Kuliah, Kerja, Nyantai / 116
note. mulai dari sini, semuanya kembali fiksi, ya! <3
Taehyung melepaskan helmnya, menyugar rambutnya yang agak lembab karena mengenakan helm sepanjang perjalanan menembus lalu lintas dan panasnya Ring Road Utara sebelum menyangkutkannya di spion. Dia bisa saja bermalas-malasan seharian di kosan karena belum memiliki jadwal bimbingan—dosennya salah satu dosen doktor yang sibuk sekali, maka bimbingan Taehyung agak sulit.
Lagi pula, sebenarnya ini masih suasana liburan semester. Jika saja dosen pembimbing Jeongguk tidak harus segera pindah ke Amerika, Jeongguk juga pasti sedang bermalas-malasan karena mereka berdua benar-benar menghabiskan semua gairah yang mereka pendam selama tiga puluh hari kemarin.
Jimin sampai mengiriminya pesan, Rendahkan suara desahanmu, Bodoh! karena kamarnya berada di seberang kamar Taehyung.
Jeongguk tidak masalah dengan kegemaran Taehyung pada discipline dan memainkan perannya sebagai submissive dengan sangat gemilang. Taehyung benar-benar ingin mengantongi Jeongguk, mendekapnya erat ke jantungnya karena betapa fluid-nya lelaki itu mengikuti selera Taehyung.
“Kau juga luar biasa, kok.” Katanya mengantuk, membelai lengan atas Taehyung malas malam itu. Dan Taehyung mengecup keningnya sayang dan Jeongguk tersenyum senang dengan mata terpejam, sebelum mendekapnya hingga mereka terlelap.
Dia mencabut kunci dari lubangnya dan menyempatkan diri melirik dirinya di spion, merapikan rambutnya sebelum menuruni motornya. Melepas jaketnya, dia kemudian melangkah dari parkiran Kampus Mrican seraya menyelipkan kunci motornya di saku. Dia meraih ponselnya saat melompati jajaran tanaman hias yang membatasi tempat parkir dan jalan masuk kampus untuk mengecek lokasi Jeongguk.
Dia tidak terlalu familier dengan Kampus Mrican, terlalu memusingkan karena dia berkuliah di Kampus Paingan. Tapi jika hanya harus mencari lokasi Jeongguk sepertinya dia bisa. Dia menaiki undakan di teras depan, melewati anak-anak yang duduk bergerombol di tangga dan memasuki pintu ganda kaca yang terbuka.
Dia tiba di hall depan kampus, sejenak kelimpungan hingga seseorang memanggil namanya dari arah kanannya, lorong perkuliahan Sastra.
“Tae! Di sini!”
Dia menoleh, menemukan Jeongguk duduk di depan ruang dosen dengan kaki diselonjorkan dan merokok padahal jelas di sana ada larangan merokok terpasang di dinding di seberangnya. Taehyung tersenyum, senang tidak harus berdiri kebingungan di tengah hall dan bergegas membelok ke lorong kanan menghampiri Jeongguk.
Dia menelusuri lorong pendek Sastra yang lenggang karena memang mahasiswa rata-rata masih menikmati masa libur mereka untuk menghampiri Jeongguk yang nyengir menyambutnya—senang melihat Taehyung di sekitarnya.
“Di sini dilarang merokok, Bung.” Katanya saat duduk di seberang Jeongguk dan mereka bertukar high-five hangat yang jadi kebiasaan mereka. Taehyung mengusap punggung tangan Jeongguk sayang, bohong jika dibilang Taehyung tidak merindukan terbangun di sisi Jeongguk yang mendengkur atau mendekap tubuhnya yang hangat seperti kemarin.
Dia benar-benar terbiasa dengan aroma, napas, dan dengkuran Jeongguk dalam tidurnya dan jengkel karena dia harus tidur sendirian mulai sekarang.
