Kuliah, Kerja, Nyantai / 107

cw // sexual tension


“Saya berikan selembar kertas, silakan memunggungi teman-teman kalian—ya, buat barisan begitu. Nah, benar. Tulis nama kalian masing-masing di atas kertas lalu tukar memutar dengan teman-teman kalian.”

Taehyung menoleh ke kelompok di sebelah mereka—anggotanya duduk memunggungi teman-temannya sehingga tidak ada yang bisa saling mengintip. Mereka duduk dalam satu barisan seperti bermain Ular Naga Panjangnya. Menggunkan punggung anggota di hadapannya sebagai alas untuk menulis di kertas warna-warni yang dibagikan Dosen Pembimbing Lapangan mereka.

Mereka lekas menirunya, Jeongguk berada di paling depan karena dia duduk paling pinggir—terdekat pintu agar bisa merokok. Tehyung duduk di belakangnya. Mereka kemudian menulis nama masing-masing di kertas itu, memberi garis di bagian tengahnya dan memberi tanda (+) lalu (–) sebagai judul dua ruang kosong itu.

Taehyung menyerahkan miliknya ke Jeongguk yang menyerahkan miliknya ke orang di ujung belakang, Yoongi. Taehyung menerima milik Dahyun yang ada di belakangnya dan begitu seterusnya.

“Sekarang, tulis hal-hal yang kalian rasakan tentang orang yang kertasnya kalian dapatkan. Hal positif dan negatif yang kalian dapatkan selama tinggal bersama tiga puluh hari ini,” kata DPL mereka, tersenyum lebar. “Apakah mereka menyebalkan, rajin, berisik? Silakan tulis saja.”

Taehyung mengulum senyumannya dan mulai menekan pulpen ke atas kertas di punggung Jeongguk untuk Dahyun. Di kolom positif, dia menuliskan: “Tangguh. Tidak menyulitkan. Mandiri. dan di kolom negatif dia menuliskan: “Kurangi berteriak dengan suara keras. Abaikan saja Jeongguk, kau tidak perlu menanggapi setiap sampah yang dikatakannya.

Dia terkekeh lalu mengulurkan kertas itu ke Jeongguk yang mengoper kertas Taehyung ke Yoongi. Mereka melakukan rotasi itu sebanyak tujuh kali hingga akhirnya kertas Jeongguk berada di genggaman Taehyung.

Dia membaca isinya dan mulai tertawa tanpa suara karena semuanya terisi hal-hal seperti:

(+)

mbuh. gak ada. cakep. GAK. ADA. rajin. AGAK. nurut kalo disuruh. bijak? kalo lagi bener otaknya.

(–)

matio, ndes! tolong kalo masak jangan KEBANYAKAN BACOT! km membuat neraka nampak seindah negeri dongeng. tato hello kitty donk qaq! KALO JEMUR SEMPAK SING GENAH YA NDES! celana jins gguk to the rest of the laundry: “you guys being washed?”

Taehyung tertawa kecil, sudah tahu bahwa isi kertas Jeongguk adalah hal semacam ini. Namun dia tahu, dibalik semua ini mereka adalah keluarga yang saling melindungi. Teringat saat Dahyun pertama terjatuh, itu baru hari pertama KKN dan mereka semua sigap menolongnya.

Saat Jeongguk jatuh sakit, semua orang mendadak panik. Dahyun dan Momo membuatkannya bubur, membeli daun bawang dari Simbah, ibu Bapak yang sering mampir dari pasar membawa sisa jualannya. Saat Taehyung sakit, semua orang siap menjadi tiang sangganya untuk berjalan—memastikan Taehyung aman dan nyaman.

Dan bukankah begitu setiap saudara bertindak? Saling membenci dan saling sayang?

Taehyung tersenyum lebar sebelum menekan pulpennya di atas kerjas di sisi (+):

(+) the best sex i've ever had. the best sleeping partner—both literally and figuratively. (–) kurang banyak. besok beli kondom selusin ya. ily.

Taehyung kemudian melipat kertasnya, sesuai arahan dari DPL mereka sebelum menyerahkannya ke Jeongguk. Mereka kemudian membenahi duduk mereka, bersandar ke dinding dengan piring kacang rebus di hadapan mereka lalu mulai membuka kertas mereka masing-masing.

