Kuliah, Kerja, Nyantai / 113
ps. unedited, sorry. I'm tired x
cw // sexual tension , teasing .
Upacara penerimaan sama membosankannya dengan upacara pelepasan dan lebih singkat sehingga mereka semua bisa bergegas membubarkan diri untuk membereskan barang-barang yang sekarang semuanya di kosan Momo.
Taehyung bersyukur barang-barangnya tidak banyak; hanya kantung tidur, tas pakaian dan ember cucian. Sisanya hal-hal semacam lampu gawat-darurat dan terminal listrik bisa dimasukkan ke tas pakaiannya. Jeongguk bahkan hanya membawa tas pakaiannya sementara para perempuan punya koper raksasa, bantal-bantal empuk dan boneka.
“Kalian menyulitkan diri sendiri,” komentar Jeongguk saat mereka mulai memilah barang-barang mereka di depan kosan Momo, seperti penjual barang rumah tangga diskonan.
Taehyung terkekeh saat Jeongguk berkelit sebelum ember cucian mengenai kepalanya, dia duduk di teras kosan Momo menyaksikan anak-anak perempuan membereskan barang-barangnya dan menyadari bahwa malam ini dia akan tidur sendirian di kamarnya.
Dan fakta itu membuatnya sedih. Dia terbiasa dengan dengkuran Jeongguk, terbiasa dengan suara Momo saat pagi membuka mata dan terbiasa berebutan kamar mandi dengan teman-temannya. Sarapan Energen sebelum ke PAUD, memasak makan siang bersama....
Dia sedih membayangkan dia harus melalui semuanya sendirian lagi mulai sekarang.
Hal yang tersisa dari KKN-nya mungkin hanya Jeongguk dan dia benar-benar berharap yang mereka rasakan ini bukan hanya sekadar fling karena mereka hidup bersama selama 30 hari. Taehyung cukup egois menginginkan Jeongguk untuk dirinya sendiri.
Dia berharap, apa yang mereka genggam sekarang cukup nyata untuk bertahan setidaknya lebih lama dari sekadar keisengan cinta lokasi semata. Apa lagi mereka berkuliah di gedung kampus yang berbeda dengan jadwal kuliah yang jelas berbeda, Paingan dan Mrican terpisahkan Ring Road raksasa serta lalu lintasnya yang mengerikan. Butuh sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit untuk tiba di tempat masing-masing dengan lalu lintas lancar.
Taehyung mulai gugup tentang hubungannya dengan Jeongguk.
Dia merogoh tasnya, mengeluarkan sekotak rokok dan mulai menyulut sebatang. Berusaha mengalihkan kepalanya dari perasaan takut tidak nyaman itu. Dia menatap Jeongguk yang duduk di atas motor Yugyeom, mengawasi teman-temannya.
Elang itu bisa saja terbang, mencari lokasi baru yang jauh lebih eksotis dan menyenangkan daripada berdiam diri bersama Pohon membosankan yang terjebak di tanahnya—tidak bisa bergerak sepertinya.
Hal itu membuat Taehyung gugup, dia tidak suka. Kakinya digerakkan dengan cepat sementara dia menatap jalanan di depannya, melihat anak-anak STIKES Panti Rapih membubarkan diri.
“Tae!”
Dia menoleh, menatap langsung ke Jeongguk yang tersenyum cerah. “Kau mau makan tidak?” Tanyanya.
Taehyung mengangguk, “Makan apa?” Tanyanya.
“Warmindo depan itu saja,” sahut Dahyun, mengedikkan dagunya ke warung Indomie di depan kosan Momo. “Sekalian kita membicarakan segala hal yang berada di pondokan, mendengarkan kesaksian Momo.”
Momo mendesah, “Harus, ya?”
“Tentu saja!” Sambar Jeongguk, nyaris menggigit Momo karena gemas. “Aku yang selama ini disiksa, oke? Tentu saja aku harus tahu!”
Momo akhirnya mengalah, mereka pergi ke warmindo dan mulai memesan makanan. Duduk di satu meja panjang dan memenuhinya seraya melepas jas almamater mereka yang panas. Jeongguk dan Taehyung duduk terluar, jika merokok asapnya tidak akan memenuhi ruangan.
Momo menatap teman-temannya, nampak sedikit rikuh namun dia tahu dia tidak punya pilihan lain. “Baiklah, apa yang kalian ingin tahu?”
Jeongguk langsung mengangkat tangannya, seolah dia sedang mengikuti kelas alih-alih mengobrol dengan teman-temannya. “Kenapa aku selalu terbangun pukul dua pagi untuk buang air kecil??”
