Kuliah, Kerja, Nyantai / 110

cw // horror .


Jeongguk tersenyum lebar pada Taehyung yang memicingkan matanya, jengkel. Dan semakin dia jengkel, semakin Jeongguk ingin menggodanya.

Mereka sekarang berada di Masjid, anak-anak sedang duduk membuat lingkaran nyaris memenuhi Masjid yang ukurannya kecil untuk berbagi makanan yang dibawakan Tzuyu seraya menulis kesan-pesan untuk semua anak KKN di kertas origami warna-warni yang dipotong menjadi dua.

Sudah seminggu mereka menghabiskan setiap pukul tujuh hingga sembilan malam untuk mengerjakan laporan KKN yang harus dikumpulkan saat penarikan. Syukurlah Tzuyu dan Dahyun yang cekatan sudah menyicil semuanya sejak awal mereka berada di lokasi sehingga mereka tidak keteteran sama sekali. Setiap penanggung jawab proker diwajibkan untuk menyerahkan laporan dan refleksi 1x24 jam setelah proker selesai dikerjakan dan dengan disiplin itu, mereka bisa menyelesaikan laporan mereka tepat waktu.

Malam ini mereka akan menyelesaikan refleksi individu, kesimpulan, dan laporan kegiatan proker Tzuyu sebelum besok turun untuk mencetak laporan, menjilidnya, dan mempersiapkan hari terakhir mereka di pondokan.

Jeongguk mungkin akan merindukan saat-saat dia terbangun pukul dua pagi tepat untuk buang air kecil yang sama sekali tidak berubah bahkan hingga hari ini. Anak-anak kemudian menyelesaikan pekerjaan rumah mereka, makan cemilan lalu mulai keluar untuk bermain bola.

Jeongguk langsung bangkit, melepas almamaternya bersama Yugyeom yang sibuk makan Komo di tangannya. Mereka keluar dan Jeongguk, hanya untuk mengganggu Taehyung, mengenakan sandal Taehyung untuk bergabung dengan anak-anak yang bermain bola.

“Ayo, bagi kelompok!” Seru Ilham, yang paling berisik dari semua anak-anak. Dia menggenggam bola di tangannya.

Hompimpah, ayo!” Ajak Jeongguk, berjalan ke tengah mengulurkan tangannya—anak-anak bergegas menghampirinya dan meletakkan tangannya di atas tangan Jeongguk.

“Jeongguk, sandalku!”

Jeongguk menoleh, menemukan Taehyung berdecak keras di depan pintu Masjid—jengkel setengah mati dan Jeongguk ingin sekali mencium bibirnya yang terkuak sebal itu dan membuatnya diam. Dia berisik sekali jika marah. Jeongguk nyengir, menantangnya untuk marah.

“Gunakan saja sandalku!” Balas Jeongguk sebelum fokus ke anak-anak dan akhirnya mendapatkan kelompok terisi enam-enam. Jeongguk dan Yugyeom sebagai kaptennya melakukan suit untuk menentukan tim mana yang duluan menyerang.

Jeongguk kalah.

“Bajingan,” gerutunya saat menarik kausnya lepas dan melemparnya ke Taehyung yang langsung menangkapnya. Dia hanya mengenakan celana jins dengan bagian pinggang menggantung rendah di pinggulnya, membuat karet celana boksernya mengintip.

Taehyung menahan napas. Tubuh Jeongguk tidak pernah tidak nampak indah. Mungkin besok jika mereka bercinta, Taehyung harus menyalakan lampu—membuat ruangan mereka terang benderang sehingga dia bisa melihat setiap otot Jeongguk dengan sempurna.

Tato serigala di ulu hatinya tidak akan pernah membuat Taehyung terbiasa—matanya yang gelap tanpa bola mata selalu bisa seolah memandang langsung ke jiwanya.

“Ayo, oper!” Seru Jeongguk kemudian, sudah siap di tengah jalan untuk bertanding melawan grup Yugyeom sementara teman-temannya duduk di sisi jalan, menonton sambil makan cemilan.

