Mozzarella Corndog

Patah


cw // violence , harsh words, blood , broken bones .


Jeongguk tidak berhenti untuk mendengarkan siapa pun setelahnya, dia menaiki tangga kosan Jaehyun, tidak berhenti bahkan untuk melepas sepatunya atau menyapa Jaehyun yang berdiri di depan pintunya. Dia melangkah lurus ke kamar Hyungsik yang terkuak, napasnya memburu oleh amarah dan kepalanya derdenyut mengerikan.

Jeongguk langsung mendorongnya terbuka dengan satu tangan dan bertatapan dengan Hyungsik yang berbaring di ranjangnya dengan ponsel di tangannya, sedang terkekeh mengamati entah apa di ponselnya. Suara tawanya, ekspresi di wajahnya, dan ponsel di tangannya—kombinasi itu membuat Jeongguk semakin muak.

Apakah dia sedang melihat foto-foto Taehyung yang akan disebarkannya?

Memikirkannya membuat perut Jeongguk menggelegak seperti gunung berapi, amarahnya meletup-letup hingga membuat napasnya panas.

Hyungsik tidak sempat mengatakan apa pun saat Jeongguk menyambar ponsel di genggamannya lalu meremukkannya dengan melemparnya ke dinding. Benda itu berderak, pecah saat menghantam lantai. Hyungsik terkesiap, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Jeongguk tidak berhenti, dia meraih kerah bajunya—mengandalkan segala amarah dan kejengkelan yang bercokol di dasar perutnya untuk melayangkan pukulan pertama ke rahangnya yang berderak menerimanya.

Hyungsik mengerang keras—kesakitan dan suara itu melecutkan rasa puas dan nikmat ke tubuh Jeongguk. Dan dia kembali melayangkan kepalan tangannya ke wajah Hyungsik.

“Jeongguk! Jeongguk! Berhenti!”

“HEI! Panggil Bapak Kos! Panggil Pak RT! Pisahkan cepat pisahkan!”

“Jeongguk!”

“Hyungsik!”

Namun Jeongguk yang marah tidak mendengarkan apa pun lagi; semua suara melebur menjadi dengung mengganggu dan semua benda di sekitarnya mengabur—dia hanya melihat wajah Hyungsik dan kepalan tangannya. Hyungsik berontak dalam genggamannya, berusaha membalas pukulannya namun Jeongguk unggul karena dia langsung menyerang Hyungsik tanpa memberikan waktu bagi pemuda itu untuk memasang kuda-kuda. Dia sudah terjebak di bawah kungkungan tangan Jeongguk yang mengamuk seperti binatang liar.

Dia menggunakan lututnya untuk menahan dada Hyungsik, menahannya tetap di bawah Jeongguk sementara satu tangannya mencengkeram leher Hyungsik agar tangannya yang lain bisa dengan bebas menghabisinya.

“Hei, pisahkan, Bangsat! Hyungsik bisa mampus!”

Kekacauan di belakang Jeongguk tidak lagi terdengar karena telinganya berdenging oleh kemarahan dan rasa benci. Dia ingin meludahi Hyungsik karena bersikap begitu pengecut tidak mau menerima keputusan Taehyung yang ingin berpisah dan malah balik menyerangnya dengan cara murahan.

“Kau bedebah sialan, kau bangsat tidak tahu diri!” Geram Jeongguk dari sela giginya, melayangkan pukulan demi pukulan ke Hyungsik yang terbaring di kasurnya, dadanya ditekan dengan lututnya. “Kau seharusnya mati, membusuk di neraka! Berani-beraninya kau!”

Dia sudah akan melayangkan pukulan lain ke hidungnya, mematahkan benda sialan itu atau membuat giginya melesak ke tenggorokannya saat seseorang menangkap lengannya. Memaksanya mundur, menariknya dengan kuat hingga Jeongguk meraung—tidak lagi mengenali suaranya sendiri saat dia mendengus berusaha melepaskan diri untuk menghabisi Hyungsik yang sekarang terkapar di kasurnya, dengan darah di wajahnya.

Pemuda itu mengerang kesakitan, berdeguk dengan darah bercampur liur meleleh di sudut bibirnya. Namun Jeongguk tidak berhenti, dia memberontak dari genggaman dua orang di sisinya.

