Kuliah, Kerja, Nyantai / 105
Berita baik hari ini: Jeongguk sudah bisa bangkit tanpa bantuan dan berjalan-jalan. Sudah jauh lebih baik dari dua hari lalu sehingga mereka memutuskan untuk tidak perlu membawanya ke Puskesmas.
Bagian kanan tubuh Taehyung yang awalnya kaku, sekarang mulai terasa lebih baik; otot-ototnya yang kaget sudah kembali rileks. Dia sudah bisa menekuk kaki kanannya hari ini dan itu membuatnya senang sehingga dia yang menemani Yugyeom ke rumah Ketua RT07 alih-alih anggota mereka yang sehat karena dia ingin “melemaskan” kakinya. Sekarang tubuhnya sudah jauh lebih baik, hanya nyeri sedikit-sedikit.
Memar di punggung Jeongguk juga sudah mulai menguning menuju sehat dan tidak nyeri saat disentuh. Mereka semua bersyukur karena besok adalah hari proker terakhir mereka sehingga bantuan dari Jeongguk dan Taehyung akan sangat dibutuhkan.
Dan masalah mereka hari ini adalah hal yang paling menyebalkan saat KKN: mereka tidak memiliki kegiatan.
Mereka semua berbaring di atas tikar ruang tengah dan bermalas-malasan, lelah karena hanya diam. Apalagi Jeongguk yang benar-benar tidak bisa diam, dia bergerak terus—entah kakinya, entah tangannya, dan Taehyung sungguh sebal karenanya.
Taehyung menyentuh kaki Jeongguk yang digoyangkan dengan kakinya, “Diam,” gerutunya dan Jeongguk mendengus—jengkel.
“Aku ingin jalan-jalan. Ayo, jalan-jalan!” Keluhnya.
“Jalan-jalan saja ke Green Village,” kata Bapak yang muncul dengan sarung dikalungkan melintang di tubuhnya dan rokok di bibirnya, menatap mereka seperti menatap sekelompok anjing laut yang berjemur di permukaan. “Main flying fox.” Tambahnya.
“Dapat diskon tidak, Pak?” Tanya Dahyun kemudian, berbaring dengan satu earphone terpasang di telinganya—mendengarkan lagu secara luring.
“Tanyakan saja,” sahut Bapak mengangguk yakin. “Kalian, 'kan, sudah berkontribusi banyak ke desa ini. Mungkin bahkan diberikan gratis.”
Gratis adalah kata kuncinya.
Mereka semua berpandangan. Dengan kondisi Taehyung dan Jeongguk yang sudah jauh lebih baik, kondisi Dahyun juga sudah bisa menekuk kakinya dengan sehat, mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat.
“Naik flying fox gratis!” Kata Yugyeom saat mereka bersiap, membawa call-card mereka juga sebagai tanda pengenal.
“Aku tidak yakin.” Komentar Yoongi saat mereka menaiki motor mereka, bersiap-siap berangkat.
Namun tidak ada yang mendengarkannya karena semuanya terlalu bersemangat akan mencoba wahana flying fox yang digadang-gadang sebagai wahana dengan lintasan terpanjang di Indonesia. Apalagi diiming-imingi kata “gratis” dari Bapak karena kontribusi mereka ke desa sabagai mahasiswa KKN.
“Aku akan bermotor pelan-pelan karena belum terlalu yakin,” katanya pada teman-temannya. “Tapi tidak apa-apa kurasa.” Dia mengoper gigi motornya—mengetes kekuatan kakinya sementara Jeongguk berdiri di dekat sana menatapnya.
“Kau yakin?” Tanyanya kemudian.
Taehyung mengangguk. “Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di pondokan, sungguh.” Katanya serius dan Jeongguk tersenyum—senang mendengarnya.
“Tidak apa-apa, aku akan ada di belakangmu,” kata Yoongi di atas motornya, mengamati Taehyung yang mengetes kekuatan kakinya. “Jika kau tidak sanggup, Jeongguk bisa denganku.”
Taehyung kemudian mengerjap, “Oh, ya!” Katanya kemudian, nampak bersyukur. “Tolong, ya, Yoon? Aku belum yakin untuk membonceng seseorang.”
