eclairedelange

i write.

note. mulai dari sini, semuanya kembali fiksi, ya! <3


Taehyung melepaskan helmnya, menyugar rambutnya yang agak lembab karena mengenakan helm sepanjang perjalanan menembus lalu lintas dan panasnya Ring Road Utara sebelum menyangkutkannya di spion. Dia bisa saja bermalas-malasan seharian di kosan karena belum memiliki jadwal bimbingan—dosennya salah satu dosen doktor yang sibuk sekali, maka bimbingan Taehyung agak sulit.

Lagi pula, sebenarnya ini masih suasana liburan semester. Jika saja dosen pembimbing Jeongguk tidak harus segera pindah ke Amerika, Jeongguk juga pasti sedang bermalas-malasan karena mereka berdua benar-benar menghabiskan semua gairah yang mereka pendam selama tiga puluh hari kemarin.

Jimin sampai mengiriminya pesan, Rendahkan suara desahanmu, Bodoh! karena kamarnya berada di seberang kamar Taehyung.

Jeongguk tidak masalah dengan kegemaran Taehyung pada discipline dan memainkan perannya sebagai submissive dengan sangat gemilang. Taehyung benar-benar ingin mengantongi Jeongguk, mendekapnya erat ke jantungnya karena betapa fluid-nya lelaki itu mengikuti selera Taehyung.

“Kau juga luar biasa, kok.” Katanya mengantuk, membelai lengan atas Taehyung malas malam itu. Dan Taehyung mengecup keningnya sayang dan Jeongguk tersenyum senang dengan mata terpejam, sebelum mendekapnya hingga mereka terlelap.

Dia mencabut kunci dari lubangnya dan menyempatkan diri melirik dirinya di spion, merapikan rambutnya sebelum menuruni motornya. Melepas jaketnya, dia kemudian melangkah dari parkiran Kampus Mrican seraya menyelipkan kunci motornya di saku. Dia meraih ponselnya saat melompati jajaran tanaman hias yang membatasi tempat parkir dan jalan masuk kampus untuk mengecek lokasi Jeongguk.

Dia tidak terlalu familier dengan Kampus Mrican, terlalu memusingkan karena dia berkuliah di Kampus Paingan. Tapi jika hanya harus mencari lokasi Jeongguk sepertinya dia bisa. Dia menaiki undakan di teras depan, melewati anak-anak yang duduk bergerombol di tangga dan memasuki pintu ganda kaca yang terbuka.

Dia tiba di hall depan kampus, sejenak kelimpungan hingga seseorang memanggil namanya dari arah kanannya, lorong perkuliahan Sastra.

“Tae! Di sini!”

Dia menoleh, menemukan Jeongguk duduk di depan ruang dosen dengan kaki diselonjorkan dan merokok padahal jelas di sana ada larangan merokok terpasang di dinding di seberangnya. Taehyung tersenyum, senang tidak harus berdiri kebingungan di tengah hall dan bergegas membelok ke lorong kanan menghampiri Jeongguk.

Dia menelusuri lorong pendek Sastra yang lenggang karena memang mahasiswa rata-rata masih menikmati masa libur mereka untuk menghampiri Jeongguk yang nyengir menyambutnya—senang melihat Taehyung di sekitarnya.

“Di sini dilarang merokok, Bung.” Katanya saat duduk di seberang Jeongguk dan mereka bertukar high-five hangat yang jadi kebiasaan mereka. Taehyung mengusap punggung tangan Jeongguk sayang, bohong jika dibilang Taehyung tidak merindukan terbangun di sisi Jeongguk yang mendengkur atau mendekap tubuhnya yang hangat seperti kemarin.

Dia benar-benar terbiasa dengan aroma, napas, dan dengkuran Jeongguk dalam tidurnya dan jengkel karena dia harus tidur sendirian mulai sekarang.

Jeongguk menghembuskan asap rokoknya, melirik tanda itu dengan mengejek dan Taehyung terkekeh. “Oh, iya.” Katanya kalem, tapi lanjut merokok. “Aku sedang menunggu dosenku, beliau belum ke kampus.” Dia merogoh tasnya, mengeluarkan kotak rokok tapi Taehyung menggeleng.

Dia membawa rokoknya sendiri. Merek rokok mereka sama, tapi Taehyung lebih suka merokok dari miliknya sendiri alih-alih mengambil punya orang. Beda kasusnya saat mereka KKN karena mendapatkan Marlboro di antah-berantah sangat sulit maka mereka harus berhemat.

Taehyung meraih sebatang, menyelipkannya ke bibirnya. Jeongguk menjentikkan pematiknya, mengarahkan apinya ke rokok Taehyung dan pemuda itu tersenyum, menyalakan rokoknya dari api yang diberikan Jeongguk.

“Memangnya,” katanya menghembuskan asap pertamanya sementara Jeongguk menyimpan korek apinya lagi. “Kau dan dosenmu janji bertemu pukul berapa?”

“Pukul 9,” Jeongguk melirik jam tangan di pergelangan tangannya dan Taehyung melakukan hal yang sama—baru setengah sembilan. “Aku datang pagi sekalian mencetak draft Bab 4 karena takut antrian panjang di fotokopian, ternyata sepi. Ya sudah. Lebih baik menunggu daripada terlambat.”

Taehyung menoleh ke plastik di sisi Jeongguk yang terisi draft skripsinya. Dia meraih benda itu dan Jeongguk membiarkannya. Taehyung tidak jago bahasa Inggris, tapi dia ingin tahu apa yang mahasiswa jurusan Sastra Inggris pelajari. Dia menarik keluar draft Jeongguk dan mengecek judulnya:

Superego Malfunction in Sherlock Holmes and John Watson's contributions in SHERLOCK TV Series BBC Season 1

Taehyung mengerjap, mencoba menguraikan hal apa yang akan dibicarakan Jeongguk dengan judul itu dan Jeongguk terkekeh, “Kau tidak paham, ya?” Tanyanya.

Taehyung menggeleng, membuka halamannya dan membaca pendahuluannya yang semuanya menggunakan bahasa Inggris—tentu saja. Dia hanya paham sepersekian persen isinya karena Jeongguk menggunakan bahasa Inggris ilmiah formal yang jarang didengarnya sehari-hari.

“Intinya, kau membahas apa?” Tanya Taehyung kemudian, menyerah mencoba membaca isi skripsi Jeongguk.

Jeongguk terkekeh, dia meraih draft-nya lalu membuka Tinjauan Pustaka. Membolak-balik beberapa halaman, dia menunjukkan sebuah diagram lingkaran tentang ID-EGO-SUPEREGO terkenal milik Sigmund Freud. Bahkan seseorang yang tidak mempelajari psikologi pun tahu teori itu, apalagi Taehyung yang sahabatnya adalah anak Psikologi.

“Itu psikologi, 'kan? Kenapa anak Sastra Inggris menganalisis psikologi?” Tanyanya, menyadari diagram itu dari buku-buku Jimin.

“Kau pikir Sastra hanya terbatas karakter, karakterisasi, alur, dan latar?” Jeongguk tertawa kecil. “Kami mempelajari banyak hal. Sejarah, psikoanalisis—seperti yang sedang kulakukan, gender dalam literatur, kolonialisme, rasisme, feminisme, sosial-realisme, modernisme, film. Banyak sekali.”

Taehyung mengernyit, “Baiklah. Baiklah. Cukup.”

Jeongguk tertawa. “Aku menganalisis bagian mana yang mendominasi dari karakter Sherlock Holmes yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch. Jadi studiku,” dia membalik halaman lagi, menunjukkan tulisan Film Theory.

“Tidak hanya secara studi pustaka dari script-nya, aku juga mempelajari bagaimana Benedict mengeksekusi naskahnya di depan kamera sebagai data tambahan karena kata dosenku—” dia kemudian menoleh ke arah hall dan terkesiap, bergegas mematikan rokoknya. “Sebentar, dosenku datang.”

Taehyung mengerjap, mendongak saat Jeongguk berdiri dan menoleh. Menemukan seorang perempuan cantik dengan tahi lalat di atas bibir kirinya tersenyum ramah pada mereka. Dia mengenakan terusan berwarna jingga penuh pola floral yang menggemaskan dengan sweter rajutan.

“Maaf, Jeongguk.” Katanya mengibaskan rambutnya yang tergerai. “Menunggu lama, ya? Sebentar. Nanti jika saya sudah siap saya panggil, ya?” Dia membuka kantornya dengan suara kunci keras lalu melirik Taehyung. “Dilarang merokok, ya, Mas, di sini.” Dia tersenyum.

“Oh, iya!” Taehyung terkesiap, langsung bergegas mematikan rokoknya juga. Dia mengangguk, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Maaf, Miss.” Katanya sopan dan Jeongguk terkekeh.

Dosen Jeongguk tersenyum, mengangguk kalem lalu menoleh pada Jeongguk lagi. “Sebentar, ya, Gguk.” Dia lalu memasuki ruangannya dan menutup pintunya—meminta Jeongguk menunggu sebentar lagi.

Taehyung tertawa, antara malu dan kaget karena ditegur dosen merokok di wilayah bebas asap rokok sementara Jeongguk kembali duduk di hadapannya. Nyengir.

“Aku tadi mematikan rokokku, kupikir kau menirunya. Bodoh.” Katanya dan Taehyung tertawa, membuang puntung rokoknya yang syukurnya sudah mulai habis karena Marlboro memang semenyebalkan itu.

“Aku lupa!” Katanya terkekeh, menyugar rambutnya lalu mengulurkan tangan ke tato Jeongguk yang beada di lengan bawahnya—mengikuti garis geometrisnya dengan telunjuk. “Kau akan menambah tato di mana hari ini?”

Jeongguk tersenyum lebar, cerah dan superior hingga Taehyung menahan napas karena dia nampak sangat indah saat tersenyum. Dia benar-benar jatuh cinta pada bajingan bermulut besar ini. Jeongguk menyugar rambutnya, mengikat setengah agar tidak menjuntai ke keningnya, baru saja membuka mulut untuk bicara saat pintu ruangan dosen tadi terbuka.

“Jeongguk? Ready?”

Keduanya menoleh dan Jeongguk mengangguk, “Ready, Ma'am.” Dia bergegas bangkit dan dosennya membiarkan pintu terbuka untuk dia masuk. “Sebentar, ya?” Katanya pada Taehyung yang mengangguk.

Dia menatap Jeongguk yang memasuki ruangan dosennya lalu menutup pintu di belakangnya. Taehyung menunggu di sana, di pinggiran lorong kampus yang sama sekali asing untuknya sementara Jeongguk berkonsultasi dengan dosennya. Menikmati semilir angin dari taman Sastra yang rindang, mengamati mahasiswa-mahasiswa aktif yang datang ke kampus saat libur entah urusan skripsi atau hanya sekadar menggunakan fasilitas wifi kampus.

Taehyung menoleh ke lorong, iseng saja. Dan menemukan seorang mahasiswa berlari dengan tiga buah skripsi yang sudah dijilid—nampak sedikit panik. Anak rambut di keningnya memantul-mantul saat dia berlari. Taehyung menyadari dia akan mendaftar ujian, akan menyerahkan ketiga copian skripsinya ke Sekretariat untuk menunggu jadwal sidang. Berarti dia bisa jadi kakak tingkat.

Mahasiswa itu nampak tidak asing bagi Taehyung—atau mungkin dia kelewat tampan dan sangat memancarkan cahaya hingga dia merasa dia mengenalnya? Seperti seorang artis, dia memancarkan kharisma. Terlihat seperti anak ceria yang suka tertawa, badut dari setiap kelompok. Hal yang tidak bisa Taehyung lakukan. Dia nampak sangat menarik hanya dengan diam; rambutnya diikat di atas tengkuknya, dia mengenakan kaus dengan kemeja flanel sebagai luarannya.

Dia berhenti di depan pintu ruangan dosen, mengetuknya dua kali sebagai tanda permisi dan meraih gagangnya, hendak mendorongnya terbuka saat seseorang dari ujung lorong yang berlawanan memanggilnya—atau setidaknya, Taehyung pikir itu namanya karena pemuda itu berhenti.

“Jonathan, mencari saya?”

Mahasiswa itu mendesah, “Pak Hir, ya. Saya mau minta tanda tangan, Pak, mau mendaftar sidang.” Dia meringis pada dosen paruh baya yang sekarang tersenyum, rambutnya keperakan. Dia berhenti di sisi mahasiswa itu dan mengecek skripsinya.

“Oke, ayo masuk. Sudah siapkan semua berkasnya?” Tanyanya seraya mendorong pintu dan Jonathan, si mahasiswa mengekornya seraya mengangguk—senyumannya cerah sekali, menarik dan nyaris mengundang.

Taehyung mengerjap saat punggungnya lenyap, menyadari dia telah mengamati orang asing dengan tidak sopan. Dia kemudian memalingkan wajahnya, merogoh tasnya untuk mengeluarkan earbuds dan mulai mendengarkan lagu seraya menyandarkan diri di dinding dan memejamkan mata.

Dia pasti setengah tertidur karena kemudian Jeongguk harus mengguncangkan tubuhnya dan dia terkesiap, setengah terkejut saat melepaskan sebelah earbuds-nya dengan panik. Dia mendongak, menatap Jeongguk yang terkekeh.

“Ayo, kau mau makan siang? Aku sudah selesai.”

Taehyung bangkit dan menoleh, menemukan mahasiswa tadi sekarang keluar dari Sekretariat dengan senyuman lebar menariknya lagi. Dan dia ternyata mengenal Jeongguk.

“Hai, Gguk!” Sapanya ramah, Jeongguk membalas senyumannya dengan sama hangatnya lalu mereka bertukar high-five akrab. “Bimbingan?”

“Hai, Kak!” Balas Jeongguk, meringis. “Ya, begitulah. Miss Arti sebentar lagi pindah ke Amerika, 'kan, jadi aku harus mengejar target. Kau?”

Anak itu, Jonathan, tersenyum—nampak senang. “Baru saja mendaftar sidang.”

Jeongguk mendesah iri dan Taehyung setuju, dia juga iri. “Kau memang tidak mau ditinggal sendirian oleh Kak R lama-lama, ya?” Komentarnya dan Jonathan terkekeh. “Aneh juga tidak melihat kalian mondar-mandir di lorong berdua lagi, seperti pusat alam semesta.”

Jonathan tertawa, “Omonganmu manis sekali, ya.” Katanya namun dia terlihat seperti sudah terbiasa mendapatkan pujian itu dan menghadapinya dengan sangat tenang.

“Topikmu apa, Kak?” Tanya Jeongguk kemudian.

Ambivalence and hybridity in Safia Elhillo's the January children. Post-colonial study.” Sahutnya, “Dengan Pak Fajar, biasa.”

Jeongguk mengernyit dan Taehyung menyadari dosen ini pasti sesuatu karena mereka bertukar gestur yang mencurigakan. “Wow. Bisa lulus cepat juga dengannya, ya?”

“Bisa jika kau tidak lelah merong-rongnya dengan revisi.” Sahut Jonathan kalem lalu mengangguk ramah pada Taehyung. “Aku duluan, ya? Aku buru-buru harus mengantar R ke bandara. Bye, Gguk! Semoga cepat daftar sidang!” Dia kemudian bergegas melangkah, seraya melambai.

“Trims, Kak! Kabari aku sidangnya, aku akan menontonmu!” Sahut Jeongguk dan Jonathan melambai tertawa sebelum bergegas berlari ke parkiran mobil.

“Sastra Inggris memang gudangnya manusia-manusia indah,” komentar Taehyung sopan kemudian saat mereka melangkah ke parkiran. “Dia...,” Taehyung sejenak berhenti, berusaha memikirkan kata lain namun tidak menemukan kata yang tepat. Akhirnya pasrah, “Bersinar.”

Jeongguk terkekeh, mengangguk seolah memahami itu. “Baru pertama kali bertemu Jonathan, ya? Kau harus bertemu kekasihnya, Raditya. Dia seperti matahari, benar-benar indah dan bersinar. Mereka berdua, jika berjalan berdampingan akan membuat siapa saja berhenti untuk mengagumi mereka.”

Jeongguk menyelipkan kunci motor ke CBR Taehyung yang akan mereka gunakan sekarang. Dia sengaja ke kampus berjalan kaki karena tahu akan berangkat dengan Taehyung. Pemilik motornya masih berdiri di dekat motor, nampak bergulat dengan dirinya sendiri—hendak menanyakan hal yang menganggunya.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Taehyung, setengah cemburu karena Jeongguk memuji orang lain—dua orang lain di depan hidungnya. “Kau juga berhenti untuk mengaguminya?” Tanyanya dengan rahang mengencang.

Alis Jeongguk naik sebelah mendengarnya. “Hm, cemburu?” Tanyanya, menelengkan wajahnya dengan senyuman ceria di bibirnya—senang mendengar nada cemburu di kalimat Taehyung. “Percayalah, jika aku memang menyukai salah satu dari mereka, aku sudah jadi pacar mereka. Tapi tidak. Mereka terlalu... menyulitkan. Terlalu indah, tidak... manusiawi?” Dia mengedikkan bahu. “Mereka lebih mudah dikagumi saja.”

“Lagi pula, kau lebih luar biasa.” Tambahnya. “Ayo, gunakan nada alfa itu lagi padaku, aku suka sekali suara serakmu membelai kulit dan egoku.”

Taehyung teringat sensasi yang dirasakannya saat pertama kali melihat Jonathan melangkah di lorong dan setuju. Dia nampak tampan nyaris tidak manusiawi, seolah dia adalah.... keturunan dewa?

Taehyung terkekeh, geli pada jalan pikirannya sendiri. Mana ada hal seperti itu di dunia ini, Taehyung, pikirnya saat menaiki motornya di jok belakang. “Kita akan menuju seniman tatomu?”

Jeongguk mengangguk, melaju keluar dari parkiran untuk mengambil helmnya yang dititipkan di penjaga parkir. “Mau makan mie dokdok dulu tidak?” Tanyanya, berhenti di pos satpam. “Pak, helm saya.” Dia nyengir.

Satpam menelik jenaka lalu berpura-pura akan memukul kepalaya dengan senyuman lebar di kepalanya, sudah sangat akrab dengan Jeongguk. Dia beranjak ke dalam, mengambil helm Jeongguk.

“Nih.” Katanya, ramah dan hangat. “Hati-hati di jalan, ya.”

“Siap, Pak!” Jeongguk mengenakan helmnya lalu memasukkan gigi motor Taehyung, mengklakson satpam yang melambai ceria padanya. “Kau mau makan?”

Taehyung mengangguk. “Mau, mie dokdok oke.” Katanya. “Kau punya warmindo langganan yang enak?”

“Yep.” Katanya, mengoper gigi dengan suara tak! yang membuatnya berjengit. “Omong-omong, sepertinya rantai motormu terlalu kendur. Jangan lupa dibawa ke bengkel, nanti putus di jalan repot.”

Taehyung mendengarkan suara gemeretak rantai motornya dan menyadari apa yang dikatakan Jeongguk. “Kau benar. Sial.” Sahutnya menggerutu “Aku akan mengurusnya nanti. Sepertinya minta diganti karena baru kemarin aku mengencangkannya di bengkel.”

Jeongguk mengoper gigi lagi dan mereka berdua meringis saat mendengar suara tak! keras yang tidak normal disertai serangkaian suara gemeretak yang aneh. “Kau dengar sendiri,” katanya melirik Taehyung dari spion.

“Benar.” Gerutu Taehyung, dia benar-benar tidak mau terpaksa mendorong motor di tengah jalan karena rantainya putus maka dia mencatat besok pagi dia akan pergi ke AHAS untuk mengganti rantainya saja agar aman.

Mereka kemudian berhenti di sebuah warmino dekat kosan Jeongguk, ramai oleh mahasiswa dengan musik kekinian yang diputar terlalu keras untuk bercakap-cakap dengan nyaman. Jeongguk menunggu hingga Taehyung turun sebelum mematikan mesin dan memarkirnya.

Dia kemudian memimpin Taehyung masuk. “Kau mau mie dokdok?”

Taehyung mengangguk, mengambil sepotong tempe mendoan dingin yang lembek dan menyuapnya. Rasanya tidak seburuk penampilannya maka dia meraih dua potong lagi sebelum duduk di meja yang dipilihnya secara acak, menunggu Jeongguk memesan makanan mereka.

Jeongguk kembali ke mejanya, meletakkan bawaannya di atas meja sementara Taehyung menghabiskan gorengannya yang berminyak—secara ajaib menyukai rasanya yang lembek dan penuh minyak.

Jeongguk mengernyit melihatnya. “Kau seperti baru menenggak seliter minyak.” Komentarnya dan Taehyung terkekeh, merasakan bibirnya tebal oleh minyak dari gorengan tadi.

“Yah, begitulah. Tapi enak kok.” Dia meraih tisu di meja dan mengelap bibir dan tangannya. “Dan aku kelaparan.” Desahnya, mengusap perutnya—mulai melirik makanan dan mencoba mencari apakah ada makanan yang mengundangnya.

“Nanti kekenyangan sebelum makan,” tegur Jeongguk saat Taehyung bangkit, meraih bakwan yang nampak penuh sayuran.

“Kau meragukan perutku.” Balasnya, menjejalkan bakwan ke mulutnya dan mengunyahnya, meraih dua lagi sebelum duduk hingga seorang dari penjaga warmindo datang membawakannya piring.

Taehyung menerimanya dengan penuh syukur, mengisinya dengan gorengan lain dan Jeongguk akhirnya ikut mencomot sepotong tahu isi seraya menunggu makanan mereka.

“Jika aku ikut bertato,” tanya Taehyung kemudian, mengamati tato Jeongguk. Dia memikirkannya selama ini, mungkin bisa sekalian saat Jeongguk ke seniman tatonya. “Di mana sebaiknya agar tidak terlihat?”

Jeongguk mendongak dari kesibukannya memisahkan potongan wortel dari tahu isinya. “Kau akan bekerja kantoran tidak? Jika, ya. Sebaiknya jangan. Susah nanti.” Katanya dengan sabar menarik tiap helai wortel keluar dari dalam tahunya. “Tapi mungkin di tulang ekor tidak masalah.” Dia mengedikkan bahu.

“Kau ingin?” Tanyanya kemudian.

Taehyung mengangguk, menatap matanya dan tersenyum separuh hingga Jeongguk sejenak diam—berhenti memisahkan wortelnya karena terpesona pada keindahan senyuman Taehyung.

“Aku berencana meniru tatomu jika tidak keberatan? Kita akan punya tato kembar. Bagaimana menurutmu?”

*


Commission by @kookoomilktae

Premis. In world where people stop aging when they reach 18. They will start aging again once they met their fated soulmate. Taehyung is platonically moving in with his best friend, Jeongguk and has given up the idea of that soulmate-thing because he's fine with what he has now only to find that years later, they both have been growing old together.

Tags: kookv soulmate au, best friend to lover, pinning, hurt & comfort, unhealthy relationship in a way, open happy ending.

Song: Play – Jax Jones feat Years&Years


Un.

“Taehyung?”

Lelaki yang dipanggil mendongak dari kesibukannya membongkar kardus-kardus terisi barang-barang mereka yang dipindahkan dari apartemen lama mereka masing-masing ke ruangan baru yang lebih luas. Taehyung tidak pernah memikirkan bahwa hidup bersama sahabatnya dengan membayar masing-masing setengah uang sewa apartemen akan terasa menyenangkan karena dia punya ruangan yang lebih lapang sekarang.

Ruangan apartemen baru mereka sekarang dibanjiri cahaya; pintu kaca tinggi digeser terbuka, membiarkan angin dan cahaya matahari memasuki ruangan yang masih berantakan, membuat debu-debu berkilauan karena terbiaskan dalam pilar-pilar cahaya matahari. Aromanya seperti cat dinding, samar-samar masih memabukkan tapi Taehyung yakin seminggu dengan pintu terbuka akan melenyapkannya.

Sahabatnya, Jeongguk sedang duduk di sudut ruangan lain dengan kardus raksasanya yang terisi buku-buku Taehyung. Dia mengangkat satu buku, melambaikannya dengan cengiran di bibirnya.

“Kenapa buku itu?” Tanya Taehyung, berhenti membongkar barangnya dan menyandarkan tubuhnya di kardus di hadapannya.

“Aku tidak tahu kau masih menyimpan buku tahunan SMA kita,” Jeongguk terkekeh, membuka lembarannya dan Taehyung bergegas bangkit, bergabung dengannya untuk melihat isinya.

Jeongguk bergeser, memberikan tempat untuk Taehyung di sisinya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk yang sama sekali tidak berjengit karena hal itu sudah biasa dilakukan Taehyung hingga dia tidak lagi menyadarinya. Mereka tertawa kecil, membolak-balik halaman dan mencoba mengingat nama-nama dari wajah kecil dalam piksel pecah di halaman itu. Berdebat tentang siapa yang mereka ingat dan siapa yang tidak.

Taehyung teringat saat dua minggu lalu Jeongguk tiba-tiba menawarinya untuk pindah tinggal bersama. Dia mengatakan dia sudah menghitung biayanya dan menyadari bahwa itu jauh lebih hemat daripada tinggal di dua apartemen berbeda dengan pengeluaran sendiri-sendiri. Taehyung akhirnya setuju saat Jeongguk memberikannya tawaran apartemen yang letaknya dekat dengan kampusnya.

Mereka juga akan menggabungkan uang hidup mereka selama sebulan untuk berdua. Dari perhitungan yang Jeongguk presentasikan—dia bersikeras menggunakan kata itu pada Taehyung yang terkekeh, seharusnya mereka bisa hidup lebih hemat dengan memfokuskan pengeluaran mereka pada makanan murah porsi besar untuk berdua.

Taehyung juga suka konsep pulang kuliah dan menemukan seseorang di apartemen untuk menyambutnya. Mengajaknya makan, mengobrol dengannya, dan menemaninya mengerjakan tugas. Dan tidak ada orang lain yang bisa melakukannya sehebat Jeon Jeongguk yang selalu tahu kapan harus membawakan Taehyung susu stroberi dan sepiring soft baked cookies tiap kali Taehyung bergumul dengan tugasnya.

Jeongguk bekerja sebagai asisten gambar seorang kreator Webtoon yang sedang naik daun. Tidak seperti Taehyung yang melanjutkan untuk kuliah, dia berpuas diri dengan uang yang didapatkannya dengan bekerja sebagai freelancer dengan kemampuan gambar digitalnya. Namun dunianya mewajibkan Jeongguk terjaga di jam-jam yang tidak lazim, dia bisa tidak tidur seharian dan melepas Taehyung berangkat kuliah sebelum tertidur hingga sore menjelang petang.

Tapi uang yang didapatkannya lumayan, bahkan lebih dari uang yang Taehyung dapatkan dari orang tuanya. Sehingga Taehyung setuju untuk pindah, jika dia kehabisan uang dia bisa selalu mengandalkan pinjaman dari Jeongguk Bank.

Apartemen mereka terdiri atas satu ruang keluarga, satu dapur, satu ruang cuci kecil di balkon dan dua kamar. Jeongguk mempersilakan Taehyung menggunakan kamar utama yang lebih luas sementara dia menggunakan kamar kedua yang lebih kecil dengan jendela yang luas—Taehyung yang hendak protes, akhirnya setuju. Dia tahu Jeongguk lebih membutuhkan jendela itu untuk bekerja.

Hidupnya tidak pernah lepas dari Jeongguk. Dia selalu berotasi di sekitar Jeongguk, tidak pernah membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak ada Jeongguk hingga nyaris ke tahap tidak sehat. Dia juga tidak peduli ketika dia mencapai usia 18 tahun dan dia tidak menemukan soulmate-nya. Taehyung dan Jeongguk sudah memiliki satu sama lain, dengan atau tanpa soulmate, mereka akan baik-baik saja.

“Kau mau jajjangmyeon atau jjampong?” Tanya Jeongguk kemudian, hari menjelang sore dan mereka baru membereskan setengah dari barang-barang mereka. Kamar Taehyung sudah rapi dengan beberapa kardus pakaian di sudut.

Kamar Jeongguk bahkan sudah siap dihuni, dia sudah membereskan meja kerjanya—sudah memasang perangkat menggambar digitalnya di meja dan siap lembur malam ini mengejar tenggat waktu. Ruang tamu belum tersentuh, semua barang masih tumpang tindih namun mereka sudah lelah.

