Aku yakin, jika dia terus menekanmu seperti ini, kau akan benar-benar melakukan apa yang dilarangnya.”

“Dulu kekasihku juga selingkuh,” dia kemudian melanjutkan. “Aku tidak tahu apa yang salah dariku kenapa dia bisa begitu tega melakukannya. Kemudian aku menyadari, aku mungkin selama ini sangat menggantungkan bahagiaku padanya. Aku kehilangan diriku sendiri yang membuatnya tertarik, aku membuatnya tidak nyaman karena begitu bergantung padanya.”

Tzuyu diam, menatapnya. “Y-yah,” katanya sengau kemudian. “Belakangan ini aku memang sering keluar dengan teman lelakiku dan mengatakan padanya aku pergi dengan teman perempuan. Setelahnya aku merasa bersalah, tapi ketika dia meneleponku dan merongrongku dengan pertanyaan tentang apa yang kulakukan, siapa saja yang kuajak pergi, mana fotonya—aku kembali marah.

“Kak Tae benar, aku tidak nyaman.” Tzuyu memainkan jemari kakinya, mengayunkan kakinya perlahan.

“Tentu saja tidak.” Sahut Taehyung. “Siapa pun yang diperlakukan seperti itu tentu saja tidak akan nyaman. Instingmu pasti ingin melepaskan diri darinya, melakukan segala yang dibencinya.”

Diwud datang berlari dengan lidah menjulur, terengah-engah dan Taehyung menyadari sebentar lagi Jeongguk pasti kembali. “Lihat Diwud,” katanya kemudian saat anjing itu menjilati tangannya. “Dia dibiarkan berkeliaran begitu saja tanpa kalung, apakah kemudian dia pergi? Meninggalkan Ibu?”

Tzuyu menatap Diwud yang menyalak ceria dalam genggaman Taehyung. “Tidak.” Katanya.

“Lalu pikirkan anjing yang seumur hidupnya diikat dengan tali sepanjang satu meter, dibatasi segala geraknya, dipukuli, dilarang pergi dengan kedok 'sayang' dan 'menjaga'.” Taehyung menatapnya, Tzuyu sedang membelai telinga Diwud. “Sekali mereka merasakan kebebasan, mereka tidak akan kembali. Binatang saja paham kapan mereka harus menyerah, kenapa manusia terus bertahan dan berharap suatu hari semuanya akan lebih baik ketika jelas-jelas dia tidak akan membaik? Kau sudah membuktikannya sendiri.

“Hubungan itu sebuah seni,” kata Taehyung lagi. “Kau harus belajar memberikan sesuatu secukupnya. Perhatian secukupnya, kasih sayang secukupnya, larangan secukupnya; jika kau melakukannya berlebihan atau kurang dari itu, pasanganmu tidak akan nyaman bersamamu.

“Sebaliknya, jika kau memberikan seluruh dirimu pada mereka—seluruh hatimu, seluruh cintamu, seluruh hidupmu hanya karena kau ingin mencintai mereka sepenuhnya, kau tidak punya apa pun yang tertinggal untuk dirimu sendiri. Sama seperti yang kulakukan pada mantan kekasihku kemarin.

“Lalu ketika mereka pergi, kau hanyalah kerang kosong yang terombang-ambing. Kau kehilangan dirimu sendiri karena kau memberikan segalanya pada mereka, tidak menyisakan apa pun untuk dirimu sendiri.” Taehyung tersenyum hangat, menyemangati Tzuyu.

“Kehilangan dirimu sendiri karena mencintai orang lain adalah harga yang terlalu mahal.”

Tzuyu diam, memikirkan kata-kata Taehyung di kepalanya. “Aku...” bisiknya lirih, “Aku akan membicarakan ini dengannya.”

Taehyung tidak menyukai gagasan itu namun dia mengangguk, “Terdengar oke. Tapi jika dia melakukan sesuatu yang melewati batas, kau selalu tahu kapan harus hengkang dari hubungan itu, oke?”

Tzuyu mengangguk, sekarang nampak lebih baik. “Trims, Kak Tae.” Bisiknya.

“Tidak masalah,” balas Taehyung persis saat Jeongguk muncul di puncak tanjakan, dengan wajah merah padam setelah berlari dan keringat berkilauan di atas tubuhnya yang liat.

“Hei!” Sapanya tersengal, rambutnya basah oleh keringat—dia mengenakan kaus tanpa lengan, celana pendek yang memamerkan tatonya dan sepatu Taehyung. Diwud langsung melepaskan diri dari Taehyung, menghampirinya dan melompat-lompat di kakinya, senang karena baru saja berjalan-jalan bersama Jeongguk.

“Kau menggunakan sepatuku lagi,” gerutunya dan Jeongguk nyengir. Dia berhenti di dekat Tzuyu, menyugar rambutnya.

“Maaf aku bau keringat,” katanya saat mengamati Tzuyu, menyadari wajahnya yang merah padam dan jejak air mata di wajahnya. “Tapi, apa yang terjadi padamu? Siapa yang membuatmu menangis?”

Tzuyu mengerang lalu kembali menangis hingga Jeongguk berjengit—kaget menatap Taehyung memohon pertolongan. “Aku tidak melakukan apa-apa!” Katanya panik.

Taehyung meringis, “Kau bertanya apa yang terjadi,” katanya kemudian menepuk bahu Tzuyu lagi pelan-pelan lalu menatap Jeongguk dan mengatakan tanpa suara, “Pacar bajingan.”

Bibir Jeongguk membentuk O saat dia menyadarinya dan duduk di sisi Tzuyu yang lainnya, beberapa meter jauhnya agar aroma keringatnya tidak mengganggu. Diwud langsung naik ke sisinya, berbaring di pangkuannya—persis seperti peliharaan Jeongguk yang langsung mengusap kepalanya sayang.

“Oh, ya,” kata Taehyung kemudian, mencoba mencairkan suasana sementara suara tangis Tzuyu perlahan tenang. “Kata Mbak Irma, ada air terjun bagus di dekat sini. Besok sore kita akan main ke sana. Dan hari ini kita punya proker PAUD, ada bubur kacang hijau.”

“Kau akan baik-baik saja,” kata Jeongguk kemudian, tersenyum. “Jika dia kurang ajar padamu, kami semua akan menolongmu.” Dia menambahkan. “Jangan biarkan seseorang mengontrol hidupmu dengan cara itu.”

Tzuyu menatapnya, memicingkan mata.

Jeongguk mengedikkan bahu, “Kau tidak perlu bertato dan merokok untuk bisa jadi seorang bajingan, 'kan? Jangan stereotyping begitu.”

Tzuyu sejenak diam lalu tertawa parau, “Benar.” Katanya.

Tzuyu kemudian merasa lebih baik setelah mengobrol dengan keduanya. Dia beranjak kembali ke pondokan untuk bersiap-siap ke PAUD untuk program kerja mereka hari ini. Meninggalkan Taehyung dan Jeongguk di sana, duduk beberapa meter jauhnya mengamati awan yang mulai menyibak untuk membiarkan matahari terbit.

“Dari ekspresinya, sepertinya masalahnya serius?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengedikkan bahunya, mendesah panjang.

“Kau tahu apa yang orang-orang 'terlalu sayang' alami, 'kan?” Dia menatap Jeongguk yang terkekeh kecil, mengusap kepala Diwud. “Mereka bertahan, terus bertahan. Berharap suatu hari nanti pasangan mereka mungkin berubah. Mengorbankan diri menjadi pusat rehabilitasi. Beberapa berhasil melepaskan diri namun beberapa berkelanjutan hingga pernikahan.”

“Peluang berubahnya kecil, kecuali kau sedang menjadi pemain utama di film Catatan Hati Seorang Istri.” Jeongguk tertawa, lalu melompat turun dan meregangkan tubuhnya sementara Taehyung menimpali tawanya.

“Kita tidak bisa menyalahkan manusia juga karena berharap pada setitik kemungkinan itu, 'kan? Itulah mengapa harapan menolak meninggalkan benjana yang dibuka Pandora.” Tambah Jeongguk saat mereka menuruni tanjakan.

“Aku tidak tahu kau membaca mitologi Yunani?” Taehyung tersenyum.

“Apa yang menurutmu kubaca?”

“Hmm. Tidak.” Sahutnya lalu mengaduh saat Jeongguk menonjok lengan atasnya. “Aku berubah pikiran, aku tidak akan mengatakannya.”


Makanan bergizi yang dimaksud adalah bubur kacang hijau, roti isi ayam, telur rebus, susu UHT, dan nasi kuning yang dibungkus dalam kotak mika dengan lauk tempe manis, serundeng, dan irisan mentimun.

Makanan biasa saja yang cukup membuat Jeongguk menginginkan nasi kuning untuk dirinya sendiri karena aromanya sangat harum. Dahyun dan Momo sejak pagi membantu di rumah Ibu Sinta untuk mempersiapkan semuanya. Mereka punya empat puluh set makanan dan ternyata anak-anak batita pun datang bersama orang tuanya.

PAUD dibanjiri bayi yang berceloteh ceria dan Tzuyu syukurnya, merasa lebih baik setelah menggendong cucu Pak RT 8 yang sangat menggemaskan—pipinya bulat, matanya yang besar, dan suka sekali tersenyum pada semua orang. Para perempuan berebut ingin menggendongnya sementara semua anak-anak mulai makan makanan yang diberikan.

Jeongguk bergabung, tentu saja minum sekotak Ultra Mimi berwarna merah muda, makan telur rebus di sisi Mutia yang menyendok makanannya sendiri—Taehyung tidak yakin yang mana yang nampak lebih bayi. Lelaki jangkung bertato yang sekarang belum bercukur atau balita di sisinya yang makan dengan kaki terbuka lebar.

“Lihat binatang buasmu,” komentar Yoongi seraya menyerahkan sebungkus bubur kacang hijau pada anak PAUD. “Dia diam hanya dengan telur rebus dan susu UHT anak-anak bergambar beruang,”

Taehyung tersenyum lebar, mengamati Jeongguk yang membantu Mutia makan dengan tekun. Menghabiskan telur rebusnya dalam dua suapan besar hingga pipinya mengembang seperti tupai. Jeongguk memang menggemaskan, Taehyung baru menyadari itu sekarang.

Merasa diamati, Jeongguk mendongak dan mereka bertemu mata. Taehyung melambaikan telur rebus di tangannya. “Lagi?” Tawarnya geli.

Jeongguk tersenyum, lebar hingga pangkal hidungnya mengerut dan matanya membentuk bulan sabit kembar. “Tidak, tidak.” Katanya dan Taehyung terkekeh.

Tidak banyak yang mereka lakukan selama program kerja itu, hanya membagikan makanan lalu anak-anak PAUD mengikuti kelas—lebih ramai karena beberapa batita memutuskan untuk bergabung bernyanyi bersama di kelas. Merecoki kakak-kakak mereka dengan mencoret gambar atau pekerjaan rumah mereka.

Di akhir acara, semua anak KKN merasa senang dan hangat—setelah bermain dengan para batita yang betah digendong, beberapa menangis karena takut pada Jeongguk dan Yoongi, beberapa sangat menempel pada Momo, dan membawa pulang masing-masing satu set makanan bergizi juga.

Jeongguk sedang meminum susu UHT keduanya saat mereka melangkah pulang.

“Kita tetap masak, dong!” Protes Yugyeom, mengupas telur rebusnya sambil berjalan. “Memangnya Mbak pikir dengan makanan porsi bayi ini bisa membuatku kenyang? Bayangkan berapa banyak yang dibutuhkan Jeongguk dan Taehyung!”

Dan argumen itu akhirnya membuat Yugyeom, Momo dan Yoongi akhirnya terjun ke dapur untuk memasak makan siang mereka. Ibu memasak oseng daun pepaya, mempersilakan anak-anak untuk ikut 'menumpang' lauk dengan dapurnya sehingga mereka hanya perlu memasak lauk karena pagi tadi Momo sudah menanak nasi.

“Daun pepayanya sama sekali tidak pahit!” Komentar Yugyeom, takjub saat mereka makan. “Sihir apa yang digunakan Ibu??”

“Sihir bernama tanah lempung,” sahut Yoongi memutar bola matanya. “Aku bertemu Ibu tadi saat kalian bersiap-siap, mengambil seember tanah di bawah sana. Saat kutanya, katanya untuk mengurus daun pepaya.”

Taehyung mengunyah makanannya, menyadari bahwa tidak ada sedikit pun jejak rasa pahit dalam daun pepaya itu. “Luar biasa,” katanya. Ibunya pun yang selama ini selalu dianggapnya sebagai seorang master chef di rumah, oseng daun pepayanya tetap memiliki setitik rasa pahit di akhir kunyahannya.

Dia akan memberi tahu ibunya tentang rahasia ini.

Karena siang itu mereka tidak memiliki kegiatan apa pun, Taehyung mengajak Jeongguk untuk berjalan-jalan ke sekitar desa—menikmati pemandangan. Mereka berjalan kaki, di pinggir jalan sambil merokok dan mengobrol—menyusuri jalan utama desa dan menyapa semua orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

“Aku tidak ingin kembali,” kata Jeongguk menghembuskan asap rokoknya. “Di sini menyenangkan. Teman-temanku menyenangkan.”

Taehyung terkekeh, menjentikkan abu rokoknya ke pinggir jalan. “Setuju.” Katanya kemudian menyesap rokoknya. “Tapi setiap perjumpaan akan memiliki akhir, 'kan?”

“Perjumpaan kita tidak, kuharap?” Balasnya dan Taehyung menatapnya.

“Tentu saja tidak.”

cw // Jealous Taehyung issa thing, get ready. Wear your seatbelt. Also, rapidly moving POV.


“Jeongguk!”

“Oit!”

Taehyung baru saja mengerem motor, bahkan belum benar-benar menjejak tanah saat Jeongguk melompat turun dari motornya dan langsung menghampiri orang yang baru saja menyapanya. Alis Taehyung berkerut saat mereka bersalaman akrab, tertawa bersama—nyaris sama liar dan liatnya.

Pemuda itu jangkung, nyaris sama tingginya dengan Jeongguk dengan tato di punggung telapak kakinya. Saat dia berdiri di sisi Jeongguk, mereka nampak seperti sepasang binatang liar eksotis yang hanya bisa dilihat—jika menyentuhnya, tanganmu mungkin putus karena tergigit.

Taehyung mencabut kunci motor Jeongguk saat pemuda itu merogoh waist bag-nya dan mengulurkan kotak rokoknya. Temannya meraih kotak itu, mengatakan sesuatu yang membuat Jeongguk terkekeh seraya mematik api ke ujung rokok yang terselip di bibirnya. Pemuda di hadapan Jeongguk menyalakan rokoknya juga saat Jeongguk mengatakan sesuatu—dia tertawa, nyaris tersedak asap rokoknya sendiri.

Taehyung tidak menyukainya. Oh, sama sekali tidak.

Dia benci karena menyadari mereka nampak sangat natural bersama. Indah, bersinar seperti dewa muda.

Dia mengamit Tzuyu yang terkesirap kaget, “Siapa yang bersama Jeongguk?” Tanyanya.

Tzuyu mengerjap, melirik ke balik bahu Taehyung dan bibirnya membentuk O menggemaskan saat menyadari siapa yang dimaksud. “Oh, itu Kak Jaehyun.” Katanya, tersenyum kecil rikuh. “Dia memang dekat dengan Kak Gguk, kok. Sering nongkrong bersama. Katanya, sih—katanya, ya, aku tidak yakin juga.” Dia menggaruk keningnya, sejenak ragu.

“Katakan saja.” Alis Taehyung berkerut; binatang liar di dasar perutnya sedang menggeram—teritorinya sedang diganggu dan dia tidak suka itu. Jaehyun sebaiknya menjaga tangan dan sikapnya di sekitar Jeongguk atau Taehyung akan benar-benar mengamuk.

Tzuyu nampak menyadari perubahan ekspresi Taehyung dan berdeham kikuk, dia tidak bisa kabur karena tangannya digenggam erat oleh Taehyung—terasa kuat dan panas.

“Katanya,” dia melirik Dahyun, memohon pertolongan. “Katanya Kak Jae itu mantan kekasih Kak Gguk, semacam cinta pertama?” Dia menggumam lalu bergegas menambahkan saat wajah Taehyung menggelap—nyaris seperti pemubunuh berantai yang siap membunuh siapa saja yang menganggunya.

“Tapi katanya!” Tzuyu nyaris menangis, “Aku sungguh tidak tahu kebenarannya! Mereka hanya akrab! Itu saja,” dia menggumam kecil, takut dan Taehyung mengerjap.

Dia melepaskan tangan Tzuyu, menyadari bahwa dia mungkin baru saja kelewatan. “Maafkan aku,” desahnya sementara Tzuyu mengernyit, ketakutan. “Maaf, maaf. Aku membuatmu takut, ya?”

”'Takut' would be an insult,” kata Dahyun kemudian saat mereka duduk di dalam pondokan kelompok lain yang mereka gunakan sebagai lokasi evaluasi. “Kau nyaris membuatnya pingsan.”

Taehyung mengedikkan bahu, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Aku tidak suka milikku diganggu.” Katanya kemudian, dingin hingga tiada satu orang pun yang berani menjawabnya saat itu, bahkan tidak menggodanya.

Dia menatap Tzuyu yang terlonjak kecil karena tatapan Taehyung menikamnya, “Apa lagi yang kautahu tentang mereka?”

“Tae,” Yoongi memperingatinya. “Kau membuat anak malang itu ketakutan, kontrol dirimu. Mereka mungkin hanya teman akrab, seperti kau dan Namjoon. Tapi Jeongguk tidak berkeliaran mengancam orang-orang, menempelkan pisau di tenggorokan mereka memaksa mereka memberi informasi.”

Taehyung menghela napas, jengkel. Dia menoleh kembali ke Jeongguk dan Jaehyun yang sekarang mengbrol akrab dengan satu orang lain, berbagi rokok dan tertawa. Jeongguk bahkan tertawa hingga pangkal hidungnya mengerut seperti kipas dan kedua matanya membentuk bulan sabit—tawa paling menggemaskan dan paling ceria.

Dia berdiri di sana, jangkung dan indah dengan satu tangan di dalam saku celana jinsnya sedang merokok mendengarkan Jaehyun dan temannya bicara. Nampak sangat menggoda dengan aura liarnya yang mengundang, rambutnya diikat asal-asalan, beberapa anak rambut luruh di tengkuknya.

Jeongguk adalah sesuatu yang semua orang inginkan namun hanya segelintir orang yang bisa mendapatkannya.

Dan Taehyung adalah orang yang tidak suka saat hal-hal yang menjadi miliknya, diganggu. Maka saat Jaehyun mengulurkan tangan untuk menonjok bahu Jeongguk main-main dan pemuda itu tertawa, mengulurkan tangan menggenggam pergelangan tangan Jaehyun santai—Taehyung tersenyum.

Jeongguk memang ingin dibunuh rupanya.

“Kau bisa membakar mereka dengan tatapanmu.” Kata Yugyeom di sisinya, mengunyah makaroni bersalut bumbu rujak asam-manis-pedas yang dihidangkan sebagai camilan di depannya.

Taehyung memicingkan matanya, “Jika saja Jaehyun itu menjaga jarak dari Jeongguk.” Katanya setengah menggeram hingga Yugyeom berdeham, langsung kapok karena berusaha mencairkan suasana.

Yoongi mengedikkan bahu, sadar tidak ada yang bisa dilakukan. “Siapa sangka jika Jeongguk nampak begitu menggemaskan saat cemburu,” bisiknya pada Momo yang terkekeh tanpa suara. “Tapi Taehyung yang nampak mendayu-dayu, hopeless romantic, ternyata begitu buas saat cemburu. Aku turut prihatin pada Jeongguk.”

Tzuyu merendahkan suaranya, “Salahku, ya?” Tanyanya, takut. “Mereka tidak akan ribut, 'kan?”

“Yah,” Yoongi tersenyum lebar, alisnya terangkat. “Jika mereka ribut, bukankah itu menyenangkan?”

“Kau sakit jiwa,” gerutu Dahyun, meraih sepotong ubi ungu rebus dan mulai membelahnya menjadi dua, meniup-niupnya. “Tapi boleh juga.” Dia tersenyum lebar lalu bertukar high five tanpa suara di balik punggung Taehyung. “Aku bertaruh mereka akan bertengkar hebat,”

“Oh, ya.” Dengkur Yoongi, senang. “Saling meneriaki, dramatis. Lalu Taehyung akan menonjok Jeongguk hingga terkapar. Maksudku, lihat lengannya.” Dia melirik lengan Taehyung yang ditumpangkan di atas pangkuannya, lengan atasnya; mengancam.

Tzuyu mengerang, “Aku seharusnya tidak tertawa, tapi ini lucu.” Keluhnya namun tak ayal tertawa tanpa suara bersama Momo yang tertawa lirih, mengupas ubi ungunya yang dibagi dua dengan Dahyun.

“Lima puluh ribu untuk rahang,” Dahyun mengulurkan tangan pada Yoongi yang langsung menjabatnya senang.

“Lima puluh ribu untuk ulu hati.” Sahutnya hingga Tzuyu tertawa kaget.

“Kejam sekali, Kak!” Komentarnya dan Yoongi mengedikkan bahu.

“Kau lihat ekspresi Taehyung, kau tahu dia serius.” Yoongi mengangguk serius, seolah mereka sedang bertukar informasi rahasia tentang transaksi narkoba. “Aku tidak akan kaget jika dia menggunakan lututnya untuk mengenai ulu hati Jeongguk.”

