Mozzarella Corndog

Cerita.


tw // aggressive and manipulative ex-boyfriend , toxic relationship , consensual sexting , attempt for blackmailing , mention of sex tape and nude pictures , body dismorphia , self-loathing .

ps. well, I was listening to BTS – Fix You (cover) while writing this one because why not


Taehyung mengamati Jeongguk yang duduk di hadapannya, nyaman dalam balutan celana longgar dan baju lengan panjang mempersiapkan bubur ayam yang dibelinya tadi untuk Taehyung.

Dia membuka jendela Taehyung, membiarkan cahaya matahari akhirnya memasuki ruangan setelah nyaris dua minggu lamanya Taehyung terkurung dalam kegelapan. Debu-debu menari di pilar cahaya yang menyusup masuk dari jendela, suara anak-anak yang bermain, obrolan para ibu-ibu dan juga penjaja makanan terdengar sayup-sayup hingga ke telinga Taehyung.

Dia lupa bagaimana rasanya hidup semenjak Hyungsik mengirimkannya pesanan ancaman akan menyebarkan semua foto dan video mereka jika Taehyung tidak kembali padanya. Butuh keberanian dan waktu hingga akhirnya Taehyung berani membela dirinya sendiri, memutuskan untuk bangkit dari tekanan Hyungsik yang selama dua tahun menginjaknya.

Taehyung tidak pernah berpikir Hyungsik akan bersikap sangat manipulatif dan agresif dalam hubungan mereka. Selama ini, hanya keputusannyalah yang digunakan untuk mereka berdua, dia mendikte apa yang harus Taehyung lakukan dan tidak mengizinkan Taehyung memiliki daya atas kehidupannya sendiri; Taehyung nyaris tidak memiliki suara dalam hubungan mereka ini.

Hidup Taehyung terasa retak dan berhamburan di sekitarnya saat Hyungsik mulai mengirimkan banyak sekali pesan mengancam ke ponselnya hingga akhirnya dia memblokir nomornya dari semua aplikasi obrolan dan menonaktifkan sosial medianya. Menghindari Hyungsik.

Namun tetap tidak cukup. Pemuda itu masih selalu menghantuinya. Taehyung masih sering bermimpi buruk tentang bagaimana dia menaiki tangga kosan Taehyung dan berusaha mendobrak masuk ke kamarnya; teringat bagaimana teriakan menggores kerongkongannya saat dia berteriak memanggil Bogum yang langsung membawa pemilik kos mereka naik untuk menghentikannya.

Taehyung rusak, dan dia tidak yakin apakah dia bisa diperbaiki.

Setidaknya sampai sebelum dia bertemu Jeongguk kembali.

Jeongguk merupakan salah satu dari sekian banyak tema pertengkarannya dengan Hyungsik selama ini. Taehyung sudah berusaha melepaskan diri dari Jeongguk, menjaga jarak dan bahkan menghapus nomornya dari ponsel. Namun tidak cukup bagi Hyungsik. Bahkan jika Taehyung berpapasan dengan Jeongguk di lorong pun itu merupakan kesalahan Taehyung baginya. Maka puncaknya adalah saat Taehyung bergabung dengan kepanitiaan di divisi yang diketuai oleh Jeongguk.

Dia masih merinding tiap kali teringat bagaimana Hyungsik meninggikan suaranya dan mengayunkan tangannya. Taehyung sudah memejamkan matanya, siap menerima pukulan itu lagi sebelum akhirnya dia muak—sungguh muak pada hubungan mereka dan memberanikan diri menangkap tangan Hyungsik yang sudah nyaris menamparnya.

Taehyung gemetar hebat saat dia menepis tangan Hyungsik yang terpana karena dia berani melawan dan membalas semua perkataan Hyungsik sebelum berlalu dari sana. Teror mencengkeramnya kuat-kuat saat dia akhirnya melunglai di tangga kosan, dibantu naik oleh salah satu teman kosnya.

Satu hari setelah mereka berakhir, semuanya damai. Sangat damai hingga Taehyung merasa tegang—apakah Hyungsik benar-benar melepaskannya begitu saja setelah dua tahun ini bersikap bajingan dengan ancaman semua foto telanjang dan rekaman seks mereka?

Dan keesokan harinyalah serangkaian teror yang membuat Taehyung muntah-muntah dimulai.