“Kita beli keduanya lalu makan bersama.” Taehyung nyengir dan Jeongguk terkekeh. “Aku juga ingin tangsuyuk.”

Jeongguk meraih ponselnya dan membuka apilikasi pesan-antar daring. Menekan gambar “mie” dan mulai mencari restoran yang menyediakan keduanya juga tangsuyuk. Dia memesan makanan lalu menunggu hingga pesanan dikonfirmasi restoran sebelum meletakkan ponselnya di sofa baru mereka.

Sambil menunggu pesanan, mereka membersihkan diri. Membiarkan semua barang-barang yang belum dibereskan menumpuk di ruang tamu sebelum mulai makan. Mereka akan membereskan sisanya besok karena malam ini Jeongguk punya 100 panel cerita yang harus diwarnai dan Taehyung punya esai 3,000 kata yang harus diselesaikan.


Deux.

”... ppy birthay to you, happy birthday to you...”

Jeongguk tersenyum dengan mata terpejam, menggeliat di kasurnya dan membuka sebelah matanya—sejenak mengerang karena cahaya yang terlalu terang mengiris pupilnya sebelum dia berhasil beradaptasi dengan ruangan kamarnya. Dia bangkit, setengah terduduk dengan wajah bengkak karena kurang tidur dan mata yang pedas.

Dia baru tidur pukul dua pagi dan ini pukul tujuh pagi. Jika bukan demi Taehyung yang harus berangkat kuliah, repot-repot menyiapkan kue kecil untuk ulang tahunnya hari ini dengan sebatang lilin mungil yang menancap di atasnya, Jeongguk tidak akan sudi membuka matanya.

Taehyung tersenyum lebar, indah sekali saat dia mendorong pintu kamar Jeongguk dengan bahunya karena kedua tangannya menggenggam piring terisi kue bulat mungil dengan lilin di atasnya, apinya bergoyang karena penyejuk ruangan Jeongguk sementara yang sedang berulang tahun sedang duduk di atas ranjang. Dia menguap geli, hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, selimut menumpuk di pangkuannya dan dia bisa merasakan rambutnya mencuat-cuat seperti jambul kakak tua dan mulutnya sepat.

Napasnya pasti bau sekali karena dia semalam mengerjakan panel komiknya sambil minum soda. Dan Taehyung beraroma lembut parfum dan sabun mandinya, sudah mengenakan kemeja rapi siap berangkat kuliah.

Dia duduk di ranjang, menyerahkan kuenya perlahan seraya menutupi api lilin agar tidak mati oleh penyejuk ruangan. “Happy birthday, dear Jeongguk,” dendangnya lirih, tersenyum lebar. “Happy birthday to you.”

Dia mengulurkan kue ke wajah Jeongguk, “Ayo, buat harapan dan tiup lilinnya.” Desaknya sementara Jeongguk menggaruk pelipisnya dan menyugar rambutnya—sedikit malu atas penampilannya.

“Napasku bau sekali, maaf.” Gumamnya parau dan Taehyung terkekeh.

“Tidak masalah.” Tambahnya. “Aku sudah pernah mengalami yang lebih buruk.” Dia menggoyangkan piringnya, api kecil di lilin bergoyang mengikuti gerakannya. “Ayo, cepat buat harapan. Nanti lilinnya meleleh.” Dia menutupi sisi lilin, mengangkatnya mendekat ke Jeongguk yang terkekeh parau.

Dia menatap Taehyung yang mengangguk semangat, mendesaknya. Matanya berbinar ceria, cahaya lilin yang mungil menari di bola matanya yang berkilauan dan Jeongguk merasa hatinya sesak oleh rasa kasih sayang yang dimilikinya untuk sahabatnya.

Dia memejamkan matanya, berharap dia akan selalu memiliki kebahagiaan dengan Kim Taehyung. Selalu berada di sisinya, selalu saling mendukung dan menyayangi. Dengan atau tanpa soulmate.

Jeongguk membuka matannya, membisikkan 'amin' kecil sebelum membuka mulutnya lalu menghembuskan napas ke api yang sejenak bergoyang melawan sebelum mati. Menyisakan segaris asap perak yang bergoyang lenyap oleh sapuan angin penyejuk ruangan.

“Horee!” Taehyung meletakkan kuenya di ranjang sebelum mengulurkan kedua lengannya—membenamkan dirinya pada tubuh Jeongguk yang hangat dan beraroma khas tempat tidurnya. Aroma nyaman yang membuat Taehyung mengantuk.

Jeongguk terkekeh di rambutnya, mengulurkan tangan untuk menyingkirkan kue di kasur agar tidak mengenai seprai atau selimutnya sebelum memeluk Taehyung erat—aroma tubuhnya selalu familier, nyaris tinggal di cuping hidungnya selamanya. Dia akan selalu mengenali aroma ini di mana pun dia berada.

“Trims atas kuenya,” katanya parau, masih sangat mengantuk tapi dia bisa menahannya setidaknya sampai Taehyung berangkat kuliah. “Kau tidak perlu repot-repot.”

Taehyung tertawa ceria, mengaitkan jemarinya di punggung Jeongguk yang bidang. “Tidak repot. Aku membelinya kemarin sepulang kuliah, menyelundupkannya masuk saat kau sibuk membungkuk di atas pekerjaanmu dan yakin kau tidak menyadari kehadiran kotaknya di kulkas, kusembunyikan di balik buah-buahan.”

Jeongguk memang tidak menyadarinya karena dia tidak terlalu memerhatikan isi rumah. Dia hanya ke kulkas mengambil buah dan soda, kembali ke kamarnya untuk bekerja. Kini dia menyadari kenapa Taehyung mengawasinya saat memasuki dapur, bertanya serius apa yang bisa diambilkannya untuk Jeongguk.

Dia ternyata menyembunyikan kue ulang tahun.

“Kau tidak menyadarinya.” Taehyung tertawa, senang bisa mengelabui Jeongguk yang biasanya setajam rubah tentang apa pun yang tidak sesuai di apartemen mereka. Namun karena tenggat waktu yang semakin dekat, saraf-sarafnya berubah selembek jeli.

“Baiklah, kau menang.” Dia mengusap rambut Taehyung lembut lalu menguap tertahan. “Tidakkah kau harus mengejar bus sekarang?”

Taehyung terkesiap, melirik jam tangannya dan mengumpat kecil hingga Jeongguk terkekeh. Dia bergegas bangkit, “Aku pergi kuliah dulu! Nanti malam aku yang beli makanan untuk ulang tahunmu!” Dia bergegas keluar dari kamar Jeongguk, berisik saat mengambil tas dan jaketnya.

Happy birthday, Jeongguk!” Serunya sebelum membanting pintu apartemen menutup dan meninggalkan Jeongguk yang tersenyum lebar—mengantuk, menatap kue di atas kasur.

Hatinya hangat—hangat sekali.


Trois.

Ada yang aneh.

Taehyung menyentuh wajahnya dengan telapak tangannya, merasakan kulitnya yang lembut dan kenyal. Dia menatap refleksi wajahnya di cermin malam itu sebelum tidur, menggunakan perawatan wajahnya yang dipaksakannya pada Jeongguk yang sejauh ini hanya setuju menggunakan pelembab, toner dan sabun wajah. Tidak sudi menggunakan serum dan segala macam lainnya.

Taehyung menyeka rambutnya, menguncirnya menjadi apple hair di puncak kepalanya agar anak rambutnya tidak mengganggunya mengaplikasikan pelbagai krim di hadapannya agar wajahnya tetap segar. Saat dia menyadari ada sesuatu yang aneh di wajahnya.

Dia nampak... menua.

Dia seharusnya tidak menua karena dia tidak bertemu dengan soulmate-nya. Kata ibunya, jika dia bertemu dengan soulmate-nya dia akan mendengar lonceng berbunyi di kepalanya, perasaan membuncah yang membuatnya sesak dan kepalanya terasa lepas oleh sensasi itu. Begitulah yang dirasakan ibunya saat bertemu ayahnya.

Dan Taehyung tidak pernah merasakannya hingga dia seharusnya berhenti menua di usia delapan belas tahun. Abadi hingga dia bertemu pasangan yang ditakdirkan untuknya, agar mereka menua bersama kemudian. Dan kenapa... kantung mata Taehyung nampak menghitam? Kenapa wajahnya... kusam?

Dia meraih krim kulitnya, mengerutkan alisnya. Apakah produk baru yang digunakannya tidak cocok untuknya? Padahal itu merek yang digunakannya sejak remaja, tidak pernah ada masalah. Dia meletakkan benda itu lagi di meja dan mendesah, mungkin karena dia kelelahan mengejar semua tugas kuliahnya yang menumpuk. Taehyung sering ketiduran di meja belajarnya, dengan lampu masih menyala dan musik mengalun menemaninya mengerjakan tugas.

Mungkin kebiasaan buruk itu yang sekarang mulai menunjukkan hasilnya. Taehyung mendesah keras, sedikit kesal saat menuang produk wajah ke telapak tangannya dan menepuk-nepukkannya lembut ke wajahnya yang halus. Dia harus mulai mengatur jam tidurnya lagi jika tidak mau kulitnya rusak.

“Taehyung! Pizanya sudah datang, ayo makan!”

Taehyung menoleh ke pintu yang terkuak sedikit, melihat Jeongguk melangkah masuk dengan boks piza hangat di tangannya sedang mencermati bon yang diserahkan pengantar tadi.

“Oke!” Balasnya. “Aku akan menyelesaikan ini sebentar. Tolong dihangatkan, ya! Apakah ayamnya sudah datang?”

Jeongguk melakukan sesuatu di dapur, berisik mempersiapkan makan malam mereka. “Oh, kau memesan ayam juga?” Tanyanya, setengah berteriak.

“Yep. Ppuring-ppuring dari BHC dan soda.” Sahut Taehyung, bergegas menyelesaikan ritual kecantikannya karena dia lapar—menatap wajahnya di cermin dan mencoba mengabaikan bagaimana kusam dan lusuh wajahnya nampak.

Bel berbunyi dari pintu depan dan dia tersenyum, menoleh dan melupakan sama sekali wajahnya yang kusam. “Nah, itu dia. Tolong diambil, Gguk!” Pintanya seraya bangkit dari kursinya dan merapikan piyama katunnya yang sejuk dan mengenakan sandal rumahnya.

Dia bergegas keluar, membuka pintu untuk mendapati Jeongguk berterima kasih ramah pada pengantar makanan dan masuk dengan sekotak ayam yang beraroma bubuk keju yang kuat. Taehyung mendesah saat menanda-nandak ke dapur untuk mulai makan bersama Jeongguk.

“Aku harus memperbaiki pola tidurku,” Taehyung meraih sepotong paha ayam dan menggigitnya sementara Jeongguk membuka botol soda mereka dan menuang ke dua gelas sedang. “Wajahku kelihatan kusam, ya?”

Jeongguk mendongak sejenak dari sodanya, menyapukan tatapan ke wajah Taehyung dengan mulut penuh makanan sebelum menggeleng—tegas. “Tidak, kau nampak baik-baik saja.” Tandasnya dan Taehyung tersenyum simpul.

Jeongguk selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Dia selalu tahu apa yang harus diucapkannya agar Taehyung merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Jeongguk memang manusia paling luar biasa yang pernah hadir di hidupnya.

“Tapi aku tetap harus memperbaiki jam tidurku.” Taehyung memisahkan tulang dari sayap ayam yang diambilnya, melepaskannya sebelum mencelupkannya ke saus yogurt yang asam-gurih.

“Setuju.” Jeongguk mengangguk, menyerahkan gelas soda milik Taehyung ke arahnya. “Apa saja yang membuatmu nyaman, oke? Jangan dipaksakan.” Dia menepuk tangan Taehyung di meja sebelum bangkit. “Apakah kita punya pickled radish?”

Taehyung mendesah, meraih kantung plastik ayam mereka dan menarik keluar kotak plastik terisi pickled radish teman makan ayam mereka. “Ini, Jagoan!” Dia melambaikan benda itu ke Jeongguk yang membuka kulkas. “Bagaimana bisa kau membeli ayam dan tidak mendapatkan pickled radish?”

Jeongguk tertawa, “Maaf! Aku tidak memerhatikan.” Dia bergegas kembali ke meja, meraih pickled radish kemasan itu dan membukanya sedikit dengan giginya, meneguk airnya yang asam agar tidak tumpah saat dibuka sebelum membuka semua segelnya agar mereka bisa makan.

Sejenak, pikiran tentang wajah Taehyung lenyap karena Jeongguk menceritakan Webtoon baru yang sedang dikerjakannya—tentang zombie apocalypse yang gambarnya penuh warna merah, hitam, biru tua dan hijau yang cepat membuat matanya lelah.


Quatre.

Happy birthday, Taehyung. Happy birthday to you.”

Taehyung tertawa saat mendapati Jeongguk berdiri di depan pintu masuk apartemen dengan topi kerucut bodoh di kepalanya dan kue kecil di tangannya, sebatang lilin menyala di atasnya. Dia bergegas menutup pintu di belakangnya dan memasuki ruangan.

Taehyung baru saja pulang kelas, terburu-buru pulang karena dia ingin merayakan ulang tahunnya dengan Jeongguk. Menolak semua tawaran minum dari kakak tingkatnya yang genit karena dia berjanji pada Jeongguk akan pulang awal hari ini. Dan dia senang dia melakukannya karena Jeongguk sudah membeli makanan, menyiapkan kue ulang tahun dan bahkan menyalakan lilin aromaterapi kesukaannya.

Ruangan beraroma lembut madu dan adas manis yang memabukkan, tapi dia suka sekali aroma pekat ini. Dia bergegas masuk, melepas sarung tangan, syal, dan topinya. Dia menggantung coat musim dinginnya di sisi pintu dan bergegas menghampiri Jeongguk seperti seekor kelinci yang melompat penasaran.

Dia tersenyum lebar, “Aku pikir kau lupa!”

Jeongguk terkekeh, “Mana mungkin aku lupa! Kau bodoh, ya?” Katanya lalu mengarahkan kue ke wajah Taehyung yang pucat karena dingin—apartemen yang hangat merambat ke kulitnya, membuat sisa hawa dingin yang diterjangnya tadi sebelum pulang mulai meleleh, mencair di kakinya.

“Ayo, buat harapan dan tiup lilinnya.” Jeongguk tersenyum hangat.

Taehyung menakupkan kedua tangannya di dada, memejamkan matanya dan membisikkan harapannya pada Semesta; dia ingin tetap berada di sisi Jeongguk selamanya, menghabiskan seluruh waktu dengannya dan berharap soulmate-nya tidak akan pernah muncul untuk merusak kebahagiaan yang digenggamnya sekarang.

Dia akan baik-baik saja selama Jeongguk bernapas di sisinya.

Taehyung membuka mata lalu meniup lilinnya hingga padam dan tersenyum lebar pada Jeongguk yang balas tersenyum lebar. Saat itulah mata Taehyung menangkapnya. Dia mengerjap, kebingungan seperti hamster kecil yang menelengkan wajahnya.

“Gguk...?” Bisiknya dan senyuman Jeongguk memudar saat mengamati ekspresi Taehyung. Dia mengulurkan tangan ke Jeongguk, ke keningnya dan menyentuh rambutnya. “Kau... punya uban?” Tanyanya dengan suara pecah.

“Apa?” Ulang Jeongguk, menyentakkan diri dari Taehyung dan bergegas ke cermin di lorong apartemen mereka yang kecil. Dia menyingkap rambut di keningnya, mencari uban yang ditemukan Taehyung.

Dia menemukannya. Satu rambut keperakan yang terbit di sela rambut hitamnya yang gondrong. Dia berhenti bernapas. Menatap nanar bayangannya sendiri di cermin sebelum melirik Taehyung yang menatapnya dari relfeksi cermin. Keduanya pucat pasi, kebingungan karena mereka tidak seharusnya beranjak tua.

Mereka belum menemukan pasangan mereka dan karenanya, mereka seharusnya abadi di usia delapan belas tahun. Dan rambut keperakan sama sekali bukan bagian dari keabadian itu. Jeongguk meraih rambut itu dengan jarinya, menariknya lepas dan menatapnya. Rambut perak itu berkilau di bawah sinar lampu apartemen mereka—menjadi teror di antara mereka berdua.

Taehyung membuka mulutnya, apakah.... “Kau sudah bertemu pasanganmu?” Tanyanya dengan suara pecah, gemetar. Bagaimana mungkin dia baru saja berharap dia akan selamanya bersama Jeongguk harus menghadapi kenyataan bahwa Jeongguk sebentar lagi mungkin akan pindah, hidup bersama pasangan takdirnya.

Seperti kisah romantis yang selalu dibaca Taehyung.

“Jangan bodoh!” Tukas Jeongguk, suaranya meninggi oleh stres dan dia membuang rambut itu sembarangan—tidak mau memikirkannya karena dia tidak mau dan tidak sudi berpisah dengan Taehyung demi pasangan takdir abadinya. “Aku tidak pernah bertemu siapa pun belakangan ini selain kau, editorku, dan komikus Webtoon!”

Taehyung gemetar. “Mungkin.... salah satu dari mereka?”

Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Jangan konyol!” Katanya, nyaris membentak karena frustrasi. “Tidak mungkin, tidak. Tidak.” Dia menggeleng tegas, menutup pembicaraan tentang uban itu sepenuhnya. “Ini ulang tahunmu.” Katanya, “Aku tidak akan merusaknya dengan pembicaraan sial tentang pasangan abadi konyol.”

“Kau... akan pindah hidup bersamanya jika nanti dia muncul?” Taehyung mencicit, meremas tangannya sendiri yang terasa dingin—kali ini bukan karena suhu. Parutnya melilit dan jantungnya berdebar kacau, memukul rusuknya dengan begitu kuat hingga dia sesak.

Akankah Jeongguk...? Melangkah pergi dari hidupnya seperti semua orang?

Jeongguk menatapnya, rahangnya kencang dan matanya berkilat oleh tekad yang mengerikan. “Taehyung.” Mulainya tegas, tak terbantahkan. “Bahkan jika aku harus memilih menyelamatkan populasi satu dunia atau dirimu, aku akan tetap milihmu.”

Matanya menatap langsung ke mata Taehyung, dengan tekad tak terbantahkan yang berkobar di matanya. Dia nampak sangat serius hingga Taehyung bergidik olehnya.

“Kau adalah pilihan pertama dan satu-satunya untukku, Taehyung. Ingat itu baik-baik.”


Cinq.

Jeongguk menatap wajahnya di cermin, rasa panik terbit dari dasar perutnya. Menyeruak hingga ke dadanya dan membuat paru-parunya mengerut, gagal mengembang sesuai tugasnya untuk menyuplai oksigen ke otaknya.

Dia menemukan uban baru di rambutnya. Rambut keperakan yang sekarang lebih panjang dan menyita perhatiannya. Bibirnya terkuak, gelisah. Sudah setahun berlalu sejak terakhir kali Taehyung menemukan uban pertama di kepalanya, pemuda itu sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang bekerja sebagai akunting di perusahaan besar tiga halte dari apartemen mereka.

Dia senang Taehyung tidak di apartemen saat dia menemukan ini. Dia mencabut uban itu, meletakkannya di tangannya yang dingin dan gemetaran di tengah puncak musim panas yang memaksanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, menurunkan suhu penyejuknya agar tidak terpanggang suhu.

Dia menua.

Jeongguk menua. Hal yang seharusnya tidak terjadi karena dia belum bertemu dengan pasangannya. Atau setidaknya, begitulah yang dipikirkannya. Jika dia bertemu dengan pasangannya, kata ayahnya, dia akan mendengar lonceng yang berdentang di kepalanya—perasaan senang membuncah yang membuatnya mabuk.

Dia selalu merasakannya tiap melihat Taehyung membuka pintu apartemen, pulang dengan makanan kemasan di tangannya untuk mereka makan dan apakah itu aneh? Tidak karena dia sangat menyayangi Taehyung, sahabatnya yang manis dan menyenangkan.

Jeongguk yakin dia tidak akan bisa mencintai siapa pun kecuali Taehyung. Namun sejauh ini, dia tidak pernah mendapatkan sinyal dari Taehyung bahwa dia ingin membawa persahabatan platonik mereka naik tingkat. Dan Jeongguk tidak pernah keberatan, dia baik-baik saja selama Taehyung berada di sisinya—melompat-lompat seperti anak anjing menggemaskan.

Apakah ini berarti dia sudah menemukan pasangannya? Tanpa dia sadari? Itulah mengapa dia menua?

Dia menyambar ponselnya, menekan nomor ibunya dan menggigit ibu jarinya saat nada sambung terdengar. Jeongguk bergerak gelisah di kamarnya, mengabaikan pekerjaannya yang terbengkalai karena perutnya melilit oleh rasa tegang tidak nyaman. Dia melirik jam dinding, satu jam lagi Taehyung pulang dia harus menyembunyikan semua ini.

Jeongguk?”

Jeongguk menghembuskan napasnya lega, “Ibu?” Sapanya. “Ibu, aku harus mengatakan sesuatu padamu.”

Ibunya tertawa serak, terbiasa menghadapi anaknya yang panik karena hal-hal kecil. “Baiklah, Jagoan. Apa itu?” Tanyanya lembut. “Haruskah Ibu panggilkan Ayah juga?”

Jeongguk bergegas menggeleng walaupun dia tahu ibunya takkan bisa melihatnya. “Tidak, tidak.” Katanya. “Aku hanya ingin mengatakan ini pada Ibu.” Dia kemudian menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan isi kepalanya.

Ayolah, Jeongguk! Kau sudah dua puluh tiga tahun!

Bagaimana kabar Taehyung? Kalian tinggal bersama, 'kan, sekarang? Ibu belum sempat menjenguk kalian lagi, ya? Besok akhir bulan Ibu akan mampir. Kalian mau jeruk?” Tanya ibunya, menenangkan Jeongguk dengan suaranya yang mendayu-dayu—seperti morfim yang disuntikkan ke pembuluh darahnya, seketika menghentikan semua rasa sakit yang sejak tadi mencengkeramnya.

“Baik,” Jeongguk mulai bernapas normal sekarang, mulai tenang saat dia duduk di ranjangnya yang berderit. “Kami semua baik. Dan, ya. Ibu boleh datang dengan jeruk. Dan kimchi.”

Ibunya tertawa ceria, “Baiklah. Kimchi.” Sahutnya sebelum kemudian bertanya, “Apa yang mengganggumu, Sayang?”

Jeongguk kemudian membuka mulutnya, membicarakan semuanya. Bagaimana selama ini dia stres mengerjakan tenggat waktu komiknya dan tidak pernah sedikit pun berpikir tubuhnya akan merespons stres itu dengan rambut perak. Dia mulai merasa wajahnya kusam—dia menua. Dia yakin dia menua. Dia tidak lagi sesegar saat dia berusia delapan belas sebagaimana dia seharusnya merasa karena dia belum bertemu pasangan takdirnya.

Dia merasa punggungnya sakit, dia merasa cepat lelah—hal-hal yang seharusnya tidak dialaminya seberapa keras pun dia bergerak karena dia secara teknis seharusnya abadi di usia delapan belas. Dan kenapa dia sekarang mulai menua? Tentu karena dia bertemu pasangan takdirnya, sehingga usianya mulai kembali bertambah secara otomatis.

Dan dia tidak bertemu siapa pun selain Taehyung, editornya dan komikus yang diajaknya bekerja. Tidak ada siapa pun yang memberikannya dentang lonceng dan perasaan bahagia membuncah selain saat editornya memberi tahu pekerjaannya sudah sempurna dan bayarannya baru cair.

Ibunya sejenak diam sebelum tersenyum dan Jeongguk bisa mendengar senyumannya yang perlahan merekah perlahan di bibirnya. “Jeongguk,” panggilnya hangat dan lembut.

Sayang, pernahkah kau memikirkan Taehyung?” Tanyanya. “Memikirkannya sebagai seorang kekasih alih-alih sahabatmu? Karena jika kau memang tidak pernah bertemu siapa pun selain mereka bertiga, maka bukankah tidak sulit untuk menebak siapa pasangan takdirmu?”

Yang selama ini ternyata berada sedekat nadi denganmu.”

Dan malam itu, saat Taehyung membuka pintu apartemen dengan sekantung makanan di tangannya dan wajah cerah karena baru saja mendapatkan promosi naik menjadi karyawan senior, siap merayakannya dengan Jeongguk, dia ternyata mendapatkan hal lain untuk dirayakan.

Untuk pertama kalinya setelah mereka bersahabat selama bertahun-tahun, Jeongguk merengkuhnya seperti seorang kekasih. Mendekapnya begitu dekat, tertawa dan menangis bersamanya karena begitu bodoh tidak menyadari apa yang selama ini berada di hadapan mereka.

Taehyung juga menangis saat menyadarinya—menyadari mengapa walaupun dia sudah melakukan yang terbaik dengan wajahnya, dia tetap nampak menua. Kusam dan jelek. Ternyata, dia menua.

Menua dengan pasangan takdirnya, yang adalah seseorang yang selalu disemogakannya dalam doanya—dalam setiap tiupan lilin ulang tahunnya.

Dan untuk pertama kalinya, mereka berciuman.

Ciuman yang asin dan basah oleh air mata, namun tidak masalah. Karena akhirnya mereka melangkah keluar dari persahabatan platonis mereka, merengkuh cinta takdir mereka yang hangat. Dengan orang yang selama ini mereka sebut dalam doa mereka, dengan orang yang akan mereka pilih bahkan jika dunia taruhannya.


Fin.

Terima kasih telah membaca! Dan untuk Kookoo, semoga suka!

love, ire x

ps. unedited, sorry. I'm tired x

cw // mild horror , sexual tension , teasing .


Upacara penerimaan sama membosankannya dengan upacara pelepasan dan lebih singkat sehingga mereka semua bisa bergegas membubarkan diri untuk membereskan barang-barang yang sekarang semuanya di kosan Momo.

Taehyung bersyukur barang-barangnya tidak banyak; hanya kantung tidur, tas pakaian dan ember cucian. Sisanya hal-hal semacam lampu gawat-darurat dan terminal listrik bisa dimasukkan ke tas pakaiannya. Jeongguk bahkan hanya membawa tas pakaiannya sementara para perempuan punya koper raksasa, bantal-bantal empuk dan boneka.

“Kalian menyulitkan diri sendiri,” komentar Jeongguk saat mereka mulai memilah barang-barang mereka di depan kosan Momo, seperti penjual barang rumah tangga diskonan.

Taehyung terkekeh saat Jeongguk berkelit sebelum ember cucian mengenai kepalanya, dia duduk di teras kosan Momo menyaksikan anak-anak perempuan membereskan barang-barangnya dan menyadari bahwa malam ini dia akan tidur sendirian di kamarnya.

Dan fakta itu membuatnya sedih. Dia terbiasa dengan dengkuran Jeongguk, terbiasa dengan suara Momo saat pagi membuka mata dan terbiasa berebutan kamar mandi dengan teman-temannya. Sarapan Energen sebelum ke PAUD, memasak makan siang bersama....

Dia sedih membayangkan dia harus melalui semuanya sendirian lagi mulai sekarang.

Hal yang tersisa dari KKN-nya mungkin hanya Jeongguk dan dia benar-benar berharap yang mereka rasakan ini bukan hanya sekadar fling karena mereka hidup bersama selama 30 hari. Taehyung cukup egois menginginkan Jeongguk untuk dirinya sendiri.

Dia berharap, apa yang mereka genggam sekarang cukup nyata untuk bertahan setidaknya lebih lama dari sekadar keisengan cinta lokasi semata. Apa lagi mereka berkuliah di gedung kampus yang berbeda dengan jadwal kuliah yang jelas berbeda, Paingan dan Mrican terpisahkan Ring Road raksasa serta lalu lintasnya yang mengerikan. Butuh sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit untuk tiba di tempat masing-masing dengan lalu lintas lancar.

Taehyung mulai gugup tentang hubungannya dengan Jeongguk.

Dia merogoh tasnya, mengeluarkan sekotak rokok dan mulai menyulut sebatang. Berusaha mengalihkan kepalanya dari perasaan takut tidak nyaman itu. Dia menatap Jeongguk yang duduk di atas motor Yugyeom, mengawasi teman-temannya.

Elang itu bisa saja terbang, mencari lokasi baru yang jauh lebih eksotis dan menyenangkan daripada berdiam diri bersama Pohon membosankan yang terjebak di tanahnya—tidak bisa bergerak sepertinya.