Tidak ada yang tahu siapa yang menulis yang mana, tentu saja tapi Taehyung hafal beberapa tulisan tangan yang dikenalinya saat mencontek isi buku harian KKN.

Miliknya:

(+)

goyangannya mantap! 100/10 gon have you on top again! mwa IKI SIK NDUWUR JEONGGUK PO? NGGILANI TENAN BAJIGUR! rajin. banget! asyik diajak curhaat huhu rajin! cekatan mandiri usil, gemesin, baik, rajin menabung xixixi asique! gojekannya mantap hahahah

(–)

saklek, nyebelin. padahal cium dikit di pondokan gpp tau :( GGUK TMI JINGAN!! JANCOOOO! galak. kadang nyebelin. kalem dikit kaaak! hahahah galak. GALAK LULS! galaaaaak galak 10/10 agak moody?

Taehyung tertawa, khususnya membaca bagian awal miliknya sebelum menoleh ke Jeongguk yang juga sedang tersenyum lebar membaca miliknya sendiri. Mereka berpandangan, bertukar senyuman lebar.

KKN mereka akan segera berakhir, namun ada bagian dari hati mereka yang tidak ikhlas jika mereka harus berpisah dengan teman-teman KKN mereka yang sangat akrab ini. Siapa sangka jika teman-teman KKN Taehyung ternyata anak-anak seasyik dan semenyenangkan ini? Tidak ada yang manja dan menyebalkan, tidak ada yang menyulitkan; mereka berangkulan, akrab dan solid.

Taehyung pasti akan merindukan bangun pagi, berangkat ke PAUD, bertengkar dengan Dahyun masalah menu makan siang, pergi ke pasar untuk membeli pukis yang habis dimakan seraya menunggu para perempuan berbelanja, bermain sepak bola sore dengan anak-anak di Masjid....

Namun mereka harus kembali. Masa berlibur mereka sudah habis, dunia mereka menunggu; skripsi mereka menunggu, hal-hal yang mereka harus kembali hadapi. Pendidikan yang harus mereka selesaikan.

Berada di lokasi KKN selama tiga puluh hari sudah membuka mata Taehyung tentang kehidupan. Bagaimana waktu seolah berjalan jauh lebih lambat di sini, segalanya berjalan dengan perlahan—memberikan ruang yang cukup untuk Taehyung bernapas, memproses kehidupan dengan lebih mudah.

“Punyamu oke?” Tanya Jeongguk saat dia menyelipkan kertasnya ke dalam tasnya.

Taehyung terkekeh, “Lumayan.” Katanya. “Kau?”

Jeongguk mendengus, geli. “Anak-anak kreatif sekali.” Katanya dan sebagai orang yang sudah mengintip isi kertas Jeongguk, dia setuju.

Mereka duduk berdekatan, kelingking bertautan di balik jas almamater mereka yang diatur sedemikian rupa hingga menyembunyikan tangan mereka yang saling terkait. Jeongguk menyugar rambutnya, nampak mengantuk.

“Hei,” Dahyun di sisinya mendekatkan kepala ke Taehyung yang otomatis merunduk ke arahnya. “Kau dengar tidak katanya ada yang dibawa ke Kelurahan karena ketahuan mesum di pondokan.”

Jeongguk menoleh, mendengar bisik-bisik itu. “Sungguh?” Sahutnya, juga berbisik.

Dahyun mengangguk, melirik lelaki dan perempuan yang duduk di arah jam 8 dari mereka. Si perempuan mengenakan jilbab berwarna jingga di atas pakaiannya dan si lelaki nampak seperti jenis lelaki fuck boy yang disukai para perempuan dengan gaya cocky-nya.

“Lihat asetnya,” komentar Jeongguk seketika dan mendapatkan jitakan di kepalanya hingga dia mengaduh keras—beberapa anak menoleh pada mereka dan Taehyung tersenyum lebar, menenangkan mereka semua.

