eclairedelange

i write.

Cerita.


tw // aggressive and manipulative ex-boyfriend , toxic relationship , consensual sexting , attempt for blackmailing , mention of sex tape and nude pictures , body dismorphia , self-loathing .

ps. well, I was listening to BTS – Fix You (cover) while writing this one because why not


Taehyung mengamati Jeongguk yang duduk di hadapannya, nyaman dalam balutan celana longgar dan baju lengan panjang mempersiapkan bubur ayam yang dibelinya tadi untuk Taehyung.

Dia membuka jendela Taehyung, membiarkan cahaya matahari akhirnya memasuki ruangan setelah nyaris dua minggu lamanya Taehyung terkurung dalam kegelapan. Debu-debu menari di pilar cahaya yang menyusup masuk dari jendela, suara anak-anak yang bermain, obrolan para ibu-ibu dan juga penjaja makanan terdengar sayup-sayup hingga ke telinga Taehyung.

Dia lupa bagaimana rasanya hidup semenjak Hyungsik mengirimkannya pesanan ancaman akan menyebarkan semua foto dan video mereka jika Taehyung tidak kembali padanya. Butuh keberanian dan waktu hingga akhirnya Taehyung berani membela dirinya sendiri, memutuskan untuk bangkit dari tekanan Hyungsik yang selama dua tahun menginjaknya.

Taehyung tidak pernah berpikir Hyungsik akan bersikap sangat manipulatif dan agresif dalam hubungan mereka. Selama ini, hanya keputusannyalah yang digunakan untuk mereka berdua, dia mendikte apa yang harus Taehyung lakukan dan tidak mengizinkan Taehyung memiliki daya atas kehidupannya sendiri; Taehyung nyaris tidak memiliki suara dalam hubungan mereka ini.

Hidup Taehyung terasa retak dan berhamburan di sekitarnya saat Hyungsik mulai mengirimkan banyak sekali pesan mengancam ke ponselnya hingga akhirnya dia memblokir nomornya dari semua aplikasi obrolan dan menonaktifkan sosial medianya. Menghindari Hyungsik.

Namun tetap tidak cukup. Pemuda itu masih selalu menghantuinya. Taehyung masih sering bermimpi buruk tentang bagaimana dia menaiki tangga kosan Taehyung dan berusaha mendobrak masuk ke kamarnya; teringat bagaimana teriakan menggores kerongkongannya saat dia berteriak memanggil Bogum yang langsung membawa pemilik kos mereka naik untuk menghentikannya.

Taehyung rusak, dan dia tidak yakin apakah dia bisa diperbaiki.

Setidaknya sampai sebelum dia bertemu Jeongguk kembali.

Jeongguk merupakan salah satu dari sekian banyak tema pertengkarannya dengan Hyungsik selama ini. Taehyung sudah berusaha melepaskan diri dari Jeongguk, menjaga jarak dan bahkan menghapus nomornya dari ponsel. Namun tidak cukup bagi Hyungsik. Bahkan jika Taehyung berpapasan dengan Jeongguk di lorong pun itu merupakan kesalahan Taehyung baginya. Maka puncaknya adalah saat Taehyung bergabung dengan kepanitiaan di divisi yang diketuai oleh Jeongguk.

Dia masih merinding tiap kali teringat bagaimana Hyungsik meninggikan suaranya dan mengayunkan tangannya. Taehyung sudah memejamkan matanya, siap menerima pukulan itu lagi sebelum akhirnya dia muak—sungguh muak pada hubungan mereka dan memberanikan diri menangkap tangan Hyungsik yang sudah nyaris menamparnya.

Taehyung gemetar hebat saat dia menepis tangan Hyungsik yang terpana karena dia berani melawan dan membalas semua perkataan Hyungsik sebelum berlalu dari sana. Teror mencengkeramnya kuat-kuat saat dia akhirnya melunglai di tangga kosan, dibantu naik oleh salah satu teman kosnya.

Satu hari setelah mereka berakhir, semuanya damai. Sangat damai hingga Taehyung merasa tegang—apakah Hyungsik benar-benar melepaskannya begitu saja setelah dua tahun ini bersikap bajingan dengan ancaman semua foto telanjang dan rekaman seks mereka?

Dan keesokan harinyalah serangkaian teror yang membuat Taehyung muntah-muntah dimulai.

Hyungsik tidak mengatakan apa pun, dia hanya mengirimkan gambar-gambar Taehyung kembali padanya. Satu per satu, potongan video seks mereka—menit demi menit. Tanpa pesan apa pun, hanya gambar dan potongan video. Hingga akhirnya suasana jadi di luar kendali Taehyung.

Semua orang tahu mereka berakhir, tiba-tiba saja semua orang tahu sikap Hyungsik selama ini—mengaitkan hari di mana Taehyung muncul dengan concealer lumayan tebal untuk menyembunyikan lebam di tulang pipinya karena Hyungsik; namun sepertinya seseorang menyadarinya. Lalu DPA mereka memanggil Hyungsik yang memulai teror lain yang jauh lebih mengerikan.