Lalu untuk membuat suasana semakin keruh, Jeongguk kemudian masuk saat DPL mereka datang lalu duduk di sisi Taehyung dengan Jaehyun di sisi satunya. Dia nampak senang, wajahnya memerah karena tertawa.

“Tae, ini temanku. Jaehyun.” Katanya menunjuk Jaehyun yang tersenyum lebar—jenis senyuman yang membuat siapa saja tergoda untuk jatuh dalam personanya, persis Jeongguk. “Jae, ini temanku. Taehyung.”

Yoongi menelengkan wajahnya ke Dahyun yang membekap mulutnya, menahan tawa. “'Teman',” bisiknya, Dahyun mendengus keras—menahan tawanya agar tidak keluar. “That was an oopsie, a big one.”

Taehyung tersenyum namun Jaehyun tahu ada sesuatu yang salah saat Taehyung menjabat tangannya. Dia meremasnya, kuat hingga Jaehyun meringis kaget. Dia langsung menyadari situasinya dan menggertakkan rahangnya, menahan tawa.

“Halo,” sapanya dingin, nyaris mengiris. “Aku Taehyung, teman Jeongguk.”

Jeongguk mengerjap, menyadari betapa beracunnya kata itu di bibir Taehyung lalu melirik Yoongi yang ada di belakang punggung Taehyung. Menyadari bahwa dia baru saja melakukan hal yang salah.

Yoongi memberikannya dua jempol sambil mengedipkan satu matanya. Dahyun, Momo dan Tzuyu nyaris pingsan menahan tawa di belakangnya. “Kerja bagus!” Katanya tanpa suara.

Jeongguk berdeham, menggaruk tengkuknya kikuk. “Y-yah, begitulah.” Katanya saat tangan Taehyung melepaskan tangan Jaehyun. “Dia ini,” Jeongguk menelan ludah dengan sulit saat Taehyung tersenyum—nampak ramah bagi orang yang baru mengenal Taehyung.

Namun bagi teman-teman KKN mereka, senyuman itu palsu.

“Bisa jadi pacarmu jika saja kau tidak begitu pemilih,” sela Jaehyun, terkekeh serak lalu merangkul bahunya, menepuknya akrab.

Jeongguk melirik Yoongi yang sekarang menggerakkan jempol kanannya secara agresif, “You go, Gguk!” Dia berkata tanpa suara. “Luar biasa!” Dan Dahyun di sisi Yoongi turut melambaikan jempolnya, menggoyangkannya seolah memberi semangat.

“Ayo, ribut!” Katanya tanpa suara dan Momo nyaris berguling di tikar karena tertawa. “Kami butuh hiburan!”

Yugyeom yang ada persis di sisi Taehyung hanya diam, makan kacang dengan khidmat—tidak mau terlibat dalam drama yang terjadi di antara anggota KKN-nya. Dia sama sekali tidak menoleh, tidak mau bicara dengan siapa pun. Tidak mau terlibat, hanya dia dan kacang rebus. Tidak ada yang lain.

Dia akan menikahi kacang rebus, hidup bahagia selama-lamanya sementara Jeongguk dan Taehyung saling menggigit tenggorokan satu sama lain seperti dua ekor serigala alfa memperebutkan teritori.

Taehyung tersenyum, semakin ramah namun semakin menyeramkan. “Oh,” katanya sopan dan Jeongguk meringis. “Kalian dekat, ya?”

Jaehyun mengedikkan bahu, terkekeh dalam hati saat menyadari ekspresi Jeongguk yang nampak seolah seseorang baru saja menyurukkan sikat gigi ke pantatnya.

“Yah, begitulah. Kami dulu satu kelompok inisiasi dan ternyata satu jurusan dan satu kelas.” Dia mengusap lengan atas Jeongguk sebelum melepaskannya.

Bagus. Karena jika dia memegang Jeongguk satu menit lebih lama lagi, Taehyung akan menarik lengannya lepas dari tubuhnya.

“Pernah pacaran, mungkin?” Tanyanya lagi, meraih gelas tehnya sementara DPL mereka mulai membagikan formulir presensi untuk anak-anak KKN yang menjadi tanggung jawabnya bersama segenggam pulpen.

“Tidak, kok!” Sahut Jeongguk kemudian, nyaris panik lalu tertawa—berusaha mencairkan suasana namun tidak menolong sama sekali karena Taehyung terlanjur murka. “Kami hanya berteman saja. Cukup.”

Jaehyun nampak tidak setuju, bibir bawahnya gemetar menahan tawa. “Bagaimana kau menjelaskan hubungan kita dulu saat semester 2? Gelang kembar itu?” Dia menyugar rambutnya. “Maksudku, semua orang tahu, 'kan? Tanya saja Tzuyu.” Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Tzuyu yang langsung terlonjak kaget.

“Hai, Tzu!”

Dia nyengir, meremas tangan Dahyun. Sama sekali tidak mau terlibat. “Hai, Kak Jae!” Sahutnya, menambahkan tawa kaku di ujung kalimatnya. “Aku tidak tahu, sih....”

Jeongguk berdecak, “Gelang kembar tidak berarti kita jadian. Kau memang selalu yang paling bodoh,” gerutunya, melirik Taehyung yang menyimak semuanya dengan kalem.

We are the dumb and the dumber,” sahut Jaehyun, terkekeh. “Semua orang tahu itu.”

“Ini akan jadi panas,” bisik Yoongi pada Dahyun yang tertawa tanpa suara. “Seratus ribu?”

“Seratus ribu,” sahut Dahyun setuju, mengangguk pada lengan Taehyung. “Lihat urat-urat Taehyung, mereka bisa meledak kapan saja.”

Kemudian DPL mereka memulai evaluasi, meminta setiap kormadus untuk melaporkan kemajuan program kerja mereka di masing-masing lokasi seraya menikmati camilan dan teh yang terus diisi ulang. DPL mereka juga mengingatkan mereka untuk selalu menjaga sopan santun selama berada di rumah orang, karena mereka membawa nama universitas selama mereka berada di desa ini.

Tidak banyak hal menarik selama evaluasi selain makanan. Para kormadus kemudian tinggal untuk berdiskusi lebih lanjut dengan DPL mereka sementara teman-teman mereka mendapatkan waktu bebas. Beberapa pulang mendahului kormadus mereka, namun kelompok Taehyung memutuskan untuk tinggal karena lokasi mereka lumayan jauh.

Setelah mengobrol dengan anak-anak kelompok lain, mereka menyadari bahwa lokasi mereka yang paling tinggi dan pojok, lokasi terakhir. Rata-rata mendapatkan lokasi di bawah Clongop, pondokan yang berada di LDII, beberapa meter dari pondokan mereka mengira mereka yang paling tinggi.

“Tidak, kami masih melewati satu tanjakan lagi.” Sahut Yoongi serius, duduk di teras pondokan.

“Ke arah Green Village?” Tanya teman mereka.

“Persis di bawah Green Village,” sahut Yoongi dan mereka meringis mendengar lokasi mereka—terjauh, tertinggi dan terpojok.

Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang diam, merokok dengan khidmat. Dia nampak seperti anak SMA yang kena hukum karena terlambat datang ke sekolah. Jaehyun sudah pulang, mengatakan:

“Semangat, ya, Gguk.” Seraya tertawa dan Jeongguk nyaris menonjoknya karena membuatnya harus menghadapi Taehyung yang murka.

Dia diam, sangat diam namun Jeongguk tahu, jika dia salah sedikit saja Taehyung mungkin akan menggoroknya. Maka dia diam, duduk di sisinya dengan pose menyerah, tangan ditumpangkan di atas pahanya—menunggu hingga Taehyung berkenan bicara padanya. Dahyun diam-diam mengangkat kameranya, mengambil gambar mereka lalu tertawa tanpa suara.

“Jangan marah,” gumamnya pada Taehyung, nyaris merengek seperti bayi. “Dia hanya temanku, kok. Sumpah.”

“Aku tidak marah.” Sahut Taehyung ketus, menyesap rokoknya dalam-dalam.

“Bohong,” Jeongguk mendesah. “Kau marah. Kau bisa saja mengulitiku, mengeluarkan jeroanku lalu membuat gulai tambusu dengan usus besarku sekarang.”

Taehyung menatapnya, alisnya naik sebelah. “Kenapa, sih, kepalamu isinya hal-hal mengerikan?”

Jeongguk mengedikkan bahu, memainkan benang yang keluar dari waist bag-nya. “Entahlah. Kau tipe yang bisa melakukannya saat marah.” Katanya menunduk dan Taehyung tidak bisa lagi menahan senyumannya.

Lihat dia.

Menggemaskan sekali saat memohon maaf dari Taehyung yang bersikap kekanakan dengan cemburu pada hal-hal kecil bahkan tanpa repot bertanya pada Jeongguk. Dia marah karena asumsinya sendiri, dan menjadikan Jeongguk sebagai korbannya.

Taehyung memalukan. Tapi dia sangat menikmati lelaki seperti Jeongguk, yang selalu besar kepala dan bermulut besar sekarang duduk di sisinya—menyerah dan memohon maafnya. Oh, ya. Itu makanan lezat untuk egoismenya.

“Oh, ya?” Tanyanya kemudian, memutuskan untuk menggoda Jeongguk sedikit lagi. “Apa yang mungkin bisa kulakukan padamu?”

Jeongguk masih memainkan benangnya, seperti anak kecil yang dihukum orang tuanya. “Yah, menonjokku, mungkin?” Dia menatap Taehyung yang langsung menggertakkan giginya, menahan senyuman lebarnya. “Kau akan menonjokku, tidak?”

Taehyung tidak tahan lagi, dia tertawa. Membuat semua orang kaget karena tawanya begitu lepas dan bahagia. Dia tersengal, lalu merangkul Jeongguk yang terkejut dengan akrab.

“Tentu saja tidak!” Katanya kemudian, tersengal—berusaha mengendalikan diri dari tawanya. “Aku tidak akan menonjokmu. Mungkin akan memberimu sedikit hukuman tapi menonjok bukan salah satunya. Aku lebih suka membuatmu,” dia merendahkan suaranya. “Tidak bisa orgasme daripada kekerasan.”

Jeongguk bergidik lalu mendengus. “Kau mengerjaiku, ya?” Bisiknya dan Taehyung terkekeh.

“Kau mudah digoda,” sahutnya, nyaris berdendang dan Jeongguk menggeram.

“Jika ini tidak di lokasi KKN, aku akan memojokkanmu di dinding lalu menciummu.” Gumamnya di bawah napasnya, namun cukup keras untuk didengar Taehyung yang langsung bergidik nikmat karena suara paraunya. “Aku akan mencium lehermu, menariknya hingga ke dadamu lalu menjilat putingmu—menghisapnya, mengigitnya dan membuatmu merengek tapi aku tidak akan sudi untuk berhenti.”

“Cukup.” Geram Taehyung, merasakan tubuhnya mulai menggeliat gelisah karena membayangkan apa yang akan dilakukan Jeongguk padanya. “Aku menderita.” Keluhnya.

Jeongguk menyugar rambutnya, mendengus. “Deserved.” Sahutnya. “Jika kau berani melakukan itu lagi padaku, aku akan menghabisimu.” Katanya mengancam dan Taehyung tersenyum.

Oh, dia suka ini.

“Oh, ya?” Balasnya kalem. “Bagaimana jika aku ingin kau menghabisiku? Memangnya apa yang bisa kaulakukan?”

Rahang Jeongguk mengencang, dia tersenyum separuh—nyaris menyerigai memamerkan gigi taringnya. “Kau tidak akan menyangka apa yang bisa kulakukan padamu,” dia menyapukan pandangan kurang ajar ke tubuh Taehyung sebelum menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah.

Taehyung membalas tatapannya, “Aku yakin aku bisa melakukan hal yang jauh lebih luar biasa dari itu.” Katanya, menyugar rambutnya, mengepit rokoknya di sudut bibirnya. “Mau bertaruh?”

Jeongguk terkekeh parau, “Dia yang kalah akan menjadi bottom selama satu minggu.”

Taehyung mengulurkan tangannya, “Sepakat.”

Jeongguk menjabatnya. “Sepakat.”

“Yah, sial.” Gerutu Yoongi dan Momo tertawa, ceria. Mengamati keduanya dari kejauhan, menyadari suasana mencekam di antara mereka perlahan melarut menjadi ketegangan seksual seperti biasa—hingga mereka muak. “Mereka tidak jadi saling tonjok. Menyebalkan.”

Dahyun menggerutu bersamanya, “Mereka payah. Tidak tahu jika kita butuh tontonan.”

“Itu artinya,” kata Yugyeom bijak saat bergabung dengan mereka dan tidak sengaja menangkap percakapan itu. “Kalian tidak boleh bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Amitaba.”

“Ayo, pulang!” Serunya kemudian pada Jeongguk dan Taehyung yang bergegas mematikan rokoknya.

Jeongguk menghembuskan napas lega saat dia naik ke motornya, menyalakan mesinnya dan merasakan Taehyung naik ke jok belakang. Setidaknya usus besarnya selamat hari ini.

Dan dia akan membuat perhitungan dengan Jaehyun. Bajingan tengik!

cw // horror .


“Kami tinggal ke PAUD dulu, ya, Kak?” Pamit Taehyung pada Namjoon dan Seokjin yang sedang berbaring di tikar, bermalas-malasan karena tidak ada jadwal.

Mereka bilang akan kembali ke Yogyakarta nanti siang setelah matahari agak redup karena hari ini Namjoon kosong dan Seokjin tidak ada janji penting. Menurut Yugyeom tidak masalah, mereka bisa turun bersama sekalian mereka pergi ke tempat evaluasi bersama dengan dosen pembimbing lapangan mereka. Semuanya sepakat dan akhirnya meninggalkan Namjoon dan Seokjin di pondokan untuk beraktivitas dulu.

“Anggap rumah sendiri saja, Kak.” Tambah Yugyeom saat mengenakan almamaternya, name tag sudah terpasang di lehernya dan mereka bersiap untuk berangkat ke PAUD.

Jeongguk menoleh dari tempatnya, di depan kandang ternak sedang merokok dengan Pulgoso yang diikat dan makan rumput gajah dari tangan Jeongguk yang berjongkok di hadapannya. Dia menyesap rokoknya, terakhir kali sebelum mematikan bara apinya dan kemudian berdiri, menyelipkan puntungnya di saku almamaternya.

“Sudah siap?” Tanyanya pada teman-temannya yang berjalan melewatinya dengan senyuman, mereka mendapat istirahat yang cukup semalam setelah Taehyung membelikan semuanya vitamin—tidak mau ada yang jatuh sakit karena kelelahan.

Dia langsung berjalan di sisi Taehyung, menjajari langkahnya

“Mbak, prokermu bisa dilaksanakan kapan?” Tanya Yugyeom saat mereka melangkah melewati rimbun bambu jalan pintas menuju PAUD dari rumah Bapak. “Sudah akan tenggat waktu, kita juga akan melaporkan kemajuan program kerja kita nanti saat evaluasi.”

“Kemarin aku sudah bicara dengan Bu Guru PAUD, katanya bisa koordinasi dengan Ibu Sinta. Rumahnya di dekat Masjid, mungkin nanti sebelum evaluasi atau setelah ke PAUD aku akan mampir untuk membicarakannya,” sahut Momo dari depan, membimbing Dahyun bersama Tzuyu.

“Memangnya apa prokernya kemarin? Aku lupa?” Tanya Yoongi di sisi Yugyeom.

“Makanan bergizi. Biasanya bubur kacang hijau, agar-agar, dan telur rebus.” Sahut Dahyun, “Memang rutin dilakukan tapi aku dan Momo ingin menambahkan makanan lain juga. Kemarin aku sudah info pacarku untuk membelikan susu UHT anak-anak satu kardus dan cemilan.”

“Aku juga mau susu UHT,” Jeongguk menjawab dari belakang, berjalan berdampingan dengan Taehyung yang merokok di sisinya. “Ultra Mimi, 'kan? Aku mau yang stroberi.”

“Kau sungguh memusingkan,” Yoongi melempar tatapan mencela pada Jeongguk yang mencibir.

“Kau juga memusingkan.” Balas Jeongguk seketika itu juga, kompetitif.

“Tampangmu sangar, bertato, merokok tapi kau tidak malu minum Ultra Mimi?” Sahut Dahyun dari depan, memicingkan matanya penuh celaan pada Jeongguk yang mengedikkan bahu kalem.

“Aku juga minum minuman Pororo di Indomaret itu, enak kok! Memangnya kenapa? Memangnya jika kau bertato dan merokok, kau hanya boleh minum miras?” Sahutnya sengit dan Taehyung tertawa, tersedak asap rokoknya sendiri.

“Ya sudah, iya. Nanti kuminta Heechul membelikanmu minuman Pororo dan Ultra Mimi, tidak perlu menyalak.” Momo menengahi dan Jeongguk mendengus, senang mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Apa, sih, masalahmu?” Tanya Taehyung geli, mengulurkan tangan dan merapikan lipatan kerah almamater Jeongguk yang terlipat ke arah yang salah.

“Tidak ada?” Balas Jeongguk, mengerutkan alis seolah mengatakan 'masa' kau juga?' pada Taehyung. “Aku hanya minta susu.”

“Iya, iya, Jeongguk. Iya. Jangan merengek.” Tambah Momo, mendengar jawabannya dan semuanya tertawa. “Nanti minta susu dari Taehyung saja.”

“Jangan. Punyaku pahit.” Taehyung terkekeh dan Jeongguk tersenyum lebar.

Don't worry, I don't mind. I'll suck the it out.” Sahutnya mengedipkan sebelah matanya genit dan mengaduh keras saat Taehyung menonjok lengan atasnya, kali ini dengan lebih keras hingga suara benturan daging bertemu daging terdengar keras.

“Menjijikkan!” Gerutu Yoongi, bergegas menjauh dari Jeongguk yang terkekeh—senang mengalahkan mereka semua.

Mereka tiba di PAUD, melangkah menaiki tanjakan hingga bertemu anak-anak yang sedang berbaris untuk menyanyi. Mutia memekik ceria, melambai pada Jeongguk yang bergegas menghampirinya dengan senyuman lebar. Sudah tidak ada anak yang takut pada Jeongguk sekarang, mereka malah saling berlomba untuk mencuri perhatian Jeongguk—khususnya para perempuan karena menganggap Jeongguk sangat keren. Mereka berbaris di sela-sela anak-anak, bergandengan tangan seraya bernyanyi dan bermain lempar tangkap dengan bola plastik.

Kegiatan PAUD tidak terlalu bervariatif setiap harinya. Mereka akan bermain lempar tangkap seraya bernyanyi sebelum berdoa dan kemudian belajar. Belajar yang dimaksud pun terkadang hanya menggambar bentuk, mewarnai atau melakukan sesuatu dengan lilin mainan. Lebih banyak dihabiskan untuk bermain, untuk membiasakan para balita dengan teman-teman baru, interaksi sosial dan melatih kemampuan mereka bicara.

Hari ini mereka mewarnai. Gambarnya disiapkan oleh Dahyun dan Momo kemarin semalaman, mereka memberikan anak-anak masing-masing lima lembar untuk diwarnai bersama. Jeongguk mendamping Mutia mewarnai kodok gendut yang tersenyum dengan krayon barunya yang dibelikan Momo dan Dahyun juga sebagai bagian dari program kerja mereka.

“Kodok warna hijau,” Jeongguk meraih sebatang krayon hijau yang patah dan meletakkannya di dekat gambar, dekat tangan gendut Mutia.

“Merah jambu.” Mutia menggeleng serius, meraih sepotong krayon lain dan mulai mewarnai gambarnya hingga Jeongguk meringis namun tak ayal terkekeh. “Merah jambu cantik.”

“Baiklah, merah jambu cantik.” Sahutnya kemudian, menyeka rambut Mutia dari keningnya agar tidak mengganggunya saat si balita mulai mewarnai gambarnya. “Jangan keluar garis, coba, yuk.” Jeongguk menunjuk garis hitam di gambar, “Di dalamnya saja yang diberi warna.”

Dia mendongak, mendapati Taehyung duduk di depannya dengan Dilla yang sedang mewarnai gambar kelinci. Dia mengenakan celana jins skinny, almamater di atas kausnya dengan kacamatanya yang biasa dan bisa terlihat begitu menakjubkan tanpa perlu berusaha. Rambutnya disisir naik, beberapa anak rambut luruh di keningnya yang tinggi dan dia sedang menjelaskan sesuatu pada Dilla yang duduk di sisinya mewarnai.

Lengan almamaternya digulung naik karena gerah, memaparkan lengan bawahnya ke udara; Jeongguk tidak bisa tidak menyadari rambut halus di permukaannya—hiburannya jika bosan, dicabuti karena gemas. Dia belum bercukur, mereka kehabiskan alat cukur dan belum membeli yang baru dan jenggot tipis itu membuatnya nampak seperti pemeran antagonis di film lama.

Dia sedang tersenyum, lebar hingga giginya nampak—sangat senang pada sesuatu yang dilakukan Dilla dan nampak semurni malaikat. Jika dibandingkan dengan Jeongguk, Taehyung adalah sesuatu yang tenang dan meneduhkan. Walaupun Jeongguk tidak bisa bilang begitu saat dia bercinta dengan Taehyung karena dia nyaris sangat mendominasi di ranjang—dia suka dipuji, suka disenangkan.