Jeongguk menghembuskan asap rokoknya, melirik tanda itu dengan mengejek dan Taehyung terkekeh. “Oh, iya.” Katanya kalem, tapi lanjut merokok. “Aku sedang menunggu dosenku, beliau belum ke kampus.” Dia merogoh tasnya, mengeluarkan kotak rokok tapi Taehyung menggeleng.
Dia membawa rokoknya sendiri. Merek rokok mereka sama, tapi Taehyung lebih suka merokok dari miliknya sendiri alih-alih mengambil punya orang. Beda kasusnya saat mereka KKN karena mendapatkan Marlboro di antah-berantah sangat sulit maka mereka harus berhemat.
Taehyung meraih sebatang, menyelipkannya ke bibirnya. Jeongguk menjentikkan pematiknya, mengarahkan apinya ke rokok Taehyung dan pemuda itu tersenyum, menyalakan rokoknya dari api yang diberikan Jeongguk.
“Memangnya,” katanya menghembuskan asap pertamanya sementara Jeongguk menyimpan korek apinya lagi. “Kau dan dosenmu janji bertemu pukul berapa?”
“Pukul 9,” Jeongguk melirik jam tangan di pergelangan tangannya dan Taehyung melakukan hal yang sama—baru setengah sembilan. “Aku datang pagi sekalian mencetak draft Bab 4 karena takut antrian panjang di fotokopian, ternyata sepi. Ya sudah. Lebih baik menunggu daripada terlambat.”
Taehyung menoleh ke plastik di sisi Jeongguk yang terisi draft skripsinya. Dia meraih benda itu dan Jeongguk membiarkannya. Taehyung tidak jago bahasa Inggris, tapi dia ingin tahu apa yang mahasiswa jurusan Sastra Inggris pelajari. Dia menarik keluar draft Jeongguk dan mengecek judulnya:
Superego Malfunction in Sherlock Holmes and John Watson's contributions in SHERLOCK TV Series BBC Season 1
Taehyung mengerjap, mencoba menguraikan hal apa yang akan dibicarakan Jeongguk dengan judul itu dan Jeongguk terkekeh, “Kau tidak paham, ya?” Tanyanya.
Taehyung menggeleng, membuka halamannya dan membaca pendahuluannya yang semuanya menggunakan bahasa Inggris—tentu saja. Dia hanya paham sepersekian persen isinya karena Jeongguk menggunakan bahasa Inggris ilmiah formal yang jarang didengarnya sehari-hari.
“Intinya, kau membahas apa?” Tanya Taehyung kemudian, menyerah mencoba membaca isi skripsi Jeongguk.
Jeongguk terkekeh, dia meraih draft-nya lalu membuka Tinjauan Pustaka. Membolak-balik beberapa halaman, dia menunjukkan sebuah diagram lingkaran tentang ID-EGO-SUPEREGO terkenal milik Sigmund Freud. Bahkan seseorang yang tidak mempelajari psikologi pun tahu teori itu, apalagi Taehyung yang sahabatnya adalah anak Psikologi.
“Itu psikologi, 'kan? Kenapa anak Sastra Inggris menganalisis psikologi?” Tanyanya, menyadari diagram itu dari buku-buku Jimin.
“Kau pikir Sastra hanya terbatas karakter, karakterisasi, alur, dan latar?” Jeongguk tertawa kecil. “Kami mempelajari banyak hal. Sejarah, psikoanalisis—seperti yang sedang kulakukan, gender dalam literatur, kolonialisme, rasisme, feminisme, sosial-realisme, modernisme, film. Banyak sekali.”
Taehyung mengernyit, “Baiklah. Baiklah. Cukup.”
Jeongguk tertawa. “Aku menganalisis bagian mana yang mendominasi dari karakter Sherlock Holmes yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch. Jadi studiku,” dia membalik halaman lagi, menunjukkan tulisan Film Theory.