Lalu kemudian, Jeongguk datang.

“Tae? Kau bisa mengikuti rapat terakhir hari ini, 'kan?”

“Kau tidak apa-apa?”

Taehyung mengerjap, mendongak dari pangkuannya dan bertatapan dengan Jeongguk yang menatapnya cemas. “Oh? Eh?” Katanya, bergegas menyeka air mata dari sudut matanya dan menenangkan dirinya sendiri.

“Kau gemetar.” Jeongguk hendak meraih tangannya, namun berhenti dan menarik tangannya kembali. Gestur yang sangat dihargai Taehyung karena dia tidak terlalu suka disentuh mendadak sekarang—dia bahkan tidak yakin dia bisa menjabat tangan seseorang.

Taehyung menatap telapak tangannya, menyadari getar halus yang merambat di jemarinya sebelum kemudian mengulurkannya—tidak melepaskan pandangannya dari jemarinya sendiri yang sekarang nampak sangat asing ke arah Jeongguk. Dia ingin Jeongguk menggenggamnya karena dia memperlakukan Taehyung selembut beledu—mengusap semua rasa sakit Taehyung, mengobatinya.

Pemuda itu langsung meraihnya, nyaris seperti meraih pelampung yang akan menyelamatkannya dari bentangan samudera yang dingin lalu menangkupnya dengan kedua tangannya. Rasa hangat seketika menjalar di ujung-ujung jemari Taehyung, meredakan getaran di tubuhnya dan menyuntikkan rasa aman serta nyaman ke otaknya yang berkerut.

“Tenang,” bisik Jeongguk, tersenyum dan meremas lembut tangan Taehyung dalam genggamannya. “Kau aman.”

Dan Taehyung mempercayainya, begitu saja.

Jeongguk selalu memperlakukannya dengan lembut, seolah Taehyung adalah benda pecah belah yang harus diperhatikan secara khusus. Selalu menanyakan kebutuhannya, mendahulukan kenyamanannya dan membantu Taehyung kembali bernyawa tanpa memaksakan kehendaknya. Dia pintar dengan kata-katanya; tidak terdengar menggurui, tidak terdengar menyerang, hanya memberikan pendapatnya. Hanya membuat Taehyung merasa lebih baik.

Mungkin karena Taehyung diam-diam menyukainya selama inilah yang membuat segala hal tentang Jeongguk terasa menyenangkan; seperti menyesap gulali yang perlahan larut bersama salivanya, meluncur turun di tenggorokannya dan menyisakan rasa manis lengket di permukaan lidah serta sela-sela geliginya.

Jemarinya menyelip di jemari Jeongguk dan pemuda itu tersenyum, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya.

“Mau kusuapi makan, Kittin?” Tanyanya setengah menggoda tipis dan Taehyung tersenyum.

Duduk di kamarnya yang sekarang terang benderang dan hangat, ditemani Jeongguk dan makanan yang untuk pertama kalinya beraroma menggugah seleranya; Taehyung merasa kembali hidup. Merasakan harapan yang hangat kembali bernapas dan berdetak bersama jantungnya dan membuat kepalanya ringan.

Jika saja dia bisa memberi tahu Jeongguk segalanya tentang ini.

“Aku bisa.” Taehyung menjawab parau, hendak menarik tangannya yang sekarang terasa cukup hangat.

“Tapi aku tidak mau melepaskan tanganmu.” Sahut Jeongguk setengah merengek dan Taehyung tersenyum simpul; hatinya merekah, seperti sekuntum bunga karena cinta yang mekar.

Sesak, namun kali ini oleh rasa bahagia yang tak terperi. Tidak lagi karena ketakutan yang menghimpitnya.

“Kau harus.” Balas Taehyung, berpura-pura mendelik hingga Jeongguk mendesah berat lalu di luar dugaannya sendiri, pemuda itu mengangkat tangannya lalu mengecup buku jari Taehyung sebelum melepasnya.

Sesuatu meledak dalam diri Taehyung—menakjubkan sekali rasanya. Kepalanya terasa ringan, perutnya mengejang aneh, dan hatinya. Hatinya yang malang terasa sangat sesak, penuh oleh kasih yang tidak lagi bisa dibendungnya. Jeongguk selalu memperlakukannya dengan lembut, selalu membuatnya nyaman, dan selalu membuatnya mabuk.

Tidak terhitung berapa kali Taehyung dengan sengaja menatapnya tiap kali melewati kelas yang ditempatinya. Atau saat mereka bergiliran menggunakan lab setelah kelas Jeongguk; hal-hal sesederhana mengenali sepatu Jeongguk di rak sepatu di depan lab sudah terasa sangat mendebarkan.