Membayangkan wajah merah padam Taehyung saat berada di atasnya dan/atau di bawahnya membuat Jeongguk mendesah—dia ingin lagi. Jeongguk belum pernah memiliki pasangan seks yang luar biasa fluid dalam posisinya, dia tidak keberatan memberi aftercare untuk Jeongguk dan tidak keberatan juga menerima aftercare.

Untuk pertama kalinya selama Jeongguk menjadi seorang homoseksual, dia menemukan pasangan yang bisa saling memberi dan menerima.

Karena menerima aftercare terasa seperti kemewahan bagi Jeongguk. Selama ini orang-orang selalu mengasumsikannya sebagai dominan, yang sesungguhnya sama sekali tidak membuatnya keberatan. Dia suka menyenangkan orang lain, suka saat pasangannya meneriakkan namanya ketika orgasme namun tiap kali mereka selesai melakukannya—ada sesuatu yang kurang di dalam dirinya.

Dan Taehyung mengisinya, nyaris penuh-penuh.

Taehyung terus menerus membuatnya terkejut akan banyaknya hal yang dia bisa berikan untuk Jeongguk selain seks yang luar biasa.

“Ayo, sambil makan siang, yaa!” Kata guru PAUD kemudian, memimpin anak-anak berdoa sebelum makan dengan kompak.

Jeongguk meraih tas Mutia, setelah doa mereka selesai. “Mutia hari ini makan apa?” Tanyanya pada si balita yang masih sibuk mewarnai dengan krayon, menodai wajah dan lengannya.

Jeongguk menemukan kotak bekal dan botol minum, dia membukanya dan menemukan nasi serta naget yang sudah dingin, namun dia yakin lauk ini adalah kemewahan bagi anak-anak yang dilarang makan makanan instan sering-sering, seperti mie instan.

Jeongguk yang berusia lima tahun mungkin merengek agar ibunya membekalinya dengan mie goreng yang nantinya akan mengeras dan mengikuti bentuk kotak makannya. Berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti ketika dia dewasa dia akan makan mie instan sepuasnya dan ibunya tidak akan bisa menghentikannya.

Namun Jeongguk yang berusia dua puluh tahunan, sekarang nyaris menangis tiap kali harus makan mie instan entah karena malas keluar atau uang bulanannya menipis. Merindukan masakan ibunya di rumah, hal yang ketika dia kecil sangat dibencinya.

Usia membuat persepsi tentang makanan dan rasa menjadi sedikit berubah.

“Wah, enak.” Katanya tulus, menyemangati balita itu agar ingin makan siang. Mutia termasuk anak yang terlalu kurus untuk usianya, guru PAUD bilang dia memang sulit makan. Namun Jeongguk dan Taehyung berhasil membuatnya makan lebih banyak belakangan ini. “Mutia mau makan sendiri atau disuapi?”

“Suapi.” Mutia menoleh, nyengir dan Jeongguk balas tersenyum lebar.

“Oke,” dia meraih sendok makan Mutia dan memotong-motong naget di dalam kotak makan hingga kecil untuk satu kali suap lalu menyendoknya bersama nasi. “Aaa?”

Mutia menyuapnya, mengunyah dengan ceria seraya mengusap ingus di bawah hidungnya. Jeongguk terkekeh, meraih tisu yang diulurkan Taehyung dan membantu balita itu membersihkan ingusnya sebelum membantunya makan. PAUD ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah sederhana, lalu menyanyi sebelum berpamitan pada semua anggota KKN.

Momo dan Dahyun langsung berangkat ke rumah Bu Sinta bersama guru PAUD untuk membicarakan makanan bergizi besok sementara sisanya kembali ke pondokan untuk memasak—giliran Taehyung, Tzuyu dan Yugyeom. Mereka berjalan melewati jalan desa, menyeberang beberapa meter di depan PAUD ke jalan yang langsung mengarah ke pondokan mereka.

Jeongguk menyalakan rokoknya, menawarkan sebatang pada Taehyung yang menerimanya seraya mengusap dagunya yang kasar dan tajam. “Kita harus membeli pisau cukur,” keluhnya dengan rokok menggantung di sudut bibirnya, siap dinyalakan. “Aku mulai merasa tidak bersih.”

Jeongguk terkekeh, rokok di bibirnya nyaris jatuh jika saja tidak ditahan salivanya. Dia mematik api lalu mendekatkannya ke Taehyung yang langsung merunduk untuk menyalakan ujung rokoknya. Mereka sejenak berhenti, menunggu Taehyung menyalakan rokoknya sebelum kembali melangkah setelah Taehyung menghembuskan asap rokok pertamanya.

“Kita makan apa hari ini?” Tanya Jeongguk, mengusap perutnya yang sekarang datar karena dia belum makan—biasanya benda itu akan membuncit persis setelah dia makan.

“Ada ayam bacem yang dibawa Kak Namjoon,” sahut Tzuyu dari depan, “Kalian mau makan itu hari ini?”

“Ya, ya!” Jeongguk mengangguk semangat, menyugar rambutnya dengan tangannya yang memegang rokok seraya menghembuskan asapnya. “Aku ingin ayam, beri aku ayam.”

“Oke, ayam.” Taehyung mengangguk. “Masih ada kangkung juga, 'kan? Kita buat cah kangkung saja hari ini, Tzu.”

“Siap, Kak Tae.” Sahut Tzuyu seraya menyingkap daun bambu yang merunduk untuk melewatinya.

Mereka memasuki rumah, kelelahan sementara Jeongguk dan Taehyung berhenti di depan rumah, menghabiskan rokok sebelum masuk. Yugyeom melepas name tag-nya serta almamaternya saat menyadari Namjoon dan Seokjin sedang membereskan pakaian mereka.

Namjoon nampak panik, wajahnya pucat sementara Seokjin disorientasi. Dia menatap Namjoon kebingungan namun tak ayal merapikan tasnya.

“Kak? Kenapa?” Tanya Yugyeom bingung. “Makan siang dulu saja baru kita turun bersama. Kami akan masak ayam dari Kakak hari ini.”

Namjoon menggeleng, “Tidak, tidak. Aku terpaksa menolaknya. Aku harus pulang.” Dia meraih kemeja flanel-nya yang digunakan sebagai bantal lalu bergegas menggunakannya. “Ayo, Kak.”

Taehyung yang mendengar keributan itu bergegas mematikan rokoknya, menyelipkan puntungnya ke saku lalu memasuki rumah, bersama Jeongguk yang mengintip dari kejauhan karena tidak mau mematikan rokoknya. Dia mendapati Namjoon sudah menggendong tasnya.

“Kak? Kenapa?” Tanya Taehyung, kaget dan bingung. Dia menghampiri keduanya dan mencoba menahannya.

Seokjin menggeleng, “Tadi dia sedang tidur siang saat aku mengecek beberapa hal sambil nonton televisi, lalu dia terbangun dan langsung mengajakku pulang.” Dia merapikan bawaannya, berdiri hendak menyusul Namjoon.

“Sebentar, memangnya kenapa? Ada masalah apa?” Taehyung menyentuh dada Namjoon, menahannya agar tidak pergi sebelum menjelaskan. Dia berdiri di sana, tinggi dan penuh tekad—menahan Namjoon. Alisnya berkerut.

Jeongguk melangkah masuk saat menyadari masalahnya mungkin saja serius. Dia berdiri di sisi Taehyung, beberapa meter di belakangnya bersiap menjadi cadangan jika ada kekerasan yang mungkin terlibat karena dari ekspresi Namjoon, hal itu sangat mungkin terjadi.

Namjoon menggertakkan rahangnya lalu berdeham, “Aku tidak mau ke sini lagi.” Katanya kemudian membuat semuanya bingung. “Aku bermimpi ada kakek tua yang mengusirku. Aku sudah di atas motorku, siap untuk pergi. Katanya, 'jangan datang lagi, pulang kamu' dan saat aku hendak pergi, ada anak kecil di kakiku—mencengkeram kakiku erat-erat menahanku agar tidak pergi.

“Dan sekuat apa pun aku berusaha melepaskannya, dia tidak mau lepas. Malah terkikik tinggi padaku, suaranya nyata sekali. Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi. Ada... ada perempuan juga. Kakek itu terus memintaku pulang, 'pulang kamu, jangan kembali lagi.' Aku tidak tahu lagi, aku akan pulang.”

Dan dia langsung pergi begitu saja, menepis tangan Taehyung sebelum bergegas keluar dari sana persis saat Dahyun dan Momo tiba. Mereka semua menyaksikan saat keduanya bergegas pulang tanpa menoleh sama sekali dan Taehyung yakin apa pun yang dikatakannya pada Namjoon, tidak akan mengubah pendiriannya.

“Oh, iya.” Kata Momo kemudian saat mereka makan bersama di dapur, saat Dahyun bertanya kenapa Namjoon buru-buru pulang dan Yugyeom menceritakan semuanya. “Memang ada.”

Semuanya diam dan Yugyeom merengek dengan suara kecil.

Dia kemudian berdeham, rikuh dan tidak nyaman. “Di sini ada tiga,” katanya kemudian. “Kakek itu pemiliknya, dia punya dua anak. Si anak kecil lelaki dan satu perempuan.” Dia berhenti makan, nampak sangat terganggu karena harus membicarakan ini. “Aku tidak akan memberi tahu semuanya tapi si Kakek ada di sudut, persis di atas kepala Taehyung ketika tidur.”

Taehyung mengerjap, jelas kaget dan Jeongguk langsung menepuk pahanya lembut—menenangkannya. “Di atas... kepalaku?” Ulangnya perlahan.

Momo mengangguk. “Tidak apa-apa, kok. Selama kau tidak... yah, bertingkah. Kurasa tidak apa-apa.”

Taehyung terenyak. “Kaurasa,” ulangnya perlahan.

Momo meringis, paham dia tidak bisa menjanjikan apa pun pada mereka. “Sisanya,” dia menelan ludah dengan sulit.

Dia nampak kelelahan saat mengatakannya sehingga Dahyun seketika mengulurkan air padanya. Dia meneguknya habis sebelum melanjutkan, “Sisanya tidak akan kukatakan. Tapi, tolong. Jaga omogan kalian; jangan berteriak-teriak, jangan bicara kasar dan jangan menonton film horor. Hormati mereka.” Dia meletakkan piringnya, tidak nafsu makan.

“Kakek mungkin tidak suka dan mengusir mereka karena mereka tidak sopan.” Kata Momo dan mereka mengangguk setuju—dari kasus film horor di malam pertama dan bagaimana Namjoon terkadang suka tertawa terbahak-bahak, keras seraya mengumpat.

Teringat bagaimana Namjoon dan Hoseok mengejek mereka karena tidak mau menonton film horor di hari pertama, terbahak-bahak mengatakan betapa pengecutnya mereka. Sekarang semuanya terbayarkan, pemilik rumah ini mengusir mereka—memaksa Namjoon untuk pergi dengan cara kasar.

Jeongguk juga teringat bagaimana Momo menggeleng saat mereka tidur dekat dengan jendela di sisi pintu samping dan memutuskan untuk menggeser tempat tidur mereka hingga Jeongguk terpaksa tidur satu garis dengan pintu masuk. Namun Namjoon tidur persis di bawah jendela itu, sama sekali abai pada permintaan Momo untuk tidak melakukannya.

“Harga yang setimpal.” Kata Momo kemudian lalu meraih piringnya kembali, makan dengan tenang sementara Yugyeom mengkerut di tempatnya, menempel ke Taehyung—ketakutan. “Pokoknya, jangan aneh-aneh.”

“Di kamar mandi, 'kan?” Dahyun kemudian bicara dan Yugyeom merengek, Taehyung terkekeh kecil—merangkulnya agar tidak takut. “Maksudku, ada, 'kan?”

Momo diam sejenak, lalu akhirnya terpaksa mengangguk. “Di sudut.” Katanya.

“Pantas saja,” Yoongi kemudian menjawab. “Sudut dekat pintu masuk, 'kan? Aku selalu merasa suhu di sana sedikit lebih dingin.”

Jeongguk mengerutkan alisnya. Dia tidak merasakan apa pun di tempat-tempat itu. Bahkan sudut jendela pintu samping atau suhu dingin di kamar mandi. Semuanya terasa biasa saja.

“Kak Gguk selalu bangun pukul dua pagi untuk buang air kecil, 'kan?” Tanya Tzuyu, sedang melepaskan daging dari tulang ayam yang dimakannya. Dia menjilat jemarinya yang ternoda minyak serta bumbu ayam. “Kakak tidak merasakan apa pun?”

“Jam dua pagi?” Ulang Yoongi, kaget dan Yugyeom mengerang seraya mengeluh 'jika itu aku, aku akan buang air di botol saja!''. “Kau selalu buang air kecil pukul dua pagi? Selalu? Aku pikir hanya sekali saat itu?”

Jeongguk mengangguk. “Yah, begitulah. Selalu persis ketika jarum panjang di angka 12. Jam dua tepat. Tidak pernah kurang atau lebih, aku selalu melihat jam di atas televisi setiap terbangun.”

Semuanya diam dan Jeongguk menyadari dia belum pernah memberi tahukan hal ini pada mereka. Hanya Taehyung yang tahu karena dia selalu merasakan Jeongguk bangun dan menunggunya untuk kembali tidur bersama.

Lalu dia menambahkan, “Jika kalian bertanya apakah aku bingung, aku bingung. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus buang air.”

“Kau tidak... merasakan apa pun?” Tanya Yoongi kemudian, perlahan nampak seolah sedang mencernanya. “Bahkan di sudut itu? Sama sekali?”

Jeongguk menggeleng, perlahan. “Sama sekali.” Dia mengedikkan bahu. “Aku bahkan kadang buang air besar. Tidak ada apa-apa sama sekali. Kadang aku juga berhenti sebentar di depan pintu, menatap rimbun bambu di belakang itu.”

Yugyeom terkesirap bersama Dahyun dan Tzuyu, “Dan, kenapaaaaa?” Tanyanya nyaris menangis hingga Yoongi dan Taehyung terkekeh. “Maksudku, kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menatap?? Kau bisa saja langsung pergi??”

Jeongguk menggaruk tengkuknya. Sejujurnya dia juga tidak tahu. Namun terkadang, ketika dia pergi ke kamar mandi, ada sesuatu yang memaksanya untuk berhenti dan menoleh—tidak peduli seberapa tidak inginnya dia melakukan itu. Dia pasti akan berhenti dan menoleh, setidaknya satu menit penuh—tidak menemukan apa pun selain kegelapan, tentu saja.

Dia juga takut, tentu saja dia takut. Entah kenapa dia tidak bisa tidak melakukannya. Rimbun bambu itu tetap rimbun bambu, tidak ada apa pun yang balas menatapnya atau apa. Aman. Tapi dia tetap menoleh, menunggu—seolah menunggu sesuatu muncul sebelum dia memasuki kamar mandi dan buang air kecil.

“Tidak tahu,” sahutnya kemudian menatap Momo yang balas menatapnya, semua orang juga menatap Jeongguk sekarang—berhenti sejenak dari kegiatan makan mereka.

“Aku hanya... ingin saja. Kurasa?”


Note.

Momo sebenernya gak suka banget bahas mereka di lokasi. Tapi karena mimpinya si Namjoon, dia terpaksa jelasin sedikit. Setelahnya, kami jadi lebih hati-hati lagi di pondokan. Malah seneng krna at least kami tau apa yg harus dijaga :“)

Dan, iya. Aku selalu “dipaksa” noleh ke rimbun bambu itu. Aku takut, sumpah aku takut. Cuma pasti, pasti aku noleh ke sana. Gak ada apa apa sih wkwkwk

ps. aku lupa komposisi pakan ternak kami dulu, aku cari di proposal dan laporan KKN juga gak ada jadi aku masukin yg aku inget aja yaaa pss. para mahasiswa teknologi pangan atau peternakan, please look away xixixi


Semua anggota kelompok sedang nampak seperti zombi sekarang; berdiri di teras depan dengan wajah kelelahan karena semalam menghabiskan waktu dengan berjalan jauh dan makan begitu banyak; wajah Tzuyu bahkan bengkak karena makan berat sebelum tidur.

Yugyeom berusaha membuat mereka lebih semangat, “Ayo, ayo! Cepat dimulai, cepat selesai, cepat kembali tidur!”

Dan walaupun bagi Taehyung itu bukan kalimat penyemangat terbaik, iming-iming kembali tidur berhasil membuat mereka tertawa dan mulai bergerak.

Mereka sekarang tengah mempersiapkan alat dan bahan untuk mengerjakan proker utama mereka; fermentasi pakan ternak. Bapak sudah datang membawa dua batang pisang besar yang ditebangnya dari kebun mereka beberapa meter di pinggir jalan, salah satu dari beberapa bahan utama mereka dan sudah menyiapkannya di atas kain terpal yang siap digunakan.

Kain-kain terpal dibentangkan di halaman, dalam dua kelompok. Seokjin dan Namjoon tiba tadi pagi, langsung melepas luaran mereka dan bergabung untuk mempersiapkan bahan-bahan mereka hari itu.

Seokjin sudah menjelaskan sistemnya saat kedatangannya terakhir, sudah berkoordinasi aktif dengan Yugyeom juga mengenai bahan-bahan yang harus disiapkan mereka. Juga membantu saat mereka berbelanja kemarin, maka dia yang akan menjadi kunci kegiatan mereka hari itu.

Warga berdatangan, saling menyapa dan kemudian langsung membantu para mahasiswa KKN untuk mengerjakan program mereka dengan khidmat karena Bapak semacam ketua RT yang paling dihormati sehingga kata-kata sangat didengar. Bapak Dukuh juga datang untuk membantu mereka.

Kepala Taehyung masih berdentam-dentam karena kelelahan, tapi tadi pagi dia sudah minum seteguk kopi pahit Jeongguk yang langsung menonjoknya terbangun. Kopi kental dengan dua sendok bubuk kopi dan satu sendok gula kesukaan Jeongguk setiap dia terlalu lelah untuk menahan kantuk; seperti semacam ramuan rahasia.

Yugyeom yang pertama turun bersama Jeongguk, dengan parang Bapak di tangan mereka—nampak sangat mengancam, mulai menyacah batang pisang yang diletakkan di atas kain. Para warga yang datang langsung bergabung dengan mereka sementara Yoongi dan Taehyung dibantu para perempuan mulai menuang bubuk konsentrat di atas kain terpal baru; dibantu oleh para pemuda Karang Taruna Desa yang adalah sahabat akrab Jeongguk, mereka mencampurnya dengan bahan kimia.

Seokjin yang memimpin tim itu, mengukur takarannya sesuai dengan resep yang diketahuinya dan menggulung kain celananya sendiri untuk terjun mengaduk konsentratnya agar tercampur dengan bahan kimia fermentasi pakan. Dia menggunakan cangkul, mengaduknya dengan lihai bersama beberapa pemuda.

Suara obrolan terdengar di udara, riuh saat semua orang saling bekerja untuk menyelesaikan program kerja hari itu. Mereka kemudian memasukkan semuanya ke dalam tong-tong biru plastik, menyusunnya seperti membuat dessert box sebelum menutup dan menyegelnya rapat dengan lakban untuk difermentasi. Bulan depan, mereka akan datang lagi untuk mengeceknya dan membagikannya.

Ibu dan para perempuan menyajikan tiga teko teh hangat dan cemilan yang mereka beli saat membeli bahan-bahan program kerja saat akhirnya tong-tong diangkat bersama-sama, diletakkan di tempat yang gelap untuk fermentasi. Mereka duduk di teras, mengobrol seraya minum teh dan makan cemilan saat Jimin muncul.

Dia berhenti di ujung jalan, menyadari keramaian itu dan memutuskan untuk memarkir motornya di atas dan menuruni tanjakan dengan kantung plastik di tangannya. Tersenyum lebar walaupun nampak malu dan kikuk karena bertamu dengan kondisi dua puluh warga sedang duduk di halaman, menatapnya tertarik saat menuruni tanjakan. Taehyung berdiri, bergegas menghampirinya sambil menghabiskan kue yang dimakannya.

“Kau tidak bilang akan seramai ini,” gerutu Jimin di bawah senyumannya yang ramah dan Taehyung mendengus, menahan tawa. “Aku malu.”

“Sudah kubilang datang pagi,” Taehyung menerima plastiknya yang berat dan beraroma tajam babi asap yang lezat; langsung membayangkan betapa senangnya Jeongguk saat menerima makanan itu.

“Katamu aku harus beli Babi Bajang.” Balasnya, masih tersenyum lebar lalu mengekor Taehyung dan menyapa para warga yang mengangguk-angguk ramah.

“Ayo, Mas, ngeteh dulu, abis motoran dari jauh,” Bapak mengambilkan Jimin gelas lalu mempersilakannya minum teh dan Jimin menerimanya.

Setelah para warga membubarkan diri, anak-anak membereskan semua alat-alat yang digunakan lalu mencucinya sebelum mengeringkannya. Jeongguk dan Yugyeom yang bertanggung jawab menyimpan semuanya kembali ke gudang peralatan Bapak di sebelah kamar mandi sebelum masuk.

“Kak Namjoon, ini teman kuliahku, Jimin.” Kata Taehyung sementara teman-temannya mempersiapkan makan siang. “Jimin, ini temanku, Kak Namjoon dan Dokter Seokjin.”

“Tidak perlu dokter, demi Tuhan.” Sahut Seokjin pada Taehyung yang tertawa ceria sebelum tersenyum ramah pada Jimin. “Halo, Jimin. Seokjin.”

Jimin membalas senyumannya, “Halo, Kak. Jimin.” Lalu dia berpaling ke Namjoon yang langsung mengulurkan tangannya, “Halo, Kak. Jimin.” Katanya saat mereka bersalaman.

