Kuliah, Kerja, Nyantai / 87
ps. aku lupa komposisi pakan ternak kami dulu, aku cari di proposal dan laporan KKN juga gak ada jadi aku masukin yg aku inget aja yaaa pss. para mahasiswa teknologi pangan atau peternakan, please look away xixixi
Semua anggota kelompok sedang nampak seperti zombi sekarang; berdiri di teras depan dengan wajah kelelahan karena semalam menghabiskan waktu dengan berjalan jauh dan makan begitu banyak; wajah Tzuyu bahkan bengkak karena makan berat sebelum tidur.
Yugyeom berusaha membuat mereka lebih semangat, “Ayo, ayo! Cepat dimulai, cepat selesai, cepat kembali tidur!”
Dan walaupun bagi Taehyung itu bukan kalimat penyemangat terbaik, iming-iming kembali tidur berhasil membuat mereka tertawa dan mulai bergerak.
Mereka sekarang tengah mempersiapkan alat dan bahan untuk mengerjakan proker utama mereka; fermentasi pakan ternak. Bapak sudah datang membawa dua batang pisang besar yang ditebangnya dari kebun mereka beberapa meter di pinggir jalan, salah satu dari beberapa bahan utama mereka dan sudah menyiapkannya di atas kain terpal yang siap digunakan.
Kain-kain terpal dibentangkan di halaman, dalam dua kelompok. Seokjin dan Namjoon tiba tadi pagi, langsung melepas luaran mereka dan bergabung untuk mempersiapkan bahan-bahan mereka hari itu.
Seokjin sudah menjelaskan sistemnya saat kedatangannya terakhir, sudah berkoordinasi aktif dengan Yugyeom juga mengenai bahan-bahan yang harus disiapkan mereka. Juga membantu saat mereka berbelanja kemarin, maka dia yang akan menjadi kunci kegiatan mereka hari itu.
Warga berdatangan, saling menyapa dan kemudian langsung membantu para mahasiswa KKN untuk mengerjakan program mereka dengan khidmat karena Bapak semacam ketua RT yang paling dihormati sehingga kata-kata sangat didengar. Bapak Dukuh juga datang untuk membantu mereka.
Kepala Taehyung masih berdentam-dentam karena kelelahan, tapi tadi pagi dia sudah minum seteguk kopi pahit Jeongguk yang langsung menonjoknya terbangun. Kopi kental dengan dua sendok bubuk kopi dan satu sendok gula kesukaan Jeongguk setiap dia terlalu lelah untuk menahan kantuk; seperti semacam ramuan rahasia.
Yugyeom yang pertama turun bersama Jeongguk, dengan parang Bapak di tangan mereka—nampak sangat mengancam, mulai menyacah batang pisang yang diletakkan di atas kain. Para warga yang datang langsung bergabung dengan mereka sementara Yoongi dan Taehyung dibantu para perempuan mulai menuang bubuk konsentrat di atas kain terpal baru; dibantu oleh para pemuda Karang Taruna Desa yang adalah sahabat akrab Jeongguk, mereka mencampurnya dengan bahan kimia.
Seokjin yang memimpin tim itu, mengukur takarannya sesuai dengan resep yang diketahuinya dan menggulung kain celananya sendiri untuk terjun mengaduk konsentratnya agar tercampur dengan bahan kimia fermentasi pakan. Dia menggunakan cangkul, mengaduknya dengan lihai bersama beberapa pemuda.
Suara obrolan terdengar di udara, riuh saat semua orang saling bekerja untuk menyelesaikan program kerja hari itu. Mereka kemudian memasukkan semuanya ke dalam tong-tong biru plastik, menyusunnya seperti membuat dessert box sebelum menutup dan menyegelnya rapat dengan lakban untuk difermentasi. Bulan depan, mereka akan datang lagi untuk mengeceknya dan membagikannya.
Ibu dan para perempuan menyajikan tiga teko teh hangat dan cemilan yang mereka beli saat membeli bahan-bahan program kerja saat akhirnya tong-tong diangkat bersama-sama, diletakkan di tempat yang gelap untuk fermentasi. Mereka duduk di teras, mengobrol seraya minum teh dan makan cemilan saat Jimin muncul.
