Kuliah, Kerja, Nyantai / 83
“JEONGGUK AWAS!”
Jeongguk langsung membuka matanya mendengar teriakan itu, kaget melompat duduk di kasurnya hanya untuk mendapati sesuatu menubruknya hingga dia berteriak kaget dan jatuh kembali ke kasur dengan dada nyeri bukan main.
“Bajingan!” Serunya keras lalu bergegas meminta maaf pada penghuni pondokan karena telah berkata kasar seraya mengusap dadanya yang nyeri. Dia mengerang keras karena rasa sakit luar biasa yang menyeruak di dadanya; dia menghela napas, berusaha meredakan sakitnya.
Dia masih mengantuk, kepalanya sakit karena dia terbangun karena kaget seperti baru saja mimpi terlempar jatuh, langsung duduk sehingga kepalanya tidak sempat menyesuaikan diri. Dia mengerang; semua badannya sakit sekarang dan dia benci sekali. Dia mendongak, marah pada Yugyeom yang berdiri di pintu samping dengan handuk di tangannya, ekspresinya merupakan kombinasi aneh antara geli dan ngeri.
Jeongguk menggeram, “Apa, sih, masa—?!”
Dia belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat Dahyun berteriak dari sisinya dan sekali lagi sesuatu menabraknya hingga Jeongguk mengumpat keras. Dia menoleh marah, membuka mulut untuk mengamuk dan menutup mulutnya kembali saat mendapati anak kambing Bapak balas menatapnya.
APA-APAAN INI?!
“Bapak, anak kambingnya masuk rumah!” Seru Dahyun, panik namun juga geli karena anak kambing itu menandak-nandak seperti seekor kelinci dan Jeongguk mengerang.
“Kau bandit kecil!” Serunya, mengulurkan tangan hendak menangkap kambing itu, Pulgoso namun ternyata si kambing jauh lebih gesit dari Jeongguk yang terhuyung saat tangannya menangkap udara kosong.
Dia melompat menjauhi Jeongguk, mengembik sombong lalu melompat-lompat ceria di dalam ruangan—nyaris seperti menari saat menghindari semua orang yang berusaha menangkapnya. Lalu untuk memperkeruh suasana, terdengar suara gemuruh dari luar sebelum suara gedubrak keras.
“Kak Gguk! Motormu!” Seru Tzuyu dari luar lalu terbahak-bahak keras sekali dan Jeongguk semakin gusar mendengarnya; apakah hanya dia yang tidak diajak untuk memproses humornya pelan-pelan?
Kepala Jeongguk berdenyut-denyut. Taehyung di sisinya tadi membuka mata saat Pulgoso menabraknya pertama kali dan sekarang sedang berguling di kasur, tertawa terbahak-bahak, tersengal seperti seekor kuda laut yang berteriak.
Jeongguk mengerang. “Aku baru bangun, oke?!” Serunya dan bangkit dari kasurnya sementara Taehyung di sisinya sedang tertawa tanpa suara—air mata luruh dari sudut matanya saat dia berusaha menguasai dirinya yang terguncang tawa.
“Kenapa lagi motorku?!” Balas Jeongguk, menyapu kantung tidurnya menjauh.
“Jatuh, Kak! Diseruduk anak sapi Bapaak!”
Taehyung melolong, tertawa begitu keras saat Jeongguk mengumpat dan bergegas bangun dari kasur. Mengenakan sendalnya, masih bertelanjang dada dengan celana training lusuhnya berderap keluar dan mendapati motornya sudah berada di tanah.
Yugyeom yang menyusulnya, terbahak-bahak di sisinya. Anak sapi Bapak yang bertingkah seperti anak anjing sekarang sedang melompat, siap berlari menabrak motor Jeongguk lagi. Menatap Jeongguk sebal, seolah Jeongguk yang bertanggung jawab hingga dia dilahirkan menjadi seekor sapi alih-alih anak anjing seperti yang diinginkannya.