Hyungsik tidak mengatakan apa pun, dia hanya mengirimkan gambar-gambar Taehyung kembali padanya. Satu per satu, potongan video seks mereka—menit demi menit. Tanpa pesan apa pun, hanya gambar dan potongan video. Hingga akhirnya suasana jadi di luar kendali Taehyung.

Semua orang tahu mereka berakhir, tiba-tiba saja semua orang tahu sikap Hyungsik selama ini—mengaitkan hari di mana Taehyung muncul dengan concealer lumayan tebal untuk menyembunyikan lebam di tulang pipinya karena Hyungsik; namun sepertinya seseorang menyadarinya. Lalu DPA mereka memanggil Hyungsik yang memulai teror lain yang jauh lebih mengerikan.

Lalu kemudian, Jeongguk datang.

“Tae? Kau bisa mengikuti rapat terakhir hari ini, 'kan?”

“Kau tidak apa-apa?”

Taehyung mengerjap, mendongak dari pangkuannya dan bertatapan dengan Jeongguk yang menatapnya cemas. “Oh? Eh?” Katanya, bergegas menyeka air mata dari sudut matanya dan menenangkan dirinya sendiri.

“Kau gemetar.” Jeongguk hendak meraih tangannya, namun berhenti dan menarik tangannya kembali. Gestur yang sangat dihargai Taehyung karena dia tidak terlalu suka disentuh mendadak sekarang—dia bahkan tidak yakin dia bisa menjabat tangan seseorang.

Taehyung menatap telapak tangannya, menyadari getar halus yang merambat di jemarinya sebelum kemudian mengulurkannya—tidak melepaskan pandangannya dari jemarinya sendiri yang sekarang nampak sangat asing ke arah Jeongguk. Dia ingin Jeongguk menggenggamnya karena dia memperlakukan Taehyung selembut beledu—mengusap semua rasa sakit Taehyung, mengobatinya.

Pemuda itu langsung meraihnya, nyaris seperti meraih pelampung yang akan menyelamatkannya dari bentangan samudera yang dingin lalu menangkupnya dengan kedua tangannya. Rasa hangat seketika menjalar di ujung-ujung jemari Taehyung, meredakan getaran di tubuhnya dan menyuntikkan rasa aman serta nyaman ke otaknya yang berkerut.

“Tenang,” bisik Jeongguk, tersenyum dan meremas lembut tangan Taehyung dalam genggamannya. “Kau aman.”

Dan Taehyung mempercayainya, begitu saja.

Jeongguk selalu memperlakukannya dengan lembut, seolah Taehyung adalah benda pecah belah yang harus diperhatikan secara khusus. Selalu menanyakan kebutuhannya, mendahulukan kenyamanannya dan membantu Taehyung kembali bernyawa tanpa memaksakan kehendaknya. Dia pintar dengan kata-katanya; tidak terdengar menggurui, tidak terdengar menyerang, hanya memberikan pendapatnya. Hanya membuat Taehyung merasa lebih baik.

Mungkin karena Taehyung diam-diam menyukainya selama inilah yang membuat segala hal tentang Jeongguk terasa menyenangkan; seperti menyesap gulali yang perlahan larut bersama salivanya, meluncur turun di tenggorokannya dan menyisakan rasa manis lengket di permukaan lidah serta sela-sela geliginya.

Jemarinya menyelip di jemari Jeongguk dan pemuda itu tersenyum, mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya.

“Mau kusuapi makan, Kittin?” Tanyanya setengah menggoda tipis dan Taehyung tersenyum.

Duduk di kamarnya yang sekarang terang benderang dan hangat, ditemani Jeongguk dan makanan yang untuk pertama kalinya beraroma menggugah seleranya; Taehyung merasa kembali hidup. Merasakan harapan yang hangat kembali bernapas dan berdetak bersama jantungnya dan membuat kepalanya ringan.

Jika saja dia bisa memberi tahu Jeongguk segalanya tentang ini.

“Aku bisa.” Taehyung menjawab parau, hendak menarik tangannya yang sekarang terasa cukup hangat.

“Tapi aku tidak mau melepaskan tanganmu.” Sahut Jeongguk setengah merengek dan Taehyung tersenyum simpul; hatinya merekah, seperti sekuntum bunga karena cinta yang mekar.

