dolce pazzia
Commission by @kookoomilktae
Premis. In world where people stop aging when they reach 18. They will start aging again once they met their fated soulmate. Taehyung is platonically moving in with his best friend, Jeongguk and has given up the idea of that soulmate-thing because he's fine with what he has now only to find that years later, they both have been growing old together.
Tags: kookv soulmate au, best friend to lover, pinning, hurt & comfort, unhealthy relationship in a way, open happy ending.
Song: Play – Jax Jones feat Years&Years
Un.
“Taehyung?”
Lelaki yang dipanggil mendongak dari kesibukannya membongkar kardus-kardus terisi barang-barang mereka yang dipindahkan dari apartemen lama mereka masing-masing ke ruangan baru yang lebih luas. Taehyung tidak pernah memikirkan bahwa hidup bersama sahabatnya dengan membayar masing-masing setengah uang sewa apartemen akan terasa menyenangkan karena dia punya ruangan yang lebih lapang sekarang.
Ruangan apartemen baru mereka sekarang dibanjiri cahaya; pintu kaca tinggi digeser terbuka, membiarkan angin dan cahaya matahari memasuki ruangan yang masih berantakan, membuat debu-debu berkilauan karena terbiaskan dalam pilar-pilar cahaya matahari. Aromanya seperti cat dinding, samar-samar masih memabukkan tapi Taehyung yakin seminggu dengan pintu terbuka akan melenyapkannya.
Sahabatnya, Jeongguk sedang duduk di sudut ruangan lain dengan kardus raksasanya yang terisi buku-buku Taehyung. Dia mengangkat satu buku, melambaikannya dengan cengiran di bibirnya.
“Kenapa buku itu?” Tanya Taehyung, berhenti membongkar barangnya dan menyandarkan tubuhnya di kardus di hadapannya.
“Aku tidak tahu kau masih menyimpan buku tahunan SMA kita,” Jeongguk terkekeh, membuka lembarannya dan Taehyung bergegas bangkit, bergabung dengannya untuk melihat isinya.
Jeongguk bergeser, memberikan tempat untuk Taehyung di sisinya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk yang sama sekali tidak berjengit karena hal itu sudah biasa dilakukan Taehyung hingga dia tidak lagi menyadarinya. Mereka tertawa kecil, membolak-balik halaman dan mencoba mengingat nama-nama dari wajah kecil dalam piksel pecah di halaman itu. Berdebat tentang siapa yang mereka ingat dan siapa yang tidak.
Taehyung teringat saat dua minggu lalu Jeongguk tiba-tiba menawarinya untuk pindah tinggal bersama. Dia mengatakan dia sudah menghitung biayanya dan menyadari bahwa itu jauh lebih hemat daripada tinggal di dua apartemen berbeda dengan pengeluaran sendiri-sendiri. Taehyung akhirnya setuju saat Jeongguk memberikannya tawaran apartemen yang letaknya dekat dengan kampusnya.
Mereka juga akan menggabungkan uang hidup mereka selama sebulan untuk berdua. Dari perhitungan yang Jeongguk presentasikan—dia bersikeras menggunakan kata itu pada Taehyung yang terkekeh, seharusnya mereka bisa hidup lebih hemat dengan memfokuskan pengeluaran mereka pada makanan murah porsi besar untuk berdua.
Taehyung juga suka konsep pulang kuliah dan menemukan seseorang di apartemen untuk menyambutnya. Mengajaknya makan, mengobrol dengannya, dan menemaninya mengerjakan tugas. Dan tidak ada orang lain yang bisa melakukannya sehebat Jeon Jeongguk yang selalu tahu kapan harus membawakan Taehyung susu stroberi dan sepiring soft baked cookies tiap kali Taehyung bergumul dengan tugasnya.
Jeongguk bekerja sebagai asisten gambar seorang kreator Webtoon yang sedang naik daun. Tidak seperti Taehyung yang melanjutkan untuk kuliah, dia berpuas diri dengan uang yang didapatkannya dengan bekerja sebagai freelancer dengan kemampuan gambar digitalnya. Namun dunianya mewajibkan Jeongguk terjaga di jam-jam yang tidak lazim, dia bisa tidak tidur seharian dan melepas Taehyung berangkat kuliah sebelum tertidur hingga sore menjelang petang.