“Lebih baik begitu daripada berisiko.” Tambah Yugyeom setuju dan Jeongguk mengangguk.
Jeongguk dibantu Momo berjalan perlahan menaiki jalan tanjakan hingga ke jalan utama sementara Taehyung merasa cukup sehat untuk mengendarai motornya. Dia mengetes kaki kanannya yang sudah bisa ditekuk dengan mudah dan memasukkan gigi—sedikit kagok, tapi tidak apa-apa.
Perjalanan ke Green Village tidak bisa dibilang mudah karena jalan beraspal berakhir satu kilometer dari jalan utama, berubah menjadi jalan rusak berbatu yang berlumpur dan diselingi dengan semen kasar dicampur kerikil agar tidak mudah selip.
Mereka melewati jalan aspal kecil seukuran satu mobil kecil yang diapit persawahan apik yang hijau dan gemerisik, rimbun bambu yang merunduk membuat sinar matahari sedikit lebih teduh, lalu melewati rumah-rumah warga bahkan halaman rumah seseorang yang melambai ramah pada mereka sebelum menaiki tanjakan yang langsung membelok dengan titik buta. Syukurnya mereka memberikan cermin cembung di sana sehingga mereka bisa memastikan tidak ada motor dari arah berlawanan.
Di satu titik, mereka berpapasan dengan grup motor yang mengklakson mereka ramah sehingga mereka balas mengklakson. Suara deru motor dan klakson terdengar riuh di tengah suasana desa yang hening dan menenangkan.
Taehyung mengendarai motornya nomor dua dari belakang, ada Yoongi di belakangnya yang terdengar mengobrol serius dengan Jeongguk. Dia melirik spion, melihat Jeongguk sedang mencondongkan tubuhnya ke Yoongi—mendengarkan sesuatu yang dibicarakan Yoongi dengan serius.
Dia senang setidaknya sekarang Jeongguk sudah lebih baik, sempat cemas saat dua malam lalu Jeongguk tidak bisa tidur karena sakit di punggungnya. Taehyung benci karena dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk membuat Jeongguk merasa lebih baik. Syukurlah sakit di tubuhnya tidak tinggal di tubuh Jeongguk lama-lama.
Dia tersenyum saat melihat Jeongguk tersenyum sebelum kembali fokus ke jalan di hadapannya—dia mungkin akan berjalan di atas bara api dan beling demi melihat senyuman itu.
Dan keyakinan bahwa Jeongguk akan melakukan hal yang sama untuknya, membuatnya bergidik.
Pemandangan yang mereka dapatkan setelahnya membayar lunas semua ketegangan dalam perjalanan. Mereka meluncur di atas jalan kecil yang disemen, sejauh mata memandang, bentangan persawahan dan bukit membuat mereka mendesah senang—belum lagi angin yang sejuk membelai puncak hidung mereka.
Mereka memarkir motor mereka di tempat parkir yang terbuka, di sisinya bentangan lembah hijau membuat para perempuan mendesah—sudah kali kedua mereka kemari dan pemandangannya tetap membuat mereka terpesona.
“Kali ini, semua murbei itu milikku!” Kata Jeongguk kemudian, menyulut pertarungan sejak awal.
“Coba katakan itu pada pinggangmu yang encok,” balas Momo, menyeka rambutnya congkak lalu melakukan gerakan peregangan agresif. “Ingat ini tidak, Gguk? Menyenangkan sekali!” Katanya mengejek.
Jeongguk menghampirinya, hendak menyentil kepalanya namun Momo berkelit dengan suara tawa ceria dan berlari menjauhinya—tahu Jeongguk belum bisa berlari mengejarnya.
Mereka kemudian berjalan beriringan, para perempuan bergandengan tangan dan mengayun-ayunkannya ceria sementara sinar matahari redup dan sejuknya angin membelai mereka semua. Dahyun membayar tiket masuk mereka sebelum beranjak ke tempat pemasangan alat-alat pengaman untuk bermain flying fox.
“Aku tidak yakin kita akan dapat gratis,” kata Yoongi pada Taehyung yang berdiri di sisinya.
“Aku juga tidak.” Sahut Jeongguk kemudian, mengusap kukunya sementara Yugyeom dan para perempuan mendekat ke penjaga dan mengatakan sesuatu. “Tapi biarkan saja mereka mencoa.”