“Tidak hanya secara studi pustaka dari script-nya, aku juga mempelajari bagaimana Benedict mengeksekusi naskahnya di depan kamera sebagai data tambahan karena kata dosenku—” dia kemudian menoleh ke arah hall dan terkesiap, bergegas mematikan rokoknya. “Sebentar, dosenku datang.”
Taehyung mengerjap, mendongak saat Jeongguk berdiri dan menoleh. Menemukan seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di atas bibir kirinya tersenyum ramah pada mereka. Dia mengenakan terusan berwarna jingga penuh pola floral yang menggemaskan dengan sweter rajutan.
“Maaf, Jeongguk.” Katanya mengibaskan rambutnya yang tergerai. “Menunggu lama, ya? Sebentar. Nanti jika saya sudah siap saya panggil, ya?” Dia membuka kantornya dengan suara kunci keras lalu melirik Taehyung. “Dilarang merokok, ya, Mas, di sini.” Dia tersenyum.
“Oh, iya!” Taehyung terkesiap, langsung bergegas mematikan rokoknya juga. Dia mengangguk, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Maaf, Miss.” Katanya sopan dan Jeongguk terkekeh.
Dosen Jeongguk tersenyum, mengangguk kalem lalu menoleh pada Jeongguk lagi. “Sebentar, ya, Gguk.” Dia lalu memasuki ruangannya dan menutup pintunya—meminta Jeongguk menunggu sebentar lagi.
Taehyung tertawa, antara malu dan kaget karena ditegur dosen merokok di wilayah bebas asap rokok sementara Jeongguk kembali duduk di hadapannya. Nyengir.
“Aku tadi mematikan rokokku, kupikir kau menirunya. Bodoh.” Katanya dan Taehyung tertawa, membuang puntung rokoknya yang syukurnya sudah mulai habis karena Marlboro memang semenyebalkan itu.
“Aku lupa!” Katanya terkekeh, menyugar rambutnya lalu mengulurkan tangan ke tato Jeongguk yang beada di lengan bawahnya—mengikuti garis geometrisnya dengan telunjuk. “Kau akan menambah tato di mana hari ini?”
Jeongguk tersenyum lebar, cerah dan superior hingga Taehyung menahan napas karena dia nampak sangat indah saat tersenyum. Dia benar-benar jatuh cinta pada bajingan bermulut besar ini. Jeongguk menyugar rambutnya, mengikat setengah agar tidak menjuntai ke keningnya, baru saja membuka mulut untuk bicara saat pintu ruangan dosen tadi terbuka.
“Jeongguk? Ready?”
Keduanya menoleh dan Jeongguk mengangguk, “Ready, Ma'am.” Dia bergegas bangkit dan dosennya membiarkan pintu terbuka untuk dia masuk. “Sebentar, ya?” Katanya pada Taehyung yang mengangguk.
Dia menatap Jeongguk yang memasuki ruangan dosennya lalu menutup pintu di belakangnya. Taehyung menunggu di sana, di pinggiran lorong kampus yang sama sekali asing untuknya sementara Jeongguk berkonsultasi dengan dosennya. Menikmati semilir angin dari taman Sastra yang rindang, mengamati mahasiswa-mahasiswa aktif yang datang ke kampus saat libur entah urusan skripsi atau hanya sekadar menggunakan fasilitas wifi kampus.
Taehyung menoleh ke lorong, iseng saja. Dan menemukan seorang mahasiswa berlari dengan tiga buah skripsi yang sudah dijilid—nampak sedikit panik. Anak rambut di keningnya memantul-mantul saat dia berlari. Taehyung menyadari dia akan mendaftar ujian, akan menyerahkan ketiga copian skripsinya ke Sekretariat untuk menunggu jadwal sidang. Berarti dia bisa jadi kakak tingkat.
