Kuliah, Kerja, Nyantai / 106


Matahari terbenam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu, suaranya merdu. Ku-ku, ku-ku, ku-ku-ku-ku-ku-ku...

Taehyung tersenyum lebar saat menyadari Jeongguk sedang bergoyang mengikuti irama lagu, kedua tangannya menggenggam tangan mungil Mutia yang tertawa lebar di pangkuannya.

Hari itu mereka menggambar dan mewarnai—lalu hanya untuk membuat anak-anak senang, Jeongguk merelakan tato di tangannya diwarnai dengan krayon walaupun bahan krayon tidak mau menempel sempurna di atas kulitnya. Anak-anak yang tidak memahami itu, terus memaksa menggosokkan batang krayon di lengannya hingga dia mengaduh geli dan guru PAUD melerai mereka.

“Beri mereka spidol permanen saja,” komentar Yugyeom yang langsung mengaduh karena Jeongguk menampar pahanya dengan dua jarinya—dia jago melakukan itu.

Sama seperti Yugyeom yang jika memukul pantat dapat menyebabkan trauma karena kerasnya, Jeongguk bisa menggunakan telunjuk dan jari tengahnya untuk menciderai seseorang secara serius—sakitnya bahkan menembus lapisan tebal celana jins.

Matahari terbenam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu, suaranya merdu. Ku-ku, ku-ku, ku-ku-ku-ku-ku-ku...

Sekarang Jeongguk nampak senang, sudah sehat dan bisa bergerak lebih leluasa. Dia tidak mengerang saat berbaring atau bangkit dan Taehyung merasa lega. Kecemasan yang selama ini bersemayam di hatinya, perlahan naik seperti beban tak kasat mata diangkat dari bahunya.

Dia sekarang sedang tertawa bersama Mutia yang juga tertawa keras, nyaris menjerit di pangkuan Jeongguk yang mengangkat tangan gendut Mutia ke udara lalu menggoyangkannya sementara teman-temannya mulai menyanyikan lagu Gelang Sipaku Gelang untuk mengakhiri kelas, sebagai lagu pengantar pulang.

Gelang sipaku gelang, gelang si rama rama Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang bersama-sama

Taehyung ikut menepukkan tangannya sesuai irama dengan Dilla di pangkuannya—batita gendut dengan pipi serupa bakpao dan rambut ikal yang membingkai keningnya yang sempit. Dia suka dekat-dekat Taehyung, menatap malu-malu dari balik bulu matanya yang panjang dengan mata bulat berkilauan hingga Taehyung kemudian memangkunya.

Sayonara sayonara; sampai berjumpa pulang Buat apa susah? Buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya

Semuanya bertepuk tangan ceria saat lagunya selesai—riuh dengan tawa dan tepukan tangan.

“Horee!” Seru guru mereka tersenyum lebar lalu membenahi jilbab yang menutup kepalanya sebelum melanjutkan, agak tersengal karena dia harus tetap terdengar ceria yang berarti setengah berteriak. “Hari ini, hari terakhir Kakak KKN menemani kita di sini, ya, besok Kakak KKN harus kembali ke kampus di Yogyakarta untuk kuliah.”

Terdengar suara 'haah?' keras sebelum keluhan panjang yang tinggi—semua anak KKN tertawa mendengarnya namun juga sedih karena anak-anak PAUD merupakan kegiatan harian mereka, bertemu para balita aktif itu merupakan bagian paling menyenangkan dalam satu hari.

“Kak Gguk pulang?” Tanya Mutia, memutar tubuhnya di atas pangkuan Jeongguk sehingga bisa menatap wajah Jeongguk; dia nampak tidak suka fakta bahwa anak-anak KKN harus meninggalkn desa. “Ndak main sini lagi?”

Jeongguk terenyuh, dia mengusap kepala Mutia sayang. “Nanti main lagi, kok.” Sahutnya sebelum mengulurkan kelingkingnya, “Janji, deh.”

Mutia menyambutnya, tersenyum lebar hingga gigi-gigi depannya yang busuk nampak. “Oke!” Katanya, mengaitkan kelingking gendut dan mungilnya pada kelingking Jeongguk.

Taehyung tersenyum lebar melihatnya—interaksi Jeongguk dengan anak-anak selalu membuatnya hangat. Walaupun sejauh ini yang akrab dengan Jeongguk hanya si Tomboy Mutia.