Jeongguk belum selesai bicara saat Dahyun kembali menghampiri mereka dengan wajah sedikit jengkel, “Mereka memberikan kita diskon jadi hanya seratus ribu per dua orang.”
“Apa kubilang.” Yoongi mendengus, “Bahkan menurutku sebaiknya kita membayar saja untuk membantu kontribusi ke desa lebih lagi. Memangnya per orang normalnya berapa?”
“Seratus ribu.” Sahut Dahyun, mendesah panjang.
“Tidak terlalu mahal kok,” Yoongi mendengus, dia merogoh saku belakang celananya. “Berapa orang yang akan naik? Pakai uangku saja.” Dia menarik lima lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya pada Dahyun yang terkesirap.
“Wow.” Komentar Jeongguk kalem, “That's escalated quickly.”
Taehyung berdeham, “Sugar daddy?”
Yoongi memutar bola matanya, “Itu dari Seokjin.” Katanya saat Dahyun melangkah ceria kembali ke teman-temannya. “Katanya gunakan untuk beli sesuatu yang enak, makan dengan sehat.”
Jeongguk berdeham dan Taehyung terkekeh, “Jadi, apakah aku harus diam tentang sumber uang itu?”
Yoongi menyimpan kembali dompetnya. “Ya, atau kutonjok rontok gigimu.” Katanya namun Taehyung masih bisa melihat wajahnya merona tipis.
Kemudian, para perempuan (bahkan Dahyun) bersorak mereka akan mencoba flying fox itu. Mereka butuh satu orang lagi untuk menggenapi uang yang diberikan Yoongi. Jeongguk jelas tidak mau karena tubuhnya masih lumayan nyeri dan Yoongi terlalu malas—keduanya duduk di salah satu balai, minum minuman isotonik dan mengernyit terganggu seperti dua ekor kucing yang ekornya dimainkan.
Maka Taehyung yang mengambil satu jatah terakhir.
Jeongguk duduk di balai tempat mereka mengenakan alat keselamatan, minum Pocari Sweat dengan kalem sementara Taehyung dipasangkan alat pengaman. Sebelum menaiki wahana, mereka diminta untuk menimbang badan mereka disesuaikan dengan batas minimal dan maksimal berat badan menaiki wahana. Kemudian, mereka dipasangkan alat pengaman dan helm.
Taehyung nampak seperti pinguin saat mengenakan semua pengaman yang membelit tubuhnya. Dia berdiri di depan Jeongguk dengan helm kuning menggemaskan dan melepaskan jam tangannya.
“Kau kelihatan luar biasa mengenakan tali-temali begini.” Komentar Jeongguk kalem dengan suara rendah, dia mengulurkan tangan dan membenahi tali pengaman di bahu Taehyung.
“Jangan mulai memikirkan apa pun yang sedang kaupikirkan.” Tukas Taehyung mendelik dan Jeongguk terkekeh geli.
“Aku bahkan tidak memikirkan apa pun selain betapa kau nampak seperti seekor pinguin.” Dia tersenyum lebar, hingga pangkal hidungnya mengerut dan Taehyung mau tidak mau balas tersenyum. “Kau tidak takut ketinggian?”*
“Tidak.” Taehyung menggeleng. “Kau?”
Jeongguk mengedikkan sebelah bahunya, “Tidak juga. Hanya karena tubuhku masih sakit saja.” Tambahnya lalu bergidik saat menyaksikan Dahyun menaiki undakan ke tempat di mana dia akan dipasangkan tali pengaman untuk wahana. “Apakah Dahyun akan baik-baik saja?”
“Kakinya sehat, kok.” Taehyung mengangguk, ikut menoleh ke Dahyun yang tersenyum lebar—bersemangat. Lukanya sekarang hanya tinggal bekas luka merah jambu yang sehat, sudah tidak geli saat disentuh maka dia memutuskan dia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya.