“Kemarin saat anak-anak berangkat proker, si perempuan izin sakit datang bulan,” kata Dahyun, sekarang Momo dan Tzuyu bergabung dengan mereka. “Lalu si lelaki bilang dia akan pulang mengambil sesuatu untuk kebutuhan proker. Bapak pondokan melihatnya masuk ke kamar perempuan dan mengunci pintu.”

“Mantap.” Komentar Jeongguk kemudian, sekali lagi, dihadiahi jitakan oleh Taehyung yang nampaknya sama sekali tidak keberatan melakukannya. Jeongguk mengerang, mengusap kepalanya yang sudah dua kali terkena jitakan sementara Taehyung kembali fokus pada Dahyun.

“Lalu, lalu??” Tanya Momo bersemangat.

“Lalu Bapak pondokan langsung membuka pintu mereka paksa,” kata Dahyun kemudian, berbisik.

Taehyung meringis. “Apakah mereka telanjang?”

Dahyun mengangguk, “Setengah telanjang, katanya.”

Taehyung mengernyit, tidak habis pikir bagaimana mereka bisa melakukan hal semacam itu di pondokan? Kenapa mereka tidak izin pulang saja? Pergi ke hotel, bercinta sepuasnya lalu kembali—hal itu jauh lebih menyenangkan dan aman dari ganjaran manusia dan makhluk halus yang pasti tidak menyukai kegiatan semacam itu.

“Lalu mereka digiring langsung ke Kelurahan. Pak Achilleus,” Dahyun mengangguk ke DPL mereka yang sedang bicara dengan kormadus kelompok lain. “Datang sebagai perwakilan kampus bersama salah satu staf Wakil Rektor 3 Bagian Kemahasiswaan dan juga LPPM. Mereka bertemu dengan perangkat desa termasuk Pak Dukuh.”

Jeongguk mendekat, nyaris menyandarkan diri di Taehyung. “Lalu apa ganjarannya?”

Dahyun menggeleng, “Katanya mereka akan diluluskan dengan nilai C.”

“Tidak asyik.” Komentar Taehyung kemudian dan Jeongguk terkekeh, mencubit pantatnya dari balik almamater mereka dan Taehyung mendelik jengkel padanya namun tak ayal tertawa kecil. “Mereka harusnya digagalkan KKN.”

“Digagalkan mungkin bisa, tapi jika mereka kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang sama lagi di KKN selanjutnya?” Sahut Momo meraih segenggam kacang rebus dan mulai mengupasnya.

“Tetap saja, harusnya ganjarannya setimpal dengan rasa malu yang mereka lakukan untuk nama universitas. Berbuat mesum di pondokan.” Gerutu Taehyung di bawah napasnya. “Aku tidak suka sekali pada orang-orang yang tidak tahu waktu kapan harus melampiaskan nafsunya.”

“Kau pertapa. Pengendalian gairahmu luar biasa.” Jeongguk mengangguk-angguk lalu mengaduh saat Taehyung menyambar pahanya, mencubitnya pedas.

“Tapi setuju.” Kata Dahyun kemudian, “Maksudku,” dia sejenak nampak kikuk sebelum mengedikkan bahunya. “Kalian nampak sangat... penuh dengan percikan gairah seksual. Aku sudah takut kalian akan bertingkah macam-macam di pondokan, tapi ternyata aku hanya bersikap tidak adil pada kalian.”

Taehyung tertawa kecil. “Setan kecil ini tidak terlalu hebat.” Dia memijat tengkuk Jeongguk sayang. “Tapi, toh, kami berhasil. Selain karena kami tidak ingin menyulitkan kalian, nampaknya pondokan kita tidak terlalu ramah manusia.” Dia mengangguk, teringat mimpi Namjoon hanya karena dia bersuara keras.

Bayangkan saja jika mereka melakukan itu di pondokan.

“Dan aku punya uang untuk membayar kamar hotel kok,” sahut Jeongguk yang mendesah senang karena Taehyung memijatnya. “Aku tidak semiskin itu bercinta di pondokan.”

Dahyun mengernyit. “Baiklah.” Katanya dengan wajah berkerut jijik dan Taehyung terkekeh.