“Hai, Yoon!” Sapanya kemudian saat Yoongi memasuki ruangan setelah membereskan remah-remah konsentrat di halaman bersama Momo dan Tzuyu dengan sapu lidi. “Kau betah di sini?”

Yoongi tertawa, mengusap keringat di keningnya dan mengipasi dirinya dengan kausnya. “Betah saja jika Taehyung dan Jeongguk tidak saling membelit seperti ular piton,” dia mengulurkan tangan dan bertukar tos hangat dengan Jimin yang balas tertawa. “Skripsimu aman?”

“Aman,” sahut Jimin. “Aku baru mengumpulkan populasi untuk penelitianku, metodenya kuesioner.” Tambahnya saat Yoongi duduk di sisinya, mengangguk mendengarkan dengan tertarik. “Bagaimana denganmu?”

Taehyung melirik keduanya yang nampak akrab, mengobrol akrab tentang topik skripsi masing-masing. Dia paham Jimin berteman dengan Yoongi karena tidak jarang mendengar namanya disebut Jimin saat mereka mengobrol dan Taehyung sendiri sering melihatnya di hall saat terburu-buru ke Perpustakaan sedang bermain gitar, santai dan menikmati hidupnya.

Maka agak aneh jika melihat pertemanan mereka; Jimin yang serius dan dinamis dengan Yoongi yang santai dan nyaris statis. Dia menikmati hidupnya seperti menyesap secangkir teh; perlahan dan menikmati tiap teguknya. Namun Jimin tipe yang akan langsung meneguknya sekaligus karena terburu-buru, tidak peduli jika lidahnya terbakar karenanya.

Jeongguk datang dari belakang dengan Yugyeom dan langsung berseru senang mendapatkan makanan kesukaannya. “Babi Bajang!” Serunya ceria, berlari seperti anak kecil ke meja dan mulai membongkar bungkusannya. “Trims, Jimin!”

“Ya, iya, kembali kasih.” Sahut Jimin setengah geli saat Jeongguk mulai membuka makanannya dengan ceria, dia bersiul-siul—seperti anak kecil yang mendapatkan robot-robotan baru.

Taehyung bangkit, menuju dapur untuk mengecek apakah para perempuan membutuhkan sesuatu. Mereka baru saja menyelesaikan tumisan sayuran yang sudah dihidangkan dan tempe serta tahu yang mulai diangkat. Aroma bawang putih yang mereka gunakan sebagai bumbu marinasi membuat Taehyung kelaparan, harum sekali.

Dia mendekat ke kompor, ke Momo yang sedang mengangkat potongan tempe hangat berwarna keemasan dari minyak panas yang mereka gunakan sementara Dahyun siap mencelupkan tempe-tempe mentah baru lagi setelahnya.

“Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya, menyeka kacamatanya saat Jeongguk datang—berdendang dengan babi merah di tangannya. Taehyung tersenyum. “Kau seperti bocah yang diberi permen.”

“Tidak, kami baik-baik saja.” Kata Momo mengangguk, “Tolong dicek nasinya, Tae. Apakah sudah matang? Dan bawa sayurnya ke meja makan.” Dia mengerling mangkuk di sisi kompor dan Taehyung bergegas mengambilnya.

Jeongguk mengambil piring di rak, melangkah ke meja makan dan mulai mengisinya dengan nasi pulen yang baru matang ditanak oleh Tzuyu. Taehyung menghampirinya, meletakkan sayur hangat di bawah tudung saji lalu duduk di sisinya saat Jeongguk mulai makan bagiannya sementara teman-temannya mempersiapkan makanan.

“Kau tidak bisa menunggu kami, ya?” Gerutu Dahyun saat dia membawa lauk ke meja makan sementara Momo memanggil semuanya untuk makan termasuk Namjoon, Seokjin dan Jimin.

Hihak hisa,” sahut Jeongguk menggeleng serius dengan mulut penuh, mengunyah dengan semangat. Tidak bisa.

“Telan dulu,” kata Taehyung, tersenyum sayang lalu menyentuh rambutnya—menepuknya sayang sekali seraya mengamatinya makan, merasa kenyang hanya dengan menonton Jeongguk memindahkan isi piring ke mulutnya. Suapannya besar-besar dan lahap, dia nampak sangat senang dengan makanan kesukaannya.

“Kau suka?” Tanyanya saat Jeongguk menambah nasi di piringnya; di hadapan mereka, Seokjin sedang berdiskusi dengan Jimin—sesuatu tentang penyakit panleu yang sekarang sedang mewabah.

“Suka, sangat suka!” Desah Jeongguk senang dan menatap Taehyung dengan tatapan yang Taehyung yakin jika mereka hanya berdua, dia akan sungguh mencium Taehyung karena senang. “Terima kasih.”

“Sama-sama,” Taehyung tersenyum—senang jika Jeongguk senang.

Ajaibnya, selama Jimin-Yoongi-Seokjin berinteraksi, tidak ada seorang pun yang berani menggoda mereka secara terang-terangan seperti babon liar. Hanya bertatapan penuh arti, sesekali berdeham dan tertawa tanpa konteks. Taehyung yakin karena anak-anak belum mengenal Jimin dan karena raut wajahnya serius sekali maka tidak ada yang berani menggodanya.

“Jimin,” tanya Momo kemudian saat mereka bersantai di kursi karena jadwal mereka hari itu dikosongkan untuk fermentasi pakan yang ternyata hanya memakan setengah hari, memutuskan untuk memulai keributan hari itu. “Kau pacaran dengan siapa sekarang?”

“Sejak Taehyung meninggalkanku untuk bajingan Sastra Inggris?” Sahutnya dan Jeongguk tertawa keras, berbaring di tikar dengan perut buncit kekenyangan, berseru 'maaf, sob!' “Tidak ada. Kenapa memangnya? Kau ada kandidat?”

Momo tersenyum simpul, “Tidaaak,” sahutnya berdendang, mengecek kuku-kukuknya yang dipotong rapi. “Aku hanya bertanya, kok.” Dia kemudian melirik Taehyung yang berdeham keras, menyamarkan senyumannya.

“Kau dengan Kak Heechul bagaimana?” Tanya Jimin sama sekali mengabaikan atmosfer penuh godaan yang dilemparkan Momo ke udara dan Jeongguk menatapnya dengan mulut terbuka dan wajah heran yang menggemaskan.

“Dia... tidak peka sama sekali?” Bisiknya pada Taehyung yang sejak tadi menggunakan perutnya sebagai kantung tinju. “Aduh, jangan keras-keras nanti aku muntah!” Keluhnya.

“Dia memang payah, makanya jomlo.” Sahut Taehyung tertawa lalu menepuk perut Jeongguk sayang, mencubitnya lalu melepaskannya—terkekeh sendiri karena lemaknya yang bergerak.

“Baik,” Momo tertawa dan Tzuyu di sisinya menggaruk pelipis untuk menyamarkan betapa herannya dia karena Jimin sama sekali tidak menyadari godaan Momo. “Memangnya lelaki seperti apa yang kauinginkan?”

Jimin mendongak, “Memangnya kenapa? Kalian punya kandidat?”

“Yoongi.” Sahut Yugyeom tegas, mengangguk serius hingga Yoongi mengernyit kaget, mendongak dari gitarnya. Yugyeom mengedikkan bahunya kalem, memasang wajah bayinya yang tidak bersalah; ekspresi yang selalu berhasil membuat semuanya luluh. “Aku hanya memberi saran.”

“Yoongi?” Ulang Jimin tertawa, “Tidak, tidak, dia bukan tipeku.” Katanya lalu tertawa bersama Yoongi yang tersenyum lebar; mereka bertukar tos akrab itu lagi hingga Taehyung yakin mereka sama sekali tidak punya perasaan semacam itu.

Mereka nambak akrab dan sangat dekat, tapi bukan seperti kedekatan yang dimilikinya dengan Jeongguk. Mereka berteman, itu pasti. Dia melirik Seokjin dan Namjoon yang sedang berdiskusi, tidak bergabung dengan obrolan mereka. Keduanya akan menginap lagi malam ini karena lelah mengemudi Yogyakarta-Gunung Kidul serta ada janji dengan warga sore ini untuk mengecek seekor kambing yang akan melahirkan namun kepala anaknya tersangkut di jalur lahirnya sehingga Seokjin harus membedahnya.

Taehyung berbisik pada Jeongguk yang menguap, kekenyangan dan mengantuk sambil menonton kartun di televisi yang gerimis. “Menurutmu Seokjin cemburu tidak?” Tanyanya.

Jeongguk mengangkat lehernya sedikit, menoleh ke arah Jimin yang sedang mengobrol akrab dengan Yoongi serta kedua dokter hewan yang juga sedang berdiskusi. “Jika dia cemburu, maka dia menyembunyikannya dengan luar biasa baik.”

Taehyung mengamati kedua pasangan itu, mengerutkan alis kenapa keduanya tidak bersikap sesuai dengan yang diharapkannya? Kemudian dia dan Jeongguk memutuskan mungkin mereka gagal dalam menciptakan pasangan baru dan menyerah saja.

Dia mendapatkan jawabannya saat Jimin pamit pulang pada mereka semua beberapa saat setelah Asar karena tidak mau tiba di Yogyakarta terlalu sore. Dia berpamitan pada semuanya, diantar naik oleh Taehyung yang mendapati Namjoon berdiri di depan pintu menunggunya.

“Hai, Kak.” Sapanya, “Kau akan berangkat ke rumah warga? Kau bisa gunakan motor Jeongguk.” Tambahnya, meraih kunci motor yang diletakkan di meja depan dan menyerahkannya ke Namjoon yang berdiri di teras dengan tas peralatan dokternya.

Namjoon menerima kunci itu, sejenak nampak rikuh sebelum memberanikan diri bertanya, “Tae?”

“Ya?”

Dia menyugar rambutnya, berdeham kikuk. “Apakah Jimin dan Yoongi dekat? Maksudku, dekat?”

Taehyung nyaris tertawa, namun dia berhasil menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun dan menahan nada suaranya tetap stabil saat menjawab, “Kakak dengar sendiri kata-katanya tadi. Lagi pula, bukannya Yoongi dengan Kak Seokjin?”

Namjoon terkekeh, “Itu dia.” Katanya kemudian, sekarang nampak rileks karena topik obrolan tidak lagi mengarah padanya. “Kata Kak Seokjin juga mereka sudah sering mengobrol dan berkirim pesan. Tapi interaksi Yoongi dengan Jimin tadi membuatnya sedikit cemas.”

Taehyung mencubit pahanya sendiri, agar tidak tertawa karena Jeongguk benar; dia menyembunyikan emosinya dengan sangat baik. Menakjubkan. “Tenang saja, Jimin itu anaknya tidak peka. Jika Kakak ingin mendekatinya, Kakak harus menunjukkan tekad yang serius jangan sampai disalahartikan menjadi keinginan untuk berteman. Kau bisa terjebak friendzone selamanya.”

“Oh, baiklah.” Kata Namjoon seketika lalu mengerjap, menyadari kesalahannya namun terlambat, Taehyung sudah mendapatkan jawabannya. “Eh, bukan! Anu, maksudku, aku tidak—!”

Taehyung tersenyum lebar. “Got you.” Katanya dan Namjoon mendesah keras, “Nanti akan kutanyakan padanya apakah aku boleh memberikan nomornya padamu, ya, Kak. Sana, periksa kambingnya!”

Taehyung mendengus puas saat mengirim kedua dokter hewan itu pergi dengan senyuman lebar di bibir mereka karena dua sasaran hati mereka ternyata tidak saling menyukai satu sama lain. Mereka masih memiliki kesempatan.

Dia masuk ke dalam setelah keduanya berlalu ke rumah warga yang terletak jauh di bawah Masjid, mengecek kambing malang yang belum bisa melahirkan sejak semalam. Menemukan Yugyeom sedang berada di singgasana agung dengan sinyal XL terkuat, mengecek grup kormadus.

“Besok kita evaluasi mingguan ke pondokan di bawah, ya.” Katanya kemudian. “Berangkat setelah Asar, sekitar jam setengah empat. Lokasinya sudah ada padaku, lumayan jauh tapi seharusnya tidak terlalu jauh juga.” Tambahnya membingungkan, namun tidak ada yang menanggapinya. Dia kemudian meletakkan ponselnya lagi di meja.

Semua teman-temannya mengangguk. Taehyung bergegas menghampiri Jeongguk yang sedang duduk di pintu samping, merokok dan duduk di sisinya. Meraih kotak rokoknya dan menyalakan sebatang.

“Apa yang dikatakan Namjoon tadi?” Tanyanya seraya menghembuskan asap rokoknya keluar.

“Menanyakan Jimin.” Taehyung tertawa kecil, menghembuskan asap rokok pertamanya lalu mematikan pematik Jeongguk—mengembalikan ke tempatnya. “Ternyata semua sesuai dengan rencana.”

Jeongguk terkekeh, asap rokok menghambur dari bibirnya dan menaungi wajahnya sejenak dengan warna putih sebelum kembali jelas. “Kau hobi menjodoh-jodohkan orang, ya?”

“Kenapa?” Balas Taehyung, menyesap rokoknya khidmat. “Kau mau kujodohkan dengan siapa?” Dia menatap Jeongguk dengan satu alis terangkat.

“Denganmu saja, bagaimana?”

“Menggelikan.”

“Coba katakan itu padaku saat kau mendesah di atasku.”

Taehyung menyerigai lalu mengulurkan tangannya dan menyentil hidung Jeongguk yang bangir. “Jangan membawa itu di sini. Nanti susah.”

Jeongguk tertawa serak dan parau, “Siapa yang susah?”

“Diam.”

“Bukan salahku jika kau mudah sekali digoda.”

“Diam.”

Very well, My Lord.”

“Oh! Demi Tuhan!”

Jeongguk tertawa, “Kenapa? Kau suka itu, 'kan?”

Taehyung menonjok lengannya hingga Jeongguk mengaduh kecil, menyelipkan rokoknya di mulut lalu mengusap lengan atasnya yang sakit. “Diam.”

“Sakit,” keluhnya, memberengut hingga Taehyung akhirnya mengusap lengannya yang tadi dipukulnya sebagai permohonan maaf. “Begitu, dong.” Kata Jeongguk, memasang wajah memelasnya yang menggemaskan hingga Taehyung ingin memeluknya. “Aku disayang, jangan disakiti.”

“Nanti ada saatnya ketika aku akan menyayangimu dari ujung kepala sampai ujung kaki,” bisik Taehyung parau, membelai lengan atas Jeongguk hingga pemuda itu bergidik. “Akan kuciumi badanmu dari atas hingga bawah. Cukup?”

“Diam.” Gerutu Jeongguk, “Kau membuat asetku menderita.”

Taehyung menaikkan sebelah alisnya lalu menggerakkan lidahnya di dalam mulutnya sedemikian rupa seolah dia sedang memberikan blowjob paling luar biasa yang membuat Jeongguk mendesis. “Bukan salahku jika kau mudah sekali digoda.” Sahutnya dengan suara alfanya yang bergetar oleh dominasi.

“Kau sungguh beracun.” Keluh Jeongguk dan Taehyung tertawa parau.

Senang, berhasil membalaskan dendamnya.

ps. unedited, im tired sowwy x


Taehyung mendorong gerobak pasir bersama Yugyeom karena benda itu berat, penuh dengan tanah becek yang basah lalu membuang isinya ke jurang di seberang jalan.

Tanah longsor yang dimaksud ternyata adalah sepertiga dari halaman PAUD, menutupi nyaris setengah jalan akses utama desa sehingga semua warga bergegas turun untuk membantu membereskan longsoran itu. Anak-anak KKN tiba saat longsor mulai dibereskan dan langsung terjun membantu.

Jeongguk salah satu dari beberapa orang dengan tulang punggung terkuat, dia menggemburkan tanah dengan cekatan dan Taehyung nyaris yakin dia adalah seorang petani di masa lalu karena keterampilannya menggunakan alat tani nyaris menakjubkan.

Dia suka mengamati bagaimana otot Jeongguk bergerak saat dia bekerja, otot lengan atasnya yang mengencang saat dia mengayunkan cangkulnya dan bagaimana dia fokus pada pekerjaannya—dia jadi berkali-kali lipat lebih seksi dari biasanya.

Gotong royong hari itu jauh lebih lama karena volume longsor yang lebih banyak daripada kemarin. Anak-anak bekerja bahu-membahu bersama warga desa menyingkirkan tanah dari jalanan dengan gerobak pasir dan juga ember-ember hitam besar. Momo dan Tzuyu membantu dengan mengangkat ember besar berdua sementara Dahyun yang lututnya belum terlalu sehat, tinggal di pondokan—memasak untuk mereka makan siang bersama Ibu.

Semua orang bekerja sembari mengobrol akrab dan Jeongguk yang memang akrab dengan Karang Taruna Desa, bekerja jauh lebih berisik dari teman-temannya; dia tertawa dan berbagi humor dengan para pemuda yang bagi Yugyeom serta Yoongi lebih sulit untuk mereka dekati. Mungkin karena Jeongguk mendekati mereka dengan rokok, hal yang biasanya langsung membuat para lelaki terkoneksi.

Gotong royong baru selesai menjelang makan siang dan Dzuhur. Mereka duduk di pinggir jalan, makan kerupuk dan minum teh seperti biasa seraya menunggu sisa tanah disapu bersih agar tidak ada yang terpeleset di jalan. Setelahnya, mereka pulang dengan memaggul cangkul—bersiap-siap ke Masjid sementara para anak KKN kembali dengan punggung nyeri.

Boyokku,” keluh Yugyeom saat mereka akhirnya tiba di pondokan dan semuanya beristirahat di ruang tengah setelah mencuci kaki dan alat-alat Bapak yang meninggalkan mereka bekerja setelah beberapa menit.

“Itu pertama kalinya aku mencoba mencangkul sesuatu dan tidak akan melakukannya lagi,” keluh Tzuyu yang tadi nekat mencoba meraih cangkul yang diletakkan Jeongguk dan menggemburkan tanah; dia berhenti dicangkulan kedua karena otot punggungnya nyeri.

“Kau kurang melatih punggungmu,” sahut Jeongguk yang berbaring terjauh, lelah dan sangat butuh mandi namun dia kalah suit dengan Momo yang menguasai kamar mandi pertama karena dia harus buang air besar.

“Kalian mau makan dulu?” Dahyun muncul dari dapur, tertatih-tatih karena lukanya mulai menyembuhkan diri dan terasa semakin kaku, sulit digerakkan. “Sambil menunggu Momo mandi.”

Mereka mengiyakan, beranjak ke dapur dan mulai makan seraya mengobrol. Ruang makan hanyalah petak kecil dengan dua kursi berseberangan yang bisa digunakan jika mereka enggan beranjak ke ruang tengah untuk makan. Jeongguk duduk di sudut, terdekat dengan makanan dan Taehyung duduk di sisinya.

Mereka hari itu mendapatkan suntikan lauk dari Ibu yang memasak sayur rebung. Yugyeom senang sekali saat membuka tutup panci dan menemukan sayur itu, mengambil banyak-banyak dengan nasi serta lauknya.

“Kau makan sayur rebung?” Tanya Jeongguk saat menyendok sayur, menoleh ke Taehyung di sisinya yang mengamati makanan itu. “Coba saja sedikit, jika tidak mau kau bisa memberikannya padaku.”

Maka Taehyung mengangguk, membiarkan Jeongguk menuang sedikit sayur rebung ke atas makanannya. Mereka beranjak ke meja makan, duduk bersebelahan dan Jeongguk mengambilkan Taehyung lauk, meletakkannya di sisi piringnya.

“Lagi tidak?” Tanyanya setelah meletakkan dua potong tempe di piring Taehyung. “Sambal?”

“Tolonglah, ada yang LDR di sini.” Keluh Dahyun yang duduk di hadapan mereka saat Jeongguk meraih mangkuk terisi sambal terasi untuk menyendokkannya ke piring Taehyung yang memangku piringnya.

“Tidak ramah jomlo,” gerutu Yoongi, menunggu mangkuk sambal di sisi Jeongguk yang memutar bola matanya.

“Makanya, kau tentukan pilihanmu. Jimin atau Dokter Seokjin.” Sahut Jeongguk menyerahkan mangkuk sambal ke Yoongi setelah menyendok untuk dirinya sendiri.

“Sudah kukatakan,” kata Yoongi, menuang sambal ke makanannya lalu meletakkan mangkuk kembali di dalam tudung saji makanan. “Aku tidak menyukai Jimin, kami hanya kenal karena aku sering di student hall dan dia mahasiswa aktif Psikologi.”

“Oh, jadi pada Dokter Seokjin suka, ya?”

“Terserahlah, Gguk.”

Jeongguk tertawa, “Aku hanya bertanya, kenapa kau sewot sekali, sih?” Tambahnya saat Yoongi duduk di sisi Taehyung yang sekarang menyingkirkan rebung di piringnya.

Jeongguk menunduk, menatap rebung yang dipidahkan ke piringnya. “Kau tidak suka, ya?” Tanyanya dengan nada rendah ke Taehyung yang menggeleng, membereskan rebung di piringnya; memindahkannya ke piring Jeongguk.

“Karena kau berisik.” Gerutu Yoongi, mulai menyuap makanannya dengan satu kaki ditumpangkan ke atas kaki lainnya.