Hal itu membuat Taehyung gugup, dia tidak suka. Kakinya digerakkan dengan cepat sementara dia menatap jalanan di depannya, melihat anak-anak STIKES Panti Rapih membubarkan diri.

“Tae!”

Dia menoleh, menatap langsung ke Jeongguk yang tersenyum cerah. “Kau mau makan tidak?” Tanyanya.

Taehyung mengangguk, “Makan apa?” Tanyanya.

“Warmindo depan itu saja,” sahut Dahyun, mengedikkan dagunya ke warung Indomie di depan kosan Momo. “Sekalian kita membicarakan segala hal yang berada di pondokan, mendengarkan kesaksian Momo.”

Momo mendesah, “Harus, ya?”

“Tentu saja!” Sambar Jeongguk, nyaris menggigit Momo karena gemas. “Aku yang selama ini disiksa, oke? Tentu saja aku harus tahu!”

Momo akhirnya mengalah, mereka pergi ke warmindo dan mulai memesan makanan. Duduk di satu meja panjang dan memenuhinya seraya melepas jas almamater mereka yang panas. Jeongguk dan Taehyung duduk terluar, jika merokok asapnya tidak akan memenuhi ruangan.

Momo menatap teman-temannya, nampak sedikit rikuh namun dia tahu dia tidak punya pilihan lain. “Baiklah, apa yang kalian ingin tahu?”

Jeongguk langsung mengangkat tangannya, seolah dia sedang mengikuti kelas alih-alih mengobrol dengan teman-temannya. “Kenapa aku selalu terbangun pukul dua pagi untuk buang air kecil??”

Momo menatapnya, mengerjap sebelum mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu, sungguh. Selama berada di pondokan, aku berusaha tidak bersinggungan dengan mereka. Maksudku,” dia menelan ludah. “Bayangkan saja kau bisa melihat hal-hal yang sungguh tidak ingin kaulihat sama sekali.”

Taehyung menatapnya, memikirkan bagaimana Momo mandi setiap hari menyadari ada sesuatu di sudut ruangan kamar mandi yang mungkin saja mengamatinya. Tidakkah dia risih?

“Mungkin mereka hanya mengisengmu karena kau begajulan,” sahut Dahyun saat pesanannya datang, nasi goreng Magelangan yang beraroma tajam penguat rasa.

“Mungkin si...” Momo sejenak kebingungan, dia menelan ludah—enggan menyebutkannya. “Anak kecil yang mengerjaimu.” Dia menatap Jeongguk yang mengerutkan alisnya. “Dia memang agak usil. Kau tahu, 'kan, tipe.... nya itu suka usil?”

“Ohh!” Seru Jeongguk, “Maksudmu dia itu tu—!”

“Stop! Jangan sebut!” Sambar Momo dan Jeongguk langsung mengatupkan rahangnya keras-keras. “Jangan sebut namanya, jangan! Aku tidak mau... didatangi.”

Yugyeom mengerut di kursinya, berhenti menyuap mie dok-doknya yang panas. “Di... datangi?” Ulangnya, praktis mencicit, seutas mie menggantung di sudut bibirnya sementara semua teman-temannya berhenti makan—kini mencondongkan tubuh mereka ke Momo.

Wajah Momo mulai merah padam. “Aku tidak suka menyebut nama mereka, membuat mereka hadir.” Dia menggaruk tengkuknya.

“Maafkan aku.” Gumam Jeongguk, berhenti makan nasi telurnya yang beraroma semerbak. Dia menyesap rokoknya terakhir kali sebelum mematikan baranya dan membuang puntungnya di asbak.

Momo menggeleng, kini nampak lebih tenang. “Tidak apa-apa.” Dia kemudian melanjutkan perlahan. “Mungkin dia yang membuatmu bangun dan menggodamu, aku tidak tahu maksudnya apa. Selebihnya, semua tidak ada masalah dengan kita. Jika ada, mereka pasti segera menunjukkannya pada kita.”

Dia kemudian menatap semuanya, “Tidak ada yang diganggu selain Jeongguk, ya?” Tanyanya.

Semua menggeleng dan Jeongguk menggertakkan rahangnya. Taehyung sendiri pun tidak, walaupun dia tidur di ruang tengah bersama Jeongguk dia tidak pernah mengalami hal-hal yang dialami Jeongguk sama sekali. Dia tidur nyenyak. Mungkin sedikit saat dia di kamar mandi dan merasa diamati dan sekarang merasa risih karena dia mungkin saja ditonton saat mandi.

Dia bergidik, berusaha mendorong pemikiran itu menjauh dari kepalanya. Dia meraih sendoknya, mulai menyuap nasi telurnya—menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak memikirkan yang lain-lain.

“Hanya aku, ya?” Tanya Jeongguk, tidak habis pikir. “Apakah karena aku berisik?”

Momo mengedikkan bahu, “Kau tidak berisik kok. Maksudku, mereka tidak marah pada berisikmu?”

Jeongguk menggaruk pelipisnya, nampak gelisah. “Aku sudah... entahlah, tiga kali diganggu?” Dia menatap makanannya, memelototi telurnya hingga Taehyung takut benda itu meletup menjadi anak ayam. “Satu dengan bangun setiap pukul dua pagi itu, dua dengan tamu misterius di tengah hujan dan tiga dengan suara Ibu.”

“Tunggu!” Sela Dahyun, nyaris tersedak makanannya. “Tamu??”

Jeongguk mengangguk, kemudian menceritakan pengalamannya mendengarkan langkah kaki dan suara motor. “Ibu bilang tidak ada tamu.” Jeongguk nampak kebingungan sendiri menghadapi masalahnya. “Jadi, kurasa mereka hanya menggodaku.”

Momo mengangguk, “Aku tidak tahu kenapa mereka memilihmu. Tapi untunglah kau anaknya tidak mudah takut.”

Jeongguk bergidik, “Percayalah! Aku ini penakut! Tapi entah kenapa saat terjadi, aku sama sekali tidak merasakan apa pun. Tidak merasa takut sama sekali, tenang dan tidak memikirkan hal-hal itu. Baru keesokan harinya saat aku menceritakannya pada kalian barulah aku menyadari bahwa aku takut.”

“Mengingat posisi tidurmu yang dekat dengan salah satu dari mereka, mungkin ada benarnya kau tidak takut. Mungkin mereka hanya ingin membuatmu nyaman?” Yoongi menghabiskan kuning telurnya, bagian terlezat yang dimakannya terakhir sebagai pamungkas.

Jeongguk menatapnya, alisnya berkerut—nampaknya tidak bisa menerima penjelasan bahwa mereka sedang berusaha membuat Jeongguk nyaman dengan menganggunya seperti itu.

“Tapi, Mbak,” tanya Yugyeom saat menyingkirkan mangkuk mie rebus telurnya yang sudah kosong. Dia meraih gelas minumannya dan meneguk isinya. “Memangnya melihat... hal-hal semacam itu tidak mengganggu?”

Momo menyuap mie instannya, mengunyahnya perlahan sebelum mengangguk. “Tentu saja mengganggu. Aku sering melihat mereka mondar-mandir di jalanan, membuatku tidak berani mengendarai motor karena selain menghindari orang lain di jalanan, aku juga melihat mereka—tidak fokus.”

Yugyeom berhenti, sedotan di bibirnya. “Kau melihat mereka? Maksudku, begitu saja tanpa berusaha?” Tanyanya kemudian. “Dan kau tidak... risih??”

Momo mengedikkan bahu, “Awalnya risih namun sekarang aku sudah terbiasa untuk mengabaikan mereka.” Dia menggulung mie dengan garpunya. “Kalian tahu, 'kan, mereka biasanya hanya berusaha untuk menarik perhatian manusia karena mereka butuh bantuan?”

“Bantuan... semacam?” Tanya Tzuyu yang sejak tadi mendengarkan dengan khidmat.

“Entahlah.” Momo menyuap makanannya. “Biasanya karena terlalu sakit atau terlalu panas. Ingin kita menyelamatkan mereka, ingin kita membantu memperingan rasanya.”

“Sialan.” Yugyeom bergidik. “Aku malam ini akan tidur dengan kakakku saja.”

“Apakah kau juga mendengar suara?” Tanya Yoongi kemudian, kali ini serius dan anak-anak kembali diam—mendengarkan dengan saksama apa yang akan dikatakan Momo.

“Jika aku benar-benar memfokuskan diri, aku bisa mendengar mereka. Merintih dan sebagainya, tapi aku sudah terbiasa mengabaikan mereka. Melelahkan sekali saat kau harus fokus pada dua percakapan, 'kan?” Sahutnya, menyendok makanannya dan menyuapnya.

“Malam hari? Saat kau sendirian?” Tanya Dahyun, menyedot Milo dinginnya yang kental.

Momo menggeleng, “Aku berusaha mengabaikannya dan bisa. Aku biasanya mendengarkan musik sebelum tidur, menyetelnya mati setelah dua jam atau apa sehingga aku terlelap dengan suara musik itu.” Dia menandaskan makanannya lalu mendorong mangkuknya menjauh. “Lebih mudah begitu.”

Teman-temannya diam. Taehyung tidak membayangkan seperti apa rasanya menjadi Momo—tidak pernah mendapatkan ketenangan dan keheningan. Walaupun dia berusaha untuk mengabaikannya, pasti tetap saja ada satu-dua suara yang lolos. Momo benar-benar luar biasa, mungkin itulah mengapa dia jarang sekali bersuara jika tidak ada yang mengajaknya bicara duluan atau Jeongguk yang mengganggunya.

Mungkin... dia malah sedang mendengarkan obrolan yang lain alih-alih obrolan teman-temannya.

Memikirkannya membuat Taehyung bergidik. Momo harus selalu diajak mengobrol, agar dia tidak mendengarkan obrolan lain dan tenggelam di dalamnya.

“Berarti kau sekarang tahu,” kata Yoongi kemudian saat mereka membayar makanan mereka. “Yang mengganggumu adalah si anak kecil itu.” Katanya, memilih dengan tepat kata yang digunakannya sehingga Momo tersenyum kecil.

“Dia mungkin suka padamu sehingga mengganggumu terus.” Tambah Momo, mengeluarkan dompet kecilnya lalu menarik selembar uang untuk membayar makanannya. “Dia tidak mencelakaimu, 'kan? Dia hanya mengerjaimu.”

Jeongguk mengangguk. “Tapi dia memang tidak melakukan apa pun yang mengerikan. Dia hanya memintaku bangun di jam yang sama setiap hari dan sebelum atau setelahnya, tidurku nyenyak sekali.”

Taehyung setuju. “Aku juga.” Katanya menyerahkan uang pada Jeongguk yang membayar makanan mereka. “Kau selalu mendengkur paling pertama, terlelap paling dulu.”

“Jika dipikir-pikir, memang tidak ada yang tidurnya tidak nyenyak, 'kan?” Tambah Yoongi kemudian saat mereka keluar dari warmindo, bersiap-siap berpisah. “Semuanya tidur dan bangun tepat waktu, tidak ada kejadian horor yang membuat kita celaka atau apa.”

“Sikap sopan yang terbayarkan.” Dahyun setuju—sejak awal mereka menjejakkan kaki di pondokan, Momo sudah meminta mereka menjaga sikap dan mereka menurutinya begitu saja, tidak ada yang bersikap bebal dengan melawan.

Maka mereka diberikan tidur yang nyenyak. Kecuali mungkin kesialan Dahyun dan Jeongguk.

Sekarang, KKN mereka sudah berakhir secara resmi. Mereka kembali ke rumah dan kosan masing-masing, kembali sibuk dengan urusan studi mereka sendiri-sendiri. Meninggalkan kenangan 30 hari di Watugajah di belakang, sebagai sebuah foto yang akan mereka kunjungi suatu hari nanti—mengingat bagaimana semuanya begitu sederhana dan menyenangkan.

Mereka melambai, berpisah dengan Momo yang berdiri di gerbang kosannya—melambai ceria pada teman-temannya yang membubarkan diri. Jeongguk memacu motornya, kembali ke arah kosannya yang lama tidak dikunjunginya.

“Kau akan menginap malam ini tidak?” Tanyanya saat menuruni jalan pintas ke arah Priggondani.

Taehyung mengangguk. “Tentu saja.” Katanya. “Aku belum siap tidur sendirian di kosanku. Dan malah berharap kau mau menemaniku ke kosan dan membantuku membereskannya?”

Jeongguk terkekeh, “Tentu. Akan kubantu.” Sahutnya, membelok di jalan kecil yang ramai sebelum berhenti di mini market. “Kau mau cemilan?”

Taehyung ikut turun bersamanya. “Kita akan berolahraga, ya?” Godanya saat mereka melangkah ke arah pintu. Jeongguk mendorong pintu untuknya, mempersilakannya masuk sebelum mengekornya.

“Jelas kita akan olahraga,” Jeongguk meraih keranjang belanja dan Taehyung terkekeh. “Aku menahan diri bersikap sopan seperti ksatria di pondokan karena takut pada si Kakek, sekarang kita punya ruangan untuk diri kita sendiri. Menurutmu, aku akan bersikap ksatria lagi?”

Taehyung mengambil dua bungkus mie instan dan melemparnya ke keranjang di lengan Jeongguk. “Oh, aku sungguh tidak berharap kau akan bersikap ksatria.” Dia melangkah, meraih keju di rak dan melemparnya juga—mie dengan keju akan terasa lezat, asin dan enak. “Bersikaplah seperti bedebah malam ini, aku suka.”

“Bedebah is it.” Jeongguk bersiul saat memasukkan sekantung besar cemilan dan meraih botol soda satu liter. Taehyung menambahkannya dengan sekantung cemilan lain, meraih empat cemilan berukuran kecil.

“Lubrikan kita masih, 'kan?” Tanya Jeongguk saat Taehyung berjalan di belakangnya, mengekor menuju kasir.

“Masih kurasa. Mau beli lagi?” Sahutnya dan Jeongguk mengangguk. “Lebih baik daripada kita kehabisan di tengah-tengah, menyebalkan.” Dia menggerutu dan Taehyung terkekeh.

Mereka menuju kasir, Jeongguk menyempatkan diri menyambar sekotak kondom isi enam buah dalam perjalanannya. Taehyung meletakkan dompetnya di keranjang dan Jeongguk menerimanya. Dia mengantri sementara Taehyung berdiri di sudut menunggu Jeongguk.

“Lubrikan, Mas.” Katanya kalem membuat beberapa pelanggan lain yang berada di sekitarnya berjengit kaget pada betapa entengnya dia menyebutkan benda itu. Jeongguk berdiri di sana, tampan dan indah, berwajah masam seolah tidak tertarik pada kehidupan meminta sebotol lubrikan.

Kasir lelaki mempertahankan wajah datarnya saat memindai belanjaan Jeongguk, memasukkannya ke kantung plastik besar sebelum menerima pembayaran Jeongguk dan memprosesnya. Taehyung membantunya meraih kantung itu, membawanya keluar sebelum mereka kemudian meluncur ke kosan Jeongguk.

Mereka berhenti di depan, tepat saat seseorang membuka gerbangnya.

“Oh, hei, Gguk!” Sapa teman kosnya, batal menggembok pagar dan menggantungkan gemboknya di sana. “Baru pulang KKN, ya?”

Jeongguk mengangguk, “Ya.” Katanya ramah, “Biarkan saja. Aku yang menguncinya.” Dia mengedikkan dagunya pada Taehyung yang bergegas membuka gerbang dan Jeongguk memasukkan motornya.

Taehyung menerima kunci gerbang dari Jeongguk dan menguncinya sebelum kemudian mereka membawa semua barang-barang mereka naik ke kamar Jeongguk. Menyapa beberapa anak kosan yang kebetulan berpapasan dengan mereka di lorong. Jeongguk berhenti di depan pintunya, mengulurkan tangan meminta kunci kamarnya.

Taehyung menjatuhkan benda itu ke telapak tangannya yang terbuka di hadapannya dan membiarkan Jeongguk menyelipkan anak kunci di lubangnya. Memutarnya dua kali hingga terdengar suara klik-klik ganda lalu menyentakkannya terbuka.

“Wow. Baunya apak sekali.” Komentarnya saat pintu terbuka. “Silakan masuk.” Dia mendorong pintu terbuka dan menyeret tasnya masuk—merasakan debu di permukaan lantainya.

Dia kemudian menatap Taehyung. “Kita bisa saja langsung bercinta,” katanya kemudian dan Taehyung terkekeh—merasakan gairahnya sendiri sudah mulai mendidih, seperti sepanci air yang dipanaskan di atas kompor. “Tapi, maaf, Sayang. Kita harus membereskan kosanku dulu.”

Dia kemudian menggunakan kakinya untuk mendorong pintu tertutup sebelum mendekat ke Taehyung dan memeluknya. Mereka mendesah, Taehyung menggeliat di pelukannya dan menempelkan pinggul mereka—Jeongguk mengumpat kecil. Lalu mereka mendongak, menatap dalam sebelum Taehyung mengulurkan tangan dan membelai rahang Jeongguk yang langsung mendengkur karena sentuhannya.

Taehyung menutup jarak mereka dengan ciuman—ciuman yang dalam dan keras hingga Jeongguk merengek kecil. Tangannya bergerak di lengan Jeongguk, membelainya sementara tangan Jeongguk menyelip ke balik kausnya—membelai perutnya yang lembut hingga dia mengejang.

“Kataku,” Jeongguk tersengal di sela ciuman mereka. “Kita harus membereskan kamrku.”

Taehyung mengerang, meraih kepala Jeongguk dan kembali memangut bibirnya—tidak sudi ditahan lagi. “Kita bisa bercinta sekali dulu, apa sulitnya, sih?” Gerutunya lalu mencium Jeongguk yang membuka mulut untuk bicara, dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut pemuda itu lalu membelai geliginya rakus.

Dia tidak akan membiarkan Jeongguk bicara.

Dia meraih pemuda itu, menariknya ke ranjang dan mendorongnya ke atas kasur yang menghamburkan aroma apak khas kamar yang tidak mendapatkan sirkulasi udara. Jeongguk terkekeh serak, terhibur seraya menyeka rambut yang menutupi keningnya.

“Baiklah,” katanya parau sementara Taehyung berbalik ke pintu, menguncinya sebelum berbalik dan menarik kausnya terbuka hingga Jeongguk mendesah. “Oh, ya.” Gumamnya, “Kemarilah. Beri semuanya untukku.”

Taehyung menyerigai, membiarkan kausnya jatuh ke lantai dan berdiri bertelanjang dada di depan Jeongguk yang nampak sangat menikmatinya. Dia menyelipkan jarinya ke celana jinsnya, memisahkan kancingnya dan membiarkan celananya menggantung rendah di pinggulnya sebelum menumpukan satu lututnya di ranjang yang berderit dan menaungi Jeongguk yang mendesah. Dia menjulurkan lehernya, mengecupi dada Taehyung lalu menjilatnya hingga Taehyung gemetar.

“Kita bercinta sekali lalu bereskan kamarku.” Jeongguk balas menyerigai lalu menghisap dada Taehyung yang mendesis nikmat. “Oh, lihat dirimu.” Bisiknya, menggunakan kakinya untuk membelai selangkangan Taehyung.

“Kita akan membuat ini lama dan panas, Sayang.” Bisik Taehyung parau, merunduk dan mengulum telinga Jeongguk yang mengigil. “Bersiaplah.”


HUAHAHAHAH BESOK YA ANAK-ANAK UDAH MALEM MWAH!

ire, x

ps. unedited, sorry. I'm tired x

cw // sexual tension , teasing .


Upacara penerimaan sama membosankannya dengan upacara pelepasan dan lebih singkat sehingga mereka semua bisa bergegas membubarkan diri untuk membereskan barang-barang yang sekarang semuanya di kosan Momo.

Taehyung bersyukur barang-barangnya tidak banyak; hanya kantung tidur, tas pakaian dan ember cucian. Sisanya hal-hal semacam lampu gawat-darurat dan terminal listrik bisa dimasukkan ke tas pakaiannya. Jeongguk bahkan hanya membawa tas pakaiannya sementara para perempuan punya koper raksasa, bantal-bantal empuk dan boneka.

“Kalian menyulitkan diri sendiri,” komentar Jeongguk saat mereka mulai memilah barang-barang mereka di depan kosan Momo, seperti penjual barang rumah tangga diskonan.

Taehyung terkekeh saat Jeongguk berkelit sebelum ember cucian mengenai kepalanya, dia duduk di teras kosan Momo menyaksikan anak-anak perempuan membereskan barang-barangnya dan menyadari bahwa malam ini dia akan tidur sendirian di kamarnya.

Dan fakta itu membuatnya sedih. Dia terbiasa dengan dengkuran Jeongguk, terbiasa dengan suara Momo saat pagi membuka mata dan terbiasa berebutan kamar mandi dengan teman-temannya. Sarapan Energen sebelum ke PAUD, memasak makan siang bersama....

Dia sedih membayangkan dia harus melalui semuanya sendirian lagi mulai sekarang.

Hal yang tersisa dari KKN-nya mungkin hanya Jeongguk dan dia benar-benar berharap yang mereka rasakan ini bukan hanya sekadar fling karena mereka hidup bersama selama 30 hari. Taehyung cukup egois menginginkan Jeongguk untuk dirinya sendiri.

Dia berharap, apa yang mereka genggam sekarang cukup nyata untuk bertahan setidaknya lebih lama dari sekadar keisengan cinta lokasi semata. Apa lagi mereka berkuliah di gedung kampus yang berbeda dengan jadwal kuliah yang jelas berbeda, Paingan dan Mrican terpisahkan Ring Road raksasa serta lalu lintasnya yang mengerikan. Butuh sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit untuk tiba di tempat masing-masing dengan lalu lintas lancar.

Taehyung mulai gugup tentang hubungannya dengan Jeongguk.

Dia merogoh tasnya, mengeluarkan sekotak rokok dan mulai menyulut sebatang. Berusaha mengalihkan kepalanya dari perasaan takut tidak nyaman itu. Dia menatap Jeongguk yang duduk di atas motor Yugyeom, mengawasi teman-temannya.

Elang itu bisa saja terbang, mencari lokasi baru yang jauh lebih eksotis dan menyenangkan daripada berdiam diri bersama Pohon membosankan yang terjebak di tanahnya—tidak bisa bergerak sepertinya.

Hal itu membuat Taehyung gugup, dia tidak suka. Kakinya digerakkan dengan cepat sementara dia menatap jalanan di depannya, melihat anak-anak STIKES Panti Rapih membubarkan diri.

“Tae!”

Dia menoleh, menatap langsung ke Jeongguk yang tersenyum cerah. “Kau mau makan tidak?” Tanyanya.

Taehyung mengangguk, “Makan apa?” Tanyanya.

“Warmindo depan itu saja,” sahut Dahyun, mengedikkan dagunya ke warung Indomie di depan kosan Momo. “Sekalian kita membicarakan segala hal yang berada di pondokan, mendengarkan kesaksian Momo.”

Momo mendesah, “Harus, ya?”

“Tentu saja!” Sambar Jeongguk, nyaris menggigit Momo karena gemas. “Aku yang selama ini disiksa, oke? Tentu saja aku harus tahu!”

Momo akhirnya mengalah, mereka pergi ke warmindo dan mulai memesan makanan. Duduk di satu meja panjang dan memenuhinya seraya melepas jas almamater mereka yang panas. Jeongguk dan Taehyung duduk terluar, jika merokok asapnya tidak akan memenuhi ruangan.

Momo menatap teman-temannya, nampak sedikit rikuh namun dia tahu dia tidak punya pilihan lain. “Baiklah, apa yang kalian ingin tahu?”

Jeongguk langsung mengangkat tangannya, seolah dia sedang mengikuti kelas alih-alih mengobrol dengan teman-temannya. “Kenapa aku selalu terbangun pukul dua pagi untuk buang air kecil??”

Momo menatapnya, mengerjap sebelum mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu, sungguh. Selama berada di pondokan, aku berusaha tidak bersinggungan dengan mereka. Maksudku,” dia menelan ludah. “Bayangkan saja kau bisa melihat hal-hal yang sungguh tidak ingin kaulihat sama sekali.”

Taehyung menatapnya, memikirkan bagaimana Momo mandi setiap hari menyadari ada sesuatu di sudut ruangan kamar mandi yang mungkin saja mengamatinya. Tidakkah dia risih?

“Mungkin mereka hanya mengisengmu karena kau begajulan,” sahut Dahyun saat pesanannya datang, nasi goreng Magelangan yang beraroma tajam penguat rasa.

“Mungkin si...” Momo sejenak kebingungan, dia menelan ludah—enggan menyebutkannya. “Anak kecil yang mengerjaimu.” Dia menatap Jeongguk yang mengerutkan alisnya. “Dia memang agak usil. Kau tahu, 'kan, tipe.... nya itu suka usil?”

“Ohh!” Seru Jeongguk, “Maksudmu dia itu tu—!”

“Stop! Jangan sebut!” Sambar Momo dan Jeongguk langsung mengatupkan rahangnya keras-keras. “Jangan sebut namanya, jangan! Aku tidak mau... didatangi.”

Yugyeom mengerut di kursinya, berhenti menyuap mie dok-doknya yang panas. “Di... datangi?” Ulangnya, praktis mencicit, seutas mie menggantung di sudut bibirnya sementara semua teman-temannya berhenti makan—kini mencondongkan tubuh mereka ke Momo.

Wajah Momo mulai merah padam. “Aku tidak suka menyebut nama mereka, membuat mereka hadir.” Dia menggaruk tengkuknya.

“Maafkan aku.” Gumam Jeongguk, berhenti makan nasi telurnya yang beraroma semerbak. Dia menyesap rokoknya terakhir kali sebelum mematikan baranya dan membuang puntungnya di asbak.

Momo menggeleng, kini nampak lebih tenang. “Tidak apa-apa.” Dia kemudian melanjutkan perlahan. “Mungkin dia yang membuatmu bangun dan menggodamu, aku tidak tahu maksudnya apa. Selebihnya, semua tidak ada masalah dengan kita. Jika ada, mereka pasti segera menunjukkannya pada kita.”

Dia kemudian menatap semuanya, “Tidak ada yang diganggu selain Jeongguk, ya?” Tanyanya.

Semua menggeleng dan Jeongguk menggertakkan rahangnya. Taehyung sendiri pun tidak, walaupun dia tidur di ruang tengah bersama Jeongguk dia tidak pernah mengalami hal-hal yang dialami Jeongguk sama sekali. Dia tidur nyenyak. Mungkin sedikit saat dia di kamar mandi dan merasa diamati dan sekarang merasa risih karena dia mungkin saja ditonton saat mandi.

Dia bergidik, berusaha mendorong pemikiran itu menjauh dari kepalanya. Dia meraih sendoknya, mulai menyuap nasi telurnya—menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak memikirkan yang lain-lain.

“Hanya aku, ya?” Tanya Jeongguk, tidak habis pikir. “Apakah karena aku berisik?”

Momo mengedikkan bahu, “Kau tidak berisik kok. Maksudku, mereka tidak marah pada berisikmu?”

Jeongguk menggaruk pelipisnya, nampak gelisah. “Aku sudah... entahlah, tiga kali diganggu?” Dia menatap makanannya, memelototi telurnya hingga Taehyung takut benda itu meletup menjadi anak ayam. “Satu dengan bangun setiap pukul dua pagi itu, dua dengan tamu misterius di tengah hujan dan tiga dengan suara Ibu.”

“Tunggu!” Sela Dahyun, nyaris tersedak makanannya. “Tamu??”

Jeongguk mengangguk, kemudian menceritakan pengalamannya mendengarkan langkah kaki dan suara motor. “Ibu bilang tidak ada tamu.” Jeongguk nampak kebingungan sendiri menghadapi masalahnya. “Jadi, kurasa mereka hanya menggodaku.”

Momo mengangguk, “Aku tidak tahu kenapa mereka memilihmu. Tapi untunglah kau anaknya tidak mudah takut.”

Jeongguk bergidik, “Percayalah! Aku ini penakut! Tapi entah kenapa saat terjadi, aku sama sekali tidak merasakan apa pun. Tidak merasa takut sama sekali, tenang dan tidak memikirkan hal-hal itu. Baru keesokan harinya saat aku menceritakannya pada kalian barulah aku menyadari bahwa aku takut.”