Mulai besok mereka tidak akan membantu guru PAUD mengajar lagi karena jam mereka sudah terpenuhi. Perpisahan yang menyedihkan karena semua anak yang memiliki 'Kakak KKN' favorit menangis tidak ingin ditinggalkan.

Akhirnya para balita yang menangis dijemput ibunya, digendong dan ditenangkan setelah dijanjikan bahwa mereka akan datang mampir nanti—sekalian mereka mengecek hasil fermentasi pakan mereka.

Setelah ruangan sepi, mereka membantu guru PAUD membereskan kelas—mendapatkan banyak ucapan terima kasih karena telah banyak membantu selama kegiatan. Mereka kemudian berpisah setelah mengunci ruangan kelas dan berpisah di halaman depan.

“Aku akan merindukan mereka,” desah Momo seraya melepas almamaternya yang terasa gerah karena untuk pertama kalinya selama mereka KKN, matahari bersinar begitu terik.

Anak-anak meresponsnya dengan langsung berbondong-bondong mengeluarkan cucian mereka, menjemurnya dan berharap cepat kering memanfaatkan sinar matahari yang jarang terjadi karena musim hujan.

“Setidaknya kita tidak harus bangun pagi lagi.” Sahut Yoongi, menguap lebar. Dia biasanya kembali tidur sepulang dari PAUD karena bangun jam tujuh pagi bukanlah kebiasaannya.

“Tetap saja.” Keluh Momo, mengerang saat mereka menuruni aspal ke jalan berbatu becek menuju pondokan mereka.

Matahari langsung menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Angin berhembus sejuk, sisa-sisa air hujan semalam yang belum sepenuhnya menguap oleh sinar matahari. Jeongguk menyalakan rokoknya, menawari sebatang pada Taehyung yang menerimanya. Mereka berjalan paling belakang, memberi jarak sekian meter dari teman-temannya agar asap mereka tidak mengganggu.

“Berarti dua hari kedepan kita tidak perlu ke PAUD? Hari ini juga hari terakhir bimbingan belajar, 'kan?” Tanya Dahyun kemudian saat mereka menyingkap rimbun bambu, ke arah halaman pondokan—Pulgoso menatap mereka dengan setangkai rumput di bibirnya sementara sapi Bapak berbaring di kakinya, berjemur.

“Besok.” Koreksi Tzuyu. “Aku ingin membelikan anak-anak cemilan sebagai tanda perpisahan juga.”

Yugyeom mengangguk, melepaskan call card dari lehernya. “Sore ini, setelah evaluasi kita akan ke Pasar Wedi membeli ayam untuk acara nanti malam jadi bisa sekalian jika kau mau.”

“Memang, aku sudah berencana melakukannya.” Sahut Tzuyu senang. “Uang prokerku masih utuh karena memang tidak ada yang bisa dilakukan sehingga aku memutuskan untuk membelikan makanan saja untuk mereka.”

“Memangnya boleh jika digunakan sebagai itu?” Tanya Momo kemudian, menatap Yugyeom yang nampak berpikir. “Mengalokasikan dana proker untuk cemilan kenang-kenangan saja? Sesuatu yang tidak berwujud dan habis?”

“Ditanyakan nanti saja saat evaluasi,” lerai Jeongguk dari belakang, menjentikkan abu rokoknya. “Agar jelas dan tidak menduga-duga.”

Teman-temannya setuju. Mereka memasuki pondokan dan Jeongguk, Taehyung serta Momo yang mendapat giliran untuk memasak hari ini bergegas mengganti pakaian mereka, melepas almamater lalu beranjak ke dapur.

Di dekat tungku api, ada sekumpulan anak ayam dan seekor itik yang sudah sejak di hari pertama berada di pondokan disadari Taehyung. Menggemaskan bagaimana si itik malah sekarang bersuara seperti anak ayam alih-alih bebek seperti spesiesnya. Bulunya yang kuning nampak mencolok, namun dia selalu berada di tengah para anak ayam.

Dan para anak ayam itu nampak menerimanya begitu saja, tidak pernah meninggalkannya sendirian.

Taehyung mengusir mereka dengan lembut, mengeluarkan mereka dari dapur sebelum kembali dan menemukan Jeongguk sedang duduk di atas balai tempat Ibu biasa memasak dengan seikat kangkung di tangannya—mendapat perintah untuk membersihkannya.