Dia berhenti di ujung jalan, menyadari keramaian itu dan memutuskan untuk memarkir motornya di atas dan menuruni tanjakan dengan kantung plastik di tangannya. Tersenyum lebar walaupun nampak malu dan kikuk karena bertamu dengan kondisi dua puluh warga sedang duduk di halaman, menatapnya tertarik saat menuruni tanjakan. Taehyung berdiri, bergegas menghampirinya sambil menghabiskan kue yang dimakannya.
“Kau tidak bilang akan seramai ini,” gerutu Jimin di bawah senyumannya yang ramah dan Taehyung mendengus, menahan tawa. “Aku malu.”
“Sudah kubilang datang pagi,” Taehyung menerima plastiknya yang berat dan beraroma tajam babi asap yang lezat; langsung membayangkan betapa senangnya Jeongguk saat menerima makanan itu.
“Katamu aku harus beli Babi Bajang.” Balasnya, masih tersenyum lebar lalu mengekor Taehyung dan menyapa para warga yang mengangguk-angguk ramah.
“Ayo, Mas, ngeteh dulu, abis motoran dari jauh,” Bapak mengambilkan Jimin gelas lalu mempersilakannya minum teh dan Jimin menerimanya.
Setelah para warga membubarkan diri, anak-anak membereskan semua alat-alat yang digunakan lalu mencucinya sebelum mengeringkannya. Jeongguk dan Yugyeom yang bertanggung jawab menyimpan semuanya kembali ke gudang peralatan Bapak di sebelah kamar mandi sebelum masuk.
“Kak Namjoon, ini teman kuliahku, Jimin.” Kata Taehyung sementara teman-temannya mempersiapkan makan siang. “Jimin, ini temanku, Kak Namjoon dan Dokter Seokjin.”
“Tidak perlu dokter, demi Tuhan.” Sahut Seokjin pada Taehyung yang tertawa ceria sebelum tersenyum ramah pada Jimin. “Halo, Jimin. Seokjin.”
Jimin membalas senyumannya, “Halo, Kak. Jimin.” Lalu dia berpaling ke Namjoon yang langsung mengulurkan tangannya, “Halo, Kak. Jimin.” Katanya saat mereka bersalaman.
“Hai, Yoon!” Sapanya kemudian saat Yoongi memasuki ruangan setelah membereskan remah-remah konsentrat di halaman bersama Momo dan Tzuyu dengan sapu lidi. “Kau betah di sini?”
Yoongi tertawa, mengusap keringat di keningnya dan mengipasi dirinya dengan kausnya. “Betah saja jika Taehyung dan Jeongguk tidak saling membelit seperti ular piton,” dia mengulurkan tangan dan bertukar tos hangat dengan Jimin yang balas tertawa. “Skripsimu aman?”
“Aman,” sahut Jimin. “Aku baru mengumpulkan populasi untuk penelitianku, metodenya kuesioner.” Tambahnya saat Yoongi duduk di sisinya, mengangguk mendengarkan dengan tertarik. “Bagaimana denganmu?”
Taehyung melirik keduanya yang nampak akrab, mengobrol akrab tentang topik skripsi masing-masing. Dia paham Jimin berteman dengan Yoongi karena tidak jarang mendengar namanya disebut Jimin saat mereka mengobrol dan Taehyung sendiri sering melihatnya di hall saat terburu-buru ke Perpustakaan sedang bermain gitar, santai dan menikmati hidupnya.
Maka agak aneh jika melihat pertemanan mereka; Jimin yang serius dan dinamis dengan Yoongi yang santai dan nyaris statis. Dia menikmati hidupnya seperti menyesap secangkir teh; perlahan dan menikmati tiap teguknya. Namun Jimin tipe yang akan langsung meneguknya sekaligus karena terburu-buru, tidak peduli jika lidahnya terbakar karenanya.
Jeongguk datang dari belakang dengan Yugyeom dan langsung berseru senang mendapatkan makanan kesukaannya. “Babi Bajang!” Serunya ceria, berlari seperti anak kecil ke meja dan mulai membongkar bungkusannya. “Trims, Jimin!”
“Ya, iya, kembali kasih.” Sahut Jimin setengah geli saat Jeongguk mulai membuka makanannya dengan ceria, dia bersiul-siul—seperti anak kecil yang mendapatkan robot-robotan baru.
Taehyung bangkit, menuju dapur untuk mengecek apakah para perempuan membutuhkan sesuatu. Mereka baru saja menyelesaikan tumisan sayuran yang sudah dihidangkan dan tempe serta tahu yang mulai diangkat. Aroma bawang putih yang mereka gunakan sebagai bumbu marinasi membuat Taehyung kelaparan, harum sekali.