“Kau bajingan tengik!” Raung Jeongguk, menggeram berusaha melepaskan diri dari genggaman orang yang menahannya—dia ingin membunuh Hyungsik, dia ingin menghabisi pemuda itu karena sudah berani memaksakan dirinya selama dua tahun kepada Taehyung.

Dua tahun!

Dan masih berani mencoba menyebarkan semuanya di grup angkatan. Membayangkan apa yang mungkin dikatakan Hyungsik pada Taehyung demi menahannya tetap bersama dia membuat darah Jeongguk mendidih—kepalanya nyeri saat amarah melecut naik merusak akal sehatnya. Dia menggeram, sudah tidak bisa memproses kata-kata dalam bahasa manusia sekarang.

Mereka semua berpikir Hyungsik sudah berhenti, dia akan diam atau setidaknya mengalah. Namun pemuda itu menegakkan tubuhnya, bangkit dari ranjangnya dan mengejang ke arah Jeongguk. Kaget, semua orng berseru dan tidak sengaja melepaskan Jeongguk yang langsung merendah, memasang kuda-kudanya dan mengepalkan tangan kanannya hingga menumbuk wajah Hyungsik—tanpa kekuatan sama sekali karena dia mengandalkan momentum Hyungsik yang melenting ke arahnya.

Dan terdengar suara derak keras dan raungan Hyungsik saat hidungnya patah.

Semua orang terkesiap bersamaan, sudah akan meraih Jeongguk namun pemuda itu bergegas melepaskan diri dari jangkauan semua orang. Jeongguk meraih ponsel Hyungsik di lantai. Membongkarnya hingga menemukan kartu memorinya lalu mematahkannya. Membantingnya ke lantai dan menginjak-injaknya dengan kakinya yang masih terbalut sepatu, memastikan ponsel itu hancur lebur dan melenyapkan buktinya. Dia berbalik ke Hyungsik yang berlutut di lantai, membekap hidungnya yang berdarah.

“Di mana sisanya?” Geramnya murka. “Di mana lagi kau simpan foto sialan itu?”

Hyungsik terkekeh parau, mendesis kesakitan namun harga dirinya tidak mengizinkannya nampak lemah di depan Jeongguk. “Bung,” katanya, mendongak dengan wajah berdarah—menyerigai seperti seorang psikopat. “Dia sendiri yang mengirimkannya padaku. Kau tanya saja padanya. Dia yang dengan senang hati mengirimkannya padaku.”

Dia meludahkan darah ke lantai sebelum tersenyum dengan gigi berlumuran darah, “Bukan salahku, 'kan, jika aku tahu caranya bersenang-senang dengan kekasihku?”

Jeongguk mengejang, siap menyarangkan pukulan lain namun seseorang menahannya. Detik kemudian, para pihak berwenang membubarkan mereka. Jeongguk dan Hyungsik dibawa ke rumah Ketua RW ditemani Yugyeom dan Jaehyun sebagai saksinya. Jeongguk tidak peduli lagi jika dia harus dibawa ke kantor polisi karena ini, dia sudah puas karena berhasil menonjok Hyungsik sesuai yang dia layak dapatkan karena bersikap bedebah.

Namjoon kemudian datang dengan Bogum di telepon, menambahkan bagaimana Hyungsik membuat kekacauan dengan meneror adiknya di kosannya, bersikap bedebah dengan merangsek masuk ke dalam kamar tanpa izin. Dengan adanya dua laporan yang mungkin membuat Ketua RW berpikir dua kali tentang melibatkan polisi, mereka dibebaskan dengan perjanjian Hyungsik harus pindah dari kosannya sekarang.

Mereka langsung mengusir Jeongguk dan Hyungsik dari sana sesegera mungkin. Ketua RT juga menekan pemilik kosan dan Hyungsik agar segera pindah dan tidak membuat kekacauan lagi di wilayah itu. Jika mereke ketahuan lagi, maka mereka akan benar-benar diseret ke kantor polisi.

Seolah Jeongguk benar-benar peduli.

“Jika kau berani dekat-dekat dengan Taehyung lagi, akan kuhabisi kau.” Geram Jeongguk saat mereka bertemu di depan kosan mereka, Hyungsik meludahkan darah lagi ke tanah.

“Jangan menganggapnya suci,” sahut Hyungsik, menyeka lukanya dengan tangannya. “Dia bukan malaikat.” Dia menyerigai lalu meringis kecil dan geli saat lukanya terasa sakit. “Kumaafkan pukulanmu ini Jeongguk.”