“Jangan! Hei! Nanti kau terluka!” Seru Jeongguk, menghampiri motornya yang terbaring menyedihkan setelah diseruduk sapi. “Bapak, sapinya kenapa?!” Teriaknya, berharap Bapak datang menyelamatkan mereka semua dari serangan binatang ternak.
Sapi itu seolah paham sedang dibicarakan, bergegas berlari dari ujung dengan suara derapnya yang mengancam. Jeongguk bergegas mendirikan motornya, sebelum melompat ke atas motor; menjauhi si anak sapi hiperaktif yang mengerem di ujung jalan—seperti sedang melakukan drift nyaris terpeleset mematahkan lehernya sendiri. Namun dia melompat, mendengus keras nampak senang.
“Ya, kau senang, aku tidak!” Balas Jeongguk, mendelik padanya lalu Pulgoso mengembik dari dalam rumah; berlari keluar dan menabrak Yugyeom yang sedang tertawa hingga dia terhuyung, nyaris terjerembab menabrak kursi depan.
“HEH!” Seru Yugyeom, tidak terima dan mengaduh karena lututnya terantuk sudut kursi, membuat rasa sakit menggerayam di atas tulang tempurungnya.
Kemudian dua binatang ternak aneh itu saling melompat dan berkejar-kejaran seperti dua ekor anak anjing. Tidak peduli sama sekali apakah si Sapi cukup kuat untuk merubuhkan motor Jeongguk yang tidak bersalah. Maka Jeongguk menaikkan motornya ke bawah atap, menghindari serudukan sapi susulan sebelum dia mengerang dan kembali ke dalam.
Kepalanya sakit sekali dan Taehyung sedang terbahak-bahak di atas kasurnya; masih mengantuk, ada garis di pipinya dan matanya nampak sayu namun wajahnya merah padam karena tawa.
“Apa, sih, yang terjadi pada semua ternak itu?” Tanya Jeongguk, menyugar rambutnya. Menyisirnya dengan jari lalu menggunakan karet di pergelangan tangannya untuk menguncir rambutnya. “Mereka mabuk, ya?”
Yugyeom tertawa, namun mengusap lututnya yang terantuk kursi karena ditabrak anak kambing. “Tidak tahu. Tapi sepertinya karena mereka akhirnya dilepaskan dari ikatan mereka jadi mereka berlarian dengan gembira.” Yugyeom merentangkan tangannya, menunjukkan betapa bahagianya dia.
Jeongguk duduk di kasurnya, mengerang karena pusing. “Mereka lupa, ya, jika mereka itu anak sapi dan kambing? Bukan anak anjing?”
Taehyung terkekeh, bangkit dari kasur dan menghela napas keras-keras; menenangkan diri dari serangan tawa histerisnya tadi.
“Puas?” Gerutu Jeongguk dan Taehyung kembali tertawa. “Motorku lecet syukur sapinya tidak kenapa-kenapa.”
Taehyung mengusap air mata di sudut matanya, “Menggemaskan sekali, kau mengkhawatirkan si anak sapi,” katanya dan mereka menoleh dan melihat si anak sapi sedang berlarian di halaman depan dengan heboh, berkejaran dengan Pulgoso.
Taehyung kemudian membereskan tempat tidurnya dan Jeongguk mau tidak mau juga bangkit lalu membereskan tempat tidur mereka. Taehyung langsung meraih handuk dan mandi sementara Jeongguk mengenakan pakaiannya sebelum beranjak ke kursi depan, merokok bersama Diwud yang menyaksikan anak ternak Bapak berlarian ceria.
“Mereka aneh, tidak?” Tanya Jeongguk, menghisap rokoknya sementara Diwud meletakkan dagunya di pangkuan Jeongguk, menguap manja. “Harusnya itu kau yang berlarian. Tunjukkan, dong, semangat anjingmu, Anjing!”
Diwud menatapnya, lalu melengos dan memejamkan mata. Jeongguk mengusap kepalanya, merokok khidmat sampai akhirnya Ibu datang dengan sabit dan juga karung.