Momo menatapnya, mengerjap sebelum mengedikkan bahu. “Aku tidak tahu, sungguh. Selama berada di pondokan, aku berusaha tidak bersinggungan dengan mereka. Maksudku,” dia menelan ludah. “Bayangkan saja kau bisa melihat hal-hal yang sungguh tidak ingin kaulihat sama sekali.”
Taehyung menatapnya, memikirkan bagaimana Momo mandi setiap hari menyadari ada sesuatu di sudut ruangan kamar mandi yang mungkin saja mengamatinya. Tidakkah dia risih?
“Mungkin mereka hanya mengisengmu karena kau begajulan,” sahut Dahyun saat pesanannya datang, nasi goreng Magelangan yang beraroma tajam penguat rasa.
“Mungkin si...” Momo sejenak kebingungan, dia menelan ludah—enggan menyebutkannya. “Anak kecil yang mengerjaimu.” Dia menatap Jeongguk yang mengerutkan alisnya. “Dia memang agak usil. Kau tahu, 'kan, tipe.... nya itu suka usil?”
“Ohh!” Seru Jeongguk, “Maksudmu dia itu tu—!”
“Stop! Jangan sebut!” Sambar Momo dan Jeongguk langsung mengatupkan rahangnya keras-keras. “Jangan sebut namanya, jangan! Aku tidak mau... didatangi.”
Yugyeom mengerut di kursinya, berhenti menyuap mie dok-doknya yang panas. “Di... datangi?” Ulangnya, praktis mencicit, seutas mie menggantung di sudut bibirnya sementara semua teman-temannya berhenti makan—kini mencondongkan tubuh mereka ke Momo.
Wajah Momo mulai merah padam. “Aku tidak suka menyebut nama mereka, membuat mereka hadir.” Dia menggaruk tengkuknya.
“Maafkan aku.” Gumam Jeongguk, berhenti makan nasi telurnya yang beraroma semerbak. Dia menyesap rokoknya terakhir kali sebelum mematikan baranya dan membuang puntungnya di asbak.
Momo menggeleng, kini nampak lebih tenang. “Tidak apa-apa.” Dia kemudian melanjutkan perlahan. “Mungkin dia yang membuatmu bangun dan menggodamu, aku tidak tahu maksudnya apa. Selebihnya, semua tidak ada masalah dengan kita. Jika ada, mereka pasti segera menunjukkannya pada kita.”
Dia kemudian menatap semuanya, “Tidak ada yang diganggu selain Jeongguk, ya?” Tanyanya.
Semua menggeleng dan Jeongguk menggertakkan rahangnya. Taehyung sendiri pun tidak, walaupun dia tidur di ruang tengah bersama Jeongguk dia tidak pernah mengalami hal-hal yang dialami Jeongguk sama sekali. Dia tidur nyenyak. Mungkin sedikit saat dia di kamar mandi dan merasa diamati dan sekarang merasa risih karena dia mungkin saja ditonton saat mandi.
Dia bergidik, berusaha mendorong pemikiran itu menjauh dari kepalanya. Dia meraih sendoknya, mulai menyuap nasi telurnya—menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak memikirkan yang lain-lain.
“Hanya aku, ya?” Tanya Jeongguk, tidak habis pikir. “Apakah karena aku berisik?”
Momo mengedikkan bahu, “Kau tidak berisik kok. Maksudku, mereka tidak marah pada berisikmu?”
Jeongguk menggaruk pelipisnya, nampak gelisah. “Aku sudah... entahlah, tiga kali diganggu?” Dia menatap makanannya, memelototi telurnya hingga Taehyung takut benda itu meletup menjadi anak ayam. “Satu dengan bangun setiap pukul dua pagi itu, dua dengan tamu misterius di tengah hujan dan tiga dengan suara Ibu.”
“Tunggu!” Sela Dahyun, nyaris tersedak makanannya. “Tamu??”
Jeongguk mengangguk, kemudian menceritakan pengalamannya mendengarkan langkah kaki dan suara motor. “Ibu bilang tidak ada tamu.” Jeongguk nampak kebingungan sendiri menghadapi masalahnya. “Jadi, kurasa mereka hanya menggodaku.”
Momo mengangguk, “Aku tidak tahu kenapa mereka memilihmu. Tapi untunglah kau anaknya tidak mudah takut.”
Jeongguk bergidik, “Percayalah! Aku ini penakut! Tapi entah kenapa saat terjadi, aku sama sekali tidak merasakan apa pun. Tidak merasa takut sama sekali, tenang dan tidak memikirkan hal-hal itu. Baru keesokan harinya saat aku menceritakannya pada kalian barulah aku menyadari bahwa aku takut.”