“Ya. Dan kau bajingan tengik manipulatif.” Balas Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Jika aku melihat gambar itu di suatu tempat, aku akan mencarimu di mana pun dirimu berada dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku untuk menghabisimu.”

Hyungsik menatapnya, mendenguskan senyuman sebelum berbalik—temannya menemaninya ke rumah sakit untuk mengurus lukanya sementara Jeongguk berdiri di sana, rahang kencang dan amarah masih menggelegak di dasar perutnya saat menyaksikan Hyungsik menaiki mobil temannya dan berlalu.

“Sudah, sudah.” Yugyeom meremas bahunya, “Kau sungguh tidak akan mau merusak catatan kriminalmu demi orang seperti dia.” Gerutunya, mengusap hangat bahu Jeongguk. “Ayo, kita istirahat.”

Jeongguk menggeleng. “Taehyung?” Tanyanya—memikirkan bagaimana keadaan Taehyung sekarang setelah Hyungsik bertingkah di grup angkatan mengancam akan menyebarkan gambar itu.

“Dia bersama Bogum.” Kata Namjoon dengan suara kering dan tegang. “Tidak akan ada yang tahu masalah ini selain kau, aku, Yugyeom, Jaehyun, Bogum dan Taehyung sendiri.”

Jeongguk mengangguk, dia kemudian merogoh sakunya dan bergegas ke motornya. Dia harus menemui Taehyung sekarang, harus memastikan dia baik-baik saja. Jeongguk ingin menyentuhnya, ingin memeluknya—ingin merasakan di telapak tangannya sendiri denyut jantung Taehyung karena dia bisa mati karena khawatir. Dia berhenti di dekat teman-temannya yang menatapnya, semua masih tegang oleh adrenalin.

“Tolong buang jauh-jauh ponselnya. Aku tidak mau dia memperbaikinya lalu apa.” Katanya sebelum berlalu, tanpa menunggu jawaban teman-temannya.

“Yah,” kata Jaehyun kemudian. “Dia secara harfiah meremukkan benda itu, memangnya apa lagi yang bisa diselamatkan?”

Namjoon mengangguk tegang. “Memori internalnya mungkin masih bisa selamat.” Dia kemudian bergegas naik untuk menyelamatkan data Taehyung dari ponsel Hyungsik.

“Sinting.” Kata Yugyeom bergidik setelah Jeongguk berlalu. “Aku belum pernah melihatnya mengamuk begitu.”

Jaehyun mengedikkan bahunya, “Memangnya kaupikir aku pernah?”


Jeongguk berdiri di depan pintu kamar Taehyung, berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu akibat adrenalin menghajar Hyungsik sebelum mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun sebelum kepalan tangannya menyentuh pintu, benda itu terkuak dan wajah Bogum nampak menyembul dari kamar yang gelap.

“Oh, kau.” Bisiknya lalu menyelipkan dirinya keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Gestur itu membuat hati Jeongguk nyeri—menyadari bahwa Taehyung tidak ingin menemuinya sekarang membuatnya mual oleh rasa jijik pada dirinya sendiri karena tidak bisa membuat dirinya sendiri berguna saat Taehyung membutuhkannya. Dia menendang dirinya sendiri karena sok bersikap ksatria saat dulu mendapati Taehyung dekat denga Hyungsik.

Dia seharusnya menyikut pemuda itu mundur dan merebut Taehyung saja. Mereka pasti sudah sangat bahagia sekarang, tidak ada drama apa pun dalam hubungan mereka.

“Sebaiknya kau tidak menemuinya dulu sekarang,” bisik Bogum lagi pada Jeongguk yang berdiri di hadapannya. “Dia terguncang sekali karena kaget pada pesan Hyungsik di grup angkatan kalian. Aku bahkan tidak paham bagaimana bisa dia masuk grup angkatan kalian. Tapi sekarang dia sudah lebih baik—sedikit lebih baik setelah menangis dan mengurung diri.”

Jeongguk menatap pintu yang tertutup di belakang Bogum dengan hati merana. Dia ingin sekali berada di sisi Taehyung sekarang, meyakinkannya bahwa dia sudah menghajar Hyungsik sesuai dengan apa yang layak didapatkannya. Dia sudah mematahkan hidungnya dan itu cukup untuk membuatnya berhenti bersikap bajingan.