Tidak ada yang benar-benar memerhatikan jalannya pertandingan karena mereka melakukannya hanya untuk bersenang-senang. Tidak peduli siapa yang mencetak angka lebih banyak atau apa karena tiap kali permainan mulai panas dan seru, motor selalu lewat dan mereka terpaksa menyingkir—memberi jalan bagi motor untuk lewat dan mengulang permainan mereka.

Satu waktu, mereka bertanding dengan sengit—tidak ada motor yang lewat hingga mereka bisa mempertahankan aura kompetitif yang mulai naik di antara kedua tim. Jeongguk berusaha mengejar Yugyeom yang menggiring bola ke gawang tim. Dia menendang bola terlalu keras hingga benda itu bergulir terlalu dekat dengan jalan turunan ke arah Masjid yang lumayan licin oleh lumut.

Kaki kirinya diayunkan, hendak menangkap bola sebelum menggelinding jatuh keluar arena dan menyelesaikan permainan mereka, namun lupa mempertimbangkan kaki kanannya yang tidak menjejak dengan baik.

Momo hanya sempat berseru, “Awas!” dengan mulut penuh cemilan saat Yugyeom terpeleset di atas lumut yang subur dan mendarat di pantatnya dengan keras sebelum merosot beberapa meter ke bawah.

Jeongguk dan semua orang sejenak diam sebelum kemudian terbahak-bahak. Jeongguk tersengal saat dia bergegas menghampiri Yugyeom yang meringis di tempatnya, dia menyelipkan lengannya ke bawah kedua ketiak Yugyeom dan menariknya berdiri.

Taehyung juga menghampirinya, mengalungkan kaus Jeongguk di lehernya dan terkekeh namun meringis karena itu pasti sakit. “Kau oke?” Tanyanya. “Tulang ekormu baik-baik saja?”

Anak-anak berhenti bermain, semua bergegas menghampiri Yugyeom yang meringis dibantu Jeongguk untuk minggir seraya mengusap pantatnya yang menghantam tanah begitu keras hingga momentum itu membuat tubhnya memantul sepersekian detik.

“Tidak apa-apa!” Serunya kemudian membuat Jeongguk terkesiap karena suaranya, “Aku tidak apa-apa!” Dia kemudian meraih bola lagi dan mulai bermain.

Jeongguk menatapnya, mengerjap sebelum menoleh ke Taehyung yang sekarang mengenakan kaus Jeongguk di kepalanya. “Kurasa alih-alih sakit,” kata Taehyung terkekeh. “Malunya jauh lebih besar.”

Jeongguk meringis, “Benar.” Katanya lalu menatap Taehyung yang mengangkat kedua alisnya seolah bertanya, kenapa? dan Jeongguk menggeleng. “Kau indah sekali.” Katanya sebelum bergegas berlari menghampiri kelompoknya untuk kembali bermain.

Dua malam lagi, Jeongguk, pikirnya saat dia melirik Taehyung yang duduk di pinggir jalan, mengunyah siomai yang dibelinya dari penjaja yang mampir ke Masjid karena melihat anak-anak.

Nampak nyaris seindah dewa Yunani kuno dalam balutan celana jins, jas almamater jelek dan kaus Jeongguk di kepalanya, digunakan seperti topi dengan ujung menggantung ke bahunya sementara dia meniup-niup siomai di tusukannya sebelum dimakan.

Dua malam lagi, dan kalian akan melakukannya sebagaimana seharusnya.


Jeongguk mendesah keras saat dia terbangun jam dua pagi hari itu, hari terakhir mereka di pondokan.

Setelah sore tadi menghabiskan waktu berfoto-foto pada anak-anak, perpisahan yang sangat mengharukan antara Desi dan cinta pertamanya yang nampak sangat risih padanya (Jeongguk tidak bisa simpati sama sekali pada gadis kecil yang mengutit cinta pertamanya seperti seorang yang terobsesi), dan permainan sepak bola yang dimenangkan Jeongguk.

Mereka pulang, makan tempe bacem dan oseng daun pepaya buatan Ibu karena itu malam terakhir mereka sehingga Ibu memasakkan mereka lauk. Menyelesaikan laporan mereka sebelum Yugyeom, Jeongguk dan Taehyung bermain UNO Stacko satu ronde sebelum mereka semua beranjak tidur.