Dia suka melirik Jeongguk saat dia keluar meraih sepatunya, tertawa bersama Yugyeom sebelum duduk di lorong menggunakan sepatunya. Lalu mengutuk dirinya sendiri karena mencintai kekasih orang lain.

Siapa sangka ternyata semua hanya salah paham konyol.

“Jika nanti tanganku merindukan tanganmu, kau harus memberikannya.” Tambah Jeongguk lalu menunduk ke makanan mereka, menyiapkannya untuk Taehyung sementara pemuda yang baru saja dikecupnya termangu-mangu.

Tempat di mana Jeongguk menciumnya tadi terasa basah dan geli, dia ingin mengusapnya namun tidak ingin menghapus bekas bibir Jeongguk dari sana. Setengah dirinya yang masih merontak karena jijik pada dirinya sendiri, sekarang menangis karena sentuhan itu namun sisi lainnya yang mabuk kepayang oleh Jeongguk sedang bernyanyi gembira.

Maka Taehyung memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya pada konser lagu-lagu cinta itu alih-alih pada tangisan dan ratapan.

“Silakan makan,” Jeongguk mendorong styrofoam terisi bubur yang hangat dan beraroma gurih kaldu yang lezat. Jeongguk menyelipkan sendok di buburnya untuk Taehyung makan.

“Gguk?”

“Hm?”

Taehyung menyuap buburnya, membiarkan rasa gurih, hangat, dan lembut bubur lumer di mulutnya dan menghangatkan perutnya sebelum melanjutkan. “Bagaimana....?”

“Ya?”

“Bagaimana menurutmu tentang...?”

Jeongguk mendongak dari buburnya, menatap Taehyung yang mengertakkan giginya berusaha membuat dirinya sendiri mengatakannya; melawan selubung trauma tebal yang membuatnya sulit bernapas dan bergerak.

“Tentang?” Bisik Jeongguk lembut, begitu lembut seperti kelopak mawar; membelai kulit Taehyung dengan sensasi yang menakjubkan. Bagaimana bisa dia memiliki nada selembut itu?

“Tentang...” Taehyung memainkan makanannya, mencoba menemukan keberanian lagi untuk melanjutkan kalimatnya. “Tentang... masalahku?”

Jeongguk berhenti makan, dia diam. Sejenak, hanya napasnya yang terdengar dan Taehyung mulai takut dia mungkin sudah mendesak terlalu jauh, memaksakan keberuntungannya yang sangat tipis. Dia tidak berani menatap Jeongguk, menelan asam lambungnya yang mulai merangkak naik bersama anxiety yang tidak pernah ramah padanya.

“Menurutku?” Kata Jeongguk kemudian, setelah beberapa menit yang terasa begitu lama hingga Taehyung mual. Dia tersenyum. “Kau seharusnya tidak mengirimkan foto semacam itu dengan wajahmu.”

Taehyung mengerjap, menatap Jeongguk yang tersenyum separuh. Dia kemudian menyuap buburnya, menelannya sebelum melanjutkan dengan tenang—walaupun setitik getaran tertangkap Taehyung di ujung kalimatnya.

“Tapi, mungkin kau tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini, 'kan?” Dia menatap Taehyung, tidak ada setitik pun rasa jijik yang berkilau di matanya—tidak seperti Taehyung yang selalu membenci dirinya sendiri tiap kali bercermin.

“Maka, mari kita fokus ke masa sekarang dan kedepannya. Jika suatu hari nanti kau merasa ingin mengirimkan foto semacam itu ke kekasihmu, usahakan tidak menyertakan wajahmu di dalamnya. Tidak semua orang yang kautemui dalam hidup itu orang baik.

“Pesanku, jika dia sudah mulai melakukan degrading padamu. Memanggilmu dengan sebutan apa pun yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri, tolong pertimbangkan untuk meninggalkannya.”

Jeongguk menatapnya dan Taehyung tidak bisa memalingkan pandangannya dari tatapan Jeongguk yang menguncinya. Dia begitu hangat, seperti api unggun yang dinyalakan saat berkemah. Menerangi sekitar Taehyung, memberikannya kehangatan dan perasaan nyaman.

“Tidak ada yang boleh mengatakan hal-hal semacam itu pada dirimu. Bahkan tidak dirimu sendiri. Memangnya dia siapa berani memanggilmu dengan kata-kata kasar? Bodoh, tolol atau sebagainya tidak dalam konteks bercanda? Jangan kehilangan dirimu sendiri dalam sebuah hubungan.”

“Dan kau...” Sela Taehyung, mendadak sebelum dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Alis Jeongguk terangkat sebelah, “Aku?” Tanyanya.

“Akankah kau melakukan itu padaku?”

Perlahan, seperti sekuntum bunga—senyuman Jeongguk mekar di wajahnya, membuat wajahnya yang semula berkerut menjadi rileks, melenting seperti senar busur panah setelah anak panahnya dilepaskan.