Tapi uang yang didapatkannya lumayan, bahkan lebih dari uang yang Taehyung dapatkan dari orang tuanya. Sehingga Taehyung setuju untuk pindah, jika dia kehabisan uang dia bisa selalu mengandalkan pinjaman dari Jeongguk Bank.
Apartemen mereka terdiri atas satu ruang keluarga, satu dapur, satu ruang cuci kecil di balkon dan dua kamar. Jeongguk mempersilakan Taehyung menggunakan kamar utama yang lebih luas sementara dia menggunakan kamar kedua yang lebih kecil dengan jendela yang luas—Taehyung yang hendak protes, akhirnya setuju. Dia tahu Jeongguk lebih membutuhkan jendela itu untuk bekerja.
Hidupnya tidak pernah lepas dari Jeongguk. Dia selalu berotasi di sekitar Jeongguk, tidak pernah membayangkan bagaimana hidupnya jika tidak ada Jeongguk hingga nyaris ke tahap tidak sehat. Dia juga tidak peduli ketika dia mencapai usia 18 tahun dan dia tidak menemukan soulmate-nya. Taehyung dan Jeongguk sudah memiliki satu sama lain, dengan atau tanpa soulmate, mereka akan baik-baik saja.
“Kau mau jajjangmyeon atau jjampong?” Tanya Jeongguk kemudian, hari menjelang sore dan mereka baru membereskan setengah dari barang-barang mereka. Kamar Taehyung sudah rapi dengan beberapa kardus pakaian di sudut.
Kamar Jeongguk bahkan sudah siap dihuni, dia sudah membereskan meja kerjanya—sudah memasang perangkat menggambar digitalnya di meja dan siap lembur malam ini mengejar tenggat waktu. Ruang tamu belum tersentuh, semua barang masih tumpang tindih namun mereka sudah lelah.
“Kita beli keduanya lalu makan bersama.” Taehyung nyengir dan Jeongguk terkekeh. “Aku juga ingin tangsuyuk.”
Jeongguk meraih ponselnya dan membuka apilikasi pesan-antar daring. Menekan gambar “mie” dan mulai mencari restoran yang menyediakan keduanya juga tangsuyuk. Dia memesan makanan lalu menunggu hingga pesanan dikonfirmasi restoran sebelum meletakkan ponselnya di sofa baru mereka.
Sambil menunggu pesanan, mereka membersihkan diri. Membiarkan semua barang-barang yang belum dibereskan menumpuk di ruang tamu sebelum mulai makan. Mereka akan membereskan sisanya besok karena malam ini Jeongguk punya 100 panel cerita yang harus diwarnai dan Taehyung punya esai 3,000 kata yang harus diselesaikan.
Deux.
”... ppy birthay to you, happy birthday to you...”
Jeongguk tersenyum dengan mata terpejam, menggeliat di kasurnya dan membuka sebelah matanya—sejenak mengerang karena cahaya yang terlalu terang mengiris pupilnya sebelum dia berhasil beradaptasi dengan ruangan kamarnya. Dia bangkit, setengah terduduk dengan wajah bengkak karena kurang tidur dan mata yang pedas.
Dia baru tidur pukul dua pagi dan ini pukul tujuh pagi. Jika bukan demi Taehyung yang harus berangkat kuliah, repot-repot menyiapkan kue kecil untuk ulang tahunnya hari ini dengan sebatang lilin mungil yang menancap di atasnya, Jeongguk tidak akan sudi membuka matanya.
Taehyung tersenyum lebar, indah sekali saat dia mendorong pintu kamar Jeongguk dengan bahunya karena kedua tangannya menggenggam piring terisi kue bulat mungil dengan lilin di atasnya, apinya bergoyang karena penyejuk ruangan Jeongguk sementara yang sedang berulang tahun sedang duduk di atas ranjang. Dia menguap geli, hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, selimut menumpuk di pangkuannya dan dia bisa merasakan rambutnya mencuat-cuat seperti jambul kakak tua dan mulutnya sepat.
