Kuliah, Kerja, Nyantai / 89
cw // horror .
“Kami tinggal ke PAUD dulu, ya, Kak?” Pamit Taehyung pada Namjoon dan Seokjin yang sedang berbaring di tikar, bermalas-malasan karena tidak ada jadwal.
Mereka bilang akan kembali ke Yogyakarta nanti siang setelah matahari agak redup karena hari ini Namjoon kosong dan Seokjin tidak ada janji penting. Menurut Yugyeom tidak masalah, mereka bisa turun bersama sekalian mereka pergi ke tempat evaluasi bersama dengan dosen pembimbing lapangan mereka. Semuanya sepakat dan akhirnya meninggalkan Namjoon dan Seokjin di pondokan untuk beraktivitas dulu.
“Anggap rumah sendiri saja, Kak.” Tambah Yugyeom saat mengenakan almamaternya, name tag sudah terpasang di lehernya dan mereka bersiap untuk berangkat ke PAUD.
Jeongguk menoleh dari tempatnya, di depan kandang ternak sedang merokok dengan Pulgoso yang diikat dan makan rumput gajah dari tangan Jeongguk yang berjongkok di hadapannya. Dia menyesap rokoknya, terakhir kali sebelum mematikan bara apinya dan kemudian berdiri, menyelipkan puntungnya di saku almamaternya.
“Sudah siap?” Tanyanya pada teman-temannya yang berjalan melewatinya dengan senyuman, mereka mendapat istirahat yang cukup semalam setelah Taehyung membelikan semuanya vitamin—tidak mau ada yang jatuh sakit karena kelelahan.
Dia langsung berjalan di sisi Taehyung, menjajari langkahnya
“Mbak, prokermu bisa dilaksanakan kapan?” Tanya Yugyeom saat mereka melangkah melewati rimbun bambu jalan pintas menuju PAUD dari rumah Bapak. “Sudah akan tenggat waktu, kita juga akan melaporkan kemajuan program kerja kita nanti saat evaluasi.”
“Kemarin aku sudah bicara dengan Bu Guru PAUD, katanya bisa koordinasi dengan Ibu Sinta. Rumahnya di dekat Masjid, mungkin nanti sebelum evaluasi atau setelah ke PAUD aku akan mampir untuk membicarakannya,” sahut Momo dari depan, membimbing Dahyun bersama Tzuyu.
“Memangnya apa prokernya kemarin? Aku lupa?” Tanya Yoongi di sisi Yugyeom.
“Makanan bergizi. Biasanya bubur kacang hijau, agar-agar, dan telur rebus.” Sahut Dahyun, “Memang rutin dilakukan tapi aku dan Momo ingin menambahkan makanan lain juga. Kemarin aku sudah info pacarku untuk membelikan susu UHT anak-anak satu kardus dan cemilan.”
“Aku juga mau susu UHT,” Jeongguk menjawab dari belakang, berjalan berdampingan dengan Taehyung yang merokok di sisinya. “Ultra Mimi, 'kan? Aku mau yang stroberi.”
“Kau sungguh memusingkan,” Yoongi melempar tatapan mencela pada Jeongguk yang mencibir.
“Kau juga memusingkan.” Balas Jeongguk seketika itu juga, kompetitif.
“Tampangmu sangar, bertato, merokok tapi kau tidak malu minum Ultra Mimi?” Sahut Dahyun dari depan, memicingkan matanya penuh celaan pada Jeongguk yang mengedikkan bahu kalem.
“Aku juga minum minuman Pororo di Indomaret itu, enak kok! Memangnya kenapa? Memangnya jika kau bertato dan merokok, kau hanya boleh minum miras?” Sahutnya sengit dan Taehyung tertawa, tersedak asap rokoknya sendiri.
“Ya sudah, iya. Nanti kuminta Heechul membelikanmu minuman Pororo dan Ultra Mimi, tidak perlu menyalak.” Momo menengahi dan Jeongguk mendengus, senang mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Apa, sih, masalahmu?” Tanya Taehyung geli, mengulurkan tangan dan merapikan lipatan kerah almamater Jeongguk yang terlipat ke arah yang salah.