“Taehyung,” bisiknya lembut.

“Kau mungkin belum tahu tapi,” dia menghela napas dalam-dalam, matanya terpejam saat dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di hatinya dan Taehyung menanti dengan jantung berdebar.

Jeongguk meraih tangannya, menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya yang hangat—nyaris membuat Taehyung ketagihan. Dia ingin terlelap dalam genggaman itu. Dalam sikap lembut Jeongguk yang sabar dan hangat. Namun setengah hatinya, berbisik mengingatkannya tentang bagaimana Hyungsik juga bersikap sangat lembut dan hangat pada awal mula mereka berpacaran sebelum berubah menjadi monster.

Akankah Jeongguk berubah setelah dia menancapkan kuku-kukunya pada Taehyung? Meremukkan Taehyung dalam genggamannya? Menikmati hidup Taehyung yang meluruh dari sela-sela jemarinya, menetes ke kakinya?

“Aku sudah mencintaimu sejak masa inisiasi. Aku berbohong tentang tidak mengingatmu karena aku seorang pengecut yang takut mengakui kebodohanku sendiri dengan membiarkannya membawamu pergi lalu ternyata menghancurkanmu.

“Jika aku tahu dia begini sejak awal, aku tidak akan membiarkanmu jadi dengannya.”

“Tapi,” Jeongguk mendadak menambahkan sebelum Taehyung sempat memikirkan implikasi ganda dalam kalimatnya atau menginterprestasikan kalimatnya barusan. “Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku sekarang atau apa, kau punya seluruh waktu di dunia dan aku sudah menantimu selama dua tahun,”

Dia mengusap jemari Taehyung, menatapnya terpesona sebelum tersenyum dan menambahkan, “Menanti beberapa bulan lagi tidak terdengar buruk kok.”

Dan mengabaikan alarm yang berdering nyaring di kepalanya tentang sentuhan, Taehyung mencondongkan tubuhnya—tidak mengizinkan amygdala-nya bereaksi lalu mengecup pipi Jeongguk. Kecil dan singkat, namun berhasil membuat keduanya tergagap-gagap.

Satu karena kaget dan satu karena tercabik trauma yang tercampur rasa bahagia aneh yang memusingkan.

“Aku,” Taehyung mencoba bicara, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat mengatakannya karena menggigil. “Aku menanti dua tahun untuk mendengarmu mengatakan itu atau menciummu. Aku menanti....” Suara Taehyung lenyap, berubah menjadi ledakan tangis.

Taehyung tidak paham mana yang lebih memusingkan saat ini dan air mata yang terbit ini karena apa—traumanya yang meraung atau rasa bahagianya karena Jeongguk selama ini juga mencintainya. Juga menantinya mengakhiri hubungan yang sulit dilepaskannya dengan Hyungsik.

Atau menertawai mereka karena saling menunggu seperti dua orang bodoh.

Orang bodoh yang jatuh cinta.

Jeongguk tertawa lembut sebelum meremas tangannya semakin erat, “Kau seharusnya tidak menciummu.” Gumamnya lembut dan sayang. “Jadi sedih, 'kan.”

Taehyung melolong namun tak ayal tawa kecil histeris yang asing meloloskan diri dari bibirnya; Taehyung tidak lagi memiliki kendali atas semua emosinya, dia konslet.

“Aku kebingungan!” Rengeknya, berusaha menghentikan tangisnya namun malah semakin membesar—terlalu banyak emosi yang berkecamuk di kepalanya sekarang, membuatnya pusing.

“Boleh aku memelukmu?” Tanya Jeongguk lembut. “Aku bersumpah tidak akan menyentuh lebih dari bahumu.”

Taehyung mengangguk dan Jeongguk meraihnya, lembut sekali dan membenamkannya ke pelukannya. Taehyung menumpukan keningnya di bahu Jeongguk, bernapas dengan mulutnya sementara telapak tangan Jeongguk mengusap punggung atasnya.

“Ssshh... Menangislah, habiskan. Tidak apa-apa. Setelahnya kau akan merasa lebih baik.”

Taehyung menangis semakin keras. Tidak pernah ada orang yang mengatakan 'menangislah' pada Taehyung, semua orang memintanya berhenti menangis. Mengatakan sesuatu tentang tangisan tidak akan menyelesaikan masalah, namun Jeongguk mempersilakannya menangis.

Dan menjanjikannya bahwa setelahnya, semua akan baik-baik saja. Tidak mengkoreksi Taehyung tentang menangis itu hal tidak berguna yang menyebalkan. Dan tidak memintanya 'bersabar'.

“Kau sudah berjuang, kita akan melakukannya perlahan sekarang, ya? Aku akan mengimbangi langkahmu.”

Taehyung meremas pakaian Jeongguk, menangis semakin keras dalam pelukannya. Membiarkan semua lelah, takut, ketegangan, dan traumanya melumer dalam tiap tetes air mata yang membasahi pakaian Jeongguk. Membiarkan dirinya larut dalam perasaannya sendiri.