Dan di sinilah Jeongguk, kebelet buang air besar.

Dia bangkit dari kasur, mendesah keras lalu menoleh pada Taehyung yang terlelap dengan bibir terkuak. Dia mengulurkan tangan, menjauhkan kacamata Taehyung dari tangannya agar tidak kenapa-kenapa saat Taehyung tidak sadar.

Kemudian Jeongguk menyingkirkan kantung tidurnya, bangkit dan mengenakan sandalnya untuk beranjak ke kamar mandi. Di luar hening, hanya ada suara jangkrik dan gemerisik dedaunan. Jeongguk berhenti di pintu belakang, membuka selot kayunya yang berat lalu melangkah keluar.

Bergidik kedinginan karena dia hanya mengenakan kaus tipis dan bokser. Dia mengikat rambutnya, beranjak ke kamar mandi membawa ponsel di sakunya walaupun tidak banyak yang bisa dilakukannya dengan benda itu tanpa sinyal. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi, nyaris seperti kebiasaan.

Dia menatap ke kegelapan, di mana tanah rumah Bapak berakhir ke jurang dan beberapa meter di sudut kandang ternak. Tidak ada apa pun. Daun bambu gemerisik ditiup angin malam dan Jeongguk mengerjap—memutuskan untuk mengabaikannya dan masuk ke kamar mandi.

Dia nongkrong di atas kakus kamar mandi dan menguap lebar, mengeluarkan ponselnya untuk bermain permainan di sana seraya membunuh waktu. Suasana malam sangat hening dan dia sudah terbiasa desa menjadi sangat hening bahkan pukul sembilan malam karena rumah terdekat berjarak nyaris satu kilometer jauhnya dari satu sama lain.

Sesekali, desau angin melewati langkan atap kamar mandi yang tidak memiliki langit-langit terdengar. Jeongguk kembali menguap, sangat dongkol karena dia mengantuk namun usus besarnya sungguh tidak tahu diri. Satu-satunya suara yang terdengar adalah suara kecil dari ponselnya, musik gembira Candy Crush Jelly Saga yang dimainkannya.

Terdengar suara seseorang di pintu ke arah pondokan dan Jeongguk mendongak dari ponselnya, mendengarkan. Dia melongok, melirik pintu kamar mandi yang sudah diselotnya sehingga tidak ada yang akan membukanya.

Dia menunggu seraya mempertimbangkan haruskah dia mengumumkan keberadaannya di sini atau tidak saat seseorang itu bersuara. Suaranya persis di depan tembok yang berada di hadapan Jeongguk, berarti di depan pintu masuk ke pondokan.

“Mbak? Mas?”

Oh. Itu Ibu.

Jeongguk tersenyum. “Saya, Bu!” Serunya menggema dari dalam, agak geli dan malu karena dia sedang buang air besar. “Ibu mau pakai kamar mandi? Saya sebentar lagi selesai, Bu.”

Hening.

Jeongguk mengerutkan alisnya, “Ibu?” Serunya sekali lagi, menunggu sepersekian detik sebelum mengedikkan bahunya dan kembali menunduk ke ponselnya—mungkin Ibu sudah masuk kembali ke dalam rumah.

Dia kemudian menyelesaikan urusan kakusnya sepuluh menit kemudian. Menyiramnya dengan baik sebelum melangkah keluar dari kamar mandi dengan kaki basah. Dia membuka kamar mandi dan menoleh ke pintu masuk pondokan.

Dia yakin sekali dia meninggalkan pintu tertutup rapat karena Ibu tidak terlalu suka Diwud masuk ke dalam rumah malam hari. Dan sekarang pintu itu terbuka setengah, kegelapan mengintip dari dalam sana. Alisnya berkerut—apakah angin yang membukanya?

Jeongguk kemudian teringat suara Ibu yang memanggil tadi dan berpikir mungkin itu Ibu yang lupa menutup rapat pintunya. Maka dia tidak ambil pusing, dia beranjak masuk dan kembali menyelot pintunya dan melangkah memutari dapur hingga tiba di tempat tidurnya dengan Taehyung yang masih terlelap seperti tadi saat dia meninggalkannya.