Dahyun kemudian meluncur, berteriak keras dan terbahak-bahak saat tubuhnya berayun di atas tali flying fox. Butuh waktu yang lumayan lama hingga Dahyun mendarat di bukit seberang karena jalurnya yang begitu panjang. Kemudian mereka diantar kembali oleh warga dengan motor dan Yugyeom nampak sangat puas setelah gilirannya—rambutnya mencuat-cuat berantakan seperti burung kakak tua dan wajahnya merah padam, dia tersenyum lebar sekali.
Bayi Kelompok 10 nampak senang.
“Bagaimana, eh?” Tanya Jeongguk saat Yugyeom dibantu melepas pengamannya oleh salah satu staf.
Dia terengah saat menjawab, “Keren!” Katanya, menyusap rambutnya dari keningnya. “Panjang sekali hingga aku kemudian berhenti berteriak, kehabisan adrenalin namun jalurnya masih lumayan. Tapi tidak menghilangkan serunya!” Dia nyengir dan Jeongguk tidak bisa tidak mengulurkan tangan dan menepuk bahunya sayang.
“Pemandangannya luar biasa!” Dia terus berceloteh di sisi Jeongguk yang menyerahkan botol minumannya yang langsung diteguknya habis.
Taehyung yang meluncur terakhir juga nampak sama senangnya—dia nyaris bersinar oleh rasa bahagia yang terpancar di wajahnya. Dia berlari kecil menaiki undakan ke arah tempat duduk Jeongguk lalu mengaduh saat kakinya nyeri.
“Hati-hati, nanti jatuh.” Desah Jeongguk saat dia mulai membuka helmnya, nampak sama bahagianya dengan Yugyeom. Matanya berkilau, wajahnya merah padam dan rambutnya berhamburan.
“WOW!” Katanya tertawa serak dan Yugyeom membalas high-five-nya. “Itu tadi luar biasa!” Dia terengah, tersenyum lebar seraya menyeka rambutnya hingga keningnya terpapar dan Jeongguk menatapnya—mengapresiasi keindahan ragawinya saat dia tertawa dengan Yugyeom.
“Kau menyesal tidak naik?” Tanya Yoongi di sisinya, menguap.
Jeongguk menggeleng, “Melihat Taehyung senang sudah cukup untukku.” Katanya, tidak mengalihkan pandangannya dari Taehyung yang tertawa
“Oh, remaja yang dimabuk asmara.” Yoongi terkekeh, kembali menunduk ke ponselnya.
Jeongguk tertawa, mendesah dan menyeka rambutnya. “Kau juga.”
Yoongi mengedikkan bahunya, “Tidak bisa mengelak.”
Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan kerja sama mereka selama menjadi satu kelompok di pondokan, mereka memutuskan sore itu mereka harus makan di luar.
Mereka turun ke Wedi, Klaten makan bakso yang kemarin dibelikan Taehyung untuk mereka. Formasinya masih sama, Taehyung mengendarai motor Jeongguk dan pemuda itu dibonceng Yoongi. Mereka berangkat pukul setengah lima sore setelah memberikan les untuk anak-anak.
Desi sekarang membenci Jeongguk dan itu membuat Taehyung geli. Dia menolak menanyakan pekerjaan rumah bahasa Inggris-nya ke Jeongguk, dia beralih ke Tzuyu dan benar-benar menghindari Jeongguk yang malah senang karena tidak harus meladeni anak itu.
“Tidakkah kita terlalu jahat?” Tanya Dahyun setelah anak-anak membubarkan diri, mengenai Desi.
“Tidak, kurasa.” Sahut Momo kemudian dan beberapa anak mengangguk. Desi sudah lama menjadi seperti duri dalam daging bagi mereka, kebiasaan anak itu muncul di mana-mana dan mengikuti mereka nyaris seperti pengutit membuat anak-anak risih.
Dia masih belia, masih ada banyak hal yang bisa dilakukannya namun dia memilih untuk bersikap menakutkan pada mereka. Dia sering duduk di dekat Yoongi yang benar-benar mulai takut padanya.
“Mungkin dia hanya kesepian?” Tambah Yugyeom kemudian, berusaha mencari alasan yang masuk akal mengenai tingkah Desi.
Karena sikapnya yang gemar mengutit dan mengikuti mereka, anak-anak terbiasa mengabaikannya dan berusaha menghindari interaksi dengannya sama sekali. Jeongguk sejak awal sudah menggambar garis tebal tentang itu—dia tipe manusia yang mudah mengusir orang yang tidak disukainya hanya dengan bahasa tubuhnya.