“Mengingat posisi tidurmu yang dekat dengan salah satu dari mereka, mungkin ada benarnya kau tidak takut. Mungkin mereka hanya ingin membuatmu nyaman?” Yoongi menghabiskan kuning telurnya, bagian terlezat yang dimakannya terakhir sebagai pamungkas.

Jeongguk menatapnya, alisnya berkerut—nampaknya tidak bisa menerima penjelasan bahwa mereka sedang berusaha membuat Jeongguk nyaman dengan menganggunya seperti itu.

“Tapi, Mbak,” tanya Yugyeom saat menyingkirkan mangkuk mie rebus telurnya yang sudah kosong. Dia meraih gelas minumannya dan meneguk isinya. “Memangnya melihat... hal-hal semacam itu tidak mengganggu?”

Momo menyuap mie instannya, mengunyahnya perlahan sebelum mengangguk. “Tentu saja mengganggu. Aku sering melihat mereka mondar-mandir di jalanan, membuatku tidak berani mengendarai motor karena selain menghindari orang lain di jalanan, aku juga melihat mereka—tidak fokus.”

Yugyeom berhenti, sedotan di bibirnya. “Kau melihat mereka? Maksudku, begitu saja tanpa berusaha?” Tanyanya kemudian. “Dan kau tidak... risih??”

Momo mengedikkan bahu, “Awalnya risih namun sekarang aku sudah terbiasa untuk mengabaikan mereka.” Dia menggulung mie dengan garpunya. “Kalian tahu, 'kan, mereka biasanya hanya berusaha untuk menarik perhatian manusia karena mereka butuh bantuan?”

“Bantuan... semacam?” Tanya Tzuyu yang sejak tadi mendengarkan dengan khidmat.

“Entahlah.” Momo menyuap makanannya. “Biasanya karena terlalu sakit atau terlalu panas. Ingin kita menyelamatkan mereka, ingin kita membantu memperingan rasanya.”

“Sialan.” Yugyeom bergidik. “Aku malam ini akan tidur dengan kakakku saja.”

“Apakah kau juga mendengar suara?” Tanya Yoongi kemudian, kali ini serius dan anak-anak kembali diam—mendengarkan dengan saksama apa yang akan dikatakan Momo.

“Jika aku benar-benar memfokuskan diri, aku bisa mendengar mereka. Merintih dan sebagainya, tapi aku sudah terbiasa mengabaikan mereka. Melelahkan sekali saat kau harus fokus pada dua percakapan, 'kan?” Sahutnya, menyendok makanannya dan menyuapnya.

“Malam hari? Saat kau sendirian?” Tanya Dahyun, menyedot Milo dinginnya yang kental.

Momo menggeleng, “Aku berusaha mengabaikannya dan bisa. Aku biasanya mendengarkan musik sebelum tidur, menyetelnya mati setelah dua jam atau apa sehingga aku terlelap dengan suara musik itu.” Dia menandaskan makanannya lalu mendorong mangkuknya menjauh. “Lebih mudah begitu.”

Teman-temannya diam. Taehyung tidak membayangkan seperti apa rasanya menjadi Momo—tidak pernah mendapatkan ketenangan dan keheningan. Walaupun dia berusaha untuk mengabaikannya, pasti tetap saja ada satu-dua suara yang lolos. Momo benar-benar luar biasa, mungkin itulah mengapa dia jarang sekali bersuara jika tidak ada yang mengajaknya bicara duluan atau Jeongguk yang mengganggunya.

Mungkin... dia malah sedang mendengarkan obrolan yang lain alih-alih obrolan teman-temannya.

Memikirkannya membuat Taehyung bergidik. Momo harus selalu diajak mengobrol, agar dia tidak mendengarkan obrolan lain dan tenggelam di dalamnya.

“Berarti kau sekarang tahu,” kata Yoongi kemudian saat mereka membayar makanan mereka. “Yang mengganggumu adalah si anak kecil itu.” Katanya, memilih dengan tepat kata yang digunakannya sehingga Momo tersenyum kecil.

“Dia mungkin suka padamu sehingga mengganggumu terus.” Tambah Momo, mengeluarkan dompet kecilnya lalu menarik selembar uang untuk membayar makanannya. “Dia tidak mencelakaimu, 'kan? Dia hanya mengerjaimu.”

Jeongguk mengangguk. “Tapi dia memang tidak melakukan apa pun yang mengerikan. Dia hanya memintaku bangun di jam yang sama setiap hari dan sebelum atau setelahnya, tidurku nyenyak sekali.”

Taehyung setuju. “Aku juga.” Katanya menyerahkan uang pada Jeongguk yang membayar makanan mereka. “Kau selalu mendengkur paling pertama, terlelap paling dulu.”

“Jika dipikir-pikir, memang tidak ada yang tidurnya tidak nyenyak, 'kan?” Tambah Yoongi kemudian saat mereka keluar dari warmindo, bersiap-siap berpisah. “Semuanya tidur dan bangun tepat waktu, tidak ada kejadian horor yang membuat kita celaka atau apa.”

“Sikap sopan yang terbayarkan.” Dahyun setuju—sejak awal mereka menjejakkan kaki di pondokan, Momo sudah meminta mereka menjaga sikap dan mereka menurutinya begitu saja, tidak ada yang bersikap bebal dengan melawan.

Maka mereka diberikan tidur yang nyenyak. Kecuali mungkin kesialan Dahyun dan Jeongguk.

Sekarang, KKN mereka sudah berakhir secara resmi. Mereka kembali ke rumah dan kosan masing-masing, kembali sibuk dengan urusan studi mereka sendiri-sendiri. Meninggalkan kenangan 30 hari di Watugajah di belakang, sebagai sebuah foto yang akan mereka kunjungi suatu hari nanti—mengingat bagaimana semuanya begitu sederhana dan menyenangkan.

Mereka melambai, berpisah dengan Momo yang berdiri di gerbang kosannya—melambai ceria pada teman-temannya yang membubarkan diri. Jeongguk memacu motornya, kembali ke arah kosannya yang lama tidak dikunjunginya.

“Kau akan menginap malam ini tidak?” Tanyanya saat menuruni jalan pintas ke arah Priggondani.

Taehyung mengangguk. “Tentu saja.” Katanya. “Aku belum siap tidur sendirian di kosanku. Dan malah berharap kau mau menemaniku ke kosan dan membantuku membereskannya?”

Jeongguk terkekeh, “Tentu. Akan kubantu.” Sahutnya, membelok di jalan kecil yang ramai sebelum berhenti di mini market. “Kau mau cemilan?”

Taehyung ikut turun bersamanya. “Kita akan berolahraga, ya?” Godanya saat mereka melangkah ke arah pintu. Jeongguk mendorong pintu untuknya, mempersilakannya masuk sebelum mengekornya.

“Jelas kita akan olahraga,” Jeongguk meraih keranjang belanja dan Taehyung terkekeh. “Aku menahan diri bersikap sopan seperti ksatria di pondokan karena takut pada si Kakek, sekarang kita punya ruangan untuk diri kita sendiri. Menurutmu, aku akan bersikap ksatria lagi?”

Taehyung mengambil dua bungkus mie instan dan melemparnya ke keranjang di lengan Jeongguk. “Oh, aku sungguh tidak berharap kau akan bersikap ksatria.” Dia melangkah, meraih keju di rak dan melemparnya juga—mie dengan keju akan terasa lezat, asin dan enak. “Bersikaplah seperti bedebah malam ini, aku suka.”

“Bedebah is it.” Jeongguk bersiul saat memasukkan sekantung besar cemilan dan meraih botol soda satu liter. Taehyung menambahkannya dengan sekantung cemilan lain, meraih empat cemilan berukuran kecil.

“Lubrikan kita masih, 'kan?” Tanya Jeongguk saat Taehyung berjalan di belakangnya, mengekor menuju kasir.

“Masih kurasa. Mau beli lagi?” Sahutnya dan Jeongguk mengangguk. “Lebih baik daripada kita kehabisan di tengah-tengah, menyebalkan.” Dia menggerutu dan Taehyung terkekeh.

Mereka menuju kasir, Jeongguk menyempatkan diri menyambar sekotak kondom isi enam buah dalam perjalanannya. Taehyung meletakkan dompetnya di keranjang dan Jeongguk menerimanya. Dia mengantri sementara Taehyung berdiri di sudut menunggu Jeongguk.

“Lubrikan, Mas.” Katanya kalem membuat beberapa pelanggan lain yang berada di sekitarnya berjengit kaget pada betapa entengnya dia menyebutkan benda itu. Jeongguk berdiri di sana, tampan dan indah, berwajah masam seolah tidak tertarik pada kehidupan meminta sebotol lubrikan.

Kasir lelaki mempertahankan wajah datarnya saat memindai belanjaan Jeongguk, memasukkannya ke kantung plastik besar sebelum menerima pembayaran Jeongguk dan memprosesnya. Taehyung membantunya meraih kantung itu, membawanya keluar sebelum mereka kemudian meluncur ke kosan Jeongguk.

Mereka berhenti di depan, tepat saat seseorang membuka gerbangnya.

“Oh, hei, Gguk!” Sapa teman kosnya, batal menggembok pagar dan menggantungkan gemboknya di sana. “Baru pulang KKN, ya?”

Jeongguk mengangguk, “Ya.” Katanya ramah, “Biarkan saja. Aku yang menguncinya.” Dia mengedikkan dagunya pada Taehyung yang bergegas membuka gerbang dan Jeongguk memasukkan motornya.

Taehyung menerima kunci gerbang dari Jeongguk dan menguncinya sebelum kemudian mereka membawa semua barang-barang mereka naik ke kamar Jeongguk. Menyapa beberapa anak kosan yang kebetulan berpapasan dengan mereka di lorong. Jeongguk berhenti di depan pintunya, mengulurkan tangan meminta kunci kamarnya.

Taehyung menjatuhkan benda itu ke telapak tangannya yang terbuka di hadapannya dan membiarkan Jeongguk menyelipkan anak kunci di lubangnya. Memutarnya dua kali hingga terdengar suara klik-klik ganda lalu menyentakkannya terbuka.

“Wow. Baunya apak sekali.” Komentarnya saat pintu terbuka. “Silakan masuk.” Dia mendorong pintu terbuka dan menyeret tasnya masuk—merasakan debu di permukaan lantainya.

Dia kemudian menatap Taehyung. “Kita bisa saja langsung bercinta,” katanya kemudian dan Taehyung terkekeh—merasakan gairahnya sendiri sudah mulai mendidih, seperti sepanci air yang dipanaskan di atas kompor. “Tapi, maaf, Sayang. Kita harus membereskan kosanku dulu.”

Dia kemudian menggunakan kakinya untuk mendorong pintu tertutup sebelum mendekat ke Taehyung dan memeluknya. Mereka mendesah, Taehyung menggeliat di pelukannya dan menempelkan pinggul mereka—Jeongguk mengumpat kecil. Lalu mereka mendongak, menatap dalam sebelum Taehyung mengulurkan tangan dan membelai rahang Jeongguk yang langsung mendengkur karena sentuhannya.

Taehyung menutup jarak mereka dengan ciuman—ciuman yang dalam dan keras hingga Jeongguk merengek kecil. Tangannya bergerak di lengan Jeongguk, membelainya sementara tangan Jeongguk menyelip ke balik kausnya—membelai perutnya yang lembut hingga dia mengejang.

“Kataku,” Jeongguk tersengal di sela ciuman mereka. “Kita harus membereskan kamrku.”

Taehyung mengerang, meraih kepala Jeongguk dan kembali memangut bibirnya—tidak sudi ditahan lagi. “Kita bisa bercinta sekali dulu, apa sulitnya, sih?” Gerutunya lalu mencium Jeongguk yang membuka mulut untuk bicara, dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut pemuda itu lalu membelai geliginya rakus.

Dia tidak akan membiarkan Jeongguk bicara.

Dia meraih pemuda itu, menariknya ke ranjang dan mendorongnya ke atas kasur yang menghamburkan aroma apak khas kamar yang tidak mendapatkan sirkulasi udara. Jeongguk terkekeh serak, terhibur seraya menyeka rambut yang menutupi keningnya.

“Baiklah,” katanya parau sementara Taehyung berbalik ke pintu, menguncinya sebelum berbalik dan menarik kausnya terbuka hingga Jeongguk mendesah. “Oh, ya.” Gumamnya, “Kemarilah. Beri semuanya untukku.”

Taehyung menyerigai, membiarkan kausnya jatuh ke lantai dan berdiri bertelanjang dada di depan Jeongguk yang nampak sangat menikmatinya. Dia menyelipkan jarinya ke celana jinsnya, memisahkan kancingnya dan membiarkan celananya menggantung rendah di pinggulnya sebelum menumpukan satu lututnya di ranjang yang berderit dan menaungi Jeongguk yang mendesah. Dia menjulurkan lehernya, mengecupi dada Taehyung lalu menjilatnya hingga Taehyung gemetar.

“Kita bercinta sekali lalu bereskan kamarku.” Jeongguk balas menyerigai lalu menghisap dada Taehyung yang mendesis nikmat. “Oh, lihat dirimu.” Bisiknya, menggunakan kakinya untuk membelai selangkangan Taehyung.

“Kita akan membuat ini lama dan panas, Sayang.” Bisik Taehyung parau, merunduk dan mengulum telinga Jeongguk yang mengigil. “Bersiaplah.”


HUAHAHAHAH BESOK YA ANAK-ANAK UDAH MALEM MWAH!

ire, x


“Gguk! Cepat!”

Jeongguk menyentakkan resleting tasnya hingga menutup sebelum bergegas membawanya keluar.

Baru pukul tujuh pagi dan jasa angkut yang mereka sewa untuk hari ini sudah datang untuk membawa barang mereka turun. Kakak kos Momo, di mana barang akan diturunkan sudah menerima pesan untuk menerimanya jikalau mereka belum tiba di Yogyakarta saat jasa angkut tiba.

Jeongguk menyerahkan tasnya pada Yugyeom yang berada di atas bak mobil, menata barang-barang mereka bersama supir jasa angkut yang mengatur barang-barang agar saling menyangga dan tidak terguling jatuh.

Semua sudah dinaikkan termasuk kasur busa, penanak nasi, juga koper-koper para anak perempuan yang berukuran lumayan. Dan yang tersisa sekarang hanya baju yang akan mereka kenakan hari itu dan tas terisi benda-benda penting. Setelah semua barang diikat aman agar tidak jatuh dalam perjalanan, mobil kemudian berangkat ke Yogyakarta meninggalkan anak-anak yang bersiap-siap untuk mengikuti upacara penarikan.

Acara perpisahan mereka semalam menyebalkan—tidak ada yang ingin membicarkannya sama sekali. Mereka repot menyiapkan semuanya hanya untuk mengerjakan segalanya sendirian sementara para pemuda desa hanya menonton mereka, tertawa-tawa sambil merokok lalu makan seperti tamu.

Padahal inti dari kegiatan itu adalah menjalin keakraban. Jeongguk juga akhirnya menyerah pada mereka semua dan memilih untuk membantu teman-temannya membakar ayam yang mereka beli. Pengeluaran membengkak pula, Taehyung yang merogoh sakunya untuk itu karena ayam mereka kurang—mereka sendiri sebagai tuan rumah tidak kebagian ayamnya. Pemuda desa jelas lebih bersemangat pada acara makan-makan alih-alih membantu para anak KKN mengerjakan program kerja mereka kemarin.

Lalu untuk membuat suasana semakin menyebalkan, entah disengaja atau tidak, Ibu malah membuka makanan yang Dahyun simpan untuk mereka sekelompok nanti malam sambil minum soda—kemewahan setelah sekian lama hidup seperti pertama vegetarian.

Ibu Dahyun yang bekerja sebagai pegawai bank menitipkan sekardus susu 250ml, tiga botol soda, dan pelbagai macam cemilan lezat yang anak-anak langsung pisahkan dari makanan yang akan mereka gunakan malam itu. Namun Ibu malah membuka kemasan makanan yang sudah diincar Jeongguk dan Yugyeom untuk dihidangkan ke tamu.

Taehyung menepuk bahu Jeongguk sayang, menenangkannya. “Nanti kita beli lagi, oke?” Katanya pada dua bayi raksasa kelompok 10—Jeongguk dan Yugyeom yang berwajah sangat sepat.

Sudah harus bergumul dengan asap memasakkan makanan untuk para tamu, makanan mereka dijajah pula.

Satu-satunya yang membantu adalah pacar Irma, itu pun karena diminta Bapak dan karena anak-anak KKN sudah seperti keluarga di sana yang berarti adalah keluarganya juga. Dia membantu anak-anak KKN membakar jagung yang dibelinya, membantu membereskan semuanya sebelum makan bersama anak-anak KKN.

Yugyeom berkali-kali menggertakkan rahangnya dan dia bukanlah anak yang mudah marah. Dia juga berkali-kali meminta maaf pada senior-seniornya padahal itu sama sekali bukan salahnya. Namun mereka tetap berhasil membuat suasana menyenangkan dengan membakar marshmallow di api—Momo dan Dahyun menganggap kegiatan itu menyenangkan walaupun marshmallow mereka terasa seperti kecap ayam bakar.

Dan para pemuda desa kemudian pamit begitu saja setelah makan, seolah mereka datang ke acara perjamuan agung. Para perempuan jengkel sekali saat membereskan semua peralatan yang mereka gunakan tadi. Semuanya saling membantu mencuci semuanya di PAH—Yugyeom mengerahkan kemampuannya untuk mencairkan suasana dengan baik hingga lima belas menit mencuci perabotan, mereka sudah tertawa-tawa ceria lagi walaupun hawa malam semakin dingin.

Mereka kemudian menonton Sausage Party malam itu sambil makan cemilan dan minum soda—bukan film terbaik yang bisa ditonton, tapi setidaknya lelucon joroknya lumayan membuat suasana menjadi rileks kembali sebelum mereka tidur.

Dan pagi ini, mereka semua siap kembali dan nyaris bersemangat karena sakit hati yang masih mereka rasakan karena kejadian semalam. Mereka bersiap-siap, mengenakan kaus KKN dan jas almamater, mengenakan call-card mereka. Membereskan barang-barang mereka yang tersebar di seluruh penjuru pondokan, mengumpulkannya sesuai kepemilikan dan mulai mengepaknya agar mudah dipisahkan di kosan Momo nanti.

“Ayo, foto bersama!” Seru Yoongi, mengeluarkan kameranya dan memasang tripod untuk menyangganya di teras rumah.

Mereka berfoto di halaman, untuk dicetak sebagai kenang-kenangan KKN di pondokan—sebuah tradisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi peserta KKN. Foto-foto yang diabaikan Yoongi selama kegiatan mereka yang sebenarnya digunakan sebagai lampiran di laporan pun beberapa akan dicetak untuk ditinggalkan di pondokan.

Setelahnya mereka berpamitan pada Bapak dan Ibu pondokan yang selama ini sudah sangat menyayangi mereka seperti anak mereka sendiri. Ibu menangis saat memeluk Jeongguk yang terkekeh, menepuk-nepuk bahunya sayang—dia dan Taehyung-lah anak KKN yang paling dekat dengan Ibu, suka mengekor beliau ke mana pun beliau pergi, dan selalu mendapatkan oleh-oleh onde-onde mekar kesukaan Jeongguk tiap kali Ibu ke pasar.

“Kami akan datang lagi dalam dua minggu, Bu.” Hibur Jeongguk terkekeh saat Ibu menyeka air matanya dengan ujung kausnya. “Mengecek fermentasi kami.”

Janji itu cukup karena mungkin Ibu paham anak-anak KKN datang dan pergi begitu saja. Rumah yang selama ini ramai karena celotehan anak-anak sebentar lagi akan sepi. Jeongguk menyadari sekali jika tidak ada mereka, rumah itu benar-benar seolah mati. Tidak ada kegiatan; Ibu dan Bapak menghabiskan waktunya di sawah, Irma bekerja, si bungsu lelaki juga bekerja. Rumah hanya akan terisi selepas Maghrib sebelum tidur pukul setengah sembilan malam.

Sejenak, Jeongguk merasa tidak ingin kembali. Dia ingin terus di sini, menghindari masa kini dan masa depan—hidup dengan sederhana dan serba berkecukupan. Tidak ada beban masa depan di bahunya, semuanya berjalan begitu saja seolah dia sedang mendayung di atas arus sungai yang tenang—tidak perlu berusaha, tidak perlu terburu-buru karena toh, sungai akan bermuara juga.

Jeongguk hanya perlu mengatur kecepatan perahu kecilnya yang bergoyang lembut. Tidak seperti di Yogyakarta di mana semuanya serba hingar-bingar memekakkan telinganya; seperti sedang berpacu dalam drag race, memperebutkan entah apa. Lari dari entah siapa. Jeongguk harus berlari.*

Akhirnya mereka pamit, salim pada Bapak dan Ibu sebelum Taehyung kemudian memimpin teman-temannya yang mengendarai motor untuk menaiki tanjakan ke jalan besar. Anak-anak melambai untuk terakhir kalinya, Jeongguk berdiri di sana—di sisi Taehyung dan menatap lepas pemandangan yang sebulan ini menemaninya.

Sudah merasakan kerinduan abstrak aneh yang menyesakkan dadanya—dia akan sangat merindukan waktu yang bergulir sangat lambat di tempat ini. Bagaimana dia bisa menikmati tiap menit bahkan detiknya dengan sangat berharga dengan teman-temannya, melakukan hal lebih banyak yang dia sangka bisa dilakukannya.

“Hei,” Taehyung memanggilnya sementara semua teman-temannya sudah siap berangkat. “Ayo.”

Jeongguk mendesah, menyeka rambutnya sebelum mengenakan helmnya lalu mengaitkannya. Dia menaiki jok belakang motornya dan mendesah, dia memang harus meninggalkan tempat ini.

Life must goes on.

“Ayo,” katanya kemudian dan mereka melaju, membelah jalanan meninggalkan rumah yang selama tiga puluh hari menampung mereka. Jeongguk menoleh, menatap papan jalan baru yang mereka pasang beberapa hari lalu—berwarna hijau mentereng yang membuat tubuh mereka semua bernoda cat minyak hingga berhari-hari. Kuku Jeongguk masih berwarna hijau neon karena mengecatnya.

Dia mendesah lalu memalingkan wajahnya, menatap jalan di hadapannya. Mereka harus melanjutkan hidup; dia harus menyelesaikan studinya. Masa liburan berkedok KKN mereka sudah resmi selesai hari ini, dia harus kembali ke rutinitas awal. Kembali terjun ke pusaran hidup memusingkan yang penuh keterburu-buruan.

Mereka tiba di Kantor Kelurahan, Yugyeom dan Tzuyu bergegas menghampiri kepala desa untuk meminta tanda tangan di laporan akhir KKN mereka bersama semua kormadus kelompok lain. Jeongguk dan Taehyung duduk di belakang sudut dengan Jaehyun, merokok.

“Semangat kembali mengerjakan skripsi?” Tanya Jaehyun, menghembuskan asap rokoknya menjauh.

“Tidak pernah siap.” Gerutu Jeongguk, menyesap rokoknya. Membiarkan rokok menggantung di bibirnya, menempel di permukaannya karena salivanya saat meraih karet di pergelangan tangannya untuk mengikat rambutnya. “Kau?”

“Apa lagi aku,” Jaehyun memutar bola matanya sebelum menjentikkan abunya ke tempat sampah kering di sisi mereka. “Dosen pembimbingmu siapa, sih?”

Miss Arti.” Sahut Jeongguk, menghembuskan asap rokoknya. “Kau? Jadi ambil Miss Venti?”

Jaehyun mengangguk, “Beruntung beliau masih mau mengambil Translation tahun ini, beberapa anak saja karena aku benar-benar tidak ingin berurusan sama Mr. Harris.” Dia menyesap rokoknya dulu sebelum melanjutkan, “Kau harus buru-buru, 'kan? Miss Arti akan pindah ke Amerika ikut suaminya.”

Jeongguk mengerang, “Ya.” Gerutunya menggaruk pelipisnya. “Di grup bimbingan juga beliau sudah terus-terusan mengingatkan kami untuk mengumpulkan draft. Syukurlah Writing 6 kemarin aku dengan Pak Hirmawan, jadi Bab 1-3-ku aman semua.”

“Sial,” gerutu Jaehyun. “Aku dengan Fajar, dan kau tahu bagaimana dia.” Dia menghembuskan asap rokoknya jengkel karena mereka semua tahu dosen post-colonialism mereka yang satu itu memang sangat sulit.

Dia kemudian menoleh ke Taehyung yang sejak tadi menyimak, “Topik skripsimu apa, Tae?” Tanyanya.

Taehyung terkekeh, tidak menyangka akan ditanya namun toh dia menjawab. Walaupun yakin mereka tidak paham topiknya. “Tinjauan terhadap penggunaan hukum Mekcham dan hukum Gomperd pada perhitungan asuransi dan annuitas,” sahut Taehyung kalem, menghembuskan asap rokoknya—teringat dia belum membuat janji untuk bertemu dosen pembimbingnya.

Kedua anak Sastra Inggris itu bengong, nyaris identik dan Taehyung tersenyum lebar.

“Hukum.... apa?” Ulang Jaehyun, mulutnya terbuka dengan rokok beberapa senti dari mulutnya, di sisinya Jeongguk tidak jauh berbeda.

“Anu.... apa?” Tanya Jeongguk dan Taehyung tertawa, nyaris terbahak-bahak karena ekspresi mereka yang benar-benar tidak paham bahkan satu kata pun dari judul skripsi Taehyung.

“Jangan dipikirkan,” dia terkekeh, “Kalian tidak akan paham jika kujelaskan sekali pun.” Dia menepuk bahu Jeongguk yang masih menatapnya seolah Taehyung baru saja bicara bahasa Prancis.

Mengingat Jeongguk punya kelas bahasa Prancis di Sastra Inggris, jadi mungkin Yunani Kuno lebih tepat.

Mereka kemudian dipanggil untuk mengikuti upacara penarikan KKN. Duduk mendengarkan sepatah-dua patah kata dari kepala desa mereka sebelum akhirnya dia menyerahkan map ke dosen pembimbing lapangan mereka sebagai tanda “pengembalian” anak-anak KKN ke pihak universitas. Setelahnya, mereka semua sibuk menyelesaikan tanda tangan laporan dan mengumpulkannya ke dosen pembimbing lapangan sebelum sesi foto bersama.

Kelompok Jeongguk tidak ikut kendaraan kampus, mereka semua pulang dengan motor yang kali ini jumlahnya pas.

“Jangan mampir, ya!” Seru dosen mereka saat mereka semua bersiap-siap turun kembali ke Yogyakarta. “Kalian ditunggu oleh Bapak Rektor di universitas untuk upacara penerimaan kembali! Hati-hati di jalan, jangan ugal-ugalan.”

“Baik, Pak!” Sahut mereka serentak sebelum kembali bersiap-siap berkendara.

Jeongguk yang kali ini mengendarai motornya karena saat mereka terjun KKN, Taehyung yang mengendarai motor. Dia menjulurkan kakinya menaiki motor dan memasang helmnya sebelum memutar kunci—di sisinya semua teman-temannya sudah siap untuk kembali.

Taehyung menaiki jok belakangnya dan mendesah, “Aku tahu kau merindukan Pulgoso.” Katanya dan Jeongguk mengerang, Taehyung membalasnya dengan tawa rendah terhibur. “Aku akan menggantinya dengan seks yang lama dan panas, bagaimana menurutmu?”

Jeongguk terkekeh, melirik Taehyung dari spion motornya. “Kau yang top?”

“Tentu,” sahut Taehyung mantap dan Jeongguk menyerigai. “Sepakat.” Katanya saat menyalakan mesin motor, kemudian melaju bersama rombongan anak-anak KKN turun kembali ke Yogyakarta.

Masa KKN mereka resmi berakhir.

cw // horror .


Jeongguk tersenyum lebar pada Taehyung yang memicingkan matanya, jengkel. Dan semakin dia jengkel, semakin Jeongguk ingin menggodanya.

Mereka sekarang berada di Masjid, anak-anak sedang duduk membuat lingkaran nyaris memenuhi Masjid yang ukurannya kecil untuk berbagi makanan yang dibawakan Tzuyu seraya menulis kesan-pesan untuk semua anak KKN di kertas origami warna-warni yang dipotong menjadi dua.