“Aku hanya berisik saat aku benar,” sahut Jeongguk, mendengus keras seraya mendekatkan piringnya ke Taehyung yang sibuk memindahkan sayur yang tidak disukainya ke piring Jeongguk. “Jadi, apa kau sudah bertukar pesan dengan Seokjin?” Tanyanya, menunduk ke piringnya—memastikan Taehyung sudah selesai memindahkan sayurnya.

“Bukan urusamu kurasa,” sahut Yoongi seketika itu juga dan semuanya terkekeh.

“Berarti sudah.” Sahut Yugyeom kalem, meletakkan piringnya di meja dan duduk menyamping untuk makan—mengambil sepotong tempe lagi untuk dimakan. “Besok dia datang lagi, omong-omong. Untuk membantu kita program kerja utama juga mengecek beberapa ternak.”

Taehyung mengangguk, menjilat telunjuk dan ibu jarinya yang tadi digunakannya untuk memindahkan lauk ke piring Jeongguk. “Sudah,” katanya pada Jeongguk yang bertanya 'sudah semua?' sebelum menjawab Yugyeom. “Jimin juga akan datang.”

“Boom!” Seru Yugyeom tertawa serak dan Jeongguk terkekeh di kursinya, membereskan makanan yang dipindahkan Taehyung ke piringnya. “Besok akan terjadi prahara rumah tangga!”

“Jimin ini, yang mana orangnya?” Tanya Dahyun, mengunyah makanannya—sejak tadi mengamati para lelaki membahas gebetan Yoongi.

“Aku tidak suka pada Jimin,” kata Yoongi, mendelik. “Setidaknya bukan suka yang itu, berhentilah menggodaku dan dia. Aku tidak mau hubunganku dengan Jimin jadi kikuk.”

“Ya, berarti sukanya pada Dokter Seokjin?” Sahut Tzuyu, tersenyum seperti kucing saat Yoongi mendelik padanya. “Aku, 'kan, hanya bertanya. Kau bisa menjawab persis seperti yang kaujawab saat membicarakan Jimin jika kau memang,” dia meletakkan piringnya di pangkuannya lalu membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya, “Tidak suka pada Dokter Seokjin, kok.”

Burn,” Taehyung terkekeh, menyadari bahwa Yoongi sebentar lagi akan termakan omongannya sendiri. “Ah, jangan lupakan Desi. Kasihan anak itu, cintanya tak terbalaskan.”

“Oh, demi Tuhan!” Erang Yoongi dan semuanya tertawa.

“Sulit sekali jika kita punya Casanova di kelompok ini, 'kan?” Ledek Jeongguk membiarkan Taehyung mengambil jatah tempe gorengnya—mereka biasanya menjatah lauk 3-4 potong per orang karena mereka menghemat uang makan dan Jeongguk biasanya merelakan dua potong lauknya untuk Taehyung walaupun dia makan seperti monster.

Taehyung selalu ingin mengganti lauk itu dengan ciuman. “Nanti kuganti,” katanya tersenyum lalu mulai makan lagi namun Jeongguk hanya mengangguk sambil lalu, sudah terbiasa Taehyung melakukannya.

“Membuat semua orang jatuh cinta lalu mematahkan hatinya, duh.” Katanya melanjutkan menggoda Yoongi sementara Taehyung terkekeh di sisinya dengan dua potong tempe hasil jarahan dari piring Jeongguk. “Jangan lupa karma, Yoon.”

“Bicara sekali lagi, kupukul rahangmu, Gguk.”

“Tae, dia jahat padaku!”

Taehyung terkekeh, mengulurkan tangan dan menepuk kepala Jeongguk sayang—seperti seekor anak anjing yang mengibaskan ekornya saat diberi cemilan. “Jangan nakal,” katanya.

“Apa-apaan ini?” Seru Momo yang baru muncul dari kamar mandi, dengan handuk di bahunya dan tas terisi alat mandi di tangannya. “Aku baru habis mandi dan mereka pacaran di depanku? Tidak sopan!”

Jeongguk merangkul pinggang Taehyung yang tertawa, menariknya mendekat hingga piring Taehyung nyaris terguling jatuh dari pangkuannya lalu mengecup puncak kepalanya dengan suara keras hingga semua orang mengerang. Termasuk Taehyung yang tertawa, senang mendapatkan ciuman yang diinginkannya lalu balas merangkul pinggang Jeongguk erat.

“Bagaimana dengan itu, hah?” Tanyanya dan kemudian mengaduh saat Dahyun menendang tulang keringnya dengan kakinya yang sehat.

Semua orang benci Jeongguk, itu valid.


“Ayo, Mas, Mbak.”

“Ya, Pak!”

Semua anak bergegas keluar dari kamar, wangi dan rapi bersiap untuk berangkat ke tempat rewang 40 Harian dilaksanakan. Bapak sudah rapi dengan peci dan batik, membawa senter besar yang akan menerani jalan mereka. Jeongguk berdiri di pintu dan menunggu Taehyung yang bergegas menghampirinya; mereka berdua mengenakan batik yang serasi, tidak sengaja.

Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter sementara Jeongguk berjalan di sisinya, menyalakan rokok. “Aku mau,” katanya dan membiarkan teman-teman mereka yang tidak kuat asap untuk jalan duluan.

Jeongguk meletakkan kotak rokoknya di tangan Taehyung yang langsung mengeluarkan sebatang, menyelipkannya di bibirnya lalu menggunakan pematik Jeongguk untuk menyalakannya. Sejenak wajah Taehyung diterangi warna jingga dari api pematik sebelum padam setelah rokok menyala.

Dia mengembalikan pematiknya seraya menghisap rokoknya dalam-dalam, mengehembuskannya dari hidung dan mulutnya. Mereka kemudian berjalan bersisian, di bawah sinar bulan purnama yang temaram dan Taehyung memutuskan untuk mematikan senter ponselnya karena cahaya cukup untuk menerangi jalan mereka.

Obrolan anak-anak yang berjalan di depan mereka terdengar sayup-sayup, Dahyun digandeng Tzuyu dan Momo sebagai pengganti alat bantu berjalan, kakinya sudah semakin baik tapi proses penyembuhannya masih berlangsung. Kulit mulai tumbuh di lukanya, perlahan tapi pasti menyembuhkan diri.

“Jadi besok Jimin akan datang?” Tanya Jeongguk kemudian, Taehyung mengangguk seraya menghembuskan asap rokoknya.

“Dia sudah akan datang beberapa hari lalu tapi aku melarangnya karena proker kita lumayan melelahkan.” Taehyung menyelipkan rokok ke bibirnya, menyesapnya khidmat hingga ujungnya berkilau oleh api. “Baru besok dia kuizinkan datang dan sekalian membantu kita proker utama.”

Tadi sore, para lelaki sudah turun ke kota untuk membeli semua peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan besok termasuk bahan-bahan fermentasinya. Bapak berjanji akan mencarikan batang pisang besok sebelum acara pukul sembilan pagi dan juga sudah mempersiapkan kain-kain terpal untuk digunakan mencampur bahan-bahan besok.

“Aku sudah membayangkan betapa lelahnya besok.” Keluh Taehyung dan Jeongguk mengulurkan tangannya, merangkul pinggang Taehyung hangat seraya merokok.

“Kita punya warga untuk menolong, tenang saja.” Dia menghembuskan asap rokoknya ke jalan dan Taehyung balas merangkul pinggangnya.

Benar kata Taehyung saat mereka di kamar Jeongguk, setelah bercinta seperti orang sinting mereka merasa lebih sulit menjaga tangan dari satu sama lain. Taehyung harus benar-benar menahan diri agar tidak menyentuh Jeongguk di muka umum, atau di tempat-tempat yang ingin disentuhnya. Ambil contohnya: dia suka mencubit dada Jeongguk jika dia menyebalkan dan harus benar-benar mengerahkan pengendalian dirinya agar tidak melakukannya secara spontan di depan semua orang.

Mereka bergegas melepaskan tangan mereka saat suara motor terdengar di kejauhan. Mereka menghabiskan rokok mereka, mematikannya di aspal sebelum mengantungi puntungnya dan bergegas menyusul teman-teman mereka yang sekarang mulai mendaki jalur berbatu yang licin.

“Oh, ya Tuhan,” gumam Taehyung dan Jeongguk terkekeh.

Mereka hari ini sangat aktif mendaki jalanan terjal, belum lagi bergotong royong menyingkirkan tanah di jalan dan juga belanja ke Klaten kebutuhan program kerja mereka. Tubuh mereka terasa remuk dan Yugyeom bahkan membeli koyo yang sekarang digunakannya—membawa aroma koyo ke mana pun dia pergi.

“Aku akan minta koyo Yugyeom malam ini,” keluh Jeongguk saat dia membantu Taehyung menaiki jalanan yang mendaki—bebatuannya tajam dan membuat Jeongguk meringis jika dia salah menginjak.

“Aku juga.” Sahut Taehyung, mengerang karena otot di belakang lehernya mulai nyeri karena kelelahan. “Tolong pijati aku juga malam ini, ya?” Katanya pada Jeongguk yang mengangguk.

“Koyo selalu siap.” Yugyeom menjawab beberap meter di depan mereka. “Aku juga punya Hot & Cream yang lebih paten,”

Yoongi tertawa di sisinya, merapatkan jaketnya saat angin malam berhembus. “Kita seperti orang tua, kalian sadar tidak?” Keluhnya dan keempatnya tertawa. “Padahal umurku belum dua puluh dua.”

“Semua karena cangkul.” Yugyeom menyentuh punggungnya yang terisi koyo. “Aku benar-benar menderita di bawah koyo ini.”

“Kau rasakan seharian mondar-mandir mendaki bukit melewati lembah sebelum bicara,” Taehyung merangkulnya dari belakang dan mendesah. “Aromamu seperti koyo, aku ingin pulang dan tidur.”

Yugyeom terkekeh, menepuk tangannya yang merangkul lehernya. “Sabar, kita harus bersosialisasi dulu.”

Mereka kemudian tiba di rumah yang dimaksud, di atas bukit dan menuruni jalanan curam yang hanya muat untuk satu orang bergiliran. Taehyung turun duluan, dipegangi Jeongguk dari atas sebelum mengulurkan tangan membantu Jeongguk turun—seperti biasa dan mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu yang dibereskan menjadi begitu luas.

“Kak Gguk!”

Jeongguk menoleh, mendapati Mutia berlari ke arahnya dengan senyuman ompongnya lalu Jeongguk berjongkok, menerima beban tubuh mungil itu di pelukannya dengan suara 'hup!' berat lalu menggendongnya. “Kau dengan mamamu?” Tanyanya.

Mutia mengangguk, memeluk leher Jeongguk lalu menunjuk ke sudut di mana ibunya melambai pada Jeongguk. “Maaf, ya, Mas!” Kata ibunya saat menyadari Mutia sudah berada dalam gendongan Jeongguk.

Mboten menopo, Bu.” Tidak apa-apa, Bu. Sahut Jeongguk kalem, menaikkan Mutia di gendongannya dan anak itu menempel semalaman dengan Jeongguk, bahkan duduk di pangkuannya saat acara 40 Harian di mulai.

Mereka duduk di atas tikar, mendapatkan jajanan basah yang dibungkus dalam plastik satu kilogram. Taehyung menerima plastik itu lalu menggeleng saat seseorang menyerahkan satu lagi padanya.

“Sudah, Mas.” Katanya lalu Bapak di hadapan mereka berdecak.

“Bukan, Mas. Itu satu bungkus untuk satu orang.” Kata Bapak dan semuanya kecuali Yoongi terkesirap, menatap Bapak kaget hingga beberapa orang terkekeh.

“Ini banyak, Pak.” Kata Yugyeom, menatap makanannya yang terisi sekitar dua belas jenis makanan basah termasuk roti isi kacang hijau yang sedang dimakannya—kelaparan.

Taehyung menatap makanannya, kaget sementara Jeongguk di sisinya sedang bermain 'Kotak Pos Belum Diisi' dengan Mutia yang terkikik-kikik ceria saat Jeongguk menggelitik perutnya setiap dia kalah.

“Memang begitu, diterima saja daripada dianggap tidak menghormati yang punya hajat,” bisik Yoongi ke teman-temannya yang akhirnya menerima makanan itu; isinya jajanan basah, roti, buah salak pondoh yang manis, apem, roti kukus dan masih banyak lagi.

Taehyung mengunyah rotinya, lapar karena Bapak meminta mereka tidak makan dulu sebelum ke hajatan tetangga. Jeongguk masih menikmati waktu berkualitasnya dengan Mutia yang sekarang bersandar nyaman di dadanya, mengantuk.

“Aku iri,” gerutu Taehyung saat Jeongguk mengusap rambut Mutia hingga terlelap. “Aku juga ingin tidur di situ dan dimanjakan.”

Jeongguk terkekeh, mengerlingnya geli. “Nanti, ya?” Sahutnya lembut dan Taehyung mendesah mendengar nada itu—lembut dan sangat sarat kasih sayang, nada yang jarang digunakan Jeongguk namun sekali terbit, nada itu menikam langsung ke jantungnya.

Taehyung tersenyum ke arahnya, memandang Jeongguk yang sedang mengusap kaki kecil Mutia agar dia semakin lelap di pelukannya. Jeongguk membisikkan lagu, menenangkannya dan Mutia nampak sangat nyaman di pelukannya. Tetap lelap bahkan saat acara dimulai.

Mereka tidak paham karena tidak ada yang beragama Islam dan berasal dari desa, jadi mereka hanya menunduk dan mendengarkan dengan khidmat. Tidak ada yang bicara atau saling berbisik, berusaha menghormati acara itu sebaik mungkin.

Taehyung berpikir kue basah dalam plastik 1 kilogram itulah satu-satunya hal paling mengerikan hari itu hingga akhirnya makanan datang; nasi yang agak keras dengan semur daging di atasnya.

Mereka semua berpandangan, sudah terlanjur makan kue basah hingga nyaris kenyang dan masih harus memakan makanan di piring.

“Harus dihabiskan, jika tidak mau dianggap tidak sopan.” Yoongi memperingatkan dan mulai makan makanannya dengan ringkas, menghabiskan porsinya yang sebenarnya tidak banyak jika saja mereka belum menghabiskan kue basah.

“Ya Tuhan,” bisik Taehyung dan Jeongguk terkekeh. Mutia tadi digendong ibunya untuk dibaringkan di belakang karena tidak enak pada Jeongguk yang sudah mulai kesemutan memangkunya.

Namun mereka menghabiskannya juga kecuali para perempuan yang sudah benar-benar kekenyangan sebelum akhirnya mereka kembali pulang; lelah, mengantuk, dan kekenyangan. Jeongguk sudah sangat ingin merebahkan diri di kasur, memejamkan mata dengan tangan Taehyung digenggamannya.

Mereka pulang dalam keadaan lelah dan mengantuk, besok mereka masih harus menyelesaikan program kerja utama mereka dan yakin mereka akan menghabiskan akhir pekan dengan kelelahan. Taehyung hanya berharap Jeongguk tidak sakit lagi kali ini, atau siapa pun anggota mereka tidak jatuh sakit karena kelelahan.

Mereka tiba di pondokan, tidak ada yang bicara semuanya bersiap-siap tidur dalam diam. Anak-anak perempuan langsung tidur, tidak berbicara apa pun lagi sementara Taehyung menggelar kasur dan kantung tidur mereka saat Yugyeom keluar dari kamar.

“Gguk,” panggilnya pada Jeongguk yang merokok di pintu samping.

“Hm?” Sahut Jeongguk dengan rokok di bibirnya. “Kenapa?”

Nguyuh, ra?” Mau pipis tidak?

Jeongguk menghembuskan asap rokoknya dan mengangguk, “Nguyuh.” Sahutnya.

Yoongi melongok dari kamar. “Arep nguyuh? Melu!” Mau pipis, ya? Aku ikut! Katanya bergegas mengejar Yugyeom dan Jeongguk yang berbarengan ke kamar mandi.

“Kalian pipis bertiga?” Tanya Taehyung saat ketiganya kembali dan Jeongguk masih merokok.

“Bertiga.” Ketiganya mengangguk.

Taehyung mengerjap. “Berhadap-hadapan?” Tanyanya lagi.

“Tidak,” Yugyeom menggeleng ngeri. “Aku di toilet, Gguk dan Kak Yoon di depan bak mandi saling memunggungi. Terbayang tidak?”

Taehyung mengerjap, sudah di dalam kantung tidurnya—siap berbaring menunggu Jeongguk di sisinya. Jika dipikir-pikir, kegiatan tidur mereka seperti kegiatan pasangan yang sudah menikah karena mereka praktis berbagi ranjang saat ini—walaupun tidak seintim itu.

“Tidak mau membayangkan.” Tukasnya lalu keduanya masuk kamar dan Jeongguk mematikan rokoknya, menutup pintu samping—menyelotnya lalu merangkak ke kasur mereka.

Dia meraih koyo yang ada di dekat mereka, mengulurkannya pada Taehyung yang bergegas membantunya. Jeongguk menaikkan kausnya, memaparkan punggungnya ke Taehyung dan membuat tato elangnya menatap Taehyung.

“Sakit sekali, ya?” Tanya Taehyung saat dia meraih selembar koyo dan melepaskannya dari kertas perekatnya. “Di mana?” Tanyanya.

Jeongguk mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh titik di punggungnya yang terasa nyeri. Taehyung menempelkan koyo di sana, lalu menekannya lembut hingga Jeongguk mendesah saat hangatnya koyo mulai menjalar di ototnya yang nyeri.

Kemudian Jeongguk memasangkan koyo di punggung Taehyung, sebelum keduanya berbaring dan mendesah panjang—sangat kelelahan setelah seharian beraktivitas di luar dugaan mereka.

“Malam, Gguk.” Gumam Taehyung, lelah dan mengantuk. “Terima kasih untuk hari ini.”

“Malam, Tae.” Balas Jeongguk parau, tangan mereka terpaut di dalam keremangan sebelum keduanya memejamkan mata. “Terima kasih juga untuk hari ini. Semoga besok lebih baik.”

Lalu mereka lelap, begitu saja.


“JEONGGUK AWAS!”

Jeongguk langsung membuka matanya mendengar teriakan itu, kaget melompat duduk di kasurnya hanya untuk mendapati sesuatu menubruknya hingga dia berteriak kaget dan jatuh kembali ke kasur dengan dada nyeri bukan main.

“Bajingan!” Serunya keras lalu bergegas meminta maaf pada penghuni pondokan karena telah berkata kasar seraya mengusap dadanya yang nyeri. Dia mengerang keras karena rasa sakit luar biasa yang menyeruak di dadanya; dia menghela napas, berusaha meredakan sakitnya.

Dia masih mengantuk, kepalanya sakit karena dia terbangun karena kaget seperti baru saja mimpi terlempar jatuh, langsung duduk sehingga kepalanya tidak sempat menyesuaikan diri. Dia mengerang; semua badannya sakit sekarang dan dia benci sekali. Dia mendongak, marah pada Yugyeom yang berdiri di pintu samping dengan handuk di tangannya, ekspresinya merupakan kombinasi aneh antara geli dan ngeri.

Jeongguk menggeram, “Apa, sih, masa—?!”

Dia belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat Dahyun berteriak dari sisinya dan sekali lagi sesuatu menabraknya hingga Jeongguk mengumpat keras. Dia menoleh marah, membuka mulut untuk mengamuk dan menutup mulutnya kembali saat mendapati anak kambing Bapak balas menatapnya.

APA-APAAN INI?!

“Bapak, anak kambingnya masuk rumah!” Seru Dahyun, panik namun juga geli karena anak kambing itu menandak-nandak seperti seekor kelinci dan Jeongguk mengerang.

“Kau bandit kecil!” Serunya, mengulurkan tangan hendak menangkap kambing itu, Pulgoso namun ternyata si kambing jauh lebih gesit dari Jeongguk yang terhuyung saat tangannya menangkap udara kosong.

Dia melompat menjauhi Jeongguk, mengembik sombong lalu melompat-lompat ceria di dalam ruangan—nyaris seperti menari saat menghindari semua orang yang berusaha menangkapnya. Lalu untuk memperkeruh suasana, terdengar suara gemuruh dari luar sebelum suara gedubrak keras.

“Kak Gguk! Motormu!” Seru Tzuyu dari luar lalu terbahak-bahak keras sekali dan Jeongguk semakin gusar mendengarnya; apakah hanya dia yang tidak diajak untuk memproses humornya pelan-pelan?

Kepala Jeongguk berdenyut-denyut. Taehyung di sisinya tadi membuka mata saat Pulgoso menabraknya pertama kali dan sekarang sedang berguling di kasur, tertawa terbahak-bahak, tersengal seperti seekor kuda laut yang berteriak.

Jeongguk mengerang. “Aku baru bangun, oke?!” Serunya dan bangkit dari kasurnya sementara Taehyung di sisinya sedang tertawa tanpa suara—air mata luruh dari sudut matanya saat dia berusaha menguasai dirinya yang terguncang tawa.

“Kenapa lagi motorku?!” Balas Jeongguk, menyapu kantung tidurnya menjauh.

“Jatuh, Kak! Diseruduk anak sapi Bapaak!”

Taehyung melolong, tertawa begitu keras saat Jeongguk mengumpat dan bergegas bangun dari kasur. Mengenakan sendalnya, masih bertelanjang dada dengan celana training lusuhnya berderap keluar dan mendapati motornya sudah berada di tanah.