“Tidak ada?” Balas Jeongguk, mengerutkan alis seolah mengatakan 'masa' kau juga?' pada Taehyung. “Aku hanya minta susu.”
“Iya, iya, Jeongguk. Iya. Jangan merengek.” Tambah Momo, mendengar jawabannya dan semuanya tertawa. “Nanti minta susu dari Taehyung saja.”
“Jangan. Punyaku pahit.” Taehyung terkekeh dan Jeongguk tersenyum lebar.
“Don't worry, I don't mind. I'll suck the it out.” Sahutnya mengedipkan sebelah matanya genit dan mengaduh keras saat Taehyung menonjok lengan atasnya, kali ini dengan lebih keras hingga suara benturan daging bertemu daging terdengar keras.
“Menjijikkan!” Gerutu Yoongi, bergegas menjauh dari Jeongguk yang terkekeh—senang mengalahkan mereka semua.
Mereka tiba di PAUD, melangkah menaiki tanjakan hingga bertemu anak-anak yang sedang berbaris untuk menyanyi. Mutia memekik ceria, melambai pada Jeongguk yang bergegas menghampirinya dengan senyuman lebar. Sudah tidak ada anak yang takut pada Jeongguk sekarang, mereka malah saling berlomba untuk mencuri perhatian Jeongguk—khususnya para perempuan karena menganggap Jeongguk sangat keren. Mereka berbaris di sela-sela anak-anak, bergandengan tangan seraya bernyanyi dan bermain lempar tangkap dengan bola plastik.
Kegiatan PAUD tidak terlalu bervariatif setiap harinya. Mereka akan bermain lempar tangkap seraya bernyanyi sebelum berdoa dan kemudian belajar. Belajar yang dimaksud pun terkadang hanya menggambar bentuk, mewarnai atau melakukan sesuatu dengan lilin mainan. Lebih banyak dihabiskan untuk bermain, untuk membiasakan para balita dengan teman-teman baru, interaksi sosial dan melatih kemampuan mereka bicara.
Hari ini mereka mewarnai. Gambarnya disiapkan oleh Dahyun dan Momo kemarin semalaman, mereka memberikan anak-anak masing-masing lima lembar untuk diwarnai bersama. Jeongguk mendamping Mutia mewarnai kodok gendut yang tersenyum dengan krayon barunya yang dibelikan Momo dan Dahyun juga sebagai bagian dari program kerja mereka.
“Kodok warna hijau,” Jeongguk meraih sebatang krayon hijau yang patah dan meletakkannya di dekat gambar, dekat tangan gendut Mutia.
“Merah jambu.” Mutia menggeleng serius, meraih sepotong krayon lain dan mulai mewarnai gambarnya hingga Jeongguk meringis namun tak ayal terkekeh. “Merah jambu cantik.”
“Baiklah, merah jambu cantik.” Sahutnya kemudian, menyeka rambut Mutia dari keningnya agar tidak mengganggunya saat si balita mulai mewarnai gambarnya. “Jangan keluar garis, coba, yuk.” Jeongguk menunjuk garis hitam di gambar, “Di dalamnya saja yang diberi warna.”
Dia mendongak, mendapati Taehyung duduk di depannya dengan Dilla yang sedang mewarnai gambar kelinci. Dia mengenakan celana jins skinny, almamater di atas kausnya dengan kacamatanya yang biasa dan bisa terlihat begitu menakjubkan tanpa perlu berusaha. Rambutnya disisir naik, beberapa anak rambut luruh di keningnya yang tinggi dan dia sedang menjelaskan sesuatu pada Dilla yang duduk di sisinya mewarnai.
Lengan almamaternya digulung naik karena gerah, memaparkan lengan bawahnya ke udara; Jeongguk tidak bisa tidak menyadari rambut halus di permukaannya—hiburannya jika bosan, dicabuti karena gemas. Dia belum bercukur, mereka kehabiskan alat cukur dan belum membeli yang baru dan jenggot tipis itu membuatnya nampak seperti pemeran antagonis di film lama.