Napasnya pasti bau sekali karena dia semalam mengerjakan panel komiknya sambil minum soda. Dan Taehyung beraroma lembut parfum dan sabun mandinya, sudah mengenakan kemeja rapi siap berangkat kuliah.
Dia duduk di ranjang, menyerahkan kuenya perlahan seraya menutupi api lilin agar tidak mati oleh penyejuk ruangan. “Happy birthday, dear Jeongguk,” dendangnya lirih, tersenyum lebar. “Happy birthday to you.”
Dia mengulurkan kue ke wajah Jeongguk, “Ayo, buat harapan dan tiup lilinnya.” Desaknya sementara Jeongguk menggaruk pelipisnya dan menyugar rambutnya—sedikit malu atas penampilannya.
“Napasku bau sekali, maaf.” Gumamnya parau dan Taehyung terkekeh.
“Tidak masalah.” Tambahnya. “Aku sudah pernah mengalami yang lebih buruk.” Dia menggoyangkan piringnya, api kecil di lilin bergoyang mengikuti gerakannya. “Ayo, cepat buat harapan. Nanti lilinnya meleleh.” Dia menutupi sisi lilin, mengangkatnya mendekat ke Jeongguk yang terkekeh parau.
Dia menatap Taehyung yang mengangguk semangat, mendesaknya. Matanya berbinar ceria, cahaya lilin yang mungil menari di bola matanya yang berkilauan dan Jeongguk merasa hatinya sesak oleh rasa kasih sayang yang dimilikinya untuk sahabatnya.
Dia memejamkan matanya, berharap dia akan selalu memiliki kebahagiaan dengan Kim Taehyung. Selalu berada di sisinya, selalu saling mendukung dan menyayangi. Dengan atau tanpa soulmate.
Jeongguk membuka matannya, membisikkan 'amin' kecil sebelum membuka mulutnya lalu menghembuskan napas ke api yang sejenak bergoyang melawan sebelum mati. Menyisakan segaris asap perak yang bergoyang lenyap oleh sapuan angin penyejuk ruangan.
“Horee!” Taehyung meletakkan kuenya di ranjang sebelum mengulurkan kedua lengannya—membenamkan dirinya pada tubuh Jeongguk yang hangat dan beraroma khas tempat tidurnya. Aroma nyaman yang membuat Taehyung mengantuk.
Jeongguk terkekeh di rambutnya, mengulurkan tangan untuk menyingkirkan kue di kasur agar tidak mengenai seprai atau selimutnya sebelum memeluk Taehyung erat—aroma tubuhnya selalu familier, nyaris tinggal di cuping hidungnya selamanya. Dia akan selalu mengenali aroma ini di mana pun dia berada.
“Trims atas kuenya,” katanya parau, masih sangat mengantuk tapi dia bisa menahannya setidaknya sampai Taehyung berangkat kuliah. “Kau tidak perlu repot-repot.”
Taehyung tertawa ceria, mengaitkan jemarinya di punggung Jeongguk yang bidang. “Tidak repot. Aku membelinya kemarin sepulang kuliah, menyelundupkannya masuk saat kau sibuk membungkuk di atas pekerjaanmu dan yakin kau tidak menyadari kehadiran kotaknya di kulkas, kusembunyikan di balik buah-buahan.”
Jeongguk memang tidak menyadarinya karena dia tidak terlalu memerhatikan isi rumah. Dia hanya ke kulkas mengambil buah dan soda, kembali ke kamarnya untuk bekerja. Kini dia menyadari kenapa Taehyung mengawasinya saat memasuki dapur, bertanya serius apa yang bisa diambilkannya untuk Jeongguk.
Dia ternyata menyembunyikan kue ulang tahun.
“Kau tidak menyadarinya.” Taehyung tertawa, senang bisa mengelabui Jeongguk yang biasanya setajam rubah tentang apa pun yang tidak sesuai di apartemen mereka. Namun karena tenggat waktu yang semakin dekat, saraf-sarafnya berubah selembek jeli.