Mereka pulang kemudian, mampir ke Wedi untuk membeli cemilan yang akan digunakan Tzuyu sebagai perpisahan anak-anak. Mereka berhenti di toko kelontong di dekat pintu masuk Pasar Wedi, Jeongguk langsung menghampiri pejaja dawet ayu yang memarkir sepedanya di sisi jalan dan memesan satu. Yoongi bergabung dengannya.

Para perempuan membeli beberapa lusin makanan, permen kenyal, dan juga wafer. Mereka akan makan bersama-sama sore ini, sambil mengisi surat kesan-pesan untuk para anggota KKN dari anak-anak.

Yugyeom memilih menunda acara perpisahan mereka, acara memanggang bersama warga dan Jeongguk mengangguk—siap memberi info pada ketua Karang Taruna tentang pemindahan tanggal itu.

Taehyung membantu para perempuan memilih makanan, mengecek kandungannya dan mengira-ngira makanan apa yang mungkin disukai anak-anak sehingga tidak ada makanan yang terbuang. Dia tidak menyadari saat Jeongguk akhirnya masuk, melihat-lihat cemilan dan tertarik pada beberapa.

Jeongguk meraih sebuah cemilan, membaca bungkusnya dengan saksama sebelum menatap Taehyung yang sedang melihat-lihat makanan dengan kedua tangan di balik bahunya. “Tae, kau bawa uang tidak? Aku ingin ini.” Dia melambaikan cemilan di tangannya.

Taehyung menoleh, melihat bungkus makanan di tangan Jeongguk dan terkekeh. “Belilah barang lima,” dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet untuk membayar makanan yang diinginkan Jeongguk. “Agar kau punya sesuatu untuk dikunyah dan tidak merengek.”

Pemuda itu bergegas meraih lima bungkus cemilan dan meletakkannya di konter. “Dan rokok,” tambahnya nyengir pada Taehyung yang mendesah. “Kau yang terakhir merokok, jadi kau yang beli.” Sahutnya, setengah mendelik saat penjual mengambilkan mereka rokok.

“Baiklah, baik.” Taehyung terkekeh, dia kemudian membayar belanjaan Jeongguk sementara pemuda itu memijat tengkuknya.

Anak-anak perempuan akhirnya menyelesaikan belanjaan mereka. Meletakkan semuanya di meja kasir lalu keluar dengan dua kantung plastik hitam besar yang penuh oleh cemilan yang menggembung karena angin.

Jeongguk dan Taehyung baru saja menyalakan rokok saat anak-anak keluar dari toko. Keduanya mendesah keras, Taehyung mengepit rokok di bibirnya. “Aku saja yang mengendarai motornya, kau merokoklah.” Katanya kemudian mematikan bara rokok, memasukkan batang yang masih panjang itu ke kotaknya.

Dia menghabiskan rokok terakhir mereka sebelum evaluasi dan Jeongguk sudah menahan diri tidak merokok berjam-jam, dia layak mendapatkan sebatang dengan tenang.

“Habiskan sebelum tiba di Masjid, ya?” Ingat Yoongi dan Jeongguk mengangguk—mereka akan langsung ke Masjid dari sini, mengurus hari terakhir bimbingan belajar dan perpisahan dengan anak-anak.

Jeongguk menaiki jok motornya, menukar helm full face-nya dengan milik Taehyung yang terbuka sehingga dia bisa merokok dan motor mereka melaju terakhir—agar abu rokok Jeongguk tidak mengenai siapa pun di belakang mereka.

Yoongi sudah membuat mereka berjanji agar tidak merokok saat bimbingan belajar atau setelah PAUD—menjauh dari anak-anak jika mereka ingin merokok agar tidak berpotensi menjadi contoh yang buruk. Walaupun Jeongguk tidak terlalu setuju karena para pemuda lain nampak sangat rileks merokok di depan anak-anak, dia mengangguk—dia tidak mau menimbulkan keributan di kelompok.

Dia merokok dengan nyaman di belakang, Taehyung melirik dari spion motor. Dia melepaskan tangannya dari stang motor dan menepuk tangannya yang berada di paha Taehyung hangat.