“Ibu, mau ke mana?” Tanya Taehyung dengan handuk di bahunya.
Jeongguk menoleh, kaget menemukan Taehyung di sisinya. “Bukannya kau mau mandi?” Tanyanya saat Ibu berhenti di depan mereka.
“Yoongi sedang buang air besar, lama.” Gerutu Taehyung dan menatap Ibu yang mengikat sabitnya di pinggang—posisi yang mengerikan jika seseorang bertanya pada Jeongguk karena ujung tajamnya mengarah ke luar.
“Mau ke sawah,” sahut Ibu kemudian melangkah menuruni jalan berbatu menuju ke rumah di bawah pondokan KKN.
“Ibu, tunggu! Saya ikut!” Seru Taehyung, bergegas menjemur handuknya kembali dan mengenakan sandal gunungnya dan menyusul Ibu menuruni jalan berbatu yang becek akibat hujan semalam. “Kau ikut tidak, Gguk?!” Tambahnya dari bawah.
Jeongguk mendesah, senang melihat Taehyung yang bersinar karena kebahagiaan sesederhana ikut Ibu ke sawah.
“Ikut!” Balasnya, mematikan puntung rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah sebelum bergegas mengenakan sandalnya lalu menyusul Taehyung.
“Aduh, jangan!” Kata Ibu saat menoleh, menemukan dua orang mengekornya seperti anak anjing menggemaskan, menuruni jalanan berbatu rapi ke rumah di bawah. “Jalannya becek, lewat sungai kotor. Nanti kalian kenapa-kenapa,” lanjutnya.
“Sudah, Ibu, tidak apa-apa!” Desak Taehyung lalu mengamit lengan Ibu dan mengajaknya berjalan.
“Aduh, kalian ini.” Kata Ibu namun tak ayal memimpin mereka berjalan.
Mereka melewati hutan, jalan kecil yang becek dan juga sawah-sawah yang banjir gagal tanam karena badai semalam. Melewati rumah warga yang terletak di atas sungai yang lumayan deras, sendirian dan dengan akses jalan becek yang mereka lewati barusan, di tengah hutan terang—yang membuat Jeongguk bingung kenapa mereka tinggal di sana alih-alih di pinggir jalan?
Sekali, Taehyung terperosok ke dalam lumpur sawah yang mereka lewati. Terpeleset di pematangnya dan kakinya mencelus ke dalam lumpur. Syukurlah dia menyambar kaus Jeongguk di belakangnya sehingga dia tidak tercebur ke dalam sawah dan Jeongguk langsung menahannya dengan kedua lengannya.
“Hati-hati, Mas!” Seru Ibu yang sekarang ada di bawah, di pinggir sungai yang harus mereka seberangi.
“Aman, Bu, aman!” Seru Taehyung, suara mereka bergaung di alam terbuka yang sejuk dan damai. Sinar matahari pagi menerangi mereka, menembus sela-sela dedaunan dan membentuk pilar-pilar keemasan yang berkilauan di atas permukaan air, bergemericik saat Ibu melangkah di atasnya, menunggu mereka menyusulnya.
Jeongguk memegangi tangan Taehyung saat mereka menuruni jalan becek yang licin, mereka mendarat di sisi sungai yang tidak terlalu lebar namun arusnya lumayan deras. Walaupun semalam hujan deras, airnya tidak sekeruh yang dibayangkan Jeongguk. Mereka mencelupkan kaki dan mendesah.
“Sejuuuk!” Taehyung mendesah, mereka bergandengan tangan dengan kaki tenggelam di air, menikmati arus yang berpusar di sekitar kaki mereka. Airnya bersih, tidak ada sampah manusia yang hanyut di atasnya—hanya dedaunan kering.
Mereka berdua terkekeh ceria di sana, di tengah sungai dengan tangan terpaut dan menikmati air sejuk sungai sementara Ibu mulai memanjat naik dari sungai sambil menebas beberapa semak agar mereka berdua tidak kesulitan saat lewat.