Namun anak-anak lain kesulitan, mereka berusaha bersikap sopan pada anak itu memintanya berhenti namun dia tidak menangkap sinyalnya. Semua kecuali Jeongguk. Maka dialah satu-satunya anggota kelompok yang tidak “ditempeli” anak-anak yang mencoba menarik perhatian mereka dengan cara yang tidak masuk akal.
“Aku risih pada anak-anak umur mereka,” kata Jeongguk kemudian, mengedikkan bahunya kalem sementara mereka mencari posisi duduk yang nyaman. “Batita dan balita oke, tapi anak-anak usia sekolah yang serba ingin tahu dan usil membuatku kesal.”
“Apa, sih, yang tidak membuatmu kesal.” Sahut Taehyung tertawa kecil lalu mengaduh saat Jeongguk memukul pahanya keras.
“Aku lebih suka mereka mengiler di badanku daripada usil tentang hidupku.” Tambahnya kemudian, menutup diskusi tentang Desi.
Yoongi selalu bersembunyi dan menghindar tiap kali Desi datang, tidak nyaman pada bagaimana anak itu selalu berusaha mencari perhatiannya. Momo sudah mencoba meminta Yoongi untuk mengatakan saja padanya jika dia tidak nyaman tapi menurut Dahyun anak seusia Desi belum paham hal-hal semacam itu sehingga menghindarinya dianggap sebagai cara yang paling benar—kasar, tapi efektif.
Mereka kemudian memesan makanan, para perempuan memesan bakso dan para lelaki memesan mie ayam bakso yang akan memuaskan selera makan kelas kuli bangunan mereka. Jeongguk dan Taehyung sepakat mereka butuh bakso jumbo untuk mie ayam mereka karena perut mereka seperti black hole.
“Sesekali libur memasak ternyata enak,” Dahyun menyesap es jeruknya yang dingin—senang karena mereka tidak perlu memasak malam ini.
“Sebuah apresiasi kepada tim memasak,” Yugyeom nyengir saat makanan mereka kemudian tiba.
Aroma kaldu kuah yang lezat membuat mereka semua senang setelah seharian beraktivitas. Untuk lima belas menit yang berharga, mereka semua diam—makan dengan khidmat sembari menonton acara televisi yang tidak pernah bagus namun setidaknya ada kegiatan yang bisa mereka lakukan seraya memindahkan isi mangkuk ke mulut mereka.
Jeongguk, Taehyung dan Yugyeom duduk di meja terpisah karena tidak cukup. Ketiganya makan dengan tenang seperti tiga balita yang diberi mainan kesukaan mereka.
Mungkin bukan bakso terenak yang pernah mereka makan, namun setelah beberapa hari makan tempe-tahu setiap hari membuat mereka merasa daging adalah kemewahan yang harus diapresiasi.
“Untuk perpisahan,” kata Yugyeom kemudian setelah mereka semua selesai makan, menunggu Jeongguk yang masih menggerogoti tulang ceker ayamnya—dia selalu melakukan itu, menggerogoti tulang ayam.
“Kita akan membeli ayam saja, ya?” Katanya, “Aku sudah bicara dengan Mbak Dahyun, dan uangnya masih cukup karena ada penghematan makan kita selama KKN.”
“Makan tempe-tahu nyaris setiap hari ada gunanya juga ternyata,” sahut Yoongi setengah menyindir karena dia salah satu yang sangat bosan dengan makanan itu dan Jeongguk terkekeh.
“Kita akan mengundang anggota Karang Taruna dan makan bersama,” Yugyeom menambahkan, mengabaikan Yoongi yang melempar kepalanya dengan sedotan bekasnya yang digigiti sejak tadi. “Memanggang ayamnya bersama lalu makan bersama.”
“Kedengaran sederhana dan oke untukku.” Taehyung menandaskan makanannya lalu mendesah kekenyangan, menepuk perutnya yang membuncit karena terisi makanan.
Dia melirik isi mangkuk Jeongguk, menyadari isinya sudah habis namun pemuda itu masih mengemut tulang ayamnya seraya mendengarkan kata-kata Yugyeom. Dia mengernyit, menepis tangan Jeongguk.