Sudah seminggu mereka menghabiskan setiap pukul tujuh hingga sembilan malam untuk mengerjakan laporan KKN yang harus dikumpulkan saat penarikan. Syukurlah Tzuyu dan Dahyun yang cekatan sudah menyicil semuanya sejak awal mereka berada di lokasi sehingga mereka tidak keteteran sama sekali. Setiap penanggung jawab proker diwajibkan untuk menyerahkan laporan dan refleksi 1x24 jam setelah proker selesai dikerjakan dan dengan disiplin itu, mereka bisa menyelesaikan laporan mereka tepat waktu.

Malam ini mereka akan menyelesaikan refleksi individu, kesimpulan, dan laporan kegiatan proker Tzuyu sebelum besok turun untuk mencetak laporan, menjilidnya, dan mempersiapkan hari terakhir mereka di pondokan.

Jeongguk mungkin akan merindukan saat-saat dia terbangun pukul dua pagi tepat untuk buang air kecil yang sama sekali tidak berubah bahkan hingga hari ini. Anak-anak kemudian menyelesaikan pekerjaan rumah mereka, makan cemilan lalu mulai keluar untuk bermain bola.

Jeongguk langsung bangkit, melepas almamaternya bersama Yugyeom yang sibuk makan Komo di tangannya. Mereka keluar dan Jeongguk, hanya untuk mengganggu Taehyung, mengenakan sandal Taehyung untuk bergabung dengan anak-anak yang bermain bola.

“Ayo, bagi kelompok!” Seru Ilham, yang paling berisik dari semua anak-anak. Dia menggenggam bola di tangannya.

Hompimpah, ayo!” Ajak Jeongguk, berjalan ke tengah mengulurkan tangannya—anak-anak bergegas menghampirinya dan meletakkan tangannya di atas tangan Jeongguk.

“Jeongguk, sandalku!”

Jeongguk menoleh, menemukan Taehyung berdecak keras di depan pintu Masjid—jengkel setengah mati dan Jeongguk ingin sekali mencium bibirnya yang terkuak sebal itu dan membuatnya diam. Dia berisik sekali jika marah. Jeongguk nyengir, menantangnya untuk marah.

“Gunakan saja sandalku!” Balas Jeongguk sebelum fokus ke anak-anak dan akhirnya mendapatkan kelompok terisi enam-enam. Jeongguk dan Yugyeom sebagai kaptennya melakukan suit untuk menentukan tim mana yang duluan menyerang.

Jeongguk kalah.

“Bajingan,” gerutunya saat menarik kausnya lepas dan melemparnya ke Taehyung yang langsung menangkapnya. Dia hanya mengenakan celana jins dengan bagian pinggang menggantung rendah di pinggulnya, membuat karet celana boksernya mengintip.

Taehyung menahan napas. Tubuh Jeongguk tidak pernah tidak nampak indah. Mungkin besok jika mereka bercinta, Taehyung harus menyalakan lampu—membuat ruangan mereka terang benderang sehingga dia bisa melihat setiap otot Jeongguk dengan sempurna.

Tato serigala di ulu hatinya tidak akan pernah membuat Taehyung terbiasa—matanya yang gelap tanpa bola mata selalu bisa seolah memandang langsung ke jiwanya.

“Ayo, oper!” Seru Jeongguk kemudian, sudah siap di tengah jalan untuk bertanding melawan grup Yugyeom sementara teman-temannya duduk di sisi jalan, menonton sambil makan cemilan.

Tidak ada yang benar-benar memerhatikan jalannya pertandingan karena mereka melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Tidak peduli siapa yang mencetak angka lebih banyak atau apa karena tiap kali permainan mulai panas dan seru, motor selalu lewat dan mereka terpaksa menyingkir—memberi jalan bagi motor untuk lewat dan mengulang permainan mereka.

Satu waktu, mereka bertanding dengan sengit—tidak ada motor yang lewat hingga mereka bisa mempertahankan aura kompetitif yang mulai naik di antara kedua tim. Jeongguk berusaha mengejar Yugyeom yang menggiring bola ke gawang tim. Dia menendang bola terlalu keras hingga benda itu bergulir terlalu dekat dengan jalan turunan ke arah Masjid yang lumayan licin oleh lumut.

Kaki kirinya diayunkan, hendak menangkap bola sebelum menggelinding jatuh keluar arena dan menyelesaikan permainan mereka, namun lupa mempertimbangkan kaki kanannya yang tidak menjejak dengan baik.

Momo hanya sempat berseru, “Awas!” dengan mulut penuh cemilan saat Yugyeom terpeleset di atas lumut yang subur dan mendarat di pantatnya dengan keras sebelum merosot beberapa meter ke bawah.

Jeongguk dan semua orang sejenak diam sebelum kemudian terbahak-bahak. Jeongguk tersengal saat dia bergegas menghampiri Yugyeom yang meringis di tempatnya, dia menyelipkan lengannya ke bawah kedua ketiak Yugyeom dan menariknya berdiri.

Taehyung juga menghampirinya, mengalungkan kaus Jeongguk di lehernya dan terkekeh namun meringis karena itu pasti sakit. “Kau oke?” Tanyanya. “Tulang ekormu baik-baik saja?”

Anak-anak berhenti bermain, semua bergegas menghampiri Yugyeom yang meringis dibantu Jeongguk untuk minggir seraya mengusap pantatnya yang menghantam tanah begitu keras hingga momentum itu membuat tubhnya memantul sepersekian detik.

“Tidak apa-apa!” Serunya kemudian membuat Jeongguk terkesiap karena suaranya, “Aku tidak apa-apa!” Dia kemudian meraih bola lagi dan mulai bermain.

Jeongguk menatapnya, mengerjap sebelum menoleh ke Taehyung yang sekarang mengenakan kaus Jeongguk di kepalanya. “Kurasa alih-alih sakit,” kata Taehyung terkekeh. “Malunya jauh lebih besar.”

Jeongguk meringis, “Benar.” Katanya lalu menatap Taehyung yang mengangkat kedua alisnya seolah bertanya, kenapa? dan Jeongguk menggeleng. “Kau indah sekali.” Katanya sebelum bergegas berlari menghampiri kelompoknya untuk kembali bermain.

Dua malam lagi, Jeongguk, pikirnya saat dia melirik Taehyung yang duduk di pinggir jalan, mengunyah siomai yang dibelinya dari penjaja yang mampir ke Masjid karena melihat anak-anak.

Nampak nyaris seindah dewa Yunani kuno dalam balutan celana jins, jas almamater jelek dan kaus Jeongguk di kepalanya, digunakan seperti topi dengan ujung menggantung ke bahunya sementara dia meniup-niup siomai di tusukannya sebelum dimakan.

Dua malam lagi, dan kalian akan melakukannya sebagaimana seharusnya.


Jeongguk mendesah keras saat dia terbangun jam dua pagi hari itu, hari terakhir mereka di pondokan.

Setelah sore tadi menghabiskan waktu berfoto-foto pada anak-anak, perpisahan yang sangat mengharukan antara Desi dan cinta pertamanya yang nampak sangat risih padanya (Jeongguk tidak bisa simpati sama sekali pada gadis kecil yang mengutit cinta pertamanya seperti seorang yang terobsesi), dan permainan sepak bola yang dimenangkan Jeongguk.

Mereka pulang, makan tempe bacem dan oseng daun pepaya buatan Ibu karena itu malam terakhir mereka sehingga Ibu memasakkan mereka lauk. Menyelesaikan laporan mereka sebelum Yugyeom, Jeongguk dan Taehyung bermain UNO Stacko satu ronde sebelum mereka semua beranjak tidur.

Dan di sinilah Jeongguk, kebelet buang air besar.

Dia bangkit dari kasur, mendesah keras lalu menoleh pada Taehyung yang terlelap dengan bibir terkuak. Dia mengulurkan tangan, menjauhkan kacamata Taehyung dari tangannya agar tidak kenapa-kenapa saat Taehyung tidak sadar.

Kemudian Jeongguk menyingkirkan kantung tidurnya, bangkit dan mengenakan sandalnya untuk beranjak ke kamar mandi. Di luar hening, hanya ada suara jangkrik dan gemerisik dedaunan. Jeongguk berhenti di pintu belakang, membuka selot kayunya yang berat lalu melangkah keluar.

Bergidik kedinginan karena dia hanya mengenakan kaus tipis dan bokser. Dia mengikat rambutnya, beranjak ke kamar mandi membawa ponsel di sakunya walaupun tidak banyak yang bisa dilakukannya dengan benda itu tanpa sinyal. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi, nyaris seperti kebiasaan.

Dia menatap ke kegelapan, di mana tanah rumah Bapak berakhir ke jurang dan beberapa meter di sudut kandang ternak. Tidak ada apa pun. Daun bambu gemerisik ditiup angin malam dan Jeongguk mengerjap—memutuskan untuk mengabaikannya dan masuk ke kamar mandi.

Dia nongkrong di atas kakus kamar mandi dan menguap lebar, mengeluarkan ponselnya untuk bermain permainan di sana seraya membunuh waktu. Suasana malam sangat hening dan dia sudah terbiasa desa menjadi sangat hening bahkan pukul sembilan malam karena rumah terdekat berjarak nyaris satu kilometer jauhnya dari satu sama lain.

Sesekali, desau angin melewati langkan atap kamar mandi yang tidak memiliki langit-langit terdengar. Jeongguk kembali menguap, sangat dongkol karena dia mengantuk namun usus besarnya sungguh tidak tahu diri. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara kecil dari ponselnya, musik gembira Candy Crush Jelly Saga yang dimainkannya.

Terdengar suara seseorang di pintu ke arah pondokan dan Jeongguk mendongak dari ponselnya, mendengarkan. Dia melongok, melirik pintu kamar mandi yang sudah diselotnya sehingga tidak ada yang akan membukanya.

Dia menunggu seraya mempertimbangkan haruskah dia mengumumkan keberadaannya di sini atau tidak saat seseorang itu bersuara. Suaranya persis di depan tembok yang berada di hadapan Jeongguk, berarti di depan pintu masuk ke pondokan.

“Mbak? Mas?”

Oh. Itu Ibu.

Jeongguk tersenyum. “Saya, Bu!” Serunya menggema dari dalam, agak geli dan malu karena dia sedang buang air besar. “Ibu mau pakai kamar mandi? Saya sebentar lagi selesai, Bu.”

Hening.

Jeongguk mengerutkan alisnya, “Ibu?” Serunya sekali lagi, menunggu sepersekian detik sebelum mengedikkan bahunya dan kembali menunduk ke ponselnya—mungkin Ibu sudah masuk kembali ke dalam rumah.

Dia kemudian menyelesaikan urusan kakusnya sepuluh menit kemudian. Menyiramnya dengan baik sebelum melangkah keluar dari kamar mandi dengan kaki basah. Dia membuka kamar mandi dan menoleh ke pintu masuk pondokan.

Dia yakin sekali dia meninggalkan pintu tertutup rapat karena Ibu tidak terlalu suka Diwud masuk ke dalam rumah malam hari. Dan sekarang pintu itu terbuka setengah, kegelapan mengintip dari dalam sana. Alisnya berkerut—apakah angin yang membukanya?

Jeongguk kemudian teringat suara Ibu yang memanggil tadi dan berpikir mungkin itu Ibu yang lupa menutup rapat pintunya. Maka dia tidak ambil pusing, dia beranjak masuk dan kembali menyelot pintunya dan melangkah memutari dapur hingga tiba di tempat tidurnya dengan Taehyung yang masih terlelap seperti tadi saat dia meninggalkannya.

Jeongguk meletakkan ponselnya lalu menyelipkan dirinya kembali ke dalam kantung tidur. Dia menghela napas lalu memejamkan matanya, langsung terlelap lima detik kemudian karena matanya pedas menahan kantuk.

Tidak memikirkan lagi Ibu yang memanggilnya tadi atau pintu yang terbuka.


”...Hah?”

Momo menatapnya dengan segelas Energen di tangannya. Pagi itu mereka tidak memiliki kegiatan apa-apa sehingga mereka bebas bermalas-malasan sementara Tzuyu dan Dahyun menyelesaikan laporan KKN mereka di atas tikar dengan laptop Yoongi.

“Ibu semalam tidak di pondokan, menginap dengan Bapak di Klaten.” Ulang Momo seolah memberi tahu Jeongguk bahwa cicak berkembang biak secara bertelur, bukan melahirkan. “Kau tanya saja Mbak Irma.”

Jeongguk mengerutkan alisnya, hatinya mencelos karena dia bersumpah semalam dia mendengar suara Ibu memanggilnya di kamar mandi. Dan hanya untuk memperkeruh suasana, motor Bapak terdengar dari kejauhan dan Ibu memasuki rumah dengan jilbab dan pakaian tertutup rapi.

“Nah, ini Ibu.” Kata Momo.

Ibu menoleh, tersenyum. “Kenapa, Mbak?” Tanyanya lalu meletakkan besek di meja. “Ini ada ayam ingkung, dimakan bareng, ya.” Kata Ibu kemudian melepaskan jaketnya.

“Ibu dari mana?” Tanya Jeongguk dengan mulutnya yang terasa penuh pasir dan jantungnya berdebar.

Ibu menatapnya sejenak, “Ibu semalam ke Klaten dengan Bapak. Ini baru pulang.” Katanya kemudian beranjak ke belakang untuk berganti baju. “Ayamnya digoreng saja, ya, Mbak. Dihangatkan dulu.” Tambahnya seraya melangkah masuk.

Jeongguk terenyak di kursinya, menatap nanar ke langit-langit rumah. Merasa mual karena dia yakin sekali yang semalam mengajaknya bicara adalah Ibu. Dan separuh hatinya bersyukur bahwa Ibu atau siapa pun itu yang semalam mengajaknya bicara tidak menjawabnya saat dia menawarkan untuk segera selesai.

Taehyung datang dengan rambut basah dan handuk di lehernya, baru selesai mandi dan menatap Jeongguk yang duduk terbengong di kursinya dengan Momo yang menatapnya cemas. Taehyung melangkah melewati mereka ke pintu samping untuk menjemur handuknya.

“Kenapa dia?” Tanyanya sekalian menjemur pakaian dalam yang dicucinya.

Momo menatapnya, melirik Jeongguk yang masih bengong sebelum bicara. “Katanya semalam saat dia buang air besar, ada seseorang yang memanggilnya di kamar mandi. Suaranya seperti Ibu padahal Ibu dan Bapak berangkat ke Klaten selepas Maghrib.”

“Dan pintunya terbuka!” Tambah Jeongguk, wajahnya memucat—jantungnya berdebar karena beberap kemungkinan yang terbit di kepalanya tentang siapa yang diajaknya bicara semalam.

“Tapi kau tidak apa-apa?” Tanya Taehyung, duduk di kursi sebelah Jeongguk yang menarik kedua kakinya terlipat di dadanya. “Memangnya apa katanya?”

Jeongguk mengerjap, “Dia hanya memanggil 'Mbak? Mas?' lalu saat aku menjawab, dia tidak menjawabku lagi dan kupikir Ibu batal menggunakan kamar mandi. Saat aku keluar, pintu belakang terbuka sedikit padahal aku bersumpah aku menutupnya rapat karena tidak ingin Diwud masuk.”

Taehyung berhenti dan menatap Momo yang juga berhenti sarapan. Tidak yakin bagaimana harus menanggapi Jeongguk dan ceritanya. Sejak awal terbangun setiap pukul dua pagi sudah sangat mengundang tapi tidak ada yang terjadi pada Jeongguk—dia kalem saja, “Aman, kok.” begitu katanya setiap di tanya.

Dan memang di pondokan, Jeongguk yang paling sering bersinggungan dengan mereka namun juga tidak mendapatkan kontak langsung yang berarti seperti Namjoon tempo waktu. Dan diajak bicara kemarin mungkin adalah satu-satunya kontak langsung yang terjadi setelah sekian lama di pondokan. Momo masih menolak untuk membicarakan apa pun sejauh ini dan mereka menerimanya.

Taehyung menepuk pahanya, “Tidak apa-apa. Dia tidak melakukan apa pun padamu. Mungkin hanya ingin menyapamu.” Katanya lembut, hatinya merasa teriris saat melihat raut wajah Jeongguk yang kebingungan.

Yugyeom yang mendengarkan seraya berguling di atas tumpukan kasur tempat tidur Taehyung mengangguk, “Tidak apa-apa.” Katanya menghibur walaupun Taehyung tahu jelas dia juga ketakutan.

“Sudah, jangan dipikirkan.” Taehyung kemudian beranjak dan meraih besek di meja. “Ayo bantu aku menghangatkan ayam saja.”

Jeongguk mengangguk, mengekornya ke dapur di mana Taehyung meletakkan ayam di sisi kompor dan mulai meraih wajan Ibu. Menuang cukup minyak ke dalamnya dan menyalakan kompor. Dia meraih pisau, mulai menusuk-nusuk ayam, membuka dagingnya sehingga matangnya bisa merata saat digoreng.

Jeongguk berjongkok di tempat cuci piring, mencuci gelas-gelas kotor yang mereka gunakan semalam dan tadi untuk sarapan Energen saat Momo menghampiri mereka dengan seikat sawi putih dan sebungkus tahu pong.

“Kita buat sayur sawi dengan tahu saja.” Katanya meletakkan gelas di sisi Jeongguk yang langsung meraih dan mencucinya.

Taehyung mengangguk seraya memasukkan ayam ke dalam minyak yang langsung mendesis dan meletup-letup karena bumbu bacem yang berair. Momo langsung berteriak kaget dan mundur dari dekat Taehyung yang tertawa, menajuhkan tubuhnya dari wajan yang berteriak-teriak marah.

“Tidak apa-apa,” Taehyung menghibur Momo, mengulurkan tangan untuk mengecilkan apinya—menyadari dia menggoreng ayam yang berair dengan minyak terlalu panas dan api terlalu besar.

Jeongguk menoleh, menyadari letupan amarah di wajan dan Taehyung yang mengulurkan tangan ke arah bahaya. “Awas tanganmu!” Serunya, memperingatkan.

Taehyung membuka mulut untuk bicara bahwa hal itu lumrah saja karena ayam yang agak basah namun kemudian wajan memutuskan untuk meletup keras sekali dan mengirimkan minyak panas ke udara. Dia langsung menamengi Momo yang terkesiap kaget dan minyak mengenai lengan bawah serta lensa kacamatanya.

“Ya Tuhan, Tae!” Jeongguk langsung berdiri, hendak meraih spatula dari tangan Taehyung yang melambaikan tangan kalem walaupun minyak membakar lengannya—ada empat tetes di sana, salah satunya seukuran jempol tangannya.

Dia mengulurkan tangan, menepis tangan Jeongguk yang berusaha menahannya dan mengecilkan apinya. Yoongi berlari ke dapur, kaget karena teriakan Momo dan Jeongguk.

“Kalian oke?” Tanyanya kaget.

“Pertarungan melawan minyak panas.” Taehyung terkekeh saat Jeongguk bergegas meraih bawang merah dan mengiris-irisnya untuk ditempelkan ke luka bakar Taehyung.

Setelah api dikecilkan, pertarungan mereda dan Taehyung mengamati saat Jeongguk menyambar tangannya; menempelkan irisan bawang yang membuat lukanya sejuk seketika. Dia mendesah kecil dan Jeongguk mendongak.

“Puji Tuhan kau mengenakan kacamata!” Serunya, mengulurkan tangan dan melepaskan kacamata dari wajah Taehyung; di kedua lensanya ada minyak panas* dan Taehyung merasa jantungnya mencelos.

Jika saja dia tidak mengenakan kacamatanya, matanya pasti kena tadi. Jeongguk meraih tisu di meja makan dan mengelap minyak dari lensa kacamata Taehyung sementara Momo perlahan mengaduk ayam di dalam minyak panas yang mendesis—namun tidak semarah tadi.

Setelahnya, mereka melanjutkan memasak dengan tenang setelah Taehyung mengangkat ayam dari minyak dan meniriskannya di sebelah kompor, mempersilakan Momo mulai menumis bumbu untuk sayur mereka hari itu dan Jeongguk mengaduk nasi yang ditanak Tzuyu tadi sebelum mulai mengerjakan laporan KKN.

Mereka makan bersama, duduk di ruang makan yang sempit dengan Jeongguk yang masih sibuk mengecek luka di lengan bawah Taehyung. Mengganti bawangnya dan meniup-niupnya.

“Aku ada salep luka bakar di tasku, sebentar.” Dahyun bergegas ke kamarnya dan kembali dengan tube salep mungil di tangannya. Dia menyerahkannya pada Jeongguk yang langsung membantu Taehyung menggunakannya.

“Gguk.” Panggil Taehyung geli saat pemuda itu mengoleskan salep yang terasa sejuk ke lukanya yang memerah.

“Hm?” Jeongguk tidak mendongak, dia meniup-niup luka Taehyung dan ada sesuatu di caranya merapatkan bibirnya, mengerucutkannya untuk meniup lukanya yang membuat Taehyung ingin mengecupnya.

“Aku baik-baik saja.” Dia menepuk kepala Jeongguk sayang, begitu sayang dan cinta hingga dia ingin sekali memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman karena dia sangat menggemaskan ketika khawatir. “Tidak perlu panik.”

“Yah,” Yugyeom menyendok sayuran ke atas piringnya. “Namanya juga bucin.” Cemoohnya lalu mengaduh saat Jeongguk menendang pantatnya tanpa aba-aba. “Pelecehan seksual!”

“Tidak apa-apa,” Taehyung nyengir saat Jeongguk mendongak—sejenak terpana oleh senyumannya sebelum membalasnya. Dia mengulurkan tangan dan membelai pipi Jeongguk sayang sekali sebelum melepaskannya. “Dia menggemaskan kok. Sana makan.”

Jeongguk tersenyum. Tidak sabar hingga mereka pulang ke kosan dan dia bisa memeluk Taehyung sepuasnya; menciuminya, memeluknya hingga semua tulang Taehyung remuk karena cinta di dadanya begitu menyesakkan, dia nyaris merasa dadanya meledak oleh perasaan itu.

Dia kemudian menggunakan dua garpu untuk mencabik-cabik ayam yang panas agar Taehyung bisa makan dengan mudah. Taehyung terkekeh, mengamati Jeongguk berusaha mencabik tiap bagian ayam untuk dimakannya sementara semua anak mengamatinya dengan jijik.

“Silakan makan,” Jeongguk menyerahkan piring Taehyung setelah semua daging lepas dari tulangnya lalu menambahkan lembaran kulit ayam yang tidak disukainya ke sana.

“Level romantis paling tertinggi adalah ketika kau memberikan kulit ayammu pada kekasihmu.” Yugyeom mengangguk-angguk, menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak bicara lagi dan Taehyung terkekeh.

“Dia tidak suka kulit ayam.” Taehyung mulai makan dengan tangan kirinya karena luka di lengannya sekarang berdenyut mengerikan. Jeongguk memposisikan piring di atas paha Taehyung agar tidak terguling.

“Tetap saja romantis.” Dahyun setuju dan itu pertama kalinya.

Taehyung menatap Jeongguk yang sedang mengunyah tulang muda di bagian paha ayam yang dimakannya dan tersenyum. Jeongguk memang luar biasa, dia tidak akan menyangkalnya.


*Note.

Yang kena minyak panas itu aku dan beneran, aku bersyukur banget pas itu aku pake kacamata krna beneran ada sekitar 1-3 tetes minyak di lensa kacamataku :'DD

cw // sexual tension


“Saya berikan selembar kertas, silakan memunggungi teman-teman kalian—ya, buat barisan begitu. Nah, benar. Tulis nama kalian masing-masing di atas kertas lalu tukar memutar dengan teman-teman kalian.”

Taehyung menoleh ke kelompok di sebelah mereka—anggotanya duduk memunggungi teman-temannya sehingga tidak ada yang bisa saling mengintip. Mereka duduk dalam satu barisan seperti bermain Ular Naga Panjangnya. Menggunakan punggung anggota di hadapannya sebagai alas untuk menulis di kertas warna-warni yang dibagikan Dosen Pembimbing Lapangan mereka.

Mereka lekas menirunya, Jeongguk berada di paling depan karena dia duduk paling pinggir—terdekat pintu dan Tehyung duduk di belakangnya. Mereka kemudian menulis nama masing-masing di kertas itu, memberi garis di bagian tengahnya dan memberi tanda (+) lalu (–) sebagai judul dua ruang kosong itu.

Taehyung menyerahkan miliknya ke Jeongguk yang menyerahkan miliknya ke orang di ujung belakang, Yoongi. Taehyung menerima milik Dahyun yang ada di belakangnya dan begitu seterusnya.

“Sekarang, tulis hal-hal yang kalian rasakan tentang orang yang kertasnya kalian dapatkan. Hal positif dan negatif yang kalian dapatkan selama tinggal bersama dalam tiga puluh hari ini,” kata DPL mereka, tersenyum lebar. “Apakah mereka menyebalkan, rajin, berisik? Silakan tulis saja.”

Taehyung mengulum senyumannya dan mulai menekan pulpen ke atas kertas di punggung Jeongguk untuk Dahyun. Di kolom positif, dia menuliskan: “Tangguh. Tidak menyulitkan. Mandiri. dan di kolom negatif dia menuliskan: “Kurangi berteriak dengan suara keras. Abaikan saja Jeongguk, kau tidak perlu menanggapi setiap sampah yang dikatakannya.

Dia terkekeh lalu mengulurkan kertas itu ke Jeongguk yang mengoper kertas Taehyung ke Yoongi. Mereka melakukan rotasi itu sebanyak tujuh kali hingga akhirnya kertas Jeongguk berada di genggaman Taehyung.

Dia membaca isinya dan mulai tertawa tanpa suara karena semuanya terisi hal-hal seperti:

(+)

mbuh. gak ada. cakep. GAK. ADA. rajin. AGAK. nurut kalo disuruh. bijak? kalo lagi bener otaknya.

(–)

matio, ndes! tolong kalo masak jangan KEBANYAKAN BACOT! km membuat neraka nampak seindah negeri dongeng. tato hello kitty donk qaq! KALO JEMUR SEMPAK SING GENAH YA NDES! celana jins gguk to the rest of the laundry: “you guys being washed?”

Taehyung tertawa kecil, sudah tahu bahwa isi kertas Jeongguk adalah hal semacam ini. Namun dia tahu, dibalik semua ini mereka adalah keluarga yang saling melindungi.

Teringat saat Dahyun pertama terjatuh, itu baru hari pertama KKN dan mereka semua sigap menolongnya. Saat Jeongguk jatuh sakit, semua orang mendadak panik. Dahyun dan Momo membuatkannya bubur, membeli daun bawang dari Simbah, ibu Bapak yang sering mampir dari pasar membawa sisa jualannya. Saat Taehyung sakit, semua orang siap menjadi tiang sangganya untuk berjalan—memastikan Taehyung aman dan nyaman.

Dan bukankah begitu setiap saudara bertindak? Saling membenci dan saling sayang?

Taehyung tersenyum lebar sebelum menekan pulpennya di atas kerjas di sisi (+):

(+) the best sex i've ever had. the best sleeping partner—both literally and figuratively. (–) kurang banyak. besok beli kondom selusin ya. ily.

Taehyung kemudian melipat kertasnya, sesuai arahan dari DPL mereka sebelum menyerahkannya ke Jeongguk. Mereka kemudian membenahi duduk mereka, bersandar ke dinding dengan piring kacang rebus di hadapan mereka lalu mulai membuka kertas mereka masing-masing.

Tidak ada yang tahu siapa yang menulis yang mana, tentu saja tapi Taehyung hafal beberapa tulisan tangan yang dikenalinya saat mencontek isi buku harian KKN.

Miliknya:

(+)

goyangannya mantap! 100/10 gon have you on top again! mwa ily IKI SIK NDUWUR JEONGGUK PO? NGGILANI TENAN BAJIGUR! rajin. banget! asyik diajak curhaat huhu rajin! cekatan mandiri usil, gemesin, baik, rajin menabung xixixi asique! gojekannya mantap hahahah

(–)

saklek, nyebelin. padahal cium dikit di pondokan gpp taw GGUK TMI JINGAN!! JANCOOOO! galak. kadang nyebelin. kalem dikit kaaak! hahahah galak. GALAK LULS! galaaaaak galak 10/10 agak moody?