“Baiklah, kau menang.” Dia mengusap rambut Taehyung lembut lalu menguap tertahan. “Tidakkah kau harus mengejar bus sekarang?”
Taehyung terkesiap, melirik jam tangannya dan mengumpat kecil hingga Jeongguk terkekeh. Dia bergegas bangkit, “Aku pergi kuliah dulu! Nanti malam aku yang beli makanan untuk ulang tahunmu!” Dia bergegas keluar dari kamar Jeongguk, berisik saat mengambil tas dan jaketnya.
“Happy birthday, Jeongguk!” Serunya sebelum membanting pintu apartemen menutup dan meninggalkan Jeongguk yang tersenyum lebar—mengantuk, menatap kue di atas kasur.
Hatinya hangat—hangat sekali.
Trois.
Ada yang aneh.
Taehyung menyentuh wajahnya dengan telapak tangannya, merasakan kulitnya yang lembut dan kenyal. Dia menatap refleksi wajahnya di cermin malam itu sebelum tidur, menggunakan perawatan wajahnya yang dipaksakannya pada Jeongguk yang sejauh ini hanya setuju menggunakan pelembab, toner dan sabun wajah. Tidak sudi menggunakan serum dan segala macam lainnya.
Taehyung menyeka rambutnya, menguncirnya menjadi apple hair di puncak kepalanya agar anak rambutnya tidak mengganggunya mengaplikasikan pelbagai krim di hadapannya agar wajahnya tetap segar. Saat dia menyadari ada sesuatu yang aneh di wajahnya.
Dia nampak... menua.
Dia seharusnya tidak menua karena dia tidak bertemu dengan soulmate-nya. Kata ibunya, jika dia bertemu dengan soulmate-nya dia akan mendengar lonceng berbunyi di kepalanya, perasaan membuncah yang membuatnya sesak dan kepalanya terasa lepas oleh sensasi itu. Begitulah yang dirasakan ibunya saat bertemu ayahnya.
Dan Taehyung tidak pernah merasakannya hingga dia seharusnya berhenti menua di usia delapan belas tahun. Abadi hingga dia bertemu pasangan yang ditakdirkan untuknya, agar mereka menua bersama kemudian. Dan kenapa... kantung mata Taehyung nampak menghitam? Kenapa wajahnya... kusam?
Dia meraih krim kulitnya, mengerutkan alisnya. Apakah produk baru yang digunakannya tidak cocok untuknya? Padahal itu merek yang digunakannya sejak remaja, tidak pernah ada masalah. Dia meletakkan benda itu lagi di meja dan mendesah, mungkin karena dia kelelahan mengejar semua tugas kuliahnya yang menumpuk. Taehyung sering ketiduran di meja belajarnya, dengan lampu masih menyala dan musik mengalun menemaninya mengerjakan tugas.
Mungkin kebiasaan buruk itu yang sekarang mulai menunjukkan hasilnya. Taehyung mendesah keras, sedikit kesal saat menuang produk wajah ke telapak tangannya dan menepuk-nepukkannya lembut ke wajahnya yang halus. Dia harus mulai mengatur jam tidurnya lagi jika tidak mau kulitnya rusak.
“Taehyung! Pizanya sudah datang, ayo makan!”
Taehyung menoleh ke pintu yang terkuak sedikit, melihat Jeongguk melangkah masuk dengan boks piza hangat di tangannya sedang mencermati bon yang diserahkan pengantar tadi.
“Oke!” Balasnya. “Aku akan menyelesaikan ini sebentar. Tolong dihangatkan, ya! Apakah ayamnya sudah datang?”
Jeongguk melakukan sesuatu di dapur, berisik mempersiapkan makan malam mereka. “Oh, kau memesan ayam juga?” Tanyanya, setengah berteriak.
“Yep. Ppuring-ppuring dari BHC dan soda.” Sahut Taehyung, bergegas menyelesaikan ritual kecantikannya karena dia lapar—menatap wajahnya di cermin dan mencoba mengabaikan bagaimana kusam dan lusuh wajahnya nampak.