“Jangan dilawan,” bisik Jeongguk di sela isakannya. “Terima semuanya, biarkan semuanya mengalir dalam pembuluh darahmu dan memenuhimu. Jangan dilawan. Biarkan semua rasa sakit itu menjalar, rasakan setiap detiknya. Setelahnya, kau akan kebal pada rasa itu. Karena kau sudah mengenali emosimu sendiri, kau bisa mengendalikannya.

“Sekarang, kau sedang asing pada perasaan sakit itu. Seperti mengenal seseorang baru,” Jeongguk mengusap rambutnya—menyisirnya dengan jemarinya. “Orang asing akan membuatmu takut, namun semakin kau berkenalan dengannya. Semakin lama kau mengobrol dengannya, kau tidak akan takut lagi padanya, 'kan?”

Taehyung mendengar senyuman dalam kalimat Jeongguk setelahnya. “Hal yang sama terjadi pada emosimu. Berkenalanlah pada rasa sakit itu, kenali apa yang dilakukannya pada tubuhmu. Mengobrol-lah. Lalu setelahnya, kau akan mengenalnya dengan baik dan tidak akan ketakutan lagi pada rasa sakit. Takut dan ketidaktahuan hanya akan membuat emosimu semakin menyakitkan.”

Taehyung meremas kaus Jeongguk, membenamkan wajahnya di bahunya dan kausnya yang basah—berharap dia bisa meleleh di sana, dalam pelukan Jeongguk.

Mungkin jika Hyungsik tidak 'merusak'nya sekali, Taehyung tidak akan tahu bagian mana dari dirinya yang harus diperbaiki.

Dia memeluk Jeongguk semakin erat. Dia punya banyak hal untuk diperbaiki sekarang sebelum dia bisa mencintai Jeongguk sebagaimana pemuda itu layak dicintai dan diapresiasi.

Taehyung akan melakukannya, untuk dirinya sendiri.

*

Patah


cw // violence , harsh words, blood , broken bones .


Jeongguk tidak berhenti untuk mendengarkan siapa pun setelahnya, dia menaiki tangga kosan Jaehyun, tidak berhenti bahkan untuk melepas sepatunya atau menyapa Jaehyun yang berdiri di depan pintunya. Dia melangkah lurus ke kamar Hyungsik yang terkuak, napasnya memburu oleh amarah dan kepalanya derdenyut mengerikan.

Jeongguk langsung mendorongnya terbuka dengan satu tangan dan bertatapan dengan Hyungsik yang berbaring di ranjangnya dengan ponsel di tangannya, sedang terkekeh mengamati entah apa di ponselnya. Suara tawanya, ekspresi di wajahnya, dan ponsel di tangannya—kombinasi itu membuat Jeongguk semakin muak.

Apakah dia sedang melihat foto-foto Taehyung yang akan disebarkannya?

Memikirkannya membuat perut Jeongguk menggelegak seperti gunung berapi, amarahnya meletup-letup hingga membuat napasnya panas.

Hyungsik tidak sempat mengatakan apa pun saat Jeongguk menyambar ponsel di genggamannya lalu meremukkannya dengan melemparnya ke dinding. Benda itu berderak, pecah saat menghantam lantai. Hyungsik terkesiap, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Jeongguk tidak berhenti, dia meraih kerah bajunya—mengandalkan segala amarah dan kejengkelan yang bercokol di dasar perutnya untuk melayangkan pukulan pertama ke rahangnya yang berderak menerimanya.

Hyungsik mengerang keras—kesakitan dan suara itu melecutkan rasa puas dan nikmat ke tubuh Jeongguk. Dan dia kembali melayangkan kepalan tangannya ke wajah Hyungsik.

“Jeongguk! Jeongguk! Berhenti!”

“HEI! Panggil Bapak Kos! Panggil Pak RT! Pisahkan cepat pisahkan!”

“Jeongguk!”

“Hyungsik!”

Namun Jeongguk yang marah tidak mendengarkan apa pun lagi; semua suara melebur menjadi dengung mengganggu dan semua benda di sekitarnya mengabur—dia hanya melihat wajah Hyungsik dan kepalan tangannya. Hyungsik berontak dalam genggamannya, berusaha membalas pukulannya namun Jeongguk unggul karena dia langsung menyerang Hyungsik tanpa memberikan waktu bagi pemuda itu untuk memasang kuda-kuda. Dia sudah terjebak di bawah kungkungan tangan Jeongguk yang mengamuk seperti binatang liar.

Dia menggunakan lututnya untuk menahan dada Hyungsik, menahannya tetap di bawah Jeongguk sementara satu tangannya mencengkeram leher Hyungsik agar tangannya yang lain bisa dengan bebas menghabisinya.

“Hei, pisahkan, Bangsat! Hyungsik bisa mampus!”