Taehyung tertawa, khususnya membaca bagian awal miliknya sebelum menoleh ke Jeongguk yang juga sedang tersenyum lebar membaca miliknya sendiri. Mereka berpandangan, bertukar senyuman lebar.

KKN mereka akan segera berakhir, namun ada bagian dari hati mereka yang tidak ikhlas jika mereka harus berpisah dengan teman-teman KKN mereka yang sangat akrab ini. Siapa sangka jika teman-teman KKN Taehyung ternyata anak-anak seasyik dan semenyenangkan ini? Tidak ada yang manja dan menyebalkan, tidak ada yang menyulitkan; mereka berangkulan, akrab dan solid.

Taehyung pasti akan merindukan bangun pagi, berangkat ke PAUD, bertengkar dengan Dahyun masalah menu makan siang, pergi ke pasar untuk membeli pukis yang habis dimakan seraya menunggu para perempuan berbelanja, bermain sepak bola sore dengan anak-anak di Masjid....

Namun mereka harus kembali. Masa berlibur mereka sudah habis, dunia mereka menunggu; skripsi mereka menunggu, hal-hal yang mereka harus kembali hadapi. Pendidikan yang harus mereka selesaikan.

Berada di lokasi KKN selama tiga puluh hari sudah membuka mata Taehyung tentang kehidupan. Bagaimana waktu seolah berjalan jauh lebih lambat di sini, segalanya berjalan dengan perlahan—memberikan ruang yang cukup untuk Taehyung bernapas, memproses kehidupan dengan lebih mudah.

“Punyamu oke?” Tanya Jeongguk saat dia menyelipkan kertasnya ke dalam tasnya.

Taehyung terkekeh, “Lumayan.” Katanya. “Kau?”

Jeongguk mendengus, geli. “Anak-anak kreatif sekali.” Katanya dan sebagai orang yang sudah mengintip isi kertas Jeongguk, dia setuju.

Mereka duduk berdekatan, kelingking bertautan di balik jas almamater mereka yang diatur sedemikian rupa hingga menyembunyikan tangan mereka yang saling terkait. Jeongguk menyugar rambutnya, nampak mengantuk.

“Hei,” Dahyun di sisinya mendekatkan kepala ke Taehyung yang otomatis merunduk ke arahnya. “Kau dengar tidak katanya ada yang dibawa ke Kelurahan karena ketahuan mesum di pondokan.”

Jeongguk menoleh, mendengar bisik-bisik itu. “Sungguh?” Sahutnya, juga berbisik.

Dahyun mengangguk, melirik lelaki dan perempuan yang duduk di arah jam 8 dari mereka. Si perempuan mengenakan sweter jingga di pakaiannya dan si lelaki nampak seperti jenis lelaki fuck boy yang disukai para perempuan dengan gaya cocky-nya.*

“Lihat asetnya,” komentar Jeongguk seketika dan mendapatkan jitakan di kepalanya hingga dia mengaduh keras—beberapa anak menoleh pada mereka dan Taehyung tersenyum lebar, menenangkan mereka semua.

“Kemarin saat anak-anak berangkat proker, si perempuan izin sakit datang bulan,” kata Dahyun, sekarang Momo dan Tzuyu bergabung dengan mereka. “Lalu si lelaki bilang dia akan pulang mengambil sesuatu untuk kebutuhan proker. Bapak pondokan melihatnya masuk ke kamar perempuan dan mengunci pintu.”

“Mantap.” Komentar Jeongguk kemudian, sekali lagi, dihadiahi jitakan oleh Taehyung yang nampaknya sama sekali tidak keberatan melakukannya. Jeongguk mengerang, mengusap kepalanya yang sudah dua kali terkena jitakan sementara Taehyung kembali fokus pada Dahyun.

“Lalu, lalu??” Tanya Momo bersemangat.

“Lalu Bapak pondokan langsung membuka pintu mereka paksa,” kata Dahyun kemudian, berbisik.

Taehyung meringis. “Apakah mereka telanjang?”

Dahyun mengangguk, “Setengah telanjang, katanya.”

Taehyung mengernyit, tidak habis pikir bagaimana mereka bisa melakukan hal semacam itu di pondokan? Kenapa mereka tidak izin pulang saja? Pergi ke hotel, bercinta sepuasnya lalu kembali—hal itu jauh lebih menyenangkan dan aman dari ganjaran manusia dan makhluk halus yang pasti tidak menyukai kegiatan semacam itu.

“Lalu mereka digiring langsung ke Kelurahan. Pak Achilleus,” Dahyun mengangguk ke DPL mereka yang sedang bicara dengan kormadus kelompok lain. “Datang sebagai perwakilan kampus bersama salah satu staf Wakil Rektor 3 Bagian Kemahasiswaan dan juga LPPM. Mereka bertemu dengan perangkat desa termasuk Pak Dukuh.”

Jeongguk mendekat, nyaris menyandarkan diri di Taehyung. “Lalu apa ganjarannya?”

Dahyun menggeleng, “Katanya mereka akan diluluskan dengan nilai C.”

“Tidak asyik.” Komentar Taehyung kemudian dan Jeongguk terkekeh, mencubit pantatnya dari balik almamater mereka dan Taehyung mendelik jengkel padanya namun tak ayal tertawa kecil. “Mereka harusnya digagalkan KKN.”

“Digagalkan mungkin bisa, tapi jika mereka kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang sama lagi di KKN selanjutnya?” Sahut Momo meraih segenggam kacang rebus dan mulai mengupasnya.

“Tetap saja, harusnya ganjarannya setimpal dengan rasa malu yang mereka lakukan untuk nama universitas. Berbuat mesum di pondokan.” Gerutu Taehyung di bawah napasnya. “Aku tidak suka sekali pada orang-orang yang tidak tahu waktu kapan harus melampiaskan nafsunya.”

“Kau pertapa. Pengendalian gairahmu luar biasa.” Jeongguk mengangguk-angguk lalu mengaduh saat Taehyung menyambar pahanya, mencubitnya pedas.

“Tapi setuju.” Kata Dahyun kemudian, “Maksudku,” dia sejenak nampak kikuk sebelum mengedikkan bahunya. “Kalian nampak sangat... penuh dengan percikan gairah seksual. Aku sudah takut kalian akan bertingkah macam-macam di pondokan, tapi ternyata aku hanya bersikap tidak adil pada kalian.”

Taehyung tertawa kecil. “Setan kecil ini tidak terlalu hebat.” Dia memijat tengkuk Jeongguk sayang. “Tapi, toh, kami berhasil. Selain karena kami tidak ingin menyulitkan kalian, nampaknya pondokan kita tidak terlalu ramah manusia.” Dia mengangguk, teringat mimpi Namjoon hanya karena dia bersuara keras.

Bayangkan saja jika mereka melakukan itu di pondokan.

“Dan aku punya uang untuk membayar kamar hotel kok,” sahut Jeongguk yang mendesah senang karena Taehyung memijatnya. “Aku tidak semiskin itu bercinta di pondokan.”

Dahyun mengernyit. “Baiklah.” Katanya dengan wajah berkerut jijik dan Taehyung terkekeh.

Mereka pulang kemudian, mampir ke Wedi untuk membeli cemilan yang akan digunakan Tzuyu sebagai perpisahan anak-anak. Mereka berhenti di toko kelontong di dekat pintu masuk Pasar Wedi, Jeongguk langsung menghampiri pejaja dawet ayu yang memarkir sepedanya di sisi jalan dan memesan satu. Yoongi bergabung dengannya.

Para perempuan membeli beberapa lusin makanan, permen kenyal, dan juga wafer. Mereka akan makan bersama-sama sore ini, sambil mengisi surat kesan-pesan untuk para anggota KKN dari anak-anak.

Yugyeom memilih menunda acara perpisahan mereka, acara memanggang bersama warga dan Jeongguk mengangguk—siap memberi info pada ketua Karang Taruna tentang pemindahan tanggal itu.

Taehyung membantu para perempuan memilih makanan, mengecek kandungannya dan mengira-ngira makanan apa yang mungkin disukai anak-anak sehingga tidak ada makanan yang terbuang. Dia tidak menyadari saat Jeongguk akhirnya masuk, melihat-lihat cemilan dan tertarik pada beberapa.

Jeongguk meraih sebuah cemilan, membaca bungkusnya dengan saksama sebelum menatap Taehyung yang sedang melihat-lihat makanan dengan kedua tangan di balik bahunya. “Tae, kau bawa uang tidak? Aku ingin ini.” Dia melambaikan cemilan di tangannya.

Taehyung menoleh, melihat bungkus makanan di tangan Jeongguk dan terkekeh. “Belilah barang lima,” dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet untuk membayar makanan yang diinginkan Jeongguk. “Agar kau punya sesuatu untuk dikunyah dan tidak merengek.”

Pemuda itu bergegas meraih lima bungkus cemilan dan meletakkannya di konter. “Dan rokok,” tambahnya nyengir pada Taehyung yang mendesah. “Kau yang terakhir merokok, jadi kau yang beli.” Sahutnya, setengah mendelik saat penjual mengambilkan mereka rokok.

“Baiklah, baik.” Taehyung terkekeh, dia kemudian membayar belanjaan Jeongguk sementara pemuda itu memijat tengkuknya.

Anak-anak perempuan akhirnya menyelesaikan belanjaan mereka. Meletakkan semuanya di meja kasir lalu keluar dengan dua kantung plastik hitam besar yang penuh oleh cemilan yang menggembung karena angin.

Jeongguk dan Taehyung baru saja menyalakan rokok saat anak-anak keluar dari toko. Keduanya mendesah keras, Taehyung mengepit rokok di bibirnya. “Aku saja yang mengendarai motornya, kau merokoklah.” Katanya kemudian mematikan bara rokok, memasukkan batang yang masih panjang itu ke kotaknya.

Dia menghabiskan rokok terakhir mereka sebelum evaluasi dan Jeongguk sudah menahan diri tidak merokok berjam-jam, dia layak mendapatkan sebatang dengan tenang.

“Habiskan sebelum tiba di Masjid, ya?” Ingat Yoongi dan Jeongguk mengangguk—mereka akan langsung ke Masjid dari sini, mengurus hari terakhir bimbingan belajar dan perpisahan dengan anak-anak.

Jeongguk menaiki jok motornya, menukar helm full face-nya dengan milik Taehyung yang terbuka sehingga dia bisa merokok dan motor mereka melaju terakhir—agar abu rokok Jeongguk tidak mengenai siapa pun di belakang mereka.

Yoongi sudah membuat mereka berjanji agar tidak merokok saat bimbingan belajar atau setelah PAUD—menjauh dari anak-anak jika mereka ingin merokok agar tidak berpotensi menjadi contoh yang buruk. Walaupun Jeongguk tidak terlalu setuju karena para pemuda lain nampak sangat rileks merokok di depan anak-anak, dia mengangguk—dia tidak mau menimbulkan keributan di kelompok.

Dia merokok dengan nyaman di belakang, Taehyung melirik dari spion motor. Dia melepaskan tangannya dari stang motor dan menepuk tangannya yang berada di paha Taehyung hangat.

Jeongguk tersenyum padanya dari pantulan spion di motor. “Lihat ke depan,” katanya. “Nanti kita mati. Romantis, sih, tapi katamu kita belum bercinta yang banyak.”

Taehyung terkekeh serak, mengoper gigi motor dengan suara keras sebelum menambah kecepatan. “Benar juga.” Dia mengangguk serius. “Aku akan ke kosanmu dulu setelah penarikan, bagaimana?”

Jeongguk bersiul keras, “Langsung hari itu juga? Seksi.” Komentarnya lalu dari balik almamater yang mereka gunakan sebagai jaket, dia mengelus selangkangan Taehyung yang terkejut dan nyaris oleng di atas motornya.

Kelepak jas almamater menyembunyikan tangan Jeongguk dengan sempurna saat jemarinya bergerak di dalam sana hingga Taehyung pening.

“Kau bedebah bangsat, jauhkan tanganmu.” Geramnya, merasakan benar saat semua sarafnya memfokuskan diri pada gerakan jemari Jeongguk di tubuhnya yang mulai bereaksi; menebal dan panas menggelisahkan, geli.

“Lihat, dia suka.” Jeongguk terkekeh serak, menyadari bara rokoknya mati dia kemudian menyelipkan puntungnya ke saku jas almamaternya. “Dia bangun. Menggemaskan.”

Taehyung menggertakkan gigi. “Milikku jauh dari kata menggemaskan.”

“Iya, iya.” Jeongguk terkekeh, terhibur. “Aku menyakiti egomu, ya?” Dengkurnya seperti seekor singa saat tangannya membelai Taehyung yang nyaris mendesah keenakan di atas motor yang melaju enam puluh kilometer per jam.

“Jeongguk. Kita sedang di jalan.” Geramnya dengan rahang dikatupkan. “Jika kau lupa?”

Jeongguk tertawa, keras dan lepas—benar-benar puas karena telah membuat Taehyung tegang di tengah jalan. Dia mengangkat tangannya dari sana lalu membelai perut Taehyung yang langsung mengejang oleh sentuhan itu.

Bohong jika dia tidak merindukan sentuhan Jeongguk—mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri selama di pondokan. Berusaha keras untuk tidak kelepasan dengan letupan gairah yang memusingkan. Inilah pertama kalinya setelah hari mereka bercinta seperti kesetanan, Jeongguk menyentuhnya dan Taehyung ingin terengah di kakiknya agar dia menggagahi Taehyung saat itu juga.

Jemari Jeongguk terasa sangat hangat hingga kepalanya pening. “Gguk, berhenti.” Katanya parau.

Jeongguk tertawa, “Baiklah, Sayang. Kau tidak perlu jadi sangat alfa begitu.” Dia menarik tangannya dan secuil hati Taehyung merengek menginginkan tangan Jeongguk kembali ke tubuhnya.

Ini di jalan, Bodoh! Teriak otaknya ke hati Taehyung yang tersedu-sedu.

“Nanti,” Jeongguk mendekatkan wajahnya hingga napasnya membelai leher Taehyung. “Begitu kita berada di kamarku dengan pintu terkunci, kau bisa menggunakan suara alfa itu untuk memintaku menelan orgasmemu. Aku tidak akan keberatan.” Dia meniup leher Taehyung. “You can fuck me on the mouth all the way you like.”

Dan itulah alasan kemudian Taehyung terserang vertigo ringan di pondokan saat mereka mengambil papan dan beberapa buku untuk anak-anak hingga Tzuyu memberikannya sebotol air minum. Dia sangat bergairah dan baru saja ditinggalkan blue-balled oleh Jeongguk yang nyengir—nampak sama sekali tidak berdosa.

Fuck you,” gerutunya dan Jeongguk terkekeh.

Yes, Darling,” sahutnya berbisik, terhibur. “Fuck me.” Lalu dia beranjak keluar, menyerigai congkak dan menyodok bagian dalam lidahnya dengan sensual sebelum meninggalkan Taehyung bersandar di pintu masuk kamar lelaki—sakit kepala.

Dan punya masalah dengan selangkangannya.

Dia tidak bisa datang ke Masjid dengan keadaan seperti itu.

Jeongguk memang bedebah bangsat.


*Note.

Bagian anak yang ketahuan mesum di pondokan aku gambarkan persis seperti anak-anak aslinya. Dan uhuk asetnya si mbak memang aduhai maapin. Dan kadang keliatan kayak dia gak mau berusaha nutupin gitu? :'D Dia suka pake baju yg agak terbuka kalo eval :'DD Dan si cowoknya juga tipe2 cowok yg cocky fuck boy gitu, cakep sebenernya tp pas tau kelakuannya.... gak deh wqwqwq

Desas-desus lebih lanjut, katanya si cewek yang ngajakin. Mantap pokoknya wkwkwkwkw

Jadi kami sekelompok kek “yaudahsih ya keliatan....” :'DD

cw // sexual tension


“Saya berikan selembar kertas, silakan memunggungi teman-teman kalian—ya, buat barisan begitu. Nah, benar. Tulis nama kalian masing-masing di atas kertas lalu tukar memutar dengan teman-teman kalian.”

Taehyung menoleh ke kelompok di sebelah mereka—anggotanya duduk memunggungi teman-temannya sehingga tidak ada yang bisa saling mengintip. Mereka duduk dalam satu barisan seperti bermain Ular Naga Panjangnya. Menggunkan punggung anggota di hadapannya sebagai alas untuk menulis di kertas warna-warni yang dibagikan Dosen Pembimbing Lapangan mereka.

Mereka lekas menirunya, Jeongguk berada di paling depan karena dia duduk paling pinggir—terdekat pintu agar bisa merokok. Tehyung duduk di belakangnya. Mereka kemudian menulis nama masing-masing di kertas itu, memberi garis di bagian tengahnya dan memberi tanda (+) lalu (–) sebagai judul dua ruang kosong itu.

Taehyung menyerahkan miliknya ke Jeongguk yang menyerahkan miliknya ke orang di ujung belakang, Yoongi. Taehyung menerima milik Dahyun yang ada di belakangnya dan begitu seterusnya.

“Sekarang, tulis hal-hal yang kalian rasakan tentang orang yang kertasnya kalian dapatkan. Hal positif dan negatif yang kalian dapatkan selama tinggal bersama tiga puluh hari ini,” kata DPL mereka, tersenyum lebar. “Apakah mereka menyebalkan, rajin, berisik? Silakan tulis saja.”

Taehyung mengulum senyumannya dan mulai menekan pulpen ke atas kertas di punggung Jeongguk untuk Dahyun. Di kolom positif, dia menuliskan: “Tangguh. Tidak menyulitkan. Mandiri. dan di kolom negatif dia menuliskan: “Kurangi berteriak dengan suara keras. Abaikan saja Jeongguk, kau tidak perlu menanggapi setiap sampah yang dikatakannya.

Dia terkekeh lalu mengulurkan kertas itu ke Jeongguk yang mengoper kertas Taehyung ke Yoongi. Mereka melakukan rotasi itu sebanyak tujuh kali hingga akhirnya kertas Jeongguk berada di genggaman Taehyung.

Dia membaca isinya dan mulai tertawa tanpa suara karena semuanya terisi hal-hal seperti:

(+)

mbuh. gak ada. cakep. GAK. ADA. rajin. AGAK. nurut kalo disuruh. bijak? kalo lagi bener otaknya.

(–)

matio, ndes! tolong kalo masak jangan KEBANYAKAN BACOT! km membuat neraka nampak seindah negeri dongeng. tato hello kitty donk qaq! KALO JEMUR SEMPAK SING GENAH YA NDES! celana jins gguk to the rest of the laundry: “you guys being washed?”

Taehyung tertawa kecil, sudah tahu bahwa isi kertas Jeongguk adalah hal semacam ini. Namun dia tahu, dibalik semua ini mereka adalah keluarga yang saling melindungi. Teringat saat Dahyun pertama terjatuh, itu baru hari pertama KKN dan mereka semua sigap menolongnya.

Saat Jeongguk jatuh sakit, semua orang mendadak panik. Dahyun dan Momo membuatkannya bubur, membeli daun bawang dari Simbah, ibu Bapak yang sering mampir dari pasar membawa sisa jualannya. Saat Taehyung sakit, semua orang siap menjadi tiang sangganya untuk berjalan—memastikan Taehyung aman dan nyaman.

Dan bukankah begitu setiap saudara bertindak? Saling membenci dan saling sayang?

Taehyung tersenyum lebar sebelum menekan pulpennya di atas kerjas di sisi (+):

(+) the best sex i've ever had. the best sleeping partner—both literally and figuratively. (–) kurang banyak. besok beli kondom selusin ya. ily.

Taehyung kemudian melipat kertasnya, sesuai arahan dari DPL mereka sebelum menyerahkannya ke Jeongguk. Mereka kemudian membenahi duduk mereka, bersandar ke dinding dengan piring kacang rebus di hadapan mereka lalu mulai membuka kertas mereka masing-masing.

Tidak ada yang tahu siapa yang menulis yang mana, tentu saja tapi Taehyung hafal beberapa tulisan tangan yang dikenalinya saat mencontek isi buku harian KKN.

Miliknya:

(+)

goyangannya mantap! 100/10 gon have you on top again! mwa IKI SIK NDUWUR JEONGGUK PO? NGGILANI TENAN BAJIGUR! rajin. banget! asyik diajak curhaat huhu rajin! cekatan mandiri usil, gemesin, baik, rajin menabung xixixi asique! gojekannya mantap hahahah

(–)

saklek, nyebelin. padahal cium dikit di pondokan gpp tau :( GGUK TMI JINGAN!! JANCOOOO! galak. kadang nyebelin. kalem dikit kaaak! hahahah galak. GALAK LULS! galaaaaak galak 10/10 agak moody?

Taehyung tertawa, khususnya membaca bagian awal miliknya sebelum menoleh ke Jeongguk yang juga sedang tersenyum lebar membaca miliknya sendiri. Mereka berpandangan, bertukar senyuman lebar.

KKN mereka akan segera berakhir, namun ada bagian dari hati mereka yang tidak ikhlas jika mereka harus berpisah dengan teman-teman KKN mereka yang sangat akrab ini. Siapa sangka jika teman-teman KKN Taehyung ternyata anak-anak seasyik dan semenyenangkan ini? Tidak ada yang manja dan menyebalkan, tidak ada yang menyulitkan; mereka berangkulan, akrab dan solid.

Taehyung pasti akan merindukan bangun pagi, berangkat ke PAUD, bertengkar dengan Dahyun masalah menu makan siang, pergi ke pasar untuk membeli pukis yang habis dimakan seraya menunggu para perempuan berbelanja, bermain sepak bola sore dengan anak-anak di Masjid....

Namun mereka harus kembali. Masa berlibur mereka sudah habis, dunia mereka menunggu; skripsi mereka menunggu, hal-hal yang mereka harus kembali hadapi. Pendidikan yang harus mereka selesaikan.

Berada di lokasi KKN selama tiga puluh hari sudah membuka mata Taehyung tentang kehidupan. Bagaimana waktu seolah berjalan jauh lebih lambat di sini, segalanya berjalan dengan perlahan—memberikan ruang yang cukup untuk Taehyung bernapas, memproses kehidupan dengan lebih mudah.

“Punyamu oke?” Tanya Jeongguk saat dia menyelipkan kertasnya ke dalam tasnya.

Taehyung terkekeh, “Lumayan.” Katanya. “Kau?”

Jeongguk mendengus, geli. “Anak-anak kreatif sekali.” Katanya dan sebagai orang yang sudah mengintip isi kertas Jeongguk, dia setuju.

Mereka duduk berdekatan, kelingking bertautan di balik jas almamater mereka yang diatur sedemikian rupa hingga menyembunyikan tangan mereka yang saling terkait. Jeongguk menyugar rambutnya, nampak mengantuk.

“Hei,” Dahyun di sisinya mendekatkan kepala ke Taehyung yang otomatis merunduk ke arahnya. “Kau dengar tidak katanya ada yang dibawa ke Kelurahan karena ketahuan mesum di pondokan.”

Jeongguk menoleh, mendengar bisik-bisik itu. “Sungguh?” Sahutnya, juga berbisik.

Dahyun mengangguk, melirik lelaki dan perempuan yang duduk di arah jam 8 dari mereka. Si perempuan mengenakan jilbab berwarna jingga di atas pakaiannya dan si lelaki nampak seperti jenis lelaki fuck boy yang disukai para perempuan dengan gaya cocky-nya.

“Lihat asetnya,” komentar Jeongguk seketika dan mendapatkan jitakan di kepalanya hingga dia mengaduh keras—beberapa anak menoleh pada mereka dan Taehyung tersenyum lebar, menenangkan mereka semua.

“Kemarin saat anak-anak berangkat proker, si perempuan izin sakit datang bulan,” kata Dahyun, sekarang Momo dan Tzuyu bergabung dengan mereka. “Lalu si lelaki bilang dia akan pulang mengambil sesuatu untuk kebutuhan proker. Bapak pondokan melihatnya masuk ke kamar perempuan dan mengunci pintu.”

“Mantap.” Komentar Jeongguk kemudian, sekali lagi, dihadiahi jitakan oleh Taehyung yang nampaknya sama sekali tidak keberatan melakukannya. Jeongguk mengerang, mengusap kepalanya yang sudah dua kali terkena jitakan sementara Taehyung kembali fokus pada Dahyun.

“Lalu, lalu??” Tanya Momo bersemangat.

“Lalu Bapak pondokan langsung membuka pintu mereka paksa,” kata Dahyun kemudian, berbisik.

Taehyung meringis. “Apakah mereka telanjang?”

Dahyun mengangguk, “Setengah telanjang, katanya.”

Taehyung mengernyit, tidak habis pikir bagaimana mereka bisa melakukan hal semacam itu di pondokan? Kenapa mereka tidak izin pulang saja? Pergi ke hotel, bercinta sepuasnya lalu kembali—hal itu jauh lebih menyenangkan dan aman dari ganjaran manusia dan makhluk halus yang pasti tidak menyukai kegiatan semacam itu.

“Lalu mereka digiring langsung ke Kelurahan. Pak Achilleus,” Dahyun mengangguk ke DPL mereka yang sedang bicara dengan kormadus kelompok lain. “Datang sebagai perwakilan kampus bersama salah satu staf Wakil Rektor 3 Bagian Kemahasiswaan dan juga LPPM. Mereka bertemu dengan perangkat desa termasuk Pak Dukuh.”

Jeongguk mendekat, nyaris menyandarkan diri di Taehyung. “Lalu apa ganjarannya?”

Dahyun menggeleng, “Katanya mereka akan diluluskan dengan nilai C.”

“Tidak asyik.” Komentar Taehyung kemudian dan Jeongguk terkekeh, mencubit pantatnya dari balik almamater mereka dan Taehyung mendelik jengkel padanya namun tak ayal tertawa kecil. “Mereka harusnya digagalkan KKN.”

“Digagalkan mungkin bisa, tapi jika mereka kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang sama lagi di KKN selanjutnya?” Sahut Momo meraih segenggam kacang rebus dan mulai mengupasnya.

“Tetap saja, harusnya ganjarannya setimpal dengan rasa malu yang mereka lakukan untuk nama universitas. Berbuat mesum di pondokan.” Gerutu Taehyung di bawah napasnya. “Aku tidak suka sekali pada orang-orang yang tidak tahu waktu kapan harus melampiaskan nafsunya.”

“Kau pertapa. Pengendalian gairahmu luar biasa.” Jeongguk mengangguk-angguk lalu mengaduh saat Taehyung menyambar pahanya, mencubitnya pedas.

“Tapi setuju.” Kata Dahyun kemudian, “Maksudku,” dia sejenak nampak kikuk sebelum mengedikkan bahunya. “Kalian nampak sangat... penuh dengan percikan gairah seksual. Aku sudah takut kalian akan bertingkah macam-macam di pondokan, tapi ternyata aku hanya bersikap tidak adil pada kalian.”

Taehyung tertawa kecil. “Setan kecil ini tidak terlalu hebat.” Dia memijat tengkuk Jeongguk sayang. “Tapi, toh, kami berhasil. Selain karena kami tidak ingin menyulitkan kalian, nampaknya pondokan kita tidak terlalu ramah manusia.” Dia mengangguk, teringat mimpi Namjoon hanya karena dia bersuara keras.

Bayangkan saja jika mereka melakukan itu di pondokan.

“Dan aku punya uang untuk membayar kamar hotel kok,” sahut Jeongguk yang mendesah senang karena Taehyung memijatnya. “Aku tidak semiskin itu bercinta di pondokan.”

Dahyun mengernyit. “Baiklah.” Katanya dengan wajah berkerut jijik dan Taehyung terkekeh.

Mereka pulang kemudian, mampir ke Wedi untuk membeli cemilan yang akan digunakan Tzuyu sebagai perpisahan anak-anak. Mereka berhenti di toko kelontong di dekat pintu masuk Pasar Wedi, Jeongguk langsung menghampiri pejaja dawet ayu yang memarkir sepedanya di sisi jalan dan memesan satu. Yoongi bergabung dengannya.

Para perempuan membeli beberapa lusin makanan, permen kenyal, dan juga wafer. Mereka akan makan bersama-sama sore ini, sambil mengisi surat kesan-pesan untuk para anggota KKN dari anak-anak.

Yugyeom memilih menunda acara perpisahan mereka, acara memanggang bersama warga dan Jeongguk mengangguk—siap memberi info pada ketua Karang Taruna tentang pemindahan tanggal itu.