Yugyeom yang menyusulnya, terbahak-bahak di sisinya. Anak sapi Bapak yang bertingkah seperti anak anjing sekarang sedang melompat, siap berlari menabrak motor Jeongguk lagi. Menatap Jeongguk sebal, seolah Jeongguk yang bertanggung jawab hingga dia dilahirkan menjadi seekor sapi alih-alih anak anjing seperti yang diinginkannya.

“Jangan! Hei! Nanti kau terluka!” Seru Jeongguk, menghampiri motornya yang terbaring menyedihkan setelah diseruduk sapi. “Bapak, sapinya kenapa?!” Teriaknya, berharap Bapak datang menyelamatkan mereka semua dari serangan binatang ternak.

Sapi itu seolah paham sedang dibicarakan, bergegas berlari dari ujung dengan suara derapnya yang mengancam. Jeongguk bergegas mendirikan motornya, sebelum melompat ke atas motor; menjauhi si anak sapi hiperaktif yang mengerem di ujung jalan—seperti sedang melakukan drift nyaris terpeleset mematahkan lehernya sendiri. Namun dia melompat, mendengus keras nampak senang.

“Ya, kau senang, aku tidak!” Balas Jeongguk, mendelik padanya lalu Pulgoso mengembik dari dalam rumah; berlari keluar dan menabrak Yugyeom yang sedang tertawa hingga dia terhuyung, nyaris terjerembab menabrak kursi depan.

“HEH!” Seru Yugyeom, tidak terima dan mengaduh karena lututnya terantuk sudut kursi, membuat rasa sakit menggerayam di atas tulang tempurungnya.

Kemudian dua binatang ternak aneh itu saling melompat dan berkejar-kejaran seperti dua ekor anak anjing. Tidak peduli sama sekali apakah si Sapi cukup kuat untuk merubuhkan motor Jeongguk yang tidak bersalah. Maka Jeongguk menaikkan motornya ke bawah atap, menghindari serudukan sapi susulan sebelum dia mengerang dan kembali ke dalam.

Kepalanya sakit sekali dan Taehyung sedang terbahak-bahak di atas kasurnya; masih mengantuk, ada garis di pipinya dan matanya nampak sayu namun wajahnya merah padam karena tawa.

“Apa, sih, yang terjadi pada semua ternak itu?” Tanya Jeongguk, menyugar rambutnya. Menyisirnya dengan jari lalu menggunakan karet di pergelangan tangannya untuk menguncir rambutnya. “Mereka mabuk, ya?”

Yugyeom tertawa, namun mengusap lututnya yang terantuk kursi karena ditabrak anak kambing. “Tidak tahu. Tapi sepertinya karena mereka akhirnya dilepaskan dari ikatan mereka jadi mereka berlarian dengan gembira.” Yugyeom merentangkan tangannya, menunjukkan betapa bahagianya dia.

Jeongguk duduk di kasurnya, mengerang karena pusing. “Mereka lupa, ya, jika mereka itu anak sapi dan kambing? Bukan anak anjing?”

Taehyung terkekeh, bangkit dari kasur dan menghela napas keras-keras; menenangkan diri dari serangan tawa histerisnya tadi.

“Puas?” Gerutu Jeongguk dan Taehyung kembali tertawa. “Motorku lecet syukur sapinya tidak kenapa-kenapa.”

Taehyung mengusap air mata di sudut matanya, “Menggemaskan sekali, kau mengkhawatirkan si anak sapi,” katanya dan mereka menoleh dan melihat si anak sapi sedang berlarian di halaman depan dengan heboh, berkejaran dengan Pulgoso.

Taehyung kemudian membereskan tempat tidurnya dan Jeongguk mau tidak mau juga bangkit lalu membereskan tempat tidur mereka. Taehyung langsung meraih handuk dan mandi sementara Jeongguk mengenakan pakaiannya sebelum beranjak ke kursi depan, merokok bersama Diwud yang menyaksikan anak ternak Bapak berlarian ceria.

“Mereka aneh, tidak?” Tanya Jeongguk, menghisap rokoknya sementara Diwud meletakkan dagunya di pangkuan Jeongguk, menguap manja. “Harusnya itu kau yang berlarian. Tunjukkan, dong, semangat anjingmu, Anjing!”

Diwud menatapnya, lalu melengos dan memejamkan mata. Jeongguk mengusap kepalanya, merokok khidmat sampai akhirnya Ibu datang dengan sabit dan juga karung.

“Ibu, mau ke mana?” Tanya Taehyung dengan handuk di bahunya.

Jeongguk menoleh, kaget menemukan Taehyung di sisinya. “Bukannya kau mau mandi?” Tanyanya saat Ibu berhenti di depan mereka.

“Yoongi sedang buang air besar, lama.” Gerutu Taehyung dan menatap Ibu yang mengikat sabitnya di pinggang—posisi yang mengerikan jika seseorang bertanya pada Jeongguk karena ujung tajamnya mengarah ke luar.

“Mau ke sawah,” sahut Ibu kemudian melangkah menuruni jalan berbatu menuju ke rumah di bawah pondokan KKN.

“Ibu, tunggu! Saya ikut!” Seru Taehyung, bergegas menjemur handuknya kembali dan mengenakan sandal gunungnya dan menyusul Ibu menuruni jalan berbatu yang becek akibat hujan semalam. “Kau ikut tidak, Gguk?!” Tambahnya dari bawah.

Jeongguk mendesah, senang melihat Taehyung yang bersinar karena kebahagiaan sesederhana ikut Ibu ke sawah.

“Ikut!” Balasnya, mematikan puntung rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah sebelum bergegas mengenakan sandalnya lalu menyusul Taehyung.

“Aduh, jangan!” Kata Ibu saat menoleh, menemukan dua orang mengekornya seperti anak anjing menggemaskan, menuruni jalanan berbatu rapi ke rumah di bawah. “Jalannya becek, lewat sungai kotor. Nanti kalian kenapa-kenapa,” lanjutnya.

“Sudah, Ibu, tidak apa-apa!” Desak Taehyung lalu mengamit lengan Ibu dan mengajaknya berjalan.

“Aduh, kalian ini.” Kata Ibu namun tak ayal memimpin mereka berjalan.

Mereka melewati hutan, jalan kecil yang becek dan juga sawah-sawah yang banjir gagal tanam karena badai semalam. Melewati rumah warga yang terletak di atas sungai yang lumayan deras, sendirian dan dengan akses jalan becek yang mereka lewati barusan, di tengah hutan terang—yang membuat Jeongguk bingung kenapa mereka tinggal di sana alih-alih di pinggir jalan?

Sekali, Taehyung terperosok ke dalam lumpur sawah yang mereka lewati. Terpeleset di pematangnya dan kakinya mencelus ke dalam lumpur. Syukurlah dia menyambar kaus Jeongguk di belakangnya sehingga dia tidak tercebur ke dalam sawah dan Jeongguk langsung menahannya dengan kedua lengannya.

“Hati-hati, Mas!” Seru Ibu yang sekarang ada di bawah, di pinggir sungai yang harus mereka seberangi.

“Aman, Bu, aman!” Seru Taehyung, suara mereka bergaung di alam terbuka yang sejuk dan damai. Sinar matahari pagi menerangi mereka, menembus sela-sela dedaunan dan membentuk pilar-pilar keemasan yang berkilauan di atas permukaan air, bergemericik saat Ibu melangkah di atasnya, menunggu mereka menyusulnya.

Jeongguk memegangi tangan Taehyung saat mereka menuruni jalan becek yang licin, mereka mendarat di sisi sungai yang tidak terlalu lebar namun arusnya lumayan deras. Walaupun semalam hujan deras, airnya tidak sekeruh yang dibayangkan Jeongguk. Mereka mencelupkan kaki dan mendesah.

“Sejuuuk!” Taehyung mendesah, mereka bergandengan tangan dengan kaki tenggelam di air, menikmati arus yang berpusar di sekitar kaki mereka. Airnya bersih, tidak ada sampah manusia yang hanyut di atasnya—hanya dedaunan kering.

Mereka berdua terkekeh ceria di sana, di tengah sungai dengan tangan terpaut dan menikmati air sejuk sungai sementara Ibu mulai memanjat naik dari sungai sambil menebas beberapa semak agar mereka berdua tidak kesulitan saat lewat.

“Ayo, nanti kakinya keriput!” Ibu tersenyum lebar, senang melihat mereka menikmati waktu—mendapatkan pengalaman menakjubkan dari hal-hal yang beliau lakukan setiap hari tanpa benar-benar menyadarinya lagi.

Jeongguk membiarkan Taehyung memanjat duluan, berpegangan pada batang pohon yang tumbuh di sisi lalu dia berbalik, mengulurkan tangan dan menarik Jeongguk naik sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian tiba di area persawahan yang indah, mereka seperti berada di Bali dengan sistem terasering mereka yang rapi.

Ada banyak warga yang sedang bekerja di sana, membungkuk menyiangi tanaman liar dari semua padi-padi mereka. Ada bukit kecil di bagian kanan mereka, dengan matahari yang semakin tinggi dan pemandangan kota yang lepas.

“Naik ke sana saja, di sana aman.” Kata Ibu, menunjuk bukit itu dan memasang topi bertepian lebarnya, siap bekerja. “Hati-hati jatuh, ya, Mas. Sandalnya dipakai, nanti kakinya luka.”

Taehyung langsung mengangguk dan bergegas mengikuti jalur pematang sawah ke arah sana, diikuti oleh Jeongguk yang melepas sandalnya, menikmati lembeknya tanah becek di telapak kakinya. Tanah persawahan dingin dan dia suka merasakannya di kulitnya sendiri. Padi-padi meninggi, gemerisik saat tersapu angin dan suara-suara orang bekerja terdengar bersahut-sahutan.

“Lho, Mas KKN ikut, ya?” Seru seorang warga yang menegakkan tubuhnya, di tangannya ada rumput liar yang dicabut dari sela-sela padi. Dia mengenakan topi bertepian lebar, baju lengan panjang yang kotor dan tersenyum lebar pada Taehyung dan Jeongguk.

“Iya, penasaran pada sawah katanya,” sahut Ibu dari kejauhan, tertawa saat menuruni pematang menuju sawahnya dengan lincah.

“Memang di kota tidak ada sawah sama sekali, Mas?” Tanya seorang ibu lain yang berdiri di sawahnya, sedang menunduk mencabuti rumput dan membersihkan telur keong dari sela-sela padinya.

“Ada, Bu.” Sahut Taehyung, berhenti di sebuah batu yang berada di tengah persawahan. “Tapi tidak sebanyak ini,” katanya dan Jeongguk berdiri di sisinya, mencelupkan kaki ke parit kecil yang digunakan petani untuk mengairi sawahnya; mengamati saat lumpur kering di kakinya larut.

Mereka mendaki bukit itu, duduk di batu raksasa yang menghadap ke sawah; mengamati semua orang yang bekerja. Angin semilir membelai wajah mereka dan Jeongguk menyesal dia tidak membawa rokoknya.

“Aku suka di sini,” kata Taehyung, mendongak menatap langit biru yang cerah; memejamkan mata menikmati angin persawahan yang membelai wajahnya.

“Rasanya seperti setiap hari begitu panjang dan banyak hal bisa dikerjakan, ya?” Sahut Jeongguk meniru posisinya, mendongak menatap langit yang terbentang luas di atas mereka.

Suara para petani yang mengobrol sambil berteriak saat bekerja, suara cuitan burung dan serangga-serangga liar, desir angin, gemericik air; Jeongguk bisa saja terlelap di sini, menikmati kehidupan yang selama ini jarang sekali diapresiasinya karena hidup di kota berarti kehidupan yang terburu-buru, serba cepat dan serba instan.

Teringat saat tempo hari, Jeongguk menemukan Ibu di gudang hasil tani sedang membereskan daun pisang yang akan dijualnya besok. Dia baru habis mandi, maka dia berjongkok di sisi Ibu membantu beliau melipat daun pisang dan Ibu tertawa.

“Aduh, jangan repot-repot, Mas, nanti tangannya kotor.”

Jeongguk menolak, “Begini saja saya bisa, Bu.” Katanya dan membuktikan pada Ibu dia bisa melipat daun dengan rapi hingga Ibu mengapresiasi kerjanya. Tidak ada daun yang robek atau terlipat ke arah yang salah, Jeongguk mengurutkan daun dari yang terlebar hingga terkecil sebelum melipatnya seperti kain.

“Ini dijual, Bu?” Tanyanya saat menyusun daun baru di lantai dan Ibu mengangguk, akhirnya mengizinkan Jeongguk membantunya bekerja.

“Ya, di desa mah begitu, Mas. Kalau untuk sehari-hari, jual apa yang ada saja. Pepaya, daun pisang, singkong; apa saja hasil hari itu. Toh, hanya untuk makan sehari saja. Nanti kalau semisal butuh uang banyak, Bapak jual sapi atau kambing. Hidup untuk hari ini saja, Mas.” Ibu memotong daun dari tangkai pisang dan menyerahkannya ke Jeongguk yang membantunya mengurus daun. “Ya, begini ini, Mas, hidup orang desa,” Ibu tertawa.

Kata-kata itu bercokol di kepala Jeongguk saat dia memikirkan kehidupannya di kota. Bagaimana segalanya serba terburu-buru dan instan. Jeongguk selalu merasa dirinya sedang dikejar-kejar, diburu waktu untuk mencapai hal yang bahkan tidak dipahaminya apa. Berlari entah dari apa dan mengejar apa; membuatnya kelelahan di penghujung hari lalu harus terbangun lagi keesokan harinya, kembali berlari.

Sementara Ibu di sini, hidup untuk hari ini. Bekerja hanya untuk hari ini, yang besok dipikirkan besok. Mengikuti alur kehidupan yang natural, tidak terbebani bagaimana kehidupan mereka minggu depan atau bahkan bulan depan. Ibu terbangun di pagi hari, memikirkan hari itu saja.

Jeongguk menyikapi KKN ini bukan lagi sebagai kegiatan yang membebaninya, bukan kegiatan wajib sebagai syarat lulus dari universitas, namun sebagai sebuah sarana untuk membuka pandangan dan pemikirannya terhadap hidup. Dia merasa waktu di sini berjalan perlahan, nyaris lambat dan tidak ada teknologi yang bisa membunuh waktu.

Maka mereka mulai mengapresasi hal-hal di sekitar mereka; mengobrol dengan teman-teman, berjalan-jalan di sekitar pondokan, bermain dengan anak-anak, membantu Ibu memasak di dapur atau juga membantu Bapak memberi makan ternaknya. Kegiatan-kegiatan yang membuat mereka puas.

Jeongguk suka. Dibanding berbaring seharian bermain ponsel, dia lebih suka ini. Menyusuri pematang sawah, menikmati angin persawahan yang kencang dan warna hijau sejauh mata memandang. Dia dan Taehyung duduk di sana, di bukit tertinggi mengamati semua orang bekerja dengan damai.

“Jeongguk?” Panggil Taehyung kemudian setelah mereka bersidiam.

Jeongguk menoleh, “Ya?” Sahutnya sementara Taehyung menatap kejauhan; ke hamparan sawah yang hijau dan gemerisik oleh angin.

“Aku mencintaimu.”

Jeongguk mendenguskan senyuman lebar lalu tertawa kecil, “Aku juga mencintaimu.” Sahutnya seketika itu juga, menepuk paha Taehyung sekali—hangat. “Kupikir kau sudah tahu itu?”

Taehyung tersenyum lebar, “Aku bukan Edward Cullen, mana bisa aku tahu apa yang kaupikirkan, Bodoh.”

“Baiklah, baiklah, maaf, Yang Mulia.” Sahut Jeongguk dan mereka berdua tertawa.

Jeongguk senang, jauh dari sekadar senang normal yang dirasakan biasanya. Suatu hari nanti, ketika dia lelah dan penat dengan kehidupan, dia akan mengingat ini. Hari sederhana di antah-berantah, Taehyung di sisinya dan semuanya baik-baik saja.

Semuanya akan baik-baik saja.


Mereka berdua tertawa keras, lepas dan senang.

“Siapa suruh kau hanya mengenakan sandal jepit?!” Seru Taehyung di jalan berbatu tajam yang mereka lewati, jalan pintas untuk kembali ke pondokan. Dia berdiri beberapa meter dari Jeongguk yang mengerang karena kakinya tertusuk batu, tidak luka tapi perih.

Taehyung bergegas kembali, menghampiri Jeongguk yang meringis dengan sandal di tangannya sedang mengecek telapak kakinya.

Ibu yang menunjukkannya, lewat jalan di sana saja—dekat, begitu katanya. Awalnya jalan mereka mulus, tanah becek yang sedikit licin tapi tidak apa-apa. Sebelum kemudian medan mereka berubah jadi penuh batu kapur yang ujungnya tajam-tajam, nyaris menembus sol sandal mereka yang menipis.

Di sekitar mereka hanya ada pepohonan dan pemandangan lembah hijau, bukit di sisi kanan mereka yang rimbun oleh semak dan beberapa motor warga terparkir di sana. Jeongguk melepaskan sandal jepitnya, menyerah karena kakinya terpeleset di atas permukaannya yang licin oleh air dan lumpur.

Dia harus berjalan dengan hati-hati, menghindari semua bebatuan tajam yang serupa jebakan di atas tanah. Taehyung yang mengenakan sandal gunung, melangkah tangkas di depannya, tidak kenal sakit karena alas kakinya memang diciptakan untuk medan ini.

Dia membawa sebatang kayu, untuk menghalau semak yang mungkin berduri yang menghalangi jalan mereka walaupun sebenarnya tidak perlu karena jalan itu lumayan lebar dan bersih. Batu-batu kapur yang tajam itulah satu-satunya masalah.

Jeongguk mengaduh keras, lagi setelah beberapa meter. “Kakiku!” Serunya saat tidak sengaja menginjak satu batu tajam dan dia meringis.

Taehyung ikut meringis, “Gunakan saja sandalmu!” Serunya dan Jeongguk akhirnya menyerah, dia melempar sandalnya ke tanah dan menggunakannya.

Mereka bergandengan tangan saat Jeongguk melangkah di atas sandalnya yang licin oleh lumpur dan Taehyung berdendang ceria—cahaya matahari menyusup dari sela-sela dedaunan yang rimbun, gemerisik di atas mereka terkena angin yang kencang. Suara burung dan sungai jauh di bawah mereka menemani perjalan mereka.

Jeongguk melangkah seperti bayi yang baru bisa berjalan, perlahan dan tertatih-tatih berusaha menghindari batu-batu tajam sementara di sisinya Taehyung menikmati perjalanannya dengan ceria karena mengenakan alas kaki yang sesuai.

“Taehyung?”

“Ya?”

“Kita pacaran, tidak?”

Taehyung tertawa kecil, lalu menoleh ke Jeongguk yang sedang menghindari bebatuan di bawah kakinya. “Tentu saja.” Katanya ceria.

Jeongguk berhenti, menoleh kaget. “Hah?”

“Hah, heh, hah, heh!” Balas Taehyung tertawa lalu menyentil kening Jeongguk; suasana hatinya bagus sekali setelah memulai harinya dengan terbahak-bahak Jeongguk diseruduk anak kambing. “Tentu saja kita pacaran, tapi sebaiknya tetap menunggu penarikan. Maksudnya, kau tahu, agar anak-anak tidak risih.”

Jeongguk mencibir, “Sepertinya malah mereka yang kaget karena kita belum jadian.” Katanya, mengaduh saat satu batu tajam menusuk nyaris menembus sandalnya.

“Memang,” Taehyung tersenyum. “Tapi jadian saat KKN bisa memengaruhi penilaian antarindividu, maksudku toh aku tetap akan jadi milikmu cepat atau lambat, mari kita nikmati saja saat ini. Untuk apa buru-buru? Ada banyak hal tentangku yang masih harus kaupahami.”

Jeongguk tersenyum, “Benar juga.” Katanya kemudian.

”'Kan,” sahut Taehyung, tersenyum superior—senyuman kesukaan Jeongguk. “Pelan-pelan saja, tidak ada yang harus dikejar, kok.”

Jeongguk menatap jalanan di depannya; pelan-pelan, kata Taehyung. Persis seperti yang mereka lakukan sekarang. Nampaknya tiap langkah sangat menyebalkan, menguji kesabarannya. Dia tidak suka ditahan, dia ingin berlari; kebutuhan untuk terburu-buru nyaris mendarah daging dalam dirinya. Namun keadaan membuatnya harus memperlambat segalanya; dia harus memikirkan setiap langkahnya agar tidak terluka.

Dan Jeongguk mendesah, menghela napas dan mulai melangkah lagi; satu langkah setelah satu langkah lainnya....

Jalanan itu ternyata berakhir di jalan besar, jalan yang sering mereka lewati jika akan turun ke Klaten. Jeongguk berseru senang ketika akhirnya menjejak tanah yang landai dan halus, aspal jalanan. Mereka melangkah berdua di sisi jalan yang sepi, bernyanyi ceria hingga akhirnya tiba di pondokan di mana semua teman-temannya menunggu dengan cemas.

“Kalian dari mana?!” Omel Yoongi begitu Taehyung dan Jeongguk menuruni tanjakan, berdiri di halaman pondokan.

Keduanya mengerjap. “Ke sawah dengan Ibu.” Sahut Taehyung tanpa dosa.

“Kami pikir kalian hilang!” Seru Momo, menyentuh dadanya sendiri sebelum tertawa nyaris histeris. “Kalian tidak bisa pamit, ya?” Tambahnya.

Jeongguk tertawa serak, “Kalian sayang sekali padaku, ya?” Katanya lalu melangkah ke belakang, ke PAH memutar lewat ke pinggir rumah.