“Jorok!” Katanya.
Jeongguk nyengir, namun tak ayal meletakkan tulang itu kemudian mencuci tangannya. “Nanti aku bicara dengan ketuanya tentang acara kita.” Katanya seraya membasuh tangannya di wastafel, beberapa meter dari mereka.
“Kita akan lakukan tiga hari sebelum penarikan?” Tanya Yugyeom kemudian.
“Setuju.” Yoongi mengangguk. “Satu hari sebelum penarikan, kita akan berpamitan dengan para ketua RT, 'kan? Memberikan mereka sembako mungkin sebagai tanda terima kasih telah menerima kita?”
Dahyun setuju, “Beras, gula, dan kopi cukup kurasa. Uangnya cukup karena kita,” dia memicingkan mata pada Yoongi. “Makan tempe-tahu setiap hari.”
Yoongi mengangkat tangannya sebatas dada, telapak tangan menghadap ke depan—pose menyerah. “Aku bilang ada untungnya juga kita makan tempe-tahu setiap hari. Tanpa ada keinginan untuk menyerang. Simpan kembali cakarmu.”
Mereka pulang setelah Taehyung mentraktir mereka martabak manis dan asin untuk dimakan di rumah. Membelikan juga sekotak untuk Bapak dan Ibu. Mereka pulang selepas Maghrib, membiarkan Momo berkendara di tengah-tengah dengan Yugyeom di depan dan Taehyung di belakangnya. Yoongi berkendara paling belakang, memastikan Momo dan Taehyung tidak tertinggal.
Taehyung menatap langit di hadapan mereka yang mulai menggelap, menelan semua bintang mungil yang berkelip sejak tadi dan cemas. Dia mengklakson teman-temannya lalu memberi tanda untuk sedikit lebih cepat sebelum mereka terjebak hujan karena Yugyeom yang mengontrol kecepatan mereka.
Yugyeom membalas klaksonnya lalu menaikkan kecepatan sehingga mereka berhasil tiba persis lima menit sebelum hujan deras mengguyur Watugajah. Mereka sedang berganti baju saat Bapak keluar dengan jas hujan.
“Mau ke mana, Pak? Hujan.” Kata Taehyung yang merokok di kursi depan dengan Diwud yang terlelap di sisinya.
“Mau menjemput Irma, hujan.” Kata Bapak mengenakan helmnya dan kemudian berangkat setelah mengklakson Taehyung yang mengangguk sebagai jawaban.
Jeongguk muncul di sisinya dengan kaus tipis dan celana bokser, agak tertatih-tatih. “Bapak ke mana?” Tanyanya kemudian menggeser Diwud untuk duduk di sebelah Taehyung dan meraih kotak rokok mereka.
Dia membukanya, menyelipkan satu rokok ke bibirnya dan menyalakannya dengan pematik sebelum menghembuskan asap pertama lalu meletakkan pematik kembali di atas kotak rokok.
“Menjemput Mbak Irma,” sahut Taehyung menaikkan sebelah kakinya untuk menyangga lengannya yang memegang rokok. “Mungkin sudah terlanjur di jalan untuk pulang dan hujan.”
“Oh, iya.” Jeongguk menyugar rambutnya, mengikatnya setengah menjadi pony tail dan membiarkan sisanya tergerai di tengkuknya. “Seharusnya tadi kita menunggunya saja, ya? Pulang bersama.”
Taehyung mengedikkan bahu, “Setengah tidak setuju karena kita punya Momo dan Dahyun serta kau yang masih belum bisa membawa motor, terlalu riskan.”
Jeongguk menghembuskan asap rokoknya dari hidung, “Setuju kalau begitu.” Dia kemudian menyesap rokoknya lalu membuat cincin asap dengan ahli.
Taehyung tertawa, terdengar kaget dan kagum. “Kau bisa melakukannya??”
“Kau tidak pernah bertanya,” Jeongguk terkekeh dan cincin-cincin asap di depan wajahnya lenyap oleh angin hujan di depan mereka.