Taehyung membantu para perempuan memilih makanan, mengecek kandungannya dan mengira-ngira makanan apa yang mungkin disukai anak-anak sehingga tidak ada makanan yang terbuang. Dia tidak menyadari saat Jeongguk akhirnya masuk, melihat-lihat cemilan dan tertarik pada beberapa.

Jeongguk meraih sebuah cemilan, membaca bungkusnya dengan saksama sebelum menatap Taehyung yang sedang melihat-lihat makanan dengan kedua tangan di balik bahunya. “Tae, kau bawa uang tidak? Aku ingin ini.” Dia melambaikan cemilan di tangannya.

Taehyung menoleh, melihat bungkus makanan di tangan Jeongguk dan terkekeh. “Belilah barang lima,” dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet untuk membayar makanan yang diinginkan Jeongguk. “Agar kau punya sesuatu untuk dikunyah dan tidak merengek.”

Pemuda itu bergegas meraih lima bungkus cemilan dan meletakkannya di konter. “Dan rokok,” tambahnya nyengir pada Taehyung yang mendesah. “Kau yang terakhir merokok, jadi kau yang beli.” Sahutnya, setengah mendelik saat penjual mengambilkan mereka rokok.

“Baiklah, baik.” Taehyung terkekeh, dia kemudian membayar belanjaan Jeongguk sementara pemuda itu memijat tengkuknya.

Anak-anak perempuan akhirnya menyelesaikan belanjaan mereka. Meletakkan semuanya di meja kasir lalu keluar dengan dua kantung plastik hitam besar yang penuh oleh cemilan yang menggembung karena angin.

Jeongguk dan Taehyung baru saja menyalakan rokok saat anak-anak keluar dari toko. Keduanya mendesah keras, Taehyung mengepit rokok di bibirnya. “Aku saja yang mengendarai motornya, kau merokoklah.” Katanya kemudian mematikan bara rokok, memasukkan batang yang masih panjang itu ke kotaknya.

Dia menghabiskan rokok terakhir mereka sebelum evaluasi dan Jeongguk sudah menahan diri tidak merokok berjam-jam, dia layak mendapatkan sebatang dengan tenang.

“Habiskan sebelum tiba di Masjid, ya?” Ingat Yoongi dan Jeongguk mengangguk—mereka akan langsung ke Masjid dari sini, mengurus hari terakhir bimbingan belajar dan perpisahan dengan anak-anak.

Jeongguk menaiki jok motornya, menukar helm full face-nya dengan milik Taehyung yang terbuka sehingga dia bisa merokok dan motor mereka melaju terakhir—agar abu rokok Jeongguk tidak mengenai siapa pun di belakang mereka.

Yoongi sudah membuat mereka berjanji agar tidak merokok saat bimbingan belajar atau setelah PAUD—menjauh dari anak-anak jika mereka ingin merokok agar tidak berpotensi menjadi contoh yang buruk. Walaupun Jeongguk tidak terlalu setuju karena para pemuda lain nampak sangat rileks merokok di depan anak-anak, dia mengangguk—dia tidak mau menimbulkan keributan di kelompok.

Dia merokok dengan nyaman di belakang, Taehyung melirik dari spion motor. Dia melepaskan tangannya dari stang motor dan menepuk tangannya yang berada di paha Taehyung hangat.

Jeongguk tersenyum padanya dari pantulan spion di motor. “Lihat ke depan,” katanya. “Nanti kita mati. Romantis, sih, tapi katamu kita belum bercinta yang banyak.”

Taehyung terkekeh serak, mengoper gigi motor dengan suara keras sebelum menambah kecepatan. “Benar juga.” Dia mengangguk serius. “Aku akan ke kosanmu dulu setelah penarikan, bagaimana?”

Jeongguk bersiul keras, “Langsung hari itu juga? Seksi.” Komentarnya lalu dari balik almamater yang mereka gunakan sebagai jaket, dia mengelus selangkangan Taehyung yang terkejut dan nyaris oleng di atas motornya.

Kelepak jas almamater menyembunyikan tangan Jeongguk dengan sempurna saat jemarinya bergerak di dalam sana hingga Taehyung pening.

“Kau bedebah bangsat, jauhkan tanganmu.” Geramnya, merasakan benar saat semua sarafnya memfokuskan diri pada gerakan jemari Jeongguk di tubuhnya yang mulai bereaksi; menebal dan panas menggelisahkan, geli.

“Lihat, dia suka.” Jeongguk terkekeh serak, menyadari bara rokoknya mati dia kemudian menyelipkan puntungnya ke saku jas almamaternya. “Dia bangun. Menggemaskan.”

Taehyung menggertakkan gigi. “Milikku jauh dari kata menggemaskan.”

“Iya, iya.” Jeongguk terkekeh, terhibur. “Aku menyakiti egomu, ya?” Dengkurnya seperti seekor singa saat tangannya membelai Taehyung yang nyaris mendesah keenakan di atas motor yang melaju enam puluh kilometer per jam.

“Jeongguk. Kita sedang di jalan.” Geramnya dengan rahang dikatupkan. “Jika kau lupa?”

Jeongguk tertawa, keras dan lepas—benar-benar puas karena telah membuat Taehyung tegang di tengah jalan. Dia mengangkat tangannya dari sana lalu membelai perut Taehyung yang langsung mengejang oleh sentuhan itu.

Bohong jika dia tidak merindukan sentuhan Jeongguk—mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri selama di pondokan. Berusaha keras untuk tidak kelepasan dengan letupan gairah yang memusingkan. Inilah pertama kalinya setelah hari mereka bercinta seperti kesetanan, Jeongguk menyentuhnya dan Taehyung ingin terengah di kakiknya agar dia menggagahi Taehyung saat itu juga.

Jemari Jeongguk terasa sangat hangat hingga kepalanya pening. “Gguk, berhenti.” Katanya parau.

Jeongguk tertawa, “Baiklah, Sayang. Kau tidak perlu jadi sangat alfa begitu.” Dia menarik tangannya dan secuil hati Taehyung merengek menginginkan tangan Jeongguk kembali ke tubuhnya.

Ini di jalan, Bodoh! Teriak otaknya ke hati Taehyung yang tersedu-sedu.

“Nanti,” Jeongguk mendekatkan wajahnya hingga napasnya membelai leher Taehyung. “Begitu kita berada di kamarku dengan pintu terkunci, kau bisa menggunakan suara alfa itu untuk memintaku menelan orgasmemu. Aku tidak akan keberatan.” Dia meniup leher Taehyung. “You can fuck me on the mouth all the way you like.”

Dan itulah alasan kemudian Taehyung terserang vertigo ringan di pondokan saat mereka mengambil papan dan beberapa buku untuk anak-anak hingga Tzuyu memberikannya sebotol air minum. Dia sangat bergairah dan baru saja ditinggalkan blue-balled oleh Jeongguk yang nyengir—nampak sama sekali tidak berdosa.

Fuck you,” gerutunya dan Jeongguk terkekeh.

Yes, Darling,” sahutnya berbisik, terhibur. “Fuck me.” Lalu dia beranjak keluar, menyerigai congkak dan menyodok bagian dalam lidahnya dengan sensual sebelum meninggalkan Taehyung bersandar di pintu masuk kamar lelaki—sakit kepala.

Dan punya masalah dengan selangkangannya.

Dia tidak bisa datang ke Masjid dengan keadaan seperti itu.

Jeongguk memang bedebah bangsat.


Matahari terbenam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu, suaranya merdu. Ku-ku, ku-ku, ku-ku-ku-ku-ku-ku...

Taehyung tersenyum lebar saat menyadari Jeongguk sedang bergoyang mengikuti irama lagu, kedua tangannya menggenggam tangan mungil Mutia yang tertawa lebar di pangkuannya.

Hari itu mereka menggambar dan mewarnai—lalu hanya untuk membuat anak-anak senang, Jeongguk merelakan tato di tangannya diwarnai dengan krayon walaupun bahan krayon tidak mau menempel sempurna di atas kulitnya. Anak-anak yang tidak memahami itu, terus memaksa menggosokkan batang krayon di lengannya hingga dia mengaduh geli dan guru PAUD melerai mereka.

“Beri mereka spidol permanen saja,” komentar Yugyeom yang langsung mengaduh karena Jeongguk menampar pahanya dengan dua jarinya—dia jago melakukan itu.

Sama seperti Yugyeom yang jika memukul pantat dapat menyebabkan trauma karena kerasnya, Jeongguk bisa menggunakan telunjuk dan jari tengahnya untuk menciderai seseorang secara serius—sakitnya bahkan menembus lapisan tebal celana jins.

Matahari terbenam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu, suaranya merdu. Ku-ku, ku-ku, ku-ku-ku-ku-ku-ku...

Sekarang Jeongguk nampak senang, sudah sehat dan bisa bergerak lebih leluasa. Dia tidak mengerang saat berbaring atau bangkit dan Taehyung merasa lega. Kecemasan yang selama ini bersemayam di hatinya, perlahan naik seperti beban tak kasat mata diangkat dari bahunya.

Dia sekarang sedang tertawa bersama Mutia yang juga tertawa keras, nyaris menjerit di pangkuan Jeongguk yang mengangkat tangan gendut Mutia ke udara lalu menggoyangkannya sementara teman-temannya mulai menyanyikan lagu Gelang Sipaku Gelang untuk mengakhiri kelas, sebagai lagu pengantar pulang.

Gelang sipaku gelang, gelang si rama rama Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama

Taehyung ikut menepukkan tangannya sesuai irama dengan Dilla di pangkuannya—batita gendut dengan pipi serupa bakpao dan rambut ikal yang membingkai keningnya yang sempit. Dia suka dekat-dekat Taehyung, menatap malu-malu dari balik bulu matanya yang panjang dengan mata bulat berkilauan hingga Taehyung kemudian memangkunya.

Sayonara sayonara; sampai berjumpa pulang Buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya

Semuanya bertepuk tangan ceria saat lagunya selesai—riuh dengan tawa dan tepukan tangan.

“Horee!” Seru guru mereka tersenyum lebar lalu membenahi jilbab yang menutup kepalanya sebelum melanjutkan, agak tersengal karena dia harus tetap terdengar ceria yang berarti setengah berteriak. “Hari ini, hari terakhir Kakak KKN menemani kita di sini, ya, besok Kakak KKN harus kembali ke kampus di Yogyakarta untuk kuliah.”

Terdengar suara 'haah?' keras sebelum keluhan panjang yang tinggi—semua anak KKN tertawa mendengarnya namun juga sedih karena anak-anak PAUD merupakan kegiatan harian mereka, bertemu para balita aktif itu merupakan bagian paling menyenangkan dalam satu hari.

“Kak Gguk pulang?” Tanya Mutia, memutar tubuhnya di atas pangkuan Jeongguk sehingga bisa menatap wajah Jeongguk; dia nampak tidak suka fakta bahwa anak-anak KKN harus meninggalkn desa. “Ndak main sini lagi?”

Jeongguk terenyuh, dia mengusap kepala Mutia sayang. “Nanti main lagi, kok.” Sahutnya sebelum mengulurkan kelingkingnya, “Janji, deh.”

Mutia menyambutnya, tersenyum lebar hingga gigi-gigi depannya yang busuk nampak. “Oke!” Katanya, mengaitkan kelingking gendut dan mungilnya pada kelingking Jeongguk.

Taehyung tersenyum lebar melihatnya—interaksi Jeongguk dengan anak-anak selalu membuatnya hangat. Walaupun sejauh ini yang akrab dengan Jeongguk hanya si Tomboy Mutia.

Mulai besok mereka tidak akan membantu guru PAUD mengajar lagi karena jam mereka sudah terpenuhi. Perpisahan yang menyedihkan karena semua anak yang memiliki 'Kakak KKN' favorit menangis tidak ingin ditinggalkan.

Akhirnya para balita yang menangis dijemput ibunya, digendong dan ditenangkan setelah dijanjikan bahwa mereka akan datang mampir nanti—sekalian mereka mengecek hasil fermentasi pakan mereka.

Setelah ruangan sepi, mereka membantu guru PAUD membereskan kelas—mendapatkan banyak ucapan terima kasih karena telah banyak membantu selama kegiatan. Mereka kemudian berpisah setelah mengunci ruangan kelas dan berpisah di halaman depan.

“Aku akan merindukan mereka,” desah Momo seraya melepas almamaternya yang terasa gerah karena untuk pertama kalinya selama mereka KKN, matahari bersinar begitu terik.

Anak-anak meresponsnya dengan langsung berbondong-bondong mengeluarkan cucian mereka, menjemurnya dan berharap cepat kering memanfaatkan sinar matahari yang jarang terjadi karena musim hujan.

“Setidaknya kita tidak harus bangun pagi lagi.” Sahut Yoongi, menguap lebar. Dia biasanya kembali tidur sepulang dari PAUD karena bangun jam tujuh pagi bukanlah kebiasaannya.

“Tetap saja.” Keluh Momo, mengerang saat mereka menuruni aspal ke jalan berbatu becek menuju pondokan mereka.

Matahari langsung menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Angin berhembus sejuk, sisa-sisa air hujan semalam yang belum sepenuhnya menguap oleh sinar matahari. Jeongguk menyalakan rokoknya, menawari sebatang pada Taehyung yang menerimanya. Mereka berjalan paling belakang, memberi jarak sekian meter dari teman-temannya agar asap mereka tidak mengganggu.

“Berarti dua hari kedepan kita tidak perlu ke PAUD? Hari ini juga hari terakhir bimbingan belajar, 'kan?” Tanya Dahyun kemudian saat mereka menyingkap rimbun bambu, ke arah halaman pondokan—Pulgoso menatap mereka dengan setangkai rumput di bibirnya sementara sapi Bapak berbaring di kakinya, berjemur.

“Besok.” Koreksi Tzuyu. “Aku ingin membelikan anak-anak cemilan sebagai tanda perpisahan juga.”

Yugyeom mengangguk, melepaskan call card dari lehernya. “Sore ini, setelah evaluasi kita akan ke Pasar Wedi membeli ayam untuk acara nanti malam jadi bisa sekalian jika kau mau.”

“Memang, aku sudah berencana melakukannya.” Sahut Tzuyu senang. “Uang prokerku masih utuh karena memang tidak ada yang bisa dilakukan sehingga aku memutuskan untuk membelikan makanan saja untuk mereka.”

“Memangnya boleh jika digunakan sebagai itu?” Tanya Momo kemudian, menatap Yugyeom yang nampak berpikir. “Mengalokasikan dana proker untuk cemilan kenang-kenangan saja? Sesuatu yang tidak berwujud dan habis?”

“Ditanyakan nanti saja saat evaluasi,” lerai Jeongguk dari belakang, menjentikkan abu rokoknya. “Agar jelas dan tidak menduga-duga.”

Teman-temannya setuju. Mereka memasuki pondokan dan Jeongguk, Taehyung serta Momo yang mendapat giliran untuk memasak hari ini bergegas mengganti pakaian mereka, melepas almamater lalu beranjak ke dapur.

Di dekat tungku api, ada sekumpulan anak ayam dan seekor itik yang sudah sejak di hari pertama berada di pondokan disadari Taehyung. Menggemaskan bagaimana si itik malah sekarang bersuara seperti anak ayam alih-alih bebek seperti spesiesnya. Bulunya yang kuning nampak mencolok, namun dia selalu berada di tengah para anak ayam.

Dan para anak ayam itu nampak menerimanya begitu saja, tidak pernah meninggalkannya sendirian.

Taehyung mengusir mereka dengan lembut, mengeluarkan mereka dari dapur sebelum kembali dan menemukan Jeongguk sedang duduk di atas balai tempat Ibu biasa memasak dengan seikat kangkung di tangannya—mendapat perintah untuk membersihkannya.

Taehyung mencuci tangannya sebelum menghampiri Momo yang sedang mengupas bawang putih—bumbu andalan mereka untuk marinasi tempe. Taehyung meraih tempe daun yang diletakkan di dekat kompor lalu mulai membuka bungkusnya daunnya.

“Kau ingin aku memotongnya lurus atau menyamping?” Tanya Jeongguk, saat Taehyung menoleh dia menggenggam seikat kangkung yang sudah dibersihkan dari akarnya.

“Terserah,” sahut Momo acuh seraya mengiris bawang putihnya agar lebih mudah diulek. “Mana saja yang cepat.”

Jeongguk menatap Taehyung yang nyengir lalu kemudian kembali meraih pisaunya dan mulai memotong kangkung menyamping membentuk oval. Momo mulai memasukkan lada, sedikit penyedap dan bawang putih ke pengulekan lalu menggerusnya.

Taehyung dengan pisau memberikan sayatan-sayatan di atas tempe, agar bumbu meresap ke dalamnya. Momo menyelesaikan ulekannya, menuang sedikit air panas dari termos Ibu dan membiarkan Taehyung menyelesaikan tempenya sementara dia mengisi penggorengan dengan minyak.

“Oh, iya!” Serunya kemudian mengangetkan keduanya. “Tolong cek apakah kita sudah menanak nasi?”

“Oke sebentar,” Taehyung mendesah geli, dia mencelup tempe terakhir lalu membiarkannya beristirahat di sana sebelum melangkah terseok-seok ke arah penanak nasi mereka hanya untuk menemukan benda itu kosong.

“Momo, kita belum menanak nasi.” Taehyung mendesah keras, menarik wadah penanak dari dalam dan membawanya ke dapur, menunjukkannya pada Momo.

“Sial.” Gerutu Momo. “Masaklah, Tae. Empat gelas seharusnya cukup.” Dia kemudian menggerutu di bawah napasnya sendiri tentang kelalaiannya yang lupa menanak nasi sebelum berangkat ke PAUD.

“Tenang.” Kata Taehyung menyejukkan, “Tidak ada yang terbunuh, oke?” Dia melangkah ke tempat penyimpanan beras mereka lalu mulai menyendok lima gelas beras ke dalam wadah penanak nasi.

Dia berhenti di sisi Jeongguk yang berkutat dengan kangkungnya—berperang melawan tiap tangkai untuk menciptakan potongan diagonal yang sama persis. Tersenyum, Taehyung kemudian melangkah ke tempat penyimpanan air Ibu yang terbuat dari tanah dan mulai menyendok air—mencuci berasnya, tiga kali sebelum mengisinya dengan air untuk ditanak.

Dia memastikan diri sudah menyalakan tanda 'COOK' di mesin penanak sebelum kemudian menghampiri Jeongguk yang masih berkutat dengan alis berkerut dalam. Dia terkekeh lalu duduk di seberangnya.

“Kau seperti sedang bertarung melawan Hydra,” komentarnya sopan meraih talenan lalu mulai mengisi-iris cabai dan bawang untuk menumis sayuran mereka.

Jeongguk tidak menjawabnya, serius memelototi kangkung di tangannya yang seperti melawannya. Dia mengirisnya perlahan, berusaha membuat bentuknya sama persis dan rapi hingga Momo melihatnya.

“Ya ampun!” Keluhnya hingga kedua lelaki itu terlonjak kaget oleh suaranya ditingkahi oleh suara mendesis tempe yang digoreng. “Jika kau melakukan itu, kita baru akan makan siang nanti malam!”

Taehyung mengulum senyumannya—selalu terjadi jika Jeongguk dipasangkan dengan Momo atau Dahyun. Mereka seperti punya dendam pribadi pada Jeongguk yang selalu ingin semuanya rapi dan indah—nyaris seperti penderita OCD padahal mereka punya mulut untuk segera diberi makan.

Jeongguk tidak terima diteriaki, jelas. “Kau berisik sekali!”

Dan itu, pikir Taehyung geli, memfokuskan diri pada pekerjaannya karena jika mereka memutuskan untuk bertengkar, Taehyung tidak akan ikut campur.

Jeongguk selalu menjawab.

“Kau pikir ini jam berapa?! Nanti jam dua kita akan turun untuk evaluasi!” Sahut Momo dan Taehyung mulai tertawa tanpa suara.

“Ini baru jam sebelas!” Balas Jeongguk, sama jengkelnya. “Memangnya makan butuh waktu selama itu?!”

Yugyeom mendekat ke dapur hendak mengambil air minum, kemudian berhenti di depan pintu masuk dan langsung berbelok kembali—membatalkan rencananya saat mendengar Momo dan Jeongguk yang beradu mulut.

“Kau menyebalkan sekali!”

“Yah, kau juga menyebalkan sekali!”

“Jeongguk!”

Momo!”

“Demi Tuhan! Apa, sih, masalah kalian?!”

Taehyung akhirnya melepaskan tawanya, menoleh dan mendapati Yoongi berdiri di pintu dengan gelas air dan wajah berkerut terganggu karena mendapati kedua rekan KKN-nya sedang saling meneriaki.

“Jeongguk menyebalkan!” Sahut Momo, mengomel saat membalik tempe di dalam minyak yang sedang dikerjakannya.

“Bukankah dia memang begitu?” Balas Yoongi melangkah masuk. “Kenapa kau terdengar kaget?”

Jeongguk memutar bola matanya, mulai mengerjakan kangkungnya lagi dengan geli karena berhasil membuat Momo kesal. Dia menyelesaikan kangkungnya lebih cepat lalu bergegas mencucinya persis saat Taehyung menyelesaikan potongan bumbunya.

Taehyung menyalakan kompor satunya, meletakkan penggorengan di sana dan menuang sedikit minyak sementara Yoongi berdiri di belakang mereka dengan air putih—menonton.

“Sudah, jangan bertengkar.” Kata Taehyung saat menuang potongan bawang ke minyak panas; suara mendesis terdengar diiringi aroma harum bawang merah yang digoreng.

“Bukan salahku jika dia mudah sekali diganggu,” sahut Jeongguk mendekat dengan kangkung yang sudah dicuci dan ditiriskan lalu berseru kaget saat menghindari spatula yang dilayangkan Momo ke kepalanya.

“Diam!” Katanya.

Taehyung terkekeh, menambahkan potongan cabai dan sedikit air ke dalam sana—desisannya terdengar mengancam sebelum dia menambahkan garam dan penyedap secukupnya lalu menunggunya mendidih. Menuang kangkung segar ke dalamnya, dia kemudian mengaduknya perlahan sementara Momo menuang tempe terakhir ke dalam minyak panas.

“Kau boleh cek nasinya, diaduk dulu, oke? Agar bagian bawahnya tidak gosong.” Kata Taehyung pada Jeongguk yang mengangguk, melangkah terseret ke mesin penanak mereka.

“Sudah matang!” Katanya kemudian meraih sendok nasi dan membasahinya, dia kemudian membuka mesin penanak, mengaduk nasinya—sehingga bagian bawahnya naik dan mencium aroma pulen nasi yang lezat.

Mereka kemudian makan siang bersama setelah Yoongi membuat sambal sebagai teman makan mereka. Jeongguk memberikan jatah tempenya sepotong untuk Taehyung yang menerimanya dengan senang. Setelahnya, mereka memutuskan untuk membunuh waktu menunggu hingga saatnya berangkat evaluasi dengan bermain Monopoli.

Taehyung tidak tertarik dan kekenyangan, jadi dia menyatakan diri sebagai bank saja selama permainan—duduk di sebelah Jeongguk dan bersandar di bahunya, setengah mengantuk menonton mereka bermain.

“Prancis punyaku!” Seru Yugyeom saat bidak Yoongi berhenti di sana dan dia meraih uang untuk membeli tempat itu. “Jangan dibeli, Mas Yoon!”

Yoongi menatapnya, tersenyum lebar saat mengulurkan uang pada Taehyung yang mengambilkannya kartu kepemilikan drama. “Maaf, Sob.” Katanya menerima kartu itu dan melambaikannya pada Yugyeom yang mengerang. “Bukan begitu cara mainnya.”

Taehyung menumpukan dagunya di bahu Jeongguk yang menatap kartu kepemilikan negaranya yang dijejerkan di hadapannya dengan tumpukan uang mainan di sisinya. Dia mengawasi permaiann dengan serius.

“Ha!” Serunya membuat Taehyung kaget. “Kau berhenti di PDAM! Itu punyaku! Bayar!” Dia menuding Momo yang mengerang karena dadunya membawanya ke lubang buaya. Dia meraih kartu kepemilikannya dan membacanya, “Bayar seratus! Cepat, cepat!”

Momo menyambar uang mainannya dan melemparkannya ke Jeongguk yang terkekeh senang, meraihnya dan mengumpulkan pundi kekayaannya. Taehyung menyenderkan kepalanya di cerukan leher Jeongguk, mendengarkan denyut nadi di bawah telinganya sementara lelaki itu bermain Monopoli nyaris terobsesi menang.

I love you,” bisiknya pada Jeongguk yang bergidik.

Dia terkekeh, menepuk paha Taehyung sekali—hangat lalu melempar dadu. “Aku juga.” Sahutnya, tersenyum hingga hati Taehyung bergetar olehnya. “Kau mengantuk, ya? Kekenyangan?” Tanyanya lembut, nyaris membelai kulit Taehyung dan membuat kelopak matanya berat.

Sebelum dia menjawab, Dahyun menyela mereka. “Hayo! Jangan pacaran, bayar!” Serunya kemudian membuat Taehyung terkekeh kaget. “Kau berhenti di Yunani, itu punyaku!”

Jeongguk mengerang saat menyadari mata dadunya membawa bidaknya berhenti di Atena milik Dahyun dan dia punya kompleks di sana. “Sialan, ini pemerasan!” Katanya tidak terima saat Dahyun terkekeh ceria, menarik kartu untuk membaca nominal yang harus dibayarkan Jeongguk.

“Bukan begitu cara mainnya, Sob!” Dahyun tertawa ceria, menerima uangnya.

Akhirnya, Jeongguk sungguh memenangkan permainan itu karena jumlah kekayaan dan negara yang dimilikinya. Dia nampak puas saat akhirnya mereka semua berdiri, bersiap-siap berangkat ke lokasi evaluasi terakhir mereka selama KKN—pondokan di dekat Puskesmas, pondokan Jaehyun.

“Kau yakin?” Tanya Yoongi saat mengenakan helmnya saat Jeongguk menaiki motornya sendiri, menegakkannya dengan kedua kaki menjejak tanah. “Sudah cukup kuat untuk berkendara?”

Jeongguk mengangguk, membiarkan Taehyung mengaitkan helmnya. “Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.” Katanya lalu menyalakan mesin motor dengan mengekolnya—mesin motor meraung.

Yoongi menatapnya sejenak sebelum kemudian mengangguk. Mereka membiarkan Dahyun (yang juga sudah cukup kuat untuk berkendara) menaiki tanjakan duluan sebelum menyusulnya sementara yang lain berjalan kaki. Mereka semua menaiki motor sebelum meluncur di jalanan—menyapa anak pondokan lain yang juga akan berangkat untuk evaluasi.

“Gguk,” kata Taehyung saat mereka meluncur membelok di pertigaan pertama menuju ke jalan menurun ke arah Klaten.

“Yaa?” Sahut Jeongguk dari depan, mengoper gigi motornya dengan suara tak! keras. “Kenapa? Kau mengantuk sekali, ya?”

Taehyung tersenyum, entah mengapa senang mendengarkan Jeongguk bicara dengan nada lembut itu padanya. Dia mengaitkan satu tangannya di pinggang langsing Jeongguk dan menepuk perutnya yang buncit karena makanan.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya kemudian, tidak yakin Jeongguk bisa mendengarnya di tengah kerasnya deru angin.

Namun toh, pemuda itu mendengarnya. Dia melepaskan satu tangannya sejenak dari stang motor lalu meremas tangan Taehyung di perutnya sebelum kembali memegang kendali.

“Aku juga mencintaimu.” Katanya dengan lugas dan Taehyung nyaris ingin menciumnya karena rasa yakin dan percaya diri yang menetes dari kalimatnya barusan.

“Tapi maaf, kita tidak akan berpacaran dengan cara ini. Aku ingin kita memiliki, entahlah? Waktu untuk saling mengenal di luar KKN yang terbatas karena makhluk tidak kasat mata mengawasi kita? Maksudku, pergi jalan-jalan, nonton film, makan bersama.” Tambahnya kemudian saat mereka menuruni jalan ke arah Clongop.

“Bagaimana menurutmu?”

Taehyung tersenyum lebar, walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan melihatnya—hatinya berdebar dan dia sangat tidak sabar menunggu hingga akhirnya mereka bisa pergi berjalan-jalan, melakukan hal-hal sederhana sebagai pasangan setelah KKN selesai.

“Luar biasa.” Katanya, lebih dari sekadar senang. “Sangat luar biasa.”