Bel berbunyi dari pintu depan dan dia tersenyum, menoleh dan melupakan sama sekali wajahnya yang kusam. “Nah, itu dia. Tolong diambil, Gguk!” Pintanya seraya bangkit dari kursinya dan merapikan piyama katunnya yang sejuk dan mengenakan sandal rumahnya.
Dia bergegas keluar, membuka pintu untuk mendapati Jeongguk berterima kasih ramah pada pengantar makanan dan masuk dengan sekotak ayam yang beraroma bubuk keju yang kuat. Taehyung mendesah saat menanda-nandak ke dapur untuk mulai makan bersama Jeongguk.
“Aku harus memperbaiki pola tidurku,” Taehyung meraih sepotong paha ayam dan menggigitnya sementara Jeongguk membuka botol soda mereka dan menuang ke dua gelas sedang. “Wajahku kelihatan kusam, ya?”
Jeongguk mendongak sejenak dari sodanya, menyapukan tatapan ke wajah Taehyung dengan mulut penuh makanan sebelum menggeleng—tegas. “Tidak, kau nampak baik-baik saja.” Tandasnya dan Taehyung tersenyum simpul.
Jeongguk selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Dia selalu tahu apa yang harus diucapkannya agar Taehyung merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Jeongguk memang manusia paling luar biasa yang pernah hadir di hidupnya.
“Tapi aku tetap harus memperbaiki jam tidurku.” Taehyung memisahkan tulang dari sayap ayam yang diambilnya, melepaskannya sebelum mencelupkannya ke saus yogurt yang asam-gurih.
“Setuju.” Jeongguk mengangguk, menyerahkan gelas soda milik Taehyung ke arahnya. “Apa saja yang membuatmu nyaman, oke? Jangan dipaksakan.” Dia menepuk tangan Taehyung di meja sebelum bangkit. “Apakah kita punya pickled radish?”
Taehyung mendesah, meraih kantung plastik ayam mereka dan menarik keluar kotak plastik terisi pickled radish teman makan ayam mereka. “Ini, Jagoan!” Dia melambaikan benda itu ke Jeongguk yang membuka kulkas. “Bagaimana bisa kau membeli ayam dan tidak mendapatkan pickled radish?”
Jeongguk tertawa, “Maaf! Aku tidak memerhatikan.” Dia bergegas kembali ke meja, meraih pickled radish kemasan itu dan membukanya sedikit dengan giginya, meneguk airnya yang asam agar tidak tumpah saat dibuka sebelum membuka semua segelnya agar mereka bisa makan.
Sejenak, pikiran tentang wajah Taehyung lenyap karena Jeongguk menceritakan Webtoon baru yang sedang dikerjakannya—tentang zombie apocalypse yang gambarnya penuh warna merah, hitam, biru tua dan hijau yang cepat membuat matanya lelah.
Quatre.
“Happy birthday, Taehyung. Happy birthday to you.”
Taehyung tertawa saat mendapati Jeongguk berdiri di depan pintu masuk apartemen dengan topi kerucut bodoh di kepalanya dan kue kecil di tangannya, sebatang lilin menyala di atasnya. Dia bergegas menutup pintu di belakangnya dan memasuki ruangan.
Taehyung baru saja pulang kelas, terburu-buru pulang karena dia ingin merayakan ulang tahunnya dengan Jeongguk. Menolak semua tawaran minum dari kakak tingkatnya yang genit karena dia berjanji pada Jeongguk akan pulang awal hari ini. Dan dia senang dia melakukannya karena Jeongguk sudah membeli makanan, menyiapkan kue ulang tahun dan bahkan menyalakan lilin aromaterapi kesukaannya.
Ruangan beraroma lembut madu dan adas manis yang memabukkan, tapi dia suka sekali aroma pekat ini. Dia bergegas masuk, melepas sarung tangan, syal, dan topinya. Dia menggantung coat musim dinginnya di sisi pintu dan bergegas menghampiri Jeongguk seperti seekor kelinci yang melompat penasaran.
Dia tersenyum lebar, “Aku pikir kau lupa!”