Dia dan Taehyung mencuci kakinya di bawah air yang mengucur, lelah namun senang karena petualangan mereka hari itu ternyata menyenangkan. Kaki Jeongguk pegal karena berjalan melewati medan ekstrim dan dia lapar sekali; mereka membicarakan mie instan dengan potongan cabai rawit dan sayuran seraya membersihkan diri.

“Mie dok-dok!” Mohon Jeongguk dan Taehyung terkekeh, “Buatkan aku mie dok-dok hebatmu.”

“Baiklah,” Taehyung mengibaskan air dari tangannya. “Karena kau sudah jadi anak baik, aku akan membuatkanmu mie dok-dok.”

Mereka kemudian memasuki pondokan, lelah dan ingin sekali duduk bersantai sebelum mandi dan makan siang. Namun, Bapak kemudian muncul kali ini membawa cangkul dan ember yang langsung membuat para lelaki mendesah berat—paham apa yang akan mereka lakukan.

“Ada tanah longsor di jalan ke PAUD,” kata Bapak menjejerkan cangkul di teras, tersenyum lebar saat melihat ekspresi anak-anak KKN. “Ayo, bantu meminggirkan tanahnya.”

Taehyung dan Jeongguk mengerang, sepertinya mereka belum bisa beristirahat sekarang.


Note.

Serius.

Seriusan satu hari itu kambing dan sapi Bapak menggila :'DD Yang jatuh pas itu motor Vixion punya si temen KKN-ku (salah satu dari dua orang yg kujadiin satu karakter Yoongi). Untung si anak sapi gak apa2 :'DDD

Si Sapi beneran lari-lari kek lagi di wonderland sumpah kami gak paham dan si kambing beneran di dalem rumah lompat-lompat. GAK TAU KENAPA YA ALLAH WKWKWKWKWKWK

cw // horror .


Jeongguk membayar minuman mereka yang semuanya tidak menggunakan es batu dan menerima kantung plastik terisi tujuh minuman berwarna-warni sesuai pesanan teman-teman mereka di grup.

Taehyung menerimanya, bagasi depan motor Dahyun sudah terisi kotak-kotak ayam geprek yang mereka beli di Olive Fried Chicken tadi, beberapa meter di Selatan kosan Jeongguk. Dia juga sudah mengemas selimut dan celana jins dalam kantung plastik di bagasi depan karena jok mereka terisi dua jas hujan. Bawaan mereka agak padat karena makanan, pakaian Jeongguk dan juga minuman yang dipegang Taehyung. Mereka juga membeli beberapa cemilan dalam kemasan satu kilo di Selokan Mataram, langganan Jeongguk untuk menemani mereka di pondokan.

“Kita seperti akan mengunjungi korban bencana alam,” keluh Taehyung di jok belakang saat Jeongguk menaiki motornya dan terkekeh saat memasang helmnya.

“Kita terlalu lama di kosanku,” Jeongguk mengedikkan bahu dan menatap langit yang mulai jingga keunguan—sebentar lagi Maghrib dan mereka masih di Yogyakarta. Dia tidak mau membayangkan rute yang mereka harus lalui saat menuju pondokan dengan pencahayaan minim.

Jeongguk mengendarai motornya, lebih cepat dari biasanya karena takut mereka akan tiba di Klaten terlalu malam. Dia juga menyadari langit yang kelabu berat, takut jika hujan akan segera turun dan mempersulit perjalanan mereka.

“Yah, mau bagaimana.” Taehyung mendesah dari belakang dan Jeongguk melirik di spion, melihat Taehyung mencibir menggemaskan. “Benar katamu. Sekali aku merasakanmu, aku tidak akan ingin berhenti.” Desahnya, merona membayangkan seks gila-gilaan mereka tadi.

“Rasanya seperti baru saja maraton berkilo-kilo meter.” Dia mendesah dan wajahnya nampak bersinar karena kekuatan orgasme. “Baru kali ini aku bercinta dengan seseorang sehebat itu.”

“Jangan begitu,” keluh Jeongguk namun dengan hidung mengembang bangga—dia senang dipuji, apalagi oleh Taehyung yang adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang ingin dibuatnya senang. “Aku nanti keenakan dipuji.”

Taehyung tertawa saat mereka meluncur di bawah jembatan penyeberangan Ambarrukmo Plaza ke Grand Ambarrukmo, menyelip di antara padatnya lalu lintas wilayah Royal Ambarrukmo. Mereka mungkin kembali terlalu malam tapi Jeongguk senang karena dia menghabiskan waktu berkualitas dengan Taehyung.

Setelah puas bercinta, mereka mandi—bergiliran karena Jeongguk sungguh tidak ingin mengambil risiko jika mereka berakhir saling menggagahi lagi di dalam kamar mandi. Dia bersiul panjang saat Taehyung keluar dari kamar mandi dengan handuknya, menggantung rendah di pinggulnya dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memojokkannya di dinding dan menciumnya.

“Oh, kau bangsat keras kepala,” Taehyung menyelipkan jemarinya ke rambut Jeongguk dan menjambaknya, menarik ciuman mereka lepas lalu mencium lehernya—menghisap lembut titik di balik telinga Jeongguk, tepat di atas denyut nadinya.

“Kau tidak bisa jadi anak baik sekali saja, ya?” Geramnya di kulit Jeongguk. Pemuda itu terkekeh.

Make me,” bisiknya tercekat saat Taehyung menjilat telinganya. “Sir.” Tambahnya dan ternyata itu membuat Taehyung malah mendorongnya ke ranjang, menaunginya dengan rahang terkatup rapat; satu kakinya naik ke ranjang membuat handuknya tersibak dengan cara yang sangat menarik.

“Oh,” bisiknya terkekeh geli, mengulurkan tangan dan membelai wajah Taehyung yang mendengkur seperti seekor kucing. “Kau suka itu? Kau suka saat aku memanggilmu 'Sir'?” Tambahnya dan Taehyung mengerang. “Aku suka kink-mu.”

Jeongguk menyelipkan tangan ke balik handuk Taehyung yang mengerang. Dan mereka kemudian saling memberikan blowjob sebelum benar-benar berkemas untuk kembali ke pondokan mereka. Membereskan kamar Jeongguk yang beraroma pekat seks lalu berangkat membeli pesanan teman-temannya.

Perjalanan mereka lancar saja hingga akhirnya keluar dari Yogyakarta dan memasuki Klaten. Langit mulai bergemuruh dan Jeongguk mulai merasa gelisah; dia benar-benar tidak ingin berkendara dengan bawaan sebanyak ini di tengah hujan. Namun toh akhirnya Tuhan tidak mendengarkan doanya karena saat mereka berputar balik di depan eks-Pabrik Gula untuk menuju jalan pintas ke Wedi, Klaten, hujan gerimis turun.

Jeongguk menepi, “Kita pakai jas hujan,” katanya lalu membuka jok, menyerahkan jas hujan Taehyung yang langsung menggunakannya.

Mereka mengikat semua bawaan mereka baik-baik agar hujan tidak merembes masuk. Jeongguk mengenakan helmnya, menoleh untuk memastikan Taehyung sudah mengenakan jas hujannya dengan benar sebelum naik ke motor lagi dan menembus hujan yang semakin deras.

“Sial,” gerutu Jeongguk saat mereka melintasi jalan Wedi yang mulai sepi; hujan semakin deras hingga jarak pandang mereka hanya satu meter di hadapan mereka.

“Pelan-pelan saja,” kata Taehyung di tengah suara hujan yang membuat telinga mereka berdenging.

Jalanan di depan mereka nampak putih oleh fatamorgana derasnya hujan. Jeongguk tidak berani mengambil risiko mengendarai motornya di atas empat puluh meter per jam. Dia memicingkan matanya, senang karena dia memutuskan mengendarai motor alih-alih membiarkan Taehyung yang menggunakan kacamata. Setidaknya matanya sehat dan tidak ada kacamata penuh air hujan di depan matanya.

“Kau berlindung di balikku saja, ya?” Kata Jeongguk kemudian, mengusap air hujan dari pelindung helmnya dan memfokuskan diri pada jalanan di depannya, berusaha melihat jalanan dari balik derasnya hujan.

Jeongguk berdoa dengan keras di dalam hati saat mereka mulai membelok di depan Puskesmas, akan menanjak di Clongop yang tidak akan baik hati. Jeongguk belum pernah sefokus itu dalam berkendara seumur hidupnya, dia berusaha mempertahankan motor tetap melaju stabil sementara dia kesulitan melihat bahkan melihat marka jalan di hadapannya.

Dia was-was jika dari depan muncul mobil dan dia tidak sengaja berkendara melewati marka jalan. Taehyung memeluk pinggangnya, menepuk perutnya dengan lembut—menenangkannya selama dia berusaha menundukkan Clongop di bawah hujan deras.

“Puji Tuhan!” Serunya saat akhirnya mereka melewati Clongop dan Taehyung juga menyerukan hal yang sama.

“Jeongguk?” Panggilnya dari belakang sana, suaranya terdengar mencicit setelah beberapa saat kemudian. Jeongguk seketika memperlambat motornya.

“Ya? Kau oke?” Tanyanya pada Taehyung, meliriknya dari spion namun tidak bisa melihat wajahnya di tengah gelapnya malam dan derasnya hujan.

“Aku takut... petir.” Katanya, menunduk semakin dalam berusaha menyembunyikan wajahnya di balik helmnya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas, setengah dirinya merasa bersalah.

Jika saja dia tadi tidak menggoda Taehyung setelah mandi, mereka mungkin bisa naik lebih awal dan tidak terjebak hujan badai sederas ini. Dia menurunkan tangan kirinya dari stang motor dan meremas tangan Taehyung di perutnya.

“Maaf, ya?” Katanya lembut, “Maaf. Kita akan tiba sebentar lagi.” Tambahnya.

Taehyung baru saja akan menjawab saat suara lecutan keras terdengar. Berderak keras seperti sebatang pohon yang ditebang dan sejenak langit diterangi cahaya perak yang terang benderang. Petir yang begitu dahsyat menyambar persis di langit di depan mereka; membelah langit dengan cahaya perak dan retakan rambutnya. Membuat sejenak, sekeliling mereka terang seperti siang hari dan Taehyung berteriak keras.

Begitu keras hingga hati Jeongguk terasa diremas-remas. Dia bergerak di jok belakang, terkejut hingga motor sejenak oleng. Jeongguk berhasil menjejak kakinya di aspal sebelum mereka berdua terguling jatuh. Taehyung gemetar di belakangnya, bernapas melalui mulutnya.

“Maaf,” gumamnya tercekat dan Jeongguk meringis. “Trauma bodoh.” Tambahnya, meremas bagian depan jas hujan Jeongguk—begitu kuat hingga Jeongguk takut jas hujannya robek.

Mereka berhasil berkendara perlahan melewati jalanan dengan Taehyung meringkuk di balik punggung Jeongguk karena di kejauhan petir terus menyambar dan gemuruhnya tidak bisa diabaikan. Angin kencang berhembus hingga Jeongguk merasa tangan kanannya kram, berusaha menjaga agar motor tidak oleng oleh tiupan angin.

Setelah ini dia akan menjerang air untuk Taehyung mandi, bersikap bertanggung jawab karena bersalah. Dia mengencangkan genggamannya pada stang motor dan sesekali meremas tangan Taehyung di atas perutnya. Dia tidak yakin mereka tiba di wilayah mana karena dia tidak bisa menatap apa pun.

Dia menuruni jalanan kecil yang dikenalnya, dua kilometer jauhnya dari pondokan mereka dan merasakan sentakan rasa damai karena mereka sebentar lagi tiba. Dia menepuk tangan Taehyung lembut lalu berkendara sedikit lebih cepat karena tidak sabar untuk tiba di pondokan.

Jeongguk melewati jalan lebar yang diapit tebing dengan pemandangan lepas ke arah kota yang terlihat kecil. Jurang besar yang menandai dekatnya perjalanan mereka ke pondokan.

“Sebentar lagi kita tiba,” katanya pada Taehyung yang masih tidak mau mengangkat kepalanya—dia masih gemetaran karena petir hebat tadi dan Jeongguk yakin di suatu tempat pasti ada tanah longsor akibat petir itu.

Jeongguk berkendara perlahan, fokus pada jalanan saat dia membelok ke kiri di tengah hujan yang mulai membuat tangannya mati rasa karena dihajar derasnya hujan yang sebesar bola kelereng. Dia melewati jalan kecil yang diapit oleh sawah yang membentang dan pepohonan rimbun, satu setengah kilometer dari pondokan saat sesuatu melewati depan motor mereka.

Jeongguk terkesirap, menyerukan nama Tuhan dengan keras seraya mengerem motornya, takut melindas sesuatu itu dengan panik; nyaris membuat mereka berdua terpental dari motor. Taehyung ikut terkesirap karena Jeongguk mengerem dengan begitu mendadak.

Mereka berhenti di sana, di tengah jalan yang diapit persawahan yang luas, tanpa penerangan kecuali lampu motor Dahyun dan Jeongguk yang terengah-engah kaget—menatap ke jalan di hadapannya. Menunduk ke jalan yang disinari lampu, mencari tahu apa yang baru saja lewat di hadapan mereka.

“Jeongguk?” Panggil Taehyung, dia menelan ludah. “Kau oke?” Tanyanya.

Hujan semakin deras dan Jeongguk belum juga berhasil menenangkan dirinya setelah kejadian barusan. Dia tidak yakin pada apa yang dilihatnya namun dia juga tidak mau menyebutkannya karena otaknya yakin dia memiliki jawaban atas itu.

Namun dia urung mengatakannya, dia tidak mau memberi tahu Taehyung. Maka dia menelan ludah, mengucapkan doa di dalam hatinya—menenangkan jantungnya yang bertalu-talu dan mencoba menghalau otaknya yang terus-terusan meneriakinya nama sesuatu yang mungkin dilihatnya.

Dia kemudian kembali berkendara, kali ini jauh lebih perlahan. “Tidak apa-apa,” katanya gemetar—ingin meringkuk dan menangis karena otaknya tidak juga berhenti menyerukan nama itu di kepalanya. “Hanya perasaanku saja, maaf.” Tambahnya.

Mereka berdua bungkam saat akhirnya mereka tiba di jalan menuju pondokan. Menatap tanda jingga norak itu tidak pernah terasa membahagiakan seperti saat ini. Jeongguk mengemudi turun perlahan, mengklakson pondokan yang langsung terbuka. Dahyun berseru keras saat mereka akhirnya memarkir motor mereka di halaman.

“MEREKA DATANG!” Serunya mengalahkan suara hujan dan semua anggota kelompok bergegas membantu mereka.

Keduanya tiba dalam keadaan terguncang—satu karena petir dan satu lagi karena sesuatu yang sama sekali tidak ingin disebutkannya. Jeongguk membiarkan Yugyeom dan Yoongi mengambil barang bawaan mereka, menyelamatkan makanan mereka dari air hujan yang semakin deras.

Jeongguk berdiri di sana, di teras saat teman-temannya membawa semua barangnya masuk dan Taehyung membuka jas hujannya. Dia menerawang jauh ke atas jalan besar yang tadi dilewatinya, masih memikirkan kejadian tadi.

Hanya sepersekian detik tapi dia sekarang mulai yakin apa yang dilihatnya. Dia menelan ludah dan bergegas memalingkan wajah, membuka jas hujannya dengan terburu-buru dan melemparkannya begitu saja ke kursi depan—buru-buru masuk dan menutup pintu saat dia yakin seseorang balas menatapnya dari atas sana.

Jeongguk tidak mau memikirkannya.


Taehyung menerima gelasnya yang terisi wedang uwuh panas sementara di sisinya teman-teman mereka mulai makan, membongkar titipan mereka yang syukurnya tidak basah sama sekali karena terlindung di bawah kaki Jeongguk.

Jeongguk duduk di sisinya, sudah mandi dan mencuci rambutnya lalu menerima juga segelas wedang uwuh panas sementara teman-temannya menikmati ayam dan minuman mereka yang langsung dibongkar dan diberikan es batu buatan mereka sendiri.

Taehyung menoleh ke Jeongguk yang diam. “Kau oke?” Tanyanya dengan alis berkerut. “Kau tidak mau makan?”

Jeongguk mengerjap, seolah baru saja ditampar sadar dari mimpi. Dia menoleh ke Taehyung, menjilat bibir bawahnya dan menghela napas dalam-dalam. “Ya, ini aku akan makan.” Katanya kemudian, meraih makanannya dan kembali menerawang.

Taehyung mengerutkan alis, menyadari sesuatu yang salah pada Jeongguk saat Momo bersuara. “Jangan dipikirkan.” Katanya tegas.

Semua menoleh pada Momo yang menatap Jeongguk, lurus nyaris marah.

“Apa?” Tanya Jeongguk, mengerjap—linglung.

“Jangan dipikirkan. Jangan memikirkannya. Jangan memikirkannya.” Kata Momo, matanya bergerak sejenak sebelum mengerjap dan kembali menatap Jeongguk.

Taehyung merinding. Teringat saat Jeongguk mengerem motornya mendadak dan menoleh ke arahnya. Jeongguk menggertakkan rahangnya dan Momo bangkit, dia melangkah ke kamar dan memberi Jeongguk rosarionya yang selalu dibawanya tidur—warnanya hijau dan dibungkus dalam kantung rajutan kecil.

“Berdoalah.” Katanya kemudian, meletakkan benda itu di pangkuan Jeongguk. “Siapa tahu membuatmu baikan.”

Taehyung tidak mau bertanya siapa dia yang dimaksud Momo. Jeongguk kemudian bangkit, meraih rosario itu lalu melangkah ke kamar. Setahu Taehyung, Jeongguk selalu membawa rosario di tasnya. Mungkin dia akan menggunakan rosarionya sendiri di kamar.

Semua orang diam setelah Momo memberikan rosarionya kepada Jeongguk. Mereka makan di tengah guyuran suara hujan yang menggila dan juga gemuruh petir di kejauhan. Sesekali kilat membuat ruangan terang sebelum kembali gelap. Jeongguk di kamar begitu lama hingga anak-anak membereskan makan malam, menyisihkan makanannya yang belum tersentuh.

Setelah dia keluar, dia nampak lebih tenang dan Taehyung menyadari rosarionya terkalung di lehernya dan dia mengembalikan milik Momo. “Trims,” katanya sebelum mulai makan.

Taehyung melirik Yugyeom yang balas menatapnya—takut. Dia kemudian mendekati Jeongguk yang makan dengan tenang—nampak seperti dirinya sendiri. Taehyung menyentuh bahunya dan Jeongguk menoleh.

“Kau oke?” Tanyanya lembut.

Jeongguk mengangguk, “Maaf.” Katanya mendesah, “Aku benar-benar tidak ingin menceritakannya.” Dia tersenyum lalu mulai makan kembali.

Setelahnya, dia nampak kembali normal. Menonton televisi dan menikmati minumannya seraya bermain UNO Stacko dengan semuanya. Taehyung berbaring di atas kasur mereka, mengenakan kantung tidur yang dilapisi selimut Jeongguk yang beraroma pekat parfum binatu langganannya—membaca buku.

“Semoga besok semuanya baik-baik saja,” bisik Taehyung saat mereka berbaring bersisian untuk tidur.

Jeongguk meraih tangannya, menggenggamnya erat. “Amin.” Katanya sebelum tersenyum. “Maaf, karena aku kita jadi kemalaman kembali ke pondokan dan terjebak hujan.”

Taehyung tersenyum lebar, “Bukan salahmu.” Dia menepuk tangan Jeongguk lembut. “Kita saja yang sial. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”

Jeongguk akhirnya tenang, dia terlelap lebih dulu dari Taehyung yang masih memandanginya; menelusuri garis wajahnya dengan pandangannya. Menyadari bekas luka di tulang pipinya dan bekas tindikan di telinganya. Dia mengulurkan tangan, menyeka rambutnya yang membentuk tirai di keningnya sebelum akhirnya memejamkan mata—ikut terlelap.

Di luar, hujan badai tidak juga berhenti.


Note.

Di sini, aku tukar pemerannya yaa!

Yang bawa motor pas aku kehujanan ini Tae harusnya. Dan kami kemaleman naik ke pondokan karena aku kelamaan di Starbucks nerjemahin rangkuman tesis S2 temenku yang mau dipake besoknya jadi kami naik sekitar maghrib dan nyampe di pondokan jam 9 malem.

Aku yang trauma sama kilat sama petir, trauma setrauma-traumanya kalo ujan deres banget aku biasanya gak bisa tidur karena takut petir dan kilat. Terus yg bagian “ngeliat ke atas kayak ada yg bales natap” itu aku, bukan Tae. Terus ngerem mendadak itu juga gak tau apa, si Tae gak mau bilang sampe sekarang :'DD Jadi mengira-ngira saja. Terus adegan Momo ngasih rosario itu harusnya di kamar pas kita beres2 mau tidur, minta Tae berdoa.

Aku ubah biar bumbu fiksi dikit gitu biar agak sedep hehehe :( Jadi KKN ini bener2 mixed dengan IRL-nya, susah kalo mau dijabarin hahahahah Aku tukar karena tadi pagi yang bawa motornya Tae, jadi biar balance aja.

Thankies! ire, x

cw // sexual flirt .


“Terima kasih banyak, Kak, bantuannya!”

Jeongguk yang sekarang tidak lagi menganggap Namjoon sebagai saingannya menyalami pemuda itu hangat atas bantuan mereka selama program kerja kemarin. Mereka kembali ke Yogyakarta pagi-pagi sekali karena Seokjin harus siap di klinik pukul sembilan pagi. Mereka membereskan barang-barang mereka sesigap mungkin dan langsung berangkat tanpa mandi atau sarapan.