Berita baik hari ini: Jeongguk sudah bisa bangkit tanpa bantuan dan berjalan-jalan. Sudah jauh lebih baik dari dua hari lalu sehingga mereka memutuskan untuk tidak perlu membawanya ke Puskesmas.

Bagian kanan tubuh Taehyung yang awalnya kaku, sekarang mulai terasa lebih baik; otot-ototnya yang kaget sudah kembali rileks. Dia sudah bisa menekuk kaki kanannya hari ini dan itu membuatnya senang sehingga dia yang menemani Yugyeom ke rumah Ketua RT07 alih-alih anggota mereka yang sehat karena dia ingin “melemaskan” kakinya. Sekarang tubuhnya sudah jauh lebih baik, hanya nyeri sedikit-sedikit.

Memar di punggung Jeongguk juga sudah mulai menguning menuju sehat dan tidak nyeri saat disentuh. Mereka semua bersyukur karena besok adalah hari proker terakhir mereka sehingga bantuan dari Jeongguk dan Taehyung akan sangat dibutuhkan.

Dan masalah mereka hari ini adalah hal yang paling menyebalkan saat KKN: mereka tidak memiliki kegiatan.

Mereka semua berbaring di atas tikar ruang tengah dan bermalas-malasan, lelah karena hanya diam. Apalagi Jeongguk yang benar-benar tidak bisa diam, dia bergerak terus—entah kakinya, entah tangannya, dan Taehyung sungguh sebal karenanya.

Taehyung menyentuh kaki Jeongguk yang digoyangkan dengan kakinya, “Diam,” gerutunya dan Jeongguk mendengus—jengkel.

“Aku ingin jalan-jalan. Ayo, jalan-jalan!” Keluhnya.

“Jalan-jalan saja ke Green Village,” kata Bapak yang muncul dengan sarung dikalungkan melintang di tubuhnya dan rokok di bibirnya, menatap mereka seperti menatap sekelompok anjing laut yang berjemur di permukaan. “Main flying fox.” Tambahnya.

“Dapat diskon tidak, Pak?” Tanya Dahyun kemudian, berbaring dengan satu earphone terpasang di telinganya—mendengarkan lagu secara luring.

“Tanyakan saja,” sahut Bapak mengangguk yakin. “Kalian, 'kan, sudah berkontribusi banyak ke desa ini. Mungkin bahkan diberikan gratis.”

Gratis adalah kata kuncinya.

Mereka semua berpandangan. Dengan kondisi Taehyung dan Jeongguk yang sudah jauh lebih baik, kondisi Dahyun juga sudah bisa menekuk kakinya dengan sehat, mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat.

“Naik flying fox gratis!” Kata Yugyeom saat mereka bersiap, membawa call-card mereka juga sebagai tanda pengenal.

“Aku tidak yakin.” Komentar Yoongi saat mereka menaiki motor mereka, bersiap-siap berangkat.

Namun tidak ada yang mendengarkannya karena semuanya terlalu bersemangat akan mencoba wahana flying fox yang digadang-gadang sebagai wahana dengan lintasan terpanjang di Indonesia. Apalagi diiming-imingi kata “gratis” dari Bapak karena kontribusi mereka ke desa sabagai mahasiswa KKN.

“Aku akan bermotor pelan-pelan karena belum terlalu yakin,” katanya pada teman-temannya. “Tapi tidak apa-apa kurasa.” Dia mengoper gigi motornya—mengetes kekuatan kakinya sementara Jeongguk berdiri di dekat sana menatapnya.

“Kau yakin?” Tanyanya kemudian.

Taehyung mengangguk. “Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di pondokan, sungguh.” Katanya serius dan Jeongguk tersenyum—senang mendengarnya.

“Tidak apa-apa, aku akan ada di belakangmu,” kata Yoongi di atas motornya, mengamati Taehyung yang mengetes kekuatan kakinya. “Jika kau tidak sanggup, Jeongguk bisa denganku.”

Taehyung kemudian mengerjap, “Oh, ya!” Katanya kemudian, nampak bersyukur. “Tolong, ya, Yoon? Aku belum yakin untuk membonceng seseorang.”

“Lebih baik begitu daripada berisiko.” Tambah Yugyeom setuju dan Jeongguk mengangguk.

Jeongguk dibantu Momo berjalan perlahan menaiki jalan tanjakan hingga ke jalan utama sementara Taehyung merasa cukup sehat untuk mengendarai motornya. Dia mengetes kaki kanannya yang sudah bisa ditekuk dengan mudah dan memasukkan gigi—sedikit kagok, tapi tidak apa-apa.

Perjalanan ke Green Village tidak bisa dibilang mudah karena jalan beraspal berakhir satu kilometer dari jalan utama, berubah menjadi jalan rusak berbatu yang berlumpur dan diselingi dengan semen kasar dicampur kerikil agar tidak mudah selip.

Mereka melewati jalan aspal kecil seukuran satu mobil kecil yang diapit persawahan apik yang hijau dan gemerisik, rimbun bambu yang merunduk membuat sinar matahari sedikit lebih teduh, lalu melewati rumah-rumah warga bahkan halaman rumah seseorang yang melambai ramah pada mereka sebelum menaiki tanjakan yang langsung membelok dengan titik buta. Syukurnya mereka memberikan cermin cembung di sana sehingga mereka bisa memastikan tidak ada motor dari arah berlawanan.

Di satu titik, mereka berpapasan dengan grup motor yang mengklakson mereka ramah sehingga mereka balas mengklakson. Suara deru motor dan klakson terdengar riuh di tengah suasana desa yang hening dan menenangkan.

Taehyung mengendarai motornya nomor dua dari belakang, ada Yoongi di belakangnya yang terdengar mengobrol serius dengan Jeongguk. Dia melirik spion, melihat Jeongguk sedang mencondongkan tubuhnya ke Yoongi—mendengarkan sesuatu yang dibicarakan Yoongi dengan serius.

Dia senang setidaknya sekarang Jeongguk sudah lebih baik, sempat cemas saat dua malam lalu Jeongguk tidak bisa tidur karena sakit di punggungnya. Taehyung benci karena dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk membuat Jeongguk merasa lebih baik. Syukurlah sakit di tubuhnya tidak tinggal di tubuh Jeongguk lama-lama.

Dia tersenyum saat melihat Jeongguk tersenyum sebelum kembali fokus ke jalan di hadapannya—dia mungkin akan berjalan di atas bara api dan beling demi melihat senyuman itu.

Dan keyakinan bahwa Jeongguk akan melakukan hal yang sama untuknya, membuatnya bergidik.

Pemandangan yang mereka dapatkan setelahnya membayar lunas semua ketegangan dalam perjalanan. Mereka meluncur di atas jalan kecil yang disemen, sejauh mata memandang, bentangan persawahan dan bukit membuat mereka mendesah senang—belum lagi angin yang sejuk membelai puncak hidung mereka.

Mereka memarkir motor mereka di tempat parkir yang terbuka, di sisinya bentangan lembah hijau membuat para perempuan mendesah—sudah kali kedua mereka kemari dan pemandangannya tetap membuat mereka terpesona.

“Kali ini, semua murbei itu milikku!” Kata Jeongguk kemudian, menyulut pertarungan sejak awal.

“Coba katakan itu pada pinggangmu yang encok,” balas Momo, menyeka rambutnya congkak lalu melakukan gerakan peregangan agresif. “Ingat ini tidak, Gguk? Menyenangkan sekali!” Katanya mengejek.

Jeongguk menghampirinya, hendak menyentil kepalanya namun Momo berkelit dengan suara tawa ceria dan berlari menjauhinya—tahu Jeongguk belum bisa berlari mengejarnya.

Mereka kemudian berjalan beriringan, para perempuan bergandengan tangan dan mengayun-ayunkannya ceria sementara sinar matahari redup dan sejuknya angin membelai mereka semua. Dahyun membayar tiket masuk mereka sebelum beranjak ke tempat pemasangan alat-alat pengaman untuk bermain flying fox.

“Aku tidak yakin kita akan dapat gratis,” kata Yoongi pada Taehyung yang berdiri di sisinya.

“Aku juga tidak.” Sahut Jeongguk kemudian, mengusap kukunya sementara Yugyeom dan para perempuan mendekat ke penjaga dan mengatakan sesuatu. “Tapi biarkan saja mereka mencoa.”

Jeongguk belum selesai bicara saat Dahyun kembali menghampiri mereka dengan wajah sedikit jengkel, “Mereka memberikan kita diskon jadi hanya seratus ribu per dua orang.”

“Apa kubilang.” Yoongi mendengus, “Bahkan menurutku sebaiknya kita membayar saja untuk membantu kontribusi ke desa lebih lagi. Memangnya per orang normalnya berapa?”

“Seratus ribu.” Sahut Dahyun, mendesah panjang.

“Tidak terlalu mahal kok,” Yoongi mendengus, dia merogoh saku belakang celananya. “Berapa orang yang akan naik? Pakai uangku saja.” Dia menarik lima lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya pada Dahyun yang terkesirap.

“Wow.” Komentar Jeongguk kalem, “That's escalated quickly.”

Taehyung berdeham, “Sugar daddy?”

Yoongi memutar bola matanya, “Itu dari Seokjin.” Katanya saat Dahyun melangkah ceria kembali ke teman-temannya. “Katanya gunakan untuk beli sesuatu yang enak, makan dengan sehat.”

Jeongguk berdeham dan Taehyung terkekeh, “Jadi, apakah aku harus diam tentang sumber uang itu?”

Yoongi menyimpan kembali dompetnya. “Ya, atau kutonjok rontok gigimu.” Katanya namun Taehyung masih bisa melihat wajahnya merona tipis.

Kemudian, para perempuan (bahkan Dahyun) bersorak mereka akan mencoba flying fox itu. Mereka butuh satu orang lagi untuk menggenapi uang yang diberikan Yoongi. Jeongguk jelas tidak mau karena tubuhnya masih lumayan nyeri dan Yoongi terlalu malas—keduanya duduk di salah satu balai, minum minuman isotonik dan mengernyit terganggu seperti dua ekor kucing yang ekornya dimainkan.

Maka Taehyung yang mengambil satu jatah terakhir.

Jeongguk duduk di balai tempat mereka mengenakan alat keselamatan, minum Pocari Sweat dengan kalem sementara Taehyung dipasangkan alat pengaman. Sebelum menaiki wahana, mereka diminta untuk menimbang badan mereka disesuaikan dengan batas minimal dan maksimal berat badan menaiki wahana. Kemudian, mereka dipasangkan alat pengaman dan helm.

Taehyung nampak seperti pinguin saat mengenakan semua pengaman yang membelit tubuhnya. Dia berdiri di depan Jeongguk dengan helm kuning menggemaskan dan melepaskan jam tangannya.

“Kau kelihatan luar biasa mengenakan tali-temali begini.” Komentar Jeongguk kalem dengan suara rendah, dia mengulurkan tangan dan membenahi tali pengaman di bahu Taehyung.

“Jangan mulai memikirkan apa pun yang sedang kaupikirkan.” Tukas Taehyung mendelik dan Jeongguk terkekeh geli.

“Aku bahkan tidak memikirkan apa pun selain betapa kau nampak seperti seekor pinguin.” Dia tersenyum lebar, hingga pangkal hidungnya mengerut dan Taehyung mau tidak mau balas tersenyum. “Kau tidak takut ketinggian?”*

“Tidak.” Taehyung menggeleng. “Kau?”

Jeongguk mengedikkan sebelah bahunya, “Tidak juga. Hanya karena tubuhku masih sakit saja.” Tambahnya lalu bergidik saat menyaksikan Dahyun menaiki undakan ke tempat di mana dia akan dipasangkan tali pengaman untuk wahana. “Apakah Dahyun akan baik-baik saja?”

“Kakinya sehat, kok.” Taehyung mengangguk, ikut menoleh ke Dahyun yang tersenyum lebar—bersemangat. Lukanya sekarang hanya tinggal bekas luka merah jambu yang sehat, sudah tidak geli saat disentuh maka dia memutuskan dia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.

Dahyun kemudian meluncur, berteriak keras dan terbahak-bahak saat tubuhnya berayun di atas tali flying fox. Butuh waktu yang lumayan lama hingga Dahyun mendarat di bukit seberang karena jalurnya yang begitu panjang. Kemudian mereka diantar kembali oleh warga dengan motor dan Yugyeom nampak sangat puas setelah gilirannya—rambutnya mencuat-cuat berantakan seperti burung kakak tua dan wajahnya merah padam, dia tersenyum lebar sekali.

Bayi Kelompok 10 nampak senang.

“Bagaimana, eh?” Tanya Jeongguk saat Yugyeom dibantu melepas pengamannya oleh salah satu staf.

Dia terengah saat menjawab, “Keren!” Katanya, menyusap rambutnya dari keningnya. “Panjang sekali hingga aku kemudian berhenti berteriak, kehabisan adrenalin namun jalurnya masih lumayan. Tapi tidak menghilangkan serunya!” Dia nyengir dan Jeongguk tidak bisa tidak mengulurkan tangan dan menepuk bahunya sayang.

“Pemandangannya luar biasa!” Dia terus berceloteh di sisi Jeongguk yang menyerahkan botol minumannya yang langsung diteguknya habis.

Taehyung yang meluncur terakhir juga nampak sama senangnya—dia nyaris bersinar oleh rasa bahagia yang terpancar di wajahnya. Dia berlari kecil menaiki undakan ke arah tempat duduk Jeongguk lalu mengaduh saat kakinya nyeri.

“Hati-hati, nanti jatuh.” Desah Jeongguk saat dia mulai membuka helmnya, nampak sama bahagianya dengan Yugyeom. Matanya berkilau, wajahnya merah padam dan rambutnya berhamburan.

“WOW!” Katanya tertawa serak dan Yugyeom membalas high-five-nya. “Itu tadi luar biasa!” Dia terengah, tersenyum lebar seraya menyeka rambutnya hingga keningnya terpapar dan Jeongguk menatapnya—mengapresiasi keindahan ragawinya saat dia tertawa dengan Yugyeom.

“Kau menyesal tidak naik?” Tanya Yoongi di sisinya, menguap.

Jeongguk menggeleng, “Melihat Taehyung senang sudah cukup untukku.” Katanya, tidak mengalihkan pandangannya dari Taehyung yang tertawa

“Oh, remaja yang dimabuk asmara.” Yoongi terkekeh, kembali menunduk ke ponselnya.

Jeongguk tertawa, mendesah dan menyeka rambutnya. “Kau juga.”

Yoongi mengedikkan bahunya, “Tidak bisa mengelak.”


Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan kerja sama mereka selama menjadi satu kelompok di pondokan, mereka memutuskan sore itu mereka harus makan di luar.

Mereka turun ke Wedi, Klaten makan bakso yang kemarin dibelikan Taehyung untuk mereka. Formasinya masih sama, Taehyung mengendarai motor Jeongguk dan pemuda itu dibonceng Yoongi. Mereka berangkat pukul setengah lima sore setelah memberikan les untuk anak-anak.

Desi sekarang membenci Jeongguk dan itu membuat Taehyung geli. Dia menolak menanyakan pekerjaan rumah bahasa Inggris-nya ke Jeongguk, dia beralih ke Tzuyu dan benar-benar menghindari Jeongguk yang malah senang karena tidak harus meladeni anak itu.

“Tidakkah kita terlalu jahat?” Tanya Dahyun setelah anak-anak membubarkan diri, mengenai Desi.

“Tidak, kurasa.” Sahut Momo kemudian dan beberapa anak mengangguk. Desi sudah lama menjadi seperti duri dalam daging bagi mereka, kebiasaan anak itu muncul di mana-mana dan mengikuti mereka nyaris seperti pengutit membuat anak-anak risih.

Dia masih belia, masih ada banyak hal yang bisa dilakukannya namun dia memilih untuk bersikap menakutkan pada mereka. Dia sering duduk di dekat Yoongi yang benar-benar mulai takut padanya.

“Mungkin dia hanya kesepian?” Tambah Yugyeom kemudian, berusaha mencari alasan yang masuk akal mengenai tingkah Desi.

Karena sikapnya yang gemar mengutit dan mengikuti mereka, anak-anak terbiasa mengabaikannya dan berusaha menghindari interaksi dengannya sama sekali. Jeongguk sejak awal sudah menggambar garis tebal tentang itu—dia tipe manusia yang mudah mengusir orang yang tidak disukainya hanya dengan bahasa tubuhnya.

Namun anak-anak lain kesulitan, mereka berusaha bersikap sopan pada anak itu memintanya berhenti namun dia tidak menangkap sinyalnya. Semua kecuali Jeongguk. Maka dialah satu-satunya anggota kelompok yang tidak “ditempeli” anak-anak yang mencoba menarik perhatian mereka dengan cara yang tidak masuk akal.

“Aku risih pada anak-anak umur mereka,” kata Jeongguk kemudian, mengedikkan bahunya kalem sementara mereka mencari posisi duduk yang nyaman. “Batita dan balita oke, tapi anak-anak usia sekolah yang serba ingin tahu dan usil membuatku kesal.”

“Apa, sih, yang tidak membuatmu kesal.” Sahut Taehyung tertawa kecil lalu mengaduh saat Jeongguk memukul pahanya keras.

“Aku lebih suka mereka mengiler di badanku daripada usil tentang hidupku.” Tambahnya kemudian, menutup diskusi tentang Desi.

Yoongi selalu bersembunyi dan menghindar tiap kali Desi datang, tidak nyaman pada bagaimana anak itu selalu berusaha mencari perhatiannya. Momo sudah mencoba meminta Yoongi untuk mengatakan saja padanya jika dia tidak nyaman tapi menurut Dahyun anak seusia Desi belum paham hal-hal semacam itu sehingga menghindarinya dianggap sebagai cara yang paling benar—kasar, tapi efektif.

Mereka kemudian memesan makanan, para perempuan memesan bakso dan para lelaki memesan mie ayam bakso yang akan memuaskan selera makan kelas kuli bangunan mereka. Jeongguk dan Taehyung sepakat mereka butuh bakso jumbo untuk mie ayam mereka karena perut mereka seperti black hole.

“Sesekali libur memasak ternyata enak,” Dahyun menyesap es jeruknya yang dingin—senang karena mereka tidak perlu memasak malam ini.

“Sebuah apresiasi kepada tim memasak,” Yugyeom nyengir saat makanan mereka kemudian tiba.

Aroma kaldu kuah yang lezat membuat mereka semua senang setelah seharian beraktivitas. Untuk lima belas menit yang berharga, mereka semua diam—makan dengan khidmat sembari menonton acara televisi yang tidak pernah bagus namun setidaknya ada kegiatan yang bisa mereka lakukan seraya memindahkan isi mangkuk ke mulut mereka.

Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom duduk di meja terpisah karena tidak cukup. Ketiganya makan dengan tenang seperti tiga balita yang diberi mainan kesukaan mereka.

Mungkin bukan bakso terenak yang pernah mereka makan, namun setelah beberapa hari makan tempe-tahu setiap hari membuat mereka merasa daging adalah kemewahan yang harus diapresiasi.

“Untuk perpisahan,” kata Yugyeom kemudian setelah mereka semua selesai makan, menunggu Jeongguk yang masih menggerogoti tulang ceker ayamnya—dia selalu melakukan itu, menggerogoti tulang ayam.

“Kita akan membeli ayam saja, ya?” Katanya, “Aku sudah bicara dengan Mbak Dahyun, dan uangnya masih cukup karena ada penghematan makan kita selama KKN.”

“Makan tempe-tahu nyaris setiap hari ada gunanya juga ternyata,” sahut Yoongi setengah menyindir karena dia salah satu yang sangat bosan dengan makanan itu dan Jeongguk terkekeh.

“Kita akan mengundang anggota Karang Taruna dan makan bersama,” Yugyeom menambahkan, mengabaikan Yoongi yang melempar kepalanya dengan sedotan bekasnya yang digigiti sejak tadi. “Memanggang ayamnya bersama lalu makan bersama.”

“Kedengaran sederhana dan oke untukku.” Taehyung menandaskan makanannya lalu mendesah kekenyangan, menepuk perutnya yang membuncit karena terisi makanan.

Dia melirik isi mangkuk Jeongguk, menyadari isinya sudah habis namun pemuda itu masih mengemut tulang ayamnya seraya mendengarkan kata-kata Yugyeom. Dia mengernyit, menepis tangan Jeongguk.

“Jorok!” Katanya.

Jeongguk nyengir, namun tak ayal meletakkan tulang itu kemudian mencuci tangannya. “Nanti aku bicara dengan ketuanya tentang acara kita.” Katanya seraya membasuh tangannya di wastafel, beberapa meter dari mereka.

“Kita akan lakukan tiga hari sebelum penarikan?” Tanya Yugyeom kemudian.

“Setuju.” Yoongi mengangguk. “Satu hari sebelum penarikan, kita akan berpamitan dengan para ketua RT, 'kan? Memberikan mereka sembako mungkin sebagai tanda terima kasih telah menerima kita?”

Dahyun setuju, “Beras, gula, dan kopi cukup kurasa. Uangnya cukup karena kita,” dia memicingkan mata pada Yoongi. “Makan tempe-tahu setiap hari.”

Yoongi mengangkat tangannya sebatas dada, telapak tangan menghadap ke depan—pose menyerah. “Aku bilang ada untungnya juga kita makan tempe-tahu setiap hari. Tanpa ada keinginan untuk menyerang. Simpan kembali cakarmu.”

Mereka pulang setelah Taehyung mentraktir mereka martabak manis dan asin untuk dimakan di rumah. Membelikan juga sekotak untuk Bapak dan Ibu. Mereka pulang selepas Maghrib, membiarkan Momo berkendara di tengah-tengah dengan Yugyeom di depan dan Taehyung di belakangnya. Yoongi berkendara paling belakang, memastikan Momo dan Taehyung tidak tertinggal.

Taehyung menatap langit di hadapan mereka yang mulai menggelap, menelan semua bintang mungil yang berkelip sejak tadi dan cemas. Dia mengklakson teman-temannya lalu memberi tanda untuk sedikit lebih cepat sebelum mereka terjebak hujan karena Yugyeom yang mengontrol kecepatan mereka.

Yugyeom membalas klaksonnya lalu menaikkan kecepatan sehingga mereka berhasil tiba persis lima menit sebelum hujan deras mengguyur Watugajah. Mereka sedang berganti baju saat Bapak keluar dengan jas hujan.

“Mau ke mana, Pak? Hujan.” Kata Taehyung yang merokok di kursi depan dengan Diwud yang terlelap di sisinya.

“Mau menjemput Irma, hujan.” Kata Bapak mengenakan helmnya dan kemudian berangkat setelah mengklakson Taehyung yang mengangguk sebagai jawaban.

Jeongguk muncul di sisinya dengan kaus tipis dan celana bokser, agak tertatih-tatih. “Bapak ke mana?” Tanyanya kemudian menggeser Diwud untuk duduk di sebelah Taehyung dan meraih kotak rokok mereka.

Dia membukanya, menyelipkan satu rokok ke bibirnya dan menyalakannya dengan pematik sebelum menghembuskan asap pertama lalu meletakkan pematik kembali di atas kotak rokok.

“Menjemput Mbak Irma,” sahut Taehyung menaikkan sebelah kakinya untuk menyangga lengannya yang memegang rokok. “Mungkin sudah terlanjur di jalan untuk pulang dan hujan.”

“Oh, iya.” Jeongguk menyugar rambutnya, mengikatnya setengah menjadi pony tail dan membiarkan sisanya tergerai di tengkuknya. “Seharusnya tadi kita menunggunya saja, ya? Pulang bersama.”

Taehyung mengedikkan bahu, “Setengah tidak setuju karena kita punya Momo dan Dahyun serta kau yang masih belum bisa membawa motor, terlalu riskan.”

Jeongguk menghembuskan asap rokoknya dari hidung, “Setuju kalau begitu.” Dia kemudian menyesap rokoknya lalu membuat cincin asap dengan ahli.

Taehyung tertawa, terdengar kaget dan kagum. “Kau bisa melakukannya??”

“Kau tidak pernah bertanya,” Jeongguk terkekeh dan cincin-cincin asap di depan wajahnya lenyap oleh angin hujan di depan mereka.

Mereka duduk di teras, ditemani hujan yang semakin deras dengan rokok dan obrolan hangat yang membuat suasana hangat. Di dalam sana, teman-temannya bermain UNO Stacko dengan berisik, saling menyalahkan dan tertawa.

“Aku dulu sangat tidak menyukai prospek KKN ini,” kata Jeongguk menghembuskan asap rokoknya. “Siapa sangka ternyata kegiatan ini, jika kau melihatnya dari sisi yang benar, bisa memberikan perspektif baru tentang hidup.”

Taehyung mengangguk setuju. “Tidak menarik juga untukku. Aku hampir saja mengambil KKN Alternatif** tapi syukurlah aku memutuskan untuk mengambil KKN Reguler karena ternyata jauh lebih menyenangkan.” Dia menyesap rokoknya.

“Aku juga tidak tertarik pada konsep cinta lokasi saat KKN, lalu coba lihat aku sekarang. Menyedihkan.” Tambahnya dan Taehyung tertawa.

“Jadi maksudnya jatuh cinta padaku itu sesuatu yang menyedihkan, ya?” Tanyanya.

“Tidak, siapa yang bilang?”

“Kau. Baru saja.”

“Bagaimana mungkin jatuh cinta pada lelaki seindah dirimu membuatku menyedihkan? Ini anugerah. Apa lagi fakta bahwa kau membalas perasaanku.” Jeongguk menepuk tangan Taehyung lembut lalu meremasnya sejenak.

“Sabar, oke?” Katanya kemudian dan Taehyung menoleh dari rokoknya.

“Setelah KKN berakhir, kita akan melakukan pendekatan dengan cara yang benar.”

Taehyung tersenyum lebar, jantungnya berdebar dan di tangannya dia juga merasakan denyut nadi Jeongguk yang menggila. Perasaan ini mutual; kegugupan ini, semua ciuman tidak langsung itu, tatapan-tatapan rahasia, bisikan setiap sebelum tidur....

Benar kata orang, “Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali jatuh cinta di masa KKN.”

Hidup selama tiga puluh hari dengan orang yang baru dikenal, berbagi atap, kamar mandi dan makanan membuat ikatan tumbuh antara keluarga dan kekasih. Dan dia senang karena di kali pertama dia bertemu Jeongguk, dia tahu dia akan jatuh cinta pada pemuda itu.

Bagaimana mungkin tidak saat Jeongguk bersikap sangat lembut, sangat menarik, sangat membuai....

“Aku senang,” katanya kemudian dan Jeongguk menoleh. “Kau jatuh cinta padaku alih-alih orang lain.”

Senyuman perlahan mekar di bibir Jeongguk saat dia mendesah, “Oh, Taehyung.” Bisiknya dan Taehyung terkekeh. “Siapa yang tidak jatuh cinta padamu?”

Taehyung tertawa serak saat bara api rokoknya mati karena habis sementara di dalam suara UNO yang runtuh terdengar disusul dengan suara tawa yang ceria teman-temannya—menyoraki Yugyeom yang kalah.

“Ayo, kita lakukan pendekatan dengan cara yang benar setelah ini.” Katanya, meletakkan tangannya di atas tangan Jeongguk yang langsung membaliknya sehingga tangan mereka saling menggenggam.

I'll spoil you,” Taehyung tersenyum. “The way you deserve to be treated.”

Jeongguk membalas senyumannya, “Same goes to you, Darling.”


Note.

*Sebenernya aku gak naik karena aku takut ketinggian HUAHAHAHAH selain badanku masih sakit, aku juga takut naiknya sksksk takut tiba2 ambruk gitu flying fox nya HUHUHUHU tapi krna Gguk anaknya sangat berani!!!! (i mean remember bv 4? yes. hahahaha) jadi aku ganti alasannya :'DDD

**KKN Alternatif itu kalo di kampusku, kalian gak usah nginep di lokasi. Jadi kayak PP gitu dari rumah ke lokasi KKN setiap weekend; ngajar, proker biasa sama cuma dilakukan tiap weekend dan kalian PP rumah-lokasi, rumah-lokasi. Tapi tiga bulan karena kalian gak nginep. Aku mah mending reguler deh sekalian :'D Selain lebih cepet kelar, meminimalisir kenapa2 di jalan krna pulang pergi terus yakan.