Sesak, namun kali ini oleh rasa bahagia yang tak terperi. Tidak lagi karena ketakutan yang menghimpitnya.

“Kau harus.” Balas Taehyung, berpura-pura mendelik hingga Jeongguk mendesah berat lalu di luar dugaannya sendiri, pemuda itu mengangkat tangannya lalu mengecup buku jari Taehyung sebelum melepasnya.

Sesuatu meledak dalam diri Taehyung—menakjubkan sekali rasanya. Kepalanya terasa ringan, perutnya mengejang aneh, dan hatinya. Hatinya yang malang terasa sangat sesak, penuh oleh kasih yang tidak lagi bisa dibendungnya. Jeongguk selalu memperlakukannya dengan lembut, selalu membuatnya nyaman, dan selalu membuatnya mabuk.

Tidak terhitung berapa kali Taehyung dengan sengaja menatapnya tiap kali melewati kelas yang ditempatinya. Atau saat mereka bergiliran menggunakan lab setelah kelas Jeongguk; hal-hal sesederhana mengenali sepatu Jeongguk di rak sepatu di depan lab sudah terasa sangat mendebarkan.

Dia suka melirik Jeongguk saat dia keluar meraih sepatunya, tertawa bersama Yugyeom sebelum duduk di lorong menggunakan sepatunya. Lalu mengutuk dirinya sendiri karena mencintai kekasih orang lain.

Siapa sangka ternyata semua hanya salah paham konyol.

“Jika nanti tanganku merindukan tanganmu, kau harus memberikannya.” Tambah Jeongguk lalu menunduk ke makanan mereka, menyiapkannya untuk Taehyung sementara pemuda yang baru saja dikecupnya termangu-mangu.

Tempat di mana Jeongguk menciumnya tadi terasa basah dan geli, dia ingin mengusapnya namun tidak ingin menghapus bekas bibir Jeongguk dari sana. Setengah dirinya yang masih merontak karena jijik pada dirinya sendiri, sekarang menangis karena sentuhan itu namun sisi lainnya yang mabuk kepayang oleh Jeongguk sedang bernyanyi gembira.

Maka Taehyung memutuskan untuk memfokuskan perhatiannya pada konser lagu-lagu cinta itu alih-alih pada tangisan dan ratapan.

“Silakan makan,” Jeongguk mendorong styrofoam terisi bubur yang hangat dan beraroma gurih kaldu yang lezat. Jeongguk menyelipkan sendok di buburnya untuk Taehyung makan.

“Gguk?”

“Hm?”

Taehyung menyuap buburnya, membiarkan rasa gurih, hangat, dan lembut bubur lumer di mulutnya dan menghangatkan perutnya sebelum melanjutkan. “Bagaimana....?”

“Ya?”

“Bagaimana menurutmu tentang...?”

Jeongguk mendongak dari buburnya, menatap Taehyung yang mengertakkan giginya berusaha membuat dirinya sendiri mengatakannya; melawan selubung trauma tebal yang membuatnya sulit bernapas dan bergerak.

“Tentang?” Bisik Jeongguk lembut, begitu lembut seperti kelopak mawar; membelai kulit Taehyung dengan sensasi yang menakjubkan. Bagaimana bisa dia memiliki nada selembut itu?

“Tentang...” Taehyung memainkan makanannya, mencoba menemukan keberanian lagi untuk melanjutkan kalimatnya. “Tentang... masalahku?”

Jeongguk berhenti makan, dia diam. Sejenak, hanya napasnya yang terdengar dan Taehyung mulai takut dia mungkin sudah mendesak terlalu jauh, memaksakan keberuntungannya yang sangat tipis. Dia tidak berani menatap Jeongguk, menelan asam lambungnya yang mulai merangkak naik bersama anxiety yang tidak pernah ramah padanya.

“Menurutku?” Kata Jeongguk kemudian, setelah beberapa menit yang terasa begitu lama hingga Taehyung mual. Dia tersenyum. “Kau seharusnya tidak mengirimkan foto semacam itu dengan wajahmu.”

Taehyung mengerjap, menatap Jeongguk yang tersenyum separuh. Dia kemudian menyuap buburnya, menelannya sebelum melanjutkan dengan tenang—walaupun setitik getaran tertangkap Taehyung di ujung kalimatnya.