“Kembali kasih,” Namjoon tersenyum. “Besok saat program kerja utama kalian, fermentasi paka ternak, aku akan datang lagi dengan Seokjin, kurasa.” Dia mengerling Seokjin yang berdeham keras, merapikan kemejanya yang sudah rapi.

“Ada beberapa hewan yang harus aku cek lebih lanjut, jadi aku akan ikut. Beberapa warga sudah menghubungiku, ingin mengobati ternak mereka yang sakit. Jadi, yah,” dia berdeham. “Aku ikut.”

“Oke, Kak. Kami tunggu.” Taehyung tersenyum lebar, melirik Yoongi yang duduk di dalam sedang bermain gitar—nampak sama sekali tidak tersentuh oleh kegiatan pamit teman-teman Taehyung.

Namjoon melirik Seokjin, jelas menggoda dengan senyuman lebar di bibirnya. “Pak Dokter, ada yang ingin disampaikan sebelum pulang?”

Seokjin sekali lagi berdeham dan Jeongguk tidak tahan lagi, “Kau ingin kuambilkan segelas air? Sepertinya tenggorokanmu sakit.” Tanyanya menggoda dan beberapa orang terkekeh.

Seokjin terlihat kikuk, dia menggaruk pelipisnya sebelum berdeham lagi hingga Jeongguk geram ingin sekali menyarangkan pukulan ke kepalanya karena dia begitu lambat. Dia punya semalaman kemarin untuk mendekati Yoongi tapi dia malah mengamati pemuda itu begitu saja seperti pungguk merindukan bulan. Jeongguk bukan dokter, tapi setidaknya dia tahu caranya mendekati seseorang.

Jika dia bodoh seperti Seokjin, dia tidak akan mengenggam Taehyung sekarang.

“Yoongi, mereka mau pulang.” Jeongguk menoleh ke dalam, ke arah Yoongi yang sekarang mendesah lalu akhirnya berdiri—meletakkan gitarnya di dinding dan menghampiri mereka yang sekarang berdiri di depan pintu seperti rombongan sirkus.

“Ya, hati-hati di jalan. Terima kasih bantuannya.” Katanya, melirik Seokjin yang menatapnya seperti orang buta yang baru melihat matahari lalu memalingkan wajah dan Jeongguk mencibir karena tingkah mereka.

Anak TK bisa bersikap lebih baik saat mendekati seseorang, Jeongguk yakin.

Semuanya diam—menunggu.

Seokjin menoleh pada adik tingkatnya, “Kenapa? Ayo?” Dia sudah nyaris kehabisan pesona dokter mudanya yang sejak tadi berusaha digunakannya. Berhadapan dengan Yoongi membuatnya kikuk dan menggemaskan—seperti seekor anak anjing lucu yang ingin diperhatikan.

Namjoon berdeham, “Tidak ada yang... ingin diminta atau apa, mungkin? Dok?”

Seokjin merona, seperti kepiting rebus. Entah ke mana perginya dokter muda cemerlang yang semalam mengevaluasi kinerja adik-adiknya dalam memberikan vaksin. Mengevaluasi manajemen waktu mereka dalam mengerjakan tugas dan berharap kedepannya mereka bisa lebih efisien dalam bekerja. Dia nampak bersinar saat bicara di depan adik-adiknya, menjelaskan banyak hal dan mendiskusikan kasus-kasus baru yang mereka terima dari masyarakat.

Dia kemudian meraih ponselnya, mengulurkannya ke Yoongi yang mengerjap kaget. Jeongguk menyadari telinga Yoongi yang memerah; satu-satunya penanda saat dia gugup atau malu.

“Boleh minta nomor ponselmu?” Tanyanya kemudian, ujung kalimatnya gemetar.

Jeongguk terserang serangkaian batuk panjang yang terdengar seperti tawa, dia menyamarkan tawanya menjadi batuk keras dan memalingkan wajah sementara semua orang mulai menggoda mereka; bersorak-sorak seperti anak SMA yang temannya baru mulai pendekatan.

Yoongi menatap ponsel itu sementara teman-temannya semakin berisik.

“Sudahlah, beri saja nomormu!” Jeongguk menyikutnya, hingga Yoongi terhuyung nyaris terjerembab.

“Ayo, beri saja!” Yugyeom ikut menyoraki di belakangnya, mengipasi api dan menuangkan bensin ke atasnya dengan ceria. “Kau tidak harus membayar apa pun kok memberikannya nomormu! Bersedekah itu baik, Mas Yoon!”

Yoongi berdecak, terdengar jengkel walaupun telinganya memerah hingga ke lehernya. Semua anggota kelompok mereka dan juga kedua adik tingkat Seokjin sedang tertawa, menikmati tontonan gratis di hadapan mereka saat ini.

Dia meraih ponsel Seokjin, mengetikkan nomornya lalu mengembalikannya ke Seokjin yang menerima kembali ponselnya seolah sedang menerima sebuah anugerah yang akan mengubah hidupnya. Dia mengamati serangkaian nomor di layar ponselnya sebelum menatap Yoongi yang menolak menatapnya.

“Disimpan,” kata Jeongguk berusaha serius walaupun bibir bawahnya bergetar menahan tawa, “Jika tidak sengaja terhapus bisa gawat.”

Seokjin bergegas menyimpan nomor itu dan adik-adik tingkatnya tertawa karena gerakannya yang nyaris panik ketika melakukannya. Dia kemudian menekan tombol panggil dan menunggu.

Yoongi mendesah dan menatapnya, masih tengan telinga memerah. “Tidak ada sinyal.” Katanya nyaris merajuk.

Jeongguk nyaris melolong karena mendengar jawaban Yoongi yang sangat berlawanan dari sifatnya sehari-hari. Taehyung mencubit pahanya agar tidak tertawa dan Jeongguk balas mencubitnya—mereka saling mencubit, menahan tawa. Jeongguk menggeleng, seolah mengatakan 'aku tidak bisa lagi!' dan Taehyung balas menggeleng dengan bibir gemetar menahan tawa.

“Oh, iya. Maaf.” Kata Seokjin kikuk lalu menyelipkan ponselnya ke saku. “Sampai ketemu lagi, Yoongi.” Pamitnya, “Jaga kesehatan.”

Dan baris itulah yang menjadi obrolan panas di pondokan selama sisa hari itu.

Jeongguk tidak henti tertawa geli, “Aku tidak tahu ternyata selevel dokter pun sepayah itu saat mendekati seseorang!”

“Kau memang terlalu banyak bicara,” kata Yoongi, menunduk ke gitarnya—berusaha mengabaikan teman-temannya yang terus menggoda tentang Seokjin. “Let it slide already! What's wrong with you?” Dia menggertak teman-temannya yang tidak berhenti menggodanya.

“Huuu, takuuuut!” Goda Yugyeom dan bertukar high-five dengan Jeongguk yang masih tertawa, nyaris terjungkal dari kursinya karena teringat bagaimana keduanya nampak sangat kikuk ketika digoda.

”'Jaga kesehatan, Yoongi.'” Taehyung meniru nada Seokjin seraya merokok di pintu samping pondokan. “'Sampai ketemu lagi, ya?'” Dia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya melalui hidungnya.

“Tidak, tidak.” Yugyeom menggeleng. “Bukan begitu, terbalik.” Dia kemudian berdeham, meniru mimik wajah Seokjin yang merona dan kikuk lalu mengatakan dengan suara Seokjin paling mirip yang bisa dilakukannya, “'Sampai ketemu lagi, Yoongi. Jaga kesehatan.'”

“Begitu!” Yugyeom menjentikkan jarinya dan semua tertawa.

Yoongi mengambil sandalnya yang ada di pinggir tikar ruang tengah lalu melemparnya ke Yugyeom yang terlambat menghindarinya. Sandal itu mendarat di kepalanya dan dia mengaduh keras. Kesal, dia menyambar sandal itu lalu melemparnya ke luar. Sandal malang itu mendarat di tanah dengan suara keras, jauh dari jangakuan Yoongi.

“Kurang ajar!” Seru Yoongi, merangkak di atas tikar menatap sandalnya yang sekarang berada di bawah jemuran yang penuh oleh pakaian dalam mereka. “Sandalku!”

Yugyeom menjulurkan lidahnya, “Ambil sendiri!”

Mereka sedang bertengkar saat Bapak pulang dari sawah, dengan sepatu karet dan cangkul di bahunya lalu berhenti di pintu—tertawa serak melihat mereka semua saling meneriaki sebelum berdeham.

“Mas, Mbak,” katanya dan semuanya berhenti bertingkah, menoleh untuk mendengarkan Bapak. “Besok malam bantu acara 40 harian, ya? Dekat kok cuma di sana.” Dia menunjuk arah Utara. “Pakai pakaian yang rapi, ya?” Lalu beliau berlalu—memang tidak pernah bergabung dengan anak-anak KKN selain untuk memberi tahu mereka ada hal yang bisa mereka bantu di sekitar sana.

Jeongguk langsung mengerang keras, teringat pakaiannya yang semua baru dibawa turun ke binatu dekat pasar dua hari lalu. “Celana jinsku masih di binatu! Dan yang satu lagi basah!” Keluhnya, menatap celana jinsnya yang kemarin langsung dicucinya karena ternoda lumpur setelah proker. “Ada yang membawa celana lebih?”

“Aku hanya bawa satu,” Yoongi langsung menjawab dari luar, melompat di atas satu kakinya yang beralas sandal untuk meraih sandalnya. “Hanya yang kugunakan. Dan satunya juga di binatu.”

Taehyung mendesah, “Kenapa kau hanya bawa dua, sih?” Tanyanya setengah jengkel. “Lagi pula jika ada yang membawa lebih, tidak ada yang punya ukuran persis seperti ukuranmu.” Dia menepuk tato Jeongguk di paha dengan keras.

“Ya, aku mana tahu jika celanaku akan kotor dan kebetulan di binatu semua, 'kan?” Balasnya mendelik pada Taehyung yang menghabiskan rokoknya lalu mematikan puntungnya sebelum membuangnya. “Aku izin turun, ya? Aku akan mengambil celana lagi.”

“Turun menginap atau turun setengah hari?” Tanya Yugyeom kemudian, bangkit meraih formulir turun dari pondokan yang harus diisi dan ditandatangani oleh Bapak.

“Setengah saja,” kata Jeongguk menerima formulir itu. “Aku akan mengambil celana lalu kembali lagi sorenya. Tapi aku tidak ikut les di Masjid, ya? Kalian ingin kubelikan sesuatu?”

“Ayam geprek!” Seru Dahyun dari kamar, suaranya keras sekali hingga semua terlonjak kaget. “Gguk, aku mau ayam geprek!” Dia kemudian bangkit dengan suara gedebak-gedebuk lalu muncul di pintu. “Ayam geprek!”

“Jika kau menyebutkan ayam geprek sekali lagi, aku akan memberimu hadiah payung cantik.” Kata Jeongguk, menunduk mengisi formulir dengan pulpen.

Dahyun nyengir, “Ayam geprek!”

Matio!”

Taehyung duduk di sisinya, mengamati dia mengisi formulir lalu berdeham. “Aku ikut.” Katanya kemudian, penuh tekad.

Jeongguk berhenti menulis lalu menoleh, menatap Taehyung yang sekarang merona tipis. “Kau mau mengambil sesuatu juga?” Tanyanya kemudian kembali menunduk ke formulir yang diisinya.

“Selimut.” Kata Taehyung kemudian setelah sejenak berpikir. “Sekarang aku menggunakan selimutmu, 'kan? Kau tidur tanpa selimut.”

Jeongguk mengedikkan bahu, “Tenang saja. Aku akan mengambil satu selimut hari ini di kosan dan kau bisa gunakan selimutku.” Dia menyelesaikan formulirnya lalu menandatanganinya.

Taehyung meraih buku formulir dan meminjam pulpen Jeongguk. “Aku ikut.” Katanya, kali ini tegas dan Jeongguk mengerutkan alis.

“Oke, oke. Tenang. Tidak perlu menyalak,” katanya pada Taehyung yang menatapnya. “Apa masalahmu?” Tanyanya lagi, alisnya berkerut saat menoleh menatap Taehyung yang balas mentapnya.

Mata mereka bertemu; semenit, dua menit....

Pemahaman melintasi kepala Jeongguk seperti komet yang terang benderang.

Oh.

Sekarang, Jeongguk yang berdeham. “Oke, aku dan Taehyung turun hari ini. Kalian yang ingin ayam geprek, tulis saja ingin cabai berapa dan makanan apa lagi yang harus kami beli.” Dia bangkit.

“Aku pinjam motormu, ya, Dahyun? Karena kalian nampaknya akan memesan banyak makanan, sebaiknya aku membawa motor yang praktis.”

“Pakai saja,” Dahyun sekarang sibuk menulis pesanan ayam gepreknya dengan Momo dan Tzuyu. “Kami mau banyak tidak apa-apa, ya?” Tanyanya kemudian pada Jeongguk yang mengganti celana boksernya denga training lusuh.

Jeongguk menutup pintu kamar untuk mengganti celananya. “Tidak apa-apa, asal kalian memberiku uang.” Sahutnya meraih celana yang teronggok di kakinya lalu menggantungnya di balik pintu.

Dia terpaksa turun ke Yogyakarta dengan celana tidur itu karena dia tidak punya celana lain yang cocok digunakan untuk perjalanan jauh. Dia keluar kamar saat Taehyung berdiri dengan surat meninggalkan pondokannya untuk ditandatangani Bapak. Jeongguk meraihnya, membiarkan Taehyung bersiap saat dia mencari Bapak ke belakang.

“Pak, saya dan Taehyung akan turun untuk mengambil celana panjang. Celana saya basah dan di binatu.” Katanya dan Bapak meraih surat mereka serta pulpen yang disodorkan ke arahnya.

“Jangan kemalaman, ya, kembalinya. Nanti hujan.” Kata Bapak dengan rokok kretek di bibirnya, aromanya manis dan pekat. Dia menyerahkan surat Jeongguk lalu menandatangani surat Taehyung.

Jeongguk mengangguk. “Siap, Pak. Terima kasih.” Lalu dia bergegas meraih jaketnya dan Taehyung sudah siap di depan, di teras dengan pakaian siap berkendara.

“Kalian sudah menulis semua yang kalian inginkan dari kota?” Tanya Jeongguk meraih helmnya dan mengenakannya. Teman-temannya yang duduk di ruang tengah mengangguk—hari ini PAUD libur, maka mereka juga libur. Hanya memiliki jadwal untuk les di Masjid sore nanti yang tidak dihadiri Taehyung dan Jeongguk.

“Sudah, semuanya di Taehyung.” Dahyun tersenyum lebar; senang akan mendapatkan ayam geprek sebagai menu makan malam hari ini.

“Hati-hati di jalan!” Yugyeom melambai saat keduanya bersiap-siap di motor Dahyun. “Jangan kemalaman, nanti hujan.”

Jeongguk memberikan jempolnya pada Yugyeom sebelum kemudian melangkah ke tanjakan, menunggu Taehyung di sisi jalan besar. Taehyung mengendarai motor Dahyun naik setelah mengklakson teman-temannya tanda pamit lalu berhenti di sisi Jeongguk.

Jeongguk menyerigai, paham apa yang akan mereka lakukan begitu mereka tidak di pondokan. Dan dia tidak sabar.

“Kosmu atau kosku?” Tanyanya dan dia bisa merasakan tubuhnya berdenyar—dia akan mendapatkan ciumannya hari ini, dia yakin sekali. Dan mungkin lebih dari ciuman jika menilik betapa bertekadnya Taehyung tadi saat mengatakan dia akan ikut turun ke Yogyakarta.

“Kosmu.” Sahut Taehyung kering, dia menelan ludah dengan sulit. Jeongguk tahu, tidak hanya dia yang selama ini menahan diri karena tidak ingin membuat suasana pondokan tidak kondusif. “Lebih dekat.”

Jeongguk tersenyum lebar, menaiki jok belakang dan menepuk paha Taehyung dari belakang. “Kau memang cerdas, aku sama sekali tidak memikirkan itu.”

“Karena kau bodoh!” Sahut Taehyung saat akhirnya mereka meluncur ke jalan, menuju Klaten.

“Baiklah, apakah jika aku bodoh aku tidak berhak mendapatkan blowjob?” Tanyanya ceria, mendekatkan wajahnya ke bahu Taehyung yang mengemudi dengan wajah meringis.

“Kau akan mendapatkan blowjob tidak peduli apakah kau pintar atau bodoh, oke?” Sahutnya dan mendesah keras saat Jeongguk mengusap pahanya dari belakang. “Diam, Bangsat.” Katanya.

“Kita punya seharian untuk bersama tanpa memikirkan teman-teman kita,” Jeongguk menjawab, merasa perutnya seolah terisi ratusan kembang api yang meletup-letup. Seperti berondong jagung yang dipanaskan. Jeongguk menyelipkan tangannya ke balik jaket Taehyung dan mengusap perutnya yang langsung mengejang.

“Bangsat,” ludah Taehyung menggigil. “Seharusnya kau saja yang mengendarai motornya tadi.”

“Tidak mau,” dendang Jeongguk senang; tangannya bergerak di atas perut Taehyung—melingkar, mengusap lembut, menggunakan telunjuknya untuk memutar di dalam pusar Taehyung hingga lelaki itu menggertakkan giginya.

“Setidaknya jangan di jalan,” keluh Taehyung saat mereka berbelok ke arah Klaten, sebentar lagi menuruni tanjakan Clongop yang melegenda. “Aku tidak mau mati, oke?”

Jeongguk mendesah, “Baiklah.” Dia menarik tangannya dan menegakkan duduknya. “Aku akan membalaskan dendamku nanti di kamarku.”

Taehyung mengerang, “Oh, aku sangat berharap kau akan membalaskan semua dendammu. Aku akan memohonmu untuk melakukannya.” Dia tertawa tinggi, nyaris histeris.

Mereka meluncur menuruni Clongop yang asri—semua daun berwarna hijau cerah karena hujan yang terus mengguyur Gunung Kidul selama ini. Hawa sejuk menerpa wajah mereka karena turun lumayan pagi. Jalanan tidak terlalu ramai saat mereka akhirnya tiba di wilayah Wedi, Klaten. Pasar sedang menggeliat untuk tutup ketika mereka lewat untuk belok kiri.

“Siapa yang di atas?” Tanya Jeongguk kemudian, iseng saat mereka mendekati jalan utama—jalan Yogyakarta-Solo.

“Kau.” Tandas Taehyung seketika itu juga, bahkan tidak berpikir.

“Hah, tidak mau.” Sahut Jeongguk, setengah berdendang menyebalkan. “Aku lelah. Kau saja.”

“Yakin tidak mau jadi yang di atas untuk pertama kalinya?” Tanya Taehyung kemudian. “Kau punya kondom, tidak?” Tanyanya.

“Kurasa ada,” Jeongguk mengingat-ingat laci kamarnya—sepertinya dia punya cadangan kondom di suatu tempat di sana namun tidak yakin karena sudah lama sekali sejak Jeongguk aktif secara seksual. “Tidak perlu cemas, di ujung gang kosanku ada mini market, kita selalu bisa membelinya.”

“Oke.” Sahut Taehyung, memasang sein dan berhenti di depan rel kereta api yang berbunyi keras—tanda kereta akan tiba. “Jadi siapa yang di atas?” Tanyanya lagi, mendesak dan Jeongguk terkekeh.

“Baiklah, kita lakukan yang adil. Kita suit.”

“Oke.” Taehyung tertawa dan Jeongguk senang mendengar tawa kering yang gemetar itu—menunjukkan betapa banyak yang mereka tahan selama ini di pondokan. “Kita suit.”

“Siapa yang kalah, dia yang di bawah.”

“Apa-apaan?!” Taehyung menoleh saat kereta lewat dengan suara gemuruh memekakkan telinga. “Siapa yang menang di bawah, dong! Kita memperebutkan posisi bawah!”

“Aku yang membuat peraturannya.” Jeongguk mendengus congkak lalu kemudian diam sejenak dan memutuskan, “Baiklah, yang kalah di bawah. Tapi yang menang boleh di bawah saat 69, bagaimana?”

Taehyung memicingkan matanya, memikirkan kesepakatan itu dengan baik lalu mengangguk. “Oke, sepakat. Aku akan membuat diriku kalah.” Katanya kemudian, bergegas mengendarai motornya lagi melewati rel yang ramai setelah palangnya diangkat.

“Sayang sekali, padahal aku ingin mendengarmu menggunakan suara beratmu yang mendominasi itu,” Jeongguk mendesah, membayangkan suara berat Taehyung di kulitnya—memuji betapa indahnya dia, memuji betapa menyenangkannya bercinta dengannya.

“Memangnya aku tidak ingin mendengar suaramu?” Tanya Taehyung kemudian, jengkel dan Jeongguk terkekeh. “Bagaimana jika yang kalah suit akan di bawah untuk ronde pertama dan di atas untuk ronde kedua? Adil, 'kan?”

Jeongguk tertawa semakin keras, “Baiklah!” Katanya, akhirnya menyerah karena jika mereka terus berdebat tentang posisi, mereka tidak akan jadi bercinta. “Kau memang berkemauan keras, 'kan?”

Taehyung mendengus, mendapatkan apa yang diinginkannya. “Hanya tentangmu.” Sahutnya lugas.