“Ayo, nanti kakinya keriput!” Ibu tersenyum lebar, senang melihat mereka menikmati waktu—mendapatkan pengalaman menakjubkan dari hal-hal yang beliau lakukan setiap hari tanpa benar-benar menyadarinya lagi.
Jeongguk membiarkan Taehyung memanjat duluan, berpegangan pada batang pohon yang tumbuh di sisi lalu dia berbalik, mengulurkan tangan dan menarik Jeongguk naik sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian tiba di area persawahan yang indah, mereka seperti berada di Bali dengan sistem terasering mereka yang rapi.
Ada banyak warga yang sedang bekerja di sana, membungkuk menyiangi tanaman liar dari semua padi-padi mereka. Ada bukit kecil di bagian kanan mereka, dengan matahari yang semakin tinggi dan pemandangan kota yang lepas.
“Naik ke sana saja, di sana aman.” Kata Ibu, menunjuk bukit itu dan memasang topi bertepian lebarnya, siap bekerja. “Hati-hati jatuh, ya, Mas. Sandalnya dipakai, nanti kakinya luka.”
Taehyung langsung mengangguk dan bergegas mengikuti jalur pematang sawah ke arah sana, diikuti oleh Jeongguk yang melepas sandalnya, menikmati lembeknya tanah becek di telapak kakinya. Tanah persawahan dingin dan dia suka merasakannya di kulitnya sendiri. Padi-padi meninggi, gemerisik saat tersapu angin dan suara-suara orang bekerja terdengar bersahut-sahutan.
“Lho, Mas KKN ikut, ya?” Seru seorang warga yang menegakkan tubuhnya, di tangannya ada rumput liar yang dicabut dari sela-sela padi. Dia mengenakan topi bertepian lebar, baju lengan panjang yang kotor dan tersenyum lebar pada Taehyung dan Jeongguk.
“Iya, penasaran pada sawah katanya,” sahut Ibu dari kejauhan, tertawa saat menuruni pematang menuju sawahnya dengan lincah.
“Memang di kota tidak ada sawah sama sekali, Mas?” Tanya seorang ibu lain yang berdiri di sawahnya, sedang menunduk mencabuti rumput dan membersihkan telur keong dari sela-sela padinya.
“Ada, Bu.” Sahut Taehyung, berhenti di sebuah batu yang berada di tengah persawahan. “Tapi tidak sebanyak ini,” katanya dan Jeongguk berdiri di sisinya, mencelupkan kaki ke parit kecil yang digunakan petani untuk mengairi sawahnya; mengamati saat lumpur kering di kakinya larut.
Mereka mendaki bukit itu, duduk di batu raksasa yang menghadap ke sawah; mengamati semua orang yang bekerja. Angin semilir membelai wajah mereka dan Jeongguk menyesal dia tidak membawa rokoknya.
“Aku suka di sini,” kata Taehyung, mendongak menatap langit biru yang cerah; memejamkan mata menikmati angin persawahan yang membelai wajahnya.
“Rasanya seperti setiap hari begitu panjang dan banyak hal bisa dikerjakan, ya?” Sahut Jeongguk meniru posisinya, mendongak menatap langit yang terbentang luas di atas mereka.
Suara para petani yang mengobrol sambil berteriak saat bekerja, suara cuitan burung dan serangga-serangga liar, desir angin, gemericik air; Jeongguk bisa saja terlelap di sini, menikmati kehidupan yang selama ini jarang sekali diapresiasinya karena hidup di kota berarti kehidupan yang terburu-buru, serba cepat dan serba instan.
Teringat saat tempo hari, Jeongguk menemukan Ibu di gudang hasil tani sedang membereskan daun pisang yang akan dijualnya besok. Dia baru habis mandi, maka dia berjongkok di sisi Ibu membantu beliau melipat daun pisang dan Ibu tertawa.
“Aduh, jangan repot-repot, Mas, nanti tangannya kotor.”