Jeongguk meletakkan ponselnya lalu menyelipkan dirinya kembali ke dalam kantung tidur. Dia menghela napas lalu memejamkan matanya, langsung terlelap lima detik kemudian karena matanya pedas menahan kantuk.

Tidak memikirkan lagi Ibu yang memanggilnya tadi atau pintu yang terbuka.


”...Hah?”

Momo menatapnya dengan segelas Energen di tangannya. Pagi itu mereka tidak memiliki kegiatan apa-apa sehingga mereka bebas bermalas-malasan sementara Tzuyu dan Dahyun menyelesaikan laporan KKN mereka di atas tikar dengan laptop Yoongi.

“Ibu semalam tidak di pondokan, menginap dengan Bapak di Klaten.” Ulang Momo seolah memberi tahu Jeongguk bahwa cicak berkembang biak secara bertelur, bukan melahirkan. “Kau tanya saja Mbak Irma.”

Jeongguk mengerutkan alisnya, hatinya mencelos karena dia bersumpah semalam dia mendengar suara Ibu memanggilnya di kamar mandi. Dan hanya untuk memperkeruh suasana, motor Bapak terdengar dari kejauhan dan Ibu memasuki rumah dengan jilbab dan pakaian tertutup rapi.

“Nah, ini Ibu.” Kata Momo.

Ibu menoleh, tersenyum. “Kenapa, Mbak?” Tanyanya lalu meletakkan besek di meja. “Ini ada ayam ingkung, dimakan bareng, ya.” Kata Ibu kemudian melepaskan jaketnya.

“Ibu dari mana?” Tanya Jeongguk dengan mulutnya yang terasa penuh pasir dan jantungnya berdebar.

Ibu menatapnya sejenak, “Ibu semalam ke Klaten dengan Bapak. Ini baru pulang.” Katanya kemudian beranjak ke belakang untuk berganti baju. “Ayamnya digoreng saja, ya, Mbak. Dihangatkan dulu.” Tambahnya seraya melangkah masuk.

Jeongguk terenyak di kursinya, menatap nanar ke langit-langit rumah. Merasa mual karena dia yakin sekali yang semalam mengajaknya bicara adalah Ibu. Dan separuh hatinya bersyukur bahwa Ibu atau siapa pun itu yang semalam mengajaknya bicara tidak menjawabnya saat dia menawarkan untuk segera selesai.

Taehyung datang dengan rambut basah dan handuk di lehernya, baru selesai mandi dan menatap Jeongguk yang duduk terbengong di kursinya dengan Momo yang menatapnya cemas. Taehyung melangkah melewati mereka ke pintu samping untuk menjemur handuknya.

“Kenapa dia?” Tanyanya sekalian menjemur pakaian dalam yang dicucinya.

Momo menatapnya, melirik Jeongguk yang masih bengong sebelum bicara. “Katanya semalam saat dia buang air besar, ada seseorang yang memanggilnya di kamar mandi. Suaranya seperti Ibu padahal Ibu dan Bapak berangkat ke Klaten selepas Maghrib.”

“Dan pintunya terbuka!” Tambah Jeongguk, wajahnya memucat—jantungnya berdebar karena beberap kemungkinan yang terbit di kepalanya tentang siapa yang diajaknya bicara semalam.

“Tapi kau tidak apa-apa?” Tanya Taehyung, duduk di kursi sebelah Jeongguk yang menarik kedua kakinya terlipat di dadanya. “Memangnya apa katanya?”

Jeongguk mengerjap, “Dia hanya memanggil 'Mbak? Mas?' lalu saat aku menjawab, dia tidak menjawabku lagi dan kupikir Ibu batal menggunakan kamar mandi. Saat aku keluar, pintu belakang terbuka sedikit padahal aku bersumpah aku menutupnya rapat karena tidak ingin Diwud masuk.”

Taehyung berhenti dan menatap Momo yang juga berhenti sarapan. Tidak yakin bagaimana harus menanggapi Jeongguk dan ceritanya. Sejak awal terbangun setiap pukul dua pagi sudah sangat mengundang tapi tidak ada yang terjadi pada Jeongguk—dia kalem saja, “Aman, kok.” begitu katanya setiap di tanya.