Kekacauan di belakang Jeongguk tidak lagi terdengar karena telinganya berdenging oleh kemarahan dan rasa benci. Dia ingin meludahi Hyungsik karena bersikap begitu pengecut tidak mau menerima keputusan Taehyung yang ingin berpisah dan malah balik menyerangnya dengan cara murahan.

“Kau bedebah sialan, kau bangsat tidak tahu diri!” Geram Jeongguk dari sela giginya, melayangkan pukulan demi pukulan ke Hyungsik yang terbaring di kasurnya, dadanya ditekan dengan lututnya. “Kau seharusnya mati, membusuk di neraka! Berani-beraninya kau!”

Dia sudah akan melayangkan pukulan lain ke hidungnya, mematahkan benda sialan itu atau membuat giginya melesak ke tenggorokannya saat seseorang menangkap lengannya. Memaksanya mundur, menariknya dengan kuat hingga Jeongguk meraung—tidak lagi mengenali suaranya sendiri saat dia mendengus berusaha melepaskan diri untuk menghabisi Hyungsik yang sekarang terkapar di kasurnya, dengan darah di wajahnya.

Pemuda itu mengerang kesakitan, berdeguk dengan darah bercampur liur meleleh di sudut bibirnya. Namun Jeongguk tidak berhenti, dia memberontak dari genggaman dua orang di sisinya.

“Kau bajingan tengik!” Raung Jeongguk, menggeram berusaha melepaskan diri dari genggaman orang yang menahannya—dia ingin membunuh Hyungsik, dia ingin menghabisi pemuda itu karena sudah berani memaksakan dirinya selama dua tahun kepada Taehyung.

Dua tahun!

Dan masih berani mencoba menyebarkan semuanya di grup angkatan. Membayangkan apa yang mungkin dikatakan Hyungsik pada Taehyung demi menahannya tetap bersama dia membuat darah Jeongguk mendidih—kepalanya nyeri saat amarah melecut naik merusak akal sehatnya. Dia menggeram, sudah tidak bisa memproses kata-kata dalam bahasa manusia sekarang.

Mereka semua berpikir Hyungsik sudah berhenti, dia akan diam atau setidaknya mengalah. Namun pemuda itu menegakkan tubuhnya, bangkit dari ranjangnya dan mengejang ke arah Jeongguk. Kaget, semua orng berseru dan tidak sengaja melepaskan Jeongguk yang langsung merendah, memasang kuda-kudanya dan mengepalkan tangan kanannya hingga menumbuk wajah Hyungsik—tanpa kekuatan sama sekali karena dia mengandalkan momentum Hyungsik yang melenting ke arahnya.

Dan terdengar suara derak keras dan raungan Hyungsik saat hidungnya patah.

Semua orang terkesiap bersamaan, sudah akan meraih Jeongguk namun pemuda itu bergegas melepaskan diri dari jangkauan semua orang. Jeongguk meraih ponsel Hyungsik di lantai. Membongkarnya hingga menemukan kartu memorinya lalu mematahkannya. Membantingnya ke lantai dan menginjak-injaknya dengan kakinya yang masih terbalut sepatu, memastikan ponsel itu hancur lebur dan melenyapkan buktinya. Dia berbalik ke Hyungsik yang berlutut di lantai, membekap hidungnya yang berdarah.

“Di mana sisanya?” Geramnya murka. “Di mana lagi kau simpan foto sialan itu?”

Hyungsik terkekeh parau, mendesis kesakitan namun harga dirinya tidak mengizinkannya nampak lemah di depan Jeongguk. “Bung,” katanya, mendongak dengan wajah berdarah—menyerigai seperti seorang psikopat. “Dia sendiri yang mengirimkannya padaku. Kau tanya saja padanya. Dia yang dengan senang hati mengirimkannya padaku.”

Dia meludahkan darah ke lantai sebelum tersenyum dengan gigi berlumuran darah, “Bukan salahku, 'kan, jika aku tahu caranya bersenang-senang dengan kekasihku?”

Jeongguk mengejang, siap menyarangkan pukulan lain namun seseorang menahannya. Detik kemudian, para pihak berwenang membubarkan mereka. Jeongguk dan Hyungsik dibawa ke rumah Ketua RW ditemani Yugyeom dan Jaehyun sebagai saksinya. Jeongguk tidak peduli lagi jika dia harus dibawa ke kantor polisi karena ini, dia sudah puas karena berhasil menonjok Hyungsik sesuai yang dia layak dapatkan karena bersikap bedebah.

Namjoon kemudian datang dengan Bogum di telepon, menambahkan bagaimana Hyungsik membuat kekacauan dengan meneror adiknya di kosannya, bersikap bedebah dengan merangsek masuk ke dalam kamar tanpa izin. Dengan adanya dua laporan yang mungkin membuat Ketua RW berpikir dua kali tentang melibatkan polisi, mereka dibebaskan dengan perjanjian Hyungsik harus pindah dari kosannya sekarang.