Jeongguk menolak, “Begini saja saya bisa, Bu.” Katanya dan membuktikan pada Ibu dia bisa melipat daun dengan rapi hingga Ibu mengapresiasi kerjanya. Tidak ada daun yang robek atau terlipat ke arah yang salah, Jeongguk mengurutkan daun dari yang terlebar hingga terkecil sebelum melipatnya seperti kain.
“Ini dijual, Bu?” Tanyanya saat menyusun daun baru di lantai dan Ibu mengangguk, akhirnya mengizinkan Jeongguk membantunya bekerja.
“Ya, di desa mah begitu, Mas. Kalau untuk sehari-hari, jual apa yang ada saja. Pepaya, daun pisang, singkong; apa saja hasil hari itu. Toh, hanya untuk makan sehari saja. Nanti kalau semisal butuh uang banyak, Bapak jual sapi atau kambing. Hidup untuk hari ini saja, Mas.” Ibu memotong daun dari tangkai pisang dan menyerahkannya ke Jeongguk yang membantunya mengurus daun. “Ya, begini ini, Mas, hidup orang desa,” Ibu tertawa.
Kata-kata itu bercokol di kepala Jeongguk saat dia memikirkan kehidupannya di kota. Bagaimana segalanya serba terburu-buru dan instan. Jeongguk selalu merasa dirinya sedang dikejar-kejar, diburu waktu untuk mencapai hal yang bahkan tidak dipahaminya apa. Berlari entah dari apa dan mengejar apa; membuatnya kelelahan di penghujung hari lalu harus terbangun lagi keesokan harinya, kembali berlari.
Sementara Ibu di sini, hidup untuk hari ini. Bekerja hanya untuk hari ini, yang besok dipikirkan besok. Mengikuti alur kehidupan yang natural, tidak terbebani bagaimana kehidupan mereka minggu depan atau bahkan bulan depan. Ibu terbangun di pagi hari, memikirkan hari itu saja.
Jeongguk menyikapi KKN ini bukan lagi sebagai kegiatan yang membebaninya, bukan kegiatan wajib sebagai syarat lulus dari universitas, namun sebagai sebuah sarana untuk membuka pandangan dan pemikirannya terhadap hidup. Dia merasa waktu di sini berjalan perlahan, nyaris lambat dan tidak ada teknologi yang bisa membunuh waktu.
Maka mereka mulai mengapresasi hal-hal di sekitar mereka; mengobrol dengan teman-teman, berjalan-jalan di sekitar pondokan, bermain dengan anak-anak, membantu Ibu memasak di dapur atau juga membantu Bapak memberi makan ternaknya. Kegiatan-kegiatan yang membuat mereka puas.
Jeongguk suka. Dibanding berbaring seharian bermain ponsel, dia lebih suka ini. Menyusuri pematang sawah, menikmati angin persawahan yang kencang dan warna hijau sejauh mata memandang. Dia dan Taehyung duduk di sana, di bukit tertinggi mengamati semua orang bekerja dengan damai.
“Jeongguk?” Panggil Taehyung kemudian setelah mereka bersidiam.
Jeongguk menoleh, “Ya?” Sahutnya sementara Taehyung menatap kejauhan; ke hamparan sawah yang hijau dan gemerisik oleh angin.
“Aku mencintaimu.”
Jeongguk mendenguskan senyuman lebar lalu tertawa kecil, “Aku juga mencintaimu.” Sahutnya seketika itu juga, menepuk paha Taehyung sekali—hangat. “Kupikir kau sudah tahu itu?”
Taehyung tersenyum lebar, “Aku bukan Edward Cullen, mana bisa aku tahu apa yang kaupikirkan, Bodoh.”
“Baiklah, baiklah, maaf, Yang Mulia.” Sahut Jeongguk dan mereka berdua tertawa.