Dan memang di pondokan, Jeongguk yang paling sering bersinggungan dengan mereka namun juga tidak mendapatkan kontak langsung yang berarti seperti Namjoon tempo waktu. Dan diajak bicara kemarin mungkin adalah satu-satunya kontak langsung yang terjadi setelah sekian lama di pondokan. Momo masih menolak untuk membicarakan apa pun sejauh ini dan mereka menerimanya.

Taehyung menepuk pahanya, “Tidak apa-apa. Dia tidak melakukan apa pun padamu. Mungkin hanya ingin menyapamu.” Katanya lembut, hatinya merasa teriris saat melihat raut wajah Jeongguk yang kebingungan.

Yugyeom yang mendengarkan seraya berguling di atas tumpukan kasur tempat tidur Taehyung mengangguk, “Tidak apa-apa.” Katanya menghibur walaupun Taehyung tahu jelas dia juga ketakutan.

“Sudah, jangan dipikirkan.” Taehyung kemudian beranjak dan meraih besek di meja. “Ayo bantu aku menghangatkan ayam saja.”

Jeongguk mengangguk, mengekornya ke dapur di mana Taehyung meletakkan ayam di sisi kompor dan mulai meraih wajan Ibu. Menuang cukup minyak ke dalamnya dan menyalakan kompor. Dia meraih pisau, mulai menusuk-nusuk ayam, membuka dagingnya sehingga matangnya bisa merata saat digoreng.

Jeongguk berjongkok di tempat cuci piring, mencuci gelas-gelas kotor yang mereka gunakan semalam dan tadi untuk sarapan Energen saat Momo menghampiri mereka dengan seikat sawi putih dan sebungkus tahu pong.

“Kita buat sayur sawi dengan tahu saja.” Katanya meletakkan gelas di sisi Jeongguk yang langsung meraih dan mencucinya.

Taehyung mengangguk seraya memasukkan ayam ke dalam minyak yang langsung mendesis dan meletup-letup karena bumbu bacem yang berair. Momo langsung berteriak kaget dan mundur dari dekat Taehyung yang tertawa, menajuhkan tubuhnya dari wajan yang berteriak-teriak marah.

“Tidak apa-apa,” Taehyung menghibur Momo, mengulurkan tangan untuk mengecilkan apinya—menyadari dia menggoreng ayam yang berair dengan minyak terlalu panas dan api terlalu besar.

Jeongguk menoleh, menyadari letupan amarah di wajan dan Taehyung yang mengulurkan tangan ke arah bahaya. “Awas tanganmu!” Serunya, memperingatkan.

Taehyung membuka mulut untuk bicara bahwa hal itu lumrah saja karena ayam yang agak basah namun kemudian wajan memutuskan untuk meletup keras sekali dan mengirimkan minyak panas ke udara. Dia langsung menamengi Momo yang terkesiap kaget dan minyak mengenai lengan bawah serta lensa kacamatanya.

“Ya Tuhan, Tae!” Jeongguk langsung berdiri, hendak meraih spatula dari tangan Taehyung yang melambaikan tangan kalem walaupun minyak membakar lengannya—ada empat tetes di sana, salah satunya seukuran jempol tangannya.

Dia mengulurkan tangan, menepis tangan Jeongguk yang berusaha menahannya dan mengecilkan apinya. Yoongi berlari ke dapur, kaget karena teriakan Momo dan Jeongguk.

“Kalian oke?” Tanyanya kaget.

“Pertarungan melawan minyak panas.” Taehyung terkekeh saat Jeongguk bergegas meraih bawang merah dan mengiris-irisnya untuk ditempelkan ke luka bakar Taehyung.

Setelah api dikecilkan, pertarungan mereda dan Taehyung mengamati saat Jeongguk menyambar tangannya; menempelkan irisan bawang yang membuat lukanya sejuk seketika. Dia mendesah kecil dan Jeongguk mendongak.

“Puji Tuhan kau mengenakan kacamata!” Serunya, mengulurkan tangan dan melepaskan kacamata dari wajah Taehyung; di kedua lensanya ada minyak panas* dan Taehyung merasa jantungnya mencelos.

