Kuliah, Kerja, Nyantai / 112


“Gguk! Cepat!”

Jeongguk menyentakkan resleting tasnya hingga menutup sebelum bergegas membawanya keluar.

Baru pukul tujuh pagi dan jasa angkut yang mereka sewa untuk hari ini sudah datang untuk membawa barang mereka turun. Kakak kos Momo, di mana barang akan diturunkan sudah menerima pesan untuk menerimanya jikalau mereka belum tiba di Yogyakarta saat jasa angkut tiba.

Jeongguk menyerahkan tasnya pada Yugyeom yang berada di atas bak mobil, menata barang-barang mereka bersama supir jasa angkut yang mengatur barang-barang agar saling menyangga dan tidak terguling jatuh.

Semua sudah dinaikkan termasuk kasur busa, penanak nasi, juga koper-koper para anak perempuan yang berukuran lumayan. Dan yang tersisa sekarang hanya baju yang akan mereka kenakan hari itu dan tas terisi benda-benda penting. Setelah semua barang diikat aman agar tidak jatuh dalam perjalanan, mobil kemudian berangkat ke Yogyakarta meninggalkan anak-anak yang bersiap-siap untuk mengikuti upacara penarikan.

Acara perpisahan mereka semalam menyebalkan—tidak ada yang ingin membicarkannya sama sekali. Mereka repot menyiapkan semuanya hanya untuk mengerjakan segalanya sendirian sementara para pemuda desa hanya menonton mereka, tertawa-tawa sambil merokok lalu makan seperti tamu.

Padahal inti dari kegiatan itu adalah menjalin keakraban. Jeongguk juga akhirnya menyerah pada mereka semua dan memilih untuk membantu teman-temannya membakar ayam yang mereka beli. Pengeluaran membengkak pula, Taehyung yang merogoh sakunya untuk itu karena ayam mereka kurang—mereka sendiri sebagai tuan rumah tidak kebagian ayamnya. Pemuda desa jelas lebih bersemangat pada acara makan-makan alih-alih membantu para anak KKN mengerjakan program kerja mereka kemarin.

Lalu untuk membuat suasana semakin menyebalkan, entah disengaja atau tidak, Ibu malah membuka makanan yang Dahyun simpan untuk mereka sekelompok nanti malam sambil minum soda—kemewahan setelah sekian lama hidup seperti pertama vegetarian.

Ibu Dahyun yang bekerja sebagai pegawai bank menitipkan sekardus susu 250ml, tiga botol soda, dan pelbagai macam cemilan lezat yang anak-anak langsung pisahkan dari makanan yang akan mereka gunakan malam itu. Namun Ibu malah membuka kemasan makanan yang sudah diincar Jeongguk dan Yugyeom untuk dihidangkan ke tamu.

Taehyung menepuk bahu Jeongguk sayang, menenangkannya. “Nanti kita beli lagi, oke?” Katanya pada dua bayi raksasa kelompok 10—Jeongguk dan Yugyeom yang berwajah sangat sepat.

Sudah harus bergumul dengan asap memasakkan makanan untuk para tamu, makanan mereka dijajah pula.

Satu-satunya yang membantu adalah pacar Irma, itu pun karena diminta Bapak dan karena anak-anak KKN sudah seperti keluarga di sana yang berarti adalah keluarganya juga. Dia membantu anak-anak KKN membakar jagung yang dibelinya, membantu membereskan semuanya sebelum makan bersama anak-anak KKN.

Yugyeom berkali-kali menggertakkan rahangnya dan dia bukanlah anak yang mudah marah. Dia juga berkali-kali meminta maaf pada senior-seniornya padahal itu sama sekali bukan salahnya. Namun mereka tetap berhasil membuat suasana menyenangkan dengan membakar marshmallow di api—Momo dan Dahyun menganggap kegiatan itu menyenangkan walaupun marshmallow mereka terasa seperti kecap ayam bakar.

Dan para pemuda desa kemudian pamit begitu saja setelah makan, seolah mereka datang ke acara perjamuan agung. Para perempuan jengkel sekali saat membereskan semua peralatan yang mereka gunakan tadi. Semuanya saling membantu mencuci semuanya di PAH—Yugyeom mengerahkan kemampuannya untuk mencairkan suasana dengan baik hingga lima belas menit mencuci perabotan, mereka sudah tertawa-tawa ceria lagi walaupun hawa malam semakin dingin.

Mereka kemudian menonton Sausage Party malam itu sambil makan cemilan dan minum soda—bukan film terbaik yang bisa ditonton, tapi setidaknya lelucon joroknya lumayan membuat suasana menjadi rileks kembali sebelum mereka tidur.

Dan pagi ini, mereka semua siap kembali dan nyaris bersemangat karena sakit hati yang masih mereka rasakan karena kejadian semalam. Mereka bersiap-siap, mengenakan kaus KKN dan jas almamater, mengenakan call-card mereka. Membereskan barang-barang mereka yang tersebar di seluruh penjuru pondokan, mengumpulkannya sesuai kepemilikan dan mulai mengepaknya agar mudah dipisahkan di kosan Momo nanti.