Dia sedang tersenyum, lebar hingga giginya nampak—sangat senang pada sesuatu yang dilakukan Dilla dan nampak semurni malaikat. Jika dibandingkan dengan Jeongguk, Taehyung adalah sesuatu yang tenang dan meneduhkan. Walaupun Jeongguk tidak bisa bilang begitu saat dia bercinta dengan Taehyung karena dia nyaris sangat mendominasi di ranjang—dia suka dipuji, suka disenangkan.
Membayangkan wajah merah padam Taehyung saat berada di atasnya dan/atau di bawahnya membuat Jeongguk mendesah—dia ingin lagi. Jeongguk belum pernah memiliki pasangan seks yang luar biasa fluid dalam posisinya, dia tidak keberatan memberi aftercare untuk Jeongguk dan tidak keberatan juga menerima aftercare.
Untuk pertama kalinya selama Jeongguk menjadi seorang homoseksual, dia menemukan pasangan yang bisa saling memberi dan menerima.
Karena menerima aftercare terasa seperti kemewahan bagi Jeongguk. Selama ini orang-orang selalu mengasumsikannya sebagai dominan, yang sesungguhnya sama sekali tidak membuatnya keberatan. Dia suka menyenangkan orang lain, suka saat pasangannya meneriakkan namanya ketika orgasme namun tiap kali mereka selesai melakukannya—ada sesuatu yang kurang di dalam dirinya.
Dan Taehyung mengisinya, nyaris penuh-penuh.
Taehyung terus menerus membuatnya terkejut akan banyaknya hal yang dia bisa berikan untuk Jeongguk selain seks yang luar biasa.
“Ayo, sambil makan siang, yaa!” Kata guru PAUD kemudian, memimpin anak-anak berdoa sebelum makan dengan kompak.
Jeongguk meraih tas Mutia, setelah doa mereka selesai. “Mutia hari ini makan apa?” Tanyanya pada si balita yang masih sibuk mewarnai dengan krayon, menodai wajah dan lengannya.
Jeongguk menemukan kotak bekal dan botol minum, dia membukanya dan menemukan nasi serta naget yang sudah dingin, namun dia yakin lauk ini adalah kemewahan bagi anak-anak yang dilarang makan makanan instan sering-sering, seperti mie instan.
Jeongguk yang berusia lima tahun mungkin merengek agar ibunya membekalinya dengan mie goreng yang nantinya akan mengeras dan mengikuti bentuk kotak makannya. Berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti ketika dia dewasa dia akan makan mie instan sepuasnya dan ibunya tidak akan bisa menghentikannya.
Namun Jeongguk yang berusia dua puluh tahunan, sekarang nyaris menangis tiap kali harus makan mie instan entah karena malas keluar atau uang bulanannya menipis. Merindukan masakan ibunya di rumah, hal yang ketika dia kecil sangat dibencinya.
Usia membuat persepsi tentang makanan dan rasa menjadi sedikit berubah.
“Wah, enak.” Katanya tulus, menyemangati balita itu agar ingin makan siang. Mutia termasuk anak yang terlalu kurus untuk usianya, guru PAUD bilang dia memang sulit makan. Namun Jeongguk dan Taehyung berhasil membuatnya makan lebih banyak belakangan ini. “Mutia mau makan sendiri atau disuapi?”
“Suapi.” Mutia menoleh, nyengir dan Jeongguk balas tersenyum lebar.
“Oke,” dia meraih sendok makan Mutia dan memotong-motong naget di dalam kotak makan hingga kecil untuk satu kali suap lalu menyendoknya bersama nasi. “Aaa?”
Mutia menyuapnya, mengunyah dengan ceria seraya mengusap ingus di bawah hidungnya. Jeongguk terkekeh, meraih tisu yang diulurkan Taehyung dan membantu balita itu membersihkan ingusnya sebelum membantunya makan. PAUD ditutup dengan memberikan pekerjaan rumah sederhana, lalu menyanyi sebelum berpamitan pada semua anggota KKN.
Momo dan Dahyun langsung berangkat ke rumah Bu Sinta bersama guru PAUD untuk membicarakan makanan bergizi besok sementara sisanya kembali ke pondokan untuk memasak—giliran Taehyung, Tzuyu dan Yugyeom. Mereka berjalan melewati jalan desa, menyeberang beberapa meter di depan PAUD ke jalan yang langsung mengarah ke pondokan mereka.