“Mengingat posisi tidurmu yang dekat dengan salah satu dari mereka, mungkin ada benarnya kau tidak takut. Mungkin mereka hanya ingin membuatmu nyaman?” Yoongi menghabiskan kuning telurnya, bagian terlezat yang dimakannya terakhir sebagai pamungkas.
Jeongguk menatapnya, alisnya berkerut—nampaknya tidak bisa menerima penjelasan bahwa mereka sedang berusaha membuat Jeongguk nyaman dengan menganggunya seperti itu.
“Tapi, Mbak,” tanya Yugyeom saat menyingkirkan mangkuk mie rebus telurnya yang sudah kosong. Dia meraih gelas minumannya dan meneguk isinya. “Memangnya melihat... hal-hal semacam itu tidak mengganggu?”
Momo menyuap mie instannya, mengunyahnya perlahan sebelum mengangguk. “Tentu saja mengganggu. Aku sering melihat mereka mondar-mandir di jalanan, membuatku tidak berani mengendarai motor karena selain menghindari orang lain di jalanan, aku juga melihat mereka—tidak fokus.”
Yugyeom berhenti, sedotan di bibirnya. “Kau melihat mereka? Maksudku, begitu saja tanpa berusaha?” Tanyanya kemudian. “Dan kau tidak... risih??”
Momo mengedikkan bahu, “Awalnya risih namun sekarang aku sudah terbiasa untuk mengabaikan mereka.” Dia menggulung mie dengan garpunya. “Kalian tahu, 'kan, mereka biasanya hanya berusaha untuk menarik perhatian manusia karena mereka butuh bantuan?”
“Bantuan... semacam?” Tanya Tzuyu yang sejak tadi mendengarkan dengan khidmat.
“Entahlah.” Momo menyuap makanannya. “Biasanya karena terlalu sakit atau terlalu panas. Ingin kita menyelamatkan mereka, ingin kita membantu memperingan rasanya.”
“Sialan.” Yugyeom bergidik. “Aku malam ini akan tidur dengan kakakku saja.”
“Apakah kau juga mendengar suara?” Tanya Yoongi kemudian, kali ini serius dan anak-anak kembali diam—mendengarkan dengan saksama apa yang akan dikatakan Momo.
“Jika aku benar-benar memfokuskan diri, aku bisa mendengar mereka. Merintih dan sebagainya, tapi aku sudah terbiasa mengabaikan mereka. Melelahkan sekali saat kau harus fokus pada dua percakapan, 'kan?” Sahutnya, menyendok makanannya dan menyuapnya.
“Malam hari? Saat kau sendirian?” Tanya Dahyun, menyedot Milo dinginnya yang kental.
Momo menggeleng, “Aku berusaha mengabaikannya dan bisa. Aku biasanya mendengarkan musik sebelum tidur, menyetelnya mati setelah dua jam atau apa sehingga aku terlelap dengan suara musik itu.” Dia menandaskan makanannya lalu mendorong mangkuknya menjauh. “Lebih mudah begitu.”
Teman-temannya diam. Taehyung tidak membayangkan seperti apa rasanya menjadi Momo—tidak pernah mendapatkan ketenangan dan keheningan. Walaupun dia berusaha untuk mengabaikannya, pasti tetap saja ada satu-dua suara yang lolos. Momo benar-benar luar biasa, mungkin itulah mengapa dia jarang sekali bersuara jika tidak ada yang mengajaknya bicara duluan atau Jeongguk yang mengganggunya.
Mungkin... dia malah sedang mendengarkan obrolan yang lain alih-alih obrolan teman-temannya.
Memikirkannya membuat Taehyung bergidik. Momo harus selalu diajak mengobrol, agar dia tidak mendengarkan obrolan lain dan tenggelam di dalamnya.
“Berarti kau sekarang tahu,” kata Yoongi kemudian saat mereka membayar makanan mereka. “Yang mengganggumu adalah si anak kecil itu.” Katanya, memilih dengan tepat kata yang digunakannya sehingga Momo tersenyum kecil.
“Dia mungkin suka padamu sehingga mengganggumu terus.” Tambah Momo, mengeluarkan dompet kecilnya lalu menarik selembar uang untuk membayar makanannya. “Dia tidak mencelakaimu, 'kan? Dia hanya mengerjaimu.”
Jeongguk mengangguk. “Tapi dia memang tidak melakukan apa pun yang mengerikan. Dia hanya memintaku bangun di jam yang sama setiap hari dan sebelum atau setelahnya, tidurku nyenyak sekali.”