“Ayo, foto bersama!” Seru Yoongi, mengeluarkan kameranya dan memasang tripod untuk menyangganya di teras rumah.

Mereka berfoto di halaman, untuk dicetak sebagai kenang-kenangan KKN di pondokan—sebuah tradisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi peserta KKN. Foto-foto yang diabaikan Yoongi selama kegiatan mereka yang sebenarnya digunakan sebagai lampiran di laporan pun beberapa akan dicetak untuk ditinggalkan di pondokan.

Setelahnya mereka berpamitan pada Bapak dan Ibu pondokan yang selama ini sudah sangat menyayangi mereka seperti anak mereka sendiri. Ibu menangis saat memeluk Jeongguk yang terkekeh, menepuk-nepuk bahunya sayang—dia dan Taehyung-lah anak KKN yang paling dekat dengan Ibu, suka mengekor beliau ke mana pun beliau pergi, dan selalu mendapatkan oleh-oleh onde-onde mekar kesukaan Jeongguk tiap kali Ibu ke pasar.

“Kami akan datang lagi dalam dua minggu, Bu.” Hibur Jeongguk terkekeh saat Ibu menyeka air matanya dengan ujung kausnya. “Mengecek fermentasi kami.”

Janji itu cukup karena mungkin Ibu paham anak-anak KKN datang dan pergi begitu saja. Rumah yang selama ini ramai karena celotehan anak-anak sebentar lagi akan sepi. Jeongguk menyadari sekali jika tidak ada mereka, rumah itu benar-benar seolah mati. Tidak ada kegiatan; Ibu dan Bapak menghabiskan waktunya di sawah, Irma bekerja, si bungsu lelaki juga bekerja. Rumah hanya akan terisi selepas Maghrib sebelum tidur pukul setengah sembilan malam.

Sejenak, Jeongguk merasa tidak ingin kembali. Dia ingin terus di sini, menghindari masa kini dan masa depan—hidup dengan sederhana dan serba berkecukupan. Tidak ada beban masa depan di bahunya, semuanya berjalan begitu saja seolah dia sedang mendayung di atas arus sungai yang tenang—tidak perlu berusaha, tidak perlu terburu-buru karena toh, sungai akan bermuara juga.

Jeongguk hanya perlu mengatur kecepatan perahu kecilnya yang bergoyang lembut. Tidak seperti di Yogyakarta di mana semuanya serba hingar-bingar memekakkan telinganya; seperti sedang berpacu dalam drag race, memperebutkan entah apa. Lari dari entah siapa. Jeongguk harus berlari.*

Akhirnya mereka pamit, salim pada Bapak dan Ibu sebelum Taehyung kemudian memimpin teman-temannya yang mengendarai motor untuk menaiki tanjakan ke jalan besar. Anak-anak melambai untuk terakhir kalinya, Jeongguk berdiri di sana—di sisi Taehyung dan menatap lepas pemandangan yang sebulan ini menemaninya.

Sudah merasakan kerinduan abstrak aneh yang menyesakkan dadanya—dia akan sangat merindukan waktu yang bergulir sangat lambat di tempat ini. Bagaimana dia bisa menikmati tiap menit bahkan detiknya dengan sangat berharga dengan teman-temannya, melakukan hal lebih banyak yang dia sangka bisa dilakukannya.

“Hei,” Taehyung memanggilnya sementara semua teman-temannya sudah siap berangkat. “Ayo.”

Jeongguk mendesah, menyeka rambutnya sebelum mengenakan helmnya lalu mengaitkannya. Dia menaiki jok belakang motornya dan mendesah, dia memang harus meninggalkan tempat ini.

Life must goes on.

“Ayo,” katanya kemudian dan mereka melaju, membelah jalanan meninggalkan rumah yang selama tiga puluh hari menampung mereka. Jeongguk menoleh, menatap papan jalan baru yang mereka pasang beberapa hari lalu—berwarna hijau mentereng yang membuat tubuh mereka semua bernoda cat minyak hingga berhari-hari. Kuku Jeongguk masih berwarna hijau neon karena mengecatnya.

Dia mendesah lalu memalingkan wajahnya, menatap jalan di hadapannya. Mereka harus melanjutkan hidup; dia harus menyelesaikan studinya. Masa liburan berkedok KKN mereka sudah resmi selesai hari ini, dia harus kembali ke rutinitas awal. Kembali terjun ke pusaran hidup memusingkan yang penuh keterburu-buruan.

Mereka tiba di Kantor Kelurahan, Yugyeom dan Tzuyu bergegas menghampiri kepala desa untuk meminta tanda tangan di laporan akhir KKN mereka bersama semua kormadus kelompok lain. Jeongguk dan Taehyung duduk di belakang sudut dengan Jaehyun, merokok.

“Semangat kembali mengerjakan skripsi?” Tanya Jaehyun, menghembuskan asap rokoknya menjauh.