Jeongguk terkekeh, “Mana mungkin aku lupa! Kau bodoh, ya?” Katanya lalu mengarahkan kue ke wajah Taehyung yang pucat karena dingin—apartemen yang hangat merambat ke kulitnya, membuat sisa hawa dingin yang diterjangnya tadi sebelum pulang mulai meleleh, mencair di kakinya.
“Ayo, buat harapan dan tiup lilinnya.” Jeongguk tersenyum hangat.
Taehyung menakupkan kedua tangannya di dada, memejamkan matanya dan membisikkan harapannya pada Semesta; dia ingin tetap berada di sisi Jeongguk selamanya, menghabiskan seluruh waktu dengannya dan berharap soulmate-nya tidak akan pernah muncul untuk merusak kebahagiaan yang digenggamnya sekarang.
Dia akan baik-baik saja selama Jeongguk bernapas di sisinya.
Taehyung membuka mata lalu meniup lilinnya hingga padam dan tersenyum lebar pada Jeongguk yang balas tersenyum lebar. Saat itulah mata Taehyung menangkapnya. Dia mengerjap, kebingungan seperti hamster kecil yang menelengkan wajahnya.
“Gguk...?” Bisiknya dan senyuman Jeongguk memudar saat mengamati ekspresi Taehyung. Dia mengulurkan tangan ke Jeongguk, ke keningnya dan menyentuh rambutnya. “Kau... punya uban?” Tanyanya dengan suara pecah.
“Apa?” Ulang Jeongguk, menyentakkan diri dari Taehyung dan bergegas ke cermin di lorong apartemen mereka yang kecil. Dia menyingkap rambut di keningnya, mencari uban yang ditemukan Taehyung.
Dia menemukannya. Satu rambut keperakan yang terbit di sela rambut hitamnya yang gondrong. Dia berhenti bernapas. Menatap nanar bayangannya sendiri di cermin sebelum melirik Taehyung yang menatapnya dari relfeksi cermin. Keduanya pucat pasi, kebingungan karena mereka tidak seharusnya beranjak tua.
Mereka belum menemukan pasangan mereka dan karenanya, mereka seharusnya abadi di usia delapan belas tahun. Dan rambut keperakan sama sekali bukan bagian dari keabadian itu. Jeongguk meraih rambut itu dengan jarinya, menariknya lepas dan menatapnya. Rambut perak itu berkilau di bawah sinar lampu apartemen mereka—menjadi teror di antara mereka berdua.
Taehyung membuka mulutnya, apakah.... “Kau sudah bertemu pasanganmu?” Tanyanya dengan suara pecah, gemetar. Bagaimana mungkin dia baru saja berharap dia akan selamanya bersama Jeongguk harus menghadapi kenyataan bahwa Jeongguk sebentar lagi mungkin akan pindah, hidup bersama pasangan takdirnya.
Seperti kisah romantis yang selalu dibaca Taehyung.
“Jangan bodoh!” Tukas Jeongguk, suaranya meninggi oleh stres dan dia membuang rambut itu sembarangan—tidak mau memikirkannya karena dia tidak mau dan tidak sudi berpisah dengan Taehyung demi pasangan takdir abadinya. “Aku tidak pernah bertemu siapa pun belakangan ini selain kau, editorku, dan komikus Webtoon!”
Taehyung gemetar. “Mungkin.... salah satu dari mereka?”
Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Jangan konyol!” Katanya, nyaris membentak karena frustrasi. “Tidak mungkin, tidak. Tidak.” Dia menggeleng tegas, menutup pembicaraan tentang uban itu sepenuhnya. “Ini ulang tahunmu.” Katanya, “Aku tidak akan merusaknya dengan pembicaraan sial tentang pasangan abadi konyol.”
“Kau... akan pindah hidup bersamanya jika nanti dia muncul?” Taehyung mencicit, meremas tangannya sendiri yang terasa dingin—kali ini bukan karena suhu. Parutnya melilit dan jantungnya berdebar kacau, memukul rusuknya dengan begitu kuat hingga dia sesak.