Jeongguk menyalakan rokoknya, menawarkan sebatang pada Taehyung yang menerimanya seraya mengusap dagunya yang kasar dan tajam. “Kita harus membeli pisau cukur,” keluhnya dengan rokok menggantung di sudut bibirnya, siap dinyalakan. “Aku mulai merasa tidak bersih.”
Jeongguk terkekeh, rokok di bibirnya nyaris jatuh jika saja tidak ditahan salivanya. Dia mematik api lalu mendekatkannya ke Taehyung yang langsung merunduk untuk menyalakan ujung rokoknya. Mereka sejenak berhenti, menunggu Taehyung menyalakan rokoknya sebelum kembali melangkah setelah Taehyung menghembuskan asap rokok pertamanya.
“Kita makan apa hari ini?” Tanya Jeongguk, mengusap perutnya yang sekarang datar karena dia belum makan—biasanya benda itu akan membuncit persis setelah dia makan.
“Ada ayam bacem yang dibawa Kak Namjoon,” sahut Tzuyu dari depan, “Kalian mau makan itu hari ini?”
“Ya, ya!” Jeongguk mengangguk semangat, menyugar rambutnya dengan tangannya yang memegang rokok seraya menghembuskan asapnya. “Aku ingin ayam, beri aku ayam.”
“Oke, ayam.” Taehyung mengangguk. “Masih ada kangkung juga, 'kan? Kita buat cah kangkung saja hari ini, Tzu.”
“Siap, Kak Tae.” Sahut Tzuyu seraya menyingkap daun bambu yang merunduk untuk melewatinya.
Mereka memasuki rumah, kelelahan sementara Jeongguk dan Taehyung berhenti di depan rumah, menghabiskan rokok sebelum masuk. Yugyeom melepas name tag-nya serta almamaternya saat menyadari Namjoon dan Seokjin sedang membereskan pakaian mereka.
Namjoon nampak panik, wajahnya pucat sementara Seokjin disorientasi. Dia menatap Namjoon kebingungan namun tak ayal merapikan tasnya.
“Kak? Kenapa?” Tanya Yugyeom bingung. “Makan siang dulu saja baru kita turun bersama. Kami akan masak ayam dari Kakak hari ini.”
Namjoon menggeleng, “Tidak, tidak. Aku terpaksa menolaknya. Aku harus pulang.” Dia meraih kemeja flanel-nya yang digunakan sebagai bantal lalu bergegas menggunakannya. “Ayo, Kak.”
Taehyung yang mendengar keributan itu bergegas mematikan rokoknya, menyelipkan puntungnya ke saku lalu memasuki rumah, bersama Jeongguk yang mengintip dari kejauhan karena tidak mau mematikan rokoknya. Dia mendapati Namjoon sudah menggendong tasnya.
“Kak? Kenapa?” Tanya Taehyung, kaget dan bingung. Dia menghampiri keduanya dan mencoba menahannya.
Seokjin menggeleng, “Tadi dia sedang tidur siang saat aku mengecek beberapa hal sambil nonton televisi, lalu dia terbangun dan langsung mengajakku pulang.” Dia merapikan bawaannya, berdiri hendak menyusul Namjoon.
“Sebentar, memangnya kenapa? Ada masalah apa?” Taehyung menyentuh dada Namjoon, menahannya agar tidak pergi sebelum menjelaskan. Dia berdiri di sana, tinggi dan penuh tekad—menahan Namjoon. Alisnya berkerut.
Jeongguk melangkah masuk saat menyadari masalahnya mungkin saja serius. Dia berdiri di sisi Taehyung, beberapa meter di belakangnya bersiap menjadi cadangan jika ada kekerasan yang mungkin terlibat karena dari ekspresi Namjoon, hal itu sangat mungkin terjadi.