“Tidak pernah siap.” Gerutu Jeongguk, menyesap rokoknya. Membiarkan rokok menggantung di bibirnya, menempel di permukaannya karena salivanya saat meraih karet di pergelangan tangannya untuk mengikat rambutnya. “Kau?”

“Apa lagi aku,” Jaehyun memutar bola matanya sebelum menjentikkan abunya ke tempat sampah kering di sisi mereka. “Dosen pembimbingmu siapa, sih?”

Miss Arti.” Sahut Jeongguk, menghembuskan asap rokoknya. “Kau? Jadi ambil Miss Venti?”

Jaehyun mengangguk, “Beruntung beliau masih mau mengambil Translation tahun ini, beberapa anak saja karena aku benar-benar tidak ingin berurusan sama Mr. Harris.” Dia menyesap rokoknya dulu sebelum melanjutkan, “Kau harus buru-buru, 'kan? Miss Arti akan pindah ke Amerika ikut suaminya.”

Jeongguk mengerang, “Ya.” Gerutunya menggaruk pelipisnya. “Di grup bimbingan juga beliau sudah terus-terusan mengingatkan kami untuk mengumpulkan draft. Syukurlah Writing 6 kemarin aku dengan Pak Hirmawan, jadi Bab 1-3-ku aman semua.”

“Sial,” gerutu Jaehyun. “Aku dengan Fajar, dan kau tahu bagaimana dia.” Dia menghembuskan asap rokoknya jengkel karena mereka semua tahu dosen post-colonialism mereka yang satu itu memang sangat sulit.

Dia kemudian menoleh ke Taehyung yang sejak tadi menyimak, “Topik skripsimu apa, Tae?” Tanyanya.

Taehyung terkekeh, tidak menyangka akan ditanya namun toh dia menjawab. Walaupun yakin mereka tidak paham topiknya. “Tinjauan terhadap penggunaan hukum Mekcham dan hukum Gomperd pada perhitungan asuransi dan annuitas,” sahut Taehyung kalem, menghembuskan asap rokoknya—teringat dia belum membuat janji untuk bertemu dosen pembimbingnya.

Kedua anak Sastra Inggris itu bengong, nyaris identik dan Taehyung tersenyum lebar.

“Hukum.... apa?” Ulang Jaehyun, mulutnya terbuka dengan rokok beberapa senti dari mulutnya, di sisinya Jeongguk tidak jauh berbeda.

“Anu.... apa?” Tanya Jeongguk dan Taehyung tertawa, nyaris terbahak-bahak karena ekspresi mereka yang benar-benar tidak paham bahkan satu kata pun dari judul skripsi Taehyung.

“Jangan dipikirkan,” dia terkekeh, “Kalian tidak akan paham jika kujelaskan sekali pun.” Dia menepuk bahu Jeongguk yang masih menatapnya seolah Taehyung baru saja bicara bahasa Prancis.

Mengingat Jeongguk punya kelas bahasa Prancis di Sastra Inggris, jadi mungkin Yunani Kuno lebih tepat.

Mereka kemudian dipanggil untuk mengikuti upacara penarikan KKN. Duduk mendengarkan sepatah-dua patah kata dari kepala desa mereka sebelum akhirnya dia menyerahkan map ke dosen pembimbing lapangan mereka sebagai tanda “pengembalian” anak-anak KKN ke pihak universitas. Setelahnya, mereka semua sibuk menyelesaikan tanda tangan laporan dan mengumpulkannya ke dosen pembimbing lapangan sebelum sesi foto bersama.

Kelompok Jeongguk tidak ikut kendaraan kampus, mereka semua pulang dengan motor yang kali ini jumlahnya pas.

“Jangan mampir, ya!” Seru dosen mereka saat mereka semua bersiap-siap turun kembali ke Yogyakarta. “Kalian ditunggu oleh Bapak Rektor di universitas untuk upacara penerimaan kembali! Hati-hati di jalan, jangan ugal-ugalan.”

“Baik, Pak!” Sahut mereka serentak sebelum kembali bersiap-siap berkendara.

Jeongguk yang kali ini mengendarai motornya karena saat mereka terjun KKN, Taehyung yang mengendarai motor. Dia menjulurkan kakinya menaiki motor dan memasang helmnya sebelum memutar kunci—di sisinya semua teman-temannya sudah siap untuk kembali.

Taehyung menaiki jok belakangnya dan mendesah, “Aku tahu kau merindukan Pulgoso.” Katanya dan Jeongguk mengerang, Taehyung membalasnya dengan tawa rendah terhibur. “Aku akan menggantinya dengan seks yang lama dan panas, bagaimana menurutmu?”

Jeongguk terkekeh, melirik Taehyung dari spion motornya. “Kau yang top?”

“Tentu,” sahut Taehyung mantap dan Jeongguk menyerigai. “Sepakat.” Katanya saat menyalakan mesin motor, kemudian melaju bersama rombongan anak-anak KKN turun kembali ke Yogyakarta.

Masa KKN mereka resmi berakhir.