Taehyung mencuci tangannya sebelum menghampiri Momo yang sedang mengupas bawang putih—bumbu andalan mereka untuk marinasi tempe. Taehyung meraih tempe daun yang diletakkan di dekat kompor lalu mulai membuka bungkusnya daunnya.

“Kau ingin aku memotongnya lurus atau menyamping?” Tanya Jeongguk, saat Taehyung menoleh dia menggenggam seikat kangkung yang sudah dibersihkan dari akarnya.

“Terserah,” sahut Momo acuh seraya mengiris bawang putihnya agar lebih mudah diulek. “Mana saja yang cepat.”

Jeongguk menatap Taehyung yang nyengir lalu kemudian kembali meraih pisaunya dan mulai memotong kangkung menyamping membentuk oval. Momo mulai memasukkan lada, sedikit penyedap dan bawang putih ke pengulekan lalu menggerusnya.

Taehyung dengan pisau memberikan sayatan-sayatan di atas tempe, agar bumbu meresap ke dalamnya. Momo menyelesaikan ulekannya, menuang sedikit air panas dari termos Ibu dan membiarkan Taehyung menyelesaikan tempenya sementara dia mengisi penggorengan dengan minyak.

“Oh, iya!” Serunya kemudian mengangetkan keduanya. “Tolong cek apakah kita sudah menanak nasi?”

“Oke sebentar,” Taehyung mendesah geli, dia mencelup tempe terakhir lalu membiarkannya beristirahat di sana sebelum melangkah terseok-seok ke arah penanak nasi mereka hanya untuk menemukan benda itu kosong.

“Momo, kita belum menanak nasi.” Taehyung mendesah keras, menarik wadah penanak dari dalam dan membawanya ke dapur, menunjukkannya pada Momo.

“Sial.” Gerutu Momo. “Masaklah, Tae. Empat gelas seharusnya cukup.” Dia kemudian menggerutu di bawah napasnya sendiri tentang kelalaiannya yang lupa menanak nasi sebelum berangkat ke PAUD.

“Tenang.” Kata Taehyung menyejukkan, “Tidak ada yang terbunuh, oke?” Dia melangkah ke tempat penyimpanan beras mereka lalu mulai menyendok lima gelas beras ke dalam wadah penanak nasi.

Dia berhenti di sisi Jeongguk yang berkutat dengan kangkungnya—berperang melawan tiap tangkai untuk menciptakan potongan diagonal yang sama persis. Tersenyum, Taehyung kemudian melangkah ke tempat penyimpanan air Ibu yang terbuat dari tanah dan mulai menyendok air—mencuci berasnya, tiga kali sebelum mengisinya dengan air untuk ditanak.

Dia memastikan diri sudah menyalakan tanda 'COOK' di mesin penanak sebelum kemudian menghampiri Jeongguk yang masih berkutat dengan alis berkerut dalam. Dia terkekeh lalu duduk di seberangnya.

“Kau seperti sedang bertarung melawan Hydra,” komentarnya sopan meraih talenan lalu mulai mengisi-iris cabai dan bawang untuk menumis sayuran mereka.

Jeongguk tidak menjawabnya, serius memelototi kangkung di tangannya yang seperti melawannya. Dia mengirisnya perlahan, berusaha membuat bentuknya sama persis dan rapi hingga Momo melihatnya.

“Ya ampun!” Keluhnya hingga kedua lelaki itu terlonjak kaget oleh suaranya ditingkahi oleh suara mendesis tempe yang digoreng. “Jika kau melakukan itu, kita baru akan makan siang nanti malam!”

Taehyung mengulum senyumannya—selalu terjadi jika Jeongguk dipasangkan dengan Momo atau Dahyun. Mereka seperti punya dendam pribadi pada Jeongguk yang selalu ingin semuanya rapi dan indah—nyaris seperti penderita OCD padahal mereka punya mulut untuk segera diberi makan.

Jeongguk tidak terima diteriaki, jelas. “Kau berisik sekali!”

Dan itu, pikir Taehyung geli, memfokuskan diri pada pekerjaannya karena jika mereka memutuskan untuk bertengkar, Taehyung tidak akan ikut campur.

Jeongguk selalu menjawab.

“Kau pikir ini jam berapa?! Nanti jam dua kita akan turun untuk evaluasi!” Sahut Momo dan Taehyung mulai tertawa tanpa suara.

“Ini baru jam sebelas!” Balas Jeongguk, sama jengkelnya. “Memangnya makan butuh waktu selama itu?!”