Dia mendekat ke kompor, ke Momo yang sedang mengangkat potongan tempe hangat berwarna keemasan dari minyak panas yang mereka gunakan sementara Dahyun siap mencelupkan tempe-tempe mentah baru lagi setelahnya.
“Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya, menyeka kacamatanya saat Jeongguk datang—berdendang dengan babi merah di tangannya. Taehyung tersenyum. “Kau seperti bocah yang diberi permen.”
“Tidak, kami baik-baik saja.” Kata Momo mengangguk, “Tolong dicek nasinya, Tae. Apakah sudah matang? Dan bawa sayurnya ke meja makan.” Dia mengerling mangkuk di sisi kompor dan Taehyung bergegas mengambilnya.
Jeongguk mengambil piring di rak, melangkah ke meja makan dan mulai mengisinya dengan nasi pulen yang baru matang ditanak oleh Tzuyu. Taehyung menghampirinya, meletakkan sayur hangat di bawah tudung saji lalu duduk di sisinya saat Jeongguk mulai makan bagiannya sementara teman-temannya mempersiapkan makanan.
“Kau tidak bisa menunggu kami, ya?” Gerutu Dahyun saat dia membawa lauk ke meja makan sementara Momo memanggil semuanya untuk makan termasuk Namjoon, Seokjin dan Jimin.
“Hihak hisa,” sahut Jeongguk menggeleng serius dengan mulut penuh, mengunyah dengan semangat. Tidak bisa.
“Telan dulu,” kata Taehyung, tersenyum sayang lalu menyentuh rambutnya—menepuknya sayang sekali seraya mengamatinya makan, merasa kenyang hanya dengan menonton Jeongguk memindahkan isi piring ke mulutnya. Suapannya besar-besar dan lahap, dia nampak sangat senang dengan makanan kesukaannya.
“Kau suka?” Tanyanya saat Jeongguk menambah nasi di piringnya; di hadapan mereka, Seokjin sedang berdiskusi dengan Jimin—sesuatu tentang penyakit panleu yang sekarang sedang mewabah.
“Suka, sangat suka!” Desah Jeongguk senang dan menatap Taehyung dengan tatapan yang Taehyung yakin jika mereka hanya berdua, dia akan sungguh mencium Taehyung karena senang. “Terima kasih.”
“Sama-sama,” Taehyung tersenyum—senang jika Jeongguk senang.
Ajaibnya, selama Jimin-Yoongi-Seokjin berinteraksi, tidak ada seorang pun yang berani menggoda mereka secara terang-terangan seperti babon liar. Hanya bertatapan penuh arti, sesekali berdeham dan tertawa tanpa konteks. Taehyung yakin karena anak-anak belum mengenal Jimin dan karena raut wajahnya serius sekali maka tidak ada yang berani menggodanya.
“Jimin,” tanya Momo kemudian saat mereka bersantai di kursi karena jadwal mereka hari itu dikosongkan untuk fermentasi pakan yang ternyata hanya memakan setengah hari, memutuskan untuk memulai keributan hari itu. “Kau pacaran dengan siapa sekarang?”
“Sejak Taehyung meninggalkanku untuk bajingan Sastra Inggris?” Sahutnya dan Jeongguk tertawa keras, berbaring di tikar dengan perut buncit kekenyangan, berseru 'maaf, sob!' “Tidak ada. Kenapa memangnya? Kau ada kandidat?”
Momo tersenyum simpul, “Tidaaak,” sahutnya berdendang, mengecek kuku-kukuknya yang dipotong rapi. “Aku hanya bertanya, kok.” Dia kemudian melirik Taehyung yang berdeham keras, menyamarkan senyumannya.
“Kau dengan Kak Heechul bagaimana?” Tanya Jimin sama sekali mengabaikan atmosfer penuh godaan yang dilemparkan Momo ke udara dan Jeongguk menatapnya dengan mulut terbuka dan wajah heran yang menggemaskan.
“Dia... tidak peka sama sekali?” Bisiknya pada Taehyung yang sejak tadi menggunakan perutnya sebagai kantung tinju. “Aduh, jangan keras-keras nanti aku muntah!” Keluhnya.
“Dia memang payah, makanya jomlo.” Sahut Taehyung tertawa lalu menepuk perut Jeongguk sayang, mencubitnya lalu melepaskannya—terkekeh sendiri karena lemaknya yang bergerak.