Jeongguk tersenyum padanya dari pantulan spion di motor. “Lihat ke depan,” katanya. “Nanti kita mati. Romantis, sih, tapi katamu kita belum bercinta yang banyak.”

Taehyung terkekeh serak, mengoper gigi motor dengan suara keras sebelum menambah kecepatan. “Benar juga.” Dia mengangguk serius. “Aku akan ke kosanmu dulu setelah penarikan, bagaimana?”

Jeongguk bersiul keras, “Langsung hari itu juga? Seksi.” Komentarnya lalu dari balik almamater yang mereka gunakan sebagai jaket, dia mengelus selangkangan Taehyung yang terkejut dan nyaris oleng di atas motornya.

Kelepak jas almamater menyembunyikan tangan Jeongguk dengan sempurna saat jemarinya bergerak di dalam sana hingga Taehyung pening.

“Kau bedebah bangsat, jauhkan tanganmu.” Geramnya, merasakan benar saat semua sarafnya memfokuskan diri pada gerakan jemari Jeongguk di tubuhnya yang mulai bereaksi; menebal dan panas menggelisahkan, geli.

“Lihat, dia suka.” Jeongguk terkekeh serak, menyadari bara rokoknya mati dia kemudian menyelipkan puntungnya ke saku jas almamaternya. “Dia bangun. Menggemaskan.”

Taehyung menggertakkan gigi. “Milikku jauh dari kata menggemaskan.”

“Iya, iya.” Jeongguk terkekeh, terhibur. “Aku menyakiti egomu, ya?” Dengkurnya seperti seekor singa saat tangannya membelai Taehyung yang nyaris mendesah keenakan di atas motor yang melaju enam puluh kilometer per jam.

“Jeongguk. Kita sedang di jalan.” Geramnya dengan rahang dikatupkan. “Jika kau lupa?”

Jeongguk tertawa, keras dan lepas—benar-benar puas karena telah membuat Taehyung tegang di tengah jalan. Dia mengangkat tangannya dari sana lalu membelai perut Taehyung yang langsung mengejang oleh sentuhan itu.

Bohong jika dia tidak merindukan sentuhan Jeongguk—mereka berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri selama di pondokan. Berusaha keras untuk tidak kelepasan dengan letupan gairah yang memusingkan. Inilah pertama kalinya setelah hari mereka bercinta seperti kesetanan, Jeongguk menyentuhnya dan Taehyung ingin terengah di kakiknya agar dia menggagahi Taehyung saat itu juga.

Jemari Jeongguk terasa sangat hangat hingga kepalanya pening. “Gguk, berhenti.” Katanya parau.

Jeongguk tertawa, “Baiklah, Sayang. Kau tidak perlu jadi sangat alfa begitu.” Dia menarik tangannya dan secuil hati Taehyung merengek menginginkan tangan Jeongguk kembali ke tubuhnya.

Ini di jalan, Bodoh! Teriak otaknya ke hati Taehyung yang tersedu-sedu.

“Nanti,” Jeongguk mendekatkan wajahnya hingga napasnya membelai leher Taehyung. “Begitu kita berada di kamarku dengan pintu terkunci, kau bisa menggunakan suara alfa itu untuk memintaku menelan orgasmemu. Aku tidak akan keberatan.” Dia meniup leher Taehyung. “You can fuck me on the mouth all the way you like.”

Dan itulah alasan kemudian Taehyung terserang vertigo ringan di pondokan saat mereka mengambil papan dan beberapa buku untuk anak-anak hingga Tzuyu memberikannya sebotol air minum. Dia sangat bergairah dan baru saja ditinggalkan blue-balled oleh Jeongguk yang nyengir—nampak sama sekali tidak berdosa.

Fuck you,” gerutunya dan Jeongguk terkekeh.

Yes, Darling,” sahutnya berbisik, terhibur. “Fuck me.” Lalu dia beranjak keluar, menyerigai congkak dan menyodok bagian dalam lidahnya dengan sensual sebelum meninggalkan Taehyung bersandar di pintu masuk kamar lelaki—sakit kepala.

Dan punya masalah dengan selangkangannya.

Dia tidak bisa datang ke Masjid dengan keadaan seperti itu.

Jeongguk memang bedebah bangsat.