Jeongguk senang, jauh dari sekadar senang normal yang dirasakan biasanya. Suatu hari nanti, ketika dia lelah dan penat dengan kehidupan, dia akan mengingat ini. Hari sederhana di antah-berantah, Taehyung di sisinya dan semuanya baik-baik saja.
Semuanya akan baik-baik saja.
Mereka berdua tertawa keras, lepas dan senang.
“Siapa suruh kau hanya mengenakan sandal jepit?!” Seru Taehyung di jalan berbatu tajam yang mereka lewati, jalan pintas untuk kembali ke pondokan. Dia berdiri beberapa meter dari Jeongguk yang mengerang karena kakinya tertusuk batu, tidak luka tapi perih.
Taehyung bergegas kembali, menghampiri Jeongguk yang meringis dengan sandal di tangannya sedang mengecek telapak kakinya.
Ibu yang menunjukkannya, lewat jalan di sana saja—dekat, begitu katanya. Awalnya jalan mereka mulus, tanah becek yang sedikit licin tapi tidak apa-apa. Sebelum kemudian medan mereka berubah jadi penuh batu kapur yang ujungnya tajam-tajam, nyaris menembus sol sandal mereka yang menipis.
Di sekitar mereka hanya ada pepohonan dan pemandangan lembah hijau, bukit di sisi kanan mereka yang rimbun oleh semak dan beberapa motor warga terparkir di sana. Jeongguk melepaskan sandal jepitnya, menyerah karena kakinya terpeleset di atas permukaannya yang licin oleh air dan lumpur.
Dia harus berjalan dengan hati-hati, menghindari semua bebatuan tajam yang serupa jebakan di atas tanah. Taehyung yang mengenakan sandal gunung, melangkah tangkas di depannya, tidak kenal sakit karena alas kakinya memang diciptakan untuk medan ini.
Dia membawa sebatang kayu, untuk menghalau semak yang mungkin berduri yang menghalangi jalan mereka walaupun sebenarnya tidak perlu karena jalan itu lumayan lebar dan bersih. Batu-batu kapur yang tajam itulah satu-satunya masalah.
Jeongguk mengaduh keras, lagi setelah beberapa meter. “Kakiku!” Serunya saat tidak sengaja menginjak satu batu tajam dan dia meringis.
Taehyung ikut meringis, “Gunakan saja sandalmu!” Serunya dan Jeongguk akhirnya menyerah, dia melempar sandalnya ke tanah dan menggunakannya.
Mereka bergandengan tangan saat Jeongguk melangkah di atas sandalnya yang licin oleh lumpur dan Taehyung berdendang ceria—cahaya matahari menyusup dari sela-sela dedaunan yang rimbun, gemerisik di atas mereka terkena angin yang kencang. Suara burung dan sungai jauh di bawah mereka menemani perjalan mereka.
Jeongguk melangkah seperti bayi yang baru bisa berjalan, perlahan dan tertatih-tatih berusaha menghindari batu-batu tajam sementara di sisinya Taehyung menikmati perjalanannya dengan ceria karena mengenakan alas kaki yang sesuai.
“Taehyung?”
“Ya?”
“Kita pacaran, tidak?”
Taehyung tertawa kecil, lalu menoleh ke Jeongguk yang sedang menghindari bebatuan di bawah kakinya. “Tentu saja.” Katanya ceria.
Jeongguk berhenti, menoleh kaget. “Hah?”
“Hah, heh, hah, heh!” Balas Taehyung tertawa lalu menyentil kening Jeongguk; suasana hatinya bagus sekali setelah memulai harinya dengan terbahak-bahak Jeongguk diseruduk anak kambing. “Tentu saja kita pacaran, tapi sebaiknya tetap menunggu penarikan. Maksudnya, kau tahu, agar anak-anak tidak risih.”
Jeongguk mencibir, “Sepertinya malah mereka yang kaget karena kita belum jadian.” Katanya, mengaduh saat satu batu tajam menusuk nyaris menembus sandalnya.