Mahasiswa itu nampak tidak asing bagi Taehyung—atau mungkin dia kelewat tampan dan sangat memancarkan cahaya hingga dia merasa dia mengenalnya? Seperti seorang artis, dia memancarkan kharisma. Terlihat seperti anak ceria yang suka tertawa, badut dari setiap kelompok. Hal yang tidak bisa Taehyung lakukan. Dia nampak sangat menarik hanya dengan diam; rambutnya diikat di atas tengkuknya, dia mengenakan kaus dengan kemeja flanel sebagai luarannya.
Dia berhenti di depan pintu ruangan dosen, mengetuknya dua kali sebagai tanda permisi dan meraih gagangnya, hendak mendorongnya terbuka saat seseorang dari ujung lorong yang berlawanan memanggilnya—atau setidaknya, Taehyung pikir itu namanya karena pemuda itu berhenti.
“Jonathan, mencari saya?”
Mahasiswa itu mendesah, “Pak Hir, ya. Saya mau minta tanda tangan, Pak, mau mendaftar sidang.” Dia meringis pada dosen paruh baya yang sekarang tersenyum, rambutnya keperakan. Dia berhenti di sisi mahasiswa itu dan mengecek skripsinya.
“Oke, ayo masuk. Sudah siapkan semua berkasnya?” Tanyanya seraya mendorong pintu dan Jonathan, si mahasiswa mengekornya seraya mengangguk—senyumannya cerah sekali, menarik dan nyaris mengundang.
Taehyung mengerjap saat punggungnya lenyap, menyadari dia telah mengamati orang asing dengan tidak sopan. Dia kemudian memalingkan wajahnya, merogoh tasnya untuk mengeluarkan earbuds dan mulai mendengarkan lagu seraya menyandarkan diri di dinding dan memejamkan mata.
Dia pasti setengah tertidur karena kemudian Jeongguk harus mengguncangkan tubuhnya dan dia terkesiap, setengah terkejut saat melepaskan sebelah earbuds-nya dengan panik. Dia mendongak, menatap Jeongguk yang terkekeh.
“Ayo, kau mau makan siang? Aku sudah selesai.”
Taehyung bangkit dan menoleh, menemukan mahasiswa tadi sekarang keluar dari Sekretariat dengan senyuman lebar menariknya lagi. Dan dia ternyata mengenal Jeongguk.
“Hai, Gguk!” Sapanya ramah, Jeongguk membalas senyumannya dengan sama hangatnya lalu mereka bertukar high-five akrab. “Bimbingan?”
“Hai, Kak!” Balas Jeongguk, meringis. “Ya, begitulah. Miss Arti sebentar lagi pindah ke Amerika, 'kan, jadi aku harus mengejar target. Kau?”
Anak itu, Jonathan, tersenyum—nampak senang. “Baru saja mendaftar sidang.”
Jeongguk mendesah iri dan Taehyung setuju, dia juga iri. “Kau memang tidak mau ditinggal sendirian oleh Kak R lama-lama, ya?” Komentarnya dan Jonathan terkekeh. “Aneh juga tidak melihat kalian mondar-mandir di lorong berdua lagi, seperti pusat alam semesta.”
Jonathan tertawa, “Omonganmu manis sekali, ya.” Katanya namun dia terlihat seperti sudah terbiasa mendapatkan pujian itu dan menghadapinya dengan sangat tenang.
“Topikmu apa, Kak?” Tanya Jeongguk kemudian.
“Ambivalence and hybridity in Safia Elhillo's the January children. Post-colonial study.” Sahutnya, “Dengan Pak Fajar, biasa.”
Jeongguk mengernyit dan Taehyung menyadari dosen ini pasti sesuatu karena mereka bertukar gestur yang mencurigakan. “Wow. Bisa lulus cepat juga dengannya, ya?”
“Bisa jika kau tidak lelah merong-rongnya dengan revisi.” Sahut Jonathan kalem lalu mengangguk ramah pada Taehyung. “Aku duluan, ya? Aku buru-buru harus mengantar R ke bandara. Bye, Gguk! Semoga cepat daftar sidang!” Dia kemudian bergegas melangkah, seraya melambai.