“Baik,” Momo tertawa dan Tzuyu di sisinya menggaruk pelipis untuk menyamarkan betapa herannya dia karena Jimin sama sekali tidak menyadari godaan Momo. “Memangnya lelaki seperti apa yang kauinginkan?”
Jimin mendongak, “Memangnya kenapa? Kalian punya kandidat?”
“Yoongi.” Sahut Yugyeom tegas, mengangguk serius hingga Yoongi mengernyit kaget, mendongak dari gitarnya. Yugyeom mengedikkan bahunya kalem, memasang wajah bayinya yang tidak bersalah; ekspresi yang selalu berhasil membuat semuanya luluh. “Aku hanya memberi saran.”
“Yoongi?” Ulang Jimin tertawa, “Tidak, tidak, dia bukan tipeku.” Katanya lalu tertawa bersama Yoongi yang tersenyum lebar; mereka bertukar tos akrab itu lagi hingga Taehyung yakin mereka sama sekali tidak punya perasaan semacam itu.
Mereka nambak akrab dan sangat dekat, tapi bukan seperti kedekatan yang dimilikinya dengan Jeongguk. Mereka berteman, itu pasti. Dia melirik Seokjin dan Namjoon yang sedang berdiskusi, tidak bergabung dengan obrolan mereka. Keduanya akan menginap lagi malam ini karena lelah mengemudi Yogyakarta-Gunung Kidul serta ada janji dengan warga sore ini untuk mengecek seekor kambing yang akan melahirkan namun kepala anaknya tersangkut di jalur lahirnya sehingga Seokjin harus membedahnya.
Taehyung berbisik pada Jeongguk yang menguap, kekenyangan dan mengantuk sambil menonton kartun di televisi yang gerimis. “Menurutmu Seokjin cemburu tidak?” Tanyanya.
Jeongguk mengangkat lehernya sedikit, menoleh ke arah Jimin yang sedang mengobrol akrab dengan Yoongi serta kedua dokter hewan yang juga sedang berdiskusi. “Jika dia cemburu, maka dia menyembunyikannya dengan luar biasa baik.”
Taehyung mengamati kedua pasangan itu, mengerutkan alis kenapa keduanya tidak bersikap sesuai dengan yang diharapkannya? Kemudian dia dan Jeongguk memutuskan mungkin mereka gagal dalam menciptakan pasangan baru dan menyerah saja.
Dia mendapatkan jawabannya saat Jimin pamit pulang pada mereka semua beberapa saat setelah Asar karena tidak mau tiba di Yogyakarta terlalu sore. Dia berpamitan pada semuanya, diantar naik oleh Taehyung yang mendapati Namjoon berdiri di depan pintu menunggunya.
“Hai, Kak.” Sapanya, “Kau akan berangkat ke rumah warga? Kau bisa gunakan motor Jeongguk.” Tambahnya, meraih kunci motor yang diletakkan di meja depan dan menyerahkannya ke Namjoon yang berdiri di teras dengan tas peralatan dokternya.
Namjoon menerima kunci itu, sejenak nampak rikuh sebelum memberanikan diri bertanya, “Tae?”
“Ya?”
Dia menyugar rambutnya, berdeham kikuk. “Apakah Jimin dan Yoongi dekat? Maksudku, dekat?”
Taehyung nyaris tertawa, namun dia berhasil menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun dan menahan nada suaranya tetap stabil saat menjawab, “Kakak dengar sendiri kata-katanya tadi. Lagi pula, bukannya Yoongi dengan Kak Seokjin?”
Namjoon terkekeh, “Itu dia.” Katanya kemudian, sekarang nampak rileks karena topik obrolan tidak lagi mengarah padanya. “Kata Kak Seokjin juga mereka sudah sering mengobrol dan berkirim pesan. Tapi interaksi Yoongi dengan Jimin tadi membuatnya sedikit cemas.”
Taehyung mencubit pahanya sendiri, agar tidak tertawa karena Jeongguk benar; dia menyembunyikan emosinya dengan sangat baik. Menakjubkan. “Tenang saja, Jimin itu anaknya tidak peka. Jika Kakak ingin mendekatinya, Kakak harus menunjukkan tekad yang serius jangan sampai disalahartikan menjadi keinginan untuk berteman. Kau bisa terjebak friendzone selamanya.”