Taehyung setuju. “Aku juga.” Katanya menyerahkan uang pada Jeongguk yang membayar makanan mereka. “Kau selalu mendengkur paling pertama, terlelap paling dulu.”
“Jika dipikir-pikir, memang tidak ada yang tidurnya tidak nyenyak, 'kan?” Tambah Yoongi kemudian saat mereka keluar dari warmindo, bersiap-siap berpisah. “Semuanya tidur dan bangun tepat waktu, tidak ada kejadian horor yang membuat kita celaka atau apa.”
“Sikap sopan yang terbayarkan.” Dahyun setuju—sejak awal mereka menjejakkan kaki di pondokan, Momo sudah meminta mereka menjaga sikap dan mereka menurutinya begitu saja, tidak ada yang bersikap bebal dengan melawan.
Maka mereka diberikan tidur yang nyenyak. Kecuali mungkin kesialan Dahyun dan Jeongguk.
Sekarang, KKN mereka sudah berakhir secara resmi. Mereka kembali ke rumah dan kosan masing-masing, kembali sibuk dengan urusan studi mereka sendiri-sendiri. Meninggalkan kenangan 30 hari di Watugajah di belakang, sebagai sebuah foto yang akan mereka kunjungi suatu hari nanti—mengingat bagaimana semuanya begitu sederhana dan menyenangkan.
Mereka melambai, berpisah dengan Momo yang berdiri di gerbang kosannya—melambai ceria pada teman-temannya yang membubarkan diri. Jeongguk memacu motornya, kembali ke arah kosannya yang lama tidak dikunjunginya.
“Kau akan menginap malam ini tidak?” Tanyanya saat menuruni jalan pintas ke arah Priggondani.
Taehyung mengangguk. “Tentu saja.” Katanya. “Aku belum siap tidur sendirian di kosanku. Dan malah berharap kau mau menemaniku ke kosan dan membantuku membereskannya?”
Jeongguk terkekeh, “Tentu. Akan kubantu.” Sahutnya, membelok di jalan kecil yang ramai sebelum berhenti di mini market. “Kau mau cemilan?”
Taehyung ikut turun bersamanya. “Kita akan berolahraga, ya?” Godanya saat mereka melangkah ke arah pintu. Jeongguk mendorong pintu untuknya, mempersilakannya masuk sebelum mengekornya.
“Jelas kita akan olahraga,” Jeongguk meraih keranjang belanja dan Taehyung terkekeh. “Aku menahan diri bersikap sopan seperti ksatria di pondokan karena takut pada si Kakek, sekarang kita punya ruangan untuk diri kita sendiri. Menurutmu, aku akan bersikap ksatria lagi?”
Taehyung mengambil dua bungkus mie instan dan melemparnya ke keranjang di lengan Jeongguk. “Oh, aku sungguh tidak berharap kau akan bersikap ksatria.” Dia melangkah, meraih keju di rak dan melemparnya juga—mie dengan keju akan terasa lezat, asin dan enak. “Bersikaplah seperti bedebah malam ini, aku suka.”
“Bedebah is it.” Jeongguk bersiul saat memasukkan sekantung besar cemilan dan meraih botol soda satu liter. Taehyung menambahkannya dengan sekantung cemilan lain, meraih empat cemilan berukuran kecil.
“Lubrikan kita masih, 'kan?” Tanya Jeongguk saat Taehyung berjalan di belakangnya, mengekor menuju kasir.
“Masih kurasa. Mau beli lagi?” Sahutnya dan Jeongguk mengangguk. “Lebih baik daripada kita kehabisan di tengah-tengah, menyebalkan.” Dia menggerutu dan Taehyung terkekeh.
Mereka menuju kasir, Jeongguk menyempatkan diri menyambar sekotak kondom isi enam buah dalam perjalanannya. Taehyung meletakkan dompetnya di keranjang dan Jeongguk menerimanya. Dia mengantri sementara Taehyung berdiri di sudut menunggu Jeongguk.
“Lubrikan, Mas.” Katanya kalem membuat beberapa pelanggan lain yang berada di sekitarnya berjengit kaget pada betapa entengnya dia menyebutkan benda itu. Jeongguk berdiri di sana, tampan dan indah, berwajah masam seolah tidak tertarik pada kehidupan meminta sebotol lubrikan.
Kasir lelaki mempertahankan wajah datarnya saat memindai belanjaan Jeongguk, memasukkannya ke kantung plastik besar sebelum menerima pembayaran Jeongguk dan memprosesnya. Taehyung membantunya meraih kantung itu, membawanya keluar sebelum mereka kemudian meluncur ke kosan Jeongguk.