Mereka langsung mengusir Jeongguk dan Hyungsik dari sana sesegera mungkin. Ketua RT juga menekan pemilik kosan dan Hyungsik agar segera pindah dan tidak membuat kekacauan lagi di wilayah itu. Jika mereke ketahuan lagi, maka mereka akan benar-benar diseret ke kantor polisi.

Seolah Jeongguk benar-benar peduli.

“Jika kau berani dekat-dekat dengan Taehyung lagi, akan kuhabisi kau.” Geram Jeongguk saat mereka bertemu di depan kosan mereka, Hyungsik meludahkan darah lagi ke tanah.

“Jangan menganggapnya suci,” sahut Hyungsik, menyeka lukanya dengan tangannya. “Dia bukan malaikat.” Dia menyerigai lalu meringis kecil dan geli saat lukanya terasa sakit. “Kumaafkan pukulanmu ini Jeongguk.”

“Ya. Dan kau bajingan tengik manipulatif.” Balas Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Jika aku melihat gambar itu di suatu tempat, aku akan mencarimu di mana pun dirimu berada dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk menghabisimu.”

Hyungsik menatapnya, mendenguskan senyuman sebelum berbalik—temannya menemaninya ke rumah sakit untuk mengurus lukanya sementara Jeongguk berdiri di sana, rahang kencang dan amarah masih menggelegak di dasar perutnya saat menyaksikan Hyungsik menaiki mobil temannya dan berlalu.

“Sudah, sudah.” Yugyeom meremas bahunya, “Kau sungguh tidak akan mau merusak catatan kriminalmu demi orang seperti dia.” Gerutunya, mengusap hangat bahu Jeongguk. “Ayo, kita istirahat.”

Jeongguk menggeleng. “Taehyung?” Tanyanya—memikirkan bagaimana keadaan Taehyung sekarang setelah Hyungsik bertingkah di grup angkatan mengancam akan menyebarkan gambar itu.

“Dia bersama Bogum.” Kata Namjoon dengan suara kering dan tegang. “Tidak akan ada yang tahu masalah ini selain kau, aku, Yugyeom, Jaehyun, Bogum dan Taehyung sendiri.”

Jeongguk mengangguk, dia kemudian merogoh sakunya dan bergegas ke motornya. Dia harus menemui Taehyung sekarang, harus memastikan dia baik-baik saja. Jeongguk ingin menyentuhnya, ingin memeluknya—ingin merasakan di telapak tangannya sendiri denyut jantung Taehyung karena dia bisa mati karena khawatir. Dia berhenti di dekat teman-temannya yang menatapnya, semua masih tegang oleh adrenalin.

“Tolong buang jauh-jauh ponselnya. Aku tidak mau dia memperbaikinya lalu apa.” Katanya sebelum berlalu, tanpa menunggu jawaban teman-temannya.

“Yah,” kata Jaehyun kemudian. “Dia secara harfiah meremukkan benda itu, memangnya apa lagi yang bisa diselamatkan?”

Namjoon mengangguk tegang. “Memori internalnya mungkin masih bisa selamat.” Dia kemudian bergegas naik untuk menyelamatkan data Taehyung dari ponsel Hyungsik.

“Sinting.” Kata Yugyeom bergidik setelah Jeongguk berlalu. “Aku belum pernah melihatnya mengamuk begitu.”

Jaehyun mengedikkan bahunya, “Memangnya kaupikir aku pernah?”


Jeongguk berdiri di depan pintu kamar Taehyung, berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu akibat adrenalin menghajar Hyungsik sebelum mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun sebelum kepalan tangannya menyentuh pintu, benda itu terkuak dan wajah Bogum nampak menyembul dari kamar yang gelap.

“Oh, kau.” Bisiknya lalu menyelipkan dirinya keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Gestur itu membuat hati Jeongguk nyeri—menyadari bahwa Taehyung tidak ingin menemuinya sekarang membuatnya mual oleh rasa jijik pada dirinya sendiri karena tidak bisa membuat dirinya sendiri berguna saat Taehyung membutuhkannya. Dia menendang dirinya sendiri karena sok bersikap ksatria saat dulu mendapati Taehyung dekat denga Hyungsik.

Dia seharusnya menyikut pemuda itu mundur dan merebut Taehyung saja. Mereka pasti sudah sangat bahagia sekarang, tidak ada drama apa pun dalam hubungan mereka.

“Sebaiknya kau tidak menemuinya dulu sekarang,” bisik Bogum lagi pada Jeongguk yang berdiri di hadapannya. “Dia terguncang sekali karena kaget pada pesan Hyungsik di grup angkatan kalian. Aku bahkan tidak paham bagaimana bisa dia masuk grup angkatan kalian. Tapi sekarang dia sudah lebih baik—sedikit lebih baik setelah menangis dan mengurung diri.”