Namjoon menggertakkan rahangnya lalu berdeham, “Aku tidak mau ke sini lagi.” Katanya kemudian membuat semuanya bingung. “Aku bermimpi ada kakek tua yang mengusirku. Aku sudah di atas motorku, siap untuk pergi. Katanya, 'jangan datang lagi, pulang kamu' dan saat aku hendak pergi, ada anak kecil di kakiku—mencengkeram kakiku erat-erat menahanku agar tidak pergi.
“Dan sekuat apa pun aku berusaha melepaskannya, dia tidak mau lepas. Malah terkikik tinggi padaku, suaranya nyata sekali. Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi. Ada... ada perempuan juga. Kakek itu terus memintaku pulang, 'pulang kamu, jangan kembali lagi.' Aku tidak tahu lagi, aku akan pulang.”
Dan dia langsung pergi begitu saja, menepis tangan Taehyung sebelum bergegas keluar dari sana persis saat Dahyun dan Momo tiba. Mereka semua menyaksikan saat keduanya bergegas pulang tanpa menoleh sama sekali dan Taehyung yakin apa pun yang dikatakannya pada Namjoon, tidak akan mengubah pendiriannya.
“Oh, iya.” Kata Momo kemudian saat mereka makan bersama di dapur, saat Dahyun bertanya kenapa Namjoon buru-buru pulang dan Yugyeom menceritakan semuanya. “Memang ada.”
Semuanya diam dan Yugyeom merengek dengan suara kecil.
Dia kemudian berdeham, rikuh dan tidak nyaman. “Di sini ada tiga,” katanya kemudian. “Kakek itu pemiliknya, dia punya dua anak. Si anak kecil lelaki dan satu perempuan.” Dia berhenti makan, nampak sangat terganggu karena harus membicarakan ini. “Aku tidak akan memberi tahu semuanya tapi si Kakek ada di sudut, persis di atas kepala Taehyung ketika tidur.”
Taehyung mengerjap, jelas kaget dan Jeongguk langsung menepuk pahanya lembut—menenangkannya. “Di atas... kepalaku?” Ulangnya perlahan.
Momo mengangguk. “Tidak apa-apa, kok. Selama kau tidak... yah, bertingkah. Kurasa tidak apa-apa.”
Taehyung terenyak. “Kaurasa,” ulangnya perlahan.
Momo meringis, paham dia tidak bisa menjanjikan apa pun pada mereka. “Sisanya,” dia menelan ludah dengan sulit.
Dia nampak kelelahan saat mengatakannya sehingga Dahyun seketika mengulurkan air padanya. Dia meneguknya habis sebelum melanjutkan, “Sisanya tidak akan kukatakan. Tapi, tolong. Jaga omogan kalian; jangan berteriak-teriak, jangan bicara kasar dan jangan menonton film horor. Hormati mereka.” Dia meletakkan piringnya, tidak nafsu makan.
“Kakek mungkin tidak suka dan mengusir mereka karena mereka tidak sopan.” Kata Momo dan mereka mengangguk setuju—dari kasus film horor di malam pertama dan bagaimana Namjoon terkadang suka tertawa terbahak-bahak, keras seraya mengumpat.
Teringat bagaimana Namjoon dan Hoseok mengejek mereka karena tidak mau menonton film horor di hari pertama, terbahak-bahak mengatakan betapa pengecutnya mereka. Sekarang semuanya terbayarkan, pemilik rumah ini mengusir mereka—memaksa Namjoon untuk pergi dengan cara kasar.
Jeongguk juga teringat bagaimana Momo menggeleng saat mereka tidur dekat dengan jendela di sisi pintu samping dan memutuskan untuk menggeser tempat tidur mereka hingga Jeongguk terpaksa tidur satu garis dengan pintu masuk. Namun Namjoon tidur persis di bawah jendela itu, sama sekali abai pada permintaan Momo untuk tidak melakukannya.
“Harga yang setimpal.” Kata Momo kemudian lalu meraih piringnya kembali, makan dengan tenang sementara Yugyeom mengkerut di tempatnya, menempel ke Taehyung—ketakutan. “Pokoknya, jangan aneh-aneh.”
“Di kamar mandi, 'kan?” Dahyun kemudian bicara dan Yugyeom merengek, Taehyung terkekeh kecil—merangkulnya agar tidak takut. “Maksudku, ada, 'kan?”