Yugyeom mendekat ke dapur hendak mengambil air minum, kemudian berhenti di depan pintu masuk dan langsung berbelok kembali—membatalkan rencananya saat mendengar Momo dan Jeongguk yang beradu mulut.

“Kau menyebalkan sekali!”

“Yah, kau juga menyebalkan sekali!”

“Jeongguk!”

Momo!”

“Demi Tuhan! Apa, sih, masalah kalian?!”

Taehyung akhirnya melepaskan tawanya, menoleh dan mendapati Yoongi berdiri di pintu dengan gelas air dan wajah berkerut terganggu karena mendapati kedua rekan KKN-nya sedang saling meneriaki.

“Jeongguk menyebalkan!” Sahut Momo, mengomel saat membalik tempe di dalam minyak yang sedang dikerjakannya.

“Bukankah dia memang begitu?” Balas Yoongi melangkah masuk. “Kenapa kau terdengar kaget?”

Jeongguk memutar bola matanya, mulai mengerjakan kangkungnya lagi dengan geli karena berhasil membuat Momo kesal. Dia menyelesaikan kangkungnya lebih cepat lalu bergegas mencucinya persis saat Taehyung menyelesaikan potongan bumbunya.

Taehyung menyalakan kompor satunya, meletakkan penggorengan di sana dan menuang sedikit minyak sementara Yoongi berdiri di belakang mereka dengan air putih—menonton.

“Sudah, jangan bertengkar.” Kata Taehyung saat menuang potongan bawang ke minyak panas; suara mendesis terdengar diiringi aroma harum bawang merah yang digoreng.

“Bukan salahku jika dia mudah sekali diganggu,” sahut Jeongguk mendekat dengan kangkung yang sudah dicuci dan ditiriskan lalu berseru kaget saat menghindari spatula yang dilayangkan Momo ke kepalanya.

“Diam!” Katanya.

Taehyung terkekeh, menambahkan potongan cabai dan sedikit air ke dalam sana—desisannya terdengar mengancam sebelum dia menambahkan garam dan penyedap secukupnya lalu menunggunya mendidih. Menuang kangkung segar ke dalamnya, dia kemudian mengaduknya perlahan sementara Momo menuang tempe terakhir ke dalam minyak panas.

“Kau boleh cek nasinya, diaduk dulu, oke? Agar bagian bawahnya tidak gosong.” Kata Taehyung pada Jeongguk yang mengangguk, melangkah terseret ke mesin penanak mereka.

“Sudah matang!” Katanya kemudian meraih sendok nasi dan membasahinya, dia kemudian membuka mesin penanak, mengaduk nasinya—sehingga bagian bawahnya naik dan mencium aroma pulen nasi yang lezat.

Mereka kemudian makan siang bersama setelah Yoongi membuat sambal sebagai teman makan mereka. Jeongguk memberikan jatah tempenya sepotong untuk Taehyung yang menerimanya dengan senang. Setelahnya, mereka memutuskan untuk membunuh waktu menunggu hingga saatnya berangkat evaluasi dengan bermain Monopoli.

Taehyung tidak tertarik dan kekenyangan, jadi dia menyatakan diri sebagai bank saja selama permainan—duduk di sebelah Jeongguk dan bersandar di bahunya, setengah mengantuk menonton mereka bermain.

“Prancis punyaku!” Seru Yugyeom saat bidak Yoongi berhenti di sana dan dia meraih uang untuk membeli tempat itu. “Jangan dibeli, Mas Yoon!”

Yoongi menatapnya, tersenyum lebar saat mengulurkan uang pada Taehyung yang mengambilkannya kartu kepemilikan drama. “Maaf, Sob.” Katanya menerima kartu itu dan melambaikannya pada Yugyeom yang mengerang. “Bukan begitu cara mainnya.”

Taehyung menumpukan dagunya di bahu Jeongguk yang menatap kartu kepemilikan negaranya yang dijejerkan di hadapannya dengan tumpukan uang mainan di sisinya. Dia mengawasi permaiann dengan serius.

“Ha!” Serunya membuat Taehyung kaget. “Kau berhenti di PDAM! Itu punyaku! Bayar!” Dia menuding Momo yang mengerang karena dadunya membawanya ke lubang buaya. Dia meraih kartu kepemilikannya dan membacanya, “Bayar seratus! Cepat, cepat!”