Jika saja dia tidak mengenakan kacamatanya, matanya pasti kena tadi. Jeongguk meraih tisu di meja makan dan mengelap minyak dari lensa kacamata Taehyung sementara Momo perlahan mengaduk ayam di dalam minyak panas yang mendesis—namun tidak semarah tadi.

Setelahnya, mereka melanjutkan memasak dengan tenang setelah Taehyung mengangkat ayam dari minyak dan meniriskannya di sebelah kompor, mempersilakan Momo mulai menumis bumbu untuk sayur mereka hari itu dan Jeongguk mengaduk nasi yang ditanak Tzuyu tadi sebelum mulai mengerjakan laporan KKN.

Mereka makan bersama, duduk di ruang makan yang sempit dengan Jeongguk yang masih sibuk mengecek luka di lengan bawah Taehyung. Mengganti bawangnya dan meniup-niupnya.

“Aku ada salep luka bakar di tasku, sebentar.” Dahyun bergegas ke kamarnya dan kembali dengan tube salep mungil di tangannya. Dia menyerahkannya pada Jeongguk yang langsung membantu Taehyung menggunakannya.

“Gguk.” Panggil Taehyung geli saat pemuda itu mengoleskan salep yang terasa sejuk ke lukanya yang memerah.

“Hm?” Jeongguk tidak mendongak, dia meniup-niup luka Taehyung dan ada sesuatu di caranya merapatkan bibirnya, mengerucutkannya untuk meniup lukanya yang membuat Taehyung ingin mengecupnya.

“Aku baik-baik saja.” Dia menepuk kepala Jeongguk sayang, begitu sayang dan cinta hingga dia ingin sekali memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman karena dia sangat menggemaskan ketika khawatir. “Tidak perlu panik.”

“Yah,” Yugyeom menyendok sayuran ke atas piringnya. “Namanya juga bucin.” Cemoohnya lalu mengaduh saat Jeongguk menendang pantatnya tanpa aba-aba. “Pelecehan seksual!”

“Tidak apa-apa,” Taehyung nyengir saat Jeongguk mendongak—sejenak terpana oleh senyumannya sebelum membalasnya. Dia mengulurkan tangan dan membelai pipi Jeongguk sayang sekali sebelum melepaskannya. “Dia menggemaskan kok. Sana makan.”

Jeongguk tersenyum. Tidak sabar hingga mereka pulang ke kosan dan dia bisa memeluk Taehyung sepuasnya; menciuminya, memeluknya hingga semua tulang Taehyung remuk karena cinta di dadanya begitu menyesakkan, dia nyaris merasa dadanya meledak oleh perasaan itu.

Dia kemudian menggunakan dua garpu untuk mencabik-cabik ayam yang panas agar Taehyung bisa makan dengan mudah. Taehyung terkekeh, mengamati Jeongguk berusaha mencabik tiap bagian ayam untuk dimakannya sementara semua anak mengamatinya dengan jijik.

“Silakan makan,” Jeongguk menyerahkan piring Taehyung setelah semua daging lepas dari tulangnya lalu menambahkan lembaran kulit ayam yang tidak disukainya ke sana.

“Level romantis paling tertinggi adalah ketika kau memberikan kulit ayammu pada kekasihmu.” Yugyeom mengangguk-angguk, menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak bicara lagi dan Taehyung terkekeh.

“Dia tidak suka kulit ayam.” Taehyung mulai makan dengan tangan kirinya karena luka di lengannya sekarang berdenyut mengerikan. Jeongguk memposisikan piring di atas paha Taehyung agar tidak terguling.

“Tetap saja romantis.” Dahyun setuju dan itu pertama kalinya.

Taehyung menatap Jeongguk yang sedang mengunyah tulang muda di bagian paha ayam yang dimakannya dan tersenyum. Jeongguk memang luar biasa, dia tidak akan menyangkalnya.


*Note.

Yang kena minyak panas itu aku dan beneran, aku bersyukur banget pas itu aku pake kacamata krna beneran ada sekitar 1-3 tetes minyak di lensa kacamataku :'DD