Momo diam sejenak, lalu akhirnya terpaksa mengangguk. “Di sudut.” Katanya.
“Pantas saja,” Yoongi kemudian menjawab. “Sudut dekat pintu masuk, 'kan? Aku selalu merasa suhu di sana sedikit lebih dingin.”
Jeongguk mengerutkan alisnya. Dia tidak merasakan apa pun di tempat-tempat itu. Bahkan sudut jendela pintu samping atau suhu dingin di kamar mandi. Semuanya terasa biasa saja.
“Kak Gguk selalu bangun pukul dua pagi untuk buang air kecil, 'kan?” Tanya Tzuyu, sedang melepaskan daging dari tulang ayam yang dimakannya. Dia menjilat jemarinya yang ternoda minyak serta bumbu ayam. “Kakak tidak merasakan apa pun?”
“Jam dua pagi?” Ulang Yoongi, kaget dan Yugyeom mengerang seraya mengeluh 'jika itu aku, aku akan buang air di botol saja!''. “Kau selalu buang air kecil pukul dua pagi? Selalu? Aku pikir hanya sekali saat itu?”
Jeongguk mengangguk. “Yah, begitulah. Selalu persis ketika jarum panjang di angka 12. Jam dua tepat. Tidak pernah kurang atau lebih, aku selalu melihat jam di atas televisi setiap terbangun.”
Semuanya diam dan Jeongguk menyadari dia belum pernah memberi tahukan hal ini pada mereka. Hanya Taehyung yang tahu karena dia selalu merasakan Jeongguk bangun dan menunggunya untuk kembali tidur bersama.
Lalu dia menambahkan, “Jika kalian bertanya apakah aku bingung, aku bingung. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus buang air.”
“Kau tidak... merasakan apa pun?” Tanya Yoongi kemudian, perlahan nampak seolah sedang mencernanya. “Bahkan di sudut itu? Sama sekali?”
Jeongguk menggeleng, perlahan. “Sama sekali.” Dia mengedikkan bahu. “Aku bahkan kadang buang air besar. Tidak ada apa-apa sama sekali. Kadang aku juga berhenti sebentar di depan pintu, menatap rimbun bambu di belakang itu.”
Yugyeom terkesirap bersama Dahyun dan Tzuyu, “Dan, kenapaaaaa?” Tanyanya nyaris menangis hingga Yoongi dan Taehyung terkekeh. “Maksudku, kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menatap?? Kau bisa saja langsung pergi??”
Jeongguk menggaruk tengkuknya. Sejujurnya dia juga tidak tahu. Namun terkadang, ketika dia pergi ke kamar mandi, ada sesuatu yang memaksanya untuk berhenti dan menoleh—tidak peduli seberapa tidak inginnya dia melakukan itu. Dia pasti akan berhenti dan menoleh, setidaknya satu menit penuh—tidak menemukan apa pun selain kegelapan, tentu saja.
Dia juga takut, tentu saja dia takut. Entah kenapa dia tidak bisa tidak melakukannya. Rimbun bambu itu tetap rimbun bambu, tidak ada apa pun yang balas menatapnya atau apa. Aman. Tapi dia tetap menoleh, menunggu—seolah menunggu sesuatu muncul sebelum dia memasuki kamar mandi dan buang air kecil.
“Tidak tahu,” sahutnya kemudian menatap Momo yang balas menatapnya, semua orang juga menatap Jeongguk sekarang—berhenti sejenak dari kegiatan makan mereka.
“Aku hanya... ingin saja. Kurasa?”
Note.
Momo sebenernya gak suka banget bahas mereka di lokasi. Tapi karena mimpinya si Namjoon, dia terpaksa jelasin sedikit. Setelahnya, kami jadi lebih hati-hati lagi di pondokan. Malah seneng krna at least kami tau apa yg harus dijaga :“)
Dan, iya. Aku selalu “dipaksa” noleh ke rimbun bambu itu. Aku takut, sumpah aku takut. Cuma pasti, pasti aku noleh ke sana. Gak ada apa apa sih wkwkwk