“Aku sudah meremukkan ponselnya.” Kata Jeongguk kemudian, kering. “Aku sudah mematahkan kartu memorinya. Mari berharap,” dia merendahkan suaranya. “Dia tidak punya benda itu di mana pun lagi.”

Bogum menatapnya tanpa kata sejenak lalu mendesah. “Kau sudah lihat fotonya, ya?” Tanyanya, nyaris dengan nada menyerah yang memilukan; seperti seorang ayah yang tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi masalah yang menerpa anaknya.

Jeongguk menggeleng tegas. “Tidak, sama sekali.” Katanya dengan jantung menyumbat kerongkongannya. Dia tidak sudi melihatnya, tidak sudi membayangkan perasaan cinta yang memenuhi Taehyung saat mengirimkannya.

Gairah yang mungkin mereka berdua rasakan, pesan-pesan nakal yang dikirimkan Hyungsik yang membuat Taehyung merona dan membalasnya dengan sama nakalnya. Jeongguk ingin muntah.

Bogum merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya sendiri dan mengeluarkan kartu memori mikro dari balik pelindung ponselnya. Dia mengulurkan benda itu ke Jeongguk yang menatapnya hampa.

“Ini data milik Taehyung. Semuanya ada di sana, dia memintaku memusnahkannya saja tapi entah kenapa aku belum melakukannya. Aku mungkin berpikir suatu hari nanti, jika sesuatu terjadi dan ada gambar tidak senonoh yang tersebar, aku bisa memastikannya sendiri.” Bogum menatap kartu mungil di tangannya. “Kau tahu, menyocokkannya.”

Jeongguk menatap kartu memori itu. Setengah dirinya merasa jijik, namun setengahnya lagi merasa simpati. Taehyung mungkin mengirimkannya pada Hyungsik karena dia mencintai pemuda itu, sesuatu di masa lalu yang harus Jeongguk singkirkan dari kepalanya karena sekarang mereka telah berakhir. Atau mungkin bahkan dikirimkan Taehyung di bawah tekanan yang dia tidak pahami—dan dia nyaris mati penasaran pada alasannya.

Namun dia juga tahu dia sebaiknya tidak menanyakan hal ini pada Taehyung sekarang. Tidak saat hal itu membuat Taehyung sangat terguncang dan ketakutan pada tubuhnya sendiri. Maka dia meraih kartu memori itu lalu mematahkannya jadi dua di hadapan Bogum.

“Aku tidak peduli gambar apa yang ada di sini.” Katanya mengembalikan patahan itu ke Bogum yang terpana. “Aku sudah mengancam Hyungsik jika dia berani dekat-dekat Taehyung lagi maka aku akan melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pengutit. Jika polisi tidak menanggapiku serius maka aku sendiri yang akan mencekiknya mati.”

Dia kemudian menatap pintu dan mendesah, “Katakan pada Taehyung kapan saja dia siap, aku akan menemaninya.” Dia menyugar rambutnya, kemudian diam dan menunggu, berharap Taehyung akan mengundangnya masuk—memeluknya atau meminta perlindungannya.

Namun tidak ada suara sama sekali dari dalam sana dan Jeongguk menghela napas. Dia sebaiknya memberikan waktu untuk Taehyung mencerna semuanya. Dia kemudian menatap Bogum yang mengangguk ringan dan menepuk bahunya hangat.

“Trims atas bantuanmu hari ini, Jeongguk.” Bisik Bogum, suaranya gemetar. “Aku bersungguh-sungguh. Terima kasih sudah menyingkirkan bedebah bangsat itu dari adikku.”

Jeongguk mengangguk kaku, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya—berdenyut karena nyeri digunakan menghajar wajah Hyungsik, menyadari dia harus mengobatinya nanti. Dia menggerakkan jemarinya—membuka dan menutup kepalan tangannya, merasakan nyeri menjalar di jemarinya.

Perasaan Jeongguk terasa bergolak sekarang—bingung, marah, jijik dan juga meradang. Dia ingin meredakannya dengan sesuatu; mungkin melihat Taehyung yang baik-baik saja? Atau memeluknya? Namun dia juga paham jika Taehyung butuh menyendiri sekarang, dia butuh ditemani orang yang dipercayainya.

Dan itu adalah Bogum, untuk saat ini.

“Seharusnya aku melakukannya sejak dulu,” sahutnya kemudian penuh racun dan merasakan amarah dan kebencian akan Hyungsik merekah di dadanya yang nyeri.

“Alih-alih menunggu dua tahun.”

*