Akankah Jeongguk...? Melangkah pergi dari hidupnya seperti semua orang?
Jeongguk menatapnya, rahangnya kencang dan matanya berkilat oleh tekad yang mengerikan. “Taehyung.” Mulainya tegas, tak terbantahkan. “Bahkan jika aku harus memilih menyelamatkan populasi satu dunia atau dirimu, aku akan tetap milihmu.”
Matanya menatap langsung ke mata Taehyung, dengan tekad tak terbantahkan yang berkobar di matanya. Dia nampak sangat serius hingga Taehyung bergidik olehnya.
“Kau adalah pilihan pertama dan satu-satunya untukku, Taehyung. Ingat itu baik-baik.”
Cinq.
Jeongguk menatap wajahnya di cermin, rasa panik terbit dari dasar perutnya. Menyeruak hingga ke dadanya dan membuat paru-parunya mengerut, gagal mengembang sesuai tugasnya untuk menyuplai oksigen ke otaknya.
Dia menemukan uban baru di rambutnya. Rambut keperakan yang sekarang lebih panjang dan menyita perhatiannya. Bibirnya terkuak, gelisah. Sudah setahun berlalu sejak terakhir kali Taehyung menemukan uban pertama di kepalanya, pemuda itu sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang bekerja sebagai akunting di perusahaan besar tiga halte dari apartemen mereka.
Dia senang Taehyung tidak di apartemen saat dia menemukan ini. Dia mencabut uban itu, meletakkannya di tangannya yang dingin dan gemetaran di tengah puncak musim panas yang memaksanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, menurunkan suhu penyejuknya agar tidak terpanggang suhu.
Dia menua.
Jeongguk menua. Hal yang seharusnya tidak terjadi karena dia belum bertemu dengan pasangannya. Atau setidaknya, begitulah yang dipikirkannya. Jika dia bertemu dengan pasangannya, kata ayahnya, dia akan mendengar lonceng yang berdentang di kepalanya—perasaan senang membuncah yang membuatnya mabuk.
Dia selalu merasakannya tiap melihat Taehyung membuka pintu apartemen, pulang dengan makanan kemasan di tangannya untuk mereka makan dan apakah itu aneh? Tidak karena dia sangat menyayangi Taehyung, sahabatnya yang manis dan menyenangkan.
Jeongguk yakin dia tidak akan bisa mencintai siapa pun kecuali Taehyung. Namun sejauh ini, dia tidak pernah mendapatkan sinyal dari Taehyung bahwa dia ingin membawa persahabatan platonik mereka naik tingkat. Dan Jeongguk tidak pernah keberatan, dia baik-baik saja selama Taehyung berada di sisinya—melompat-lompat seperti anak anjing menggemaskan.
Apakah ini berarti dia sudah menemukan pasangannya? Tanpa dia sadari? Itulah mengapa dia menua?
Dia menyambar ponselnya, menekan nomor ibunya dan menggigit ibu jarinya saat nada sambung terdengar. Jeongguk bergerak gelisah di kamarnya, mengabaikan pekerjaannya yang terbengkalai karena perutnya melilit oleh rasa tegang tidak nyaman. Dia melirik jam dinding, satu jam lagi Taehyung pulang dia harus menyembunyikan semua ini.
“Jeongguk?”
Jeongguk menghembuskan napasnya lega, “Ibu?” Sapanya. “Ibu, aku harus mengatakan sesuatu padamu.”
Ibunya tertawa serak, terbiasa menghadapi anaknya yang panik karena hal-hal kecil. “Baiklah, Jagoan. Apa itu?” Tanyanya lembut. “Haruskah Ibu panggilkan Ayah juga?”
Jeongguk bergegas menggeleng walaupun dia tahu ibunya takkan bisa melihatnya. “Tidak, tidak.” Katanya. “Aku hanya ingin mengatakan ini pada Ibu.” Dia kemudian menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan isi kepalanya.
Ayolah, Jeongguk! Kau sudah dua puluh tiga tahun!