Jeongguk menatap pintu yang tertutup di belakang Bogum dengan hati merana. Dia ingin sekali berada di sisi Taehyung sekarang, meyakinkannya bahwa dia sudah menghajar Hyungsik sesuai dengan apa yang layak didapatkannya. Dia sudah mematahkan hidungnya dan itu cukup untuk membuatnya berhenti bersikap bajingan.

“Aku sudah meremukkan ponselnya.” Kata Jeongguk kemudian, kering. “Aku sudah mematahkan kartu memorinya. Mari berharap,” dia merendahkan suaranya. “Dia tidak punya benda itu di mana pun lagi.”

Bogum menatapnya tanpa kata sejenak lalu mendesah. “Kau sudah lihat fotonya, ya?” Tanyanya, nyaris dengan nada menyerah yang memilukan; seperti seorang ayah yang tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi masalah yang menerpa anaknya.

Jeongguk menggeleng tegas. “Tidak, sama sekali.” Katanya dengan jantung menyumbat kerongkongannya. Dia tidak sudi melihatnya, tidak sudi membayangkan perasaan cinta yang memenuhi Taehyung saat mengirimkannya.

Gairah yang mungkin mereka berdua rasakan, pesan-pesan nakal yang dikirimkan Hyungsik yang membuat Taehyung merona dan membalasnya dengan sama nakalnya. Jeongguk ingin muntah.

Bogum merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya sendiri dan mengeluarkan kartu memori mikro dari balik pelindung ponselnya. Dia mengulurkan benda itu ke Jeongguk yang menatapnya hampa.

“Ini data milik Taehyung. Semuanya ada di sana, dia memintaku memusnahkannya saja tapi entah kenapa aku belum melakukannya. Aku mungkin berpikir suatu hari nanti, jika sesuatu terjadi dan ada gambar tidak senonoh yang tersebar, aku bisa memastikannya sendiri.” Bogum menatap kartu mungil di tangannya. “Kau tahu, menyocokkannya.”

Jeongguk menatap kartu memori itu. Setengah dirinya merasa jijik, namun setengahnya lagi merasa simpati. Taehyung mungkin mengirimkannya pada Hyungsik karena dia mencintai pemuda itu, sesuatu di masa lalu yang harus Jeongguk singkirkan dari kepalanya karena sekarang mereka telah berakhir. Atau mungkin bahkan dikirimkan Taehyung di bawah tekanan yang dia tidak pahami—dan dia nyaris mati penasaran pada alasannya.

Namun dia juga tahu dia sebaiknya tidak menanyakan hal ini pada Taehyung sekarang. Tidak saat hal itu membuat Taehyung sangat terguncang dan ketakutan pada tubuhnya sendiri. Maka dia meraih kartu memori itu lalu mematahkannya jadi dua di hadapan Bogum.

“Aku tidak peduli gambar apa yang ada di sini.” Katanya mengembalikan patahan itu ke Bogum yang terpana. “Aku sudah mengancam Hyungsik jika dia berani dekat-dekat Taehyung lagi maka aku akan melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pengutit. Jika polisi tidak menanggapiku serius maka aku sendiri yang akan mencekiknya mati.”

Dia kemudian menatap pintu dan mendesah, “Katakan pada Taehyung kapan saja dia siap, aku akan menemaninya.” Dia menyugar rambutnya, kemudian diam dan menunggu, berharap Taehyung akan mengundangnya masuk—memeluknya atau meminta perlindungannya.

Namun tidak ada suara sama sekali dari dalam sana dan Jeongguk menghela napas. Dia sebaiknya memberikan waktu untuk Taehyung mencerna semuanya. Dia kemudian menatap Bogum yang mengangguk ringan dan menepuk bahunya hangat.

“Trims atas bantuanmu hari ini, Jeongguk.” Bisik Bogum, suaranya gemetar. “Aku bersungguh-sungguh. Terima kasih sudah menyingkirkan bedebah bangsat itu dari adikku.”

Jeongguk mengangguk kaku, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya—berdenyut karena nyeri digunakan menghajar wajah Hyungsik, menyadari dia harus mengobatinya nanti. Dia menggerakkan jemarinya—membuka dan menutup kepalan tangannya, merasakan nyeri menjalar di jemarinya.

Perasaan Jeongguk terasa bergolak sekarang—bingung, marah, jijik dan juga meradang. Dia ingin meredakannya dengan sesuatu; mungkin melihat Taehyung yang baik-baik saja? Atau memeluknya? Namun dia juga paham jika Taehyung butuh menyendiri sekarang, dia butuh ditemani orang yang dipercayainya.

Dan itu adalah Bogum, untuk saat ini.

“Seharusnya aku melakukannya sejak dulu,” sahutnya kemudian penuh racun dan merasakan amarah dan kebencian akan Hyungsik merekah di dadanya yang nyeri.

“Alih-alih menunggu dua tahun.”

*