“Trims, Kak! Kabari aku sidangnya, aku akan menontonmu!” Sahut Jeongguk dan Jonathan melambai tertawa sebelum bergegas berlari ke parkiran mobil.
“Sastra Inggris memang gudangnya manusia-manusia indah,” komentar Taehyung sopan kemudian saat mereka melangkah ke parkiran. “Dia...,” Taehyung sejenak berhenti, berusaha memikirkan kata lain namun tidak menemukan kata yang tepat. Akhirnya pasrah, “Bersinar.”
Jeongguk terkekeh, mengangguk seolah memahami itu. “Baru pertama kali bertemu Jonathan, ya? Kau harus bertemu kekasihnya, Raditya. Dia seperti matahari, benar-benar indah dan bersinar. Mereka berdua, jika berjalan berdampingan akan membuat siapa saja berhenti untuk mengagumi mereka.”
Jeongguk menyelipkan kunci motor ke CBR Taehyung yang akan mereka gunakan sekarang. Dia sengaja ke kampus berjalan kaki karena tahu akan berangkat dengan Taehyung. Pemilik motornya masih berdiri di dekat motor, nampak bergulat dengan dirinya sendiri—hendak menanyakan hal yang menganggunya.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Taehyung, setengah cemburu karena Jeongguk memuji orang lain—dua orang lain di depan hidungnya. “Kau juga berhenti untuk mengaguminya?” Tanyanya dengan rahang mengencang.
Alis Jeongguk naik sebelah mendengarnya. “Hm, cemburu?” Tanyanya, menelengkan wajahnya dengan senyuman ceria di bibirnya—senang mendengar nada cemburu di kalimat Taehyung. “Percayalah, jika aku memang menyukai salah satu dari mereka, aku sudah jadi pacar mereka. Tapi tidak. Mereka terlalu... menyulitkan. Terlalu indah, tidak... manusiawi?” Dia mengedikkan bahu. “Mereka lebih mudah dikagumi saja.”
“Lagi pula, kau lebih luar biasa.” Tambahnya. “Ayo, gunakan nada alfa itu lagi padaku, aku suka sekali suara serakmu membelai kulit dan egoku.”
Taehyung teringat sensasi yang dirasakannya saat pertama kali melihat Jonathan melangkah di lorong dan setuju. Dia nampak tampan nyaris tidak manusiawi, seolah dia adalah.... keturunan dewa?
Taehyung terkekeh, geli pada jalan pikirannya sendiri. Mana ada hal seperti itu di dunia ini, Taehyung, pikirnya saat menaiki motornya di jok belakang. “Kita akan menuju seniman tatomu?”
Jeongguk mengangguk, melaju keluar dari parkiran untuk mengambil helmnya yang dititipkan di penjaga parkir. “Mau makan mie dokdok dulu tidak?” Tanyanya, berhenti di pos satpam. “Pak, helm saya.” Dia nyengir.
Satpam menelik jenaka lalu berpura-pura akan memukul kepalaya dengan senyuman lebar di kepalanya, sudah sangat akrab dengan Jeongguk. Dia beranjak ke dalam, mengambil helm Jeongguk.
“Nih.” Katanya, ramah dan hangat. “Hati-hati di jalan, ya.”
“Siap, Pak!” Jeongguk mengenakan helmnya lalu memasukkan gigi motor Taehyung, mengklakson satpam yang melambai ceria padanya. “Kau mau makan?”
Taehyung mengangguk. “Mau, mie dokdok oke.” Katanya. “Kau punya warmindo langganan yang enak?”
“Yep.” Katanya, mengoper gigi dengan suara tak! yang membuatnya berjengit. “Omong-omong, sepertinya rantai motormu terlalu kendur. Jangan lupa dibawa ke bengkel, nanti putus di jalan repot.”