“Oh, baiklah.” Kata Namjoon seketika lalu mengerjap, menyadari kesalahannya namun terlambat, Taehyung sudah mendapatkan jawabannya. “Eh, bukan! Anu, maksudku, aku tidak—!”
Taehyung tersenyum lebar. “Got you.” Katanya dan Namjoon mendesah keras, “Nanti akan kutanyakan padanya apakah aku boleh memberikan nomornya padamu, ya, Kak. Sana, periksa kambingnya!”
Taehyung mendengus puas saat mengirim kedua dokter hewan itu pergi dengan senyuman lebar di bibir mereka karena dua sasaran hati mereka ternyata tidak saling menyukai satu sama lain. Mereka masih memiliki kesempatan.
Dia masuk ke dalam setelah keduanya berlalu ke rumah warga yang terletak jauh di bawah Masjid, mengecek kambing malang yang belum bisa melahirkan sejak semalam. Menemukan Yugyeom sedang berada di singgasana agung dengan sinyal XL terkuat, mengecek grup kormadus.
“Besok kita evaluasi mingguan ke pondokan di bawah, ya.” Katanya kemudian. “Berangkat setelah Asar, sekitar jam setengah empat. Lokasinya sudah ada padaku, lumayan jauh tapi seharusnya tidak terlalu jauh juga.” Tambahnya membingungkan, namun tidak ada yang menanggapinya. Dia kemudian meletakkan ponselnya lagi di meja.
Semua teman-temannya mengangguk. Taehyung bergegas menghampiri Jeongguk yang sedang duduk di pintu samping, merokok dan duduk di sisinya. Meraih kotak rokoknya dan menyalakan sebatang.
“Apa yang dikatakan Namjoon tadi?” Tanyanya seraya menghembuskan asap rokoknya keluar.
“Menanyakan Jimin.” Taehyung tertawa kecil, menghembuskan asap rokok pertamanya lalu mematikan pematik Jeongguk—mengembalikan ke tempatnya. “Ternyata semua sesuai dengan rencana.”
Jeongguk terkekeh, asap rokok menghambur dari bibirnya dan menaungi wajahnya sejenak dengan warna putih sebelum kembali jelas. “Kau hobi menjodoh-jodohkan orang, ya?”
“Kenapa?” Balas Taehyung, menyesap rokoknya khidmat. “Kau mau kujodohkan dengan siapa?” Dia menatap Jeongguk dengan satu alis terangkat.
“Denganmu saja, bagaimana?”
“Menggelikan.”
“Coba katakan itu padaku saat kau mendesah di atasku.”
Taehyung menyerigai lalu mengulurkan tangannya dan menyentil hidung Jeongguk yang bangir. “Jangan membawa itu di sini. Nanti susah.”
Jeongguk tertawa serak dan parau, “Siapa yang susah?”
“Diam.”
“Bukan salahku jika kau mudah sekali digoda.”
“Diam.”
“Very well, My Lord.”
“Oh! Demi Tuhan!”
Jeongguk tertawa, “Kenapa? Kau suka itu, 'kan?”
Taehyung menonjok lengannya hingga Jeongguk mengaduh kecil, menyelipkan rokoknya di mulut lalu mengusap lengan atasnya yang sakit. “Diam.”
“Sakit,” keluhnya, memberengut hingga Taehyung akhirnya mengusap lengannya yang tadi dipukulnya sebagai permohonan maaf. “Begitu, dong.” Kata Jeongguk, memasang wajah memelasnya yang menggemaskan hingga Taehyung ingin memeluknya. “Aku disayang, jangan disakiti.”
“Nanti ada saatnya ketika aku akan menyayangimu dari ujung kepala sampai ujung kaki,” bisik Taehyung parau, membelai lengan atas Jeongguk hingga pemuda itu bergidik. “Akan kuciumi badanmu dari atas hingga bawah. Cukup?”
“Diam.” Gerutu Jeongguk, “Kau membuat asetku menderita.”
Taehyung menaikkan sebelah alisnya lalu menggerakkan lidahnya di dalam mulutnya sedemikian rupa seolah dia sedang memberikan blowjob paling luar biasa yang membuat Jeongguk mendesis. “Bukan salahku jika kau mudah sekali digoda.” Sahutnya dengan suara alfanya yang bergetar oleh dominasi.
“Kau sungguh beracun.” Keluh Jeongguk dan Taehyung tertawa parau.
Senang, berhasil membalaskan dendamnya.