Mereka duduk di teras, ditemani hujan yang semakin deras dengan rokok dan obrolan hangat yang membuat suasana hangat. Di dalam sana, teman-temannya bermain UNO Stacko dengan berisik, saling menyalahkan dan tertawa.
“Aku dulu sangat tidak menyukai prospek KKN ini,” kata Jeongguk menghembuskan asap rokoknya. “Siapa sangka ternyata kegiatan ini, jika kau melihatnya dari sisi yang benar, bisa memberikan perspektif baru tentang hidup.”
Taehyung mengangguk setuju. “Tidak menarik juga untukku. Aku hampir saja mengambil KKN Alternatif** tapi syukurlah aku memutuskan untuk mengambil KKN Reguler karena ternyata jauh lebih menyenangkan.” Dia menyesap rokoknya.
“Aku juga tidak tertarik pada konsep cinta lokasi saat KKN, lalu coba lihat aku sekarang. Menyedihkan.” Tambahnya dan Taehyung tertawa.
“Jadi maksudnya jatuh cinta padaku itu sesuatu yang menyedihkan, ya?” Tanyanya.
“Tidak, siapa yang bilang?”
“Kau. Baru saja.”
“Bagaimana mungkin jatuh cinta pada lelaki seindah dirimu membuatku menyedihkan? Ini anugerah. Apa lagi fakta bahwa kau membalas perasaanku.” Jeongguk menepuk tangan Taehyung lembut lalu meremasnya sejenak.
“Sabar, oke?” Katanya kemudian dan Taehyung menoleh dari rokoknya.
“Setelah KKN berakhir, kita akan melakukan pendekatan dengan cara yang benar.”
Taehyung tersenyum lebar, jantungnya berdebar dan di tangannya dia juga merasakan denyut nadi Jeongguk yang menggila. Perasaan ini mutual; kegugupan ini, semua ciuman tidak langsung itu, tatapan-tatapan rahasia, bisikan setiap sebelum tidur....
Benar kata orang, “Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali jatuh cinta di masa KKN.”
Hidup selama tiga puluh hari dengan orang yang baru dikenal, berbagi atap, kamar mandi dan makanan membuat ikatan tumbuh antara keluarga dan kekasih. Dan dia senang karena di kali pertama dia bertemu Jeongguk, dia tahu dia akan jatuh cinta pada pemuda itu.
Bagaimana mungkin tidak saat Jeongguk bersikap sangat lembut, sangat menarik, sangat membuai....
“Aku senang,” katanya kemudian dan Jeongguk menoleh. “Kau jatuh cinta padaku alih-alih orang lain.”
Senyuman perlahan mekar di bibir Jeongguk saat dia mendesah, “Oh, Taehyung.” Bisiknya dan Taehyung terkekeh. “Siapa yang tidak jatuh cinta padamu?”
Taehyung tertawa serak saat bara api rokoknya mati karena habis sementara di dalam suara UNO yang runtuh terdengar disusul dengan suara tawa yang ceria teman-temannya—menyoraki Yugyeom yang kalah.
“Ayo, kita lakukan pendekatan dengan cara yang benar setelah ini.” Katanya, meletakkan tangannya di atas tangan Jeongguk yang langsung membaliknya sehingga tangan mereka saling menggenggam.
“I'll spoil you,” Taehyung tersenyum. “The way you deserve to be treated.”
Jeongguk membalas senyumannya, “Same goes to you, Darling.”
Note.
*Sebenernya aku gak naik karena aku takut ketinggian HUAHAHAHAH selain badanku masih sakit, aku juga takut naiknya sksksk takut tiba2 ambruk gitu flying fox nya HUHUHUHU tapi krna Gguk anaknya sangat berani!!!! (i mean remember bv 4? yes. hahahaha) jadi aku ganti alasannya :'DDD
**KKN Alternatif itu kalo di kampusku, kalian gak usah nginep di lokasi. Jadi kayak PP gitu dari rumah ke lokasi KKN setiap weekend; ngajar, proker biasa sama cuma dilakukan tiap weekend dan kalian PP rumah-lokasi, rumah-lokasi. Tapi tiga bulan karena kalian gak nginep. Aku mah mending reguler deh sekalian :'D Selain lebih cepet kelar, meminimalisir kenapa2 di jalan krna pulang pergi terus yakan.