Momo menyambar uang mainannya dan melemparkannya ke Jeongguk yang terkekeh senang, meraihnya dan mengumpulkan pundi kekayaannya. Taehyung menyenderkan kepalanya di cerukan leher Jeongguk, mendengarkan denyut nadi di bawah telinganya sementara lelaki itu bermain Monopoli nyaris terobsesi menang.

I love you,” bisiknya pada Jeongguk yang bergidik.

Dia terkekeh, menepuk paha Taehyung sekali—hangat lalu melempar dadu. “Aku juga.” Sahutnya, tersenyum hingga hati Taehyung bergetar olehnya. “Kau mengantuk, ya? Kekenyangan?” Tanyanya lembut, nyaris membelai kulit Taehyung dan membuat kelopak matanya berat.

Sebelum dia menjawab, Dahyun menyela mereka. “Hayo! Jangan pacaran, bayar!” Serunya kemudian membuat Taehyung terkekeh kaget. “Kau berhenti di Yunani, itu punyaku!”

Jeongguk mengerang saat menyadari mata dadunya membawa bidaknya berhenti di Atena milik Dahyun dan dia punya kompleks di sana. “Sialan, ini pemerasan!” Katanya tidak terima saat Dahyun terkekeh ceria, menarik kartu untuk membaca nominal yang harus dibayarkan Jeongguk.

“Bukan begitu cara mainnya, Sob!” Dahyun tertawa ceria, menerima uangnya.

Akhirnya, Jeongguk sungguh memenangkan permainan itu karena jumlah kekayaan dan negara yang dimilikinya. Dia nampak puas saat akhirnya mereka semua berdiri, bersiap-siap berangkat ke lokasi evaluasi terakhir mereka selama KKN—pondokan di dekat Puskesmas, pondokan Jaehyun.

“Kau yakin?” Tanya Yoongi saat mengenakan helmnya saat Jeongguk menaiki motornya sendiri, menegakkannya dengan kedua kaki menjejak tanah. “Sudah cukup kuat untuk berkendara?”

Jeongguk mengangguk, membiarkan Taehyung mengaitkan helmnya. “Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.” Katanya lalu menyalakan mesin motor dengan mengekolnya—mesin motor meraung.

Yoongi menatapnya sejenak sebelum kemudian mengangguk. Mereka membiarkan Dahyun (yang juga sudah cukup kuat untuk berkendara) menaiki tanjakan duluan sebelum menyusulnya sementara yang lain berjalan kaki. Mereka semua menaiki motor sebelum meluncur di jalanan—menyapa anak pondokan lain yang juga akan berangkat untuk evaluasi.

“Gguk,” kata Taehyung saat mereka meluncur membelok di pertigaan pertama menuju ke jalan menurun ke arah Klaten.

“Yaa?” Sahut Jeongguk dari depan, mengoper gigi motornya dengan suara tak! keras. “Kenapa? Kau mengantuk sekali, ya?”

Taehyung tersenyum, entah mengapa senang mendengarkan Jeongguk bicara dengan nada lembut itu padanya. Dia mengaitkan satu tangannya di pinggang langsing Jeongguk dan menepuk perutnya yang buncit karena makanan.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya kemudian, tidak yakin Jeongguk bisa mendengarnya di tengah kerasnya deru angin.

Namun toh, pemuda itu mendengarnya. Dia melepaskan satu tangannya sejenak dari stang motor lalu meremas tangan Taehyung di perutnya sebelum kembali memegang kendali.

“Aku juga mencintaimu.” Katanya dengan lugas dan Taehyung nyaris ingin menciumnya karena rasa yakin dan percaya diri yang menetes dari kalimatnya barusan.

“Tapi maaf, kita tidak akan berpacaran dengan cara ini. Aku ingin kita memiliki, entahlah? Waktu untuk saling mengenal di luar KKN yang terbatas karena makhluk tidak kasat mata mengawasi kita? Maksudku, pergi jalan-jalan, nonton film, makan bersama.” Tambahnya kemudian saat mereka menuruni jalan ke arah Clongop.

“Bagaimana menurutmu?”

Taehyung tersenyum lebar, walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan melihatnya—hatinya berdebar dan dia sangat tidak sabar menunggu hingga akhirnya mereka bisa pergi berjalan-jalan, melakukan hal-hal sederhana sebagai pasangan setelah KKN selesai.

“Luar biasa.” Katanya, lebih dari sekadar senang. “Sangat luar biasa.”