Mereka berhenti di depan, tepat saat seseorang membuka gerbangnya.
“Oh, hei, Gguk!” Sapa teman kosnya, batal menggembok pagar dan menggantungkan gemboknya di sana. “Baru pulang KKN, ya?”
Jeongguk mengangguk, “Ya.” Katanya ramah, “Biarkan saja. Aku yang menguncinya.” Dia mengedikkan dagunya pada Taehyung yang bergegas membuka gerbang dan Jeongguk memasukkan motornya.
Taehyung menerima kunci gerbang dari Jeongguk dan menguncinya sebelum kemudian mereka membawa semua barang-barang mereka naik ke kamar Jeongguk. Menyapa beberapa anak kosan yang kebetulan berpapasan dengan mereka di lorong. Jeongguk berhenti di depan pintunya, mengulurkan tangan meminta kunci kamarnya.
Taehyung menjatuhkan benda itu ke telapak tangannya yang terbuka di hadapannya dan membiarkan Jeongguk menyelipkan anak kunci di lubangnya. Memutarnya dua kali hingga terdengar suara klik-klik ganda lalu menyentakkannya terbuka.
“Wow. Baunya apak sekali.” Komentarnya saat pintu terbuka. “Silakan masuk.” Dia mendorong pintu terbuka dan menyeret tasnya masuk—merasakan debu di permukaan lantainya.
Dia kemudian menatap Taehyung. “Kita bisa saja langsung bercinta,” katanya kemudian dan Taehyung terkekeh—merasakan gairahnya sendiri sudah mulai mendidih, seperti sepanci air yang dipanaskan di atas kompor. “Tapi, maaf, Sayang. Kita harus membereskan kosanku dulu.”
Dia kemudian menggunakan kakinya untuk mendorong pintu tertutup sebelum mendekat ke Taehyung dan memeluknya. Mereka mendesah, Taehyung menggeliat di pelukannya dan menempelkan pinggul mereka—Jeongguk mengumpat kecil. Lalu mereka mendongak, menatap dalam sebelum Taehyung mengulurkan tangan dan membelai rahang Jeongguk yang langsung mendengkur karena sentuhannya.
Taehyung menutup jarak mereka dengan ciuman—ciuman yang dalam dan keras hingga Jeongguk merengek kecil. Tangannya bergerak di lengan Jeongguk, membelainya sementara tangan Jeongguk menyelip ke balik kausnya—membelai perutnya yang lembut hingga dia mengejang.
“Kataku,” Jeongguk tersengal di sela ciuman mereka. “Kita harus membereskan kamrku.”
Taehyung mengerang, meraih kepala Jeongguk dan kembali memangut bibirnya—tidak sudi ditahan lagi. “Kita bisa bercinta sekali dulu, apa sulitnya, sih?” Gerutunya lalu mencium Jeongguk yang membuka mulut untuk bicara, dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut pemuda itu lalu membelai geliginya rakus.
Dia tidak akan membiarkan Jeongguk bicara.
Dia meraih pemuda itu, menariknya ke ranjang dan mendorongnya ke atas kasur yang menghamburkan aroma apak khas kamar yang tidak mendapatkan sirkulasi udara. Jeongguk terkekeh serak, terhibur seraya menyeka rambut yang menutupi keningnya.
“Baiklah,” katanya parau sementara Taehyung berbalik ke pintu, menguncinya sebelum berbalik dan menarik kausnya terbuka hingga Jeongguk mendesah. “Oh, ya.” Gumamnya, “Kemarilah. Beri semuanya untukku.”
Taehyung menyerigai, membiarkan kausnya jatuh ke lantai dan berdiri bertelanjang dada di depan Jeongguk yang nampak sangat menikmatinya. Dia menyelipkan jarinya ke celana jinsnya, memisahkan kancingnya dan membiarkan celananya menggantung rendah di pinggulnya sebelum menumpukan satu lututnya di ranjang yang berderit dan menaungi Jeongguk yang mendesah. Dia menjulurkan lehernya, mengecupi dada Taehyung lalu menjilatnya hingga Taehyung gemetar.
“Kita bercinta sekali lalu bereskan kamarku.” Jeongguk balas menyerigai lalu menghisap dada Taehyung yang mendesis nikmat. “Oh, lihat dirimu.” Bisiknya, menggunakan kakinya untuk membelai selangkangan Taehyung.
“Kita akan membuat ini lama dan panas, Sayang.” Bisik Taehyung parau, merunduk dan mengulum telinga Jeongguk yang mengigil. “Bersiaplah.”
HUAHAHAHAH BESOK YA ANAK-ANAK UDAH MALEM MWAH!
ire, x