“Memang,” Taehyung tersenyum. “Tapi jadian saat KKN bisa memengaruhi penilaian antarindividu, maksudku toh aku tetap akan jadi milikmu cepat atau lambat, mari kita nikmati saja saat ini. Untuk apa buru-buru? Ada banyak hal tentangku yang masih harus kaupahami.”
Jeongguk tersenyum, “Benar juga.” Katanya kemudian.
”'Kan,” sahut Taehyung, tersenyum superior—senyuman kesukaan Jeongguk. “Pelan-pelan saja, tidak ada yang harus dikejar, kok.”
Jeongguk menatap jalanan di depannya; pelan-pelan, kata Taehyung. Persis seperti yang mereka lakukan sekarang. Nampaknya tiap langkah sangat menyebalkan, menguji kesabarannya. Dia tidak suka ditahan, dia ingin berlari; kebutuhan untuk terburu-buru nyaris mendarah daging dalam dirinya. Namun keadaan membuatnya harus memperlambat segalanya; dia harus memikirkan setiap langkahnya agar tidak terluka.
Dan Jeongguk mendesah, menghela napas dan mulai melangkah lagi; satu langkah setelah satu langkah lainnya....
Jalanan itu ternyata berakhir di jalan besar, jalan yang sering mereka lewati jika akan turun ke Klaten. Jeongguk berseru senang ketika akhirnya menjejak tanah yang landai dan halus, aspal jalanan. Mereka melangkah berdua di sisi jalan yang sepi, bernyanyi ceria hingga akhirnya tiba di pondokan di mana semua teman-temannya menunggu dengan cemas.
“Kalian dari mana?!” Omel Yoongi begitu Taehyung dan Jeongguk menuruni tanjakan, berdiri di halaman pondokan.
Keduanya mengerjap. “Ke sawah dengan Ibu.” Sahut Taehyung tanpa dosa.
“Kami pikir kalian hilang!” Seru Momo, menyentuh dadanya sendiri sebelum tertawa nyaris histeris. “Kalian tidak bisa pamit, ya?” Tambahnya.
Jeongguk tertawa serak, “Kalian sayang sekali padaku, ya?” Katanya lalu melangkah ke belakang, ke PAH memutar lewat ke pinggir rumah.
Dia dan Taehyung mencuci kakinya di bawah air yang mengucur, lelah namun senang karena petualangan mereka hari itu ternyata menyenangkan. Kaki Jeongguk pegal karena berjalan melewati medan ekstrim dan dia lapar sekali; mereka membicarakan mie instan dengan potongan cabai rawit dan sayuran seraya membersihkan diri.
“Mie dok-dok!” Mohon Jeongguk dan Taehyung terkekeh, “Buatkan aku mie dok-dok hebatmu.”
“Baiklah,” Taehyung mengibaskan air dari tangannya. “Karena kau sudah jadi anak baik, aku akan membuatkanmu mie dok-dok.”
Mereka kemudian memasuki pondokan, lelah dan ingin sekali duduk bersantai sebelum mandi dan makan siang. Namun, Bapak kemudian muncul kali ini membawa cangkul dan ember yang langsung membuat para lelaki mendesah berat—paham apa yang akan mereka lakukan.
“Ada tanah longsor di jalan ke PAUD,” kata Bapak menjejerkan cangkul di teras, tersenyum lebar saat melihat ekspresi anak-anak KKN. “Ayo, bantu meminggirkan tanahnya.”
Taehyung dan Jeongguk mengerang, sepertinya mereka belum bisa beristirahat sekarang.
Note.
Serius.
Seriusan satu hari itu kambing dan sapi Bapak menggila :'DD Yang jatuh pas itu motor Vixion punya si temen KKN-ku (salah satu dari dua orang yg kujadiin satu karakter Yoongi). Untung si anak sapi gak apa2 :'DDD
Si Sapi beneran lari-lari kek lagi di wonderland sumpah kami gak paham dan si kambing beneran di dalem rumah lompat-lompat. GAK TAU KENAPA YA ALLAH WKWKWKWKWKWK