“Tapi, mungkin kau tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini, 'kan?” Dia menatap Taehyung, tidak ada setitik pun rasa jijik yang berkilau di matanya—tidak seperti Taehyung yang selalu membenci dirinya sendiri tiap kali bercermin.

“Maka, mari kita fokus ke masa sekarang dan kedepannya. Jika suatu hari nanti kau merasa ingin mengirimkan foto semacam itu ke kekasihmu, usahakan tidak menyertakan wajahmu di dalamnya. Tidak semua orang yang kautemui dalam hidup itu orang baik.

“Pesanku, jika dia sudah mulai melakukan degrading padamu. Memanggilmu dengan sebutan apa pun yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan dirimu sendiri, tolong pertimbangkan untuk meninggalkannya.”

Jeongguk menatapnya dan Taehyung tidak bisa memalingkan pandangannya dari tatapan Jeongguk yang menguncinya. Dia begitu hangat, seperti api unggun yang dinyalakan saat berkemah. Menerangi sekitar Taehyung, memberikannya kehangatan dan perasaan nyaman.

“Tidak ada yang boleh mengatakan hal-hal semacam itu pada dirimu. Bahkan tidak dirimu sendiri. Memangnya dia siapa berani memanggilmu dengan kata-kata kasar? Bodoh, tolol atau sebagainya tidak dalam konteks bercanda? Jangan kehilangan dirimu sendiri dalam sebuah hubungan.”

“Dan kau...” Sela Taehyung, mendadak sebelum dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Alis Jeongguk terangkat sebelah, “Aku?” Tanyanya.

“Akankah kau melakukan itu padaku?”

Perlahan, seperti sekuntum bunga—senyuman Jeongguk mekar di wajahnya, membuat wajahnya yang semula berkerut menjadi rileks, melenting seperti senar busur panah setelah anak panahnya dilepaskan.

“Taehyung,” bisiknya lembut.

“Kau mungkin belum tahu tapi,” dia menghela napas dalam-dalam, matanya terpejam saat dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di hatinya dan Taehyung menanti dengan jantung berdebar.

Jeongguk meraih tangannya, menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya yang hangat—nyaris membuat Taehyung ketagihan. Dia ingin terlelap dalam genggaman itu. Dalam sikap lembut Jeongguk yang sabar dan hangat. Namun setengah hatinya, berbisik mengingatkannya tentang bagaimana Hyungsik juga bersikap sangat lembut dan hangat pada awal mula mereka berpacaran sebelum berubah menjadi monster.

Akankah Jeongguk berubah setelah dia menancapkan kuku-kukunya pada Taehyung? Meremukkan Taehyung dalam genggamannya? Menikmati hidup Taehyung yang meluruh dari sela-sela jemarinya, menetes ke kakinya?

“Aku sudah mencintaimu sejak masa inisiasi. Aku berbohong tentang tidak mengingatmu karena aku seorang pengecut yang takut mengakui kebodohanku sendiri dengan membiarkannya membawamu pergi lalu ternyata menghancurkanmu.

“Jika aku tahu dia begini sejak awal, aku tidak akan membiarkanmu jadi dengannya.”

“Tapi,” Jeongguk mendadak menambahkan sebelum Taehyung sempat memikirkan implikasi ganda dalam kalimatnya atau menginterprestasikan kalimatnya barusan. “Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku sekarang atau apa, kau punya seluruh waktu di dunia dan aku sudah menantimu selama dua tahun,”

Dia mengusap jemari Taehyung, menatapnya terpesona sebelum tersenyum dan menambahkan, “Menanti beberapa bulan lagi tidak terdengar buruk kok.”

Dan mengabaikan alarm yang berdering nyaring di kepalanya tentang sentuhan, Taehyung mencondongkan tubuhnya—tidak mengizinkan amygdala-nya bereaksi lalu mengecup pipi Jeongguk. Kecil dan singkat, namun berhasil membuat keduanya tergagap-gagap.

Satu karena kaget dan satu karena tercabik trauma yang tercampur rasa bahagia aneh yang memusingkan.

“Aku,” Taehyung mencoba bicara, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat mengatakannya karena menggigil. “Aku menanti dua tahun untuk mendengarmu mengatakan itu atau menciummu. Aku menanti....” Suara Taehyung lenyap, berubah menjadi ledakan tangis.