Taehyung mendengarkan suara gemeretak rantai motornya dan menyadari apa yang dikatakan Jeongguk. “Kau benar. Sial.” Sahutnya menggerutu “Aku akan mengurusnya nanti. Sepertinya minta diganti karena baru kemarin aku mengencangkannya di bengkel.”
Jeongguk mengoper gigi lagi dan mereka berdua meringis saat mendengar suara tak! keras yang tidak normal disertai serangkaian suara gemeretak yang aneh. “Kau dengar sendiri,” katanya melirik Taehyung dari spion.
“Benar.” Gerutu Taehyung, dia benar-benar tidak mau terpaksa mendorong motor di tengah jalan karena rantainya putus maka dia mencatat besok pagi dia akan pergi ke AHAS untuk mengganti rantainya saja agar aman.
Mereka kemudian berhenti di sebuah warmino dekat kosan Jeongguk, ramai oleh mahasiswa dengan musik kekinian yang diputar terlalu keras untuk bercakap-cakap dengan nyaman. Jeongguk menunggu hingga Taehyung turun sebelum mematikan mesin dan memarkirnya.
Dia kemudian memimpin Taehyung masuk. “Kau mau mie dokdok?”
Taehyung mengangguk, mengambil sepotong tempe mendoan dingin yang lembek dan menyuapnya. Rasanya tidak seburuk penampilannya maka dia meraih dua potong lagi sebelum duduk di meja yang dipilihnya secara acak, menunggu Jeongguk memesan makanan mereka.
Jeongguk kembali ke mejanya, meletakkan bawaannya di atas meja sementara Taehyung menghabiskan gorengannya yang berminyak—secara ajaib menyukai rasanya yang lembek dan penuh minyak.
Jeongguk mengernyit melihatnya. “Kau seperti baru menenggak seliter minyak.” Komentarnya dan Taehyung terkekeh, merasakan bibirnya tebal oleh minyak dari gorengan tadi.
“Yah, begitulah. Tapi enak kok.” Dia meraih tisu di meja dan mengelap bibir dan tangannya. “Dan aku kelaparan.” Desahnya, mengusap perutnya—mulai melirik makanan dan mencoba mencari apakah ada makanan yang mengundangnya.
“Nanti kekenyangan sebelum makan,” tegur Jeongguk saat Taehyung bangkit, meraih bakwan yang nampak penuh sayuran.
“Kau meragukan perutku.” Balasnya, menjejalkan bakwan ke mulutnya dan mengunyahnya, meraih dua lagi sebelum duduk hingga seorang dari penjaga warmindo datang membawakannya piring.
Taehyung menerimanya dengan penuh syukur, mengisinya dengan gorengan lain dan Jeongguk akhirnya ikut mencomot sepotong tahu isi seraya menunggu makanan mereka.
“Jika aku ikut bertato,” tanya Taehyung kemudian, mengamati tato Jeongguk. Dia memikirkannya selama ini, mungkin bisa sekalian saat Jeongguk ke seniman tatonya. “Di mana sebaiknya agar tidak terlihat?”
Jeongguk mendongak dari kesibukannya memisahkan potongan wortel dari tahu isinya. “Kau akan bekerja kantoran tidak? Jika, ya. Sebaiknya jangan. Susah nanti.” Katanya dengan sabar menarik tiap helai wortel keluar dari dalam tahunya. “Tapi mungkin di tulang ekor tidak masalah.” Dia mengedikkan bahu.
“Kau ingin?” Tanyanya kemudian.
Taehyung mengangguk, menatap matanya dan tersenyum separuh hingga Jeongguk sejenak diam—berhenti memisahkan wortelnya karena terpesona pada keindahan senyuman Taehyung.
“Aku berencana meniru tatomu jika tidak keberatan? Kita akan punya tato kembar. Bagaimana menurutmu?”
*