“Bagaimana kabar Taehyung? Kalian tinggal bersama, 'kan, sekarang? Ibu belum sempat menjenguk kalian lagi, ya? Besok akhir bulan Ibu akan mampir. Kalian mau jeruk?” Tanya ibunya, menenangkan Jeongguk dengan suaranya yang mendayu-dayu—seperti morfim yang disuntikkan ke pembuluh darahnya, seketika menghentikan semua rasa sakit yang sejak tadi mencengkeramnya.
“Baik,” Jeongguk mulai bernapas normal sekarang, mulai tenang saat dia duduk di ranjangnya yang berderit. “Kami semua baik. Dan, ya. Ibu boleh datang dengan jeruk. Dan kimchi.”
Ibunya tertawa ceria, “Baiklah. Kimchi.” Sahutnya sebelum kemudian bertanya, “Apa yang mengganggumu, Sayang?”
Jeongguk kemudian membuka mulutnya, membicarakan semuanya. Bagaimana selama ini dia stres mengerjakan tenggat waktu komiknya dan tidak pernah sedikit pun berpikir tubuhnya akan merespons stres itu dengan rambut perak. Dia mulai merasa wajahnya kusam—dia menua. Dia yakin dia menua. Dia tidak lagi sesegar saat dia berusia delapan belas sebagaimana dia seharusnya merasa karena dia belum bertemu pasangan takdirnya.
Dia merasa punggungnya sakit, dia merasa cepat lelah—hal-hal yang seharusnya tidak dialaminya seberapa keras pun dia bergerak karena dia secara teknis seharusnya abadi di usia delapan belas. Dan kenapa dia sekarang mulai menua? Tentu karena dia bertemu pasangan takdirnya, sehingga usianya mulai kembali bertambah secara otomatis.
Dan dia tidak bertemu siapa pun selain Taehyung, editornya dan komikus yang diajaknya bekerja. Tidak ada siapa pun yang memberikannya dentang lonceng dan perasaan bahagia membuncah selain saat editornya memberi tahu pekerjaannya sudah sempurna dan bayarannya baru cair.
Ibunya sejenak diam sebelum tersenyum dan Jeongguk bisa mendengar senyumannya yang perlahan merekah perlahan di bibirnya. “Jeongguk,” panggilnya hangat dan lembut.
“Sayang, pernahkah kau memikirkan Taehyung?” Tanyanya. “Memikirkannya sebagai seorang kekasih alih-alih sahabatmu? Karena jika kau memang tidak pernah bertemu siapa pun selain mereka bertiga, maka bukankah tidak sulit untuk menebak siapa pasangan takdirmu?”
“Yang selama ini ternyata berada sedekat nadi denganmu.”
Dan malam itu, saat Taehyung membuka pintu apartemen dengan sekantung makanan di tangannya dan wajah cerah karena baru saja mendapatkan promosi naik menjadi karyawan senior, siap merayakannya dengan Jeongguk, dia ternyata mendapatkan hal lain untuk dirayakan.
Untuk pertama kalinya setelah mereka bersahabat selama bertahun-tahun, Jeongguk merengkuhnya seperti seorang kekasih. Mendekapnya begitu dekat, tertawa dan menangis bersamanya karena begitu bodoh tidak menyadari apa yang selama ini berada di hadapan mereka.
Taehyung juga menangis saat menyadarinya—menyadari mengapa walaupun dia sudah melakukan yang terbaik dengan wajahnya, dia tetap nampak menua. Kusam dan jelek. Ternyata, dia menua.
Menua dengan pasangan takdirnya, yang adalah seseorang yang selalu disemogakannya dalam doanya—dalam setiap tiupan lilin ulang tahunnya.
Dan untuk pertama kalinya, mereka berciuman.
Ciuman yang asin dan basah oleh air mata, namun tidak masalah. Karena akhirnya mereka melangkah keluar dari persahabatan platonis mereka, merengkuh cinta takdir mereka yang hangat. Dengan orang yang selama ini mereka sebut dalam doa mereka, dengan orang yang akan mereka pilih bahkan jika dunia taruhannya.
Fin.
Terima kasih telah membaca! Dan untuk Kookoo, semoga suka!
love, ire x