Taehyung tidak paham mana yang lebih memusingkan saat ini dan air mata yang terbit ini karena apa—traumanya yang meraung atau rasa bahagianya karena Jeongguk selama ini juga mencintainya. Juga menantinya mengakhiri hubungan yang sulit dilepaskannya dengan Hyungsik.

Atau menertawai mereka karena saling menunggu seperti dua orang bodoh.

Orang bodoh yang jatuh cinta.

Jeongguk tertawa lembut sebelum meremas tangannya semakin erat, “Kau seharusnya tidak menciummu.” Gumamnya lembut dan sayang. “Jadi sedih, 'kan.”

Taehyung melolong namun tak ayal tawa kecil histeris yang asing meloloskan diri dari bibirnya; Taehyung tidak lagi memiliki kendali atas semua emosinya, dia konslet.

“Aku kebingungan!” Rengeknya, berusaha menghentikan tangisnya namun malah semakin membesar—terlalu banyak emosi yang berkecamuk di kepalanya sekarang, membuatnya pusing.

“Boleh aku memelukmu?” Tanya Jeongguk lembut. “Aku bersumpah tidak akan menyentuh lebih dari bahumu.”

Taehyung mengangguk dan Jeongguk meraihnya, lembut sekali dan membenamkannya ke pelukannya. Taehyung menumpukan keningnya di bahu Jeongguk, bernapas dengan mulutnya sementara telapak tangan Jeongguk mengusap punggung atasnya.

“Ssshh... Menangislah, habiskan. Tidak apa-apa. Setelahnya kau akan merasa lebih baik.”

Taehyung menangis semakin keras. Tidak pernah ada orang yang mengatakan 'menangislah' pada Taehyung, semua orang memintanya berhenti menangis. Mengatakan sesuatu tentang tangisan tidak akan menyelesaikan masalah, namun Jeongguk mempersilakannya menangis.

Dan menjanjikannya bahwa setelahnya, semua akan baik-baik saja. Tidak mengkoreksi Taehyung tentang menangis itu hal tidak berguna yang menyebalkan. Dan tidak memintanya 'bersabar'.

“Kau sudah berjuang, kita akan melakukannya perlahan sekarang, ya? Aku akan mengimbangi langkahmu.”

Taehyung meremas pakaian Jeongguk, menangis semakin keras dalam pelukannya. Membiarkan semua lelah, takut, ketegangan, dan traumanya melumer dalam tiap tetes air mata yang membasahi pakaian Jeongguk. Membiarkan dirinya larut dalam perasaannya sendiri.

“Jangan dilawan,” bisik Jeongguk di sela isakannya. “Terima semuanya, biarkan semuanya mengalir dalam pembuluh darahmu dan memenuhimu. Jangan dilawan. Biarkan semua rasa sakit itu menjalar, rasakan setiap detiknya. Setelahnya, kau akan kebal pada rasa itu. Karena kau sudah mengenali emosimu sendiri, kau bisa mengendalikannya.

“Sekarang, kau sedang asing pada perasaan sakit itu. Seperti mengenal seseorang baru,” Jeongguk mengusap rambutnya—menyisirnya dengan jemarinya. “Orang asing akan membuatmu takut, namun semakin kau berkenalan dengannya. Semakin lama kau mengobrol dengannya, kau tidak akan takut lagi padanya, 'kan?”

Taehyung mendengar senyuman dalam kalimat Jeongguk setelahnya. “Hal yang sama terjadi pada emosimu. Berkenalanlah pada rasa sakit itu, kenali apa yang dilakukannya pada tubuhmu. Mengobrol-lah. Lalu setelahnya, kau akan mengenalnya dengan baik dan tidak akan ketakutan lagi pada rasa sakit. Takut dan ketidaktahuan hanya akan membuat emosimu semakin menyakitkan.”

Taehyung meremas kaus Jeongguk, membenamkan wajahnya di bahunya dan kausnya yang basah—berharap dia bisa meleleh di sana, dalam pelukan Jeongguk.

Mungkin jika Hyungsik tidak 'merusak'nya sekali, Taehyung tidak akan tahu bagian mana dari dirinya yang harus diperbaiki.

Dia memeluk Jeongguk semakin erat. Dia punya banyak hal untuk diperbaiki sekarang sebelum dia bisa mencintai Jeongguk sebagaimana pemuda itu layak dicintai dan diapresiasi.

Taehyung akan melakukannya, untuk dirinya sendiri.

*